0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan130 halaman

Pengaruh Edukasi Caring pada Self Care Hipertensi

Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh supportive educative berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan self care pasien setelah intervensi, dengan nilai rerata meningkat dari 87,36 menjadi 118,21 dan p-value 0,001. Disarankan untuk memperkuat intervensi dalam diet rendah garam dan pengelolaan tekanan darah untuk mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

erwin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan130 halaman

Pengaruh Edukasi Caring pada Self Care Hipertensi

Penelitian ini mengeksplorasi pengaruh supportive educative berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan self care pasien setelah intervensi, dengan nilai rerata meningkat dari 87,36 menjadi 118,21 dan p-value 0,001. Disarankan untuk memperkuat intervensi dalam diet rendah garam dan pengelolaan tekanan darah untuk mencegah komplikasi.

Diunggah oleh

erwin
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING

TERHADAP SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI DI


PUSKESMAS GEDONG TATAAN

SKRIPSI

OLEH
NANDA YULISTIA
NPM : 220101140

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU
TAHUN 2025

i
PENGARUH SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING
TERHADAP SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI DI
PUSKESMAS GEDONG TATAAN

SKRIPSI

Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh


Gelar Sarjana Keperawatan

OLEH
NANDA YULISTIA
NPM : 220101140

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU
TAHUN 2025

ii
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU LAMPUNG
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

Skripsi, 15 Desember 2025


Nanda Yulistia

PENGARUH SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING


TERHADAP SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI DI PUSKESMAS
GEDONG TATAAN

XII+ 105 Halaman + 10 Tabel+ 3 Gambar+ 24 Lampiran

ABSTRAK

Self care adalah kemampuan individu untuk mengelola kondisi kesehatan nya secara
mandiri melalui kesadaran diri pada penderita hipertensi. kemampuan Self care merupakan
suatu proses prilaku untuk mencegah keparahan dan melibatkan proses pengambilan
keputusan untuk mengelola dan mengatasi hipertensi. Supportive educative berbasis caring
merupakan upaya efektif untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam mengelola
penyakitnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh supportive educative
berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi.

Jenis penelitian kuantitatif, desain quasi exsperiment one grup pre-post test design.
Sebanyak 53 penderita hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan. Menggunakan tehnik
consecutive sampling, instrument penelitian menggunakan kuesioner self care. Intervensi
menggunakan supportive educative berbasis caring. Analisis data dilakukan dengan Uji
Paired Sample T-test untuk mengetahui rerata sebelum dan sesudah intervensi.

Hasil penelitian menunjukan pengaruh yang signifikan sebelum dilakukan supportive


educative berbasis caring dan sesudah intervensi dengan nilai rerata sebelum 87,36
intervensi menjadi 118,21 sesudah intervensi. P-value 0,001 (p<0,05) yang membuktikan
ada nya pengaruh yang signifikan secara statistik. Penelitian terhadap penderita hipertensi
di Puskesmas Gedong Tataan menunjukkan item baik pada pertanyaan (memilih makanan
rendah garam) optimal, namun item buruk pada pertanyan (kurangi lemak dan monitoring
tekanan darah) terendah. Mengindikasikan defisiensi perawatan diri. Disarankan intervensi
supportive educative berbasis caring pada penguatan diet rendah garam, perbaikan
pengurangan lemak dan monitoring mandiri melalui pelatihan, serta program pendidikan
dalam mengelola penyakit untuk mencegah komplikasi dan disampaikan secara
komprehensif.

Kata Kunci : Self Care, Hipertensi, Caring, Supportive Educative


Kepustakaan : 25 (2025-2026)

iii
AISYAH UNIVERSITY OF PRINGSEWU LAMPUNG
BACHELOR OF NURSING STUDY PROGRAM

Thesis, December 15, 2025


Nanda Yulistia

THE EFFECT OF CARING-BASED SUPPORTIVE EDUCATIVE ON


SELF-CARE OF HYPERTENSION PATIENTS AT GEDONG TATAAN
PUBLIC HEALTH CENTER

XII+ 105 Pages+ 10 Tables + 3 Figures + 24 Attacments

ABSTRACT

Self care is an individual's ability to independently manage their health condition through
self-awareness in patients with hypertension. Self care is a behavioral process to prevent
its severity and involves decision-making to manage and overcome hypertension. Caring-
based supportive education is an effective effort to improve patients' ability to manage their
disease. The purpose of this study was to determine the effect of caring-based supportive
education on self-care in patients with hypertension.

This study used a quantitative, quasi-experimental, one-group pre-post-test design. Fifty-


three hypertension patients at the Gedong Tataan Community Health Center participated
in the study. Consecutive sampling was used, and the research instrument was a self-care
questionnaire. The intervention used caring-based supportive education. Data analysis was
performed using a paired sample t-test to determine the mean before and after the
intervention.

The results showed a significant effect before and after the caring-based supportive
education intervention, with the mean score increasing from 87.36 before the intervention
to 118.21 after the intervention. A p-value of 0.001 (p<0.05) indicates a statistically
significant effect. The study of hypertension patients at the Gedong Tataan Community
Health Center showed that the good items in the question (choosing low-salt foods) were
optimal, but the poor items in the question (reducing fat and monitoring blood pressure)
were the lowest, indicating a self-care deficiency. It is recommended that caring-based
supportive educational interventions be implemented to strengthen a low-salt diet, improve
fat reduction and self-monitoring through training, as well as educational programs in
managing the disease to prevent complications, delivered comprehensively.

Keywords: Self-Care, Hypertension, Caring, Supportive Education


Bibliography: 25 (2025-2026)

iv
LEMBAR PERSETUJUAN

Judul Skripsi :

PENGARUH SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING


TERHADAP SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI DI
PUSKESMAS GEDONG TATAAN

Nama : Nanda Yulistia


NPM : 220101140

Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing untuk seminar hasil

Pringsewu, 23 Desember 2025


Pembimbing

Dr. Hardono,[Link]., Ners., [Link]


NIDN 0231037803

Mengetahui.
Kepala Program Studi S1 Keperawatan

Rizki Yeni Wulandari, [Link],. Ners., [Link]


NIDN 0210018601

v
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Skripsi :

PENGARUH SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING TERHADAP


SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI DI PUSKESMAS GEDONG
TATAAN

NAMA : Nanda Yulistia


NPM : 220101140

Diterima oleh Tim Penguji pada Ujian SIdang Skripsi di Program Studi S1
Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu Lampung Tahun
Akademik 2025/2026

1. Penguji 1
Eko Wardoyo, [Link]., Ners., [Link]
NIDN 0219109602

2. Penguji 2
Sugiarto [Link]., Ners., [Link]
NIDN 05191008902

3. Penguji 3
Dr. Hardono, [Link], Ners., [Link]
NIDN 0231037803

Tanggal Ujian: 23 Desember 2025

Mengetahui
Dekan Fakultas Kesehatann
Universitas Aisyah Pringsewu

(Dr. Surmiasih, [Link]., Ners., [Link])


NIDN. 0230098302

vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

A. Identitas Penulis

Nama lengkap : Nanda Yulistia


NPM : 220101140
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat Tanggal Lahir : Pulau Benawang, 15 November 2003
Alamat Lengkap: : Pulau Benawang
Orang Tua
Ayah : Usman
Ibu : Sumyati
Nomer Handpone : 08249329278
Email : Nndaylstia1511@[Link]
B. Riwayat Pendidikan
TK : TK Gedung Jambu
SD : Sd Negeri 1 Pulau Benawang
SMP : Smp Negeri 1 Kota Agung
SMA : Sma Negeri 1 Kota Agung
S1 : Universitas Aisyah Pringsewu

vii
MOTTO

‫ِّإلِّسا كفنَلَِّّللا فُِّ ل ك‬


‫َُا اَل‬ ‫ا ف‬ ‫اَُِّلْاُ ل‬
“Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya”
(QS. Al-Baqarah: 286)

“ Angan-angan yang dulu mimpi belaka,


kita gapai segala yang tidak disangka”
(Hindia)

viii
PERSEMBAHAN

1. Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-nya, penulis skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik
2. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
menyelesaikan studi pada S1 Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas
Aisyah Pringsewu
3. Persembahan ini aku untukkan dengan rasa cinta dan hormat yang terdalam
untuk kedua orang tua ayah usman dan ibu sumyati tercinta. Terima kasih atas
kasih sayang yang tak pernah habis, doa yang selalu mengiringi setiap
langkahku, serta pengorbanan yang begitu besar tanpa mengenal lelah. Ayah
dan ibu adalah sumber kekuatan dan inspirasi terbesar dalam hidupku. Semoga
kakak selalu diberi kesehatan supaya dapat membahagiakan ayah dan ibu.
4. Terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada adik tersayang Saskia Vio dan
Khansha yang selalu menjadi sumber semangat dan kebahagiaan dalam setiap
langkah hidup saya.
5. Terima kasih nenek marsiah dan kakek sakdan atas kasih sayang dan doa yang
selalu saya rasakan. Kehadiran kalian selalu menghangatkan hati dan memberi
semangat dalam hidup kakak.
6. Terima kasih atas segala bimbingan dan ilmu dari bapak [Link]
[Link],Ners.,M Kep. Limpahkanlah rahmat, kesehatan, dan keberkahan kepada
beliau. Jadikanlah pengorbanan dan jasanya sebagai ladang pahala yang terus
mengalir. Semoga selalu diberi kemudahan dan kesuksesan dalam setiap
langkah hidupnya. Aamiin.
7. Terimakasih Mery Wulandari, selalu jadi sahabat yang seru dan supportif dalam
setiap momen ini. Kehadiran kamu bikin segala hal jadi lebih ringan dan
menyenangkan. Semoga kita terus bisa ketawa bareng dan saling dukung ke
depannya.
8. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Agung Danuarta Syamba atas
dukungan, kesabaran, dan kasih sayang yang selalu diberikan selama proses ini.
Kehadiran dan semangat yang sangat berarti bagi saya dalam menyelesaikan
setiap tantangan.
9. Untuk diri sendiri, terima kasih sudah kuat dan sabar melalui semua ini. Setiap
usaha dan perjuanganmu tidak pernah sia-sia. Teruslah percaya, aku bangga
padamu.

ix
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Hidayah dan
Karunia-Nya, sehingga proposal penelitian yang berjudul Pengaruh Supportive
Educative Berbasis Caring Terhadap Self Care Penderita Hipertensi Di
Puskesmas Gedong Tataan, dapat saya selesaikan. Penyelesaian proposal
penelitian ini juga berkat dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada
kesempatan ini perkenankan penulis menghaturkan rasa terimakasih kepada
bapak/ibu yang terhormat :

1. Dr. Sukarni, SST., M. Kes selaku Ketua Yayasan Aisyah Lampung


2. Dr. Sutrisno, [Link]., Ners., MAN selaku Rektor Universitas Aisyah Pringsewu
Lampung
3. Dr. Surmiasih, [Link]., Ners., [Link] selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Aisyah Pringsewu.
4. Rizki Yeni Wulandari, [Link]., Ners., [Link] selaku Ketua Program Studi Ilmu
Keperawatan.
5. Dr. Hardono, [Link]., Ners., [Link] selaku pembimbing utama dan pendamping
yang telah banyak membantu penyelesaian penulisan penelitian ini.
6. Eko Wardoyo, [Link]., Ners., [Link] selaku penguji 1 yang telah memberikan
masukan dan saran dalam menyelesaikan penelitian ini.
7. Sugiarto, [Link]., Ners., [Link] selaku penguji 2 yang telah memberikan kritik
dan arahan dalam menyelesaikan penelitian ini.
8. [Link] Carolina, M. Kes Selaku Kepala UPTD puseksmas Gedong tataan
yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini.

Semoga Allah SWT berkenan membalas kebaikan serta bantuan yang telah
diberikan dan semoga Proposal ini dapat dijadikan pedoman untuk melakukan
penelitian.
Penulis menyadari dalam penulisan proposal ini masih banyak kekurangan untuk
itu, penulis sangat mengharapkan masukan serta saran yang membangun guna
perbaikan selanjutnya, Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua.
Amin.

Pringsewu, 30 Juli 2025

Nanda Yulistia

x
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................ iii


MOTTO ................................................................................................................ iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... v
DAFTAR ISI .................................................................................................................. vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ ix
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
A. Latar Belakang ......................................................................................1
B. Rumusan Masalah .................................................................................5
C. Tujuan Penelitian...................................................................................5
D. Manfaat Penelitian.................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................. 9
A. Tinjauan Teori .......................................................................................9
1. Hipertensi ..........................................................................................9
2. Self-Care..........................................................................................18
3. Konsep Caring .................................................................................22
4. Supportive Educative dalam Keperawatan .....................................24
5. Supportive Educative Berbasis Caring.......................................... 27z
B. Penelitian Terkait ................................................................................31
C. Kerangka Teori ....................................................................................33
D. Kerangka Konsep ................................................................................34
E. Hipotesis ..............................................................................................35
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................... 36
A. Jenis Penelitian ....................................................................................36
B. Waktu dan Tempat Penelitian .............................................................36
C. Rancangan Penelitian ..........................................................................36
D. Subjek Penelitian .................................................................................37
E. Variabel Penelitian ..............................................................................40
F. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ..................................41
G. Pengumpulan Data ..............................................................................42
H. Pengolahan Data ..................................................................................46
I. Analisa Data ........................................................................................48
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………..49
A. Gambaran Lokasi Penelitian................................................................49
B. Hasil Penelitian...................................................................................49
C. Pembahasan.........................................................................................55
BAB V PENUTUP………………………………………………………………65
A. Kesimpulan……………………………………..………..……………65
B. Saran………………………………………………………..……….…66

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

xi
DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Klasifikasi Hipertensi ............................................................................14


Tabel 3. 1 Bentuk Desain ........................................................................................38
Tabel 3. 2 Alur Penelitian Pretest-Postest.................................................................41
Tabel 3. 3Definisi Operasional ................................................................................41
Tabel 3.4 Tahapan Penelitian...................................................................................42
Tabel 3. 5Tahapan Kegiatan ...................................................................................43
Tabel 3. 6 Distribusi Karakteristik Responden............................................................... 44
Tabel 3. 7 Rerata Skor Self Care Sebelum ..................................................................... 45
Tabel 3. 8 Rerata Skor Self Care Sesudah ...................................................................... 46
Tabel 3. 9 Uji Normalitas ............................................................................................... 47
Tabel 4. 0 Uji Paired Sample T-test .............................................................................. 48

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 2 Kerangka Teori ..................................................................................35

Gambar 2. 3 Kerangka Konsep ..............................................................................35

Gambar 2 . 4 Bukti Penelitian ........................................................................................ 95

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Permohonan Responden


Lampiran 2 Pernyataan Kesediaan
Lampiran 3 Data Responden
Lampiran 4 Kuesioner Self Care
Lampiran 5 Kisi-Kisi
Lampiran 6 Pengajuan Judul
Lampiran 7 Bukti Sebagai Oponen
Lampiran 8 Permohonan Pra Survei
Lampiran 9 Balasan Izin Pra survey
Lampiran 10 Lembar Bukti Acc Proposal
Lampiran 11 Bukti Acc Penelitian
Lampiran 12 Permohonan Ethical Clearence
Lampiran 13 Izin Ethical Clearence
Lampiran 14 Izin Penelitian Kesbangol
Lampiran 15 Surat Izin Penelitian
Lampiran 16 balasan Izin Penelitian
Lampiran 17 Surat Izin Penelitian Dinkes
Lampiran 18 Bukti Penelitian
Lampiran 19 Tabulasi Data Self Care
Lampiran 20 Karakteristik Responden
Lampiran 21 Rerata Self Care
Lampiran 22 Uji Normalitas
Lampiran 23 Uji Paired Sample T-Test
Lampiran 24 Uji Plagiarisme

ix
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hipertensi atau penyakit darah tinggi merupakan faktor risiko utama

penyakit kardiovaskular. Hipertensi termasuk masalah besar dan serius karena

sering kali tidak terdeteksi dalam waktu bertahun-tahun, sehingga disebut

sebagai silent killer. Keberadaannya yang tersembunyi tanpa gejala yang jelas

membuat hipertensi menjadi masalah Kesehatan serius dan membutuhkan

perhatian khusus dalam deteksi serta penanganannya, (Azizah et al ., 2020).

Organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) 2023,

Prevalensi hipertensi merupakan penyebab utama dini kematian di dunia.

Diperkirakan dari 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 di dunia mengalami

hipertensi. Diperkirakan yang tidak terkontrol secara global mencapai 46%

karena tidak menyadari memiliki kondisi tersebut. Kurang dari separuh orang

dewasa 42% terdiagnosis dan mendapat pengobatan, dan 21% sisa nya yang

terkontrol. Sekitar 1 dari 5 orang dewasa adalah 47,7% hipertensi lebih tinggi

pada penderita laki-laki (50%) dibandingkan wanita (44,6%). dan meningkat

seiring bertambah nya usia, peningkatan prevelansi juga terjadi seiring

bertambah nya usia dengan 23,4% pada usia 18-39 tahun, dengan 52,5% pada

usia 40-59 tahun, dan 71,6 pada usia 60 ke atas. Wilayah Afrika memiliki

prevalensi tertinggi sebesar 27% Prevalensi Asia tenggara berada di posisi ke-

3 tertinggi dengan prevalensi 25% terhadap total penduduk (WHO, 2023).

1
1
2

Di Indonesia, prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada

penduduk usia ≥18 tahun sebesar 34,11%, Peningkatan prevalansi tertinggi

terdapat di Kalimantan Selatan sebesar 44,13%, Kalimantan Timur 41,58%,

dan Jawa Barat 40,07% (Kemenkes, 2023).

Prevalensi Hipertensi di Provinsi Lampung tahun 2023 sebesar 34,4%

Data ini menunjukkan peningkatan dibadingkan dengan data menurut riskesdes

di tahun 2018 dimana mencapai 29,94%. Menempatkan Provinsi Lampung di

posisi ke-16 tertinggi dari Provinsi lainnya. dengan prevalensi tertinggi di

Kabupaten Lampung Tengah sebesar 25,99% dan terendah di Kabupaten

Pesisir Barat sebesar 12,22%, sedangkan di Kota Bandar Lampung tercatat

16,71% berdasarkan data (Survey kesehatan indonesia (Ski), 2023). Menurut

Badan Pusat Statistik Kabupaten Pesawaran (2024) jumlah kasus Hipertensi

mencapai 8.670 jiwa yang menderita hipertensi pada tahun 2023 dibandingkan

dengan tahun 2022 yang hanya mencapai 1.118 jiwa penderita hipertensi.

Dampak hipertensi apabila tidak ditangani dapat menyebabkan

komplikasi yang mempengaruhi sistem kardiovaskular, saraf, ginjal, laju

aterosklerosis karena beban kerja ventrikel kiri meningkat, menyebabkan

hipertrofi ventrikel, yang kemudian meningkatkan risiko penyakit jantung

koroner, distrimia, gagal jantung dan kematian (Amalia et al., 2025).

Penatalaksanaan hipertensi tidak hanya bergantung pada terapi

farmakologis seperti pemberian ACE inhibitor atau ARB (Angiotensin

Receptor Blocker) dan deuretik sesuai standar terapi medis. Tetapi juga

memerlukan terapi non-farmakologi seperti salah satu perawatan non-


3

farmakologi yang dilakukan adalah peran aktif pasien dalam melakukan

perawatan diri. Self-care adalah suatu proses perilaku yang dilakukan untuk

mencegah keparahan dan melibatkan proses pengambilan keputusan dimana

penderita hipertensi mampu mengevaluasi dan mengatasi gejala penyakit

ketika penyakit terjadi (Rantepadang & Hadibrata, 2023) Pasien hipertensi

perlu menjalankan self care sebagai upaya mengontrol tekanan darah untuk

mencegah komplikasi dan kematian akibat hipertensi. Self care pada pasien

hipertensi menurut penelitian terdiri dari kepatuhan minum obat dan modifikasi

gaya hidup berkorelasi dengan pengendalian tekanan darah. (Putri et al., 2024)

Pencegahan komplikasi mencakup kepatuhan dalam mengkonsumsi

obat, aktivitas fisik, pengendalian stres, pemantauan tekanan darah rutin dan

pengaturan pola makan, Banyak penderita hipertensi yang masih mengalami

kesulitan dalam menjalankan self care secara optimal, sehingga mengakibatkan

tekanan darah yang tidak terkontrol dan meningkatkan risiko komplikasi serta

kematian. (Suprayitno & Damayanti, 2020)

Salah satu faktor pendorong untuk meningkatkan self care pasien

hipertensi dibutuhkan pendekatan supportive educative yang berbasis caring.

Intervensi ini berfokus pada pemberian dukungan (supporting) dan pendidikan

(teaching) dan bimbingan (guiding) kepada pasien, dengan pendekatan yang

berpusat pada kepedulian dan perhatian terhadap kebutuhan individu menjadi

salah satu upaya efektif untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam

mengelola penyakitnya dengan melakukan pendekatan selama 2 kali

pertemuan dalam jarak waktu 4 minggu. Pendekatan supportive educative


4

berbasis caring adalah metode pendekatan yang memberikan edukasi tentang

hipertensi, melainkan juga disampaikan dengan empati, kasih sayang, serta

dukungan emosional yang membantu pasien secara psikologis dalam

menghadapi penyakitnya. (Kim & Oh, 2021)

Menurut penelitian (Muharam et al., 2024) Sebagian besar responden

dalam penelitian ini masih menunjukkan perilaku perawatan diri yang rendah,

meliputi pengelolaan penyakit, penerapan diet rendah garam, aktivitas fisik,

kepatuhan mengonsumsi obat sesuai anjuran, pemantauan tekanan darah, serta

penghentian kebiasaan merokok. Oleh karena itu, perawat berperan penting

dalam meningkatkan edukasi guna mencegah terjadinya komplikasi pada

penderita hipertensi.

Penelitian sejalan juga dilakukan oleh (Rachmania et al., 2022)

Penelitian di Desa Malasan Kecamatan Durenan menunjukan hasil bahwa

sebagian penderita hipertensi memiliki self care yang baik, terutama pada

individu dengan kontrol diri tinggi. Kepatuhan terhadap anjuran medis dalam

menjaga pola hidup sehat didukung oleh perawatan mandiri maupun dukungan

keluarga serta orang terdekat.

Berdasarkan hasil prasurvey yang dilakukan dengan wawancara kepada

10 penderita hipertensi dimana ditemukan hasil bahwa 2 (20%) pasien

mengatakan belum melakukan pengendalian hipertensi secara baik seperti

tidak rutin meminum obat, pola makan yang tidak sehat kurang olahraga dan

tidak rutin memeriksakan ke pelayanan kesehatan. 8 (80%) pasien yang

mengatakan jika merasa sering pusing, sadar dan tau bahwa dirinya menderita
5

hipertensi tetapi tidak mau memeriksakan ke dokter dan minum obat secara

teratur.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas dan data pendukung peneliti

tertarik untuk mengambil judul penelitian “Pengaruh Supportive Educative

Berbasis Caring Terhadap Penderita Hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang rumusan masalah, maka rumusan

penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh pendekatan supportive educative

berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi di Puskesmas Gedong

Tataan ?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Diketahui pengaruh pemberian supportive educative berbasis caring

terhadap self care penderita hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan.

2. Tujuan Khusus

a. Diketahui karakteristik responden penderita hipertensi di Puskesmas

Gedong Tataan

b. Diketahui rerata skor self care penderita hipertensi sebelum diberikan

supportive educative berbasis caring di Puskesmas Gedong Tataan.

c. Diketahui rerata skor self care penderita hipertensi setelah diberikan

supportive educative berbasis caring di Puskesmas Gedong Tataan.

d. Diketahui pengaruh supportive educative berbasis caring terhadap self

care penderita hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan.


6

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian yang penulis tulis ini sangat diharapkan dapat

memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di bidang keperawatan,

Khususnya dalam penerapan teori caring dan model supportive educative

sebagai pendekatan dan solusi yang efektif dalam meningkatkan

kemampuan pengetahuan dan self care pada penderita hipertensi.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Responden

Diharapkan Penelitian ini dapat menjadi acuan untuk penelitian

selanjutnya dan Dapat memberikan pengetahuan serta pemahaman

tentang pengaruh supportive educative berbasis caring dalam

meningkatkan prilaku self care dalam kehidupan sehari-hari.

b. Bagi Masyarakat

Sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam

mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi hipertensi melalui

pendekatan supportive educative berbasis caring.

c. Bagi Instansi Puskesmas

Penelitian ini diharapkan menjadi gambaran dalam pengembangan

program Pendidikan kesehatan dengan metode pendekatan supportive

educative berbasis caring yang dapat diterapkan sebagai intervensi

keperawatan dalam menangani pasien, guna meningkatkan efektivitas

pelayanan dan pemberdayaan pasien.


7

d. Bagi Instalasi Pendidikan

Peneliti berharap penelitian ini bisa menjadi referensi dan sumber

pembelajaran dalam ilmu keperawatan khusus nya dalam keperawatan

medical bedah, khususnya dalam penerapan pendekatan supportive

educative berbasis caring terhadap self care.

e. Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan menjadi referensi dan dasar

pengembangan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pendekatan

supportive educative berbasis caring terhadap self care.

E. Ruang lingkup penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain quasi-

eskperimen dengan populasi dalam penelitian ini yang dijadikan sampel

sebanyak 53 responden. Variabel yang diteliti yakni variabel independent yang

digunakan dalam penelitian ini adalah Supportive Educative Berbasis Caring

dan Variabel dependent dalam penelitian ini adalah Self care Penderita

Hipertensi. Penelitian ini difokuskan dalam pemberian intervensi supportive

educative berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi yang ada di

Puskesmas Gedong Tataan, Penelitian ini meliputi pengukuran self care

sebelum dan sesudah intervensi diberikan, Dengan pendekatan kuantitatif

melalui desain penelitian pre-exsperimental (one grup pretest-posttest),

Memfokuskan pada perubahan self-care. Uji statistik yang digunakan pada

penelitian ini adalah uji paired T-Test.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Hipertensi

a. Pengertian Hipertensi

Hipertensi didenfinisikan sebagai suatu kodisi dimana seseorang

mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal, secara spesifik

seseorang dapat dikatakan mengalami peningkatan darah sistolik

mencapai atau melebihi 140 mmHg dan diastolic mencapai atau

melebihi 90 mmHg yang diukur secara berulang, sering disebut "silent

killer" karena minim gejala awal. (WHO, 2023).

Hipertensi adalah suatu keadaan kronis yang ditandai dengan

meningkatnya tekanan darah pada dinding pembuluh darah arteri yang

menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk mengedarkan darah

keseluruh tubuh melalui pembuluh darah dan merusak pembuluh darah

hingga menyebabkan penyakit degenerative serta kematian (Oktavianie,

2022).

Hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering tidak

menimbulkan gejala pada tahap awal, namun menjadi faktor risiko

utama penyakit tidak menular yang berakibat fatal. Banyak penderita

tidak menyadari kondisi ini sehingga hipertensi berkembang hingga

menimbulkan komplikasi. Jika tidak diobati (Zethira et al., 2024).

8
9

b. Etiologi

Penyebab dari penyakit hipertensi sebenarnya tidak spesifik.

Namun ada beberapa penyebab yang mampu memengaruhi terjadinya

hipertensi yaitu merokok, kurang berolahraga, jenis kelamin, asupan

garam tinggi, obesitas, alkohol, kafein, usia, pola hidup, pola makan

dan minum, dan faktor genetik (Rahmawati & Kasih, 2023).

c. Jenis Hipertensi

Hipertensi dapat di klsifikasikan menjadi dua jenis hipertensi

berdasarkan penyebab dan karakteristiknya yaitu hipertensi primer

(esensial) dan hipertensi sekunder (Widiatmika, 2023).

a). Hipertensi Primer (Esensial)

Merupakan jenis hipertensi yang paling umum, mencakup lebih

dari 90% kasus. Penyebab pasti peningkatan tekanan darah tidak

diketahui atau tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol.

Hipertensi esensial sering terjadi tanpa gejala yang tampak pada

usia dewasa dan hasil dari peningkatan tekanan darah terus

menerus dalam jangka waktu lama seperti faktor genetik.

b). Hipertensi Sekunder

Merupakan jenis hipertensi yang jarang terjadi, hanya sekitar 10%

kasus. Penyebab spesifik yang dapat diidentifikasi seperti penyakit

tertentu seperti difungsi ginjal akibat penyakit ginjal kronis yang

parah atau penyakit renovaskular dan efek samping obat-obatan

tertentu..
10

d. Patofisiologi

Menurut (Marhabatsar & Sijid, 2021) Hipertensi terjadi akibat

peningkatan tekanan darah yang dipengaruhi oleh dua faktor utama,

yaitu volume darah dan resistensi perifer. Tekanan darah merupakan

hasil interaksi antara curah jantung (cardiac output) dan resistensi

pembuluh darah perifer, apabila terjadi peningkatan abnormal pada

salah satu atau keduanya maka tekanan darah akan meningkat dan

menyebabkan hipertensi. Dimulai dari sistem renin-angiotensin-

aldosteron (RAA). Ketika tekanan darah turun, ginjal melepaskan

renin yang mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I, lalu

diubah menjadi angiotensin II oleh enzim ACE di paru-paru.

Agiotensin II memililiki peran dalam meningkatkan tekann darah

melalui dua mekanisme:

1) Vasolontriksi

Vasokonstriksi pembuluh darah yang meningkatkan resistensi

perifer dan merangsang hormon antidiuretik (AHD) untuk

meningkatkan retensi air, sehingga volume darah naik.

2) Stimulasi Sekresi Aldosteron

Stimulasi Sekresi Aldosteron dari kelenjar adrenal, yang

meningkatkan reabsorpsi natrium dan air di ginjal, menambah

volume cairan ekstraseluler dan darah, sekaligus meningkatkan

sekresi kalium.
11

e. Klasifikasi Tekanan Darah

Menurut (Nurpratiwi1 et al.,2024) klasifikasi tekanan darah

menurut The Sevent Report Of The Joint National Committee on

prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood

Preassure (JNC VIII), klasifikasi hipertensi dibagi menjadi beberapa

kelompok berupa normal, prehipertensi, hipertensi, derajat 1, dan

derajat 2 dengan pembagian sebagai berikut :

Tabel 2.1
Klasifikasi Hipertensi Menurut Join National Comunitte VII

Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah


Darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi Stage 1 140-159 90-99
Hipertensi Stage 2 160 atau >160 100 atau>100
Sumber: Join National comunitte 8 (JNC 8)

f. Gejala Hipertensi

1) Menurut (Nababan et al., 2024) beberapa gejala-gejala

hipertensi yang sering muncul antara lain: sakit kepala,

Mual dan muntah, Sakit kepala, Vertigo, Kelelahan,

Pengelihatan kabur, Telinga berdenging, Hidung berdarah

(mimisan), Detak jantung cepat, Stroke dan Noktukria

(sering buang air kecil dimalam hari).

g. Faktor Yang Mempengaruhi Hipertensi

Menurut (Marhabatsar & Sijid, 2021) penyebab penyakit hipertensi

tidak mempunyai faktor yang spesifik, beberapa penyebab yang mampu

mempengaruhi terjadinya hipertensi sebagai berikut:


12

1) Genetik

keluarga yang memiliki riwayat hipertensi berdampak dua kali lipat

dapat mengidap penyakit hipertensi dari pada keluarga yang tidak

memiliki riwayat menderita hipertensi. hipertensi esensial 70-80%

memiliki riwayat keluarga yang mengidap penyakit hipertensi.

2) Jenis kelamin

Jenis kelamin berpengaruh terhadap hipertensi karena perbedaan

hormonal dan psikologis. Perempuan lebih banyak mengalami

hipertensi, karena akibat hormon estrogen saat menopause yang

meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, disertai faktor seperti

kenaikan berat badan, stres, depresi, dan pola makan tidak sehat.

Pada laki-laki, hipertensi lebih banyak dipengaruhi oleh gaya hidup

dan stres pekerjaan.

3) Usia

Usia berperan penting dalam terjadinya hipertensi karena perubahan

fisiologis seiring penuaan. Data menunjukkan prevalensi hipertensi

lebih tinggi pada usia di atas 45 tahun (54,3%) dibandingkan usia di

bawah 45 tahun (19,8%).

4) Obesitas

Obesitas merupakan faktor penting penyebab hipertensi karena

meningkatkan curah jantung, volume sirkulasi darah, serta kadar

insulin plasma yang memicu retensi natrium di ginjal.


13

5) Kurang Olahraga

Kurangnya aktivitas fisik seperti jarang bergerak dan berolahraga

maka makanan yang dikonsumsi, terutama yang tinggi lemak dan

rendah gizi akan menumpuk didalam tubuh. Sehingga menyebabkan

peningkatan kolestrol dan kelebihan berat badan, yang akhirnya

meningkatkan tekanan darah dan resiko hipertensi.

6) Merokok

Rokok mengandung zat-zat berbahaya yang memicu pembentukan

gumpalan darah yang mengahambat aliran darah, sehingga membuat

aliran darah tidak lancar dan tersumbat yang menyebabkan resiko

hipertensi.

7) Natrium

Kelebihan natrium dalam tubuh dapat menyebabkan penyempitan

diameter arteri, akibatnya tekanan darah akan meningkat dan

berpotensi menyebabkan hipertensi.

8) Pemeriksaan Penunjang

Menurut (Unger et al., 2020) dalam upaya menegakan diagnosa

hipertensi, pemeriksaan penunjang memiliki peranan penting yang

membantu dalam mengidentifikasi faktor resiko yang terjadi.

Pemeriksaan nya seperti pemeriksaan darah rutin , profil lipid,

glukosa puasa pemeriksaan urin, (elektrokardiografi/EKG), USG

Karotis.
14

2. Self Care

a. Pengertian Self Care

Self care adalah kemampuan seseorang individu untuk mengelola

dan merawat dirinya secara mandiri melalui kesadaran diri, kontrol atas

tindakan, serta kemandirian, dengan tujuan mempertahankan,

meningkatkan dan mencapai kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang

optimal. Serta melakukan pemulihan secara mandiri tanpa

ketergantungan langsung pada tenaga profesional, meskipun tetap

didukung oleh pengetahuan kesehatan yang memadai (Irman et al.,

2025).

b. Komponen Self Care pada Penderita Hipertensi

Menurut (Widayanti & Soleman, 2023) beberapa aspek penting

yang harus dilakukan secara mandiri untuk mengelola penyakit.

Terdapat 5 komponen utama self care pada penderita hipertensi:

1) Kepatuhan terhadap pengobatan

Pengunaan obat anti hipertensi secara tepat sesuai dosis dan jadwal

kontrol rutin yang di anjurkan.

2) Pemantauan tekanan darah secara mandiri

Memeriksakan tekanan darah secara rutin dirumah atau fasilitas

kesehatan, terutama saat merasa gejala atau sesuai jadwal.

3) Modifikasi pola makan/diet sehat

Diet rendah garam karena mengkonsumsi garam berlebih dapat

meningkatkan natrium yang menyebabkan meningkatnya tekanan


15

darah. Dan mengkonsumsi buah, sayur dan rendah lemak

disarankan.

4) Aktivitas fisik

Olahraga seperti jalan kaki, bersepeda selama 20-50 menit dengan

frekuensi 3-5 kali perminggu sangat dianjurkan untuk membanu

menurunkan tekanan darah.

5) Pengelolaan setres dan perubahan gaya hidup

Mengelola setres dengan baik, menghindari rokok, alcohol,

minuman berkafein, serta istirahat yang cukup.

Hambatan self care pada penderita hipertensi meliputi :

1) Kurang pengetahuan

Pasien hipertensi yang memiliki pengetahuan rendah tentang

penyakit, penyebab, pentingnya pengobatan teratur, dan dampak

komplikasi cenderung kurang melakukan pengendalian tekanan

darah dengan baik.

2) Tidak teratur minum obat

Ketidakpatuhan pasien dalam minum obat secara teratur

seringkali terkait dengan kurangnya pemahaman akan

pentingnya pengobatan dan konsekuensi jika tidak patuh.

3) Tidak memantau tekanan darah rutin

Pemantauan tekanan darah secara mandiri jarang dilakukan

karena pasien kurang memahami pentingnya kontrol rutin atau

keterbatasan alat dan akses. Ketidakmampuan atau kurang


16

motivasi memantau dapat menghambat deteksi dini perubahan

dan pengelolaan hipertensi yang efektif.

4) Pola makan tinggi garam

Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam dapat

menyebabkan kenaikan tekanan darah dan memperburuk

kondisi hipertensi.

5) Kurang aktivitas fisik

Pasien yang kurang melakukan aktivitas fisik rutin karena faktor

motivasi rendah, kondisi fisik, atau tidak adanya dukungan

lingkungan.

6) Kurang dukungan emosional

Pasien yang kurang mendapat dukungan emosi cenderung

merasa terisolasi dan kehilangan motivasi menjalani pola hidup

sehat dan pengobatan yang konsisten.

c. Faktor yang Mempengaruhi Self Care

Menurut (Khotibul et al., 2023) Perilaku self care dipengaruhi

beberapa faktor yang berkaitan. Salah satu faktor utama nya adalah :

1) Persepsi terhadap penyakit

Persepsi penyakit merupakan keyakinan individu dalam memahami

kondisi yang dialami, meliputi sensasi fisik, durasi, konsekuensi,

kemampuan mengendalikan penyakit, efektivitas pengobatan,

pemahaman kondisi, serta tingkat kekhawatiran.


17

2) Motivasi

Motivasi adalah dorongan seseorang bertindak untuk mencapai

tujuan. Baik motivasi intrinsik (keinginan pribadi untuk sehat)

maupun ekstrinsik (faktor luar seperti gaya hidup sehat) dapat

meningkatkan kepatuhan dan konsistensi pasien dalam menjalankan

self care.

3) Efikasi diri

Keyakinan individu terhadap kemampuan melaksanakan perilaku

untuk mencapai tujuan. Terdiri dari keyakinan diri dan harapan hasil,

efikasi diri yang tinggi mendorong kepercayaan diri dalam

menghadapi hambatan serta konsistensi dalam self care.

d. Tujuan Penguatan Self Care

Menurut (Fransiskus et al., 2022) Penguatan self care pada

penderita hipertensi bertujuan utama untuk mengendalikan tekanan

darah, mendorong perubahan gaya hidup sehat, meningkatkan

pengetahuan dan kemandirian pasien, mencegah komplikasi, serta

meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.

e. Pengukuran Self Care

Pengukuran self care hipertensi menggunakan kuesioner dimana

peneliti akan menyebarkan daftar pertanyaan tertulis kepada sejumlah

subjek. Melalui kuesioner responden diminta untuk memberi informasi,

tanggapan serta jawaban terhadap pertanyaan pertanyaan yang di


18

ajukan, sehingga dapat diperoleh data-data yang relevan terkait isu-isu

yang berkaitan dengan kepentingan umum.

Kuesioner ini diadopsi oleh (tasya, 2021) tentang self care

management pasien hipertensi dengan jumlah 40 item pertanyaan.

Pilihan jawaban ada 4 yaitu tidak pernah =1, jarang =2, kadang-kadang

=3, selalu =4. Kuesioner ini meliputi intergrasi diri, regulasi diri,

interaksi dengan tenaga medis, pemanuan tekanan darah, kepatuhan yang

telah dianjurkan. Pada penelitian ini tidak dilakukan uji validitas karena

data sudah valid dengan Content Validity Indeks (CVI) yaitu 1 Instrument

dikatakan valid dengan CVI 0,8-1,0. Dikatakan baik jika = 121-160,

cukup = 81-120, kurang = 40-80

3. Konsep Caring

a. Definisi Caring

Caring dapat didefinisikan sebagai tindakan atau sikap perhatian

dan empati yang diberikan secara tulus kepada orang lain, dengan

tujuan memenuhi kebutuhan fisik, emosional, dan psikologis mereka.

Dalam konteks keperawatan, caring mencakup aspek perhatian,

pengertian, dan dukungan yang mampu meningkatkan kualitas hidup

pasien dan memperkuat hubungan terapeutik antara perawat dan pasien

(Senofia et al., 2025).

b. Konsep Caring

Menurut Griffin (1983; dalam buku (Nursanti et al., 2024),

konsep caring dalam keperawatan terbagi menjadi dua domain utama.


19

1) Domain pertama berkaitan dengan sikap dan emosi yang dimiliki

oleh perawat

2) Domain kedua berfokus pada aktivitas yang dilakukan selama

menjalankan fungsi keperawatan.

Griffin menjelaskan bahwa caring merupakan sebuah proses

interpersonal yang esensial, di mana perawat harus melakukan

aktivitas tertentu dengan cara menyampaikan ekspresi emosi yang

sesuai kepada pasien.

c. Nilai Nilai Caring

Menurut Scottish Goverment (2010) dalam :(Erita, 2021)

1) Care : pencapaian, kenyamanan, kesediaan, antisipasi.

2) Compassion : empati, memberikan ketentraman, kepercayaan.

3) Communication : pertukaran informasi, komukasi non verbal,

kemampuan mendengarkan, sikap.

4) Collaboration : peran serta perawat dan pasien.

5) Clean and safe : pemeliharaan, menjaga kenyamanan lingkungan.

6) Continuity : kesinambungan perawatan yang yang penuh perhatian

yang memastikan perawatan berlanjut dan terkoordinasi.

7) Clinical excellence : kompetensi profesional

d. Peran Caring Dalam Praktik Keperawatan

1) Memberikan asuhan holistic

Caring membuat perawat memperhatikan fisik, psikologis, sosial,

dan spiritual pasien.


20

2) Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pasien

Pasien merasa aman dan dihargai ketika perawat bersikap empati

dan perhatian.

3) Mendukung proses penyembuhan

Caring membantu pasien lebih termotivasi dan tenang, sehingga

mempercepat pemulihan.

4) Meningkatkan mutu pelayanan

Perawat lebih teliti dan bertanggung jawab jika dilandasi sikap

caring.

5) Menjadi dasar keputusan etis

Caring membantu perawat mempertimbangkan nilai dan kebutuhan

pasien secara manusiawi (Nursanti et al., 2024).

4. Supportive Educative dalam Keperawatan

a. Pengertian Pendekatan Supportive Educative

Suportive educative adalah edukasi yang merupakan proses

terjadinya pembelajaran dalam upaya menambah pengetahuan baru,

sikap, serta keterampilan melalui penguatan praktik dan pengalaman

tertentu (Hidayati et al., 2020).

b. Tujuan Pendekatan Supportive Educative Dalam Keperawatan

1) Meningkatkan Pengetahuan

Membantu pasien memahami kondisi kesehatannya, seperti

penyebab penyakit, komplikasi, dan cara pencegahan.

2) Mengembangkan Keterampilan Self care


21

Melatih pasien agar mampu melakukan perawatan mandiri, seperti

memantau tekanan darah atau mengatur pola makan.

3) Meningkatkan Kemandirian dan Kepercayaan Diri

Mendorong pasien untuk mengambil keputusan dan bertanggung

jawab terhadap kesehatannya sendiri.

4) Memanfaatkan Dukungan Lingkungan

Melibatkan keluarga dan sumber daya sekitar (kader, komunitas)

untuk mendukung keberhasilan perawatan (Hidayati et al., 2020).

c. Peran Perawat Dalam Pendekatan Supportive Educative Dalam

Keperawatan

1) Educator

Memberikan Pendidikan tentang penyakit, terapi, diet dan gaya

hidup.

2) Motivator

Mendorong pasien untuk aktif dalam pengambilan Keputusan

Kesehatan dan perawatan diri.

3) Fasilitator

Membantu pasien mengakses sumber daya, misalnya alat bantu atau

dukungan keluarga.

4) Konselor

Mendukung psikologis pasien dan membantu mengatasi kecemasan,

stress, atau ketakutan.


22

5) Kolaborator

Bekerjasama dengan tenaga Kesehatan lain dan keluarga untuk

meningkatkan hasil perawatan pasien (Nelista et al., 2021).

d. Contoh Intervensi Perawat Dalam Pendekatan Supportive

Educative Dalam Keperawatan

Menurut (Tok Yildiz & Kasikci, 2020) intervensi dalam pendekatan

supportive educative adalah sebagai berikut:

1) Teaching (Pengajaran):

Memberikan informasi dan keterampilan kepada pasien agar mereka

memahami kondisi kesehatannya dan mampu merawat diri sendiri.

Contohnya, mengajarkan cara mengontrol tekanan darah.

2) Guiding (Pembimbingan):

Membimbing pasien dalam mengambil keputusan dan merencanakan

tindakan kesehatan. Perawat berperan sebagai fasilitator, bukan

hanya pemberi instruksi. Contohnya, menjelaskan cara menurunkan

tekanan darah, seperti pola makan sehat, mengurangi garam,

olahraga rutin, menghindari merokok dan alkohol, serta minum obat

secara teratur.

3) Supporting (Dukungan):

Memberikan dukungan emosional dan motivasi agar pasien merasa

didampingi, percaya diri, dan tidak putus asa menghadapi

penyakitnya seperti:
23

a) Dukungan emosional

Memberikan dorongan psikologis seperti empati, perhatian,

dan kepedulian yang dapat mengurangi kecemasan dan stres

pasien, sehingga pasien lebih termotivasi dalam menjalankan

pengelolaan penyakitnya.

b) Dukungan informasi

Penyediaan informasi yang jelas dan akurat terkait kondisi

penyakit, pengobatan, pola hidup sehat, dan tindakan

pencegahan yang harus dilakukan sehingga pasien dapat

memahami dan mengelola kesehatannya dengan lebih baik.

c) Dukungan instrumental

Bantuan praktis seperti pendampingan kontrol kesehatan

seperti pengecekan tekanan darah, bantuan dalam pelaksanaan

aktivitas sehari-hari.

d) Dukungan penghargaan

Pengakuan dan apresiasi terhadap usaha dan pencapaian pasien

dalam mengelola penyakitnya, yang dapat meningkatkan rasa

percaya diri dan motivasi untuk terus menjaga kesehatan.

4) Developmental Environment (Lingkungan Pengembangan):

Menciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk belajar,

baik secara fisik maupun psikologis. (Rizkaningsih et al., 2025).


24

5) Supportive Educative Berbasis Caring

a. Definisi Supportive Educative Berbasis Caring

Supportive edukative berbasis caring adalah pendekatan

keperawatan yang menggabungkan pemberian edukasi (pendidikan

kesehatan) dan dukungan emosional secara empatik dan humanistik,

yang bertujuan membantu pasien meningkatkan kemampuan dalam

merawat dirinya sendiri (self care). Pendekatan ini berakar pada teori

Self-Care Orem dan Teori Caring Watson. Perawat tidak hanya

memberikan informasi dan bimbingan, tetapi juga melibatkan empati,

kasih sayang, dan perhatian tulus terhadap kondisi pasien, sehingga

pasien merasa dihargai, dipahami, dan termotivasi untuk mengelola

kesehatannya secara mandiri (Suprayitno & Damayanti, 2020).

b. Karakteristik intervensi supportive educative berbasis caring

Intervensi ini berfokus pada pemberian dukungan emosional dan

pendidikan kepada pasien, dengan pendekatan yang berpusat pada

kepedulian dan perhatian terhadap kebutuhan individu. Karakteristik

utamanya meliputi:

1) Penekanan pada hubungan terapeutik: Membangun hubungan yang

kuat dan saling percaya antara perawat dan pasien.

2) Pemberian informasi dan edukasi: Memberikan informasi yang jelas

dan akurat tentang kondisi pasien, perawatan yang dibutuhkan, dan

cara mengelola gejala.


25

3) Dukungan emosional: Memberikan dukungan dan dorongan kepada

pasien untuk mengatasi tantangan emosional yang mungkin timbul.

4) Pemberdayaan pasien: Memberikan pasien pengetahuan dan

keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola kondisi mereka

sendiri.

5) Kolaborasi: Bekerja sama dengan pasien, keluarga, dan tim

kesehatan lainnya untuk mencapai tujuan perawatan yang optimal

(Pardede, 2020).

c. Langkah-langkah Intervensi Supportive Educative Berbasis Caring

1) Pengkajian

Meliputi observasi, identifikasi, dan review masalah menggunakan

pengetahuan dari literature yang bisa diaplikasikan.

2) Perencanaan

Perencanaan membantu dalam menentukan bagaimana variabel-

variabel akan diteliti atau diukur, meliputi suatu pendekatan

konseptual atau desain untuk pemecahan masalah yang mengacu

pada asuhan keperawatan serta menentukan data apa yang akan

dikumpulkan dan pada siapa dan bagaimana data akan dikumpulkan.

3) Implementasi

Merupakan tindakan langsung dan implementasi dari rencana serta

meliputi pengumpulan data.


26

4) Evaluasi

Merupakan proses untuk menganalisa data, juga untuk menilai efek

dari intervensi berdasarkan data serta meliputi interpretasi hasil,

tingkat dimana suatu tujuan yang positif tercapai, dan apakah

hasilnya bisa digeneralisasikan (Widiatmika, 2019).

d. Manfaat Intervensi Penelitian Supportive Educative Berbasis

Caring

1) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien tentang

penyakit.

2) Meningkatkan kemampuan perawatan diri. Dengan adanya

dukungan dan Pendidikan pasien lebih mampu dalam melakukan

perawatan diri.

3) Meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri. Dukungan emosional

yang diberikan dalam intervensi ini dapat meningkatkan motivasi

pasien untuk sembuh.

4) Meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Dengan pemahaman

yang lebih baik dan motivasi yang meningkat pasien cenderung lebih

patuh terhadap pengobatan.

5) Meningkatkan kualitas hidup (Suprayitno & Damayanti, 2020).

e. Intervensi yang digunakan Supportive Educative Berbasis Caring

Intervensi yang akan dilakukan adalah edukasi berbasis caring

kepada pasien hipertensi dengan edukasi yang berfukus kepada

supporting, teaching, guiding. Sehingga pasien lebih mampu


27

memahami dan menerapkan perilaku perawatan diri untuk mengontrol

hipertensi mereka.

Supportive educative berbasis caring media yang digunakan

Satuan Penyuluhan (SAP) Supportive Educative Berbasis Caring pada

penelitian ini diadopsi dari penelitian (Lestary, C. E 2023) yaitu edukasi

(pendidikan kesehatan) kepada pasien menggunakan media leaflet,

yang dilakukan dengan landasan nilai-nilai caring (kepedulian) yang

berisi tentang pengelolaan hipertensi, integritas diri, regulasi diri,

hubungan dengan tenaga kesehatan , dukungan sosial, dan pemantauan

tekanan darah serta kepatuhan terhadap anjuran medis. Komponen

perawatan diri (diet, aktivitas fisik, kepatuhan minum obat, dan

pemantauan tekanan darah), serta cara penerapannya dalam kehidupan

sehari-hari.

B. Penelitian Terkait

Penelitian Ginting & Keperawatan (2024) berjudul "Pengaruh

Supportive Educative Berbasis Caring Terhadap Self care Pada Penderita

Hipertensi di Desa Delitua Barat" menggunakan desain quasi

eksperimental dengan sampel 32 penderita hipertensi yang dibagi

menjadi kelompok perlakuan (intervensi supportive educative berbasis

kepedulian) dan kelompok kontrol (mendapat leaflet hipertensi). Hasil

uji independent t-test menunjukkan bahwa intervensi tersebut efektif

meningkatkan manajemen perawatan diri pada penderita hipertensi


28

meskipun nilai p mendekati signifikansi (p=0,069 dan selisih delta

p=0,075

Penelitian sejalan juga dilakukan (Lukmawati et al., 2020) dengan

judul “ Pengaruh Supportive Educative Terhadap Self Care Pasien

Hipertensi Pada Salah Satu Puskesmas Di Bandung”. Jenis penelitian ini

kuantitatif dengan desain pre eksperimental (one group pretest-posttest).

Sampel pada penelitian ini yaitu lansia yang menderita hipertensi

sebanyak 10 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Cluster

Sampling. Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini

menggunakan analisis inferensial dengan menggunakan uji paired t-test.

Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan

antara self care sebelum dan sesudah diberikan intervensi supportive

educative (p-value 0,001; α = 0,005) dengan skor mean 42,90 lebih rendah

dibandingkan dengan sesudah diberikan intervensi sebesar 56,70.

Penelitian sejalan berikutnya dilakukan (Suprayitno & Damayanti,

2020) yang berjudul “Intervensi Supportive Educative Berbasis Caring

Meningkatkan Self Care Management Penderita Hipertensi”. Desain

penelitian ini adalah quasi experimental. Populasi yaitu seluruh lansia

penderita hipertensi sebanyak 71 orang dengan simple random sampling,

jumlah sampel sebanyak 66 orang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu

kelompok perlakuan sebanyak 33 orang diberikan intervensi supportive

educative berbasis caring dan sebanyak 33 orang kelompok kontrol

diberikan leaflet tentang penyakit hipertensi. Hasil penelitian berdasarkan


29

uji independent t test skor self care management pada kelompok perlakuan

dan kontrol setelah intervensi yaitu p=0,000. Skor selisih delta skor self

care management pada kelompok perlakuan dan kontrol setelah intervensi

yaitu p=0,000.
30

C. Kerangka Teori

Ringkasan dan tinjauan Pustaka untuk mengidentifikasi variabel

yang akan diteliti untuk mengembangkan kerangka konsep penelitian

(Notoadmojo, 2018).

Hipertensi

Etiologi
Faktor yang Kurangnya perawatan
mempengaruhi diri
1. Genetik
2. Jenis
kelamin
3. Usia Self care
4. Obesitas
5. Kurang
olahraga
6. Merokok Self Care Baik Self Care Buruk
7. natrium 1. Kepatuhan 1. Rendah nya pengetahuan
minum obat 2. Tidak teratur minum obat
2. Pemantauan tekanan 3. Tidak memantau tekanan
darah rutin darah
3. Diet rendah garam 4. Pola makan tinggi garam
4. Aktivitas fisik 5. Kurang aktivitas fisik
5. Maanajemen 6. Kurang dukuangan
emosional emosional
6. Menghindari rokok
dan alkohol

Intervensi suportif edukatif


berbasis caring

1. Faktor yang
mempengaruhi
Presepsi terhadap penyakit
2. Motivasi diri
3. Efikasi diri
4. penguatan self care

Sumber:(Marhabatsar & Sijid, 2021), (Khotibul et al., 2023).

Gambar 2.2
Kerangka Teori
31

D. Kerangka Konsep

Diagram alur hubungan antar variabel:

Varibel Independent Variabel Dependen

Supportive Educative
Self Care
berbasis Caring

Gambar 2.3
Kerangka Konsep

E. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,

dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada

teori yang relevan.

Ha : Ada pengaruh supportive educative berbasis caring terhadap self care

penderita hipertensi.
32

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, yaitu penelitian

yang berlandaskan filsafat dan positivisme. Penelitian ini digunakan untuk

meneliti pada populasi atau sampel tertentu dengan pengumpulan data

menggunakan instrument penelitian, data yang terkumpul di analisis secara

kuantitatif menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data hingga

penafsiran terhadap data tersebut. (Sugiyono, 2023)

B. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu Penelitian

Waktu penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 12-14 Oktober 2025 Di

Puskesmas Gedong Tataan.

2. Tempat Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan di Puskesmas Gedong Tataan.

C. Rancangan Penelitian

Metode yang digunakan yaitu Quasi Eksperimental dengan one grup

grup. pre-post test design yaitu rancangan ini tidak ada kelompok pembanding

(kontrol) dilakukan observasi pertama (Pretest) yang memungkinkan menguji

perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen (Program).

Penelitian dilakukan bertujuan untuk mengetahui perubahan self care

32
33

hipertensi sebelum dan sesudah dilakukan supportive educative berbasis

caring. Bentuk desain ini adalah sebagai berikut: (Sugiyono, 2023)

Tabel 3.1
Bentuk Desain
Subjek Pre test Perlakuan Post tes
K-A O 1 O1
Sumber : (Sugiyono, 2023)

K-A = Kelompok

O = Pengetahuan sebelum dilakukan aktivitas edukasi kelompok

1 = Intervensi standar puskesmas dan supotive educative berbasis caring

2 = Pengetahuan setelah dilakukan aktivitas edukasi kelompok

D. Subjek Penelitian

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2023) Populasi adalah wilayah generalisasi yang

terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik

tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan

kemudian ditarik kesimpulannya. Oleh karena itu sesuai dengan penjelasan

yang telah disampaikan bahwa populasi yang menjadi menjadi target dalam

penelitian kali ini yaitu keseluruhan penderita hipertensi yang datang ke

Puskesmas Gedong Tataan yang berjumlah 114.


34

2. Sampel

Sampel adalah sebagian atau jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2023)

a. BesarِّSampel

Sampel dalam penelitian ini yang dijadikan populasi sampel adalah

semua penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Gedong Tataan

sebanyak 114 penderita. Teknik perhitungan sampel yang digunakan

dalam penelitian ini adalah rumus slovin yaitu:

𝑁
𝑛 = 1+𝑁⋅𝑑2

𝟏𝟏𝟒 𝟏𝟏𝟒 𝟏𝟏𝟒


𝒏= = 𝟏+𝟏𝟏𝟒.(𝟎,𝟎𝟏) = 𝟏+𝟐,𝟏𝟒 = 53,27
𝟏+𝟏𝟏𝟒⋅(𝟎,𝟏)𝟐

Keterangan :

N : Besar Populasi

n : Besar sampel

d : Derajat penyimpangan terhadap populasi yang di inginkan

Berdasarkan perhitungan sampel diatas maka dapat di tarik kesimpulan

jumlah sampel 53,27 dan dibulatkan menjadi 53 responden pasien

Hipertensi yang diambil diwilayah kerja Puskesmas Gedong Tataan yang

akan diteliti dalam penelitian ini.


35

b. TehnikِّSampelِّ

Tehnik sampling adalah salah satu dimana sampel diambil untuk

memastikan bahwa setiap subjek penelitian menerima sampel yang

sesuai. Adapun tehnik yang digunakan pada penelitian ini adalah

consecutive sampling yaitu teknik pengambilan sempel yang dimana

semua subjek yang datang dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukan

dalam penelitian ini sampai jumlah yang diperlukan terpenuhi.

(Sugiyono, 2023).

Penelitian ini menggunakan metode Focus Group Discussion

(FGD) dengan pendekatan supportive educative berbasis caring untuk

meningkatkan self care pada penderita hipertensi. Sampel penelitian

terdiri dari responden di Desa Sepakat 10 Responden , Desa Pampangan

13 responden , dan Desa Bogorejo 20 responden . Pembagian kelompok

FGD ditunjukkan pada Tabel 3.2, di mana terlihat FGD Pretest dan

Posttest per desa. Jumlah anggota setiap FGD tetap sama, namun

beberapa anggota dipertemuan ke 3 di minggu ke 4 berpindah sesuai

kondisi di lokasi penelitian.

penelitian ini dilakukan dalam tiga pertemuan. Pertemuan pertama

(Minggu 1) meliputi pretest dan FGD tatap muka dan memberikan

intervensi supportive educative berbasis caring. Pertemuan kedua

(Minggu 2) dilaksanakan secara daring melalui WhatsApp untuk

evaluasi penerapan self care, diskusi kendala, dan penguatan motivasi.


36

Pertemuan ketiga (Minggu 4) adalah posttest dan FGD tatap muka,

dengan beberapa responden berpindah ke kelompok lain menyesuaikan

kondisi di tempat penelitian, sementara jumlah anggota tiap FGD tetap

sama. Dan seluruh responden mengikuti penelitian hingga selesai,

sehingga tidak ada yang gugur atau terlewat dalam setiap tahap kegiatan.

Kelompok tabel seperti berikut:

Tabel 3.2
Alur Pretest – evaluasi – Posttest

Desa FGD Nama responden FGD FGD Nama Responden


pretest Pretest Daring Posttest Postest
Sepakat 1 S, S, D, F, S Semua 1 S, D, F, M, S
2 S, S, T, M, S 2 S, S, T, S, S
Pampangan 1 M, M, M, Y Semua 1 M, M, M, L
2 L, S, M, W, R 2 S, M, W ,Y
3 N, P, P ,S 3 N, P, P, S, R
Bogorejo 1 S, E, R, S Semua 1 S, E, S
2 R, S, A, N, S 2 S, R, A, N, S
3 S, H, Y, S, S 3 S, H, M, S, S, Y
4 K, R, K, C, M 4 K, R, K, M, C
5 T, S, E, S 5 T, S, S, S, U
6 S, U, R, S, N, R, R 6 S, S, N, S, K, R

c. KriteriaِّSampel

Sempel penelitian ini sesuai dengan kriteria inklusi dan eklusi.

a. kriteria inklusi penelitian ini:

1. Pasien terdiagnosa penyakit hipertensi

2. Bisa membaca/menulis

3. Bersedia menjadi responden

4. Tidak mengalami gangguan jiwa/kognitif

b. Kriteria eklusi pada penelitian ini adalah:

1. Dirawat inap atau kondisi kritis


37

2. Komplikasi berat (stroke, gagal ginjal, dll)

3. Gangguan komunikasi berat

4. Mengundurkan diri sebelum penelitian selesai

5. Riwayat gangguan psikiatri berat

E. Variabel Penelitian

Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran

yang memiliki atau didapatkan oleh suatu penelitian tentang suatu konsep

pengertian tertentu (Sugiyono, 2023)

1. Variabel Independen (bebas)

Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variable lainnya.

(Sugiyono, 2023) Variabel independen dalam penelitian ini adalah

Supportive Educative Berbasis Caring.

2. Variabel Dependen (terikat)

Variabel dependen adalah yang nilainya di pengaruhi atau ditentukan oleh

variabel lain. (Sugiyono, 2023) Variabel dependen dalam penelitian ini

adalah Self Care Penderita Hipertensi.


38

F. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Tabel 3.3
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Skala


Ukur Ukur
Independen

Supportive Supportive Edukasi Edukasi kesehatan Telah


Educative educative kesehatan yang dilakukan diberikan
Berbasis Caring berbasis caring (Nu’man, 2023) berhubungan dengan Supportive
adalah suatu Pengetahuan. educative
pendekatan dalam integritas diri dalam berbasis
pelayananan mengelola caring 1
keperawatan yang hipertensi, regulasi kali
menggabungkan diri, hubungan
dukungan dengan tenaga
emosional dan
kesehatan, dukungan
edukasi
(pendidikan sosial, pemantauan
kesehatan) tekanan darah,
kepada pasien, kepatuhan terhadap
yang dilakukan anjuran medis..
dengan landasan
nilai-nilai
caring (kepedulia
n) seperti
supporting,
teaching, guiding.
Dependen

Self adalah suatu Kuesioner Self Penelti memberikan Skor self interval
Care tindakan Care (HSMBQ) dan membacakan care
serangkaian Kuesioner dengan kuesioner yang berisi 40 – 80
teknis untuk jumlah 40 pertanyaan mengenai kurang
mengubah pertanyaan aspek aspek self-care 81- 120
prilaku pikiran dengan pada penderita Cukup
dan perasaan menyatakan hipertensi. Responden 121-160
pada penderita 1= tidak pernah kemudian mengisi baik
hipertensi 2= jarang angka 1-4 sesuai
3=kadang-kadang dengan persepsi yang
4=selalu dirasakan sehari hari-
N/A= prilaku hari.
yang tidak pernah
dilakukan
(Paramita, 2021)
39

G. Pengumpulan Data

1. Instrumen

a. Supportive Educative Berbasis Caring

Supportive Educative (pendidikan kesehatan) kepada pasien, yang

dilakukan dengan landasan nilai-nilai caring (kepedulian) seperti

supporting, teaching, guiding (Lestry, 2023)

Tabel 3.4
Tahapan Kegiatan

No Tahapan Kegiatan Peneliti


1. (Supportive Memberikan penyuluhan dengan materi :
educative: 1. Regulasi diri
teching) 2. Integrasi diri dalam mengelola hipertensi
3. Manajemen diri
4. Interaksi dengan tenaga kesehatan
5. Pemantauan tekanan darah
6. Kepatuhan terhadap anjuran medis.
(Supportive Memberikan penyuluhan dengan materi :
educative: 1. Mengenalkan pengobatan hipertensi
Guiding) 2. Mengenalkan pola makan yang baik
3. Mengenalkan aktivitas fisik yang baik
4. Menjelaskan tentang kepatuhan minum obat
[Link] kepatuhan mengontrol tekanan darah
secara rutin
( Supportive 1. Dukungan informasi
educative : 2. Dukungan emosional
supporting ) 3. Dukungan instrumental
4. Dukungan penghargaan

Tabel 3.5
Tahapan pelaksanaan

PERTEMUAN 1 (MINGGU PERTAMA) 60 MENIT


Suporrtive 1) Memberi pretest : lembar kuesioner self care hipertensi
educative: 2) Peneliti lalu memberikan penyuluhan kesehatan yang
Teaching regulasi diri, integrasi dalam mengelola hipertensi,
manajemen diri, interaksi dengan tenaga kesehatan,
pemantauan tekanan darah, kepatuhan terhadap anjuran
medis.
Supportive Memberikan penyuluhan kesehatan berupa bimbingan dalam
educative: menerapkan pengelolaan penyakit hipertensi :
guiding 1) Mengenalkan pengobatan hipertensi
40

2)Mengenalkan pola makan yang baik


3)Mengenalkan aktivitas fisik yang baik
4)Menjelaskan tentang kepatuhan minum obat
5)Menjelaskan kepatuhan mengontrol tekanan darah secara
rutin
Supportive 1) Dukungan informasi
educative : Adalah penyediaan dan akses terhadap pengetahuan atau
supporting informasi yang membantu individu memahami dan
mengelola kesehatan serta kesejahteraan mereka sendiri
intervensi : edukasi berbasis caring mengenai hipertensi
dan gaya hidup sehat (pola makan rendah garam,
aktivitas fisik rutin, istirahat cukup, manajemen stres,
berhenti merokok dan membatasi alkohol), pentingnya
memantau tekanan darah secara teratur, serta
penggunaan obat yang sesuai anjuran dokter.
2) Dukungan emosional
Adalah dukungan yang memberikan dorongan positif,
mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa
menghakimi, serta memberikan informasi atau panduan
agar individu dapat merawat diri sendiri dengan baik
secara fisik dan emosional.
intervensi: mendengarkan penuh perhatian saat
responden bercerita, mendengarkan keluhan pasien
dengan empati, memberi motivasi agar pasien tetap patuh
minum obat, meyakinkan pasien bahwa hipertensi dapat
dikendalikan dengan gaya hidup sehat.
3) Dukungan intrumental
Adalah tindakan konkret untuk membatu pasien
mengelola penyakit nya.
intervensi: pendampingan medis dengan memantau
tekanan darah dan mengingatkan minum obat secara
rutin.
4) Dukungan penghargaan
Adalah memberikan apresiasi, rasa bangga, atau
pengakuan atas usaha seseorang dalam merawat diri
sendiri untuk mempertahankan kesehatan dan
kesejahteraannya
intervensi: memberikan apresiasi (hadiah) atas usaha,
pengakuan dan menunjukan rasa bangga.

PERTEMUAN 2 (MINGGU KE TIGA)


Suporrtive 1) Mengevaluasi kembali terkait kesulitan dalam mengelola
educative: hipertensi setelah 2 minggu yang lalu diberikan nya
teaching, teaching, guiding ,supporting dan menanyakan kesulitan
guiding, yang dialami penderita dalam merawat kondisi yang
supporting dialami setelah diberi supportive educative berbasis
caring
41

PERTEMUAN 3 (MINGGU KE EMPAT)


Suporrtive 1) Memberi postest: lembar kuesioner self care hipertensi
educative 2) Evaluasi dan diskusi hasil memberikan feedback kepada
pasien mengenai hasil postest dan pengembangan
pengelolaan hipertesi yang dilakukan
3) Pemberian reinforcement (penguatan) berupa motivasi
tambahan
4) Melakukan cek tekanan darah dan memberikan apresiasi
(hadiah) atas usaha, pengakuan dan
menunjukan rasa bangga atas usaha melakukan
perawatan diri dalam mengelola hipertensi

Penelitian ini telah diuji normalitas dan didapatkan value sig. 0,000

dengan nilai p<0,05 yang berarti ada pengaruh supportive educative

berbasis caring terhadap self care.

b. Self Care

Kuesioner ini diadopsi oleh (Tasya, 2021) tentang self care

management pasien hipertensi dengan jumlah 40 item pertanyaan.

Pilihan jawaban ada 4 yaitu tidak pernah =1, jarang =2, kadang-kadang

=3, selalu =4, N/A =Tidak pernah dilakukan. Kuesioner ini meliputi

intergrasi diri, regulasi diri, interaksi dengan tenaga medis, pemanuan

tekanan darah, kepatuhan yang telah dianjurkan. Pada penelitian ini tidak

dilakukan uji validitas karena data sudah valid dengan Content Validity

Indeks (CVI) yaitu 1 Instrument dikatakan valid dengan CVI 0,8-1,0.

Dikatakan baik jika = 121-160, cukup = 81-120, kurang = 40-80

2. Proses Penelitian

melakukan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan hasil dari

objek yang diteliti, terdapat prosedur-prosedur yang perlu dilakukan,

sebagai berikut :
42

1. Tahap Persiapan

a) Menyampaikan persetujuan judul penelitian sebagai pengantar surat

permohonan ijin melaksanakan penelitian kepada kepala puskesmas.

b) Menyampaikan surat pengantar kepada kepala puskesmas untuk

melakukan survei pendahuluan.

c) Menyampaikan surat permohonan ijin melaksanakan penelitian

kepada Kepala puskesmas untuk melakukan penelitian

d) Menyampaikan surat permohonan ijin melaksanaan penelitian kepada

Kepala Puskesmas.

e) Setelah mendapatkan izin, peneliti menemui calon responden secara

langsung dengan cara mengumpulkan responden di ruangan.

f) Apabila calon responden bersedia menjadi responden, maka

dipersilahkan untuk menandatangani informed concent dan apabila

calon responden tidak bersedia menjadi responden maka peneliti tetap

menghormati keputusan tersebut.

2. Tahap Pelaksanaan

a) Peneliti memberi lembar informed consent kepada responden, jika

bersedia langsung dapat menandatangan lembar informasi consent.

b) Pertemuaan pertama supportive educative berbasis caring dilkukan

di Puskesmas Gedong Tataan.

c) Supportive educative berbasis caring dilakukan peneliti dan perawat

Puskesmas Gedong Tataan.


43

d) Peneliti membagikan kuesioner Pre-test kepada responden yang telah

bersedia menjadi responden dan menandatangani informed concent,

kemudian responden mengisi kuesioner dengan didampingi peneliti

dalam mengisi kuesioner.

e) Setelah kuesioner diisi oleh responden maka tes tersebut dikumpulkan

kembali kepada peneliti pada saat itu juga.

f) Setelah kuesioner terkumpul, peneliti memerikasa kelengkapan data

dan jawaban dari kuesioner yang diisi oleh responden.

g) Selanjutnya responden diberikan suporrtive educative berbasis caring

dengan supporting (dukungan), teaching (pengajaran), guiding

(bimbingan) dengan melakukan penyuluhan kepada reponden.

h) Lalu memberikan jadwa umtuk pertemuan selanjut nya.

i) Setelah 4 minggu peneliti memberikan kuesioner post test dengan

kepada pasien yang telah diberikan supportive educative.

H. Pengolahan Data

Setelah proses pengumpulan data, selanjutnya data yang diperoleh diolah

dan dianalisis agar dapat menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk

menjawab tujuan penelitian. Proses pengolahan data dan analisis data menurut.

(Sugiyono, 2023)

1. Editing

Kuesioner/angket yang telah diisi oleh responden akan diedit terlebih

dahulu, penyuntingan merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan

formulir atau kuesioner tersebut tidak diolah atau dimasukan dalam


44

pengolahan. Dalam proses editing peneliti menjumlahkan nilai hasil dari

setiap pertanyaan dari kuesioner menjadi skor akhir.

2. Coding

Setelah semua kuesioner telah di edit dan disunting, selanjutnya dilakukan

coding yaitu mengubah data berbetuk kalimat atau huruf menjadi angka atau

bilangan. Setelah peneliti melakukan penelitiam, kuesioner diganti dengan

kode-kode.

3. Scoring

Merupakan pengolahan data untuk memberikan skor bedasarkan kriteria

yang telah ditentukan sesuai kuesioner. dengan cara mengisi kolom-kolom

lembar kode sesuai jawaban masing-masing setiap pertanyaan.

4. Tabulating

Tabulating adalah mengelompokan data dalam tabel tertentu menurut sifat-

sifat yang dimilikinya. Pada data ini dianggap data telah diproses sehingga

harus segera disusun dalam suatu format yang sudah dirancang.

5. Data Entry

Mengisi kolom-kolom pada lembar kode dan memasukan hasil data ke

dalam progam komputer. Tahap ini dilakukan setelah data diubah dalam

bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukan ke dalam progam pengolahan

data SPSS (Statistical Package for the Sosial Sciens) atau “software”

computer.

6. Prosessing
45

Setelah dilakukan analisis selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah

memproses data.

7. Cleaning

Apabila semua data dari setiap sumber data atau repsonden selesai

dimasukan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan

adanya kesalahan kode, ketidak lengkapan, dan sebagainya, kemudian

dilakukan perbaikan atau koreksi.

I. Analisa Data

1. Analisa Univariat

Analisis data univariat bertujuan untuk menjelaskan atau

mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada analisa data

univariat ini digunakan untuk mengetahui rata-rata skor self care sebelum

diberi Supportive Educative Berbasis Caring dan sesudah diberi Supportive

Educative Berbasis Caring Penderita Hipertensi di Puskesmas Gedong

Tataan.

2. Analisa Bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk menganalisa terhadap dua variabel

yaitu dependent dan independen. Analisa bivariat digunakan untuk

membandingkan persamaan atau perbedaan antara dua variabel (Sugiyono,

2023). Dalam penelitian ini analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui

Pengaruh Supportive Educative Berbasis Caring Terhadap Self Care

Penderita Hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan.


46

Uji normalitas ini menggunakan uji Kolmogorov Smirnov Dalam

analisis statistik parametrik. Didapatkan data >0,05 disimpulkan bahwa data

berdistribusi normal sehingga uji statistik yang digunakan yaitu dengan

pendekatan parametrik yaitu paired sampel t-test.


47

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Lokasi Penelitian

1. Gambaran Umum Puskesmas Gedong Tataan

Puseksmas Gedong Tataan berdiri sejak tahun 1972 dengan luas

wilayah nya 9.176 hektar. Wilayah Puskesmas Gedong Tataan terdiri dari 11

desa dengan jumlah penduduk 53.343 jiwa. Terdapat 3 Puskesmas pembantu,

5 Poskesdes, 50 Posyandu balita, 11 Posyandu lansia dan 11 Posbindu.

UPTD Puskesmas Gedong Tataan berlokasi di Desa Sukaraja,

Kecamatan Gedong Tataan. Wilayah kerja Puskesmas ini mencakup

pelayanan kesehatan di beberapa desa, yaitu Desa Padang ratu, Pampangan,

Cipadang, Way Layap, Sukadadi, Gedong Tataan, Bagelen, Sukaraja, Bogo

Rejo, Karang Anyar, dan Kuto Arjo dalam Keacamatan Gedong Tataan.

Puskesmas ini juga menegelola beberapa Puskesmas Pemabantu lainnya,

yaitu di Way Layap, Sukadadi, dan cipinang.

Puskesmas Gedong Tataan kini melayani berbagai fasilitas kesehatan

seperti pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, Unit Gawat Darurat (IGD),

Laboratorium, Ruang Tindakan Medis, Ruang Edukasi Pasien, Apotek, serta

Ruang Tunggu untuk kenyamanan pengunjung.

46
48

B. Hasil Penelitian

1. Krakateristik Responden

Tabel 3.6
Distribusi Karakteristik Responden Self Care Penderita Hipertensi
Di Puskesmas Gedong Tataan.
No Karakteristik Frekuensi (f) Persentase (%)
1 Usia
40-45 7 13,2%
46-50 7 13,2%
51-55 7 13,2%
55-60 13 24,5%
61-65 10 18,9%
65-70 9 17.0%
Jumlah 53 100%
2 Jenis Kelamin
Laki-laki 6 11,3%
Perempuan 47 88,7%
Jumlah 53 100%
3 Pendidikan
SD 28 52,8%
SMP 10 18.9%
SMA 14 26,4%
Sarjana 1 1,9%
Jumlah 53 100%
4 Pekerjaan
Guru 1 1,9%
Petani 15 28,3
Buruh 1 1,9
Irt 21 39,6
Tidak Bekerja 15 28,3
Jumlah 53 100%
5 Lama Sakit
1-5 tahun 32 60,4%
6-10 tahun 14 26,4%
11-15 tahun 5 9,4%
16-20 tahun 1 1,9%
21-25 tahun 1 1,9%
Jumlah 53 100%
6 Riwayat Keluarga
Ibu 29 54,7%
Ayah 2 3,8%
Tidak ada 22 41,5%
Jumlah 53 100%
49

Berdasarkan table 3.6 di atas, diketahui bahwa usia responden yang

menderita hipertensi didominasi oleh kelompok umur dari 50-60 tahun yaitu

13 orang (24,5%), di ikuti usia 61-65 tahun sebanyak 10 orang (18,9%), usia

51-55 tahun sebanyak 7 orang (13,2%), begitu juga dengan usia dengan

kelompok 40-45 tahun masing-masing 7 orang (13,2%) dan responden yang

berusia 65-70 tahun sebanyak 9 orang (17,0%). Menunjukan bahwa kasus

hipertensi banyak terjadi di indivu menjelang usia daripada usia muda. Dan

sebanyak 47 responden (88,7) adalah perempuan dan 6 responden (11,3)

laki-laki. Dan dari sisi Pendidikan, responden paling banyak di lulusan (SD)

sebanyak 28 orang (52,8%) kemudian lulusan (SMP) 14 orang (26,4%) dan

menengah atas (SMA) 10 orang (18,9%) sedangkan lulusan Sarjana hanya

1 orang (1,9%). Lama sakit yang di alami Sebagian besar responden

berkisar antara 1-5 tahun yaitu sebnayak 32 orang (60,4%), sementara masa

sakit 6-10 tahun di alami 14 orang (26,4), lalu 11-15 tahun sebanyak 5 orang

(9,4%) dan masing-masing 1 orang di usia 16-20 tahun dan 21-25 tahun

(1,9%). Selain itu, Riwayat keluarga yang menderita hipertensi paling

sering ditemukan pada ibu dengan total 29 orang (54,7%) dari ayah

sebanyak 2 orang (3,8%), dan yang tidak mempunyai Riwayat keluarga

sebnyak 22 orang (41,5%). Temuan ini menunjukan bahwa faktor genetic

berperan penting sebagai resiko terjadinya hipertensi.


50
51

2. Analisis Univariat

Analisis data univariat bertujuan untuk menjelaskan atau

mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada analisa

data univariat ini digunakan untuk mengetahui rerata skor self care

sebelum diberi Supportive Educative Berbasis Caring dan sesudah diberi

Supportive Educative Berbasis Caring Penderita Hipertensi di

Puskesmas Gedong Tataan. Uji Normalitas menggunakan uji

Kolmogorov-Smirnov yang menunjukan bahwa data self care sebelum

dan sesudah diberikan supportive educative berbasis caring memiliki

nilai yang signifikansi masing-masing sebesar 0,163 dan 0,200 ( p

>0,05), menunjukan bahwa data berdistribusi normal. Dapat dilanjutkan

menggunakan uji paired sample t-test.

Data Hasil penelitian kemudian disajikan dalam bentuk tabel agar

memberikan gambaran yang jelas dan terstruktur.

a. Self Care Penderita Hipertensi Sebelum Diberikan Supportive

Educative Berbasis Caring

Table 3.7
Rerata Skor Self Care Penderita Hipertensi Sebelum Diberikan
Supportive Educative Berbasis Caring Di Puskesmas Gedong Tataan.

Rerata (s.b) IK95%


Pre test 87,36 (0,15) 83,01-91,70

Berdasarkan table 3.6, diketahui bahwa hasil rerata skor self

care penderita hipertensi sebelum diberikan supportive educative

berbasis caring adalah sebesar 87,36 dengan simpangan baku (0,15).

Hal ini menunjukan bahwa kemampuan self care responden berada


51
52

pada kategori cukup namun masih kurang optimal. Dengan nilai

interval kepercayaan 95% (IK95%) berada pada rentang 83,01-91,70

yang berarti bahwa dengan tingkat kepercayaan 95% rerata self care

sebenarnya pada populasi berada dalam rentang tersebut. Temuan ini

menggambarkan bahwa sebagian besar penderita hipertensi memiliki

kapasitas perawatan diri yang relative homegen dan stabil saat

diberikan intervensi.

b. Self Care Penderita Hipertensi Sebelum Diberikan Supportive

Educative Berbasis Caring

Table 3.8
Rerata Skor Self Care Penderita Hipertensi Sesudah Diberikan
Supportive Educative Berbasis Caring Di Puskesmas Gedong Tataan.

Rerata (s.b) IK95%


Post test 118,57 (0,17) 113,82-123,31

Berdasarkan table 3.7, diketahui bahwa hasil rerata skor self

care penderita hipertensi sesudah diberikan supportive educative

berbasis caring adalah sebesar 118,57 dengan simpangan baku (0,17).

Hal ini menunjukan bahwa setelah inervensi, tingkat kemampuan self

care responden berada pada kategori yang cukup tinggi (baik) ndan

relative homogen karena nilai s.b (0,17) sangat kecil. Dengan nilai

interval kepercayaan 95% (IK95%) berada pada rentang 113,82-

123,31 yang berarti bahwa dengan tingkat kepercayaan 95% rerata

self care sebenarnya pada populasi berada dalam rentang tersebut.

Artinya intervensi supportive educative berbasis caring memberikan

pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan self care..


52
51

3. Analisa Bivariat

Uji Normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov yang

menunjukan bahwa data self care sebelum dan sesudah diberikan

supportive educative berbasis caring berdistribusi normal

Tabel 3.9
Uji Normalitas

Kolmogorov-Smirnov
statististic Df Sig

Self care sebelum .110 53 .163


Self care sesudah .105 53 .200

Berdasarkan table 3.8, Uji Normalitas menggunakan uji

Kolmogorov-Smirnov yang menunjukan bahwa data self care sebelum

dan sesudah diberikan supportive educative berbasis caring memiliki

nilai yang signifikansi masing-masing sebesar 0,163 dan 0,200 ( p

>0,05), menunjukan bahwa data berdistribusi normal. Maka dapat

dilanjutkan menggunakan uji paired sample t-test.

a. Pengaruh Supportive Educative Berbasis Caring Terhadap Self

Care Penderita Hipertensi

Untuk mengetahui perbedaan rata-rata Self Care antara sebelum dan

sesudah diberikan perlakuan Supportive Educative Berbasis Caring,

digunakan Uji Parired t-test dengan taraf Spesifikasi p<a 0,05

sebagaimana dapat diliat pada uraian berikut.


5352

Tabel 4.0
Hasil Uji Uji Parired T-Test S Pengaruh Supportive Educative Berbasis
Caring Terhadap Self Care Penderita Hipertensi Di Puskesmas
Gedong Tataan

Rerata (s.b) Selisih IK95% Nilai p


(s.b)
Sebelum Intervensi 87,36 (0,15) 31,21 28,13-34,28 <0,001
Sesudah Intervensi 118.57 (0,17) (11,1)

Berdasarkan tabel 3.9 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan

yang signifikan antara skor rata-rata self care penderita hipertensi

sebelum dan sesudah diberikan supportive educative berbasis caring

di Puskesmas Gedong Tataan. Nilai sebelum intervensi adalah 87,36

(0,15) dan sesudah intervensi meningkat menjadi 118,21(0,17).

Dengan demikian terjadi peningkatan sebesar 31,21 atau 35% dari

skor awal.

Nilai p-value 0,001 (p<0,05) yang menandakan bahwa

peningkatan self care setelah perlakuan tersebut sangat signifikan

secara statistik. Artinya terjadi peningkatan nilai self care setelah

adanya supportive educative berbasis caring. Intervensi supportive

educative berbasis caring ini terbukti secara efektif meningkatkan

prilaku self care pada pasien hipertensi.


54
53

C. Pembahasan

1. Analisis Univariat

a) Karakteristik Responden

Berdasarkan hasil analisi univariat, diperoleh jumlah responden

sebanyak 53 orang yang menderita hipertensi di Puskesmas Gedong

Tataan. Karakteristik responden penderita hipertensi pada penelitian ini di

dominasi oleh kelompok usia lanjut, yaitu usia 50-60 tahun (24,5%), di

ikuti usia 61-65 tahun (18,9%) dan usia 65-70 tahun (17,0) dan didominasi

prevelansi penderita hipertensi lebih tinggi pada perempuan sebanyak 47

orang( 88,7%) dan laki-laki sebanyak 6 orang (11,3%). Hasil ini

memperlihatkan bahwa resiko hipertensi dapat meningkat seiring

bertambah nya usia dan didominasi oleh penderita dengan jenis kelamin

perempuan dan berkontribusi pada penurunan kemampuan self care fisik

dan kognitif, seperti kesulitan dalam pemantauan tekanan darah mandiri,

kepatuhan obat, serta modifikasi pola makan dan aktivitas fisik akibat

keterbatasan mobilitas dan penurunan daya ingat..

Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan

oleh Tukan, (2023) menunjukan bahwa semakin bertambah usia

seseorang, dapat terjadi perubahan signifikan pada arteri berupa lumen

yang semakin sempit dan dinding pembuluh darah menjadi lebih kaku

memperberat perawatan diri, sehingga rentan kurang perawatan diri secara

mandiri dan memperberat kerja jantung dalam mempertahankan tekanan

darah, sehingga tekanan darah sistolik pada usia lebih lanjut semakin
55
54

meningkat. Dimana usia lanjut lebih rentan tidak mejalani perwatan diri

secara baik.

Penelitian ini juga sejalan dengan Suarayasa. et al., (2023) yang

menyatakan proporsi perempuan lansia pasca menopause lebih tinggi

mengalami kurangnya perawatan diri dalam mengelola hipertensi akibat

perubahan metabolik lemak hormon estrogen, menyebabkan kesulitan

modifikasi gaya hidup dan kepatuhan terapi mandiri.

Berdasarkan hasil tersebut didapatkan juga mayoritas responden

memiliki latar belakang Pendidikan dasar (SD) 28 orang (52,8%)

kemudian lulusan (SMP) 14 orang (26,4%) dan menengah atas (SMA) 10

orang (18,9%) sedangkan lulusan Sarjana hanya 1 orang (1,9%).

Pendidikan rendah berkolerasi dengan rendahnya pengetahuan serta

prilaku pencegahan dan pengelolaan self care hipertensi. Pendidikan

rendah menyebabkan defisiensi self care pengetahuan, di mana responden

kesulitan memahami informasi tentang pengukuran tekanan darah,

pengobatan, pencegahan komplikasi, dan perilaku hidup sehat, sehingga

memerlukan pendekatan supportive educative berbasis caring dengan

bahasa sederhana, demonstrasi praktik, dan materi visual untuk

meningkatkan literasi kesehatan mandiri.

Menurut Simanjuntak & Situmorang., (2019) bahwa Pendidikan

rendah menyebabkan rendahnya pengetahuan tentang hipertensi sehingga

berdampak pada kontrol tekanan darah yang buruk. Pendidikan rendah

berkorelasi dengan kurangnya perawatan diri pengetahuan, kesulitan


56
55

memahami pengukuran tekanan darah, pengobatan, pencegahan

komplikasi, dan perilaku hidup sehat. Penelitian sejalan yang dilakukan

Setiani. & Wulandar.i, (2023) menyoroti kurang nya edukasi kesehatan

pada kelompok yang berpendidikan rendah sebagai penyebab faktor

utaman rendahnya pengetahuan mereka tentang obat, cara pencegahan dan

pengelolaan hipertensi, serta bahaya komplikasi penyakit. Rendahnya

tingkat Pendidikan membuat mereka sulit menerima informasi kesehatan

dari tenaga medis, terlambat mendeteksi dini dan minim dalam

mempraktikan prilaku hidup sehat pencegahan hipertensi.

Sebagian besar responden mengalami hipertensi selama 1-5 tahun

sebanyak 32 orang (60,4%), 6-10 tahun sebanyak 14 orang (26,4%), dan

selebihnya dari 10 tahun. Hasil penelitian juga menunjukan 29 reponden (

54,7%) memiliki Riwayat keluarga hipertensi dari ibu, 2 orang (3,8% dari

ayah dan 22 orang (41,5%) tidak memiliki Riwayat keluarga. Menurut Ina

et al., (2020) mengindikasikan tingkat self care yang belum optimal pada

tahap awal penyakit sehingga berpotensi progresif tanpa intervensi.

Karakteristik ini menyoroti urgensi penguatan self care berkelanjutan,

meliputi rutinitas harian pengukuran tekanan darah, pola makan, dan

strategi coping untuk mempertahankan kontrol jangka panjang.

Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Setiani. & Wulandari, (2023)

menyatakan bahwa kurangnya perawatan diri dipengaruhi faktor genetik

(heribilitas DNA) dan pola hidup, sehingga memerlukan penguatan


5756

perawatan mandiri untuk mengatasi defisiensi pengetahuan dan praktik

pencegahan komplikasi.

Berdasarkan hasil diatas menurut pendapat peneliti karakteristik

responden terhadap 53 responden hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan,

sebagian besar kasus dialami oleh usia 55-60 (24,5%), terutama

perempuan sebanyak 47 orang (88,7%), dengan pendidikan dasar 28 orang

(52,8%), dan lama sakit dominan 1–5 tahun 32 orang (60,4%). Selain itu,

24 orang (54,7%) responden memiliki riwayat keluarga hipertensi dari ibu.

Faktor usia lanjut, perempuan, pendidikan rendah, serta riwayat genetik

terbukti menjadi faktor penentu utama risiko hipertensi. Di dominasi oleh

perempuan lansia berpendidikan rendah, khususnya lulusan SD.

Tingginya angka pada kelompok ini berhubungan erat dengan pola

pengetahuan dan perilaku hidup sehat yang masih terbatas. Hal ini

memperlemah motivasi dan pengetahuan self care akibat persepsi risiko

genetik yang tidak terkendali. Faktor ini menuntut edukasi self-care

berbasis genetik, seperti pemahaman risiko poligenik dan strategi

pencegahan mandiri untuk memutus siklus familial melalui skrining dini

dan modifikasi perilaku. Perempuan yang berpendidikan rendah

cenderung kurang paham tentang cara pencegahan, pengelolaan mandiri,

dan bahaya komplikasi hipertensi, sehingga lebih mudah terkena dan

kesulitan menjaga tekanan darah tetap stabil. Selain itu, pendidikan rendah

menyulitkan akses terhadap informasi kesehatan dan interaksi efektif

dengan tenaga medis. Kombinasi usia lanjut, gender perempuan, dan


58
57

pendidikan rendah meningkatkan kerentanan dan memperbesar risiko

hipertensi secara signifikan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi

supportive educative berbasis caring untuk meningkatkan kemampuan self

care masyarakat dalam mengelola hipertensi dan mencegah terjadinya

komplikasi lebih lanjut.

b) Rerata Skor Self Care Penderita Hipertensi Sebelum Diberikan

Supportive Educative Berbasis Caring Di Puskesmas Gedong Tataan.

Hasil analisis menunjukan bahwa hasil rerata skor self care penderita

hipertensi sebelum diberikan supportive educative berbasis caring adalah

sebesar 87,36 dengan simpangan baku (0,15). Hal ini menunjukan bahwa

kemampuan self care responden berada pada kategori cukup namun masih

kurang optimal. Dengan nilai interval kepercayaan 95% (IK95%) berada

pada rentang 83,01-91,70 yang berarti bahwa dengan tingkat kepercayaan

95% rerata self care sebenarnya pada populasi berada dalam rentang

tersebut. Temuan ini menggambarkan bahwa sebagian besar penderita

hipertensi memiliki kapasitas perawatan diri yang relative homegen dan

stabil saat diberikan intervensi. Data ini menunjukan pentingnya

intervensi supportive educative berbasis caring untuk meningkatkan

kemampuan self care pada penderita hipertensi agar dapat optimizing

hypertension management.

Ditemukan Hasil analisis pre-test menunjukkan bahwa pertanyaan

pada item kuesioner nomor 3, 35, dan 36 memperoleh nilai terendah, yang

mengindikasikan bahwa penderita hipertensi mengalami hambatan besar


59
58

dalam mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak, pemantauan tekanan

darah secara teratur, serta minum obat hipertensi secara ketat, sehingga

ketiga aspek tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap

rendahnya kemampuan perawatan diri hipertensi. Setelah dilakukan nya

intervensi supportive educative berbasis caring

Penelitian sejalan juga dilakukan oleh Suprayitno & Damayanti,

(2020) yang menemukan kurangnya dukungan edukasi berbasis caring

merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan kemampuan

perawatan diri yang menunjukkan bahwa kurangnya edukasi yang

menyeluruh dan dukungan emosional serta pola makan membuat pasien

kesulitan dalam mengelola penyakit secara mandiri.

Penelitian dilakukan juga oleh Lukmawati. et al., (2019) yang

membuktikan pasien yang tidak menerima intervensi edukasi dengan

pendekatan caring tetap memiliki self care yang kurang. Hal ini terjadi

karena kurangnya pemahaman mengenai manajemen hipertensi,

minimnya motivasi internal, serta tidak adanya dukungan emosional yang

memadai dari tenaga kesehatan. Penelitian tersebut menegaskan bahwa

edukasi yang diberikan tanpa unsur caring sering kali tidak mampu

mengubah perilaku pasien secara bermakna, karena pasien tidak merasa

didukung, dihargai, atau dipandu dalam proses perawatan dirinya.

Sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan (Ginting, 2024)

kurangnya edukasi disebut sebagai faktor utama yang menyebabkan self

care penderita hipertensi masih rendah, sehingga intervensi edukasi yang


60
59

sistematis dan berbasis caring sangat diperlukan untuk meningkatkan

kemampuan pengelolaan mandiri. Dalam penelitiannya, menemukan

bahwa pasien yang tidak mendapatkan edukasi sistematis cenderung

memiliki kesulitan dalam memahami cara memonitor tekanan darah,

menentukan pola makan sehat, serta mematuhi regimen terapi obat.

Intervensi edukasi yang sistematis dan berbasis caring terbukti mampu

meningkatkan kemampuan manajemen diri melalui peningkatan

pengetahuan, motivasi, serta keterlibatan aktif pasien dalam proses

perawatannya.

Menurut teori Nola J. Pender menekankan bahwa promosi

kesehatan akan efektif jika perawat memberikan edukasi yang

komprehensif, empatik, serta mampu memotivasi pasien untuk mengubah

perilaku. Inilah yang menjadikan intervensi supportive educative berbasis

caring sangat relevan, karena pendekatan caring meningkatkan persepsi

manfaat, mengurangi hambatan, dan membangun hubungan interpersonal

yang positif sehingga memperkuat perilaku self care pasien hipertensi.

Berdasarkan hasil di atas, peneliti berpendapat bahwa intervensi

supportive educative berbasis caring sangat penting untuk meningkatkan

kemampuan self care pada penderita hipertensi. Supportive educative ini

memberikan edukasi menyeluruh dan dukungan emosional yang tidak

hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menambah motivasi pasien

untuk melakukan self care secara konsisten dan mandiri. Dengan

pendekatan caring, pasien dapat memperoleh keterampilan pengelolaan


61
60

hipertensi yang lebih efektif, sehingga resiko komplikasi dapat dikurangi

dan kualitas hidup meningkat.

c) Rerata skor Self Care penderita Hipertensi sesudah diberikan

Supportive Educative berbasis caring di Puskesmas Gedong Tataan.

Hasil analisis bahwa hasil rerata skor self care penderita hipertensi

sesudah diberikan supportive educative berbasis caring adalah sebesar

118,57 dengan simpangan baku (0,17). Hal ini menunjukan bahwa setelah

inervensi, tingkat kemampuan self care responden berada pada kategori

yang tinggi (baik) dan relative homogen karena nilai s.b (0,17) sangat

kecil. Dengan nilai interval kepercayaan 95% (IK95%) berada pada

rentang 113,82-123,31 yang berarti bahwa dengan tingkat kepercayaan

95% rerata self care sebenarnya pada populasi berada dalam rentang

tersebut. Artinya intervensi supportive educative berbasis caring

memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan self care.

Hasil analisis post-test menunjukkan bahwa pertanyaan pada item

kuesioner nomor 3 dan 35 masih memperoleh nilai terendah, yang

mengindikasikan bahwa penderita hipertensi masih mengalami hambatan

besar dalam mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak serta melakukan

pemantauan tekanan darah secara teratur, sehingga kedua aspek tersebut

memberikan kontribusi signifikan terhadap rendahnya kemampuan

perawatan diri hipertensi. Sebaliknya ditemukan item nomor 36 (minum

obat hipertensi secara ketat) menunjukkan peningkatan nilai yang baik.


62
61

Hal ini juga konsisten dengan penelitian (Kolomboy et al., 2025)

yang menunjukkan bahwa intervensi supportive educative berbasis caring

mampu meningkatkan kemampuan self care pada pasien hipertensi.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa pendekatan caring yang diberikan

melalui edukasi terstruktur dan dukungan interpersonal dapat memperkuat

kemandirian pasien dalam mengelola penyakitnya, terutama dalam

menjalankan perilaku kesehatan yang berhubungan dengan pengendalian

hipertensi. Pendekatan caring dinilai efektif karena memberikan rasa

aman, dipahami, dan didampingi, sehingga pasien lebih termotivasi untuk

mengubah perilaku secara berkelanjutan.

Penelitian juga dilakukan (Lukmawati. et al., 2019) juga

membuktikan peningkatan secara signifikan pada aspek kepatuhan

minum obat, berat badan, diet rendah garam, aktivitas fisik, dan

manajemen kecemasan setelah intervensi supportive educative.

Intervensi supportive educative terbukti meningkatkan berbagai aspek

manajemen diri pasien hipertensi, seperti pengaturan berat badan,

penerapan diet rendah garam, peningkatan aktivitas fisik, serta manajemen

stres. Temuan tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang disampaikan

secara sistematis dan disertai dukungan emosional memberikan dampak

lebih kuat dalam mendorong perubahan gaya hidup dibandingkan edukasi

konvensional.

Sejalan juga dengan penelitian (Ginting, 2024) yang menyatakan

intervensi supportive educative berbasis caring efektif meningkatkan self


6263

care management dengan dampak positif pada kepatuhan dan

pengelolaan gaya hidup pasien hipertensi. Penelitian tersebut

menekankan bahwa pendekatan caring dapat meningkatkan kepatuhan

terhadap pengobatan, pemahaman terhadap kondisi penyakit, serta

komitmen pasien dalam menerapkan gaya hidup sehat. Elemen caring

memberikan nilai tambah berupa hubungan terapeutik yang mendukung

sehingga pasien merasa diperhatikan dan lebih siap menjalankan

perawatan diri secara konsisten.

Pendekatan supportive educative berbasis caring sangat penting

dalam mengelola self care penderita hipertensi karena memberikan

edukasi yang komprehensif sekaligus dengan dukungan emosional yang

meningkatkan motivasi dan kemandirian pasien dalam mengelola

penyakit nya secara mandiri (Inayati & Hasanah, 2022).

Menurut teori caring yang dikembangkan oleh Jean Watson

dimana caring adalah suatu hubungan interpersonal yang melibatkan

perhatian penuh dan empati terhadap pasien nya yang bukan hanya

berfokus kepada pemenuhan kebutuhan fisik tetapi juga emosional dan

spiritual pasien. Yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan

pertumbuhan individu melalui lingkungan yang mendukung potensi diri.

Peneliti juga berpendapat berdasarkan hasil dan teori di atas,

menyimpulkan bahwa intervensi supportive educative berbasis caring

terbukti efektif dalam meningkatkan skor self care pada penderita

hipertensi. Oleh karena itu, penerapan intervensi supportive educative


64

berbasis caring ini merupakan strategi yang efektif dan humanistic untuk

meningkatkan kemandirian pasien dalam pengelolaan hipertensi dan

memperbaiki kualitas hidup secara berkelanjutan. Penelitian ini juga

menegaskan pentingnya edukasi yang sistematis dan dukungan

psikososial dalam membantu pasien menjalankan perawatan mandiri

yang efektif.

2. Analisis Bivariat

a) Pengaruh Supportive Educative Berbasis Caring Terhadap Self Care

Penderita Hipertensi Di Puskesmas Gedong Tataan.

Hasil Uji paired sample t-test menunjukan nilai p=<0,001 (0,05),

yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara supportive

educative berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi di

Puskesmas Gedong Tataan. Dengan seluruh responden (n=53) yang

mengalami peningkatan skor self care setelah diberi intervensi. Hal ini

membuktikan bahwa intervensi supportive educative berbasis caring

sangat berpengaruh dalam meningkatkan self care penderita hipertensi di

Puskesmas Gedong Tataan.

Penelitian serupa yang dilakukan oleh Suprayitno & Damayanti,

(2020) sejalan bahwa intervensi supportive educative berbasis caring

efektif meningkatkan self care, menunjukkan bahwa intervensi

supportive educative berbasis caring mampu meningkatkan self care

pasien hipertensi secara signifikan. Dalam penelitiannya, pendekatan

caring dilakukan melalui komunikasi empatik, bimbingan bertahap,


65

pemberian edukasi yang mudah dipahami, serta pendampingan yang

berkelanjutan. Dukungan emosional meningkatkan motivasi serta rasa

percaya diri pasien dalam mengelola hipertensi, terutama dalam hal

kepatuhan obat, pengaturan diet, dan kesadaran terhadap risiko

komplikasi.

Penelitian sejalan dilakukan Puspita. et al., (2024) menunjukan

peningkatan signifikan antara skor self care, dan melaporkan efek positif

intervensi terhadap kualitas hidup dan perawatan mandiri penderita

hipertensi, enelitian tersebut melaporkan adanya peningkatan kualitas

hidup pasien, seperti perbaikan fungsi fisik, aktivitas sehari-hari yang

lebih teratur, serta peningkatan kesehatan emosional. Pasien juga

menunjukkan peningkatan kemampuan monitoring tekanan darah,

pemilihan makanan rendah garam, dan kontrol berat badan.

Peneltian Ginting, (2024) yang menemukan peningkatan self care

management yang signifikan pada kelompok intervensi di banding

kontrol, intervensi diberikan melalui sesi konseling, demonstrasi praktik

self-care, dan dukungan interpersonal yang hangat. Hasil penelitian ini

mendukung temuan bahwa pasien hipertensi yang mendapatkan edukasi

berbasis caring lebih mampu mengenali tanda bahaya, mematuhi

pengobatan, mengelola pola makan, serta mengurangi faktor risiko

seperti stres dan kurangnya aktivitas fisik.

Menurut teori self care oleh Dorothea E. Orem, menekankan

bahwa perawatan diri di mana individu secara aktif mengelola kondisi


66

kesehatan dan penyakitnya melalui prilaku yang dipelajari dan inisitif

untuk memelihara kesejahteraan secara mandiri. Teori ini mendasari

bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh intervensi medis, tetapi

juga oleh kemampuan pasien dalam menjalankan perilaku sehat sehari-

hari. Intervensi supportive educative berbasis caring sangat relevan

dengan model Orem, karena perawat berperan sebagai fasilitator yang

membantu pasien memenuhi kebutuhan self care melalui edukasi dan

dukungan emosional. Orem juga membagi kebutuhan self-care menjadi

tiga kategori, yaitu kebutuhan universal, kebutuhan perkembangan, dan

kebutuhan akibat penyimpangan kesehatan.

Menurut pendapat peneliti hasil uji mengunakan paired sample t-

test membuktikan bahwa intervensi supportive educative berbasis caring

terhadap self care penderita hipertensi terbukti efektif dalam

meningkatkan kemampuan self care. Pendeketan supportive educative

berbasis caring memberikan motivasi dan pemahaman yang lebih baik

kepada pasien mengenai perawatan diri, sehingga prilaku self care

menjadi lebih optimal. Dan peneliti merekomendasikan agar intervensi

ini dijadikan bagian dari program pengelolaan hipertensi di layanan

kesehatan primer untuk mendukung peningkatan kesehatan masyarakat

secara menyeluruh.

Hasil analisis pre-test menunjukkan bahwa pertanyaan pada item

kuesioner nomor 3, 35, dan 36 memperoleh nilai terendah, yang

mengindikasikan bahwa penderita hipertensi mengalami hambatan besar


67

dalam mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak, pemantauan

tekanan darah secara teratur, serta minum obat hipertensi secara ketat,

sehingga ketiga aspek tersebut memberikan kontribusi signifikan

terhadap rendahnya kemampuan perawatan diri hipertensi. Setelah

dilakukan nya intervensi supportive educative berbasis caring

didapatkan Hasil analisis post-test menunjukkan bahwa pertanyaan pada

item kuesioner nomor 3 dan 35 masih memperoleh nilai terendah, yang

mengindikasikan bahwa penderita hipertensi masih mengalami

hambatan besar dalam mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak serta

melakukan pemantauan tekanan darah secara teratur, sehingga kedua

aspek tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap rendahnya

kemampuan perawatan diri hipertensi. Sebaliknya, pada post-test, item

nomor 36 (minum obat hipertensi secara ketat) menunjukkan

peningkatan nilai yang baik, mengindikasikan adanya perbaikan

kepatuhan pengobatan mandiri setelah intervensi. Temuan ini

menegaskan perlu nya intervensi supportive educative berbasis caring

dengan melakukan pendekatan yang lebih komprehensif meliputi

edukasi sistematis mengenai rendah garam dan pendampingan dalam

perencanaan menu. Selain itu, pelatihan pengunaan alat ukur tekanan

darah dirumah, penyusunan jadwal pemeriksaan tekanan darah dan

pengingat berkala menjadi strategi untuk meningkatkan kepatuhan

manajemen diri.
68

Menurut Rahmawati, (2020) yang menekankan efektivitas

edukasi diet rendah lemak dan pelatihan pemantuan tekanan darah

mandiri meningkatkan kepatuhan dan stabilitas tekanan darah pada

penderita hipertensi. Menemukan bahwa edukasi diet rendah lemak dan

pelatihan pemantauan tekanan darah mandiri secara signifikan

meningkatkan kepatuhan manajemen diri penderita hipertensi. Dalam

penelitiannya, menjelaskan bahwa pasien yang mendapatkan edukasi

komprehensif mengenai diet hipertensi termasuk pengenalan sumber

lemak, cara membaca label nutrisi, serta teknik memasak rendah minyak

menunjukkan perubahan perilaku yang lebih konsisten dibanding

kelompok yang hanya mendapatkan penyuluhan konvensional. Selain

itu, pelatihan penggunaan alat tekanan darah digital dan pembiasaan

mencatat hasil pengukuran dalam buku monitoring terbukti

meningkatkan kontrol tekanan darah harian dan memperkuat keterlibatan

pasien dalam pengelolaan penyakitnya.


69

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan peneletian dan pembahasan di atas yang berjudul “ Pengaruh

Supportive Educative Berbasis caring Terhadap Self Care Penderita hipertensi

di Puskesmas Gedong Tataan” dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Karakteristik responden hipertensi di dominasi oleh usia 50-60 tahun dengan

mayoritas perempuan (88,7%), Sebagian responden berpendidikan dasar

(SD) dan mengalami hipertensi selama 1-5 tahun. Mayoritas pasien juga

memiliki Riwayat keluarga hipertensi dari ibu. Analisis kuesioner

menunjukkan komponen perawatan diri yang baik yaitu pertanyaan nomor 7

tentang memilih makanan rendah garam yang diperoleh kemampuan optimal.

Namun, komponen perawatan diri yang masih buruk terdapat pada

pertanyaan nomor 3 mengurangi makanan tinggi lemak dan nomor 35

pemantauan tekanan darah secara teratur yang memperoleh nilai terendah.

Usia lanjut 50-60 tahun menyebabkan penurunan kemampuan fisik dan

kognitif untuk perawatan diri, jenis kelamin perempuan memperburuk

tantangan hormonal yang memerlukan dukungan Supportive Edukative

berbasis Caring, pendidikan dasar rendah menghambat pemahaman

informasi kesehatan kompleks, durasi penyakit 1-5 tahun menunjukkan

peluang intervensi dini belum optimal, dan riwayat keluarga dari ibu

memperlemah motivasi perawatan diri akibat persepsi risiko genetik sulit

68
70

dikendalikan. Faktor-faktor ini secara kolektif menjadi penentu utama

rendahnya kemampuan perawatan diri sehingga memerlukan pendekatan

supportive educative berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi

untuk penguatan item yang baik dan perbaikan item yang buruk guna

meningkatkan kemandirian pengelolaan hipertensi.

2. Rerata skor self care sebelum dilakukan intervensi supportive educative

berbasis caring sebelum diberi intervensi supportive educative berbasis

caring adalah 87,36 dengan simpangan baku 0,15 dan interval kepercayaan

95% sebesar 83,01–91,70, yang menunjukkan bahwa kemampuan self care

responden berada pada kategori cukup tetapi belum optimal, dengan kapasitas

perawatan diri yang relatif homogen dan stabil sehingga masih diperlukan

intervensi lanjutan untuk lebih meningkatkan kemandirian mereka dalam

mengelola hipertensi.

3. Rerata skor self care sesudah dilakukan intervensi supportive educative

berbasis caring meningkat menjadi 118,57 dengan simpangan baku 0,17 dan

interval kepercayaan 95% sebesar 113,82–123,31, yang menunjukkan bahwa

kemampuan self care responden berada pada kategori cukup tinggi, relatif

homogen, dan bahwa intervensi tersebut memberikan pengaruh positif

terhadap peningkatan kemampuan self care.

4. Pengaruh Supportive Educative Berbasis Caring Terhadap Self Care

Penderita Hipertensi Di Puskesmas Gedong Tataan terbukti efektif

meningkatkan perilaku self care pasien hipertensi, ditunjukkan oleh kenaikan

skor rata-rata dari 87,36 (S.d 0,15) sebelum intervensi menjadi 118,21 (s.d
71

0,17) sesudah intervensi, dengan peningkatan sebesar 31,21 poin atau 35%

dari skor awal serta p-value 0,001 (p<0,05) yang menandakan perbedaan

tersebut signifikan secara statistik.

B. Saran

1. Bagi responden dianjurkan untuk terus menerus menerapkan prilaku self care

yang telah dipelajari melalui supportive educative berbasis caring, sperti

menjaga pola makan, diet rendah garam, aktivitas fisik, memantau tekanan

darah secara rutin, dan patuh pada pengobatan sesuai anjuran tenaga

kesehatan.

2. Bagi tenaga kesehatan, disarankan agar mampu menerapkan pendekatan

caring dan tehnik edukasi yang efektif agar mampu memberikan intervensi

yang personal dan humanistic sesuai kebutuhan pasien.

3. Bagi tempat penelitian, diharapkan terus meningkatkan program edukasi

supportive educative berbasis caring untuk meningkatkan kualitas dan mutu

pelayanan dengan pasien.

4. Bagi Pendidikan keperawatan, diharapkan pengetahuan dan penerapan

tentang manajemen penyakit kronis seperti hipertensi harus disampaikan

secara komprehensif, termasuk penting nya peran edukasi self care dan

dukungan psikososial terhadap keberhasilan dalam pengelolaan penyakit.

5. Bagi peneliti selanjutnya, dianjurkan mengkaji jangka Panjang efektvitas

intervensi ini serta pengaruhnya terhadap kualitas hidup pasien, serta

mengidentifikasi hambatan dan faktor pendukung dalam pelaksanaan self

care di komunitas.
72

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, S. K. M., Ludiana, & Dewi, T. K. (2025). Implementation of Progressive


Muscle Relaxation on Blood Pressure in Hypertension Patients. Jurnal
Cendikia Muda, 5(2), 312–319.

Anugrahtama, A. (2023). Gambaran Self-Care Pada Lansia Dengan Hipertensi


Terkontrol Dan Tidak Terkontrol. Aleph, 87(1,2), 149–200.

Azizah et al ., 2022. (2020). Pengaruh Slow Deep Breathing Terhadap Tekanan


Darah Pada Pasien Hipertensi. Masker Medika, 8(2), 263–267.
[Link]

Elvandi, M. D. (2020). Hubungan Perilaku Caring Perawat dengan Tingkat


Kecemasan Pasien Pra Operasi di Rumah Sakit Tingkat III Baladhika
Husada Jember. Digital Repository Uniiversitas Jember, 4(2), 20–27.

Erita. (2021). Modul Bahan Ajar Caring. Modul Bahan Ajar Caring, 54.

Fransiskus, X., Dotulong, & M, karouw brigita. (2022). Pengaruh Edukasi Self-
Care Management Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi. Watson
Journal of Nursing, 1(1), 22–29.

Ginting, D. S. (2024). Pengaruh Intervensi Supportive Educative Berbasis Caring


Terhadap Selfcare Management Pada Penderita Hipertensi Di Desa
Delitua Barat. 7(2), 1285–1291.

Hidayati, N., Suprayitno, E., & Kafil, R. F. (2020). Intervensi Suportif Edukatif
Dalam Peningkatan Kepatuhan Diet Pada Pasien Diabetes Mellitus:
Literature Review.

Ina, S. H. J., Bastian, J., & Feoh, F. T. (2020). Analisis Hubungan Faktor Genetik
Dengan Kejadian Hipertensi Pada Usia Dewasa Muda ( 19-49 Tahun ) Di
Puskesmas Bakunase Kota Kupang Tahun 2020. 4(September), 217–221.

Inayati, H., & Hasanah, L. (2022). Gambaran Dukungan Keluarga Dengan


Kehadiran Lansia Pada Posyandu Lansia Di Desa Errabu Kecamatan Bluto.
Cetak) Journal of Innovation Research and Knowledge, 2(7), 1–8.

Irman, O., Paulus, Y., & Rangga, P. (2025). Efikasi Diri dan Self-Care pada Pasien
Sindrom Koroner Akut.

Kario, K., Kuncihipertensi, K., Siapa, A., & Asia, P. (2024). Laporan Global WHO
73

2023 tentang hipertensi memperingatkan beban hipertensi yang muncul di


dunia dan strategi pengobatannya. 1099–1102.
Kemenkes. (2023). Health Statistics. In Science as Culture (Vol. 1, Issue 4).
[Link]

Khotibul, M., Win Martani, R., Mumpuni Yuniarsih, S., Studi Keperawatan, P.,
Ilmu Kesehatan, F., Pekalongan, U., & Studi Kesehatan Masyarakat, P.
(2023). Perilaku Self-Care Pada Penderita Hipertensi di Indonesia:
Sistematik Literatur Review. Jurnal Promotif Preventif, 6(6), 908–918.

Kim & Oh. (2021). International Journal of Nursing Sciences Erratum regarding
missing Declaration of Competing Interest statements in previously
published articles. 8, 2352. [Link]

Kolomboy, F., Kindang, I. W., & Syamsu, A. F. (2025). Intervensi Supportive


Educative Terhadap Selfcare Management Pada Penderita Hipertensi Di
Wilayah Kerja Puskesmas Talise. 9(5), 231–236.

Lukmawati., E., Wilandika, A., & Widianti, A. T. (2019). Volume 6 | Nomor 2 |


Desember 2019. 6(6).

Lukmawati, E., Wilandika, A., & Widianti, A. T. (2020). Pengaruh Supportive


Educative Terhadap Self Care Pasien Hipertensi Pada Salah Satu
Puskesmas Di Bandung. Jurnal Keperawatan ’Aisyiyah, 6(2), 1–7.
[Link]

Marhabatsar, S. N., & Sijid, A. S. (2021). Review: Penyakit hipertensi pada sistem
kardiovaskular. Prosiding Seminar Nasional Biologi, 7(1), 72–78.

Muharam, M. R., Suharta, D., Ramdani, H. T., Puspita, T., & Wahyudin. (2024).
Self-Care Management Penderita Hipertensi. Jurnal Ilmiah Ilmu
Kesehatan, 10(1), 34–43.

Nababan, O. ., Prasetyawan, F., Saristiana, Y., Muslihk, F. ., Mildawati, R., &


Oktadiana, I. (2024). Utilization of Single Antihypertensive Drug in
Hypertensive Patients at Outpatient Primary Health Care Centers.
JurnalIntelekInsanCendekia, 1(1), 22–29.

Nelista, Y., Keytimu, Y. M. H., & Toto, E. M. (2021). Intervensi Berbasis Suportive
Educative Nursing Intervention terhadap Pengetahuan dan Praktik
Pemberian Makan pada Ibu Balita Gizi Kurang. Jurnal Peduli Masyarakat,
3(3), 257–266. [Link]

Nu’man, M. (2023). Analisis struktur kovariansi indikator terkait kesehatan pada


lansia yang tinggal di rumah (berfokus pada kesehatan subjektif). In Aleph
(Vol. 87, Issue 1,2).
74

Nurpratiwi1, Debby Hatmalyakin2, Dewin Safitri3, Mimi Amaludin4, Fauzan


Alfikrie5, Uti Rusdian Hidayat6, Ali Akbar7, D. A. (2024). Sistem Skoring
Sebagai Upaya Deteksi Dini Hipertensi. 7(Table 10), 4–6.

Oktavianie, G. (2022). Promosi Kesehatan Hipertensi Pada Usia Produktif Sampai


Lansia di. 01(02).

Pardede, J. A. (2020). Konsep Caring Dalam Keperawatan : Pendekatan Teori Jean


Watson. Osfpreprints, 1–6.

Puspita., T. I., Ulkhasanah., M. E., & Prakoso., A. B. (2024). No Title. 4(April), 9–


16.

Putri Noor Kholisoh Purnama Wati, Nursiswati, N., & Eka Afrima Sari. (2024).
Self-Care Profile pada Pasien Hipertensi. Jurnal Keperawatan ’Aisyiyah,
11(1), 23–34. [Link]

Rachmania, D., Siswoaribowo, A., & Novitasari, P. (2022). Self-Control dan Self-
Care Behaviour pada Penderita Hipertensi. SpikesNas, 01(02), 378–388.

Rahmawati, R., & Kasih, R. P. (2023). Hipertensi Usia Muda. GALENICAL :


Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh, 2(5), 11.
[Link]

Rantepadang, A., & Hadibrata, B. E. S. (2023). Self-Efficacy Dan Self-Care


Management Pada Penderita Hipertensi. Klabat Journal of Nursing, 5(1),
67. [Link]

Rinezia Rinza Farizal, & Irna Nursanti. (2024). Philosophies Teori Konsep
Keperawatan Jean Watson Caring. Jurnal Medika Nusantara, 2(1), 102–
112. [Link]

Rizkaningsih, Kolomboy, F., Kindang, I. W., & Syamsu, A. F. (2025). Intervensi


Supportive Educative Terhadap Self care Manajemen PadaPenderita
Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Talise. Jurnal Ners, 9(1), 231–236.

Senofia, E., ayudytha, A. U., & Ardeni. (2025). Hubungan Perilaku Caring
Perawat Terhadap Kepuasan Pasien Di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit
Binakasih Pekanbaru. 5(October 2023), 10–17.

Setiani., R., & Wulandar.i, S. A. (2023). Hubungan Faktor Genetik dengan


Kejadian Hipertensi : Scoping Review Relationship between Genetic
Factors and Hypertension : Scoping Review. 5(1), 60–66.
75

Silvianah, A., & Indrawati, I. (2024). Hubungan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi
Dengan Perubahan Tekanan Darah Pada Lansia Di Posyandu Lansia. Jurnal
Keperawatan, 17(2), 52–61. [Link]

Simanjuntak, E. Y., & Situmorang., H. (2019). Pengetahuan Dan Sikap Tentang


Hipertensi Dengan Pengendalian Tekanan Darah. 01(01), 10–17.

Suarayasa., K., Hidayat., M. I., & Gau, R. (2023). Faktor Resiko Kejadian
Hipertensi Pada Lansia (Risk Factors Of Hypertension In ELDERLY) Ketut
Suarayasa 1 , Muh. Ilham Hidayat 2 , Resky Gau 2 1. 5(3), 253–258.

Sugiyono. (2023). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabet.

Suprayitno, E., & Damayanti, C. N. (2020). Intervensi Supportive Educative


Berbasis Caring Meningkatkan Self Care Management Penderita
Hipertensi

Survey kesehatan indonesia (Ski). (2023). Survei Kesehatan Indonesia 2023 (SKI).
Kemenkes, 235.

Tok Yildiz, F., & Kasikci, M. (2020). Impact of Training Based on Orem’s Theory
on Self-Care Agency and Quality of Life in Patients with Coronary Artery
Disease. Journal of Nursing Research, 28(6).
[Link]

Tukan, R. A. (2023). Kepatuhan Kontrol Tekanan Darah pada Lansia dengan


Hipertensi Compliance with Blood Pressure Control in the Elderly with
Hypertension. 15(2). [Link]

Unger, T., Borghi, C., Charchar, F., Khan, N. A., Poulter, N. R., Prabhakaran, D.,
Ramirez, A., Schlaich, M., Stergiou, G. S., Tomaszewski, M., Wainford, R.
D., Williams, B., & Schutte, A. E. (2020). 2020 International Society of
Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines. Hypertension,
75(6),

Widayanti, R., & Soleman, S. R. (2023). Gambaran pengetahuan tentang self care
management pada pasien hipertensi di puskesmas sragen. Jurnal Ilmu
Kesehatan Mandira Cendikia, 2(9), 349–362.

Widiatmika, K. P. (2019). Perilaku Caring Perawat Profesional. Etika Jurnalisme


Pada Koran Kuning : Sebuah Studi Mengenai Koran Lampu Hijau, 16(2),
39–55.

Widiatmika, K. P. (2023). Hipertensi Dan Cara Pengobatannya. Etika Jurnalisme


76

Pada Koran Kuning : Sebuah Studi Mengenai Koran Lampu Hijau, 16(2),
39–55.

Zethira, A. T., Hendrati, L., Diyanah, K., Pawitra, A., Jasmine, M., Syahputri, R.,
Alvionita, A., Khaerati, M., Bratajaya, K., Prabasanti, M., Suryanegara, E.,
Rahayu, A.-Z., Liviansyah, N., Arif, M., & Siregar, F. (2024). Hypertension
As a Silent Killer Disease: Education for At-Risk Communities in Pekuwon
Village. Jurnal Layanan Masyarakat (Journal of Public Services), 8(2),
200–209. [Link]
LAMPIRAN

77
78

Lampiran 1

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

Kepada :

Yth. Calon Responden

Di Tempat

Dengan Hormat,

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Nanda Yulistia

Npm : 220101140

Saya adalah Mahasiswa aktif program studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu kesehatan

Universitas Aisyah Pringsewu yang sedang melakukan sebuah penelitian dengan judul

“ِّ Pengaruhِّ Supportiveِّ Educativeِّ Berbasis Caring Terhadap Self Care Penderita

Hipertensiِّ Diِّ Puskesmasِّ Gedongِّ Tataanِّ ”. Penelitian ini tidak akan mengakibatkan

kerugian terhadap responden, data dan informasi responden akan dirahasiakan dan dijaga

hanya akan digunakan untuk tujuan kepentingan penelitian.

Sehubung dengan hal tersebut, saya memohon kesediaan bapak/ibu untuk menjadi

responden dalam penelitian ini yang bersifat tidak memaksa dan menandatangani lembar

persetujuan. Atas perhatiannya, kesediaan dan kerjasamanya untuk menjadi responden sya

ucapkan banyak terimakasih.

Hormat Saya

Nanda Yulistia
79

Lampiran 2

PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN

(Informed Consent)

Yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : ………………………………………………

Umur : ………………………………………………

Setelah mendapat penjelasan dari peneliti, dengan ini saya menyatakan


bersedia dan mau berpartisipasi menjadi subjek penelitian yang berjudul
“ِّ Pengaruhِّ Supportiveِّ Educativeِّ Berbasisِّ Caringِّ Terhadapِّ Selfِّ Careِّ
Penderita Hipertensi Di Puskesmas Gedong Tataan “ saya tidak ada ikatan
apapun dengan peneliti dan apabila saya mengundurkan diri dari penelitian ini, saya
akan memberitahu sebelumnya. Keikutsertaan saya dalam penelitian ini tidak
dibebani biaya apapun maupun konsekuensi lain.
Dengan pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan.
Saya memahami keikutsertaan ini akan memberikan manfaat dalam penelitian.
Dengan ini saya menyadari bahwa penelitian ini tidak akan memberikan dampak
negative bagi peneliti dan responden. Dengan ini saya menyatakan setuju dan
sukarela menjadi responden dalam penelitian ini. Demikian ini saya buat agar dapat
digunakan sebagaimana mestinya.

Pringsewu, 2025

Responden
80

Lampiran 3

A. Data responden

Data Demografi

1. Nama Inisial :

2. Umur :

3. Jenis Kelamin :

4. Pendidikan terakhir :

5. Pekerjaan :

6. Lama terdiagnosa Hipertensi :

7. Riwayat Hipertensi keluarga :


81

Lampiran 4

1. KUESIONER SELF CARE PERAWATAN DIRI HIPERTENSI


(HSMBQ)

Petunjuk
Quesioner ini bertujuan untuk menilai seberapa sering anda melaukan

aktifitas untuk mengintrol hipertensi dalam beberapa bulan terakhir. Tidak ada

jawaban benar atau salah. Karena nya, jawablah secara jujur pada masing

masing pertanyaan untuk menggambarkan prilaku anda yang sebenarnya dengan

memberikan tanda (x) pada kolom yang sesuai

Gunakan 4 pilihan jawaban sbb:

1= Tidak pernah (Saya tidak pernah melakukan perilaku ini)

2= Jarang (Saya jarang melakukan perilaku ini)

3= Kadang-kadang (Saya kadang-kadang melakukan perilaku ini)

4= Selalu (Saya selalu melakukan perilaku ini)

N/A= Tidak dilakukan (Perilaku ini tidak saya lakukan dalam hidup saya)

Contoh:

No. Perilaku manajemen 1 2 3 4 N/A


diri pada hipertensi (Tidak (Jarang) (Kadang - (Selalu) (Tidak
pernah) kadang) Dilakukan)

1 Saya makan buah, sayur, X


gandum, dan kacang
kacangan lebih dari yang
saya makan saat saya
tidak mengalami
hipertensi.
82

Kalau Anda menjawab (x) pada kolom 4, itu artinya Anda selalu makan
buah,.sayur, gandum, dan kacangkacangan lebih dari apa yang Anda makan
sebelum nyata dalam hidup Anda.

Sekarang, berikan jawaban pada tiap pernyataan berikut sesuai dengan


kondisi yang nyata dalam hidup Anda .

No. Perilaku manajemen diri 1 2 3 4 N/A


pada hipertensi (Tidak (Jarang) (Kadang (Selalu) (Tidak
pernah) kadang) Dilakukan)

Integrasi diri
1 Saya mempertimbangkan
porsi dan pilihan makanan
ketika saya makan.
2 Saya makan buah, sayur,
gandum, dan kacang-
kacangan lebih banyak dari
yang saya makan saat saya
tidak mengalami hipertensi.
3 Saya mengurangi makanan
yang mengandung lemak
jenuh(misalnya keju, minyak
kelapa, daging kambing, dll)
semenjak di diagnosa
hipertensi.
4 saya mencoba berhenti
minum-minuman
beralkohol.
5 saya mencoba berhenti
minum-minuman beralkohol.
6 saya mengurangi jumlah
makanan setiap kali saya
makan untuk menurunkan
berat badan.
7 Saya memilih makanan
rendah garam.
8 Saya berolahraga untuk
menurunkan berat badan
(misalnya jalan, jogging /
lari, atau bersepeda) sekitar
30-60 menit setiap hari.
83

9 Saya berpikir bahwa


hipertensi adalah bagian dari
hidup saya.
10 Saya melakukan rutinitas
saya sesuai dengan hal-hal
yang harus saya lakukan
untuk mengontrol hipertensi
saya (misalnya pekerjaan dan
periksa ke dokter).
11 Saya berhenti merokok / saya
mencoba berhenti merokok.
musik, istirahat dan berbicara
dengan keluarga atau teman
12 Saya mencoba mengontrol
emosi saya dengan
mendengarkan saya.
No Perilaku manajemen diri 1 2 3 4 N/A
pada hipertensi (Tidak (Jarang) (Kadang (Tidak
pernah) kadang) (Selalu) Dilakukan)

13 Saya tidak pernah


menggunakan garam yang
berlebih untuk membumbui
makanan semenjak saya
terkena hipertensi.
Regulasi diri
14 Saya mengetahui mengapa
tekanan darah saya berubah
15 Saya mengenali tanda gejala
darah tinggi
16 Saya mengontrol tanda
hipertensi dengan cepat
17 Saya mengenali tekanan
gejala darah rendah
18 Saya mengontrol tanda dan
gejala hipotensi (tekanan
darah rendah) dengan tepat
19 Saya menentukan tujuan saya
mengontrol tekanan darah
20 Saya membuat rencana
tindakan untuk mencapai
tujuan saya mengontrol
tekanan darah
84

21 Saya membandingkan
tekanan darah saya saat ini
dengan tekanan darah yang
saya targetkan
22 Saya mengontrol keadaan
yang mungkin dapat
meningkatkan tekanan darah
saya
Interaksi dengan tenaga
kesehatan lainnya
23 Saya mendiskusikan
rencana pengobatan saya ke
dokter atau perawat
24 Saya memberikan masukan
pada dokter untuk mengubah
rencana pengobatan jika saya
tidak bisa menyesuaikan diri
dengan rencana tersebut.
25 Saya bertanya pada dokter
atau perawat ketika ada hal-
hal yang tidak saya pahami.
26 Saya membantu dokter atau
perawat mencari tahu kenapa
tekanan darah saya tidak
terkontrol dengan baik.
27 Saya mendiskusikan dengan
dokter perawat saat tekanan
darah saya terlalu tinggi atau
rendah.

No Perilaku manajemen diri 1 2 3 4 N/A


pada hipertensi (Tidak (Jarang) (Kadang (Selalu) (Tidak
pernah) kadang) Dilakukan)

28 Saya bertanya pada dokter


atau perawat darimana saya
bisa belajar lebih jauh
tentang hipertensi.
29 Saya meminta bantuan orang
lain (misalteman, tetangga
atau pasien lain) terkait
hipertensi yang saya alami.
30 Saya meminta bantuan orang
lain (misal teman, tetangga
atau pasien lain) untuk
85

membantu mengontrol
tekanan darah saya.
31 Saya bertanya pada orang
lain (misal teman,tetangga
atau pasien lain) apa cara
yang mereka gunakan
untukmengontrol tekanan
darah tinggi.
Pemantauan tekanan
darah
32 Saya pergi ke dokter untuk
mengecek tekanan darah
saya saat merasakan tanda
dan gejala tekanan darah
tinggi.
33 Saya pergi ke dokter untuk
mengetahui tekanan darah
saya saat saya merasa sakit.
34 Saya pergi ke dokter untuk
mengecek tekanan darah
saya saat merasakan tanda
dan gejala tekanan darah
rendah.
35 Saya mengecek tekanan
darah saya secara teratur
untuk membantu saya
membuat keputusan
manajemen diri.
Kepatuhan terhadap
anjuran yang diberikan
36 Saya sangat ketat dalam
minum obat anti hipertensi.
37 Saya minum obat anti-
hipertensi sesuai dengan
dosis yang diberikan dokter.
38 Saya minum obat anti-
hipertensi dalam waktu yang
benar.
39 Saya periksa ke dokter sesuai
dengan waktu yang
dijadwalkan.
40 Saya mengikuti saran dokter
atau perawat dalam
86

mengontrol tekanan darah


saya.

Lampiran 5

KISI-KISI KUESIONER SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING


TERHADAP SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI

1. Supportive educative : teaching

Aspek Materi edukasi tujuan Contoh


intervensi pasien

Regulasi diri 1. Penyebab hipertensi: merokok, Pasien memahami 1. Membuat catatan


kurang olahraga, garam tinggi, apa itu hipertensi, pribadi faktor risiko
obesitas, alkohol, kafein, usia, penyebab, gejala, yang dimiliki.
genetik. dan cara kontrol. 2. Mengurangi
2. Tanda/gejala: sakit kepala, mual, konsumsi garam
muntah, pusing, kelelahan, harian.
penglihatan kabur, telinga 3. Melakukan
berdenging, mimisan, jantung olahraga jalan kaki
berdebar. 30 menit/hari.
3. Cara kontrol: pola makan sehat, 4. Rutin cek tensi 2–3
olahraga, menghindari rokok/ kali/minggu.
alkohol, kelola stres, rutin cek
tensi.

Integrasi 1. Pola makan sehat: sayur, buah, Pasien mampu 1. Membuat menu
diri dalam ikan, kacang, susu rendah lemak; menerapkan gaya harian rendah
mengelola hindari makanan tinggi garam, hidup sehat dan garam.
hipertensi lemak, gorengan, makanan cepat menjaga 2. Mengganti alkohol
saji, alkohol. kesehatan secara dengan air putih.
2. Menghindari rokok & alkohol. mandiri. 3. Berjalan 30 menit
3. Aktivitas fisik: olahraga 30–60 pagi/sore.
menit/hari. 4. Mendengarkan
4. Kelola emosi: musik, istirahat, musik 15 menit saat
[Link] rutin ke stres.
fasilitas kesehatan. 5. Membuat
reminder kontrol
bulanan.
87

Manajemen 1. Edukasi mencari informasi dari Pasien memiliki 1. Mengikuti edukasi


diri sumber terpercaya. keterampilan interaktif di
2. Dukungan sosial keluarga/ mengelola puskesmas.
teman sebaya. hipertensi sehari- 2. Melibatkan
3. Pemantauan tekanan darah hari. keluarga untuk
mandiri. mengingatkan
minum obat.
3. Mengukur tensi di
rumah dengan
tensimeter digital

Interaksi 1. Mendiskusikan untuk rencana Pasien mampu 1. Membuat daftar


dengan pengobatan: pasien didorong berkomunikasi pertanyaan
tenaga medis terbuka soal hambatan dan efek terbuka dengan sebelum kontrol.
samping. tenaga kesehatan. 2. Menyampaikan
2. Pasien diberikan ruang aman efek samping obat
untuk menyampaikan kondisi. ke dokter.

Pemantauan 1. Edukasi tentang pentingnya Pasien memahami 1. Menentukan jadwal


tekanan monitoring untuk mencegah pentingnya cek tensi setiap
darah komplikasi (stroke, gagal ginjal, pemantauan tensi Minggu pagi.
jantung). 2. Membawa catatan
2. Waktu pemantauan minimal hasil tensi ke
1x/minggu. kontrol.

Kepatuhan 1. Pentingnya minum obat dan Pasien patuh untuk minum


1. Mengatur alarm
terhadap kontrol rutin untuk mencegah dan obat kontrol sesuai
untuk minum obat
anjuran komplikas jadwal atau dan meminta
bantuan keluarga
medis
2. Rutin kontrol tiap
bulan walau tanpa
keluhan.
88

2. Supportive educative : guiding

Aspek Materi edukasi Tujuan Contoh intervensi


pasien

Pengenalan 1. Non-farmakologi: Pasien mengenal 1. Mengikuti senam


pengobatan Diet rendah garam/gula berbagai pilihan hipertensi di
hipertensi (DASH), olahraga teratur, pengelolaan puskesmas.
berhenti merokok, kelola stres hipertensi serta 2. Mencatat jadwal
(relaksasi, yoga, meditasi), pengobatan yang konsumsi obat
terapi alternatif (pijat relaksasi, bisa dilakukan harian.
latihan pernapasan). 3. Mencoba teknik
2. Farmakologi: pernapasan dalam
Edukasi penggunaan obat saat stres.
antihipertensi sesuai anjuran 4. Konsultasi ke
dokter. dokter sebelum
mencoba terapi
alternatif.

Mengenalkan 1. Diet rendah garam (≤ 5 Pasien dapat 1. Membaca label


pola makan gram/hari). melakukan pola kandungan
yang baik 2. Tingkatkan konsumsi buah & makan yang garam/lemak
sayur kaya potasium & sehat untuk pada kemasan
magnesium. mengontrol 2. Mengganti
3. Hindari lemak jenuh, kolesterol, tekanan darah. cemilan gorengan
makanan olahan. dengan buah.
4. Terapkan diet DASH (buah, 3. Menimbang berat
sayur, gandum utuh, kacang). badan tiap
Kontrol berat badan minggu.

Mengenalkan 1. Aktivitas seperti (senam Pasien paham 1. Jalan kaki 30


aktivitas fisik hipertensi, jalan, bersepeda dan aktivitas fisik menit
yang baik berenang ) yang aman dan 5x/minggu.
2. Sesuai anjuran WHO: bermanfaat untuk 2. Mengikuti
150 menit/minggu intensitas menurunkan
senam hipertensi
sedang atau 75 menit/minggu tekanan darah.
intensitas tinggi.
di komunitas.
3. Menggunakan
sepeda di rumah
20 menit/hari.
89

Menjelaskan 1. Obat antihipertensi harus Pasien paham 1. Mengatur alarm


kepatuhan diminum rutin meski tidak ada dan patuh minum HP sesuai jadwal
minum obat keluhan. obat sesuai dosis minum obat
2. Menjelaskan waktu dan dosis dan jadwal. 2. Meminta
obat yang benar menurut resep keluarga
dokter mengingatkan
3. Mengatur strategi kepatuhan: waktu minum
alarm, dan dukungan keluarga. obat.

Menjelaskan 1. Tekanan darah harus dipantau Pasien menyadari 1. Mengukur tekanan


kepatuhan rutin untuk deteksi dini pentingnya darah di rumah 1
mengontrol komplikasi. kontrol rutin dan kali/minggu.
2. Disarankan cek minimal pemantauan 2. Membawa catatan
tekanan
1x/minggu di rumah atau tensi. hasil tensi saat
darah secara fasilitas kesehatan.
rutin kontrol ke dokter.
3. Edukasi manfaat pencatatan 3. Menjadwalkan
hasil tensi untuk evaluasi kontrol bulanan
terapi. meski tanpa gejala.
90

3. Supportive educative : supporting

Aspek Materi edukasi Tujuan Contoh intervensi


pasien

Dukungan 1. Penyediaan akses terhadap Pasien memiliki 1. Memgedukasi


Informasi pengetahuan yang pengetahuan yang baik balik tentang
membantu pasien hipertensi dan
memahami dan mengelola gaya hidup sehat.
hipertensi 2. Edukasi
pentingnya
memantau tekanan
darah secara
teratur.
3. Menjelaskan
penggunaan obat
sesuai anjuran
dokter.
4. Memberikan tips
manajemen stres
sederhana
(relaksasi,
pernapasan
dalam).

Dukungan 1. Dukungan berupa dorongan Pasien akan merasa 1. Mendengarkan


Emosional positif, mendengarkan didukung secara dengan penuh
dengan penuh perhatian emosional, dan lebih perhatian ketika
tanpa menghakimi, serta tenang, termotivasi pasien bercerita.
memberi motivasi agar dalam pengelolaan self 2. Memberikan
pasien lebih percaya diri care. empati saat pasien
dalam mengelola hi menyampaikan
keluhan.
3. Memberi motivasi
agar patuh minum
obat.
4. Meyakinkan
pasien bahwa
hipertensi bisa
dikendalikan
dengan gaya hidup
sehat.

Dukungan 1. Tindakan konkret yang Pasien mendapat bantuan 1. Membantu pasien


Instrumental membantu pasien dalam praktis sehingga lebih memantau
mengelola penyakitnya mudah untuk menjalan 2. Mengingatkan
sehari-hari. kan pengelolaan hipertensi. pasien untuk
91

minum obat secara


rutin.
3. Menghubungkan
pasien dengan
program bantuan
sosial yang
relevan.

Dukungan 1. Memberikan apresiasi, rasa Pasien merasa dihargai 1. Memberikan


Penghargaan bangga, dan pengakuan atas sehingga lebih dihargai pujian saat pasien
usaha pasien dalam merawat dan lebih termotivasi rutin minum obat
dirinya. untuk mengelola dan cek tekanan
penyakit secara mandiri darah.
2. Mengucapkan
rasa bangga pada
keberhasilan
pasien
menurunkan
tekanan darah.
3. Memberikan
hadiah kecil
sebagai apresiasi.
4. Menunjukkan
pengakuan atas
usaha pasien
menjaga pola
makan dan
olahraga.
92

Lampiran 6 pengajuan judul


93

Lampiran 7 bukti oponen


94

Lampiran 8 permohonan pra survei


95

Lampiran 9 izin pra survei


96

Lampiran 10 lembar bimbingan ujian proposal


97

Lampiran 11 bukti acc penelitian


98
99
100

Lembar 12 permohonan etik


101

Lembar 13 izin etik


102

Lampiran 14 izin penelitian badan kezatuan bangsa dan politik


103

Lampiran 15 surat izin penelitian


104

Lampiran 16 izin penelitian


105

Lampiran 17 izin dinas kesehatan


106
107

Lampiran 18

bukti penelitin
108

Lampiran 19

Tabulasi data
109

Lampiran 20

Karakteristik Responden

nama responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid A 1 1.9 1.9 1.9
D 1 1.9 1.9 3.8
E 2 3.8 3.8 7.5
F 1 1.9 1.9 9.4
H 2 3.8 3.8 13.2
K 3 5.7 5.7 18.9
L 1 1.9 1.9 20.8
M 7 13.2 13.2 34.0
N 4 7.5 7.5 41.5
P 2 3.8 3.8 45.3
R 8 15.1 15.1 60.4
S 16 30.2 30.2 90.6
T 1 1.9 1.9 92.5
U 1 1.9 1.9 94.3
W 1 1.9 1.9 96.2
Y 2 3.8 3.8 100.0
Total 53 100.0 100.0

Statistics
riwayatke
umur jeniskelamin pendidikan pekerjaan lamasakit luarga
N Valid 53 53 53 53 53 53
Missing 0 0 0 0 0 0
Mean 3.74 1.89 1.77 3.64 1.58 1.87
Minimum 1 1 1 1 1 1
Maximum 6 2 4 5 5 3
110

umur
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
40-45 tahun 7 13.2 13.2 13.2
Valid 46-50 tahun 7 13.2 13.2 26.4
51-55 tahun 7 13.2 13.2 39.6

56-60 tahun 13 24.5 24.5 64.2


61-65 tahun 10 18.9 18.9 83.0
66-70 tahun 9 17.0 17.0 100.0
Total 53 100.0 100.0

jeniskelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid laki laki 6 11.3 11.3 11.3
perempuan 47 88.7 88.7 100.0
Total 53 100.0 100.0

pendidikan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid SD 28 52.8 52.8 52.8
SMP 10 18.9 18.9 71.7
SMA 14 26.4 26.4 98.1
Sarjana 1 1.9 1.9 100.0
Total 53 100.0 100.0

pekerjaan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Guru 1 1.9 1.9 1.9
petani 15 28.3 28.3 30.2
buruh 1 1.9 1.9 32.1
111

ibu rumah tangga 21 39.6 39.6 71.7


tidak bekerja 15 28.3 28.3 100.0
Total 53 100.0 100.0

riwayatkeluarga
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid ibu 29 54.7 54.7 54.7
ayah 2 3.8 3.8 58.5
tidak ada 22 41.5 41.5 100.0
Total 53 100.0 100.0

lamasakit
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1-5 tahun 32 60.4 60.4 60.4
6-10 tahun 14 26.4 26.4 86.8
11-15 tahun 5 9.4 9.4 96.2
16-20 tahun 1 1.9 1.9 98.1
21-25 tahun 1 1.9 1.9 100.0
Total 53 100.0 100.0
112

Lampiran 21

Rerata Self Care

Paired Samples Statistics


Mean N Std. Deviation Std. Error Mean
Pair 1 pre test 87.36 53 15.760 2.165
post test 118.57 53 17.215 2.365
113

Lampiran 22

Normalitas data

Descriptives
Statistic Std. Error
pre Mean 87.36 2.165
95% Confidence Interval Lower Bound 83.01
for Mean Upper Bound 91.70
5% Trimmed Mean 87.07
Median 89.00
Variance 248.388
Std. Deviation 15.760
Minimum 54
Maximum 121
Range 67
Interquartile Range 20
Skewness .387 .327
Kurtosis -.106 .644
post Mean 118.57 2.365
95% Confidence Interval Lower Bound 113.82
for Mean Upper Bound 123.31
5% Trimmed Mean 119.00
Median 117.00
Variance 296.366
Std. Deviation 17.215
Minimum 71
Maximum 149
Range 78
Interquartile Range 29
Skewness -.234 .327
Kurtosis -.100 .644
114

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
pre .110 53 .163 .965 53 .118
post .105 53 .200* .960 53 .075
115

Lampiran 23

Uji paired sample t-test

Paired Samples Correlations


N Correlation Sig.
Pair 1 pre test & post test 53 .775 .000

Paired Samples Test


Paired Differences
95% Confidence Interval of
Std. Std. Error the Difference
Mean Deviation Mean Lower Upper t
Pair pre test - post test -31.208 11.148 1.531 -34.280 -28.135 -20.379
1

Paired Samples Test

df Sig. (2-tailed)
Pair 1 pre test - post test 52 .000
116

Lampiran 24

Plagiarisme

Anda mungkin juga menyukai