PENGARUH SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING
TERHADAP SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI DI
PUSKESMAS GEDONG TATAAN
SKRIPSI
OLEH
NANDA YULISTIA
NPM : 220101140
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU
TAHUN 2025
i
PENGARUH SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING
TERHADAP SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI DI
PUSKESMAS GEDONG TATAAN
SKRIPSI
Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Keperawatan
OLEH
NANDA YULISTIA
NPM : 220101140
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU
TAHUN 2025
ii
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU LAMPUNG
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
Skripsi, 15 Desember 2025
Nanda Yulistia
PENGARUH SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING
TERHADAP SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI DI PUSKESMAS
GEDONG TATAAN
XII+ 105 Halaman + 10 Tabel+ 3 Gambar+ 24 Lampiran
ABSTRAK
Self care adalah kemampuan individu untuk mengelola kondisi kesehatan nya secara
mandiri melalui kesadaran diri pada penderita hipertensi. kemampuan Self care merupakan
suatu proses prilaku untuk mencegah keparahan dan melibatkan proses pengambilan
keputusan untuk mengelola dan mengatasi hipertensi. Supportive educative berbasis caring
merupakan upaya efektif untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam mengelola
penyakitnya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh supportive educative
berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi.
Jenis penelitian kuantitatif, desain quasi exsperiment one grup pre-post test design.
Sebanyak 53 penderita hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan. Menggunakan tehnik
consecutive sampling, instrument penelitian menggunakan kuesioner self care. Intervensi
menggunakan supportive educative berbasis caring. Analisis data dilakukan dengan Uji
Paired Sample T-test untuk mengetahui rerata sebelum dan sesudah intervensi.
Hasil penelitian menunjukan pengaruh yang signifikan sebelum dilakukan supportive
educative berbasis caring dan sesudah intervensi dengan nilai rerata sebelum 87,36
intervensi menjadi 118,21 sesudah intervensi. P-value 0,001 (p<0,05) yang membuktikan
ada nya pengaruh yang signifikan secara statistik. Penelitian terhadap penderita hipertensi
di Puskesmas Gedong Tataan menunjukkan item baik pada pertanyaan (memilih makanan
rendah garam) optimal, namun item buruk pada pertanyan (kurangi lemak dan monitoring
tekanan darah) terendah. Mengindikasikan defisiensi perawatan diri. Disarankan intervensi
supportive educative berbasis caring pada penguatan diet rendah garam, perbaikan
pengurangan lemak dan monitoring mandiri melalui pelatihan, serta program pendidikan
dalam mengelola penyakit untuk mencegah komplikasi dan disampaikan secara
komprehensif.
Kata Kunci : Self Care, Hipertensi, Caring, Supportive Educative
Kepustakaan : 25 (2025-2026)
iii
AISYAH UNIVERSITY OF PRINGSEWU LAMPUNG
BACHELOR OF NURSING STUDY PROGRAM
Thesis, December 15, 2025
Nanda Yulistia
THE EFFECT OF CARING-BASED SUPPORTIVE EDUCATIVE ON
SELF-CARE OF HYPERTENSION PATIENTS AT GEDONG TATAAN
PUBLIC HEALTH CENTER
XII+ 105 Pages+ 10 Tables + 3 Figures + 24 Attacments
ABSTRACT
Self care is an individual's ability to independently manage their health condition through
self-awareness in patients with hypertension. Self care is a behavioral process to prevent
its severity and involves decision-making to manage and overcome hypertension. Caring-
based supportive education is an effective effort to improve patients' ability to manage their
disease. The purpose of this study was to determine the effect of caring-based supportive
education on self-care in patients with hypertension.
This study used a quantitative, quasi-experimental, one-group pre-post-test design. Fifty-
three hypertension patients at the Gedong Tataan Community Health Center participated
in the study. Consecutive sampling was used, and the research instrument was a self-care
questionnaire. The intervention used caring-based supportive education. Data analysis was
performed using a paired sample t-test to determine the mean before and after the
intervention.
The results showed a significant effect before and after the caring-based supportive
education intervention, with the mean score increasing from 87.36 before the intervention
to 118.21 after the intervention. A p-value of 0.001 (p<0.05) indicates a statistically
significant effect. The study of hypertension patients at the Gedong Tataan Community
Health Center showed that the good items in the question (choosing low-salt foods) were
optimal, but the poor items in the question (reducing fat and monitoring blood pressure)
were the lowest, indicating a self-care deficiency. It is recommended that caring-based
supportive educational interventions be implemented to strengthen a low-salt diet, improve
fat reduction and self-monitoring through training, as well as educational programs in
managing the disease to prevent complications, delivered comprehensively.
Keywords: Self-Care, Hypertension, Caring, Supportive Education
Bibliography: 25 (2025-2026)
iv
LEMBAR PERSETUJUAN
Judul Skripsi :
PENGARUH SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING
TERHADAP SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI DI
PUSKESMAS GEDONG TATAAN
Nama : Nanda Yulistia
NPM : 220101140
Telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing untuk seminar hasil
Pringsewu, 23 Desember 2025
Pembimbing
Dr. Hardono,[Link]., Ners., [Link]
NIDN 0231037803
Mengetahui.
Kepala Program Studi S1 Keperawatan
Rizki Yeni Wulandari, [Link],. Ners., [Link]
NIDN 0210018601
v
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Skripsi :
PENGARUH SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING TERHADAP
SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI DI PUSKESMAS GEDONG
TATAAN
NAMA : Nanda Yulistia
NPM : 220101140
Diterima oleh Tim Penguji pada Ujian SIdang Skripsi di Program Studi S1
Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu Lampung Tahun
Akademik 2025/2026
1. Penguji 1
Eko Wardoyo, [Link]., Ners., [Link]
NIDN 0219109602
2. Penguji 2
Sugiarto [Link]., Ners., [Link]
NIDN 05191008902
3. Penguji 3
Dr. Hardono, [Link], Ners., [Link]
NIDN 0231037803
Tanggal Ujian: 23 Desember 2025
Mengetahui
Dekan Fakultas Kesehatann
Universitas Aisyah Pringsewu
(Dr. Surmiasih, [Link]., Ners., [Link])
NIDN. 0230098302
vi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
A. Identitas Penulis
Nama lengkap : Nanda Yulistia
NPM : 220101140
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat Tanggal Lahir : Pulau Benawang, 15 November 2003
Alamat Lengkap: : Pulau Benawang
Orang Tua
Ayah : Usman
Ibu : Sumyati
Nomer Handpone : 08249329278
Email : Nndaylstia1511@[Link]
B. Riwayat Pendidikan
TK : TK Gedung Jambu
SD : Sd Negeri 1 Pulau Benawang
SMP : Smp Negeri 1 Kota Agung
SMA : Sma Negeri 1 Kota Agung
S1 : Universitas Aisyah Pringsewu
vii
MOTTO
ِّإلِّسا كفنَلَِّّللا فُِّ ل ك
َُا اَل ا ف اَُِّلْاُ ل
“Allah tidak membebani seseorang melainkan
sesuai dengan kesanggupannya”
(QS. Al-Baqarah: 286)
“ Angan-angan yang dulu mimpi belaka,
kita gapai segala yang tidak disangka”
(Hindia)
viii
PERSEMBAHAN
1. Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-nya, penulis skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik
2. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam
menyelesaikan studi pada S1 Keperawatan Fakultas Kesehatan Universitas
Aisyah Pringsewu
3. Persembahan ini aku untukkan dengan rasa cinta dan hormat yang terdalam
untuk kedua orang tua ayah usman dan ibu sumyati tercinta. Terima kasih atas
kasih sayang yang tak pernah habis, doa yang selalu mengiringi setiap
langkahku, serta pengorbanan yang begitu besar tanpa mengenal lelah. Ayah
dan ibu adalah sumber kekuatan dan inspirasi terbesar dalam hidupku. Semoga
kakak selalu diberi kesehatan supaya dapat membahagiakan ayah dan ibu.
4. Terima kasih yang tulus saya sampaikan kepada adik tersayang Saskia Vio dan
Khansha yang selalu menjadi sumber semangat dan kebahagiaan dalam setiap
langkah hidup saya.
5. Terima kasih nenek marsiah dan kakek sakdan atas kasih sayang dan doa yang
selalu saya rasakan. Kehadiran kalian selalu menghangatkan hati dan memberi
semangat dalam hidup kakak.
6. Terima kasih atas segala bimbingan dan ilmu dari bapak [Link]
[Link],Ners.,M Kep. Limpahkanlah rahmat, kesehatan, dan keberkahan kepada
beliau. Jadikanlah pengorbanan dan jasanya sebagai ladang pahala yang terus
mengalir. Semoga selalu diberi kemudahan dan kesuksesan dalam setiap
langkah hidupnya. Aamiin.
7. Terimakasih Mery Wulandari, selalu jadi sahabat yang seru dan supportif dalam
setiap momen ini. Kehadiran kamu bikin segala hal jadi lebih ringan dan
menyenangkan. Semoga kita terus bisa ketawa bareng dan saling dukung ke
depannya.
8. Saya mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Agung Danuarta Syamba atas
dukungan, kesabaran, dan kasih sayang yang selalu diberikan selama proses ini.
Kehadiran dan semangat yang sangat berarti bagi saya dalam menyelesaikan
setiap tantangan.
9. Untuk diri sendiri, terima kasih sudah kuat dan sabar melalui semua ini. Setiap
usaha dan perjuanganmu tidak pernah sia-sia. Teruslah percaya, aku bangga
padamu.
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Hidayah dan
Karunia-Nya, sehingga proposal penelitian yang berjudul Pengaruh Supportive
Educative Berbasis Caring Terhadap Self Care Penderita Hipertensi Di
Puskesmas Gedong Tataan, dapat saya selesaikan. Penyelesaian proposal
penelitian ini juga berkat dorongan dan bantuan dari berbagai pihak. Pada
kesempatan ini perkenankan penulis menghaturkan rasa terimakasih kepada
bapak/ibu yang terhormat :
1. Dr. Sukarni, SST., M. Kes selaku Ketua Yayasan Aisyah Lampung
2. Dr. Sutrisno, [Link]., Ners., MAN selaku Rektor Universitas Aisyah Pringsewu
Lampung
3. Dr. Surmiasih, [Link]., Ners., [Link] selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Aisyah Pringsewu.
4. Rizki Yeni Wulandari, [Link]., Ners., [Link] selaku Ketua Program Studi Ilmu
Keperawatan.
5. Dr. Hardono, [Link]., Ners., [Link] selaku pembimbing utama dan pendamping
yang telah banyak membantu penyelesaian penulisan penelitian ini.
6. Eko Wardoyo, [Link]., Ners., [Link] selaku penguji 1 yang telah memberikan
masukan dan saran dalam menyelesaikan penelitian ini.
7. Sugiarto, [Link]., Ners., [Link] selaku penguji 2 yang telah memberikan kritik
dan arahan dalam menyelesaikan penelitian ini.
8. [Link] Carolina, M. Kes Selaku Kepala UPTD puseksmas Gedong tataan
yang membantu dalam menyelesaikan penelitian ini.
Semoga Allah SWT berkenan membalas kebaikan serta bantuan yang telah
diberikan dan semoga Proposal ini dapat dijadikan pedoman untuk melakukan
penelitian.
Penulis menyadari dalam penulisan proposal ini masih banyak kekurangan untuk
itu, penulis sangat mengharapkan masukan serta saran yang membangun guna
perbaikan selanjutnya, Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita semua.
Amin.
Pringsewu, 30 Juli 2025
Nanda Yulistia
x
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................ iii
MOTTO ................................................................................................................ iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... v
DAFTAR ISI .................................................................................................................. vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ ix
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................. 1
A. Latar Belakang ......................................................................................1
B. Rumusan Masalah .................................................................................5
C. Tujuan Penelitian...................................................................................5
D. Manfaat Penelitian.................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................. 9
A. Tinjauan Teori .......................................................................................9
1. Hipertensi ..........................................................................................9
2. Self-Care..........................................................................................18
3. Konsep Caring .................................................................................22
4. Supportive Educative dalam Keperawatan .....................................24
5. Supportive Educative Berbasis Caring.......................................... 27z
B. Penelitian Terkait ................................................................................31
C. Kerangka Teori ....................................................................................33
D. Kerangka Konsep ................................................................................34
E. Hipotesis ..............................................................................................35
BAB III METODE PENELITIAN ........................................................................... 36
A. Jenis Penelitian ....................................................................................36
B. Waktu dan Tempat Penelitian .............................................................36
C. Rancangan Penelitian ..........................................................................36
D. Subjek Penelitian .................................................................................37
E. Variabel Penelitian ..............................................................................40
F. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ..................................41
G. Pengumpulan Data ..............................................................................42
H. Pengolahan Data ..................................................................................46
I. Analisa Data ........................................................................................48
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………..49
A. Gambaran Lokasi Penelitian................................................................49
B. Hasil Penelitian...................................................................................49
C. Pembahasan.........................................................................................55
BAB V PENUTUP………………………………………………………………65
A. Kesimpulan……………………………………..………..……………65
B. Saran………………………………………………………..……….…66
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Klasifikasi Hipertensi ............................................................................14
Tabel 3. 1 Bentuk Desain ........................................................................................38
Tabel 3. 2 Alur Penelitian Pretest-Postest.................................................................41
Tabel 3. 3Definisi Operasional ................................................................................41
Tabel 3.4 Tahapan Penelitian...................................................................................42
Tabel 3. 5Tahapan Kegiatan ...................................................................................43
Tabel 3. 6 Distribusi Karakteristik Responden............................................................... 44
Tabel 3. 7 Rerata Skor Self Care Sebelum ..................................................................... 45
Tabel 3. 8 Rerata Skor Self Care Sesudah ...................................................................... 46
Tabel 3. 9 Uji Normalitas ............................................................................................... 47
Tabel 4. 0 Uji Paired Sample T-test .............................................................................. 48
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2. 2 Kerangka Teori ..................................................................................35
Gambar 2. 3 Kerangka Konsep ..............................................................................35
Gambar 2 . 4 Bukti Penelitian ........................................................................................ 95
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Lembar Permohonan Responden
Lampiran 2 Pernyataan Kesediaan
Lampiran 3 Data Responden
Lampiran 4 Kuesioner Self Care
Lampiran 5 Kisi-Kisi
Lampiran 6 Pengajuan Judul
Lampiran 7 Bukti Sebagai Oponen
Lampiran 8 Permohonan Pra Survei
Lampiran 9 Balasan Izin Pra survey
Lampiran 10 Lembar Bukti Acc Proposal
Lampiran 11 Bukti Acc Penelitian
Lampiran 12 Permohonan Ethical Clearence
Lampiran 13 Izin Ethical Clearence
Lampiran 14 Izin Penelitian Kesbangol
Lampiran 15 Surat Izin Penelitian
Lampiran 16 balasan Izin Penelitian
Lampiran 17 Surat Izin Penelitian Dinkes
Lampiran 18 Bukti Penelitian
Lampiran 19 Tabulasi Data Self Care
Lampiran 20 Karakteristik Responden
Lampiran 21 Rerata Self Care
Lampiran 22 Uji Normalitas
Lampiran 23 Uji Paired Sample T-Test
Lampiran 24 Uji Plagiarisme
ix
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipertensi atau penyakit darah tinggi merupakan faktor risiko utama
penyakit kardiovaskular. Hipertensi termasuk masalah besar dan serius karena
sering kali tidak terdeteksi dalam waktu bertahun-tahun, sehingga disebut
sebagai silent killer. Keberadaannya yang tersembunyi tanpa gejala yang jelas
membuat hipertensi menjadi masalah Kesehatan serius dan membutuhkan
perhatian khusus dalam deteksi serta penanganannya, (Azizah et al ., 2020).
Organisasi kesehatan dunia (World Health Organization/WHO) 2023,
Prevalensi hipertensi merupakan penyebab utama dini kematian di dunia.
Diperkirakan dari 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 di dunia mengalami
hipertensi. Diperkirakan yang tidak terkontrol secara global mencapai 46%
karena tidak menyadari memiliki kondisi tersebut. Kurang dari separuh orang
dewasa 42% terdiagnosis dan mendapat pengobatan, dan 21% sisa nya yang
terkontrol. Sekitar 1 dari 5 orang dewasa adalah 47,7% hipertensi lebih tinggi
pada penderita laki-laki (50%) dibandingkan wanita (44,6%). dan meningkat
seiring bertambah nya usia, peningkatan prevelansi juga terjadi seiring
bertambah nya usia dengan 23,4% pada usia 18-39 tahun, dengan 52,5% pada
usia 40-59 tahun, dan 71,6 pada usia 60 ke atas. Wilayah Afrika memiliki
prevalensi tertinggi sebesar 27% Prevalensi Asia tenggara berada di posisi ke-
3 tertinggi dengan prevalensi 25% terhadap total penduduk (WHO, 2023).
1
1
2
Di Indonesia, prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada
penduduk usia ≥18 tahun sebesar 34,11%, Peningkatan prevalansi tertinggi
terdapat di Kalimantan Selatan sebesar 44,13%, Kalimantan Timur 41,58%,
dan Jawa Barat 40,07% (Kemenkes, 2023).
Prevalensi Hipertensi di Provinsi Lampung tahun 2023 sebesar 34,4%
Data ini menunjukkan peningkatan dibadingkan dengan data menurut riskesdes
di tahun 2018 dimana mencapai 29,94%. Menempatkan Provinsi Lampung di
posisi ke-16 tertinggi dari Provinsi lainnya. dengan prevalensi tertinggi di
Kabupaten Lampung Tengah sebesar 25,99% dan terendah di Kabupaten
Pesisir Barat sebesar 12,22%, sedangkan di Kota Bandar Lampung tercatat
16,71% berdasarkan data (Survey kesehatan indonesia (Ski), 2023). Menurut
Badan Pusat Statistik Kabupaten Pesawaran (2024) jumlah kasus Hipertensi
mencapai 8.670 jiwa yang menderita hipertensi pada tahun 2023 dibandingkan
dengan tahun 2022 yang hanya mencapai 1.118 jiwa penderita hipertensi.
Dampak hipertensi apabila tidak ditangani dapat menyebabkan
komplikasi yang mempengaruhi sistem kardiovaskular, saraf, ginjal, laju
aterosklerosis karena beban kerja ventrikel kiri meningkat, menyebabkan
hipertrofi ventrikel, yang kemudian meningkatkan risiko penyakit jantung
koroner, distrimia, gagal jantung dan kematian (Amalia et al., 2025).
Penatalaksanaan hipertensi tidak hanya bergantung pada terapi
farmakologis seperti pemberian ACE inhibitor atau ARB (Angiotensin
Receptor Blocker) dan deuretik sesuai standar terapi medis. Tetapi juga
memerlukan terapi non-farmakologi seperti salah satu perawatan non-
3
farmakologi yang dilakukan adalah peran aktif pasien dalam melakukan
perawatan diri. Self-care adalah suatu proses perilaku yang dilakukan untuk
mencegah keparahan dan melibatkan proses pengambilan keputusan dimana
penderita hipertensi mampu mengevaluasi dan mengatasi gejala penyakit
ketika penyakit terjadi (Rantepadang & Hadibrata, 2023) Pasien hipertensi
perlu menjalankan self care sebagai upaya mengontrol tekanan darah untuk
mencegah komplikasi dan kematian akibat hipertensi. Self care pada pasien
hipertensi menurut penelitian terdiri dari kepatuhan minum obat dan modifikasi
gaya hidup berkorelasi dengan pengendalian tekanan darah. (Putri et al., 2024)
Pencegahan komplikasi mencakup kepatuhan dalam mengkonsumsi
obat, aktivitas fisik, pengendalian stres, pemantauan tekanan darah rutin dan
pengaturan pola makan, Banyak penderita hipertensi yang masih mengalami
kesulitan dalam menjalankan self care secara optimal, sehingga mengakibatkan
tekanan darah yang tidak terkontrol dan meningkatkan risiko komplikasi serta
kematian. (Suprayitno & Damayanti, 2020)
Salah satu faktor pendorong untuk meningkatkan self care pasien
hipertensi dibutuhkan pendekatan supportive educative yang berbasis caring.
Intervensi ini berfokus pada pemberian dukungan (supporting) dan pendidikan
(teaching) dan bimbingan (guiding) kepada pasien, dengan pendekatan yang
berpusat pada kepedulian dan perhatian terhadap kebutuhan individu menjadi
salah satu upaya efektif untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam
mengelola penyakitnya dengan melakukan pendekatan selama 2 kali
pertemuan dalam jarak waktu 4 minggu. Pendekatan supportive educative
4
berbasis caring adalah metode pendekatan yang memberikan edukasi tentang
hipertensi, melainkan juga disampaikan dengan empati, kasih sayang, serta
dukungan emosional yang membantu pasien secara psikologis dalam
menghadapi penyakitnya. (Kim & Oh, 2021)
Menurut penelitian (Muharam et al., 2024) Sebagian besar responden
dalam penelitian ini masih menunjukkan perilaku perawatan diri yang rendah,
meliputi pengelolaan penyakit, penerapan diet rendah garam, aktivitas fisik,
kepatuhan mengonsumsi obat sesuai anjuran, pemantauan tekanan darah, serta
penghentian kebiasaan merokok. Oleh karena itu, perawat berperan penting
dalam meningkatkan edukasi guna mencegah terjadinya komplikasi pada
penderita hipertensi.
Penelitian sejalan juga dilakukan oleh (Rachmania et al., 2022)
Penelitian di Desa Malasan Kecamatan Durenan menunjukan hasil bahwa
sebagian penderita hipertensi memiliki self care yang baik, terutama pada
individu dengan kontrol diri tinggi. Kepatuhan terhadap anjuran medis dalam
menjaga pola hidup sehat didukung oleh perawatan mandiri maupun dukungan
keluarga serta orang terdekat.
Berdasarkan hasil prasurvey yang dilakukan dengan wawancara kepada
10 penderita hipertensi dimana ditemukan hasil bahwa 2 (20%) pasien
mengatakan belum melakukan pengendalian hipertensi secara baik seperti
tidak rutin meminum obat, pola makan yang tidak sehat kurang olahraga dan
tidak rutin memeriksakan ke pelayanan kesehatan. 8 (80%) pasien yang
mengatakan jika merasa sering pusing, sadar dan tau bahwa dirinya menderita
5
hipertensi tetapi tidak mau memeriksakan ke dokter dan minum obat secara
teratur.
Berdasarkan uraian latar belakang diatas dan data pendukung peneliti
tertarik untuk mengambil judul penelitian “Pengaruh Supportive Educative
Berbasis Caring Terhadap Penderita Hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang rumusan masalah, maka rumusan
penelitian ini adalah “Apakah ada pengaruh pendekatan supportive educative
berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi di Puskesmas Gedong
Tataan ?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahui pengaruh pemberian supportive educative berbasis caring
terhadap self care penderita hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahui karakteristik responden penderita hipertensi di Puskesmas
Gedong Tataan
b. Diketahui rerata skor self care penderita hipertensi sebelum diberikan
supportive educative berbasis caring di Puskesmas Gedong Tataan.
c. Diketahui rerata skor self care penderita hipertensi setelah diberikan
supportive educative berbasis caring di Puskesmas Gedong Tataan.
d. Diketahui pengaruh supportive educative berbasis caring terhadap self
care penderita hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan.
6
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian yang penulis tulis ini sangat diharapkan dapat
memperkaya khasanah ilmu pengetahuan di bidang keperawatan,
Khususnya dalam penerapan teori caring dan model supportive educative
sebagai pendekatan dan solusi yang efektif dalam meningkatkan
kemampuan pengetahuan dan self care pada penderita hipertensi.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Responden
Diharapkan Penelitian ini dapat menjadi acuan untuk penelitian
selanjutnya dan Dapat memberikan pengetahuan serta pemahaman
tentang pengaruh supportive educative berbasis caring dalam
meningkatkan prilaku self care dalam kehidupan sehari-hari.
b. Bagi Masyarakat
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam
mengontrol tekanan darah dan mencegah komplikasi hipertensi melalui
pendekatan supportive educative berbasis caring.
c. Bagi Instansi Puskesmas
Penelitian ini diharapkan menjadi gambaran dalam pengembangan
program Pendidikan kesehatan dengan metode pendekatan supportive
educative berbasis caring yang dapat diterapkan sebagai intervensi
keperawatan dalam menangani pasien, guna meningkatkan efektivitas
pelayanan dan pemberdayaan pasien.
7
d. Bagi Instalasi Pendidikan
Peneliti berharap penelitian ini bisa menjadi referensi dan sumber
pembelajaran dalam ilmu keperawatan khusus nya dalam keperawatan
medical bedah, khususnya dalam penerapan pendekatan supportive
educative berbasis caring terhadap self care.
e. Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini diharapkan menjadi referensi dan dasar
pengembangan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pendekatan
supportive educative berbasis caring terhadap self care.
E. Ruang lingkup penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain quasi-
eskperimen dengan populasi dalam penelitian ini yang dijadikan sampel
sebanyak 53 responden. Variabel yang diteliti yakni variabel independent yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Supportive Educative Berbasis Caring
dan Variabel dependent dalam penelitian ini adalah Self care Penderita
Hipertensi. Penelitian ini difokuskan dalam pemberian intervensi supportive
educative berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi yang ada di
Puskesmas Gedong Tataan, Penelitian ini meliputi pengukuran self care
sebelum dan sesudah intervensi diberikan, Dengan pendekatan kuantitatif
melalui desain penelitian pre-exsperimental (one grup pretest-posttest),
Memfokuskan pada perubahan self-care. Uji statistik yang digunakan pada
penelitian ini adalah uji paired T-Test.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teori
1. Hipertensi
a. Pengertian Hipertensi
Hipertensi didenfinisikan sebagai suatu kodisi dimana seseorang
mengalami peningkatan tekanan darah diatas normal, secara spesifik
seseorang dapat dikatakan mengalami peningkatan darah sistolik
mencapai atau melebihi 140 mmHg dan diastolic mencapai atau
melebihi 90 mmHg yang diukur secara berulang, sering disebut "silent
killer" karena minim gejala awal. (WHO, 2023).
Hipertensi adalah suatu keadaan kronis yang ditandai dengan
meningkatnya tekanan darah pada dinding pembuluh darah arteri yang
menyebabkan jantung bekerja lebih keras untuk mengedarkan darah
keseluruh tubuh melalui pembuluh darah dan merusak pembuluh darah
hingga menyebabkan penyakit degenerative serta kematian (Oktavianie,
2022).
Hipertensi dikenal sebagai silent killer karena sering tidak
menimbulkan gejala pada tahap awal, namun menjadi faktor risiko
utama penyakit tidak menular yang berakibat fatal. Banyak penderita
tidak menyadari kondisi ini sehingga hipertensi berkembang hingga
menimbulkan komplikasi. Jika tidak diobati (Zethira et al., 2024).
8
9
b. Etiologi
Penyebab dari penyakit hipertensi sebenarnya tidak spesifik.
Namun ada beberapa penyebab yang mampu memengaruhi terjadinya
hipertensi yaitu merokok, kurang berolahraga, jenis kelamin, asupan
garam tinggi, obesitas, alkohol, kafein, usia, pola hidup, pola makan
dan minum, dan faktor genetik (Rahmawati & Kasih, 2023).
c. Jenis Hipertensi
Hipertensi dapat di klsifikasikan menjadi dua jenis hipertensi
berdasarkan penyebab dan karakteristiknya yaitu hipertensi primer
(esensial) dan hipertensi sekunder (Widiatmika, 2023).
a). Hipertensi Primer (Esensial)
Merupakan jenis hipertensi yang paling umum, mencakup lebih
dari 90% kasus. Penyebab pasti peningkatan tekanan darah tidak
diketahui atau tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol.
Hipertensi esensial sering terjadi tanpa gejala yang tampak pada
usia dewasa dan hasil dari peningkatan tekanan darah terus
menerus dalam jangka waktu lama seperti faktor genetik.
b). Hipertensi Sekunder
Merupakan jenis hipertensi yang jarang terjadi, hanya sekitar 10%
kasus. Penyebab spesifik yang dapat diidentifikasi seperti penyakit
tertentu seperti difungsi ginjal akibat penyakit ginjal kronis yang
parah atau penyakit renovaskular dan efek samping obat-obatan
tertentu..
10
d. Patofisiologi
Menurut (Marhabatsar & Sijid, 2021) Hipertensi terjadi akibat
peningkatan tekanan darah yang dipengaruhi oleh dua faktor utama,
yaitu volume darah dan resistensi perifer. Tekanan darah merupakan
hasil interaksi antara curah jantung (cardiac output) dan resistensi
pembuluh darah perifer, apabila terjadi peningkatan abnormal pada
salah satu atau keduanya maka tekanan darah akan meningkat dan
menyebabkan hipertensi. Dimulai dari sistem renin-angiotensin-
aldosteron (RAA). Ketika tekanan darah turun, ginjal melepaskan
renin yang mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I, lalu
diubah menjadi angiotensin II oleh enzim ACE di paru-paru.
Agiotensin II memililiki peran dalam meningkatkan tekann darah
melalui dua mekanisme:
1) Vasolontriksi
Vasokonstriksi pembuluh darah yang meningkatkan resistensi
perifer dan merangsang hormon antidiuretik (AHD) untuk
meningkatkan retensi air, sehingga volume darah naik.
2) Stimulasi Sekresi Aldosteron
Stimulasi Sekresi Aldosteron dari kelenjar adrenal, yang
meningkatkan reabsorpsi natrium dan air di ginjal, menambah
volume cairan ekstraseluler dan darah, sekaligus meningkatkan
sekresi kalium.
11
e. Klasifikasi Tekanan Darah
Menurut (Nurpratiwi1 et al.,2024) klasifikasi tekanan darah
menurut The Sevent Report Of The Joint National Committee on
prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood
Preassure (JNC VIII), klasifikasi hipertensi dibagi menjadi beberapa
kelompok berupa normal, prehipertensi, hipertensi, derajat 1, dan
derajat 2 dengan pembagian sebagai berikut :
Tabel 2.1
Klasifikasi Hipertensi Menurut Join National Comunitte VII
Klasifikasi Tekanan Tekanan Darah Tekanan Darah
Darah Sistolik (mmHg) Diastolik (mmHg)
Normal <120 <80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi Stage 1 140-159 90-99
Hipertensi Stage 2 160 atau >160 100 atau>100
Sumber: Join National comunitte 8 (JNC 8)
f. Gejala Hipertensi
1) Menurut (Nababan et al., 2024) beberapa gejala-gejala
hipertensi yang sering muncul antara lain: sakit kepala,
Mual dan muntah, Sakit kepala, Vertigo, Kelelahan,
Pengelihatan kabur, Telinga berdenging, Hidung berdarah
(mimisan), Detak jantung cepat, Stroke dan Noktukria
(sering buang air kecil dimalam hari).
g. Faktor Yang Mempengaruhi Hipertensi
Menurut (Marhabatsar & Sijid, 2021) penyebab penyakit hipertensi
tidak mempunyai faktor yang spesifik, beberapa penyebab yang mampu
mempengaruhi terjadinya hipertensi sebagai berikut:
12
1) Genetik
keluarga yang memiliki riwayat hipertensi berdampak dua kali lipat
dapat mengidap penyakit hipertensi dari pada keluarga yang tidak
memiliki riwayat menderita hipertensi. hipertensi esensial 70-80%
memiliki riwayat keluarga yang mengidap penyakit hipertensi.
2) Jenis kelamin
Jenis kelamin berpengaruh terhadap hipertensi karena perbedaan
hormonal dan psikologis. Perempuan lebih banyak mengalami
hipertensi, karena akibat hormon estrogen saat menopause yang
meningkatkan risiko tekanan darah tinggi, disertai faktor seperti
kenaikan berat badan, stres, depresi, dan pola makan tidak sehat.
Pada laki-laki, hipertensi lebih banyak dipengaruhi oleh gaya hidup
dan stres pekerjaan.
3) Usia
Usia berperan penting dalam terjadinya hipertensi karena perubahan
fisiologis seiring penuaan. Data menunjukkan prevalensi hipertensi
lebih tinggi pada usia di atas 45 tahun (54,3%) dibandingkan usia di
bawah 45 tahun (19,8%).
4) Obesitas
Obesitas merupakan faktor penting penyebab hipertensi karena
meningkatkan curah jantung, volume sirkulasi darah, serta kadar
insulin plasma yang memicu retensi natrium di ginjal.
13
5) Kurang Olahraga
Kurangnya aktivitas fisik seperti jarang bergerak dan berolahraga
maka makanan yang dikonsumsi, terutama yang tinggi lemak dan
rendah gizi akan menumpuk didalam tubuh. Sehingga menyebabkan
peningkatan kolestrol dan kelebihan berat badan, yang akhirnya
meningkatkan tekanan darah dan resiko hipertensi.
6) Merokok
Rokok mengandung zat-zat berbahaya yang memicu pembentukan
gumpalan darah yang mengahambat aliran darah, sehingga membuat
aliran darah tidak lancar dan tersumbat yang menyebabkan resiko
hipertensi.
7) Natrium
Kelebihan natrium dalam tubuh dapat menyebabkan penyempitan
diameter arteri, akibatnya tekanan darah akan meningkat dan
berpotensi menyebabkan hipertensi.
8) Pemeriksaan Penunjang
Menurut (Unger et al., 2020) dalam upaya menegakan diagnosa
hipertensi, pemeriksaan penunjang memiliki peranan penting yang
membantu dalam mengidentifikasi faktor resiko yang terjadi.
Pemeriksaan nya seperti pemeriksaan darah rutin , profil lipid,
glukosa puasa pemeriksaan urin, (elektrokardiografi/EKG), USG
Karotis.
14
2. Self Care
a. Pengertian Self Care
Self care adalah kemampuan seseorang individu untuk mengelola
dan merawat dirinya secara mandiri melalui kesadaran diri, kontrol atas
tindakan, serta kemandirian, dengan tujuan mempertahankan,
meningkatkan dan mencapai kondisi kesehatan dan kesejahteraan yang
optimal. Serta melakukan pemulihan secara mandiri tanpa
ketergantungan langsung pada tenaga profesional, meskipun tetap
didukung oleh pengetahuan kesehatan yang memadai (Irman et al.,
2025).
b. Komponen Self Care pada Penderita Hipertensi
Menurut (Widayanti & Soleman, 2023) beberapa aspek penting
yang harus dilakukan secara mandiri untuk mengelola penyakit.
Terdapat 5 komponen utama self care pada penderita hipertensi:
1) Kepatuhan terhadap pengobatan
Pengunaan obat anti hipertensi secara tepat sesuai dosis dan jadwal
kontrol rutin yang di anjurkan.
2) Pemantauan tekanan darah secara mandiri
Memeriksakan tekanan darah secara rutin dirumah atau fasilitas
kesehatan, terutama saat merasa gejala atau sesuai jadwal.
3) Modifikasi pola makan/diet sehat
Diet rendah garam karena mengkonsumsi garam berlebih dapat
meningkatkan natrium yang menyebabkan meningkatnya tekanan
15
darah. Dan mengkonsumsi buah, sayur dan rendah lemak
disarankan.
4) Aktivitas fisik
Olahraga seperti jalan kaki, bersepeda selama 20-50 menit dengan
frekuensi 3-5 kali perminggu sangat dianjurkan untuk membanu
menurunkan tekanan darah.
5) Pengelolaan setres dan perubahan gaya hidup
Mengelola setres dengan baik, menghindari rokok, alcohol,
minuman berkafein, serta istirahat yang cukup.
Hambatan self care pada penderita hipertensi meliputi :
1) Kurang pengetahuan
Pasien hipertensi yang memiliki pengetahuan rendah tentang
penyakit, penyebab, pentingnya pengobatan teratur, dan dampak
komplikasi cenderung kurang melakukan pengendalian tekanan
darah dengan baik.
2) Tidak teratur minum obat
Ketidakpatuhan pasien dalam minum obat secara teratur
seringkali terkait dengan kurangnya pemahaman akan
pentingnya pengobatan dan konsekuensi jika tidak patuh.
3) Tidak memantau tekanan darah rutin
Pemantauan tekanan darah secara mandiri jarang dilakukan
karena pasien kurang memahami pentingnya kontrol rutin atau
keterbatasan alat dan akses. Ketidakmampuan atau kurang
16
motivasi memantau dapat menghambat deteksi dini perubahan
dan pengelolaan hipertensi yang efektif.
4) Pola makan tinggi garam
Kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi garam dapat
menyebabkan kenaikan tekanan darah dan memperburuk
kondisi hipertensi.
5) Kurang aktivitas fisik
Pasien yang kurang melakukan aktivitas fisik rutin karena faktor
motivasi rendah, kondisi fisik, atau tidak adanya dukungan
lingkungan.
6) Kurang dukungan emosional
Pasien yang kurang mendapat dukungan emosi cenderung
merasa terisolasi dan kehilangan motivasi menjalani pola hidup
sehat dan pengobatan yang konsisten.
c. Faktor yang Mempengaruhi Self Care
Menurut (Khotibul et al., 2023) Perilaku self care dipengaruhi
beberapa faktor yang berkaitan. Salah satu faktor utama nya adalah :
1) Persepsi terhadap penyakit
Persepsi penyakit merupakan keyakinan individu dalam memahami
kondisi yang dialami, meliputi sensasi fisik, durasi, konsekuensi,
kemampuan mengendalikan penyakit, efektivitas pengobatan,
pemahaman kondisi, serta tingkat kekhawatiran.
17
2) Motivasi
Motivasi adalah dorongan seseorang bertindak untuk mencapai
tujuan. Baik motivasi intrinsik (keinginan pribadi untuk sehat)
maupun ekstrinsik (faktor luar seperti gaya hidup sehat) dapat
meningkatkan kepatuhan dan konsistensi pasien dalam menjalankan
self care.
3) Efikasi diri
Keyakinan individu terhadap kemampuan melaksanakan perilaku
untuk mencapai tujuan. Terdiri dari keyakinan diri dan harapan hasil,
efikasi diri yang tinggi mendorong kepercayaan diri dalam
menghadapi hambatan serta konsistensi dalam self care.
d. Tujuan Penguatan Self Care
Menurut (Fransiskus et al., 2022) Penguatan self care pada
penderita hipertensi bertujuan utama untuk mengendalikan tekanan
darah, mendorong perubahan gaya hidup sehat, meningkatkan
pengetahuan dan kemandirian pasien, mencegah komplikasi, serta
meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
e. Pengukuran Self Care
Pengukuran self care hipertensi menggunakan kuesioner dimana
peneliti akan menyebarkan daftar pertanyaan tertulis kepada sejumlah
subjek. Melalui kuesioner responden diminta untuk memberi informasi,
tanggapan serta jawaban terhadap pertanyaan pertanyaan yang di
18
ajukan, sehingga dapat diperoleh data-data yang relevan terkait isu-isu
yang berkaitan dengan kepentingan umum.
Kuesioner ini diadopsi oleh (tasya, 2021) tentang self care
management pasien hipertensi dengan jumlah 40 item pertanyaan.
Pilihan jawaban ada 4 yaitu tidak pernah =1, jarang =2, kadang-kadang
=3, selalu =4. Kuesioner ini meliputi intergrasi diri, regulasi diri,
interaksi dengan tenaga medis, pemanuan tekanan darah, kepatuhan yang
telah dianjurkan. Pada penelitian ini tidak dilakukan uji validitas karena
data sudah valid dengan Content Validity Indeks (CVI) yaitu 1 Instrument
dikatakan valid dengan CVI 0,8-1,0. Dikatakan baik jika = 121-160,
cukup = 81-120, kurang = 40-80
3. Konsep Caring
a. Definisi Caring
Caring dapat didefinisikan sebagai tindakan atau sikap perhatian
dan empati yang diberikan secara tulus kepada orang lain, dengan
tujuan memenuhi kebutuhan fisik, emosional, dan psikologis mereka.
Dalam konteks keperawatan, caring mencakup aspek perhatian,
pengertian, dan dukungan yang mampu meningkatkan kualitas hidup
pasien dan memperkuat hubungan terapeutik antara perawat dan pasien
(Senofia et al., 2025).
b. Konsep Caring
Menurut Griffin (1983; dalam buku (Nursanti et al., 2024),
konsep caring dalam keperawatan terbagi menjadi dua domain utama.
19
1) Domain pertama berkaitan dengan sikap dan emosi yang dimiliki
oleh perawat
2) Domain kedua berfokus pada aktivitas yang dilakukan selama
menjalankan fungsi keperawatan.
Griffin menjelaskan bahwa caring merupakan sebuah proses
interpersonal yang esensial, di mana perawat harus melakukan
aktivitas tertentu dengan cara menyampaikan ekspresi emosi yang
sesuai kepada pasien.
c. Nilai Nilai Caring
Menurut Scottish Goverment (2010) dalam :(Erita, 2021)
1) Care : pencapaian, kenyamanan, kesediaan, antisipasi.
2) Compassion : empati, memberikan ketentraman, kepercayaan.
3) Communication : pertukaran informasi, komukasi non verbal,
kemampuan mendengarkan, sikap.
4) Collaboration : peran serta perawat dan pasien.
5) Clean and safe : pemeliharaan, menjaga kenyamanan lingkungan.
6) Continuity : kesinambungan perawatan yang yang penuh perhatian
yang memastikan perawatan berlanjut dan terkoordinasi.
7) Clinical excellence : kompetensi profesional
d. Peran Caring Dalam Praktik Keperawatan
1) Memberikan asuhan holistic
Caring membuat perawat memperhatikan fisik, psikologis, sosial,
dan spiritual pasien.
20
2) Meningkatkan kepercayaan dan kepuasan pasien
Pasien merasa aman dan dihargai ketika perawat bersikap empati
dan perhatian.
3) Mendukung proses penyembuhan
Caring membantu pasien lebih termotivasi dan tenang, sehingga
mempercepat pemulihan.
4) Meningkatkan mutu pelayanan
Perawat lebih teliti dan bertanggung jawab jika dilandasi sikap
caring.
5) Menjadi dasar keputusan etis
Caring membantu perawat mempertimbangkan nilai dan kebutuhan
pasien secara manusiawi (Nursanti et al., 2024).
4. Supportive Educative dalam Keperawatan
a. Pengertian Pendekatan Supportive Educative
Suportive educative adalah edukasi yang merupakan proses
terjadinya pembelajaran dalam upaya menambah pengetahuan baru,
sikap, serta keterampilan melalui penguatan praktik dan pengalaman
tertentu (Hidayati et al., 2020).
b. Tujuan Pendekatan Supportive Educative Dalam Keperawatan
1) Meningkatkan Pengetahuan
Membantu pasien memahami kondisi kesehatannya, seperti
penyebab penyakit, komplikasi, dan cara pencegahan.
2) Mengembangkan Keterampilan Self care
21
Melatih pasien agar mampu melakukan perawatan mandiri, seperti
memantau tekanan darah atau mengatur pola makan.
3) Meningkatkan Kemandirian dan Kepercayaan Diri
Mendorong pasien untuk mengambil keputusan dan bertanggung
jawab terhadap kesehatannya sendiri.
4) Memanfaatkan Dukungan Lingkungan
Melibatkan keluarga dan sumber daya sekitar (kader, komunitas)
untuk mendukung keberhasilan perawatan (Hidayati et al., 2020).
c. Peran Perawat Dalam Pendekatan Supportive Educative Dalam
Keperawatan
1) Educator
Memberikan Pendidikan tentang penyakit, terapi, diet dan gaya
hidup.
2) Motivator
Mendorong pasien untuk aktif dalam pengambilan Keputusan
Kesehatan dan perawatan diri.
3) Fasilitator
Membantu pasien mengakses sumber daya, misalnya alat bantu atau
dukungan keluarga.
4) Konselor
Mendukung psikologis pasien dan membantu mengatasi kecemasan,
stress, atau ketakutan.
22
5) Kolaborator
Bekerjasama dengan tenaga Kesehatan lain dan keluarga untuk
meningkatkan hasil perawatan pasien (Nelista et al., 2021).
d. Contoh Intervensi Perawat Dalam Pendekatan Supportive
Educative Dalam Keperawatan
Menurut (Tok Yildiz & Kasikci, 2020) intervensi dalam pendekatan
supportive educative adalah sebagai berikut:
1) Teaching (Pengajaran):
Memberikan informasi dan keterampilan kepada pasien agar mereka
memahami kondisi kesehatannya dan mampu merawat diri sendiri.
Contohnya, mengajarkan cara mengontrol tekanan darah.
2) Guiding (Pembimbingan):
Membimbing pasien dalam mengambil keputusan dan merencanakan
tindakan kesehatan. Perawat berperan sebagai fasilitator, bukan
hanya pemberi instruksi. Contohnya, menjelaskan cara menurunkan
tekanan darah, seperti pola makan sehat, mengurangi garam,
olahraga rutin, menghindari merokok dan alkohol, serta minum obat
secara teratur.
3) Supporting (Dukungan):
Memberikan dukungan emosional dan motivasi agar pasien merasa
didampingi, percaya diri, dan tidak putus asa menghadapi
penyakitnya seperti:
23
a) Dukungan emosional
Memberikan dorongan psikologis seperti empati, perhatian,
dan kepedulian yang dapat mengurangi kecemasan dan stres
pasien, sehingga pasien lebih termotivasi dalam menjalankan
pengelolaan penyakitnya.
b) Dukungan informasi
Penyediaan informasi yang jelas dan akurat terkait kondisi
penyakit, pengobatan, pola hidup sehat, dan tindakan
pencegahan yang harus dilakukan sehingga pasien dapat
memahami dan mengelola kesehatannya dengan lebih baik.
c) Dukungan instrumental
Bantuan praktis seperti pendampingan kontrol kesehatan
seperti pengecekan tekanan darah, bantuan dalam pelaksanaan
aktivitas sehari-hari.
d) Dukungan penghargaan
Pengakuan dan apresiasi terhadap usaha dan pencapaian pasien
dalam mengelola penyakitnya, yang dapat meningkatkan rasa
percaya diri dan motivasi untuk terus menjaga kesehatan.
4) Developmental Environment (Lingkungan Pengembangan):
Menciptakan lingkungan yang nyaman dan kondusif untuk belajar,
baik secara fisik maupun psikologis. (Rizkaningsih et al., 2025).
24
5) Supportive Educative Berbasis Caring
a. Definisi Supportive Educative Berbasis Caring
Supportive edukative berbasis caring adalah pendekatan
keperawatan yang menggabungkan pemberian edukasi (pendidikan
kesehatan) dan dukungan emosional secara empatik dan humanistik,
yang bertujuan membantu pasien meningkatkan kemampuan dalam
merawat dirinya sendiri (self care). Pendekatan ini berakar pada teori
Self-Care Orem dan Teori Caring Watson. Perawat tidak hanya
memberikan informasi dan bimbingan, tetapi juga melibatkan empati,
kasih sayang, dan perhatian tulus terhadap kondisi pasien, sehingga
pasien merasa dihargai, dipahami, dan termotivasi untuk mengelola
kesehatannya secara mandiri (Suprayitno & Damayanti, 2020).
b. Karakteristik intervensi supportive educative berbasis caring
Intervensi ini berfokus pada pemberian dukungan emosional dan
pendidikan kepada pasien, dengan pendekatan yang berpusat pada
kepedulian dan perhatian terhadap kebutuhan individu. Karakteristik
utamanya meliputi:
1) Penekanan pada hubungan terapeutik: Membangun hubungan yang
kuat dan saling percaya antara perawat dan pasien.
2) Pemberian informasi dan edukasi: Memberikan informasi yang jelas
dan akurat tentang kondisi pasien, perawatan yang dibutuhkan, dan
cara mengelola gejala.
25
3) Dukungan emosional: Memberikan dukungan dan dorongan kepada
pasien untuk mengatasi tantangan emosional yang mungkin timbul.
4) Pemberdayaan pasien: Memberikan pasien pengetahuan dan
keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola kondisi mereka
sendiri.
5) Kolaborasi: Bekerja sama dengan pasien, keluarga, dan tim
kesehatan lainnya untuk mencapai tujuan perawatan yang optimal
(Pardede, 2020).
c. Langkah-langkah Intervensi Supportive Educative Berbasis Caring
1) Pengkajian
Meliputi observasi, identifikasi, dan review masalah menggunakan
pengetahuan dari literature yang bisa diaplikasikan.
2) Perencanaan
Perencanaan membantu dalam menentukan bagaimana variabel-
variabel akan diteliti atau diukur, meliputi suatu pendekatan
konseptual atau desain untuk pemecahan masalah yang mengacu
pada asuhan keperawatan serta menentukan data apa yang akan
dikumpulkan dan pada siapa dan bagaimana data akan dikumpulkan.
3) Implementasi
Merupakan tindakan langsung dan implementasi dari rencana serta
meliputi pengumpulan data.
26
4) Evaluasi
Merupakan proses untuk menganalisa data, juga untuk menilai efek
dari intervensi berdasarkan data serta meliputi interpretasi hasil,
tingkat dimana suatu tujuan yang positif tercapai, dan apakah
hasilnya bisa digeneralisasikan (Widiatmika, 2019).
d. Manfaat Intervensi Penelitian Supportive Educative Berbasis
Caring
1) Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pasien tentang
penyakit.
2) Meningkatkan kemampuan perawatan diri. Dengan adanya
dukungan dan Pendidikan pasien lebih mampu dalam melakukan
perawatan diri.
3) Meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri. Dukungan emosional
yang diberikan dalam intervensi ini dapat meningkatkan motivasi
pasien untuk sembuh.
4) Meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Dengan pemahaman
yang lebih baik dan motivasi yang meningkat pasien cenderung lebih
patuh terhadap pengobatan.
5) Meningkatkan kualitas hidup (Suprayitno & Damayanti, 2020).
e. Intervensi yang digunakan Supportive Educative Berbasis Caring
Intervensi yang akan dilakukan adalah edukasi berbasis caring
kepada pasien hipertensi dengan edukasi yang berfukus kepada
supporting, teaching, guiding. Sehingga pasien lebih mampu
27
memahami dan menerapkan perilaku perawatan diri untuk mengontrol
hipertensi mereka.
Supportive educative berbasis caring media yang digunakan
Satuan Penyuluhan (SAP) Supportive Educative Berbasis Caring pada
penelitian ini diadopsi dari penelitian (Lestary, C. E 2023) yaitu edukasi
(pendidikan kesehatan) kepada pasien menggunakan media leaflet,
yang dilakukan dengan landasan nilai-nilai caring (kepedulian) yang
berisi tentang pengelolaan hipertensi, integritas diri, regulasi diri,
hubungan dengan tenaga kesehatan , dukungan sosial, dan pemantauan
tekanan darah serta kepatuhan terhadap anjuran medis. Komponen
perawatan diri (diet, aktivitas fisik, kepatuhan minum obat, dan
pemantauan tekanan darah), serta cara penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari.
B. Penelitian Terkait
Penelitian Ginting & Keperawatan (2024) berjudul "Pengaruh
Supportive Educative Berbasis Caring Terhadap Self care Pada Penderita
Hipertensi di Desa Delitua Barat" menggunakan desain quasi
eksperimental dengan sampel 32 penderita hipertensi yang dibagi
menjadi kelompok perlakuan (intervensi supportive educative berbasis
kepedulian) dan kelompok kontrol (mendapat leaflet hipertensi). Hasil
uji independent t-test menunjukkan bahwa intervensi tersebut efektif
meningkatkan manajemen perawatan diri pada penderita hipertensi
28
meskipun nilai p mendekati signifikansi (p=0,069 dan selisih delta
p=0,075
Penelitian sejalan juga dilakukan (Lukmawati et al., 2020) dengan
judul “ Pengaruh Supportive Educative Terhadap Self Care Pasien
Hipertensi Pada Salah Satu Puskesmas Di Bandung”. Jenis penelitian ini
kuantitatif dengan desain pre eksperimental (one group pretest-posttest).
Sampel pada penelitian ini yaitu lansia yang menderita hipertensi
sebanyak 10 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan Cluster
Sampling. Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan analisis inferensial dengan menggunakan uji paired t-test.
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
antara self care sebelum dan sesudah diberikan intervensi supportive
educative (p-value 0,001; α = 0,005) dengan skor mean 42,90 lebih rendah
dibandingkan dengan sesudah diberikan intervensi sebesar 56,70.
Penelitian sejalan berikutnya dilakukan (Suprayitno & Damayanti,
2020) yang berjudul “Intervensi Supportive Educative Berbasis Caring
Meningkatkan Self Care Management Penderita Hipertensi”. Desain
penelitian ini adalah quasi experimental. Populasi yaitu seluruh lansia
penderita hipertensi sebanyak 71 orang dengan simple random sampling,
jumlah sampel sebanyak 66 orang terbagi menjadi 2 kelompok yaitu
kelompok perlakuan sebanyak 33 orang diberikan intervensi supportive
educative berbasis caring dan sebanyak 33 orang kelompok kontrol
diberikan leaflet tentang penyakit hipertensi. Hasil penelitian berdasarkan
29
uji independent t test skor self care management pada kelompok perlakuan
dan kontrol setelah intervensi yaitu p=0,000. Skor selisih delta skor self
care management pada kelompok perlakuan dan kontrol setelah intervensi
yaitu p=0,000.
30
C. Kerangka Teori
Ringkasan dan tinjauan Pustaka untuk mengidentifikasi variabel
yang akan diteliti untuk mengembangkan kerangka konsep penelitian
(Notoadmojo, 2018).
Hipertensi
Etiologi
Faktor yang Kurangnya perawatan
mempengaruhi diri
1. Genetik
2. Jenis
kelamin
3. Usia Self care
4. Obesitas
5. Kurang
olahraga
6. Merokok Self Care Baik Self Care Buruk
7. natrium 1. Kepatuhan 1. Rendah nya pengetahuan
minum obat 2. Tidak teratur minum obat
2. Pemantauan tekanan 3. Tidak memantau tekanan
darah rutin darah
3. Diet rendah garam 4. Pola makan tinggi garam
4. Aktivitas fisik 5. Kurang aktivitas fisik
5. Maanajemen 6. Kurang dukuangan
emosional emosional
6. Menghindari rokok
dan alkohol
Intervensi suportif edukatif
berbasis caring
1. Faktor yang
mempengaruhi
Presepsi terhadap penyakit
2. Motivasi diri
3. Efikasi diri
4. penguatan self care
Sumber:(Marhabatsar & Sijid, 2021), (Khotibul et al., 2023).
Gambar 2.2
Kerangka Teori
31
D. Kerangka Konsep
Diagram alur hubungan antar variabel:
Varibel Independent Variabel Dependen
Supportive Educative
Self Care
berbasis Caring
Gambar 2.3
Kerangka Konsep
E. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,
dikatakan sementara karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada
teori yang relevan.
Ha : Ada pengaruh supportive educative berbasis caring terhadap self care
penderita hipertensi.
32
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif, yaitu penelitian
yang berlandaskan filsafat dan positivisme. Penelitian ini digunakan untuk
meneliti pada populasi atau sampel tertentu dengan pengumpulan data
menggunakan instrument penelitian, data yang terkumpul di analisis secara
kuantitatif menggunakan angka, mulai dari pengumpulan data hingga
penafsiran terhadap data tersebut. (Sugiyono, 2023)
B. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Waktu penelitian telah dilaksanakan pada tanggal 12-14 Oktober 2025 Di
Puskesmas Gedong Tataan.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Puskesmas Gedong Tataan.
C. Rancangan Penelitian
Metode yang digunakan yaitu Quasi Eksperimental dengan one grup
grup. pre-post test design yaitu rancangan ini tidak ada kelompok pembanding
(kontrol) dilakukan observasi pertama (Pretest) yang memungkinkan menguji
perubahan-perubahan yang terjadi setelah adanya eksperimen (Program).
Penelitian dilakukan bertujuan untuk mengetahui perubahan self care
32
33
hipertensi sebelum dan sesudah dilakukan supportive educative berbasis
caring. Bentuk desain ini adalah sebagai berikut: (Sugiyono, 2023)
Tabel 3.1
Bentuk Desain
Subjek Pre test Perlakuan Post tes
K-A O 1 O1
Sumber : (Sugiyono, 2023)
K-A = Kelompok
O = Pengetahuan sebelum dilakukan aktivitas edukasi kelompok
1 = Intervensi standar puskesmas dan supotive educative berbasis caring
2 = Pengetahuan setelah dilakukan aktivitas edukasi kelompok
D. Subjek Penelitian
1. Populasi
Menurut Sugiyono (2023) Populasi adalah wilayah generalisasi yang
terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk mempelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya. Oleh karena itu sesuai dengan penjelasan
yang telah disampaikan bahwa populasi yang menjadi menjadi target dalam
penelitian kali ini yaitu keseluruhan penderita hipertensi yang datang ke
Puskesmas Gedong Tataan yang berjumlah 114.
34
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau jumlah dan karakteristik yang dimiliki
oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2023)
a. BesarِّSampel
Sampel dalam penelitian ini yang dijadikan populasi sampel adalah
semua penderita hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Gedong Tataan
sebanyak 114 penderita. Teknik perhitungan sampel yang digunakan
dalam penelitian ini adalah rumus slovin yaitu:
𝑁
𝑛 = 1+𝑁⋅𝑑2
𝟏𝟏𝟒 𝟏𝟏𝟒 𝟏𝟏𝟒
𝒏= = 𝟏+𝟏𝟏𝟒.(𝟎,𝟎𝟏) = 𝟏+𝟐,𝟏𝟒 = 53,27
𝟏+𝟏𝟏𝟒⋅(𝟎,𝟏)𝟐
Keterangan :
N : Besar Populasi
n : Besar sampel
d : Derajat penyimpangan terhadap populasi yang di inginkan
Berdasarkan perhitungan sampel diatas maka dapat di tarik kesimpulan
jumlah sampel 53,27 dan dibulatkan menjadi 53 responden pasien
Hipertensi yang diambil diwilayah kerja Puskesmas Gedong Tataan yang
akan diteliti dalam penelitian ini.
35
b. TehnikِّSampelِّ
Tehnik sampling adalah salah satu dimana sampel diambil untuk
memastikan bahwa setiap subjek penelitian menerima sampel yang
sesuai. Adapun tehnik yang digunakan pada penelitian ini adalah
consecutive sampling yaitu teknik pengambilan sempel yang dimana
semua subjek yang datang dan memenuhi kriteria pemilihan dimasukan
dalam penelitian ini sampai jumlah yang diperlukan terpenuhi.
(Sugiyono, 2023).
Penelitian ini menggunakan metode Focus Group Discussion
(FGD) dengan pendekatan supportive educative berbasis caring untuk
meningkatkan self care pada penderita hipertensi. Sampel penelitian
terdiri dari responden di Desa Sepakat 10 Responden , Desa Pampangan
13 responden , dan Desa Bogorejo 20 responden . Pembagian kelompok
FGD ditunjukkan pada Tabel 3.2, di mana terlihat FGD Pretest dan
Posttest per desa. Jumlah anggota setiap FGD tetap sama, namun
beberapa anggota dipertemuan ke 3 di minggu ke 4 berpindah sesuai
kondisi di lokasi penelitian.
penelitian ini dilakukan dalam tiga pertemuan. Pertemuan pertama
(Minggu 1) meliputi pretest dan FGD tatap muka dan memberikan
intervensi supportive educative berbasis caring. Pertemuan kedua
(Minggu 2) dilaksanakan secara daring melalui WhatsApp untuk
evaluasi penerapan self care, diskusi kendala, dan penguatan motivasi.
36
Pertemuan ketiga (Minggu 4) adalah posttest dan FGD tatap muka,
dengan beberapa responden berpindah ke kelompok lain menyesuaikan
kondisi di tempat penelitian, sementara jumlah anggota tiap FGD tetap
sama. Dan seluruh responden mengikuti penelitian hingga selesai,
sehingga tidak ada yang gugur atau terlewat dalam setiap tahap kegiatan.
Kelompok tabel seperti berikut:
Tabel 3.2
Alur Pretest – evaluasi – Posttest
Desa FGD Nama responden FGD FGD Nama Responden
pretest Pretest Daring Posttest Postest
Sepakat 1 S, S, D, F, S Semua 1 S, D, F, M, S
2 S, S, T, M, S 2 S, S, T, S, S
Pampangan 1 M, M, M, Y Semua 1 M, M, M, L
2 L, S, M, W, R 2 S, M, W ,Y
3 N, P, P ,S 3 N, P, P, S, R
Bogorejo 1 S, E, R, S Semua 1 S, E, S
2 R, S, A, N, S 2 S, R, A, N, S
3 S, H, Y, S, S 3 S, H, M, S, S, Y
4 K, R, K, C, M 4 K, R, K, M, C
5 T, S, E, S 5 T, S, S, S, U
6 S, U, R, S, N, R, R 6 S, S, N, S, K, R
c. KriteriaِّSampel
Sempel penelitian ini sesuai dengan kriteria inklusi dan eklusi.
a. kriteria inklusi penelitian ini:
1. Pasien terdiagnosa penyakit hipertensi
2. Bisa membaca/menulis
3. Bersedia menjadi responden
4. Tidak mengalami gangguan jiwa/kognitif
b. Kriteria eklusi pada penelitian ini adalah:
1. Dirawat inap atau kondisi kritis
37
2. Komplikasi berat (stroke, gagal ginjal, dll)
3. Gangguan komunikasi berat
4. Mengundurkan diri sebelum penelitian selesai
5. Riwayat gangguan psikiatri berat
E. Variabel Penelitian
Variabel adalah sesuatu yang digunakan sebagai ciri, sifat atau ukuran
yang memiliki atau didapatkan oleh suatu penelitian tentang suatu konsep
pengertian tertentu (Sugiyono, 2023)
1. Variabel Independen (bebas)
Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi variable lainnya.
(Sugiyono, 2023) Variabel independen dalam penelitian ini adalah
Supportive Educative Berbasis Caring.
2. Variabel Dependen (terikat)
Variabel dependen adalah yang nilainya di pengaruhi atau ditentukan oleh
variabel lain. (Sugiyono, 2023) Variabel dependen dalam penelitian ini
adalah Self Care Penderita Hipertensi.
38
F. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Tabel 3.3
Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel Definisi Alat Ukur Cara Ukur Hasil Skala
Ukur Ukur
Independen
Supportive Supportive Edukasi Edukasi kesehatan Telah
Educative educative kesehatan yang dilakukan diberikan
Berbasis Caring berbasis caring (Nu’man, 2023) berhubungan dengan Supportive
adalah suatu Pengetahuan. educative
pendekatan dalam integritas diri dalam berbasis
pelayananan mengelola caring 1
keperawatan yang hipertensi, regulasi kali
menggabungkan diri, hubungan
dukungan dengan tenaga
emosional dan
kesehatan, dukungan
edukasi
(pendidikan sosial, pemantauan
kesehatan) tekanan darah,
kepada pasien, kepatuhan terhadap
yang dilakukan anjuran medis..
dengan landasan
nilai-nilai
caring (kepedulia
n) seperti
supporting,
teaching, guiding.
Dependen
Self adalah suatu Kuesioner Self Penelti memberikan Skor self interval
Care tindakan Care (HSMBQ) dan membacakan care
serangkaian Kuesioner dengan kuesioner yang berisi 40 – 80
teknis untuk jumlah 40 pertanyaan mengenai kurang
mengubah pertanyaan aspek aspek self-care 81- 120
prilaku pikiran dengan pada penderita Cukup
dan perasaan menyatakan hipertensi. Responden 121-160
pada penderita 1= tidak pernah kemudian mengisi baik
hipertensi 2= jarang angka 1-4 sesuai
3=kadang-kadang dengan persepsi yang
4=selalu dirasakan sehari hari-
N/A= prilaku hari.
yang tidak pernah
dilakukan
(Paramita, 2021)
39
G. Pengumpulan Data
1. Instrumen
a. Supportive Educative Berbasis Caring
Supportive Educative (pendidikan kesehatan) kepada pasien, yang
dilakukan dengan landasan nilai-nilai caring (kepedulian) seperti
supporting, teaching, guiding (Lestry, 2023)
Tabel 3.4
Tahapan Kegiatan
No Tahapan Kegiatan Peneliti
1. (Supportive Memberikan penyuluhan dengan materi :
educative: 1. Regulasi diri
teching) 2. Integrasi diri dalam mengelola hipertensi
3. Manajemen diri
4. Interaksi dengan tenaga kesehatan
5. Pemantauan tekanan darah
6. Kepatuhan terhadap anjuran medis.
(Supportive Memberikan penyuluhan dengan materi :
educative: 1. Mengenalkan pengobatan hipertensi
Guiding) 2. Mengenalkan pola makan yang baik
3. Mengenalkan aktivitas fisik yang baik
4. Menjelaskan tentang kepatuhan minum obat
[Link] kepatuhan mengontrol tekanan darah
secara rutin
( Supportive 1. Dukungan informasi
educative : 2. Dukungan emosional
supporting ) 3. Dukungan instrumental
4. Dukungan penghargaan
Tabel 3.5
Tahapan pelaksanaan
PERTEMUAN 1 (MINGGU PERTAMA) 60 MENIT
Suporrtive 1) Memberi pretest : lembar kuesioner self care hipertensi
educative: 2) Peneliti lalu memberikan penyuluhan kesehatan yang
Teaching regulasi diri, integrasi dalam mengelola hipertensi,
manajemen diri, interaksi dengan tenaga kesehatan,
pemantauan tekanan darah, kepatuhan terhadap anjuran
medis.
Supportive Memberikan penyuluhan kesehatan berupa bimbingan dalam
educative: menerapkan pengelolaan penyakit hipertensi :
guiding 1) Mengenalkan pengobatan hipertensi
40
2)Mengenalkan pola makan yang baik
3)Mengenalkan aktivitas fisik yang baik
4)Menjelaskan tentang kepatuhan minum obat
5)Menjelaskan kepatuhan mengontrol tekanan darah secara
rutin
Supportive 1) Dukungan informasi
educative : Adalah penyediaan dan akses terhadap pengetahuan atau
supporting informasi yang membantu individu memahami dan
mengelola kesehatan serta kesejahteraan mereka sendiri
intervensi : edukasi berbasis caring mengenai hipertensi
dan gaya hidup sehat (pola makan rendah garam,
aktivitas fisik rutin, istirahat cukup, manajemen stres,
berhenti merokok dan membatasi alkohol), pentingnya
memantau tekanan darah secara teratur, serta
penggunaan obat yang sesuai anjuran dokter.
2) Dukungan emosional
Adalah dukungan yang memberikan dorongan positif,
mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa
menghakimi, serta memberikan informasi atau panduan
agar individu dapat merawat diri sendiri dengan baik
secara fisik dan emosional.
intervensi: mendengarkan penuh perhatian saat
responden bercerita, mendengarkan keluhan pasien
dengan empati, memberi motivasi agar pasien tetap patuh
minum obat, meyakinkan pasien bahwa hipertensi dapat
dikendalikan dengan gaya hidup sehat.
3) Dukungan intrumental
Adalah tindakan konkret untuk membatu pasien
mengelola penyakit nya.
intervensi: pendampingan medis dengan memantau
tekanan darah dan mengingatkan minum obat secara
rutin.
4) Dukungan penghargaan
Adalah memberikan apresiasi, rasa bangga, atau
pengakuan atas usaha seseorang dalam merawat diri
sendiri untuk mempertahankan kesehatan dan
kesejahteraannya
intervensi: memberikan apresiasi (hadiah) atas usaha,
pengakuan dan menunjukan rasa bangga.
PERTEMUAN 2 (MINGGU KE TIGA)
Suporrtive 1) Mengevaluasi kembali terkait kesulitan dalam mengelola
educative: hipertensi setelah 2 minggu yang lalu diberikan nya
teaching, teaching, guiding ,supporting dan menanyakan kesulitan
guiding, yang dialami penderita dalam merawat kondisi yang
supporting dialami setelah diberi supportive educative berbasis
caring
41
PERTEMUAN 3 (MINGGU KE EMPAT)
Suporrtive 1) Memberi postest: lembar kuesioner self care hipertensi
educative 2) Evaluasi dan diskusi hasil memberikan feedback kepada
pasien mengenai hasil postest dan pengembangan
pengelolaan hipertesi yang dilakukan
3) Pemberian reinforcement (penguatan) berupa motivasi
tambahan
4) Melakukan cek tekanan darah dan memberikan apresiasi
(hadiah) atas usaha, pengakuan dan
menunjukan rasa bangga atas usaha melakukan
perawatan diri dalam mengelola hipertensi
Penelitian ini telah diuji normalitas dan didapatkan value sig. 0,000
dengan nilai p<0,05 yang berarti ada pengaruh supportive educative
berbasis caring terhadap self care.
b. Self Care
Kuesioner ini diadopsi oleh (Tasya, 2021) tentang self care
management pasien hipertensi dengan jumlah 40 item pertanyaan.
Pilihan jawaban ada 4 yaitu tidak pernah =1, jarang =2, kadang-kadang
=3, selalu =4, N/A =Tidak pernah dilakukan. Kuesioner ini meliputi
intergrasi diri, regulasi diri, interaksi dengan tenaga medis, pemanuan
tekanan darah, kepatuhan yang telah dianjurkan. Pada penelitian ini tidak
dilakukan uji validitas karena data sudah valid dengan Content Validity
Indeks (CVI) yaitu 1 Instrument dikatakan valid dengan CVI 0,8-1,0.
Dikatakan baik jika = 121-160, cukup = 81-120, kurang = 40-80
2. Proses Penelitian
melakukan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan hasil dari
objek yang diteliti, terdapat prosedur-prosedur yang perlu dilakukan,
sebagai berikut :
42
1. Tahap Persiapan
a) Menyampaikan persetujuan judul penelitian sebagai pengantar surat
permohonan ijin melaksanakan penelitian kepada kepala puskesmas.
b) Menyampaikan surat pengantar kepada kepala puskesmas untuk
melakukan survei pendahuluan.
c) Menyampaikan surat permohonan ijin melaksanakan penelitian
kepada Kepala puskesmas untuk melakukan penelitian
d) Menyampaikan surat permohonan ijin melaksanaan penelitian kepada
Kepala Puskesmas.
e) Setelah mendapatkan izin, peneliti menemui calon responden secara
langsung dengan cara mengumpulkan responden di ruangan.
f) Apabila calon responden bersedia menjadi responden, maka
dipersilahkan untuk menandatangani informed concent dan apabila
calon responden tidak bersedia menjadi responden maka peneliti tetap
menghormati keputusan tersebut.
2. Tahap Pelaksanaan
a) Peneliti memberi lembar informed consent kepada responden, jika
bersedia langsung dapat menandatangan lembar informasi consent.
b) Pertemuaan pertama supportive educative berbasis caring dilkukan
di Puskesmas Gedong Tataan.
c) Supportive educative berbasis caring dilakukan peneliti dan perawat
Puskesmas Gedong Tataan.
43
d) Peneliti membagikan kuesioner Pre-test kepada responden yang telah
bersedia menjadi responden dan menandatangani informed concent,
kemudian responden mengisi kuesioner dengan didampingi peneliti
dalam mengisi kuesioner.
e) Setelah kuesioner diisi oleh responden maka tes tersebut dikumpulkan
kembali kepada peneliti pada saat itu juga.
f) Setelah kuesioner terkumpul, peneliti memerikasa kelengkapan data
dan jawaban dari kuesioner yang diisi oleh responden.
g) Selanjutnya responden diberikan suporrtive educative berbasis caring
dengan supporting (dukungan), teaching (pengajaran), guiding
(bimbingan) dengan melakukan penyuluhan kepada reponden.
h) Lalu memberikan jadwa umtuk pertemuan selanjut nya.
i) Setelah 4 minggu peneliti memberikan kuesioner post test dengan
kepada pasien yang telah diberikan supportive educative.
H. Pengolahan Data
Setelah proses pengumpulan data, selanjutnya data yang diperoleh diolah
dan dianalisis agar dapat menghasilkan informasi yang dapat digunakan untuk
menjawab tujuan penelitian. Proses pengolahan data dan analisis data menurut.
(Sugiyono, 2023)
1. Editing
Kuesioner/angket yang telah diisi oleh responden akan diedit terlebih
dahulu, penyuntingan merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan
formulir atau kuesioner tersebut tidak diolah atau dimasukan dalam
44
pengolahan. Dalam proses editing peneliti menjumlahkan nilai hasil dari
setiap pertanyaan dari kuesioner menjadi skor akhir.
2. Coding
Setelah semua kuesioner telah di edit dan disunting, selanjutnya dilakukan
coding yaitu mengubah data berbetuk kalimat atau huruf menjadi angka atau
bilangan. Setelah peneliti melakukan penelitiam, kuesioner diganti dengan
kode-kode.
3. Scoring
Merupakan pengolahan data untuk memberikan skor bedasarkan kriteria
yang telah ditentukan sesuai kuesioner. dengan cara mengisi kolom-kolom
lembar kode sesuai jawaban masing-masing setiap pertanyaan.
4. Tabulating
Tabulating adalah mengelompokan data dalam tabel tertentu menurut sifat-
sifat yang dimilikinya. Pada data ini dianggap data telah diproses sehingga
harus segera disusun dalam suatu format yang sudah dirancang.
5. Data Entry
Mengisi kolom-kolom pada lembar kode dan memasukan hasil data ke
dalam progam komputer. Tahap ini dilakukan setelah data diubah dalam
bentuk “kode” (angka atau huruf) dimasukan ke dalam progam pengolahan
data SPSS (Statistical Package for the Sosial Sciens) atau “software”
computer.
6. Prosessing
45
Setelah dilakukan analisis selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah
memproses data.
7. Cleaning
Apabila semua data dari setiap sumber data atau repsonden selesai
dimasukan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan-kemungkinan
adanya kesalahan kode, ketidak lengkapan, dan sebagainya, kemudian
dilakukan perbaikan atau koreksi.
I. Analisa Data
1. Analisa Univariat
Analisis data univariat bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada analisa data
univariat ini digunakan untuk mengetahui rata-rata skor self care sebelum
diberi Supportive Educative Berbasis Caring dan sesudah diberi Supportive
Educative Berbasis Caring Penderita Hipertensi di Puskesmas Gedong
Tataan.
2. Analisa Bivariat
Analisa bivariat dilakukan untuk menganalisa terhadap dua variabel
yaitu dependent dan independen. Analisa bivariat digunakan untuk
membandingkan persamaan atau perbedaan antara dua variabel (Sugiyono,
2023). Dalam penelitian ini analisa bivariat dilakukan untuk mengetahui
Pengaruh Supportive Educative Berbasis Caring Terhadap Self Care
Penderita Hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan.
46
Uji normalitas ini menggunakan uji Kolmogorov Smirnov Dalam
analisis statistik parametrik. Didapatkan data >0,05 disimpulkan bahwa data
berdistribusi normal sehingga uji statistik yang digunakan yaitu dengan
pendekatan parametrik yaitu paired sampel t-test.
47
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Lokasi Penelitian
1. Gambaran Umum Puskesmas Gedong Tataan
Puseksmas Gedong Tataan berdiri sejak tahun 1972 dengan luas
wilayah nya 9.176 hektar. Wilayah Puskesmas Gedong Tataan terdiri dari 11
desa dengan jumlah penduduk 53.343 jiwa. Terdapat 3 Puskesmas pembantu,
5 Poskesdes, 50 Posyandu balita, 11 Posyandu lansia dan 11 Posbindu.
UPTD Puskesmas Gedong Tataan berlokasi di Desa Sukaraja,
Kecamatan Gedong Tataan. Wilayah kerja Puskesmas ini mencakup
pelayanan kesehatan di beberapa desa, yaitu Desa Padang ratu, Pampangan,
Cipadang, Way Layap, Sukadadi, Gedong Tataan, Bagelen, Sukaraja, Bogo
Rejo, Karang Anyar, dan Kuto Arjo dalam Keacamatan Gedong Tataan.
Puskesmas ini juga menegelola beberapa Puskesmas Pemabantu lainnya,
yaitu di Way Layap, Sukadadi, dan cipinang.
Puskesmas Gedong Tataan kini melayani berbagai fasilitas kesehatan
seperti pelayanan Rawat Jalan, Rawat Inap, Unit Gawat Darurat (IGD),
Laboratorium, Ruang Tindakan Medis, Ruang Edukasi Pasien, Apotek, serta
Ruang Tunggu untuk kenyamanan pengunjung.
46
48
B. Hasil Penelitian
1. Krakateristik Responden
Tabel 3.6
Distribusi Karakteristik Responden Self Care Penderita Hipertensi
Di Puskesmas Gedong Tataan.
No Karakteristik Frekuensi (f) Persentase (%)
1 Usia
40-45 7 13,2%
46-50 7 13,2%
51-55 7 13,2%
55-60 13 24,5%
61-65 10 18,9%
65-70 9 17.0%
Jumlah 53 100%
2 Jenis Kelamin
Laki-laki 6 11,3%
Perempuan 47 88,7%
Jumlah 53 100%
3 Pendidikan
SD 28 52,8%
SMP 10 18.9%
SMA 14 26,4%
Sarjana 1 1,9%
Jumlah 53 100%
4 Pekerjaan
Guru 1 1,9%
Petani 15 28,3
Buruh 1 1,9
Irt 21 39,6
Tidak Bekerja 15 28,3
Jumlah 53 100%
5 Lama Sakit
1-5 tahun 32 60,4%
6-10 tahun 14 26,4%
11-15 tahun 5 9,4%
16-20 tahun 1 1,9%
21-25 tahun 1 1,9%
Jumlah 53 100%
6 Riwayat Keluarga
Ibu 29 54,7%
Ayah 2 3,8%
Tidak ada 22 41,5%
Jumlah 53 100%
49
Berdasarkan table 3.6 di atas, diketahui bahwa usia responden yang
menderita hipertensi didominasi oleh kelompok umur dari 50-60 tahun yaitu
13 orang (24,5%), di ikuti usia 61-65 tahun sebanyak 10 orang (18,9%), usia
51-55 tahun sebanyak 7 orang (13,2%), begitu juga dengan usia dengan
kelompok 40-45 tahun masing-masing 7 orang (13,2%) dan responden yang
berusia 65-70 tahun sebanyak 9 orang (17,0%). Menunjukan bahwa kasus
hipertensi banyak terjadi di indivu menjelang usia daripada usia muda. Dan
sebanyak 47 responden (88,7) adalah perempuan dan 6 responden (11,3)
laki-laki. Dan dari sisi Pendidikan, responden paling banyak di lulusan (SD)
sebanyak 28 orang (52,8%) kemudian lulusan (SMP) 14 orang (26,4%) dan
menengah atas (SMA) 10 orang (18,9%) sedangkan lulusan Sarjana hanya
1 orang (1,9%). Lama sakit yang di alami Sebagian besar responden
berkisar antara 1-5 tahun yaitu sebnayak 32 orang (60,4%), sementara masa
sakit 6-10 tahun di alami 14 orang (26,4), lalu 11-15 tahun sebanyak 5 orang
(9,4%) dan masing-masing 1 orang di usia 16-20 tahun dan 21-25 tahun
(1,9%). Selain itu, Riwayat keluarga yang menderita hipertensi paling
sering ditemukan pada ibu dengan total 29 orang (54,7%) dari ayah
sebanyak 2 orang (3,8%), dan yang tidak mempunyai Riwayat keluarga
sebnyak 22 orang (41,5%). Temuan ini menunjukan bahwa faktor genetic
berperan penting sebagai resiko terjadinya hipertensi.
50
51
2. Analisis Univariat
Analisis data univariat bertujuan untuk menjelaskan atau
mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian. Pada analisa
data univariat ini digunakan untuk mengetahui rerata skor self care
sebelum diberi Supportive Educative Berbasis Caring dan sesudah diberi
Supportive Educative Berbasis Caring Penderita Hipertensi di
Puskesmas Gedong Tataan. Uji Normalitas menggunakan uji
Kolmogorov-Smirnov yang menunjukan bahwa data self care sebelum
dan sesudah diberikan supportive educative berbasis caring memiliki
nilai yang signifikansi masing-masing sebesar 0,163 dan 0,200 ( p
>0,05), menunjukan bahwa data berdistribusi normal. Dapat dilanjutkan
menggunakan uji paired sample t-test.
Data Hasil penelitian kemudian disajikan dalam bentuk tabel agar
memberikan gambaran yang jelas dan terstruktur.
a. Self Care Penderita Hipertensi Sebelum Diberikan Supportive
Educative Berbasis Caring
Table 3.7
Rerata Skor Self Care Penderita Hipertensi Sebelum Diberikan
Supportive Educative Berbasis Caring Di Puskesmas Gedong Tataan.
Rerata (s.b) IK95%
Pre test 87,36 (0,15) 83,01-91,70
Berdasarkan table 3.6, diketahui bahwa hasil rerata skor self
care penderita hipertensi sebelum diberikan supportive educative
berbasis caring adalah sebesar 87,36 dengan simpangan baku (0,15).
Hal ini menunjukan bahwa kemampuan self care responden berada
51
52
pada kategori cukup namun masih kurang optimal. Dengan nilai
interval kepercayaan 95% (IK95%) berada pada rentang 83,01-91,70
yang berarti bahwa dengan tingkat kepercayaan 95% rerata self care
sebenarnya pada populasi berada dalam rentang tersebut. Temuan ini
menggambarkan bahwa sebagian besar penderita hipertensi memiliki
kapasitas perawatan diri yang relative homegen dan stabil saat
diberikan intervensi.
b. Self Care Penderita Hipertensi Sebelum Diberikan Supportive
Educative Berbasis Caring
Table 3.8
Rerata Skor Self Care Penderita Hipertensi Sesudah Diberikan
Supportive Educative Berbasis Caring Di Puskesmas Gedong Tataan.
Rerata (s.b) IK95%
Post test 118,57 (0,17) 113,82-123,31
Berdasarkan table 3.7, diketahui bahwa hasil rerata skor self
care penderita hipertensi sesudah diberikan supportive educative
berbasis caring adalah sebesar 118,57 dengan simpangan baku (0,17).
Hal ini menunjukan bahwa setelah inervensi, tingkat kemampuan self
care responden berada pada kategori yang cukup tinggi (baik) ndan
relative homogen karena nilai s.b (0,17) sangat kecil. Dengan nilai
interval kepercayaan 95% (IK95%) berada pada rentang 113,82-
123,31 yang berarti bahwa dengan tingkat kepercayaan 95% rerata
self care sebenarnya pada populasi berada dalam rentang tersebut.
Artinya intervensi supportive educative berbasis caring memberikan
pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan self care..
52
51
3. Analisa Bivariat
Uji Normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov yang
menunjukan bahwa data self care sebelum dan sesudah diberikan
supportive educative berbasis caring berdistribusi normal
Tabel 3.9
Uji Normalitas
Kolmogorov-Smirnov
statististic Df Sig
Self care sebelum .110 53 .163
Self care sesudah .105 53 .200
Berdasarkan table 3.8, Uji Normalitas menggunakan uji
Kolmogorov-Smirnov yang menunjukan bahwa data self care sebelum
dan sesudah diberikan supportive educative berbasis caring memiliki
nilai yang signifikansi masing-masing sebesar 0,163 dan 0,200 ( p
>0,05), menunjukan bahwa data berdistribusi normal. Maka dapat
dilanjutkan menggunakan uji paired sample t-test.
a. Pengaruh Supportive Educative Berbasis Caring Terhadap Self
Care Penderita Hipertensi
Untuk mengetahui perbedaan rata-rata Self Care antara sebelum dan
sesudah diberikan perlakuan Supportive Educative Berbasis Caring,
digunakan Uji Parired t-test dengan taraf Spesifikasi p<a 0,05
sebagaimana dapat diliat pada uraian berikut.
5352
Tabel 4.0
Hasil Uji Uji Parired T-Test S Pengaruh Supportive Educative Berbasis
Caring Terhadap Self Care Penderita Hipertensi Di Puskesmas
Gedong Tataan
Rerata (s.b) Selisih IK95% Nilai p
(s.b)
Sebelum Intervensi 87,36 (0,15) 31,21 28,13-34,28 <0,001
Sesudah Intervensi 118.57 (0,17) (11,1)
Berdasarkan tabel 3.9 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan antara skor rata-rata self care penderita hipertensi
sebelum dan sesudah diberikan supportive educative berbasis caring
di Puskesmas Gedong Tataan. Nilai sebelum intervensi adalah 87,36
(0,15) dan sesudah intervensi meningkat menjadi 118,21(0,17).
Dengan demikian terjadi peningkatan sebesar 31,21 atau 35% dari
skor awal.
Nilai p-value 0,001 (p<0,05) yang menandakan bahwa
peningkatan self care setelah perlakuan tersebut sangat signifikan
secara statistik. Artinya terjadi peningkatan nilai self care setelah
adanya supportive educative berbasis caring. Intervensi supportive
educative berbasis caring ini terbukti secara efektif meningkatkan
prilaku self care pada pasien hipertensi.
54
53
C. Pembahasan
1. Analisis Univariat
a) Karakteristik Responden
Berdasarkan hasil analisi univariat, diperoleh jumlah responden
sebanyak 53 orang yang menderita hipertensi di Puskesmas Gedong
Tataan. Karakteristik responden penderita hipertensi pada penelitian ini di
dominasi oleh kelompok usia lanjut, yaitu usia 50-60 tahun (24,5%), di
ikuti usia 61-65 tahun (18,9%) dan usia 65-70 tahun (17,0) dan didominasi
prevelansi penderita hipertensi lebih tinggi pada perempuan sebanyak 47
orang( 88,7%) dan laki-laki sebanyak 6 orang (11,3%). Hasil ini
memperlihatkan bahwa resiko hipertensi dapat meningkat seiring
bertambah nya usia dan didominasi oleh penderita dengan jenis kelamin
perempuan dan berkontribusi pada penurunan kemampuan self care fisik
dan kognitif, seperti kesulitan dalam pemantauan tekanan darah mandiri,
kepatuhan obat, serta modifikasi pola makan dan aktivitas fisik akibat
keterbatasan mobilitas dan penurunan daya ingat..
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Tukan, (2023) menunjukan bahwa semakin bertambah usia
seseorang, dapat terjadi perubahan signifikan pada arteri berupa lumen
yang semakin sempit dan dinding pembuluh darah menjadi lebih kaku
memperberat perawatan diri, sehingga rentan kurang perawatan diri secara
mandiri dan memperberat kerja jantung dalam mempertahankan tekanan
darah, sehingga tekanan darah sistolik pada usia lebih lanjut semakin
55
54
meningkat. Dimana usia lanjut lebih rentan tidak mejalani perwatan diri
secara baik.
Penelitian ini juga sejalan dengan Suarayasa. et al., (2023) yang
menyatakan proporsi perempuan lansia pasca menopause lebih tinggi
mengalami kurangnya perawatan diri dalam mengelola hipertensi akibat
perubahan metabolik lemak hormon estrogen, menyebabkan kesulitan
modifikasi gaya hidup dan kepatuhan terapi mandiri.
Berdasarkan hasil tersebut didapatkan juga mayoritas responden
memiliki latar belakang Pendidikan dasar (SD) 28 orang (52,8%)
kemudian lulusan (SMP) 14 orang (26,4%) dan menengah atas (SMA) 10
orang (18,9%) sedangkan lulusan Sarjana hanya 1 orang (1,9%).
Pendidikan rendah berkolerasi dengan rendahnya pengetahuan serta
prilaku pencegahan dan pengelolaan self care hipertensi. Pendidikan
rendah menyebabkan defisiensi self care pengetahuan, di mana responden
kesulitan memahami informasi tentang pengukuran tekanan darah,
pengobatan, pencegahan komplikasi, dan perilaku hidup sehat, sehingga
memerlukan pendekatan supportive educative berbasis caring dengan
bahasa sederhana, demonstrasi praktik, dan materi visual untuk
meningkatkan literasi kesehatan mandiri.
Menurut Simanjuntak & Situmorang., (2019) bahwa Pendidikan
rendah menyebabkan rendahnya pengetahuan tentang hipertensi sehingga
berdampak pada kontrol tekanan darah yang buruk. Pendidikan rendah
berkorelasi dengan kurangnya perawatan diri pengetahuan, kesulitan
56
55
memahami pengukuran tekanan darah, pengobatan, pencegahan
komplikasi, dan perilaku hidup sehat. Penelitian sejalan yang dilakukan
Setiani. & Wulandar.i, (2023) menyoroti kurang nya edukasi kesehatan
pada kelompok yang berpendidikan rendah sebagai penyebab faktor
utaman rendahnya pengetahuan mereka tentang obat, cara pencegahan dan
pengelolaan hipertensi, serta bahaya komplikasi penyakit. Rendahnya
tingkat Pendidikan membuat mereka sulit menerima informasi kesehatan
dari tenaga medis, terlambat mendeteksi dini dan minim dalam
mempraktikan prilaku hidup sehat pencegahan hipertensi.
Sebagian besar responden mengalami hipertensi selama 1-5 tahun
sebanyak 32 orang (60,4%), 6-10 tahun sebanyak 14 orang (26,4%), dan
selebihnya dari 10 tahun. Hasil penelitian juga menunjukan 29 reponden (
54,7%) memiliki Riwayat keluarga hipertensi dari ibu, 2 orang (3,8% dari
ayah dan 22 orang (41,5%) tidak memiliki Riwayat keluarga. Menurut Ina
et al., (2020) mengindikasikan tingkat self care yang belum optimal pada
tahap awal penyakit sehingga berpotensi progresif tanpa intervensi.
Karakteristik ini menyoroti urgensi penguatan self care berkelanjutan,
meliputi rutinitas harian pengukuran tekanan darah, pola makan, dan
strategi coping untuk mempertahankan kontrol jangka panjang.
Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Setiani. & Wulandari, (2023)
menyatakan bahwa kurangnya perawatan diri dipengaruhi faktor genetik
(heribilitas DNA) dan pola hidup, sehingga memerlukan penguatan
5756
perawatan mandiri untuk mengatasi defisiensi pengetahuan dan praktik
pencegahan komplikasi.
Berdasarkan hasil diatas menurut pendapat peneliti karakteristik
responden terhadap 53 responden hipertensi di Puskesmas Gedong Tataan,
sebagian besar kasus dialami oleh usia 55-60 (24,5%), terutama
perempuan sebanyak 47 orang (88,7%), dengan pendidikan dasar 28 orang
(52,8%), dan lama sakit dominan 1–5 tahun 32 orang (60,4%). Selain itu,
24 orang (54,7%) responden memiliki riwayat keluarga hipertensi dari ibu.
Faktor usia lanjut, perempuan, pendidikan rendah, serta riwayat genetik
terbukti menjadi faktor penentu utama risiko hipertensi. Di dominasi oleh
perempuan lansia berpendidikan rendah, khususnya lulusan SD.
Tingginya angka pada kelompok ini berhubungan erat dengan pola
pengetahuan dan perilaku hidup sehat yang masih terbatas. Hal ini
memperlemah motivasi dan pengetahuan self care akibat persepsi risiko
genetik yang tidak terkendali. Faktor ini menuntut edukasi self-care
berbasis genetik, seperti pemahaman risiko poligenik dan strategi
pencegahan mandiri untuk memutus siklus familial melalui skrining dini
dan modifikasi perilaku. Perempuan yang berpendidikan rendah
cenderung kurang paham tentang cara pencegahan, pengelolaan mandiri,
dan bahaya komplikasi hipertensi, sehingga lebih mudah terkena dan
kesulitan menjaga tekanan darah tetap stabil. Selain itu, pendidikan rendah
menyulitkan akses terhadap informasi kesehatan dan interaksi efektif
dengan tenaga medis. Kombinasi usia lanjut, gender perempuan, dan
58
57
pendidikan rendah meningkatkan kerentanan dan memperbesar risiko
hipertensi secara signifikan. Oleh karena itu, diperlukan intervensi
supportive educative berbasis caring untuk meningkatkan kemampuan self
care masyarakat dalam mengelola hipertensi dan mencegah terjadinya
komplikasi lebih lanjut.
b) Rerata Skor Self Care Penderita Hipertensi Sebelum Diberikan
Supportive Educative Berbasis Caring Di Puskesmas Gedong Tataan.
Hasil analisis menunjukan bahwa hasil rerata skor self care penderita
hipertensi sebelum diberikan supportive educative berbasis caring adalah
sebesar 87,36 dengan simpangan baku (0,15). Hal ini menunjukan bahwa
kemampuan self care responden berada pada kategori cukup namun masih
kurang optimal. Dengan nilai interval kepercayaan 95% (IK95%) berada
pada rentang 83,01-91,70 yang berarti bahwa dengan tingkat kepercayaan
95% rerata self care sebenarnya pada populasi berada dalam rentang
tersebut. Temuan ini menggambarkan bahwa sebagian besar penderita
hipertensi memiliki kapasitas perawatan diri yang relative homegen dan
stabil saat diberikan intervensi. Data ini menunjukan pentingnya
intervensi supportive educative berbasis caring untuk meningkatkan
kemampuan self care pada penderita hipertensi agar dapat optimizing
hypertension management.
Ditemukan Hasil analisis pre-test menunjukkan bahwa pertanyaan
pada item kuesioner nomor 3, 35, dan 36 memperoleh nilai terendah, yang
mengindikasikan bahwa penderita hipertensi mengalami hambatan besar
59
58
dalam mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak, pemantauan tekanan
darah secara teratur, serta minum obat hipertensi secara ketat, sehingga
ketiga aspek tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap
rendahnya kemampuan perawatan diri hipertensi. Setelah dilakukan nya
intervensi supportive educative berbasis caring
Penelitian sejalan juga dilakukan oleh Suprayitno & Damayanti,
(2020) yang menemukan kurangnya dukungan edukasi berbasis caring
merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan kemampuan
perawatan diri yang menunjukkan bahwa kurangnya edukasi yang
menyeluruh dan dukungan emosional serta pola makan membuat pasien
kesulitan dalam mengelola penyakit secara mandiri.
Penelitian dilakukan juga oleh Lukmawati. et al., (2019) yang
membuktikan pasien yang tidak menerima intervensi edukasi dengan
pendekatan caring tetap memiliki self care yang kurang. Hal ini terjadi
karena kurangnya pemahaman mengenai manajemen hipertensi,
minimnya motivasi internal, serta tidak adanya dukungan emosional yang
memadai dari tenaga kesehatan. Penelitian tersebut menegaskan bahwa
edukasi yang diberikan tanpa unsur caring sering kali tidak mampu
mengubah perilaku pasien secara bermakna, karena pasien tidak merasa
didukung, dihargai, atau dipandu dalam proses perawatan dirinya.
Sejalan juga dengan penelitian yang dilakukan (Ginting, 2024)
kurangnya edukasi disebut sebagai faktor utama yang menyebabkan self
care penderita hipertensi masih rendah, sehingga intervensi edukasi yang
60
59
sistematis dan berbasis caring sangat diperlukan untuk meningkatkan
kemampuan pengelolaan mandiri. Dalam penelitiannya, menemukan
bahwa pasien yang tidak mendapatkan edukasi sistematis cenderung
memiliki kesulitan dalam memahami cara memonitor tekanan darah,
menentukan pola makan sehat, serta mematuhi regimen terapi obat.
Intervensi edukasi yang sistematis dan berbasis caring terbukti mampu
meningkatkan kemampuan manajemen diri melalui peningkatan
pengetahuan, motivasi, serta keterlibatan aktif pasien dalam proses
perawatannya.
Menurut teori Nola J. Pender menekankan bahwa promosi
kesehatan akan efektif jika perawat memberikan edukasi yang
komprehensif, empatik, serta mampu memotivasi pasien untuk mengubah
perilaku. Inilah yang menjadikan intervensi supportive educative berbasis
caring sangat relevan, karena pendekatan caring meningkatkan persepsi
manfaat, mengurangi hambatan, dan membangun hubungan interpersonal
yang positif sehingga memperkuat perilaku self care pasien hipertensi.
Berdasarkan hasil di atas, peneliti berpendapat bahwa intervensi
supportive educative berbasis caring sangat penting untuk meningkatkan
kemampuan self care pada penderita hipertensi. Supportive educative ini
memberikan edukasi menyeluruh dan dukungan emosional yang tidak
hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menambah motivasi pasien
untuk melakukan self care secara konsisten dan mandiri. Dengan
pendekatan caring, pasien dapat memperoleh keterampilan pengelolaan
61
60
hipertensi yang lebih efektif, sehingga resiko komplikasi dapat dikurangi
dan kualitas hidup meningkat.
c) Rerata skor Self Care penderita Hipertensi sesudah diberikan
Supportive Educative berbasis caring di Puskesmas Gedong Tataan.
Hasil analisis bahwa hasil rerata skor self care penderita hipertensi
sesudah diberikan supportive educative berbasis caring adalah sebesar
118,57 dengan simpangan baku (0,17). Hal ini menunjukan bahwa setelah
inervensi, tingkat kemampuan self care responden berada pada kategori
yang tinggi (baik) dan relative homogen karena nilai s.b (0,17) sangat
kecil. Dengan nilai interval kepercayaan 95% (IK95%) berada pada
rentang 113,82-123,31 yang berarti bahwa dengan tingkat kepercayaan
95% rerata self care sebenarnya pada populasi berada dalam rentang
tersebut. Artinya intervensi supportive educative berbasis caring
memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan kemampuan self care.
Hasil analisis post-test menunjukkan bahwa pertanyaan pada item
kuesioner nomor 3 dan 35 masih memperoleh nilai terendah, yang
mengindikasikan bahwa penderita hipertensi masih mengalami hambatan
besar dalam mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak serta melakukan
pemantauan tekanan darah secara teratur, sehingga kedua aspek tersebut
memberikan kontribusi signifikan terhadap rendahnya kemampuan
perawatan diri hipertensi. Sebaliknya ditemukan item nomor 36 (minum
obat hipertensi secara ketat) menunjukkan peningkatan nilai yang baik.
62
61
Hal ini juga konsisten dengan penelitian (Kolomboy et al., 2025)
yang menunjukkan bahwa intervensi supportive educative berbasis caring
mampu meningkatkan kemampuan self care pada pasien hipertensi.
Penelitian tersebut menegaskan bahwa pendekatan caring yang diberikan
melalui edukasi terstruktur dan dukungan interpersonal dapat memperkuat
kemandirian pasien dalam mengelola penyakitnya, terutama dalam
menjalankan perilaku kesehatan yang berhubungan dengan pengendalian
hipertensi. Pendekatan caring dinilai efektif karena memberikan rasa
aman, dipahami, dan didampingi, sehingga pasien lebih termotivasi untuk
mengubah perilaku secara berkelanjutan.
Penelitian juga dilakukan (Lukmawati. et al., 2019) juga
membuktikan peningkatan secara signifikan pada aspek kepatuhan
minum obat, berat badan, diet rendah garam, aktivitas fisik, dan
manajemen kecemasan setelah intervensi supportive educative.
Intervensi supportive educative terbukti meningkatkan berbagai aspek
manajemen diri pasien hipertensi, seperti pengaturan berat badan,
penerapan diet rendah garam, peningkatan aktivitas fisik, serta manajemen
stres. Temuan tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang disampaikan
secara sistematis dan disertai dukungan emosional memberikan dampak
lebih kuat dalam mendorong perubahan gaya hidup dibandingkan edukasi
konvensional.
Sejalan juga dengan penelitian (Ginting, 2024) yang menyatakan
intervensi supportive educative berbasis caring efektif meningkatkan self
6263
care management dengan dampak positif pada kepatuhan dan
pengelolaan gaya hidup pasien hipertensi. Penelitian tersebut
menekankan bahwa pendekatan caring dapat meningkatkan kepatuhan
terhadap pengobatan, pemahaman terhadap kondisi penyakit, serta
komitmen pasien dalam menerapkan gaya hidup sehat. Elemen caring
memberikan nilai tambah berupa hubungan terapeutik yang mendukung
sehingga pasien merasa diperhatikan dan lebih siap menjalankan
perawatan diri secara konsisten.
Pendekatan supportive educative berbasis caring sangat penting
dalam mengelola self care penderita hipertensi karena memberikan
edukasi yang komprehensif sekaligus dengan dukungan emosional yang
meningkatkan motivasi dan kemandirian pasien dalam mengelola
penyakit nya secara mandiri (Inayati & Hasanah, 2022).
Menurut teori caring yang dikembangkan oleh Jean Watson
dimana caring adalah suatu hubungan interpersonal yang melibatkan
perhatian penuh dan empati terhadap pasien nya yang bukan hanya
berfokus kepada pemenuhan kebutuhan fisik tetapi juga emosional dan
spiritual pasien. Yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan
pertumbuhan individu melalui lingkungan yang mendukung potensi diri.
Peneliti juga berpendapat berdasarkan hasil dan teori di atas,
menyimpulkan bahwa intervensi supportive educative berbasis caring
terbukti efektif dalam meningkatkan skor self care pada penderita
hipertensi. Oleh karena itu, penerapan intervensi supportive educative
64
berbasis caring ini merupakan strategi yang efektif dan humanistic untuk
meningkatkan kemandirian pasien dalam pengelolaan hipertensi dan
memperbaiki kualitas hidup secara berkelanjutan. Penelitian ini juga
menegaskan pentingnya edukasi yang sistematis dan dukungan
psikososial dalam membantu pasien menjalankan perawatan mandiri
yang efektif.
2. Analisis Bivariat
a) Pengaruh Supportive Educative Berbasis Caring Terhadap Self Care
Penderita Hipertensi Di Puskesmas Gedong Tataan.
Hasil Uji paired sample t-test menunjukan nilai p=<0,001 (0,05),
yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara supportive
educative berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi di
Puskesmas Gedong Tataan. Dengan seluruh responden (n=53) yang
mengalami peningkatan skor self care setelah diberi intervensi. Hal ini
membuktikan bahwa intervensi supportive educative berbasis caring
sangat berpengaruh dalam meningkatkan self care penderita hipertensi di
Puskesmas Gedong Tataan.
Penelitian serupa yang dilakukan oleh Suprayitno & Damayanti,
(2020) sejalan bahwa intervensi supportive educative berbasis caring
efektif meningkatkan self care, menunjukkan bahwa intervensi
supportive educative berbasis caring mampu meningkatkan self care
pasien hipertensi secara signifikan. Dalam penelitiannya, pendekatan
caring dilakukan melalui komunikasi empatik, bimbingan bertahap,
65
pemberian edukasi yang mudah dipahami, serta pendampingan yang
berkelanjutan. Dukungan emosional meningkatkan motivasi serta rasa
percaya diri pasien dalam mengelola hipertensi, terutama dalam hal
kepatuhan obat, pengaturan diet, dan kesadaran terhadap risiko
komplikasi.
Penelitian sejalan dilakukan Puspita. et al., (2024) menunjukan
peningkatan signifikan antara skor self care, dan melaporkan efek positif
intervensi terhadap kualitas hidup dan perawatan mandiri penderita
hipertensi, enelitian tersebut melaporkan adanya peningkatan kualitas
hidup pasien, seperti perbaikan fungsi fisik, aktivitas sehari-hari yang
lebih teratur, serta peningkatan kesehatan emosional. Pasien juga
menunjukkan peningkatan kemampuan monitoring tekanan darah,
pemilihan makanan rendah garam, dan kontrol berat badan.
Peneltian Ginting, (2024) yang menemukan peningkatan self care
management yang signifikan pada kelompok intervensi di banding
kontrol, intervensi diberikan melalui sesi konseling, demonstrasi praktik
self-care, dan dukungan interpersonal yang hangat. Hasil penelitian ini
mendukung temuan bahwa pasien hipertensi yang mendapatkan edukasi
berbasis caring lebih mampu mengenali tanda bahaya, mematuhi
pengobatan, mengelola pola makan, serta mengurangi faktor risiko
seperti stres dan kurangnya aktivitas fisik.
Menurut teori self care oleh Dorothea E. Orem, menekankan
bahwa perawatan diri di mana individu secara aktif mengelola kondisi
66
kesehatan dan penyakitnya melalui prilaku yang dipelajari dan inisitif
untuk memelihara kesejahteraan secara mandiri. Teori ini mendasari
bahwa kesehatan tidak hanya ditentukan oleh intervensi medis, tetapi
juga oleh kemampuan pasien dalam menjalankan perilaku sehat sehari-
hari. Intervensi supportive educative berbasis caring sangat relevan
dengan model Orem, karena perawat berperan sebagai fasilitator yang
membantu pasien memenuhi kebutuhan self care melalui edukasi dan
dukungan emosional. Orem juga membagi kebutuhan self-care menjadi
tiga kategori, yaitu kebutuhan universal, kebutuhan perkembangan, dan
kebutuhan akibat penyimpangan kesehatan.
Menurut pendapat peneliti hasil uji mengunakan paired sample t-
test membuktikan bahwa intervensi supportive educative berbasis caring
terhadap self care penderita hipertensi terbukti efektif dalam
meningkatkan kemampuan self care. Pendeketan supportive educative
berbasis caring memberikan motivasi dan pemahaman yang lebih baik
kepada pasien mengenai perawatan diri, sehingga prilaku self care
menjadi lebih optimal. Dan peneliti merekomendasikan agar intervensi
ini dijadikan bagian dari program pengelolaan hipertensi di layanan
kesehatan primer untuk mendukung peningkatan kesehatan masyarakat
secara menyeluruh.
Hasil analisis pre-test menunjukkan bahwa pertanyaan pada item
kuesioner nomor 3, 35, dan 36 memperoleh nilai terendah, yang
mengindikasikan bahwa penderita hipertensi mengalami hambatan besar
67
dalam mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak, pemantauan
tekanan darah secara teratur, serta minum obat hipertensi secara ketat,
sehingga ketiga aspek tersebut memberikan kontribusi signifikan
terhadap rendahnya kemampuan perawatan diri hipertensi. Setelah
dilakukan nya intervensi supportive educative berbasis caring
didapatkan Hasil analisis post-test menunjukkan bahwa pertanyaan pada
item kuesioner nomor 3 dan 35 masih memperoleh nilai terendah, yang
mengindikasikan bahwa penderita hipertensi masih mengalami
hambatan besar dalam mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak serta
melakukan pemantauan tekanan darah secara teratur, sehingga kedua
aspek tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap rendahnya
kemampuan perawatan diri hipertensi. Sebaliknya, pada post-test, item
nomor 36 (minum obat hipertensi secara ketat) menunjukkan
peningkatan nilai yang baik, mengindikasikan adanya perbaikan
kepatuhan pengobatan mandiri setelah intervensi. Temuan ini
menegaskan perlu nya intervensi supportive educative berbasis caring
dengan melakukan pendekatan yang lebih komprehensif meliputi
edukasi sistematis mengenai rendah garam dan pendampingan dalam
perencanaan menu. Selain itu, pelatihan pengunaan alat ukur tekanan
darah dirumah, penyusunan jadwal pemeriksaan tekanan darah dan
pengingat berkala menjadi strategi untuk meningkatkan kepatuhan
manajemen diri.
68
Menurut Rahmawati, (2020) yang menekankan efektivitas
edukasi diet rendah lemak dan pelatihan pemantuan tekanan darah
mandiri meningkatkan kepatuhan dan stabilitas tekanan darah pada
penderita hipertensi. Menemukan bahwa edukasi diet rendah lemak dan
pelatihan pemantauan tekanan darah mandiri secara signifikan
meningkatkan kepatuhan manajemen diri penderita hipertensi. Dalam
penelitiannya, menjelaskan bahwa pasien yang mendapatkan edukasi
komprehensif mengenai diet hipertensi termasuk pengenalan sumber
lemak, cara membaca label nutrisi, serta teknik memasak rendah minyak
menunjukkan perubahan perilaku yang lebih konsisten dibanding
kelompok yang hanya mendapatkan penyuluhan konvensional. Selain
itu, pelatihan penggunaan alat tekanan darah digital dan pembiasaan
mencatat hasil pengukuran dalam buku monitoring terbukti
meningkatkan kontrol tekanan darah harian dan memperkuat keterlibatan
pasien dalam pengelolaan penyakitnya.
69
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan peneletian dan pembahasan di atas yang berjudul “ Pengaruh
Supportive Educative Berbasis caring Terhadap Self Care Penderita hipertensi
di Puskesmas Gedong Tataan” dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Karakteristik responden hipertensi di dominasi oleh usia 50-60 tahun dengan
mayoritas perempuan (88,7%), Sebagian responden berpendidikan dasar
(SD) dan mengalami hipertensi selama 1-5 tahun. Mayoritas pasien juga
memiliki Riwayat keluarga hipertensi dari ibu. Analisis kuesioner
menunjukkan komponen perawatan diri yang baik yaitu pertanyaan nomor 7
tentang memilih makanan rendah garam yang diperoleh kemampuan optimal.
Namun, komponen perawatan diri yang masih buruk terdapat pada
pertanyaan nomor 3 mengurangi makanan tinggi lemak dan nomor 35
pemantauan tekanan darah secara teratur yang memperoleh nilai terendah.
Usia lanjut 50-60 tahun menyebabkan penurunan kemampuan fisik dan
kognitif untuk perawatan diri, jenis kelamin perempuan memperburuk
tantangan hormonal yang memerlukan dukungan Supportive Edukative
berbasis Caring, pendidikan dasar rendah menghambat pemahaman
informasi kesehatan kompleks, durasi penyakit 1-5 tahun menunjukkan
peluang intervensi dini belum optimal, dan riwayat keluarga dari ibu
memperlemah motivasi perawatan diri akibat persepsi risiko genetik sulit
68
70
dikendalikan. Faktor-faktor ini secara kolektif menjadi penentu utama
rendahnya kemampuan perawatan diri sehingga memerlukan pendekatan
supportive educative berbasis caring terhadap self care penderita hipertensi
untuk penguatan item yang baik dan perbaikan item yang buruk guna
meningkatkan kemandirian pengelolaan hipertensi.
2. Rerata skor self care sebelum dilakukan intervensi supportive educative
berbasis caring sebelum diberi intervensi supportive educative berbasis
caring adalah 87,36 dengan simpangan baku 0,15 dan interval kepercayaan
95% sebesar 83,01–91,70, yang menunjukkan bahwa kemampuan self care
responden berada pada kategori cukup tetapi belum optimal, dengan kapasitas
perawatan diri yang relatif homogen dan stabil sehingga masih diperlukan
intervensi lanjutan untuk lebih meningkatkan kemandirian mereka dalam
mengelola hipertensi.
3. Rerata skor self care sesudah dilakukan intervensi supportive educative
berbasis caring meningkat menjadi 118,57 dengan simpangan baku 0,17 dan
interval kepercayaan 95% sebesar 113,82–123,31, yang menunjukkan bahwa
kemampuan self care responden berada pada kategori cukup tinggi, relatif
homogen, dan bahwa intervensi tersebut memberikan pengaruh positif
terhadap peningkatan kemampuan self care.
4. Pengaruh Supportive Educative Berbasis Caring Terhadap Self Care
Penderita Hipertensi Di Puskesmas Gedong Tataan terbukti efektif
meningkatkan perilaku self care pasien hipertensi, ditunjukkan oleh kenaikan
skor rata-rata dari 87,36 (S.d 0,15) sebelum intervensi menjadi 118,21 (s.d
71
0,17) sesudah intervensi, dengan peningkatan sebesar 31,21 poin atau 35%
dari skor awal serta p-value 0,001 (p<0,05) yang menandakan perbedaan
tersebut signifikan secara statistik.
B. Saran
1. Bagi responden dianjurkan untuk terus menerus menerapkan prilaku self care
yang telah dipelajari melalui supportive educative berbasis caring, sperti
menjaga pola makan, diet rendah garam, aktivitas fisik, memantau tekanan
darah secara rutin, dan patuh pada pengobatan sesuai anjuran tenaga
kesehatan.
2. Bagi tenaga kesehatan, disarankan agar mampu menerapkan pendekatan
caring dan tehnik edukasi yang efektif agar mampu memberikan intervensi
yang personal dan humanistic sesuai kebutuhan pasien.
3. Bagi tempat penelitian, diharapkan terus meningkatkan program edukasi
supportive educative berbasis caring untuk meningkatkan kualitas dan mutu
pelayanan dengan pasien.
4. Bagi Pendidikan keperawatan, diharapkan pengetahuan dan penerapan
tentang manajemen penyakit kronis seperti hipertensi harus disampaikan
secara komprehensif, termasuk penting nya peran edukasi self care dan
dukungan psikososial terhadap keberhasilan dalam pengelolaan penyakit.
5. Bagi peneliti selanjutnya, dianjurkan mengkaji jangka Panjang efektvitas
intervensi ini serta pengaruhnya terhadap kualitas hidup pasien, serta
mengidentifikasi hambatan dan faktor pendukung dalam pelaksanaan self
care di komunitas.
72
DAFTAR PUSTAKA
Amalia, S. K. M., Ludiana, & Dewi, T. K. (2025). Implementation of Progressive
Muscle Relaxation on Blood Pressure in Hypertension Patients. Jurnal
Cendikia Muda, 5(2), 312–319.
Anugrahtama, A. (2023). Gambaran Self-Care Pada Lansia Dengan Hipertensi
Terkontrol Dan Tidak Terkontrol. Aleph, 87(1,2), 149–200.
Azizah et al ., 2022. (2020). Pengaruh Slow Deep Breathing Terhadap Tekanan
Darah Pada Pasien Hipertensi. Masker Medika, 8(2), 263–267.
[Link]
Elvandi, M. D. (2020). Hubungan Perilaku Caring Perawat dengan Tingkat
Kecemasan Pasien Pra Operasi di Rumah Sakit Tingkat III Baladhika
Husada Jember. Digital Repository Uniiversitas Jember, 4(2), 20–27.
Erita. (2021). Modul Bahan Ajar Caring. Modul Bahan Ajar Caring, 54.
Fransiskus, X., Dotulong, & M, karouw brigita. (2022). Pengaruh Edukasi Self-
Care Management Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi. Watson
Journal of Nursing, 1(1), 22–29.
Ginting, D. S. (2024). Pengaruh Intervensi Supportive Educative Berbasis Caring
Terhadap Selfcare Management Pada Penderita Hipertensi Di Desa
Delitua Barat. 7(2), 1285–1291.
Hidayati, N., Suprayitno, E., & Kafil, R. F. (2020). Intervensi Suportif Edukatif
Dalam Peningkatan Kepatuhan Diet Pada Pasien Diabetes Mellitus:
Literature Review.
Ina, S. H. J., Bastian, J., & Feoh, F. T. (2020). Analisis Hubungan Faktor Genetik
Dengan Kejadian Hipertensi Pada Usia Dewasa Muda ( 19-49 Tahun ) Di
Puskesmas Bakunase Kota Kupang Tahun 2020. 4(September), 217–221.
Inayati, H., & Hasanah, L. (2022). Gambaran Dukungan Keluarga Dengan
Kehadiran Lansia Pada Posyandu Lansia Di Desa Errabu Kecamatan Bluto.
Cetak) Journal of Innovation Research and Knowledge, 2(7), 1–8.
Irman, O., Paulus, Y., & Rangga, P. (2025). Efikasi Diri dan Self-Care pada Pasien
Sindrom Koroner Akut.
Kario, K., Kuncihipertensi, K., Siapa, A., & Asia, P. (2024). Laporan Global WHO
73
2023 tentang hipertensi memperingatkan beban hipertensi yang muncul di
dunia dan strategi pengobatannya. 1099–1102.
Kemenkes. (2023). Health Statistics. In Science as Culture (Vol. 1, Issue 4).
[Link]
Khotibul, M., Win Martani, R., Mumpuni Yuniarsih, S., Studi Keperawatan, P.,
Ilmu Kesehatan, F., Pekalongan, U., & Studi Kesehatan Masyarakat, P.
(2023). Perilaku Self-Care Pada Penderita Hipertensi di Indonesia:
Sistematik Literatur Review. Jurnal Promotif Preventif, 6(6), 908–918.
Kim & Oh. (2021). International Journal of Nursing Sciences Erratum regarding
missing Declaration of Competing Interest statements in previously
published articles. 8, 2352. [Link]
Kolomboy, F., Kindang, I. W., & Syamsu, A. F. (2025). Intervensi Supportive
Educative Terhadap Selfcare Management Pada Penderita Hipertensi Di
Wilayah Kerja Puskesmas Talise. 9(5), 231–236.
Lukmawati., E., Wilandika, A., & Widianti, A. T. (2019). Volume 6 | Nomor 2 |
Desember 2019. 6(6).
Lukmawati, E., Wilandika, A., & Widianti, A. T. (2020). Pengaruh Supportive
Educative Terhadap Self Care Pasien Hipertensi Pada Salah Satu
Puskesmas Di Bandung. Jurnal Keperawatan ’Aisyiyah, 6(2), 1–7.
[Link]
Marhabatsar, S. N., & Sijid, A. S. (2021). Review: Penyakit hipertensi pada sistem
kardiovaskular. Prosiding Seminar Nasional Biologi, 7(1), 72–78.
Muharam, M. R., Suharta, D., Ramdani, H. T., Puspita, T., & Wahyudin. (2024).
Self-Care Management Penderita Hipertensi. Jurnal Ilmiah Ilmu
Kesehatan, 10(1), 34–43.
Nababan, O. ., Prasetyawan, F., Saristiana, Y., Muslihk, F. ., Mildawati, R., &
Oktadiana, I. (2024). Utilization of Single Antihypertensive Drug in
Hypertensive Patients at Outpatient Primary Health Care Centers.
JurnalIntelekInsanCendekia, 1(1), 22–29.
Nelista, Y., Keytimu, Y. M. H., & Toto, E. M. (2021). Intervensi Berbasis Suportive
Educative Nursing Intervention terhadap Pengetahuan dan Praktik
Pemberian Makan pada Ibu Balita Gizi Kurang. Jurnal Peduli Masyarakat,
3(3), 257–266. [Link]
Nu’man, M. (2023). Analisis struktur kovariansi indikator terkait kesehatan pada
lansia yang tinggal di rumah (berfokus pada kesehatan subjektif). In Aleph
(Vol. 87, Issue 1,2).
74
Nurpratiwi1, Debby Hatmalyakin2, Dewin Safitri3, Mimi Amaludin4, Fauzan
Alfikrie5, Uti Rusdian Hidayat6, Ali Akbar7, D. A. (2024). Sistem Skoring
Sebagai Upaya Deteksi Dini Hipertensi. 7(Table 10), 4–6.
Oktavianie, G. (2022). Promosi Kesehatan Hipertensi Pada Usia Produktif Sampai
Lansia di. 01(02).
Pardede, J. A. (2020). Konsep Caring Dalam Keperawatan : Pendekatan Teori Jean
Watson. Osfpreprints, 1–6.
Puspita., T. I., Ulkhasanah., M. E., & Prakoso., A. B. (2024). No Title. 4(April), 9–
16.
Putri Noor Kholisoh Purnama Wati, Nursiswati, N., & Eka Afrima Sari. (2024).
Self-Care Profile pada Pasien Hipertensi. Jurnal Keperawatan ’Aisyiyah,
11(1), 23–34. [Link]
Rachmania, D., Siswoaribowo, A., & Novitasari, P. (2022). Self-Control dan Self-
Care Behaviour pada Penderita Hipertensi. SpikesNas, 01(02), 378–388.
Rahmawati, R., & Kasih, R. P. (2023). Hipertensi Usia Muda. GALENICAL :
Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh, 2(5), 11.
[Link]
Rantepadang, A., & Hadibrata, B. E. S. (2023). Self-Efficacy Dan Self-Care
Management Pada Penderita Hipertensi. Klabat Journal of Nursing, 5(1),
67. [Link]
Rinezia Rinza Farizal, & Irna Nursanti. (2024). Philosophies Teori Konsep
Keperawatan Jean Watson Caring. Jurnal Medika Nusantara, 2(1), 102–
112. [Link]
Rizkaningsih, Kolomboy, F., Kindang, I. W., & Syamsu, A. F. (2025). Intervensi
Supportive Educative Terhadap Self care Manajemen PadaPenderita
Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Talise. Jurnal Ners, 9(1), 231–236.
Senofia, E., ayudytha, A. U., & Ardeni. (2025). Hubungan Perilaku Caring
Perawat Terhadap Kepuasan Pasien Di Poli Rawat Jalan Rumah Sakit
Binakasih Pekanbaru. 5(October 2023), 10–17.
Setiani., R., & Wulandar.i, S. A. (2023). Hubungan Faktor Genetik dengan
Kejadian Hipertensi : Scoping Review Relationship between Genetic
Factors and Hypertension : Scoping Review. 5(1), 60–66.
75
Silvianah, A., & Indrawati, I. (2024). Hubungan Kepatuhan Minum Obat Hipertensi
Dengan Perubahan Tekanan Darah Pada Lansia Di Posyandu Lansia. Jurnal
Keperawatan, 17(2), 52–61. [Link]
Simanjuntak, E. Y., & Situmorang., H. (2019). Pengetahuan Dan Sikap Tentang
Hipertensi Dengan Pengendalian Tekanan Darah. 01(01), 10–17.
Suarayasa., K., Hidayat., M. I., & Gau, R. (2023). Faktor Resiko Kejadian
Hipertensi Pada Lansia (Risk Factors Of Hypertension In ELDERLY) Ketut
Suarayasa 1 , Muh. Ilham Hidayat 2 , Resky Gau 2 1. 5(3), 253–258.
Sugiyono. (2023). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabet.
Suprayitno, E., & Damayanti, C. N. (2020). Intervensi Supportive Educative
Berbasis Caring Meningkatkan Self Care Management Penderita
Hipertensi
Survey kesehatan indonesia (Ski). (2023). Survei Kesehatan Indonesia 2023 (SKI).
Kemenkes, 235.
Tok Yildiz, F., & Kasikci, M. (2020). Impact of Training Based on Orem’s Theory
on Self-Care Agency and Quality of Life in Patients with Coronary Artery
Disease. Journal of Nursing Research, 28(6).
[Link]
Tukan, R. A. (2023). Kepatuhan Kontrol Tekanan Darah pada Lansia dengan
Hipertensi Compliance with Blood Pressure Control in the Elderly with
Hypertension. 15(2). [Link]
Unger, T., Borghi, C., Charchar, F., Khan, N. A., Poulter, N. R., Prabhakaran, D.,
Ramirez, A., Schlaich, M., Stergiou, G. S., Tomaszewski, M., Wainford, R.
D., Williams, B., & Schutte, A. E. (2020). 2020 International Society of
Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines. Hypertension,
75(6),
Widayanti, R., & Soleman, S. R. (2023). Gambaran pengetahuan tentang self care
management pada pasien hipertensi di puskesmas sragen. Jurnal Ilmu
Kesehatan Mandira Cendikia, 2(9), 349–362.
Widiatmika, K. P. (2019). Perilaku Caring Perawat Profesional. Etika Jurnalisme
Pada Koran Kuning : Sebuah Studi Mengenai Koran Lampu Hijau, 16(2),
39–55.
Widiatmika, K. P. (2023). Hipertensi Dan Cara Pengobatannya. Etika Jurnalisme
76
Pada Koran Kuning : Sebuah Studi Mengenai Koran Lampu Hijau, 16(2),
39–55.
Zethira, A. T., Hendrati, L., Diyanah, K., Pawitra, A., Jasmine, M., Syahputri, R.,
Alvionita, A., Khaerati, M., Bratajaya, K., Prabasanti, M., Suryanegara, E.,
Rahayu, A.-Z., Liviansyah, N., Arif, M., & Siregar, F. (2024). Hypertension
As a Silent Killer Disease: Education for At-Risk Communities in Pekuwon
Village. Jurnal Layanan Masyarakat (Journal of Public Services), 8(2),
200–209. [Link]
LAMPIRAN
77
78
Lampiran 1
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada :
Yth. Calon Responden
Di Tempat
Dengan Hormat,
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Nanda Yulistia
Npm : 220101140
Saya adalah Mahasiswa aktif program studi S1 Keperawatan Fakultas Ilmu kesehatan
Universitas Aisyah Pringsewu yang sedang melakukan sebuah penelitian dengan judul
“ِّ Pengaruhِّ Supportiveِّ Educativeِّ Berbasis Caring Terhadap Self Care Penderita
Hipertensiِّ Diِّ Puskesmasِّ Gedongِّ Tataanِّ ”. Penelitian ini tidak akan mengakibatkan
kerugian terhadap responden, data dan informasi responden akan dirahasiakan dan dijaga
hanya akan digunakan untuk tujuan kepentingan penelitian.
Sehubung dengan hal tersebut, saya memohon kesediaan bapak/ibu untuk menjadi
responden dalam penelitian ini yang bersifat tidak memaksa dan menandatangani lembar
persetujuan. Atas perhatiannya, kesediaan dan kerjasamanya untuk menjadi responden sya
ucapkan banyak terimakasih.
Hormat Saya
Nanda Yulistia
79
Lampiran 2
PERNYATAAN KESEDIAAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN
(Informed Consent)
Yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : ………………………………………………
Umur : ………………………………………………
Setelah mendapat penjelasan dari peneliti, dengan ini saya menyatakan
bersedia dan mau berpartisipasi menjadi subjek penelitian yang berjudul
“ِّ Pengaruhِّ Supportiveِّ Educativeِّ Berbasisِّ Caringِّ Terhadapِّ Selfِّ Careِّ
Penderita Hipertensi Di Puskesmas Gedong Tataan “ saya tidak ada ikatan
apapun dengan peneliti dan apabila saya mengundurkan diri dari penelitian ini, saya
akan memberitahu sebelumnya. Keikutsertaan saya dalam penelitian ini tidak
dibebani biaya apapun maupun konsekuensi lain.
Dengan pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan.
Saya memahami keikutsertaan ini akan memberikan manfaat dalam penelitian.
Dengan ini saya menyadari bahwa penelitian ini tidak akan memberikan dampak
negative bagi peneliti dan responden. Dengan ini saya menyatakan setuju dan
sukarela menjadi responden dalam penelitian ini. Demikian ini saya buat agar dapat
digunakan sebagaimana mestinya.
Pringsewu, 2025
Responden
80
Lampiran 3
A. Data responden
Data Demografi
1. Nama Inisial :
2. Umur :
3. Jenis Kelamin :
4. Pendidikan terakhir :
5. Pekerjaan :
6. Lama terdiagnosa Hipertensi :
7. Riwayat Hipertensi keluarga :
81
Lampiran 4
1. KUESIONER SELF CARE PERAWATAN DIRI HIPERTENSI
(HSMBQ)
Petunjuk
Quesioner ini bertujuan untuk menilai seberapa sering anda melaukan
aktifitas untuk mengintrol hipertensi dalam beberapa bulan terakhir. Tidak ada
jawaban benar atau salah. Karena nya, jawablah secara jujur pada masing
masing pertanyaan untuk menggambarkan prilaku anda yang sebenarnya dengan
memberikan tanda (x) pada kolom yang sesuai
Gunakan 4 pilihan jawaban sbb:
1= Tidak pernah (Saya tidak pernah melakukan perilaku ini)
2= Jarang (Saya jarang melakukan perilaku ini)
3= Kadang-kadang (Saya kadang-kadang melakukan perilaku ini)
4= Selalu (Saya selalu melakukan perilaku ini)
N/A= Tidak dilakukan (Perilaku ini tidak saya lakukan dalam hidup saya)
Contoh:
No. Perilaku manajemen 1 2 3 4 N/A
diri pada hipertensi (Tidak (Jarang) (Kadang - (Selalu) (Tidak
pernah) kadang) Dilakukan)
1 Saya makan buah, sayur, X
gandum, dan kacang
kacangan lebih dari yang
saya makan saat saya
tidak mengalami
hipertensi.
82
Kalau Anda menjawab (x) pada kolom 4, itu artinya Anda selalu makan
buah,.sayur, gandum, dan kacangkacangan lebih dari apa yang Anda makan
sebelum nyata dalam hidup Anda.
Sekarang, berikan jawaban pada tiap pernyataan berikut sesuai dengan
kondisi yang nyata dalam hidup Anda .
No. Perilaku manajemen diri 1 2 3 4 N/A
pada hipertensi (Tidak (Jarang) (Kadang (Selalu) (Tidak
pernah) kadang) Dilakukan)
Integrasi diri
1 Saya mempertimbangkan
porsi dan pilihan makanan
ketika saya makan.
2 Saya makan buah, sayur,
gandum, dan kacang-
kacangan lebih banyak dari
yang saya makan saat saya
tidak mengalami hipertensi.
3 Saya mengurangi makanan
yang mengandung lemak
jenuh(misalnya keju, minyak
kelapa, daging kambing, dll)
semenjak di diagnosa
hipertensi.
4 saya mencoba berhenti
minum-minuman
beralkohol.
5 saya mencoba berhenti
minum-minuman beralkohol.
6 saya mengurangi jumlah
makanan setiap kali saya
makan untuk menurunkan
berat badan.
7 Saya memilih makanan
rendah garam.
8 Saya berolahraga untuk
menurunkan berat badan
(misalnya jalan, jogging /
lari, atau bersepeda) sekitar
30-60 menit setiap hari.
83
9 Saya berpikir bahwa
hipertensi adalah bagian dari
hidup saya.
10 Saya melakukan rutinitas
saya sesuai dengan hal-hal
yang harus saya lakukan
untuk mengontrol hipertensi
saya (misalnya pekerjaan dan
periksa ke dokter).
11 Saya berhenti merokok / saya
mencoba berhenti merokok.
musik, istirahat dan berbicara
dengan keluarga atau teman
12 Saya mencoba mengontrol
emosi saya dengan
mendengarkan saya.
No Perilaku manajemen diri 1 2 3 4 N/A
pada hipertensi (Tidak (Jarang) (Kadang (Tidak
pernah) kadang) (Selalu) Dilakukan)
13 Saya tidak pernah
menggunakan garam yang
berlebih untuk membumbui
makanan semenjak saya
terkena hipertensi.
Regulasi diri
14 Saya mengetahui mengapa
tekanan darah saya berubah
15 Saya mengenali tanda gejala
darah tinggi
16 Saya mengontrol tanda
hipertensi dengan cepat
17 Saya mengenali tekanan
gejala darah rendah
18 Saya mengontrol tanda dan
gejala hipotensi (tekanan
darah rendah) dengan tepat
19 Saya menentukan tujuan saya
mengontrol tekanan darah
20 Saya membuat rencana
tindakan untuk mencapai
tujuan saya mengontrol
tekanan darah
84
21 Saya membandingkan
tekanan darah saya saat ini
dengan tekanan darah yang
saya targetkan
22 Saya mengontrol keadaan
yang mungkin dapat
meningkatkan tekanan darah
saya
Interaksi dengan tenaga
kesehatan lainnya
23 Saya mendiskusikan
rencana pengobatan saya ke
dokter atau perawat
24 Saya memberikan masukan
pada dokter untuk mengubah
rencana pengobatan jika saya
tidak bisa menyesuaikan diri
dengan rencana tersebut.
25 Saya bertanya pada dokter
atau perawat ketika ada hal-
hal yang tidak saya pahami.
26 Saya membantu dokter atau
perawat mencari tahu kenapa
tekanan darah saya tidak
terkontrol dengan baik.
27 Saya mendiskusikan dengan
dokter perawat saat tekanan
darah saya terlalu tinggi atau
rendah.
No Perilaku manajemen diri 1 2 3 4 N/A
pada hipertensi (Tidak (Jarang) (Kadang (Selalu) (Tidak
pernah) kadang) Dilakukan)
28 Saya bertanya pada dokter
atau perawat darimana saya
bisa belajar lebih jauh
tentang hipertensi.
29 Saya meminta bantuan orang
lain (misalteman, tetangga
atau pasien lain) terkait
hipertensi yang saya alami.
30 Saya meminta bantuan orang
lain (misal teman, tetangga
atau pasien lain) untuk
85
membantu mengontrol
tekanan darah saya.
31 Saya bertanya pada orang
lain (misal teman,tetangga
atau pasien lain) apa cara
yang mereka gunakan
untukmengontrol tekanan
darah tinggi.
Pemantauan tekanan
darah
32 Saya pergi ke dokter untuk
mengecek tekanan darah
saya saat merasakan tanda
dan gejala tekanan darah
tinggi.
33 Saya pergi ke dokter untuk
mengetahui tekanan darah
saya saat saya merasa sakit.
34 Saya pergi ke dokter untuk
mengecek tekanan darah
saya saat merasakan tanda
dan gejala tekanan darah
rendah.
35 Saya mengecek tekanan
darah saya secara teratur
untuk membantu saya
membuat keputusan
manajemen diri.
Kepatuhan terhadap
anjuran yang diberikan
36 Saya sangat ketat dalam
minum obat anti hipertensi.
37 Saya minum obat anti-
hipertensi sesuai dengan
dosis yang diberikan dokter.
38 Saya minum obat anti-
hipertensi dalam waktu yang
benar.
39 Saya periksa ke dokter sesuai
dengan waktu yang
dijadwalkan.
40 Saya mengikuti saran dokter
atau perawat dalam
86
mengontrol tekanan darah
saya.
Lampiran 5
KISI-KISI KUESIONER SUPPORTIVE EDUCATIVE BERBASIS CARING
TERHADAP SELF CARE PENDERITA HIPERTENSI
1. Supportive educative : teaching
Aspek Materi edukasi tujuan Contoh
intervensi pasien
Regulasi diri 1. Penyebab hipertensi: merokok, Pasien memahami 1. Membuat catatan
kurang olahraga, garam tinggi, apa itu hipertensi, pribadi faktor risiko
obesitas, alkohol, kafein, usia, penyebab, gejala, yang dimiliki.
genetik. dan cara kontrol. 2. Mengurangi
2. Tanda/gejala: sakit kepala, mual, konsumsi garam
muntah, pusing, kelelahan, harian.
penglihatan kabur, telinga 3. Melakukan
berdenging, mimisan, jantung olahraga jalan kaki
berdebar. 30 menit/hari.
3. Cara kontrol: pola makan sehat, 4. Rutin cek tensi 2–3
olahraga, menghindari rokok/ kali/minggu.
alkohol, kelola stres, rutin cek
tensi.
Integrasi 1. Pola makan sehat: sayur, buah, Pasien mampu 1. Membuat menu
diri dalam ikan, kacang, susu rendah lemak; menerapkan gaya harian rendah
mengelola hindari makanan tinggi garam, hidup sehat dan garam.
hipertensi lemak, gorengan, makanan cepat menjaga 2. Mengganti alkohol
saji, alkohol. kesehatan secara dengan air putih.
2. Menghindari rokok & alkohol. mandiri. 3. Berjalan 30 menit
3. Aktivitas fisik: olahraga 30–60 pagi/sore.
menit/hari. 4. Mendengarkan
4. Kelola emosi: musik, istirahat, musik 15 menit saat
[Link] rutin ke stres.
fasilitas kesehatan. 5. Membuat
reminder kontrol
bulanan.
87
Manajemen 1. Edukasi mencari informasi dari Pasien memiliki 1. Mengikuti edukasi
diri sumber terpercaya. keterampilan interaktif di
2. Dukungan sosial keluarga/ mengelola puskesmas.
teman sebaya. hipertensi sehari- 2. Melibatkan
3. Pemantauan tekanan darah hari. keluarga untuk
mandiri. mengingatkan
minum obat.
3. Mengukur tensi di
rumah dengan
tensimeter digital
Interaksi 1. Mendiskusikan untuk rencana Pasien mampu 1. Membuat daftar
dengan pengobatan: pasien didorong berkomunikasi pertanyaan
tenaga medis terbuka soal hambatan dan efek terbuka dengan sebelum kontrol.
samping. tenaga kesehatan. 2. Menyampaikan
2. Pasien diberikan ruang aman efek samping obat
untuk menyampaikan kondisi. ke dokter.
Pemantauan 1. Edukasi tentang pentingnya Pasien memahami 1. Menentukan jadwal
tekanan monitoring untuk mencegah pentingnya cek tensi setiap
darah komplikasi (stroke, gagal ginjal, pemantauan tensi Minggu pagi.
jantung). 2. Membawa catatan
2. Waktu pemantauan minimal hasil tensi ke
1x/minggu. kontrol.
Kepatuhan 1. Pentingnya minum obat dan Pasien patuh untuk minum
1. Mengatur alarm
terhadap kontrol rutin untuk mencegah dan obat kontrol sesuai
untuk minum obat
anjuran komplikas jadwal atau dan meminta
bantuan keluarga
medis
2. Rutin kontrol tiap
bulan walau tanpa
keluhan.
88
2. Supportive educative : guiding
Aspek Materi edukasi Tujuan Contoh intervensi
pasien
Pengenalan 1. Non-farmakologi: Pasien mengenal 1. Mengikuti senam
pengobatan Diet rendah garam/gula berbagai pilihan hipertensi di
hipertensi (DASH), olahraga teratur, pengelolaan puskesmas.
berhenti merokok, kelola stres hipertensi serta 2. Mencatat jadwal
(relaksasi, yoga, meditasi), pengobatan yang konsumsi obat
terapi alternatif (pijat relaksasi, bisa dilakukan harian.
latihan pernapasan). 3. Mencoba teknik
2. Farmakologi: pernapasan dalam
Edukasi penggunaan obat saat stres.
antihipertensi sesuai anjuran 4. Konsultasi ke
dokter. dokter sebelum
mencoba terapi
alternatif.
Mengenalkan 1. Diet rendah garam (≤ 5 Pasien dapat 1. Membaca label
pola makan gram/hari). melakukan pola kandungan
yang baik 2. Tingkatkan konsumsi buah & makan yang garam/lemak
sayur kaya potasium & sehat untuk pada kemasan
magnesium. mengontrol 2. Mengganti
3. Hindari lemak jenuh, kolesterol, tekanan darah. cemilan gorengan
makanan olahan. dengan buah.
4. Terapkan diet DASH (buah, 3. Menimbang berat
sayur, gandum utuh, kacang). badan tiap
Kontrol berat badan minggu.
Mengenalkan 1. Aktivitas seperti (senam Pasien paham 1. Jalan kaki 30
aktivitas fisik hipertensi, jalan, bersepeda dan aktivitas fisik menit
yang baik berenang ) yang aman dan 5x/minggu.
2. Sesuai anjuran WHO: bermanfaat untuk 2. Mengikuti
150 menit/minggu intensitas menurunkan
senam hipertensi
sedang atau 75 menit/minggu tekanan darah.
intensitas tinggi.
di komunitas.
3. Menggunakan
sepeda di rumah
20 menit/hari.
89
Menjelaskan 1. Obat antihipertensi harus Pasien paham 1. Mengatur alarm
kepatuhan diminum rutin meski tidak ada dan patuh minum HP sesuai jadwal
minum obat keluhan. obat sesuai dosis minum obat
2. Menjelaskan waktu dan dosis dan jadwal. 2. Meminta
obat yang benar menurut resep keluarga
dokter mengingatkan
3. Mengatur strategi kepatuhan: waktu minum
alarm, dan dukungan keluarga. obat.
Menjelaskan 1. Tekanan darah harus dipantau Pasien menyadari 1. Mengukur tekanan
kepatuhan rutin untuk deteksi dini pentingnya darah di rumah 1
mengontrol komplikasi. kontrol rutin dan kali/minggu.
2. Disarankan cek minimal pemantauan 2. Membawa catatan
tekanan
1x/minggu di rumah atau tensi. hasil tensi saat
darah secara fasilitas kesehatan.
rutin kontrol ke dokter.
3. Edukasi manfaat pencatatan 3. Menjadwalkan
hasil tensi untuk evaluasi kontrol bulanan
terapi. meski tanpa gejala.
90
3. Supportive educative : supporting
Aspek Materi edukasi Tujuan Contoh intervensi
pasien
Dukungan 1. Penyediaan akses terhadap Pasien memiliki 1. Memgedukasi
Informasi pengetahuan yang pengetahuan yang baik balik tentang
membantu pasien hipertensi dan
memahami dan mengelola gaya hidup sehat.
hipertensi 2. Edukasi
pentingnya
memantau tekanan
darah secara
teratur.
3. Menjelaskan
penggunaan obat
sesuai anjuran
dokter.
4. Memberikan tips
manajemen stres
sederhana
(relaksasi,
pernapasan
dalam).
Dukungan 1. Dukungan berupa dorongan Pasien akan merasa 1. Mendengarkan
Emosional positif, mendengarkan didukung secara dengan penuh
dengan penuh perhatian emosional, dan lebih perhatian ketika
tanpa menghakimi, serta tenang, termotivasi pasien bercerita.
memberi motivasi agar dalam pengelolaan self 2. Memberikan
pasien lebih percaya diri care. empati saat pasien
dalam mengelola hi menyampaikan
keluhan.
3. Memberi motivasi
agar patuh minum
obat.
4. Meyakinkan
pasien bahwa
hipertensi bisa
dikendalikan
dengan gaya hidup
sehat.
Dukungan 1. Tindakan konkret yang Pasien mendapat bantuan 1. Membantu pasien
Instrumental membantu pasien dalam praktis sehingga lebih memantau
mengelola penyakitnya mudah untuk menjalan 2. Mengingatkan
sehari-hari. kan pengelolaan hipertensi. pasien untuk
91
minum obat secara
rutin.
3. Menghubungkan
pasien dengan
program bantuan
sosial yang
relevan.
Dukungan 1. Memberikan apresiasi, rasa Pasien merasa dihargai 1. Memberikan
Penghargaan bangga, dan pengakuan atas sehingga lebih dihargai pujian saat pasien
usaha pasien dalam merawat dan lebih termotivasi rutin minum obat
dirinya. untuk mengelola dan cek tekanan
penyakit secara mandiri darah.
2. Mengucapkan
rasa bangga pada
keberhasilan
pasien
menurunkan
tekanan darah.
3. Memberikan
hadiah kecil
sebagai apresiasi.
4. Menunjukkan
pengakuan atas
usaha pasien
menjaga pola
makan dan
olahraga.
92
Lampiran 6 pengajuan judul
93
Lampiran 7 bukti oponen
94
Lampiran 8 permohonan pra survei
95
Lampiran 9 izin pra survei
96
Lampiran 10 lembar bimbingan ujian proposal
97
Lampiran 11 bukti acc penelitian
98
99
100
Lembar 12 permohonan etik
101
Lembar 13 izin etik
102
Lampiran 14 izin penelitian badan kezatuan bangsa dan politik
103
Lampiran 15 surat izin penelitian
104
Lampiran 16 izin penelitian
105
Lampiran 17 izin dinas kesehatan
106
107
Lampiran 18
bukti penelitin
108
Lampiran 19
Tabulasi data
109
Lampiran 20
Karakteristik Responden
nama responden
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid A 1 1.9 1.9 1.9
D 1 1.9 1.9 3.8
E 2 3.8 3.8 7.5
F 1 1.9 1.9 9.4
H 2 3.8 3.8 13.2
K 3 5.7 5.7 18.9
L 1 1.9 1.9 20.8
M 7 13.2 13.2 34.0
N 4 7.5 7.5 41.5
P 2 3.8 3.8 45.3
R 8 15.1 15.1 60.4
S 16 30.2 30.2 90.6
T 1 1.9 1.9 92.5
U 1 1.9 1.9 94.3
W 1 1.9 1.9 96.2
Y 2 3.8 3.8 100.0
Total 53 100.0 100.0
Statistics
riwayatke
umur jeniskelamin pendidikan pekerjaan lamasakit luarga
N Valid 53 53 53 53 53 53
Missing 0 0 0 0 0 0
Mean 3.74 1.89 1.77 3.64 1.58 1.87
Minimum 1 1 1 1 1 1
Maximum 6 2 4 5 5 3
110
umur
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
40-45 tahun 7 13.2 13.2 13.2
Valid 46-50 tahun 7 13.2 13.2 26.4
51-55 tahun 7 13.2 13.2 39.6
56-60 tahun 13 24.5 24.5 64.2
61-65 tahun 10 18.9 18.9 83.0
66-70 tahun 9 17.0 17.0 100.0
Total 53 100.0 100.0
jeniskelamin
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid laki laki 6 11.3 11.3 11.3
perempuan 47 88.7 88.7 100.0
Total 53 100.0 100.0
pendidikan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid SD 28 52.8 52.8 52.8
SMP 10 18.9 18.9 71.7
SMA 14 26.4 26.4 98.1
Sarjana 1 1.9 1.9 100.0
Total 53 100.0 100.0
pekerjaan
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Guru 1 1.9 1.9 1.9
petani 15 28.3 28.3 30.2
buruh 1 1.9 1.9 32.1
111
ibu rumah tangga 21 39.6 39.6 71.7
tidak bekerja 15 28.3 28.3 100.0
Total 53 100.0 100.0
riwayatkeluarga
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid ibu 29 54.7 54.7 54.7
ayah 2 3.8 3.8 58.5
tidak ada 22 41.5 41.5 100.0
Total 53 100.0 100.0
lamasakit
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 1-5 tahun 32 60.4 60.4 60.4
6-10 tahun 14 26.4 26.4 86.8
11-15 tahun 5 9.4 9.4 96.2
16-20 tahun 1 1.9 1.9 98.1
21-25 tahun 1 1.9 1.9 100.0
Total 53 100.0 100.0
112
Lampiran 21
Rerata Self Care
Paired Samples Statistics
Mean N Std. Deviation Std. Error Mean
Pair 1 pre test 87.36 53 15.760 2.165
post test 118.57 53 17.215 2.365
113
Lampiran 22
Normalitas data
Descriptives
Statistic Std. Error
pre Mean 87.36 2.165
95% Confidence Interval Lower Bound 83.01
for Mean Upper Bound 91.70
5% Trimmed Mean 87.07
Median 89.00
Variance 248.388
Std. Deviation 15.760
Minimum 54
Maximum 121
Range 67
Interquartile Range 20
Skewness .387 .327
Kurtosis -.106 .644
post Mean 118.57 2.365
95% Confidence Interval Lower Bound 113.82
for Mean Upper Bound 123.31
5% Trimmed Mean 119.00
Median 117.00
Variance 296.366
Std. Deviation 17.215
Minimum 71
Maximum 149
Range 78
Interquartile Range 29
Skewness -.234 .327
Kurtosis -.100 .644
114
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
pre .110 53 .163 .965 53 .118
post .105 53 .200* .960 53 .075
115
Lampiran 23
Uji paired sample t-test
Paired Samples Correlations
N Correlation Sig.
Pair 1 pre test & post test 53 .775 .000
Paired Samples Test
Paired Differences
95% Confidence Interval of
Std. Std. Error the Difference
Mean Deviation Mean Lower Upper t
Pair pre test - post test -31.208 11.148 1.531 -34.280 -28.135 -20.379
1
Paired Samples Test
df Sig. (2-tailed)
Pair 1 pre test - post test 52 .000
116
Lampiran 24
Plagiarisme