JURNAL PEMENUHAN KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
KEBUTUHAN SPIRITUAL
DOSEN PENGAMPUH : A. NURLAELA AMIN [Link], Ns, [Link]
DI SUSUN OLEH : KELOMPOK 1
ANDI SRI MAGDALENA PARMA NIM : A2214003
ASRATUL WAFIA NIM : A2214009
AULIA APRIANI NIM : A2214011
ERNA HUMAIRAH NIM : A2214017
JUSMAWATI NIM : A2214023
MUTIARA SYEIRINA PUTRI NIM : A2214030
NUR PADILA NIM : A2214036
PRODI S1 KEPERAWATAN
STIKES PANRITA HUSADA BULUKUMBA
TAHUN AJARAN 2023/2024
GAMBARAN UMUM TENTANG KEBUTUHAN ROHANI PADA
TINGKAT KECEMASAN PASIENDIAGNOSIS DENGAN COVID-19 DI
RUMAH SAKIT
Kata pengantar
Penyakit Virus Corona 2019 (COVID-19) adalah penyakit menular yang
menyerang sistem pernapasan manusia yang disebabkan oleh SARS-Cov-2 atau
sering disebut sebagai virus corona. COVID-19 telah menyebar ke seluruh dunia
sehingga Organisasi Kesehatan Dunia telah menetapkan COVID-19 sebagai
pandemi baru yang telah menyebar luas.1 COVID-19 memiliki tanda dan gejala
yang berkisar dari demam, batuk, pilek, sesak napas, kehilangan indra penciuman
dan perasa, sakit kepala, tulang, dan sendi sakit, dan tidak nafsu makan.2 Jumlah
kasus COVID-19 di Indonesia per 23 Juli 2021 mencapai 3.033.339 kasus
konfirmasi dengan 561.384 kasus aktif dan 79.032 kematian. jumlah kasus
sembuh sebanyak 23.019 dan jumlah kasus meninggal sebanyak 1.708 kasus.3
Tingginya peningkatan penyebaran COVID-19 di dunia mengakibatkan
meningkatnya emosi negatif dan penurunan kepuasan hidup penduduk akibat
dampak pandemi COVID-19. Masyarakat umumnya menunjukkan ekspresi
tertekan dan cemas karena takut tertular COVID-19.4 Hal ini juga didukung
dengan hasil observasi awal, dimana karantina yang dilakukan oleh pemerintah
daerah akibat peningkatan kasus COVID-19 menyebabkan terhadap peningkatan
kecemasan masyarakat yang dikarantina yang berdampak pada spiritualitas
mereka.
Munculnya COVID-19 sejak akhir tahun 2019 dan mulai merebak di awal
tahun 2020 membuat masyarakat semakin resah. Ketakutan, kegelisahan, dan
ketidakpastian selalu membayangi orang-orang yang berada di dekat kawasan
yang diidentifikasi sebagai zona merah. Kehilangan orang tersayang akibat
COVID-19 juga berdampak besar, membuat keluarga yang berduka dan
masyarakat sekitar menjadi cemas dan waspada. Sebagian besar masyarakat
khawatir dengan pengobatan yang akan mereka hadapi jika terinfeksi COVID-19,
tidak dapat beraktivitas dengan leluasa di luar rumah, meningkatnya angka
kematian akibat COVID-19, dan tingginya kebutuhan hidup yang harus dipenuhi
selama pandemi telah menyebabkan tingkat kecemasan masyarakat meningkat.
Tingkat kecemasan yang berlebihan dan meningkat ini menyebabkan perubahan
perilaku masyarakat seperti merasa tidak nyaman, menganggap COVID-19
sebagai aib yang harus ditanggung, merasa putus asa, dan meningkatnya tingkat
ketergantungan kepada orang lain karena tidak dapat memenuhi kebutuhan pribadi
sehingga menimbulkan kebutuhan spiritual. masyarakat sedang berubah.
Perubahan spiritual ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat umum, tetapi juga
oleh mereka yang terdiagnosis COVID-19.
Spiritualitas adalah kepercayaan yang berhubungan dengan Yang Maha
Kuasa. Kebutuhan spiritual adalah kebutuhan untuk memelihara dan memulihkan
iman dan menunaikan kewajiban agama serta kebutuhan untuk memperoleh
pengampunan. Aspek spiritual dapat membantu membangkitkan semangat pasien
dalam proses penyembuhan dari penyakit.7 Spiritualitas dalam bidang kesehatan
dianggap sangat penting karena perannya tidak harus bergantung pada agama atau
tempat ibadah tetapi terkait dengan hubungan yang harmonis antara manusia dan
Tuhan. dan lingkungan serta aktualisasi diri. Keadaan tenang akan mempengaruhi
psikologi seseorang yang akan menimbulkan rasa aman dan nyaman.8 Dalam
penelitian yang dilakukan oleh Borasio (2020) ditemukan bahwa sebagian besar
orang yang mengalami kecemasan dapat diatasi dengan memberikan dukungan
spiritual kepada masyarakat terutama mereka yang dengan status Orang Dalam
Pengawasan (ODP) dimana mereka dapat memberikan kenyamanan dan
bimbingan bagi masyarakat yang terdampak COVID-19. diberlakukan di rumah
sakit di Inggris; dukungan spiritual tetap sangat dihargai. Dukungan spiritual
terutama tentang agama, pedoman organisasi, pedoman Perwalian rumah sakit,
dan tentang informasi yang diberikan kepada keluarga dan masyarakat11 dapat
diatasi dengan memberikan dukungan spiritual kepada masyarakat, terutama yang
berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP) dimana mereka dapat memberikan
kenyamanan dan bimbingan bagi masyarakat yang terkena dampak COVID-19.9
Penelitian dari Middlesex University London menunjukkan bahwa COVID-19
berdampak besar pada bagaimana dukungan spiritual telah disusun dan diterapkan
di rumah sakit Inggris; dukungan spiritual tetap sangat dihargai. Dukungan
spiritual terutama tentang agama, pedoman organisasi, pedoman perwalian rumah
sakit, dan informasi yang diberikan kepada keluarga dan masyarakat.10 dapat
diatasi dengan memberikan dukungan spiritual kepada masyarakat, terutama yang
berstatus Orang Dalam Pengawasan (ODP) di mana mereka berada. dapat
memberikan kenyamanan dan bimbingan kepada masyarakat yang terdampak
COVID-19.
Penelitian dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyediakan layanan
konseling online sebagai upaya preventif terhadap masalah psikologis dan
perilaku seperti depresi, kecemasan, fobia, trauma, kekhawatiran, stres, dan
ketakutan masyarakat akibat pandemi COVID-19. COVID-19 yang terus
menyebar termasuk di Indonesia tidak hanya berdampak pada gejala penyakit
fisik tetapi juga berdampak pada psikis atau kejiwaan, baik bagi penderitanya
maupun masyarakat luas. Berita yang tidak akurat atau membingungkan secara
psikologis dapat memicu stres yang dapat mempengaruhi hormon stres. Hal ini
akan menyebabkan daya tahan tubuh manusia menurun dan akhirnya rentan
tertular COVID-19. Oleh karena itu, dukungan spiritual sangat penting disini.11
Rumah sakit yang menjadi lokasi penelitian ini merupakan salah satu rumah sakit
swasta tipe C yang ada di Kota Bandar Lampung. Itu Tingkat Didiagnosis dengan
COVID-19 di Rumah Sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan
variabel atribut, tingkat kebutuhan spiritual pasien, dan tingkat kecemasan pasien.
Dan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara variabel atribut, tingkat
kebutuhan spiritual, dan tingkat kecemasan pasien saat terdiagnosis COVID-19.
Metode
Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain
penelitian deskriptif korelasi yang dilakukan pada 155 pasien COVID-19.
Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling
dengan kriteria Populasi responden adalah pasien yang berobat ke rumah sakit dan
terdiagnosis COVID-19 baik rawat inap maupun rawat jalan dengan kriteria
responden bersedia mengikuti penelitian GCS 15 mampu berkomunikasi dan tidak
sesak (RR < 24 kali per menit). Variabel dalam penelitian ini adalah kebutuhan
spiritual dan tingkat kecemasan. Penelitian dilakukan setelah mendapat
persetujuan dari Komite Etik Penelitian Kesehatan Universitas Advent Indonesia
No.146/[Link]/EC/IV/21 dan persetujuan dari Komite Etik Penelitian
Kesehatan (KEPK) Rumah Sakit Advent Bandar Lampung No.
09/KEPKRSABL/IV/2021. Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui
frekuensi dan nilai rata-rata dari masing-masing variabel. Analisis bivariat
dilakukan untuk mencari hubungan antara kedua variabel dengan menggunakan
rumus Spearman rho. Data yang dikumpulkan adalah data demografi pasien,
kebutuhan spiritual, dan tingkat kecemasan pasien. Instrumen yang digunakan
untuk mengumpulkan data tingkat kebutuhan spiritual menggunakan Kuesioner
Kebutuhan Spiritual dan instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data
tingkat kecemasan menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale
(DASS 42). Konsistensi internal Cronbach dari seluruh skala adalah 0,89.
Korelasi item-total berkisar antara 0,51 hingga 0,75. Skor koefisien reliabilitas
test-retest dan split-half masing-masing adalah 0,99 dan 0,96. Hasil ini
menunjukkan bahwa DASS adalah instrumen yang valid dan reliabel.
Pengumpulan data dilakukan secara online menggunakan Google Form dengan
memberikan link kuesioner kepada responden dan meminta responden untuk
mengisi sesuai format pada kuesioner.
Hasil
Distribusi data demografi pasien berdasarkan jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan
pendidikan dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden
Persentase Frekuensi Kategori Variabel
Jenis Kelamin Usia Laki-laki 73 47,10%
Perempuan 82 52.90%
Usia 13 – 18 tahun 2 1.29%
19-25 tahun 9 5.81%
26-44 tahun 71 45.81%
45-59 tahun 48 30.97%
>60 tahun 25 16.13%
Profesi Pegawai 10 16.13%
pemerintah
Pegawai swasta 90 6.45%
petani 7 58.06%
Buruh 6 4.52%
pelajar 5 3.23%
lainnya 37 28.87%
Pendidikan Tidak lululs SD 3 1.94%
sekolah
SD 7 4.52%
SMP 15 9.68%
SMA 51 32.90%
D3 25 16.17%
S1 48 30.97%
S2 6 3.87%
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis
kelamin perempuan (52,90%). Responden umumnya berusia 26-44 tahun
(45,81%). Pekerjaan responden umumnya adalah pegawai atau pegawai swasta
(58,06%). Sedangkan tingkat pendidikan responden sebagian besar adalah SMA
sederajat dengan jumlah (32,90%).
Tabel 2. Tingkat Persentase Kebutuhan Spiritual dan Kecemasan
Persentase Frekuensi Kategori Variabel
Kebutuhan rohani Tidak butuh 89 57.42%%
Butuh 66 42.58%%
Sangat butuh 0 0%
Cukup 155 100%
Total 71 45.81%
Khawatir Normal 103 66.45%%
Lembut 24 15.48%
Sedang 26 16.77%
Berat 2 1.30%
Sangat parah 0 0%
Total 155 100%
Tabel 2 menunjukkan bahwa kebutuhan spiritual pasien berada pada
kategori cukup (42,58%). Selain itu, ditemukan juga responden memiliki tingkat
kecemasan sedang (16,77%) dan tingkat kecemasan ringan (15,48%).
Tabel 3. Hubungan Variabel dengan Kebutuhan Spiritual
Persentase Frekuensi Kebutuhan Rohani
Spearman Rho Korelasi koefisien Sig(2 ekor)
Jenis kelamin 0.092 0.253
Usia -0.216 0.007
Pendidikan 0.002 0.224
Profesi 0.110 -0.102
Tabel 3 menunjukkan hasil bahwa usia memiliki hubungan yang
signifikan dengan kebutuhan spiritual dengan nilai sig = 0,007 (p < 0,05).
Tabel 4. Hubungan Variabel dengan Tingkat Kecemasan
Persentase Variabel Tingkat Kecemasan
Spearman Rho Korelasi koefisien Sig(2 ekor)
Jenis kelamin 0.224 0.094
Usia 0.996 0.003
Pendidikan 0.022 -0.184
Profesi 0.208 0.102
Tabel 4 menunjukkan hasil bahwa usia memiliki hubungan yang
signifikan dengan tingkat kecemasan pasien saat didiagnosis COVID-19 dengan
nilai sig = 0,003 (p < 0,05).
Tabel 5. Hubungan antara Kebutuhan Spiritual dengan Tingkat Kecemasan
Persentase Variabel Berarti Standar Deviasi Koefisien
sig Korelasi
Spearman Rho Spiritual needs 27.53 9.846 0.000 Sig(2 ekor)
Kecemasan 7.65 5.508 0.000
tingkat
Pada tabel 5 didapatkan hasil bahwa ada hubungan antara kebutuhan
spiritual dengan tingkat kecemasan pasien saat terdiagnosis COVID-19 dengan
nilai sig 0,000 < 0,05. Nilai koefisien korelasi menunjukkan tanda positif yang
berarti terdapat hubungan searah antara kedua variabel dengan tingkat keeratan
yang cukup.
Diskusi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan spiritual responden
berada pada kategori cukup (42,58%). Selain itu, ditemukan juga responden
memiliki tingkat kecemasan sedang (16,77%) dan tingkat kecemasan ringan
(15,48%). Spiritualitas telah menjadi dasar dari semua kelompok populasi sejak
awal sejarah yang tercatat. Ini memainkan komponen integral dari kualitas hidup,
kesehatan, dan kesejahteraan baik pada populasi umum maupun mereka yang
terkena penyakit. Praktik spiritualitas telah diakui sebagai mekanisme koping
yang kuat untuk menghadapi peristiwa yang mengubah hidup dan traumatis.12
Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Himawan bahwa sebagian
besar responden membutuhkan kebutuhan spiritual ketika mereka sakit, terutama
dalam dimensi agama ( 73,07%). Aspek spiritual juga merupakan salah satu
kebutuhan yang dibutuhkan manusia ketika menghadapi tekanan emosional,
penyakit fisik, atau kematian. Kegiatan yang memiliki unsur religi seperti doa dan
meditasi dapat meningkatkan rasa nyaman dan perspektif hidup serta mengurangi
kecemasan dan kekhawatiran akibat takut sakit dan kematian.
Ikatan Psikiater Indonesia merilis pedoman bagi masyarakat untuk
menjaga kesehatan jiwa selama pandemi COVID-19. Pedoman tersebut awalnya
didasarkan pada pedoman WHO, yang menekankan empat poin utama dalam
memerangi stres dan kecemasan massal akibat pandemi COVID-19. Pedoman
tersebut antara lain: (1) Batasi pemaparan informasi secara berlebihan dan kurangi
waktu yang dihabiskan untuk menonton, membaca, atau mendengarkan berita
tentang COVID-19, termasuk media sosial seperti Instagram atau Twitter yang
sebagian besar beritanya tidak memiliki bukti yang memadai. WHO
merekomendasikan untuk mengecek berita hanya sekali atau dua kali sehari. (2)
Bersantai dengan melakukan meditasi dan olahraga, seperti olahraga fisik, yoga,
atau Pilates. Istirahat yang cukup dan makan makanan yang seimbang juga
penting. (3) Lakukan berbagai aktivitas santai dan menyenangkan untuk
melepaskan stres. Merawat diri secara mental dan fisik selama pandemi, serta
menyediakan lingkungan yang aman bagi anak-anak dan lansia sangatlah
diperlukan. (4) Selama pandemi, masyarakat dapat menjadi sumber dukungan
yang berharga dalam membantu mengatasi kesulitan yang dihadapi individu dan
keluarga. Bentuk dukungan tersebut antara lain memberikan edukasi tentang
promosi kesehatan melalui media online, dukungan psikologis melalui komunitas
online, atau pendampingan psikososial bagi mereka yang terdampak pandemi
COVID-19. (5) Cobalah untuk berbicara dan berhubungan dengan orang-orang
terpercaya tentang semua ketakutan dan kekhawatiran yang dialaminya, yang
dapat dilakukan melalui aplikasi seperti Skype atau Zoom.
Pada penelitian ini ditemukan bahwa usia memiliki hubungan yang
signifikan dengan kebutuhan spiritual dengan nilai sig = 0,007 (p < 0,05).
Sedangkan jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan tidak memiliki hubungan
yang bermakna dengan kebutuhan spiritual (p > 0,05). Dalam penelitian yang
dilakukan oleh Sya’diyah dkk (2020) bahwa semakin tua usia seseorang maka
tingkat kebutuhan spiritual seseorang akan semakin meningkat. Hal ini
dikarenakan bertambahnya usia akan membawa seseorang semakin dekat dengan
kematian dan merasa lemah secara fisik dan mental, sehingga tidak dapat
melakukan aktifitas dan aktivitas secara normal. Kegiatan yang berkaitan dengan
agama anak akan meningkatkan spiritualitas seseorang, khususnya bagi seseorang
yang sudah lanjut usia. Selain itu, seseorang yang usianya semakin dewasa
memiliki pemikiran yang matang untuk memikirkan berbagai hal dan mengambil
tindakan yang diperlukan.15 Dalam Penelitian ini menemukan bahwa usia
memiliki hubungan yang bermakna dengan tingkat kecemasan pasien saat
terdiagnosis COVID-19 dengan nilai sig 0,003 (p < 0,05). Sedangkan jenis
kelamin, pendidikan, dan pekerjaan tidak memiliki hubungan bermakna dengan
tingkat kecemasan (p > 0,05). Menurut PH et al (2018), salah satu hal yang
mempengaruhi tingkat kecemasan seseorang adalah usia. Usia memiliki peran
dalam kecemasan seseorang karena usia mempengaruhi pola pikir seseorang
berdasarkan tahap perkembangannya. Menurut Handayani (2018), umur seseorang
memiliki hubungan dengan tingkat kecemasan.
Pada penelitian ini juga ditemukan adanya hubungan yang signifikan
antara kebutuhan spiritual dengan tingkat kecemasan pasien saat terdiagnosis
COVID-19 dengan nilai sig 0,000 (p < 0,05). Pasien yang terdiagnosis COVID-19
memiliki rasa cemas terhadap situasi yang mereka rasakan. Hal itu karena rasa
takut dan khawatir akan kondisinya akibat virus COVID-19. Selain itu, penyebab
kecemasan pada pasien COVID-19 disebabkan karena memikirkan kondisi
keluarga lain di rumah, penyebaran virus yang cepat, anti virus yang belum
ditemukan, kurangnya pengetahuan tentang COVID-19, kurangnya komunikasi,
dan masalah pemenuhan kebutuhan sehari-hari. -hari, keadaan terisolasi dari
orang lain menyebabkan beban pasien meningkat. Rasa cemas pasien yang tinggi
menyebabkan kebutuhan spiritualnya terganggu.16 Kebutuhan spiritual
merupakan salah satu hal yang dibutuhkan pasien untuk memenuhi kebutuhannya
sendiri. Kebutuhan spiritual merupakan salah satu aspek dasar yang dibutuhkan
manusia yang dapat membantu meningkatkan semangat pasien dalam menjalani
proses penyembuhan, bahkan mengikutsertakan pasien COVID-19 dalam
menjalani pengobatan dan isolasi diri yang menyebabkan berbagai kebutuhan
pemenuhan diri terganggu, termasuk spiritual. kebutuhan. Salah satu rumah sakit
besar di Inggris telah membuat program untuk memenuhi kebutuhan spiritual
pasien COVID-19.
Kesimpulan
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara
kebutuhan spiritual dengan tingkat kecemasan pasien yang terdiagnosis COVID-
19. Pasien yang didiagnosis dengan COVID-19 membutuhkan dukungan spiritual
untuk mengurangi kecemasan mereka. Memberikan edukasi COVID-19 kepada
pasien dan keluarga sangatlah penting. Baik yang melakukan isolasi mandiri
maupun yang sedang dirawat di ruang isolasi. Dukungan tenaga kesehatan selalu
siap membantu menjelaskan kondisi pasien kepada keluarga serta dapat
memberikan motivasi dan dukungan spiritual kepada pasien. Dukungan spiritual
sebagai sarana koping dan mengelola kecemasan sangat diperlukan untuk
menguatkan pasien dan keluarga dalam mengatasi penyakitnya selama pandemi
COVID-19.