0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

PBL Tingkatkan Minat Baca Siswa MTS

Penelitian ini mengeksplorasi penerapan model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan minat baca siswa di MTs Al-Masruriyah Baturraden Banyumas. Melalui tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, model ini berhasil meningkatkan minat baca siswa yang terlihat dari indikator seperti perasaan gembira dan perhatian siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Diunggah oleh

misbah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

PBL Tingkatkan Minat Baca Siswa MTS

Penelitian ini mengeksplorasi penerapan model pembelajaran problem based learning untuk meningkatkan minat baca siswa di MTs Al-Masruriyah Baturraden Banyumas. Melalui tiga tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, model ini berhasil meningkatkan minat baca siswa yang terlihat dari indikator seperti perasaan gembira dan perhatian siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Diunggah oleh

misbah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Merdeka Indonesia Journal International (MIJI)

Vol. 5, No. 2, Desember 2025

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING


DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA DI MTS AL-MASRURIYAH
BATURRADEN BANYUMAS

Nur Aulia Putri, M. Misbah


UIN Prof. K.H. Siafuddin Zuhri Purwokerto
Email: enurauliaputri@[Link], misbah@[Link]

Abstrak
Penelitian ini membahas mengenai implementasi model pembelajaran problem based
learning dalam meningkatkan minat baca siswa pada pembelajaran sejarah
kebudayaan Islam di MTs Al-Masruriyah Baturraden Banyumas. Fokus penelitian
ini yaitu pelaksanaan problem based learning dalam meningkatkan minat baca.
Tujuan penelitian ini yakni untuk mengetahui dan mendeskripsikan penerapan model
pembelajaran problem based learning dalam meningkatkan minat baca siswa pada
pembelajaran sejarah kebudayaan Islam di MTs Al-Masruriyah Baturraden
Banyumas. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan menggunakan pendekatan
kualitatif dan disajikan dalam bentuk deskriptif. Teknik pengumpulan data
menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data
menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi model pembelajaran problem based
learning dalam meningkatkan minat baca siswa melalui tiga tahap yaitu perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi. Tahapan-tahapan tersebut telah disesuaikan dengan
sintaks yang termuat dalam model pembelajaran problem based learning meliputi
orientasi siswa pada masalah, mengorganisasi siswa untuk belajar, membimbing
penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil
karya, dan menganalisis serta mengevaluasi proses pemecahan masalah. Model
pembelajaran ini dapat meningkatkan minat baca siswa yang mana nampak dari
empat indikator, yakni perasaan gembira, minat peserta didik, perhatian peserta
didik, serta ketertarikan peserta didik.

Kata kunci: problem based learning, minat baca, sejarah kebudayaan Islam

Abstract
This study discusses the implementation of the problem based learning model in
improving students reading interest in Islamic cultural history learning at MTs Al-
Masruriyah Baturraden, Banyumas. The focus of this research is the implementation
of problem based learning in increasing students reading interest. The purpose of this
study is to indentifty and describe the application of the problem based learning

Merdeka Indonesia Journal International (MIJI), Vol. 5, No. 2, Desember 2025 699
Nur Aulia Putri, M. Misbah

model in improving students reading interest in Islamic cultural history learning at


MTs Al-Masruriyah Baturraden, Banyumas. This research is a field study using a
qualitative approach and is presented in descriptive form. Data collection techniques
include observasi, interviews, and docummentation. Data analysis techniques consist
of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The result of this study
indicate that the implementation of the problem based learning model in improving
students reading interest is carried out throught three stages: planning,
implementation, and evaluation. These stages are aligned with the syntax of the
problem based learning model. Which includes orienting students to problems,
organizing students for learning, guiding individual and group investigations,
developing and presenting work, and analyzing and evaluating the problem solving
process. This learning model is able to improve students reading interest, as
evidenced by four indicators: feelings of enyoyment, student interest, students
attention, and students engagement.

Keywords: problem based learning, reading interest, Islamic cultural history

Pendahuluan
Pendididikan merupakan salah satu proses untuk meningkatkan kualitas sumber
daya manusia. Pendidikan memiliki peran penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan
bangsa. Pada dasarnya pendidikan adalah suatu proses transformasi ilmu pengetahuan
menuju ke arah peningkatan, pengembangan, dan pembaharuan potensi manusia.
Pendidikan berlansung sepanjang hayat dan bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja
selagi mau dan mampu melakukan proses pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan tidak
hanya sebatas ruang dan waktu di kelas (Roqib, 2021).
Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan sarana utama dalam mengembangkan
potensi yang dimiliki setiap individu siswa. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan
nasional yang telah diterapkan pada Undang-undang RI No 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional yaitu: “Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan
bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman
dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap
dan mandiri, serta rasa bertanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. Tujuan
pendidikan yang tercantum dalam UU tersebut menyiratkan bahwa pendidikan tidak
sekedar bertujuan untuk mentransfer pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk karakter
dan kepribadian siswa agar menjadi manusia yang utuh, baik dari segi intelektual,
spritual, maupun moral (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional, 2003).
Di Indonesia, pendidikan menjadi sebuah perhatian besar dari pemerintahah.
Dimana negara perlu menyiapkan manusia-manusia terdidik untuk menata masa depan
yang baik bagi kehidupan bangsa. Pendidikan memiliki peranan penting dalam menjamin
keberlangsungan hidup bangsa dan negara. Untuk menciptakan terwujudnya tujuan

Merdeka Indonesia Journal International (MIJI), Vol. 5, No. 2, Desember 2025 700
Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Dalam Meningkatkan
Minat Baca Siswa Di Mts Al-Masruriyah Baturraden Banyumas

diatas, maka diperlukan usaha dari pemerintah maupun masyarakat. Usaha yang bisa
dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu tugas
penting yang membutuhkan proses pendidikan yang baik dan terarah. Pendidikan dapat
membentuk suatu negara menjadi lebih kuat karena sumber daya yang ada dapat
mengelola dengan baik. Pendidikan diharapkan menjadi panduan sehingga kegiatan
pembelajaran bisa menarik dan berkembang. Guru sebagai pendidik yang harus memiliki
kemampuan untuk menerapkan metode, model, serta strategi pembelajaran yang efektif
dan efisien.
Dalam mencapai tujuan tersebut, diperlukan proses pembelajaran yang
berkualitas dan inovatif di setiap jenjang pendidikan. Hal ini membutuhkan pembaharuan
dalam model, strategi, dan pendekatan dalam pembelajaran yang diterapkan oleh tenaga
pendidik. Peserta didik dapat belajar lebih banyak ketika mereka lebih terdidik. Dalam
proses pembelajaran, pendidik harus memilih model pembelajaran yang sesuai untuk
digunakan dalam pembelajaran, terutama pembelajaran yang sulit dipahami peserta didik.
Pendidik harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang positif dan menarik serta
efektif. Dalam kegiatan pembelajaran, model pembelajaran juga perlu inovasi agar
peserta didik menjadi berinteraksi dan semangat dalam pembelajaran.
Problem based learning dapat diterapkan sebagai model pembelajaran yang
inovatif yang dapat memberikan dampak peningkatan minat baca peserta
didik(Magdalena dkk., 2020). Model pembelajaran berbasis masalah atau problem based
learning merupakan salah satu model pembelajaran yang bertujuan mendorong siswa
untuk belajar melalui berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari atau
permasalahan yang dikaitakan dengan pengetahuan yang telah atau akan dipelajarinya.
Dengan adanya pembelajaran problem based learning diharapkan akan mewujudkan
tujuan dari pembelajaran, karena pada hakikatnya setiap proses pembelajaran akan selalu
berkaitan dengan penekanan terhadap penguasaan kompetensi tertentu oleh peserta didik
melalui pengalaman belajar. Proses pembelajaran tersebut hendaknya menciptakan
pengalaman yang bersifat mengaktifkan peserta didik dan pembelajaran yang inovatif,
dimana pendidik hendaknya memposisiakan dirinya sebagai fasilitator dalam arti yang
sesungguhnya.
Minat baca merupakan salah satu komponen dalam proses pembelajaran yang
efektif. Minat baca yang tinggi dapat meningkatkan kemampuan kognitif, memperluas
wawasan, serta memperkaya kosakata dan kemampuan(Arumdapta & Fadly, 2024).
Namun, kenyataan di indonesia minat baca di kalangan peserta didik masih rendah.
Menurunnya minat baca dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk metode
pembelajaran yang kurang efektif, serta kurangnya dukungan lingkungan yang kondusif
untuk membaca. Keluarga dan lingkungan juga faktor yang mempengaruhi minat baca.
Sekolah menjadi suatu lembaga yang bertanggung jawab dalam mewujudkan budaya
baca yang merupakan bagian dalam kegiatan belajar. Sekolah harus bisa menfasilitasi
berbagai sarana yang dapat meningkatkan minat baca siswa yakni dengan memanfaatkan
perpustakaan sekolah. Melalui membaca peserta didik dapat memperluas wawasan,
mempertajam gagasan, dan meningkatkan kreativitas.

Merdeka Indonesia Journal International (MIJI), Vol. 5, No. 2, Desember 2025 701
Nur Aulia Putri, M. Misbah

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian
lapangan (field research). Pendekatan kualitatif digunakan untuk memahami fenomena
secara mendalam dalam konteks alami, khususnya terkait implementasi model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan minat baca siswa.
Data yang dihasilkan bersifat deskriptif, berupa kata-kata tertulis yang diperoleh dari hasil
observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan
serta memaknai secara naratif pelaksanaan pembelajaran PBL pada mata pelajaran
Sejarah Kebudayaan Islam (Waruru, 2023).
Penelitian dilaksanakan di MTs Al-Masruriyah Baturraden, yang beralamat di Jl.
Ponpes Al-Masruriyah RT 01 RW 02 Dusun I, Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden,
Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada hasil
observasi awal yang menunjukkan bahwa madrasah tersebut telah menerapkan model
pembelajaran PBL, khususnya pada mata pelajaran SKI. Objek penelitian ini adalah
implementasi model pembelajaran Problem Based Learning dalam meningkatkan minat
baca siswa pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Subjek penelitian meliputi
guru mata pelajaran SKI, yaitu Sukur Setiadi, [Link]., serta peserta didik kelas VII A yang
berjumlah 27 siswa terdiri dari 16 siswa laki-laki dan 11 siswa perempuan. Pemilihan
kelas VII A didasarkan pada hasil pengamatan awal yang menunjukkan rendahnya minat
baca siswa pada kelas tersebut.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi non-partisipan,
wawancara semiterstruktur, dan dokumentasi. Observasi non-partisipan digunakan untuk
mengamati secara langsung proses pembelajaran tanpa keterlibatan aktif peneliti dalam
kegiatan kelas. Wawancara semiterstruktur dilakukan dengan guru dan peserta didik
untuk memperoleh data mendalam terkait penerapan PBL dan dampaknya terhadap minat
baca. Dokumentasi meliputi pengumpulan foto kegiatan, rekaman suara, modul ajar, alur
tujuan pembelajaran, daftar hadir siswa, serta dokumen pendukung lainnya yang relevan
dengan penelitian(Abdussamad, 2021).
Analisis data dilakukan menggunakan model analisis interaktif Miles dan
Huberman, yang mencakup tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan(Wijaya, 2018). Reduksi data dilakukan dengan memfokuskan dan
menyederhanakan data sesuai dengan fokus penelitian. Penyajian data disusun dalam
bentuk uraian naratif yang sistematis agar mudah dipahami. Penarikan kesimpulan
dilakukan secara bertahap dengan memverifikasi temuan hingga diperoleh kesimpulan
yang kredibel dan sesuai dengan tujuan penelitian.

Hasil dan Pembahasan


Hasil penelitian menunjukkan implementasi model pembelajaran problem based
learning pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dalam meningkatkan minat baca
siswa di MTs Al-Masruriyah Baturraden melalui tahapan sebagai berikut:
Tahap Perencanaan

Merdeka Indonesia Journal International (MIJI), Vol. 5, No. 2, Desember 2025 702
Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Dalam Meningkatkan
Minat Baca Siswa Di Mts Al-Masruriyah Baturraden Banyumas

Pada tahap perencanaan, guru menyusun capaian pembelajaran (CP), tujuan


pembelajaran (TP), alur tujuan pembelajaran (ATP), serta modul ajar sesuai Kurikulum
Merdeka. Penerapan PBL difokuskan pada materi tertentu, seperti Khulafaur Rasyidin,
Daulah Umayyah, dan gaya kepemimpinan Umar bin Abdul Azis, dengan menghadirkan
permasalahan kontekstual yang relevan dengan kehidupan peserta didik. Masalah yang
dirancang mendorong siswa untuk membaca berbagai sumber guna memahami konteks
sejarah secara lebih mendalam.
Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan, untuk meningkatkan minat baca siswa pada mata
pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam melalui lima langkah utama PBL, yaitu:
1. Orientasi siswa pada masalah
Pada tahapan mengorientasikan peserta didik terhadap masalah, kegiatan
ini dilakukan dengan guru menyampaikan sebuah permasalahan kontekstual
yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Masalah yang diberikan berupa
pertanyaan namun membutuhkan pemaham mendalam. Peserta didik diminta
untuk mengemukakan pendapat mengenai hal tersebut. Aktivitas ini bertujuan
agar peserta didik memahami persoalan secara mendalam, selain itu juga
memancing rasa ingin tahu siswa. Sehingga mereka perlu membaca sumber
bacaan tambahan seperti buku paket SKI, LKS, atau sumber bacaan lain
tentang sejarah. Pada tahap ini terlihat bahwa siswa mulai menunjukkan
ketertarikan untuk memahami konteks sejarah melalui aktivitas membaca
sebelum berdiskusi.
2. Mengorganisasi siswa untuk belajar
Pada tahap ini, guru akan membagi peserta didik dalam kelompok diskusi.
Guru akan berinteraksi dengan setiap kelompok untuk memastikan bahwa
semua kelompok memahami tugas yang telah diberikan. Peserta didik secara
aktif berdiskusi untuk mencari solusi dari permasalahan yang sudah diberikan
oleh guru sebelumnya. Setiap kelompok diberikan kebebasan mencari
referensi yang relevan baik dari buku paket dan LKS SKI maupun dari
internet. Hal ini untuk mengembangkan keterampilan analisis literasi dalam
membandingkan berbagai perspektif terhadap permasalahan yang dihadapi.
Selain itu tahap ini mendorong siswa untuk membuku lebih banyak referensi
dibanding pembelajaran biasa. Aktivitas literasi meningkat karena siswa
merasa bertanggung jawab mencari data untuk kelompoknya. Mereka tidak
hanya membaca untuk tahu, tetapi membaca untuk memecahkan masalah.
3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
Pada tahap ini, peran guru adalah fasilitator dan untuk mendukung proses
eksplorasi. Guru secara aktif berkeliling kelas, memantau perkembangan
diskusi dari setiap kelompok. Peserta didik secara aktif menggali informasi.
Mereka mulai menentukan inti dari permasalahan dan menentukan arah
pemecahan masalah. Dalam proses penyelidikan, siswa akan bekerjasama
dengan dengan anggota kelompok melalui diskusi dari informasi yang telah

Merdeka Indonesia Journal International (MIJI), Vol. 5, No. 2, Desember 2025 703
Nur Aulia Putri, M. Misbah

mereka kumpulkan. Peserta didik secara aktif menggali fakta sejarah,


mencatat poin penting, dan membandingkan berbagai sumber bacaan. Peserta
didik yang sebelumnya pasif menjadi lebih terlibat karena memiliki peran
dalam kelompok. Diskusi juga lebih hidup karena setiap anggota membaca
hasil bacaan masing-masing. Setelahnya, mereka akan menyelaraskan
informasi menjadi kesimpulan yang logis. Melalui tahapan ini, mereka
merumuskan jawaban atas permasalahan yang diajukan berdasar analisis dan
diskusi kolaboratif.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Pada tahap ini, guru meminta setiap kelompok untuk menyusun hasil
temuan diskusi dalam kertas yang sudah disediakan. Disini guru juga
memastikan setiap anggota kelompok untuk berpartisipasi aktif dalam
merumuskan gagasan penyusunan hasil karya. Setelah dilakukan diskusi maka
peserta didik akan mencapai kesepakatan dari hasil diskusi dan hasilnya siap
untuk dipresentasikan didepan kelas.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Pada tahap ini, guru memberikan kesempatan kepada setiap kelompok
untuk menyampaikan hasil diskusinya didepan kelas. Guru menunjuk secara
acak setiap kelompok. Peserta didik menyampaikan hasil pemikiran mereka
disertai argument yang kuat. Setelah semua telah mempresentasikan hasilnya,
mereka akan menyimpulkan jawaban bersama dengan guru. Guru akan
mencermati pemaparan dari setiap kelompok dan memberikan umpan balik
terhadap jawaban serta menegaskan kembali nilai-nilai moderasi beragama.
Tahap Evaluasi
Tahap evaluasi dilakukan secara menyeluruh melalui evaluasi formatif,
observasi partisipasi siswa, penilaian presentasi hasil diskusi, serta ulangan
harian. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar siswa mampu
memahami materi dengan baik, menyusun analisis yang sistematis, dan
mengemukakan gagasan secara logis. Dokumen hasil diskusi kelompok dan nilai
ulangan harian menjadi bukti bahwa penerapan PBL tidak hanya meningkatkan
pemahaman materi, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kerja sama, dan minat
baca siswa.
Dari langkah-langkah penerapan model pembelajaran problem based learning
dalam meningkatkan minat baca siswa pada mata pelajaran sejarah kebudayaan
Islam berdasarkan teori Safari yang ditulis oleh Holida terdiri dari lima indikator
minat baca(Holida dkk., 2025). Berdasarkan pengamatan dihasilkan temuan
sebagai berikut:
Indikator perasaan gembira, melalui permasalahan yang disajikan pada
materi Khulafaur Rasyidin, Daulah Umayyah, dan Kepemimpinan Umar bin
Abdul Aziz, peserta didik merasa lebih menikmati proses pembelajaran karena
tidak hanya membaca materi secara pasif, tetapi langsung diajak “masuk” ke
dalam kasus atau cerita sejarah yang menarik. Dengan diskusi kelompok dengan

Merdeka Indonesia Journal International (MIJI), Vol. 5, No. 2, Desember 2025 704
Implementasi Model Pembelajaran Problem Based Learning Dalam Meningkatkan
Minat Baca Siswa Di Mts Al-Masruriyah Baturraden Banyumas

model PBL membuat suasana kelas lebih hidup, siswa merasa senang karena bisa
mengekspresikan pendapat, mendengarkan cerita sejarah dari teman lain, dan
menemukan fakta-fakta unik dari masa para khalifah. Rasa gembira ini muncul
karena pembelajaran tidak terasa kaku, tetapi seperti memecahkan teka-teki
sejarah bersama.
Indikator minat peserta didik, setelah diskusi yang dilakukan peserta didik,
membuat siswa tertarik untuk membaca sumber-sumber tambahan agar dapat
menjawab permasalahan yang sedang [Link] ingin memberikan
kontribusi dalam diskusi kelompok, peserta didik terdorong mencari informasi
dari buku teks, artikel, maupun sumber belajar lainnya. PBL secara tidak langsung
membangun keinginan siswa untuk membaca lebih banyak supaya argumentasi
mereka kuat dan relevan.
Indikator perhatian peserta didik, melalui langkah-langkah PBL, siswa
menjadi lebih fokus selama pembelajaran berlangsung. Ketika guru memaparkan
masalah tentang kebijakan Umar bin Abdul Aziz yang dikenal sangat adil atau
perkembangan administrasi pemerintahan Umayyah, peserta didik
memperhatikan setiap penjelasan karena info tersebut akan diperlukan untuk
proses analisis selanjutnya. Diskusi kelompok, penemuan fakta, dan presentasi
hasil analisis mendorong siswa tetap fokus mengikuti alur cerita sejarah. Mereka
memperhatikan detail, tokoh, kronologi, dan peristiwa yang relevan agar tidak
salah dalam menyimpulkan.
Indikator ketertarikan peserta didik, pembelajaran berbasis masalah
membuat peserta didik semakin tertarik menggali lebih jauh materi SKI. Ketika
menemukan hal-hal unik seperti kiprah Umar bin Khattab dalam administrasi
negara, kemajuan ilmiah di masa Umayyah, atau kesederhanaan Umar bin Abdul
Aziz, siswa merasa penasaran dan ingin membaca lebih dalam. Ketertarikan ini
muncul karena masalah yang diberikan guru terasa dekat dengan kehidupan siswa.
Relevansi itulah yang membuat peserta didik terdorong membaca lebih banyak,
membandingkan sumber, dan bahkan bertanya lebih jauh pada guru.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa
implementasi model pembelajaran problem based learning dalam meningkatkan minat
baca siswa dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MTs Al-Masruriyah
Baturraden, Banyumas mencakup langkah-langkah berikut:
1. Orientasi peserta didik terhadap masalah, peserta didik disajikan masalah yang
bersifat konsektual dan relevan dengan materi yang akan diajarkan.
2. Pengorganisasian peserta didik untuk belajar, guru secara aktif berinteraksi
dengan setiap kelompok untuk memastikan bahwa seluruh peserta didik
memahami instruksi dan tujuan dari tugas yang telah diberikan.

Merdeka Indonesia Journal International (MIJI), Vol. 5, No. 2, Desember 2025 705
Nur Aulia Putri, M. Misbah

3. Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok, peserta didik


berdiskusi dengan anggota kelompoknya dengan informasi yang telah berhasil
mereka kumpulkan dari berbagai sumber.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya, peserta didik menyusun hasil
dari proses diskusi dan berpedoman dari informasi yang telah didapat.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah, setiap kelompok
mempresentasikan hasil analisis mereka di hadaoan seluruh kelas kemudian
guru akan mengevaluasi jawaban peserta didik dan memberikan klarifikasi
dengan meluruskan pemahaman.
Secara umum, penerapan model problem based learning terbukti dapat
meningkatkan minat baca dengan beberapa indikator minat baca, seperti perasaan
gembira, minat peserta didik, perhatian peserta didik, dan ketertarikan peserta didik.
Dengan demikian, model pembelajaran ini relevan digunakan dalam pembelajaran SKI
untuk membentuk peserta didik yang aktif, kritis, dan gemar membaca.

Bibliografi
Abdussamad, Z. (2021). Metode Penelitian Kualitatif. CV. Syakir Media Press.
Arumdapta, R., & Fadly, A. (2024). Peningkatan Minat Baca Menggunakan Model
Pembelajaran Problem Based Learning pada Peserta Didik Kelas IX SMP
Muhammadiyah 22 Setiabudi Pamulang Tahun Pelajaran 2023/2024. 1829–
1834.
Holida, N., Habiburrahman, L., & Jannah, R. (2025). Implementasi Gerakan Literasi
Sekolah Dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa Kelas IV Di SD Negeri
1Pemenang Barat Tahun Pelajaran 2023/2024. Ibtida:Jurnal Kajian Pendidikan
Dasar, 15–30.
Magdalena, I., Septiarini, A. A., & Nurhaliza, S. (2020). Penerapan Model-Model
Desain Pembelajaran Madrasah Aliyah Negeri 12 Jakarta Barat. PENSA : Jurnal
Pendidikan dan Ilmu Sosial, Volume 2, Nomor 2, 241–265.
Roqib, M. (2021). Ilmu Pendidikan Islam. LKiS.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. (2003).
Waruru, M. (2023). Pendekatan Penelitian Pendidikan: Metode Penelitian Kualitatif,
Metode Penelitian Kuantitatif dan Metode Penelitian Kombinasi (Mixed
Method). Jurnal Pendidikan Tanbusai, 7, 2896–2910.
Wijaya, H. (2018). Analisis Data Kualitatif Ilmu Pendidikan Teologi. Sekolah Tinggi
Theologia Jaffray.

Merdeka Indonesia Journal International (MIJI), Vol. 5, No. 2, Desember 2025 706

Anda mungkin juga menyukai