HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN
MINUM OBAT PADA PASIEN TBC
PROPOSAL PENELITIAN
DISUSUN OLEH :
RICE RILIYANTI
202122086
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN & PROFESI
NERS SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BAITURRAHIM JAMBI
TAHUN 2022
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
pasien TB terus merus dibiarkan dan tidak diobati maka setelah 5 tahun
sebagian besar (50%) pasien akan meninggal (Kemenkes RI, 2020). Salah
satu cara untuk untuk menekan atau membantu proses penyembuhan pasien
TB adalah dengan cara patuh dalam mengkonsumsi obat-obat TB atau Obat
Anti Tuberkulosis (OAT) (Kemenkes RI, 2020). Pengobatan pada pasien
TBC tidak cukup 1-2 bulan saja tetapi memerlukan waktu lama sehingga
dapat menyebabkan penderita menghentikan pengobatannya sebelum
sembuh, apalagi bila selama pengobatan timbul efek samping (Danusantoso,
2018). Pemberian obat TBC menimbulkan kesembuhan klinis yang lebih
cepat dari kesembuhan bakteriologik dan keadaan ini menyebabkan penderita
mengabaikan penyakit dan pengobatannya(Danusantoso, 2018).
Pengobatan yang tidak adekuat dapat mengakibatkan kuman TB
menjadi resisten terhadap OAT dan dapat menjadi TB Multi Drug Resistence
(MDR). Kegagalan penanggulangan TB-MDR/XDR dapat menimbulkan
fenomena baru yaitu meningkatnya Total Drug Resistance (Baharudin,
2020). Masalah kepatuhan pasien dalam pengobatan merupakan alasan
terjadinya resistensi obat pada pengobatan TB khususnya MDR dan XDR jika
hal ini terus dibiarkan ini dapat menghambat efektivitas program pengobatan
TB (Nizar, 2018).
Kepatuhan atau ketaatan terhadap pengobatan medis adalah suatu
kepatuhan pasien terhadap pengobatan yang telah ditentukan (Notoatmodjo,
2012). Kemenkes RI (2016) mengatakan bahwa kepatuhan pasien TB juga
dinilai dari sejauh mana perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang
diberikan oleh professional kesehatan. Kepatuhan dalam pengobatan sebagai
suatu proses yang dinamis dipengaruhi oleh berbagai faktor (Notoatmodjo,
2012). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat pada
2
pasien TB seperti pengetahuan, sikap, pengaruh efek samping OAT, akses
pelayanan, sikap petugas kesehatan namun faktor yang paling dominan dan
mempengaruhi kepatuhan konsumsi obat OAT adalah dukungan keluarga
(Tukuyo dkk., 2020). Sedangkan Agustin (2018), mengatakan bahwa faktor
pendukung kepatuhan pasien dalam konsumsi obat adalah sikap atau motivasi
individu untuk sembuh, keyakinan, dukungan sosial dan dukungan
emosional, yang didapatkan dari keluarga dan orang orang terdekat.
Dukungan keluarga yang diberikan kepada pasien yang bertujuan untuk
mencapai derajat kesahatan pasien (Agustin, 2018). Tanpa adanya dukungan
keluarga program pengobatan TBC ini sulit dilalukan sesuai jadwal
pengobatan (Kemenkes RI, 2018).
Dukungan keluarga yang didapatkan seseorang akan menimbulkan
perasaan tenang, sikap positif, sehingga seseorang dapat menjaga
kesehatannya dengan baik (Dagun, 2020). Ketika memiliki dukungan
keluarga diharapkan seseorang dapat mempertahankan kondisi kesehatan
psikologisnya dan lebih mudah menrima kondisi serta mengontrol gejolak
emosi yang timbul (Ulfa, 2011). Dukungan keluarga terutama dukungan yang
didapatkan dari orang terdekat akan menimbulkan ketenangan batin dan
perasaan dalam diri seseorang (Friedman, 2017). Dukungan keluarga
mempunyai andil yang besar dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan
yaitu dengan adanya pengawasan dan pemberi dorongan kepada pasien untuk
patuh konsumsi obat OAT (Nizar, 2017).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusumonigrum dkk., pada tahun
(2020) di Kabupaten Bantul tentang hubungan dukungan keluarga dan
kepatuhan minum obat terhadap kesembuhan penderita Tuberkulosis (TB)
dikabupaten Bantul menyimpulkan bahwa ada hubungan antara dukungan
informasional, dukungan instrumental dan dukungan emosional dengan
kepatuhan minum obat pasien TBC (p-value :0,001).
Dikarenakan besarnya pengaruh yang dapat ditimbulkan oleh
dukungan keluarga terhadap kepatuhan minum pada pasien TBC dan
berdasarkan literatur – literatur yang dijabarkan diatas, peneliti tertarik untuk
3
melakukan penelitian studi literatur dengan judul “Hubungan Dukungan
Keluarga dengan Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TBC ”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan yang diuraikan, maka
rumusan masalah pada penelitian ini adalah : “apakah ada hubungan
dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien TBC ?”
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan
kepatuhan minum obat pada pasien TBC
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui gambaran tentang kepatuhan minum obat pada pasien
TBC.
2. Mengetahui gambaran tentang dukungan keluarga kepada pasien
TBC yang sedang mengkonsumsi obat.
3. Mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan
minum obat pada pasien TBC
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Peneliti
Dapat menambah wawasan peneliti tentang hubungan
dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien
[Link] menerapkan ilmu pengetahuan tentang metodelogi
penelitian.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
Dapat menambah informasi yang dapat dijadikan sebagai
bahan masukan bagi akademik dalam pengembangan pembelajaran
dan bahan acuan untuk penelitian selanjutnya.
4
1.4.3 Bagi Petugas Kesehatan
Dapat dijadikan sebagai bahan dalam memberikan informasi
kepada masyarakat tentang hubungan dukungan keluarga dengan
kepatuhan minum obat pada pasien TBC
5
BAB II
TINJAUAN TEORI
2. 1 Konsep Tuberkulosis
2.1.1 Pengertian Tuberkulosis Paru
Beberapa pengertian tuberkulosis paru dari berbagai sumber,
sebagai berikut :
1. Tuberkulosis adalah suatu penyakit granulomatosa kronik menular
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini
biasanya mengenai paru, tetapi mungkin menyerang semua organ
atau jaringan ditubuh (Wahid & Suprapto, 2021.
2. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksius, yang terutama
menyerang parekim paru. Tuberkulosis dapat juga ditularkan ke
bagian tubuh lainnya, termasuk meningitis, ginjal, tulang, dan
nodus limfe. Agens infeksius utama Mycobacterium tuberculosis,
adalah batang aerobik tahan asam yang tumbuh dengan lambat dan
sensitif terhadap panas dan sinar ultraviolet . Mycobaterium Bovis
dan Mycobacterium Avium pernah, pada kejadian yang jarang,
berkaitan dengan terjadinya infeksi tuberkulosis (Smeltzer dan
Bare, 2013).
3. Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Kuman batang
aerobik dan tahan asam ini, dapat merupakan organisme patogen
maupun saprofit (Sembiring, 2016).
Berdasarkan beberapa definisi tersebut diatas maka dapat
disimpulkan bahwa tuberkulosis paru adalah suatu penyakit infeksi
yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang terutama
menyerang paru-paru, tetapi tidak menutup kemungkinan juga dapat
ditularkan ke organ lain seperti otak, ginjal, tulang dan lain
6
7
2.1.2 Klasifikasi Tuberkulosis
Agustin (2018) membagi klasifikasi TB kedalam beberapa
klasifikasi sebagai berikut :
1. Tuberkulosis paru (Agustin, 2018).
2. Bekas tuberkulosis paru (Agustin, 2018).
3. Tuberkulosis paru tersangka, yang terbagi dalam :
a. Tuberkulosisi paru tersangka yang diobati. Disini sputum BTA
negatif tetapi tana-tanda lain positif (Agustin, 2018).
b. Tuberkulosisi paru yang tidak terobati. Disini sputum BTA
negatif dan tanda-tanda lain juga meragukan (Agustin, 2018).
TB tersangka dalam 2-3 bulan sudah harus dipastikan
apakah termasuk TB paru (aktif) atau bekas TB paru. Dalam
klasifikasi ini perlu dicantumkan status bakteriologi, mikroskopik
sputum BTA (langsung), biakan sputum BTA, status radiologis,
kelainan yang relevan untuk tuberkulosis paru, status kemoterapi,
riwayat pengobatan dengan obat anti tuberkulosis (Agustin, 2018).
2.1.3 Manifestasi klinik
Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-
macam atau bahkan banyak pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan
sama sekali dalam pemeriksaan kesehatan. Menurut Sudoyono (2020),
keluhan yang terbanyak adalah demam, batuk/batuk darah, sesak nafas,
nyeri dada, dan malaise. Berikut penjelasan dari masing-masing
keluhan tersebut :
1. Demam
Biasanya subfebril meyerupai demam influenza. Tetapi
kadang- kadang panas badan dapat mencapai 40-41 oC. Serangan
demam pertama dapat sembuh sebentar, tetapi kemudian dapat
timbul kembali (Sudoyono, 2020).
2. Batuk/Batuk darah
Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini
8
diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar. Sifat
batuk dimulai dari batuk kering kemudian setelah timbul
peradangan menjadi produktif. Keadaan yang lanjut adalah berupa
batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah
(Sudoyono, 2020).
3. Sesak nafas
Sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah
lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru
(Sudoyono, 2020).
4. Nyeri dada
Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke
pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi gesekan kedua
pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya (Sudoyono,
2020).
5. Malaise
Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia tidak ada
nafsu makan, badan makin kurus, sakit kepala, meriang, nyeri otot,
keringat malam, dll (Sudoyono, 2020).
Pada stadium dini penyakit tuberkulosis paru biasanya tidak
tampak adanya tanda atau gejala yang khas. Tuberkulosis paru dapat
didiagnosis hanya dengan tes tuberkulin, pemeriksaan radiogram dan
pemeriksaan bakteriologik (Sudoyono, 2020).
2.1.4 Cara Penularan Tuberkulosis (TBC)
Mycobacterium tuberculosis ditularkan dari orang ke orang
melalui jalan pernapasan, pada waktu batuk/bersin (Sembiring, 2016).
Setiap kali seorang yang menderita TB Paru batuk, maka akan
dikeluarkan 3000 droplet infektif (memiliki kemampuan menginfeksi)
(Sembiring, 2016). Partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara
bebas selama 1-2 jam, bahkan dapat bertahan berhari-hari sampai
berbulan-bulan tergantung pada ada tidaknya sinar ultra violet. Setelah
9
kuman tuberkulosis masuk kedalam tubuh manusia melalui pernapasan,
kuman tuberkulosis tersebut dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya,
melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran
pernapasan/menyebar langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya
(Sembiring, 2016).
Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh
banyaknya kuman yang ditularkan dari parunya, makin tinggi derajat
positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut.
Hasil pemeriksaan dahak negative (tidak terlihat kuman) maka
penderita tersebut dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang
terinfeksi tuberkulosis ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara
dan lamanya menghirup udara tersebut. Kemungkinan seseorang
menjadi penderita tuberkulosis adalah daya tahan tubuh yang rendah
(Sembiring, 2016).
Tidak semua pasien TB Paru akan menularkan penyakitnya,
pasien TB Paru yang dapat menularkan penyakitnya ke orang lain
adalah seseorang pasien yang pada pemeriksaan dahak secara
mikroskopik ditemukan BTA sekurang-kurangnya 2 kali dari 3 kali
pemeriksaan atau disebut BTA Positif (Sembiring, 2016). Seorang
pasien TB yang pada pemeriksaan dahak secara mikroskopik 3 kali
tidak ditemukan BTA tetapi pada pemeriksaan radiologi ditemukan
kelainan yang mengarah pada TB aktif maka disebut BTA Negatif,
BTA Negatif yang telah diobati selama 2 minggu kecil
kemungkinannya menularkan penyakitnya ke orang lain. BTA Negatif
diperkirakan akan menjadi BTA Positif dalam jangka waktu 2 tahun
bila tidak diobati (Kemenkes RI, 2015).
2.1.5 Pengobatan TB
Muttaqin (2018)mengatakan bahwa, pentalaksanaan tuberkulosis
paru menjadi tiga bagian, yaitu pencegahan, pengobatan, dan penemuan
penderita (active case finding).
10
1. Pencegahan Tuberkulosis Paru
a. Pemeriksaan kontrak,
Pemeriksaan kontrak,yaitu pemeriksaan terhadap
individu yang bergaul erat dengan penderita tuberkulosis paru
Basil Tahan Asam (BTA) positif. Pemeriksaan meliputi tes
tuberkulin, klinis, dan radiologi. Bila tes tuberkulin postif,
maka pemeriksaan radiologis foto toraks diulang pada 6 dan 12
bulan mendatang. Bila masih negatif, diberikan Bacillus
Calmette dan Guerin (BCG) vaksinasi. Bila positif, berarti
terjadi konversi hasil tes tuberkulin dan diberikan
kemoprofilaksi (Muttaqin, 2018).
b. Mass chest X-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap
kelompok- kelompok populasi tertentu (Muttaqin, 2018).
c. Vaksinasi BCG (Bacillus Calmette dan Guerin)
Mutaqin (2018 mengatakan bahwa, kemoprofilaksis
dengan menggunakan INH (Isoniazid) 5 % mg/kgBB selama
6-12 bulan dengan tujuan menghancurkan atau mengurangi
populasi bakteri yang masih sedikit. Indikasi kemoprofilaksis
primer atau utama ialah bayi menyusui pada ibu dengan BTA
positif , sedangkan kemoprofilaksis sekunder diperlukan bagi
kelompok berikut:
1) Bayi di bawah 5 tahun dengan basil tes tuberkulin positif
karena resiko timbulnya TB milier dan meningitis TB
(Muttaqin, 2018).
2) Anak remaja dibawah 20 tahun dengan hasil tuberkulin
positif yang bergaul erat dengan penderita TB yang
menular (Muttaqin, 2018).
3) Individu yang menunjukkan konversi hasil tes tuberkulin
dari negatif menjadi positif (Muttaqin, 2018).
4) Penderita yang menerima pengobatan steroid atau obat
imunosupresif jangka panjang (Muttaqin, 2018).
11
5) Penderita diabetes melitus (Muttaqin, 2018).
2. Komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang tuberkulosis
kepada masyarakat di tingkat puskesmas maupun petugas LSM
(misalnya Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Paru
Indonesia-PPTI) (Muttaqin, 2018).Pengobatan Tuberkulosis Paru
Program nasional pemberatasan tuberkulosis paru,
Kemenkes RI (2015), menganjurkan panduan obat sesuai dengan
kombinasi obat dan kategori penyakit.
a. Kombinasi obat
Kemenkes RI (2015) membuat regulasi bagi penderita
TBC harus diberikan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) yang terdiri
dari kombinasi beberapa obat diantaranya adalah sebagai berikut
:
1) Isoniasid (H)
Dikenal dengan INH, bersifat bakterisid, dapat
membunuh kuman 90% populasi kuman dalam beberapa hari
pertama pengobatan. Obat ini sangat efektif terhadap kuman
dalam keadaan metabolik aktif, yaitu kuman yang sedang
berkembang. Dosis harian yang dianjurkan 5 mg/kg BB,
sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali seminggu
diberikan dengan dosis 10 mg/kg BB (Kemenkes RI, 2015).
2) Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid dapat membunuh kuman semi-
dormant (persister) yang tidak dapat dibunuh oleh Isoniasid.
Dosis 10 mg/kg BB diberikan sama untuk pengobatan harian
maupun intermiten 3 kali seminggu (Kemenkes RI, 2015).
3) Pirasinamid (Z)
Bersifat bakterisid, yang dapat membunuh kuman
yang berada dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian
yang dianjurkan 25 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan
intermiten 3 kali seminggu diberikan dengan dosis 35 mg/kg
12
BB (Kemenkes RI, 2015).
4) Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid. Dosis harian yang dianjurkan 15
mg/kg BB sedangkan untuk pengobatan intermiten 3 kali
seminggu digunakan dosis yang sama. Penderita berumur
sampai 60 tahun dosisnya 0,75g/hari, sedangkan untuk
berumur 60 atau lebih diberikan 0,50g/hari (Kemenkes RI,
2015).
5) Etambutol (E)
Bersifat sebagai bakteriostatik. Dosis harian yang
dianjurkan 15 mg/kg BB, sedangkan untuk pengobatan
intermiten 3 kali seminggu digunakan dosis 30 mg/kg BB
(Kemenkes RI, 2015).
b. Kategori obat
Kategori didasarkan pada urutan kebutuhan pengobatan,
sehingga penderita dibagi dalam empat kategori antara lain,
sebagai berikut :
1) Kategori I
Tahap intensif setiap hari Tahap lanjutan 3
RHZE (150//75/400/275) kali seminggu RH
Berat Badan
(150/150)
Selama 56 hari Selama 16 minggu
30-37 KG 2 tablet 4KDT 2 tablet 2 KDT
38-54 KG 3 tablet 4KDT 3 tablet 2 KDT
55-70 KG 4 tablet 4KDT 4 tablet 2 KDT
> 57 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2 KDT
2) Kategori II
TAHAP
BERAT TAHAP INTENSIF SETIAP HARI RHZE LANJUTAN
BADAN (150/75/400/275)+S SETIAP HARI
RHE (150/75/275)
30-37 KG 2 TAB 4 KDT +500 mg 2 TAB 4 KDT 2 tablet
Streptomisin Inj
38-54 KG 3 TAB 4 KDT +750 mg 3 TAB 4 KDT 3 tablet
Streptomisin Inj
55-70 KG 4 TAB 4 KDT +1000 mg 4 TAB 4 KDT 4 tablet
Streptomisin Inj
> 57 kg 5 TAB 4 KDT +1000 mg 5 TAB 4 KDT 5 tablet
Streptomisin Inj
13
3) Kategori III
Kategori III untuk kasus dengan sputum negatif tetapi
kelainan parunya tidak luas dan kasus tuberkulosis luar paru
selain yang disebut dalam kategori I, pengobatan yang
diberikan adalah 2HRZ/6 HE, 2HRZ/4 HR, 2HRZ/4 H3R3
(Kemenkes RI, 2015).
4) Kategori IV
Kategori ini untuk tuberkulosis kronis. Prioritas
pengobatan rendah karena kemungkinan pengobatan kecil
sekali. Negara kurang mampu dari segi kesehatan
masyarakat dapat diberikan H saja seumur hidup, sedangkan
negara maju pengobatan secara individu dapat dicoba
pemberian obat lapis 2 seperti Quinolon, Ethioamide,
Sikloserin, Amikasin, Kanamisin, dan sebagainya
(Kemenkes RI, 2015).
2. 2 Konsep Kepatuhan
2.2.1 Pengertian Kepatuhan
Kepatuhan atau ketaatan (compliance/adherence) adalah tingkat
pasien melaksanakan cara pengobatan dan perilaku yang disarankan
oleh dokternya atau orang lain (Notoatmodjo, 2012). Kepatuhan
adalah derajat dimana pasien mengikuti anjuran klinis dari dokter
yang mengobatinya (Caplan, dalam Priyoto, 2014). Sedangkan
menurut Priyoto (2014), kepatuhan adalah secara sederhana sebagai
perluasan perilaku individu yang berhubungan dengan minum obat,
mengikuti diet dan merubah gaya hidup yang sesuai dengan petunjuk
medis.
Penderita yang patuh berobat adalah yang menyelesaikan
pengobatan secara teratur dan lengkap tanpa terputus selama minimal
6 bulan sampai 9 bulan. Penderita dikatakan lalai jika tidak datang
lebih dari 3 hari sampai 2 bulan dari tanggal perjanjian dan dikatakan
14
Droup Out jika lebih dari 2 bulan berturut-turut tidak datang berobat
setelah dikunjungi petugas kesehatan (Priyoto, 2014).
Priyoto (2014) mengatakan bahwa pengobatan yang memerlukan
jangka waktu yang panjang akan memberikan pengaruh-pengaruh
pada penderita seperti :
1. Merupakan suatu tekanan psikologis bagi seorang penderita tanpa
keluhan atau gejala penyakit saat dinyatakan sakit dan harus
menjalani pengobatan sekian lama (Priyoto, 2014).
2. Bagi penderita dengan keluhan atau gejala penyakit setelah
menjalani pengobatan 1-2 bulan atau lebih, keluhan akan segera
berkurang atau hilang sama sekali penderita akan merasa sembuh
dan malas untuk meneruskan pengobatan kembali (Priyoto, 2014).
3. Datang ke tempat pengobatan selain waktu yang tersisa juga
menurunkan motivasi yang akan semakin menurun dengan
lamanya waktu pengobatan (Priyoto, 2014).
4. Pengobatan yang lama merupakan beban dilihat dari segi biaya
yang harus dikeluarkan (Priyoto, 2014).
5. Efek samping obat walaupun ringan tetap akan memberikan rasa
tidak nyaman terhadap penderita (Priyoto, 2014).
6. Sukar untuk menyadarkan penderita untuk terus minum obat
selama jangka waktu yang ditentukan (Priyoto, 2014).
Karena jangka waktu yang ditetapkan lama maka terdapat
beberapa kemungkinan pola kepatuhan penderita yaitu penderita
berobat teratur dan memakai obat secara teratur, penderita tidak
berobat secara teratur (defaulting) atau penderita sama sekali tidak
patuh dalam pengobatan yaitu putus berobat atau droup out
(Kemenkes RI, 2015). Oleh karena itu Priyoto (2014), mengatakan
kepatuhan penderita dapat dibedakan menjadi:
1. Kepatuhan penuh (Total compliance)
Pada keadaan ini penderita tidak hanya berobat secara
teratur sesuai batas waktu yang ditetapkan melainkan juga patuh
15
memakai obat secara teratur sesuai petunjuk (Priyoto, 2014).
2. Penderita yang sama sekali tidak patuh (Non compliance)
Yaitu penderita yang putus berobat atau tidak menggunakan
obat sama sekali (Priyoto, 2014).
2.2.2 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kepatuhan
Skiner dalam Notoatmodjo (2012), bahwa kepatuhan penderita
TBC minum obat secara teratur adalah merupakan tindakan yang
nyata dalam bentuk kegiatan yang dapat dipengaruhi oleh faktor
dalam diri penderita (faktor internal) maupun dari luar (eksternal).
Faktor internal yaitu umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,
penghasilan, pengetahuan, sikap dan kepercayaan. Sedangkan faktor
eksternal yaitu, dukungan keluarga, peran petugas, lama minum obat,
efek samping obat, tersedianya obat serta jarak tempat tinggal yang
jauh.
1. Faktor penderita atau individu
a. Sikap atau motivasi individu ingin sembuh
Motivasi atau sikap yang paling kuat adalah dari individu
sendiri. Motivasi individu ingin tetap mempertahankan
kesehatannya sangat berpengaruh terhadap faktor-faktor yang
berhubungan dengan perilaku penderita dalam kontrol
penyakitnya (Notoatmodjo, 2012).
b. Keyakinan
Keyakinan merupakan dimensi spiritual yang dapat
menjalani kehidupan. Penderita yang berpegangan teguh
terhadap keyakinannya akan memiliki jiwa yang tabah dan tidak
mudah putus asa serta dapat menerima keadaannya, demikian
juga cara perilaku akan lebih baik. Kemampuan untuk
melakukan kontrol penyakitnya dapat dipengaruhi oleh
keyakinan penderita, dimana penderita memiliki keyakinan yang
kuat akan lebih tabah terhadap anjuran dan larangan jika
16
mengetahui akibatnya (Notoatmodjo, 2012).
2. Dukungan keluarga
Dukungan keluarga merupakan bagian dari penderita yang
paling dekat dan tidak dapat dipisahkan. Penderita akan merasa
senang dan tentram apabila mendapat perhatian dan dukungan dari
keluarganya, karena dengan dukungan tersebut akan menimbulkan
kepercayaan dirinya untuk menghadapi atau mengelola
penyakitnya dengan lebih baik, serta penderita mau menuruti saran-
saran yang diberikan oleh keluarga untuk menunjang pengelolaan
penyakitnya (Friedman, 2017).
3. Dukungan sosial
Dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari
anggota keluarga lain merupakan faktor-faktor yang penting dalam
kepatuhan terhadap program-program medis. Keluarga dapat
mengurangi ansietas yang disebabkan oleh penyakit tertentu dan
dapat mengurangi godaan terhadap ketidaktaatan (Friedman, 2017).
4. Dukungan petugas kesehatan
Dukungan petugas kesehatan merupakan faktor lain yang
dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan. Dukungan mereka
terutama berguna saat pasien menghadapi bahwa perilaku sehat
yang baru tersebut merupakan hal penting, begitu juga mereka
dapat mempengaruhi perilaku pasien dengan cara menyampaikan
antusias mereka terhadap tindakan tertentu dari pasien, dan secara
terus menerus memberikan penghargaan yang positif bagi pasien
yang telah mampu beradaptasi dengan program pengobatannya
(Friedman, 2017).
Pengobatan dilakukan setiap hari dan dalam jangka panjang,
sehingga kepatuhan minum obat (adherence) juga sering menjadi
masalah yang harus dipikirkan sejak awal pengobatan. Minum obat
yang tidak rutin terbukti telah menyebabkan resistensi obat yang dapat
menyebabkan kegagalan pengobatan (Kemenkes RI, 2015).
17
2. 3 Konsep Keluarga
2.3.1 Pengertian Keluarga
Keluarga adalah bentuk sosial yang utama yang merupakan
tempat untuk peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
(Harlinawati, 2013). Sedangkan menurut Friedman (2017), keluarga
adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan
kebersamaan dan ikatan emosional dan yang mengidentifikasikan diri
mereka sebagai bagian dari keluarga.
Adanya suatu penyakit yang serius dan kronis pada diri
seseorang anggota keluarga biasanya memiliki pengaruh yang
mendalam pada sistem keluarga, khususnya pada struktur perannya
dan pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga. Sebaliknya, efek
menghancurkan, secara negatif bisa mempengaruhi hasil dari upaya-
upaya pemulihan atau rehabilitasi (Friedman, 2017).
2.3.2 Struktur Kekuatan Keluarga
Friedman (2017) mengatakan bahwa terdapat struktur
kekuatan keluarga yaitu terdiri dari pola dan proses komunikasi dalam
keluarga, struktur peran, struktur kekuatan keluarga dan nilai-nilai
dalam keluarga. Keluarga yang mempunyai struktur kekuatan
keluarga yang masing-masing berjalan dengan baik maka sistem
didalamnya akan berjalan dengan baik pula (Friedman ,2017).
1. Tipe struktur kekuatan:
a. Legitimate power/authority (hak untuk mengontrol, seperti
orang tua terhadap anak) (Friedman ,2017).
b. Referent power (seseorang yang ditiru) (Friedman ,2017).
c. Resource or expert power (pendapat ahli) (Friedman ,2017).
d. Reward power (pengaruh kekuatan karena adanya harapan yang
akan diterima) (Friedman ,2017).
e. Coercive power (pengaruh yang dipaksakan sesuai
keinginannya) (Friedman ,2017).
f. Informational power (pengaruh yang dilalui melalui proses
18
persuasi) (Friedman ,2017).
g. Affective power (pengaruh yang diberikan melalui manipulasi
dengan cinta kasih) (Friedman ,2017).
2. Nilai-nilai keluarga
Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang
secara sadar atau tidak, mempersatukan anggota keluarga dalam
suatu budaya. Nilai keluarga juga merupakan suatu pedoman
perilaku dan pedoman bagi perkembangan norma dan peraturan.
Norma adalah pola perilaku yang baik menurut masyarakat
berdasarkan sistem nilai dalam keluarga. Budaya adalah kumpulan
dari pola perilaku yang dapat dipelajari, dibagi dan ditularkan
dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah (Friedman ,2017).
2.3.3 Sistem Keluarga
Keluarga dipandang sebagai sistem sosial terbuka yang ada
dan berinteraksi dengan sistem yang lebih besar (suprasistem) dari
masyarakat (misalnya : politik, agama, sekolah dan pemberian
pelayanan kesehatan) (Friedman ,2017). Sistem keluarga terdiri
dari bagian yang saling berhubungan (anggota keluarga) yang
membentuk berbagai macam pola interaksi (subsistem). Seperti
pada seluruh sistem, sistem keluarga mempunyai tujuan yang
berbeda berdasarkan tahapan dalam siklus hidup keluarga, nilai
keluarga dan kepedulian individual anggota keluarga
(Friedman ,2017).
2.3.4 Tugas Kesehatan Keluarga
Harlinawati (2013) mengatakan bahwa keluarga dipandang
sebagai suatu sistem, maka gangguan yang terjadi pada salah satu
anggota keluarga dapat mempengaruhi seluruh sistem. Keluarga
juga sebagai suatu kelompok yang dapat menimbulkan, mencegah,
mengabaikan atau memperbaiki masalah-masalah kesehatan dalam
kelompoknya. Untuk itu, keluarga mempunyai beberapa tugas
kesehatan yang harus dilakukan untuk meningkatkan derajat
19
kesehatan anggota keluarga, yaitu :
1. Mengenal gangguan kesehatan setiap anggotanya : keluarga
mengetahui mengenai fakta-fakta dari masalah kesehatan yang
meliputi pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan yang
mempengaruhinya serta persepsi keluarga terhadap masalah
(Harlinawati, 2013).
2. Mengambil keputusan untuk tindakan yang tepat : keluarga
mengetahui mengenai sifat dan luasnya masalah sehingga
keluarga mampu mengambil keputusan yang tepat untuk
menyelesaikan masalah kesehatan yang sedang dialami
keluarganya (Harlinawati, 2013).
3. Memberikan perawatan kepada anggota keluarganya ketika sakit
: keluarga mengetahui upaya pencegahan penyakit, manfaat
pemeliharaan lingkungan, pentingnya sikap keluarga terhadap
pemeliharaan kesehatan (Harlinawati, 2013).
4. Mempertahankan suasana yang menguntungkan untuk kesehatan
(Harlinawati, 2013).
5. Mempertahankan hubungan timbal balik antara anggota
keluarga dan lembaga kesehatan (Harlinawati, 2013).
2.3.5 Fungsi Keluarga
Friedman (2017 mengatakan bahwa , terdapat lima fungsi dasar
keluarga yaitu fungsi afektif, sosialisasi, reproduksi, ekonomi dan
perawatan keluarga.
1. Fungsi afektif : berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan
psikososial keluarga. Setiap anggota keluarga akan
mengembangkan sikap saling menghormati, saling menyayangi
dan mencintai, dan akan mempertahankan hubungan yang akrab
dan intim sesama anggota keluarga sehingga masing-masing
anggota keluarga akan dapat mengembangkan konsep diri yang
positif. Kebahagiaan dan kegembiraan mengindikasikan bahwa
fungsi afektif keluarga berhasil dicapai (Friedman ,2017).
20
2. Fungsi sosialisasi : adalah proses perkembangan dan perubahan
yang dilalui individu sepanjang kehidupannya, sebagai respon
terhadap situasi yang terpola dari lingkungan sosial. Fungsi ini
dapat dicapai melalui interaksi dan hubungan yang harmonis
sesama anggota keluarga. Sehingga masing-masing anggota
keluarga mampu menerima suatu tugas dan peran dalam keluarga
(Friedman ,2017).
3. Fungsi reproduksi : keluarga berfungsi untuk menjaga
kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia
(Friedman ,2017).
4. Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk menyediakan
sumber-sumber ekonomi yang memadai dan mengalokasikan
sumber-sumber dana atau keuangan yang cukup, maka tidak
jarang keluarga tidak membawa penderita ke pelayanan kesehatan
(Friedman ,2017).
5. Fungsi perawatan kesehatan adalah bagaimana kemampuan
keluarga untuk mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada
pasien dan kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang
sakit (Friedman ,2017).
2.3.6 Peran Keluarga
Friedman (2017) mengatakan bahwa, peran keluarga dibagi
menjadi dua bagian peran yaitu, peran formal dan informal :
1. Peran formal
Peran formal keluarga antara lain provider/penyedia,
pengatur rumah tangga, perawatan anak, sosialisasi anak, rekreasi,
persaudaraan, terapeutik (memenuhi kebutuhan afektif) dan seksual
(Friedman, 2017).
2. Peran informal
Peran informal biasanya untuk memenuhi kebutuhan
emosional individu dan menjaga keseimbangan dalam keluarga.
Peran tersebut berupa : pendorong, pengharmonis, inisiator-
21
konstributor, pendamai, penghalang, dominator, penyalah,
pengikut, pencari pengakuan, perawat keluarga, pioneer keluarga,
koordinator keluarga, penghubung keluarga dan saksi (Friedman,
2017).
Peran keluarga dilakukan secara bersama-sama dengan
anggota dari suatu kelompok/keluarga dan tidak dilakukan secara
terpisah. Akan tetapi pada kenyataannya, terkadang peran itu
berubah seiring dengan terjadinya perubahan kondisi dan situasi.
Hal ini dapat diketahui apabila salah satu anggota keluarga sakit.
Maka dibutuhkan kemampuan keluarga dalam hal pengetahuan,
pembuatan keputusan tentang kesehatan, tindakan untuk mengatasi
penyakit atau perawatan dan penggunaan layanan kesehatan
(Friedman, 2017).
2.3.7 Dukungan Keluarga
1. Pengertian Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga merupakan bantuan yang dapat
diberikan kepada keluarga lain berupa barang, jasa, informasi dan
nasehat, yang mana membuat penerima dukungan akan merasa
disayangi, dihargai, dan tentram (Taylor, 2012). Dukungan
keluarga sangat dibutuhkan dalam menentukan kepatuhan
pengobatan, jika dukungan keluarga diberikan pada pasien TB Paru
maka akan memotivasi pasien tersebut untuk patuh dalam
pengobatannya dan meminum obat yang telah diberikan oleh
petugas kesehatan. Sejumlah orang lain yang potensial memberikan
dukungan tersebut disebut sebagai significant other, misalnya
sebagai seorang istri significant other nya adalah suami, anak,
orang tua, mertua, dan saudara-saudara.
Friedman (2017), berpendapat orang yang hidup dalam
lingkungan yang bersifat suportif, kondisinya jauh lebih baik dari
pada mereka yang tidak memiliki lingkungan suportif. Dalam hal
ini, penting sekali bagi pasien TB Paru untuk berada dalam
22
lingkungan keluarga yang mendukung kesehatannya, sehingga
pasien TB Paru akan selalu terpantau kesehatannya. Dukungan
keluarga mengacu kepada dukungan-dukungan yang dipandang
oleh anggota keluarga sebagai suatu yang dapat diakses/diadakan
untuk keluarga (dukungan bisa digunakan atau tidak digunakan,
tapi anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat
mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika
diperlukan).
2. Sumber Dukungan
Sumber dukungan keluarga dapat berupa :
a. Dukungan keluarga internal : seperti dukungan dari suami
(memberikan kepedulian, cinta dan memberikan kenyamanan),
orang tua, mertua dan dukungan dari keluarga kandung
(Friedman, 2017).
b. Dukungan keluarga eksternal : yaitu dukungan keluarga
eksternal bagi keluarga inti (dalam jaringan kerja sosial
keluarga) (Friedman, 2017).
3. Jenis Dukungan
Friedman (2017) menjelaskan 4 jenis dukungan keluarga,
yaitu :
a. Dukungan emosional :
yaitu mengkomunikasikan cinta, peduli, percaya pada
anggota keluarganya (pasien TBC). Keluarga sebagai sebuah
tempat yang aman dan damai untuk istirahat dan pemulihan
serta membantu penguasaan terhadap emosi. Jenis dukungan
ini dilakukan melibatkan ekspresi rasa empati, peduli terhadap
seseorang sehingga memberikan perasaan nyaman, membuat
individu merasa lebih baik. Individu memperoleh kembali
keyakinan diri, merasa dimiliki serta merasa dicintai pada saat
mengalami stres (Friedman ,2017). Dalam hal ini orang yang
merasa memperoleh social support jenis ini akan merasa lega
23
karena diperhatikan, mendapat saran atau kesan yang
menyenangkan pada dirinya (Friedman, 2017).
b. Dukungan instrumental :
yaitu membantu orang secara langsung mencakup
memberi uang dan tugas rumah. Dukungan instrumental ini
mengacu pada penyediaan barang, atau jasa yang dapat
digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis.
Harlinwati (2013) menyatakan pemberian dukungan
instrumental meliputi penyediaan pertolongan finansial
maupun penyediaan barang dan jasa lainnya. Jenis dukungan
ini relevan untuk kalangan ekonomi rendah. Keluarga
merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan konkrit.
diantaranya : kesehatan pasien TBC dalam hal ketaatan pasien
TBC dalam berobat dengan membantu biaya berobat, istirahat,
serta terhindarnya pasien TBC dari kelelahan.
c. Dukungan Informasi :
aspek-aspek dalam dukungan ini adalah memberikan
nasehat, usulan, saran, petunjuk dan pemberiainformasi.
Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan diseminator
(penyebar) informasi tentang dunia. Menjelaskan tentang
pemberian saran, sugesti, informasi yang dapat digunakan
untuk mengungkapkan suatu masalah. Manfaat dari dukungan
ini adalah dapat menekan munculnya suatu stressor karena
informasi yang diberikan dapat menyumbangkan aksi sugesti
yang khusus pada individu. Keluarga menceritakan cara
menolong agar dapat mendefinisikan suatu informasi untuk
mengetahui hal-hal untuk orang lain. Diantaranya :
memberikan nasehat terkait pentingnya pengobatan yang
sedang dijalani dan akibat dari tidak patuh dalam minum obat
(Friedman, 2017).
24
d. Dukungan penghargaan :
jenis dukungan ini terjadi lewat ungkapan penghargaan
yang positif untuk individu, dorongan maju atau persetujuan
dengan gagasan atau perasaan individu lain. Dalam hal ini
keluarga bertindak sebagai sebuah bimbingan umpan balik,
membimbing dan menengahi perpecahan masalah dan sebagai
sumber dan validator identitas keluarga. Membantu orang
belajar tentang dirinya sendiri dan menjadi seseorang pada
situasi yang sama atau pengalaman yang serupa, mirip dalam
berbagai cara penting atau membuat perasaan dirinya didukung
oleh karena berbagai gagasan dan perasaan (Friedman, 2017).
4. Manfaat Dukungan Keluarga
Dukungan sosial keluarga adalah sebuah proses yang
terjadi sepanjang masa kehidupan, sifat dan jenis dukungan sosial
berbeda- beda dalam berbagai tahap-tahap siklus kehidupan.
Namun demikian, dalam semua tahap siklus kehidupan, dukungan
sosial keluarga membuat keluarga mampu berfungsi dengan
berbagai kepandaian dan akal. Sebagai akibatnya, hal ini
meningkatkan kesehatan dan adaptasi keluarga (Friedman, 2017).
Wills (1985) dalam Friedman (2017), menyimpulkan
bahwa baik efek-efek penyangga (dukungan sosial menahan efek-
efek negatif dari stres terhadap kesehatan) dan efek-efek utama
(dukungan sosial secara langsung mempengaruhi akibat-akibat dari
kesehatan) pun ditemukan. Sesungguhnya efek-efek penyangga dan
utama dari dukungan sosial terhadap kesehatan dan kesejahteraan
boleh jadi berfungsi bersamaan. Secara lebih spesifik, keberadaan
dukungan sosial yang adekuat terbukti berhubungan dengan
menurunnya mortalitas, lebih mudah sembuh dari sakit (Ryan dan
Austin dalam Friedman, 2017).
25
5. Faktor yang Mempengaruhi Dukungan
Halirnawati (2013) menyatakan bahwa terdapat beberapa
faktor yang mempengaruhi apakah seseorang akan menerima
dukungan atau tidak. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah :
a. Faktor dari penerima dukungan (recipient)
Seseorang tidak akan menerima dukungan dari orang lain
jika tidak suka bersosialisasi, tidak suka menolong orang lain,
dan tidak ingin orang lain tahu bahwa dia membutuhkan
bantuan. Beberapa orang terkadang tidak cukup asertif untuk
memahami bahwa dia sebenarnya membutuhkan bantuan dari
orang lain, atau merasa bahwa dia seharusnya mandiri dan tidak
mengganggu orang lain, atau merasa tidak nyaman saat orang
lain menolongnya, dan tidak tahu kepada siapa dia harus
meminta pertolongan (Halirnawati, 2013).
b. Faktor dari pemberi dukungan (providers)
Seseorang terkadang tidak memberikan dukungan kepada
orang lain ketika ia sendiri tidak memiliki sumberdaya untuk
menolong orang lain, atau tengah menghadapi stress, harus
menolong dirinya sendiri, atau kurang sensitif terhadap
sekitarnya sehingga tidak menyadari bahwa orang lain
membutuhkan dukungan darinya (Halirnawati, 2013).
Resistensi
Gagal Kategori 1
26
Positif Tata laksana
Farmakoterapi
Pemeriksaan Manifestasi klinis
2. 4 Kerangka Teori
Infeksi Bakteri Microbacterium
tuberculosis
Faktor pasien
Dukungan sosial
Faktor yang
mempengaru
hi kepatuhan
(Notoatmodj Dukungan petugas
o, 2012) kesehatan
Dukungan instrumental
Dukungan informasional
Dukungan Dukungan penilaian
Keluarga
Dukungan emosional
(Friedman,
2017)
Bagan 2.1 Kerangka Teori
Sumber : Modifikasi Teori Notoatmodjo (2012) dan Friedman,(2017)
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Kerangka Konsep
Kerangka konsep membahas ketergantungan antar variabel atau
visualisasi hubungan yang berkaitan atau dianggap perlu antara satu konsep
dengan konsep lainnya atau variabel satu dengan variabel lainnya untuk
melengkapi dinamika situasi atau hal yang sedang atau akan diteliti (Hastono
& Sabri, 2011). Penelitian ini terdiri dari variabel bebas (independen) dan
variabel terikat (dependen). Variabel independen (variabel bebas) adalah
variabel yang mempengaruhi atau sebab perubahan timbulnya variabel terikat
(dependen), sedangkan variabel dependen (variabel terikat) adalah variabel
yang dipengaruhi, akibat dari adanya variabel bebas.
Variabel independen (variabel bebas) dalam penelitian ini adalah
dukungan keluarga. Sedangkan variabel dependen (variabel terikat) adalah
kepatuhan minum obat TBC
Berdasarkan penjelasan di atas maka kerangka konsep penelitian
dapat dilihat pada bagan di bawah ini
Bagan 3.1
Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen
Kepatuhan
Dukungan Keluarga
Minum Obat TBC
27
3.2. Definisi Operasional
Tabel 3.1
Definisi Operasional
Definisi Alat Skala Hasil
Variabel Cara Ukur Ukur Ukur
No Operasional Ukur
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
DEPENDEN
1 Kepatuhan Istilah untuk Pengisian Kuesioner Ordina 0. tidak patuh jika
Minum mengambarkan kusioner l skor ≤
Obat TBC perilaku mean/median
kepatuhan pasien
dalam meminum 1. patuh skor >
obat secara benar nilai
sesuai dengan mean/median
anjuran tenaga
medis
INDEPENDEN
1 Dukungan Adalah kegiatan Pengisian Kuesioner Ordina 0. dukungan
Keluarga penguatan positif kusioner l Keluarga
yang dilakukan kurang jika
secara sukarela skor ≤
dengan tujuan mean/median
utama 1. dukungan
mempromosikan Keluarga baik
dan melindungi jika skor >
kesehatan nilai
keluarga dan mean/median
komu-nitasnya
khususnya bagi
mereka yang
rentan atau
beresikoserta
memberikan
dukungan kepada
ang-gota keluarga
yang memerlukan
dukungan khusus.
(pasien TB) yang
meli-puti
Dukungan
emosional,
Dukungan
instrumental,
Dukungan
Informasi,
Dukungan
penghargaan.
3.3. Hipotesis Penelitian
Hipotesis Ha yang ditetapkan pada penelitian ini adalah :
Ha : Ada hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat
pada pasien TBC .
3.4. Jenis dan Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain atau
pendekatan cross sectional. Menurut Sugiyono (2018), penelitian cross
sectional yaitu suatu penelitian yang dilakukan pada satu waktu dan satu kali,
untuk mencari hubungan antara variabel independen (faktor resiko) dengan
variabel dependen (efek). Faktor risiko dan dampak atau efeknya diukur pada
saat yang sama, artinya setiap subyek penelitian ditemui hanya satu kali saja
dan faktor risiko serta dampak (efek) diukur menurut keadaan atau statsus
pada saat ditemui.
3.5. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan januari 2023 di .
3.6. Teknik Pengumpulan Data
3.7.1 Sumber Data
a. Data Primer
Data primer di dapat dengan mengadakan dengan pengisian
kuesioner langsung terhadap responden dengan menggunakan
kuesioner untuk mendapatkan data tentang hubungan dukungan
keluarga dengan kepatuhan minum obat pada pasien TBC .