Panduan Lengkap Respiratory Distress Syndrome
Panduan Lengkap Respiratory Distress Syndrome
Oleh :
2. Etiologi
a. Defisiensi surfaktan akibat prematuritas
Penyebab utama RDS adalah ketidakmatangan paru dan defisiensi
surfaktan, yang membuat alveoli mudah kolaps dan mengurangi
kemampuan paru mempertahankan pertukaran gas efektif pada bayi
prematur (Hansen, 2020).
b. Faktor maternal yang menghambat maturasi paru
Kondisi maternal seperti diabetes gestasional, persalinan dengan seksio
sesarea tanpa onset persalinan, infeksi, dan komplikasi kehamilan lainnya
dapat menghambat produksi surfaktan dan meningkatkan risiko RDS pada
neonatus (Armina & Pebrianti, 2024).
c. Faktor neonatal dan komorbiditas
Faktor risiko neonatal seperti jenis kelamin laki-laki, hipotermia,
kehamilan kembar, serta asfiksia perinatal turut berkontribusi terhadap
ketidakstabilan alveolar dan meningkatkan kejadian RDS (Retnaningsih,
2024).
3. Klasifikasi
a. Klasifikasi Berdasarkan Tingkat Keparahan Klinis
RDS dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat keparahan gejala: ringan,
sedang, dan berat, yang dinilai dari frekuensi napas, retraksi dinding dada,
grunting, serta saturasi oksigen. Bayi dengan RDS ringan menunjukkan
takipnea tanpa retraksi berat, sedangkan RDS berat ditandai hipoksemia
serius dan gagal napas yang memerlukan ventilasi mekanis (Hansen,
2020).
b. Klasifikasi Berdasarkan Skor Silverman–Anderson
RDS juga diklasifikasikan menggunakan Skor Silverman–Anderson
yang menilai lima parameter: retraksi dinding dada, retraksi substernal,
gerak abdomen, nasal flaring, dan grunting. Skor 0–3 menunjukkan
distress ringan, 4–6 sedang, dan ≥7 menunjukkan distress berat yang
mengarah pada RDS (Armina & Pebrianti, 2024).
c. Klasifikasi Berdasarkan Gambaran Radiologi
Secara radiologis, RDS diklasifikasikan dari grade I hingga IV,
berdasarkan temuan seperti retikulogranular difus (ground-glass
appearance), bronkogram udara, hingga opasitas seluruh paru. Grade yang
lebih tinggi menunjukkan kerusakan alveoli lebih berat dan tingkat
insufisiensi respirasi yang lebih parah (Retnaningsih, 2024).
4. Patofisiologi
5. Pathway
6. Manifestasi klinis
a. Takipnea dan Peningkatan Usaha Napas
Manifestasi klinis utama RDS adalah takipnea (frekuensi napas >
60x/menit) yang muncul segera setelah lahir, disertai peningkatan usaha
napas seperti retraksi dinding dada dan penggunaan otot bantu napas. Hal
ini terjadi akibat kolaps alveoli dan menurunnya kemampuan paru
mempertahankan ventilasi efektif (Hansen, 2020).
b. Grunting, Nasal Flaring, dan Retraksi
Bayi dengan RDS sering menunjukkan grunting (suara mengerang saat
ekspirasi) sebagai upaya mempertahankan tekanan positif akhir ekspirasi,
serta nasal flaring (pelebaran cuping hidung) dan retraksi interkostal
maupun substernal. Tanda-tanda ini menunjukkan distress napas sedang
hingga berat (Armina & Pebrianti, 2024).
c. Sianosis dan Gangguan Oksigenasi
Sianosis perifer maupun sentral dapat muncul akibat hipoksemia yang
disebabkan oleh ventilasi yang tidak adekuat. Pada kondisi berat, terjadi
penurunan saturasi oksigen, apnea, lethargy, dan dapat berkembang
menjadi gagal napas jika tidak ditangani segera (Retnaningsih, 2024).
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Radiologi (Foto Thoraks)
Foto thoraks merupakan pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis
RDS. Gambaran khas berupa retikulogranular difus (ground-glass
appearance) dan air bronchogram yang menandakan kolaps alveoli akibat
defisiensi surfaktan. Pola ini membantu menentukan derajat keparahan dan
membedakan RDS dengan gangguan napas lainnya (Windiani &
Maghfirah, 2024).
b. Analisis Gas Darah (AGD / Blood Gas Analysis)
Analisis gas darah digunakan untuk menilai status oksigenasi dan
ventilasi. Pada RDS sering ditemukan hipoksemia, hiperkapnia, serta
asidosis respiratorik atau metabolik. Pemeriksaan ini penting untuk
menentukan kebutuhan oksigen, CPAP, atau ventilasi mekanis pada
neonatus (Huang et al., 2023).
c. Pemeriksaan Saturasi Oksigen dan Pulse Oximetry
Monitoring saturasi oksigen menggunakan pulse oximetry dilakukan
secara kontinu untuk menilai derajat hipoksemia. RDS umumnya
menunjukkan SpO₂ rendah meski dengan peningkatan usaha napas.
Pemeriksaan ini sangat penting untuk memantau respons terapi seperti
oksigen dan CPAP (Wang et al., 2022).
d. Pemeriksaan Laboratorium Penunjang
Pemeriksaan laboratorium seperti tanda infeksi (CRP, leukosit) dilakukan
untuk membedakan RDS dari pneumonia atau sepsis. Pemeriksaan
glukosa darah dan suhu tubuh juga penting, karena hipoglikemia dan
hipotermia dapat memperburuk kondisi respirasi (Zhang et al., 2021).
e. USG Paru (Lung Ultrasound) – Pemeriksaan Modern
USG paru semakin banyak digunakan 5 tahun terakhir karena aman dan
tanpa radiasi. Pada RDS, USG menunjukkan B-lines difus, penebalan
pleura, dan pola konsolidasi kecil. Studi terbaru membuktikan USG paru
dapat menggantikan foto thoraks dalam deteksi dini RDS (Brat et al.,
2020).
8. Diagnosa Banding
a. Transient Tachypnea of the Newborn (TTN)
TTN disebabkan oleh keterlambatan penyerapan cairan paru. Ditandai
takipnea sejak lahir, namun membaik dalam 24–72 jam. Foto thoraks
menunjukkan hiperinsuflasi dan garis cairan interlobar, berbeda dengan
"ground-glass" pada RDS.
b. Pneumonia Neonatal / Sepsis Neonatorum
Pneumonia dapat tampak mirip RDS tetapi biasanya disertai tanda infeksi:
demam/hipotermia, leukosit abnormal, CRP meningkat. Foto thoraks
menunjukkan infiltrat tidak merata.
c. Mekonium Aspiration Syndrome (MAS)
Terjadi pada bayi cukup bulan pasca asfiksia dan paparan mekonium. Foto
thoraks menunjukkan hiperinflasi, bercak opasitas kasar, dan kadang
atelektasis. Berbeda dengan RDS yang biasanya terjadi pada prematur.
d. Pneumothorax
Sesak napas mendadak, distensi hemitoraks, dan penurunan suara napas.
Gejala memburuk cepat. Foto thoraks menunjukkan udara bebas di rongga
pleura. Bisa menjadi komplikasi RDS tetapi merupakan diagnosis banding
penting
e. Persistent Pulmonary Hypertension of the Newborn (PPHN)
Ditandai hipoksemia yang tidak membaik dengan oksigen, murmur
jantung, dan saturasi berbeda antara pre-ductal dan post-ductal.
Ekokardiografi menunjukkan peningkatan tekanan pulmonal.
d. Apnea of Prematurity
Pada bayi sangat prematur dapat timbul apnea berulang akibat pusat napas
belum matang. Tidak ada gambaran radiologi khas RDS.
e. Pulmonary Hemorrhage
Dapat menimbulkan distress napas berat dan darah pada endotrakeal tube.
Foto thoraks menunjukkan opasitas difus cepat memburuk.
9. Penatalaksanaan
a. Stabilitas Awal dan Resusitasi
Mempertahankan jalan napas (A), pernapasan (B), dan sirkulasi (C).
Pastikan bayi tetap hangat, hindari hipotermia.
Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan SpO₂
target sesuai usia
b. Terapi Oksigen
Diberikan pada bayi dengan tanda hipoksemia ringan.
Diberikan melalui hood oxygen, nasal cannula, atau blender oksigen
agar saturasi tidak berlebihan.
Target SpO₂ umumnya 90–95%
c. CPAP (Continuous Positive Airway Pressure)
CPAP adalah terapi lini pertama RDS derajat ringan–sedang.
Menjaga alveoli tetap terbuka dan menurunkan kerja napas.
Setting awal CPAP: 5–6 cmH₂O.
d. Pemberian Surfaktan
Indikasi: bayi prematur dengan RDS sedang–berat atau yang
membutuhkan FiO₂ tinggi.
Diberikan melalui ETT (intubasi), metode INSURE (Intubate–
Surfactant–Extubate), atau LISA (Less Invasive Surfactant
Administration).
Surfaktan menurunkan mortalitas dan kebutuhan ventilator.
e. Ventilasi Mekanis
Diberikan bila CPAP gagal atau terjadi apnea berulang, hiperkapnia
berat, atau gagal napas.
Mode: SIMV, PCV, atau HFOV (ventilator frekuensi tinggi) bila
terdapat kondisi berat.
d. Manajemen Cairan dan Nutrisi
Batasi cairan untuk mencegah edema paru.
Awali dengan kebutuhan cairan konservatif: 60–80 mL/kg/hari.
Nutrisi enteral dini dapat diberikan bila stabil.
e. Mengatasi dan Mencegah Komplikasi
Monitor saturasi dan gas darah.
Cegah pneumotoraks, infeksi, hipotermia, dan hipoglikemia.
Berikan antibiotik jika dicurigai infeksi (bukan terapi rutin RDS).
f. Perawatan Lingkungan
Bayi ditempatkan dalam inkubator untuk menjaga suhu.
Minimalkan stres, tangisan, dan manipulasi berlebihan.
g. Pencegahan (Antenatal)
Kortikosteroid antenatal pada ibu hamil risiko persalinan prematur
(24–34 minggu).
Penatalaksanaan diabetes gestasional dan penyakit ibu.
10. Komplikasi
a. Pneumotoraks dan Pneumomediastinum
Terjadi akibat tekanan positif berlebih dari ventilasi mekanis atau
CPAP.
Dapat menyebabkan gagal napas mendadak dan membutuhkan
tindakan drainase segera.
b. Bronkopulmoner Displasia (BPD)
Komplikasi kronis yang ditandai perubahan struktural paru, fibrosis,
dan inflamasi akibat ventilasi mekanis jangka panjang dan oksigen
tinggi.
Lebih sering terjadi pada bayi prematur ekstrem (<28 minggu).
c. Perdarahan Intraventrikular (IVH)
Bayi prematur dengan RDS berisiko tinggi mengalami IVH, terutama
bila mengalami fluktuasi tekanan darah atau hipoksia.
IVH dapat menyebabkan gangguan neurologis jangka panjang.
d. Retinopati Prematuritas (ROP)
Penggunaan oksigen tinggi jangka panjang dapat memicu neovaskularisasi
retina yang berpotensi menyebabkan gangguan penglihatan atau kebutaan.
e. Infeksi Nosokomial / Sepsis
Bayi dengan RDS sering membutuhkan ventilasi invasif dan intravenous
line, meningkatkan risiko infeksi rumah sakit.
f. Gagal Napas Persisten
Pada kasus berat atau komplikasi tambahan, bayi dapat mengalami gagal
napas persisten meski telah dilakukan terapi CPAP, surfaktan, dan
ventilasi.
g. Disfungsi Organ Sekunder
Hipoksemia atau hiperkapnia kronis dapat menyebabkan disfungsi
jantung, ginjal, atau metabolik pada bayi prematur.
11. Proses Keperawatan
a) Pengkajian
1) Data Klien
Identitas Klien:
Nama, umur, alamat, jenis kelamin, pendidikan (jika anak usia
sekolah), tanggal masuk rumah sakit, berat badan & tinggi badan
saat masuk, golongan darah (jika tersedia).
Identitas Penanggung Jawab:
Nama orang tua/wali, umur, alamat, pekerjaan, jenis kelamin,
pendidikan, hubungan dengan anak, nomor kontak.
2) Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama:
Menurut literatur, keluhan utama pada bayi dengan RDS meliputi:
Sesak napas, napas cepat (takipnea)
Tarikan dinding dada (retraksi)
Grunting (suara napas mengerang)
Hipoksemia, sianosis
Malaise: lesu, menolak menyusu, penurunan berat badan (Gomella,
2020; Hansen, 2020)
3) Riwayat Kesehatan Sekarang:
Napas cepat sejak lahir atau beberapa jam pertama
Tarikan dinding dada, cuping hidung melebar
Batuk ringan (kadang ada), rewel, lesu
Menyusu lemah, penurunan berat badan
Terkadang muntah
4) Riwayat Kesehatan Dahulu:
Prematuritas atau lahir cukup bulan
Riwayat penyakit paru sebelumnya (misal pneumonia)
Riwayat imunisasi: BCG, DPT, Hepatitis B, dsb.
5) Riwayat Kesehatan Keluarga:
Ada anggota keluarga dengan infeksi saluran napas akut atau TB?
6) Riwayat Pengobatan Sebelumnya:
Pemberian oksigen, antibiotik, atau terapi simptomatik lain
Diagnosa Keperawatan
SDKI D.0005 Pola Napas Tidak Efektif
Definisi :
Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat
Penyebab :
1. Depresi pusat pernapasan
2. Hambatan upaya napas (mis. nyeri saat bernapas, kelemahan otot pernapasan)
3. Deformitas dinding dada.
4. Deformitas tulang dada.
5. Gangguan neuromuskular.
6. Gangguan neurologis (mis elektroensefalogram [EEG] positif, cedera kepala
ganguan kejang).
7. maturitas neurologis.
8. Penurunan energi.
9. Obesitas.
10. Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru.
11. Sindrom hipoventilasi.
12. Kerusakan inervasi diafragma (kerusakan saraf CS ke atas).
13. Cedera pada medula spinalis.
14. Efek agen farmakologis.
15. Kecemasan.
Gejala dan Tanda Mayor :
Subjektif Objektif
1. Dispnea 1. Penggunaan otot bantu
pernapasan.
2. Fase ekspirasi memanjang.
3. Pola napas abnormal (mis.
takipnea. bradipnea,
hiperventilasi kussmaul cheyne-
stokes).
Penyebab :
Fisiologis :
1. Spasme jalan napas.
2. Hipersekresi jalan napas.
3. Disfungsi neuromuskuler.
4. Benda asing dalam jalan napas.
5. Adanya jalan napas buatan.
6. Sekresi yang tertahan.
7. Hiperplasia dinding jalan napas.
8. Proses infeksi .
9. Respon alergi.
10. Efek agen farmakologis (mis. anastesi).
Situasional :
1. Merokok aktif
2. Merokok pasif.
3. Terpajan polutan.
Definisi :
Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal
Penyebab :
1. Hambatan lingkungan (mis. kelembapan lingkungan sekitar, suhu lingkungan,
pencahayaan, kebisingan, bau tidak sedap, jadwal
pemantauan/pemeriksaan/tindakan)
2. Kurang kontrol tidur
3. Kurang privasi
4. Restraint fisik
5. Ketiadaan teman tidur
6. Tidak familiar dengan peralatan tidur
Situasional
1. Tidak rawat gabung
2. Kurang terpapar informasi tentang pentinya menyusui dan/atau metode
menyusui
3. Kurangnya dukungan keluarga
4. Faktor budaya
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspetoran,
mukolitik, jika perlu
SDKI D0003 SIKI I.01002 Pertukaran Gas – L.01003
Gangguan Pertukaran Dukungan Ventilasi Definisi : Oksigenasi dan / atau eliminasi karbondioksida pada
Gas Definisi membran alveolus kapiler dalam batas normal.
Memfasilitasi dalam Ekspektasi : Meningkat
mempertahankan pernapasan
spontan untuk memaksimalkan Kriteria
Menurun
Cukup
Sedang
Cukup
Meningkat
Hasil Menurun Meningkat
pertukaran gas diparu-paru. Tingkat Kesadaran 1 2 3 4 5
Terapeutik
- Pertahankan kepatenan jalan
napas
- Berikan posisi semi fowler
atau fowler
- Fasilitasi mengubah posisi
senyaman mungkin
- Berikan oksigenasi sesuai
kebutuhan (mis. Nasal kanul,
masker wajah, masker
rebreathing, atau non
rebreathing)
- Gunakan bag-valve mask, jika
perlu
Edukasi
- Ajarkan melakukan teknik
relaksasi napas dalam
- Ajarkan mengubah posisi
mandiri
- Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
bronkodilator , jika perlu
SDKI D.0029 SIKI I.12393 L.03029-Status Menyusui
Menyusui Tidak Efektif. Edukasi Menyusui Definisi : Kemampuan memberikan ASI secara langsung dari
Definisi payudara kepada bayi dan anak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
Memberikan informasi dan saran
Ekspetasi : Membaik
tentang menyusui yang dimulai dari
antepartum, intrapartum dan post Kriteria Hasil Meningkat
Cukup
Sedang
Cukup
Menurun
Meningkat Menurun
partum. Perlekatan bayi
1 2 3 4 5
pada payudara ibu
Tindakan Kemampuan ibu
Observasi : memposisikan 1 2 3 4 5
bayi dengan benar
- Identifikasi kesiapan dan Miksi bayi lebih
1 2 3 4 5
dari 8 kali/24 jam
kemampuan menerima Berat badan bayi 1 2 3 4 5
Tetesan/pancaran
informasi ASI
1 2 3 4 5
Edukasi
- Berikan konseling menyusui
- Jelaskan manfaat menyusui
bagi ibu dan bayi
- Ajarkan 4 (empat) posisi
menyusui dan perlekatan (lacth
on) dengan benar
- Ajarkan perawatan payudara
antepartum dengan
mengkompres dengan kapas
yang telah diberikan minyak
kelapa
- Ajarkan perawatan payudara
post partum (mis. Memerah
ASI, pijat payudara, pijat
oksitosin)
SDKI D.0055 Dukungan Tidur (1.05174) L.05045 - Pola Tidur
Gangguan Pola Tidur Definisi: Definisi : Keadekuatan kualitas dan kuantitas tidur
Memfasilitasi siklus tidur dan Ekspetasi : Membaik
terjaga yang teratur.
Kriteria Cukup Cukup
Menurun Sedang Meningkat
Hasil Menurun Meningkat
Tindakan: Keluhan sulit tidur 1 2 3 4 5
Observasi: Keluhan sering
1 2 3 4 5
Identifikasi pola aktivitas terjaga
Keluhan tidak puas
dan tidur 1 2 3 4 5
tidur
Identifikasi faktor
Keluhan pola tidur
pengganggu tidur (fisik dan berubah
1 2 3 4 5
Armina, A., & Pebrianti, D. K. (2024). Profil Status Oksigenasi dan Lama Rawat
Bayi Respiratory Distress Syndrome. Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi.
Brat, R., et al. (2020). Lung ultrasound for assessment of neonatal respiratory
distress syndrome. Pediatrics.
Hansen, A. R. (2020). Neonatology: Management, Procedures, On-Call
Problems, Diseases & Drugs. McGraw-Hill.
Huang, Y., et al. (2023). Blood gas analysis in neonatal respiratory disorders.
Journal of Neonatal Medicine.
Retnaningsih, P. (2024). Faktor Risiko Kejadian Respiratory Distress Syndrome
pada Bayi Baru Lahir. Universitas Al-Irsyad Cilacap.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Tindakan Intervensi Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Wang, L., et al. (2022). Pulse oximetry monitoring in neonatal respiratory
distress. Neonatal Care Journal.
Windiani, S., & Maghfirah, M. (2024). Gawat Nafas Neonatus. GALENICAL.
Zhang, P., et al. (2021).
Laboratory markers distinguishing RDS and neonatal pneumonia. International
Journal of Neonatal Science.
.