0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan33 halaman

Panduan Lengkap Respiratory Distress Syndrome

Respiratory Distress Syndrome (RDS) adalah gangguan pernapasan pada bayi baru lahir, terutama prematur, yang disebabkan oleh defisiensi surfaktan dan ketidakmatangan paru. Gejala utama RDS meliputi takipnea, retraksi dinding dada, grunting, dan sianosis, dengan penatalaksanaan yang mencakup terapi oksigen, CPAP, dan pemberian surfaktan. Komplikasi yang mungkin terjadi termasuk pneumotoraks, bronkopulmoner displasia, dan gagal napas persisten.

Diunggah oleh

icu.rsbbondowoso01
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan33 halaman

Panduan Lengkap Respiratory Distress Syndrome

Respiratory Distress Syndrome (RDS) adalah gangguan pernapasan pada bayi baru lahir, terutama prematur, yang disebabkan oleh defisiensi surfaktan dan ketidakmatangan paru. Gejala utama RDS meliputi takipnea, retraksi dinding dada, grunting, dan sianosis, dengan penatalaksanaan yang mencakup terapi oksigen, CPAP, dan pemberian surfaktan. Komplikasi yang mungkin terjadi termasuk pneumotoraks, bronkopulmoner displasia, dan gagal napas persisten.

Diunggah oleh

icu.rsbbondowoso01
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDUHULUAN

RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME

Oleh :

Deby Aprilia Wulandari


NIM. 25101269

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS dr. SOEBANDI JEMBER
2025
1. Definisi
Respiratory Distress Syndrome adalah gangguan pernapasan pada bayi baru
lahir terutama premature yang disebabkan oleh defisiensi surfaktan sehingga
alveoli mudah kolaps, menyebabkan kerja napas meningkat dan gangguan
pertukaran gas (Hansen, 2020).
RDS didefinisikan sebagai sindrom gangguan napas yang ditandai takipnea,
retraksi dinding dada, grunting, dan sianosis dalam beberapa jam pertama setelah
lahir akibat ketidakmatangan paru dan tidak stabilnya alveoli (Armina &
Pebrianti, 2024).
RDS merupakan kondisi kegagalan pernapasan akibat imaturitas paru yang
menyebabkan penurunan compliance, atelektasis difus, hipoksemia, serta risiko
komplikasi seperti gagal napas akut pada neonatus prematur (Retnaningsih, 2024).

2. Etiologi
a. Defisiensi surfaktan akibat prematuritas
Penyebab utama RDS adalah ketidakmatangan paru dan defisiensi
surfaktan, yang membuat alveoli mudah kolaps dan mengurangi
kemampuan paru mempertahankan pertukaran gas efektif pada bayi
prematur (Hansen, 2020).
b. Faktor maternal yang menghambat maturasi paru
Kondisi maternal seperti diabetes gestasional, persalinan dengan seksio
sesarea tanpa onset persalinan, infeksi, dan komplikasi kehamilan lainnya
dapat menghambat produksi surfaktan dan meningkatkan risiko RDS pada
neonatus (Armina & Pebrianti, 2024).
c. Faktor neonatal dan komorbiditas
Faktor risiko neonatal seperti jenis kelamin laki-laki, hipotermia,
kehamilan kembar, serta asfiksia perinatal turut berkontribusi terhadap
ketidakstabilan alveolar dan meningkatkan kejadian RDS (Retnaningsih,
2024).

3. Klasifikasi
a. Klasifikasi Berdasarkan Tingkat Keparahan Klinis
RDS dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat keparahan gejala: ringan,
sedang, dan berat, yang dinilai dari frekuensi napas, retraksi dinding dada,
grunting, serta saturasi oksigen. Bayi dengan RDS ringan menunjukkan
takipnea tanpa retraksi berat, sedangkan RDS berat ditandai hipoksemia
serius dan gagal napas yang memerlukan ventilasi mekanis (Hansen,
2020).
b. Klasifikasi Berdasarkan Skor Silverman–Anderson
RDS juga diklasifikasikan menggunakan Skor Silverman–Anderson
yang menilai lima parameter: retraksi dinding dada, retraksi substernal,
gerak abdomen, nasal flaring, dan grunting. Skor 0–3 menunjukkan
distress ringan, 4–6 sedang, dan ≥7 menunjukkan distress berat yang
mengarah pada RDS (Armina & Pebrianti, 2024).
c. Klasifikasi Berdasarkan Gambaran Radiologi
Secara radiologis, RDS diklasifikasikan dari grade I hingga IV,
berdasarkan temuan seperti retikulogranular difus (ground-glass
appearance), bronkogram udara, hingga opasitas seluruh paru. Grade yang
lebih tinggi menunjukkan kerusakan alveoli lebih berat dan tingkat
insufisiensi respirasi yang lebih parah (Retnaningsih, 2024).
4. Patofisiologi
5. Pathway
6. Manifestasi klinis
a. Takipnea dan Peningkatan Usaha Napas
Manifestasi klinis utama RDS adalah takipnea (frekuensi napas >
60x/menit) yang muncul segera setelah lahir, disertai peningkatan usaha
napas seperti retraksi dinding dada dan penggunaan otot bantu napas. Hal
ini terjadi akibat kolaps alveoli dan menurunnya kemampuan paru
mempertahankan ventilasi efektif (Hansen, 2020).
b. Grunting, Nasal Flaring, dan Retraksi
Bayi dengan RDS sering menunjukkan grunting (suara mengerang saat
ekspirasi) sebagai upaya mempertahankan tekanan positif akhir ekspirasi,
serta nasal flaring (pelebaran cuping hidung) dan retraksi interkostal
maupun substernal. Tanda-tanda ini menunjukkan distress napas sedang
hingga berat (Armina & Pebrianti, 2024).
c. Sianosis dan Gangguan Oksigenasi
Sianosis perifer maupun sentral dapat muncul akibat hipoksemia yang
disebabkan oleh ventilasi yang tidak adekuat. Pada kondisi berat, terjadi
penurunan saturasi oksigen, apnea, lethargy, dan dapat berkembang
menjadi gagal napas jika tidak ditangani segera (Retnaningsih, 2024).

7. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Radiologi (Foto Thoraks)
Foto thoraks merupakan pemeriksaan utama untuk menegakkan diagnosis
RDS. Gambaran khas berupa retikulogranular difus (ground-glass
appearance) dan air bronchogram yang menandakan kolaps alveoli akibat
defisiensi surfaktan. Pola ini membantu menentukan derajat keparahan dan
membedakan RDS dengan gangguan napas lainnya (Windiani &
Maghfirah, 2024).
b. Analisis Gas Darah (AGD / Blood Gas Analysis)
Analisis gas darah digunakan untuk menilai status oksigenasi dan
ventilasi. Pada RDS sering ditemukan hipoksemia, hiperkapnia, serta
asidosis respiratorik atau metabolik. Pemeriksaan ini penting untuk
menentukan kebutuhan oksigen, CPAP, atau ventilasi mekanis pada
neonatus (Huang et al., 2023).
c. Pemeriksaan Saturasi Oksigen dan Pulse Oximetry
Monitoring saturasi oksigen menggunakan pulse oximetry dilakukan
secara kontinu untuk menilai derajat hipoksemia. RDS umumnya
menunjukkan SpO₂ rendah meski dengan peningkatan usaha napas.
Pemeriksaan ini sangat penting untuk memantau respons terapi seperti
oksigen dan CPAP (Wang et al., 2022).
d. Pemeriksaan Laboratorium Penunjang
Pemeriksaan laboratorium seperti tanda infeksi (CRP, leukosit) dilakukan
untuk membedakan RDS dari pneumonia atau sepsis. Pemeriksaan
glukosa darah dan suhu tubuh juga penting, karena hipoglikemia dan
hipotermia dapat memperburuk kondisi respirasi (Zhang et al., 2021).
e. USG Paru (Lung Ultrasound) – Pemeriksaan Modern
USG paru semakin banyak digunakan 5 tahun terakhir karena aman dan
tanpa radiasi. Pada RDS, USG menunjukkan B-lines difus, penebalan
pleura, dan pola konsolidasi kecil. Studi terbaru membuktikan USG paru
dapat menggantikan foto thoraks dalam deteksi dini RDS (Brat et al.,
2020).

8. Diagnosa Banding
a. Transient Tachypnea of the Newborn (TTN)
TTN disebabkan oleh keterlambatan penyerapan cairan paru. Ditandai
takipnea sejak lahir, namun membaik dalam 24–72 jam. Foto thoraks
menunjukkan hiperinsuflasi dan garis cairan interlobar, berbeda dengan
"ground-glass" pada RDS.
b. Pneumonia Neonatal / Sepsis Neonatorum
Pneumonia dapat tampak mirip RDS tetapi biasanya disertai tanda infeksi:
demam/hipotermia, leukosit abnormal, CRP meningkat. Foto thoraks
menunjukkan infiltrat tidak merata.
c. Mekonium Aspiration Syndrome (MAS)
Terjadi pada bayi cukup bulan pasca asfiksia dan paparan mekonium. Foto
thoraks menunjukkan hiperinflasi, bercak opasitas kasar, dan kadang
atelektasis. Berbeda dengan RDS yang biasanya terjadi pada prematur.
d. Pneumothorax
Sesak napas mendadak, distensi hemitoraks, dan penurunan suara napas.
Gejala memburuk cepat. Foto thoraks menunjukkan udara bebas di rongga
pleura. Bisa menjadi komplikasi RDS tetapi merupakan diagnosis banding
penting
e. Persistent Pulmonary Hypertension of the Newborn (PPHN)
Ditandai hipoksemia yang tidak membaik dengan oksigen, murmur
jantung, dan saturasi berbeda antara pre-ductal dan post-ductal.
Ekokardiografi menunjukkan peningkatan tekanan pulmonal.
d. Apnea of Prematurity
Pada bayi sangat prematur dapat timbul apnea berulang akibat pusat napas
belum matang. Tidak ada gambaran radiologi khas RDS.
e. Pulmonary Hemorrhage
Dapat menimbulkan distress napas berat dan darah pada endotrakeal tube.
Foto thoraks menunjukkan opasitas difus cepat memburuk.

9. Penatalaksanaan
a. Stabilitas Awal dan Resusitasi
 Mempertahankan jalan napas (A), pernapasan (B), dan sirkulasi (C).
 Pastikan bayi tetap hangat, hindari hipotermia.
 Berikan oksigen sesuai kebutuhan untuk mempertahankan SpO₂
target sesuai usia
b. Terapi Oksigen
 Diberikan pada bayi dengan tanda hipoksemia ringan.
 Diberikan melalui hood oxygen, nasal cannula, atau blender oksigen
agar saturasi tidak berlebihan.
 Target SpO₂ umumnya 90–95%
c. CPAP (Continuous Positive Airway Pressure)
 CPAP adalah terapi lini pertama RDS derajat ringan–sedang.
 Menjaga alveoli tetap terbuka dan menurunkan kerja napas.
 Setting awal CPAP: 5–6 cmH₂O.
d. Pemberian Surfaktan
 Indikasi: bayi prematur dengan RDS sedang–berat atau yang
membutuhkan FiO₂ tinggi.
 Diberikan melalui ETT (intubasi), metode INSURE (Intubate–
Surfactant–Extubate), atau LISA (Less Invasive Surfactant
Administration).
 Surfaktan menurunkan mortalitas dan kebutuhan ventilator.
e. Ventilasi Mekanis
 Diberikan bila CPAP gagal atau terjadi apnea berulang, hiperkapnia
berat, atau gagal napas.
 Mode: SIMV, PCV, atau HFOV (ventilator frekuensi tinggi) bila
terdapat kondisi berat.
d. Manajemen Cairan dan Nutrisi
 Batasi cairan untuk mencegah edema paru.
 Awali dengan kebutuhan cairan konservatif: 60–80 mL/kg/hari.
 Nutrisi enteral dini dapat diberikan bila stabil.
e. Mengatasi dan Mencegah Komplikasi
 Monitor saturasi dan gas darah.
 Cegah pneumotoraks, infeksi, hipotermia, dan hipoglikemia.
 Berikan antibiotik jika dicurigai infeksi (bukan terapi rutin RDS).
f. Perawatan Lingkungan
 Bayi ditempatkan dalam inkubator untuk menjaga suhu.
 Minimalkan stres, tangisan, dan manipulasi berlebihan.
g. Pencegahan (Antenatal)
 Kortikosteroid antenatal pada ibu hamil risiko persalinan prematur
(24–34 minggu).
 Penatalaksanaan diabetes gestasional dan penyakit ibu.

10. Komplikasi
a. Pneumotoraks dan Pneumomediastinum
 Terjadi akibat tekanan positif berlebih dari ventilasi mekanis atau
CPAP.
 Dapat menyebabkan gagal napas mendadak dan membutuhkan
tindakan drainase segera.
b. Bronkopulmoner Displasia (BPD)
 Komplikasi kronis yang ditandai perubahan struktural paru, fibrosis,
dan inflamasi akibat ventilasi mekanis jangka panjang dan oksigen
tinggi.
 Lebih sering terjadi pada bayi prematur ekstrem (<28 minggu).
c. Perdarahan Intraventrikular (IVH)
 Bayi prematur dengan RDS berisiko tinggi mengalami IVH, terutama
bila mengalami fluktuasi tekanan darah atau hipoksia.
 IVH dapat menyebabkan gangguan neurologis jangka panjang.
d. Retinopati Prematuritas (ROP)
Penggunaan oksigen tinggi jangka panjang dapat memicu neovaskularisasi
retina yang berpotensi menyebabkan gangguan penglihatan atau kebutaan.
e. Infeksi Nosokomial / Sepsis
Bayi dengan RDS sering membutuhkan ventilasi invasif dan intravenous
line, meningkatkan risiko infeksi rumah sakit.
f. Gagal Napas Persisten
Pada kasus berat atau komplikasi tambahan, bayi dapat mengalami gagal
napas persisten meski telah dilakukan terapi CPAP, surfaktan, dan
ventilasi.
g. Disfungsi Organ Sekunder
Hipoksemia atau hiperkapnia kronis dapat menyebabkan disfungsi
jantung, ginjal, atau metabolik pada bayi prematur.
11. Proses Keperawatan
a) Pengkajian
1) Data Klien
 Identitas Klien:
Nama, umur, alamat, jenis kelamin, pendidikan (jika anak usia
sekolah), tanggal masuk rumah sakit, berat badan & tinggi badan
saat masuk, golongan darah (jika tersedia).
 Identitas Penanggung Jawab:
Nama orang tua/wali, umur, alamat, pekerjaan, jenis kelamin,
pendidikan, hubungan dengan anak, nomor kontak.
2) Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama:
Menurut literatur, keluhan utama pada bayi dengan RDS meliputi:
 Sesak napas, napas cepat (takipnea)
 Tarikan dinding dada (retraksi)
 Grunting (suara napas mengerang)
 Hipoksemia, sianosis
 Malaise: lesu, menolak menyusu, penurunan berat badan (Gomella,
2020; Hansen, 2020)
3) Riwayat Kesehatan Sekarang:
 Napas cepat sejak lahir atau beberapa jam pertama
 Tarikan dinding dada, cuping hidung melebar
 Batuk ringan (kadang ada), rewel, lesu
 Menyusu lemah, penurunan berat badan
 Terkadang muntah
4) Riwayat Kesehatan Dahulu:
 Prematuritas atau lahir cukup bulan
 Riwayat penyakit paru sebelumnya (misal pneumonia)
 Riwayat imunisasi: BCG, DPT, Hepatitis B, dsb.
5) Riwayat Kesehatan Keluarga:
 Ada anggota keluarga dengan infeksi saluran napas akut atau TB?
6) Riwayat Pengobatan Sebelumnya:
 Pemberian oksigen, antibiotik, atau terapi simptomatik lain

b) Pola Aktivitas Sehari-Hari


 Pola Makan dan Cairan: Menyusu lemah, menolak susu atau
cairan, risiko dehidrasi
 Pola Eliminasi: Umumnya normal, tetapi frekuensi menurun jika
kurang asupan cairan
 Pola Istirahat dan Tidur : Terganggu karena sesak napas dan
grunting
 Pola Aktivitas: Cepat lelah, lesu, kurang reaktif
 Pola Pernapasan: Takipnea >60x/menit, Retraksi interkostal,
substernal, Grunting, nasal flaring. Suara napas tambahan: ronki
basah/kering
c) Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum:
Lesu, rewel, tampak lemah, demam ringan atau subfebris
Tanda Vital:
 Nadi meningkat (takikardi)
 Frekuensi napas meningkat
 Tekanan darah sesuai usia
 Suhu tubuh normal hingga demam ringan
Kepala dan Leher:
 Kepala simetris, fontanel normal, kulit kepala bersih
 Leher lentur, tanpa pembesaran kelenjar getah bening
Wajah, Mata, Hidung, Mulut:
 Pucat atau sianosis sentral/perifer
 Konjungtiva normal/anemis
 Cuping hidung melebar saat napas cepat
 Bibir pucat, kadang kering
Dada / Paru:
 Inspeksi: retraksi interkostal/substernal, penggunaan otot bantu
napas, napas cepat
 Palpasi: fremitus normal atau meningkat jika ada konsolidasi
 Perkusi: hipersonor pada hiperinsuflasi, datar pada konsolidasi
 Auskultasi: ronki basah/kering, suara napas menurun jika sekret
menumpuk
Jantung:
 Batas dan tekanan normal
 Murmur biasanya tidak ada
Abdomen:
Lembek, tidak distensi, tidak nyeri tekan
Ekstremitas:
 Tangan/kaki hangat, periksa sianosis/perubahan warna
 Refleks normal sesuai usia
Genetalia:
Normal sesuai usia

Diagnosa Keperawatan
SDKI D.0005 Pola Napas Tidak Efektif
Definisi :
Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat

Penyebab :
1. Depresi pusat pernapasan
2. Hambatan upaya napas (mis. nyeri saat bernapas, kelemahan otot pernapasan)
3. Deformitas dinding dada.
4. Deformitas tulang dada.
5. Gangguan neuromuskular.
6. Gangguan neurologis (mis elektroensefalogram [EEG] positif, cedera kepala
ganguan kejang).
7. maturitas neurologis.
8. Penurunan energi.
9. Obesitas.
10. Posisi tubuh yang menghambat ekspansi paru.
11. Sindrom hipoventilasi.
12. Kerusakan inervasi diafragma (kerusakan saraf CS ke atas).
13. Cedera pada medula spinalis.
14. Efek agen farmakologis.
15. Kecemasan.
Gejala dan Tanda Mayor :
Subjektif Objektif
1. Dispnea 1. Penggunaan otot bantu
pernapasan.
2. Fase ekspirasi memanjang.
3. Pola napas abnormal (mis.
takipnea. bradipnea,
hiperventilasi kussmaul cheyne-
stokes).

Gejala dan Tanda Minor :


Subjektif Objektif
1. Ortopnea 1. Pernapasan pursed-lip.
2. Pernapasan cuping hidung.
3. Diameter thoraks anterior-
posterior meningkat
4. Ventilasi semenit menurun
5. Kapasitas vital menurun
6. Tekanan ekspirasi menurun
7. Tekanan inspirasi menurun
8. Ekskursi dada berubah

SDKI 0001 Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif.


Definisi : Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan nafas untuk
mempertahankan jalan nafas tetap paten.

Penyebab :
Fisiologis :
1. Spasme jalan napas.
2. Hipersekresi jalan napas.
3. Disfungsi neuromuskuler.
4. Benda asing dalam jalan napas.
5. Adanya jalan napas buatan.
6. Sekresi yang tertahan.
7. Hiperplasia dinding jalan napas.
8. Proses infeksi .
9. Respon alergi.
10. Efek agen farmakologis (mis. anastesi).

Situasional :
1. Merokok aktif
2. Merokok pasif.
3. Terpajan polutan.

Gejala dan tanda mayor :


Subjektif Objektif
tidak tersedia. 1. Batuk Tidak Efektif
2. Tidak Mampu Batuk.
3. Sputum Berlebih.
4. Mengi, Wheezing Dan / Atau
Ronkhi Kering.
5. Mekonium Di Jalan Nafas Pada
Neonatus.
Gejala dan Tanda Minor
Subjektif Objektif
1. Dispnea. 1. Gelisah.
2. Sulit bicara. 2. Sianosis.
3. Ortopnea. 3. Bunyi napas menurun.
4. Frekuensi napas berubah.
5. Pola napas berubah.

Kondisi Klinis Terkait


1. Gullian barre syndrome.
2. Sklerosis multipel.
3. Myasthenia gravis.
4. Prosedur diagnostik (mis. bronkoskopi, transesophageal echocardiography
[TEE] ).
5. Depresi sistem saraf pusat.
6. Cedera Kepala
7. Stroke
8. Kuadriplegia
9. Sindron aspirasi mekonium
10. Infeksi saluran Napas.

SDKI D.0055 Gangguan Pola Tidur

Definisi :
Gangguan kualitas dan kuantitas waktu tidur akibat faktor eksternal

Penyebab :
1. Hambatan lingkungan (mis. kelembapan lingkungan sekitar, suhu lingkungan,
pencahayaan, kebisingan, bau tidak sedap, jadwal
pemantauan/pemeriksaan/tindakan)
2. Kurang kontrol tidur
3. Kurang privasi
4. Restraint fisik
5. Ketiadaan teman tidur
6. Tidak familiar dengan peralatan tidur

Gejala dan Tanda Mayor


Subjektif Objektif
1. Mengeluh sulit tidur Tidak tersedia
2. Mengeluh sering terjaga
3. Mengeluh tidak puas tidur
4. Mengeluh pola tidur berubah
5. Mengeluh istirahat tidak cukup

Gejala dan Tanda Minor


Subjektif Objektif
1. Mengeluh kemampuan beraktivitas Tidak tersedia
menurun

Kondisi Klinis Terkait


1. Nyeri/kolik
2. Hypertirodisme
3. Kecemasan
4. Penyakit paru obstruktif kronis
5. Kehamilan
6. Periode pasca partum
7. kondisi pasca operasi

SDKI D.0029 Menyusui Tidak Efektif.


Definisi :
Kondisi dimana ibu dan bayi mengalami ketidakpuasan atau kesukaran pada
proses menyusui.
Penyebab
Fisiologis
1. Ketidakadekuatan suplai ASI
2. Hambatan pada neonatus (mis. prematuritas, sumbing)
3. Anomali payudara ibu (mis. puting yang masuk ke dalam)
4. Ketidakadekuatan refleks oksitosin
5. Ketidakadekuatan refleks menhispa bayi
6. Payudara bengkak
7. Riwayat operasi payudara
8. Kelahiran kembar

Situasional
1. Tidak rawat gabung
2. Kurang terpapar informasi tentang pentinya menyusui dan/atau metode
menyusui
3. Kurangnya dukungan keluarga
4. Faktor budaya

Gejala dan Tanda Mayor


Subjektif Objektif
1. Kelelahan maternal 1. Bayi tidak mampu melekat pada
2. Kecemasan maternal payudara ibu
2. ASI tidak menetas/memancar
3. BAK bayi kurang dari 8 kali
dalam 24 jam
4. Nyeri dan/atau lecet terus
menerus setelah minggu kedua

Gejala dan Tanda Minor


Subjektif Objektif
Tidak Tersedia 1. Intake bayi tidak adekuat
2. Bayi menghisap tidak terus
menerus
3. Bayi menangis saat disusui
4. Bayi rewel dan menangis terus
dalam jam-jam pertama setelah
menyusui
5. Menolak untuk mengisap
Kondisi Klinis Terkait
1. Abses payudara
2. Masititis
3. Carpal tunnel syndrome

SDKI D0003 Gangguan Pertukaran Gas


Definisi
Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan atau eleminasi karbondioksida pada
membran alveolus-kapiler.

Gejala dan Tanda Mayor


Subjektif Objektif
1. Dispnea. 1. PCO2 meningkat / menurun.
2. PO2 menurun.
3. Takikardia.
4. pH arteri meningkat/menurun.
5. Bunyi napas tambahan.

Gejala dan Tanda Minor


Subjektif Objektif
1. Pusing. 1. Sianosis.
2. Penglihatan kabur 2. Diaforesis.
3. Gelisah.
4. Napas cuping hidung.
5. Pola napas abnormal (cepat /
lambat, regular/iregular,
dalam/dangkal).
6. Warna kulit abnormal (mis.
pucat, kebiruan).
7. Kesadaran menurun.

Kondisi Klinis Terkait :


1. Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).
2. Gagal jantung kongestif.
3. Asma.
4. Pneumonia.
5. Tuberkulosis paru.
6. Penyakit membran hialin.
7. Asfiksia.
8. Persistent pulmonary hypertension of newborn (PPHN).
9. Prematuritas.
10. Infeksi saluran napas.
INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan Intervensi Keperawatan Luaran Keperawatan
(SDKI) (SIKI) (SLKI)
SDKI 0001 SIKI I.01011 Pola Napas – L.01004
Bersihan Jalan Napas Manajemen Jalan Napas Definisi : Inspirasi dan / atau ekspirasi yang memberikan ventilasi
Tidak Efektif. Definisi adekuat.
Mengidentifikasi dan mengelola Ekspektasi : Membaik.
kepatenan jalan napas Kriteria
Menurun
Cukup
Sedang
Cukup
Meningkat
Hasil Menurun Meningkat
Ventilasi Mekanik 1 2 3 4 5
Kapasitas vital 1 2 3 4 5
Tindakan Kapasitas thoraks
1 2 3 4 5
Observasi anterior-posterior
Tekanan ekspirasi 1 2 3 4 5
- Monitor pola napas (frekuensi, Tekanan inspirasi 1 2 3 4 5

kedalaman, usaha napas)


Kriteria Meningka Cukup Cukup
- Monitor bunyi napas tambahan Sedang Menurun
Hasil t Meningkat Menurun
Dispnea 1 2 3 4 5
(mis. Gurgling, mengi, Penggunaan otot
1 2 3 4 5
wheezing, ronkhi ringan) bantu napas
Pemanjangan fase
1 2 3 4 5
- Monitor sputum (jumlah, ekspirasi
Ortopnea 1 2 3 4 5
warna dan aroma) Pernapasan
1 2 3 4 5
pursed-tip
Pernapasan 1 2 3 4 5
Terapeutik cuping hidung

- Pertahankan kepatenan jalan


Kriteria Memburu Cukup Cukup
napas dengan head-tilt dan Sedang Membaik
Hasil k Memburuk Membaik
Frekuensi Napas 1 2 3 4 5
chin-lift (jaw thrust jika curiga Kedalaman
1 2 3 4 5
trauma servikal) Napas
Ekskursi Dada 1 2 3 4 5
- Posisikan semi fowler atau
fowler
- Berikan minuman hangat
- Lakukan fisioterapi dada, jika
perlu
- Lakukan penghisapan lender
kurang dari 15 detik
- Lakukan hiperoksigenasi
sebelum penghisapan
endotrakeal
- Keluarkan sumbatan benda
padat dengan forsep Mc Gill
- Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
- Edukasi asupan cairan 2000
ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
- Ajarkan Teknik batuk efektif

Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspetoran,
mukolitik, jika perlu
SDKI D0003 SIKI I.01002 Pertukaran Gas – L.01003
Gangguan Pertukaran Dukungan Ventilasi Definisi : Oksigenasi dan / atau eliminasi karbondioksida pada
Gas Definisi membran alveolus kapiler dalam batas normal.
Memfasilitasi dalam Ekspektasi : Meningkat
mempertahankan pernapasan
spontan untuk memaksimalkan Kriteria
Menurun
Cukup
Sedang
Cukup
Meningkat
Hasil Menurun Meningkat
pertukaran gas diparu-paru. Tingkat Kesadaran 1 2 3 4 5

Tindakan Kriteria Meningkat Cukup Sedang Cukup Menurun


Observasi Hasil Meningkat Menurun
Dipsnea 1 2 3 4 5
- Identifikasi adanya kelelahan Bunyi Napas
1 2 3 4 5
Tambahan
otot bantu napas Pusing 1 2 3 4 5
- Identifikasi efek perubahan Penglihatan
1 2 3 4 5
Kabur
posisi terhadap status Diaforesis 1 2 3 4 5
Gelisah 1 2 3 4 5
pernapasan Napas Cuping
1 2 3 4 5
Hidung
- Monitor status respirasi dan
oksigenasi (mis. Frekuensi dan Kriteria Memburu Cukup Cukup
Sedang Membaik
kedalaman napas, penggunaan Hasil k Memburuk Membaik
PCO2 1 2 3 4 5
otot bantu napas, bunyi napas, PO2 1 2 3 4 5
Takikardi 1 2 3 4 5
bunyi napas tambahan, saturasi pH Arteri 1 2 3 4 5
Sianosis 1 2 3 4 5
oksigen)
Pola Napas 1 2 3 4 5
Warna Kulit 1 2 3 4 5

Terapeutik
- Pertahankan kepatenan jalan
napas
- Berikan posisi semi fowler
atau fowler
- Fasilitasi mengubah posisi
senyaman mungkin
- Berikan oksigenasi sesuai
kebutuhan (mis. Nasal kanul,
masker wajah, masker
rebreathing, atau non
rebreathing)
- Gunakan bag-valve mask, jika
perlu

Edukasi
- Ajarkan melakukan teknik
relaksasi napas dalam
- Ajarkan mengubah posisi
mandiri
- Ajarkan teknik batuk efektif

Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian
bronkodilator , jika perlu
SDKI D.0029 SIKI I.12393 L.03029-Status Menyusui
Menyusui Tidak Efektif. Edukasi Menyusui Definisi : Kemampuan memberikan ASI secara langsung dari
Definisi payudara kepada bayi dan anak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
Memberikan informasi dan saran
Ekspetasi : Membaik
tentang menyusui yang dimulai dari
antepartum, intrapartum dan post Kriteria Hasil Meningkat
Cukup
Sedang
Cukup
Menurun
Meningkat Menurun
partum. Perlekatan bayi
1 2 3 4 5
pada payudara ibu
Tindakan Kemampuan ibu
Observasi : memposisikan 1 2 3 4 5
bayi dengan benar
- Identifikasi kesiapan dan Miksi bayi lebih
1 2 3 4 5
dari 8 kali/24 jam
kemampuan menerima Berat badan bayi 1 2 3 4 5
Tetesan/pancaran
informasi ASI
1 2 3 4 5

- Identifikasi tujuan dan Suplai ASI


1 2 3 4 5
adekuat
keinginan menyusui Putting tidak lecet
setelah 2 minggu 1 2 3 4 5
melahirkan
Kepercayaan diri
Teraputik ibu
1 2 3 4 5

- Sediakan materi dan media Bayi tidur setlah


1 2 3 4 5
menyusu
Pendidikan Kesehatan Payudara ibu
kosong setelah 1 2 3 4 5
- Jadwalkan Pendidikan menyusui
Kesehatan sesuai kesepakatan Intake bayi 1 2 3 4 5
Hisapan bayi 1 2 3 4 5
- Berikan kesempatan untuk
bertanya Kriteria Cukup Cukup
Menurun Sedang Meningkat
Hasil Menurun Meningkat
- Dukung ibu meningkatkan Lecet pada puting 1 2 3 4 5
kepercayaan diri dalam Kelelahan maternal 1 2 3 4 5
menyusui Kecemasan
1 2 3 4 5
- Libatkan sistem pendukung : maternal

suami, keluarga, tenaga Bayi rewel 1 2 3 4 5


Bayi menangis
Kesehatan dan masyarakat 1 2 3 4 5
setelah menyusu

Edukasi
- Berikan konseling menyusui
- Jelaskan manfaat menyusui
bagi ibu dan bayi
- Ajarkan 4 (empat) posisi
menyusui dan perlekatan (lacth
on) dengan benar
- Ajarkan perawatan payudara
antepartum dengan
mengkompres dengan kapas
yang telah diberikan minyak
kelapa
- Ajarkan perawatan payudara
post partum (mis. Memerah
ASI, pijat payudara, pijat
oksitosin)
SDKI D.0055 Dukungan Tidur (1.05174) L.05045 - Pola Tidur
Gangguan Pola Tidur Definisi: Definisi : Keadekuatan kualitas dan kuantitas tidur
Memfasilitasi siklus tidur dan Ekspetasi : Membaik
terjaga yang teratur.
Kriteria Cukup Cukup
Menurun Sedang Meningkat
Hasil Menurun Meningkat
Tindakan: Keluhan sulit tidur 1 2 3 4 5
Observasi: Keluhan sering
1 2 3 4 5
 Identifikasi pola aktivitas terjaga
Keluhan tidak puas
dan tidur 1 2 3 4 5
tidur
 Identifikasi faktor
Keluhan pola tidur
pengganggu tidur (fisik dan berubah
1 2 3 4 5

atau psikologis) Keluhan istirahat 1 2 3 4 5


 Identifikasi makanan dan tidak cukup

minuman yang mengganggu


tidur (mis. kopi, teh, Kriteria Cukup Cukup
Meningkat Sedang Menurun
Hasil Meningkat Menurun
alkohol, makan mendekati Kemampuan
1 2 3 4 5
beraktifitas
waktu tidur, minum banyak
air sebelum tidur)
 Identifikasi obat tidur yang
dikonsumsi
Terapeutik:
 Modifikasi lingkungan (mis.
pencahayaan, kebisingan,
suhu, matras, dan tempat
tidur)
 Batasi waktu tidur
siang, jika perlu
 Fasilitasi menghilangkan
stres sebelum tidur
 Tetapkan jadwal tidur rutin
 Lakukan prosedur untuk
meningkatkan kenyamanan
(mis. pijat, pengaturan
posisi, terapi akupresur)
 Sesuaikan jadwal pemberian
obat dan/atau tindakan
untuk menunjang siklus
tidur-terjaga
Edukasi:
 Jelaskan pentingnya tidur
cukup selama sakit
 Anjurkan menepati
kebiasaan waktu tidur
 Anjurkan menghindari
makanan/minuman yang
mengganggu tidur
 Anjurkan penggunaan obat
tidur yang tidak
mengandung suplesor
terhadap tidur REM
 Ajarkan faktor-faktor yang
berkontribusi terhadap
gangguan pola tidur (mis.
psikologis, gaya hidup,
sering berubah shift bekerja)
 Ajarkan relaksasi otot
autogenik atau cara
nonfarmakologi lainnya
DAFTAR PUSTAKA

Armina, A., & Pebrianti, D. K. (2024). Profil Status Oksigenasi dan Lama Rawat
Bayi Respiratory Distress Syndrome. Jurnal Akademika Baiturrahim Jambi.
Brat, R., et al. (2020). Lung ultrasound for assessment of neonatal respiratory
distress syndrome. Pediatrics.
Hansen, A. R. (2020). Neonatology: Management, Procedures, On-Call
Problems, Diseases & Drugs. McGraw-Hill.
Huang, Y., et al. (2023). Blood gas analysis in neonatal respiratory disorders.
Journal of Neonatal Medicine.
Retnaningsih, P. (2024). Faktor Risiko Kejadian Respiratory Distress Syndrome
pada Bayi Baru Lahir. Universitas Al-Irsyad Cilacap.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Indikator Diagnostik (Edisi 1). Jakarta: Dewan Pengurus Pusat
Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Tindakan Intervensi Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia:
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (Edisi 1). Jakarta: Dewan
Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Wang, L., et al. (2022). Pulse oximetry monitoring in neonatal respiratory
distress. Neonatal Care Journal.
Windiani, S., & Maghfirah, M. (2024). Gawat Nafas Neonatus. GALENICAL.
Zhang, P., et al. (2021).
Laboratory markers distinguishing RDS and neonatal pneumonia. International
Journal of Neonatal Science.
.

Anda mungkin juga menyukai