HTN (Desentralisasi dan dekonsentrasi)
1. Dekonsentrasi
Dekonsentrasi Menurut Instituut Voor besturrswetenschappen dalam
laporan penelitian tentang organisasi pemerintahan 1975 1[1], Dekonsentrasi
adalah “penugasan kepada pejabata atau dinas-dinas yang mempunyai
hubungan hirarki dalam suatu badan pemerintahan untuk mengurus tugas-
tugas tertentu yang disertai hak Untuk mengatur dan membuat keputusan
dalam masalah-masalah tertentu, pertanggungjawaban terakhir tetap pada
badan pemerintahan nyang bersangkutan”.
Danuredjo , mengemukakan Dekonsentrasi berarti pelimpahan
wewenang dari organ-organ tinggi kepada organ-organ bawahan setempat
dan administratif2[2]. Sedangkan E. Utrecht menyebut Dekonsentrasi
sebagai penyerahan kekuasaan membuat peraturan kepada alat-alat
administrasi Negara pusat yang lebih dibawah daripada pemerintahan 3[3]
Menurut Bagir manan , Dekonsentrasi hanya bersangkutan dengan
penyelenggaraan Administrasi Negara, karena itu bersifat kepegawaian.
Kehadiran dekonsentrasi semata-mata untuk melancarkan penyelenggaraan
sentral di daerah.4[4]
Berdasarkan pendapat diatas, maka pada dasarnya Dekonsentrasi itu
dilaksanakan untuk memuddahkan tugas-tugas pemerintahan pusat yang
diselenggarakan di daerah. Oleh karena itu menurut Bagir Manan: 5[5]
1 [1] Philipus m. Hadjon, pengantar hukum administrasi indonesia, yogyakarta :
gadjah mada university press, 1993, hal 112
2[2] s.l.s. Danuredjo dalam joniarto, perkembangan pemerintahan lokal, jakarta ;
melton putra, hal 35.
3[3] e. Utrecht, pertumbuhan pemerintah daerah di negara republik indonesia,
yogyakarta : liberty , 1993, hal 120.
4[4] bagir manan, perjalanan…., hal 61.
5[5] ibid , hal 62.
Dekonsentrasi adalah unsur bsentralisasi. Karena semata-mata hanya
bersifat kepegawaian, maka dekonsentrasi dalam ilmu hukum, terletak
dalam lingkungan Hukum Administrasi Negara.
A. Penjelasan
Dekonsentrasi berdasarkan ketentuan pasal 1 huruf F Undang-Undang
N0. 5 Tahun 1974 adalah pelimpahan kewengan dari pemerintah atau
Instansi Vertikal tingkat atasnya kepada pejabat-pejabat didaerahnya.
Sedangkan didalam Pasal 1 Huruf H UU No. 22 Tahun 1999 dekonsentrasi
adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah kepada Gubernur sebagai
wakil pemerintah dan/atau perangkat pusat didaerah. Makna dekonsentrasi
dalam UU No. 5 Tahun 1974 menunjukkan betapa banyaknya organ
pemerintah pusat yang ada didaerah. Dalam redaksi yang sedikit berbeda
berdasarkan pasal 1 angka 8 UU No. 32 Tahun 2004 Dekonsentrasi adalah
pelimpahan wewenang pemerintah oleh pemrintah kepada Gubenur sebagai
wakil pemerintah dan / atau kepada instansi vertical diwilayah tertentu.
Berkaitan dengan asas dekonsentrasi, persoalan yang kemudian
timbul dalam dekonsentrasi adalah Figur kewenangan yang dimiliki oleh
organ pusat yang ada di daerah. Apakah organ pusat yang didaerah itu
bertindak berdasarkan suatu delegasi wewenang, mandate, ataukah atribusi
wewenang.
a. Delegasi
Pengertian delegasi menurut Philipus M. Hadjon, delegasi diartikan
sebagai penyerahan wewenang untuk membuat besluit oleh pejabat
pemerintahan (Pejabat TUN) kepada pihak lain dan wewenang tersebut
menjadi tanggungjawab pihak lain tersbut 6[6].
J.B.J.M. ten Berge mengemukakan Syarat-syarat delegasi adalah
sebagai berikut :
6 [6] philipus m. Hadjon, tentang wewenang yuridika f.h,universitas airlangga , no 5
dan 6 tahun xii, september 1997 hal 1
a) Delegasi harus definitive, artinya delegasi tidak dapat lagi menggunakan
sendiri wwenang yang telah dilimpahkan itu.
b) Delegasi harus berdasarkan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-
undangan, artinya delegasi hanya dimungkinkan kalau ada ketentuan untuk
itu dalam peraturan perundang-undangan.
c) Delegasi tidak kepada bawahan, artinya dalam hubungan hirarki
kepegawaian tidak diperkenankan adanya delegasi.
d) Kwajiban member keterangan , artinya delegasi berwenang untuk meinta
penjelasan tentang pelaksanaan wewenang tersebut.
e) Peraturan kebijakan, artinya delegasi memberikan instruksi (petunjuk)
tentang penggunaan wewenag tersebut.
Berdasarkan ketentuan tersebut diatas, dapat diketahui bahwa organ
pemerintah pusat yang melaksanakan tugas pemerintahan didaerah
bertindak Tidak berdasarkan pada suatu delegasi wewenang karena organ
pmerintah dengan organ pemerintah pusat yang didaerah terdapat
hubungan hirarki.
b. Mandat
Mandat merupakan suatui pelimpaha wewenang kepada bawahan.
Pelimpahan itu bermaksud memberi wewenang kepada bawahan untuk
membuat keputusan pejabat tun yang memberi mandat. Keputusan ini
merupakan keputusan pejabat Tun yang member mandat. Dengan demikian
tanggung jawab dan tanggung gugat tetap ada pada pemberi mandat.
Dalam mandat ini juga tidak ada sama sekali pengakuan kewenangan
atau pengalihtangan kewenangan.7[7]
Dengan mendasarkan kepada pengertian dekonsentrasi sebagai
“pelimpahan wewenang dari pemerintah….” maka dengan pengertian yang
demikian berarti wewenang yang dimiliki oleh organ pusat di daerah yang
melaksanakan tugas-tugas dekonsentrasi adalah bukan suatu mandat.
c. Atribusi
7[7] philipus m. Hadjon, pengantar hukum tata negara, … hal, 118-119.
Atribusi dalam suatu dekonsentrasi tidak terdapat pembentukan lembaga
baru yang terpisah dari organ pemerintah pusat. Artinya dalam
dekonsentrasi, lembaga yang melaksanakan tugas-tugas dekonsentrasi
adalah merupakan unsur pemerintah pusat.
Bagir Manan Mengemukakan bahwa :
Pengaturan dekonsentrasi, dengan demikian Inberen dalam wewenang
administrasi Negara. Pengaturan dekonsentrasi baru menjadi wewenang
pembentukan undang-undang apabila administrasi Negara bermkasud
mengalihkan wewenang itu pada badan-badan diluar administrasi Negara
yang bersangkutan.
Berdasarkan pendapat tersebut diatas, diketahui bahwa
penyelenggaraan pemerin tahan dengan pola sentralisasi belum ada suatu
pembagian wewenang pemerintahan antara pemerintahan pusat dangan
pemerintahan daerah.
2. Desentralisasi
Desentralisasi pada dasarnya terjadi setelah sentralisasi melalui
asas dekonsentrasi tidak dapat melaksanakan tugas pemerintahan secara
baik dalam arti pemerintahan gagal dalam mewujudkan pemerintahan yang
demokratis.
Suatu pemerintahan yang mampu mengakomodikasikan unsur-unsur
yang bersifat kedaerahan berdasarkan aspirasi masyarakat daerah. Oleh
karena itu urusan pemerintahan yang merupakan wewenang pemerintah
pusat sebagian harus diserahkan kepada organ Negara lain yang ada
didaerah (Pemerintah daerah), untuk diurus sebagai rumah tangganya.
Proses penyrahan sebagian urusan pemerintahan kepada daerah untuk
menjadi urusan rumah tangganya inilah yang disebut Desentralisasi.
Philipus M. Hadjon Mengemukakan:“Desentralisasi mengandung
makna bahwa wewenang untuk mngatur dan mengurus urusan
pemerintahan tidak semata-mata dilakukan oleh pemerintah pusat,
melainkan dilakukan juga oleh satuan-satuan pemerintahan yang lebih
rendah, baik dalam bentuk satuan territorial maupun fungsional. Satuan-
satuan pemerintahan yang lebih rendah diserahi dan dibiarkan mengatur
dan mengurus sendiri sebagaian urusan pemerintahan”.
Berkaitan dengan tujuan desentralisasi, Bagir Manan
Mengemukakan bahwa: “Ditinjau dari sudut penyelenggaraan pemerintahan,
desentralisasi antara lain beertujuan meringankan beban pekerjaan pusat.
Dengan desntralisasi berbagai tugas dan pekerjaan dialihkan kepada daerah.
Pusat, dengan demikian dapat lebih memusatkan perhatian pada hal-hal
yang bersangkutan dengan kepentingan nasional atau Negara keseluruhan.
Pusat tidak perlu mempunyai aparat sendiri di daerah kecuali dalam batas-
batas yang diperlukan. Namun demikian, tidaklah berarti dalam lingkungan
desntralisasi tidak boleh ada fungsi dekonsentrasi”.
Berdasarkan pendapat tersebut dapatlah disimpulkan bahwa antara
desentralisasi dan dekonsentrasi bukanlah suatu pilihan tetapi suatu yang
harus ada (dapay dilakanakan secara bersamaan dalam penyelenggaraan
pemerintahan pada suatu Negara kesatuan). Baik desentralisasi maupun
dekonsentrasi merupakan cirri suatu Negara bangsa dan keduanya
berangkat dari suatu titik awal yang sentralistik, sebagaimana dikemukakan
oleh Herbet H. Welin Bahwa sesungguhnya desentralisasi tidak terjadi tanpa
sentralisasi.
Isma’il Husin Mengemukakan : “ dengan mengikuti sejarah
pertumbuhan dan perkembangan organsisai-organsiasi modern dibeberapa
Negara , dapat diketahui bahwa desentralisasi pada hakikatnya merupakan
suatu konsep yang lahir setelah sentralisasi mencapai wujudnya. Ini berarti
bahwa desentralisasi tak mungkin lahir tanpa didahului oleh sentralisasi
dilaksanakan, dan sentralisasilah yang mula-mula diperlukan 8[8]”.
Berdasarkan pemikiran para ahli tersebut diatas, maka antara
desentralisasi dan dekonsentrasi memiliki persamaan, namun terdapata
perbedaan. Penyelenggaraan dekonsentrasi dilaksanakan dalam suatu area
hukum administrasi sehingga antara organ pemerintah yang ada dipusat
dengan pemerintah yang menyelenggarakan dekonsentrasi didaerah
terdapat suatu hubungan hirarki. Dalam hubungan yang demikian itu, tidak
ada suatu penyerahan wewenang. Penyelenggaraan pemerintahan
dekonsentrasi hanya merupakan pelaksana dari kebijakan yang telah
diterapkan dari pusat. Hal ini berarti bahwa dekonsentrasi adalah unsur
sentralisai.
Berbeda dengan dekonsentrasi, desentralisasi berangkat dari saat
dimana sentralisasi tidak mampu lagi menyesuaikan dengan kondisi suatu
Negara kesatuan yang memiliki wilayah yang luas dengna jumlah penduduk
yang besar, yang terdiri dari berbagai suku, adat-istiadat, dan Agama.
Dengan kondisi yanag demikian sentralisasi menghadapi tantangan berupa
tuntutan-tuntutan daerah karena pemerintahan sentralistik dilaksanakan
berdasarkan kebijakan pusat.
8[8] Ismail Husin, Beberpa Masalah Hukum Tata Negara Indonesia, Bandung,
Alumni, 1997, Hal 273.
Konsekuensi dari luas wilayah, keragaman suku, adat-istiadat dan
agama adalah daerha memiliki kebutuhan dan kepentingan berbeda –beda
sehingga diperlukan suatu pemerintahan yang mampu mengakomodasi
kepentingan yang berbeda setiap daerah. Pemerintah yang sentralistik tidak
mampu secara bersamaan mengakomodasi berbagai kepentingan yang
berbeda-beda, sehingga kepada daerah harus diberi wewenang untuk
mengurus kebutuhan dan kepentingannya itu menjadi urusan rumah
Tangganya.
Tujuan desentralisasi adalah agar penyelenggaraan pemerintahan
didaerah lebih disesuaikan dengan keadaan daerah masing-masing 9[9].
Dalam rangka desentralisasi dibentuk daerah otonom.
Dalam rangka desentralisasi daerah otonom berada diluar hirarki
organisasi pemerintahan pusat. Desentralisasi menunjukkan pola hubungan
kewenangan antara organisasi dan bukan pola hubungan kewenangan intra
organisasi.
Berkaitan dengan hal tersebut, saya dapat mengemukakan 3 (tiga)
elemen pokok dalam desentralisasi :
a. Pembentukan organisasi pemerintahan daerah otonom.
b. Pembagian wilayah Negara menjadi daerah otonom.
c. Penyerahan wewenang untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintahan kepada daerah Otonom.
Dalam Negara kesatuan kedua aktivitas tersebut dilakukan oleh
pemerintah melalui proses hukum. Dengan kata lain dalam proses
desentralisasi adalah wewenang pemerintah pusat. Adapun proses
penyerahan wewenang kepada daerah dilakukan UU Pemerintahan Daerah
yang pernah berlau dapat dilakukan melalui dua cara yaitu :
1. Penyerahan penuh, artinya baik tentang asas-asasnya (prisip-prisipnya)
maupun tentang caranya menjalankan kewejibannya (pekerjaan) yang
diserahkan itu, diserahkan semuanya kepada daerah (Hak Otonom).
9[9] Joniarto, Perkembangan…… [Link]., Hal 13.
2. Penyerahan tidak penuh, artinya penyerahan hanya mengenai cara
menjalankannya saja, sedangkan asas-asasnya diterapkan oleh pemerintah
pusat sendiri.
Dengan terbntuknya daerah Otonom dan terjadinya penyerahan
wewenang dari pemerintah pusat kepada daerah otonom, tidak berarti
bahwa daerah otonom sudah terlepas dari pengawasan pemerintah pusat.
Pemerintah pusat tetap miliki akses untuk melakukan pengawasan dalam
pelaksanaan pemerintah daerah. Pengawasan merupakan pengikat
kesatuan, agar bandul kebebasan berotonomi tidak bergerak begitu jauh
sehingga mengurangi bahkan mengancam kesatuan.
Pada desentralisasi pembagian kewenangan antara pusat dan
daerah tidak ditentukan oleh sifat urusan, lebih ditujukan pada manfaat.
Apakah suatu urusan lebih bermanfaat jika diurus oleh pusat atau disrahkan
kepada darah. Terkait dengan itu pula, selain urusan-urusan yang
dikecualikan yaitu urusan-urusan yang tidak boleh diserahkan kepada
daerah.
Oleh karena itu tidak ada jenis urusan pemerintahan yang secara
lengkap dan alami adalah urusan pemerintahan setiap saat dapat bergeser
dari urusan daerah menjadi urusan pusat atau sebaliknya.
Dalam keadaan demikian, harus dikembangkan berbagai aturan
yang mengatur mekanisme yang akan menjelmakan keseimbangan antara
kesatuan dan tuntutan beroronomi.