Hitam
SEBUAH PERTEMUAN
Asep seorang pria yang tinggal di sebuah desa di pinggiran kota dimana hangat selalu
memeluk dan pelangi tak pernah luntur. Ia adalah orang yang biasa saja, namun memiliki
keperibadian yang ramah dan selalu membantu sesama. Ia bekerja sebagai soerang petani di
sebuah ladang milik tetangganya. Keseharian asep sangat sederhana seperti layaknya petani
pada umumnya, mengurusi tanaman, menikmati kopi, mengurusi hama yang seringkali
merusak tanamannya, dan hal-hal normal pada umumnya petani.
Pada Suatu sore, Asep sedang berjalan-jalan di tepi jalan yang menuju ke desanya dengan
membawa ikan, dan beberapa kayu bakar dari pinggir sungai. Di perjalanan pulang ia melihat
sebuah kereta kuda yang sedang terbalik di tengah jalan. Dengan rasa penasaran dan hawatir
akan sesuatu yang terjadi pada kkereta kuda itu Asep segera mendekat untuk melihat apa
yang terjadi pada kereta itu. Di sana ia melihat ada seorang pria tua yang terjebak di dalam
kereta. Asep segera bertindak dengan cepat dan berusaha untuk membantu pria tua itu keluar
dari kereta. Namun, ia terkejut saat melihat bahwa pria tua itu tidak memiliki wajah. Ia hanya
memiliki sebuah lubang hitam di bagian kepala yang seakan-akan menjadi mulutnya.
Asep tidak tahu harus berbuat apa. Ia merasa bingung dan tidak mengerti mengapa ada
seorang pria tua yang tidak memiliki wajah di kereta kuda yang terbalik di tengah jalan.
Namun, Asep tetap berusaha untuk membantu pria tua itu keluar dari kereta.
Setelah berhasil membebaskan pria tua itu dari kereta, Asep bertanya kepadanya, "Siapa
namamu dan mengapa kamu tidak memiliki wajah?" Pria tua itu hanya terdiam sejenak,
kemudian ia menjawab, "Aku tidak memiliki nama dan aku tidak memiliki wajah karena aku
adalah orang yang tidak berarti." Asep merasa terkejut dengan jawaban pria tua itu. Ia tidak
mengerti mengapa seseorang bisa merasa tidak berarti. Namun, ia tetap bersikap ramah dan
menawarkan bantuan kepada pria tua itu. Asep mengajak pria tua itu kerumahnya untuk
mengobati luka-lukanya akibat tertindih kereta kuda yang ia bawa. Pria tua itu menerima
bantuan Asep dengan senang hati dan Ia mengikuti Asep ke rumahnya.
Di perjalan pulang menuju rumah suasana begitu hening dan canggung tidak ada satu patah
katapun yang keluar dari mulut mereka. Asep dengan pikirannya masih merasa heran kenapa
ada manusia yang tidak memiliki wajah? Tapi ia mencoba untuk tidak bertanya hal itu karna
takut mrnyinggung perasa pria tua itu. Sesampainya di rumah, asep menyuruh pria tua untuk
duduk di kursi di halaman rumahnyaa, “silahkan duduk, aku akan masuk dulu sebentar untuk
membawa obat dan perban untuk lukamu” ucap asep kepada lelaki tua itu lalu pergi untuk
mengambil obat. Tak begitu lama akhirnya asep keluar membawa beberapa obat herbal dan
perban. “ini daun herbal untuk mengubati lukamu.” Ucap aseep sambil memberikan obat itu
pada pria tua. “terima kasih karna sudah mau membantuku.” Balas peri tua sambil mengabil
obat yang diberikan asep. “biasanya orang akan lari jika melihatku, meraka akan melihatku
dengan aneh karna aku tidak mempunyai wajah, biasanya meraka akan takut lalu pergi
meninggalkan ku.” Tambahnya. “sebenarnya aku juga merasa aneh dan takut ketika melihat
mu, tapi aku tidak bisa meninggalkan seseorang yang teluka begitu saja.” Ujar asep dengan
rasa yang masih penasaran. “sekali lagi terima kasih karna sudah membantu.”
Hari sudah hampir gelap dan si peria tua itu meminta izin untuk pulang. “memangnya dimana
rumah mu?” Tanya asep. “aku tinggal di dalam hutan di samping desa.” Jawab si peria tua
itu. “oh aku tau tempat itu, biar aku antar kau untuk pulang.” Asep menawwarkan bantuan
karna merasa hawatir pada pria tua itu karna dia masih terluka. Tapi peria tua itu menolak,
dia berkata dia bisa pulang sendiri karna dia sudah merasa baikan. “kau begitu baik, apakah
kita bisa berteman?” tanya si peria tua itu. “tentu saja, panggil saja aku Asep, dan kita
sekarang berteman.” Lalu merekapun bersalaman sebagai tanda pertemanan. Meskipun ada
banyak pertanyaan yang tidak terjawab mengenai pria tua itu, Asep tetap mau menjadi
temannya dan selalu menunjukkan sikap ramah kepadanya.
Hari-hari berlalu dengan biasa saja, Asep sesekali mengunjungi pria tua itu untuk sekedar
mengobrol dan membantu jika terjadi masalah. Asep dan Pria tua itu makin hari makin akrab,
banyak hal yang sering mereka lakukan, meraka sering bermain catur, mengobrolkan banyak
hal, dan kadang hanya duduk menikmati kopi dipinggir sawah.
Pada suatu hari, Pria tua itu mulai sering memberikan pertanyaan-pertanyaan yang aneh
kepada Asep. Ia bertanya tentang keberadaan manusia di dunia ini, mengapa ada yang baik
dan buruk, dan banyak pertanyaan lain yang membuat Asep merasa bingung. Asep tidak tahu
jawabannya, namun ia menemani pria tua itu dan selalu menunjukkan sikap ramah
kepadanya. Namun, ada suatu ketika, pria tua itu mengajak Asep untuk pergi ke tempat yang
jauh. Asep tidak tahu kemana mereka akan pergi, namun ia tetap setuju karena ia merasa
ingin mengenal lebih jauh tentang pria tua itu.
Mereka berjalan sejauh beberapa kilometer memasuki hutan yang masih rimbun dan akhirnya
sampai di sebuah gua yang sangat gelap. Pria tua itu meminta Asep untuk masuk ke dalam
gua itu. Asep merasa tidak enak, namun ia tetap mengikuti pria tua itu karena ia merasa harus
melakukan apa yang diinginkan temannya.
Di dalam gua, Asep merasakan suasana yang sangat menyeramkan. Ia tidak bisa melihat apa-
apa dan hanya mendengar suara-suara yang aneh. “hey, sebenarnya tempat apa ini?” tanya
asep dengan bingung. Pria tua itu menjelaskan bahwa di dalam gua itu terdapat jawaban atas
semua pertanyaan yang pernah ia ajukan.
Asep merasa bingung, namun ia tetap mengikuti pria tua itu. Setelah berjalan selama
beberapa menit menyusuru gua yang gelap dan menyeramkan, mereka akhirnya sampai di
sebuah ruangan yang terang. Di dalam ruangan itu, Asep melihat banyak orang yang tidak
memiliki wajah seperti pria tua itu.
Asep merasa terkejut dan tidak mengerti mengapa ada banyak orang yang tidak memiliki
wajah di tempat itu. “Mereka sama seperti ku” kata pria tua. Pria tua itu menjelaskan bahwa
mereka adalah orang-orang yang merasa tidak berarti di dunia ini dan datang ke tempat ini
untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka bingung.
Asep mulai merasa sedikit terganggu dengan tempat ini. Ia tidak mengerti mengapa pria tua
itu membawanya ke tempat yang seperti ini. “lantas kenapa malah mencari jawaban di tempat
seperti ini?” tanya Asep kepada si lelaki tua. Lelaki tua itu hanya diam saja tidak menjawab
pertanyaan dari asep. Asep merasa bingung dan tidak mengerti mengapa ada banyak orang
yang tidak memiliki wajah di tempat itu. Ia mulai merasa tidak nyaman dan ingin segera
keluar dari tempat itu. Namun, pria tua itu memintanya untuk tetap bersabar dan mencari
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.
Asep mencoba untuk bersabar, namun ia tetap merasa tidak nyaman di tempat itu. Ia tidak
mengerti mengapa ada orang-orang yang merasa tidak berarti dan datang ke tempat ini untuk
mencari jawaban. Setelah beberapa lama, Asep mulai merasa bosan. Ia tidak ingin terus
berada di tempat yang seperti itu. Ia memutuskan untuk kembali ke desanya dan
meninggalkan pria tua itu di tempat itu.
Sebagai orang teman yang baik, Asep masih menawarkan bantuan kepada pria tua itu untuk
kembali ke desanya. Namun, pria tua itu menolak dan memilih untuk tetap tinggal di tempat
itu.”aku tidak bisa kembali, aku harus menemukan jawaban dari semua kekosongan yang ada
di dinia ini.” Asep merasa sedikit kecewa mendengar jawaban dari temannya itu, namun ia
tidak bisa memaksa pria tua itu untuk ikut bersamanya. Asep kembali ke desanya sendirian.
Ia merasa sedikit kehilangan karena harus meninggalkan temannya di tempat yang gelap dan
menyeramkan itu. Namun, ia juga merasa lega karena sudah kembali ke tempat yang aman
dan nyaman.
Beberapa hari kemudian, saat Asep sedang sibuk bekerja sebagai petani, pertanyaan-
pertanyaan aneh itu kembali muncul di kepalanya. Ia mulai merasa bingung dan tidak tahu
harus berbuat apa.
Asep kembali mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Ia membaca
banyak buku dan mencari informasi dari internet, namun tidak menemukan jawaban yang
memuaskan. Asep mulai merasa putus asa. Ia tidak tahu harus berbuat apa lagi untuk
menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu. Namun, ia tidak menyerah dan tetap
berusaha mencari jawaban.
Akhirnya, setelah beberapa bulan, Asep mulai menemukan sedikit jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan aneh dari pria tua itu yang selama ini memenuhi isi kepalanya. Asep mulai
menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan filosofis itu tidak selalu memiliki jawaban yang
pasti. Ia menyadari bahwa ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-
kata, dan itu tidak masalah.
Asep mulai mulai mencoba untuk menerima pemikiran atas jawban yang dia temukan sendiri
hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa itu adalah jawaban yang tepat untuk menjawab
pertanyaan aneh yang pernah dia dapatkan. Ia tidak lagi terbebani oleh pertanyaan-pertanyaan
aneh yang selama ini memenuhi isi kepalanya, dia hanya ingin melanjutkan hidupnya dengan
tenang dan damai.
ALENA
Di kota dimana hangat selalu memeluk dan pelangi tak pernah memudar ada Seorang gadis
penjual sayur yang selalu tampak ceria, Alena namanya. Dia adalah wanita muda yang penuh
semangat dan ceria. Ia selalu tampak bahagia dan optimis, tidak peduli apa yang sedang
terjadi di sekitarnya. Namun, di balik keceriaannya itu, Alena merasa ada sesuatu yang hilang
dalam hidupnya, seperti ada lubang hitam besar di tengah cahaya.
Suatu hari, Alena bertemu dengan teman lamanya, di taman kota. Namanya Asep, dia adalah
seorang pria yang selalu tampak tenang dan ramah, seolah ia telah menemukan jawaban atas
semua pertanyaan yang ada dalam hidupnya.
"Apa yang membuatmu selalu tenang, Asep?" tanya Alena sambil menatap Asep dengan
penuh kecurigaan.
"Aku hanya mencoba untuk menemukan arti hidupku," jawab Asep sambil tersenyum. "Dan
aku pikir aku telah menemukannya."
Alena terdiam. Ia merasa iri pada Asep yang telah menemukan jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan eksistensial yang selalu menghantui dirinya.
"Bagaimana caramu menemukannya?" tanya Alena dengan penuh rasa ingin tahu.
"Aku hanya mencoba untuk menikmati setiap detik hidupku dan mencari kebahagiaan di
setiap hal yang ada di sekitarku," jawab Asep. "Dan aku pikir itu sudah cukup."
Alena terdiam lagi. Ia merasa aneh mendengar jawaban Asep yang begitu sederhana, dan ia
mulai berpikir bahwa ia juga harus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan
eksistensialnya sendiri.
"Terima kasih, Asep," kata Alena sambil tersenyum. "Aku akan mencoba untuk melakukan
hal yang sama."
Dia terus memikirkan bagai mana teman masa kecilnya mendapatkan jawaban yang
sesederhana itu, bagai mana mungki kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk menikmati
setiap detik hidup dan mencari kebahagiaan di setiap hal yang ada di sekitarnya.
Setelah bertemu dengan Asep dan berbicara tentang banyak hal, Alena ijin pamit
meninggalkan asep untuk mencari arti hidupnya sendiri. Ia beranjak dari taman kota dan
pergi ke sebuah pantai, di mana ia bisa merasakan keindahan alam dan tenangnya laut.
Di pantai itu, Alena berjalan-jalan menyusuri pasir yang lembut dan menatap keindahan
lautan yang luas. Ia merasa sangat terpesona oleh keindahan alam yang ada di sekitarnya, dan
ia mulai merasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Sambil
berjalan-jalan, Alena menemukan sebuah batu besar yang terletak tepat di tepi pantai. Ia
duduk di atas batu itu dan mulai memikirkan kembali tentang apa yang telah dikatakan Asep
tentang menemukan arti hidup.
"Mungkin Asep benar," pikir Alena. "Mungkin kebahagiaan sebenarnya terletak pada
kemampuan untuk menikmati setiap detik hidup dan mencari kebahagiaan di setiap hal yang
ada di sekitarku."
Ditengah lamunannya di pantai itu, Alena bertemu dengan seorang nelayan tua yang separuh
hidupnya dihabiskan di atas lautan. Nelayan tua itu tampak bijaksana dan memiliki banyak
cerita mengenai kehidupannya di laut.
Nelayan itu turun dari perhaunya lalu berjalan mendekati Alena. "Halo, nak," kata nelayan
tua itu sambil tersenyum ramah pada Alena. "Apa yang membawa kamu ke sini?"
"Aku hanya ingin menikmati keindahan alam dan mencari inspirasi," jawab Alaena. "Aku
sedang mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang ada dalam hidupku."
Nelayan tua itu terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan eksistensial mungkin tidak bisa ditemukan dengan mudah, nak. Kamu harus
mencari jawabannya dengan hatimu sendiri."
Alena terdiam mendengar jawaban nelayan tua itu. Ia merasa aneh mendengar kata-kata
nelayan tua itu dan mulai memikirkan apa yang sebenarnya ia cari dalam hidupnya.
Nelayan tua itu kemudian mulai bercerita tentang perjalanan hidupnya di lautan. Ia
menceritakan tentang bagaimana ia menghabiskan separuh hidupnya di atas lautan, mencari
ikan dan menghadapi berbagai macam tantangan yang ada di laut.
Nelayan itu menceritakan tentang pengalamnanya diselamatkan dari badai besar dilautan oleh
seekor ikan paus besar yang bisa berbicara. Dia juga bercerita tentang pengalamannya
diserang bajak laut karna dia berhasil menemukan sebuah harta karun legendaris yang
didalammnya berisi mutiara besar yang sangat indah
"Perjalanan hidup ini tidak selalu mudah, nak," kata nelayan tua itu. "Kadang kita harus
menghadapi banyak rintangan dan tantangan, tapi itulah yang membuat hidup ini
menyenangkan."
Alena mendengarkan cerita nelayan tua itu dengan seksama dan merasa kagum oleh
keberanian dan keteguhan hati nelayan tua itu.
"Terima kasih, pak," kata Alena. "Kamu telah memberiku banyak pelajaran dan cerita yang
menyenangakan dari perjalanan mu di atas lautan."
Nelayan tua itu tersenyum dan tertawa lalu memberikan beberapa wejangan kepada Alena.
"Jangan pernah takut untuk mencoba hal-hal baru dan mengejar mimpimu, nak. Hidup ini
terlalu singkat untuk tidak mencoba hal-hal baru." Alena mengangguk mengerti dan merasa
bersyukur atas wejangan yang diberikan oleh nelayan tua itu.
"Terima kasih, pak," kata Alena sambil tersenyum. "Aku akan mencoba untuk menemukan
jawabannya sendiri."
Setelah menceritakan kisahnya dan memberikan beberapa wejangan kepada Alena, nelayan
tua itu kembali ke laut untuk menikmati hidupnya. Ia tersenyum bahagia dan merasa
bersyukur atas kehidupannya yang penuh dengan petualangan dan tantangan.
Alena sendiri kembali ke kota dimana hangat selalu memeluk dan pelangi tak pernah
memudar dengan raut wajah bahagia setelah menikmati indahnya lautan, dan kepalanya yang
awalnya dipenuhi oleh pertanyaan yang selama ini mengganggu hidupnya mulai berkurang
dan menghilang.
KENIHILAN
Namanya Misbah, seorang anak muda yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, dia juga
merupakan murid seorang pemuka agama. Pada suatu hari dia merasa bosean dengan
lingkungan disekitar tempat dia mempelajari ilmu agama, dia berniat untuk pergi kesebuah
hutan yang dilarang untuk dimasuki oleh siapapun untuk mencari tau apa yang ada didalam
hutan itu. Setelah menempuh perjalanan sekitar 10 menit menelusuri hutan yang rimbun dia
menemukan sebuah goa yang sangat gelap, dikarnakan rasa penasaran yang tinggi dia
membeeranikan diri untuk melihat apa yang ada didalam goa itu lalu diapun masuk
kedalamnya.
Di dalam goa tersebut, dia bertemu dengan sekelompok orang tua yang tidak memiliki wajah
dan hanya memiliki lubang hitam di wajahnya. Misbah merasa penasaran dengan keberadaan
orang-orang tua tersebut dan mulai bertanya kepada mereka.
“permisi pak, kenapa kalian tidak memiliki wajah?” tanya Misbah dengan gemetar.
Orang-orang tua itu menjawab bahwa mereka adalah sesosok yang tidak memiliki arti atau
makna dalam hidup mereka. Mereka merasa tidak memiliki tujuan atau arah dalam hidup,
sehingga mereka menjadi sosok yang hampa dan kosong.
Mendengar jawaban orang-orang tua itu, Misbah merasa terpukau. Dia tidak pernah
mendengar sesuatu seperti itu sebelumnya. Meskipun dia memiliki kepercayaan agama, dia
tidak pernah memikirkan bahwa hidup mungkin tidak memiliki makna atau tujuan yang jelas.
orang-orang tua yang tidak memiliki wajah itu memberi tahu Misbah kenytaan yang belum
pernah anak muda itu dengar, bahwa tidak ada makna atau tujuan yang jelas dalam hidup.
Menurut mereka, hidup hanyalah sebuah kebetulan yang tidak memiliki arti atau makna
tertentu.
Orang-orang tua itu bertanya kepada Misbah. “hey anak muda, apakah kau pernah merasa
seperti kami, yaitu merasa tidak memiliki tujuan atau arah dalam hidup?” Miabah hanya
terdiam mendengar pertanyaan itu. “apakah kau percaya bahwa hidup memiliki makna atau
tujuan yang jelas?”
Misbah terdiam sejenak, merasa bingung dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
orang-orang tua itu. Dia merasa tidak pernah merasakan kehampaan atau kekosongan seperti
yang mereka alami, namun dia juga tidak yakin apakah hidup memiliki makna atau tujuan
yang jelas.
Mendadak, Misbah merasa sedih dan kehilangan arah dalam hidupnya. Dia tidak tahu harus
berpikir apa lagi mengenai hidup dan keberadaannya di dunia ini. Namun, dia tidak ingin
menjadi seperti orang-orang tua yang tidak memiliki wajah itu. Dia ingin mencari jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikirannya.
Setelah bertemu dengan orang-orang tua yang tidak memiliki wajah itu, Misbah merasa
penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan. Dia ingin mencari tahu
jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, sehingga dia memutuskan untuk menemui guru
agamanya untuk meminta penjelasan.
Guru agamanya adalah seorang pria tua yang sangat dihormati di komunitas mereka. Dia
sangat berpengalaman dan memiliki pengetahuan yang luas mengenai agama dan filsafat.
Setelah bertemu dengan guru agamanya, Misbah langsung menceritakan tentang
pertemuannya dengan orang-orang tua yang tidak memiliki wajah itu. Dia juga menceritakan
pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan kepadanya, yaitu apakah hidup memiliki makna
atau tujuan yang jelas.
Sang Guru mendengarkan cerita Misbah dengan seksama, lalu menjawab bahwa menurut
agama mereka, hidup memang memiliki makna dan tujuan yang jelas. Menurut agama
mereka, setiap orang diciptakan dengan tujuan yang khusus, yaitu untuk menjadi hamba yang
taat kepada Tuhan.
Sang Guru juga mengatakan bahwa orang-orang tua yang tidak memiliki wajah itu mungkin
telah kehilangan arah dalam hidup mereka, sehingga mereka merasa tidak memiliki tujuan
atau makna dalam hidup. Namun, dia menekankan bahwa tidak semua orang merasa seperti
itu, dan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk menemukan tujuan dan makna dalam
hidup mereka dengan mengikuti ajaran agama.
Setelah mendengar penjelasan guru agamanya, Misbah masih merasa tidak puas akan
jawaban yang diberikan pleh gurunya itu, tapi disisi lain merasa lega. Dia merasa sedikit
terbantu dengan jawaban yang diberikan guru agamanya, dan dia mulai kembali sedikit yakin
bahwa hidup memiliki makna dan tujuan yang jelas. Dia juga bertekad untuk terus belajar
dan mencari tahu lebih banyak tentang agama dan filsafat agar dia bisa menemukan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaannya tentang kenyataan hidup di dunia.
BELUM TAMAT