RANCANGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PROFESI APARATUR SIPIL
NEGARA
A. Mengidentifikasi Masalah Dalam Melaksanakan Tugas Dan Analisis Isu
Isu adalah sebuah masalah yang belum terpecahkan yang siap diambil keputusanya..
Berdasarkan definisi tersebut, isu merupakan suatu hal yang terjadi baik didalam maupun
diluar organisasi yang apabila tidak ditangani secara baik akan memberikan efek negatif
terhadap suatu organisasi. Berkaitan dengan rancangan aktualisasi ini, sumber isu yang
diangkat berdasarkan dari hasil observasi dan pengalaman penulis selama 6 bulan
menjalankan tugas pokok dan fungsi penulis sebagai bidan terampil. Beberapa Isu yang
saya temukan selama di ruang Kebidanan RSUD Sekadau adalah sebagai berikut :
1. Belum Optimalnya Pengetahuhan Ibu Nifas Tentang Mobilisasi Dini Pada Ibu
Post Sectio Caesarea (SC) Di Ruang Rawat Inap Tulip RSUD Kababupaten
Sekadau
Mobilisasi dini adalah mempertahankan otonomi sedini mungkin dengan
membimbing pasien untuk mempertahankan fungsi fisiologisnya (Carpenoto, 2014).
Apabila tidak terjadi kelainan setelah persalinan, mobilosasi dini boleh dilakukan
sedini mungkin yaitu 2 jam setelah post partum dan 6 jam post SC (Section
Caesarea).
Berdasarkan data buku register ibu di ruangan kebidanan RSUD Sekadau
persalinan sectio caesarea pada bulan Juni - Desember 2025 terdapat 137 pasien.
Dari catatan keperawatan bidan 137 pasien post SC terdapat 105 pasien yang sudah
mobilisasi dini post SC 6 jam dan 32 pasien yang belum berani untuk mobilisasi dini
post SC 6 jam..
Dalam pengamatan yang dilakukan kepada 4 pasien post SC 6 jam di ruang rawat
inap ruang Tulip, 3 diantaranya sudah melakukan mobilisasi menggerakakan
lengan, tangan jari kaki dan tangan serta miring kiri dan kanan , sedangkan 1 pasien
belum belajar mobilisasi karena masih nyeri di area jahitan, dan belum berani untuk
mobilisasi. Hal ini terjadi karena pasien kurang menyadari bahwa mobilisasi
memiliki peran penting agar tubuh dapat beradaptasi dengan nyeri jahitan perineum.
Pada pasien post partum baik ibu yang melahirkan secara normal maupun secara
pembedahan (section caesarea), mobilisasi dini menjadi sangat penting. Selain
mempercepat hari rawat, mobilisasi juga dapat mengurangi resiko-resiko karena
tirah baring lama seperti decubitus, kekakuan atau penegangan otot-otot di seluruh
tubuh.
Tabel 1.
Jumlah Pasien Post SC (Section Caesarea) di RSUD Sekadau bulan Juni-
Desember 2025
No. Bulan Pasien sudah mobilisasi dini Pasien belum Jumlah
6 jam post SC mobilisasi dini 6 jam pasien
post SC
1. Juni 18 3 21
2. Juli 20 8 28
3. Agustus 20 3 23
4. September 8 4 12
5. Oktober 12 4 16
6. November 15 5 20
7. Desember 12 5 17
Jumlah 105 32 137
Gambar 1
Foto Ruangan Tulip ( tidak terdapat informasi berupa poster atau gambar sebagai
contoh edukasi mobilisasi dini ibu nifas post SC)
Gambar 2
Laporan keperawatan bidan kepada DPJD (dokter penanggung jawab pelayanan) pada
SIMRS
Masalah ini dapat diatasi dengan menyediakan media informasi berupa poster,
leaflet atau lembar balik singkat yang dapat diberikan kepada pasien atau keluarga.
Dengan hal itu dapat diharapakan pasien dan keluarga dapat menyadari pentingnya
mobilisasi dini pada ibu post SC (Sectio Caesarea).
2. Belum Optimalnya Penerapan Manajemen Nyeri Non Farmakologi dengan
metode PINDOR (Pijat Endorphin) Pada Pasien Inpartu di Ruang Bersalin
RSUD Kabupaten Sekadau
Nyeri persalinan merupakan pengalaman subjektif tentang sensasi fisik yang
terkait dengan kontraksi uterus, dilatasi, dan penipisan serviks, serta penurunan janin
selama persalinan. Nyeri terhadap persalinan semakin bertambah kuat seiring
dengan bertambahnya permbukaan serviks. Puncak nyeri terjadi pada fase aktif
dipembukaan 4-10 cm dan berlangsung 12 jam untuk primipara, dan 8 jam untuk
multipara. Nyeri yang terjadi dapat mempengaruhi kondisi ibu berupa kelelahan,
rasa takut, khawatir, dan menimbulkan stress. Setres dapat menyebabkan
melemahnya kontaksi rahim dan berakibat pada persalinan yang lama.
Dalam KMK Nomor HK.01.07/MENKES/1128.2022 Tentang Standar Akreditasi
Rumah Sakit, salah satu factor Standar Pelayanan dan Asuhan Pasien (PAP) adalah
pengolahan Nyeri. Pasien berhak mendapatkan pengkajian dan pengolahan nyeri
yang tepat. Rumah sakit harus memiliki proses untuk melakukan skrining,
pengkajian dan tata laksanan untuk mengatasi nyeri. Berbagai upaya yang dilakukan
untuk mengurangi nyeri persalinan, salah satunya dengan metode non farmakologi.
Berdasarkan data buku register ibu di ruangan kebidanan RSUD Sekadau dari
bulan Juni-Desember 2025 berjumlah 246 orang dengan jumlah rincian persalinan
normal 106 orang, persalinan sectio caesarea 137 orang, dan persalinan dengan
vakum 3 orang. Hasil pengamatan proses pelayanan di ruang kebidanan yang telah
dilakukan penulis selama 6 bulan bekerja di RSUD Sekadau. Pelaksnaan asuhan
manajemen nyeri pada ibu bersalin belum adanya tindakan khusus secara
nonfarmakologi yang diberikan oleh petugas (bidan), salah satunya dengan teknik
PINDOR (Pijat Endorphin).
Sejauh ini metode yang digunakan hanya metode relaksasi dengan pernapasan
dalam. Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis kepada 3 orang petugas,
diketahui 1 bidan yang memiliki pengetahuan cukup dan 2 bidan yang memiliki
pengetahuan kurang tentang manajemen nyeri non farmakologi, namun semua bidan
belum pernah mendengar metode PINDOR (Pijat Endorphin) baik pengertian,
tujuan, manfaat serta metode PINDOR. Sehingga asuhan manajemen nyeri
persalinan dengan metode PINDOR (Pijat Endorphin) belum pernah dilakukan
sebelumnya.
Dukungan suami dan keluarga juga berperan penting dalam manajemen nyeri.
Sering kali penulis menemukan ibu bersalin dibiarkan sendiri menahan
nyeri/kontraksi (HIS) sedangkan suami diluar ruangan. Kondisi ini dapat membuat
ibu semakin cemas dan setres. Dengan bantuan suami/keluarga metode Pindor (pijat
Endorphin ) ini dapat meminimalisir rasa nyeri dan memberikan relaksasi pada ibu
bersalin.
Pijat merupakan salah satu manajemen nyeri nonfarmakologi untuk membuat
tubuh menjadi rileks, bermanfaat mengurangi nyeri atau rasa sakit, menentramkan
diri, relaksasi, menenangkan saraf dan menurunkan tekanan darah. Metode PINDOR
dimana metode ini merangsang hormon Endorphin yang berfungsi sebagai relaksasi
sehingga ibu dapat merasakan pengurangan rasa nyeri yang dirasakan. Pijat
Endorphin ini tidak membahayakan bagi ibu maupun janin.
Gambar 3
Foto Ruang Bersalin ( tidak terdapat informasi berupa poster sebagai bahan
edukasi untuk metode PINDOR ( Pijat Endorphin) )
Tabel 2.
Data Jumlah Ibu Bersalin di RSUD Sekadau
Persalinan
Persalinan
No. Bulan Persalinan Normal Sectio Caesarea Jumlah
Dengan Vakum
(SC)
1. Juni 12 21 0 33
2. Juli 14 28 1 43
3. Agustus 13 23 0 36
4. September 18 12 0 30
5. Oktober 19 16 1 36
6. November 11 20 1 32
7. Desember 19 17 0 36
JUMLAH 106 137 3 246
Masalah ini dapat diatasi dengan menyediakan media informasi berupa poster,
leaflet atau lembar balik singkat yang dapat diberikan kepada pasien atau keluarga.
Dengan hal itu dapat diharapakan bidan dan pasien/keluarga dapat
mengimplementasikan manajemen nyeri dengan non farmakologi menggunakan
metode PINDOR (Pijat Endorphin).
3. Kurangnya Kesadaran Pasien Tentang Vulva Hygiene Pada Ibu Post Partum di
Ruang Rawat Inap Tulip RSUD Kab. Sekadau
Menjaga kebersihan diri merupakan hal yang sangat penting. Begitu juga bagi
Ibu post partum selama masa nifas. Hal ini dikarenakan, selama masa nifas sangat
rentan terkena infeksi. Anjuran menjaga kebersihan bagi Ibu nifas salah satunya
yaitu membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air setiap selesai BAK/BAB.
Cara membersihkan alat kelamin di mulai dari daerah sekitar vulva dari depan ke
belakang baru kemudian membersihkan daerah sekitar anus (Saleha, 2009 dalam
Wahyuni, 2019).
Berdasarkan data buku register ibu nifas di ruang rawat inap Tulip RSUD
Sekadau pada bulan Juni-Desember 2025 berjumlah 162 pasien. Dari catatan
keperawatan bidan dari 162 ibu post partum terdapat 139 pasien yang sudah paham
melakukan perawatan vulva hygiene dan 23 pasien yang belum paham untuk
melakukan perawatan vulva hygiene. Dalam penelitian Wahyuni (2019), dijelaskan
bila perawatan vulva hygiene yang kurang tepat dapat menyebabkan perineum
terkena lokhea dan lembab. Hal ini akan sangat menunjang perkembang biakan
bakteri sehingga dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada perineum.
Hasil wawancara yang dilakukan pada 4 pasien post partum, didapatkan 2 pasien
post partum mengetahui cara melakukan perawatan vulva hygiene dengan benar,
sedangkan 2 pasien post partum yang lain mengatakan melakukan perawatan vulva
hygiene sesuai dengan rasa nyaman pasien. Ketika dikonfirmasi apakah bidan sudah
menginformasikan caranya, semua pasien post partum mengatakan sudah
mendapatkan informasi terkait cara melakukan perawatan vulva hygiene dengan
benar. Ketika pasien post partum kurang menyadari pentingnya cara perawatan
vulva hygiene dengan benar, hal ini dapat memperlambat proses penyembuhan luka
dibagian perineum.
Tabel 3.
Jumlah Ibu Nifas di Ruang Rawat Inap Tulip RSUD Sekadau bulan Juni-
Desember 2025
No. Bulan Pasien Sudah Melakukan Pasien Belum Jumlah
Vulva Hygiene Melakukan Vulva
Hygiene
1. Juni 17 3 20
2. Juli 19 6 25
3. Agustus 21 3 24
4 September 20 3 23
5. Oktober 25 2 27
6. November 18 3 21
7 Desember 19 3 22
Jumlah 139 23 162
Gambar 4
Foto di Ruang Ranap Tulip ( tidak terdapat informasi berupa poster atau gambar
sebagai contoh edukasi vulva hygiene ibu nifas)
Masalah ini dapat diatasi dengan menyediakan media informasi berupa poster,
leaflet atau lembar balik singkat yang dapat diberikan kepada pasien atau keluarga.
Dengan hal itu diharapakan pasien dan keluarga dapat menyadari pentingnya
perawatan vulva hygiene pada ibu post partum.
Berdasarkan isu yang telah diidentifikasikan dapat dilakukan penapisan isu untuk
menentukan prioritas isu yang akan diangkat dan salah satu metode penapisan yang
dapat digunakan adalah metode APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan,
Kelayakan). Metode APKL mempunyai rentang angka 1-5 yang menyatakan isu
tersebut 1) sangat rendah, 2) rendah, 3) sedang 4) tinggi, 5) sangat tinggi.
Dengan menggunakan metode APKL, kita dapat menentukan kelayakan suatu
masalah berdasarkan empat faktor penting, yaitu :
a. Aktual (A) adalah isu atau pokok persoalan sedang terjadi atau akan terjadi dan
sedang menjadi pembicaraan orang banyak.
b. Problematik (P) adalah isu tersebut merupakan isu yang menyimpandari kondisi
yang seharusnya, standar ketentuan yang menimbulkan kegelisahan yang perlu
dicari penyebab dan pemecahannya.
c. Kekhalayakan (K) adalah isu yang secara langsung berimbas pada banyak orang.
d. Kelayakan (L) adalah isu logis, relevan, realistis dan patut dibahas sesuai tugas
dan tanggung jawab untuk dimunculkan inisiatif pemecahan masalah.
Tabel 4 Analisis Isu Menggunakan APKL
No. ISU A P K L Total Peringkat
Sekor
1. Belum Optimalnya Pengetahuhan 5 3 4 4 16 2
Ibu Nifas Tentang Mobilisasi
Dini Pada Ibu Post Sectio
Caesarea (SC) Di Ruang Rawat
Inap Tulip RSUD Kababupaten
Sekadau
2. Belum Optimalnya Penerapan 5 4 4 5 18 1
Manajemen Nyeri Non
Farmakologi dengan metode
PINDOR (Pijat Endorphin)
Pada Pasien Inpartu di Ruang
Bersalin RSUD Kabupaten
Sekadau
3. Kurangnya Kesadaran Pasien 4 3 4 4 15 3
Tentang Vulva Hygiene Pada Ibu
Post Partum di Ruang Rawat
Inap Tulip RSUD Kab. Sekadau
Berdasarkan penapisan isu menggunakan metode APKL didapatkan score
isu yang diperoleh adalah belum optimalnya Penerapan Manajemen Nyeri
Non Farmakologi dengan metode PINDOR (Pijat Endorphin) pada pasien
Inpartu di Ruang Bersalin RSUD Kabupaten Sekadau dengan total skor
tertinggi yaitu 18. Hal ini didasarkan pada :
a. Masalah ini aktual terjadi di RSUD Kabupaten Sekadau (skor 5)
b. Masalah ini bersifat rumit karena pengetahuan pasien dan petugas(bidan)
kurang, mengakibatkan tingginya akan komplikasi pada proses persalinan
kala 1, menurukan kualitas hidup pasien dan meningkatkan beban biaya
pelayanan kesehatan (skor 4)
c. Masalah ini menjadi perhatian khalayak karena isu ini menyangkut
kepentingan masyarakat terutama ibu bersalin pada proses persalinan kala 1
dan keluarga pasien serta petugas (bidan) (skor 4)
d. Layak karena solusi relatife mudah, murah, dan relalistis dilakukan melalui
media edukasi visual (lembar balik dan poster) dan implementasi dapat
dilakukan dalam waktu singkat serta mendukung peningkatan mutu
pelayanan rumah sakit terutama diruang bersalin RSUD Kabupaten Sekadau
(5)
B. Identifikasi Dan Penetapan Faktor Penyebab
1. Identifikasi faktor penyebab
Beberapa faktor penyebab di identifikasi adalah sebagai berikut :
a. Faktor sumber daya manusia
1. Tingkat pendidikan dan pemahaman pasien yang berbeda-beda dalam
memahami edukasi kesehatan yang diberikan
2. Kurangnya keterampilan disebabkan belum pernah diadakan pelatihan
tentang manajemen nyeri dengan metode PINDOR bagi petugas (bidan)
3. Keterbatasan waktu tenaga medis dalam memberikan edukasi secara lengkap
dan detail.
b. Faktor saranan edukasi
1. Belum tersedianya media edukasi visual berupa lembar balik dan poster
tentang manajemen nyeri non farmakologi dengan metode PINDOR
c. Faktor metode penyampaian edukasi
1. Edukasi masih diberikan secara lisan dan tidak diberikan contoh sehingga
edukasi yang disampaikan tidak efektif
2. Belum tersedianya SOP tentang manajemen nyeri non farmakologi dengan
metode PINDOR
d. Faktor lingkungan
1. Pasien dan keluarga belum pernah mengetahui tentang manajemen nyeri non
farmakologi dengan metode PINDOR (Pijat Endorphin)
2. Belum adanya sosialisasi kepada petugas (bidan)
Penyebab diatas kemudian di masukkan ke diagram fishbone dan di analisis
menggunakan kriteria USG (Urgency, Seriousness, dan Growth).
Man Power Evironman
Tingkat pendidikan
dan pemahaman Kurangnya
pasien yang berbeda- pengetahuan
beda pasien dan
keluarga
Kurangnya keterampilan bidan
Kurangnya
Kurangnya waktu sosialisasi Belum optimalnya
edukasi asuhan manajemen
nyeri non
farmakologi pada
ibu inpartu kala 1
Kurangnya Belum
fase aktif pesalinan
media edukasi tersedianya
media edukasi
berupa lembar
Belum adanya SOP balik dan poster
Method Material
Gambar 4
Analisis penyebab isu dengan Fishbone
3. Penetapan Faktor Penyebab dengan Analisis USG
Berdasarkan penapisan menggunakan analisis APKL, isu yang didapat sekor
tertinggi adalah belum optimalnya penerapan manajemen nyeri non farmakologi
dengan metode pindor (pijat endorphin) pada pasien inpartu di ruang bersalin RSUD
Kabupaten Sekadau. Dalam menentukan prioritas masalah, penulis menggunakan
metode USG sebagai alat untuk mengetahui isu mana yang menjadi paling prioritas.
Pentingnya suatu masalah dibandingkan dengan masalah lainya dapat dilihat dari tiga
aspek, yaitu :
a. Urgency (urgensi) adalah seberapa mendesak dikaitkan dengan isu yang
tersedia
b. Seriousness (keseriusan) adalah apabila masalah tidak ditangani makan akan
timbul masalah lain yang lebih serius.
c. Growth (perkembangan isu) adalah apabila masalah dibiarkan, maka akan
terjadi semakin memburuk.
Tabel 5
Bobot Penilaian USG
Bobot Urgency Seriousness Growth
(Mendesak) (Kegawatan) (Pertumbuhan)
1 Sangat kurang Sangat kurang gawat Sangat kurang cepat
mendesask
2 Kurang mendesak Kurang gawat Kurang cepat
3 Cukup mendesak Cukup gawat Cukup cepat
4 Mendesak Gawat Cepat
5 Sangat mendesak Sangat gawat Sangat cepat
Berikut hasil analisis penilaian menurut prioritas berdasarkan metode USG :
Table 6
Analisis Penyebab Isu menggunakan USG
No. ISU U S G Total Peringkat
1. Tingkat pendidikan dan pemahaman 3 4 4 11 4
pasien yang berbeda-beda dalam
memahami edukasi kesehatan yang
diberikan
2. Kurangnya keterampilan disebabkan 4 4 4 12 3
belum pernah diadakan pelatihan
tentang manajemen nyeri dengan
metode PINDOR bagi petugas (bidan)
3. Keterbatasan waktu tenaga medis 5 4 4 13 2
dalam memberikan edukasi secara
lengkap dan detail
4. Belum tersedianya media edukasi 4 5 5 14 1
visual berupa lembar balik dan
poster tentang manajemen nyeri
non farmakologi dengan metode
PINDOR
5. Edukasi masih diberikan secara lisan 3 4 3 10 5
dan tidak diberikan contoh sehingga
edukasi yang disampaikan tidak
efektif
6 Belum tersedianya SOP tentang 3 3 3 9 8
manajemen nyeri persalinan kala 1
dengan metode PINDOR
7. Pasien dan keluarga belum pernah 4 3 3 9 6
mengetahui tentang manajemen nyeri
persalinan kala 1 dengan metode
PINDOR (Pijat Endorphin)
8. Belum adanya sosialisasi petugas 3 3 3 9 7
(bidan) kepada pasien
Berdasarkan hasil analisis isu menggunakan metode USG, dapat
disimpulkan bahwa penyebab utama isu yaitu “Belum tersedianya media
edukasi visual berupa lembar balik dan poster tentang manajemen nyeri
non farmaklogi dengan metode PINDOR” maka rumusan isu yang memiliki
nilai tertinggi yaitu 14. Dari permasalahan isu diatas, diajukan gagasan
pemecahan isu yaitu Optimalisasi Penerapan Manajemen Nyeri Non
Farmakologi dengan metode PINDOR (Pijat Endorphin) Pada Pasien
Inpartu di Ruang Bersalin RSUD Kabupaten Sekadau.
Isu tersebut memiliki tingkat Seriousness (keseriusan) cukup tinggi,
karena akan berdampak pada proses persalinan dan juga bayi yang dilahirkan.
Beberapa dampak kurang optimalnya asuhan manajemen nyeri kala 1 persalinan
yaitu dapat menyebabkan iskemia (kondisi medis yang serius ketika aliran daran
ke organ tertentu berkurang atau terhenti) pada plasenta sehingga janin akan
kekurangan oksigen, meningkatkan resiko fetal distress atau gawat janin serta
asfiksia pada bayi baru lahir, penurunan efektifitas kontraksi resiko partus tak
maju dan partus macet, dan dapat menyebabkan meningkatnya tekanan darah ibu.
Hal ini menunjukkan diperlukannya tindakan segera dalam menyelesaikan
masalah tersebut.
C. Gagasan Pemecahan Isu
Berdasarkan isu utama yaitu belum tersedianya media edukasi visual berupa
lembar balik dan poster edukasi tentang penerapan manajemen nyeri pada ibu bersalin
kala 1 dengan metode PINDOR dan hasil faktor-faktor penyebab, maka dirumuskan
gagasan untuk mengadakan Optimalisasi Penerapan Manajemen Nyeri Non
Farmakologi dengan metode PINDOR (Pijat Endorphin) Pada Pasien Inpartu di
Ruang Bersalin RSUD Kabupaten Sekadau. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan
pemahaman yang lebih bain kepada pasien ibu berslin kala 1 dan petugas (bidan) tentang
manajemen nyeri non farmakologi dengan menggunakan metode PINDOR (Pijat
Endorphin) melalui media edukasi visual yang informatif, menarik, mudah dipahami
serta mendukung petugas (bidan) dalam menyampaiakn edukasi pelayanan kesehatan
dapat lebih optimal.