DOKUMEN AKREDITASI
PROGRAM LAYANAN BIMBINGAN KONSELING (BK)
SEKOLAH DASAR
SDIT FITHRAH INSANI 7
DESA PANANJUNG
KECAMATAN CANGKUANG
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bimbingan konseling adalah suatu upaya bantuan yang diberikan kepadaindividu yang
mempunyai masalah secara berkelanjutan supaya individu tersebut dapat mengatasi
masalahnya sendiri sehingga ada perubahan tingkah laku pada individu tersebut.
Teori piaget mengklasifikasikan bahwa anak usia 7-11 tahun masuk kedalam
kelompok operasional kongkrit artinya cara berpikir anak sudah mampu berpikir secara logis.
Anak mulai berpikir secara sistematis untuk mencapai pemecahan masalah yang konkrit.
Seperti yang telah diketahui bahwa setiap siswa memiliki karakteristik pribadi atau
perilaku yang berbeda dengan siswa lainnya. Dengan adanya perbedaan ini maka masalah
yang dimiliki setiap siswa pun berbeda juga. Ada yang hanya memiiki masalah kesulitan
belajar atau hanya masalah dalam berperilaku saja. Ada yang memiliki kedua masalah
tersebut. Dan ada juga yang memiliki masalah yang lain. Masalah-masalah tersebut dapat
berasal dari keluarga, lingkungan maupun dari diri sendiri. Keragaman perilaku ini
mengandung implikasi akan perlunya data dan pemahaman yang memadai terhadap setiap
siswa.
Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan dalam memberikan bimbingan adalah
memahami siswa secara keseluruhan, baik masalah yang dihadapinya maupun latar belakang
pribadinya. Dalam hai ini, guru dituntut untuk mengetahui asal usuldan kepribadian setiap
siswa agar guru dapat memperoleh cara untuk menghadapi siswa yang bermasalah. Maka dari
itu perlu adanya pengumpulan data terhadapsiswa. Dengan data yang lengkap, guru akan
dapat memberikan layanan bimbingan kepada siswa secara tepat atau terarah. Oleh karena itu,
saya guru sekolah dasar melakukan observasi ini untuk mengetahui bimbingan untuk
menghadapi siswa yang bermasalah tersebut.
B. Pengertian dan Tujuan Program BK di Sekolah Dasar
Program Bimbingan Konseling adalah suatu rencana kegiatan bimbingan dan
konseling yang dilaksanakan pada periode tertentu. Program ini memuat unsur – unsur
yang terdapat dalam berbagai ketentuan tentang pelaksanaan bimbingan dan konseling
dan diorientasikan pada pencapaian tujuan kegiatan bimbingan dan konseling di Sekolah.
Tujuan penyusunan program tidak lain adalah agar kegiatan bimbingan dan konseling di
Sekolah dapat terlaksana dengan lancar, efektif dan efisien, serta hasil-hasilnya dapat
dinilai.
Tersusun dan terlaksananya program dan bimbingan konseling dengan baik,
selain akan lebih menjamin pencapaian tujuan kegiatan bimbingan dan konseling
pada khususnya, tujuansekolah pada umumnya, juga akan lebih menegakkan akontabilitas
bimbingan dan konseling di Sekolah Dasar.
1. Jenis Program Bimbingan Konseling
Adapun jenis-jenis dari program bimbingan dan konseling adalah :
a) Program Tahunan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling
meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing kelas di
sekolah/madrasah.
b) Program Semesteran, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling
meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran
program tahunan.
c) Program Bulanan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling
meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program
semesteran.
d) Program Mingguan, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling
meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran
program bulanan.
e) Program Harian, yaitu program pelayanan Bimbingan dan Konseling yang
dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian
merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk satuan layanan
(SATLAN) dan atau satuan kegiatan pendukung (SATKUNG) Bimbingan dan
Konseling.
2. Penyusunan Program BK
Program pelayanan Bimbingan dan Konseling disusun berdasarkan kebutuhan
peserta didik (need assessment) yang diperoleh melalui aplikasi instrumentasi. Substansi
program pelayanan Bimbingan dan Konseling meliputi keempat bidang, jenis layanan
dan kegiatan pendukung, format kegiatan, sasaran pelayanan, dan volume/beban tugas
konselor.
3. Unsur Penyusunan Program Pelayanan Konseling.
Dalam penyusunan program pelayanan konseling diharapkan memenuhi unsur-
unsur dan persyaratan tertentu. Menurut Prayitno (1998) unsur-unsur yang harus
diperhatikan dan menjadi isi program bimbingan dan konseling meliputi kebutuhan siswa,
jumlah siswa yang dibimbing, kegiatan di dalam dan di luar jambelajar sekolah, jenis
bidang bimbingan dan jenis layanan, volume kegiatan bimbingan dan konseling, dan
frekuensi layanan terhadap siswa.
C. Landasan Hukum Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Penyelenggaraan bimbingan dan konseling (BK) di sekolah merupakan bagian
integral dari sistem pendidikan kita demi mencerdaskan kehidupan bangsa melalui
berbagai pelayanan bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi mereka seoptimal
mungkin. Kehadiran BK di institusi pendidikan sudah memiliki landasan yuridis formal
dimana pemerintah telah menyediakan payung hukum terhadap keberadaan BK di
sekolah. Berikut disampaikan peraturan-peraturan yang mendasari dan terkait langsung
dengan layanan BK di sekolah.
UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 Pasal 1
Ayat 1 disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta kerampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Kemudian mengenai pendidik
diterangkan di Ayat 6 yaitu dimana pendidik adalah tenaga kependidikan yang
berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor,
instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta
berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Selanjutnya tentang fungsi dan tujuan pendidikan dalam UU RI No. 20 Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 2 Pasal 3 dinyatakan bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Selanjutnya tentang hak peserta didik disebutkan dalam Bab 5 pasal 12 Ayat 1b dimana
setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan
pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.
Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk SatuanPendidikan
Dasar dan Menengah menyebutkan bahwa pelayanan konseling meliputi pemberian
kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri
sesuai dengan kemampuan, bakat dan minat. Kegiatanpengembangan diri dilakukan
melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan
kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik. Kegiatan
pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga
kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.
Permendiknas No. 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan
Kompetensi Konselor di Pasal 1 Ayat 1 menyatakan bahwa untuk dapat diangkat sebagai
konselor, seseorang wajib memenuhi standar kualifikasi akademik dan kompetensi
konselor yang berlaku secara nasional. Kemudian penyelenggarapendidikan yang satuan
pendidikannya mempekerjakan konselor wajib menerapkan standar kualifikasi akademik
dan kompetensi konselor.
Berikutnya dalam PP No. 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah dalam Bab
10 tentang Bimbingan diterangkan di Pasal 27 bahwa bimbingan merupakan bantuan yang
diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan
merencanakan masa depan. Bimbingan diberikan oleh guru pembimbing.
PP No. 38 Tahun 1992 tentang Tenaga Kependidikan Pasal 1 Ayat 2 diatur bahwa
tenaga pendidik adalah tenaga kependidikan yang bertugas membimbing, mengajar, dan/atau
melatih peserta didik. Seterusnya di Ayat 3 dinyatakan bahwa tenaga pembimbing adalah
tenaga pendidik yang bertugas membimbing peserta [Link] Pasal 3 Ayat 2 dimana tenaga
pendidik terdiri atas pembimbing, pengajar, dan pelatih.
Surat Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 84 Tahun
1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, Pasal 3 Ayat 2 menyebutkan
bahwa salah satu tugas pokok guru adalah menyusun program bimbingan, melaksanakan
program bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan,
dan tindak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung
jawabnya. Selanjutnya di Pasal 5 Ayat 1c disebutkan bahwa salah satu bidang kegiatan guru
adalah bidang pendidikan, yang meliputi diantaranya melaksanakan proses belajar mengajar
atau praktek atau melaksanakan BK.
Dalam upaya mewujudkan pelaksanaan BK di sekolah, pemerintah melaluiSK
Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian
Negara Nomor 0433/P/1993 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru
Pembimbing dan Angka Kreditnya, serta SK Mendikbud Nomor 025/0/1995 tentang
Petunjuk Teknis Ketentuan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya,
menetapkan tugas guru pembimbing (konselor sekolah) sebagai berikut: (1) menyusun
program BK, (2) melaksanakan BK, (3) mengevaluasi hasil pelaksanaan BK, (4)
menganalisis hasil evaluasi pelaksanaan BK, (5) tindak lanjut pelaksanaan BK. Adapun
rincian dari tugas tersebut diatas adalah sebagaiberikut:
Penyusunan program BK adalah membuat rencana pelayanan BK dalam bidang
bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar dan bimbingan karir. Pelaksanan BK
adalah melaksanakan fungsi pemahaman, pencegahan, pengentasan, pemeliharaan dan
pengembangan dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial,bimbingan belajar dan
bimbingan karir. Evaluasi pelaksanan BK adalah kegiatanmenilai layanan BK dalam bidang
bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbanganbelajar dan bimbingan karier.
Analisis evaluasi pelaksanaan BK adalah menelaah hasil evaluasi pelaksanaanBK
yang mencakup pelayanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, konseling
perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, dan pembelajaran serta kegiatan
pendukungnya.
BAB II
PROGRAM KEGIATAN
A. Program Bimbingan dan Konseling di SD Negeri Watutumou II
Sekolah mempunyai Program Bimbingan dan Konseling namun
pelaksanaan Bimbingan dan Konseling tetap dilaksanakan sebagai layanan
terhadap kebutuhan setiap individu yang berada di sekolah ini. Program
bimbingan dan Konseling di SD Negeri Watutumou II belum ada tetapi struktur
pelaksanaan Bimbingan dan Konseling sudah ada, yaitu digambarkan pada
diagram berikut ini:
Melalui diagram tersebut beliau menjelaskan bahwa di sekolah yang
beliau pimpin Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di kategorikan ke dalam
dua Bimbingan dan Konseling, yaitu :
1. Bimbingan dan Konseling guru
Dalam dunia pendidikan ada beberapa komponen. Di sekolah dasar ada
Kepala Sekolah Komite Sekolah
Guru kelas 1 Guru kelas 2 Guru kelas 3
Guru kelas 4 Guru kelas 5 Guru kelas 6
Siswa
beberapa komponen diataranya yaitu Kepala sekolah, guru, siswa, dan komite
sekolah. Oleh karena itu pendidikan di suatu sekolah dasar akan berjalan
apabila komponen-komponen yang ada di sekolah tersebut dapat saling
berinteraksi. Ketika kita berbicara masalah Bimbingan dan Konseling maka
kita akan mengacukepada permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh
siswa saja.
2. Bimbingan dan Konseling Siswa
Dalam pelaksanaan Bimbingan dan Konseling terhadap siswa
dilakukan oleh guru wali kelas masing-masing. Dalam Bimbingan dan
Konseling ini Kepala Sekolah tidak turun langsung memberikan Bimbingan
dan Konseling terhadap siswa dikarenakan yang sering bertatap muka
langsung dan setiap hari bertemu dengan siswa adalah guru wali kelasnya
masing-masing. Pelaksanannya wali kelas juga setiap hari memberikan
Bimbingan dan Konseling terhadap siswa yangmempunyai masalah dan yang
mempunyai kecerdasan lebih. Apabila guru wali kelas tidak bisa
menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh siswa maka akan dilakukan alih
tangan kasus kepada Kepala Sekolah untuk menemukan solusi yang bijak
terhadap permasalahan tersebut.
Dengan tidak adanya program yang terstruktur, beliau mengatakan
Bimbingan dan Konseling yang ada di sekolahnya masih belum bisa terlaksana
secara maksimal karena pada pelaksanaannya Bimbingan dan Konseling
terlaksana apabila ditemukan masalah saja ( fungsi kuratif/ pendekatan kritis )
sehingga dampak positif yang terjadi kurang begitu dirasakan oleh semua
pihak. Akan tetapi beliau juga berusaha untuk melaksanakan Bimbingan dan
Konseling melalui kegiatan ekstrakurikuler sebagai sarana penyalur bakat
dan minat siswa
maupun guru yang ada di sekolahnya. Kegiatan ekstrakurikuler yang utama di
SD Negeri Watutumou II yaitu Pramuka, keagamaan, kesenian dan
olahraga. Melalui kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh siswa dan guru
sedikitnya mampu meberikan dampak yang positif bagi semua pihak dan
juga menumbuhkan motivasi belajar siswa.
Namun kegiatan ektrakurikuler ini juga mempunyai hambatan karena
guru belum bias secara penuh memahami teknik-teknik yang ada di kegiatan
ekstrakurikuler sehingga sekolah mendatangkan pelatih khusus untuk
mengembangkan kreativitas siswa. Sehingga hambatan tersebut dapat teratasi
dan tidak menghambat pengembangan bakat dan minat siswa.
Pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah ini juga dilakuka dari
mulai anak masuk ke sekolah yaitu dengan pengumpulan data berupa biodata
diri siswa dan hal-hal lain yang menyangkut data pribadi siswa tersebut.
Dalam kaitannya juga dengan waktu untuk melaksanakan kegiatan
Bimbingan dan Konseling, sekolah mengacu pada SK Mendikbud No.
025/O/1995 mengemukakan bahwa bimbingan dan konseling dapat
dilaksanakan di dalam atau di luar jam pelajaran sekolah. Kegiatan bimbingan
dan konseling di luar jam sekolah sebanyak-banyaknya 50% dari keseluruha
kegiatan bimbingan dan konseling untuk siswa di sekolah ini, atas persetujuan
kepala sekolah.
SK Menpan No. 84/1993 pasal 4 ( dalam nurihsan, 2005:43) ditegaskan
bahwa ugas pokok guru pembimbing adalah “Menyusun program bimbingan,
melaksanakan bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil
pelaksanaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan, dan tindak
lanjut dalam program bimbingan terhadap peerta didik yang menjadi
tanggungjawabnya”. Namun yang menjadi kelemahan di lapangan yaitu guru
sulit membuat program karena tidak adanya acuan yang berlaku untuk
pelaksanaan. Sehingga Pihak sekolah mengharapkan sekali adanya acuan
program Bimbingan dan Konseling dari Dinas Pendidikan supaya dalam
pelaksanaan Bimbingan dan Konseling bisa terlaksana dengan baik karena
tanpa program yang merupakan rencana untuk pelaksanaan maka
pelaksanaanya tidak akan berjalan secara efektif.
B. Bimbingan Konseling (BK)
1. Program Kerja BK Per Semester
2. Laporan Bulanan dan Evaluasi Pelaksanaan
3. Studi Kasus
4. Daftar Catatan Pelanggaran
5. Administrasi BK dan Bimbingan Konseling
a. Penyusunan Program
b. Program semester
c. Jadwal kegiatan kehadiran staff Bimbingan dan Konseling (BK)
d. Pembagian tugas bimbingan kelas
e. Rincian tugas Staff Bimbingan dan Konseling (BK)
f. Penyusunan program kegiatan administrasi Bimbingan dan Konseling
(BK)
g. Kunjungan Rumah (Home Visit)
h. Pembinaan Pribadi
i. Bimbingan Langsung
j. Penelusuran Bakat dan Minat
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Program Bimbingan dan Konseling sangat diperlukan sekali dalam dunia pendidikan
karena sebagai sumber/acuan untuk melakukan kegiatan bimbingan dan konseling yang
tertata dan tidak dilakukan seingat guru yang melaksanakannya.
Program Bimbingan dan Konseling dibuat agar dapat mencegah masalah-masalah
yang akan terjadi kepada siswa dan supaya siswa di berikan Bimbingan dan Konseling sesuai
dengan perkembangan usianya. Pada jenjang pendidikan dasar, layanan bimbingan di sekolah
dasar bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tugas – tugas perkembangan
yang meliputi aspek pribadi sosial, pendidikan dan karier sesuai dengan tuntutan lingkungan.
Sehingga Bimbingan dan Konseling ini dapat diterima secara efektif oleh siswa. Masalah
belajar timbul karena ada sesuatu hal yang melatarbelakanginya dan banyak sekali faktor
yang menjadi penyebab timbulnya masalah-masalah belajar pada anak. Untuk mengatasi
masalah- masalh yang ada, diperlukan program Bimbingan dan Konseling.
B. Saran
Program Bimbingan konseling sangat penting sekali. Untuk itu pihak-pihak yang
terkait didalam dunia pendidikan harus saling mendukung terhadap adanya program ini. Di
sini, menurt saya dinas pendidikan alangkah baiknya memberikan acuan program bimbingan
konseling kepada setiap sekolah sebagai sumber untuk menjalakan Bimbingan dan Konseling
di sekolahnya masin-masing. Memang seharusnya guru lah yang membuat program
Bimbingan dan Konseling tetapi nyatanya di lapangan guru sering mengabaikan tentang
program bimbingan dan Konseling ini. Ketika siswa mendapatkan masalah baru Bimbingan
dan Konseling berjalan, padahal Bimbingan dan Konseling ini di peruntukan bukan hanya
pada siswa yang mempunyai masalah, tetapi juga murid yang mempunyai kecerdasan atau
bahkan yang mempunyai bakat dan potensi yang menonjol.