Reviu RKA Pemerintah Daerah 2017
Reviu RKA Pemerintah Daerah 2017
REVIU ATAS
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN (RKA)
PEMERINTAH DAERAH
2017
Modul Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Pemerintah Daerah
Pusdiklatwas BPKP
Jl. Beringin II, Pandansari, Ciawi, Bogor 16720
Telp. (0251) 8249001 - 8249003
Fax. (0251) 8248986 - 8248987
Email : pusdiklat@[Link]
Website : [Link]
e-Learning : [Link]
Setiap pegawai harus memiliki kompetensi yang layak untuk dapat menjalankan tugas dantanggung
jawabnya. Kompetensi yang selalu dimutakhirkan dan ditingkatkan akan menjadikanseseorang menjadi mahir
dan mampu menghadapi lingkungan yang selalu berubah. Salah satucara untuk memutakhirkan dan
meningkatkan kompetensi adalah dengan mengikuti pendidikandan pelatihan (diklat).
Pusdiklatwas BPKP adalah salah satu unit kerja BPKP yang memiliki tugas pokok dan fungsimelaksanakan
diklat. Dalam rangka melaksanakan mandat Peraturan Pemerintah Nomor 101Tahun 2000 tentang
Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil, Pusdiklatwas BPKPberkomitmen memberikan yang
terbaik bagi para peserta diklat. Kurikulum dan bahan ajardirancang dengan memperhatikan praktik di
kementerian/lembaga dan pemerintah daerah,sehingga materi diklat dalam proses pembelajaran adalah
cerminan penerapan ilmupengetahuan di lapangan. Dengan demikian, peserta diklat diharapkan mampu
menerapkanhasil pendidikan dan pelatihan pada instansinya.
Modul pelatihan ini adalah salah satu bahan ajar tertulis, selain menjadi acuan pada prosespembelajaran juga
diharapkan dapat menjadi acuan pada tempat kerja para peserta [Link] modul bukan satu‐satunya
referensi yang berkenaan dengan substansi materi, bahanajar lain yang disampaikan oleh instruktur
merupakan pengayaan materi diklat. Peserta diklatjuga diharapkan tetap memperkaya dengan referensi
lainnya.
Meskipun modul ini telah disusun dengan proses evaluasi dan reviu, kami menyadari perbaikanterus menerus
masih perlu dilakukan. Untuk itu, kami mengharapkan saran perbaikan untukmenjadikan modul ini lebih
bermanfaat.
Akhir kata, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi atasterbitnya modul
ini.
Djoko Prihardono
A. LATAR BELAKANG
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mengamanatkan
penyusunan APBD sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan
pendapatan daerah dengan berpedoman kepada rencana kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dalam
rangka mewujudkan tujuan bernegara.
RKPD menerjemahkan perencanaan strategis jangka menengah (RPJMD dan Renstra-SKPD) ke dalam
rencana program dan kegiatan serta penganggaran tahunan. RKPD menjembatani sinkronisasi dan
harmonisasi rencana tahunan dengan rencana strategis serta mengoperasionalkan rencana strategis
ke dalam langkah-langkah tahunan yang lebih konkrit dan terukur untuk memastikan tercapainya
rencana pembangunan jangka menengah. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah antara lain menegaskan bahwa RPJMD dan RKPD digunakan sebagai
instrumen evaluasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah serta RKPD menjadi pedoman kepala
daerah dalam menyusun KUA serta PPAS sebagai landasan penyusunan R-APBD. Selanjutnya Kepala
daerah berdasarkan nota kesepakatan dengan DPRD menerbitkan pedoman penyusunan RKA-SKPD
sebagai pedoman Kepala SKPD menyusun RKA-SKPD. Kepala SKPD menyusun RKA-SKPD,
menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah, penganggaran
terpadu, dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja.
Hasil monitoring Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri Tahun
2013 menunjukan bahwa dokumen perencanaan pembangunan daerah belum sepenuhnya menjadi
landasan dalam penganggaran. Selain itu, masih terdapat RKA-SKPD yang belum konsisten dengan
kaidah-kaidah perencanaan serta belum disusun dengan baik dan tepat sesuai dengan kaidah-kaidah
penganggaran, sehingga penuangan informasi dalam dokumen RKA-SKPD kerapkali tidak terukur
dan melenceng dari tujuan yang direncanakan. Adanya penganggaran belanja yang belum optimal
menyebabkan penyerapan APBD yang tidak maksimal, penumpukan realisasi anggaran pada akhir
tahun, serta kualitas belanja APBD tidak optimal dalam mendukung sasaran pembangunan nasional
dan daerah.
Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Reviu oleh Inspektorat atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah masih menemukan adanya kesalahan penganggaran, berupa salah klasifikasi
Peran APIP telah mengalami pergeseran paradigma dari watch dog (sekedar mencari-cari kesalahan)
bergeser menjadi lebih fokus pada unsur pembinaan yang bersifat preventive (pencegahan),
consultative, dan quality assurance program-program strategis yang mempunyai risiko tinggi
terhadap penyimpangan, early warning systems, pendampingan, dan pembinaan. Peran APIP
provinsi/kabupaten/kota dalam proses perencanaan penganggaran adalah mendorong SKPD agar
meningkatkan kualitas penyusunan dokumen perencanaan penganggaran untuk menjamin
konsistensi dan keterpaduan antara perencanaan dan penganggaran agar menghasilkan APBD yang
berkualitas, serta efektif dan efisiensi dalam pencapaian prioritas dan sasaran pembangunan
nasional dan daerah. Peningkatkan kualitas APBD serta penjaminan konsistensi dan keterpaduan
perencanaan penganggaran dilakukan APIP melalui pelaksanaan reviu dokumen rencana
pembangunan tahunan yaitu RKPD (dokumen pelaksanaan atau penjabaran dari RPJMD) dan Renja-
SKPD serta reviu dokumen anggaran tahunan daerah yaitu KUA, PPAS dan RKA-SKPD. Pelaksanaan
reviu harus mampu menjamin proses perencanaan penganggaran patuh terhadap kaidah-kaidah
perencanaan dan penganggaran.
Modul ini disusun untuk membekali para auditor APIP daerah dengan pengetahuan tentang konsep,
paradigma dan peran, standar dan etika, serta praktik dasar, dan tata cara pelaksanaan Reviu atas
Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Pemerintah Daerah. Pengetahuan tentang tata cara reviu
tersebut meliputi tahapan persiapan reviu, pelaksanaan reviu, pelaporan reviu, serta pemantauan
tindak lanjut hasil reviu. Hal-hal penting yang perlu diketahui APIP mengenai Reviu atas Rencana
Kerja dan Anggaran (RKA) Pemerintah Daerah (Pemda) berusaha dicakup dalam modul ini, namun
demikian pengetahuan dari sumber dan literatur lain masih tetap diperlukan.
B. KOMPETENSI DASAR
Setelah mengikuti diklat Reviu atas RKA Pemda ini, peserta diklat mampu melaksanakan proses dan
tahapan Reviu atas RKA Pemda sesuai dengan standar, pedoman, dan ketentuan yang berlaku.
C. INDIKATOR KEBERHASILAN
Setelah mengikuti pembelajaran Reviu atas RKA Pemda ini, peserta diklat diharapkan:
3. Mampu melaksanakan persiapan dan perencanaan Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran
Pemerintah Daerah.
4. Mampu melakukan tahap pelaksanaan Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran Pemerintah
Daerah, yang meliputi: Reviu atas Rancangan Akhir RKPD dan Perubahan RKPD, Reviu atas
Rancangan Akhir Renja-SKPD dan Perubahan Renja-SKPD, Reviu atas Rancangan KUA dan
PPAS, serta KUPA dan PPAS Perubahan, serta Reviu atas RKA-SKPD dan RKA-SKPD Perubahan..
5. Mampu melakukan tahap pelaporan, pemantauan, dan tidak lanjut hasil Reviu atas Rencana
Kerja dan Anggaran Pemerintah Daerah.
D. SISTEMATIKA MODUL
Tinjauan Diklat
Bagian ini menguraikan latar belakang penyusunan modul, kompetensi dasar dan
indikator keberhasilan yang diharapkan dipenuhi setelah pelaksanaan diklat, sistematika
modul, dan metode pembelajaran yang digunakan, serta petunjuk penggunaan modul.
Bab II Pengantar Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran Pemerintah Daerah
Bab ini menguraikan konsep, pengertian dan dasar hukum, tujuan dan ruang lingkup,
serta standar, metodologi, dan tahapan Reviu atas RKA Pemda
Bab III Perencanaan Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran Pemerintah Daerah
Bab IV Pelaksanaan Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran Pemerintah Daerah
Bab ini menguraikan tahapan pelaksanaan reviu, terutama prosedur dan teknik reviu
atas Rancangan Akhir RKPD dan Perubahan RKPD, Rancangan Akhir Renja-SKPD dan
Perubahan Renja-SKPD, Rancangan KUA dan PPAS, serta KUPA dan PPAS Perubahan,
serta RKA-SKPD dan RKA-SKPD Perubahan
Bab V Pelaporan, Pemantauan, dan Tindak Lanjut Hasil Reviu atas Rencana Kerja dan
Anggaran Pemerintah Daerah
Bab ini menguraikan tahapan Pelaporan Hasil Reviu atas RKA Pemda, serta Pemantauan
dan Tindak Lanjut Hasil Reviu atas RKA Pemda.
E. METODE PEMBELAJARAN
1. Presentasi
Widyaiswara/instruktur dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab untuk mendalami
permasalahan/kondisi yang terkait dengan proses perencanaan pembangunan dan
penganggaran (rencana kerja dan anggaran) Pemerintah Daerah, Pengantar Reviu, serta
proses dan tahapan Reviu atas RKA Pemda.
Peserta berlatih menyelesaikan soal-soal dan kasus yang terkait dengan proses perencanaan
pembangunan dan penganggaran (rencana kerja dan anggaran) Pemerintah Daerah,
Pengantar Reviu, serta proses dan tahapan Reviu atas RKA Pemda.
Modul ini merupakan bahan ajar utama pada Diklat Reviu atas RKA Pemda. Agar proses
pembelajaran berlangsung dengan baik, sebaiknya penggunaan modul dilakukan sebagai berikut:
1. Materi pada modul sebaiknya dipelajari lebih dahulu oleh peserta diklat sebelum pelaksanaan
pembelajaran di kelas.
2. Modul ini dilengkapi dengan Buku Kerja sebagai bahan ajar untuk evaluasi atas pemahaman
peserta diklat dan sarana untuk penerapan pengetahuan yang diperoleh dengan mengerjakan
latihan dan kasus. Penggunaan buku kerja sangat diperlukan agar peserta diklat dapat
memeroleh learning experience, dengan latihan dan kasus.
3. Untuk meningkatkan pemahaman peserta diklat, proses pembelajaran terhadap modul ini
perlu diperkaya dengan literatur dan referensi lainnya, sebagai sumber bahan ajar tambahan.
~
• Terwujudnya penilaian kinerja kebijakan yang terukur, perencanaan, dan pelaksanaan sesuai
RPJMD, sehingga tercapai efektivitas perencanaan.
Pada bagian ini akan diuraikan gambaran umum perencanaan pembangunan daerah, yang meliputi
konsep dan pengertiannya, prinsip dan perumusan, pendekatan, serta tahapan perencanaan
pembangunan daerah.
Perencanaan merupakan tahapan penting dalam suatu kegiatan, organisasi, begitu juga dalam
pembangunan daerah. Perencanaan yang baik dan memadai, secara terstruktur dan disiplin,
akan membantu pelaksanaan kegiatan (pembangunan daerah) secara efektif dan efisien.
Terdapat ungkapan yang terkait dengan perencanaan, yaitu: “kegagalan dalam perencanaan
berarti merencanakan untuk gagal (if you fail to plan, you plan to fail).” Juga terdapat istilah
dalam perencanaan yang disebut dengan “The six P’s,” yaitu: “Proper Prior Planning Prevents
Poor Performance.”
Sedangkan pengertian pembangunan daerah adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki
untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan,
kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya
saing, maupun peningkatan indeks pembangunan manusia.1 Pembangunan Daerah
merupakan perwujudan dari pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang telah diserahkan ke
Daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional.
1
PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan Daerah, Pasal 1, Angka 2.
2
PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan Daerah, Pasal 1, Angka 3.
a. Pendekatan Teknokratis
• menetapkan tolok ukur dan target kinerja keluaran dan hasil capaian, lokasi serta
kelompok sasaran program/kegiatan, sesuai dengan SPM,
Berita Perencanaan
Home News Megapolitan
Pemprov DKI Mulai Susun Rancangan Teknokratis RPJMD 2018-2022
JESSI CARINA
[Link] - 05/05/2017, 16:14 WIB
"Kami Bappeda memang diberi tugas oleh kosntitusi untuk menyiapkan secara
teknokratis, kan ada aspek-aspek yang bisa dihitung siapapun gubernurnya," kata Tuty
di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (5/5/2017).
Hal-hal teknokratis yang sudah bisa disusun misalnya seperti laju pertumbuhan
penduduk dan ekonomi selama 5 tahun ke depan. Siapapun yang menjadi kepala
daerah, hal itu sudah bisa dihitung sejak saat ini dan dimasukan dalam rancangan
RPJMD.
"Kami ada juga di atas RPJMD itu ada RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang), itu
juga kami perhatikan. Ada aspek teknokratis yang memang dijaga kesinambungannya,"
kata Tuty. Namun akan ada proses sinkronisasi RPJMD dengan visi dan misi gubernur
serta wakil gubernur terpilih. Tuty mengatakan rancangan teknokratis itu akan
diintegrasikan dengan aspek politis kepala daerah nanti.
"Jadi seluruh visi misi gubernur dan wagub terpilih akan mewarnai keseluruhan RPJMD,"
ujar Tuty. Tuty belum bisa memastikan kapan proses sinkronisasi akan dimulai. Namun
penetapan RPJMD 2018-2022 akan dilakukan oleh gubernur dan wakil gubernur terpilih.
"Paling lambat 6 bulan setelah gubernur baru dilantik, sudah harus ditetapkan," kata
Tuty.
[Link]
.[Link].2018-2022 (diakses 11 September 2017 Pukul 14.56)
Pemangku kepentingan adalah pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan
manfaat atau dampak dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah, antara
lain: unsur DPRD Prov/Kab/Kota, TNI, POLRI, Kejaksaan, akademisi, LSM/Ormas, tokoh
masyarakat, pengusaha/investor, pemerintah pusat, pemerintah prov/kab/kota,
pemerintahan desa, dan kelurahan serta keterwakilan perempuan dan kelompok
masyarakat rentan termajinalkan.
c. Pendekatan Politis
• penerjemahan yang tepat dan sistematis atas visi, misi, dan program kepala daerah
dan wakil kepala daerah ke dalam tujuan, strategi, kebijakan, dan program
pembangunan daerah selama masa jabatan,
Program, kegiatan, alokasi dana indikatif dan sumber pendanaan yang dirumuskan dalam
dokumen rencana pembangunan daerah (RPJMD, RKPD, Renstra SKPD dan Renja SKPD)
disusun berdasarkan:
Kerangka pendanaan merupakan bagian dari kerangka fiskal yang berhubungan dengan
kemampuan untuk membiayai belanja pemerintah. Kerangka pendanaan digunakan
untuk penyusunan dokumen rencana pembangunan jangka menengah (RPJMD dan
Renstra SKPD).
Perumusan capaian kinerja setiap program dan kegiatan, harus berpedoman pada
rencana pencapaian SPM berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
disesuaikan dengan kemampuan daerah. SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu
pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap
warga secara minimal.
• kepala daerah, DPRD, perangkat daerah, dan pegawai negeri sipil daerah
• keuangan daerah
• kependudukan
Data dan informasi di atas, selanjutnya dikompilasi secara terstruktur berdasarkan aspek
geografis, aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing
daerah untuk memudahkan pengolahan serta analisis secara sistematis,dalam rangka
penyusunan rencana pembangunan daerah. Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah,
Kementerian Dalam Negeri secara periodik melakukan penyempurnaan data dan informasi
RPJPD merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 20 (dua puluh)
tahun. RPJPD memuat visi, misi dan arah pembangunan daerah. RPJPD disusun oleh Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) atau sebutan lain sebagai unsur perencana
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang melaksanakan tugas dan mengkoordinasikan
penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah.
• visi, misi, arah, tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang nasional,
Rancangan awal RPJPD dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD
dan dikonsultasikan dengan publik, untuk memperoleh masukan penyempurnaan
rancangan awal. Selanjutnya, rancangan awal RPJPD yang telah disempurnakan diajukan
kepada kepala daerah dalam rangka memperoleh persetujuan untuk dibahas dalam
musrenbang RPJPD.
Rancangan akhir dirumuskan paling lama satu tahun sebelum RPJPD yang berlaku
berakhir. Hasil musrenbang menjadi bahan masukan untuk merumuskan rancangan
akhir RPJPD.
e. Penetapan RPJPD
Kepala daerah menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kepada DPRD
untuk memperoleh persetujuan bersama, paling lama 6 (enam) bulan sebelum
berakhirnya RPJPD yang berlaku. Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang
RPJPD, dengan lampiran rancangan akhir RPJPD yang telah dikonsultasikan dengan
Menteri Dalam Negeri/Gubernur, beserta berita acara kesepakatan hasil musrenbang
RPJPD dan hasil konsultasi rancangan akhir RPJPD.
Perda RPJPD segera disampaikan kepada Mendagri atau Gubernur, untuk dilakukan
klarifikasi berkaitan dengan tindak lanjut atas saran penyempurnaan hasil konsultasi.
Perda RPJPD yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi atau bahkan tidak
RPJPD disusun dan disajikan dengan sistematika sebagai berikut: (a) Pendahuluan, (b)
Gambaran Umum Kondisi Daerah, (c) Analisis Isu-isu Strategis, (d) Visi dan Misi Daerah, (e)
Arah Kebijakan, dan (f) Kaidah Pelaksanaan.
RPJMD adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 5 (lima) tahun.
RPJMD memuat: visi, misi, dan program kepala daerah, arah kebijakan keuangan daerah,
strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program SKPD, program lintas SKPD, program
kewilayahan, rencana kerja dalam kerangka regulasi yang bersifat indikatif, dan rencana kerja
dalam kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Seperti RPJPD, RPJMD disusun oleh
Bappeda, dengan tahapan: persiapan, rancangan awal, penyusunan rancangan, pelaksanaan
musrenbang, perumusan rancangan akhir, dan penetapan.
• Memuat visi, misi dan program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih.
Rancangan awal RPJPD dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD
dan dikonsultasikan dengan publik, untuk memperoleh masukan penyempurnaan
rancangan awal. Rancangan awal RPJPD yang telah disempurnakan disampaikan kepada
kepala daerah.
Rancangan awal RPJMD menjadi pedoman SKPD dalam menyusun rancangan renstra
SKPD. Rancangan renstra SKPD menjadi bahan penyusunan rancangan RPJMD. Bappeda
melakukan verifikasi terhadap rancangan renstra SKPD untuk mengintegrasikan dan
menjamin kesesuaian dengan rancangan awal RPJMD, antara lain dalam:
• capaian indikator kinerja daerah pada kondisi saat ini dan pada akhir periode
RPJMD
RPJMD disajikan dengan sistematika sebagai berikut: (a) pendahuluan, (b) gambaran umum
kondisi daerah, (c) gambaran pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan, (d)
analisis isu-isu strategis, (e) visi, misi, tujuan dan sasaran, (f) strategi dan arah kebijakan, (g)
kebijakan umum dan program pembangunan daerah, (h) indikasi rencana program prioritas
yang disertai kebutuhan pendanaan, dan (i) penetapan indikator kinerja daerah.
RPJMD merupakan pedoman penetapan Renstra SKPD dan penyusunan RKPD, serta digunakan
sebagai instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Renstra SKPD merupakan dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun, yang
disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD, sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, serta berpedoman kepada RPJMD dan bersifat indikatif. Renstra SKPD memuat:
visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, serta program dan kegiatan.
Kepala SKPD menyampaikan rancangan Renstra kepada Kepala Bappeda untuk dilakukan
verifikasi dan bahan penyempurnaan rancangan awal RPJMD, sebagamana telah
diuraikan pada bagaian penyusunan RPJMD.
Rancangan akhir Renstra SKPD disampaikan kepada Kepala Bappeda untuk diverifikasi
akhir. Verifikasi akhir dilakukan untuk menjamin kesesuaian visi, misi, tujuan, strategi,
kebijakan, program, dan kegiatan SKPD dengan RPJMD, dan keterpaduan dengan
rancangan akhir Renstra SKPD lainnya.
Bappeda menghimpun seluruh rancangan akhir Renstra SKPD yang telah diteliti melalui
verifikasi akhir, untuk diajukan kepada kepala daerah guna memperoleh pengesahan,
Penyajian rancangan Renstra SKPD dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut:
a. Pendahuluan,
f. Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD.
Konsep dan tahapan penyusunan, struktur dan isi, perubahan, serta pengendalian dan evaluasi
dokumen perencanaan pembangunan daerah tahunan (RKPD dan Renja-SKPD) akan diuraikan
pada bagian berikutnya.
• Penyusunan Kebijakan Uumum APBD (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran
Sementara (PPAS),
- Penerbitan Surat Edaran Kepala Daerah perihal Pedoman Penyusunan RKA SKPD
dan RKA PPKD
• Evaluasi dan Penetapan Raperda tentang APBD serta Raperkada tentang Penjabaran
APBD
Pembahasan penganggaran pemerintah daerah lebih lanjut yang akan diuraikan dalam bab ini
berkaitan penyusunan KUA dan PPAS, serta penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) adalah dokumen
perencanaan pembangunan daerah untuk periode 1 (satu) tahun. Berikut akan diuraikan berkaitan
dengan konsep dan tahapan penyusunan, struktur dan isi, perubahan, serta pengendalian dan
evaluasi RKPD.
RKPD yang merupakan penjabaran dari RPJMD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, yang
memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, serta rencana
kerja dan pendanaan. RKPD mempunyai kedudukan, peran dan fungsi yang sangat strategis
dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, yaitu:
a. Secara substansial, memuat arah kebijakan ekonomi dan keuangan daerah, rencana
program, kegiatan, indikator kinerja, pagu indikatif, kelompok sasaran, lokasi kegiatan,
prakiraan maju, dan Perangkat Daerah penanggung jawab yang wajib dilaksanakan
pemerintahan daerah dalam 1 (satu) tahun.
b. Secara normatif, menjadi dasar penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas
dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang akan diusulkan oleh kepala daerah untuk
disepakati bersama dengan DPRD sebagai landasan penyusunan Rancangan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (R-APBD);
RKPD disusun dengan tahapan sebagai berikut: persiapan, penyusunan rancangan awal,
penyusunan rancangan, pelaksanaan musrenbang, perumusan rancangan akhir, dan
penetapan RKPD.
Rancangan awal RKPD disusun dengan berpedoman pada RPJMD, serta mengacu pada
RPJMD Provinsi (untuk Kabupaten/Kota) dan RPJMN. Berpedoman pada RPJMD
dilakukan melalui penyelarasan antara prioritas dan sasaran pembangunan tahunan
daerah dengan program pembangunan daerah pada RPJMD, serta antara rencana
program serta kegiatan prioritas tahunan daerah dengan indikasi rencana program
prioritas pada RPJMD.
Rancangan awal RKPD dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD
dan dikonsultasikan dengan publik, untuk memperoleh masukan penyempurnaan
f. Penetapan RKPD
Tahapan penyusunan RKPD secara grafis dapat dilihat pada gambar berikut.
Struktur RKPD dapat disajikan dalam bentuk bab dengan sistematika, paling sedikit, sebagai
berikut:
Bab Judul
I Pendahuluan
II Evaluasi hasil pelaksanaan RKPD tahun lalu
III Rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan
IV Prioritas dan sasaran pembangunan
V Rencana program prioritas daerah
VI Penutup
3. Perubahan RKPD
RKPD dapat diubah jika tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dalam tahun berjalan,
seperti:
- Perkembangan keadaan yang tidak sesuai dengan asumsi kerangka ekonomi daerah dan
kerangka pendanaan, prioritas dan sasaran pembangunan, rencana program dan
kegiatan prioritas daerah.
- Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun anggaran sebelumnya harus
digunakan untuk tahun berjalan.
- Keadaan darurat dan keadaan luar biasa (sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku).
Perubahan RKPD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Perkada tentang Perubahan
RKPD Kabupaten/Kota/Provinsi disampaikan kepada pemerintah pusat (Gubernur dan/atau
Menteri Dalam Negeri), bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah
tentang Perubahan APBD tahun berkenaan untuk dievaluasi.
Pengendalian dan evaluasi RKPD merupakan bagian dari pengendalian dan evaluasi
perencanaan pembangunan daerah. Pengendalian dan evaluasi bertujuan untuk mewujudkan:
Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melakukan
pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi.
Gubernur melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah
lingkup provinsi, antarkabupaten/kota. Bupati/Walikota melakukan pengendalian dan evaluasi
terhadap perencanaan pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD)
merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah tahunan untuk setiap SKPD. Berikut akan
diuraikan berkaitan dengan konsep dan tahapan penyusunan, struktur dan isi, perubahan, serta
pengendalian dan evaluasi Renja SKPD.
Renja SKPD merupakan dokumen perencanaan pada tingkat SKPD yang memuat: program dan
kegiatan, lokasi kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran, serta pagu indikatif dan
prakiraan maju.
a. Program dan kegiatan meliput: program dan kegiatan yang sedang berjalan dan kegiatan
alternatif atau baru.
b. Lokasi kegiatan merupakan lokasi atau tempat dari setiap kegiatan yang akan
dilaksanakan seperti nama desa/kelurahan, kecamatan.
c. Indikator kinerja, terdiri dari: indikator kinerja program yang memuat ukuran spesifik
secara kuantitatif dan/atau kualitatif hasil (putcome), dan indikator kinerja kegiatan
yang memuat ukuran spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif masukan (input),
keluaran (output).
e. Prakiraan maju memuat kebutuhan dana untuk tahun berikutnya dari tahun anggaran
yang direncanakan guna memastikan kesinambungan kebijakan yang telah disetujui
untuk setiap program dan kegiatan.
Rancangan Renja SKPD disusun dengan mengacu pada rancangan awal RKPD, Renstra
SKPD, dan hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan periode sebelumnya.
Rancangan Renja disusun untuk memecahkan masalah yang dihadapi, berdasarkan
usulan program serta kegiatan yang berasal dari masyarakat.
Rancangan Renja SKPD dibahas dalam forum SKPD, yang dikoordinasikan oleh Bappeda.
Pembahasan tersebut mencakup:
- Penyelarasan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD
berdasarkan usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kecamatan
- Penyelarasan program dan kegiatan antar SKPD dalam rangka sinergi pelaksanaan
dan optimalisasi pencapaian sasaran sesuai dengan tugas dan fungsi masing-
masing SKPD
Kepala SKPD menyempurnakan rancangan Renja SKPD dengan berpedoman pada RKPD
yang telah ditetapkan. Rancangan Renja SKPD yang telah disempurnakan disampaikan
kepada Kepala Bappeda untuk diverifikasi, untuk memastikan rancangan Renja SKPD
telah sesuai dengan RKPD. Selanjutnya, Kepala Bappeda menyampaikan rancangan
Renja SKPD kepada Kepala Daerah untuk memperoleh pengesahan dan ditetapkan
dengan Keputusan Kepala Daerah.
Renja RKPD disajikan dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: pendahuluan, evaluasi
pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu, tujuan, sasaran, program dan kegiatan, indikator kinerja
dan kelompok sasaran yang menggambarkan pencapaian Renstra SKPD, dana indikatif beserta
sumbernya serta prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif, sumber dana yang dibutuhkan
untuk menjalankan program dan kegiatan, serta penutup.
Bab Judul
I Pendahuluan
II evaluasi pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu
III tujuan, sasaran, program dan kegiatan
IV indikator kinerja dan kelompok sasaran yang menggambarkan pencapaian Renstra
SKPD
V dana indikatif beserta sumbernya serta prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif
VI sumber dana yang dibutuhkan untuk menjalankan program dan kegiatan
VII Penutup
Renja SKPD dapat diubah jika tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dalam tahun
berjalan, seperti:
- Perkembangan keadaan yang tidak sesuai dengan asumsi kerangka ekonomi daerah dan
kerangka pendanaan, prioritas dan sasaran pembangunan, rencana program dan
kegiatan prioritas daerah.
- Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun anggaran sebelumnya harus
digunakan untuk tahun berjalan.
- Keadaan darurat dan keadaan luar biasa (sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku).
Perubahan Renja SKPD dirumuskan oleh Kepala SKPD dan ditetapkan dengan peraturan kepala
daerah. Perkada tentang Perubahan Renja-SKPD Kabupaten/Kota Provinsi disampaikan kepada
pemerintah pusat (Gubernur dan/atau Menteri Dalam Negeri) bersamaan dengan
penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD tahun berkenaan untuk
dievaluasi.
Pengendalian pelaksanaan Renja SKPD provinsi mencakup program dan kegiatan, lokasi, pagu
indikatif serta prakiraan maju dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. Pengendalian
dilakukan melalui pemantauan dan supervisi penyusunan RKA-SKPD provinsi. Kepala SKPD
provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renja SKPD provinsi.
Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi ditemukan adanya ketidaksesuaian/
penyimpangan, Kepala SKPD provinsi mengambil langkah-langkah penyempurnaan agar
penyusunan RKA-SKPD provinsi sesuai dengan Renja SKPD provinsi. Kepala SKPD provinsi
menyampaikan laporan hasil pemantauan dan supervisi kepada Gubernur melalui kepala
Bappeda provinsi.
1. Pengertian
Pengertian KUA sesuai dengan pasal 1 angka 46 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dan Pasal 1 angka 31 Permendagri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah terakhir diubah dengan Permendagri
Nomor 21 Tahun 2011 adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja
dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun.
PPAS sesuai Pasal 1 angka 47 PP Nomor 58 Tahun 2005 adalah program prioritas dan patokan
batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan
dalam penyusunan RKA-SKPD, sedangkan menurut Pasal 1 angka 32 Permendagri Nomor 13
Tahun 2006 terakhir diubah dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 adalah rancangan
program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk
setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD sebelum disepakati dengan DPRD.
Permendagri 13 Tahun 2006 Pasal 1 angka 33 menyebutkan adanya dokumen PPA yang
merupakan akronim dari Prioritas dan Plafon Anggaran. PPA diartikan sebagai program
prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap
program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD setelah disepakati dengan DPRD. Namun
dengan terbitnya Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 sebagai Perubahan Kedua atas
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, PPA
sudah dihapus. Dengan demikian, sejak Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 diundangkan pada
tanggal 25 Mei 2011 maka kita istilah PPA dihapus. Sebelumnya, kita membedakan antara
PPAS dan PPA, jika PPAS adalah rancangan program prioritas dan patokan batas maksimal
anggaran yang diberikan kepada SKPD sebelum disepakati dengan DPRD, sedangkan PPA
adalah program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD
setelah disepakati oleh DPRD.
2. Penyusunan
Penyusunanan KUA dan PPAS oleh Kepala daerah berdasarkan RKPD (Rencana Kerja
Pemerintah Daerah) dan Pedoman Penyusunan APBD yang oleh Menteri Dalam Negeri setiap
tahun. Sebagai contoh dalam penyusunan KUA dan PPAS Tahun 2017, Kepala Daerah
KUA dan PPAS disusun oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang dipimpin oleh
Sekretaris Daerah. Rancangan KUA dan PPAS disampaikan oleh Sekda kepada Kepala Daerah
paling lambat pada minggu pertama bulan Juni. Selanjutnya Kepala Daerah mengajukan KUA
dan PPAS kepada DPRD paling lambat pertengahan Bulan Juni tahun anggaran berjalan untuk
dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran berikutnya.
Pembahasan KUA dan PPAS dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD dan paling
lambat telah disepakati pada akhir bulam juni tahun anggaran berjalan. Hasil kesepakatan
dituangkan dalam nota kesepakatan yang ditanda tangani antara kepala daerah dengan
pimpinan DPRD dalam waktu bersamaan.
a. KUA
Secara umum rancangan KUA memuat kondisi ekonomi makro daerah, asumsi
penyusunan APBD, kebijakan pendapatan daerah, kebijakan belanja daerah, kebijakan
pembiayaan daerah, dan strategi pencapaiannya. Strategi pencapaian memuat langkah-
langkah konkret dalam mencapai target.
Format dokumen KUA sesuai Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 adalah sebagai berikut:
Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara atau PPAS adalah rancangan program prioritas
dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Kerja
dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) sebelum disepakati dengan DPRD.
Prioritas adalah suatu upaya mengutamakan sesuatu daripada yang lain. Penetapan
prioritas tidak hanya mencakup keputusan apa yang penting untuk dilakukan, tetapi juga
menentukan skala atau peringkat wewenang dan kegiatan yang harus dilakukan lebih
dahulu di banding program yang lain. Tujuan prioritas adalah terpenuhinya skala dan
lingkup kebutuhan masyarakat yang dianggap paling penting dan paling luas
jangkauanya, agar lokasi dan sumber daya dapat di manfaatkan secara ekonomis, efisien
dan efektif, mengurangi tingkat resiko dan ketidakpastian serta tersusunnya program
atau kegiatan yang lebih realistis.
Plafon anggaran sementara adalah jumlah rupiah batas tertinggi yang dapat dianggarkan
oleh tiap-tiap satuan kerja perangkat daerah, termasuk di dalamnya belanja pegawai
sehingga penentuan batas maksimal dapat dilakukan setelah memperhitungkan belanja
pegawai. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara merupakan rancangan program
prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap
program sebagai acuan dalam penyusunan RKA SKPD.
Format dokumen PPAS sesuai Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 adalah sebagai
berikut.
BAB I PENDAHULUAN
Berisikan latar belakang, tujuan dan dasar penyusunan prioritas dan plafon
anggaran sementara (PPAS)
TARGET
PENDAPATAN DAN PENERIMAAN TAHUN DASAR
NO.
PEMBIAYAAN DAERAH ANGGARAN HUKUM
BERKENAAN
1 2 3 4
1 Pendapatan Asli Daerah
1.1 Pajak Daerah
1.2 Retribusi Daerah
1.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan
1.4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah
2 Dana Perimbangan
2.1 Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak
2.2 Dana Alokasi Umum
2.3 Dana Alokasi Khusus
3 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
3.1 Hibah
3.2 Dana Darurat
3.3 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah
Daerah lainnya
3.4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus
3.5 Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah
Daerah lainnya
JUMLAH PENDAPATAN DAERAH
Penerimaan pembiayaan
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran
sebelumnya (SiLPA)
Pencairan dana cadangan
Hasil penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan
Penerimaan pinjaman daerah
Penerimaan kembali pemberian pinjaman
Penerimaan piutang daerah
JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN
Dst.
JUMLAH
PLAFON
URUSAN/SKPD ANGGARAN KET.
SEMENTARA (RP)
1 2 3 4
URUSAN WAJIB
1 Pendidikan
1.1 Dinas/Badan/Kantor
1.2 Dst………………
2 Kesehatan
2.1 Dinas/Badan/Kantor
2.2 Dst………………
3 Pekerjaan Umum
3.1 Dinas/Badan/Kantor
3.2 Dst………………
4 Perumahan
4.1 Dinas/Badan/Kantor
4.2 Dst………………
5 Penataan Ruang
5.1 Dinas/Badan/Kantor
5.2 Dst………………
6 Perencanaan Pembangunan
6.1 Dinas/Badan/Kantor
6.2 Dst………………
7 Perhubungan
7.1 Dinas/Badan/Kantor
7.2 Dst………………
8 Lingkungan Hidup
8.1 Dinas/Badan/Kantor
8.2 Dst………………
9 Pertanahan
13 Sosial
13.1 Dinas/Badan/Kantor
13.2 Dst………………
14 Ketenagakerjaan
14.1 Dinas/Badan/Kantor
14.2 Dst………………
16 Penanaman Modal
16.1 Dinas/Badan/Kantor
16.2 Dst………………
17 Kebudayaan
17.1 Dinas/Badan/Kantor
17.2 Dst………………
21 Ketahanan Pangan
21.1 Dinas/Badan/Kantor
21.2 Dst………………
23 Statistik
23.1 Dinas/Badan/Kantor
23.2 Dst………………
24 Kearsipan
24.1 Dinas/Badan/Kantor
24.2 Dst………………
26 Perpustakaan
26.1 Dinas/Badan/Kantor
26.2 Dst………………
URUSAN PILIHAN
1 Pertanian
1.1 Dinas/Badan/Kantor
1.2 Dst………………
4 Pariwisata
4.1 Dinas/Badan/Kantor
4.2 Dst………………
6 Perdagangan
6.1 Dinas/Badan/Kantor
6.2 Dst………………
7 Industri
7.1 Dinas/Badan/Kantor
7.2 Dst………………
8 Ketransmigrasian
8.1 Dinas/Badan/Kantor
8.2 Dst………………
4.3 Plafon Anggaran Sementara Untuk Belanja Pegawai, Bunga, Subsidi, Hibah,
Bantuan Sosial, Belanja Bagi Hasil, Bantuan Keuangan dan Belanja Tidak
Terduga
Berisikan plafon anggaran sementara untuk belanja pegawai, bunga, subsidi,
hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan dan belanja
tidak terduga yang dituangkan secara deskriptif dan dalam bentuk tabulasi.
Tabel IV.3
Plafon anggaran sementara untuk belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah,
bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga
Tahun Anggaran ....
PLAFON ANGGARAN
NO. URAIAN
SEMENTARA (Rp.)
1 Belanja Pegawai
2 Belanja Bunga
3 Balanja Subsidi
4 Belanja Hibah
5 Belanja Bantuan Sosial
6 Belanja Bagi Hasil Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota
dan Pemerintahan Desa
7 Belanja Bantuan Keuangan Kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa
8 Belanja Tidak Terduga
1. Pengertian
Dokumen Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah
dokumen perencanaan dan pengangggaran yang berisi rencana pendapatan dan rencana
belanja program dan kegiatan SKPD sebagai dasar penyusunan APBD (pasal 1 angka 34
Permendagri Nomor 21 tahun 2011).
Rencana Kerja dan Anggaran Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat
RKA-PPKD adalah rencana kerja dan anggaran badan/dinas/biro keuangan/bagian keuangan
selaku Bendahara Umum Daerah (pasal 1 angka 34a Permendagri Nomor 21 tahun 2011).
Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat dua jenis RKA di lingkup
Pemerintah Daerah yaitu RKA-SKPD dan RKA-PPKD. Khusus untuk badan/dinas/biro/bagian
yang ditetapkan sebagai Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) yang sekaligus juga
sebagai Bendahara Umum Daerah dan pejabat Pengelola Keuangan Daerah maka akan
memiliki dua RKA yaitu RKA-SKPD selaku SKPD dan RKA-PPKD selaku PPKD.
2. Penyusunan
Setelah dokumen KUA (Kebijakan Umum APBD) dan PPAS (Prioritas dan Plafon Anggaran
Sementara) disepakati bersama kepala daerah dan DPRD melalui nota kesepakatan yang
ditandatangani bersama oleh kepala daerah dan pimpinan DPRD, kepala daerah menerbitkan
pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagai acuan/pedoman kepala SKPD menyusun RKA-SKPD.
Pedoman penyusunan RKA-SKPD dalam bentuk surat edaran yang akan ditandatangani oleh
kepala daerah disiapkan oleh TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah). Surat edaran kepala
daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD mencakup:
d. dokumen sebagai lampiran surat edaran meliputi KUA, PPAS, analisis standar belanja dan
standar satuan harga.
Berdasarkan Surat Edaran Kepala Daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD tersebut,
kepala SKPD menyusun RKA-SKPD. RKA-SKPD disusun dengan menggunakan 3 pendekatan
yaitu:
b. Penganggaran terpadu
Indikator kinerja adalah ukuran keberhasilan yang akan dicapai dari program dan
kegiatan yang direncanakan.
Capaian kinerja merupakan ukuran prestasi kerja yang akan dicapai yang berwujud
kualitas, kuantitas, efisiensi dan efektifitas pelaksanaan dari setiap program dan
kegiatan.
Standar satuan harga merupakan harga satuan setiap unit barang/jasa yang berlaku
disuatu daerah yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah.
Standar pelayanan minimal merupakan tolok ukur kinerja dalam menentukan capaian
jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah.
Rencana pendapatan memuat kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek pendapatan
daerah, yang dipungut/dikelola/ diterima oleh SKPD sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya, ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yaitu peraturan
daerah, peraturan pemerintah atau undang-undang.
Rencana belanja memuat kelompok belanja tidak langsung dan belanja langsung yang
masing-masing diuraikan menurut jenis, obyek dan rincian obyek belanja.
Organisasi memuat nama organisasi atau nama SKPD selaku pengguna anggaran/
pengguna barang.
Program memuat nama program yang akan dilaksanakan SKPD dalam tahun anggaran
berkenaan. Kegiatan memuat nama kegiatan yang akan dilaksanakan SKPD dalam tahun
anggaran berkenaan.
Indikator meliputi masukan, keluaran dan hasil. Tolok ukur kinerja merupakan ukuran
prestasi kerja yang akan dicapai dari keadaan semula dengan mempertimbangkan faktor
kualitas, kuantitas, efisiensi dan efektifitas pelaksanaan dari setiap program dan
kegiatan. Target kinerja merupakan hasil yang diharapkan dari suatu program atau
keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan.
Belanja langsung yang terdiri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta belanja
modal dianggarkan dalam RKA-SKPD pada masing-masing SKPD. Belanja bunga, belanja
subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil, belanja bantuan
keuangan, dan belanja tidak terduga hanya dianggarkan dalam RKASKPD pada SKPKD.
2) belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi
hasil, belanja bantuan keuangan dan belanja tidak terduga; dan
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, secara umum, berdasarkan hasil monitoring Kementerian
dalam Negeri, dokumen perencanaan pembangunan daerah belum sepenuhnya menjadi landasan
dalam penganggaran. Masih terdapat perbedaaan atau inkonsistensi antara program dan pagu yang
direncanakan dengan yang dianggarkan. Inkonsistensi juga terjadi antara dokumen perencanaan
jangka menengah (RPJMD) dengandokumen perencanaan tahunan (RKPD).
Selain itu, dokumen perencanaan dan penganggaran yang disusun belum sepenuhnya
memperhatikan kaidah-kaidah perencanaan dan penganggaran yang baik dan tepat. Informasi
dalam dokumen anggaran kerapkali tidak terukur dan melenceng dari tujuan yang direncanakan.
Penganggaran belanja yang belum optimal akan berdampak kepada penyerapan APBD yang tidak
maksimal, serta kualitas APBD masih belum optimal tidak mendukung sasaran pembangunan daerah
dan pembangunan nasional.
Berkaitan dengan permasalahan tersebut, Pemerintah Daerah memanfaatkan peran APIP, yang
telah mengalami pergeseran paradigma yaitu dari peran watch dog (sekedar mencari-cari kesalahan)
bergeser menjadi lebih fokus pada unsur pembinaan yang bersifat preventive (pencegahan),
consultatitive, dan quality assurance, serta early warning systems, pendampingan, dan pembinaan.
APIP akan melaksanakan Reviu atas Perencanaan Pembangunan dan Penganggaran Daerah.
Pelaksanaan reviu harus mampu menjamin proses perencanaan penganggaran patuh terhadap
kaidah-kaidah perencanaan dan penganggaran sebagai quality assurance. Hasil reviu diharpakan
dapat menjamin konsistensi dan keterpaduan antara perencanaan dan penganggaran agar
menghasilkan APBD yang berkualitas, serta efektivitas dan efisiensi pencapaian prioritas dan sasaran
pembangunan nasional dan daerah.
Reviu, secara umum, merupakan salah satu bentuk penugasan yang bisa dilakukan oleh APIP Daerah
dalam melaksanakan peran pengawasan intern terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Berikut akan dibahas berkaitan dengan konsep dan pengertian reviu, serta dasar hukum pelaksanaan
Reviu atas Dokumen Perencanaan Pembangunan dan Penganggaran Pemerintah Daerah.
Pengawasan intern adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan
kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka
memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok
ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam
mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. Jadi reviu merupakan salah bentuk kegiatan
pengawasan intern yang dilakukan oleh APIP.
Reviu tidak memberikan dasar untuk menyatakan pendapat sebagaimana dalam audit karena
reviu tidak mencakup pengujian atas pengendalian intern, penetapan risiko pengendalian,
pengujian atas dokumen sumber dan pengujian atas respon terhadap permintaan keterangan
dengan cara pemerolehan bahan bukti yang menguatkan melalui inspeksi, pengamatan, atau
konfirmasi, dan prosedur tertentu lainnya yang biasa dilaksanakan dalam suatu audit.
Reviu adalah penelaahan ulang bukti-bukti suatu kegiatan untuk memastikan bahwa kegiatan
tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan, standar, rencana, atau norma yang telah
ditetapkan.
Reviu dokumen rencana pembangunan dan anggaran tahunan daerah adalah penelaahan atas
penyusunan dokumen rencana pembangunan tahunan dan penyusunan dokumen anggaran
tahunan daerah oleh APIP provinsi/kabupaten/kota yang kompeten untuk memberikan
keyakinan terbatas bahwa dokumen perencanaan dan penganggaran telah disusun
berdasarkan kaidah-kaidah yang ditetapkan, dalam upaya membantu Kepala Daerah untuk
menghasilkan dokumen APBD yang berkualitas untuk mencapai prioritas dan sasaran
pembangunan tahunan dalam rangka mewujudkan visi dan misi pembangunan jangka
menengah.
Dasar hukum peraturan yang digunakan dalam pelaksanaan reviu RKA Pemerintah Daerah
adalah semua peraturan yang terkait dengan perencanaan pembangunan dan penganggaran
pemerintah daerah, serta regulasi dan pedoman yang menjadi acuan dalam pelaksanaan tugas
dan fungsi Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) pada Pemerintahan Daerah, meliputi:
g. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah dan perubahannya, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 21 Tahun 2011.
h. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan
Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian,
dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah
i. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 76 Tahun 2016 tentang Kebijakan Pembinaan
dan Pengawasan di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah
Tahun 2017;
j. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyusunan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2018;
Reviu atas RKA Pemda dilaksanakan untuk mencapai tujuaan-tujuan yang diharapkan. Ruang lingkup
reviu atas RKA Pemda mencakup sasaran dan/atau batasan pelaksanaan reviu atas dokumen
perencanaan dan dokumen penganggaran.
Tujuan reviu atas dokumen rencana pembangunan dan anggaran tahunan daerah oleh APIP
Provinsi/kabupaten/kota, antara lain adalah :
Tujuan reviu tersebut akan tercapai melalui serangkaian tahapan reviu atas dokumen rencana
pembangunan dan anggaran tahunan daerah. Agar tujuan dapat tercapai, Tim Reviu
berkewajiban untuk segera menyampaikan laporan hasil reviu kepada Kepala SKPD terkait
melalui Tim Penyusun RKPD/TAPD untuk segera dilakukan perbaikan/penyesuaian.
a. Reviu atas dokumen rencana pembangunan tahunan daerah, yaitu: RKPD dan Renja-
SKPD, serta reviu atas dokumen anggaran tahunan daerah, yaitu: KUA, PPAS dan RKA-
SKPD pada proses penyusunan Rancangan APBD.
b. Reviu atas dokumen perubahan rencana pembangunan tahunan daerah yaitu Perubahan
RKPD dan Perubahan Renja-SKPD dan reviu dokumen perubahan anggaran tahunan
daerah yaitu Perubahan KUA, Perubahan PPAS dan Perubahan RKA-SKPD pada proses
penyusunan Rancangan Perubahan APBD.
Mencakup pengujian terbatas terhadap dokumen RKPD dan RENJA-SKPD mulai dari
tahap penyusunan rancangan dokumen sampai dengan ditetapkan, untuk mengetahui
hal-hal sebagai berikut:
• penggunaan akun;
Agar reviu atas RKA Pemda dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka harus
memperhatikan standar dan metodologi reviu. Selanjutnya pelaksanaan reviu juga dilakukan sesuai
dengan tahapan reviu.
Reviu atas RKA Pemda merupakan bagian dari penugasan (profesi) yang harus dilakukan oleh
APIP. Oleh karena itu, pelaksanaannya harus mengacu pada standar penugasan atau standar
profesi yang berlaku bagi APIP.
Pelaksanaan kegiatan reviu dokumen rencana pembangunan (RKPD dan Renja-SKPD) dan
anggaran tahunan daerah (KUA, PPAS dan RKA-SKPD) oleh APIP provinsi/kabupaten/kota tidak
menambah tahapan (layer) dalam proses perencanaan pembangunan daerah dan
penganggaran tahunan daerah, yang diatur dalam Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 dan
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 (dan perubahannya).
Untuk itu, pelaksanaan reviu perencanaan dan penganggaran oleh APIP provinsi/
kabupaten/kota dilaksanakan secara paralel dengan mekanisme perencanaan dan
penganggaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing pemerintahan
daerah dengan tetap berpedoman pada ketentuan kedua peraturan menteri tersebut, dan
sesuai dengan jadwal pelaksanaan perencanaan dan penganggaran.
Bukti reviu merupakan semua jenis data dan informasi yang digunakan oleh pereviu
dalam melakukan pengujian (terbatas) untuk mendukung simpulan reviu sesuai dengan
tujuan reviu.
Prosedur reviu yang berisi serangkaian langkah/program yang akan dilaksanakan oleh
APIP dalam meneliti dokumen perencanaan dan penganggaran.
Teknik reviu adalah cara atau metode yang digunakan oleh pereviu dalam melakukan
pengujian, misalnya: dokumentasi, penelusuran, pembandingan, analisis, evaluasi, dan
wawancara.
PKR merupakan serangkaian prosedur dan teknik reviu yang disusun secara sistematis
yang harus diikuti/dilaksanakan oleh Tim Reviu untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan, untuk digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pada saat meneliti dokumen
rencana pembangunan dan anggaran tahunan. Tujuan dan manfaat PKR adalah sebagai:
Agar pelaksanaan reviu dokumen rencana pembangunan dan anggaran tahunan daerah
lebih terarah dan tepat sasaran, reviu harus mengikuti langkah-langkah kerja reviu, atau
prosedur reviu, yang merupakan perintah kerja kepada pereviu dalam melaksanakan
reviu.
( Pengendali Mutu)
KKR merupakan dokumentasi yang dibuat oleh Tim Reviu mengenai semua hal yang
dilakukannya, mencakup metodologi reviu yang dipilih, prosedur reviu yang ditempuh,
bukti reviu yang dikumpulkan, dan simpulan reviu yang diambil. Secara rinci, KKR berisi
dokumen/informasi berupa: Perencanaan reviu (termasuk program kerja Reviu),
Prosedur Reviu yang dilakukan, informasi yang diperoleh dan simpulan hasil Reviu, Reviu
oleh pengawas, Pelaporan Reviu, Catatan atas tindak lanjut yang dilakukan oleh yang
direviu, Hasil reviu analitis, Laporan Reviu dan tanggapan manajemen, Korespondensi
Reviu yang relevan.
b) Dokumentasi Informasi
d) Pendukung Pembahasan
a) KKR Utama
KKR Utama adalah KKR yang berisi simpulan hasil Reviu untuk
keseluruhan/suatu segmen/bagaian/kegiatan yang direviu. Umumnya
memuat informasi sebagai berikut :
(2) Tujuan Reviu menjelaskan tujuan secar rinci yang ingin dicapai dalam
Reviu atas kegiatan dimaksud.
(3) Ruang lingkup menjelaskan apa yang dilakukan dan yang tidak
dilakukan dalam Reviu, metode pemilihan sampel dan ukuran
sampelnya dan sumber informasi.
(4) Dalam temuan berisi jawaban atas tiap unsur yang dimuat dalam
tujuan Reviu.
(5) Dalam opini dimuat penilaian atas pencapaian tujuan kegiatan, dengan
mempertimbangkan adanya temuan.
(6) Rekomendasi berupa tindakan perbaikan atas kelemahan yang ada dan
mencatat tindak lanjut yang telah dilakukan yang diperiksa.
b) KKR Ikhtisar
KKR Ikhtisar adalah KKR yang berisi ringkasan informasi dari KKR yang berisi
informasi yang sejenis/sekelompok tertentu. KKR Ikhtisar sangat membantu
dalam:
(5) Mendorong analisi kritis dengan segera atas bukti yang diperoleh dan
pekerjaaan yang dilakukan, membantu identifikasi temuan dan sebagai
dasar pengambilan keputusan Reviu selanjutnya.
c) KKR Pendukung
(2) Disusun secara logis, setiap KKR yang berada di belakang KKR yang lain
adalah merupakan pendukung (informasi yang lebih rinci) dari KKR
sebelumnya.
(3) Disusun selama proses Reviu dilaksanakan dengan mengikuti PKR dan
dituliskan referensi PKR-nya.
KKR yang baik memenuhi prinsip-prinsip penyusunan KKR, yaitu: relevan, sesuai dengan
PKR, lengkap dan cermat, mudah dipahami, rapi, efisien, seragam. KKR dapat ditelaah
oleh pihak luar dalam rangka Peer Review.
KKR merupakan hak milik instansi APIP. Organisasi Objek Reviu tidak mempunyai hak
atas KKR meskipun berisi data/informasi tentang Organisasi Objek Reviu.
Dokumen KKR merupakan dokumen penting dan bersifat rahasia. Prinsip pengelolaan
KKR yang dapat diterapkan, antara lain:
• Pada jam kerja, KKR tidak boleh ditinggal di tempat yang bisa didatangi oleh umum,
pegawai instansi atau pihak lain yang tidak memiliki kewenangan untuk
menelaahnya.
• Diluar jam kerja atau pada saat istirahat makan siang, KKR harus disimpan dalam
keadaan terkunci.
• Dokumen rahasia, seperti rencana Organisasi Objek Reviu untuk operasi serta
perluasan di masa depan dan laporan penyelidikan harus disimpan dalam keadaan
terkunci apabila tidak sedang dipakai.
FORMAT KKR
Judul (7)
................,Tgl-Bln-Thn (8)
Nama:..................
NIP....................
Agar pelaksanaan reviu dokumen rencana pembangunan dan anggaran tahunan daerah lebih
terarah dan tepat sasaran, mencapai tujuan reviu, maka reviu sebaiknya dilaksanakan dalam 3
(tiga) tahapan, yang disesuaikan dengan jadwal siklus perencanaan dan penganggaran tahunan
daerah, yaitu:
a. Tahap perencanaan reviu, meliputi kegiatan untuk memilih dan menentukan objek dan
sasaran reviu, melakukan usulan penugasan reviu, dan mempersiapkan bahan
penyusunan Program Kerja Reviu.
c. Tahap pelaporan hasil reviu, mencakup kegiatan penyusunan Catatan Hasil Reviu (CHR)
dan Laporan Hasil Reviu (LHR).
Kementerian Dalam Negeri. 2010. Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang
Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010)
Kementerian Dalam Negeri. 2011. Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 jo Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21
Tahun 2011)
Kementerian Dalam Negeri. 2016. Pedoman Pelaksanaan Reviu Dokumen Rencana Pembangunan
dan Anggaran Tahunan Daerah (Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 700/025/A.4/IJ
tanggal 13 Januari 2016)
Kementerian Dalam Negeri. 2016. Pedoman Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi RKPD Tahun
2017 (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2016)
Kementerian Dalam Negeri. 2016. Pedoman Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2017 (Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2016)
Kementerian Dalam Negeri. 2017. Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan
Daerah, Tata Cara Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Serta Tata Cara
Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017)
Kementerian Keuangan. 2015. Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian Negara/Lembaga dan Pengesahan DIPA (Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 196/PMK.02/2015 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 143/PMK.02/2015)
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.
BPKP. 2015. Panduan Asistensi Reviu RKA SKPD dan RKA PPKD (Surat Edaran Deputi Kepala BPKP
Bidang Pengawasan PKD Nomor SE-02/D4/03/2015)~