0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan84 halaman

Reviu RKA Pemerintah Daerah 2017

Diunggah oleh

erwinfitra80
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan84 halaman

Reviu RKA Pemerintah Daerah 2017

Diunggah oleh

erwinfitra80
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Modul 1

REVIU ATAS
RENCANA KERJA DAN ANGGARAN (RKA)
PEMERINTAH DAERAH

• Perencanaan Pembangunan dan Penganggaran Pemerintah


Daerah

• Pengantar Reviu atas RKA Pemerintah Daerah

PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN


BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

2017
Modul Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Pemerintah Daerah

Dikeluarkan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKPdalam rangka


Diklat Teknis Substantif Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Pemerintah Daerah

Edisi Pertama : Tahun 2017

Penyusun : Ariawan Prasodjo


Dwijo warsito
Narasumber : Marno Kastowo
Pereviu : Api Achmad Rochyadi
Penyunting : Kusmayawati
Penata Letak : Riri Lestari

Pusdiklatwas BPKP
Jl. Beringin II, Pandansari, Ciawi, Bogor 16720
Telp. (0251) 8249001 - 8249003
Fax. (0251) 8248986 - 8248987
Email : pusdiklat@[Link]
Website : [Link]
e-Learning : [Link]

Dilarang mengutip, menjiplak, memperjualbelikan, dan menggandakan


sebagian atau seluruh isi modul ini tanpa izin tertulis dari
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP
Kata Pengantar

Setiap pegawai harus memiliki kompetensi yang layak untuk dapat menjalankan tugas dantanggung
jawabnya. Kompetensi yang selalu dimutakhirkan dan ditingkatkan akan menjadikanseseorang menjadi mahir
dan mampu menghadapi lingkungan yang selalu berubah. Salah satucara untuk memutakhirkan dan
meningkatkan kompetensi adalah dengan mengikuti pendidikandan pelatihan (diklat).

Pusdiklatwas BPKP adalah salah satu unit kerja BPKP yang memiliki tugas pokok dan fungsimelaksanakan
diklat. Dalam rangka melaksanakan mandat Peraturan Pemerintah Nomor 101Tahun 2000 tentang
Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil, Pusdiklatwas BPKPberkomitmen memberikan yang
terbaik bagi para peserta diklat. Kurikulum dan bahan ajardirancang dengan memperhatikan praktik di
kementerian/lembaga dan pemerintah daerah,sehingga materi diklat dalam proses pembelajaran adalah
cerminan penerapan ilmupengetahuan di lapangan. Dengan demikian, peserta diklat diharapkan mampu
menerapkanhasil pendidikan dan pelatihan pada instansinya.

Modul pelatihan ini adalah salah satu bahan ajar tertulis, selain menjadi acuan pada prosespembelajaran juga
diharapkan dapat menjadi acuan pada tempat kerja para peserta [Link] modul bukan satu‐satunya
referensi yang berkenaan dengan substansi materi, bahanajar lain yang disampaikan oleh instruktur
merupakan pengayaan materi diklat. Peserta diklatjuga diharapkan tetap memperkaya dengan referensi
lainnya.

Meskipun modul ini telah disusun dengan proses evaluasi dan reviu, kami menyadari perbaikanterus menerus
masih perlu dilakukan. Untuk itu, kami mengharapkan saran perbaikan untukmenjadikan modul ini lebih
bermanfaat.

Akhir kata, kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi atasterbitnya modul
ini.

Ciawi, 31 Desember 2017


Kepala Pusdiklat Pengawasan BPKP

Djoko Prihardono

Reviu RKA Pemda i


ii 2017 |Pusdiklatwas BPKP
Daftar Isi

Kata Pengantar ............................................................................................................................. i


Daftar Isi ..................................................................................................................................... iii
TINJAUAN DIKLAT ........................................................................................................................ 1
A. Latar Belakang .............................................................................................................. 1
B. Kompetensi Dasar ......................................................................................................... 2
C. Indikator Keberhasilan .................................................................................................. 2
D. Sistematika Modul ........................................................................................................ 3
E. Metode Pembelajaran .................................................................................................. 4
F. Petunjuk Penggunaan Modul ....................................................................................... 5
Bab I PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN PENGANGGARAN PEMERINTAH DAERAH ............ 7
A. Gambaran Umum Perencanaan Pembangunan dan Penganggaran Pemerintah
Daerah........................................................................................................................... 7
B. Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) ............................................ 25
C. Penyusunan Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD) ............... 31
D. Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas dan Palfon Anggaran
Sementara (PPAS) ....................................................................................................... 35
E. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) SKPD dan RKA PPKD ...................... 47
Bab II PENGANTAR REVIU ATAS RENCANA KERJA DAN ANGGARAN PEMERINTAH DAERAH .... 59
1. Konsep, Pengertian, dan Dasar Hukum Reviu atas RKA Pemerintah Daerah ............ 60
2. Tujuan dan Ruang Lingkup Reviu atas RKA Pemda .................................................... 62
3. Standar, Metodologi, dan Tahapan Reviu atas RKA Pemda ....................................... 65
Daftar Pustaka ........................................................................................................................... 73

Reviu RKA Pemda iii


iv 2017 |Pusdiklatwas BPKP
TINJAUAN DIKLAT

A. LATAR BELAKANG

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Undang-Undang Nomor 25
Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mengamanatkan
penyusunan APBD sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan
pendapatan daerah dengan berpedoman kepada rencana kerja Pemerintah Daerah (RKPD) dalam
rangka mewujudkan tujuan bernegara.

RKPD menerjemahkan perencanaan strategis jangka menengah (RPJMD dan Renstra-SKPD) ke dalam
rencana program dan kegiatan serta penganggaran tahunan. RKPD menjembatani sinkronisasi dan
harmonisasi rencana tahunan dengan rencana strategis serta mengoperasionalkan rencana strategis
ke dalam langkah-langkah tahunan yang lebih konkrit dan terukur untuk memastikan tercapainya
rencana pembangunan jangka menengah. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah antara lain menegaskan bahwa RPJMD dan RKPD digunakan sebagai
instrumen evaluasi penyelenggaraan Pemerintahan Daerah serta RKPD menjadi pedoman kepala
daerah dalam menyusun KUA serta PPAS sebagai landasan penyusunan R-APBD. Selanjutnya Kepala
daerah berdasarkan nota kesepakatan dengan DPRD menerbitkan pedoman penyusunan RKA-SKPD
sebagai pedoman Kepala SKPD menyusun RKA-SKPD. Kepala SKPD menyusun RKA-SKPD,
menggunakan pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah, penganggaran
terpadu, dan penganggaran berdasarkan prestasi kerja.

Hasil monitoring Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kementerian Dalam Negeri Tahun
2013 menunjukan bahwa dokumen perencanaan pembangunan daerah belum sepenuhnya menjadi
landasan dalam penganggaran. Selain itu, masih terdapat RKA-SKPD yang belum konsisten dengan
kaidah-kaidah perencanaan serta belum disusun dengan baik dan tepat sesuai dengan kaidah-kaidah
penganggaran, sehingga penuangan informasi dalam dokumen RKA-SKPD kerapkali tidak terukur
dan melenceng dari tujuan yang direncanakan. Adanya penganggaran belanja yang belum optimal
menyebabkan penyerapan APBD yang tidak maksimal, penumpukan realisasi anggaran pada akhir
tahun, serta kualitas belanja APBD tidak optimal dalam mendukung sasaran pembangunan nasional
dan daerah.

Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atau Reviu oleh Inspektorat atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah masih menemukan adanya kesalahan penganggaran, berupa salah klasifikasi

Reviu RKA Pemda 1


belanja ataupun penempatan anggaran belanja. Kesalahan penganggaran yang material tentu akan
mempengaruhi pemberian opini oleh BPK.

Peran APIP telah mengalami pergeseran paradigma dari watch dog (sekedar mencari-cari kesalahan)
bergeser menjadi lebih fokus pada unsur pembinaan yang bersifat preventive (pencegahan),
consultative, dan quality assurance program-program strategis yang mempunyai risiko tinggi
terhadap penyimpangan, early warning systems, pendampingan, dan pembinaan. Peran APIP
provinsi/kabupaten/kota dalam proses perencanaan penganggaran adalah mendorong SKPD agar
meningkatkan kualitas penyusunan dokumen perencanaan penganggaran untuk menjamin
konsistensi dan keterpaduan antara perencanaan dan penganggaran agar menghasilkan APBD yang
berkualitas, serta efektif dan efisiensi dalam pencapaian prioritas dan sasaran pembangunan
nasional dan daerah. Peningkatkan kualitas APBD serta penjaminan konsistensi dan keterpaduan
perencanaan penganggaran dilakukan APIP melalui pelaksanaan reviu dokumen rencana
pembangunan tahunan yaitu RKPD (dokumen pelaksanaan atau penjabaran dari RPJMD) dan Renja-
SKPD serta reviu dokumen anggaran tahunan daerah yaitu KUA, PPAS dan RKA-SKPD. Pelaksanaan
reviu harus mampu menjamin proses perencanaan penganggaran patuh terhadap kaidah-kaidah
perencanaan dan penganggaran.

Modul ini disusun untuk membekali para auditor APIP daerah dengan pengetahuan tentang konsep,
paradigma dan peran, standar dan etika, serta praktik dasar, dan tata cara pelaksanaan Reviu atas
Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Pemerintah Daerah. Pengetahuan tentang tata cara reviu
tersebut meliputi tahapan persiapan reviu, pelaksanaan reviu, pelaporan reviu, serta pemantauan
tindak lanjut hasil reviu. Hal-hal penting yang perlu diketahui APIP mengenai Reviu atas Rencana
Kerja dan Anggaran (RKA) Pemerintah Daerah (Pemda) berusaha dicakup dalam modul ini, namun
demikian pengetahuan dari sumber dan literatur lain masih tetap diperlukan.

B. KOMPETENSI DASAR

Setelah mengikuti diklat Reviu atas RKA Pemda ini, peserta diklat mampu melaksanakan proses dan
tahapan Reviu atas RKA Pemda sesuai dengan standar, pedoman, dan ketentuan yang berlaku.

C. INDIKATOR KEBERHASILAN

Setelah mengikuti pembelajaran Reviu atas RKA Pemda ini, peserta diklat diharapkan:

1. Mampu mendeskripsikan/menjelaskan Proses dan Substansi Pokok Perencanaan


Pembangunan dan Penganggaran Tahunan Pemerintah Daerah.

2 2017 |Pusdiklatwas BPKP


2. Mampu mendeskripsikan/menjelaskan konsep, pengertian, dasar hukum, tujuan dan ruang
lingkup, serta standar, metodologi, dan tahapan Reviu atas RKA Pemda.

3. Mampu melaksanakan persiapan dan perencanaan Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran
Pemerintah Daerah.

4. Mampu melakukan tahap pelaksanaan Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran Pemerintah
Daerah, yang meliputi: Reviu atas Rancangan Akhir RKPD dan Perubahan RKPD, Reviu atas
Rancangan Akhir Renja-SKPD dan Perubahan Renja-SKPD, Reviu atas Rancangan KUA dan
PPAS, serta KUPA dan PPAS Perubahan, serta Reviu atas RKA-SKPD dan RKA-SKPD Perubahan..

5. Mampu melakukan tahap pelaporan, pemantauan, dan tidak lanjut hasil Reviu atas Rencana
Kerja dan Anggaran Pemerintah Daerah.

D. SISTEMATIKA MODUL

Modul ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:

Tinjauan Diklat

Bagian ini menguraikan latar belakang penyusunan modul, kompetensi dasar dan
indikator keberhasilan yang diharapkan dipenuhi setelah pelaksanaan diklat, sistematika
modul, dan metode pembelajaran yang digunakan, serta petunjuk penggunaan modul.

Bab I Perencanaan Pembangunan dan Penganggaran Pemerintah Daerah

Bab ini menguraikan gambaran umum Perencanaan Pembangunan dan Penanggaran


Pemerintah Daerah, penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Rencana
Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD), Kebijakan Umum APBD (KUA) dan
Prioritas dan Palfon Anggaran Sementara (PPAS), serta penyusunan Rencana Kerja dan
Anggaran (RKA) SKPD dan RKA PPKD

Bab II Pengantar Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran Pemerintah Daerah

Bab ini menguraikan konsep, pengertian dan dasar hukum, tujuan dan ruang lingkup,
serta standar, metodologi, dan tahapan Reviu atas RKA Pemda

Bab III Perencanaan Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran Pemerintah Daerah

Reviu RKA Pemda 3


Bab ini menguraikan tahapan perencanaan Reviu atas RKA Pemda yang meliputi:
Persiapan, Koordinasi Penyelarasan Reviu dengan Jadwal Perencanaan dan
Penganggaran Tahunan Daerah, Pembentukan Tim Reviu, Penyiapan Instrumen Reviu,
Penelaahan Informasi Umum Mengenai Obyek Reviu, dan Penyusunan Program Kerja
Reviu (PKR) .

Bab IV Pelaksanaan Reviu atas Rencana Kerja dan Anggaran Pemerintah Daerah

Bab ini menguraikan tahapan pelaksanaan reviu, terutama prosedur dan teknik reviu
atas Rancangan Akhir RKPD dan Perubahan RKPD, Rancangan Akhir Renja-SKPD dan
Perubahan Renja-SKPD, Rancangan KUA dan PPAS, serta KUPA dan PPAS Perubahan,
serta RKA-SKPD dan RKA-SKPD Perubahan

Bab V Pelaporan, Pemantauan, dan Tindak Lanjut Hasil Reviu atas Rencana Kerja dan
Anggaran Pemerintah Daerah

Bab ini menguraikan tahapan Pelaporan Hasil Reviu atas RKA Pemda, serta Pemantauan
dan Tindak Lanjut Hasil Reviu atas RKA Pemda.

E. METODE PEMBELAJARAN

Metode pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran/kompetensi dasar,


mengombinasikan metode pedagogi dan andragogi:

1. Presentasi

Widyaiswara/instruktur memaparkan dan menjelaskan proses perencanaan pembangunan


dan penganggaran (rencana kerja dan anggaran) Pemerintah Daerah, Pengantar Reviu, serta
proses dan tahapan Reviu atas RKA Pemda.

2. Diskusi dan Tanya Jawab

Widyaiswara/instruktur dan peserta melakukan diskusi dan tanya jawab untuk mendalami
permasalahan/kondisi yang terkait dengan proses perencanaan pembangunan dan
penganggaran (rencana kerja dan anggaran) Pemerintah Daerah, Pengantar Reviu, serta
proses dan tahapan Reviu atas RKA Pemda.

4 2017 |Pusdiklatwas BPKP


3. Latihan

Peserta berlatih menyelesaikan soal-soal dan kasus yang terkait dengan proses perencanaan
pembangunan dan penganggaran (rencana kerja dan anggaran) Pemerintah Daerah,
Pengantar Reviu, serta proses dan tahapan Reviu atas RKA Pemda.

F. PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

Modul ini merupakan bahan ajar utama pada Diklat Reviu atas RKA Pemda. Agar proses
pembelajaran berlangsung dengan baik, sebaiknya penggunaan modul dilakukan sebagai berikut:

1. Materi pada modul sebaiknya dipelajari lebih dahulu oleh peserta diklat sebelum pelaksanaan
pembelajaran di kelas.

2. Modul ini dilengkapi dengan Buku Kerja sebagai bahan ajar untuk evaluasi atas pemahaman
peserta diklat dan sarana untuk penerapan pengetahuan yang diperoleh dengan mengerjakan
latihan dan kasus. Penggunaan buku kerja sangat diperlukan agar peserta diklat dapat
memeroleh learning experience, dengan latihan dan kasus.

3. Untuk meningkatkan pemahaman peserta diklat, proses pembelajaran terhadap modul ini
perlu diperkaya dengan literatur dan referensi lainnya, sebagai sumber bahan ajar tambahan.
~

Reviu RKA Pemda 5


6 2017 |Pusdiklatwas BPKP
Bab I
PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN
PENGANGGARAN PEMERINTAH DAERAH
Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari bab ini, peserta diklat diharapkan mampu mendeskripsikan/menjelaskan Proses
dan Substansi Pokok Perencanaan Pembangunan dan Penganggaran Tahunan Pemerintah Daerah.

Pemerintah Daerah melaksanakan pembangunan untuk peningkatan dan pemerataan pendapatan


masyarakat, kesempatan kerja, lapangan berusaha, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan
publik dan daya saing Daerah. Pembangunan Daerah merupakan perwujudan dari pelaksanaan
Urusan Pemerintahan yang telah diserahkan ke Daerah sebagai bagian integral dari pembangunan
nasional.

Pelaksanaan pembangunan daerah didahului dengan proses perencanaan pembangunan daerah.


Penyelenggaraan tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana
pembangunan daerah dimaksudkan, antara lain, untuk:

• Meningkatkan konsistensi antarkebijakan yang dilakukan berbagai organisasi publik dan


antara kebijakan makro dan mikro maupun antara kebijakan dan pelaksanaan.

• Meningkatkan transparansi dan partisipasi dalam proses perumusan kebijakan dan


perencanaan program.

• Menyelaraskan perencanaan program dan penganggaran.

• Meningkatkan akuntabilitas pemanfaatan sumber daya dan keuangan publik.

• Terwujudnya penilaian kinerja kebijakan yang terukur, perencanaan, dan pelaksanaan sesuai
RPJMD, sehingga tercapai efektivitas perencanaan.

A. GAMBARAN UMUM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAN PENGANGGARAN


PEMERINTAH DAERAH

Pada bagian ini akan diuraikan gambaran umum perencanaan pembangunan daerah, yang meliputi
konsep dan pengertiannya, prinsip dan perumusan, pendekatan, serta tahapan perencanaan
pembangunan daerah.

Reviu RKA Pemda 7


1. Perencanaan Pembangunan Daerah

Konsep dan Pengertian Perencanaan Pembangunan Daerah

Perencanaan merupakan tahapan penting dalam suatu kegiatan, organisasi, begitu juga dalam
pembangunan daerah. Perencanaan yang baik dan memadai, secara terstruktur dan disiplin,
akan membantu pelaksanaan kegiatan (pembangunan daerah) secara efektif dan efisien.
Terdapat ungkapan yang terkait dengan perencanaan, yaitu: “kegagalan dalam perencanaan
berarti merencanakan untuk gagal (if you fail to plan, you plan to fail).” Juga terdapat istilah
dalam perencanaan yang disebut dengan “The six P’s,” yaitu: “Proper Prior Planning Prevents
Poor Performance.”

UU Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional menyebutkan bahwa Perencanaan adalah


suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan,
dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Berdasarkan pengertian tersebut dan
literatur lain, karakteristik perencanaan adalah:

• Untuk mencapai tujuan masa datang secara efektif,

• Mengintegrasikan aktivitas organisasi, dan

• Mengoptimalkan penggunaan sumber daya

Secara singkat, perencanaan merupakan upaya untuk menjembatani adanya kesenjangan


(gap) antara kondisi yang ada (pada saat ini) dengan kondisi yang diharapkan (tujuan).

Sedangkan pengertian pembangunan daerah adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki
untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan,
kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya
saing, maupun peningkatan indeks pembangunan manusia.1 Pembangunan Daerah
merupakan perwujudan dari pelaksanaan Urusan Pemerintahan yang telah diserahkan ke
Daerah sebagai bagian integral dari pembangunan nasional.

Perencanaan Pembangunan Daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan


kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya, guna

1
PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan Daerah, Pasal 1, Angka 2.

8 2017 |Pusdiklatwas BPKP


pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan
kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu. 2

Berdasarkan pengertian di atas, perencanaan pembangunan daerah meliputi :

• proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan guna pemanfaatan dan pengalokasian


sumber daya yang ada,

• melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan,

• dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan


wilayah/daerah, dan

• dalam jangka waktu tertentu.

Perencanaan pembangunan daerah terdiri atas: Rencana Pembangunan Jangka Panjang


Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah RPJMD, Rencana Startegis
(Renstra) SKPD, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), dan Rencana Kerja (Renja) SKPD.
Perencanaan pembangunan daerah tersebut, sesuai dengan jangka waktu dan cakupannya,
dapat digambarkan pada Peraga berikut.
Peraga 1 Rencana Pembangunan Daerah
Daerah
Perangkat Daerah
Jangka Waktu (Pemerintahan Keterangan
(SKPD)
Daerah)
Panjang RPJPD - 20 Tahun
Menengah RPJMD Renstra SKPD 5 Tahun
Tahunan RKPD Renja SKPD 1 Tahun
Sumber:

Prinsip dan Perumusan Perencanaan Pembangunan Daerah

Perencanaan pembangunan daerah dilaksanakan dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan


dan dirumuskan dengan baik. Prinsip-prinsip perencanaan pembangunan daerah meliputi:

a. merupakan satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan nasional,

b. dilakukan pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan berdasarkan peran


dan kewenangan masing-masing,

2
PP Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan Daerah, Pasal 1, Angka 3.

Reviu RKA Pemda 9


c. mengintegrasikan rencana tata ruang dengan rencana pembangunan daerah, dan

d. dilaksanakan berdasarkan kondisi dan potensi yang dimiliki masing-masing daerah,


sesuai dinamika perkembangan daerah dan nasional.

Perencanaan pembangunan daerah dirumuskan secara transparan, responsif, efisien, efektif,


akuntabel, partisipatif, terukur, berkeadilan dan berkelanjutan.

Pendekatan Perencanaan Pembangunan Daerah

Secara umum, perencanaan pembangunan daerah dilakukan dengan menggunakan


pendekatan-pendekatan, yaitu: pendekatan teknokratis, partisipatif, politis, serta pendekatan
top-down dan bottom-up.

a. Pendekatan Teknokratis

Perencanaan pembangunan daerah menggunakan metoda dan kerangka berpikir ilmiah


untuk mencapai tujuan dan sasaran pembangunan daerah. Metoda dan kerangka
berpikir ilmiah merupakan proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara
sistematis terkait perencanaan pembangunan berdasarkan bukti fisis, data dan informasi
yang akurat, serta dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam proses perencanaan pembangunan daerah, metode dan kerangka tersebut


digunakan, antara lain, untuk:

• mereview menyeluruh kinerja pembangunan daerah periode yang lalu,

• merumuskan capaian kinerja penyelenggaraan urusan wajib dan pilihan


pemerintahan daerah masa kini,

• merumuskan peluang dan tantangan yang mempengaruhi capaian sasaran


pembangunan daerah,

• merumuskan tujuan, strategi, dan kebijakan pembangunan daerah,

• memproyeksikan kemampuan keuangan daerah dan sumber daya lainnya


berdasarkan perkembangan kondisi makro ekonomi,

• merumuskan prioritas program dan kegiatan SKPD berbasis kinerja,

• menetapkan tolok ukur dan target kinerja keluaran dan hasil capaian, lokasi serta
kelompok sasaran program/kegiatan, sesuai dengan SPM,

10 2017 |Pusdiklatwas BPKP


• memproyeksikan pagu indikatif program dan kegiatan pada tahun yang
direncanakan, serta prakiraan maju untuk satu tahun berikutnya, dan

• menetapkan SKPD penanggungjawab pelaksana, pengendali, dan evaluasi rencana


pembangunan daerah.

Berita Perencanaan
Home News Megapolitan
Pemprov DKI Mulai Susun Rancangan Teknokratis RPJMD 2018-2022
JESSI CARINA
[Link] - 05/05/2017, 16:14 WIB

JAKARTA, [Link] - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)


DKI Jakarta Tuty Kusumawati mengatakan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah ( RPJMD) 2018-2022 sudah mulai disusun. Namun, hal yang disusun hanyalah
rancangan teknokratis saja.

"Kami Bappeda memang diberi tugas oleh kosntitusi untuk menyiapkan secara
teknokratis, kan ada aspek-aspek yang bisa dihitung siapapun gubernurnya," kata Tuty
di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jumat (5/5/2017).
Hal-hal teknokratis yang sudah bisa disusun misalnya seperti laju pertumbuhan
penduduk dan ekonomi selama 5 tahun ke depan. Siapapun yang menjadi kepala
daerah, hal itu sudah bisa dihitung sejak saat ini dan dimasukan dalam rancangan
RPJMD.

"Kami ada juga di atas RPJMD itu ada RPJP (Rencana Pembangunan Jangka Panjang), itu
juga kami perhatikan. Ada aspek teknokratis yang memang dijaga kesinambungannya,"
kata Tuty. Namun akan ada proses sinkronisasi RPJMD dengan visi dan misi gubernur
serta wakil gubernur terpilih. Tuty mengatakan rancangan teknokratis itu akan
diintegrasikan dengan aspek politis kepala daerah nanti.

"Jadi seluruh visi misi gubernur dan wagub terpilih akan mewarnai keseluruhan RPJMD,"
ujar Tuty. Tuty belum bisa memastikan kapan proses sinkronisasi akan dimulai. Namun
penetapan RPJMD 2018-2022 akan dilakukan oleh gubernur dan wakil gubernur terpilih.
"Paling lambat 6 bulan setelah gubernur baru dilantik, sudah harus ditetapkan," kata
Tuty.

Penulis: Jessi Carina


Editor: Egidius Patnistik

[Link]
.[Link].2018-2022 (diakses 11 September 2017 Pukul 14.56)

Reviu RKA Pemda 11


b. Pendekatan Partisipatif

Perencanaan pembangunan daerah dilaksanakan, pada setiap tahapan penyusunannya,


dengan melibatkan semua pemangku kepentingan (stakeholders) dalam proses
pengambilan keputusan, dengan mempertimbangkan:

• relevansi pemangku kepentingan yang dilibatkan,

• kesetaraan pemangku kepentingan dari unsur non dan pemerintahan,

• adanya transparasi dan akuntabilitas serta melibatkan media massa,

• keterwakilan seluruh segmen masyarakat, termasuk kelompok masyarakat rentan


termarjinalkan dan pengarusutamaan gender;

• terciptanya rasa memiliki terhadap dokumen perencanaan, dan

• terciptanya konsensus atau kesepakatan, seperti perumusan prioritas isu dan


permasalahan, perumusan tujuan, strategi, kebijakan dan prioritas program.

Pemangku kepentingan adalah pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan
manfaat atau dampak dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah, antara
lain: unsur DPRD Prov/Kab/Kota, TNI, POLRI, Kejaksaan, akademisi, LSM/Ormas, tokoh
masyarakat, pengusaha/investor, pemerintah pusat, pemerintah prov/kab/kota,
pemerintahan desa, dan kelurahan serta keterwakilan perempuan dan kelompok
masyarakat rentan termajinalkan.

c. Pendekatan Politis

Perencanaan pembangunan daerah (dalam rancangan RPJMD) memasukkan program-


program pembangunan yang ditawarkan masing-masing calon kepala daerah dan wakil
kepala daerah terpilih pada saat kampanye, melalui:

• penerjemahan yang tepat dan sistematis atas visi, misi, dan program kepala daerah
dan wakil kepala daerah ke dalam tujuan, strategi, kebijakan, dan program
pembangunan daerah selama masa jabatan,

• konsultasi pertimbangan dari landasan hukum, teknis penyusunan, sinkronisasi


dan sinergi pencapaian sasaran pembangunan nasional dan daerah, dan

• pembahasan dengan DPRD dan konsultasi dengan pemerintah untuk penetapan


produk hukum yang mengikat semua pemangku kepentingan

12 2017 |Pusdiklatwas BPKP


d. Pendekatan Top-Down dan Bottom-Up

Perencanaan pembangunan daerah diselaraskan melalui musyawarah yang dilaksanakan


mulai dari desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, dan nasional, sehingga tercipta
sinkronisasi dan sinergi pencapaian sasaran rencana pembangunan nasional dan rencana
pembangunan daerah.

Program, kegiatan, alokasi dana indikatif dan sumber pendanaan yang dirumuskan dalam
dokumen rencana pembangunan daerah (RPJMD, RKPD, Renstra SKPD dan Renja SKPD)
disusun berdasarkan:

a. Pendekatan kinerja, kerangka pengeluaran jangka menengah serta perencanaan dan


penganggaran terpadu

• Pendekatan Kinerja (Performance-based)

Program dan kegiatan yang direncanakan mengutamakan keluaran/hasil yang


terukur, dan pengalokasian sumberdaya dalam anggaran untuk melaksanakannya,
secara efektif dan efisien telah sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

• Kerangka pengeluaran jangka menengah (medium term expenditure framework)

Perencanaan program dan kegiatan prioritas pembangunan, mempertimbangkan


perspektif penganggaran lebih dari satu tahun anggaran dan implikasi terhadap
pendanaan pada tahun berikutnya yang dituangkan dalam prakiraan maju.

• Perencanaan dan penganggaran terpadu (unified planning and budgeting)

Penetapan program dan kegiatan yang direncanakan, merupakan satu kesatuan


proses perencanaan dan penganggaran yang terintegrasi, konsisten dan
mengikat,untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran program dan kegiatan
pembangunan daerah.

b. Kerangka pendanaan dan pagu indikatif

Kerangka pendanaan merupakan bagian dari kerangka fiskal yang berhubungan dengan
kemampuan untuk membiayai belanja pemerintah. Kerangka pendanaan digunakan
untuk penyusunan dokumen rencana pembangunan jangka menengah (RPJMD dan
Renstra SKPD).

Reviu RKA Pemda 13


Pagu indikatif merupakan jumlah dana yang tersedia untuk mendanai program dan
kegiatan tahunan yang penghitungannya berdasarkan standar satuan harga yang
ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pagu indikatif
digunakan untuk penyusunan dokumen rencana pembangunan tahunan (RKPD dan
Renja SKPD).

c. Standar Pelayanan Minimal (SPM)

Perumusan capaian kinerja setiap program dan kegiatan, harus berpedoman pada
rencana pencapaian SPM berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
disesuaikan dengan kemampuan daerah. SPM adalah ketentuan tentang jenis dan mutu
pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah yang berhak diperoleh setiap
warga secara minimal.

Data dan Informasi Perencanaan Pembangunan Daerah

Penyusunan rencana pembangunan daerah menggunakan data dan informasi perencanaan


pembangunan daerah, serta rencana tata ruang. Data dan informasi tersebut, meliputi:

• penyelenggaraan pemerintahan daerah

• organisasi dan tatalaksana pemerintahan daerah

• kepala daerah, DPRD, perangkat daerah, dan pegawai negeri sipil daerah

• keuangan daerah

• potensi sumber daya daerah

• produk hukum daerah

• kependudukan

• informasi dasar kewilayahan, dan

• informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah.

Data dan informasi di atas, selanjutnya dikompilasi secara terstruktur berdasarkan aspek
geografis, aspek kesejahteraan masyarakat, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing
daerah untuk memudahkan pengolahan serta analisis secara sistematis,dalam rangka
penyusunan rencana pembangunan daerah. Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah,
Kementerian Dalam Negeri secara periodik melakukan penyempurnaan data dan informasi

14 2017 |Pusdiklatwas BPKP


perencanaan pembangunan daerah, sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan
penyelenggaraan pemerintahan daerah.

2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD)

RPJPD merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 20 (dua puluh)
tahun. RPJPD memuat visi, misi dan arah pembangunan daerah. RPJPD disusun oleh Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) atau sebutan lain sebagai unsur perencana
penyelenggaraan pemerintahan daerah yang melaksanakan tugas dan mengkoordinasikan
penyusunan, pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah.

Tahapan penyusunan RPJPD meliputi: persiapan, rancangan awal, pelaksanaan musrenbang,


perumusan rancangan akhir, dan penetapan.

a. Persiapan Penyusunan RPJPD

Persiapan penyusunan meliputi: penyusunan rancangan keputusan kepala daerah


tentang pembentukan tim penyusun, orientasi mengenai RPJPD, penyusunan agenda
kerja tim penyusun, serta penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan
daerah.

Reviu RKA Pemda 15


b. Penyusunan Rancangan Awal RPJPD

Penyusunan rancangan awal RPJPD dilakukan dengan mengacu pada RPJPN,


berpedoman pada RTRW, dan memperhatikan RPJPD dan RTRW daerah lainnya.
Penyusunannya dilakukan melalui penyelarasan antara visi, misi, arah dan kebijakan
pembangunan jangka panjang daerah dengan:

• visi, misi, arah, tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang nasional,

• arah dan kebijakan RTRW,

• pemanfaatan struktur serta pola ruang daerah lain disekitarnya.

Penyusunan rancangan awal merupakan kegiatan perumusan dan penyajian rancangan


awal RPJPD. Perumusan rancangan mencakup: pengolahan data dan informasi,
penelaahan RTRW, analisis gambaran umum kondisi daerah, perumusan permasalahan
pembangunan daerah, penelaahan RPJPN dan RPJPD, analisis isu-isu strategis
pembangunan jangka panjang, perumusan visi dan misi daerah, perumusan arah
kebijakan, pelaksanaan forum konsultasi publik, serta penyelarasan visi, misi,dan arah
kebijakan RPJPD.

Rancangan awal RPJPD dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD
dan dikonsultasikan dengan publik, untuk memperoleh masukan penyempurnaan
rancangan awal. Selanjutnya, rancangan awal RPJPD yang telah disempurnakan diajukan
kepada kepala daerah dalam rangka memperoleh persetujuan untuk dibahas dalam
musrenbang RPJPD.

c. Pelaksanaan Musrenbang RPJPD

Musrenbang adalah forum antarpemangku kepentingan dalam rangka menyusun


rencana pembangunan daerah. Musrenbang RPJPD dilaksanakan untuk penajaman,
penyelarasan, klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan awal RPJPD, mencakup:

• penajaman visi dan misi daerah

• penyelarasan sasaran pokok dan arah kebijakan pembangunan jangka panjang


daerah untuk mencapai visi dan misi daerah

• penajaman sasaran pokok pembangunan jangka panjang daerah,

• klarifikasi dan penajaman tahapan dan prioritas pembangunan jangka panjang


daerah, dan

16 2017 |Pusdiklatwas BPKP


• membangun komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk
mempedomani RPJPD melaksanakan pembangunan daerah.

Hasil musrenbang RPJPD dirumuskan dalam berita acara kesepakatan dan


ditandatangani oleh wakil setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri
musrenbang.

d. Perumusan Rancangan Akhir RPJPD

Rancangan akhir dirumuskan paling lama satu tahun sebelum RPJPD yang berlaku
berakhir. Hasil musrenbang menjadi bahan masukan untuk merumuskan rancangan
akhir RPJPD.

Bupati/Walikota mengkonsultasikan rancangan akhir RPJPD kabupaten/kota kepada


Gubernur. Gubernur mengkonsultasikan rancangan akhir RPJPD provinsi kepada Menteri
Dalam Negeri. Konsultasi mencakup pokok-pokok substansi materi dan disertai dengan
lampiran: rancangan akhir RPJPD, berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJPD, dan
hasil pengendalian dan evaluasi kebijakan perencanaan pembangunan jangka panjang
daerah.

Konsultasi dilakukan untuk memperoleh saran pertimbangan meliputi landasan hukum


penyusunan, sistematika dan teknis penyusunan, konsistensi menindaklanjuti hasil
musrenbang RPJPD, sinkronisasi dan sinergi, dengan RPJPN, RPJPD, RTRW serta RPJPD
dan RTRW Derah lainnya.

e. Penetapan RPJPD

Kepala daerah menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJPD kepada DPRD
untuk memperoleh persetujuan bersama, paling lama 6 (enam) bulan sebelum
berakhirnya RPJPD yang berlaku. Penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang
RPJPD, dengan lampiran rancangan akhir RPJPD yang telah dikonsultasikan dengan
Menteri Dalam Negeri/Gubernur, beserta berita acara kesepakatan hasil musrenbang
RPJPD dan hasil konsultasi rancangan akhir RPJPD.

Mekanisme pembahasan dan penetapan rancangan Perda RPJPD sesuai dengan


ketentuan yang berlaku. Perda RPJPD ditetapkan paling lama 6 (enam) bulan setelah
penetapan RPJPN, kecuali ditetapkan lain dengan peraturan perundang-undangan.

Perda RPJPD segera disampaikan kepada Mendagri atau Gubernur, untuk dilakukan
klarifikasi berkaitan dengan tindak lanjut atas saran penyempurnaan hasil konsultasi.
Perda RPJPD yang tidak menindaklanjuti hasil konsultasi atau bahkan tidak

Reviu RKA Pemda 17


dikonsultansikan, dapat dibatalkan (oleh Presiden atas usulan Mendagri atau oleh
Mendagri atas usulan Gubernur). Perda RPJPD merupakan pedoman penyusunan visi,
misi dan program calon kepala daerah dan wakil kepala daerah.

RPJPD disusun dan disajikan dengan sistematika sebagai berikut: (a) Pendahuluan, (b)
Gambaran Umum Kondisi Daerah, (c) Analisis Isu-isu Strategis, (d) Visi dan Misi Daerah, (e)
Arah Kebijakan, dan (f) Kaidah Pelaksanaan.

3. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)

RPJMD adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 5 (lima) tahun.
RPJMD memuat: visi, misi, dan program kepala daerah, arah kebijakan keuangan daerah,
strategi pembangunan daerah, kebijakan umum, program SKPD, program lintas SKPD, program
kewilayahan, rencana kerja dalam kerangka regulasi yang bersifat indikatif, dan rencana kerja
dalam kerangka pendanaan yang bersifat indikatif. Seperti RPJPD, RPJMD disusun oleh
Bappeda, dengan tahapan: persiapan, rancangan awal, penyusunan rancangan, pelaksanaan
musrenbang, perumusan rancangan akhir, dan penetapan.

a. Persiapan Penyusunan RPJMD

Persiapan penyusunan RPJMD meliputi: penyusunan rancangan keputusan kepala


daerah tentang pembentukan tim penyusun, orientasi mengenai RPJMD, penyusunan
agenda kerja tim penyusun RPJMD, dan penyiapan data dan informasi perencanaan
pembangunan daerah.

b. Penyusunan Rancangan Awal RPJMD

Penyusunan rancangan awal RPJMD dilakukan dengan:

• Memuat visi, misi dan program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah terpilih.

• Berpedoman pada RPJPD dan RTRW

• Penyelarasan visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, strategi dan program


pembangunan jangka menengah daerah dengan visi, misi, arah dan kebijakan
pembangunan jangka panjang daerah, serta struktur dan pola pemanfaatan ruang
daerah.

• Memperhatikan RPJMN, RPJMD dan RTRW daerah lainnya.

18 2017 |Pusdiklatwas BPKP


Penyusunan rancangan awal merupakan kegiatan perumusan dan penyajian rancangan
awal RPJMD. Perumusan rancangan mencakup: pengolahan data dan informasi,
penelaahan RTRW dan RTRW daerah lainnya, analisis gambaran umum kondisi daerah,
analisis pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan, perumusan
permasalahan pembangunan daerah, penelaahan RPJMN dan RPJMD daerah lainnya,
analisis isu-isu strategis pembangunan jangka menengah, penelaahan RPJPD, perumusan
penjelasan visi dan misi, perumusan tujuan dan sasaran, perumusan strategi dan arah
kebijakan, perumusan kebijakan umum dan program pembangunan daerah, perumusan
indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan pendanaan, penetapan
indikator kinerja daerah, pembahasan dengan SKPD, pelaksanaan forum konsultasi
publik, pembahasan dengan DPRD untuk memperoleh masukan dan saran, dan
penyelarasan indikasi rencana program prioritas dan kebutuhan pendanaan.

Rancangan awal RPJPD dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD
dan dikonsultasikan dengan publik, untuk memperoleh masukan penyempurnaan
rancangan awal. Rancangan awal RPJPD yang telah disempurnakan disampaikan kepada
kepala daerah.

Kepala daerah mengajukan kebijakan umum dan program pembangunan jangka


menengah daerah dan indikasi rencana program prioritas yang disertai kebutuhan
pendanaan dalam rancangan awal RPJMD kepada DPRD untuk dibahas dan memperoleh
kesepakatan, paling lama 10 (sepuluh) minggu sejak kepala daerah dan wakil kepala
daerah dilantik. Pembahasan dan kesepakatan paling lama 2 (dua) minggu sejak
diajukan, dan hasilnya dituangkan dalam nota kesepakatan yang ditandatangani oleh
kepala daerah dan ketua DPRD.

c. Penyusunan Rancangan RPJMD

Rancangan awal RPJMD menjadi pedoman SKPD dalam menyusun rancangan renstra
SKPD. Rancangan renstra SKPD menjadi bahan penyusunan rancangan RPJMD. Bappeda
melakukan verifikasi terhadap rancangan renstra SKPD untuk mengintegrasikan dan
menjamin kesesuaian dengan rancangan awal RPJMD, antara lain dalam:

• memecahkan isu-isu strategis sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD;

• menyelaraskan dengan visi, misi, tujuan dan sasaran;

• menyelaraskan dengan strategi dan arah kebijakan

Reviu RKA Pemda 19


• mempedomani kebijakan umum dan program pembangunan daerah; dan

• mempedomani indikasi rencana program prioritas serta kebutuhan pendanan.

Bappeda mengajukan rancangan RPJMD kepada kepala daerah untuk memperoleh


persetujuan dibahas dalam musrenbang RPJMD.

d. Pelaksanaan Musrenbang RPJMD

Musrenbang RPJMD dilaksanakan untuk penajaman, penyelarasan, klarifikasi dan


kesepakatan terhadap rancangan RPJMD, mencakup:

• sasaran pembangunan jangka menengah daerah;

• strategi dan sinkronisasi arah kebijakan pembangunan jangka menengah daerah


dengan pendekatan atas-bawah dan bawah-atas, sesuai dengan kewenangan
penyelenggaraan pemerintahan daerah;

• kebijakan umum dan program pembangunan jangka menengah daerah dengan


visi, misi dan program kepala daerah dan wakil kepala daerah;

• indikasi rencana program prioritas pembangunan jangka menengah daerah yang


disesuaikan dengan kemampuan pendanaan;

• capaian indikator kinerja daerah pada kondisi saat ini dan pada akhir periode
RPJMD

• komitmen bersama antara pemangku kepentingan untuk mempedomani RPJMD


dalam melaksanakan pembangunan daerah; dan

• sinergi dengan RPJMN, dan RPJMD daerah lainnya.

Hasil musrenbang RPJMD dirumuskan dalam berita acara kesepakatan dan


ditandatangani oleh wakil setiap unsur pemangku kepentingan yang menghadiri
musrenbang.

e. Perumusan Rancangan Akhir RPJMD

Perumusan rancangan akhir RPJMD dilakukan berdasarkan berita acara kesepakatan


hasil musrenbang RPJMD. Rancangan akhir RPJMD dibahas oleh seluruh kepala SKPD,
untuk memastikan program pembangunan jangka menengah sesuai dengan tugas dan
fungsi masing-masing SKPD telah tertampung dalam rancangan akhir RPJMD.

20 2017 |Pusdiklatwas BPKP


Pembahasan dilakukan paling lambat pada akhir bulan ke-4 (keempat) setelah kepala
daerah terpilih dilantik.

Bupati/Walikota mengkonsultasikan rancangan akhir RPJMD kabupaten/kota kepada


Gubernur. Sedangkan Gubernur mengkonsultasikan rancangan akhir RPJMD Provinsi
kepada Menteri dalam Negeri. Surat permohonan konsultasi menjelaskan pokok-pokok
substansi materi yang akan dikonsultasikan dan disertai dengan: rancangan akhir RPJMD,
berita acara kesepakatan hasil musrenbang RPJMD, dan hasil pengendalian dan evaluasi
kebijakan perencanaan pembangunan jangka menengah daerah. Konsultasi dilakukan
untuk memperoleh saran pertimbangan berdasarkan landasan hukum penyusunan,
sistematika dan teknis penyusunan, konsistensi menindaklanjuti kesepakatan hasil
musrenbang RPJMD, serta keselarasan dengan RPJPD, RTRW, RPJMN serta RPJMD dan
RTRW daerah lainnya.

f. Penetapan Peraturan Daerah tentang RPJMD

Kepala Daerah menyampaikan rancangan Peraturan Daerah tentang RPJMD kepada


DPRD untuk memperoleh persetujuan bersama paling lama 5 (lima) bulan setelah
dilantik, dengan lampiran rancangan akhir RPJMD yang telah dikonsultasikan, beserta
berita acara kesepakatan hasil musrenbang dan surat hasil konsultasi rancangan akhir
RPJMD. Perda RPJMD ditetapkan paling lambat 6 bulan setelah kepala daerah terpilih
dilantik.

RPJMD disajikan dengan sistematika sebagai berikut: (a) pendahuluan, (b) gambaran umum
kondisi daerah, (c) gambaran pengelolaan keuangan daerah serta kerangka pendanaan, (d)
analisis isu-isu strategis, (e) visi, misi, tujuan dan sasaran, (f) strategi dan arah kebijakan, (g)
kebijakan umum dan program pembangunan daerah, (h) indikasi rencana program prioritas
yang disertai kebutuhan pendanaan, dan (i) penetapan indikator kinerja daerah.

RPJMD merupakan pedoman penetapan Renstra SKPD dan penyusunan RKPD, serta digunakan
sebagai instrumen evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah.

4. Rencana Strategis (Renstra) Perangkat Daerah

Renstra SKPD merupakan dokumen perencanaan SKPD untuk periode 5 (lima) tahun, yang
disusun sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD, sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, serta berpedoman kepada RPJMD dan bersifat indikatif. Renstra SKPD memuat:
visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, serta program dan kegiatan.

Reviu RKA Pemda 21


Renstra SKPD disusun dengan tahapan: persiapan, penyusunan rancangan, penyusunan
rancangan akhir, dan penetapan Renstra SKPD.

a. Persiapan Penyusunan Renstra SKPD

Persiapan meliputi: penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang


pembentukan tim penyusun Renstra SKPD, orientasi, penyusunan agenda kerja, serta
penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah.

b. Penyusunan Rancangan Renstra SKPD

Penyusunan rancangan mencakup perumusan dan penyajian rancangan Renstra SKPD.


Perumusan rancangan Renstra SKPD merupakan proses yang tidak terpisahkan dan
dilakukan bersamaan dengan tahap perumusan rancangan awal RPJMD. Rancangan
Renstra SKPD dibahas dengan seluruh unit kerja dilingkungan SKPD untuk dibahas
bersama dengan pemangku kepentingan sesuai dengan kebutuhan dalam forum SKPD.

Kepala SKPD menyampaikan rancangan Renstra kepada Kepala Bappeda untuk dilakukan
verifikasi dan bahan penyempurnaan rancangan awal RPJMD, sebagamana telah
diuraikan pada bagaian penyusunan RPJMD.

c. Penyusunan Rancangan Akhir Renstra SKPD

Rancangan akhir Renstra SKPD merupakan penyempurnaan dengan berpedoman pada


Perda RPJMD. Penyempurnaan rancangan Renstra SKPD bertujuan untuk mempertajam
visi dan misi serta menyelaraskan tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan
pembangunan daerah sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD yang ditetapkan dalam
RPJMD.

d. Penetapan Renstra SKPD

Rancangan akhir Renstra SKPD disampaikan kepada Kepala Bappeda untuk diverifikasi
akhir. Verifikasi akhir dilakukan untuk menjamin kesesuaian visi, misi, tujuan, strategi,
kebijakan, program, dan kegiatan SKPD dengan RPJMD, dan keterpaduan dengan
rancangan akhir Renstra SKPD lainnya.

Bappeda menghimpun seluruh rancangan akhir Renstra SKPD yang telah diteliti melalui
verifikasi akhir, untuk diajukan kepada kepala daerah guna memperoleh pengesahan,

22 2017 |Pusdiklatwas BPKP


dengan keputusan kepala daerah. Selanjutnya, Kepala SKPD menetapkan Renstra SKPD
menjadi pedoman unit kerja di lingkungan SKPD dalam menyusun rancangan Renja SKPD.

Penyajian rancangan Renstra SKPD dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut:

a. Pendahuluan,

b. Gambaran Pelayanan SKPD,

c. Isu-isu strategis berdasarkan tugas pokok dan fungsi SKPD,

d. Visi, misi, tujuan dan sasaran, strategi dan kebijakan SKPD,

e. Rencana program, kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran dan pendanaan


indikatif, dan

f. Indikator kinerja SKPD yang mengacu pada tujuan dan sasaran RPJMD.

5. Perencanaan Pembangunan Daerah Tahunan

Perencanaan pembangunan daerah tahunan merupakan penjabaran dari perencanaan


pembangunan jangka menengah, yaitu RPJMD untuk tingkat Pemerintah daerah dan Renstra
SKPD untuk lingkup SKPD. Perencanan pembangunan daerah tahunan tersebut dituangkan
dalam dokumen RKPD dan Renja-SKPD.

• Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD)

• Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkata Daerah (Renja-SKPD)

Konsep dan tahapan penyusunan, struktur dan isi, perubahan, serta pengendalian dan evaluasi
dokumen perencanaan pembangunan daerah tahunan (RKPD dan Renja-SKPD) akan diuraikan
pada bagian berikutnya.

Proses Penganggaran Pemerintah Daerah

Proses penganggaran Pemerintah Daerah merupakan kelanjutan dari proses perencanaan


pembangunan daerah. Sesuai dengan pendekatan perencanaan dan penganggaran terpadu
(unified planning and budgeting), maka penetapan program dan kegiatan yang direncanakan,
merupakan satu kesatuan proses perencanaan dan penganggaran yang terintegrasi, konsisten
dan mengikat,untuk menjamin tercapainya tujuan dan sasaran program dan kegiatan

Reviu RKA Pemda 23


pembangunan daerah. Ujung dari proses penganggaran pemerintah daerah adalah penetapan
Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah (APBD).

Gambar Perencanaan dan Penganggaran Pemerintah Daerah

Proses penganggaran pemerintah daerah, secara ringkas, adalah sebagai berikut:

• Penetapan dokumen rencana pembangunan daerah tahunan (RKPD dan Renja-SKPD),

• Penyusunan Kebijakan Uumum APBD (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran
Sementara (PPAS),

• Penyusunan RKA-SKPD dan RKA PPKD serta Penyampaian Raperda APBD

- Penerbitan Surat Edaran Kepala Daerah perihal Pedoman Penyusunan RKA SKPD
dan RKA PPKD

- Penyusunan dan pembahasan RKA-SKPD dan RKA-PPKD serta penyusunan


Rancangan Perda tentang APBD

- Penyampaian Rancangan Perda tentang APBD kepada DPRD

24 2017 |Pusdiklatwas BPKP


• Persetujuan Bersama DPRD dan Kepala Daerah

• Evaluasi dan Penetapan Raperda tentang APBD serta Raperkada tentang Penjabaran
APBD

• Penetapan Peraturan Daerah Tentang APBD

Pembahasan penganggaran pemerintah daerah lebih lanjut yang akan diuraikan dalam bab ini
berkaitan penyusunan KUA dan PPAS, serta penyusunan RKA-SKPD dan RKA-PPKD.

B. PENYUSUNAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD)

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) adalah dokumen
perencanaan pembangunan daerah untuk periode 1 (satu) tahun. Berikut akan diuraikan berkaitan
dengan konsep dan tahapan penyusunan, struktur dan isi, perubahan, serta pengendalian dan
evaluasi RKPD.

1. Konsep dan Tahapan Penyusunan RKPD

RKPD yang merupakan penjabaran dari RPJMD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun, yang
memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan daerah, serta rencana
kerja dan pendanaan. RKPD mempunyai kedudukan, peran dan fungsi yang sangat strategis
dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, yaitu:

a. Secara substansial, memuat arah kebijakan ekonomi dan keuangan daerah, rencana
program, kegiatan, indikator kinerja, pagu indikatif, kelompok sasaran, lokasi kegiatan,
prakiraan maju, dan Perangkat Daerah penanggung jawab yang wajib dilaksanakan
pemerintahan daerah dalam 1 (satu) tahun.

b. Secara normatif, menjadi dasar penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas
dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang akan diusulkan oleh kepala daerah untuk
disepakati bersama dengan DPRD sebagai landasan penyusunan Rancangan Anggaran
Pendapatan dan Belanja Daerah (R-APBD);

c. Secara operasional, memuat arahan untuk peningkatan kinerja pemerintahan dibidang


pelayanan dan pemberdayaan masyarakat serta penyelenggraan pemerintahan daerah
yang menjadi tanggung jawab setiap Perangkat Daerah dalam melaksanakan tugas dan
fungsinya yang ditetapkan dalam Renja PD.

Reviu RKA Pemda 25


d. Secara faktual, menjadi tolok ukur untuk menilai capaian kinerja penyelenggaraan
pemerintahan daerah untuk merealisasikan program dan kegiatan dalam mewujudkan
kesejahteraan masyarakat.

RKPD disusun dengan tahapan sebagai berikut: persiapan, penyusunan rancangan awal,
penyusunan rancangan, pelaksanaan musrenbang, perumusan rancangan akhir, dan
penetapan RKPD.

a. Persiapan Penyusunan RKPD

Persiapan penyusunan, meliputi: penyusunan rancangan keputusan kepala daerah


tentang pembentukan tim penyusun RKPD, orientasi mengenai RKPD, penyusunan
agenda kerja tim, serta penyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan
daerah.

b. Penyusunan Rancangan Awal RKPD

Rancangan awal RKPD disusun dengan berpedoman pada RPJMD, serta mengacu pada
RPJMD Provinsi (untuk Kabupaten/Kota) dan RPJMN. Berpedoman pada RPJMD
dilakukan melalui penyelarasan antara prioritas dan sasaran pembangunan tahunan
daerah dengan program pembangunan daerah pada RPJMD, serta antara rencana
program serta kegiatan prioritas tahunan daerah dengan indikasi rencana program
prioritas pada RPJMD.

Penyusunan rancangan awal RKPD meliputi kegiatan perumusan dan penyajian


rancangan awal RKPD. Perumusan rancangan awal mencakup: pengolahan data dan
informasi, analisis gambaran umum kondisi daerah, analisis ekonomi dan keuangan
daerah, evaluasi kinerja tahun lalu, penelaahan terhadap kebijakan pemerintah,
penelaahan pokok-pokok pikiran DPRD, perumusan permasalahan pembangunan
daerah, perumusan rancangan kerangka ekonomi daerah dan kebijakan keuangan
daerah, perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah beserta pagu indikati,
perumusan program prioritas beserta pagu indikatif, pelaksanaan forum konsultasi
publik, serta penyelarasan rencana program prioritas daerah beserta pagu indikatif.
Penyajian rancangan awal berkaitan dengan struktur dan isi RKPD, akan diuraiakan pada
bagian lain.

Rancangan awal RKPD dikoordinasikan oleh kepala Bappeda kepada para kepala SKPD
dan dikonsultasikan dengan publik, untuk memperoleh masukan penyempurnaan

26 2017 |Pusdiklatwas BPKP


rancangan awal. Selanjutnya, Kepala Bappeda menyiapkan surat edaran kepala daerah
kepada kepala SKPD perihal penyampaian rancangan awal RKPD yang sudah dibahas
dalam forum konsultasi publik, sebagai bahan penyusunan rancangan Renja SKPD dan
agenda penyusunan RKPD serta penyampaian rancangan Renja SKPD.

c. Penyusunan Rancangan RKPD

Rancangan awal RKPD disempurnakan menjadi rancangan RKPD berdasarkan hasil


verifikasi seluruh rancangan Renja SKPD. Verifikasi dilakukan dengan mengintegrasikan
program, kegiatan, indikator kinerja dan dana indikatif pada setiap rancangan Renja
SKPD sesuai dengan rencana program prioritas pada rancangan awal RKPD.

Bappeda mengajukan rancangan RKPD kepada kepala daerah untuk memperoleh


persetujuan untuk dibahas dalam musrenbang RKPD kabupaten/kota.

d. Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD

Pelaksanaan Musrenbang RKPD terdiri dari: musrenbang RKPD provinsi, musrenbang


RKPD kabupaten/kota, dan musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan.

• Musrenbang RKPD Kab/Kota di Kecamatan

Musrenbang RKPD kabupaten/kota di kecamatan dilaksanakan untuk penajaman,


penyelarasan, klarifikasi dan kesepakatan usulan rencana kegiatan pembangunan
desa/kelurahan, yang diintegrasikan dengan prioritas pembangunan daerah di
wilayah kecamatan. Kegiatan ini mencakup:

- Usulan rencana kegiatan pembangunan desa/kelurahan pada berita acara


musrenbang desa/kelurahan yang akan menjadi kegiatan prioritas
pembangunan di wilayah kecamatan.

- Kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan yang belum tercakup


dalam prioritas kegiatan pembangunan desa.

- Pengelompokan kegiatan prioritas pembangunan di wilayah kecamatan


berdasarkan tugas dan fungsi SKPD kabupaten/kota.

Kegiatan prioritas pembangunan daerah di wilayah kecamatan mengacu pada


program dalam rancangan awal RKPD. Hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota di

Reviu RKA Pemda 27


kecamatan, dituangkan dalam berita acara kesepakatan oleh setiap unsur
pemangku kepentingan, dan merupakan bahan masukan dalam penyusunan
rancangan renja SKPD kabupaten/kota.

• Musrenbang RKPD Kab/Kota

Musrenbang RKPD kabupaten/kota dilaksanakan untuk penajaman, penyelarasan,


klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RKPD, yang mencakup:

- Prioritas dan sasaran pembangunan daerah kabupaten/kota dengan arah


kebijakan, prioritas dan sasaran pembangunan daerah provinsi;

- Usulan program dan kegiatan yang telah disampaikan masyarakat kepada


pemerintah daerah kabupaten/kota pada musrenbang RKPD kabupaten/
kota di kecamatan dan/atau sebelum musrenbang RKPD kabupaten/kota
dilaksanakan;

- indikator kinerja program dan kegiatan prioritas daerah kabupaten/kota;

- prioritas pembangunan daerah serta program dan kegiatan prioritas daerah

- sinergi dengan RKP dan RKPD provinsi.

Hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota dirumuskan ke dalam berita acara


kesepakatan oleh setiap unsur pemangku kepentingan, dan dijadikan sebagai
bahan penyusunan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota dan bahan masukan
dalam musrenbang RKPD provinsi.

• Musrenbang RKPD Provinsi

Musrenbang RKPD Provinsi juga dilaksanakan untuk penajaman, penyelarasan,


klarifikasi dan kesepakatan terhadap rancangan RKPD, yang mencakup hal-hal
sebagaiman pada musrencanf RKPD kabupaten/kota.

Hasil kesepakatan musrenbang RKPD provinsi (berita acara) merupakan bahan


penyusunan rancangan akhir RKPD provinsi. Selain itu, program dan kegiatan
pembangunan daerah provinsi yang perlu diintegrasikan dengan program dan
kegiatan pembangunan yang menjadi kewenangan pemerintah (pusat) akan

28 2017 |Pusdiklatwas BPKP


dikoordinasikan Bappeda provinsi dengan kementerian/lembaga terkait guna
dibahas dalam forum musrenbangnas.

e. Perumusan Rancangan Akhir RKPD

Perumusan rancangan akhir RKPD kabupaten/kota dilakukan berdasarkan kesepakatan


hasil musrenbang RKPD kabupaten/kota, musrenbang RKPD provinsi dan
musrenbangnas RKP. Rancangan akhir dibahas oleh seluruh SKPD, untuk memastikan
bahwa prioritas program dan kegiatan pembangunan daerah terkait dengan tugas dan
fungsi setiap SKPD telah tertampung dalam rancangan akhir RKPD.

f. Penetapan RKPD

RKPD ditetapkan dengan Peraturan Gubernur/ Bupati/Walikota, selanjutnya sebagai


landasan penyusunan KUA dan PPAS dalam rangka penyusunan Rancangan APBD. RKPD
juga menjadi pedoman penyempurnaan rancangan Renja SKPD.

Tahapan penyusunan RKPD secara grafis dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar Tahapan dan Tata Cara Penyusunan RKPD Provinsi

Reviu RKA Pemda 29


2. Struktur dan Isi RKPD

Struktur RKPD dapat disajikan dalam bentuk bab dengan sistematika, paling sedikit, sebagai
berikut:
Bab Judul
I Pendahuluan
II Evaluasi hasil pelaksanaan RKPD tahun lalu
III Rancangan kerangka ekonomi daerah beserta kerangka pendanaan
IV Prioritas dan sasaran pembangunan
V Rencana program prioritas daerah
VI Penutup

3. Perubahan RKPD

RKPD dapat diubah jika tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dalam tahun berjalan,
seperti:

- Perkembangan keadaan yang tidak sesuai dengan asumsi kerangka ekonomi daerah dan
kerangka pendanaan, prioritas dan sasaran pembangunan, rencana program dan
kegiatan prioritas daerah.

- Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun anggaran sebelumnya harus
digunakan untuk tahun berjalan.

- Keadaan darurat dan keadaan luar biasa (sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku).

Perubahan RKPD ditetapkan dengan peraturan kepala daerah. Perkada tentang Perubahan
RKPD Kabupaten/Kota/Provinsi disampaikan kepada pemerintah pusat (Gubernur dan/atau
Menteri Dalam Negeri), bersamaan dengan penyampaian rancangan Peraturan Daerah
tentang Perubahan APBD tahun berkenaan untuk dievaluasi.

4. Pengendalian dan Evaluasi RKPD

Pengendalian dan evaluasi RKPD merupakan bagian dari pengendalian dan evaluasi
perencanaan pembangunan daerah. Pengendalian dan evaluasi bertujuan untuk mewujudkan:

a. Konsistensi antara kebijakan dengan pelaksanaan dan hasil rencana pembangunan


daerah

30 2017 |Pusdiklatwas BPKP


b. Konsistensi antara RPJPD dengan RPJPN dan RTRW nasional;

c. Konsistensi antara RPJMD dengan RPJPD dan RTRW daerah;

d. Konsistensi antara RKPD dengan RPJMD; dan

e. Kesesuaian antara capaian pembangunan daerah dengan indikator-indikator kinerja


yang telah ditetapkan.

Menteri Dalam Negeri melalui Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah melakukan
pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah antarprovinsi.
Gubernur melakukan pengendalian dan evaluasi terhadap perencanaan pembangunan daerah
lingkup provinsi, antarkabupaten/kota. Bupati/Walikota melakukan pengendalian dan evaluasi
terhadap perencanaan pembangunan daerah lingkup kabupaten/kota.

C. PENYUSUNAN RENCANA KERJA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RENJA-SKPD)

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja-SKPD)
merupakan dokumen perencanaan pembangunan daerah tahunan untuk setiap SKPD. Berikut akan
diuraikan berkaitan dengan konsep dan tahapan penyusunan, struktur dan isi, perubahan, serta
pengendalian dan evaluasi Renja SKPD.

1. Konsep dan Tahapan Penyusunan Renja SKPD

Renja SKPD merupakan dokumen perencanaan pada tingkat SKPD yang memuat: program dan
kegiatan, lokasi kegiatan, indikator kinerja, kelompok sasaran, serta pagu indikatif dan
prakiraan maju.

a. Program dan kegiatan meliput: program dan kegiatan yang sedang berjalan dan kegiatan
alternatif atau baru.

b. Lokasi kegiatan merupakan lokasi atau tempat dari setiap kegiatan yang akan
dilaksanakan seperti nama desa/kelurahan, kecamatan.

c. Indikator kinerja, terdiri dari: indikator kinerja program yang memuat ukuran spesifik
secara kuantitatif dan/atau kualitatif hasil (putcome), dan indikator kinerja kegiatan
yang memuat ukuran spesifik secara kuantitatif dan/atau kualitatif masukan (input),
keluaran (output).

Reviu RKA Pemda 31


d. Kelompok sasaran memuat karakteristik kelompok yang memperoleh manfaat langsung
dari hasil kegiatan, seperti kelompok masyarakat berdasarkan status ekonomi, profesi,
gender dan kelompok masyarakat rentan termarginalkan.

e. Prakiraan maju memuat kebutuhan dana untuk tahun berikutnya dari tahun anggaran
yang direncanakan guna memastikan kesinambungan kebijakan yang telah disetujui
untuk setiap program dan kegiatan.

Renja SKPD disusun dengan tahapan: persiapan penyusunan, penyusunan rancangan,


pelaksanaan forum SKPD, dan penetapan Renja SKPD.

a. Persiapan penyusunan RenjaSKPD

Persiapan meliputi: penyusunan rancangan keputusan kepala daerah tentang


pembentukan tim penyusun, orientasi mengenai Renja SKPD, agenda kerja tim
penyusun, danpenyiapan data dan informasi perencanaan pembangunan daerah.

b. Penyusunan rancangan Renja SKPD

Rancangan Renja SKPD disusun dengan mengacu pada rancangan awal RKPD, Renstra
SKPD, dan hasil evaluasi pelaksanaan program dan kegiatan periode sebelumnya.
Rancangan Renja disusun untuk memecahkan masalah yang dihadapi, berdasarkan
usulan program serta kegiatan yang berasal dari masyarakat.

Perumusan rancangan Renja SKPD mencakup: persiapan penyusunan rancangan Renja


SKPD, pengolahan data dan informasi, analisis gambaran pelayanan SKPD, mereview
hasil evaluasi Renja SKPD tahun lalu berdasarkan Renstra SKPD, penentuan isu-isu
penting penyelenggaraan tugas dan fungsi SKPD, penelaahan rancangan awal RKPD,
perumusan tujuan dan sasaran, penelaahan usulan masyarakat, dan perumusan kegiatan
prioritas.

c. Pelaksanaan forum SKPD

Rancangan Renja SKPD dibahas dalam forum SKPD, yang dikoordinasikan oleh Bappeda.
Pembahasan tersebut mencakup:

- Penyelarasan program dan kegiatan sesuai dengan tugas dan fungsi SKPD
berdasarkan usulan program dan kegiatan hasil musrenbang kecamatan

32 2017 |Pusdiklatwas BPKP


- Penajaman indikator dan target kinerja program dan kegiatan sesuai dengan tugas
dan fungsi SKPD.

- Penyelarasan program dan kegiatan antar SKPD dalam rangka sinergi pelaksanaan
dan optimalisasi pencapaian sasaran sesuai dengan tugas dan fungsi masing-
masing SKPD

- penyesuaian pendanaan program dan kegiatan prioritas berdasarkan pagu


indikatif untuk masing-masing SKPD kabupaten/kota, sesuai dengan surat edaran
kepala daerah.

Kesepakatan hasil forum SKPD merupakan bahan penyempurnaan rancangan Renja


SKPD.

d. Penetapan Renja SKPD

Kepala SKPD menyempurnakan rancangan Renja SKPD dengan berpedoman pada RKPD
yang telah ditetapkan. Rancangan Renja SKPD yang telah disempurnakan disampaikan
kepada Kepala Bappeda untuk diverifikasi, untuk memastikan rancangan Renja SKPD
telah sesuai dengan RKPD. Selanjutnya, Kepala Bappeda menyampaikan rancangan
Renja SKPD kepada Kepala Daerah untuk memperoleh pengesahan dan ditetapkan
dengan Keputusan Kepala Daerah.

2. Struktur dan Isi Renja SKPD

Renja RKPD disajikan dengan sistematika paling sedikit sebagai berikut: pendahuluan, evaluasi
pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu, tujuan, sasaran, program dan kegiatan, indikator kinerja
dan kelompok sasaran yang menggambarkan pencapaian Renstra SKPD, dana indikatif beserta
sumbernya serta prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif, sumber dana yang dibutuhkan
untuk menjalankan program dan kegiatan, serta penutup.
Bab Judul
I Pendahuluan
II evaluasi pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu
III tujuan, sasaran, program dan kegiatan
IV indikator kinerja dan kelompok sasaran yang menggambarkan pencapaian Renstra
SKPD
V dana indikatif beserta sumbernya serta prakiraan maju berdasarkan pagu indikatif
VI sumber dana yang dibutuhkan untuk menjalankan program dan kegiatan
VII Penutup

Reviu RKA Pemda 33


3. Perubahan Renja SKPD

Renja SKPD dapat diubah jika tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan dalam tahun
berjalan, seperti:

- Perkembangan keadaan yang tidak sesuai dengan asumsi kerangka ekonomi daerah dan
kerangka pendanaan, prioritas dan sasaran pembangunan, rencana program dan
kegiatan prioritas daerah.

- Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun anggaran sebelumnya harus
digunakan untuk tahun berjalan.

- Keadaan darurat dan keadaan luar biasa (sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku).

Perubahan Renja SKPD dirumuskan oleh Kepala SKPD dan ditetapkan dengan peraturan kepala
daerah. Perkada tentang Perubahan Renja-SKPD Kabupaten/Kota Provinsi disampaikan kepada
pemerintah pusat (Gubernur dan/atau Menteri Dalam Negeri) bersamaan dengan
penyampaian rancangan Peraturan Daerah tentang Perubahan APBD tahun berkenaan untuk
dievaluasi.

4. Pengendalian dan Evaluasi Renja SKPD

Pengendalian pelaksanaan Renja SKPD provinsi mencakup program dan kegiatan, lokasi, pagu
indikatif serta prakiraan maju dan indikator kinerja serta kelompok sasaran. Pengendalian
dilakukan melalui pemantauan dan supervisi penyusunan RKA-SKPD provinsi. Kepala SKPD
provinsi melaksanakan pengendalian dan evaluasi pelaksanaan Renja SKPD provinsi.

Dalam hal evaluasi dari hasil pemantauan dan supervisi ditemukan adanya ketidaksesuaian/
penyimpangan, Kepala SKPD provinsi mengambil langkah-langkah penyempurnaan agar
penyusunan RKA-SKPD provinsi sesuai dengan Renja SKPD provinsi. Kepala SKPD provinsi
menyampaikan laporan hasil pemantauan dan supervisi kepada Gubernur melalui kepala
Bappeda provinsi.

34 2017 |Pusdiklatwas BPKP


D. PENYUSUNAN KEBIJAKAN UMUM APBD (KUA) SERTA PRIORITAS DAN PLAFON
ANGGARAN SEMENTARA (PPAS)

1. Pengertian

Pengertian KUA sesuai dengan pasal 1 angka 46 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005
tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, dan Pasal 1 angka 31 Permendagri Nomor 13 Tahun
2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah terakhir diubah dengan Permendagri
Nomor 21 Tahun 2011 adalah dokumen yang memuat kebijakan bidang pendapatan, belanja
dan pembiayaan serta asumsi yang mendasarinya untuk periode 1 (satu) tahun.

PPAS sesuai Pasal 1 angka 47 PP Nomor 58 Tahun 2005 adalah program prioritas dan patokan
batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap program sebagai acuan
dalam penyusunan RKA-SKPD, sedangkan menurut Pasal 1 angka 32 Permendagri Nomor 13
Tahun 2006 terakhir diubah dengan Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 adalah rancangan
program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk
setiap program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD sebelum disepakati dengan DPRD.

Permendagri 13 Tahun 2006 Pasal 1 angka 33 menyebutkan adanya dokumen PPA yang
merupakan akronim dari Prioritas dan Plafon Anggaran. PPA diartikan sebagai program
prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap
program sebagai acuan dalam penyusunan RKA-SKPD setelah disepakati dengan DPRD. Namun
dengan terbitnya Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 sebagai Perubahan Kedua atas
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, PPA
sudah dihapus. Dengan demikian, sejak Permendagri Nomor 21 Tahun 2011 diundangkan pada
tanggal 25 Mei 2011 maka kita istilah PPA dihapus. Sebelumnya, kita membedakan antara
PPAS dan PPA, jika PPAS adalah rancangan program prioritas dan patokan batas maksimal
anggaran yang diberikan kepada SKPD sebelum disepakati dengan DPRD, sedangkan PPA
adalah program prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD
setelah disepakati oleh DPRD.

2. Penyusunan

Penyusunanan KUA dan PPAS oleh Kepala daerah berdasarkan RKPD (Rencana Kerja
Pemerintah Daerah) dan Pedoman Penyusunan APBD yang oleh Menteri Dalam Negeri setiap
tahun. Sebagai contoh dalam penyusunan KUA dan PPAS Tahun 2017, Kepala Daerah

Reviu RKA Pemda 35


berpedoman pada Permendagri Nomor 31 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyusunan APBD
Tahun Anggaran 2017. Pedoman penyusunan APBD dimaksud antara lain memuat:

a. pokok-pokok kebijakan yang memuat sinkronisasi kebijakan pemerintah dengan


pemerintah daerah;

b. prinsip dan kebijakan penyusunan APBD tahun anggaran berkenaan;

c. teknis penyusunan APBD; dan

d. hal-hal khusus lainnya.

KUA dan PPAS disusun oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) yang dipimpin oleh
Sekretaris Daerah. Rancangan KUA dan PPAS disampaikan oleh Sekda kepada Kepala Daerah
paling lambat pada minggu pertama bulan Juni. Selanjutnya Kepala Daerah mengajukan KUA
dan PPAS kepada DPRD paling lambat pertengahan Bulan Juni tahun anggaran berjalan untuk
dibahas dalam pembicaraan pendahuluan RAPBD tahun anggaran berikutnya.

Pembahasan KUA dan PPAS dilakukan oleh TAPD bersama panitia anggaran DPRD dan paling
lambat telah disepakati pada akhir bulam juni tahun anggaran berjalan. Hasil kesepakatan
dituangkan dalam nota kesepakatan yang ditanda tangani antara kepala daerah dengan
pimpinan DPRD dalam waktu bersamaan.

3. Format KUA dan PPAS

a. KUA

Secara umum rancangan KUA memuat kondisi ekonomi makro daerah, asumsi
penyusunan APBD, kebijakan pendapatan daerah, kebijakan belanja daerah, kebijakan
pembiayaan daerah, dan strategi pencapaiannya. Strategi pencapaian memuat langkah-
langkah konkret dalam mencapai target.

Format dokumen KUA sesuai Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 adalah sebagai berikut:

36 2017 |Pusdiklatwas BPKP


BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA);
1.2 Tujuan penyusunan KUA; dan
1.3 Dasar (hukum) penyusunan KUA.
BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH
2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya;
2.2 Rencana target ekonomi makro pada tahun perencanaan.
BAB III ASUMSI-ASUMSI DASAR DALAM PENYUSUNAN RANCANGAN ANGGARAN
PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD)
3.1 Asumsi dasar yang digunakan dalam APBN;
3.2 Laju Inflasi;
3.3 Pertumbuhan PDRB (Migas dan Non Migas);
3.4 Lain-lain asumsi (misal: kebijakan yang berkaitan dengan gaji PNS)
BAB IV KEBIJAKAN PENDAPATAN, BELANJA, DAN PEMBIAYAAN DAERAH
4.1. Pendapatan Daerah
4.1.1 Kebijakan perencanaan pendapatan daerah yang akan dilakukan pada
tahun anggaran berkenaan;
4.1.2 Target pendapatan daerah meliputi Pendapatan Asli Daerah (PAD),
Dana Perimbangan, dan Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah;
4.1.3 Upaya-upaya pemerintah daerah dalam mencapai target.
4.2. Belanja Daerah
4.2.1 Kebijakan terkait dengan perencanaan belanja daerah meliputi total
perkiraan belanja daerah;
4.2.2 Kebijakan belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial,
belanja bagi hasil, bantuan keuangan; dan belanja tidak terduga;
4.2.3 Kebijakan pembangunan daerah, kendala yang dihadapi, strategi dan
prioritas pembangunan daerah yang disusun secara terintegrasi dengan
kebijakan dan prioritas pembangunan nasional yang akan dilaksanakan
di daerah.
4.2.4 Kebijakan belanja berdasarkan : - urusan pemerintahan daerah (urusan
wajib dan urusan pilihan) - satuan kerja perangkat daerah (SKPD).
4.3. Pembiayaan Daerah
4.3.1 Kebijakan penerimaan pembiayaan;
4.3.2 Kebijakan pengeluaran pembiayaan.
BAB V PENUTUP
Pada bab ini juga dapat berisi tentang hal-hal lain yang disepakati DPRD dan Kepala
Daerah dan perlu dimasukkan dalam Kebijakan Umum APBD.

Reviu RKA Pemda 37


b. PPAS

Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara atau PPAS adalah rancangan program prioritas
dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD) untuk setiap program sebagai acuan dalam penyusunan Rencana Kerja
dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) sebelum disepakati dengan DPRD.

Prioritas adalah suatu upaya mengutamakan sesuatu daripada yang lain. Penetapan
prioritas tidak hanya mencakup keputusan apa yang penting untuk dilakukan, tetapi juga
menentukan skala atau peringkat wewenang dan kegiatan yang harus dilakukan lebih
dahulu di banding program yang lain. Tujuan prioritas adalah terpenuhinya skala dan
lingkup kebutuhan masyarakat yang dianggap paling penting dan paling luas
jangkauanya, agar lokasi dan sumber daya dapat di manfaatkan secara ekonomis, efisien
dan efektif, mengurangi tingkat resiko dan ketidakpastian serta tersusunnya program
atau kegiatan yang lebih realistis.

Plafon anggaran sementara adalah jumlah rupiah batas tertinggi yang dapat dianggarkan
oleh tiap-tiap satuan kerja perangkat daerah, termasuk di dalamnya belanja pegawai
sehingga penentuan batas maksimal dapat dilakukan setelah memperhitungkan belanja
pegawai. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara merupakan rancangan program
prioritas dan patokan batas maksimal anggaran yang diberikan kepada SKPD untuk setiap
program sebagai acuan dalam penyusunan RKA SKPD.

Format dokumen PPAS sesuai Permendagri Nomor 59 Tahun 2007 adalah sebagai
berikut.

BAB I PENDAHULUAN
Berisikan latar belakang, tujuan dan dasar penyusunan prioritas dan plafon
anggaran sementara (PPAS)

BAB II RENCANA PENDAPATAN DAN PENERIMAAN PEMBIAYAAN DAERAH


Berisikan tentang target pendapatan dan penerimaan pembiayaan daerah yang
meliputi pendapatan asli daerah (PAD), penerimaan dana perimbangan dan lain-
lain pendapatan daerah yang sah, serta sumber-sumber penerimaan pembiayaan
berdasarkan kebijakan pendapatan daerah dalam KUA.

38 2017 |Pusdiklatwas BPKP


Tabel 2.1
Target pendapatan dan penerimaan pembiayaan daerah Tahun Anggaran xxxx

TARGET
PENDAPATAN DAN PENERIMAAN TAHUN DASAR
NO.
PEMBIAYAAN DAERAH ANGGARAN HUKUM
BERKENAAN
1 2 3 4
1 Pendapatan Asli Daerah
1.1 Pajak Daerah
1.2 Retribusi Daerah
1.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan
1.4 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah
2 Dana Perimbangan
2.1 Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak
2.2 Dana Alokasi Umum
2.3 Dana Alokasi Khusus
3 Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah
3.1 Hibah
3.2 Dana Darurat
3.3 Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah
Daerah lainnya
3.4 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus
3.5 Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah
Daerah lainnya
JUMLAH PENDAPATAN DAERAH
Penerimaan pembiayaan
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran
sebelumnya (SiLPA)
Pencairan dana cadangan
Hasil penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan
Penerimaan pinjaman daerah
Penerimaan kembali pemberian pinjaman
Penerimaan piutang daerah
JUMLAH PENERIMAAN PEMBIAYAAN

JUMLAH DANA TERSEDIA

Reviu RKA Pemda 39


BAB III PRIORITAS BELANJA DAERAH
Berisi urutan prioritas penggunaan pendapatan dan sumber pembiayaan daerah
yang akan dituangkan dalam anggaran belanja daerah.

Matriks Prioritas Pembangunan

NO. Prioritas Sasaran SKPD yang Nama Program


Pembangunan melaksanakan
1. Contoh : Contoh : Contoh : Contoh :
Penanggulangan Meningkatnya 1. Dinas Sosial; Pemberdayaan
Kemiskinan kesejahteraan 2. Dinas PMD; 3. Fakir Miskin
penduduk Dinas
miskin sehingga kesehatan;
prosentase
penduduk
miskin dapat
mencapai 14,4%
pada akhir
tahun 2007
2.
3.
4.

Dst.
JUMLAH

Catatan: Prioritas disusun berdasarkan urusan pemerintahan yang menjadi


kewajiban daerah, baik urusan wajib maupun urusan pilihan yang
dipilih oleh daerah tersebut

BAB IV PLAFON ANGGARAN SEMENTARA BERDASARKAN URUSAN PEMERINTAHAN DAN


PROGRAM/KEGIATAN
4.1 Plafon Anggaran Sementara Berdasarkan Urusan Pemerintahan
Berisikan plafon anggaran sementara masing-masing urusan dan satuan
kerja yang dituangkan secara deskriptif dan dalam bentuk tabulasi.

40 2017 |Pusdiklatwas BPKP


Tabel IV.1

PLAFON
URUSAN/SKPD ANGGARAN KET.
SEMENTARA (RP)
1 2 3 4

URUSAN WAJIB
1 Pendidikan
1.1 Dinas/Badan/Kantor
1.2 Dst………………

2 Kesehatan
2.1 Dinas/Badan/Kantor
2.2 Dst………………

3 Pekerjaan Umum
3.1 Dinas/Badan/Kantor
3.2 Dst………………

4 Perumahan
4.1 Dinas/Badan/Kantor
4.2 Dst………………

5 Penataan Ruang
5.1 Dinas/Badan/Kantor
5.2 Dst………………

6 Perencanaan Pembangunan
6.1 Dinas/Badan/Kantor
6.2 Dst………………

7 Perhubungan
7.1 Dinas/Badan/Kantor
7.2 Dst………………

8 Lingkungan Hidup
8.1 Dinas/Badan/Kantor
8.2 Dst………………

9 Pertanahan

Reviu RKA Pemda 41


9.1 Dinas/Badan/Kantor
9.2 Dst………………

10 Kependudukan dan Catatan Sipil


10.1 Dinas/Badan/Kantor
10.2 Dst………………

11 Pemberdayaan Perempuan dan


Perlindungan Anak
11.1 Dinas/Badan/Kantor
11.2 Dst………………

12 Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera


12.1 Dinas/Badan/Kantor
12.2 Dst………………

13 Sosial
13.1 Dinas/Badan/Kantor
13.2 Dst………………

14 Ketenagakerjaan
14.1 Dinas/Badan/Kantor
14.2 Dst………………

15 Koperasi dan Usaha Kecil Menengah


15.1 Dinas/Badan/Kantor
15.2 Dst………………

16 Penanaman Modal
16.1 Dinas/Badan/Kantor
16.2 Dst………………

17 Kebudayaan
17.1 Dinas/Badan/Kantor
17.2 Dst………………

18 Pemuda dan Olah Raga


18.1 Dinas/Badan/Kantor
18.2 Dst………………

42 2017 |Pusdiklatwas BPKP


19 Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri
19.1 Dinas/Badan/Kantor
19.2 Dst………………

20 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum,


Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat
Daerah, Kepegawaian dan Persandian
20.1 Dinas/Badan/Kantor/Sekretariat/
Inspektorat
20.2 Dst………………

21 Ketahanan Pangan
21.1 Dinas/Badan/Kantor
21.2 Dst………………

22 Pemberdayaan Masyarakat dan Desa


22.1 Dinas/Badan/Kantor
22.2 Dst………………

23 Statistik
23.1 Dinas/Badan/Kantor
23.2 Dst………………

24 Kearsipan
24.1 Dinas/Badan/Kantor
24.2 Dst………………

25 Komunikasi dan Informatika


25.1 Dinas/Badan/Kantor
25.2 Dst………………

26 Perpustakaan
26.1 Dinas/Badan/Kantor
26.2 Dst………………

URUSAN PILIHAN

1 Pertanian
1.1 Dinas/Badan/Kantor
1.2 Dst………………

Reviu RKA Pemda 43


2 Kehutanan
2.1 Dinas/Badan/Kantor
2.2 Dst………………

3 Energi dan Sumberdaya Mineral


3.1 Dinas/Badan/Kantor
3.2 Dst………………

4 Pariwisata
4.1 Dinas/Badan/Kantor
4.2 Dst………………

5 Kelautan dan Perikanan


5.1 Dinas/Badan/Kantor
5.2 Dst………………

6 Perdagangan
6.1 Dinas/Badan/Kantor
6.2 Dst………………

7 Industri
7.1 Dinas/Badan/Kantor
7.2 Dst………………

8 Ketransmigrasian
8.1 Dinas/Badan/Kantor
8.2 Dst………………

4.2 Plafon Anggaran Sementara Berdasarkan Program Kegiatan


Berisikan plafon anggaran sementara berdasarkan program kegiatan yang
dituangkan secara deskriptif dan dalam bentuk tabulasi.

44 2017 |Pusdiklatwas BPKP


Tabel IV.2
Plafon anggaran sementara berdasarkan program dan kegiatan Tahun Anggaran
....
Urusan :
SKPD :
PLAFON ANGGARAN
NOMOR PROGRAM/KEGIATAN SASARAN TARGET
SEMENTARA (Rp.)
1 2 3 4 5
01 Program A
02 Program B
03 Program C
04 Program D
05 Program dst .....

4.3 Plafon Anggaran Sementara Untuk Belanja Pegawai, Bunga, Subsidi, Hibah,
Bantuan Sosial, Belanja Bagi Hasil, Bantuan Keuangan dan Belanja Tidak
Terduga
Berisikan plafon anggaran sementara untuk belanja pegawai, bunga, subsidi,
hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan dan belanja
tidak terduga yang dituangkan secara deskriptif dan dalam bentuk tabulasi.

Tabel IV.3
Plafon anggaran sementara untuk belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah,
bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga
Tahun Anggaran ....
PLAFON ANGGARAN
NO. URAIAN
SEMENTARA (Rp.)
1 Belanja Pegawai
2 Belanja Bunga
3 Balanja Subsidi
4 Belanja Hibah
5 Belanja Bantuan Sosial
6 Belanja Bagi Hasil Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota
dan Pemerintahan Desa
7 Belanja Bantuan Keuangan Kepada
Provinsi/Kabupaten/Kota dan Pemerintahan Desa
8 Belanja Tidak Terduga

Reviu RKA Pemda 45


BAB V RENCANA PEMBIAYAAN DAERAH
Berisikan tentang target penerimaan pembiayaan daerah dan pengeluaran
pembiayaan daerah.
Tabel V
Rincian Plafon Anggaran Pembiayaan Tahun Anggaran ....
NO. URAIAN PLAFON ANGGARAN SEMENTARA (Rp.) PEMBIAYAAN DAERAH
1 Penerimaan pembiayaan
1.1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran
sebelumnya (SiLPA)
1.2 Pencairan dana cadangan
1.3 Hasil penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan
1.4 Penerimaan pinjaman daerah
1.5 Penerimaan kembali pemberian pinjaman
1.6 Penerimaan piutang daerah
Jumlah penerimaan pembiayaan
2 Pengeluaran pembiayaan
2.1 Pembentukan dana cadangan
2.2 Penyertaan modal (Investasi) daerah
2.3 Pembayaran pokok utang
2.4 Pemberian pinjaman daerah
Jumlah pengeluaran pembiayaan
Pembiayaan neto
BAB VI PENUTUP
APBD Tahun Anggaran Berkenaan dibuat untuk menjadi pedoman bagi
Pemerintah Daerah dalam menyusun RAPBD TA. Berkenaan. Pada Bab ini juga
berisikan kesepakatan-kesepakatan lain antara pemerintah daerah dan DPRD
terhadap PPAS.

46 2017 |Pusdiklatwas BPKP


E. PENYUSUNAN RENCANA KERJA DAN ANGGARAN (RKA) SKPD DAN RKA PPKD

1. Pengertian

Dokumen Rencana Kerja dan Anggaran SKPD yang selanjutnya disingkat RKA-SKPD adalah
dokumen perencanaan dan pengangggaran yang berisi rencana pendapatan dan rencana
belanja program dan kegiatan SKPD sebagai dasar penyusunan APBD (pasal 1 angka 34
Permendagri Nomor 21 tahun 2011).

Rencana Kerja dan Anggaran Pejabat Pengelola Keuangan Daerah yang selanjutnya disingkat
RKA-PPKD adalah rencana kerja dan anggaran badan/dinas/biro keuangan/bagian keuangan
selaku Bendahara Umum Daerah (pasal 1 angka 34a Permendagri Nomor 21 tahun 2011).

Dari kedua pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat dua jenis RKA di lingkup
Pemerintah Daerah yaitu RKA-SKPD dan RKA-PPKD. Khusus untuk badan/dinas/biro/bagian
yang ditetapkan sebagai Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) yang sekaligus juga
sebagai Bendahara Umum Daerah dan pejabat Pengelola Keuangan Daerah maka akan
memiliki dua RKA yaitu RKA-SKPD selaku SKPD dan RKA-PPKD selaku PPKD.

2. Penyusunan

Setelah dokumen KUA (Kebijakan Umum APBD) dan PPAS (Prioritas dan Plafon Anggaran
Sementara) disepakati bersama kepala daerah dan DPRD melalui nota kesepakatan yang
ditandatangani bersama oleh kepala daerah dan pimpinan DPRD, kepala daerah menerbitkan
pedoman penyusunan RKA-SKPD sebagai acuan/pedoman kepala SKPD menyusun RKA-SKPD.

Pedoman penyusunan RKA-SKPD dalam bentuk surat edaran yang akan ditandatangani oleh
kepala daerah disiapkan oleh TAPD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah). Surat edaran kepala
daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD mencakup:

a. prioritas pembangunan daerah dan program/kegiatan yang terkait;

b. alokasi plafon anggaran sementara untuk setiap program/kegiatan SKPD;

c. batas waktu penyampaian RKA-SKPD kepada PPKD; dan

d. dokumen sebagai lampiran surat edaran meliputi KUA, PPAS, analisis standar belanja dan
standar satuan harga.

Reviu RKA Pemda 47


Surat edaran kepala daerah perihal pedoman penyusunan RKA-SKPD diterbitkan paling lambat
awal bulan Agustus tahun anggaran berjalan.

Berdasarkan Surat Edaran Kepala Daerah tentang pedoman penyusunan RKA-SKPD tersebut,
kepala SKPD menyusun RKA-SKPD. RKA-SKPD disusun dengan menggunakan 3 pendekatan
yaitu:

a. Kerangka pengeluaran jangka menengah daerah,

Pendekatan kerangka pengeluaran jangka menengah daerah dilaksanakan dengan


menyusun prakiraan maju. Prakiraan maju berisi perkiraan kebutuhan anggaran untuk
program dan kegiatan yang direncanakan dalam tahun anggaran berikutnya dari tahun
anggaran yang direncanakan.

b. Penganggaran terpadu

Pendekatan penganggaran terpadu dilakukan dengan memadukan seluruh proses


perencanaan dan penganggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan di lingkungan
SKPD untuk menghasilkan dokumen rencana kerja dan anggaran. Keterpaduan proses
perencanaan dan penganggaran dimasudkan agar tidak terjadi duplikasi dalam
penyediaan anggaran untuk SKPD. Selain itu penerapan penganggaran terpadu
diharapkan dapat mewejudkan SKPD sebagai entitas akntansi yan bertanggungjawab
terhadap aset dan kewajiban yang dimiliki , serta adanya satu akun (pendapatan dan
atau belanja) untuk setiap transaksi dapat menghindarkan adanya duplikasi dalam
penggunaannya.

Keterpaduan antara proses perencanaan dan penganggaran dapat digambarakan dalam


alur perencanaan dan penganggaran APBD sebagai berikut:

48 2017 |Pusdiklatwas BPKP


c. Penganggaran berdasarkan prestasi kerja.

Pendekatan penganggaran berdasarkan prestasi kerja dilakukan dengan memperhatikan


keterkaitan antara pendanaan dengan keluaran yang diharapkan dari kegiatan dan hasil
serta manfaat yang diharapkan termasuk efisiensi dalam pencapaian hasil dan keluaran
tersebut.

Penyusunan RKA-SKPD berdasarkan prestasi kerja berdasarkan pada indikator kinerja,


capaian atau target kinerja, analisis standar belanja, standar satuan harga, dan standar
pelayanan minimal.

Indikator kinerja adalah ukuran keberhasilan yang akan dicapai dari program dan
kegiatan yang direncanakan.

Capaian kinerja merupakan ukuran prestasi kerja yang akan dicapai yang berwujud
kualitas, kuantitas, efisiensi dan efektifitas pelaksanaan dari setiap program dan
kegiatan.

Reviu RKA Pemda 49


Analisis standar belanja merupakan penilaian kewajaran atas beban kerja dan biaya yang
digunakan untuk melaksanakan suatu kegiatan.

Standar satuan harga merupakan harga satuan setiap unit barang/jasa yang berlaku
disuatu daerah yang ditetapkan dengan keputusan kepala daerah.

Standar pelayanan minimal merupakan tolok ukur kinerja dalam menentukan capaian
jenis dan mutu pelayanan dasar yang merupakan urusan wajib daerah.

3. Isi Rencana Kerja dan Anggaran

a. Isi RKA SKPD

RKA-SKPD memuat rencana pendapatan, rencana belanja untuk masing-masing program


dan kegiatan, serta rencana pembiayaan untuk tahun yang direncanakan dirinci sampai
dengan rincian objek pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta prakiraan maju untuk
tahun berikutnya. RKA-SKPD juga memuat informasi tentang urusan pemerintahan
daerah, organisasi, standar biaya, prestasi kerja yang akan dicapai dari program dan
kegiatan.

Rencana pendapatan memuat kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek pendapatan
daerah, yang dipungut/dikelola/ diterima oleh SKPD sesuai dengan tugas pokok dan
fungsinya, ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yaitu peraturan
daerah, peraturan pemerintah atau undang-undang.

Rencana belanja memuat kelompok belanja tidak langsung dan belanja langsung yang
masing-masing diuraikan menurut jenis, obyek dan rincian obyek belanja.

Rencana pembiayaan memuat kelompok penerimaan pembiayaan yang dapat


digunakan untuk menutup defisit APBD dan pengeluaran pembiayaan yang digunakan
untuk memanfaatkan surplus APBD yang masing-masing diuraikan menurut jenis, obyek
dan rincian obyek pembiayaan.

Urusan pemerintahan daerah memuat bidang urusan pemerintahan daerah yang


dikelola sesuai dengan tugas pokok dan fungsi organisasi.

Organisasi memuat nama organisasi atau nama SKPD selaku pengguna anggaran/
pengguna barang.

50 2017 |Pusdiklatwas BPKP


Prestasi kerja yang hendak dicapai terdiri dari indikator, tolok ukur kinerja dan target
kinerja.

Program memuat nama program yang akan dilaksanakan SKPD dalam tahun anggaran
berkenaan. Kegiatan memuat nama kegiatan yang akan dilaksanakan SKPD dalam tahun
anggaran berkenaan.

Indikator meliputi masukan, keluaran dan hasil. Tolok ukur kinerja merupakan ukuran
prestasi kerja yang akan dicapai dari keadaan semula dengan mempertimbangkan faktor
kualitas, kuantitas, efisiensi dan efektifitas pelaksanaan dari setiap program dan
kegiatan. Target kinerja merupakan hasil yang diharapkan dari suatu program atau
keluaran yang diharapkan dari suatu kegiatan.

Belanja langsung yang terdiri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta belanja
modal dianggarkan dalam RKA-SKPD pada masing-masing SKPD. Belanja bunga, belanja
subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi hasil, belanja bantuan
keuangan, dan belanja tidak terduga hanya dianggarkan dalam RKASKPD pada SKPKD.

Bagan Alir Penyusunan RKA SKPD

Reviu RKA Pemda 51


Format KKA SKPD

1) RKA- SKPD : ringkasan anggaran pendapatan dan belanja

52 2017 |Pusdiklatwas BPKP


2) RKA-SKPD 1 : Rincian Anggaran Pendapatan Satuan Kerja Pemerintah Daerah

Reviu RKA Pemda 53


3) RKA-SKPD 2.1 : Rincian Angagran Belanja tidak langsung Satuan Kerja Pemerintah
Daerah

54 2017 |Pusdiklatwas BPKP


4) RKA-SKPD 2.2 : Rekapitulasi Rincian Anggaran Belanja Langsung menurut program
dan kegiatan Satuan Kerja Pemerintah Daerah

Reviu RKA Pemda 55


5) RKA SKPD 2.2.1 : Rincian Anggaran Belanja Langsung menurut Program dan Per
kegiatan Satuan Kerja Pemerintah Daerah

56 2017 |Pusdiklatwas BPKP


b. Isi RKA PPKD

RKA-PPKD digunakan untuk menampung program dan kegiatan sebagai berikut

1) pendapatan yang berasal dari dana perimbangan dan pendapatan hibah;

2) belanja bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja bantuan sosial, belanja bagi
hasil, belanja bantuan keuangan dan belanja tidak terduga; dan

c. Penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan daerah.

Reviu RKA Pemda 57


58 2017 |Pusdiklatwas BPKP
Bab II
PENGANTAR REVIU ATAS RENCANA KERJA DAN
ANGGARAN PEMERINTAH DAERAH
Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari bab ini, peserta diklat diharapkan mampu mendeskripsikan/
menjelaskan konsep, pengertian, dasar hukum, tujuan dan ruang lingkup, serta
standar, metodologi, dan tahapan Reviu atas RKA Pemd
(Dokumen Perencanaan Pembangunan dan Penganggaran Tahunan Pemerintah Daerah).

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, secara umum, berdasarkan hasil monitoring Kementerian
dalam Negeri, dokumen perencanaan pembangunan daerah belum sepenuhnya menjadi landasan
dalam penganggaran. Masih terdapat perbedaaan atau inkonsistensi antara program dan pagu yang
direncanakan dengan yang dianggarkan. Inkonsistensi juga terjadi antara dokumen perencanaan
jangka menengah (RPJMD) dengandokumen perencanaan tahunan (RKPD).

Selain itu, dokumen perencanaan dan penganggaran yang disusun belum sepenuhnya
memperhatikan kaidah-kaidah perencanaan dan penganggaran yang baik dan tepat. Informasi
dalam dokumen anggaran kerapkali tidak terukur dan melenceng dari tujuan yang direncanakan.
Penganggaran belanja yang belum optimal akan berdampak kepada penyerapan APBD yang tidak
maksimal, serta kualitas APBD masih belum optimal tidak mendukung sasaran pembangunan daerah
dan pembangunan nasional.

Berkaitan dengan permasalahan tersebut, Pemerintah Daerah memanfaatkan peran APIP, yang
telah mengalami pergeseran paradigma yaitu dari peran watch dog (sekedar mencari-cari kesalahan)
bergeser menjadi lebih fokus pada unsur pembinaan yang bersifat preventive (pencegahan),
consultatitive, dan quality assurance, serta early warning systems, pendampingan, dan pembinaan.
APIP akan melaksanakan Reviu atas Perencanaan Pembangunan dan Penganggaran Daerah.
Pelaksanaan reviu harus mampu menjamin proses perencanaan penganggaran patuh terhadap
kaidah-kaidah perencanaan dan penganggaran sebagai quality assurance. Hasil reviu diharpakan
dapat menjamin konsistensi dan keterpaduan antara perencanaan dan penganggaran agar
menghasilkan APBD yang berkualitas, serta efektivitas dan efisiensi pencapaian prioritas dan sasaran
pembangunan nasional dan daerah.

Reviu RKA Pemda 59


1. KONSEP, PENGERTIAN, DAN DASAR HUKUM REVIU ATAS RKA PEMERINTAH DAERAH

Reviu, secara umum, merupakan salah satu bentuk penugasan yang bisa dilakukan oleh APIP Daerah
dalam melaksanakan peran pengawasan intern terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Berikut akan dibahas berkaitan dengan konsep dan pengertian reviu, serta dasar hukum pelaksanaan
Reviu atas Dokumen Perencanaan Pembangunan dan Penganggaran Pemerintah Daerah.

1. Konsep Reviu atas RKA Pemerintah Daerah

Pengawasan intern adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan
kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka
memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok
ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam
mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. Jadi reviu merupakan salah bentuk kegiatan
pengawasan intern yang dilakukan oleh APIP.

Reviu tidak memberikan dasar untuk menyatakan pendapat sebagaimana dalam audit karena
reviu tidak mencakup pengujian atas pengendalian intern, penetapan risiko pengendalian,
pengujian atas dokumen sumber dan pengujian atas respon terhadap permintaan keterangan
dengan cara pemerolehan bahan bukti yang menguatkan melalui inspeksi, pengamatan, atau
konfirmasi, dan prosedur tertentu lainnya yang biasa dilaksanakan dalam suatu audit.

2. Pengertian Reviu atas RKA Pemerintah Daerah

Reviu adalah penelaahan ulang bukti-bukti suatu kegiatan untuk memastikan bahwa kegiatan
tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan, standar, rencana, atau norma yang telah
ditetapkan.

Reviu dokumen rencana pembangunan dan anggaran tahunan daerah adalah penelaahan atas
penyusunan dokumen rencana pembangunan tahunan dan penyusunan dokumen anggaran
tahunan daerah oleh APIP provinsi/kabupaten/kota yang kompeten untuk memberikan
keyakinan terbatas bahwa dokumen perencanaan dan penganggaran telah disusun
berdasarkan kaidah-kaidah yang ditetapkan, dalam upaya membantu Kepala Daerah untuk
menghasilkan dokumen APBD yang berkualitas untuk mencapai prioritas dan sasaran
pembangunan tahunan dalam rangka mewujudkan visi dan misi pembangunan jangka
menengah.

60 2017 |Pusdiklatwas BPKP


3. Dasar Hukum Reviu atas RKA Pemerintah Daerah

Dasar hukum peraturan yang digunakan dalam pelaksanaan reviu RKA Pemerintah Daerah
adalah semua peraturan yang terkait dengan perencanaan pembangunan dan penganggaran
pemerintah daerah, serta regulasi dan pedoman yang menjadi acuan dalam pelaksanaan tugas
dan fungsi Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) pada Pemerintahan Daerah, meliputi:

a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

b. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan


Nasional

c. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara


Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

d. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

e. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah

f. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern


Pemerintah

g. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Daerah dan perubahannya, terakhir dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 21 Tahun 2011.

h. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan
Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian,
dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah

i. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 76 Tahun 2016 tentang Kebijakan Pembinaan
dan Pengawasan di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah
Tahun 2017;

j. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2017 tentang Pedoman Penyusunan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun 2018;

k. Surat Inspektur Jenderal Kementerian Dalam Negeri Nomor: 700/025/A.4/IJ Tanggal 13


Januari 2016 Hal Pedoman Pelaksanaan Reviu Dokumen Rencana Pembangunan dan
Anggaran Tahunan Daerah.

Reviu RKA Pemda 61


2. TUJUAN DAN RUANG LINGKUP REVIU ATAS RKA PEMDA

Reviu atas RKA Pemda dilaksanakan untuk mencapai tujuaan-tujuan yang diharapkan. Ruang lingkup
reviu atas RKA Pemda mencakup sasaran dan/atau batasan pelaksanaan reviu atas dokumen
perencanaan dan dokumen penganggaran.

1. Tujuan Reviu atas RKA Pemerintah Daerah

Tujuan reviu atas dokumen rencana pembangunan dan anggaran tahunan daerah oleh APIP
Provinsi/kabupaten/kota, antara lain adalah :

a. Untuk memberikan keyakinan terbatas mengenai akurasi, keandalan dan keabsahan,


bahwa:

1) informasi dalam RKPD sesuai dengan RPJMD

2) informasi dalam Renja-SKPD sesuai dengan RKPD

3) informasi dalam KUA dan PPAS sesuai dengan RKPD

4) informasi dalam RKA-SKPD sesuai dengan PPAS dan Renja-SKPD

b. Untuk memberikan keyakinan terbatas bahwa perumusan dokumen rencana


pembangunan dan anggaran tahunan daerah telah sesuai dengan tata cara dan kaidah-
kaidah perencanaan dan penganggaran, antara lain pendekatan perencanaan dan
penganggaran terpadu, berbasis kinerja dan kerangka pengeluaran jangka menengah
serta telah dilengkapi dengan dokumen pendukung.

c. Untuk memberikan rekomendasi perbaikan/penyesuaian apabila ditemukan kelemahan


dan/atau kesalahan dalam penyusunan dokumen rencana pembangunan dan anggaran
tahunan daerah (RKA-SKPD, KUA, PPAS, RKPD, Renja-SKPD).

d. Untuk meningkatkan kualitas APBD, sesuai dengan kaidah-kaidah perencanaan dan


penganggaran, serta peran APIP Provinsi/kabupaten/kota sebagai quality assurance.

Tujuan reviu tersebut akan tercapai melalui serangkaian tahapan reviu atas dokumen rencana
pembangunan dan anggaran tahunan daerah. Agar tujuan dapat tercapai, Tim Reviu
berkewajiban untuk segera menyampaikan laporan hasil reviu kepada Kepala SKPD terkait
melalui Tim Penyusun RKPD/TAPD untuk segera dilakukan perbaikan/penyesuaian.

62 2017 |Pusdiklatwas BPKP


2. Ruang Lingkup Reviu atas RKA Pemerintah Daerah

Reviu atas RKA Pemerintah Daerah mencakup :

a. Reviu atas dokumen rencana pembangunan tahunan daerah, yaitu: RKPD dan Renja-
SKPD, serta reviu atas dokumen anggaran tahunan daerah, yaitu: KUA, PPAS dan RKA-
SKPD pada proses penyusunan Rancangan APBD.

b. Reviu atas dokumen perubahan rencana pembangunan tahunan daerah yaitu Perubahan
RKPD dan Perubahan Renja-SKPD dan reviu dokumen perubahan anggaran tahunan
daerah yaitu Perubahan KUA, Perubahan PPAS dan Perubahan RKA-SKPD pada proses
penyusunan Rancangan Perubahan APBD.

Secara rinci, berdasarkan dokumen perencanaan pembangunan tahunan daerah dan


dokumen anggaran tahunan daerah, ruang lingkup reviu dapat diuraiakan sebagai berikut.

a. Reviu atas Dokumen Rencana Pembangunan Tahunan Daerah

Mencakup pengujian terbatas terhadap dokumen RKPD dan RENJA-SKPD mulai dari
tahap penyusunan rancangan dokumen sampai dengan ditetapkan, untuk mengetahui
hal-hal sebagai berikut:

1) Konsistensi dokumen RKPD/PerubahanRKPD dengan RPJMD

a) Kesesuaian rumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah dalam


RKPD/Perubahan RKPD, dengan program pembangunan daerah yang
ditetapkan dalam RPJMD .

b) Kesesuaian rencana program dan kegiatan prioritas dalam RKPD/Perubahan


RKPD, sesuai dengan indikasi rencana program prioritas yang ditetapkan
dalam RPJMD;

2) Konsistensi dokumen Renja-SKPD/Perubahan Renja-SKPD dengan RKPD/


Perubahan RKPD dan Renstra-SKPD

a) Kesesuaian rumusan tujuan, sasaran rencana program dan kegiatan,


indikator kinerja, kelompok sasaran, lokasi, dan pendanaan indikatif dalam
Renja-SKPD/Perubahan Renja-SKPD dengan rencana program dan kegiatan
prioritas pembangunan tahunan daerah RKPD/Perubahan RKPD.

Reviu RKA Pemda 63


b) keselarasan rumusan tujuan, sasaran rencana program dan kegiatan,
indikator kinerja, kelompok sasaran, lokasi, dan pendanaan indikatif dalam
Renja-SKPD/Perubahan Renja-SKPD dengan Renstra-SKPD.

b. Reviu atas Dokumen Anggaran Tahunan Daerah

Mencakup pengujian terbatas terhadap dokumen RKA-SKPD/RKA-SKPD Perubahan,


KUA/KUPA, PPAS/PPAS Perubahan mulai dari tahap penyusunan rancangan dokumen
sampai dengan ditetapkan, untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut:

1) Konsistensi KUA/KUPA dan PPAS Perubahan dengan RKPD/Perubahan RKPD

a) Kesesuaian substansi rumusan KUA/KUPA dengan Rancangan Kerangka


Ekonomi Daerah dan Kebijakan Keuangan Daerah dalam RKPD/Perubahan
RKPD

b) Kesesuaian substansi rumusan prioritas dan sasararan serta rencana


program dan kegiatan dalam PPAS/PPAS Perubahan dengan RKPD/
Perubahan RKPD;

c) Kesesuaian pencantuman indikator dan target kinerja serta pagu indikatif,


lokasi, kelompok sasaran dalam rencana program dan kegiatan PPAS/PPAS
Perubahan dengan RKPD/Perubahan RKPD.

2) Konsistensi RKA-SKPD/RKA-SKPD Perubahan dengan KUA/KUPA dan PPAS/PPAS


Perubahan

a) Kesesuaian rumusan rencana program dan kegiatan dalam RKA-SKPD/RKA-


SKPD dengan PPAS/PPAS Perubahan;

b) kesesuaian pencantuman indikator dan target kinerja serta pagu indikatif,


lokasi, kelompok sasaran dalam rencana program dan kegiatan RKA-
SKPD/RKA-SKPD Perubahan dengan PPAS/PPAS Perubahan.

c) Kelayakan anggaran untuk menghasilkan keluaran.

d) Kepatuhan dalam penerapan kaidah-kaidah penganggaran, antara lain:

64 2017 |Pusdiklatwas BPKP


• Dasar hukum penganggaran

• Pencantuman Indikator dan target kinerja, lokasi dan kelompok


sasaran penerima manfaat

• penerapan analisis standar belanja dan standar satuan harga;

• penggunaan akun;

• hal-hal yang dibatasi atau dilarang;

e) Kelengkapan dokumen pendukung RKA-SKPD/RKA-SKPD Perubahan antara


lain Kerangka Acuan Kerja (KAK), Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan
dokumen terkait lainnya.

3. STANDAR, METODOLOGI, DAN TAHAPAN REVIU ATAS RKA PEMDA

Agar reviu atas RKA Pemda dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka harus
memperhatikan standar dan metodologi reviu. Selanjutnya pelaksanaan reviu juga dilakukan sesuai
dengan tahapan reviu.

1. Standar Reviu atas RKA Pemerintah Daerah

Reviu atas RKA Pemda merupakan bagian dari penugasan (profesi) yang harus dilakukan oleh
APIP. Oleh karena itu, pelaksanaannya harus mengacu pada standar penugasan atau standar
profesi yang berlaku bagi APIP.

2. Metodologi Reviu atas RKA Pemerintah Daerah

Pelaksanaan kegiatan reviu dokumen rencana pembangunan (RKPD dan Renja-SKPD) dan
anggaran tahunan daerah (KUA, PPAS dan RKA-SKPD) oleh APIP provinsi/kabupaten/kota tidak
menambah tahapan (layer) dalam proses perencanaan pembangunan daerah dan
penganggaran tahunan daerah, yang diatur dalam Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 dan
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 (dan perubahannya).

Untuk itu, pelaksanaan reviu perencanaan dan penganggaran oleh APIP provinsi/
kabupaten/kota dilaksanakan secara paralel dengan mekanisme perencanaan dan
penganggaran sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing pemerintahan
daerah dengan tetap berpedoman pada ketentuan kedua peraturan menteri tersebut, dan
sesuai dengan jadwal pelaksanaan perencanaan dan penganggaran.

Reviu RKA Pemda 65


Agar reviu atas RKA Pemda dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien, maka
pelaksanaannya harus memperhatikan metodologi reviu, sesuai dengan standar dan pedoman
reviu. Pembahasan tentang metodologi reviu mencakup bukti, teknik dan prosedur reviu,
program kerja reviu, serta kertas kerja reviu.

a. Bukti, Teknik, dan Prosedur Reviu

Bukti reviu merupakan semua jenis data dan informasi yang digunakan oleh pereviu
dalam melakukan pengujian (terbatas) untuk mendukung simpulan reviu sesuai dengan
tujuan reviu.

Prosedur reviu yang berisi serangkaian langkah/program yang akan dilaksanakan oleh
APIP dalam meneliti dokumen perencanaan dan penganggaran.

Teknik reviu adalah cara atau metode yang digunakan oleh pereviu dalam melakukan
pengujian, misalnya: dokumentasi, penelusuran, pembandingan, analisis, evaluasi, dan
wawancara.

b. Program Kerja Reviu (PKR)

PKR merupakan serangkaian prosedur dan teknik reviu yang disusun secara sistematis
yang harus diikuti/dilaksanakan oleh Tim Reviu untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan, untuk digunakan sebagai pedoman pelaksanaan pada saat meneliti dokumen
rencana pembangunan dan anggaran tahunan. Tujuan dan manfaat PKR adalah sebagai:

• Sarana pemberian tugas kepada tim reviu,

• Sarana pengawasan pelaksanaan reviu secara berjenjang,

• Pedoman kerja/pegangan bagi pereviu,

• Landasan untuk membuat iktisar/ringkasan hasil reviu, dan

• Sarana untuk mengawasi mutu reviu.

Agar pelaksanaan reviu dokumen rencana pembangunan dan anggaran tahunan daerah
lebih terarah dan tepat sasaran, reviu harus mengikuti langkah-langkah kerja reviu, atau
prosedur reviu, yang merupakan perintah kerja kepada pereviu dalam melaksanakan
reviu.

66 2017 |Pusdiklatwas BPKP


Format PKR
Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota
PKR Nomor: …………
Judul PKR
No Dilaks Waktu (Jam) KKR
Langkah-Langkah Kerja Reviu Ket.
Oleh Rencana Realisasi No.

Sub judul reviu …..


A Tujuan: ……………………….
B Langkah kerja reviu (prosedur dan teknik
reviu) :
1) ……………………………
2) ……………………………
3) ……………………………
…………….., ………………… 2017 …………….., ………………… 2017
Direviu oleh: Dibuat oleh:

( Pengendali Teknis) ( Ketua Tim Reviu)


…………….., ………………… 2017
Disetujui oleh:

( Pengendali Mutu)

c. Kertas Kerja Reviu (KKR)

KKR merupakan dokumentasi yang dibuat oleh Tim Reviu mengenai semua hal yang
dilakukannya, mencakup metodologi reviu yang dipilih, prosedur reviu yang ditempuh,
bukti reviu yang dikumpulkan, dan simpulan reviu yang diambil. Secara rinci, KKR berisi
dokumen/informasi berupa: Perencanaan reviu (termasuk program kerja Reviu),
Prosedur Reviu yang dilakukan, informasi yang diperoleh dan simpulan hasil Reviu, Reviu
oleh pengawas, Pelaporan Reviu, Catatan atas tindak lanjut yang dilakukan oleh yang
direviu, Hasil reviu analitis, Laporan Reviu dan tanggapan manajemen, Korespondensi
Reviu yang relevan.

Reviu RKA Pemda 67


1) Tujuan dan manfaat penyusunan KKR

a) Pendukung Laporan Reviu

KKR merupakan penghubung antara reviu yang dilaksanakan dengan LHR,


atau informasi dalam LHR harus dapat dirujuk ke KKR. Disamping itu, KKR
disusun agar simpulan Reviu dapat dibuat secara berjenjang dari teknik dan
prosedur Reviu yang telah dilaksanakan oleh Tim Reviu, yang kemudian
berujung pada LHR.

b) Dokumentasi Informasi

KKR mendokumentasikan informasi yang diperoleh melalui interviu,


penelaahan peraturan-peraturan, analisis atas sistem dan prosedur,
observasi atas suatu kondisi dan pengujian transaksi.

c) Identifikasi dan Dokumentasi Temuan Reviu

Sarana untuk mencari hubungan berbagai fakta yang telah ditemukan,


membandingkan, menilai/mengukur besarnya pengaruh suatu temuan atau
kelemahan.

d) Pendukung Pembahasan

Pemahaman yang memadai tentang hal-hal penting dan relevan dapat


membantu Tim Reviu pada saat pembahasan suatu masalah dengan pihak
yang diperiksa. Selama reviu, pemahaman tersebut harus didokumentasikan
ke dalam KKR sehingga saat pembahasan informasi yang relevan dapat
segera dirujuk.

e) Media Reviu Pengawas

KKR merupakan sarana untuk mengawasi, menilai dan memonitor


perkembangan pelaksanaan Reviu, pelaksanaan PKR, menilai kecukupan
teknik dan prosedur Reviu untuk memenuhi standar Reviu yang telah
ditetapkan. Reviu pengawas ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi
teknik atau prosedur Reviu tambahan yang diperlukan yang harus
dilaksanakan oleh timnya.

68 2017 |Pusdiklatwas BPKP


f) Referensi

KKR dapat menjadi referensi dalam perencanaan tugas Reviu atau


pelaksanaan Reviu periode berikutnya dan referensi dalam memonitor
tindak lanjut Reviu.

2) Jenisi-jenis Kertas Kerja Reviu

a) KKR Utama

KKR Utama adalah KKR yang berisi simpulan hasil Reviu untuk
keseluruhan/suatu segmen/bagaian/kegiatan yang direviu. Umumnya
memuat informasi sebagai berikut :

(1) Informasi umum antara lain berisi tujuan operasi/kegiatan yang


diperiksa dan informasi latar belakang lainnya, misalnya organisasi dan
sistem pengendalian manajemen.

(2) Tujuan Reviu menjelaskan tujuan secar rinci yang ingin dicapai dalam
Reviu atas kegiatan dimaksud.

(3) Ruang lingkup menjelaskan apa yang dilakukan dan yang tidak
dilakukan dalam Reviu, metode pemilihan sampel dan ukuran
sampelnya dan sumber informasi.

(4) Dalam temuan berisi jawaban atas tiap unsur yang dimuat dalam
tujuan Reviu.

(5) Dalam opini dimuat penilaian atas pencapaian tujuan kegiatan, dengan
mempertimbangkan adanya temuan.

(6) Rekomendasi berupa tindakan perbaikan atas kelemahan yang ada dan
mencatat tindak lanjut yang telah dilakukan yang diperiksa.

b) KKR Ikhtisar

KKR Ikhtisar adalah KKR yang berisi ringkasan informasi dari KKR yang berisi
informasi yang sejenis/sekelompok tertentu. KKR Ikhtisar sangat membantu
dalam:

Reviu RKA Pemda 69


(1) Proses Reviu yang kompleks.

(2) Merangkum kelompok kertas kerja yang berkaitan dengan suatu


masalah tertentu atau satu bagian/segmen, memberikan gambaran
yang sistematis dan logis terhadap KKR.

(3) Menghindarkan adanya permasalahan yang timbul setelah selesai


Reviu, seperti kurang lengkapnya data pendukung.

(4) Membantu tim untuk membiasakan diri dengan kepastian dan


ketepatan yang diperlukan dalam menganalisis informasi.

(5) Mendorong analisi kritis dengan segera atas bukti yang diperoleh dan
pekerjaaan yang dilakukan, membantu identifikasi temuan dan sebagai
dasar pengambilan keputusan Reviu selanjutnya.

(6) Memungkinkan sebagai bahan penyusunan konsep LHR.

c) KKR Pendukung

(1) KKR yang berisi informasi yang mendukung KKR utama.

(2) Disusun secara logis, setiap KKR yang berada di belakang KKR yang lain
adalah merupakan pendukung (informasi yang lebih rinci) dari KKR
sebelumnya.

(3) Disusun selama proses Reviu dilaksanakan dengan mengikuti PKR dan
dituliskan referensi PKR-nya.

(4) Dibuat setiap lembar untuk suatu permasalahan.

KKR yang baik memenuhi prinsip-prinsip penyusunan KKR, yaitu: relevan, sesuai dengan
PKR, lengkap dan cermat, mudah dipahami, rapi, efisien, seragam. KKR dapat ditelaah
oleh pihak luar dalam rangka Peer Review.

KKR merupakan hak milik instansi APIP. Organisasi Objek Reviu tidak mempunyai hak
atas KKR meskipun berisi data/informasi tentang Organisasi Objek Reviu.

70 2017 |Pusdiklatwas BPKP


KKR bersifat rahasia terhadap Organisasi Objek Reviu dan pihak ketiga. Pihak Kejaksaan,
Kepolisian atau pihak yang berwenang lainnya dapat menggunakan informasi/data
dalam KKR sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Dokumen KKR merupakan dokumen penting dan bersifat rahasia. Prinsip pengelolaan
KKR yang dapat diterapkan, antara lain:

• Pada jam kerja, KKR tidak boleh ditinggal di tempat yang bisa didatangi oleh umum,
pegawai instansi atau pihak lain yang tidak memiliki kewenangan untuk
menelaahnya.

• Diluar jam kerja atau pada saat istirahat makan siang, KKR harus disimpan dalam
keadaan terkunci.

• Dokumen rahasia, seperti rencana Organisasi Objek Reviu untuk operasi serta
perluasan di masa depan dan laporan penyelidikan harus disimpan dalam keadaan
terkunci apabila tidak sedang dipakai.

• Untuk dokumen yang sifatnya sangat sensitif, perlu dilakukan tindakan


pengamanan khusus dengan menggunakan lemari dengan kunci pengaman/
kombinasi.

FORMAT KKR

Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota (1) No. KKR (2)


Kertas kerja Reviu
Disusun oleh/Tanggal (3)

........................................ (6) Direviu oleh/Tanggal (4)

Disetujui oleh/Tanggal (5)

Judul (7)

................,Tgl-Bln-Thn (8)

Nama:..................
NIP....................

Reviu RKA Pemda 71


3. Tahapan Reviu atas RKA Pemerintah Daerah

Agar pelaksanaan reviu dokumen rencana pembangunan dan anggaran tahunan daerah lebih
terarah dan tepat sasaran, mencapai tujuan reviu, maka reviu sebaiknya dilaksanakan dalam 3
(tiga) tahapan, yang disesuaikan dengan jadwal siklus perencanaan dan penganggaran tahunan
daerah, yaitu:

a. Tahap perencanaan reviu, meliputi kegiatan untuk memilih dan menentukan objek dan
sasaran reviu, melakukan usulan penugasan reviu, dan mempersiapkan bahan
penyusunan Program Kerja Reviu.

b. Tahap pelaksanaan reviu, mencakup kegiatan penelaahan dokumen rencana


pembangunan dan anggaran tahunan daerah.

c. Tahap pelaporan hasil reviu, mencakup kegiatan penyusunan Catatan Hasil Reviu (CHR)
dan Laporan Hasil Reviu (LHR).

72 2017 |Pusdiklatwas BPKP


Daftar Pustaka

Kementerian Dalam Negeri. 2010. Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang
Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana
Pembangunan Daerah (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010)

Kementerian Dalam Negeri. 2011. Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah (Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 jo Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21
Tahun 2011)

Kementerian Dalam Negeri. 2016. Pedoman Pelaksanaan Reviu Dokumen Rencana Pembangunan
dan Anggaran Tahunan Daerah (Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 700/025/A.4/IJ
tanggal 13 Januari 2016)

Kementerian Dalam Negeri. 2016. Pedoman Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi RKPD Tahun
2017 (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 18 Tahun 2016)

Kementerian Dalam Negeri. 2016. Pedoman Penyusunan APBD Tahun Anggaran 2017 (Peraturan
Menteri Dalam Negeri Nomor 31 Tahun 2016)

Kementerian Dalam Negeri. 2016. Kebijakan Pengawasan di Lingkungan Kemendagri dan


Penyelenggaraan Pemda Tahun 2017 (Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 76 Tahun
2016)

Kementerian Dalam Negeri. 2017. Tata Cara Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan
Daerah, Tata Cara Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah, Serta Tata Cara
Perubahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah, Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah, dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (Peraturan Menteri
Dalam Negeri Nomor 86 Tahun 2017)

Kementerian Keuangan. 2015. Petunjuk Penyusunan dan Penelaahan Rencana Kerja dan Anggaran
Kementerian Negara/Lembaga dan Pengesahan DIPA (Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 196/PMK.02/2015 jo Peraturan Menteri Keuangan Nomor 143/PMK.02/2015)

Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara
Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah.

BPKP. 2015. Panduan Asistensi Reviu RKA SKPD dan RKA PPKD (Surat Edaran Deputi Kepala BPKP
Bidang Pengawasan PKD Nomor SE-02/D4/03/2015)~

Reviu RKA Pemda 73


74 2017 |Pusdiklatwas BPKP

Anda mungkin juga menyukai