ADEGAN 1 – PEMBUKAAN (4 Menit)
Lampu panggung redup. Musik gendang pelan. MC masuk dari sisi panggung dengan
busana adat Sasak.
MC: Selamat datang di desa adat Sasak, Lombok. Malam ini, kita akan melihat sebuah
kisah tentang Merariq, atau kawin lari–tradisi yang penuh makna. Merariq bukan pencurian
cinta. Ia adalah jalan adat, menghubungkan dua keluarga dengan hormat. Namun.. apa
yang terjadi jika cinta dihadang ambisi dan status? Inilah kisah Lalu dan Nyong.
MC mundur, lampu bergeser ke rumah Nyong. Lampu sorot menerangi penari-penari. Tarian
pembuka selama 2 menit
ADEGAN 2 - NYONG DAN LALU (4 Menit)
MC: Di kebun, Lalu dan nyong duduk bersebelahan di sebuah kursi tua. Gerak-gerik nyong
dan lalu resah.
Lalu: Nyong, sudah lama kita saling mencintai. Sudah lama kita berencana untuk
melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius. Namun orang tuamu tak kunjung
setuju.
Nyong: Mereka ingin menikahkanku dengan anak kepala dusun. Bukan kamu Lalu.. Mereka
bilang, kau tak pantas menikah denganku. Aku tau orang tuaku Lalu, mereka tidak akan
pernah merestui hubungan kita.
Nyong hampir menangis, dramatis. Lalu menatap nyong dengan sendu.
Lalu: Akan selalu ada jalan Nyong. Satu-satunya cara supaya mereka merestui adalah jika
kita... Merariq
Masuk 3 pemuda desa (teman-teman Lalu), melewati mereka dan menyapa serta
menggoda Lalu.
Pemuda 1: Aduh-aduh Lalu. Secinta ini dengan Nyong.
Pemuda 2: Hati-hati Lalu, kalau kau bawa lari gadis orang, adat harus dilakukan dengan
baik dan benar.
Pemuda 3: Betul itu, jangan gegabah kau Lalu!
Lalu: Aku tau. Tapi cintaku kepada Nyong. Tidak bisa dibendung lagi.
ADEGAN 3 - DISKUSI DENGAN ORANGTUA LALU (3 Menit)
Lalu sampai kerumah, dan memanggil Amaq dan Inaq. mereka duduk, berhadap-hadapan.
Lalu: Amaq, Inaq, aku ingin membawa Nyong malam ini. Kami.. akan melakukan Merariq.
Amaq dan inaq saling bertatap-tatapan. Serius serta sedikit khawatir.
Amaq: Kau siap hadapi resiko adat? Ini bukan sesuatu yang bisa kau ambil kembali lalu. Ini
bukan perkara main-main. Merariq bukan sekadar lari. Itu janji. Janji untuk menjaga
perempuan seumur hidup, bukan sekadar meminangnya. Siapkah kau, Lalu?"
Lalu: Aku serius Amaq. Aku akan menjalankan ini dengan benar-benar dan serius.
Aku...cinta sekali kepada Nyong.
Inaq menghela nafas. Ia lalu menenangkan Lalu. Tatapannya serius.
Inaq: Jika kau benar-benar serius, jangan sembunyi-sembunyi. Bawa ia dengan hormat, lalu
lapor ke tokoh adat.
Lalu: Baik, inaq.
ADEGAN 4 - MERARIQ (4 Menit)
Lampu remang. Suara jangkrik.
MC: Nyong keluar dari rumah, dibantu tiga gadis desa teman-teman Nyong, dan tiga
pemuda desa teman-teman Lalu untuk menjaga jalan.
Lalu muncul, menggenggam tangan Nyong.
Nyong: Aku percaya kepadamu, Lalu.
Lalu: Aku tak akan melepaskanmu. Ayo, Nyong. Kita tidak punya banyak waktu.
Mereka bergegas pergi. Abang nyong keluar dari dalam rumah, marah.
Abang Nyong: Nyong?! Ke mana kau?!
Pemuda-pemuda teman Lalu (voice overlapping): Ke arah sawah! Ke sana! Itu itu!
They point to the opposite side of where Lalu and Nyong went. Abang nyong serta ayah
nyong bergegas mengejar. Riweuh gitu.
ADEGAN 5 - MARAH MARAH (5-6 Menit)
MC: Keesokan harinya, balai desa heboh. Keluarga Nyong marah marah.
Amaq Nyong: Dia menculik anak perempuan saya! Ini memalukan! Ini adalah penghinaan!
Nyong sudah dijodohkan dengan anak kepala dusun, Teguh!
Inaq nyong mencoba menenangkan suaminya.
Amaq lalu: Amaq Nyong, ini bukan penculikan. Ini Merariq—adat Sasak. Lalu dan Nyong
saling mencintai, dan adat ini adalah cara mereka bersatu.
Amaq Nyong: Merariq?! Adat macam apa yang mengajarkan mengambil anak orang di
malam hari?!
Tokoh adat 1 berdiri, mengangkat tangan untuk menenangkan.
Tokoh Adat 1: Amaq Nyong, izinkan saya menjelaskan. Dalam adat Merariq, ketika seorang
gadis dibawa oleh pemuda yang ia cintai, itu bukan berarti ia dicuri. Keesokan harinya,
keluarga pihak laki-laki wajib datang ke rumah adat… membawa seserahan, menyampaikan
maksud, dan meminta restu.
Tokoh Adat 2: Tujuan Merariq justru melindungi kehormatan perempuan. Gadis yang dibawa
harus dijaga, tidak boleh disentuh sebelum pernikahan, dan proses ini melibatkan seluruh
tetua adat.
Amaq Nyong (marah): Lalu, bagaimana kalau gadis itu sebenarnya tidak mau? Bukankah
itu akan mencoreng nama keluarga?
Tokoh Adat 1: Itulah kenapa kita harus bertanya langsung pada Nyong. Jika ia tidak setuju,
adat menyatakan ia harus dipulangkan.
Kepala Dusun (mengangguk, memanggil): Nyong, maju ke tengah.
Nyong berjalan ke tengan
Kepala Dusun: Nyong, jawab dengan jujur. Apakah kau dibawa paksa, atau ini pilihanmu?"
Nyong (berdiri tegak, suara jelas): Aku memilih Lalu. Bukan karena aku ingin melawan
Amaq dan keluarga, tapi karena aku ingin menikah dengan hati, bukan hanya demi nama
besar.
Hening beberapa detik. Semua tokoh menunduk. Amaq Nyong terlihat terkejut dan perlahan
duduk kembali. Inaq Nyong menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca.
Tokoh Adat 2: Maka, sesuai adat, kita akan lanjut ke tahap berikut: keluarga Lalu akan
mengadakan selabar—melapor resmi, membawa seserahan, dan menentukan hari
pernikahan.
Kepala Dusun (dengan nada mantap): Baik, kita jaga kehormatan kedua keluarga. Malam
ini, kita telah sepakat, Merariq ini sudah sah secara adat."
Musik gendang pelan mulai lagi, tanda transisi menuju adegan pernikahan.
ADEGAN 6 (6 MENIT) - PERNIKAHAN
- Di tengah panggung, hamparan tikar rotan besar untuk upacara.
- Di sisi kanan, keluarga Lalu duduk bersama para pemuda desa.
- Di sisi kiri, keluarga Nyong duduk bersama gadis desa.
- Di belakang panggung, pemain gendang siap memainkan iram
- Seserahan berupa anyaman bambu berisi beras, kain songket, dan ayam kampung
diletakkan di depan keluarga Lalu.
Lampu menyala hangat, warna kuning keemasan. MC berdiri di tengah depan panggung,
tersenyum.
MC: Saudara-saudara.. Inilah puncak dari Merariq. Setelah keluarga pria melapor dan
meminta restu, kini mereka datang membawa seserahan. Bukan hanya tanda cinta, tapi
juga tanda tanggung jawab. Sebentar lagi.. dua hati akan dipersatukan dengan adat yang
agung.
MC mundur ke samping panggung. Kepala Dusun berdiri di tengah, mengisyaratkan kepada
pemain gendang. Musik mulai. Tarian singkat 2 menit. Setelah tarian, musik gendang pelan
terus mengiringi sebagai background.
Kepala Dusun: Keluarga Lalu, silakan sampaikan maksud kalian.
Ayah Lalu (bangkit, membawa seserahan ke tengah panggung): Kami datang… memohon
restu, dan melaksanakan adat sebagaimana mestinya.
Ibu Lalu: Lalu ingin mempersunting Nyong dengan penuh tanggung jawab.
Ayah Lalu menyerahkan seserahan kepada Amaq Nyong. Nyong berdiri di belakang
ayahnya, tersipu.
Lalu (melangkah maju, sedikit membungkuk hormat): Amaq, Inaq.. maafkan cara kami. Kami
hanya ingin menikah dengan adat. Aku berjanji akan menjaga Nyong seumur hidup.
Amaq Nyong (terdiam sejenak, menatap Nyong yang menunduk, lalu tersenyum lembut):
Kalau itu memang pilihanmu, dan adat dijalankan.
Amaq & Inaq Nyong: Kami Restui.
Inaq Nyong menghapus air mata, memeluk Nyong. Lalu dan Nyong saling menatap bahagia.
Tokoh Adat 1: Maka, mulai hari ini, kalian sah secara adat. Hidupkan rumah tangga dengan
saling menghormati, seperti adat Sasak mengajarkan.
Tokoh Adat 2: Dan ingat.. adat tidak hanya diucapkan, tapi dijalankan setiap hari.
Musik gendang sedikit menguat, penari membentuk lingkaran di sekeliling Lalu dan Nyong.
Mereka menari perlahan mengiringi pasangan, sambil senyum lebar.
MC: Inilah Merariq… bukan sekadar membawa pergi, tapi membawa pulang dengan
kehormatan.
Lampu mulai meredup, transisi menuju adegan penutup.
ADEGAN 7 (4 MENIT) - PENUTUP
Lampu perlahan naik. Musik gendang lembut terdengar, tempo lambat, memberi nuansa
sakral.
Kakek Tua berjalan perlahan ke tengah panggung, tongkat di tangan, menatap penonton.
Kakek tua: Anak-anak.. ingatlah, Merariq bukan sekadar lari membawa gadis. Ia adalah
janji.. janji menjaga cinta, kehormatan, dan persaudaraan antar keluarga. Jika adat
dijalankan dengan hati, maka damai yang tercipta.. dan cinta akan bertahan.
Ketika kakek tua sudah hampir selesai, semua pemain naik ke atas panggung. Kakek Tua
mundur perlahan, bergabung dengan tokoh lain (spotlight melebar, menyoroti semua). MC
melangkah maju satu langkah, tersenyum kepada penonton.
MC: Saudara-saudara.. Merariq adalah salah satu warisan terbesar Suku Sasak. Adat
adalah akar, tetapi cinta adalah air yang membuatnya hidup. Dan malam ini.. akar dan air itu
telah menyatu.
Lalu & Nyong (bersama-sama): Matur tampiasih – terima kasih. Salam adat Sasak untuk
semua!
Musik gendang kembali berbunyi cepat, semua pemain mengangkat tangan ke penonton
sambil tersenyum. Lampu perlahan meredup… hingga panggung gelap. Tersisa hanya
kakek tua.
Kakek Tua (dengan suara berat dan penuh wibawa):
Aik ite minum di dalam tempayan,
Jangan buang di tanah gersang.
Adat ite jaga sampai kapan,
Supaya anak cucu tetap sayang.
MC melangkah maju.
MC:
Air yang kita minum simpanlah di tempayan,
jangan dibuang di tanah kering.
Adat kita jaga sampai kapan pun,
agar anak cucu tetap menyayanginya.
On screen + kakek tua membacakan:
"Adat mame jari pelungguh, pelungguh mame jari adat."
[Adat adalah milik kita, dan kita adalah milik adat]
THE END