LAPORAN BIOS SETUP UTILITY PADA KOMPUTER LAB
Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah:
PRAKTIKUM HADWARE
Dosen Pengampu :
Givy Devira Ramady M.T
Disusun Oleh
Kelompok :
Euis Aisyah 2441013
Pebriyanti 2441037
Wina Meliana 2441049
Icang Ramdani 2441020
PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MANDALA
BANDUNG
2025
1. MAIN
Menu Main pada BIOS berfungsi untuk menampilkan informasi utama tentang sistem
komputer secara keseluruhan. Bagian ini digunakan untuk melihat data penting seperti
waktu, tanggal, jenis prosesor, kapasitas memori, versi BIOS, dan identitas perangkat.
Menu ini menjadi tempat pertama yang menampilkan kondisi dasar komputer sebelum
sistem operasi dijalankan, sehingga pengguna dapat memastikan bahwa seluruh
komponen utama telah terdeteksi dengan baik oleh BIOS.
1. System Time
Fitur ini berfungsi untuk menampilkan dan mengatur waktu sistem komputer. Pengguna
dapat mengubah jam agar sesuai dengan waktu sebenarnya. Pengaturan waktu ini
penting karena jika tidak sesuai, maka jadwal sistem, pencatatan log, dan proses
pembaruan perangkat lunak bisa terganggu.
2. System Date
Fitur ini digunakan untuk menampilkan serta mengatur tanggal pada sistem. Tanggal
yang benar sangat penting untuk sinkronisasi dengan sistem operasi, serta agar
pencatatan data dan proses pembaruan berjalan normal.
[Link] Name, System Family, dan Product Number
Ketiga fitur ini berfungsi untuk menampilkan identitas perangkat seperti nama model
komputer, seri, dan nomor produk. Informasi ini berguna untuk mengenali tipe
komputer, mencari driver yang sesuai, dan membantu teknisi saat melakukan perawatan
atau pembaruan BIOS.
[Link] Board ID
Fitur ini menampilkan identitas atau kode dari papan utama (motherboard) yang
2
digunakan komputer. Kode ini berguna untuk memastikan kesesuaian perangkat keras
serta membantu teknisi saat melakukan perbaikan atau penggantian komponen.
[Link] Type
Fitur ini menampilkan jenis dan kecepatan prosesor yang terpasang, misalnya Intel Core
i5-10400 dengan kecepatan 2.90 GHz. Informasi ini membantu pengguna mengetahui
kemampuan prosesor dan memastikan sistem dapat menjalankan perangkat lunak sesuai
kebutuhan.
[Link] Memory
Fitur ini menunjukkan jumlah RAM (Random Access Memory) yang terpasang pada
komputer. Melalui fitur ini, pengguna dapat memeriksa apakah kapasitas memori sudah
terdeteksi dengan benar dan sesuai dengan spesifikasi perangkat.
[Link] Vendor dan BIOS Revision
Kedua fitur ini menampilkan nama pembuat BIOS seperti AMI (American Megatrends
Inc) dan versi BIOS yang digunakan pada sistem. Informasi ini penting untuk
memastikan versi BIOS sudah terbaru, karena pembaruan BIOS sering kali
memperbaiki bug dan meningkatkan stabilitas sistem.
[Link] Firmware Revision
Fitur ini menampilkan versi firmware dari perangkat yang terhubung ke sistem. Dengan
mengetahui versi firmware, pengguna atau teknisi dapat memastikan bahwa perangkat
keras sudah diperbarui dengan versi terbaru agar kinerjanya optimal.
[Link] Number dan UUID (Universally Unique Identifier)
Fitur ini berisi identitas unik dari komputer. Nomor seri digunakan untuk garansi, servis,
dan registrasi perangkat, sedangkan UUID digunakan untuk mengenali komputer secara
unik dalam jaringan atau sistem manajemen perangkat.
[Link] Board CT Number
Fitur ini menampilkan nomor produksi khusus dari papan utama (motherboard).
Informasi ini biasanya digunakan oleh teknisi untuk proses perbaikan atau penggantian
komponen yang sesuai dengan versi perangkat keras.
[Link] Log
Fitur ini berfungsi mencatat riwayat peristiwa atau status perangkat keras. Catatan ini
membantu teknisi memeriksa kesalahan, gangguan, atau perubahan konfigurasi yang
3
pernah terjadi pada sistem.
[Link] ID
Fitur ini menampilkan identitas versi build BIOS dan sistem komputer. Informasi ini
membantu teknisi atau produsen memastikan bahwa konfigurasi BIOS sesuai dengan
versi perangkat yang digunakan.
[Link] Byte
Fitur ini menunjukkan kode konfigurasi khusus yang mewakili fitur-fitur aktif dalam
sistem. Kode ini digunakan oleh produsen atau teknisi untuk memastikan perangkat
berjalan sesuai dengan fitur bawaan yang dimiliki.
Secara keseluruhan, menu Main pada BIOS berfungsi sebagai pusat informasi dasar
komputer. Menu ini menampilkan kondisi perangkat keras seperti prosesor, RAM,
motherboard, dan versi BIOS untuk memastikan semua komponen berfungsi dan
terdeteksi dengan baik sebelum sistem operasi dijalankan.
2. SECURITY
Menu Security pada BIOS (Basic Input/Output System) adalah pusat kendali untuk
semua fitur keamanan perangkat keras dan sistem autentikasi komputer. Fungsinya
adalah untuk melindungi sistem dari akses yang tidak sah dan mengelola integritas
perangkat keras (seperti chip TPM dan periferal USB) pada level yang paling mendasar
sebelum sistem operasi dimuat.
1. Administrator Password
Opsi ini digunakan untuk melindungi pengaturan BIOS itu sendiri. Jika kata sandi ini
diaktifkan, hanya pengguna yang mengetahuinya yang dapat mengakses atau mengubah
konfigurasi di BIOS Setup Utility. Fungsinya adalah untuk menjaga integritas
4
konfigurasi perangkat keras (hardware) dari perubahan yang tidak sah.
2. Power-On Password
Fitur ini berfungsi untuk mengunci komputer segera setelah dinyalakan. Setiap kali PC
dihidupkan, pengguna diwajibkan untuk memasukkan kata sandi sebelum proses
booting ke sistem operasi dimulai. Fungsinya adalah untuk mencegah akses fisik yang
tidak terotorisasi ke komputer secara menyeluruh.
3. Stringent Password
Pilihan ini digunakan untuk menentukan tingkat keamanan dan kompleksitas dari kata
sandi BIOS. Jika diaktifkan, sistem akan mewajibkan penggunaan kata sandi yang lebih
kuat, seperti kombinasi huruf besar, huruf kecil, angka, dan simbol. Fungsinya adalah
untuk meningkatkan keamanan kata sandi terhadap upaya tebakan atau serangan brute
force.
4. Intel Software Guard Extensions (SGX)
Merupakan fitur keamanan berbasis perangkat keras dari Intel yang bertujuan
melindungi data sensitif yang sedang diproses. Fitur ini menciptakan area memori
khusus yang terisolasi, disebut enclave. Fungsinya adalah untuk menjaga kerahasiaan
data tingkat tinggi dari malware atau perangkat lunak berbahaya yang mencoba
mengaksesnya.
5. TPM Device (Trusted Platform Module)
Opsi ini mengacu pada chip keamanan fisik yang berfungsi menyimpan kunci enkripsi,
sertifikat digital, dan informasi autentikasi perangkat. Fungsinya adalah menjadi fondasi
keamanan bagi sistem operasi, serta mendukung fitur-fitur seperti BitLocker Drive
Encryption dan Windows Hello.
6. TPM State
Opsi ini digunakan untuk mengaktifkan (Enabled) atau menonaktifkan (Disabled) fungsi
chip TPM di komputer. Fungsinya adalah memberikan kontrol penuh kepada pengguna
untuk menentukan apakah ingin memanfaatkan fitur keamanan yang bergantung pada
TPM.
7. Clear TPM
Opsi ini digunakan untuk menghapus seluruh data yang tersimpan di dalam chip TPM,
termasuk kunci enkripsi dan sertifikat autentikasi. Tindakan ini harus dilakukan dengan
hati-hati karena data terenkripsi dapat menjadi tidak dapat diakses. Fungsinya adalah
5
untuk membersihkan chip TPM sepenuhnya, biasanya dilakukan sebelum komputer
dijual atau dipindahtangankan.
8. Restore Security Settings to Factory Defaults
Opsi ini berfungsi untuk mengembalikan seluruh pengaturan keamanan BIOS ke
kondisi awal pabrik, seperti saat komputer pertama kali digunakan. Fungsinya adalah
untuk memperbaiki kesalahan konfigurasi keamanan yang tidak disengaja atau untuk
menghapus seluruh pengaturan keamanan secara cepat.
9. Device Security
Bagian ini memberikan kontrol terhadap keamanan perangkat internal yang terpasang
pada motherboard. Pengguna dapat mengaktifkan atau menonaktifkan perangkat
tertentu, seperti port jaringan, kartu suara, atau komponen onboard lainnya. Fungsinya
adalah untuk membatasi penggunaan perangkat tertentu guna memenuhi kebijakan
keamanan sistem.
10. USB Security
Opsi ini memungkinkan pengguna mengatur izin penggunaan port USB pada komputer.
Pengguna dapat memilih untuk menonaktifkan seluruh port USB. Fungsinya adalah
untuk mencegah booting dari perangkat eksternal seperti flash drive atau HDD, serta
mencegah pencurian data melalui perangkat USB.
11. Slot Security
Menu ini digunakan untuk mengelola keamanan pada slot ekspansi internal seperti PCI
Express (PCIe). Fungsinya adalah untuk mencegah pemasangan perangkat tambahan
yang tidak sah atau berpotensi membahayakan integritas dan keamanan sistem.
12. Hard Drive Utilities
Bagian ini berisi alat bantu untuk mengatur keamanan yang langsung terhubung dengan
media penyimpanan seperti hard drive atau SSD. Fungsinya adalah untuk mengunci
atau mengenkripsi drive di level BIOS menggunakan ATA Password, sehingga drive
tidak dapat diakses tanpa otorisasi, bahkan jika dipindahkan ke komputer lain.
6
3. CONFIGURATION
Menu Configuration – BIOS Setup Utility HP
1. Language
Menentukan bahasa tampilan antarmuka BIOS.
Pilihan: English (default), French, Spanish, dan lain-lain.
Fungsi: hanya untuk kenyamanan pengguna, tidak memengaruhi kinerja sistem.
2. Virtualization Technology
Mengaktifkan atau menonaktifkan fitur Intel VT-x (Virtualization Technology).
Fungsi: memungkinkan sistem menjalankan mesin virtual seperti VMware,
VirtualBox, atau Hyper-V dengan performa optimal.
Enabled: disarankan jika menggunakan software virtualisasi.
Disabled: dapat menambah keamanan jika virtualisasi tidak dibutuhkan.
3. SATA Emulation
Menentukan mode komunikasi antara hard drive atau SSD SATA dengan sistem
operasi.
Pilihan umum:
AHCI: mode standar modern untuk performa dan kompatibilitas OS baru.
RAID: mengaktifkan mode RAID (gabungan beberapa disk untuk kecepatan atau
keamanan).
IDE: mode lama untuk OS lawas.
Fungsi: menentukan cara sistem mengenali dan berinteraksi dengan penyimpanan
SATA.
4. POST Messages
7
(Post = Power-On Self Test)
Enabled: menampilkan pesan diagnostik saat booting (informasi RAM, disk, error
hardware).
Disabled: hanya menampilkan logo HP.
Fungsi: membantu pengguna atau teknisi melihat detail proses awal boot untuk
troubleshooting.
5. After Power Loss
Menentukan apa yang dilakukan komputer setelah listrik padam dan kembali menyala.
Pilihan:
Off: komputer tetap mati.
On: komputer otomatis menyala.
Previous State: menyesuaikan kondisi sebelum mati listrik.
Fungsi: penting untuk server atau PC industri yang perlu menyala otomatis setelah
padam listrik.
6. Remote Wakeup Boot Source
Menentukan sumber boot saat komputer dihidupkan dari jarak jauh (Wake on LAN).
Pilihan umum: Local Hard Drive, Network Controller.
Fungsi: digunakan untuk komputer jaringan yang bisa dinyalakan melalui sinyal
jaringan.
7. Make on LAN Power-On Password Policy
Menentukan apakah dibutuhkan password BIOS untuk menyalakan komputer melalui
LAN (Wake on LAN).
Fungsi: memberikan keamanan tambahan agar tidak sembarang perangkat bisa
menghidupkan komputer dari jaringan.
8. Scheduled Power-On
Menjadwalkan komputer agar otomatis menyala pada waktu tertentu (hari atau jam
yang diatur).
Fungsi: digunakan untuk komputer kantor, laboratorium, atau server yang perlu
menyala otomatis setiap hari kerja.
9. Num Lock State at Power-On
8
Menentukan status tombol Num Lock ketika komputer dinyalakan.
On: Num Lock aktif (angka di keypad bisa langsung digunakan).
Off: Num Lock nonaktif.
Fungsi: kenyamanan pengguna saat menggunakan keypad numerik.
10. S4/S5 Wake on LAN
Mengatur apakah komputer dapat dihidupkan dari kondisi S4 (hibernasi) atau S5
(mati total) menggunakan sinyal jaringan (Wake on LAN).
Fungsi: memungkinkan pengelolaan komputer dari jarak jauh oleh administrator
jaringan.
11. Device Options
Sub-menu yang berisi berbagai pengaturan tambahan perangkat keras.
Biasanya mencakup:
Enable atau disable port (USB, audio, LAN, serial, parallel).
Integrated camera, Bluetooth, SD card, dan lainnya.
Fungsi: mengatur fitur perangkat keras internal sesuai kebutuhan.
12. Thermal
Sub-menu pengaturan sistem pendinginan.
Biasanya berisi:
Fan always on.
Thermal control mode (balanced, performance, quiet).
Fungsi: menjaga suhu komponen agar tetap aman dan menyesuaikan performa kipas.
13. UEFI HII Configuration
HII (Human Interface Infrastructure).
Fungsi: menyediakan antarmuka konfigurasi tambahan untuk perangkat UEFI seperti
kartu jaringan, penyimpanan, atau driver firmware yang bisa dikonfigurasi langsung
dari BIOS.
14. Runtime Power Management
Mengatur apakah sistem boleh menurunkan konsumsi daya perangkat saat sedang
tidak digunakan (runtime).
Fungsi: membantu menghemat energi saat sistem dalam keadaan idle.
9
15. Idle Power Savings
Menentukan tingkat penghematan daya saat sistem tidak aktif.
Pilihan:
Extended: hemat daya maksimal.
Normal: penghematan sedang.
Fungsi: efisiensi energi dan menjaga suhu tetap rendah saat komputer tidak
digunakan.
16. SATA Power Management
Mengatur apakah port SATA akan mengurangi konsumsi daya saat tidak aktif.
Fungsi: memperpanjang umur hard disk atau SSD dan menurunkan konsumsi daya
total.
4. BOOT OPTION
Menu Boot Options pada BIOS (Basic Input/Output System) adalah bagian yang
mengatur urutan dan cara sistem komputer memulai proses booting. Menu ini
mengontrol perangkat mana yang akan digunakan untuk memuat sistem operasi, serta
menyediakan pengaturan keamanan dan kompatibilitas selama proses startup. Fungsinya
adalah untuk menentukan prioritas dan sumber boot, serta memastikan komputer dapat
melakukan booting dengan benar sesuai kebutuhan pengguna.
1.. POST Hotkey Delay (sec)
Opsi ini menentukan waktu tunda (delay) sebelum sistem menjalankan proses POST
(Power On Self Test) setelah komputer dinyalakan. Fungsinya adalah memberikan
kesempatan bagi pengguna untuk menekan tombol tertentu (seperti F9, F10, atau Esc)
10
untuk masuk ke menu BIOS atau memilih perangkat boot.
2. USB Boot
Opsi ini digunakan untuk mengaktifkan atau menonaktifkan kemampuan komputer
melakukan boot dari perangkat USB, seperti flash drive atau hard disk eksternal.
Fungsinya adalah memungkinkan instalasi sistem operasi atau pemulihan sistem melalui
media USB.
3. Network Boot
Fitur ini berfungsi untuk mengaktifkan kemampuan booting dari jaringan
menggunakan protokol PXE (Preboot eXecution Environment). Fungsinya adalah
memungkinkan komputer memuat sistem operasi dari server jaringan, biasanya
digunakan di lingkungan perusahaan atau laboratorium.
4. Network Boot Protocol
Pilihan ini menentukan jenis protokol jaringan yang digunakan saat melakukan
Network Boot, yaitu IPv4, IPv6, atau keduanya. Fungsinya adalah untuk menyesuaikan
metode komunikasi jaringan yang digunakan selama proses booting melalui LAN.
5. Secure Boot
Opsi ini adalah fitur keamanan yang memastikan hanya perangkat lunak dengan tanda
tangan digital resmi yang dapat dijalankan selama proses boot. Fungsinya adalah untuk
mencegah malware atau sistem operasi yang tidak sah memodifikasi proses startup
komputer.
6. Platform Key
Opsi ini menunjukkan status kunci keamanan yang digunakan oleh sistem untuk
memvalidasi Secure Boot. Fungsinya adalah memastikan sistem hanya mempercayai
software dan firmware yang telah disertifikasi oleh vendor resmi.
7. Pending Action
Menu ini menampilkan tindakan yang sedang menunggu penerapan terkait
pengaturan Secure Boot, seperti perubahan kunci keamanan. Fungsinya adalah
memberikan informasi kepada pengguna sebelum perubahan diterapkan.
8. Clean All Secure Boot Keys
Opsi ini digunakan untuk menghapus seluruh kunci keamanan yang tersimpan di
sistem Secure Boot. Fungsinya adalah untuk membersihkan konfigurasi keamanan
11
UEFI sepenuhnya, biasanya dilakukan saat ingin mengganti sistem operasi atau
memperbarui firmware.
9. Load HP Factory Default Keys
Opsi ini berfungsi untuk mengembalikan kunci keamanan Secure Boot ke kondisi
bawaan pabrik HP. Fungsinya adalah memulihkan konfigurasi keamanan standar
apabila terjadi kesalahan atau perubahan yang tidak diinginkan.
10. UEFI Boot Order
Bagian ini menentukan urutan prioritas perangkat yang akan digunakan komputer
untuk booting. Fungsinya adalah mengatur dari mana sistem operasi pertama kali akan
dijalankan.
-OS Boot Manager: Memuat sistem operasi dari hard disk utama.
-Internal CD/DVD ROM Drive: Melakukan boot dari media optik seperti CD atau DVD
internal.
-USB Flash Drive/USB Hard Disk: Mengizinkan boot dari media USB eksternal.
-USB CD/DVD ROM Drive: Boot dari CD/DVD eksternal melalui USB.
-Network Adapter: Melakukan boot dari server jaringan menggunakan PXE Boot.
Fungsi keseluruhan dari menu Boot Options adalah untuk memberikan kendali penuh
kepada pengguna dalam menentukan sumber dan metode booting sistem, baik untuk
instalasi, pemulihan, maupun pengaturan keamanan startup komputer.
5. EXIT
Menu Exit adalah bagian terakhir dalam BIOS Setup Utility yang berfungsi untuk
12
mengatur cara keluar dari BIOS, baik dengan menyimpan, membatalkan, atau
mengembalikan konfigurasi yang telah dilakukan selama berada di menu BIOS.
Secara sederhana, menu ini adalah tempat untuk menyimpan keputusan akhir
setelah pengguna selesai melakukan pengaturan pada BIOS.
1. Save Changes and Exit
Opsi ini digunakan untuk menyimpan semua perubahan yang telah dilakukan di BIOS,
kemudian keluar dari BIOS Setup Utility. Setelah memilih opsi ini, sistem akan
melakukan restart dan menerapkan pengaturan baru yang sudah disimpan. Fungsi
utamanya adalah agar semua konfigurasi yang sudah diubah dapat langsung diterapkan
ketika komputer dinyalakan kembali.
2. Ignore Changes and Exit
Opsi ini digunakan untuk keluar dari BIOS tanpa menyimpan perubahan yang telah
dilakukan. Semua pengaturan akan tetap seperti sebelumnya, seolah tidak ada yang
diubah. Fitur ini berguna ketika pengguna ingin membatalkan perubahan sementara
tanpa memengaruhi konfigurasi BIOS yang lama.
3. Load Setup Defaults
Opsi ini berfungsi untuk mengembalikan semua pengaturan BIOS ke kondisi standar
pabrik atau default. Biasanya digunakan ketika ada kesalahan dalam pengaturan yang
menyebabkan sistem menjadi tidak stabil. Dengan menggunakannya, sistem akan
kembali ke konfigurasi aman seperti saat pertama kali digunakan.
4. Apply Defaults and Exit
Opsi ini memiliki dua fungsi sekaligus, yaitu mengembalikan semua pengaturan BIOS
ke nilai default dan langsung keluar dari BIOS setelah itu. Fitur ini memudahkan
pengguna karena tidak perlu melakukan dua langkah terpisah untuk memulihkan
pengaturan pabrik dan keluar dari BIOS.
5. Save Current Settings as Defaults
Opsi ini digunakan untuk menyimpan konfigurasi BIOS yang sedang aktif sebagai
pengaturan default baru. Jadi, ketika nanti pengguna memilih Load Setup Defaults,
sistem akan memuat pengaturan saat ini, bukan pengaturan bawaan pabrik. Fitur ini
cocok bagi pengguna yang sudah menyesuaikan BIOS sesuai kebutuhan dan ingin
menjadikannya pengaturan dasar.
6. Restore Factory Settings as Defaults
13
Opsi ini digunakan untuk mengembalikan default BIOS ke pengaturan asli dari
pabrikan. Artinya, jika sebelumnya pengguna pernah menetapkan konfigurasi custom
sebagai default, maka pengaturan tersebut akan dihapus dan diganti kembali dengan
pengaturan pabrik. Fungsinya adalah memastikan BIOS kembali ke kondisi awal yang
disediakan produsen perangkat.
14