0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan8 halaman

Model Data Raster dan Vektor dalam SIG

Diunggah oleh

nurulshabiha43
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan8 halaman

Model Data Raster dan Vektor dalam SIG

Diunggah oleh

nurulshabiha43
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1.

Model Data Raster


a. Model data raster mempunyai struktur data yang tersusun dalam bentuk matriks atau piksel dan
membentuk grid.
b. Setiap piksel memiliki nilai tertentu dan memiliki atribut tersendiri, termasuk nilai koordinat yang unik.
c. Tingkat keakurasian model ini sangat tergantung pada ukuran piksel atau biasa disebut dengan resolusi.
d. Model data ini biasanya digunakan dalam remote sensing yang berbasiskan citra satelit maupun airborne
(pesawat terbang).
e. Selain itu model ini digunakan pula dalam membangun model ketinggian digital (DEMEDigital Elevation
Model) dan model permukaan digital (DTMEDigital Terrain Model)
a. Struktur Penyimpanan Model Data Raster : Karakteristik utama data raster adalah bahwa dalam setiap sel/piksel
mempunyai nilai. Nilai sel/piksel merepresentasikan fenomena atau gambaran dari suatu kategori. Nilai
sel/piksel dapat memiliki nilai positif atau negatif, integer, dan floating point untuk dapat merepresentasikan
nilai cotinuous.
Keuntungan menggunakan model data raster :
• Memiliki struktur data yang sederhana, bentuk sel matriks dengan nilainya dapat merepresentasikan koordinat
dan kadangkala memiliki link dengan tabel atribut.
• Format yang sangat cocok untuk dapat melakukan analisis statistik dan spasial.
• Mempunyai kemampuan dalam merepresentasikan data Edata yang bersifat continous seperti dalam
memodelkan permukaan bumi.
• Memiliki kemampuan untuk menyimpan titik (point), garis (line), area (polygon), dan permukaan (surface)
• Memiliki kemampuan dalam melakukan proses tumpangE tindih (overlay) secara lebih cepat pada data yang
kompleks
Pertimbangan dalam menggunakan model data raster :
• Terdapat beberapa keterbatasan masalah akurasi dan presisi data terutama dalam pada saat menentukan ukuran
sel/piksel.
• Data raster sangat berpotensial dalam menghasilkan ukuran file yang sangat besar. Peningkatan resolusi akan
meningkatan ukuran data, hal ini akan berdampak pada penyimpanan data dan kecepatan proses. Hal ini akan
sangat bergantung kepada kemampuan hardware yang akan digunakan.
Pemanfaatan model data raster (menurut ESRI) :
Raster sebagai peta dasar : Data raster Biasanya digunakansebagai tampilan latar belakang(background) untuk
suatu layer dari obyek yang lain (vektor). Tiga sumber utama dari peta dasar raster adalah foto udara, citra satelit,
dan peta hasil scan.
Raster sebagai peta model permukaan : Data raster sangat cocok untuk merepresentasikandata permukaanbumi.
Data dapat menyediakan metode yang efektif dalam menyimpan informasi nilai ketinggian yang diukur dari
permukaan bumi. Selain dapat merepresentasikan permukaan bumi, data raster dapatp ula merepresentasikan curah
hujan, temperatur, konsentrasi, dan kepadatan populasi.
Raster sebagai peta tematik : Data raster yang merpresentasikan peta tematik dapat diturunkan dari hasil analisis
data lain. Aplikasi analisis yang sering digunakan adalah dalam melakukan klasifikasi citra satelit untuk
menghasilkan kategori tutupan lahan (land cover). Pada dasarnya aktifitas yang dilakukan adalah mengelompokan
nilai dari data multispektral kedalam kelas tertentu (seperti tipe vegetasi) dan memberikan nilai terhadap kategori
tersebut. Peta tematik juga dapat dihasilkan dari operasi geoprocessing yang dikombinasikan dari berbagai macam
sumber, seperti vektor, raster, dan data permukaan. Contoh peta kesesuaian lahan.
Raster sebagai atribut dari obyek : Data raster dapat pula digunakan sebagai atribut dari suatu obyek, baik dalam
foto digital, dokumen hasil scan atau gambar hasil scan yang mempunyai hubungan dengan obyek geografi atau
lokasi. Sebagai contoh dokumen kepemilikan persil dapat ditampilkan sebagai atribut obyek persil (sertifikat
tanah).
2. Data Vektor
Model data vektor merepresentasikan setiap fitur ke dalam baris dala tabel dan bentuk fitur didefinisikan dengan
titik x, y dalam space. Fitur
fitur dapat memiliki cirimciri yang berbeda lokasi atau titik, garis atau polygon
Topologi – Non Topologi
• Topologi, biasa digunakan dalam analisis spasial dalam SIG. Topologi merupakan model data vektor yang
menunjukan hubungan spasial diantara obyek spasial. Salah satu contoh analisis spasial yang dapat dilakukan
dalam format topologi adalah proses tumpang tindih (overlay) dan analisis jaringan (network analysis) dalam
SIG
• NonEtopologi digunakan dalam menampilkan atau memproses data spasial yang sederhana dan tidak terlalu
besar ukuran filenya. Dalam ESRI fomat nonEtopologi adalah dalam bentuk shapefile, sedangkan format
dalam bentuk topologi adalah coverage.
Topologi
Data Sederhana (Simple Data) yang merupakan representasi data yang mengandung tiga jenis data 1. Titik (point),
2. Garis (line), 3. Poligon (polygon)
Data Tingkat Tinggi (Higher Data Level), dikembangkan lebih jauh dalam melakukan pemodelan secara tiga
dimensi (3 Dimensi/3D). TIN, Region dan Dinamic Segmentation
1. Titik (point) Titik adalah representasi grafis yang paling sederhana untuk suatu obyek. Contoh Lokasi Fasilitasi
Kesehatan, Lokasi Fasilitas Pendidikan
2. Garis Garis adalah bentuk linier yang akan menghubungkan paling sedikit dua titik dan digunakan untuk
mempresentasikan obyek obyek dua dimensi. Obyek atau entitas yang dapat direpresentasikan dengan garis antara
lain jalan, sungai, jaringan listrik, saluran air.
3. Polygon digunakan untuk merepresentasikan obyek- obyek dua dimensi, misalkan: Pulau, wilayah administrasi,
batas persil tanah adalah entitas yang ada pada umumnya direpresentasikan sebagai poligon. Satu poligon paling
sedikit dibatasi oleh tiga garis di antara tiga titik yang saling bertemu membentuk bidang. Poligon mempunyai sifat
spasial luas, keliling terisolasi atau terkoneksi dengan yang lain, bertakuk (intended), dan overlapping.
Topologi (Higer Level Data)
• TIN (Triangulated Irregular Network). Contoh Model Permukaan Bumi Digital (Digital Terrain Model/DTM).
• Region, merupakan sekumpulan poligon, dimana masingEmasing poligon tersebut dapat atau tidak mempunyai
keterkaitan diantaranya akan tetapi saling bertampalan dalam satu data set.
• Dynamic Segmentation, adalah model data yang dibangun dengan menggunakan segmen garis dalam rangka
membangun model jaringan (network).

3. Sumber Data
Sumber data SIG adalah informasi yang berkaitan dengan cara memperoleh data yang akan diproses dalam tahapan
kerja SIG. Sumber data pada SIG adalah data lapangan, data peta, dan data penginderaan jauh.
Data dasar yang dimasukkan dalam SIG:
• Data pengindraan jauh (remote sensing) adalah data dalam bentuk citra dan foto udara atau nonfoto.
• Data lapangan (teristris), yaitu data yang diperoleh secara langsung melalui hasil pengamatan di lapangan
karena data ini tidak terekam dengan alat penginderaan jauh. Misalnya, batas administrasi dll
• Data peta (map), yaitu data yang telah terekam pada kertas atau film. Misalnya, peta geologi atau peta jenis
tanah yang akan digunakan sebagai masukan dalam SIG, kemudian dikonversikan (diubah) ke dalam bentuk
digital.
• Data statistik (statistic), yaitu data hasil catatan statistik dalam bentuk tabel, laporan, survei lapangan, dan
sensus penduduk. Data statistik diperoleh dari lembaga swasta atau instansi resmi pemerintah, seperti Biro
Pusat Statistik (BPS). Data statistik merupakan data sekunder, yaitu data yang telah mengalami pengolahan
lebih lanjut.
Sumber Data Primer dan Sekunder GIS
• Data Primer : Data yang diukur langsung dengan survey, pengumpulan data lapangan (menggunakan teknik
sampling), penginderaan jauh.
• Data Sekunder Data yang didapat dari peta yang sudah ada, tabel-tabel atau sumber data yang lain
Sumber Data Peta Analog
• peta Analog (secara lain peta topografi, peta tanah) Peta analog adalah peta dalam bentuk cetakan. Pada
umumnya peta analog dibuat dengan teknik kortografi, sehingga sudah mempunyai referensi spasial seperti
koordinat, skala, arah mata angin .Peta analog mempunyai kelebihan yaitu penggunaannya tidak tergantung
oleh teknologi, lebih cepat untuk ditampilkan, dan mukh dişatami oleh orang lain.
Sumber Data Foto Udara dan citra satelit
• Citra satelit adalah gambaran permukaan bumi hasil perekaman satelit yang berada di luar angkasa berjarak
ratusan kilometer dari bumi sedangkan Foto udara adalah peta foto didapat dari survel udara dengan melakukan
pemotretan lewat udara pada daerah tertentu dengan aturan ditogrametris tertentu. Sebagai gambaran pada foto
dikenal ada 3 (tiga) jenis yaitu foto tegak, foto miring dan foto sangat miring
Keuntungannya, penggunaan foto udara
 menghasilkan gambar/citra yang lebih detail (resolusi sekitar 15cm),
 tidak terkendala awan, karena pengoperasiaannya pada ketinggian di bawah awan.
Kelemahannya, foto udara terdiri dari
 kumpulan scene kecil yang banyak, terlebih lagi untuk pemotretan dengan area yang sangat luas. Pengoperasian
foto udara juga sangat tergantung dari cuaca, seperti faktor angin. Misalnya untuk penggunaan UAV, hasil foto
udara kurang bagus jika tiupan angin terlalu kencang, karena hasil pemotretan kurang stabil.
Manfaat dan kegunaan sumber data foto udara:
 Untuk mengatahui persebaran sumber daya alam disuatu wilayah.
 Untuk mengetahui keadaan suatu wilayah.
 Untuk mengathui perubahan wilayah oleh gejala alam seperti letusan gunung berapi, tanah longsor, dan lain-lain.
 Untuk mengetahui pencemaran oleh limbah.
 Dapat mengetahui gejala cuaca dan iklim dengan mudah
Keuntungan dari citra satelit,
 Biaya secara umum jauh lebih murah dibandingkan dengan foto udara,
 Tingkat akurasi geometrik lebih baik, meskipun tanpa menggunakan titik ikat dari lapangan (GCP).
 Untuk area yang luas, citra satelit tidak memerlukan scene yang banyak, karena ukuran scene pada citra satelit
sangat luas, sehingga tidak perlu melakukan mosaicking yang ribet.
 Band yang dihasilkan dari foto satelit sangat bervariasi. Sebagai contoh WorldView-2 memiliki 8 band.
Kekurangan dari penggunaan citra satelit adalah
 penggunaannya sangat tergantung cuaca, seperti hujan, awan, dan kabut. Karena pengoperasian dari luar
angkasa, pemotretan masih belum bisa menembus awan.
Pengukuran dengan GPS
GPS (Global Positioning System) adalah sistem navigasi yang menggunakan satelit yang didesain agar dapat
menyediakan posisi secara instan, kecepatan dan informasi waktu di hampir semua tempat di muka bumi, setiap saat
dan dalam kondisi cuaca apapun.
INPUT DATA MELALUI SCANNER scanner bertugas sebagai perangkat input yang mengambil data dari dokumen
fisik dan mengonversivya menjadi format figital
INPUT DATA MELALUI DIGITIZER Alat yg digunakan utk mengubah data dari data analog menjadi data digital.
PROSES DIGITASI PETA
Digitasi adalah proses pembentukan data yang berasal dari data raster menjadi data vektor. Dalam pemetaan digital,
data vektor banyak digunakan sebagai dasar analisis dan berbagai proses. Peta digital merupakan peta data grafis,
data tekstual, dan segala attributnya tersimpan pada komputer (dalam format digital). Jenis peta ini mulai
dikembangkan pada era 80-an, seiring dengan perkembangan teknologi komputer. Jenis data digitalnya sendiri
biasanya terdiri atas dua jenis, yakni :
1. Data Vektor
Tiap detail alam digambarkan sebagai sebuah entitas yang berupa garis dengan arah tertentu (vektor) atau titik.
Detail luasan digambarkan sebagai area yang dibatasi oleh garis penutup. Sebuah detail jalan, misalnya, dapat
didefinisikan sebagai satu entitas garis. Kondisi demikian memungkinkan kita untuk mengelompokkan detail/entitas
tertentu pada lapisan (layer) tertentu sehingga sangat memudahkan manajemen basis data.
2. Data Raster
Data dibagi dalam petak-petak kecil yang masing-masing memiliki karakter spesifik (warna, intensitas, pola,
tektstur). Besarnya petakan tergantung resolusi gambar, yang dalam hal ini tergantung pada media asli (muka bumi,
peta, atau foto) dan alat perekamnya (satelit, kamera digital, atau scanner). Analisis spasial dapat ditangani lebih
mudah pada peta raster, namun sisi kartografinya kurang baik serta sulit pula umtuk menangani objek dalam definisi
garis (jalan, sungai, dan batas – batas vegetasi).
Tahapan Pemetaan Digital
• Pemetaan digital merupakan penggambaran permukaan bumi dengan menggunakan komputer dan data
koordinat.
• Peta yang dihasilkan dari pemetaan digital disebut peta digital.
• Proses pembuatan peta digital dikenal dengan proses digitasi (digitising). Digitising dapat didefinisikan sebagai
proses konversi data atau peta dari media kertas ke format digital. Format dari peta digital dapat berupa data
raster dan data vector.
• Data raster adalah semua data digital yang didapat dari hasil scanning. Sedangkan data vektor adalah data raster
yang telah mengalami pengolahan dengan komputer.
Proses Dalam Digitasi Peta:
1. Data raster (gambar peta dasar) yaitu menambah data gambar ke dalam Archview, File > Data di toolbar menu,
kemudian memilih gambar yang akan di digitasi.
2. Meregistrasi data raster yaitu dilakukan setelah peta tampil, tujuannya untuk memberikan skala yang benar
pada !itra dengan jalan memberikan koordinat bumi kepada citra.
3. Membuat shapefile (file .shp) yaitu dengan mengidentifikasi terlebih dahulu objek-objek yang akan didigitasi.
Setelah objek teridentifikasi, buatlah shapefile untuk Masing-masing kategori objek.
4. Melakukan proses digitasi yaitu dilakukan setelah shapefile dibuat, selanjutnya tambahkan shapefile-shapefile
yang akan didigitasi, mengunakan tombol add data.
5. Memasukkan data atribut. Data atribut memberikan gambaran atau menjelaskan informasi berkaitan dengan fitur
peta atau Coverage SIG. Data atribut dapat disimpan dalam format angka maupun karakter. Pada Sistem
Informasi Geografis di Arcview, data atribut dihubungkan dengan data spasial melalui identifier atau sering
disingkat ID yang terkait di fitur.
6. Menghasilkan data vektor yang akan digunakan untuk overlay. Data vektor merupakan bentuk bumi yang
direpresentasikan ke dalam kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir
pada titik yang sama), titik dan nodes merupakan titik perpotongan antara dua buah garis.
 sebelumnya) terlebih dahulu agar image hasil scan sudah memiliki koordinat sesuai dengan aslinya.
Digitazi peta
1. Pertama - tama, siapkan sebuah peta suatu pulau. Disini saya menggunakan peta pulau Bali yang berkstensi .jpg
2. Kemudian, peta tersebut diedit dengan menggunakan aplikasi Paint, untuk membuat garis bantu yang tertimpa
oleh legenda peta tersebut.
3. Setelah selesai, kita mulai membuka aplikasinya, disini saya menggunakan Arcview GIS 3.3. Setelah terbuka
anda pilih create new project lalu klik OK
4. Kemudian, di pojok kiri atas pilih file > Extensions, lalu centang lah semua ekstensi seperti yang ada di bawah
ini, jika anda tidak melihat Register and Transform Tool, pastikan anda sudah mendownload file ekstensi
tersebut yang anda bisa cari dari internet ([Link]), lalu simpan di folder C:\Program Files (x86)\ESRI\
ArcView GIS 3.3\AV_GIS30\ARCVIEW\EXT32. Jika sudah tercentang semua klik OK.
5. Setelah itu, kita munculkan gambar yang sudah kita edit tadi, dengan cara memilih Add Theme, carilah file
gambar peta tersebut, lalu klik OK.
6. Kemudian, kita harus menset Map Units menadi decimal degress dan Distance Unit (boleh meter/km/cm) dengan
mengikuti langkah berikut
7. Kemudian kita harus meregistrasi titik terlebih dahulu, disinilah gunanya kita membuat garis bantu diawal tadi,
supaya lebih mudah dalam menentukan titik – titik yang berpotongan tersebut. Langkah awalnya adalah sebagai
berikut.
8. Kemudian kita diperhatikan, di peta ini terdapat 18 titik potong, kita harus mengregistrasikan semua titik tersebut
satu – satu dengan cara menzoom peta, agar mendapatkan hasil yang lebih presisi, dan mengurangi error.
Caranya adalah dengan memilih simbol dipojok kiri atas, lalu klik di titik yang berpotongan secara tepat dan
akurat, dan memberikan sudut serta menit yang sesuai seperti yang ada di dalam peta. Jika sudah pilih apply
kemudian pilih output units sesuai dengan distance units yang kita pilih tadi lalu OK 2x.
9. Jika sudah meregistrasi semua titiknya, jangan lupa untuk mencentang Store Control Points, lalu klik Write
World File. Tetapi sebelumnya pastikan bahwa RMS Errornya dibawah 0.5, jika tidak anda bisa coba lagi
mengregistrasikan titik – titik tersebut lebih presisi lagi, agar titik di peta yang kita digitasi akurat.
10. Setelah itu savelah file tersebut di direktori sesuai keinginan anda, lalu layarnya akan tampil blank putih seperti
ini. Jangan khawatir, itu artinya anda telah berhasil mengregistrasi titik di peta tersebut dan kita kembali

menampilkan peta yang sudah diregistrasi dengan cara Add Theme lalu lakukanlah seperti yang di awal tadi.
dan kita kembali menampilkan peta yang sudah diregistrasi dengan cara Add Theme lalu lakukanlah seperti
yang di awal tadi.
11. Dimulai dari langkah disini, kita akan melakukan digitasi, dengan polygon, point, dan line. Pertama – tama
marilah kita buat pulaunya terlebih dahulu menggunakan polygon dengan cara klik View lalu klik New Theme.
Lalu akan muncul seperti dibawah ini, pilih Polygon dan klik OK. Simpanlah di tempat yang kalian inginkan.
12. Sebelum itu, pastikan anda mengklik theme yang anda ingin edit, lalu pilih Theme dan klik Start Editing.
Pastikan ada garis putus – putus di kotak pada thme tersbut. Kemudian pilihlah tool polygon seperti dibawah
ini, lalu gambarlah pulau tersebut perlahan – lahan sampai selesai. Hasilnya akan seperti gambar dibawah.
13. Setelah selesai hasilnya akan menjadi seperti ini. Buatlah tabel di masing – masing wilayah dengan membuat
nama field Kabupaten/Kota dengan type string, tentukan widthnya juga lalu klik OK. Kemudian (Isi record)
dengancara memberikan nama satu persatu wilayah tersebut sesuai dengan nama wilayah yang tertera pada
peta. dengan mengselect daerah tersbut lalu berikan nama dengan tool di
14. Kemudian kita mulai untuk membuat yang lainnya seperti sungai, danau, ibukota provinsi, dll sesuai pada
Legenda pada peta. Dengan menggunakan theme lainnya seperti line/point/atau pun polygon. Caranya masih
sama seperti sebelumnya, berikut adalah gambar peta saat sungainya sudah terbentuk.
15. Dan yang terakhir, kita akan menambahkan danau, lalu kita bisa ubah petanya tersebut menjadi tidak
transparan seperti cara yang diatas tadi lalu pilih Unique Color berdasarkan Kabupaten/Kota. lalu pilihlah
warna sesuai keinginan kalian. Kalian juga bisa menambahkan label, berdasarkan nama – nama tabel yang
sudah kita buat tadi, dengan cara Stop editing terlebih dahulu lalu pilih theme yang mau kita berikan nama,
pilih Theme lalu Auto-label. Seperti dibawah ini, jangan lupa untuk memilih fieldnya sesuai keinginan anda.
Disini saya memilih Kabupaten/Kota karena saya ingin menampilkan itu.
16. Langkah terakhir adalah kita kan mempresentasikan dalam bentuk Layout agar terlihat rapih, dengan cara klik
View lalu pilih Layout. Pilihlah Landscape/Portrait sesuai keinginan anda lalu pilih OK. Dan seperti ini lah
hasilnya.
DEFINISI PROYEKSI PETA
Proyeksi peta adalah usaha mengubah bentuk bidang lengkung ke bentuk bidang datar, dengan persyaratan bentuk
yang diubah itu harus tetap, luas permukaan yang diubah harus tetap dan jarak antara satu titik dengan titik yang lain
di atas permukaan yang diubah harus tetap.
Contoh sederhana pembuatan peta dengan menggunakan proyeksi adalah seperti pada waktu kita mengupas buah
jeruk, kemudian kulit jeruk tersebut kita lembarkan

FUNGSI PROYEKSI PETA


Digunakan untuk menggambarkan Bumi, yang berbentuk bulat, agar bisa digambarkan pada peta yang merupakan
bidang datar.
Sistem proyeksi peta dibuat dan dipilih untuk :
a. Menyatakan posisi titik-titik pada permukaan bumi ke dalam sistem koordinat bidang datar untuk perhitungan
jarak dan arah antar titik
b. Menyajikan secara grafis titik-titik pada permukaan bumi ke dalam sistem koordinat bidang datar
JENIS-JENIS PROYEKSI PETA
 Berdasarkan Bidang Proyeksinya
a. Proyeksi Azimuthal (Zenithal)
Proyeksi peta azimuth atau zenithal adalah proyeksi peta berbentuk bidang datar dan banyak digunakan untuk
memetakan belahan bumi bagian kutub. Proyeksi peta azimuth atau zenital akan terjadi penyimpangan apabila
digambarkan untuk daerah khatulistiwa.
Ciri-Ciri Proyeksi Azimuthal :
a. Pada setiap garis bujurnya merupakan garis lurus yang berpusat pada suatu kutub.
b. Bentuk gambaran pada Garis lintang membentuk sebuah lingkaran yang konsentris yang mengitari kutub.
c. Sudut yang ada diantara garis bujur pada peta mempunyai ukuran yang sama.
d. Seluruh permukaan bumi berbentuk bulat seperti sebuah lingkaran pada saat digambar dengan proyeksi ini.
b. Proyeksi Silinder (Cylindrical)
Berbeda dengan proyeksi zenithal, proyeksi peta silinder digunakan untuk memetakan belahan bumi daerah
khatulistiwa.
Beberapa keuntungan penggunaan proyeksi silinder ini yaitu :
a. Bisa menggambarkan daerah yang sangat luas.
b. Bisa menerangkan gambaran daerah di sekitar khatulistiwa.
c. Proyeksi Kerucut
Proyeksi kerucut juga dinilai sangat efisien untuk dipergunakan dalam menggambar suatu daerah lintang 45º
(lintang tengah) seperti benua eropa.
Ciri-ciri Proyeksi Kerucut :
a. Dari setiap garis bujur ialah merupakan sebuah garis lurus dan saling berkonvergensi pada kutub.
b. Kemudian pada garis lintang adalah sebuah busur lingkaran yang berpusat pada titik kutub bumi.
c. Tidak mungkin untuk menggambarkan seluruh permukaan bumi sebab pada salah satu kutub bumi tidak dapat
digambarkan.
d. Semua proyeksi bukan lingkaran yang sempurna, jadi bagus untuk menggambarkan garis lintang rendah.
 Proyeksi Modifikasi atau Perubahan
a. Proyeksi Mercator
Adapun ciri umumnya yaitu :
a. Jarak Interval antar meridiannya tidak berbeda.
b. Jarak Interval antar paralel akan meningkat ketika akan mendekati kutub.
b. Proyeksi Sinusoidal
Proyeksi sinusoidal yang menggambarkan sebuah sudut dan juga jarak yang sangat akurat terhadap wilayah yang
terdapat meridian tengah. Maka dengan Proyeksi ini sangat cocok untuk dipergunakan dalam menggambarkan suatu
daerah yang terdapat di wilayah Amerika Selatan, Australia, dan juga Afrika.
c. Proyeksi Bonne
Proyeksi bonne ini menggambarkan suatu sudut dengan jarak tepat dan akurat dari meridian tengah serta peta
standar. Kemudian Distorsi peta akan mengalami peningkatan jika menjauhi meridian tengah.
d. Proyeksi Mollweide
Proyeksi Mollweide yang mana mempunyai ukuran yang sama luas hingga sampai menuju ke wilayah pinggir
proyeksi tiap bagian. Kemudian apabila semakin mendekati kutub, maka akan membuat ukuran dari wilayah
tersebut akan terlihat berubah menjadi sangat kecil.
e. Proyeksi Homolografik (Goods)
Proyeksi homolgrafik yakni merupakan hasil refisi perbaikan dari kesalahan yang sudah terjadi dalam pembuatan
proyeksi mollweide. Selain itu pada proyeksi ini mempunyai sifat yang sama luas. Maka dari Jenis proyeksi ini
sangat cocok untuk menggambarkan suatu penyebaran fenomena geosfer yang terjadi di permukaan bumi.
f. Proyeksi Gall
Untuk Ciri khas yang dimiliki oleh proyeksi gall ini ialah dimana mempunyai bentuk yang berbeda dari wilayah
lintang yang mendekati kutub.
 Proyeksi Berdasarkan Sifat Aslinya
a. Proyeksi Equivalent : Mempertahankan luas daerah, artinya luas daerah sebenarnya sama dengan luas
daerah pada peta setelah dikalikan dengan skala
b. Proyeksi Konform : Mempertahankan sudut-sudut sesuai dengan kenampakan di permukaan bumi
c. Proyeksi Equidistant : Mempertahankan jarak sehingga jarak di atas muka bumi sama dengan jarak di atas
peta apabila dikalikan skala
 Proyeksi Berdasarkan Kedudukan Sumbu Simetri
a. Proyeksi normal, yang mana pada garis karakter proyeksi saling berdekatan dengan sumbu bumi.
b. Proyeksi miring, yakni sebuah garis karakter proyeksi yang membentuk suatu sudut dengan sumbu bumi.
c. Proyeksi melintang, yakni sebuah garis karakter dari sebuah proyeksi yang berbentuk tegak lurus dengan
sumbu bumi.

Anda mungkin juga menyukai