NAMA : SIPA NURPADILAH
NIM : 225509051
JUDUL : “MAKNA QUARTER LIFE CRISIS BAGI MAHASISWA YANG
BARU LULUS KULIAH : STUDI NARATIF
BAB I (PENDAHULUAN)
A. KONTEKS PENELITIAN
Pada hakikatnya, manusia senantiasa mengalami proses pertumbuhan dan
perkembangan sepanjang hidupnya. Pertumbuhan merujuk pada perubahan
yang bersifat kuantitatif, terutama terkait aspek fisik, sedangkan
perkembangan mencakup perubahan kualitatif yang melibatkan dimensi
jasmani dan rohani yang berlangsung secara berkelanjutan sepanjang rentang
kehidupan. Setiap tahap perkembangan manusia memiliki ciri serta
karakteristik yang khas, karena pada setiap periode tersebut terdapat tugas-
tugas perkembangan (Task development) yang harus dijalani sesuai dengan
fase usia tertentu (Baltes et al., 2006; Atien, 2009). Menurut Santrock (dalam
Atien, 2009) menegaskan bahwa tugas perkembangan tersebut harus dilalui
secara berurutan dan selaras dengan tahap perkembangannya, serta tidak
seharusnya terlewatkan. Ketidakmampuan individu dalam menyelesaikan
tugas-tugas perkembangan pada setiap tahap kehidupan dapat menghambat
proses perkembangannya, yang berpotensi menimbulkan gangguan
perkembangan (missed development).
Seiring bertambahnya usia, proses perkembangan individu menjadi
semakin kompleks. Peningkatan usia membawa tuntutan yang semakin besar
terhadap individu, baik dalam hal tanggung jawab, kemampuan berpikir,
keterampilan sosial, maupun kecakapan dalam mengambil keputusan secara
tepat dan mandiri. Setiap fase perkembangan individu memiliki peran yang
penting dalam membentuk kepribadian dan kesiapan hidup seseorang (Papalia
& Feldman, 2009). Meskipun demikian, fase yang paling banyak mendapat
perhatian dari para peneliti adalah fase transisi dari remaja menuju dewasa
awal, yang kerap ditandai dengan berbagai dinamika dan gejolak psikologis
(Tanner et al., 2008).
Fase ini dipandang sebagai periode yang menantang karena individu
dituntut untuk melakukan eksplorasi diri secara intensif, terutama dalam aspek
karier, relasi sosial, pencarian pasangan hidup, serta kemandirian dalam
menghadapi dan menyelesaikan berbagai permasalahan kehidupan. Pada tahap
ini pula, individu mulai berupaya melepaskan ketergantungan dan tanggung
jawab terhadap orang tua. Oleh karena itu, dewasa awal sering dianggap
sebagai masa transisi dari remaja akhir menuju kedewasaan yang ditandai oleh
ketidakstabilan emosi dan perubahan peran, yang umumnya dialami oleh
individu berusia 18–29 tahun.
Jeffrey Arnett, Profesor Psikologi di Clark University, Massachusetts,
menyebut fase dewasa awal sebagai emerging adulthood, yaitu tahap
perkembangan yang ditandai oleh ketidakpastian dan ketidakstabilan dalam
berbagai aspek kehidupan (Arnett, 2015). Pada fase ini, individu diharapkan
memiliki keterampilan dan pengetahuan tertentu serta mampu mengeksplorasi
lingkungan sosialnya, baik dalam bidang pendidikan, karier, hubungan
pertemanan, maupun relasi dengan lawan jenis sebagai bekal menuju
kedewasaan yang lebih matang (Tanner et al., 2008). Adapun peran yang
umumnya dijalani oleh individu dewasa awal meliputi peran sebagai
mahasiswa yang berupaya menyelesaikan studi, lulusan baru yang sedang
mencari pekerjaan (job seeker), pekerja atau karyawan, hingga peran sebagai
suami atau istri. Setiap peran tersebut membawa tanggung jawab dan
tantangan yang tidak ringan, yang berpotensi memberikan tekanan signifikan
terhadap kondisi mental maupun fisik individu.
Ketika individu tidak mampu menghadapi berbagai tantangan dan
perubahan yang terjadi dalam kehidupannya, kondisi tersebut dapat memicu
munculnya krisis emosional negatif yang dikenal sebagai quarter life crisis
(Robbins & Wilner, 2001). Fenomena ini sering kali ditandai oleh
meningkatnya tekanan psikologis, kecemasan, rasa rendah diri, serta ketakutan
dalam menghadapi masa depan. Pada fase ini, individu dihadapkan pada
berbagai tuntutan perubahan, terutama dalam pengambilan keputusan penting
yang berkaitan dengan arah hidupnya. Akibatnya, tidak sedikit individu yang
mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan, menyesali keputusan
masa lalu, kehilangan kejelasan tujuan hidup (purpose in life), merasa cemas
terhadap hubungan interpersonal, meragukan keberlanjutan hubungan
percintaan yang dijalani, kerap membandingkan pencapaian diri dengan orang
lain, hingga muncul perasaan rendah diri dan kebencian terhadap diri sendiri
(Bronk, 2011). Apabila quarter life crisis tidak dikelola secara bijak, kondisi
ini berpotensi menimbulkan stres berkepanjangan, penurunan produktivitas,
depresi, serta berbagai permasalahan psikologis lainnya (Atwood & Scholtz,
2008).
Robbins dan Wilner (2001) mengemukakan bahwa quarter life crisis
memiliki tujuh aspek utama. Individu yang menunjukkan kecenderungan pada
aspek-aspek tersebut dapat dikatakan sedang mengalami fenomena quarter life
crisis. Ketujuh aspek tersebut meliputi kebimbangan dalam pengambilan
keputusan, perasaan putus asa, penilaian diri yang negatif, perasaan terjebak
dalam situasi sulit, kecemasan, tekanan psikologis, serta kekhawatiran
terhadap hubungan interpersonal.
Alexandra Robbins menjelaskan bahwa quarter life crisis dapat
dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal (Nash & Murray, 2010).
Salah satu faktor internal yang memiliki pengaruh signifikan adalah kualitas
tujuan hidup (purpose in life). Individu yang berada pada rentang usia 20-an
umumnya tengah menjalani proses pencarian jati diri lanjutan, khususnya
terkait pekerjaan, karier, dan pasangan hidup, sebagai upaya untuk bertahan
dan mempersiapkan diri menghadapi tahap perkembangan kehidupan
berikutnya.
Sejalan dengan hal tersebut, individu dewasa awal mulai mempertanyakan
makna dan arah tujuan hidupnya. Tujuan hidup mencerminkan impian,
harapan, serta arah yang ingin dicapai di masa depan. Kejelasan tujuan hidup
berperan penting dalam membantu individu menghadapi berbagai tantangan
kehidupan, karena tujuan tersebut dapat berfungsi sebagai kompas kehidupan
sekaligus sumber kekuatan internal dalam meraih masa depan. Selain itu,
quarter life crisis juga dipengaruhi oleh perubahan dalam hubungan
interpersonal, permasalahan akademik, pekerjaan dan finansial, serta krisis
identitas diri (Allison, 2010).
Namun demikian, permasalahan yang kerap dialami oleh individu dewasa
awal adalah belum adanya perencanaan masa depan yang matang. Nash dan
Murray (2010) menyatakan bahwa quarter life crisis sering kali muncul akibat
kebingungan dalam menetapkan tujuan hidup, serta tekanan yang berasal dari
tuntutan akademik, pekerjaan, agama, dan aspek spiritualitas. Oleh karena itu,
salah satu hal penting yang perlu dimiliki oleh individu dewasa awal dalam
menghadapi quarter life crisis adalah kemampuan untuk menetapkan tujuan
hidup yang jelas, realistis, dan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Penjelasan tersebut diperkuat oleh data survei di Inggris yang
menunjukkan bahwa dari 1.000 responden, sekitar 70% menyatakan bahwa
krisis terberat dalam hidup mereka terjadi pada usia 20-an, yang disebabkan
oleh ketidakjelasan dalam menetapkan purpose in life (Robinson, 2018).
Seorang peneliti dari University of Bristol, Dr. Mairead Murphy, melalui
penelitiannya yang berjudul “Emerging Adulthood: Is the Quarter Life Crisis
a Common Experience?” mengungkapkan bahwa permasalahan kesehatan
mental pada individu dewasa awal dapat dipicu oleh kegagalan dalam
menetapkan tujuan hidup. Tujuan hidup tersebut mencakup berbagai aspek
kehidupan serta keinginan individu untuk mengelola hidup ke arah yang lebih
baik. Selain itu, kecenderungan untuk terlalu lama merenungkan keputusan
hidup, disertai munculnya emosi negatif seperti keraguan, kebingungan, dan
keputusasaan, dapat memicu stres emosional yang berlarut-larut hingga
berkembang menjadi krisis emosional berkepanjangan (Murphy, 2011).
Salah satu peran individu dewasa awal yang sangat rentan mengalami
quarter life crisis adalah mahasiswa tingkat akhir. Pada fase ini, mahasiswa
dihadapkan pada tuntutan untuk segera menyelesaikan studi dan
mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Sebuah penelitian di Indonesia
menunjukkan bahwa sekitar 82% mahasiswa tingkat akhir mengalami quarter
life crisis. Kondisi ini terjadi karena mahasiswa berada pada masa transisi dari
dunia akademik (academic world) menuju dunia nyata (real world), yang
berisiko menimbulkan kecemasan hingga episode krisis emosional. Gejala
yang kerap muncul meliputi perasaan tidak memiliki harapan, kelelahan
mental, rendah diri, serta kesedihan yang mendalam (Fischer, 2008).
Robbins dan Wilner (2001) menjelaskan bahwa individu dewasa awal
yang berstatus sebagai mahasiswa tengah menghadapi transisi signifikan dari
academic world menuju real world. Pada masa ini, individu sering disibukkan
oleh berbagai pertanyaan eksistensial, seperti “bagaimana masa depan saya?”,
“apa yang sudah dan belum saya lakukan untuk masa depan?”, “apakah
pasangan yang saat ini bersama saya adalah pilihan yang tepat?”, serta
“apakah saya mampu memperoleh pekerjaan sesuai dengan harapan?”.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong individu untuk terus memikirkan
keberlanjutan hidupnya setelah lulus kuliah, sehingga memunculkan
kecemasan, kekhawatiran terhadap masa depan, serta perasaan gagal dan
tertinggal dibandingkan dengan orang lain.
Individu dewasa awal yang mengalami quarter life crisis cenderung
mudah merasa terisolasi, tidak berdaya, meragukan kemampuan diri,
mengalami ketidakstabilan emosi, serta memiliki ketakutan yang tinggi
terhadap kegagalan (Atwood & Scholtz, 2008). Penelitian Wibowo (2017)
menunjukkan bahwa mahasiswa tingkat akhir yang mengalami quarter life
crisis memperlihatkan karakteristik berupa perasaan gelisah, pesimis, rendah
diri, tidak berdaya, serta kecenderungan overthinking terhadap kondisi diri,
terutama terkait persepsi bahwa dirinya belum melakukan banyak hal yang
berarti untuk masa depan.
Penelitian lain terhadap individu dewasa awal mengungkapkan bahwa
sekitar 52% responden mengalami kecemasan berlebihan terkait masa depan.
Individu dewasa awal merasa tertekan oleh berbagai tuntutan hidup yang
harus dipenuhi, merasa takut, cemas, dan bingung dalam mengambil
keputusan, serta cenderung labil karena tidak memiliki perencanaan masa
depan yang jelas. Kondisi tersebut membuat hidup terasa semakin berat untuk
dijalani, emosi menjadi tidak stabil layaknya rollercoaster, dan muncul
perasaan bahwa dirinya hanya menjadi beban bagi keluarga.
Berdasarkan paparan tersebut, tidak mengherankan apabila individu
dewasa awal sering kali mengalami penurunan produktivitas dalam menjalani
aktivitas sehari-hari, mengalami burnout dalam bidang akademik maupun
pekerjaan, yang ditandai oleh stres serta kelelahan emosional dan fisik, bahkan
berpotensi mengarah pada gangguan psikologis yang lebih serius. Tidak dapat
dipungkiri pula bahwa terdapat sejumlah kasus bunuh diri yang terjadi pada
individu usia dewasa awal, seperti kasus mahasiswa baru di Kota Makassar
pada tahun 2022 serta mahasiswa tingkat akhir di Yogyakarta yang ditemukan
meninggal dunia akibat gantung diri. Dugaan dari tenaga forensik dan
keterangan orang terdekat korban menyebutkan bahwa depresi akibat tekanan
dan tuntutan hidup menjadi salah satu faktor utama penyebab peristiwa
tersebut (Assifa & Farid dalam Hidayat, 2018). Menilik berbagai tragedi
tersebut, fenomena quarter life crisis menjadi isu yang sangat penting untuk
dipahami secara serius, khususnya oleh individu dewasa awal, agar mereka
mampu membentengi diri dalam menghadapi dinamika kehidupan yang sarat
dengan tekanan emosional.
Berdasarkan uraian tersebut, muncul pertanyaan mengapa kognisi individu
dewasa awal sering kali dipenuhi oleh pemikiran tentang masa depan. Seiring
bertambahnya usia, individu cenderung menjadi lebih realistis dalam
memandang dan merencanakan kehidupannya. Menurut Arnett (2015), hal ini
terjadi karena individu dewasa awal telah memasuki fase pembentukan
worldviews, yaitu tahap pencarian dan penetapan tujuan hidup lanjutan yang
lebih realistis. Namun, dalam prosesnya, individu kerap tidak mampu
mencapai tujuan tersebut secara optimal akibat adanya keraguan, kurangnya
kepercayaan diri, serta ketakutan terhadap kegagalan. Sebaliknya, apabila
individu dewasa awal berani menetapkan tujuan hidup yang jelas dan terarah,
maka mereka akan menjadi lebih produktif dan termotivasi dalam
mewujudkan impian serta harapan hidupnya
Damon dkk. (2003) mendefinisikan tujuan hidup sebagai keinginan yang
bersifat relatif stabil, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, serta
memiliki cakupan yang luas karena memengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Tujuan hidup tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kepentingan personal,
tetapi juga mengarahkan individu untuk terlibat secara produktif dan
bermakna dengan dunia di sekitarnya (Damon et al., 2003; Bronk et al., 2010).
Korotkov menegaskan bahwa individu yang memiliki tujuan hidup yang jelas
cenderung lebih mampu menghadapi berbagai permasalahan kehidupan
dibandingkan dengan individu yang tidak memiliki kejelasan tujuan hidup
(Bronk, 2014).
Tujuan hidup yang jelas perlu disertai dengan komitmen, arah, serta
sasaran yang terstruktur agar dapat berfungsi sebagai pedoman perilaku dan
sumber motivasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Selain itu, tujuan
hidup seharusnya memiliki makna subjektif bagi individu sekaligus
memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sosialnya (Bronk, 2014).
Frankl (1984) menyatakan bahwa sejak abad ke-20, persoalan mengenai
tujuan hidup menjadi isu yang sering dihadapi oleh individu dewasa awal.
Ketiadaan tujuan hidup yang jelas dapat menimbulkan perasaan hampa dan
kebosanan yang mencerminkan kondisi ketidakbermaknaan hidup. Keadaan
ini cenderung berlanjut apabila individu tidak memiliki arah yang pasti dalam
menjalani kehidupannya. Oleh karena itu, individu dewasa awal yang
mengalami quarter life crisis sangat memerlukan tujuan hidup sebagai
penunjuk arah dalam menghadapi dinamika kehidupan.
Perbedaan antara individu yang memiliki tujuan hidup dengan individu
yang tidak memilikinya terletak pada kemampuan dalam menyikapi dan
menyelesaikan permasalahan kehidupan. Individu dengan tujuan hidup yang
jelas umumnya lebih mampu bertahan dalam tekanan hidup serta mengambil
keputusan secara lebih bijaksana. Robbins dan Wilner (2001) menyatakan
bahwa tujuan hidup berperan dalam meminimalkan dampak negatif quarter
life crisis yang muncul akibat berbagai tuntutan kehidupan. Temuan tersebut
sejalan dengan penelitian Rossi dan Mebert (2018) yang menunjukkan bahwa
perencanaan tujuan hidup merupakan salah satu faktor penting dalam
membentuk kematangan karier, orientasi diri yang aktif, serta kemampuan
adaptasi individu dewasa awal dalam menghadapi transisi kehidupan.
Pentingnya tujuan hidup dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan
juga ditegaskan oleh Kendall Cotton Bronk, Profesor Psikologi Perilaku dan
Ilmu Sosial, yang menyatakan bahwa tujuan hidup membantu individu
membangun identitas diri yang lebih utuh. Dengan memiliki tujuan hidup,
individu mampu memfokuskan energi dan perhatiannya pada aktivitas yang
selaras dengan arah hidup yang telah ditetapkan (Bronk, 2011). Erikson,
seorang psikiater asal Amerika, menjelaskan bahwa perkembangan tujuan
hidup mendahului pembentukan identitas diri. Dengan demikian, penemuan
tujuan hidup menjadi landasan penting dalam proses pembentukan identitas
yang lebih matang.
Individu dewasa awal kerap terjebak dalam krisis emosional karena tujuan
hidup yang dimiliki tidak dijalankan secara konsisten dan sungguh-sungguh.
Penelitian Bronk (2011) menunjukkan bahwa hanya sekitar 20% individu
dewasa yang benar-benar mengembangkan dan menghayati tujuan hidupnya.
Ketidakjelasan tujuan hidup ini membuat individu rentan mengalami
ketidakstabilan emosi, kesulitan menemukan motivasi hidup, kecenderungan
overthinking, serta penurunan produktivitas. Dalam jangka panjang, kondisi
tersebut dapat mengarah pada berbagai permasalahan personal maupun sosial,
seperti depresi, adiksi, prokrastinasi, dan penurunan kesehatan mental secara
umum (Howell & Watson, 2007).
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa individu yang belum memiliki
tujuan hidup cenderung mengalami penurunan tingkat kepuasan hidup (Bronk
et al., 2009). Sebaliknya, keberadaan tujuan hidup yang jelas dapat
meningkatkan kebahagiaan dan kesejahteraan psikologis individu, terutama
dalam menghadapi fenomena quarter life crisis. Fadilah (2022) juga
mengungkapkan bahwa ketidakproduktifan dan munculnya quarter life crisis
pada individu dewasa awal banyak dipengaruhi oleh ketiadaan tujuan hidup
yang jelas.
Di Indonesia, fenomena quarter life crisis menjadi semakin relevan seiring
meningkatnya kesadaran publik mengenai kesehatan mental dan dinamika
perkembangan dewasa awal. Lulusan baru sering kali menghadapi persaingan
kerja yang ketat, tuntutan keluarga, serta tekanan sosial untuk mencapai
“kesuksesan” pada usia muda. Tidak sedikit dari mereka yang merasa belum
siap secara emosional maupun kompetensi untuk menghadapi perubahan
tersebut. Kondisi ini dapat memunculkan stres, kecemasan, penurunan
motivasi, hingga keraguan terhadap pilihan hidup yang telah dibuat.
Meskipun istilah Quarter Life Crisis semakin populer, namun pemaknaan
pengalaman ini pada setiap individu bersifat subjektif dan unik. Setiap dewasa
awal memiliki latar belakang, pengalaman, dan strategi coping yang berbeda
dalam menyikapi fase krisis tersebut. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan
yang mampu menggali pengalaman personal secara mendalam. Pendekatan
naratif dipandang relevan untuk menelusuri bagaimana individu memaknai
krisis ini, bagaimana mereka membangun cerita hidupnya, serta bagaimana
krisis tersebut mempengaruhi perkembangan identitas dan tujuan hidup
mereka.
Secara keseluruhan Erikson menyebutkan bahwa pencarian identitas tidak
hanya merupakan proses individu, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sosial
dan budaya dengan demikian, Penelitian ini menjadi penting karena
pemahaman tentang makna quarter life crisis dapat memberikan gambaran
komprehensif mengenai dinamika psikologis dewasa awal yang baru lulus
kuliah. Hasil penelitian diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi
pengembangan layanan bimbingan dan konseling, khususnya dalam
membantu dewasa awal mengatasi kecemasan masa transisi. Selain itu,
penelitian ini dapat menjadi sumber informasi bagi lembaga pendidikan,
keluarga, maupun masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih
suportif bagi lulusan baru dalam menghadapi tantangan awal masa dewasa.
Dengan demikian, penelitian berjudul “Makna Quarter Life Crisis bagi
Mahasiswa yang Baru Lulus Kuliah: Studi Naratif” dilakukan untuk menggali
pengalaman mendalam individu dalam memahami dan mengartikan fase krisis
yang dialami, serta bagaimana pengalaman tersebut membentuk cara pandang
dan arah kehidupan mereka ke depan.
B. FOKUS PENELITIAN DAN PERTANYAAN PENELITIAN
Penelitian ini berfokus pada pemaknaan fenomena quarter life crisis yang
dialami oleh mahasiswa yang baru lulus kuliah. Fokus utama diarahkan pada
bagaimana lulusan baru mengalami, menafsirkan, dan memberi makna
terhadap kondisi kebingungan, kecemasan, tekanan sosial, serta ketidakpastian
masa depan yang muncul pada fase transisi dari dunia akademik ke dunia
kerja atau kehidupan dewasa awal. Penelitian ini juga memusatkan perhatian
pada pengalaman naratif individu, termasuk latar belakang pengalaman
pribadi, tuntutan lingkungan, dinamika emosional, serta strategi coping yang
digunakan dalam menghadapi quarter life crisis.
Berdasarkan fokus tersebut, penelitian ini dirumuskan dalam beberapa
pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana pengalaman quarter life crisis yang dialami oleh Mahasiswa
yang baru lulus kuliah?
2. Bagaimana proses individu memaknai pengalaman quarter life crisis yang
mereka alami?
3. Apa saja faktor yang memengaruhi munculnya quarter life crisis pada
Mahasiswa lulusan baru?
4. Bagaimana strategi coping atau upaya yang dilakukan individu dalam
menghadapi quarter life crisis?
C. TUJUAN PENELITIAN
1. Mendeskripsikan pengalaman quarter life crisis pada Mahasiswa yang
baru lulus kuliah.
2. Mengungkap makna yang dibangun individu terhadap pengalaman
quarter life crisis yang mereka alami.
3. Mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi munculnya quarter
life crisis pada dewasa awal lulusan baru.
4. Menjelaskan strategi coping atau upaya individu dalam menghadapi
quarter life crisis.
D. KEGUNAAN PENELITIAN
Penelitian berjudul “Makna Quarter Life Crisis bagi Mahasiswa
yang Baru Lulus Kuliah: Studi Naratif” diharapkan dapat memberikan
manfaat baik secara teoretis maupun praktis sebagai berikut.
1. Kegunaan Teoretis :
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi terhadap pengembangan kajian psikologi perkembangan,
khususnya pada fase dewasa awal dan fenomena quarter life crisis.
Penelitian ini memperkaya pemahaman konseptual mengenai bagaimana
individu yang baru lulus kuliah memaknai pengalaman krisis seperempat
abad dalam konteks pencarian identitas dan tujuan hidup.
Selain itu, melalui pendekatan naratif, penelitian ini diharapkan
mampu memperluas perspektif ilmiah mengenai quarter life crisis tidak
hanya sebagai kondisi psikologis yang bersifat patologis, tetapi juga
sebagai pengalaman perkembangan yang subjektif, dinamis, dan
kontekstual. Temuan penelitian ini dapat menjadi referensi bagi penelitian
selanjutnya, khususnya yang mengkaji hubungan antara quarter life crisis,
purpose in life, pembentukan identitas, serta kesejahteraan psikologis pada
individu dewasa awal.
2. Kegunaan Praktis
Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
manfaat bagi berbagai pihak, antara lain:
a. Bagi Mahasiswa dan Lulusan Baru
Penelitian ini diharapkan dapat membantu mahasiswa tingkat akhir
dan lulusan baru dalam memahami serta memaknai pengalaman
quarter life crisis yang mereka alami. Dengan memahami bahwa
krisis ini merupakan bagian dari proses perkembangan, individu
diharapkan mampu mengelola kecemasan, kebingungan, dan
tekanan hidup secara lebih adaptif, serta terdorong untuk
menyusun tujuan hidup yang lebih jelas dan realistis.
b. Bagi Konselor dan Praktisi Bimbingan dan Konseling
Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam
pengembangan layanan bimbingan dan konseling, khususnya
layanan yang ditujukan bagi individu dewasa awal yang sedang
menghadapi masa transisi pasca kelulusan. Pemahaman mengenai
makna subjektif quarter life crisis dari sudut pandang individu
diharapkan dapat membantu konselor merancang intervensi yang
lebih empatik, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan tujuan
hidup serta identitas diri klien.
c. Bagi Lembaga Pendidikan Tinggi
Penelitian ini dapat menjadi sumber informasi bagi perguruan
tinggi dalam merancang program pendampingan mahasiswa
tingkat akhir dan lulusan baru, seperti layanan konseling karier,
pengembangan diri, dan kesehatan mental. Dengan demikian,
institusi pendidikan diharapkan mampu menciptakan lingkungan
yang lebih suportif dalam membantu mahasiswa mempersiapkan
diri menghadapi dunia kerja dan kehidupan dewasa awal.
d. Bagi Keluarga dan Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman
keluarga dan masyarakat mengenai dinamika psikologis yang
dialami oleh individu dewasa awal yang baru lulus kuliah.
Pemahaman ini diharapkan mampu menumbuhkan sikap empati,
dukungan emosional, serta ekspektasi yang lebih realistis terhadap
proses perkembangan dan pencapaian individu pada fase dewasa
awal.
Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memiliki nilai
akademik, tetapi juga relevan secara praktis dalam upaya
mendukung kesejahteraan psikologis dan kesiapan hidup individu
dewasa awal yang sedang berada pada fase transisi penting dalam
kehidupannya
E. SETTING PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa yang baru lulus kuliah
dari Universitas Ma’soem yang berada pada fase dewasa awal yang sesuai
denga kriteria yang sudah ditentukan dan bersedia menceritakan
pengalaman serta pemaknaan mereka terkait quarter life crisis. Situasi
sosial penelitian berada dalam konteks transisi dari dunia akademik
menuju dunia kerja atau kehidupan dewasa awal yang ditandai dengan
berbagai tuntutan dan tekanan sosial.
Lokasi penelitian bersifat fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi
serta kenyamanan subjek penelitian, baik dilakukan secara langsung di
lingkungan kampus, tempat tinggal partisipan, maupun melalui media
daring.
BAB II (TINJAUAN PUSTAKA)
No Tahun Nama Judul penelitian Metode Hasil Relevansi
penelitian peneliti penelitian penelitian penelitian
1 2023 Habibie, Peran moderasi Kuantitaf Hasil Membahas
Alfiesyahrian kebermaknaan Regresi penelitian Makna quarter
ta hidup pada menunjukkan life crisis
pengaruh bahwa nilai
perencanaan karir sig.
dan Quarter-Life (p=0.367>0.0
Crisis pada 5) artinya
Mahasiswa Warga tidak ada
Calon IKN (Ibu peran
Kota Negara). moderasi
kebermaknaa
n hidup pada
pengaruh
perencanaan
karir terhadap
quarter-life
crisis pada
mahasiswa.
Hal ini
disebabkan
adanya
perbedaan
arah
pengaruh dari
kedua aspek
kebermaknaa
n hidup.
2. 2023 Sallata, J. M. Resiliensi dan Kuantitatif Hasil Membahas
M., & quarter life-crisis Kolerasi penelitian tentang
Huwae, A pada mahasiswa menunjukkan Quarter life
tingkat akhir. hubungan crisis
negatif yang
signifikan
antara
resiliensi dan
krisis
seperempat
kehidupan
pada
mahasiswa
tingkat akhir
(r = 0,346
dan
signifikansi
0,000). Hal
ini
menunjukkan
bahwa
resiliensi
merupakan
salah satu
faktor yang
berhubungan
dengan
peningkatan
atau
penurunan
krisis
seperempat
kehidupan
pada
mahasiswa
tingkat akhir.
3. 2023 Yunanto, Pengalaman Kualitatif Hasil Membahas
Taufik Akbar mencapai fenomenologis penelitian ini Quarter life
Rizqi and Put flourishing pada menemukan crisis
ra masa quarter-life 12 tema,
crisis. yaitu: bentuk
masalah
krisis, faktor
penyebab
krisis,
dampak
masalah
terhadap diri,
peran
pengalaman
dalam
menghadapi
krisis, sikap
terhadap
krisis, pola
pembentukan
hubungan,
pengaruh
hubungan
terhadap
krisis, cara
menjaga
hubungan,
dampak
pemaknaan
diri terhadap
kehidupan,
bentuk
pencapaian,
peran
pencapaian
terhadap
masa krisis,
dan proses
meraih
pencapaian
terhadap
masa krisis.
Pengalaman,
pemaknaan,
usaha, dan
pencapaian
juga berperan
dalam
pembentukka
n flourishing
pada kelima
aspek
PERMA.
4 2021 Akta Ririn EMOTIONAL Kuantitatif Hasil Membahas
INTELLIGENCE kolerasi penelitian Quarter life
DAN STRES menunjukkan crisis
PADA adanya
MAHASISWA korelasi
YANG negatif yang
MENGALAMI signifikan
QUARTER-LIFE antara
CRISIS emotional
intelligence
dan tingkat
stres pada
mahasiswa
yang
mengalami
quarter-life
crisis, di
mana
semakin
tinggi
emotional
intelligence,
semakin
rendah
tingkat stres
yang dialami,
dan
sebaliknya.
5. 2023 Athaya Quarter life crisis Kuantitatif Penelitian ini Membahas
Nugsria pada dewasa awal: menunjukkan Quarter life
Bagaimana peranan hasil yang crisis
kecerdasan emosi? signifikan,
sehingga
mendukung
asumsi
bahwa
semakin
tinggi
kecerdasan
emosi yang
dimiliki,
maka
semakin
tinggi
pula quarter
life
crisis yang
dialami oleh
seorang
individu yang
berada pada
masa dewasa
awal.
A. REVIEW HASIL PENELITIAN SEJENIS
Penelitian mengenai quarter life crisis telah banyak dilakukan, namun
sebagian besar masih didominasi oleh pendekatan kuantitatif yang berfokus pada
pengukuran tingkat stres, kecemasan, atau keterkaitannya dengan variabel
psikologis tertentu. Sementara itu, penelitian yang mengkaji pemaknaan quarter
life crisis secara mendalam melalui pendekatan kualitatif, khususnya metode
naratif, masih relatif terbatas. Padahal, pengalaman quarter life crisis bersifat
subjektif, kontekstual, dan unik pada setiap individu, sehingga memerlukan
pendekatan yang mampu menggali makna, proses, serta dinamika pengalaman
hidup secara komprehensif. Keterbatasan penelitian kualitatif naratif tersebut
menunjukkan adanya celah penelitian yang penting untuk dikaji lebih lanjut,
khususnya dalam memahami bagaimana individu memaknai quarter life crisis
dalam proses pembentukan identitas dan arah tujuan hidup.
B. KAJIAN PUSTKA DAN TIJAUAN TEORITIS
2.1 Definisi Quarter Life Crisis
Individu yang mengalami ketidakstabilan emosional seringkali
menunjukkan perubahan perasaan yang fluktuatif. Pada satu waktu,
individu dapat merasa bahagia, optimis, serta penuh semangat dalam
menjalani aktivitas dan mengejar impian. Namun, pada waktu lain,
perasaan tersebut dapat dengan cepat berganti menjadi takut, cemas, tidak
percaya diri, serta meragukan kemampuan diri dalam mencapai tujuan
hidup. Kondisi ini kerap membuat individu menjadi sangat sensitif dan
merasa tidak mampu menghadapi dinamika kehidupan yang dipersepsikan
semakin berat. Gambaran tersebut merepresentasikan suatu fenomena
krisis emosional yang dikenal dengan istilah quarter life crisis.
Istilah quarter life crisis pertama kali diperkenalkan oleh
Alexandra Robbins dan Abby Wilner pada tahun 2001 berdasarkan hasil
penelitian mereka terhadap kaum muda di Amerika Serikat. Robbins dan
Wilner menyebut kelompok ini sebagai twentysomethings, yaitu individu
yang baru saja meninggalkan fase kehidupan yang relatif aman dan
terstruktur pada masa sekolah, kemudian memasuki dunia kehidupan nyata
(real life) yang sarat dengan tuntutan, seperti melanjutkan pendidikan ke
perguruan tinggi, memasuki dunia kerja, hingga membangun hubungan
pernikahan. Meskipun berlandaskan pada teori tahapan perkembangan
psikososial Erikson, penelitian yang secara khusus menyoroti fase transisi
dari remaja menuju dewasa awal sebagai periode yang krusial masih
tergolong terbatas (Black, 2010). Padahal, pada fase ini individu
mengalami perubahan emosi dan perilaku yang sangat beragam. Quarter
life crisis digambarkan sebagai kondisi ketidakstabilan yang ditandai oleh
banyaknya pilihan hidup, kekhawatiran, kebingungan, hingga perasaan
putus asa yang dialami individu pada masa dewasa awal (Murphy, 2011).
Tidak semua individu yang berada pada rentang usia dewasa awal,
yakni 20–29 tahun, mengalami fase ini sebagai suatu krisis. Bagi sebagian
individu, periode tersebut justru menjadi masa yang menyenangkan karena
memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan
hidup guna menemukan makna hidup yang lebih mendalam. Namun
demikian, bagi individu lainnya, fase quarter life crisis dijalani dengan
perasaan panik, tertekan, tidak aman, serta merasa hidupnya kurang
bermakna (Nash & Murray, 2010). Berdasarkan pemahaman tersebut,
quarter life crisis dapat didefinisikan sebagai respons individu terhadap
ketidakstabilan yang memuncak, perubahan yang terus-menerus,
banyaknya pilihan hidup, serta munculnya perasaan panik dan
ketidakberdayaan (self-helplessness) yang umumnya dialami pada rentang
usia 20 hingga 29 tahun.
Kemunculan quarter life crisis umumnya ditandai ketika individu
telah menyelesaikan masa sekolah dan mulai menghadapi tanggung jawab
baru sebagai mahasiswa yang dituntut untuk menyelesaikan studi,
memasuki dunia kerja, serta menjalin komitmen dalam hubungan
interpersonal hingga membentuk keluarga. Kondisi ini seringkali
memunculkan berbagai karakteristik krisis emosional, seperti frustrasi,
panik, kecemasan, kemalasan, kecenderungan menunda pekerjaan,
penurunan produktivitas, serta kebingungan dalam menentukan arah
hidup. Dalam beberapa kasus, krisis ini bahkan dapat berkembang menjadi
depresi dan gangguan psikologis lainnya (Black, 2010). Fischer (2008)
menjelaskan bahwa quarter life crisis merupakan perasaan yang muncul
pada individu di pertengahan usia 20-an yang ditandai dengan ketakutan
terhadap kelanjutan hidup di masa depan, terutama terkait karier, relasi,
dan kehidupan sosial. Sementara itu, Martin (2017) memaknai quarter life
crisis sebagai hasil benturan antara tuntutan realitas kehidupan dewasa
dengan dorongan untuk meraih kehidupan yang lebih kreatif di tengah
banyaknya pilihan, seperti dalam pekerjaan, hubungan interpersonal, dan
keterlibatan dalam komunitas.
Olden-Madden (2007) mengemukakan bahwa quarter life crisis
merupakan masa transisi dari periode remaja menuju dewasa, di mana
individu berupaya mencapai kemandirian fisik dan emosional dari orang
tua, membangun karier, membentuk identitas diri yang positif, mencari
keintiman, menjadi bagian dari kelompok sosial, memilih pasangan hidup,
serta menyesuaikan diri dengan kehidupan pernikahan (Murphy, 2011).
Periode ini dapat menjadi proses pertumbuhan yang alami dari dunia
perguruan tinggi menuju dunia kerja, namun seringkali disertai dengan
perasaan putus asa, kecemasan, hingga depresi. Pada masa transisi dari
dunia akademik menuju dunia nyata (real world), individu cenderung
lebih sering mempertanyakan masa depan serta merefleksikan pengalaman
masa lalu yang dianggap memengaruhi kehidupannya di kemudian hari
(Robbins & Wilner, 2001). Karakteristik quarter life crisis ditandai
dengan munculnya perasaan putus asa dalam hubungan dan pekerjaan,
kebingungan identitas, serta rasa tidak aman terhadap masa depan dan
tujuan jangka panjang (Robbins & Wilner, 2001; Murphy, 2011; Martin,
2017).
Berdasarkan definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa quarter
life crisis merupakan periode pergolakan emosional yang terjadi pada
masa transisi dari remaja akhir menuju dewasa awal, khususnya pada
peralihan dari dunia akademik ke dunia nyata. Fase ini ditandai oleh
kebimbangan dalam pengambilan keputusan, perasaan putus asa, penilaian
diri yang negatif, perasaan terjebak dalam situasi sulit, kecemasan, tekanan
psikologis, serta kekhawatiran terhadap hubungan interpersonal dan masa
depan.
2.2 Aspek-Aspek Quarter Life Criss
Quarter life crisis merupakan respons emosional yang umumnya
dialami individu pada rentang usia dua puluhan. Fase ini ditandai oleh
munculnya perasaan panik, ketidakberdayaan, ketidakstabilan emosi,
kebimbangan akibat banyaknya pilihan hidup, kecemasan, tekanan, hingga
frustrasi, terutama ketika individu berada pada masa transisi dari dunia
perkuliahan menuju dunia nyata yang sarat dengan tuntutan dan
ekspektasi. Robbins dan Wilner (2001) mengemukakan bahwa terdapat
tujuh aspek utama yang dapat menjadi indikator seseorang mengalami
quarter life crisis, yaitu sebagai berikut.
a. Kebimbangan dalam pengambilan keputusan
Pada fase emerging adulthood, individu mulai dihadapkan pada
berbagai keputusan penting yang bersifat personal dan berkaitan
dengan pilihan hidup serta tujuan hidup (purpose in life). Banyaknya
alternatif pilihan yang tersedia sering kali memunculkan harapan-
harapan baru mengenai masa depan. Namun, kondisi ini juga dapat
menimbulkan kebingungan dan ketakutan, terutama karena adanya
kekhawatiran akan kesalahan dalam mengambil keputusan yang
berpotensi membuat tujuan hidup tidak tercapai sesuai harapan. Selain
itu, keterbatasan pengalaman hidup pada usia dewasa awal
menyebabkan individu kerap merasa ragu dan belum mantap dalam
menentukan pilihan hidupnya (Robbins & Wilner, 2001).
b. Putus asa
Perasaan putus asa pada individu umumnya muncul akibat kegagalan
yang dialami atau ketidakpuasan terhadap hasil yang telah dicapai,
sehingga individu memandang usaha dan kerja keras yang telah
dilakukan sebagai sesuatu yang sia-sia. Kondisi ini menyebabkan
harapan dan impian yang sebelumnya ingin diwujudkan menjadi
terabaikan karena munculnya perasaan tidak mampu dan menyerah.
Rasa putus asa cenderung semakin meningkat ketika individu
membandingkan dirinya dengan teman sebaya yang dinilai lebih
berhasil, baik dalam bidang akademik maupun karier. Akibatnya,
individu memandang dirinya berada pada posisi yang jauh tertinggal.
Selain itu, minimnya dukungan relasi sosial juga dapat memperparah
perasaan putus asa karena individu merasa tidak memiliki lingkungan
yang mendorong pengembangan potensi dirinya (Robbins & Wilner,
2001).
c. Penilaian diri yang negatif
Penilaian diri yang negatif dapat memicu munculnya kecemasan serta
ketakutan akan kegagalan. Individu cenderung meragukan kemampuan
dirinya dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks.
Selain itu, individu sering kali merasa bahwa hanya dirinya yang
mengalami kesulitan, sehingga muncul perasaan kesepian dan
kecenderungan membandingkan diri secara tidak sehat dengan orang
lain. Hal ini membuat individu memandang dirinya lebih rendah
karena belum mampu mencapai kehidupan yang dianggap ideal atau
sukses seperti yang telah diraih oleh teman-teman sebayanya (Robbins
& Wilner, 2001).
d. Terjebak dalam situasi sulit
Lingkungan sekitar memiliki peran besar dalam memengaruhi pola
pikir dan perilaku individu, yang tidak jarang menempatkan individu
pada situasi yang sulit, terutama dalam proses pengambilan keputusan.
Individu sering kali merasa berada dalam posisi yang serba salah, di
mana memilih satu keputusan terasa berat, namun meninggalkan
pilihan lainnya juga bukan hal yang mudah. Pada kondisi ini, individu
kerap mengalami peningkatan kebingungan dan ketakutan. Meskipun
terkadang individu mengetahui apa yang seharusnya dilakukan,
mereka tetap mengalami kesulitan untuk memulai langkah pertama
dalam menghadapi situasi tersebut (Robbins & Wilner, 2001).
e. Cemas
Pada fase ini, individu memiliki berbagai harapan dan target yang
ingin dicapai, namun realitas yang dihadapi sering kali menimbulkan
perasaan khawatir dan takut tidak mampu memberikan hasil yang
memuaskan. Individu cenderung menuntut kesempurnaan dalam setiap
hal yang dilakukan serta berusaha keras untuk menghindari kegagalan.
Perasaan cemas yang berlebihan ini membuat individu merasa tidak
aman karena terus dibayangi oleh kemungkinan kegagalan yang
sebenarnya belum tentu terjadi (Robbins & Wilner, 2001).
f. Tertekan
Individu yang mengalami quarter life crisis sering merasakan tekanan
psikologis yang intens akibat berbagai permasalahan yang dihadapi,
serta memandang bahwa beban hidup yang dirasakan semakin hari
semakin berat. Kondisi ini berdampak pada terganggunya aktivitas
sehari-hari, sehingga individu tidak dapat menjalankan perannya
secara optimal. Individu merasa kegagalannya dalam menghadapi
tuntutan hidup membuat dirinya semakin tertekan, terlebih dengan
adanya ekspektasi sosial terhadap mahasiswa atau lulusan baru untuk
segera mencapai kesuksesan tertentu sesuai standar masyarakat
(Robbins & Wilner, 2001).
g. Kekhawatiran terhadap hubungan interpersonal
Pada periode dewasa awal dalam hubungan interpersonal, khususnya
dengan lawan jenis, menjadi salah satu aspek perkembangan yang
dianggap penting. Dalam konteks budaya Indonesia, terdapat norma
sosial yang secara tidak langsung mendorong individu untuk menikah
sebelum usia tiga puluh tahun. Tekanan budaya tersebut dapat
memunculkan kekhawatiran dan kecemasan baru, sehingga individu
mulai mempertanyakan kesiapan dirinya untuk menikah, waktu yang
tepat untuk menikah, serta siapa pasangan yang sesuai untuk dijadikan
teman hidup. Selain itu, individu juga sering mengkhawatirkan
kemampuannya dalam menyeimbangkan berbagai peran dan
hubungan, seperti hubungan dengan keluarga, teman, pasangan, serta
tuntutan karier yang sedang dijalani (Robbins & Wilner, 2001).
2.3 Fase Quarter Life Crisis
Menurut Robinson, dkk. (2013) serta Robinson (2015), quarter life crisis
merupakan proses psikologis yang dialami individu melalui empat fase utama,
yaitu :
1. fase lock-in dan lock-out
Fase pertama adalah fase lock-in dan lock-out. Pada fase ini, individu
umumnya mengalami perasaan terjebak dan tertekan dalam berbagai
situasi kehidupan, seperti pekerjaan, proses penyelesaian studi
perkuliahan, maupun hubungan interpersonal. Pada fase lock-in, individu
telah memiliki komitmen utama dalam hidupnya, namun komitmen
tersebut tidak lagi sesuai dengan keinginan atau tujuan personal. Meskipun
demikian, individu belum mampu menentukan perubahan yang realistis
untuk dilakukan, sehingga memunculkan perasaan tidak berdaya, tertekan,
dan seolah terperangkap dalam kondisi yang tidak diinginkan. Sementara
itu, pada fase lock-out, individu merasa tidak mampu memenuhi tuntutan
dan peran sebagai individu dewasa. Perasaan tidak mampu ini ditandai
dengan kesulitan menghadapi tantangan akademik, memperoleh pekerjaan,
membangun hubungan sosial yang sehat, serta mencapai kemandirian
finansial.
2. fase separate dan time out
Fase kedua adalah fase separate dan time out. Pada fase ini, individu mulai
menyadari adanya kebutuhan untuk mengubah kondisi hidup yang sedang
dijalani. Fase separate ditandai dengan kecenderungan individu untuk
menjaga jarak, baik secara mental maupun fisik, dari komitmen yang
dimiliki pada fase sebelumnya. Proses ini melibatkan aspek afektif yang
kuat, seperti munculnya perasaan bersalah, sedih, cemas, gembira, lega,
hingga rasa malu ketika individu melakukan evaluasi diri terhadap
kehidupannya. Selanjutnya, pada fase time out, individu mulai melakukan
refleksi yang lebih mendalam terhadap situasi transisi yang dialami,
berupaya mengelola emosi yang menyakitkan, serta mulai membangun
dasar atau pondasi kehidupan yang baru.
3. fase exploration
Fase ketiga adalah fase exploration. Pada fase ini, individu mulai
menyusun dan mengeksplorasi komitmen baru yang berkaitan dengan
tujuan hidup (purpose in life) yang telah ditetapkan, baik tujuan yang
sudah ada sebelumnya maupun tujuan yang baru ditemukan. Ciri utama
fase ini adalah adanya berbagai percobaan dalam aspek kehidupan yang
dirasa lebih sesuai dengan nilai hidup, minat, dan keinginan pribadi.
Melalui proses eksplorasi tersebut, individu secara perlahan membangun
pondasi baru yang memungkinkan dirinya memiliki kendali yang lebih
baik terhadap arah dan makna hidupnya.
4. fase rebuilding
Fase terakhir adalah fase rebuilding. Fase ini ditandai dengan terbentuknya
komitmen dan perencanaan hidup yang lebih jelas dan terarah. Individu
mulai menjalani kehidupan baru yang selaras dengan minat serta nilai-nilai
personal yang diyakini. Pada tahap ini, individu memiliki motivasi internal
yang lebih kuat dibandingkan fase-fase sebelumnya, sehingga mampu
menciptakan kondisi kehidupan yang lebih stabil, memuaskan, dan
menyenangkan.
2.4 Faktor Mempengaruhi Quarter Life Crisis
Arnett (2015) menjelaskan bahwa quarter life crisis yang dialami individu
dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari dalam diri individu
(internal) maupun dari luar diri individu (eksternal), yaitu :
1. faktor internal
a. Identity exploration
Pada tahap ini, individu berada dalam proses eksplorasi identitas yang
lebih mendalam menuju kedewasaan. Individu mulai merefleksikan
kehidupannya secara lebih serius dan mempertanyakan berbagai aspek
fundamental, seperti tujuan hidup, pencapaian yang telah diraih, arah
masa depan, serta sejauh mana dirinya mampu membanggakan orang
tua. Proses pencarian makna ini sering kali memunculkan kebingungan
dan kecemasan, terutama ketika individu belum memiliki tujuan hidup
yang jelas. Kondisi tersebut menjadikan individu lebih rentan
mengalami quarter life crisis sebagai bagian dari pembentukan
kesadaran atas pilihan hidup yang akan diambil.
b. Instability.
Individu pada tahap emerging adulthood cenderung mengalami berbagai
perubahan secara cepat dan berkelanjutan, seperti transisi dari dunia
pendidikan ke dunia kerja, perencanaan pernikahan, maupun perubahan
peran sosial lainnya. Perubahan-perubahan ini menuntut individu untuk
mampu beradaptasi dengan kondisi baru yang sering kali tidak sesuai
dengan harapan atau rencana awal. Ketidakstabilan dalam berbagai aspek
kehidupan tersebut dapat memicu tekanan psikologis dan perasaan tidak
aman yang berkontribusi pada munculnya quarter life crisis.
c. Being self-focused.
Pada fase ini, individu mulai berupaya untuk menjadi pribadi yang
mandiri, belajar mengambil keputusan sendiri, serta bertanggung jawab
atas setiap pilihan yang dibuat. Individu juga mulai membangun fondasi
kehidupan dewasa, baik dalam aspek karier, hubungan, maupun
kemandirian personal. Banyaknya keputusan penting yang harus diambil
dalam waktu relatif singkat sering kali menimbulkan beban psikologis,
karena keputusan tersebut akan berdampak besar terhadap masa depan
individu.
d. Feeling in between.
Individu berada pada posisi transisi antara masa remaja dan dewasa, di
mana mereka merasa bukan lagi seorang remaja, namun juga belum
sepenuhnya memenuhi kriteria sebagai orang dewasa. Pada satu sisi,
individu dituntut untuk bertanggung jawab dan mandiri, tetapi di sisi lain
mereka masih merasa bergantung, baik secara emosional maupun
finansial. Perasaan berada “di tengah-tengah” ini kerap menimbulkan
kebingungan identitas dan ketidakpastian peran, yang menjadi salah satu
pemicu quarter life crisis.
e. The age of possibilities.
Pada tahap ini, individu dihadapkan pada berbagai kemungkinan dan
peluang, baik dalam hal karier, pendidikan lanjutan, maupun pasangan
hidup. Masa ini sering kali dipenuhi oleh harapan yang besar terhadap
masa depan. Namun, di balik harapan tersebut, muncul pula kekhawatiran
akan kegagalan, ketidaktercapaian cita-cita, serta ketakutan memilih jalan
hidup yang keliru. Tekanan antara harapan dan realitas inilah yang
berperan besar dalam memunculkan quarter life crisis pada individu
dewasa awal.
2. Faktor Eksternal
Berikut faktor eksternal quarter life crisis yang berasal dari luar diri
individu, yakni:
a. Relasi (keluarga, percintaan, dan teman)
Individu pada fase dewasa awal mulai mempertanyakan relasi yang
sedang maupun akan dibangun, baik dengan keluarga, pasangan,
maupun teman sebaya. Dalam relasi keluarga, individu mulai
memikirkan kemampuannya untuk hidup mandiri tanpa terlalu
bergantung pada orang tua, sehingga muncul dorongan kuat untuk
mandiri. Namun, keinginan tersebut sering kali dihadapkan pada
keterbatasan kemampuan finansial yang menimbulkan dilema
tersendiri. Sementara itu, dalam relasi percintaan dan pertemanan,
individu mulai merasa cemas mengenai dengan siapa ia akan menikah
serta siapa teman yang benar-benar dapat dipercaya dan dianggap
sebagai teman sejati dalam menghadapi perjalanan hidup menuju masa
depan.
b. Pekerjaan dan karir
Pekerjaan dan karir menjadi faktor eksternal lain yang berpengaruh
terhadap munculnya quarter life crisis. Individu mulai menyadari
bahwa pengalaman perkuliahan saja sering kali dirasa belum cukup
untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja. Dunia kerja yang
penuh dengan persaingan, tuntutan, dan tekanan menuntut individu
untuk mampu beradaptasi dengan cepat, sehingga dapat memicu stres,
kecemasan, bahkan depresi. Selain itu, individu juga mengalami
kebimbangan dalam menentukan pilihan karir, yaitu antara memilih
pekerjaan yang sesuai dengan minat dan potensi diri atau pekerjaan
yang dijalani semata-mata untuk memenuhi tuntutan kebutuhan hidup.
c. Tantangan bidang akademis
Individu dewasa awal yang berstatus sebagai mahasiswa juga
menghadapi berbagai tantangan dalam bidang akademik. Tuntutan
akademik yang tinggi, banyaknya tugas, tanggung jawab untuk
menyelesaikan studi tepat waktu, serta adanya persaingan dengan
mahasiswa lain sering kali memicu overthinking. Tidak jarang
individu merasa salah memilih jurusan karena bidang studi yang
dijalani dianggap tidak sesuai dengan minat dan potensi diri. Kondisi
ini sejalan dengan pendapat Nash dan Murray yang menyatakan bahwa
pada fase quarter life crisis, individu dipenuhi oleh berbagai
pertanyaan mengenai tujuan hidup dan masa depan, sehingga
menimbulkan keraguan dalam menjalani proses perkuliahan.
2.5 Karakteristik individu mengalami Quarter life crisis
Robbins (2004) mengemukakan bahwa individu dikatakan mengalami
quarter life crisis ketika mengalami beberapa karakteristik atau ciri berikut :
a. Merasa tidak mengetahui keinginan pribadi
b. Merasa kehidupan usia 20-an tidak sesuai denfan harapan atau
ekspetasi
c. Memiliki ketakutan akan kegagalan
d. Merasa terjebak dalam peran atau tanggungjawab yang dijalani
e. Mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan
f. Selalu membandingkan diri serta sering merendahkan diri
2.6 Usia Dewasa Awal
a. Definisi Dewasa awal
Para ahli memiliki perbedaan pandangan mengenai batasan usia
dewasa awal. Menurut Arnett (2015), dewasa awal merupakan masa
transisi dari remaja menuju dewasa yang berlangsung pada rentang usia
18–25 tahun. Sementara itu, berdasarkan teori perkembangan psikososial
Erikson (dalam Santrock, 2012), dewasa awal berada pada kisaran usia
20–30 tahun dan dikenal sebagai tahap intimacy versus isolation. Tahap ini
menekankan pentingnya kemampuan individu dalam menyeimbangkan
ego, menerima identitas diri maupun orang lain, serta mencapai
kemandirian. Perbedaan batasan usia dewasa awal tersebut dianggap
sebagai hal yang wajar, mengingat tidak adanya batasan usia yang bersifat
mutlak. Para ahli psikologi perkembangan juga meyakini bahwa
menentukan akhir masa remaja dan awal masa dewasa awal lebih sulit
dibandingkan menentukan awal masa remaja itu sendiri (Santrock, 2012).
Hurlock (1980) mendefinisikan dewasa sebagai individu yang telah
menyelesaikan pertumbuhan fisiknya dan siap menerima peran serta
tanggung jawab dalam masyarakat bersama orang dewasa lainnya. Fase
dewasa awal dipandang sebagai periode yang sarat dengan permasalahan
dan ketegangan emosional, sekaligus sebagai masa komitmen, perubahan
nilai-nilai, kreativitas, serta penyesuaian terhadap pola kehidupan yang
baru (Sabri, 1992). Pada tahap ini, individu cenderung melakukan berbagai
eksperimen dan eksplorasi, khususnya terkait pendidikan dan karier, serta
menetapkan dan berupaya mencapai tujuan hidupnya.
Individu yang memasuki masa dewasa awal menunjukkan
sejumlah aspek penting, seperti kemampuan bertanggung jawab penuh
atas tindakan dan keputusan yang diambil dalam menjalani kehidupan,
serta kemampuan mengembangkan pengendalian emosi (Santrock, 2012).
Anderson (dalam Mappiare, 1983) mengemukakan beberapa ciri
kematangan individu pada masa dewasa awal, yaitu :
1) Berorientasi pada tugas-tugas perkembangan
Individu dewasa awal yang matang mampu memahami dan menjalankan
tugas-tugas perkembangan yang sesuai dengan tahap usianya, seperti
menyelesaikan pendidikan, memasuki dunia kerja, membangun relasi yang
lebih stabil, serta mempersiapkan kemandirian hidup. Orientasi ini
menunjukkan adanya kesadaran akan tanggung jawab dan tuntutan
perkembangan yang harus dipenuhi.
2) Memiliki tujuan hidup (purpose in life) yang jelas serta kebiasaan kerja
yang efektif dan produktif.
Individu yang matang secara psikologis mampu menetapkan tujuan hidup
secara jelas dan realistis. Tujuan tersebut menjadi pedoman dalam
bertindak dan mengambil keputusan. Selain itu, individu mampu
mengembangkan kebiasaan kerja yang teratur, efisien, dan produktif, serta
dapat membedakan hal-hal yang penting dan tidak penting dalam upaya
mencapai tujuan hidupnya.
3) Mampu mengendalikan perasaan pribadi dan bersikap bijak dalam
menghadapi permasalahan
Kematangan dewasa awal ditandai dengan kemampuan individu dalam
mengelola emosi pribadi saat menghadapi berbagai situasi. Individu tidak
mudah terbawa emosi, mampu berpikir rasional, serta dapat
menyelesaikan masalah secara bijaksana. Selain itu, individu juga mampu
mempertimbangkan perasaan dan sudut pandang orang lain dalam setiap
tindakan yang dilakukan.
4) Memiliki sikap objektif dalam mengambil keputusan
Sikap objektif tercermin dari kemampuan individu untuk menilai suatu
permasalahan berdasarkan kenyataan dan fakta yang ada, bukan semata-
mata berdasarkan perasaan subjektif. Dengan sikap ini, individu mampu
mengambil keputusan yang lebih tepat, logis, dan sesuai dengan kondisi
yang dihadapi.
5) Mampu menerima kritik dan saran secara terbuka
Individu dewasa awal yang matang memiliki kemauan untuk menerima
kritik dan saran dari orang lain sebagai bentuk evaluasi diri. Sikap terbuka
ini menunjukkan bahwa individu memiliki pemahaman diri yang baik,
bersikap realistis terhadap kekurangan yang dimiliki, serta berupaya
melakukan perbaikan demi peningkatan kualitas diri.
6) Bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang diambil
Kematangan pada masa dewasa awal ditunjukkan melalui kemampuan
individu untuk bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat, baik yang
berdampak pada dirinya sendiri maupun orang lain. Individu tidak mudah
menyalahkan keadaan atau pihak lain, serta bersedia menerima
konsekuensi dari pilihan yang telah ditetapkan. Selain itu, individu juga
terbuka terhadap berbagai kesempatan yang mendukung pencapaian tujuan
hidupnya.
7) Mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi kehidupan
Individu dewasa awal yang matang memiliki kemampuan adaptasi yang
baik terhadap perubahan dan situasi baru. Individu mampu menempatkan
diri secara tepat sesuai dengan tuntutan lingkungan serta menyesuaikan
sikap dan perilaku dengan realitas yang dihadapi, sehingga dapat berfungsi
secara efektif dalam berbagai kondisi kehidupan.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa masa dewasa
awal merupakan fase yang menuntut individu untuk mengeksplorasi
kehidupan secara menyeluruh, menetapkan tujuan hidup yang jelas, serta
memanfaatkan berbagai kesempatan secara produktif demi mencapai masa
depan yang lebih baik. Keberhasilan individu dalam menjalankan tugas-
tugas perkembangan pada masa dewasa awal akan memberikan dampak
positif bagi tahap perkembangan selanjutnya. Individu dewasa awal
dianggap telah mampu mengendalikan emosi dan bertanggung jawab
terhadap diri serta kehidupannya, yang ditandai dengan kemampuan
mengeksplorasi identitas, adanya ketidakstabilan, kecenderungan self-
focused, perasaan feeling in between, serta kemampuan menetapkan
berbagai tujuan hidup.
b. Perkembangan Kognitif
Individu yang memasuki masa dewasa awal mengalami perkembangan
kognitif yang lebih kompleks dibandingkan tahap sebelumnya. Papalia
(2011) menjelaskan bahwa dewasa awal berada pada tahap postformal
thought, yaitu kemampuan berpikir yang mengombinasikan emosi, logika,
dan pengalaman nyata dalam menyelesaikan permasalahan. Postformal
thought melibatkan kemampuan berpikir logis serta kecenderungan
individu dalam menghadapi permasalahan berdasarkan pengalaman
subjektif, khususnya ketika berhadapan dengan situasi yang ambigu, tidak
pasti, tidak konsisten, atau tidak sempurna dalam kehidupan (Papalia,
2011). Oleh karena itu, individu dewasa awal diharapkan telah memiliki
kemampuan berpikir logis, pengendalian diri yang baik, serta kecerdasan
emosional yang memadai.
c. Perkembangan Sosio-Emosi
Erikson (1985) menyatakan bahwa masa dewasa awal merupakan
tahap intimacy versus isolation dalam teori perkembangan psikososial.
Pada tahap ini, individu menjadi lebih selektif dalam membangun
hubungan dengan orang lain. Keintiman (intimacy) diartikan sebagai
kemampuan individu untuk menyatukan identitas diri dengan identitas
orang lain tanpa rasa takut kehilangan jati diri (Alwisol, 2014). Individu
dikatakan mencapai tahap keintiman apabila memiliki ego yang stabil,
sehingga mampu menemukan nilai-nilai positif dalam kehidupannya.
Nilai-nilai positif tersebut terwujud dalam bentuk cinta, baik cinta kepada
Tuhan, pasangan, orang tua, teman, maupun lingkungan sekitar.
Sebaliknya, apabila tahap ini tidak tercapai, individu cenderung
mengalami isolasi (isolation), yaitu ketidakmampuan menjalin kerja sama
atau hubungan yang bermakna dengan orang lain (Alwisol, 2014). Kondisi
ini umumnya dipengaruhi oleh pengalaman pahit atau kegagalan dalam
menjalin hubungan sebelumnya.
Pada masa dewasa awal, individu juga dianggap telah memiliki
kecerdasan emosional (emotional intelligence) yang memungkinkan
dirinya memahami dan mengelola emosi secara adaptif dalam berperilaku
(Santrock, 2012). Keadaan emosi berperan penting dalam menentukan
efektivitas individu dalam menggunakan kemampuan berpikirnya untuk
menghadapi berbagai tantangan kehidupan (Papalia, 2011). Oleh karena
itu, penting bagi individu dewasa awal untuk membekali diri dengan
kemampuan mengontrol emosi dan pikiran guna menciptakan perilaku
yang lebih positif.
Pemikiran yang positif terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar
dapat menciptakan kondisi emosional yang lebih tenang dan stabil. Salah
satu upaya untuk mengelola pikiran dan emosi secara positif adalah
dengan bersikap open minded dalam memandang permasalahan kehidupan
serta mengambil pelajaran dari setiap pengalaman yang dilalui. Sikap
tersebut membantu individu berdamai dengan permasalahan hidup dan
meningkatkan kebahagiaan. Kebahagiaan pada dasarnya berasal dari
dalam diri, melalui pola pikir yang optimis, rasa syukur, dan keikhlasan
dalam menghadapi dinamika kehidupan. Pikiran yang optimis akan
membentuk emosi yang lebih stabil dan berpengaruh terhadap aktivitas
sehari-hari.
Santrock (2012) menegaskan bahwa kondisi emosional individu
memegang peranan penting dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan.
Emosi individu dewasa awal berkontribusi terhadap performa afektif
dalam bidang pendidikan maupun pekerjaan. Pengelolaan emosi yang baik
menjadi indikator penting dalam menilai integritas diri dan kematangan
psikologis individu. Dengan demikian, perkembangan sosio-emosional
pada masa dewasa awal memiliki peran yang sangat signifikan karena
memengaruhi cara individu bertindak, merespons lingkungan, serta
menentukan kemampuan dalam menghadapi berbagai permasalahan
kehidupan
2.7 Upaya Menghadapi Quarter life Crisis
a. Tujuan Hidup dan Quarter life crisis pada dewasa awal
Secara teoretis, masa dewasa awal berada pada rentang usia 20–30
tahun (Santrock, 2012). Pada fase ini, individu dihadapkan pada
berbagai transisi kehidupan yang signifikan, baik transisi dari remaja
akhir menuju dewasa awal maupun peralihan dari dunia akademik
menuju dunia nyata. Oleh karena itu, Arnett menggambarkan fase ini
sebagai periode yang tidak stabil dan penuh gejolak, karena individu
telah melewati masa remaja, namun belum sepenuhnya dapat
dikategorikan sebagai orang dewasa. Ketidakstabilan kondisi internal
individu dalam menghadapi dinamika kehidupan tersebut berpotensi
mengganggu kesehatan mental dan fisik, sehingga memunculkan
istilah “takut bertambah dewasa”.
Berbagai tuntutan yang muncul seiring dengan transisi kehidupan
pada masa dewasa awal cenderung memicu krisis emosional yang
dikenal sebagai quarter life crisis. Hal ini terjadi karena individu pada
tahap ini dituntut untuk mampu menjawab berbagai pertanyaan dari
lingkungan sekitar, seperti “kapan lulus?”, “sudah bekerja?”, “bekerja
di mana?”, hingga “kapan menikah?”. Kepemilikan gelar akademik
yang telah diraih sering kali diiringi dengan ekspektasi besar dari
lingkungan, yang secara tidak langsung menambah tekanan bagi
individu dewasa awal.
Individu dewasa awal kerap memikul harapan orang-orang
terdekatnya seorang diri. Kondisi ini menjadikan kegagalan sebagai
hal yang sangat ditakuti karena adanya kekhawatiran akan
mengecewakan orang-orang yang berarti dalam hidupnya. Pada fase
ini, individu dihadapkan pada ekspektasi yang tinggi sekaligus
tuntutan untuk bertanggung jawab atas dirinya sendiri dalam
menyongsong masa depan. Oleh sebab itu, kemampuan menetapkan
tujuan hidup yang jelas menjadi hal yang sangat penting. Tujuan hidup
berfungsi sebagai kompas yang mengarahkan individu dalam
menjalani kehidupan serta menjadi salah satu strategi efektif dalam
menghadapi berbagai permasalahan.
Individu dewasa awal perlu menetapkan tujuan hidup dan memiliki
komitmen yang kuat untuk mewujudkannya. Hal tersebut dapat
menjadi bekal utama dalam menghadapi fenomena quarter life crisis
yang umumnya muncul pada fase dewasa awal.
Fenomena quarter life crisis cenderung membuat individu rentan
mengalami kebimbangan hingga krisis emosional, seperti perasaan
cemas, takut, ragu, panik, bingung, dan putus asa terhadap masa depan,
terutama pada individu yang belum memiliki orientasi masa depan
yang jelas (Indrianie, 2021).
Krisis emosional yang dialami mahasiswa pada usia 20-an dikenal
sebagai quarter life crisis, yang ditandai dengan ketidakstabilan emosi,
perubahan yang terus berlangsung, banyaknya pilihan hidup, serta
kepanikan akibat tuntutan lingkungan. Quarter life crisis dipandang
sebagai krisis emosional karena memunculkan berbagai respons emosi
negatif, seperti panik, frustrasi, putus asa, merasa tertekan, serta
ketiadaan tujuan hidup (Mutiara, 2018). Individu yang mengalaminya
sering kali merasa kebingungan dalam menentukan arah hidup dan
diliputi kecemasan dalam menghadapi masa depan (Robinson dalam
Indrianie, 2021).
Individu dewasa awal yang belum memiliki orientasi masa depan
yang jelas terkait pencapaian hidupnya cenderung lebih rentan terjebak
dalam quarter life crisis (Indrianie, 2021). Kerentanan ini semakin
meningkat pada mahasiswa yang harus menghadapi tantangan
akademik sekaligus memikul tanggung jawab terhadap perannya
dalam keluarga, pekerjaan paruh waktu, maupun sistem sosial lainnya.
Quarter life crisis yang berlangsung dalam jangka waktu panjang
berpotensi menimbulkan dampak negatif, seperti stres berlebihan
hingga depresi (Nash & Murray, 2010).
Quarter life crisis dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal
maupun eksternal. Namun demikian, salah satu faktor internal yang
dapat memberikan dampak positif dalam menghadapi quarter life crisis
adalah tujuan hidup. Pada fase dewasa awal, individu mulai
membangun pandangan hidup (worldviews) terkait masa depannya,
sehingga fase ini menjadi periode krusial dalam menentukan
kesuksesan di masa mendatang. Tujuan hidup mencakup berbagai
harapan dan rencana masa depan, seperti penentuan karier atau
pekerjaan setelah menyelesaikan pendidikan dan menghadapi
kehidupan nyata. Penelitian menunjukkan bahwa salah satu faktor
yang memengaruhi keberhasilan individu dalam menghadapi quarter
life crisis adalah adanya perencanaan masa depan yang jelas (Nash &
Murray, 2010). Dengan demikian, tujuan hidup berperan dalam
memberikan energi positif dan memperkuat individu dalam
menghadapi berbagai persoalan hidup.
Individu yang memiliki tujuan hidup cenderung merasa lebih puas
dengan kehidupannya, memiliki motivasi positif untuk mencapai
aspirasi, serta menjadikan tujuan hidup sebagai penunjuk arah di
tengah banyaknya pilihan hidup yang harus ditentukan demi masa
depan. Keberadaan tujuan hidup dapat meminimalkan dampak negatif
quarter life crisis yang sering kali memunculkan emosi dan perilaku
negatif. Apabila individu mampu memaknai permasalahan hidup
sebagai tantangan, maka quarter life crisis dapat dihadapi secara lebih
bijaksana. Tujuan hidup membantu individu untuk tetap berkomitmen
dalam setiap usaha yang dilakukan guna mewujudkan impian, tanpa
memandang beratnya tantangan yang dihadapi. Individu yang aktif
mengupayakan tujuan hidupnya akan memperkecil jarak antara real
self dan ideal self. Ketika individu berani memulai langkah nyata
dalam mewujudkan tujuan hidup, maka ia semakin mendekati
keberhasilan, karena tujuan tanpa upaya konkret hanyalah sebatas
angan-angan.
Tujuan hidup membantu mahasiswa dalam menentukan arah untuk
mendedikasikan fokus dan energinya demi mencapai tujuan tersebut
(Bronk, 2011). Selain itu, tujuan hidup mendorong individu untuk
melakukan evaluasi diri secara berkelanjutan, seperti mempertanyakan
tingkat produktivitas dirinya, sehingga individu dapat memastikan
bahwa ia telah mengerahkan usaha maksimal untuk mencapai impian.
Dengan demikian, dampak negatif quarter life crisis dapat
diminimalkan (Robinson, 2015).
Lebih lanjut, tujuan hidup juga mampu memunculkan emosi-emosi
positif pada individu yang sedang menghadapi krisis emosional. Bronk
(2014) menyatakan bahwa tujuan hidup memberikan dampak positif
berupa meningkatnya rasa harapan dan kepuasan hidup dibandingkan
dengan individu yang tidak memiliki tujuan hidup (Bronk et al., 2009;
Bronk, 2014). Sebaliknya, individu yang tidak memiliki tujuan hidup
cenderung mengalami depresi (Bigler et al., dalam Bronk, 2014),
kecemasan sosial (Ho et al., 2010), serta kebosanan (Frankl, 1984).
Namun demikian, perlu dipahami bahwa tujuan hidup tidak
sekadar berupa keinginan semata, melainkan harus disertai dengan
komitmen, arah yang jelas, makna personal bagi individu, serta
dampak positif bagi lingkungan sekitar, dan diiringi oleh upaya nyata.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuan hidup
berperan penting dalam membantu individu menghadapi dampak
negatif quarter life crisis yang ditandai dengan kebimbangan, putus
asa, penilaian diri yang negatif, perasaan terjebak, kecemasan, dan
tekanan emosional.
b. Refleksi Menghadapi Quarter life crisis
Untuk membantu individu dewasa awal dalam menghadapi quarter life
crisis, diperlukan pemahaman dan refleksi terhadap aspek-aspek yang
memengaruhi kondisi tersebut, yaitu sebagai berikut:
1) Emosi Positif dan Emosi Negatif
Individu dewasa awal dalam menghadapi berbagai tantangan
kehidupan kerap mengalami quarter life crisis, yaitu suatu kondisi krisis
emosional yang ditandai dengan kebimbangan dalam mengambil
keputusan, perasaan putus asa, kecemasan, tekanan psikologis, rendah diri,
serta kekhawatiran terhadap masa depan. Apabila dampak negatif dari
quarter life crisis terus berlanjut dan tidak dikelola dengan baik, kondisi ini
dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan individu.
Ketika individu memaknai tantangan hidup semata-mata sebagai ancaman
yang menjatuhkannya, maka quarter life crisis cenderung membuat
individu menjadi tidak produktif dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Akibatnya, berbagai impian dan tujuan hidup dapat tertunda, bahkan
individu memilih menyerah sejak awal sebelum berupaya secara
maksimal.
Oleh karena itu, hal penting yang perlu dilakukan individu dalam
menghadapi quarter life crisis adalah mengenali sumber dari emosi negatif
maupun emosi positif yang dialaminya. Individu perlu memahami faktor-
faktor apa saja yang membuat dirinya merasa optimis maupun pesimis.
Selanjutnya, individu diharapkan mampu melatih diri untuk
mempertahankan hal-hal yang dapat memicu emosi positif serta
meminimalkan hal-hal yang hanya menimbulkan emosi negatif dalam
kehidupannya.
2 ) Pemikiran
Individu dewasa awal yang berada dalam fase eksplorasi
pendidikan, karier, pekerjaan, maupun pasangan sering kali terjebak pada
pola pikir negatif terhadap hal-hal yang sebenarnya belum tentu terjadi.
Overthinking terhadap kemungkinan-kemungkinan negatif, seperti
ketakutan akan kegagalan, kekhawatiran menjadi beban keluarga, tidak
memperoleh pekerjaan yang layak, merasa tidak kompeten, tidak mampu
bersaing, hingga merasa tidak berharga, justru memperkuat emosi negatif.
Pola pikir tersebut pada akhirnya membuat individu semakin terperangkap
dalam kondisi quarter life crisis. Perlu disadari bahwa pikiran memiliki
pengaruh besar terhadap emosi dan perilaku. Pikiran negatif akan
membentuk cara individu memandang dirinya sendiri dan lingkungan,
sehingga berpotensi menghambat aktivitas serta perkembangan diri.
Pada fase dewasa awal, fungsi pre-frontal cortex pada otak telah
berkembang dengan baik, sehingga individu memiliki kemampuan untuk
melakukan perencanaan, pertimbangan, penilaian, serta mengendalikan
dorongan-dorongan yang muncul dalam pikiran. Dalam pengambilan
keputusan yang berkaitan dengan masa depan, individu cenderung
mempertimbangkan berbagai aspek dan dituntut untuk bersikap lebih hati-
hati. Oleh sebab itu, individu dewasa awal seharusnya telah memiliki
kemampuan untuk mengontrol dan mengelola pola pikirnya secara lebih
matang.
Sebagai individu dewasa awal, penting untuk belajar berpikir
secara terbuka (open minded) dan mengembangkan pola pikir bertumbuh
(growth mindset) dalam memandang dinamika kehidupan. Pola pikir yang
fleksibel akan membantu individu memaknai kegagalan bukan sebagai
akhir dari segalanya, melainkan sebagai tantangan untuk mengembangkan
diri menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan demikian, individu akan
terus berupaya mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
Ketika dihadapkan pada situasi yang tidak sesuai dengan
ekspektasi, individu perlu belajar mengambil pelajaran atau insight dari
pengalaman tersebut. Individu dapat merefleksikan hal-hal positif yang
diperoleh, aspek-aspek yang masih perlu ditingkatkan, serta langkah-
langkah yang dapat dilakukan ke depannya. Berpikir dari sudut pandang
yang berbeda, termasuk mengevaluasi apakah usaha sebelumnya telah
dilakukan secara maksimal, dapat membantu individu melihat situasi
secara lebih objektif. Selain itu, keyakinan bahwa Tuhan memiliki rencana
terbaik bagi setiap hamba-Nya juga dapat menjadi sumber kekuatan dalam
menghadapi kesulitan.
Individu juga perlu belajar mengapresiasi diri sendiri atas setiap
upaya yang telah dilakukan, meskipun hasil yang diperoleh belum sesuai
dengan harapan. Menghargai proses dan keberanian untuk mencoba
merupakan langkah penting dalam membangun ketahanan diri. Jangan
takut menghadapi tantangan berikutnya, karena tujuan hidup hanya dapat
dicapai melalui usaha yang sepadan. Lebih baik berjuang dan mengalami
kegagalan daripada tidak berusaha sama sekali. Seperti pepatah yang
menyatakan bahwa kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda,
kepercayaan terhadap tujuan hidup akan menguatkan individu untuk
menjadi pribadi yang lebih baik.
Selain itu, individu perlu mulai membiasakan diri untuk bertindak.
Individu yang terjebak dalam quarter life crisis sering kali mengalami
kemalasan dan penurunan produktivitas akibat rasa takut untuk memulai.
Padahal, setiap tindakan memiliki risiko dan konsekuensi yang perlu
dipertimbangkan secara rasional. Misalnya, menunda mengerjakan skripsi
hari ini dapat berdampak pada keterlambatan kelulusan, teguran dari
dosen, maupun kekecewaan orang tua.
Individu perlu memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat
terjadi ketika rasa malas dibiarkan berlarut-larut. Saat individu terus
menunda untuk mewujudkan impiannya, di luar sana terdapat banyak
orang yang berjuang keras untuk mengalahkan persaingan dan mencapai
tujuan hidupnya. Untuk menjadi lebih produktif, individu juga dapat
melalui proses modelling, yaitu dengan menentukan figur teladan dan
mempelajari pengalaman hidup yang telah mereka lalui dalam meraih
kesuksesan.
Individu juga perlu mendorong dirinya untuk keluar dari zona
nyaman yang memicu kemalasan, putus asa, dan rendah diri. Awalnya,
tindakan tersebut mungkin terasa sebagai paksaan, namun jika dilakukan
secara berulang, hal itu akan berkembang menjadi kebiasaan positif.
Sebaliknya, ketika kebiasaan tersebut tidak dilakukan, individu akan
merasa ada sesuatu yang kurang. Oleh karena itu, penting bagi individu
untuk mengingat kembali penyebab kemalasan dan berusaha melawannya
dengan mengingat tujuan hidup, mengontrol diri, serta menghindari
perasaan putus asa, keraguan, dan rendah diri dalam menyambut masa
depan.
Beranikan diri untuk menghadapi tantangan dengan meyakini
bahwa tantanganlah yang akan membentuk dirinya. Menetapkan target
kecil maupun besar dapat menjadi langkah konkret dalam mencapai tujuan
hidup. Sebagai contoh, individu dapat menetapkan target mengerjakan
skripsi minimal dua jam setiap hari. Pemberian self-reward setelah target
tercapai, seperti menonton film favorit atau melakukan aktivitas yang
menyenangkan, dapat membantu menjaga motivasi. Menikmati setiap
proses dengan cara yang sesuai dengan diri sendiri akan membuat
perjalanan mencapai tujuan terasa lebih bermakna.
Pada akhirnya, setiap individu memiliki potensi untuk menjadi apa
pun yang diinginkannya selama disertai dengan upaya nyata. Ketika rasa
lelah muncul, individu dapat mengingat kembali impian yang ingin
dicapai, berbagai pengorbanan yang telah dilakukan, serta pengorbanan
orang-orang terdekat, khususnya orang tua, yang senantiasa mengharapkan
kesuksesan anaknya. Tujuan hidup pada dasarnya membutuhkan
keberanian untuk memulai. Dengan melakukan berbagai aktivitas yang
bermanfaat, individu dewasa awal akan lebih mampu menghadapi quarter
life crisis dan secara perlahan menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak
memberikan manfaat bagi kehidupannya.
BAB III (METODOLOGI PENELITIAN)
A. DESAIN PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi
naratif. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk
memahami makna pengalaman subjektif individu secara mendalam. Menurut
Creswell (2014), penelitian kualitatif digunakan ketika peneliti ingin
mengeksplorasi dan memahami makna yang berasal dari masalah sosial atau
kemanusiaan yang dialami individu atau kelompok.
Desain studi naratif digunakan karena penelitian ini berfokus pada cerita
pengalaman hidup mahasiswa yang baru lulus kuliah dalam menghadapi
quarter life crisis. Inti dalam metode narrative inquiry adalah kemampuan
metode ini untuk memahami identitas dan pandangan dunia seseorang dengan
mengacu pada cerita-cerita (narasi) yang ia dengar ataupun tuturkan di dalam
kehidupannya sehari-hari. Cerita ditulis melalui proses mendengarkan baik
dari orang lain atau bertemu langsung dengan subyek penelitian melalui
wawancara.
Selain itu, Creswell (2013) menyatakan bahwa penelitian naratif sangat
sesuai untuk mengkaji transisi kehidupan, krisis identitas, serta perubahan
peran sosial, yang sejalan dengan karakteristik quarter life crisis pada fase
dewasa awal. Oleh karena itu, desain studi naratif dinilai tepat untuk menggali
makna quarter life crisis bagi mahasiswa yang baru lulus kuliah.
B. WILAYAH PENELITIAN DAN SUMBER DATA
Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Rancaekek, cipacing, dan tanjung
sari yang dipilih berdasarkan dengan karakteristik partisipan. Dalam penelitian
kualitatif, lokasi penelitian berfungsi sebagai konteks sosial yang
memengaruhi pengalaman dan pemaknaan individu (Moleong, 2019).
Sumber data dalam penelitian ini terdiri atas:
1. Sumber data primer, yaitu mahasiswa yang baru lulus kuliah dan
mengalami quarter life crisis. Partisipan dipilih menggunakan teknik
purposive sampling.
2. Sumber data sekunder, berupa dokumen pendukung seperti catatan
pribadi, serta literatur ilmiah yang relevan dengan quarter life crisis dan
perkembangan dewasa awal.
C. TEKNIK PENGUMPULAN DATA
1) Wawancara
Wawancara mendalam digunakan sebagai teknik utama dalam
pengumpulan data karena penelitian ini berfokus pada pengalaman
subjektif dan pemaknaan personal partisipan. Wawancara mendalam
bertujuan untuk menggali dunia kehidupan partisipan (lived experiences)
melalui dialog yang terarah namun fleksibel. Teknik ini memungkinkan
peneliti memahami perasaan, pikiran, dan refleksi partisipan secara lebih
mendalam terkait fenomena quarter life crisis.
Wawancara dalam penelitian ini bersifat semi-terstruktur, yaitu
menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan terbuka, namun
tetap memberi ruang bagi partisipan untuk mengembangkan cerita
pengalaman hidupnya secara bebas. Pendekatan ini sejalan dengan desain
studi naratif, di mana cerita dan alur pengalaman menjadi fokus utama
penelitian .
Topik wawancara mencakup pengalaman partisipan setelah lulus kuliah,
tantangan yang dihadapi dalam memasuki dunia kerja atau kehidupan
dewasa awal, perasaan cemas dan kebingungan terhadap masa depan, serta
cara partisipan memaknai quarter life crisis dalam kehidupannya.
Wawancara dilakukan secara tatap muka atau daring, disesuaikan dengan
kondisi partisipan, dan direkam menggunakan alat perekam dengan
persetujuan partisipan untuk menjaga keakuratan data. Seluruh hasil
wawancara kemudian ditranskripsikan secara verbatim sebagai bahan
analisis.
2) Observasi Non-Partisipan
penelitian ini juga menggunakan teknik observasi non-partisipan sebagai
data pendukung. Observasi dilakukan tanpa melibatkan peneliti secara
langsung dalam aktivitas partisipan, melainkan dengan mengamati respons
dan perilaku partisipan selama proses wawancara berlangsung. Menurut
Sugiyono (2019), observasi non-partisipan memungkinkan peneliti
memperoleh data perilaku secara objektif tanpa memengaruhi situasi yang
diamati.
Dalam penelitian ini, observasi difokuskan pada aspek non-verbal
partisipan, seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh, intonasi suara, jeda dalam
berbicara, serta perubahan emosi ketika menceritakan pengalaman
tertentu. Data observasi ini digunakan untuk memperkaya dan
memperdalam pemahaman terhadap narasi yang disampaikan secara
verbal dalam wawancara.
Hasil observasi dicatat dalam bentuk catatan lapangan (field notes) dan
digunakan sebagai bahan pendukung dalam analisis naratif. Dengan
mengombinasikan wawancara dan observasi, peneliti dapat memperoleh
gambaran yang lebih utuh dan kontekstual mengenai pengalaman dan
makna quarter life crisis yang dialami oleh partisipan.
D. TEKNIK ANALISIS DATA
1) Transkip data
2) Pengkodean data
3) Identifikasi kasus
4) Interpretasi
E. TEKNIK PEMERIKSAAN KEABSAHAN DATA
F. RENCANA JADWAL PENELITIAN
REFERENSI :
Habibie, A. (2023). Peran moderasi kebermaknaan hidup pada pengaruh
perencanaan karir dan Quarter-Life Crisis pada Mahasiswa Warga Calon
IKN (Ibu Kota Negara) (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim).
Sallata, J. M. M., & Huwae, A. (2023). Resiliensi dan quarter life-crisis pada
mahasiswa tingkat akhir. Jurnal Cakrawala Ilmiah, 2(5), 2103-2112.
Yunanto, T. A. R., & Putra, D. A. A. (2023). Pengalaman mencapai flourishing
pada masa quarter-life crisis. Jurnal Psikologi Sains dan Profesi (Journal
of Psychological Science and Profession), 7(3), 236-255.
Aristawati, A. R., Meiyuntariningsih, T., Cahya, F. D., & Putri, A. (2021).
Emotional intelligence dan stres pada mahasiswa yang mengalami quarter-
life crisis. Psikologi Konseling, 12(2), 1035-1046.
Nugsria, A., Pratitis, N. T., & Arifiana, I. Y. (2023). Quarter life crisis pada
dewasa awal: Bagaimana peranan kecerdasan emosi?. INNER: journal of
psychological research, 3(1), 1-10.
Judijanto, L., Wibowo, G. A., Karimuddin, K., Samsuddin, H., Patahuddin, A.,
Anggraeni, A. F., ... & Simorangkir, F. M. A. (2024). Research design:
Pendekatan kualitatif dan kuantitatif. PT. Sonpedia Publishing Indonesia.
Allison, B. (2010). Halfway between somewhere and nothing: An exploration
between quarter-life crisis and life satisfaction among graduate students
(Master’s thesis). ProQuest Dissertations and Theses.
Alwisol. (2014). Psikologi kepribadian (Edisi revisi). UMM Press.
Arnett, J. J. (2015). Emerging adulthood: The winding road from the late teens
through the twenties. Oxford University Press.
Atien, C. N. (2009). Deteksi dini gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak.
Jurnal Pendidikan Khusus, 5(2), 15–25.
Atwood, D., & Scholtz, C. (2008). The quarter-life time period: An age of
indulgence, crisis or both. Contemporary Family Therapy, 30(4), 233–250.
[Link]
Baltes, P. B., Lindenberger, U., & Staudinger, U. M. (2006). Life-span theory in
developmental psychology. In R. M. Lerner (Ed.), Handbook of child
psychology (pp. 569–664). John Wiley & Sons.
Bronk, K. C. (2011). Portraits of purpose: The role of purpose in healthy identity
formation. New Directions for Youth Development, 132, 31–44.
[Link]
Bronk, K. C. (2014). Purpose in life: A critical component of optimal youth
development. Springer.
Bronk, K. C., Hill, P. L., Lapsley, D. K., Talib, T. L., & Finch, H. (2009).
Purpose, hope, and life satisfaction in three age groups. The Journal of
Positive Psychology, 4(6), 500–510.
Damon, W., Menon, J., & Bronk, K. C. (2003). The development of purpose
during adolescence. Applied Developmental Science, 7(3), 119–128.
Erikson, E. H. (2010). Childhood and society. W. W. Norton & Company.
Fischer, K. (2008). Ramen noodles, rent, and résumés: An after-college guide to
life. SuperCollege LLC.
Frankl, V. E. (1984). Man’s search for meaning: An introduction to logotherapy.
Simon & Schuster.
Febrianchi, U. W. (2018). Resiliensi akademik mahasiswa yang sedang
menempuh skripsi (Skripsi). Universitas Muhammadiyah Malang.
Ho, M. Y., Cheung, S. F., & Cheung, F. M. (2012). The role of meaning in life
and optimism in promoting well-being. Personality and Individual
Differences, 48, 658–663.
Howell, A. J., & Watson, D. C. (2007). Procrastination: Associations with
achievement goal orientation and learning strategies. Personality and
Individual Differences, 43(2), 167–178.
Hurlock, E. B. (2002). Psikologi perkembangan: Suatu pendekatan sepanjang
rentang kehidupan. Erlangga.
Indriane, E. (2021). Survive menghadapi quarter life crisis. Brilliant.
Iqbal, H. (2004). Analisis data penelitian dengan statistik. PT Bumi Aksara.
Jennyfer. (2019). Tanda Anda sedang dalam quarter-life crisis dan cara bijak
menghadapinya. Hello Sehat.
[Link]
Mappiare, A. (1983). Psikologi orang dewasa. Usaha Nasional.
Martin, A. J., & Marsh, H. W. (2006). Academic resilience and its psychological
and educational correlates: A construct validity approach. Psychology in
the Schools, 43(3), 401–414.
Murphy, M. (2011). Emerging adulthood: Is the quarter-life crisis a common
experience? (Thesis). Dublin Institute of Technology.
Nash, R. J., & Murray, M. C. (2010). Helping college students find purpose: The
campus guide to meaning making. Jossey-Bass.
Nurhayati, E. (2012). Psikologi perempuan dalam berbagai perspektif. Pustaka
Pelajar.
Oishi, S., & Diener, E. (2012). Goals, culture, and subjective well-being.
Personality and Social Psychology Bulletin, 27(12), 1674–1682.
Olden-Madden, J. H. (2007). Correlates and predictors of life satisfaction among
18 to 35 years: An exploration of the quarter-life crisis phenomenon
(Thesis). ProQuest Dissertations and Theses.
Papalia, D. E., Olds, S. W., & Feldman, R. D. (2009). Human development
(Perkembangan manusia). Salemba Humanika.
Papalia, D. E., Wendkos, S., & Duskin, R. (2011). Human development (Edisi ke-
9, Terjemahan A. K. Anwar). Kencana.
Robbins, A., & Wilner, A. (2001). Quarter-life crisis: The unique challenges of
life in your twenties. Penguin Putnam.
Robinson, O. C., Wright, G. R. T., & Smith, J. A. (2013). The holistic phase
model of early adult crisis. Journal of Adult Development.
[Link]
Robinson, O. C. (2018). A longitudinal mixed-methods case study of quarter-life
crisis during the post-university transition. Emerging Adulthood, 7(3),
167–179. [Link]
Sabri, M. A. (1992). Pengantar psikologi umum dan pengembangan. Pedoman
Ilmu Jaya.
Santrock, J. W. (2012). Life-span development: Perkembangan masa hidup (Edisi
ke-13, Jilid 2). Erlangga.
Tanner, J. L., Arnett, J. J., & Leis, J. A. (2008). Emerging adulthood learning and
development during the first stage of adulthood. In Handbook of research
on adult development and learning. T&F eBooks.
Wibowo, A. S. (2017). Mantra kehidupan: Refleksi melewati fresh graduate
syndrome dan quarter-life crisis. Elex Media Komputindo.