0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan22 halaman

Pencegahan Stroke Berulang di Indonesia

Diunggah oleh

khalilabrar03
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan22 halaman

Pencegahan Stroke Berulang di Indonesia

Diunggah oleh

khalilabrar03
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

1. Latar Belakang

Stroke, yang secara medis dikenal sebagai cedera serebrovaskular (CVA),


merupakan kondisi serius yang melibatkan gangguan pada aliran darah menuju otak.
Gangguan ini dapat menyebabkan fungsi otak terganggu secara signifikan, terutama
jika kerusakannya meluas dan mengakibatkan kematian sebagian besar sel-sel saraf.
Akibatnya, aktivitas otak bisa berhenti sementara, dan pasokan darah ke wilayah otak
yang terdampak akan menurun drastis, yang pada akhirnya berpotensi memicu
perkembangan penyakit serebrovaskular yang berkepanjangan selama bertahun-tahun
(Widyaswara Suwaryo et al., 2019). Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan
fisik, tetapi juga kualitas hidup penderita secara keseluruhan.

Salah satu komplikasi paling mengkhawatirkan dari stroke adalah terjadinya


stroke berulang, yaitu serangan kedua atau lebih pada individu yang pernah
mengalaminya sebelumnya. Setelah stroke berulang pertama kali terjadi,
kemungkinan untuk mengalami kekambuhan selanjutnya menjadi semakin tinggi dan
sulit dikendalikan. Dampak dari stroke berulang ini biasanya jauh lebih parah
dibandingkan dengan serangan awal, karena dapat menimbulkan kerusakan otak yang
lebih ekstensif. Hal ini berisiko menyebabkan gangguan fungsi kognitif seperti
masalah memori dan konsentrasi, kecacatan fisik yang permanen, serta bahkan
kematian prematur akibat luasnya area otak yang rusak (Anita Fransiska et al., 2021).
Oleh karena itu, pencegahan stroke berulang menjadi prioritas utama dalam
manajemen pasca-stroke.

Menurut definisi dari World Health Organization (WHO), stroke adalah suatu
keadaan di mana muncul tanda-tanda klinis yang berkembang dengan cepat, berupa
defisit neurologis baik yang bersifat lokal maupun global. Gejala ini cenderung
memburuk dan berlangsung minimal selama 24 jam atau lebih, serta berpotensi
mengakibatkan kematian jika tidak ditangani segera. Di berbagai negara berkembang,
pengamatan menunjukkan bahwa mayoritas kasus stroke—sekitar 75,2%—berkaitan
langsung dengan angka kematian yang tinggi, sementara sebanyak 81,0% kasus
lainnya meninggalkan dampak berupa kecacatan jangka panjang yang memengaruhi
aktivitas sehari-hari penderita (Venketasubramanian et al., 2017). Statistik ini
menekankan urgensi penanganan stroke di tingkat global, terutama di wilayah dengan
sumber daya kesehatan terbatas.

Di Indonesia, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kementerian


Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) pada tahun 2018, prevalensi stroke
menunjukkan variasi yang signifikan antarprovinsi. Provinsi dengan angka tertinggi
adalah Kalimantan Timur, mencapai 14,7%, sementara yang terendah ditemukan di
Provinsi Papua dengan 4,1%. Khusus untuk Provinsi Sulawesi Selatan, prevalensinya
berada di angka 10,6%, yang menandakan beban penyakit yang cukup tinggi di
wilayah tersebut. Pola prevalensi ini juga dipengaruhi oleh faktor demografis, di mana
angka kasus cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Kelompok usia 75
tahun ke atas memiliki prevalensi tertinggi sebesar 48,2%, sedangkan kelompok usia
muda 15-24 tahun hanya mencapai 0,6%, menunjukkan bahwa stroke lebih banyak
menyerang populasi lanjut usia. Dari perspektif jenis kelamin, tidak ada perbedaan
yang mencolok, dengan prevalensi pada laki-laki sebesar 11% dan pada perempuan
10,9%. Faktor sosial-ekonomi juga berperan, di mana prevalensi lebih tinggi pada
kelompok dengan pendidikan rendah (21,2%), pekerjaan tidak tetap atau
pengangguran (21,8%), serta di daerah perkotaan (12,6%) dibandingkan pedesaan
(8,8%) (Kemenkes RI, 2018). Data ini menggambarkan bagaimana faktor lingkungan
dan sosial dapat memperburuk risiko stroke di masyarakat Indonesia.

Lebih lanjut, data lokal dari Rumah Sakit Stella Maris Makassar untuk periode
2018 hingga 2019 mencatat total pasien stroke sebanyak 168 orang. Di antara mereka,
43 pasien mengalami stroke berulang, yang menunjukkan tingkat kekambuhan yang
cukup signifikan. Sayangnya, dari kasus stroke berulang tersebut, terdapat 17 pasien
yang akhirnya meninggal dunia, menggarisbawahi betapa mematikannya komplikasi
ini jika tidak dicegah.

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya stroke berulang dapat


dikategorikan menjadi dua kelompok utama: faktor yang tidak dapat diubah dan
faktor yang dapat dimodifikasi. Faktor tidak dapat diubah meliputi usia (semakin tua
semakin berisiko), jenis kelamin (meskipun tidak ada perbedaan signifikan, tapi pola
bisa berbeda), serta riwayat penyakit keluarga atau kondisi bawaan. Sementara itu,
faktor yang dapat diubah mencakup kondisi medis seperti hipertensi (tekanan darah
tinggi), diabetes melitus, hiperlipidemia (kadar lemak darah tinggi), kebiasaan
merokok, kelainan jantung, dan ketidakpatuhan terhadap pengobatan atau kontrol
rutin. Jika faktor-faktor yang dapat dikendalikan ini tidak ditangani dengan tepat,
seperti melalui pengobatan yang konsisten atau perubahan gaya hidup, maka risiko
stroke berulang akan melonjak secara dramatis. Untuk mencegah hal ini, upaya
pencegahan yang efektif harus dimulai sejak dini dengan menerapkan perilaku hidup
sehat. Ini termasuk pengendalian optimal faktor risiko melalui pemeriksaan kesehatan
rutin, konsumsi makanan bergizi rendah garam dan lemak, kepatuhan terhadap resep
obat, menghentikan kebiasaan merokok, serta peningkatan kesadaran akan tanda-
tanda awal stroke. Tanda-tanda tersebut meliputi senyum yang tidak simetris,
kelemahan atau kelumpuhan mendadak pada lengan atau kaki, suara yang serak, pelo,
atau hilang tiba-tiba, rasa kebas atau mati rasa, gangguan penglihatan seperti kabur
atau buta sebelah, serta gejala vertigo, pusing berputar, atau kesulitan berjalan
(Kemenkes RI, 2018). Pendekatan holistik ini tidak hanya mengurangi risiko
kekambuhan, tetapi juga meningkatkan prognosis keseluruhan bagi penderita stroke.

Berdasarkan pemahaman mendalam dari latar belakang ini, peneliti menyadari


bahwa terjadinya stroke berulang dipengaruhi oleh kombinasi faktor yang tidak dapat
diubah—seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat penyakit bawaan—serta faktor yang
dapat diubah, termasuk hipertensi, diabetes melitus, hiperlipidemia, kebiasaan
merokok, dan ketidakpatuhan dalam pengobatan. Kombinasi kedua faktor ini dapat
mempercepat proses kekambuhan, sehingga menimbulkan dampak yang lebih buruk
bagi kesehatan. Oleh karena itu, peneliti merasa tertarik dan termotivasi untuk
melakukan penelitian lebih lanjut yang secara khusus mengeksplorasi faktor-faktor
risiko utama yang berkontribusi terhadap kejadian stroke berulang, dengan harapan
hasilnya dapat memberikan rekomendasi pencegahan yang lebih efektif di tingkat
klinis dan komunitas.

2. Rumusan Masalah

Stroke berulang didefinisikan sebagai kondisi di mana serangan stroke


terjadi lagi pada individu yang telah pernah mengalaminya sebelumnya,
sehingga menyerang kembali sistem saraf pusat yang sudah rentan. Kondisi ini
sering kali menghasilkan konsekuensi yang jauh lebih serius dan berat
dibandingkan dengan episode stroke pertama, karena dapat memicu kerusakan
otak yang lebih luas dan mendalam. Akibatnya, penderita berisiko mengalami
berbagai komplikasi jangka panjang, seperti gangguan fungsi kognitif yang
memengaruhi kemampuan berpikir, memori, dan pengambilan keputusan;
kecacatan fisik yang membatasi mobilitas dan aktivitas sehari-hari; serta
bahkan risiko kematian yang lebih tinggi, semuanya disebabkan oleh tingkat
kerusakan jaringan otak yang semakin parah. Dengan demikian, stroke
berulang tidak hanya memperburuk prognosis kesehatan secara keseluruhan,
tetapi juga menimbulkan beban emosional dan ekonomi yang signifikan bagi
pasien serta keluarganya.

Pada akhir-akhir ini, insiden stroke berulang menunjukkan tren


peningkatan yang mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk di
Indonesia, yang didorong oleh perubahan gaya hidup modern dan kurangnya
kesadaran pencegahan. Beberapa faktor utama yang menjadi pemicu atau
kontributor terhadap terjadinya stroke berulang meliputi elemen-elemen yang
tidak dapat diubah sepenuhnya, seperti usia lanjut yang meningkatkan
kerentanan pembuluh darah, jenis kelamin (meskipun pola risikonya bisa
bervariasi), serta faktor herediter atau genetik yang diturunkan dari riwayat
keluarga. Selain itu, terdapat faktor-faktor yang dapat dimodifikasi melalui
intervensi medis dan perilaku, seperti hipertensi atau tekanan darah tinggi
yang merusak dinding arteri, diabetes melitus yang mengganggu regulasi gula
darah, hiperlipidemia atau kadar kolesterol dan lemak darah yang berlebih,
ketidakpatuhan terhadap jadwal kontrol kesehatan rutin, serta kebiasaan
merokok yang mempercepat penyumbatan pembuluh darah. Faktor-faktor ini
saling berkaitan dan, jika tidak dikelola dengan baik, dapat memperbesar
kemungkinan kekambuhan stroke secara signifikan.

Berdasarkan analisis terhadap faktor-faktor risiko tersebut, serta


mempertimbangkan konteks lokal di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru
sebagai pusat pelayanan kesehatan utama, penelitian ini merumuskan
pertanyaan-pertanyaan penelitian berikut untuk menggali lebih dalam
hubungan antara faktor risiko dan kejadian stroke berulang:

1. Seberapa besar tingkat risiko yang terkait dengan usia pada pasien stroke
di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru untuk mengalami kejadian stroke
berulang, mengingat usia sering menjadi prediktor utama kerentanan
vaskular?

2. Seberapa besar risiko kejadian stroke berulang pada pasien stroke di


Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru yang memiliki riwayat hipertensi, di
mana kondisi ini dikenal sebagai salah satu penyebab utama kerusakan
pembuluh darah otak?

3. Seberapa besar risiko kejadian stroke berulang pada pasien stroke di


Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru yang menderita riwayat diabetes
melitus, mengingat gangguan metabolisme gula darah dapat memperburuk
plak aterosklerosis di arteri serebral?

4. Seberapa besar pengaruh ketidakpatuhan terhadap kontrol kesehatan rutin


dalam meningkatkan risiko kejadian stroke berulang pada pasien stroke di
Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, terutama karena kurangnya
pemantauan dapat membiarkan faktor risiko lain berkembang tanpa
kendali?

5. Apa faktor risiko yang paling dominan atau berpengaruh terbesar terhadap
kejadian stroke berulang pada pasien stroke di Rumah Sakit Awal Bros
Pekanbaru, di antara berbagai faktor yang telah disebutkan, sehingga dapat
menjadi fokus utama intervensi pencegahan?

3. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami
secara mendalam faktor-faktor risiko yang berkontribusi terhadap
terjadinya stroke berulang pada pasien yang telah menderita stroke
sebelumnya di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru. Dengan demikian, hasil
penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan yang berguna untuk
pengembangan strategi pencegahan dan intervensi medis yang lebih
efektif, sehingga mengurangi insiden kekambuhan dan meningkatkan
kualitas perawatan pasien stroke di fasilitas kesehatan tersebut.

b. Tujuan Khusus
Untuk mencapai tujuan umum di atas, penelitian ini memiliki
tujuan-tujuan khusus sebagai berikut:

1) Mengidentifikasi dan mengeksplorasi hubungan antara berbagai faktor


risiko—seperti usia, riwayat hipertensi, riwayat diabetes melitus, serta
ketidakpatuhan terhadap jadwal kontrol kesehatan—dengan kejadian
stroke berulang pada pasien stroke di Rumah Sakit Awal Bros
Pekanbaru, guna memetakan pola-pola yang dominan dalam konteks
lokal.

2) Menganalisis tingkat risiko yang terkait dengan usia pada pasien stroke
di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru terhadap kemungkinan
mengalami stroke berulang, dengan mempertimbangkan bagaimana
penuaan dapat memperburuk kerentanan sistem vaskular otak.

3) Menganalisis seberapa besar risiko kejadian stroke berulang pada


pasien stroke di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru yang memiliki
riwayat hipertensi, mengingat kondisi tekanan darah tinggi ini sering
menjadi faktor utama dalam merusak integritas pembuluh darah
serebral.

4) Menganalisis seberapa besar risiko kejadian stroke berulang pada


pasien stroke di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru yang menderita
riwayat diabetes melitus, di mana gangguan regulasi gula darah dapat
mempercepat proses aterosklerosis dan penyumbatan arteri otak.
5) Menganalisis seberapa besar pengaruh ketidakpatuhan terhadap kontrol
kesehatan rutin dalam meningkatkan risiko kejadian stroke berulang
pada pasien stroke di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, terutama
karena kurangnya pemantauan dapat memungkinkan faktor risiko lain
berkembang tanpa terdeteksi.

6) Menganalisis faktor risiko mana yang paling dominan atau memiliki


pengaruh terbesar terhadap kejadian stroke berulang pada pasien stroke
di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru, sehingga dapat menjadi
prioritas utama dalam program pencegahan dan edukasi kesehatan di
rumah sakit tersebut.

4. Manfaat Penelitian

A. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini difokuskan pada kontribusi pengetahuan
akademis dan pengembangan ilmu pengetahuan, yang dapat menjadi fondasi
bagi kemajuan di bidang kesehatan masyarakat dan kedokteran.

i. Bagi Institusi Pendidikan


Hasil penelitian ini diharapkan dapat menyediakan data dan wawasan
mendalam mengenai fenomena stroke berulang, termasuk pola-pola
risiko dan dampaknya. Dengan demikian, institusi pendidikan terkait,
seperti fakultas kedokteran atau program studi kesehatan, dapat
memanfaatkan informasi ini untuk memperkaya kurikulum,
meningkatkan kualitas pengajaran, dan mendorong inovasi dalam
pelayanan kesehatan. Hal ini pada akhirnya akan membantu institusi
dalam mengoptimalkan program pendidikan yang lebih responsif
terhadap kebutuhan pencegahan dan penanganan stroke berulang di
masyarakat.

ii. Bagi Peneliti Selanjutnya


Penelitian ini diharapkan berfungsi sebagai referensi berharga dan
sumber inspirasi bagi para peneliti mendatang. Secara khusus, temuan-
temuan yang diperoleh dapat dijadikan dasar untuk saran dan masukan
dalam merancang studi lanjutan, misalnya dengan mengeksplorasi
faktor-faktor tambahan yang memengaruhi kejadian stroke berulang,
seperti aspek lingkungan atau intervensi perilaku. Pendekatan ini akan
mendorong pengembangan penelitian yang lebih komprehensif dan
berkelanjutan di bidang neurologi dan pencegahan penyakit
kardiovaskular.

B. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini menekankan aplikasi langsung hasil
penelitian dalam kehidupan sehari-hari, perawatan kesehatan, dan
pengembangan diri, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan
individu dan komunitas secara nyata.

a. Bagi Masyarakat/Pasien Stroke


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan edukasi yang bermanfaat
mengenai berbagai faktor risiko yang terkait dengan stroke berulang,
termasuk bagaimana faktor-faktor tersebut dapat memicu kekambuhan
dan konsekuensinya. Informasi ini akan menjadi landasan penting bagi
masyarakat dan pasien stroke untuk mengadopsi langkah-langkah
pencegahan yang proaktif, seperti perubahan gaya hidup sehat,
pemantauan kesehatan rutin, dan kesadaran dini terhadap gejala.
Dengan begitu, penelitian ini berkontribusi dalam mengurangi angka
kejadian stroke berulang dan meningkatkan kualitas hidup pasien
melalui pemberdayaan pengetahuan.

b. Bagi Petugas Kesehatan


Melalui penelitian ini, diharapkan petugas kesehatan, khususnya
perawat dan tenaga medis lainnya, dapat memperkuat pemahaman
mereka tentang faktor-faktor penyebab utama stroke berulang. Hal ini
akan memungkinkan mereka untuk menjalankan peran profesional
dengan lebih efektif, seperti dalam memberikan konseling pencegahan,
pemantauan pasien, dan kolaborasi tim medis. Pengetahuan yang
diperoleh juga dapat mendukung pengembangan protokol perawatan
yang lebih tepat sasaran, sehingga meningkatkan efisiensi pelayanan
kesehatan dan mengurangi beban kasus komplikasi di fasilitas medis.

c. Bagi Peneliti
Bagi peneliti itu sendiri, penelitian ini berperan sebagai wadah aplikatif
untuk menerapkan teori-teori yang telah dipelajari selama proses
pendidikan formal. Selain itu, proses penelitian akan memperkaya
pengetahuan, memperluas wawasan tentang dinamika penyakit stroke,
dan menambah pengalaman praktis dalam metodologi riset.
Pengalaman ini tidak hanya memperkuat kompetensi profesional,
tetapi juga membuka peluang untuk kontribusi lebih lanjut dalam
bidang ilmu kesehatan, sekaligus memotivasi peneliti untuk terus
mengembangkan diri di tengah tantangan kesehatan masyarakat yang
terus berkembang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. Tinjauan umum Stroke


1Pengertian
Stroke merujuk pada gangguan mendadak pada fungsi sistem saraf pusat
akibat terganggunya pasokan darah ke otak. Kondisi ini timbul dari kerusakan
pada pembuluh darah otak, yang bisa berupa penyumbatan atau pecahnya
pembuluh tersebut. Akibatnya, otak kehilangan suplai oksigen dan nutrisi yang
esensial, sehingga sel-sel saraf (neuron) mati. Kerusakan fungsi otak ini
memicu berbagai gejala khas stroke. Secara global, stroke menjadi penyebab
kematian urutan kedua dan penyebab kecacatan urutan ketiga (Pratiwi &
Rahmayani, 2021).

Stroke adalah situasi di mana sel-sel otak mengalami kerusakan akibat


kekurangan oksigen, yang disebabkan oleh hambatan aliran darah ke otak.
Kekurangan oksigen di area tertentu otak dapat mengganggu kinerja bagian
tersebut (Chandra et al., 2020).
Stroke merupakan cedera pada otak yang dipicu oleh berkurangnya aliran
darah ke otak. Penurunan tersebut bisa terjadi karena penyumbatan pembuluh
darah otak atau pecahnya pembuluh darah otak. Saat pasokan darah ke otak
menurun, sebagian wilayah otak mengalami kerusakan (Dharma, 2018).

2. Jenis-jenis Stroke
Menurut Susilawati & SK (2018):
a. Stroke perdarahan (hemoragik)
Stroke jenis ini terjadi akibat pecahnya pembuluh darah, yang mengganggu
aliran darah normal serta menyebabkan darah merembes ke jaringan otak dan
merusaknya. Berdasarkan lokasinya, stroke hemoragik terbagi menjadi dua
jenis, yakni:
1) Perdarahan subarakhnoid (PSA), yaitu perdarahan yang muncul di dalam
selaput otak.
2) Perdarahan intraserebral (PIS), yaitu perdarahan yang terjadi di dalam
jaringan otak itu sendiri.

b. Stroke non-perdarahan (iskemik)


Stroke ini disebabkan oleh penyumbatan pada jalur arteri yang menuju ke
otak. Stroke iskemik diklasifikasikan berdasarkan faktor penyebabnya,
meliputi:
1) Aterotrombotik: penyumbatan pembuluh darah akibat endapan atau plak
pada dinding arteri.
2) Emboli jantung: penyumbatan arteri (emboli) yang berasal dari pecahan
plak (embolus) di jantung.
3) Lacuna: penyumbatan oleh plak yang membentuk lubang-lubang pada
pembuluh darah.

c. Stroke ringan
Transient Ischemic Attack (TIA) adalah kondisi penurunan sementara pada
aliran darah ke otak akibat penyumbatan pembuluh darah. Gejala stroke ringan
ditandai oleh kelemahan tiba-tiba, mati rasa, atau kelumpuhan pada anggota
tubuh yang muncul secara mendadak, tetapi membaik dalam waktu kurang
dari 24 jam. Gejala ini disebabkan oleh gumpalan darah yang menghalangi
aliran darah secara sementara ke area otak tanpa menimbulkan kerusakan
permanen.

Gejala stroke ringan berupa transient ischemic attack meningkatkan risiko


terjadinya stroke di masa mendatang. Oleh sebab itu, diperlukan perubahan
pola hidup dan pola makan yang lebih sehat. Berikut adalah tanda-tanda
seseorang mengalami stroke ringan. Perhatikan akronim FAST, di mana
masing-masing huruf mewakili gejala utama:
1) F atau Face (wajah)
Gejala stroke menyarankan untuk meminta orang tersebut tersenyum. Apakah
salah satu sisi wajahnya terkulai? Apakah wajah atau matanya tampak tidak
simetris? Jika iya, kemungkinan orang tersebut sedang mengalami stroke.
2) A atau Arms (tangan)
Gejala stroke ringan menyarankan untuk meminta orang tersebut mengangkat
tangan. Apakah ia kesulitan mengangkat satu atau kedua tangan? Apakah salah
satu atau kedua tangan bisa ditekuk dengan mudah?
3) S atau Speech (perkataan)
Gejala stroke ringan menyarankan untuk meminta orang tersebut berbicara
dan mengulang kalimat sederhana. Apakah ucapannya terdengar kabur atau
tidak jelas? Apakah ia mengalami kesulitan berbicara atau diam sama sekali?
Apakah ia sulit memahami apa yang Anda katakan?
4) T atau Time (waktu)
Jika orang tersebut menunjukkan gejala-gejala di atas, ia mungkin sedang
mengalami stroke. Selalu ingat bahwa stroke adalah kondisi darurat medis.
Segera bawa orang tersebut ke rumah sakit. Selain itu, catat waktu
kemunculan gejala untuk membantu dokter dalam menentukan pengobatan
yang tepat.

3. Etiologi
Gangguan pada aliran darah yang memicu stroke dapat timbul dari
penyumbatan pada salah satu pembuluh darah menuju otak, dengan penyebab-
penyebab sebagai berikut:
a. Trombosis serebral disebabkan oleh aterosklerosis, yang
umumnya menyerang individu lanjut usia. Trombosis ini
biasanya muncul pada pembuluh darah yang mengalami
penyumbatan. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan iskemia
pada jaringan otak (pemisahan dari pembuluh darah yang
terdampak), edema, serta kemacetan di area yang bersangkutan.

b. Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah ke


otak oleh bekuan darah, lemak, atau udara. Emboli ini
umumnya terjadi ketika gumpalan darah di jantung terlepas dan
menyumbat sistem arteri serebral. Emboli serebral biasanya
berlangsung cepat dan hanya memakan waktu kurang dari 10-
30 detik.

c. Sirkulasi intraserebral disebabkan oleh pecahnya pembuluh


darah otak. Hal ini dipicu oleh aterosklerosis dan tekanan darah
tinggi. Kondisi ini umumnya terjadi setelah usia 50 tahun
sebagai akibat dari pecahnya arteri serebral (Sari et al., 2015).

4. Patofisiologi
Kurangnya perfusi di area arteri yang mengalami perdarahan menyebabkan
infark lokal pada korteks, subkortikal, atau batang otak. Aliran darah tidak
mencapai wilayah tersebut. Lesi yang timbul disebut infark iskemik jika arteri
tersumbat, dan infark hemoragik jika arteri pecah. Menurut Rahayu (2020),
stroke dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

i. Stroke iskemik / Non-Hemoragik


Iskemia terjadi akibat penyumbatan aliran darah ke otak yang disebabkan
oleh trombus atau emboli. Trombosis umumnya dipicu oleh perkembangan
aterosklerosis pada dinding pembuluh darah, yang menyumbat arteri,
sehingga mengurangi aliran darah ke area trombotik, menyebabkan
iskemia pada jaringan otak, dan akhirnya membentuk infark. Emboli
disebabkan oleh embolus yang berpindah melalui arteri karotis menuju
arteri serebral. Penyumbatan arteri ini memicu iskemia yang mendadak
dan cepat, yang mengakibatkan neuropati lokal.

ii. Stroke Hemoragik


Pecahnya pembuluh darah memungkinkan darah mengalir ke dalam
jaringan atau ruang subarakhnoid, sehingga mengubah komposisi
intrakranial yang seharusnya tetap stabil. Perubahan komponen
intrakranial (TIK) yang tidak dapat dikompensasi oleh tubuh akan
meningkatkan tekanan intrakranial (TIK), dan jika berlanjut, dapat
menyebabkan herniasi serta kematian otak. Masuknya darah ke dalam
substansi atau ruang subarakhnoid otak dapat memicu edema dan spasme
pada pembuluh darah serebral, serta tekanan di area tersebut yang
mengurangi atau menghambat aliran darah, sehingga menyebabkan
nekrosis pada jaringan otak.

5. Tanda dan Gejala


Menurut Mosby (2018, hlm. 221):
a. Kelemahan pada wajah yang muncul secara mendadak.
b. Kelemahan pada satu sisi tubuh yang tiba-tiba (termasuk lengan, kaki, atau
keduanya) secara mendadak.
c. Kebingungan mendadak atau kesulitan berbicara (afasia motorik) atau
memahami ucapan orang lain (afasia reseptif).
d. Sakit kepala yang datang tiba-tiba, disertai mual dan muntah (ciri khas
stroke hemoragik).

Defisit yang lebih halus meliputi:


1) Disfagia (kesulitan menelan, yang ditandai dengan suara lembab, air liur
berlebih, batuk, atau sering membersihkan tenggorokan).
2) Gangguan penglihatan yang mendadak (hemianopia homonim atau
hilangnya penglihatan pada bidang visual yang sama di kedua mata).
3) Pusing yang muncul tiba-tiba, disertai ataksia.
4) Mati rasa dan kesemutan yang terjadi secara mendadak.
6. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Sutarwi et al (2020):
a. Computer Tomography Scanning (CT scan)
Secara khusus mengidentifikasi lokasi edema, lokasi hematoma, keberadaan
jaringan otak yang mengalami iskemia, serta lokasi tepatnya.

b. Magnetic Resonance Imaging (MRI)


Digunakan untuk menentukan lokasi dan ukuran atau luas area perdarahan
serebral. Hasil pemeriksaan biasanya mencakup lesi berdarah dan infark.

c. Electrocardiograph (ECG)
Menampilkan grafik irama jantung guna mendeteksi penyakit jantung yang
berpotensi menyebabkan stroke serta tekanan darah tinggi.

d. Electroencephalogram (EEG)
Memeriksa masalah yang muncul beserta efek pada jaringan yang mengalami
infark, sehingga penurunan impuls listrik di jaringan otak dapat terlihat.

e. Angiogram
Membantu mengidentifikasi penyebab spesifik stroke, seperti sumber
perdarahan, ruptur arteriovenosa, aneurisma, dan malformasi vaskular.

7. Komplikasi
Komplikasi yang timbul akibat stroke, menurut Lanny Lingga (2016, hlm. 82),
mencakup:
a. Tekanan darah yang tidak stabil
b. Edema serebral
c. Konstipasi
d. Penyakit menular
e. Perubahan kesadaran
f. Aspirasi
g. Stroke berulang
h. Emboli paru
i. Kematian

8. Penatalaksanaan
Tujuan utama pengobatan stroke adalah memulihkan aliran darah ke jaringan
otak yang mengalami infark serta mencegah kejadian stroke ulang. Menurut
Diah Mutiasari (2019), terapi yang diterapkan meliputi:

a. Farmakologi
1) Recombinant Tissue Plasminogen Activator (R-tPA)
Pemberian rt-PA (recombinant tissue plasminogen activator) secara intravena
dengan cepat kepada pasien merupakan pendekatan pengobatan yang tepat dan
menjadi fokus utama dalam penanganan awal stroke iskemik (Kuhrij et al.,
2019).

2) Antiplatelet
Obat antiplatelet yang telah disetujui oleh FDA mencakup kombinasi
aspirin, aspirin/dipyridamole, clopidogrel, dan ticlopidine. Obat-obatan ini
digunakan untuk mencegah cedera vaskular pada pasien dengan stroke
atau TIA (Kernan et al., 2014).

3) Dipyridamole
Dipyridamole, baik secara tunggal maupun dikombinasikan dengan
aspirin, dapat mengurangi risiko penyakit serebrovaskular iskemik, infark
miokard non-fatal, serta stroke berulang pada pasien dengan riwayat
kejadian vaskular, dibandingkan dengan penggunaan aspirin saja.

4) Antikoagulan
Antikoagulan berfungsi untuk menurunkan polimerisasi fibrin dan
pembentukan trombus selama proses koagulasi, berbeda dengan agen
trombolitik dan defibrinogen (Rilianto, 2016).

5) Clopidogrel
Clopidogrel secara ireversibel menghambat reseptor ADP pada trombosit,
sehingga mencegah rangkaian reaksi yang mengarah pada aktivasi reseptor
GP IIb/IIIa. Dalam studi CAPRIE (Clopidogrel versus Aspirin in Patients
at Risk of Ischaemic Events), pasien diberikan 75 mg clopidogrel
dibandingkan dengan 325 mg aspirin untuk mengelola kondisi
serebrovaskular.

6) Cilostazol
Dalam 36 uji klinis terkontrol secara acak yang melibatkan 82.144 pasien,
cilostazol terbukti secara signifikan lebih efektif daripada aspirin atau
clopidogrel saja dalam pencegahan jangka panjang terhadap kejadian
vaskular utama pada pasien stroke dan TIA. Cilostazol juga memiliki
risiko perdarahan yang lebih rendah dibandingkan dengan aspirin dosis
rendah (75-162 mg per hari), kombinasi aspirin dengan dipyridamole (50
mg per hari), serta clopidogrel (Galyfos and Sianou, 2017).

7) Piracetam
Piracetam memiliki sifat neuroprotektif dan antitrombotik yang mampu
mengurangi angka kematian dan kecacatan pada pasien stroke akut. Selain
itu, piracetam telah menunjukkan efek menguntungkan secara ringan pada
pasien dengan afasia pasca-stroke (Gungor et al., 2011).

B. Tinjauan Umum Stroke Berulang

1. Pengertian
Stroke berulang merujuk pada kejadian stroke yang dialami oleh individu yang
telah mengalami stroke sebelumnya. Kejadian ini dapat muncul secara cepat,
setelah beberapa bulan, atau bahkan bertahun-tahun pasca-stroke pertama.
Dampak dari stroke berulang bisa setara atau lebih parah dibandingkan stroke
awal, dan secara keseluruhan, konsekuensinya cenderung lebih berbahaya
karena melibatkan komplikasi yang lebih rumit (Udiyono et al., 2019).

Perkembangan penyakit stroke bervariasi antar pasien, di mana sebagian dapat


pulih sepenuhnya, sementara yang lain sembuh dengan tingkat kecacatan
ringan hingga berat. Pada kasus ekstrem, kematian bisa terjadi, dan bagi yang
bertahan hidup, stroke dapat kambuh bersamaan dengan demensia atau
depresi. Stroke menjadi penyebab utama kecacatan pada populasi usia di atas
45 tahun.

Dari segi klinis, manifestasi stroke sangat beragam. Pertama, terdapat cacat
neurologis yang muncul secara akut dan mencapai puncak maksimal selama
serangan, yang umumnya terkait dengan stroke akibat emboli. Kedua, yang
dikenal sebagai stroke progresif, melibatkan eksaserbasi bertahap pada cacat
neurologis yang biasanya berlangsung dari beberapa menit hingga jam hingga
mencapai cacat neurologis terbesar (stroke lengkap). Bentuk ini sering
disebabkan oleh proses trombotik arteri yang memburuk atau perkembangan
emboli berulang. Stroke berulang juga didefinisikan sebagai kejadian
serebrovaskular baru yang memenuhi salah satu kriteria berikut:
a. Defisit neurologis yang berbeda dari stroke pertama.
b. Kejadian yang melibatkan area pembuluh darah berbeda dari lokasi
anatomis stroke awal.
c. Insiden dengan subtipe stroke yang berbeda dari stroke pertama.

Kriteria ini bertujuan untuk menghindari kesalahan dalam mengklasifikasikan


penyebab umum perburukan klinis pasca-stroke pertama (seperti hipoksia,
hipertensi, hiperglikemia, infeksi, dan sebagainya) atau memburuknya gejala
akibat perkembangan stroke sebagai kejadian serebrovaskular berulang.
Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki seseorang, semakin tinggi
kemungkinan terjadinya stroke ulang. Faktor risiko stroke seperti hipertensi,
diabetes melitus, penyakit jantung, dan dislipidemia perlu dikelola secara
optimal, sementara pasien dianjurkan untuk berhenti merokok dan melakukan
olahraga secara rutin sesuai kondisi fisiknya. Pasien dengan gejala klinis
ganda atau faktor risiko perilaku menghadapi peningkatan risiko kekambuhan
stroke, sehingga pengelolaan yang tepat terhadap faktor-faktor ini sangat
krusial untuk pencegahan. Kelompok berisiko tinggi harus menjalani
pengobatan berkelanjutan pasca-serangan stroke guna mencegah kejadian
lanjutan.
Menurut Ramdani (2018), kekambuhan atau terjadinya stroke berulang
dipengaruhi oleh tiga faktor utama:
a. Pengelolaan faktor risiko yang ada, yang melibatkan kepatuhan pasien
dalam mengendalikan faktor risiko tersebut, seperti menjaga kestabilan
tekanan darah.
b. Pemberian obat-obatan khusus yang dirancang untuk mencegah stroke
kedua atau stroke berulang. Penggunaan aspirin, misalnya, telah terbukti dapat
menurunkan frekuensi stroke berulang hingga 25%.

2. Faktor Risiko Stroke Berulang


Stroke berulang bisa muncul segera setelah stroke pertama, setelah beberapa
bulan, atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Stroke tidak disebabkan oleh
satu penyebab tunggal, melainkan oleh berbagai faktor yang dapat
memengaruhi seseorang untuk mengalaminya. Beragam faktor risiko yang
dimiliki individu dapat memicu stroke secara bersamaan, dan jika faktor-
faktor tersebut tetap ada serta tidak ditangani secara memadai, maka seseorang
yang pernah mengalami stroke berpotensi mengalami stroke kedua (stroke
kambuhan) (Widyaswara Suwaryo et al., 2019).

Faktor-faktor risiko stroke berulang meliputi:


a. Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah
1) Usia
Semakin bertambah usia, semakin tinggi risikonya. Mulai dari usia 55 tahun,
risiko stroke berlipat ganda setiap dekade. Sekitar dua pertiga dari semua
kasus stroke terjadi pada orang berusia di atas 65 tahun. Namun, hal ini tidak
berarti stroke hanya menyerang orang tua, karena stroke dapat memengaruhi
semua kelompok usia. Stroke memang terjadi pada berbagai usia, tetapi paling
sering pada individu di atas 55 tahun (Zhou et al., 2014).

2) Jenis Kelamin
Pria memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan wanita.
Insiden stroke lebih tinggi pada pria pra-menopause dibandingkan wanita
(rasio 1,3:1), tetapi risiko keduanya menjadi setara setelah menopause. Jika
dilihat dari subtipe stroke, pria lebih rentan terhadap stroke iskemik dan
perdarahan intraserebral dibandingkan wanita, sedangkan wanita lebih rentan
terhadap perdarahan subarakhnoid.

3) Herediter/Genetik
Terkait dengan riwayat stroke dalam keluarga, individu dengan riwayat
keluarga stroke memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalaminya
dibandingkan mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga tersebut.

b. Faktor Risiko yang Dapat Diubah


1) Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk aterosklerosis dan obstruksi
pembuluh darah. Pasien dengan hipertensi memiliki kemungkinan 4 hingga 6
kali lebih besar untuk mengalami stroke dibandingkan mereka yang tidak
hipertensi, dan sekitar 40% hingga 90% korban stroke mengalami hipertensi
sebelum kejadian stroke. Secara medis, tekanan darah di atas 140/90 mmHg
dikategorikan sebagai hipertensi (Derdeyn et al., 2017).

2) Kelainan Jantung
Faktor risiko selanjutnya setelah hipertensi adalah penyakit jantung,
khususnya kondisi yang disebut fibrilasi atrium. Ini adalah gangguan irama
jantung yang ditandai dengan aritmia pada atrium kiri, di mana denyut jantung
atrium kiri bisa hingga 4 kali lebih cepat daripada bagian jantung lainnya.
Kondisi ini menyebabkan aliran darah menjadi tidak teratur, yang memicu
pembentukan gumpalan darah secara perlahan. Gumpalan tersebut dapat
mencapai otak dan menghambat aliran darah ke otak, sehingga menyebabkan
stroke.

3) Hiperlipidemia
Hiperkolesterolemia adalah kondisi di mana kadar kolesterol dalam darah
terlalu tinggi. Kelebihan LDL menumpuk sebagai plak di dinding pembuluh
darah, yang berkembang dan menumpuk seiring waktu, sehingga menghalangi
aliran darah (Cases, 2015).

5) Diabetes Melitus (DM)


Individu dengan diabetes memiliki risiko tiga kali lebih tinggi untuk
mengalami stroke, dengan puncak risiko pada usia 50-an dan 60-an. Namun,
karena sekitar 40% penderita diabetes juga mengalami hipertensi, terdapat
faktor lain yang turut meningkatkan risiko stroke.

6) Ketidakpatuhan Kontrol
Pasien stroke perlu melakukan kunjungan rutin ke dokter atau rumah sakit.
Selain pemeriksaan medis, pasien juga harus memantau kadar kolesterol dan
gula darah. Kebiasaan pasien stroke yang jarang melakukan pemantauan
memiliki risiko 3,84 kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang rutin
memantau, dan hal ini secara signifikan terkait dengan kejadian stroke
berulang.

7) Merokok
Bahaya rokok sudah dikenal luas oleh masyarakat, tetapi tidak semua orang
memahami mekanisme efek berbahayanya. Padahal, peringatan pada kemasan
rokok secara eksplisit menyatakan bahwa merokok dapat menyebabkan stroke.
Nikotin hanyalah salah satu zat beracun dalam tembakau; selain itu, terdapat
polutan seperti tar, fenol, formaldehida, karbon monoksida, NO2, dan asam
hidrosianat, yang dapat memicu penyakit kardiovaskular melalui berbagai
reaksi kimia di dalam darah. Berhenti merokok dapat membantu pemulihan
tubuh dan menurunkan risiko stroke.

3. Pencegahan Stroke Berulang


Menurut Sinaga & Sembiring (2019):
a. Berhenti Merokok
Berhenti merokok menjadi salah satu strategi efektif untuk mencegah stroke.
Terdapat berbagai alasan mendesak untuk melakukannya, seperti kandungan
zat berbahaya di dalam rokok yang merusak dinding pembuluh darah,
menurunkan kemungkinan stroke berulang, serta mengurangi risiko serangan
jantung. Meskipun proses ini sering kali menantang, terutama karena sifat
adiktif dari kebiasaan merokok.

b. Menghindari Minuman Beralkohol


Meskipun minuman beralkohol kadang dianggap memiliki manfaat tertentu,
sebaiknya dihindari karena mengandung zat adiktif yang bersifat narkotika.
Saat zat ini masuk ke tubuh dalam jumlah kecil, ia dapat memicu kecanduan
yang tidak sehat. Konsumsi beralkohol secara berlebih dapat meningkatkan
tekanan darah hingga tidak terkendali, yang menjadi pemicu utama stroke.
Selain itu, penggunaan terus-menerus dapat merusak saraf kranial,
menyebabkan gangguan kesadaran, hilangnya keseimbangan, dan penurunan
sensitivitas taktil. Konsumsi alkohol juga memengaruhi perilaku sosial, seperti
membuat seseorang lebih emosional, mudah tersinggung, kurang responsif,
dan sulit fokus.

c. Mencari Sumber Protein yang Rendah Lemak


Sebisa mungkin hindari daging merah dan prioritaskan konsumsi ikan sebagai
sumber protein utama. Daging ayam bisa menjadi pilihan yang baik, tetapi
sebaiknya buang kulitnya yang mengandung lemak tinggi. Hal ini karena
daging merah kaya akan lemak jenuh yang berpotensi merugikan kesehatan
pembuluh darah.

d. Mengurangi Konsumsi Garam


Seperti yang diketahui, tekanan darah tinggi adalah salah satu pemicu utama
stroke, sehingga mengurangi asupan garam sangat krusial untuk pencegahan.
Pembatasan garam membantu menurunkan kadar natrium berlebih dalam
darah. Direkomendasikan untuk membatasi konsumsi natrium di bawah 1,5
gram per hari. Satu sendok teh garam setara dengan 4 gram natrium, jadi
batasi hingga kurang dari setengah sendok teh garam setiap hari.

e. Memperbanyak Makanan Berserat


Serat berperan penting dalam mengurangi kadar lemak dalam aliran darah,
yang jika tinggi dapat merusak pembuluh darah. Oleh karena itu, tingkatkan
asupan makanan kaya serat, seperti sayuran dan buah-buahan, untuk menjaga
kesehatan vaskular.

f. Rutin Memeriksa Tekanan Darah


Pemeriksaan tekanan darah secara berkala diperlukan untuk memastikan
nilainya tetap dalam rentang normal, tidak terlalu rendah maupun terlalu
tinggi. Batas atas untuk tekanan darah sistolik adalah 140 mmHg. Pastikan
pemeriksaan dilakukan dengan prosedur yang benar untuk hasil akurat.

g. Mengontrol Gula dan Lemak


Diabetes melitus merupakan salah satu faktor risiko utama stroke karena
menyebabkan penumpukan lemak di dinding arteri, terutama arteri kecil di
otak, yang meningkatkan kemungkinan penyumbatan dan kejadian stroke.
Kelebihan kolesterol juga memicu akumulasi lemak dalam darah yang
menyumbat pembuluh darah, sehingga berpotensi mengganggu perfusi ke
jantung dan otak, yang pada akhirnya dapat menyebabkan serangan jantung
atau stroke.

Anda mungkin juga menyukai