0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Perawatan dan Jenis Baterai Kendaraan

PKK

Diunggah oleh

fik ri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan11 halaman

Perawatan dan Jenis Baterai Kendaraan

PKK

Diunggah oleh

fik ri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

SISTEM ELEKTRIKAL
KENDARAAN RINGAN
A. PERAWATAN BATERAI
Baterai pada kendaraan berfungsi sebagai sumber arus pada sistem kelistrikan
kendaraan, yang meliputi sistem pengapian, sistem starter, sistem penerangan, sistem
pengisian, dan sistem aksesori. Pada sistem pengisian baterai, selain berfungsi sebagai
sumber arus, baterai juga berfungsi menyimpan arus.
1. Jenis Baterai
a. Baterai Basah
Baterai ini menggunakan cairan elektrolit agar timbul reaksi antara pelat
positif
dan negatif. Baterai jenis ini memerlukan perawatan berkala untuk
penambahan
cairan elektrolit yang berkurang akibat penguapan.
b. Baterai Kering
Baterai jenis ini tetap menggunakan cairan elektrolit, tetapi mengandung timah
kalsium yang memiliki penguapan yang rendah. Baterai tipe kering biasanya
tertutup, sehingga tidak bisa ditambahkan cairan elektrolit. Baterai jenis ini
juga disebut dengan baterai MF (Maintenance Free) atau bebas perawatan,
karena tidak memerlukan penambahan cairan elektrolit.
c. Baterai Hibrid
Baterai jenis hibrid merupakan gabungan antara aki kering dan aki basah.
d. Baterai Gel
Baterai jenis ini menggunakan gel untuk menimbulkan reaksi antara pelat
positif dan negatif. Baterai jenis ini juga bebas perawatan.
2. Konstruksi Baterai
Baterai terdiri dari kotak baterai yang disekat pembatas, di mana terdapat sel
baterai. Sel baterai sendiri terdiri dari kutub positif dan negatif yang direndam
dalam cairan elektrolit.

Gambar Kontruksi Baterai


a.) Kotak Baterai
Kotak baterai melindungi komponen utama baterai. Terbuat dari bahan plastik
yang kuat, kotak baterai mempunyai sekat-sekat yang berfungsi menampung
cairan elektrolit baterai dan pelat baterai.
b.) Pelat Baterai

Gambar Pelat Baterai


Pelat baterai terletak di dalam sel kotak baterai. Pada setiap sel baterai terdapat
dua pelat, yaitu pelat positif dan pelat negatif yang direndam dalam cairan
elektrolit H2SO4. Di antara kedua pelat baterai dipasang separator yang
berfungsi sebagai penyekat antara pelat positif dan negatif agar tidak terjadi
hubung singkat. Bahan pelat positif adalah antimoni yang dilapisi oksida timah
(lead dioxide, PbO2) dan pelat negatif terbuat dari sponge lead (Pb). Larutan
elektrolit H2SO4 mempunyai berat jenis,270 pada 200C (680F) saat baterai
terisi [Link] satu sel baterai menghasilkan tegangan 2,1 volt, sehingga
pada baterai 12volt terdapat enam sel yang dirangkai secara seri.

Gambar Rangkaian Sel Baterai


c.) Lubang Ventilasi

Gambar Ventilasi Baterai


Pada bagian atas baterai terdapat lubang ventilasi yang berfungsi untuk
membuang gas hidrogen yang dihasilkan saat terjadi proses pengisian.
d.) Indikator Baterai
Pada beberapa merek baterai terdapat indikator pada kotak baterai yang dapat
menerangkan kondisi baterai.

Gambar Indikator Baterai


Indikator baterai jenis ini mempunyai tiga warna, yaitu hijau (green) yang
berarti baterai masih baik, hijau gelap (dark green) berarti baterai perlu
diperiksa elektrolitnya dan diisi, serta kuning (yellow) sebagai indikasi
baterai perlu diganti.
3. Reaksi Kimia pada Baterai
Pada baterai basah, cairan elektrolit baterai merupakan campuran antara air
suling (H2O) dan asam sulfat (SO4) Komposisi campuran adalah 64 persen H2O
dan 36 persen SO4. Dari campuran tersebut diperoleh elektrolit baterai dengan
berat jenis 1,270.
a) Kondisi Baterai Penuh
Pada saat baterai berada dalam kondisi penuh, pelat positif baterai tersebut
adalah PbSO4, sedangkan pelat negatifnya adalah Pb. Larutan elektrolit yang
ada pada baterai adalah asam sulfat (H2SO4) dan air (H2O).
b) Proses Pengosongan Baterai
Pada saat baterai digunakan untuk menghidupkan beban kelistrikan (contoh:
lampu), cairan asam sulfat akan terbagi menjadi hidrogen (H2) dan sulfat
(SO4) Hidrogen (H2) bereaksi dengan oksigen (O) dari pelat positif sehingga
menjadi air (H2O). Sulfat (SO4) bereaksi dengan Pb pada pelat negatif dan
pelat positif, sehingga menjadi PbSO4.
c) Proses Pengisian Baterai
Pada saat pengisian baterai, kedua terminal baterai dihubungkan dengan
charger baterai, sehingga sulfat (SO4) akan lepas dari pelat positif dan pelat
negatifb dan bereaksi kembali dengan hidrogen (H2) dan membentuk asam
sulfat (H2SO4) Oksigen (O2) bereaksi dengan timah (Pb) pada pelat positif
dan membentuk PbO2. Dari reaksi ini juga menghasilkan gelembung hidrogen
dari pelat negatif, sedangkan pada pelat positif terbentuk oksigen dan
dikeluarkan melalui lubang ventilasi.
4. Kode Baterai
Pada kotak baterai terdapat kode yang menunjukkan keterangan tentang baterai

CONTOH KODE BATERAI = 55D26R


55 : Kemampuan Baterai
D : Lebar dan Tinggi Baterai
26 : Panjang Baterai (Satuan dalam Cm)
R : Posisi Berminal Baterai (R = Right, L = Left)
Kode Pengenal Kapasitas Kode Pengenal Kapasitas
Baterai (Pada 5 Jam) Baterai (Pada 5 Jam)
28 B 17 R/L 24 65 D 26 R/L 52
38 B 17 R/L 27 75 D 26 R/L 52
28 B 19 R/L 24 80 B 26 R/L 55
34 B 19 R/L 27 65 B 31 R/L 56
36 B 20 R/L 28 75 B 31 R/L 60
38 B 20 R/L 28 95 B 31 R/L 64
46 B 24 R/L 36 95 E 41 R/L 80
50 B 24 R/L 36 105 E 41 R/L 83
55 B 24 R/L 36 115 E 41 R/L 88
32 E 24 R/L 32 130 E 41 R/L 92
50 B 20 R/L 40 115 F 51 96
55 B 26 R/L 48 150 F 51 108
65 B 26 R/L 52 145 F 51 112
48 B 26 R/L 40 170 F 51 120
55 B 26 R/L 48
Tabel 1.2 Lebar dan Tinggi Baterai

LEBAR TINGGI
A 162 127
B 203 Atau 129 127
C 207 135
D 204 173
E 213 176
F 213 182
G 213 222
H 220 278
5. Kapasitas Baterai
Kapasitas baterai menunjukkan jumlah listrik yang disimpan baterai yang dapat
dilepaskan sebagai sumber listrik. Satuan kapasitas dinyatakan dalam ampere jam
(AH). Beberapa hal yang memengaruhi kapasitas suatu baterai adalah kualitas,
volume larutan elektrolit, jumlah sel dalam baterai, ukuran dan jumlah pelat
dalam baterai. Berdasarkan standar JIS, kapasitas baterai adalah jumlah listrik
yang dilepaskan sampai tegangan pengeluaran akhir menjadi 10,5 V dalam 5 jam.
Contoh: baterai dalam keadaan terisi penuh dikeluarkan muatannya secara terus-
menerus 10 A selama 6 jam sampai mencapai tegangan pengeluaran akhir (10,5
V). Maka, kapasitas baterai adalah 60 AH (10 x 6 jam).
6. Pemeriksaan dan Perawatan Baterai
a) Pemeriksaan Tegangan Baterai
Pemeriksaan menggunakan multitester skala Volt DC 50 V. Periksa tegangan
baterai dengan mengukur kedua terminal baterai secara paralel, pastikan
bahwa sumber arus memiliki tegangan yang standar untuk menghidupkan
system kelistrikan. Pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan mengamati
indicator pada baterai.
b) Pemeriksaan Terminal Baterai
Lakukan pemeriksaan terhadap kotoran, kerak, dan kekenduran terminal.
Apabila terjadi kerak dan kendur pada terminal aki, akan mengakibatkan
kerugian tegangan. Lakukan pembersihan dan kencangkan baut pengikat.
c) Pemeriksaan Kinerja Baterai
Pemeriksaan kinerja baterai menggunakanbattery testerdengan
menghubungkan dengan kedua terminal baterai dan akan terbaca performa
baterai, kemampuan starter (cranking test), maupun kemampuan pengisian
(charging test) pada kendaraan.
d) Pemeriksaan Cairan Baterai
Pemeriksaan kuantitas cairan baterai dengan memeriksa ketinggian cairan
baterai. Level cairan baterai dianggap cukup jika berada di antara batas bawah
(Lower Level) dan atas (Upper Level).
Pemeriksaan berat jenis cairan baterai dilakukan dengan cara :

1) Lepas sumbat baterai dan tempatkan dalam wadah agar tidak tercecer.
2) Masukkan termometer pada lubang baterai.
3) Masukkan hidrometer ke dalam lubang baterai.
4) Tekan dan lepas karet hidrometer sampai elektrolit masuk ke dalam
hidrometer dan pemberat terangkat.
5) Tanpa mengangkat hidrometer, baca berat jenis elektrolit baterai dan baca
temperatur elektrolit baterai.
6) Catat hasil pembacaan, lakukan hal yang sama untuk sel baterai spesi-kasi:
1,25-1,27 pada 200C. Jika temperatur pengukuran tidak 200C, maka
dapat dikonversi dengan rumus :
S 20 ºC = St + 0,0007 x (t – 20)
S 20 ºC : berat jenis pada temperatur 20ºC
St : Nilai pengukuran berat jenis
t : Temperatur elektrolit saat pengukuran
Contoh: Hasil pengukuran pada temperatur 10ºC menunjukkan berat
jenis 1,260.
S 20 ºC = St + 0,0007 x (t – 20)
= 1,260 + 0,0007 x (10 – 20)
= 1,260 – 0,007
=1,253
HASIL PENGUKURAN TINDAKAN
Perlu penambahan air aki agar berat
1.280 Atau Lebih
jenis berkurang.
Tidak perlu tindakan karena hasil
1.220 – 1270
normal
Lakukan pengisian penuh, lalu ukur
1.210 Atau Kurang berat jenis. Apabila masih di bawah
1,210, ganti baterai.
Perbedaan antarsel kurang
Tidak perlu tindakan
dari 0,040
Lakukan pengisian penuh, ukur berat
jenis. Apabila berat jenis antarsel
Perbedaan berat jenis antarSel
melebihi 0,030, setel berat jenis.
0.040 atau lebih
Apabila tidak bisa dilakukan, ganti
baterai.
e) Pengisian Baterai
Pada pengisian baterai secara normal adalah sebesar 10 persen dari kapasitas
baterai. Misalnya, baterai 60 AH, besar arus pengisian 60 x 10/100 = 6 A.
Lama
pengisian tergantung dari hasil pengukuran berat jenis elektrolit baterai saat
diukur, karena dari berat jenis dapat diketahui berkurangnya kapasitas baterai.

Contoh menentukan lama pengisian baterai:


Pada pengukuran berat jenis baterai didapatkan 1,18 pada temperatur 20ºC.
Kapasitas baterai 60 AH.
Pada gra-k hubungan berat jenis dengan kapasitas diketahui bahwa tingkat
kekosongan baterai sebesar 40 persen. Maka, kekosongan arus = 40% x 60
AH,
yaitu sebesar 24 AH.
Arus pengisian adalah = 10% x kapasitas = 10/100 x 60 = 6 A
Waktu Pengisian: = 4 Jam
B. PERAWATAN KELISTRIKAN KENDARAAN
Sistem kelistrikan dalam suatu kendaraan adalah sistem yang berfungsi sebagai
penghubung beberapa komponen kelistrikan sehingga dapat dikendalikan atau
dikontrol dari ruang pengemudi. Sistem kelistrikan bodi kendaraan secara garis besar
terdiri dari sistem penerangan, sistem tanda belok, sistem klakson, sistem lampu tail,
lampu rem, dan lampu mundur. Perawatan kelistrikan kendaraan dilakukan untuk
memaksimalkan fungsi komponen dan sistem kelistrikan itu sendiri.
1. Pemeriksaan dan Perbaikan Kelistrikan Kendaraan
Secara prinsip, suatu sistem kelistrikan kendaraan akan bekerja jika rangkaian
kelistrikan tersebut membentuk rangkaian tertutup. Jika terdapat kabel yang
terputusatau komponen yang mengalami kerusakan, sirkuit akan terbuka dan
sistem tidak akan bekerja. Secara umum, kerusakan disebabkan oleh kerusakan
sumber arus, putusnya sirkuit kelistrikan, kerusakan komponen, dan adanya
hubung singkat. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan sumber arus,
pemeriksaan sirkuit kelistrikan, dan pemeriksaan komponen. Alat yang digunakan
bisa dengan alat yang sederhana, mulai dari lampu tes, multitester, hingga
scanner. Pemeriksaan yang dilakukan, antara lain sebagai berikut.
a) Pemeriksaan Sumber Arus
Pemeriksaan pada baterai meliputi pemeriksaan tegangan baterai, pemeriksaan
berat jenis baterai, pemeriksaan kerusakan isolasi kabel, pemeriksaan
sambungan kabel, pemeriksaan pemegang baterai, pemeriksaan korosi pada
terminal kabel, pemeriksaan kotak baterai, dan pemeriksaan jumlah cairan
yang mencukupi.
b) Identikasi dan Pemeriksaan Fuse
Pemeriksaan fuse atau sekring dilakukan untuk mengetahui putus atau
tidaknya fuse. Fuse berfungsi untuk membatasi arus yang masuk pada
rangkaian dan juga untuk mengamankan rangkaian jika terjadi hubung singkat
pada rangkaian. Pemakaian fuse harus sesuai dengan pemakaian beban pada
rangkaian. Putusnya sekring biasanya disebabkan adanya hubung singkat pada
rangkaian.
1. Lakukan identi-kasi letak fuse dengan melihat lay out fuse yang terletak
pada tutup fuse box. Pada saat terjadi fuse yang putus, harus diamati
wiring
kelistrikan yang menyebabkan putus. Harus diperiksa apakah ada
hubung
singkat pada rangkaian sebelum dilakukan penggantian fuse.
2. Lepas fuse dengan alat yang sesuai, yang sudah disediakan pada fuse
box.
c) Pemeriksaan Penurunan Tegangan (Voltage Drop) Rangkaian
Pengukuran voltage drop dilakukan secara seri dengan rangkaian. Jumlah
penurunan tegangan (voltage drop) pada masing-masing komponen sama
dengan tegangan sumber. Pengukuran tegangan ini berfungsi untuk mendeteksi
adanya voltage drop yang diakibatkan adanya tahanan pada sambungan yang
diakibatkan kendur, korosi, atau sambungan yang terbakar.
Adanya voltage drop pada rangkaian menyebabkan arus tidak mengalir
maksimal. Pada rangkaian lampu penerangan, voltage drop yang berlebihan
akan mengakibatkan lampu menyala redup, pada rangkaian starter akan
mengakibatkan motor starter tidak bekerja maksimal.
d) Pemeriksaan Tegangan pada Rangkaian
Putusnya aliran arus pada rangkaian menyebabkan sistem kelistrikan tidak
berfungsi. Penyebab putusnya arus adalah rangkaian atau sambungan yang
putus. Pengetesan dengan mengukur tegangan dapat dilakukan dengan tetap
menghubungkan rangkaian dengan baterai. Metode pengukuran tegangan ini
dilakukan untuk mendeteksi jalur kelistrikan yang putus. Contoh pemeriksaan
tegangan pada rangkaian, antara lain sebagai berikut.
e) Pemeriksaan Tahanan Rangkaian
Pengukuran tahanan pada komponen harus dilakukan dalam keadaan terlepas
dan tidak ada tegangan yang bekerja pada komponen tersebut. Pemeriksaan
tahanan pada rangkaian seri digunakan untuk mengetahui putus jalur
kelistrikan atau kerusakan suatu komponen.
f) Menggunakan Lampu Tes
Pemeriksaan sistem kelistrikan dengan mengukur tegangan dapat juga
menggunakan lampu tes DC. Metode pemeriksaan sama seperti pemeriksaan
menggunakan metode pengukuran tegangan menggunakan multitester. Jika
indikator multitester menggunakan angka tegangan yang ditunjuk jarum
multitester, pada lampu tes indikatornya adalah nyala lampu.
C. SISTEM PENERANGAN
Sistem penerangan pada kendaraan berfungsi untuk menerangi kendaraan pada saat
dikendarai dan juga sebagai tanda atau isyarat bagi kendaraan lain. Sistem penerangan
terdiri dari sistem penerangan lampu kepala dan sistem tanda. Sistem penerangan
meliputi lampu kepala, lampu kota, lampu interior, tanda belok, klakson, lampu
mundur, lampu belakang, dan lampu rem. Penggunaan lampu, warna, dan letak lampu
sudah diatur dengan peraturan pemerintah.
1. Komponen Sistem Penerangan
a. Fuse (Sekring)
Pada umumnya, sekring kelistrikan kendaraan menggunakan sekring tipe
tabung kaca (cartridge) dan sekring tipe bilah (blade). Sekring tipe tabung
kaca memiliki elemen pengaman yang dilindungi kaca dan pada ujung elemen
tembaga terdapat logam yang akan menghubungkan suatu rangkaian. Pada
ujung sekring tertulis kapasitas sekring tersebut, misal 5 A = arus maksimal
adalah 5 ampere.
Untuk sekring tipe bilah (blade), elemen pengaman ditempatkan pada rumah
sekring berbahan plastik. Kedua ujung elemen pengaman terbuat dari tembaga
yang akan menghubungkan dengan rangkaian. Untuk membedakan
kemampuan arus maksimal tipe bilah menggunakan warna.

b. Elemen Pengaman (Fuse Element) dan Sambungan Pengaman (Fusible


Link)
Komponen pengaman jenis ini memiliki fungsi sama dengan sekring atau fuse,
yaitu pengaman rangkaian ketika arus melebihi kapasitas rangkaian. Namun,
pengaman rangkaian jenis ini memiliki kemampuan arus lebih besar, di atas
30 ampere. Elemen pengaman terdiri dari terminal, bagian elemen pengaman,
bagian kaki, dan bagian rumah pengaman. Kapasitas arus tertulis pada bagian
atas komponen dan juga terdapat warna pembeda.
Sambungan pengaman (fusible link) bentuknya seperti kabel yang ukurannya
pendek yang mempunyai kabel berdiameter lebih kecil dibandingkan dengan
kabel pada rangkaian agar dapat meleleh atau putus pada saat terjadi aliran
arus yang berlebihan. Kapasitas arus terpasang pada satu ujung sambungan
pengaman.
c. Pemutus Rangkaian (Circuit Breaker)
Pengaman rangkaian tipe circuit breaker akan terputus ketika rangkaian
mengalami panas. Biasanya terdapat pada rangkaian door lock, power window,
dan AC. Terdapat tiga tipe pemutus rangkaian yang umum dijumpai, yaitu
tipe mekanik (tipe reset manual), tipe reset otomatis mekanik, dan tipe reset
otomatis polimer (PTC, positive temperature coecient).

Anda mungkin juga menyukai