Rencana Pengelolaan Lingkungan RKPL 2023
Rencana Pengelolaan Lingkungan RKPL 2023
LEMBAR PENGESAHAN
Persetujuan
Uraian Disusun Oleh Diperiksa Oleh Disahkan Oleh
Ir. Muhammad Alif
Nama Usman, ST Ferdinan Tambolang
Husaeni, ST
Pejabat Pelaksana Teknis Kuasa Pengguna
Jabatan General Superintendent
Kegiatan (PPTK) Anggaran (KPA)
Tanda Tangan
Tanggal
UNIT PENERIMA
1. Kontraktor 4.
No. Distribusi
Tanggal
SEJARAH DOKUMEN
Persetujuan ................................................................................ i
Sejarah Dokumen........................................................................ ii
B. Tujuan ...................................................................... 2
C. Sasaran ...................................................................... 3
E. Waktu ...................................................................... 4
(RKL) ....................................................................... 8
(RPL) ....................................................................... 9
RPL ....................................................................... 10
12
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dengan makin meningkatnya tuntutan masyarakat tentang pengelolaan dan pemantauan
lingkungan maka terbitlah peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2012
tentang Pedoman Penyusunan Dokumen lingkungan pada Lampiran III mengenai Pedoman
Penyusunan Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan
Lingkungan (RPL), oleh sebab itu PT. Te’ne Jaya selaku penyedia jasa yang juga peduli
terhadap lingkungan juga menyusun Dokumen Rencana dan Pengelolaan lingkungan pada
proyek Peningkatan Jalan Kassi Kebo – Salarang Kec. Maros Baru Kab. Maros Provinsi
Sulawesi Selata.
PT. Te’ne Jaya dalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang Jasa Konstruksi
yang berkantor pusat di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan dalam hal ini di tunjuk dan
dipercaya melaksanakan dan menyelesaikan Pekerjaan Peningkatan Jalan, dengan
meningkatkan pembangunan yang telah di capai sampai saat ini khususnya di daerah Sulawesi
Selatan, semakin meningkat jumlah maupun intensitas lalulintas yang memakai jalur ini. Guna
mendukung Arus Perekonomian dan angkutan lainnya maka jalur Trans Kecamatan perlu di
tingkatkan oleh Bina Marga melalui Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan pada Dinas Pekerjaan
Umum Dan Penataan Ruang Kabupaten Maros Sulawesi Selatan tersebut, yang dikerjakan oleh
kontraktor PT. Te’ne Jaya.
Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup selanjutnya disebut RKL adalah upaya penanganan
dampak lingkungan yang ditimbulkan dari rencana usaha dan/atau kegiatan, sedangkan
rencana Pemantauan Lingkungan Hidup selanjutnya disebut RPL adalah upaya pemantauan
komponen lingkungan hidup yang terkena dampak dari rencana usaha dan/atau kegiatan RKL-
RPL harus memuat mengenai upaya untuk menangani dampak dan memantau komponen
lingkungan hidup yang terkena dampak penting dari hasil proses evaluasi holistic dlam
AMDAL. Sehimgga untuk beberapa dampak yang di simpulkan sebagai bukan dampak
penting, namun tetap memerlukan dan di rencanakan untuk dikelola dan di pantaau (dampak
lingkungan hidup lainnya), maka perlu di sertakan rencana pengelolaan dan pemantauannya
dalam RKL-RPL.
Untuk menjamin RKL dan RPL dilaksanakan dengan baik perlu dilakukan pemantauan dan
pelaporan secara terencana, terkoordinasi, sistematis dan berkesinambungan.
Pemantauan dan pelaporan penerapan RKL dan RPL ini dimaksukan untuk mewujudkan dan
meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan
pengelolaan lingkungan secara benar, sunguh-sungguh, kreatif dan bertanggung jawab
sehingga kualitas lingkungan dapat di pertahankan sesuai dengan fungsinya.
Untuk mewujudkan maksud tersebut, maka telah dilakukan pemantauan pelaksanaan Rencana
Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Paket
Peningkatan Jalan Kassi Kebo – Salarang Kec. Turikale Kab. Maros di bawah naungan Dinas
Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Maros.
B. Tujuan
Sebagai bahan penyusunan rekomendasi teknis untuk pimpinan kementrian tentang
pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada paket – paket Satuan Kerja Dinas
Pekerjaan Umum dan Penataan ruang Kabupaten Maros dan mengantisipasi dampak
negatif yang mungkin terjadi.
Untuk memperoleh umpan balik dari lapangan tentang kesulitan atau kendala yang
dihadapi pemrakarsa terutama dalam kaitannya dengan pembinaaan Pengelolaan
Lingkungan Satuan Kerja Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan ruang Kabupaten
Maros.
Untuk mengetahui tingkat efektifitas pelaksanaan Pengelolaan dan Pemantauan
Lingkungan yang tersurat dalam dokumen UKL dan UPL sesuai dengan siklus
pembangunan dalam setiap tahap kegiatan proyek.
Untuk mengetahui tingkat ketaatan pemrakarsa usaha atau kegiatan dalam melakukan
pengelolaan dan pemantauan lingkungan.
C. SASARAN
Peningkatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta ketaatan pemrakarsa dalam
melaksanakan RKL dan RPL.
E. WAKTU
Pemantauan pelaksanaan RKL/RPL kegiatan proyek Pekerjaan Peningkatan Jalan Kassi
Kebo – Salarang Kec. Turikale Kab. Maros mulai di lakukan bulan Mei 2023 dimana
musim pada pemantauan adalah musim hujan dan kemarau. Pelaksanaan paket selama 231
hari kalender mulai tanggal 16 Mei 2023 hingga 31 Desember 2023.
F. PELAKSANAAN PEMANTAUAN
Pemantauan dilakukan bersama oleh pihak Pejabat Kuasa Pengguna Anggaran Satuan kerja
pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan ruang Kabupaten Maros.
Permintaan Instansi tertentu, masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan atau
lembaga suadaya masyarakat.
b. Mempelajari dokumen AMDAL, khususnya RKL dan RPL usaha atau kegiatan
yang akan di pantau
c. Melakukan kordinasi dengan instansi terkait yang dalam hal ini Dinas Bina marga
dan Pemerintah Kabupaten Maros
d. Mengumpulkan data dan informasi sekunder yang relevan
e. Melakukan pemantauan di lapangan.
BAB II
RINGKASAN RKL DAN RPL
A. Ringkasasn Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
Tabel 1 Ringkasan RKL
No Jenis dampak penting Sumber dampak penting Tolak ukur dampak penting Pengelolaan dampak penting
1. Pencemaran udara (debu) Pengangkutan material Keluhan masyarakar Penyiraman dilokasi kejadian
Pembersihan lahan Tingkat pencemaran ( debu )
AMP/Stone cruser
Pekerjaan Tanah
Pekerjaan lapis pondasi
Pekerjaan aspal
Pasangan batu
Oprasional
Pemeliharaan
2. Sosial Pengadaan Tanah Lahan yang belum bebas Nilai ganti rugi sesuai
kesepakatan
3. Komplik antar tenaga kerja Mobilisasi tenaga kerja Keresahan masyarakat Penggunaan tenaga lokal
4. Hilangnya lahan hijau Kegiatan pelebaran jalan (tahap Menurunnya tingkat Penghijauan
konstruksi) kenyamanan (gersang)
5. Kemacetan lalulintas Pengangkutan material Antrian kendaraan/tingkat Pengaturan likasi pekerjaan
Pembersihan lahan kemacetan Pemasangan rambu lalulintas
Pekerjaan Tanah
Pekerjaan lapis pondasi
Pekerjaan aspal
Pasangan batu
Oprasional
Pemeliharaan
6. Kebisingan (pencemaran AMP/Base camp Tingkat kebisingan keluhan Hindari pelaksanaan pada
Udara) (Quarry/stone cruser) masyarakat malam hari
Pekerjaan lapis pondasi
Pekerjaan aspal
7. Banjir/ genangan air Pekerjaan Tanah Tingkat genangan/banjir Saluran air di perhatikan
Hindari penumpukan material
8. Kecelakaan Tahap konstruksi Tingkat kecelakaan Peraturan keselamatan kerja
Oprasional agar di perhatikan
Pemeliharaan Pemasangan rambu lalulintas
9. Kerusakan pada jalan yang Tahap konstruksi Tingkat kerusakan Pengangkutan material sesuai
dilalui dengan kapasitas/tonasenya
Pemantauan
No Jenis dampak penting Sumber dampak penting
Metode Lokasi Waktu
1. Pencemaran udara (debu) Pengangkutan material Visual STA 0+000 s/d STA 2+205 Selama Konstruksi
Pembersihan lahan Kab. Maros pada lokasi yang 1 x perbulan
AMP/Stone cruser dilalui kendaraan pengangkut
Pekerjaan Tanah Material Quary
Pekerjaan lapis pondasi
Pekerjaan aspal
Pasangan batu
Oprasional
Pemeliharaan
2. Sosial
3. Komplik antar tenaga kerja Mobilisasi tenaga kerja Pemantauan Tenaga kerja STA 0+000 s/d STA 2+205 Selama Konstruksi
memantau kondisi keamanan Kab. Maros 1 x perbulan
4. Hilangnya lahan hijau
5. Kemacetan lalulintas Pengangkutan material Memantau frekuensi STA 0+000 s/d STA 2+205 Selama Konstruksi
Pembersihan lahan kemacetan Kab. Maros 1 x perbulan
Pekerjaan Tanah
Pekerjaan lapis pondasi
Pekerjaan aspal
Pasangan batu
Oprasional
Pemeliharaan
6. Kebisingan (pencemaran AMP/Base camp Memantau kondisi alat-alat STA 0+000 s/d STA 2+205 Selama Konstruksi
Udara) (Quarry/stone cruser) yang digunakan memantau Kab. Maros 1 x perbulan
Pekerjaan lapis pondasi keluhan masyarakat
Pekerjaan aspal
7. Banjir/ genangan air Pekerjaan Tanah Memantau gangguan arus STA 0+530 s/d STA 0+700 Selama Konstruksi
drainase Kab. Maros 1 x perbulan
8. Kecelakaan Tahap konstruksi Memantau kelengkapan STA 0+000 s/d STA 2+205 Selama Konstruksi
Oprasional keselamatan pekerja Kab. Maros 1 x perbulan
Pemeliharaan Memantau rambu lalulintas
9. Kerusakan pada jalan yang Tahap konstruksi Memantau Tonase dan STA 0+530 s/d STA 0+700 Selama Konstruksi
dilalui kapasitas Kab. Maros 1 x perbulan
BAB III
TEMUAN LAPANGAN
Kegiatan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh pemrakarsa adalah seperti pada tabel 3
di bawah:
Tabel 5. Kegiatan Pemantauan yang dilakukan oleh pemrakarsa pada saat pemantauan dilapangan
Dalam tabel 3 tampak bahwa sejauh ini kegiatan pengelolaan yang dilakukan oleh para pelaksana
atau pemrakarsa proyek, baru menyangkut hal yang sangat dirasakan pada saat kegiatan proyek
brlangsung, yaitu timbulnya pencemaran debu. Kegiatan pengelolaan lain yang diperkirakan akan
timbul, seperti tampak pada tabel 1 diatas,seperti hilangnya lahan hijau/tanaman, kemacetan
lalulintas, kebisingan, kecelakaan, genangan air dan pembebasan lahan serta kerusakan pada
jalanyang dilalui serta banjir. Masih belum dilingkup dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan.
Meskipun demikian dalam hal gangguan lalulintas dan keselamatan pengguna jalan, terlihat
dilapangan penggunaan rambu-rambu lalulintas yang sifatnya sangat kurang, dengan kata lain
Bila memperhatikan efektifitas dan efisiensidari pengelolaan lingkungan yang dilakukan terlihat
Pengelolaan dampak tingkat kebisingan masih dalam bentuk pengaturan kerja, yaitu tidak
melakukan pekerjaan pada malam hari, untuk tahap pasca kegiatan pengelolaan ini masih
perlu dilakukan.
Pengelolaan kerusakan jalan yang dilalui, khususnya jalan sepanjang lokasi proyek
peninjauan dilapangan masih memungkinkan untuk terjadi banjir atau genangan sekitar
jalan baik pada tahap pasca konstruksi ataupun pasca proyek di musim hujan sehingga
Memperhatikan fungsi dan kelas jalan maka permasalahan yang perlu menjadi perhatian
pada tahap pasca proyek adalah tingkat kecelakaan, gangguan kenyamanan dalam hal ini
polusi debu dan kebisingan serta dampak dari vibrasi akibat banyaknya kendaraan berat
peningkatan jalan
Kendala yang dihadapi dan hambatan pemprakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL adalah:
dalam kontrak pelaksanaan proyek, hal ini menyulitkan para pelaksana proyek.
kurang.
Dokumen RKL/RPL yang dibuat oleh para pemrakarsa, sering tidak sama dengan dokumen
BAB IV
EVALUASI
Pengelolaan dan pemantauan lingkunagan jalan harus terus terlingkup dalam seluruh pelaksanaan
siklus proyek (prakonstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi serta pasca proyek), sehingga
kualitas lingkungan disekitar lokasi kegiatan proyek akan lebih baik.
Sosialisasi terhadap para pelaksana proyek dirasa masih kurang, mengingat hasil pemantauan
menunjukkan bahwa para pelaksana lapangan masih baru melihat dokumen RKL/RPL yang di
buat pemrakarsa.
Untuk meningkatkan kualitas lingkunagan disekitar lokasi kegiatan proyek Peningkatan Jalan
Kassi Kebo – Salarang Kec. Turikale Kab. Maros, dalam pelaksanan perlu memperhatikan faktor –
faktor keselamatan pengguna jalan (penerapan manajemen keselamatan) dan penghijauan atau
penataan landscape sekitar jalan serta kualitas hasil pekerjaan konstruksi jalan yang baik
(jembatan, perkerasan, dan drainase).
Hal yang memungkinkan kualitas lingkungan sekitar proyek menurun pada tahap pasca konstruksi
dan pasca proyek adalah:
Meningkatkan dampak vibrasi akibat semakin cepat dan banyaknya kendaraan yang
melalui lokasi, akan mengakibatkan bangunan sekitar jalan banyak yang rusak dan
kenyamanan terganggu.
Meningkatkan kecepatan kendaraan sekitar ruas jalan memungkinkan untuk semakin tinggi
gangguan menyebrang dan kecelakaan.
Memburuknya kualitas udara disekitar lokasi jalan akibat meningkatnya kapasitas jalan
perlu dilakukan pengelolaan dengan sistem penataan tanaman.
Kegiatan pelebaran jalan.
Sistem drainase yang kurang memadai tidak dapat menampung volume air hujan pada
musim hujan, yang memungkinkan pada musim hujan akan terjadi banjir dan genangan
akan lebih luas.