BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Keputusan Pembelian
2.1.1 Pengertian Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian merupakan serangkaian proses yang berawal dari konsumen
mengenal masalahnya, mencari informasi tentang produk atau merek tertentu dan
mengevaluasi produk atau merek tersebut seberapa baik masing - masing alternatif
tersebut dapat memecahkan masalahnya, yang kemudian serangkaian proses
tersebut mengarah keputusan pembelian (Tjiptono, 2017), (Kotler dan Keller,
2018) menambahkan bahwa, proses keputusan pembelian adalah proses lima
tahap yang di lewati konsumen, di mulai dari pengenalan masalah, pencarian
informasi, evaluasi alternative yang dapat memecahkan masalahnya, keputusan
pembelian, dan perilaku pasca pembelian, yang di mulai jauh sebelum pembelian
yang sesungguhnya di lakukan oleh konsumen dan memiliki dampak lama setelah
itu.
Menurut Indrasari (2019) keputusan pembelian merupakan seleksi terhadap dua
pilihan alternatif atau lebih, dengan kata lain pilihan / alternatif harus tersedia bagi
seseorang ketika mengambil keputusan. Sebaliknya, jika konsumen tidak
mempunyai alternatif untuk memilih dan benar - benar terpaksa melakukan
pembelian, maka keadaan tersebut bukan merupakan suatu keputusan. Menurut
Gunawan (2022) keputusan pembelian merupakan sebuah proses di mana
konsumen mengenal masalahnya, mencari informasi mengenai produk atau merek
tertentu. Keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk mau
membeli atau tidak terhadap produk (Kholidah dan Arifiyanto, 2020)
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat di sampaikan bahwa keputusan
pembelian adalah tindakan yang di lakukan konsumen untuk melakukan
pembelian sebuah produk dari berbagai alternatif. Oleh karena itu, pada
pengambilan keputusan pembelian konsumen harus melewati proses pemilihan
yang di ambil salah satu dari beberapa alternatif penyelesaian masalah dengan
tindak lanjut yang nyata.
14
Setelah itu konsumen dapat melakukan evaluasi pilihan dan kemudian dapat
menentukan sikap yang akan diambil selanjutnya.
Kotler dan Keller (2018) menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan
merupakan proses psikologis dasar yang memainkan peranan penting dalam
memahami bagaimana konsumen secara aktual mengambil keputusan pembelian.
Sebelum membuat suatu keputusan membeli suatu produk atau jasa, seorang
konsumen akan mencari dan mengumpulkan informasi - informasi sebagai bahan
penilaian dan pertimbangan terhadap produk yang akan di belinya. Pengambilan
keputusan merupakan suatu tindakan para konsumen setelah menerima rangsangan
dari produk yang di lihatnya. Pengambilan keputusan konsumen merupakan
proses yang komplek karena di dalamnya terdapat kegiatan seseorang untuk
membuat keputusan dari dua pilihan atau lebih serta menganalisis produk dari
berbagai unsur dan pengetahuan konsumennya. Terdapat tahapan proses dalam
keputusan pembelian yaitu :
1. Pengenalan Masalah
Proses membeli di awali dengan pengenalan masalah atau kebutuhan
pembelinya dari suatu perbedaan antara keadaan yang sebenarnya dan
keadaan yang di inginkan. Kebutuhan ini dapat di sebabkan oleh rangsangan
dari dalam diri pembeli ataupun dari luar. Sebagai contoh kebutuhan normal
seseorang, yaitu rasa haus dan lapar yang meningkat hingga suatu tingkat
tertentu dan berubah menjadi dorongan. Atau suatu kebutuhan yang timbul
karena rangsangan dari luar, yaitu seseorang yang melewati suatu toko roti
dan melihat roti yang baru selesai di bakar dapat merangsang rasa laparnya.
2. Pencarian Informasi
Seorang konsumen yang mulai timbul minatnya akan terdorong untuk
mencari informasi lebih banyak. Seberapa jauh seseorang mencari informasi
bergantung pada kuat lemahnya dorongan kebutuhan. Proses mencari
informasi secara aktif di mana ia mencari bahan - bahan bacaan, menelpon
teman - temannya, dan melakukan kegiatan untuk mempelajari yang lain.
Umumnya jumlah aktivitas pencarian konsumen akan meningkat bersamaan
15
dengan konsumen berpindah dari situasi pemecahan masalah yang terbatas ke
pemecahan masalah yang ekstensif. Sumber informasi utama di mana
konsumen mendapatkan informasi di bagi menjadi empat kelompok, yaitu :
a. Pribadi : keluarga, teman, tetangga dan rekan.
b. Komersial : iklan, situs web, wiraniaga, penyalur, kemasan, dan tampilan.
c. Publik : media masa dan organisasi penilai konsumen.
d. Eksperimental : penanganan, pemeriksaan dan penggunaan produk.
3. Evaluasi Alternatif
Terdapat beberapa proses evaluasi keputusan. Kebanyakan model dari proses
evaluasi konsumen sekarang bersifat kognitif, yaitu mereka memandang
konsumen sebagai pembentuk penilaian terhadap produk terutama
berdasarkan pada pertimbangan yang sadar dan rasional. Konsumen mungkin
mengembangkan seperangkat kepercayaan merek tentang di mana setiap
merek berada pada ciri masing - masing. Kepercayan merek menimbulkan
citra merek. Produsen harus berusaha memahami cara konsumen mengenal
informasi yang di perolehnya dan sampai pada sikap tertentu mengenai
produk, merek dan keputusan untuk membeli.
4. Keputusan Pembelian
Pada tahap evaluasi, konsumen membentuk preferensi terhadap merek -
merek yang terdapat pada perangkat pilihan. Konsumen mungkin akan
membentuk tujuan membeli merek yang paling di sukai. Terdapat dua faktor
yang bisa muncul di antara niat untuk membeli dan keputusan pembelian
yang mungkin mengubah niat tersebut. Faktor pertama adalah sikap orang
lain, faktor kedua adalah situasi yang tidak di harapkan.
5. Perilaku Pasca Pembelian
Sesudah pembelian terhadap suatu produk di lakukan, konsumen akan
mengalami tingkat kepuasan atau ketidak puasan tertentu. Apabila produk
tidak memberikan kepuasan yang di harapkan, maka konsumen akan
merubah sikapnya terhadap merek produk tersebut menjadi negatif dan
bahkan mungkin akan menolak dari daftar pilihan. Sebaliknya, maka
keinginan untuk membeli ulang merek produk tersebut cenderung menjadi
lebih kuat.
16
2.1.2 Indikator Keputusan Pembelian
Indikator keputusan pembelian dapat di gunakan untuk mengevaluasi keadaan
atau kemungkinan di lakukan pengukuran terhadap perubahan yang terjadi dari
waktu ke waktu. Menurut Kotler (2018) Indikator keputusan pembelian sebagai
berikut :
1. Pemilihan produk
Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli suatu produk atau
menggunakan uangnya untuk tujuan lain. Dalam hal ini perusahaan harus
memusatkan perhatiannya kepada orang - orang yang berminat membeli
suatu produk serta alternatif mereka pertimbangkan.
2. Pemilihan merek
Pembeli harus mengambil keputusan tentang merek yang mana akan di
beli. Setiap merek memiliki perbedaan - perbedaannya tersendiri. Dalam
hal ini, perusahaan harus mengetahui bagaimana konsumen memilih
sebuah merek.
3. Pemilihan tempat penyalur
Pembeli harus mengambil keputusan penyalur mana yang akan di
kunjungi. Setiap pembeli mempunyai pertimbangan yang berbeda - beda
dalam hal menentukan penyalur bisa di karenakan faktor lokasi yang
dekat.
4. Waktu pembelian
Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa berbeda -
bedamisalnya : ada yang beli setiap hari, satu minggu sekali, tiga minggu
sekali atau sebulan sekali.
5. Jumlah pembelian
Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk
yang akan di belinya pada suatu saat. Dalam hal ini, perusahaan harus
mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan pembeli.
6. Metode pembayaran
Pembeli dapat mengambil keputusan tentang metode pembayaran yang
akan di lakukan dalam pengambilan keputusan konsumen menggunakan
barang atau jasa.
17
2.2 Environmental Concern
2.2.1 Pengertian Environmental Concern
Environmental concern (kepedulian lingkungan) menurut Aman, Harun & Hussein
(2017), adalah tingkat emosional dan komitmen seseorang terhadap isu atau
masalah lingkungan. Menurut Rehman dan Bin Dost (2017), environmental
concern adalah sekumpulan persepsi, hubungan emosional, sikap, nilai dan
perilaku yang di tunjukkan oleh konsumen. Environmental concern juga dapat di
artikan sebagai tingkat emosionalitas konsumen terkait dengan masalah
lingkungan yang ada. Kesadaran lingkungan dapat di artikan sebagai kemampuan
individu untuk memahami hubungan antara aktivitas manusia, status kualitas
lingkungan saat ini dan kesediaannya untuk mengambil bagian dalam kegiatan
lingkungan (Du et al., 2018).
Menurut Suki (2013) kesadaran akan lingkungan pada diri konsumen akan
mempengaruhi niat beli mereka terhadap suatu produk. Kesadaran lingkungan yang
relatif rendah terhadap produk ramah lingkungan mengakibatkan rendahnya
pengetahuan konsumen terhadap produk ramah lingkungan sehingga niat
pembelian serta perilaku pembelian juga relatif rendah, begitu pula sebaliknya
kesadaran lingkungan yang tinggi akan produk ramah lingkungan akan
mengakibatkan niat pembelian serta perilaku pembelian produk ramah lingkungan
relatif tinggi (Paramita dan Yasa, 2015).
Menurut Malik et al. (2019) memaparkan bahwa environmental concern
merupakan isu yang mengarah ke masalah lingkungan adalah masalah penting dan
berkembang pesat dalam bisnis, dan etika serta perilaku individu terhadap masalah
ini meningkat dengan kesadaran akan praktik sosial. Hal ini menimbulkan
kecenderungan bahwa semakin tinggi kesadaran lingkungan akan mengarah pada
perilaku pembelian produk yang ramah lingkungan. Menurut Naalchi (2020)
Environmental concern menunjukkan seberapa jauh seseorang menyadari dan
berupaya untuk menyelesaikannya serta menunjukkan kesediaan untuk
berkontribusi pada masalah lingkungan.
18
Menurut Chaudhary (2018) Environmental Concern adalah suatu aktivitas yang
mengacu pada kesadaran masyarakat akan kepeduliannya terhadap lingkungan.
Menurut Rini et al. (2017) Kepedulian terhadap lingkungan dapat di lihat
komitmen dan tingkat emosional dari konsumen terhadap berbagai isu
lingkungan. Beberapa konsumen mengartikan kepedulian mereka terhadap
lingkungan dengan memilih green product untuk memperbaiki kualitas
lingkungan dan kualitas hidup mereka. Faktor utama dalam pengambilan
keputusan dapat di sebabkan oleh kepedulian konsumen terhadap lingkungan.
Konsumen percaya mengkonsumsi green product dapat menyelesaikan
permasalahan pada lingkungan (Abdulsahib et al., 2019).
Masyarakat yang memiliki kesadaran yang kuat akan membeli produk yang ramah
lingkungan sehingga terkait dengan tujuannya untuk menjaga lingkungan (Paramita
et al., 2022). Seseorang yang berusaha melindungi atau ingin berkontribusi
mengatasi permasalahan yang terjadi pada lingkungan dan mengurangi penggunaan
bahan pencemar dan limbah beracun akan lebih memilih menggunakan produk -
produk yang ramah lingkungan yang biasa di sebut dengan green product
(Firmansyah, 2021).
2.2.2 Indikator Environmental Concern
Menurut Suki (2012) mengembangkan pengukuran terhadap environmental
concern sebagai berikut :
1. Isu / masalah mengenai lingkungan
Kedaruratan Isu / masalah mengenai lingkungan merupakan masalah
yang darurat (perlu diatasi segera).
2. Kegiatan pada kerusakan lingkungan.
Sangat menghawatirkan apabila kegiatan pribadi seseorang berdampak
pada kerusakan lingkungan.
3. Dampak lingkungan
Keadaan lingkungan di bumi sekarang ini yang akan berdampak terhadap
masa depan sangat menghawatirkan.
19
2.3 Kualitas Produk
2.3.1 Pengertian Kualitas Produk
Pengertian kualitas produk memiliki inti pada upaya pemenuhan kebutuhan dan
keinginan konsumen yang bertujuan untuk mengimbangi harapan konsumen.
Kualitas produk merupakan kemampuan suatu produk untuk melakukan fungsi
fungsinya. Kemampuan produk tersebut meliputi ketahanan, keandalan, ketelitian
yang di hasilkan, di operasikan dan di pebaiki, dan atribut lain yang berharga
pada produk secara keseluruhan. Menurut Kotler dan Amstrong (2018) kualitas
produk adalah karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada
kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan pelanggan yang di nyatakan atau di
implikasikan. Menurut Wahjono, (2018), produk adalah setiap hal yang di
tawarkan di pasar untuk mendapatkan perhatiaan, permintaan, pemakaian atau
konsumsi yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen.
Menurut Kotler dan Keller (2018) kualitas produk adalah totalitas fitur dan
karakteristik produk atau jasa yang bergantung pada kemampuannya untuk
memuaskan kebutuhan konsumen yang di nyatakan atau tersirat. Sedangkan
menurut Mowen (2017) kualitas produk merupakan proses evaluasi secara
keseluruhan kepada pelanggan atas perbaikan kinerja suatu produk. Kualitas
produk merupakan tantangan yang penting bagi perusahaan dalam bersaing dan
merupakan faktor penting yang mendorong pertumbuhan ekonomis di pasar global.
Kualitas secara umum dapat di artikan sebagai jumlah karakter terukur yang
menunjukkan derajat kebaikan suatu produk, ataupun dapat di artikan sebagai
suatu keadaaan terbaik dalam batas - batas kondisi tertentu sesuai dengan
keinginan dan juga merupakan suatu yang dapat memberikan kepuasaan kepada
konsumen.
Menurut Tjiptono (2017) hal mutu suatu produk yang di hasilkan oleh suatu
perusahaan kadang mengalami keragaman. Hal ini di sebabkan mutu suatu produk
itu di pengaruhi oleh beberapa faktor yang di mana faktor ini dapat menentukan
bahwa suatu produk dapat memenuhi standar yang telah di tentukan atau tidak.
Berikut faktor - faktor yang mempengaruhi kualitas produk sebagai berikut :
20
1. Manusia
Peranan manusia atau karyawan yang bertugas dalam perusahaan akan
sangat mempengaruhi secara langsung terhadap baik buruknya mutu dari
produk yang di hasilkan oleh suatu perusahaan. Maka aspek manusia perlu
mendapat perhatian yang cukup. Perhatian tersebut dengan mengadakan
latihan - latihan, pemberian motivasi, pemberian jamsostek,
kesesejahteraan dan lain – lain.
2. Manajemen
Tanggung jawab atas mutu produksi dalam perusahaan di bebankan dalam
beberapa kelompok yang biasa di sebut dengan functional group. Dalam
hal ini pimpinan harus melakukan koordinasi yang baik antara functional
groupdengan bagian - bagian lainnya dalam perusahaan tersebut. Dengan
adanya koordinasi tersebut maka dapat tercapai suasana kerja yang baik
dan harmonis serta menghindarkan adanya kekacauan dalam pekerjaan.
Keadaan ini memungkinkan perusahaan untuk mempertahankan mutu serta
meningkatkan mutu dari produk yang di hasilkan.
3. Uang
Perusahaan harus menyediakan uang yang cukup untuk mempertahankan
atau meningkatkan mutu produknya. Misalnya untuk perawatan, perbaikan
mesin, peralatan produksi, dan perbaikan produk yang rusak.
4. Bahan baku
Bahan baku merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan akan
mempengaruhi mutu suatu produk yang di hasilkan suatu perusahaan.
Untuk itu pengendalian mutu bahan baku menjadi hal yang sangat penting
dalam hal bahan baku, harus memperhatikan beberapa hal antara lain :
seleksi sumber dari bahan baku, pemeriksaan dokumen pembelian,
pemeriksaaan penerimaan bahan baku, serta penyimpanan.
5. Mesin dan peralatan
Mesin serta peralatan yang di gunakan dalam proses produksi akan
mempengaruhi terhadap mutu produk yang di hasikan perusahaan.
Peralatan.
21
yang kurang lengkap serta mesin yang sudah kuno dan tidak ekonomis akan
menyebabkan rendahnya mutu produk yang di hasilkan, serta tingkat
efesiensi yang rendah.
2.3.2 Indikator Kualitas Produk
Berikut ini merupakan indikator - indikator dari kualitas produk menurut
(Tjiptono, 2015) antara lain, sebagai berikut :
1. Kinerja
Berhubungan dengan karakteristik operasi dasar dari sebuah produk yang
memberikan manfaat bagi konsumen yang mengkonsumsi sehingga
konsumen dapat memperoleh manfaat dari produk yang telah di konsumsi.
2. Fitur
Karakteristik produk yang di rancang untuk menyempurnakan fungsi
produk atau menambah keterkaitan konsumen terhadap produk dan ciri
khas yang membedakan dengan produk pesaing yang sejenis.
3. Reliabilitas
Probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan atau tidak
dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya
kerusakan maka produk tersebut dapat di andalkan.
4. Kesesuaian dengan spesifikasi
Sejauh mana karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi
spesifikasi tertentu dari konsumen atau tidak di temukannya cacat pada
produk.
5. Daya tahan
Berarti berapa lama atau umur produk yang bersangkutan bertahan sebelum
produk tersebut harus di ganti. Semakin besar frekuensi pemakaian
konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya tahan produk.
22
2.4 Harga
2.4.1 Pengertian Harga
Harga adalah sejumlah uang yang di tagihkan atas suatu produk dan jasa atau
jumlahdari nilai yang di tukarkan para pelanggan untuk memperoleh manfaat dari
memiliki atau menggunakan suatu produk atas jasa. Harga merupakan satu -
satunya bauran pemasaran yang memberikan pendapatan atau pemasukan bagi
perusahaan serta bersifat fleksibel. Menurut Guntur, (2017) Harga adalah
sejumlah uang yang di keluarkan untuk sebuah produk atau jasa, atau sejumlah
nilai yang di tukarkan oleh konsumen untuk memperoleh manfaat atau
kepemilikan atau penggunaan atas sebuah produk atas jasa (Kotler & Amstrong,
2018).
Menurut Tjiptono (2017) penetapan harga merupakan salah satu keputusan
terpenting dalam pemasaran. Harga merupakan satu - satunya unsur bauran
pemasaran yang mendatangkan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan,
sedangkan ketiga unsur lain (produk, distribusi, dan promosi) menyebabkan
timbulnya biaya (pengeluaran). Di samping itu, harga merupakan unsur bauran
pemasaran yang bersifat fleksibel, artinya dapat di ubah dengan cepat. Berbeda
halnya dengan karakteristik produk atau komitmen terhadap saluran distribusi.
Kedua hal terakhir tidak dapat di ubah / di sesuaikan dengan mudah dan cepat,
karena biasanya menyangkut keputusan jangka panjang.
Menurut Kotler dan Armstrong (2018) harga merupakan sejumlah uang yang harus
di bayarkan oleh konsumen untuk mendapatkan sebuah produk atau jasa yang di
butuhkan atau di inginkan konsumen. Harga seringkali di kaitkan dengan kualitas,
tidak sedikit konsumen yang cenderung untuk menggunakan harga sebagai
indikator untuk menilai suatu kualitas produk. Perusahaan untuk menciptakan
produk yang berkualitas tinggi memerlukan biaya yang tinggi pula, sehingga
terciptanya pemikiran bagi konsumen bahwa harga tinggi akan menentukan kualitas
produk yang tinggi.
23
Menurut Amron, (2018) harga adalah jumlah uang yang di bebankan untuk
produk atau layanan yang di beli oleh pelanggan. Harga adalah jumlah dari
seluruh nilai yang di tukarkan oleh konsumen atas manfaat memiliki atau
menggunakan produk atau jasa tersebut (Wangean dan Mandey, 2014).
Sedangkan untuk keputusan pembelian, harga memiliki peranan utama dalam
proses pengambilan keputusan para pembeli menurut Tjiptono (2017), yaitu :
1. Peran alokasi yaitu fungsi dari harga dalam membantu para pembeli untuk
memutuskan cara memperoleh manfaat atau utilitas tertinggi yang di
harapkan berdasarkan daya belinya. Pembeli membandingkan harga dari
berbagai alternatif yang tersedia, kemudian memutuskan alokasi dana yang
di kehendaki.
2. Peranan informasi dan harga, yaitu fungsi harga dalam “mendidik”
konsumen mengenai faktor - faktor produk seperti kualitas. Hal ini
bermanfaat dalam situasi di mana pembeli mengalami kesulitan untuk
menilai faktor produk atau manfaat-nya secara obyektif.
2.4.2 Indikator Harga
Harga pada dasarnya merupakan teori dasar dari bauran pemasaran dan perilaku
konsumen. Keduanya dapat di gunakan ketika melihat persepsi harga terhadap
keputusan pembelian suatu produk barang atau jasa. Indikator harga menurut
(Kotler & Amstrong, 2018) yaitu :
1. Keterjangkauan Harga
Konsumen bisa menjangkau harga yang telah di tetapkan oleh perusahaan.
Produk biasanya ada beberapa jenis dalam satu merek harganya juga
berbeda dari yang termurah sampai termahal. Dengan harga yang di
tetapkan para konsumen banyak yang membeli produk.
2. Kesesuaian Harga dengan kualitas produk
Harga sering di jadikan sebagai indikator kualitas bagi konsumen orang
sering memilih harga yang lebih tinggi di antara dua barang karena mereka
melihat adanya perbedaan kualitas. Apabila harga lebih tinggi orang
cenderung beranggapan bahwa kualitasnya juga lebih baik.
24
3. Daya Saing Harga
Konsumen sering membandingkan harga suatu produk dengan produk
lainnya, dalam hal ini mahal murah-nya suatu produk sangat di
pertimbangkan oleh konsumen pada saat akan membeli produk tersebut.
4. Kesesuaian harga dengan manfaat
Konsumen memutuskan membeli suatu produk jika manfaat yang di
rasakan lebih besar atau sama dengan yang telah di keluarkan untuk
mendapatkannya. Jika konsumen merasakan manfaat produk lebih kecil
dari uang yang di keluarkan maka konsumen akan beranggapan bahwa
produk tersebut mahal dan konsumen akan berpikir dua kali untuk
melakukan pembelian.
2.5 Penelitian Terdahulu
Berikut ini adalah rangkuman beberapa penelitian terdahulu yang di anggap
relevan dengan penelitian ini, untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada tabel berikut
:
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
No Nama Judul Penelitian Metode Hasil Penelitian
Penelitian Penelitian
1 Erna Kesadaran Lingkungan, Analisis Temuan penelitian
Listiana Green Marketing Dan Regresi Linear membuktikan bahwa
(2022) Citra Merek Serta Berganda kesadaran merek, green
Dampaknya Pada product feature, green price
Pembelian Mobil LCGC dan citra merek berpengaruh
(Studi Empiris Pembelian signifikan terhadap
Mobil LCGC Di Kota keputusan pembelian.
Pontianak) Namun green promotion
tidak berpengaruh
singnifikan terhadap
keputusan pembelian.
2 Any Alfiya Pengaruh Citra Merek, Analisis Hasil penelitian ini
(2021) Kualitas Produk, Dan Regresi Linear menunjukan bahwa citra
Harga Terhadap Berganda merek, kualitas produk,
Keputusan Pembelian promosi dan harga secara
Mobil Mitsubishi parsial dan secara simultan
Xpander Di Borma Slawi berpengaruh terhadap
keputusan pembeliaan mobil
Mitsubishi Xpander di
Borma Slawi.
25
3 Laili Pengaruh Environmental Analisis Temuan penelitian ini
Yuntafi’ah Concern dan Green Regresi Linear menunjukkan bahwa
(2021) Brand Knowledge Berganda environmental concern dan
Terhadap Green Purchase green brand knowledge tidak
Intention dengan Attitude memiliki pengaruh langsung
Toward Green Product yang signifikan terhadap
Sebagai Variabel green purchase intention.
Intervening (Studi Pada Selain itu, dengan uji Sobel
Mahasiswi STIE Putra hasil keseluruhan telah
Bangsa Kebumen) mengkonfirmasi bahwa
attitude toward green produk
memiliki pengaruh penuh
sebagai variabel mediasi
terhadap green purchase
Intention.
4 Grace Analisis Pengaruh Analisis Hasil uji hipotesis di
Malohing Kualitas Produk, Harga Regresi Linear temukan bahwa secara
(2021) Dan Promosi Terhadap Berganda simultan Kualitas Produk,
Keputusan Pembelian Harga dan Promosi
Mobil Avanza Pada PT. berpengaruh signifikan
Hasrat Abadi Jayapura terhadap Keputusan
Pembelian Mobil Avanza
Pada PT. Hasrat Abadi
Jayapura, tetapi secara
parsial Kualitas Produk,
Harga dan Promosi tidak
berpengaruh signifikan
terhadap Keputusan
Pembelian Mobil Avanza
Pada PT. Hasrat Abadi
Jayapura.
5 Rissa Pengaruh Harga Dan Analisis Hasil penelitian
Mustika Kualitas Produk terhadap Regresi Linear menunjukkan bahwa pada
Sari keputusan Pembelian Berganda saat yang sama dua faktor
(2021) (Survey Pelanggan bebas yang di
Produk Sprei Rise) pertimbangkan,yakni harga
serta kualitas suatu produk
mempengaruhikeputusan
dari suatu
Pembelian.
6 Adonis Pengaruh Harga, Merek Analisis Hasil pada penelitian ini
Mahendra Dan Desain Produk Regresi Linear membuktikan bahwa : (1)
(2020) Terhadap Keputusan Berganda Harga secara parsial
Pembelian Toyota berpengaruh positif dan
Avanza (Studi Kasus signifikan terhadap
Warga Pemilik keputusan konsumen
Kendaraan Toyota kendaraan Toyota Avanza,
Avanza Di Kelurahan (2) Merek secara parsial
Cipinang) berpengaruh positif dan
signifikan terhadap
keputusan konsumen
membeli Toyota Avanza, (3)
26
Desain Produk secara parsial
berpengaruh positif dan
signifikan terhadap
keputusan konsumen
membeli Toyota Avanza, (4)
Secara simultan antara
Harga, Merek, dan Desain
Produk berpengaruh positif
dan signifikan terhadap
keputusan konsumen
membeli Toyota
Avanza.
7 Fanny Pengaruh Environmental Analisis Hasil penelitian ini
Firmansyah Concern Dan Perceived Regresi Linear menunjukkan bahwa
(2020) Value Terhadap Purchase Berganda environmental concern tidak
Intention Produk berpengaruh signifikan
Upcycled Geometric terhadap purchase intention
Creation dan perceived value
berpengaruh signifikan
terhadap purchase intention
pada produk Geometric
Creation.
8 Friani Pengaruh Kualitas Analisis Berdasarkan hasil
Gloria Igir Produk Dan Harga Regresi Linear pembahasan maka di
(2018) Terhadap Keputusan Berganda temukan kualitas produk dan
Pembelian Mobil harga berpengaruh signifikan
Daihatsu Grand Max terhadap keputusan
Pick Up (Studi pada PT. pembelian. Masing - masing
Astra International Tbk variabel berpengaruh positif
Daihatsu Cabang signifikan terhadap
Malalayang) keputusan pembelian.
27
2.6 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran adalah konsep untuk mengungkapkan dan menentukan
persepsi dan keterkaitan antara variabel yang akan di teliti dengan teori - teori
yang telah di paparkan dalam tinjauan pustaka dan penelitian terdahulu. (Ghozali,
2018).
Identifikasi Permasalahan : Variabel : Rumusan Masalah :
Environmental Concern 1. Apakah environmental concern,
Persaingan yang semakin kompetitif
(X1), berpengaruh signifikan terhadap
khususnya dalam industri otomotif keputusan pembelian produk
mengharuskan setiap perusahaan Kualitas Produk (X2),
Harga (X3) Toyota Kijang Innova Zenix
melakukan berbagai inovasi dan Hybrid Di Bandar Lampung?
Keputusan Pembelian
membentuk strategi untuk Produk (Y) 2. Apakah kualitas produk
mempertahankan konsumen dan berpengaruh signifikan terhadap
menarik konsumen baru untuk membuat keputusan pembelian produk
Toyota Kijang Innova Zenix
keputusan pembelian terhadap mobil
Hybrid Di Bandar Lampung?
MPV merek Toyota Kijang Innova 3. Apakah harga berpengaruh
Zenix Hybrid Di Bandar Lampung. signifikan terhadap keputusan
pembelian produk Toyota
Kijang Innova Zenix Hybrid Di
Bandar Lampung?
4. Apakah environmental concern,
kualitas produk, dan harga
berpengaruh signifikan terhadap
keputusan pembelian produk
Toyota Kijang Innova Zenix
Hybrid Di Bandar Lampung?
Hipotesis :
H1 : Environmental concern berpengaruh secara positif dan Metode Analisis Data :
signifikan terhadap keputusan pembelian produk. Uji Regeresi Linier Berganda
H2 : Kualitas produk berpengaruh secara positif dan signifikan - Uji Parsial T
terhadapkeputusan pembelian produk. - Uji Simultan F
H3 : Harga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap - Uji Koefisien Determinasi
keputusan pembelian produk.
H4 : Environmental concern, kualitas produk dan harga
berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap keputusan
pembelian produk.
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran