0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan38 halaman

Peran dan Fungsi Komite Audit dalam GCG

Makalah ini membahas tentang peran dan fungsi komite audit dalam pengendalian dan tata kelola perusahaan, serta pentingnya komite audit dalam memastikan akurasi laporan keuangan dan efektivitas sistem pengendalian internal. Komite audit terdiri dari anggota dewan komisaris yang independen dan memiliki keahlian di bidang akuntansi dan keuangan, serta bertanggung jawab untuk meninjau laporan keuangan dan berinteraksi dengan auditor eksternal. Regulasi mengenai komite audit di Indonesia diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 dan Peraturan OJK, yang menunjukkan komitmen untuk praktik tata kelola perusahaan yang baik.

Diunggah oleh

Riska Baini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan38 halaman

Peran dan Fungsi Komite Audit dalam GCG

Makalah ini membahas tentang peran dan fungsi komite audit dalam pengendalian dan tata kelola perusahaan, serta pentingnya komite audit dalam memastikan akurasi laporan keuangan dan efektivitas sistem pengendalian internal. Komite audit terdiri dari anggota dewan komisaris yang independen dan memiliki keahlian di bidang akuntansi dan keuangan, serta bertanggung jawab untuk meninjau laporan keuangan dan berinteraksi dengan auditor eksternal. Regulasi mengenai komite audit di Indonesia diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 dan Peraturan OJK, yang menunjukkan komitmen untuk praktik tata kelola perusahaan yang baik.

Diunggah oleh

Riska Baini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

KOMITE AUDIT

Ditujukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah


Pengendalian dan Tata Kelola Perusahaan

Dosen pengampu : Khairul Saleh, S.E., [Link].

Disusun Oleh:
1. Keukeu Firda Lestari 231641009
2. Riska Baini Nurshanti 231631048

PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2025
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul “Komite Audit” tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari
penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
“Pengendalian dan Tata Kelola Perusahaan” pada Program Studi Magister
Akuntansi Universitas Widyatama selain itu untuk menambah wawasan bagi
pembaca dan penulis.
Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Khairul Saleh, S.E., [Link].
selaku dosen mata kuliah Pengendalian dan Tata Kelola Perusahaan pada
Program Studi Magister Akuntansi Universitas Widyatama yang telah
memberikan tugas ini sehingga dapat memperluas pengetahuan sesuai dengan
bidang studi yang kami tekuni.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
ini. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun
guna kesempurnaan makalah ini.
Demikian kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
umumnya kepada pembaca dan khususnya bagi penulis sendiri.

Bandung, Februari 2025

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I LATAR BELAKANG.............................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................3
2.1. KOMITE AUDIT...........................................................................3
2.1.1. ORGANISASI....................................................................3
2.1.2. PERSYARATAN...............................................................4
2.1.3. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB..............................6
2.1.4. WEWENANG....................................................................9
2.1.5. KEWAJIBAN....................................................................9
2.1.6. PELAPORAN..................................................................10
2.2. PEDOMAN UMUM GOOD CORPORATE GOVERNANCE
INDONESIA................................................................................10
2.2.1. PENCIPTAAN SITUASI KONDUSIF UNTUK GCG...10
2.2.2. ASAS GCG......................................................................13
2.2.3. ETIKA BISNIS DAN PEDOMAN PERILAKU.............16
2.2.4. ORGAN PERUSAHAAN................................................20
2.2.5. PEMEGANG SAHAM....................................................21
2.2.6. PEMANGKU KEPENTINGAN......................................23
2.2.7. PERNYATAAN TENTANG PENERAPAN PEDOMAN
CGC..................................................................................26
2.2.8. PEDOMAN PRAKTIS PENERAPAN GCG..................27
2.3. UNDANG-UNDANG TENTANG PERSEROAN TERBATAS29
BAB III KESIMPULAN......................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................32

ii
BAB I
LATAR BELAKANG

Dalam era globalisasi dan kompleksitas bisnis yang semakin meningkat,


pengendalian dan tata kelola perusahaan menjadi aspek yang sangat penting bagi
keberlangsungan dan keberhasilan suatu organisasi. Salah satu elemen kunci
dalam tata kelola perusahaan yang baik adalah adanya komite audit. Komite audit
berfungsi sebagai pengawas independen yang bertugas untuk memastikan bahwa
laporan keuangan perusahaan disusun dengan akurat dan transparan, serta bahwa
sistem pengendalian internal berfungsi dengan efektif.
Komite audit biasanya terdiri dari anggota dewan komisaris yang memiliki
pengetahuan dan pengalaman di bidang akuntansi, keuangan, dan audit. Mereka
bertanggung jawab untuk meninjau laporan keuangan, berinteraksi dengan auditor
eksternal, dan memastikan bahwa perusahaan mematuhi peraturan dan standar
yang berlaku. Dengan adanya komite audit, perusahaan dapat meningkatkan
kepercayaan pemangku kepentingan, termasuk investor, kreditor, dan masyarakat
umum, terhadap integritas laporan keuangan yang disajikan.
Di Indonesia, regulasi mengenai komite audit diatur dalam Undang-
Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Peraturan Otoritas
Jasa Keuangan (OJK). Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk
mendorong praktik tata kelola perusahaan yang baik dan transparan. Dalam
konteks ini, pemahaman tentang peran dan fungsi komite audit menjadi sangat
penting bagi mahasiswa yang mempelajari pengendalian dan tata kelola
perusahaan.
Materi komite audit dalam mata kuliah ini tidak hanya mencakup teori dan
regulasi yang mengatur keberadaan komite audit, tetapi juga praktik terbaik yang
dapat diterapkan dalam dunia nyata. Dengan memahami peran strategis komite
audit, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan kemampuan analitis dan
kritis dalam menilai efektivitas pengendalian internal dan tata kelola perusahaan,

1
serta mampu berkontribusi dalam menciptakan lingkungan bisnis yang transparan
dan akuntabel.
Melalui pembelajaran ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami
pentingnya komite audit dalam menjaga integritas laporan keuangan dan
meningkatkan kepercayaan publik terhadap perusahaan, serta mampu menerapkan
prinsip-prinsip tata kelola yang baik dalam praktik bisnis di masa depan.

HAL 66
Agency theory memprediksikan bahwa pembentukan komite
audit merupakan
cara untuk menyelesaikan agency problems. Hal ini dikarenakan
fungsi utama
komite audit adalah mereview pengendalian internal
perusahaan, memastikan
kualitas laporan keuangan, dan meningkatkan efektivitas fungsi
audit. Dengan
membantu pembentukan pengendalian internal yang baik,
komite audit dapat
memperbaiki kualitas keterbukaan. Ho dan Wong (2001)
membuktikan bahwa
voluntary disclosure berasosiasi secara positif dengan
keberadaan komite audit.
Dengan kata lain, komite audit melayani kepentingan pemegang
saham dengan
melindungi hak-haknya melalui pengawasan terhadap perilaku
agent.
Komite audit merupakan mekanisme Corporate Governance
yang penting. Sejak
awalnya, komite audit sudah berubah secara signifikan, dan saat
ini dianggap
sebagai salah satu karakteristik Corporate Governance yang
efektif. Birkett
(1986) beragumentasi bahwa komite audit menjaga
independensi dari eksternal
auditor. Lebih jauh lagi, Knapp (1987) menyimpulkan bahwa
komite audit
memperkuat posisi auditor bila terdapat perbedaan pendapat
dengan manajemen.
Dalam hal ini, independensi komite audit dapat membantu
eksternal auditor
dalam berargumentasi dengan manajemen.

2
Independensi merupakan karakteristik penting untuk efektivitas
komite audit.
Salah satu rekomendasi dari Blue Ribbon Committee (BRC) untuk
memperbaiki
efektivitas komite audit adalah dengan mempersyaratkan
adanya independent
director di dalam komite audit (BRC, 1999). Independensi komite
audit erat
kaitannya dengan beberapa faktor ekonomi. Klein (2002)
menelaah faktor
faktor ekonomi yang diakibatkan oleh perbedaaan dalam
independensi komite
audit. Dia menyimpulkan bahwa independensi komite audit
meningkat dengan
besarnya board of director dan persentase orang luar di dalam
board dan
menurun dengan pertumbuhan perusahaan serta kerugian yang
dialami
berturutan. Oleh karena itu, perusahaan seharusnya
memodifikasi komite
auditnya dan menyesuaikannya dengan lingkungan ekonomis
perusahaan.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. KOMITE AUDIT


2.1.1. ORGANISASI
Komite audit menurut Bapepam-LK dalam Soemarso, S.R. (2018:289)
adalah komite yang dibentuk dan bertanggungjawab kepada dewan komisaris
dalam membantu melaksanakan tugas dan fungsi dewan komisaris. Komite audit
bertindak secara independen dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Komite audit diwajibkan untuk memiliki piagam komite audit.
Peraturan Bapepam Nomor IX.I.5 menyebutkan bahwa komite audit
minimalnya terdiri atas 3 (tiga) orang yang berasal dari komisaris independen dan
pihak luar. Peraturan BI Nomor 8/4/PBI/2006 menyebutkan bahwa anggota
komite audit minimalnya terdiri atas seorang komisaris independen, seorang dari
pihak independen yang memiliki keahlian di bidang keuangan atau akuntansi, dan
seorang dari pihak independen yang memiliki keahlian di bidang hukum atau
perbankan.
Komite audit diketuai oleh komisaris independen. Masa tugas anggota
komite audit tidak boleh lebih lama dari masa jabatan dewan komisaris dan dapat
dipilih kembali untuk satu periode berikutnya. Sementara, komite audit harus
menyelenggarakan rapat secara berkala paling kurang satu kali dalam 3 (tiga)
bulan. Kuorum untuk rapat komite audit adalah lebih dari ½ (setengah) jumlah
anggota.
Dalam melaksanakan tanggung jawabnya, komite audit berkoordinasi
dengan bagian-bagian di dalam struktur organisasi perusahaan yang berada di
bawah manajemen dan pihak luar lainnya. Komite audit mempunyai hubungan
lini dengan dewan komisaris. Sesuai dengan peraturan, komite audit memang
organ yang dibentuk dan bertanggung jawab kepada dewan komisaris. Dengan
struktur yang berada di bawah direksi, komite audit berhubungan koordinatif

4
dengan sekretaris perusahaan, audit internal, manajemen risiko, kepatuhan/legal,
etika, dan akuntansi. Berikut adalah posisi komite audit dalam struktur organisasi.

2.1.2. PERSYARATAN
Persyaratan untuk diangkat sebagai anggota komite audit mencakup aspek-
aspek berikut:
1. Kompetensi, mencakup:
a. Memiliki kemampuan, pengetahuan, dan pengalaman yang sesuai dengan
bidang pekerjaannya.
b. Memiliki kemampuan berkomunikasi dengan baik.
c. Memahami laporan keuangan dan bisnis perusahaan, khususnya yang
terkait dengan layanan jasa atau kegiatan usaha emiten atau perusahaan
publik.

5
d. Memahami proses audit, manajemen risiko, peraturan perundang-
undangan di bidang pasar modal, dan peraturan perundang-undangan
terkait lainnya.
e. Memiliki latar belakang pendidikan dan keahlian di bidang akuntansi dan
keuangan (paling tidak satu orang di antara anggota komite audit).
f. Bersedia meningkatkan kompetensi secara terus-menerus melalui
pendidikan dan praktik.
2. Integritas, mencakup:
a. Memiliki integritas yang tinggi.
b. Mematuhi kode etik komite audit yang ditetapkan oleh komite atau
perusahaan publik.
3. Independensi, mencakup:
a. Bukan merupakan orang dalam KAP, Kantor Konsultan Hukum, KJPP,
atau pihak lain yang memberi jasa assurance, jasa non-assurance, jasa
penilai, dan jasa konsultasi lain kepada emiten atau perusahaan publik
dalam jangka waktu 6 (enam) bulan terakhir, kecuali komisaris
independen.
b. Bukan merupakan orang yang bekerja atau mempunyai wewenang dan
tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin, mengendalikan, atau
mengawasi kegiatan emiten atau perusahaan publik dalam waktu 6 (enam)
bulan terakhir, kecuali komisaris independen.
c. Tidak mempunyai saham langsung dan tidak langsung pada emiten atau
perusahaan publik.
d. Jika anggota komite audit memeroleh saham emiten atau perusahaan
publik, baik langsung maupun tidak langsung, akibat suatu peristiwa
hukum, saham tersebut wajib dialihkan kepada pihak lain dalam jangka
waktu 6 (enam) bulan setelah diperolehnya saham tersebut.
e. Tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan anggota dewan komisaris,
anggota direksi, atau pemegang saham utama emiten atau perusahaan
publik.

6
f. Tidak mempunyai hubungan usaha, baik langsung maupun tidak langsung
yang berkaitan dengan kegiatan usaha emiten atau perusahaan publik.

2.1.3. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB


Keberadaan komite audit terutama dikaitkan dengan pelaksanaan tata
kelola perusahaan yang baik. Tugas dan tanggung jawab komite audit dapat
dikelompokkan menjadi hal-hal yang berkaitan dengan poin-poin berikut.
1. Pelaporan keuangan
Tugas utama komite audit jika dikaitkan dengan laporan keuangan adalah
menelaah apakah laporan keuangan yang disampaikan kepada publik telah
sesuai dengan Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal. Dimana laporan
keuangan telah disusun dan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berterima umum, kemudian laporan keuangan telah menyajikan semua
informasi secara lengkap, benar, dan tidak mengandung informasi atau fakta
material yang tidak benar dan tidak menghilangkan informasi atau fakta
material. Komite audit perlu menelaah kompetensi dan kecukupan staf
akuntansi untuk memastikan bahwa proses pelaporan keuangan tidak
terkendala oleh kedua hal tersebut.
2. Akuntan publik
Independensi merupakan faktor utama dalam penunjukan akuntan publik.
Kode etik akuntan publik mendefinisikan independensi dari sudut posisinya
terhadap perusahaan (klien). Dimana berikut merupakan faktor-faktor yang
perlu dipertimbangkan dalam menilai independensi akuntan publik.
a. Kepatuhan terhadap peraturan tentang jasa profesional lain yang dilakukan
oleh akuntan publik.
b. Kepatuhan terhadap peraturan tentang rotasi partner.
c. Adanya hubungan kekeluargaan antara tim audit dan karyawan kunci
perusahaan.
d. Adanya hubungan keuangan antara tim audit atau kantor akuntan publik
dan perusahaan.

7
e. Adanya hubungan usaha antara tim audit atau kantor akuntan publik dan
perusahaan.
f. Adanya masalah perbedaan opini audit antara akuntan publik dan
manajemen pada masa lalu.
g. Adanya fee tahun sebelumnya yang belum dibayar.

Faktor lain dalam penunjukan akuntan publik, adalah kompetensi dan reputasi.
Kemampuan (kompetensi) akuntan publik dapat dilihat dari keahlian yang
dimiliki dan ketersediaan sumber daya manusia yang memadai. Keahlian
terutama berkaitan dengan bidang, sektor, atau industri dimana perusahaan
yang akan diaudit berada. Reputasi berkaitan dengan integritas akuntan publik
yang bersangkutan. Rekam jejak kantor akuntan publik atau partner-
partnernya ketika menjalani dunia profesi merupakan ukuran dalam menilai
reputasi. Reputasi akuntan publik yang baik akan meningkatkan tingkat
kepercayaan publik terhadap laporan keuangan yang disampaikan perusahaan.
Reputasi menentukan akseptabilitas pasar keuangan.

Dalam kaitannya dengan akuntan publik, tugas komite audit tidak hanya
berhubungan dengan rekomendasi penunjukannya. Komite audit perlu
memastikan bahwa kantor akuntan publik yang ditunjuk telah melakukan
pekerjaannya sesuai dengan standar audit yang berlaku. Selama proses
pengauditan, komite audit perlu mengadakan pertemuan dengan akuntan
publik untuk membahas perkembangan pekerjaan audit. Dimana paling tidak
dilakukan pada tahap berikut:
a. Perencanaan audit.
b. Penyelesaian audit interim.
c. Penyelesaian audit akhir tahun.
d. Pembahasan management letter.
e. Pembahasan kinerja audit.

3. Audit internal

8
Lingkup kerja audit internal sangat bervariasi tergantung pada mandat yang
diberikan oleh manajemen, kemampuan audit internal itu sendiri, dan
keberadaan fungsi assurance lain di dalam perusahaan. Bagian organisasi
perusahaan yang menangani audit internal sering disebut dengan Unit Audit
Internal (UAI) atau Satuan Kerja Audit Internal (SKAI). Peran utama UAI
atau SKAI yang menjadi perhatian komite audit adalah yang berkaitan dengan
pemeriksaan sistem pengendalian internal perusahaan.
Audit internal merupakan bagian dari sistem pengendalian internal perusahaan
yang bertugas untuk memonitor perancangan dan implementasi sistem
pengendalian internal tersebut. Pertemuan antara komite audit dan UAI atau
SKAI dilakukan secara berkala, paling tidak untuk membahas:
a. Perencanaan audit tahunan dan perkembangan pelaksanaannya.
b. Temuan-temuan yang diperoleh dan saran perbaikannya.
c. Tindak lanjut terhadap temuan-temuan yang diperoleh.
4. Manajemen risiko
Komite audit perlu mengkaji kerangka kerja dan proses pengidentifikasian,
penilaian, dan penanggulangan risiko-risiko utama, termasuk risiko terjadinya
kecurangan (fraud) dan adanya benturan kepentingan. Dalam kaitannya
dengan proses pelaporan keuangan, manajemen risiko ditekankan pada
kemungkinan terjadinya salah saji material dalam laporan keuangan. Komite
audit perlu memahami profil risiko (risk profile) yang dihadapi perusahaan
dan strategi manajemen dalam penanggulangannya.
5. Kepatuhan
Jika tidak ada pejabat atau bagian khusus yang memonitor kepatuhan terhadap
perundang-undangan, komite audit secara berkala harus membahas
perkembangan pengaduan-pengaduan yang ditujukan kepada perusahaan.
Selain itu secara berkala, bagian hukum dapat diminta untuk melaporkan
kasus-kasus yang dihadapi perusahaan, baik yang ditangani sendiri maupun
yang ditangani dengan bantuan pengacara atau penasihat dari luar. Salah satu
cakupan tugas dari auditor internal adalah memeriksa kepatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Diskusi dengan auditor internal

9
juga akan dapat mengungkapkan ketidakpatuhan tersebut. Demikian juga
diskusi dengan akuntan publik ketika membahas hasil audit laporan keuangan
historis.
Jika ada pejabat khusus yang mengutus whistle blowing system, komite audit
perlu berdiskusi dengan pejabat yang bersangkutan secara berkala untuk
mengetahui perkembangan pelaksanaan kode etik dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
6. Pengaduan masyarakat
Komite audit harus memperoleh laporan tentang pengaduan dan hasil
penelaahan atau pemeriksaan oleh pihak otoritas. Terdapat beberapa hal yang
perlu dicermati oleh komite audit sehubungan dengan pengaduan atau
komentar dari pihak otoritas ini:
a. Kemungkinan adanya salah saji material dalam laporan keuangan.
b. Kemungkinan terjadinya kecurangan (fraud) dalam pelapiran keuangan.
c. Kemungkinan terdapatnya kelemahan material dalam sistem pengendalian
internal.

2.1.4. WEWENANG
Dalam melakukan tugasnya, komite audit berwenang untuk melakukan
hal-hal sebagai berikut:
1. Mengakses dokumen, data-data terkait, dan informasi lain.
2. Berkomunikasi langsung dengan karyawan termasuk direksi.
3. Melibatkan pihak independen di luar komite audit, jika diperlukan.
4. Melakukan kewenangan lain yang diberikan oleh dewan komisaris.

2.1.5. KEWAJIBAN
Kewajiban komite audit mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Menjaga kerahasiaan dokumen, data, dan informasi emiten atau perusahaan
publik.
2. Membuat laporan tentang pekerjaan yang telah dilakukan.

10
3. Meningkatkan kompetensi secara terus-menerus melalui pendidikan dan
latihan.
4. Mematuhi kode etik komite audit yang ditetapkan oleh emiten dan perusahaan
publik.
2.1.6. PELAPORAN
Terdapat dua macam pelaporan yang harus dilakukan oleh komite audit,
yaitu pelaporan kepada dewan komisaris dan pelaporan kepada publik. Laporan
komite audit kepada publik disampaikan melalui laporan tahunan, laporan komite
audit merupakan bagian dari laporan tentang tata kelola perusahaan, dimana
mencakup:
1. Organisasi komite audit termasuk nama-nama anggota komite audit dan
penjelasan tentang keindependesian mereka.
2. Tugas dan tanggung jawab komite yang tercantum dalam piagam komite
audit.
3. Rangkuman kegiatan yang telah dilakukan komite audit selama tahun
pelaporan.
4. Kesimpulan dan rekomendasi yang dihasilkan atas penelaahan yang dilakukan
komite audit.
5. Jumlah rapat yang diselenggarakan oleh komite audit selama setahun dan
tingkat kehadiran masing-masing anggota komite audit.

Laporan komite audit termasuk dalam bagian laporan pertanggungjawaban


perusahaan yang dimintakan persetujuan kepada pemegang saham. Selain laporan
tahunan, informasi tentang pengangkatan dan pemberhentian anggota komite audit
wajib dilaporkan kepada OJK dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari
setelah pengangkatan atau pemberhentian. Informasi mengenai pengangkatan dan
pemberhentian anggota komite audit dimuat dalam laman (website) emiten atau
perusahaan publik.

11
2.2. PEDOMAN UMUM GOOD CORPORATE GOVERNANCE
INDONESIA
2.2.1. PENCIPTAAN SITUASI KONDUSIF UNTUK GCG
GCG diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien,
transparan dan konsisten dengan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu
penerapan GCG perlu didukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu
negara dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan
masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha. Prinsip-prinsip dasar
yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pilar adalah:
1. Negara dan perangkatnya menciptakan peraturan perundang-undangan yang
menunjang iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan, melaksanakan
peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum secara konsisten
(consistent law enforcement).
2. Dunia usaha sebagai pelaku pasar menerapkan GCG sebagai pedoman dasar
pelaksanaan usaha.
3. Masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha serta pihak yang
terkena dampak dari keberadaan perusahaan, menunjukkan kepedulian dan
melakukan kontrol sosial (social control) secara obyektif dan bertanggung
jawab.

Pedoman Pokok Pelaksanaan


1. Peranan Negara
1.1. Melakukan koordinasi secara efektif antar penyelenggara negara dalam
penyusunan peraturan perundang-undangan berdasarkan sistem hukum
nasional dengan memprioritaskan kebijakan yang sesuai dengan
kepentingan dunia usaha dan masyarakat. Untuk itu regulator harus
memahami perkembangan bisnis yang terjadi untuk dapat melakukan
penyempurnaan atas peraturan perundang-undangan secara
berkelanjutan.

12
1.2. Mengikutsertakan dunia usaha dan masyarakat secara
bertanggungjawab dalam penyusunan peraturan perundang-undangan
(rule-making rules).
1.3. Menciptakan sistem politik yang sehat dengan penyelenggara negara
yang memiliki integritas dan profesionalitas yang tinggi.
1.4. Melaksanakan peraturan perundang-undangan dan penegakan hukum
secara konsisten.
1.5. Mencegah terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).
1.6. Mengatur kewenangan dan koordinasi antar-instansi yang jelas untuk
meningkatkan pelayanan masyarakat dengan integritas yang tinggi dan
mata rantai yang singkat serta akurat dalam rangka mendukung
terciptanya iklim usaha yang sehat, efisien dan transparan.
1.7. Memberlakukan peraturan perundang-undangan untuk melindungi saksi
dan pelapor (whistleblower) yang memberikan informasi mengenai
suatu kasus yang terjadi pada perusahaan. Pemberi informasi dapat
berasal dari manajemen, karyawan perusahaan atau pihak lain.
1.8. Mengeluarkan peraturan untuk menunjang pelaksanaan GCG dalam
bentuk ketentuan yang dapat menciptakan iklim usaha yang sehat,
efisien dan transparan.
1.9. Melaksanakan hak dan kewajiban yang sama dengan pemegang saham
lainnya dalam hal Negara juga sebagai pemegang saham perusahaan.
2. Peranan Dunia Usaha
2.1. Menerapkan etika bisnis secara konsisten sehingga dapat terwujud iklim
usaha yang sehat, efisien dan transparan.
2.2. Bersikap dan berperilaku yang memperlihatkan kepatuhan dunia usaha
dalam melaksanakan peraturan perundang-undangan.
2.3. Mencegah terjadinya KKN.
2.4. Meningkatkan kualitas struktur pengelolaan dan pola kerja perusahaan
yang didasarkan pada asas GCG secara berkesinambungan.
2.5. Melaksanakan fungsi ombudsman untuk dapat menampung informasi
tentang penyimpangan yang terjadi pada perusahaan. Fungsi

13
ombudsman dapat dilaksanakan bersama pada suatu kelompok usaha
atau sektor ekonomi tertentu.
3. Peranan Masyarakat
3.1. Melakukan kontrol sosial dengan memberikan perhatian dan kepedulian
terhadap pelayanan masyarakat yang dilakukan penyelenggara negara
serta terhadap kegiatan dan produk atau jasa yang dihasilkan oleh dunia
usaha, melalui penyampaian pendapat secara obyektif dan bertanggung
jawab.
3.2. Melakukan komunikasi dengan penyelenggara negara dan dunia usaha
dalam mengekspresikan pendapat dan keberatan masyarakat.
3.3. Mematuhi peraturan perundang-undangan dengan penuh kesadaran dan
tanggung jawab.

2.2.2. ASAS GCG


Setiap perusahaan harus memastikan bahwa asas GCG diterapkan pada
setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan. Asas GCG yaitu transparansi,
akuntabilitas, responsibilitas, independensi serta kewajaran dan kesetaraan
diperlukan untuk mencapai kesinambungan usaha (sustainability) perusahaan
dengan memperhatikan pemangku kepentingan (stakeholders).
1. Transparansi (Transparency)
Prinsip Dasar
Untuk menjaga obyektivitas dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus
menyediakan informasi yang material dan relevan dengan cara yang mudah
diakses dan dipahami oleh pemangku kepentingan. Perusahaan harus
mengambil inisiatif untuk mengungkapkan tidak hanya masalah yang
disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan, tetapi juga hal yang penting
untuk pengambilan keputusan oleh pemegang saham, kreditur dan pemangku
kepentingan lainnya.
Pedoman Pokok Pelaksanaan

14
1.1. Perusahaan harus menyediakan informasi secara tepat waktu, memadai,
jelas, akurat dan dapat diperbandingkan serta mudah diakses oleh
pemangku kepentingan sesuai dengan haknya.
1.2. Informasi yang harus diungkapkan meliputi, tetapi tidak terbatas pada,
visi, misi, sasaran usaha dan strategi perusahaan, kondisi keuangan,
susunan dan kompensasi pengurus, pemegang saham pengendali,
kepemilikan saham oleh anggota Direksi dan anggota Dewan Komisaris
beserta anggota keluarganya dalam perusahaan dan perusahaan lainnya,
sistem manajemen risiko, sistem pengawasan dan pengendalian
internal, sistem dan pelaksanaan GCG serta tingkat kepatuhannya, dan
kejadian penting yang dapat mempengaruhi kondisi perusahaan.
1.3. Prinsip keterbukaan yang dianut oleh perusahaan tidak mengurangi
kewajiban untuk memenuhi ketentuan kerahasiaan perusahaan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan, rahasia jabatan, dan hak-hak
pribadi.
1.4. Kebijakan perusahaan harus tertulis dan secara proporsional
dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan.

2. Akuntabilitas (Accountability)
Prinsip Dasar
Perusahaan harus dapat mempertanggungjawabkan kinerjanya secara
transparan dan wajar. Untuk itu perusahaan harus dikelola secara benar,
terukur dan sesuai dengan kepentingan perusahaan dengan tetap
memperhitungkan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan
lain. Akuntabilitas merupakan prasyarat yang diperlukan untuk mencapai
kinerja yang berkesinambungan.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
2.1. Perusahaan harus menetapkan rincian tugas dan tanggung jawab
masing-masing organ perusahaan dan semua karyawan secara jelas dan
selaras dengan visi, misi, nilai-nilai perusahaan (corporate values), dan
strategi perusahaan.

15
2.2. Perusahaan harus meyakini bahwa semua organ perusahaan dan semua
karyawan mempunyai kemampuan sesuai dengan tugas, tanggung
jawab, dan perannya dalam pelaksanaan GCG.
2.3. Perusahaan harus memastikan adanya sistem pengendalian internal
yang efektif dalam pengelolaan perusahaan.
2.4. Perusahaan harus memiliki ukuran kinerja untuk semua jajaran
perusahaan yang konsisten dengan sasaran usaha perusahaan, serta
memiliki sistem penghargaan dan sanksi (reward and punishment
system).
2.5. Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, setiap organ
perusahaan dan semua karyawan harus berpegang pada etika bisnis dan
pedoman perilaku (code of conduct) yang telah disepakati.
3. Responsibilitas (Responsibility)
Prinsip Dasar
Perusahaan harus mematuhi peraturan perundang-undangan serta
melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat dan lingkungan sehingga
dapat terpelihara kesinambungan usaha dalam jangka panjang dan mendapat
pengakuan sebagai good corporate citizen.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
3.1. Organ perusahaan harus berpegang pada prinsip kehati-hatian dan
memastikan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan,
anggaran dasar dan peraturan perusahaan (by-laws).
3.2. Perusahaan harus melaksanakan tanggung jawab sosial dengan antara
lain peduli terhadap masyarakat dan kelestarian lingkungan terutama di
sekitar perusahaan dengan membuat perencanaan dan pelaksanaan yang
memadai.
4. Independensi (Independency)
Prinsip Dasar
Untuk melancarkan pelaksanaan asas GCG, perusahaan harus dikelola secara
independen sehingga masing-masing organ perusahaan tidak saling
mendominasi dan tidak dapat diintervensi oleh pihak lain.

16
Pedoman Pokok Pelaksanaan
4.1. Masing-masing organ perusahaan harus menghindari terjadinya
dominasi oleh pihak manapun, tidak terpengaruh oleh kepentingan
tertentu, bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest) dan dari
segala pengaruh atau tekanan, sehingga pengambilan keputusan dapat
dilakukan secara obyektif.
4.2. Masing-masing organ perusahaan harus melaksanakan fungsi dan
tugasnya sesuai dengan anggaran dasar dan peraturan perundang-
undangan, tidak saling mendominasi dan atau melempar tanggung
jawab antara satu dengan yang lain.
5. Kewajaran dan Kesetaraan (Fairness)
Prinsip Dasar
Dalam melaksanakan kegiatannya, perusahaan harus senantiasa
memperhatikan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan
lainnya berdasarkan asas kewajaran dan kesetaraan.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
5.1. Perusahaan harus memberikan kesempatan kepada pemangku
kepentingan untuk memberikan masukan dan menyampaikan pendapat
bagi kepentingan perusahaan serta membuka akses terhadap informasi
sesuai dengan prinsip transparansi dalam lingkup kedudukan masing-
masing.
5.2. Perusahaan harus memberikan perlakuan yang setara dan wajar kepada
pemangku kepentingan sesuai dengan manfaat dan kontribusi yang
diberikan kepada perusahaan.
5.3. Perusahaan harus memberikan kesempatan yang sama dalam
penerimaan karyawan, berkarir dan melaksanakan tugasnya secara
profesional tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, gender, dan
kondisi fisik.

2.2.3. ETIKA BISNIS DAN PEDOMAN PERILAKU


Prinsip Dasar

17
Untuk mencapai keberhasilan dalam jangka panjang, pelaksanaan GCG
perlu dilandasi oleh integritas yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan pedoman
perilaku yang dapat menjadi acuan bagi organ perusahaan dan semua karyawan
dalam menerapkan nilai-nilai (values) dan etika bisnis sehingga menjadi bagian
dari budaya perusahaan. Prinsip-prinsip dasar yang harus dimiliki oleh perusahaan
adalah:
1. Setiap perusahaan harus memiliki nilai-nilai perusahaan yang
menggambarkan sikap moral perusahaan dalam pelaksanaan usahanya.
2. Untuk dapat merealisasikan sikap moral dalam pelaksanaan usahanya,
perusahaan harus memiliki rumusan etika bisnis yang disepakati oleh organ
perusahaan dan semua karyawan. Pelaksanaan etika bisnis yang
berkesinambungan akan membentuk budaya perusahaan yang merupakan
manifestasi dari nilai-nilai perusahaan.
3. Nilai-nilai dan rumusan etika bisnis perusahaan perlu dituangkan dan
dijabarkan lebih lanjut dalam pedoman perilaku agar dapat dipahami dan
diterapkan.

Pedoman Pokok Pelaksanaan


1. Nilai-nilai Perusahaan
1.1. Nilai-nilai perusahaan merupakan landasan moral dalam mencapai visi
dan misi perusahaan. Oleh karena itu, sebelum merumuskan nilai-nilai
perusahaan, perlu dirumuskan visi dan misi perusahaan.
1.2. Walaupun nilai-nilai perusahaan pada dasarnya universal, namun dalam
merumuskannya perlu disesuaikan dengan sektor usaha serta karakter
dan letak geografis dari masing-masing perusahaan.
1.3. Nilai-nilai perusahaan yang universal antara lain adalah terpercaya, adil
dan jujur.
2. Etika Bisnis
2.1. Etika bisnis adalah acuan bagi perusahaan dalam melaksanakan
kegiatan usaha termasuk dalam berinteraksi dengan pemangku
kepentingan.

18
2.2. Penerapan nilai-nilai perusahaan dan etika bisnis secara
berkesinambungan mendukung terciptanya budaya perusahaan.
2.3. Setiap perusahaan harus memiliki rumusan etika bisnis yang disepakati
bersama dan dijabarkan lebih lanjut dalam pedoman perilaku.
3. Pedoman Perilaku
3.1. Fungsi Pedoman Perilaku
a. Pedoman perilaku merupakan penjabaran nilai-nilai perusahaan dan
etika bisnis dalam melaksanakan usaha sehingga menjadi panduan
bagi organ perusahaan dan semua karyawan perusahaan;
b. Pedoman perilaku mencakup panduan tentang benturan
kepentingan, pemberian dan penerimaan hadiah dan donasi,
kepatuhan terhadap peraturan, kerahasiaan informasi, dan
pelaporan terhadap perilaku yang tidak etis.
3.2. Benturan Kepentingan
a. Benturan kepentingan adalah keadaan dimana terdapat konflik
antara kepentingan ekonomis perusahaan dan kepentingan
ekonomis pribadi pemegang saham, anggota Dewan Komisaris dan
Direksi, serta karyawan perusahaan;
b. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, anggota Dewan
Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan harus senantiasa
mendahulukan kepentingan ekonomis perusahaan diatas
kepentingan ekonomis pribadi atau keluarga, maupun pihak
lainnya;
c. Anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan
dilarang menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan atau
keuntungan pribadi, keluarga dan pihak-pihak lain;
d. Dalam hal pembahasan dan pengambilan keputusan yang
mengandung unsur benturan kepentingan, pihak yang bersangkutan
tidak diperkenankan ikut serta;
e. Pemegang saham yang mempunyai benturan kepentingan harus
mengeluarkan suaranya dalam Rapat Umum Pemegang Saham

19
(RUPS) sesuai dengan keputusan yang diambil oleh pemegang
saham yang tidak mempunyai benturan kepentingan;
f. Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan
perusahaan yang memiliki wewenang pengambilan keputusan
diharuskan setiap tahun membuat pernyataan tidak memiliki
benturan kepentingan terhadap setiap keputusan yang telah dibuat
olehnya dan telah melaksanakan pedoman perilaku yang ditetapkan
oleh perusahaan.

3.3. Pemberian dan Penerimaan Hadiah dan Donasi


a. Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan
perusahaan dilarang memberikan atau menawarkan sesuatu, baik
langsung ataupun tidak langsung, kepada pejabat negara dan atau
individu yang mewakili mitra bisnis, yang dapat mempengaruhi
pengambilan keputusan;
b. Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan
perusahaan dilarang menerima sesuatu untuk kepentingannya, baik
langsung ataupun tidak langsung, dari mitra bisnis, yang dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan;
c. Donasi oleh perusahaan ataupun pemberian suatu aset perusahaan
kepada partai politik atau seorang atau lebih calon anggota badan
legislatif maupun eksekutif, hanya boleh dilakukan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan. Dalam batas kepatutan
sebagaimana ditetapkan oleh perusahaan, donasi untuk amal dapat
dibenarkan;
d. Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan
perusahaan diharuskan setiap tahun membuat pernyataan tidak
memberikan sesuatu dan atau menerima sesuatu yang dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan.
3.4. Kepatuhan terhadap Peraturan

20
a. Organ perusahaan dan karyawan perusahaan harus melaksanakan
peraturan perundang-undangan dan peraturan perusahaan;
b. Dewan Komisaris harus memastikan bahwa Direksi dan karyawan
perusahaan melaksanakan peraturan perundang-undangan dan
peraturan perusahaan;
c. Perusahaan harus melakukan pencatatan atas harta, utang dan
modal secara benar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum.
3.5. Kerahasiaan Informasi
a. Anggota Dewan Komisaris dan Direksi, pemegang saham serta
karyawan perusahaan harus menjaga kerahasiaan informasi
perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan,
peraturan perusahaan dan kelaziman dalam dunia usaha;
b. Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi, pemegang saham
serta karyawan perusahaan dilarang menyalahgunakan informasi
yang berkaitan dengan perusahaan, termasuk tetapi tidak terbatas
pada informasi rencana pengambilalihan, penggabungan usaha dan
pembelian kembali saham;
c. Setiap mantan anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta
karyawan perusahaan, serta pemegang saham yang telah
mengalihkan sahamnya, dilarang mengungkapkan informasi yang
menjadi rahasia perusahaan yang diperolehnya selama menjabat
atau menjadi pemegang saham di perusahaan, kecuali informasi
tersebut diperlukan untuk pemeriksaan dan penyidikan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan, atau tidak lagi menjadi
rahasia milik perusahaan.
3.6. Pelaporan atas pelanggaran dan perlindungan bagi pelapor
a. Dewan Komisaris berkewajiban untuk menerima dan memastikan
bahwa pengaduan tentang pelanggaran terhadap etika bisnis,
pedoman perilaku, peraturan perusahaan dan peraturan perundang-
undangan, diproses secara wajar dan tepat waktu;

21
b. Setiap perusahaan harus menyusun peraturan yang menjamin
perlindungan terhadap individu yang melaporkan terjadinya
pelanggaran terhadap etika bisnis, pedoman perilaku, peraturan
perusahaan dan peraturan perundang-undangan. Dalam
pelaksanaannya, Dewan Komisaris dapat memberikan tugas kepada
komite yang membidangi pengawasan implementasi GCG.

2.2.4. ORGAN PERUSAHAAN

2.2.5. PEMEGANG SAHAM


Prinsip Dasar
Pemegang saham sebagai pemilik modal, memiliki hak dan tanggung jawab atas
perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar
perusahaan. Dalam melaksanakan hak dan tanggung jawabnya, perlu diperhatikan
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Pemegang saham harus menyadari bahwa dalam melaksanakan hak dan
tanggung jawabnya harus memperhatikan juga kelangsungan hidup
perusahaan.
2. Perusahaan harus menjamin dapat terpenuhinya hak dan tanggung jawab
pemegang saham atas dasar asas kewajaran dan kesetaraan (fairness) sesuai
dengan peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar perusahaan.

Pedoman Pokok Pelaksanaan


1. Hak dan tanggung jawab Pemegang Saham
1.1. Hak pemegang saham harus dilindungi dan dapat dilaksanakan sesuai
peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar perusahaan. Hak
pemegang saham tersebut pada dasarnya meliputi:

22
a. Hak untuk menghadiri, menyampaikan pendapat, dan memberikan
suara dalam RUPS berdasarkan ketentuan satu saham memberi hak
kepada pemegangnya untuk mengeluarkan satu suara;
b. Hak untuk memperoleh informasi mengenai perusahaan secara
tepat waktu, benar dan teratur, kecuali hal-hal yang bersifat rahasia,
sehingga memungkinkan pemegang saham membuat keputusan
mengenai investasinya dalam perusahaan berdasarkan informasi
yang akurat;
c. Hak untuk menerima bagian dari keuntungan perusahaan yang
diperuntukkan bagi pemegang saham dalam bentuk dividen dan
pembagian keuntungan lainnya, sebanding dengan jumlah saham
yang dimilikinya;
d. Hak untuk memperoleh penjelasan lengkap dan informasi yang
akurat mengenai prosedur yang harus dipenuhi berkenaan dengan
penyelenggaraan RUPS agar pemegang saham dapat berpartisipasi
dalam pengambilan keputusan, termasuk keputusan mengenai hal-
hal yang mempengaruhi eksistensi perusahaan dan hak pemegang
saham;
e. Dalam hal terdapat lebih dari satu jenis dan klasifikasi saham
dalam perusahaan, maka: (i) setiap pemegang saham berhak
mengeluarkan suara sesuai dengan jenis, klasifikasi dan jumlah
saham yang dimiliki; dan (ii) setiap pemegang saham berhak untuk
diperlakukan setara berdasarkan jenis dan klasifikasi saham yang
dimilikinya.
1.2. Pemegang saham harus menyadari tanggung jawabnya sebagai pemilik
modal dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan dan
anggaran dasar perusahaan. Tanggung jawab pemegang saham tersebut
pada dasarnya meliputi:
a. Pemegang saham pengendali harus dapat: (i) memperhatikan
kepentingan pemegang saham minoritas dan pemangku kepentingan
lainnya sesuai peraturan perundang-undangan; dan (ii)

23
mengungkapkan kepada instansi penegak hukum tentang pemegang
saham pengendali yang sebenarnya (ultimate shareholders) dalam
hal terdapat dugaan terjadinya pelanggaran terhadap peraturan
perundang-undangan, atau dalam hal diminta oleh otoritas terkait;
b. Pemegang saham minoritas bertanggung jawab untuk menggunakan
haknya dengan baik sesuai dengan peraturan perundang-undangan
dan anggaran dasar;
c. Pemegang saham harus dapat: (i) memisahkan kepemilikan harta
perusahaan dengan kepemilikan harta pribadi; dan (ii) memisahkan
fungsinya sebagai pemegang saham dengan fungsinya sebagai
anggota Dewan Komisaris atau Direksi dalam hal pemegang saham
menjabat pada salah satu dari kedua organ tersebut;
d. Dalam hal pemegang saham menjadi pemegang saham pengendali
pada beberapa perusahaan, perlu diupayakan agar akuntabilitas dan
hubungan antar-perusahaan dapat dilakukan secara jelas.
2. Tanggung jawab Perusahaan terhadap Hak dan Kewajiban Pemegang Saham
a. Perusahaan harus melindungi hak pemegang saham sesuai dengan
peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar perusahaan.
b. Perusahaan harus menyelenggarakan daftar pemegang saham secara
tertib sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar.
c. Perusahaan harus menyediakan informasi mengenai perusahaan secara
tepat waktu, benar dan teratur bagi pemegang saham, kecuali hal-hal
yang bersifat rahasia.
d. Perusahaan tidak boleh memihak pada pemegang saham tertentu dengan
memberikan informasi yang tidak diungkapkan kepada pemegang saham
lainnya. Informasi harus diberikan kepada semua pemegang saham tanpa
menghiraukan jenis dan klasifikasi saham yang dimilikinya.
e. Perusahaan harus dapat memberikan penjelasan lengkap dan informasi
yang akurat mengenai penyelenggaraan RUPS.

24
2.2.6. PEMANGKU KEPENTINGAN
Prinsip Dasar
Pemangku kepentingan -selain pemegang saham- adalah mereka yang memiliki
kepentingan terhadap perusahaan dan mereka yang terpengaruh secara langsung
oleh keputusan strategis dan operasional perusahaan, yang antara lain terdiri dari
karyawan, mitra bisnis, dan masyarakat terutama sekitar tempat usaha perusahaan.
Antara perusahaan dengan pemangku kepentingan harus terjalin hubungan yang
sesuai dengan asas kewajaran dan kesetaraan (fairness) berdasarkan ketentuan
yang berlaku bagi masing-masing pihak. Agar hubungan antara perusahaan
dengan pemangku kepentingan berjalan dengan baik, perlu diperhatikan prinsip-
prinsip sebagai berikut:
1. Perusahaan menjamin tidak terjadinya diskriminasi berdasarkan suku, agama,
ras, golongan, dan gender serta terciptanya perlakuan yang adil dan jujur
dalam mendorong perkembangan karyawan sesuai dengan potensi,
kemampuan, pengalaman dan keterampilan masing-masing.
2. Perusahaan dan mitra bisnis harus bekerja sama untuk kepentingan kedua
belah pihak atas dasar prinsip saling menguntungkan.
3. Perusahaan harus memperhatikan kepentingan umum, terutama masyarakat
sekitar perusahaan, serta pengguna produk dan jasa perusahaan.

Pedoman Pokok Pelaksanaan


1. Karyawan
1.1. Perusahaan harus menggunakan kemampuan bekerja dan kriteria yang
terkait dengan sifat pekerjaan secara taat asas dalam mengambil
keputusan mengenai penerimaan karyawan.
1.2. Penetapan besarnya gaji, keikutsertaan dalam pelatihan, penetapan
jenjang karier dan penentuan persyaratan kerja lainnya harus dilakukan
secara obyektif, tanpa membedakan suku, agama, ras, golongan, gender,
dan kondisi fisik seseorang, atau keadaan khusus lainnya yang dilindungi
oleh peraturan perundang-undangan.

25
1.3. Perusahaan harus memiliki peraturan tertulis yang mengatur dengan jelas
pola rekrutmen serta hak dan kewajiban karyawan.
1.4. Perusahaan harus menjamin terciptanya lingkungan kerja yang kondusif,
termasuk kesehatan dan keselamatan kerja agar setiap karyawan dapat
bekerja secara kreatif dan produktif.
1.5. Perusahaan harus memastikan tersedianya informasi yang perlu diketahui
oleh karyawan melalui sistem komunikasi yang berjalan baik dan tepat
waktu.
1.6. Perusahaan harus memastikan agar karyawan tidak menggunakan nama,
fasilitas, atau hubungan baik perusahaan dengan pihak eksternal untuk
kepentingan pribadi. Untuk itu perusahaan harus mempunyai sistem yang
dapat menjaga agar setiap karyawan menjunjung tinggi standar etika dan
nilai-nilai perusahaan serta mematuhi kebijakan, peraturan dan prosedur
internal yang berlaku.
1.7. Karyawan serta serikat pekerja yang ada di perusahaan berhak untuk
menyampaikan pendapat dan usul mengenai lingkungan kerja dan
kesejahteraan karyawan.
1.8. Karyawan berhak melaporkan pelanggaran atas etika bisnis dan pedoman
perilaku, serta peraturan perundang-undangan yang terkait dengan
perusahaan.
2. Mitra Bisnis
2.1 Mitra Bisnis adalah pemasok, distributor, kreditur, debitur, dan pihak
lainnya yang melakukan transaksi usaha dengan perusahaan.
2.2 Perusahaan harus memiliki peraturan yang dapat menjamin
dilaksanakannya hak dan kewajiban mitra bisnis sesuai dengan perjanjian
dan peraturan perundang-undangan.
2.3 Mitra bisnis berhak memperoleh informasi yang relevan sesuai hubungan
bisnis dengan perusahaan sehingga masing-masing pihak dapat membuat
keputusan atas dasar pertimbangan yang adil dan wajar.

26
2.4 Kecuali diprasyaratkan lain oleh peraturan perundang-undangan,
perusahaan dan mitra bisnis berkewajiban untuk merahasiakan informasi
dan melindungi kepentingan masing-masing pihak.
3. Masyarakat serta Pengguna Produk dan Jasa
3.1. Perusahaan harus memiliki peraturan yang dapat menjamin terjaganya
keselarasan hubungan antara perusahaan dengan masyarakat sekitar,
termasuk penerapan program kemitraan dan bina lingkungan.
3.2. Perusahaan bertanggungjawab atas kualitas produk dan jasa yang
dihasilkan serta dampak negatif terhadap dan keselamatan pengguna.
3.3. Perusahaan bertanggungjawab atas dampak negatif yang ditimbulkan
oleh kegiatan usaha perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan
dimana perusahaan beroperasi. Oleh karena itu, perusahaan harus
menyampaikan informasi kepada masyarakat yang dapat terkena dampak
kegiatan perusahaan.

2.2.7. PERNYATAAN TENTANG PENERAPAN PEDOMAN CGC


Prinsip Dasar
Setiap perusahaan harus membuat pernyataan tentang kesesuaian penerapan GCG
dengan Pedoman GCG ini dalam laporan tahunannya. Pernyataan tersebut harus
disertai laporan tentang struktur dan mekanisme kerja organ perusahaan serta
informasi penting lain yang berkaitan dengan penerapan GCG. Dengan demikian,
pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya, termasuk regulator, dapat
menilai sejauh mana

Pedoman GCG pada perusahaan tersebut telah diterapkan.


Pedoman Pokok Pelaksanaan
1. Pernyataan tentang penerapan GCG beserta laporannya, merupakan bagian
dari laporan tahunan perusahaan. Pernyataan dan laporan tersebut dapat
sekaligus digunakan untuk memenuhi ketentuan pelaporan dari otoritas
terkait.

27
2. Dalam hal belum seluruh aspek Pedoman GCG ini dapat dilaksanakan,
perusahaan harus mengungkapkan aspek yang belum dilaksanakan tersebut
beserta alasannya.
3. Laporan tentang struktur dan mekanisme kerja organ perusahaan meliputi:
3.1. Struktur dan mekanisme kerja Dewan Komisaris, yang antara lain
mencakup:
a. Nama anggota Dewan Komisaris dengan menyebutkan statusnya
yaitu Komisaris Independen atau Komisaris bukan Independen;
b. Jumlah rapat yang dilakukan oleh Dewan Komisaris, serta jumlah
kehadiran setiap anggota Dewan Komisaris dalam rapat;
c. Mekanisme dan kriteria penilaian sendiri (self assessment) tentang
kinerja masing-masing para anggota Dewan Komisaris;
d. Penjelasan mengenai komite-komite penunjang Dewan Komisaris
yang meliputi: (i) nama anggota dari masing-masing komite; (ii)
uraian mengenai fungsi dan mekanisme kerja dari setiap komite; (iii)
jumlah rapat yang dilakukan oleh setiap komite serta jumlah
kehadiran setiap anggota; dan (iv) mekanisme dan kriteria penilaian
kinerja komite.
3.2. Struktur dan mekanisme kerja Direksi, yang antara lain mencakup:
a. Nama anggota Direksi dengan jabatan dan fungsinya masing-masing;
b. Penjelasan ringkas mengenai mekanisme kerja Direksi, termasuk
didalamnya mekanisme pengambilan keputusan serta mekanisme
pendelegasian wewenang;
c. Jumlah rapat yang dilakukan oleh Direksi, serta jumlah kehadiran
setiap anggota Direksi dalam rapat;
d. Mekanisme dan kriteria penilaian terhadap kinerja para anggota
Direksi;
e. Pernyataan mengenai efektivitas pelaksanaan sistem pengendalian
internal yang meliputi pengendalian risiko serta sistem pengawasan
dan audit internal.

28
4. Informasi penting lainnya yang berkaitan dengan penerapan GCG dan perlu
diungkapkan dalam laporan penerapan GCG antara lain mencakup:
4.1. Visi, misi dan nilai-nilai perusahaan;
4.2. Pemegang saham pengendali;
4.3. Kebijakan dan jumlah remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi;
4.4. Transaksi dengan pihak yang memiliki benturan kepentingan;
4.5. Hasil penilaian penerapan GCG yang dilaporkan dalam RUPS tahunan;
dan
4.6. Kejadian luar biasa yang telah dialami perusahaan dan dapat berpengaruh
pada kinerja perusahaan.

2.2.8. PEDOMAN PRAKTIS PENERAPAN GCG


Prinsip Dasar
Pelaksanaan GCG perlu dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan.
Untuk itu diperlukan pedoman praktis yang dapat dijadikan acuan oleh
perusahaan dalam melaksanakan penerapan GCG.
Pedoman Pokok Pelaksanaan
1. Dalam rangka penerapan GCG, masing-masing perusahaan harus menyusun
pedoman GCG perusahaan dengan mengacu pada Pedoman GCG ini dan
Pedoman Sektoral (bila ada). Pedoman GCG perusahaan tersebut mencakup
sekurang-kurangnya hal-hal sebagai berikut:
1.1. Visi, misi dan nilai-nilai perusahaan;
1.2. Kedudukan dan fungsi RUPS, Dewan Komisaris, Direksi, komite
penunjang Dewan Komisaris, dan pengawasan internal;
1.3. Kebijakan untuk memastikan terlaksananya fungsi setiap organ
perusahaan secara efektif;
1.4. Kebijakan untuk memastikan terlaksananya akuntabilitas, pengendalian
internal yang efektif dan pelaporan keuangan yang benar;
1.5. Pedoman perilaku yang didasarkan pada nilai-nilai perusahaan dan etika
bisnis;

29
1.6. Sarana pengungkapan informasi untuk pemegang saham dan pemangku
kepentingan lainnya;
1.7. Kebijakan penyempurnaan berbagai peraturan perusahaan dalam rangka
memenuhi prinsip GCG.
2. Agar pelaksanaan GCG dapat berjalan efektif, diperlukan proses keikutsertaan
semua pihak dalam perusahaan. Untuk itu diperlukan tahapan sebagai berikut:
2.1 Membangun pemahaman, kepedulian dan komitmen untuk melaksanakan
GCG oleh semua anggota Direksi dan Dewan Komisaris, serta Pemegang
Saham Pengendali, dan semua karyawan;
2.2 Melakukan kajian terhadap kondisi perusahaan yang berkaitan dengan
pelaksanaan GCG dan tindakan korektif yang diperlukan;
2.3 Menyusun program dan pedoman pelaksanaan GCG perusahaan;
2.4 Melakukan internalisasi pelaksanaan GCG sehingga terbentuk rasa
memiliki dari semua pihak dalam perusahaan, serta pemahaman atas
pelaksanaan pedoman GCG dalam kegiatan sehari-hari;
2.5 Melakukan penilaian sendiri atau dengan menggunakan jasa pihak
eksternal yang independen untuk memastikan penerapan GCG secara
berkesinambungan. Hasil penilaian tersebut diungkapkan dalam laporan
tahunan dan dilaporkan dalam RUPS tahunan.

2.3. UNDANG-UNDANG TENTANG PERSEROAN TERBATAS

Perseroan Terbatas, yang selanjutnya disebut Perseroan, adalah badan hukum


yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan
kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan
memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Undang-Undang no 40 tahun 2007
ini serta peraturan pelaksanaannya
Perseroan harus mempunyai maksud dan tujuan serta kegiatan usaha yang tidak
bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, ketertiban umum,
dan/atau kesusilaan.

30
1. Pemegang saham Perseroan tidak bertanggung jawab secara pribadi atas
perikatan yang dibuat atas nama Perseroan dan tidak bertanggung jawab atas
kerugian Perseroan melebihi saham yang dimiliki.
2. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku apabila:
a. Persyaratan Perseroan sebagai badan hukum belum atau tidak terpenuhi;
b. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak
langsung dengan itikad buruk memanfaatkan Perseroan untuk kepentingan
pribadi;
c. Pemegang saham yang bersangkutan terlibat dalam perbuatan melawan
hukum yang dilakukan oleh Perseroan; atau
d. Pemegang saham yang bersangkutan baik langsung maupun tidak
langsung secara melawan hukum menggunakan kekayaan Perseroan, yang
mengakibatkan kekayaan Perseroan menjadi tidak cukup untuk melunasi
utang Perseroan.
Terhadap Perseroan berlaku Undang-Undang ini, anggaran dasar Perseroan, dan
ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya
(1) Perseroan mempunyai nama dan tempat kedudukan dalam wilayah negara
Republik Indonesia yang ditentukan dalam anggaran dasar
(2) Perseroan mempunyai alamat lengkap sesuai dengan tempat
kedudukannya. (3) Dalam surat-menyurat, pengumuman yang diterbitkan
oleh Perseroan, barang cetakan, dan akta dalam hal Perseroan menjadi
pihak harus menyebutkan nama dan alamat lengkap Perseroan.
Penentuan anggaran dasar sebagai berikut:
(1) Akta pendirian memuat anggaran dasar dan keterangan lain berkaitan
dengan pendirian Perseroan.
(2) Keterangan lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat sekurang-
kurangnya :
a. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal,
dan kewarganegaraan pendiri perseorangan, atau nama, tempat
kedudukan dan alamat lengkap serta nomor dan tanggal Keputusan
Menteri mengenai pengesahan badan hukum dari pendiri Perseroan;

31
b. Nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, pekerjaan, tempat tinggal,
kewarganegaraan anggota Direksi dan Dewan Komisaris yang
pertama kali diangkat;
c. Nama pemegang saham yang telah mengambil bagian saham, rincian
jumlah saham, dan nilai nominal saham yang telah ditempatkan dan
disetor.
(3) Dalam pembuatan akta pendirian, pendiri dapat diwakili oleh orang lain
berdasarkan surat kuasa.

32
BAB III
KESIMPULAN

Komite audit adalah komite yang dibentuk dan bertanggungjawab kepada


dewan komisaris guna membantu pelaksanaan tugas dan fungsinya. Komite audit
bertindak secara independen dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya.
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjadi anggota komite audit adalah
kompetensi, integritas, dan independensi.
Dalam menjalankan tugasnya, komite audit berkoordinasi dengan direksi
dan pimpinan bagian-bagian yang berada dibawahnya, seperti bagian akuntansi,
audit internal, manajemen risiko, kepatuhan/legal, etika, dan sekretaris
perusahaan. Komite audit juga berkoordinasi dengan akuntan publik dalam
melaksanakan audit umum laporan keuangan historis.
Jika dikelompokkan, tugas dan tanggung jawab komite audit mencakup
pelaporan keuangan, akuntan publik, audit internal, manajemen risiko, kepatuhan,
dan pengaduan masyarakat, dalam kaitannya dengan pelaporan keuangan, tugas
komite audit adalah memastikan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai
dengan kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dan telah menyajikan secara
wajar, dalam segala hal yang bersifat material, kondisi, dan hasil usaha perseroan.
Komite audit bertugas untuk merekomendasikan mengenai akuntan publik
yang akan ditunjuk untuk mengaudit laporan keuangan historis perusahaan yang
penilaiannya mencakup independensi, ruang lingkup, fee, kompetensi, dan
reputasi (integritas). Dalam kaitannya dengan audit laporan keuangan, komite
audit perlu memastikan bahwa KAP yang ditunjuk telah melakukan pekerjaannya
sesuai dengan standar audit yang berlaku.
Komite audit perlu memastikan bahwa internal audit mampu melakukan
tugas untuk memonitor perancangan dan implementasi sistem pengendalian
internal yang diterapkan dalam perusahaan. Selain itu dalam hal manajemen risiko
komite audit yang tidak mempunyai fungsi pemantau risiko, komite audit bertugas
untuk menelaah pelaksanaan manajemen risiko yang dilakukan oleh direksi.

33
Komite audit bertugas untuk menelaah ketaatan perusahaan terhadap kode
etik dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kemudian dari segi
pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan proses akuntansi dan pelaporan
perlu ditelaah oleh komite audit termasuk komentar dan rekomendasi yang
dihasilkan oleh OJK sehubungan dengan penelaahan dan pemeriksaan yang
mereka lakukan.
Dalam melaksanakan tugasnya, komite audit berwenang untuk mengakses
dokumen, data-data terkait, dan informasi lain. Juga komite audit berkewajiban
untuk menjaga kerahasiaan dokumen, data, dan informasi lain tentang perusahaan.
Anggota komite audit wajib mematuhi kode etik komite audit yang ditetapkan
dalam perusahaan. Selain itu, anggota komite audit wajib meningkatkan
kompetensi melalui pendidikan dan latihan. Kemudian komite audit wajib
membuat laporan tentang pekerjaan yang telah dilakukan.
GCG diperlukan untuk mendorong terciptanya pasar yang efisien,
transparan dan konsisten dengan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu
penerapan GCG perlu didukung oleh tiga pilar yang saling berhubungan, yaitu
negara dan perangkatnya sebagai regulator, dunia usaha sebagai pelaku pasar, dan
masyarakat sebagai pengguna produk dan jasa dunia usaha dimana dengan
menggunakan asas yang disingkat dengan TARIF (Transparency, Accountability,
Responsibility, Independency, and Fairness).

34
DAFTAR PUSTAKA

Soemarso, S.R. (2018). Etika dalam Bisnis & Profesi Akuntan dan Tata Kelola
Perusahaan. Jakarta: Salemba Empat.

[Link]
Documents/5.%20UU-40-2007%20PERSEROAN%[Link]

35

Anda mungkin juga menyukai