Bahaya Narkoba bagi Remaja Indonesia
Bahaya Narkoba bagi Remaja Indonesia
PENDAHULUAN
1
salah satu Negara yang dijadikan pasar utama dari jaringan sindikat peredaran
narkotika yang berdimensi internasional untuk tujuan-tujuan komersial. Untuk
jaringan peredaran narkotika di negara- negara Asia, Indonesia diperhitungakan
sebagai pasar (market-state) yang paling prospektif secara komersial bagi
sindikat internasional yang beroperasi di negara-negara sedang berkembang.
Remaja yang seharusnya menjadi kader-kader penerus bangsa kini tidak
bisa lagi menjadi jaminan untuk kemajuan Bangsa dan Negara. Bahkan perilaku
mereka cenderung merosot. Melihat latar belakang diatas maka kami
mengangkat judul karya ilmiah Kenakalan remaja (tentang Narkoba) yang
terfokus pada pengetahuan tentang narkoba dan akibatnyan bagi remaja.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari karya ilmiah ini, yaitu:
1 Apa Pengertian atau definisi Narkoba?
2 Apa saja jenis-jenis narkoba yang dikonsumsi di masyarakat?
3 Apa penyebab penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda?
4 Apa saja dampak atau bahaya narkoba terhadap generasi muda?
5 Bagaimana pencegahan terhadap penyebaran dan penyalahgunaan narkoba
dikalangan generasi muda?
6 Bagaimana penerapan pola hidup sehat yang baik dan benar di kalangan
generasi muda?
2
BAB II
PEMBAHASAN
3
dihasilkan oleh minuman yang beralkohol atau obat anaestetik jika aromanya
dihisap. Contoh: lem/perekat, aceton, ether dan sebagainya.
Di Indonesia, pencandu narkoba ini perkembangannya semakin pesat. Para
pencandu narkoba itu pada umumnya berusia antara 11 sampai 24 tahun. Artinya
usia tersebut ialah usia produktif atau usia [Link] awalnya, pelajar yang
mengonsumsi narkoba biasanya diawali dengan perkenalannya dengan rokok.
Karena kebiasaan merokok ini sepertinya sudah menjadi hal yang wajar di
kalangan pelajar saat ini. Dari kebiasaan inilah, pergaulan terus meningkat,
apalagi ketika pelajar tersebut bergabung ke dalam lingkungan orang-orang yang
sudah menjadi pencandu narkoba. Awalnya mencoba, lalu kemudian mengalami
ketergantungan.
Saat ini bahaya dan dampak narkoba atau narkotika dan obat-obatan pada
kehidupan dan kesehatan pecandu dan keluarganya semakin meresahkan.
Bagai dua sisi mata uang narkoba menjadi zat yang bisa memberikan manfaat dan
juga merusak kesehatan. Seperti yang sudah diketahui, ada beberapa jenis obat-
obatan yangtermasuk ke dalam jenis narkoba yang digunakan untuk proses
penyembuhan karena efeknya yang bisa menenangkan. Namun jika dipakai dalam
dosis yang berlebih, bisa menyebabkan kecanduan. Penyalahgunaan ini mulanya
karena si pemakai merasakan efek yang menyenangkan. Dari sinilah muncul
keinginan untuk terus menggunakan agar bisa mendapatkan ketenangan yang
bersifat halusinasi. Meski dampak narkoba sudah diketahui oleh banyak orang,
tetap saja tidak mengurangi jumlah pemakainya.
Bahaya narkoba hingga menjadi kecanduan tersebut memang bisa
disembuhkan, namun akan lebih baik jika berhenti menggunakannya sesegera
mungkin atau tidak memakai sama sekali.
2.2. Jenis-Jenis Narkoba
Menurut UU RI No 22 / 1997, Narkotika adalah: zat atau obat yang
berasal dari tanaman ataubukan tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang
dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,
mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan
ketergantunganNarkotika sendiri dikelompokkan lagi menjadi:
4
(a) Golongan I: Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta
mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh:
Heroin, Kokain, Ganja.
(b) Golongan II: Narkotika yang berkhasiat pengobatan, digunakan sebagai
pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi
mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Morfin, Petidin.
(c) Golongan III: Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan
dalam terapi dan/ atau tujuan pengebangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh: Codein.
Menurut UU RI No 5 / 1997, Psikotropika adalah: zat atau obat, baik
alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui
pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas
pada aktifitas mental dan perilaku. Psikotropika terdiri dari 4 golongan:
(1) Golongan I: Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu
pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat
mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh: Ekstasi.
(2) Golongan II: Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan
dalan terapi dan/ atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai
potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh:
Amphetamine.
(3) Golongan III: Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak
digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh: Phenobarbital.
(4) Golongan IV: Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas
digunakan dalam terapi dan / atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contoh:
Diazepam, Nitrazepam (BK, DUM). Zat Adiktif Lainnya Yang termasuk Zat
Adiktif lainnya adalah bahan atau zat yang berpengaruh psikoaktif diluar
Narkotika dan Psikotropika, meliputi: Minuman Alkohol, mengandung etanol
5
etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat, dan sering
menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari – hari dalam kebudayaan
tertentu. Jika digunakan bersamaan dengan Narkotika atau Psikotropika akan
memperkuat pengaruh obat / zat itu dalam tubuh manusia.
Ada 3 golongan minuman beralkohol:
a. Golongan A: kadar etanol 1-5 % (Bir)
b. Golongan B: kadar etanol 5-20 % (Berbagai minuman anggur)
c. Golongan C: kadar etanol 20-45 % (Whisky, Vodca, Manson House, Johny
Walker)
Inhalasi, gas yang dihirup dan solven (zat pelarut) mudah menguap berupa
senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga,
kantor, dan sebagai pelumas mesin. Yang sering disalahgunakan adalah: Lem,
Tiner, Penghapus Cat Kuku, Bensin. Tembakau, pemakaian tembakau yang
mengandung nikotin sangat luas di masyarakat.
Dalam upaya penanggulangan Narkoba di masyarakat, pemakaian rokok
dan alkohol terutama pada remaja, harus menjadi bagian dari upaya pencegahan,
karena rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan Narkoba
lain yang berbahaya.
Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari Narkoba
dapat digolongkan menjadi 3 golongan:
1. Golongan Depresan (Downer), adalah jenis Narkoba yang berfungsi
mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi
tenang dan bahkan membuat tertidur bahkan tak sadarkan diri. Contohnya:
Opioda (Morfin, Heroin, Codein), sedative (penenang), Hipnotik (obat tidur)
dan Tranquilizer (anti cemas).
2. Golongan Stimulan (Upper), adalah jenis narkoba yang merangsang fungsi
tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini menbuat pemakainnya
menjadi aktif, segar dan bersemangat. Contoh: Amphetamine (Shabu, Ekstasi),
Kokain.
3. Golongan Halusinogen, adalah jenis narkoba yang dapat menimbulkan efek
halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran dan seringkali menciptakan
6
daya pandang yang berbeda sehingga seluruh persaan dapat terganggu. Contoh:
Kanabis (ganja).
Di dalam masyarakat Narkoba yang sering disalahgunakan adalah:
a. Opiada, terdapat 3 golonagan besar yaitu:
1. Opioda alamiah (Opiat): Morfin, Opium, Codein.
2. Opioda semisintetik: Heroin / putauw, Hidromorfin.
3. Opioda sintetik: Metadon.
b. Kokain
Kokain berupa kristal putih, rasanya sedikit pahit dan lebih mudah larut
Nama jalanan: koka, coke, happy dust, chalie, srepet, snow / salju. Cara
pemakainnya: membagi setumpuk kokain menjadi beberapa bagian berbaris lurus
diatas permukaan kaca atau alas yang permukaannya datar kemudian dihirup
dengan menggunakan penyedot seperti sedotan atau dengan cara dibakar bersama
dengan tembakau. Penggunaan dengan cara dihirup akan beresiko kering dan luka
pada sekitar lubang hidung bagian dalam. Efek pemakain kokain: pemakai akan
merasa segar, kehilangan nafsu makan, menambah percaya diri, dan dapat
menghilangkan rasa sakit dan lelah.
c. Kanabis
Nama jalanan: cimeng, ganja, gelek, hasish, marijuana, grass, bhang.
Berasal dari tanaman kanabis sativa atau kanabis indica. Cara penggunaan:
dihisap dengan cara dipadatkan menyerupai rokok atau dengan menggunakan pipa
rokok. Efek rasa dari kanabis tergolong cepat, pemakai cenderung merasa lebih
santai, rasa gembira berlebihan (euphoria), sering berfantasi/menghayal, aktif
berkomunikasi, selera makan tinggi, sensitive, kering pada mulut dan
tenggorokan.
d. Amphetamine
Nama jalanan: seed, meth, crystal, whiz. Bentuknya ada yang berbentuk
bubuk warna putih dan keabuan dan juga tablet. Cara penggunaan: dengan cara
dihirup. Sedangkan yang berbentuk tablet diminum dengan air. Ada 2 jenis
Amphetamine: MDMA (methylene dioxy methamphetamine) Nama jalanan: Inex,
xtc. Dikemas dalam bentuk tablet dan capsul. Metamphetamine ice, nama jalanan:
SHABU, SS, ice. Cara pengunaan dibakar dengan mengunakan alumunium foil
7
dan asapnya dihisap atau dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang
khusus (boong).
e. Lysergic Acid
Termasuk dalam golongan halusinogen. Nama jalanan: acid, trips, tabs,
kertas. Bentuk: biasa didapatkan dalam bentuk kertas berukuran kotak kecil
sebesar seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar. Ada juga yang
berbentuk pil dan kapsul. Cara penggunaan: meletakan LSD pada permukaan
lidah, dan bereaksi setelah 30 – 60 menit kemudian, menghilang setelah 8-12 jam.
Efek rasa: terjadi halusinasi tempat, warna, dan waktu sehingga timbul obsesi
yang sangat indah dan bahkan menyeramkan dan lama-lama menjadikan
penggunaanya paranoid.
f. Sedatif-hipnotik (benzodiazepin)
Termasuk golongan zat sedative (obat penenang) dan hipnotika (obat
tidur). Nama jalanan: Benzodiazepin: BK, Dum, Lexo, MG, Rohyp. Cara
pemakaian: dengan diminum, disuntikan, atau dimasukan lewat anus. Digunakan
di bidang medis untuk pengobatan pada pasien yang mengalami kecemasan,
kejang, stress, serta sebagai obat tidur.
g. Solvent/Inhalasi
Adalah uap gas yang digunakan dengan cara dihirup. Contohnya: Aerosol,
Lem, Isi korek api gas, Tiner, Cairan untuk dry cleaning, Uap bensin. Biasanya
digunakan dengan cara coba- coba oleh anak di bawah umur, pada golongan yang
kurang mampu. Efek yang ditimbulkan: pusing, kepala berputar, halusinasi
ringan, mual, muntah gangguan fungsi paru, jantung dan hati.
2.3. Penyebab Penyalahgunaan Narkoba Pada Generasi Muda
Penyebab penyalahagunaan narkoba pada generasi muda dapat disebabkan
oleh banyak faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Oleh karena itu penulis
akan memaparkan faktor faktor tersebut sebagai berikut :
a. Faktor Internal : faktor yang berasal dari diri seseorang.
1. Keluarga : Jika hubungan dengan keluarga kurang harmonis (Broken Home)
maka seseorang akan mudam merasa putus asa dan Frustasi. Akibat lebih jauh,
orang akhirnya mencari kompensasi diluar rumah dengan menjadi konsumen
narkoba.
8
2. Ekonomi : Kesulitan mencari pekerjaan menimbulkan keinginan untuk
bekerja menjadi pengedar narkoba. Seseorang yang ekonomi cukup mampu,
tetapi kurang perhatian yang cukup dari keluarga atau masuk dalam lingkungan
yang salah lebih mudah terjerumus jadi pengguna narkoba.
3. Kepribadian : Apabila kepribadian seseorang labil, kurang baik, dan mudah
dipengaruhi orang lain maka lebih mudah terjerumus kejurang narkoba.
b. Faktor Eksternal : Berasal dari luar seseorang. Faktor yang cukup kuat
mempengaruhi seseorang.
1. Pergaulan : Teman sebaya mempunyai pengaruh cukup kuat bagi
terjerumusnya seseorang kelembah narkoba, biasanya berawal dari ikut-
ikutan teman. Terlebih bagi seseorang yang memiliki mental dan
keperibadian cukup lemah, akan mudah terjerumus.
2. Sosial /Masyarakat : Lingkungan masyarakat yang baik terkontrol dan
memiliki organisasi yang baik akan mencegah terjadinya penyalahgunaan
narkoba.
Kebanyakan zat dalam narkoba sebenarnya digunakan untuk pengobatan dan
penelitian. Tetapi karena berbagai alasan – mulai dari keinginan untuk coba-coba,
ikut trend/gaya, lambang status sosial, ingin melupakan persoalan, dan lain lain,
maka narkoba kemudian disalahgunakan. Penggunaan terus menerus dan berianjut
akan menyebabkan ketergantungan atau dependensi, disebut juga kecanduan.
Tingkatan penyalahgunaan biasanya sebagai berikut:
1. Coba-coba
2. Senang-senang
3. Menggunakan pada saat atau keadaan tertentu
4. Penyalahgunaan
5. Ketergantungan
2.4. Dampak Negatif Penyalahgunaan Narkoba Pada generasi Muda
Bila narkoba digunakan secara terus menerus atau melebihi takaran yang
telah ditentukan akan mengakibatkan ketergantungan. Kecanduan inilah yang
akan mengakibatkan gangguan fisik dan psikologis, karena terjadinya kerusakan
pada sistem syaraf pusat (SSP) dan organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru,
hati dan ginjal.
9
Dampak penyalahgunaan narkoba pada seseorang sangat tergantung pada
jenis narkoba yang dipakai, kepribadian pemakai dan situasi atau kondisi
pemakai. Secara umum, dampak kecanduan narkoba dapat terlihat pada fisik,
psikis maupun sosial seseorang.
a. Dampak Fisik:
1) Gangguan pada system syaraf (neurologis) seperti: kejang-kejang,
halusinasi, gangguan kesadaran, kerusakan syaraf tepi .
2) Gangguan pada jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler) seperti:
infeksi akut otot jantung, gangguan peredaran darah
3) Gangguan pada kulit (dermatologis) seperti: penanahan (abses), alergi,
eksim.
4) Gangguan pada paru-paru (pulmoner) seperti: penekanan fungsi
pernapasan, kesukaran bernafas, pengerasan jaringan paru-paru
5) Sering sakit kepala, mual-mual dan muntah, murus-murus, suhu tubuh
meningkat, pengecilan hati dan sulit tidur.
6) Dampak terhadap kesehatan reproduksi adalah gangguan pada endokrin,
seperti: penurunan fungsi hormon reproduksi (estrogen, progesteron,
testosteron), serta gangguan fungsi seksual.
7) Dampak terhadap kesehatan reproduksi pada remaja perempuan antara lain
perubahan periode menstruasi, ketidakteraturan menstruasi, dan
amenorhoe (tidak haid)
8) Bagi pengguna narkoba melalui jarum suntik, khususnya pemakaian jarum
suntik secara bergantian, risikonya adalah tertular penyakit seperti
hepatitis B, C, dan HIV yang hingga saat ini belum ada obatnya
9) Penyalahgunaan narkoba bisa berakibat fatal ketika terjadi Over Dosis
yaitu konsumsi narkoba melebihi kemampuan tubuh untuk menerimanya.
Over dosis bisa menyebabkan kematian
b. Dampak Psikis dan Sosial bagi pemakai narkoba antara lain :
1) Lamban kerja, ceroboh kerja, sering tegang dan gelisah
2) Hilang kepercayaan diri, apatis, pengkhayal, penuh curiga
3) Agitatif, menjadi ganas dan tingkah laku yang brutal
4) Sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan
10
5) Cenderung menyakiti diri, perasaan tidak aman, bahkan bunuh diri
6) Gangguan mental, anti-sosial dan asusila, dikucilkan oleh lingkungan
7) Merepotkan dan menjadi beban keluarga
8) Pendidikan menjadi terganggu, masa depan suram
Dampak fisik, psikis dan sosial berhubungan erat. Ketergantungan fisik
akan mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa (sakaw) bila terjadi putus obat
(tidak mengkonsumsi obat pada waktunya) dan dorongan psikologis berupa
keinginan sangat kuat untuk mengkonsumsi (bahasa gaulnya sugest). Gejata fisik
dan psikologis ini juga berkaitan dengan gejala sosial seperti dorongan untuk
membohongi orang tua, mencuri, pemarah, manipulatif, dan lain-lain.
Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa anak-anak
dan masa dewasa. Perkembangan seseorang dalam masa anak-anak dan remaja
akan membentuk perkembangan diri orang tersebut di masa dewasa. Karena itulah
bila masa anak-anak dan remaja rusak karena narkoba, maka suram atau bahkan
hancurlah masa depannya.
Pada masa remaja, justru keinginan untuk mencoba-coba, mengikuti trend
dan gaya hidup, serta bersenang-senang besar sekali. Walaupun semua
kecenderungan itu wajar-wajar saja, tetapi hal itu bisa juga memudahkan remaja
untuk terdorong menyalahgunakan narkoba. Data menunjukkan bahwa jumlah
pengguna narkoba yang paling banyak adalah kelompok usia remaja. Masalah
menjadi lebih gawat lagi bila karena penggunaan narkoba, para remaja tertular
dan menularkan HIV/AIDS di kalangan remaja. Hal ini telah terbukti dari
pemakaian narkoba melalui jarum suntik secara bergantian. Bangsa ini akan
kehilangan remaja yang sangat banyak akibat penyalahgunaan narkoba dan
merebaknya HIV/AIDS. Kehilangan remaja sama dengan kehilangan sumber daya
manusia bagi bangsa.
2.5. Kiat Mengatasi Penyalahgunaan Narkoba Pada Generasi Muda
Upaya pencegahan terhadap penyebaran narkoba di kalangan pelajar,
sudah seyogianya menjadi tanggung jawab kita bersama. Dalam hal ini semua
pihak termasuk orang tua, guru, dan masyarakat harus turut berperan aktif dalam
mewaspadai ancaman narkoba terhadap anak-anak kita. Adapun upaya-upaya
yang lebih kongkret yang dapat dilakukan adalah melakukan kerja sama dengan
11
pihak yang berwenang untuk melakukan penyuluhan tentang bahaya narkoba, atau
mungkin mengadakan razia mendadak secara rutin.
Kemudian pendampingan dari orang tua siswa itu sendiri dengan
memberikan perhatian dan kasih sayang. Pihak sekolah harus melakukan
pengawasan yang ketat terhadap gerak-gerik anak didiknya, karena biasanya
penyebaran (transaksi) narkoba sering terjadi di sekitar lingkungan sekolah. Yang
tak kalah penting adalah, pendidikan moral dan keagamaan harus lebih ditekankan
kepada [Link] salah satu penyebab terjerumusnya anak-anak ke dalam
lingkaran setan ini adalah kurangnya pendidikan moral dan keagamaan yang
mereka serap, sehingga perbuatan tercela seperti ini pun, akhirnya mereka jalani.
Oleh sebab itu, mulai saat ini, selaku pendidik, pengajar, dan sebagai orang tua,
harus sigap dan waspada, akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu dapat
menjerat anak-anak yang masih rentan akan pengaruh budaya asing.
Banyak hal yang masih bisa dilakukan untuk mencegah remaja
menyalahgunakan narkoba dan membantu remaja yang sudah terjerumus
penyalahgunaan narkoba. Ada tiga tingkat intervensi, yaitu :
a. Primer, sebelum penyalahgunaan terjadi, biasanya dalam bentuk pendidikan,
penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba, pendekatan melalui keluarga,
dll. Instansi pemerintah, seperti halnya BKKBN, lebih banyak berperan pada
tahap intervensi ini. kegiatan dilakukan seputar pemberian informasi melalui
berbagai bentuk materi KIE yang ditujukan kepada remaja langsung dan
keluarga.
b. Sekunder, pada saat penggunaan sudah terjadi dan diperlukan upaya
penyembuhan (treatment). Fase ini meliputi: Fase penerimaan awal
(initialintake)antara 1 – 3 hari dengan melakukan pemeriksaan fisik dan
mental, dan Fase detoksifikasi dan terapi komplikasi medik, antara 1 – 3
minggu untuk melakukan pengurangan ketergantungan bahan-bahan adiktif
secara bertahap.
c. Tersier, yaitu upaya untuk merehabilitasi merekayang sudah memakai dan
dalam proses penyembuhan. Tahap ini biasanya terdiri atas Fase stabilisasi,
antara 3-12 bulan, untuk mempersiapkan pengguna kembali ke masyarakat,
dan Fase sosialiasi dalam masyarakat, agar mantan penyalahguna narkoba
12
mampu mengembangkan kehidupan yang bermakna di masyarakat. Tahap ini
biasanya berupa kegiatan konseling, membuat kelompok-kelompok dukungan,
mengembangkan kegiatan alternatif, dan lain-lain.
Dengan berbagai upaya tersebut di atas, mari penulis optimis anak didik
akan terjaga dan terawasi dari penyalahgunaan narkoba dan bahaya narkoba.
Sehingga harapan semua komponen masyarakat untuk menelurkan generasi yang
cerdas dan tangguh di masa yang akan datang dapat terealisasikan dengan baik.
13
f. Memperkuat kehidupan beragama
g. Orang tua memahami masalah penyalahgunaan NAPZA agar dapat
berdiskusi dengan anak.
2.6.3 Pencegahan Terhadap Lingkungan Sekolah
a. Upaya Terhadap Siswa
1) Memberikan pendidikan kepada siswa tentang bahaya dan akibat
penyalahgunaan NAPZA.
2) Melibatkan siswa dalam perencanaan, pencegahan, dan penanggulangan
penyalahgunaan NAPZA di sekolah.
3) Membentuk citra diri yang positif dan mengembangkan keterampilan yang
positif untuk tetap menghindari dari pemakaian NAPZA dan merokok.
4) Menyediakan pilihan kegiatan yang bermakna bagi siswa (ekstrakulikuler).
5) Meningkatkan kegiatan bimbingan konseling.
6) Penerapan kehidupan beragama dalam kegiatan sehari-hari.
b. Upaya Mencegah Peredaran NAPZA di Sekolah
1) Razia dengan cara sidak.
2) Melarang orang yang tidak berkepentingan untuk masuk lingkungan
sekolah.
3) Melarang siswa keluar sekolah pada jam pelajaran tanpa izin guru.
4) Membina kerjasama yang baik dengan berbagai pihak.
5) Meningkatkan pengawasan sejak anak itu datang sampai dengan pulang
sekolah.
c. Upaya Membina Lingkungan Sekolah
1) Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina
hubungan yang harmonis antara pendidik dan peserta didik.
2) Mengupayakan kehadiran guru secara teratur di sekolah.
3) Sikap keteladanan guru amat penting.
14
ketahanan dan kekebalan terhadap narkoba. Pencegahan adalah lebih baik
daripada pemberantasan. Pencegahan penyalahgunaan narkoba dapat dilakukan
dengan berbagai cara, seperti pembinaan dan pengawasan dalam keluarga,
penyuluhan oleh pihak yang kompeten baik di sekolah dan masyarakat, pengajian
oleh para ulama, pengawasan tempat- tempat hiburan malam oleh pihak
keamanan, pengawasan distribusi obat-obatan ilegal dan melakukan tindakan-
tindakan lain yang bertujuan untuk mengurangi atau meniadakan kesempatan
terjadinya penyalahgunaan narkoba.
2.7.2 Kuratif (Pengobatan)
Kuratif bertujuan untuk penyembuhan para korban, baik secara medis
maupun dengan media lain. Seperti tempat-tempat penyembuhan dan rehabilitasi
pecandu narkoba, yaitu Pusat Rehabilitasi Narkoba.
2.7.3 Rehabilitatif (Rehabilitasi)
Rehabilitatif dilakukan agar setelah pengobatan selesai para korban tidak
kambuh kembali “ketagihan” narkoba. Rehabilitasi berupaya menyantuni dan
memperlakukan secara wajar para korban narkoba agar dapat kembali
kemasyarakat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani.
2.7.4 Represif (Penindakan)
Represif artinya menindak dan memberantas penyalahgunaan narkoba
melalui jalur hukum, yang dilakukan oleh para penegak hukum atau aparat
keamanan yang dibantu oleh masyarakat. Kalau masyarakat mengetahui harus
segera melaporkan kepada pihak berwajib dan tidak boleh ada main hakim
sendiri.
15
rehabilitasi sebagai bentuk alternatif hukuman. Banyak hakim yang menerapkan
hukuman penjara plus rehabilitasi. Pola ini berkontribusi pada tingginya tingkat
penahanan pengguna narkoba di sistem penjara Indonesia.
Upaya telah dilakukan untuk memperbaiki situasi ini. Surat Edaran
Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2010 mengarahkan bahwa, jika
memungkinkan, pengguna harus menjalani rehabilitasi dan dijauhkan dari penjara.
Ini juga berisi panduan lebih lanjut tentang kapan seorang tersangka memenuhi
syarat sebagai pengguna narkoba (sebagai lawan dari, misalnya, pengedar). Surat
Edaran tersebut menetapkan bahwa untuk dapat digolongkan sebagai 'pengguna'
yang layak untuk menjalani hukuman rehabilitasi, harus memenuhi lima unsur
berikut:
1. Terdakwa pada saat ditangkap oleh penyidik Polri dan penyidik BNN dalam
kondisi tertangkap tangan;
2. Pada saat tertangkap tangan diatas ditemukan barang bukti pemakaian 1 (satu)
hari dengan perincian sebagai berikut:
a. Kelompok Metamphetamine (shabu) : 1 gram
b. Kelompok MDMA (ekstasi) : 2,4 gram = 8 butir
c. Kelompok Heroin : 1,8 gram
d. Kelompok Kokain : 1,8 gram
e. Kelompok Ganja : 5 gram
f. Daun Koka : 5 gram
g. Meskalin : 5 gram
h. Kelompok Psilosybin : 3 gram
i. Kelompok LSD (d-lysergic acid diethylamide) : 2 gram
j. Kelommpok PCP (phencyclidine) : 3 gram
k. Kelompok Fentanil : 1 gram
l. Kelompok Metadon : 0,5 gram
m. Kelompok Morfin : 1,8 gram
n. Keolompok Petidin : 0,96 gram
o. Kelompok Kodein : 72 gram
p. Kelompok Bufrenorfin : 32 mg
16
3. Surat uji Laboratorium postif menggunakan Narkotika berdasarkan permintaan
penyidik;
4. Perlu surat keterangan dari dokter jika/psikiater pemerintah yang dirujuk oleh
Hakim
5. Tidak terdapat bukti bahwa yang bersangkutan terlibat dalam peredaran gelap
Narkotika.
Selanjutnya, peraturan bersama tentang rehabilitasi pecandu narkoba
ditandatangani pada tahun 2014 oleh Ketua Mahkamah Agung, Menteri Hukum
dan Hak Asasi Manusia, Menteri Kesehatan, Menteri Sosial, Jaksa Agung, Ketua
Pengadilan. Polisi, dan Kepala BNN. Peraturan tersebut bertujuan untuk
meningkatkan koordinasi antar lembaga-lembaga ini, dan memastikan bahwa
pecandu dan korban penyalahgunaan narkoba diberikan layanan pengobatan dan
rehabilitasi selama penyelidikan dan persidangan, serta setelah hukuman.
Berdasarkan peraturan tersebut, tim terkoordinasi yang terdiri dari tim medis
(dokter dan psikolog) dan tim hukum (perwakilan kepolisian, BNN, kejaksaan,
dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia) bertanggung jawab untuk
melakukan penilaian dari terdakwa. Sampai dengan Desember 2014, penilaian
telah dilakukan pada 163 orang, dengan 94 diarahkan ke program rehabilitasi, 40
orang dipenjara, dan 25 masih menjalani pemeriksaan atau persidangan.
UU Narkotika menjelaskan dua bentuk rehabilitasi yaitu rehabilitasi sosial
dan medis. Rehabilitasi medis dilakukan di rumah sakit, pusat kesehatan
masyarakat (puskesmas) atau lembaga rehabilitasi yang ditunjuk oleh Menteri,
dan rehabilitasi sosial dilakukan oleh lembaga pemerintah atau masyarakat. Jika
pengadilan memerintahkan pengguna napza untuk menjalani perawatan di pusat
rehabilitasi yang dikelola negara, pengguna napza dapat mengakses fasilitas
tersebut secara gratis. Namun, jika mereka dialokasikan ke pusat yang dikelola
swasta (seperti komunitas atau organisasi keagamaan), mereka harus membayar
perawatan mereka sendiri.
Kualitas program rehabilitasi dan pengobatan di seluruh Indonesia sangat
bervariasi. Pelayanan rehabilitasi dikelola oleh Kementerian Kesehatan yang
mengelola rumah sakit dan puskesmas, Kementerian Sosial yang membawahi
layanan rehabilitasi masyarakat dan keagamaan, dan BNN. Kekhawatiran telah
17
dikemukakan tentang kurangnya konsistensi antara Kementerian dan lembaga ini
dan kurangnya konsensus seputar model 'praktik terbaik'. UU Narkotika
memungkinkan layanan rehabilitasi dan terapi diberikan melalui 'pendekatan
agama atau tradisional'. Ada pertanyaan apakah memungkinkan pengobatan yang
bersifat religius atau tradisional tetapi mungkin tidak sesuai dengan pendekatan
medis dan ilmiah yang diterima.
Pada tahun 2014, BNN melaporkan terdapat 366 institusi yang dapat
menjadi tempat pelaporan bagi pengguna narkoba untuk rehabilitasi dan
pengobatan, termasuk 316 fasilitas kesehatan yang dikelola oleh Kementerian
Kesehatan dan 50 lembaga rehabilitasi yang dikelola oleh Kementerian Sosial.
BNN kini memiliki empat balai pengobatan wajib narkoba,
yang berlokasi di Bogor, Makassar, Samarinda, dan Batam, dan bersama-sama
melayani sekitar 1.000 pengguna narkoba. Pada tahun 2013, ada 6.111 orang yang
dirawat karena kecanduan narkoba di fasilitas yang bekerja sama dengan BNN, di
antaranya 88 persen adalah laki-laki dan 12 persen adalah perempuan. Pada tahun
2012, 14.510 pengguna narkoba mengakses layanan rehabilitasi.9 BNN baru-baru
ini mengumumkan rencana ambisius untuk merehabilitasi 100.000 pengguna
narkoba pada tahun 2015. Angka yang akan sulit dicapai dengan tingkat
penggunaan narkoba yang sebenarnya dan disinsentif yang ada untuk
mengakses pengobatan.
Berdasarkan UU Narkotika , pecandu yang berusia di atas 18 tahun
diwajibkan untuk melapor sendiri ke lembaga rehabilitasi yang ditunjuk oleh
pemerintah. Apabila tidak melaporkan dapat mengakibatkan denda hingga
Rp2.000.000,- atau hingga enam bulan penjara. Seperti disebutkan sebelumnya
dalam bab ini, keluarga, orang tua atau wali pecandu di bawah usia 18 tahun juga
diwajibkan untuk melaporkan mereka ke lembaga-lembaga ini, dan menghadapi
denda hingga Rp 1.000.000,- atau enam bulan penjara apabila tidak mematuhi.
Persyaratan yang menindas ini dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 25 Tahun 2011. Berdasarkan peraturan tersebut, lembaga
penerima menilai pecandu untuk menentukan tingkat kecanduan dan merumuskan
rencana perawatan, yang juga disetujui oleh pecandu (atau keluarga atau walinya).
Setelah pecandu menyetujui rencana perawatan, dia diberikan kartu pelaporan
18
diri, yang berlaku untuk dua siklus perawatan selama satu hingga enam bulan. UU
Narkotika menyatakan bahwa pecandu yang sudah terdaftar di lembaga
rehabilitasi tidak boleh dijerat dengan pidana.
Terlepas dari perlindungan yang diberikan kepada pengguna narkoba oleh
ketentuan pelaporan wajib ini, penggunaan pelaporan mandiri pada kenyataanya
masih lamban. Pada 2013, misalnya, BNN melaporkan hanya 1.370 pengguna
narkoba yang secara sukarela melapor ke lembaga rehabilitasi. Sejarah
kriminalisasi penggunaan dan kepemilikan narkoba untuk konsumsi pribadi, serta
‘rutinitas’ penyalahgunaan oleh aparat penegak hukum, tidak diragukan lagi
memainkan peran dalam menghalangi pecandu mencari layanan rehabilitasi.
Peraturan pemerintah 2011 menyebutkan bahwa penyedia layanan
kesehatan harus mengirimkan data pendaftaran ke BNN, yang harus disimpan
dalam database. Kelompok masyarakat sipil telah menyatakan keprihatinan
mendalam atas potensi penyalahgunaan data ini untuk penyelidikan pelanggaran
narkoba. Tidak sedikit laporan dari aparat penegak hukum yang menuntut akses
ke catatan klien pribadi di klinik substitusi metadon dan organisasi lain yang
bekerja dengan pengguna narkoba.
Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan
Pidana Anak (Selanjutnya disebut dengan UU SPPA) pada Pasal 1 dijelaskan
bahwa yang dimaksud dengandiversi adalah adalah pengalihan penyelesaian
perkara Anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.
Pelaksanaan diversi dilatarbelakangi keinginan untuk menghindari efek negatif
terhadap jiwa dan perkembangan anak oleh keterlibatannya dengan sistem
peradilan pidana. Upaya pengalihan atau ide diversi ini, merupakan penyelesaian
yang terbaik yang dapat dijadikan formula dalam penyelesaian beberapa kasus
yang melibatkan anak sebagai pelaku tindak pidana. Kewenangan untuk
melakukan diversi adalah dari aparat penegak hukum pada masing-masing
tingkatan pemeriksaan yaitu pada tingkat penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan
perkara anak di pengadilan negeri sebagaimana yang dimuat dalam Pasal 7 UU
SPPA. Secara khusus pada tingkat penuntutan, acara peradilan pidana anak
diatur dalam Bab III Bagian Keempat Pasal 41 dan Pasal 42 UU SPPA
Kebijakan formulasi hukum pidana tentang diversi sebagai pelindungan
19
bagi anak yang berkonflik dengan hukum dapat dilihat dalam pasal-pasal yang
tertuang dalam UU SPPA. Pasal 1 angka 3 UU SPPA mengatur bahwa anak yang
berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut dengan anak adalah anak yang
telah berumur 12 tahun, tetapi belum berumur 18 tahun yang diduga melakukan
tindak pidana. Pasal tersebut memberikan pelindungan terhadap anak yang
berkonflik dengan hukum berdasarkan batasan umurnya. Diversi tidak hanya
dilakukan sebatas memberikan keringanan hukuman bagi anak. Tujuan
penerapan diversi adalah untuk melindungi hak anak sebagai pelaku tindak
pidana. Penerapan diversi dapat dilakukan terhadap tindak pidana yang ancaman
pidananya di bawah 7 tahun penjara dan bukan merupakan tindak pidana
pengulangan.
Sedangkan, menurut Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014
yang mengatur lebih lanjut tentang suatu syarat dan proses diversi menyatakan
“Hakim Anak wajib mengupayakan Diversi dalam hal Anak didakwa melakukan
tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan
didakwa pula dengan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 7 (tujuh)
tahun atau lebih dalam bentuk surat dakwaan subsidiaritas, alternatif, kumulatif
maupun kombinasi (gabungan).” Hal ini membuka peluang bagi anak-anak pelaku
tindak pidana yang terancam hukuman lebih dari 7 tahun untuk
dilakukan suatu proses diversi.
Mengenai dengan peraturan yang menjelaskan tentang diversi ini terdapat
peraturan yang mengaturnya yaitu Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012
tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Perma Nomor 4 Tahun 2014 tentang
Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak. Dalam
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
menjelaskan diversi dapat dilakukan terhadap tindak pidana yang
didakwa di bawah 7 tahun penjara. Hal ini yang membuat hakim sebagai aparat
penegak hukum menjadi bingung mana yang lebih baik digunakan, jika hakim
menggunakan Perma lebih menjujung keadilan terhadap anak tetapi hakim tidak
bisa secara sepihak karena instansi lain jarang menggunakan peraturan tersebut.
Hakim anak lebih berpedoman kepada UU SPPA daripada Perma Nomor 4
Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan
20
Pidana Anak. Hakim Anak melakukan demikian karena melihat juga para penegak
hukum yang lain lebih menggunakan UU SPPA. UU SPPA secara hierarkis
dianggap paling tinggi walaupun Perma Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman
Pelaksanaan Diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak berlaku keluar, yang
juga berlaku bagi aparat penegak hukum lainnya. Penegak hukum yang lain
beranggapan bahwa kurang tepat jika Hakim Peradilan Anak menggunakan
peraturan yang bukan merupakan terbitan dari instansinya (Mahkamah Agung).
Kepolisian pada dasarnya juga berpedoman pada UU SPPA yang mengatur lebih
umum. Akan tetapi jika kasus yang bersangkutan bisa atau lebih baik diatasi
dengan Perma Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dalam
Sistem Peradilan Pidana Anak maka polisi dapat saja menggunakan peraturan
tersebut, tetapi polisi lebih berpedoman pada UU SPPA.
Kejaksaan juga tetap berpedoman terhadap UU SPPA daripada Perma
Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi karena Perma ini
merupakan terbitan dari Mahkamah Agung walaupun bersifat keluar. Jaksa
biasanya juga memiliki acuan surat edaran dari Kepala Kejaksaan sehingga Jaksa
tidak menggunakan pedoman dari instansi lain. Meski
demikian, Jaksa juga mengupayakan agar Perma Nomor 4 Tahun 2014 tentang
Pedoman Pelaksanaan Diversi dapat digunakan/diterapkan di Pengadilan dengan
cara jaksa membuat dakwaan yang subsidaritas, agar dapat menjadi pertimbangan
hakim sendiri.
Kendala penerapan diversi dalam tindak pidana narkotika yang dilakukan
oleh anak selain karena perbedaan pandangan pedoman ataupun ketidaksinkronan
antara UU SPPA dengan Perma Nomor 4 Tahun 2014 tentang Pedoman
Pelaksanaan Diversi adalah proses diversidalam hal tindak pidana narkotika yang
dianggap sebagai tindak pidana tanpa korban hanya
dapat dilakukan oleh penyidik, dalam hal ini hanya kepolisian yang dapat
melakukan proses diversi. Diversi dalam tindak pidana narkotika yang dianggap
sebagai tindak pidana tanpa korban ini diatur dalam Pasal 9 dan Pasal 10 UU
SPPA. Pasal 9 UU SPPA mengatur bahwa diversi harus mempertimbangkan
tindak pidananya, di mana tindak pidana narkotika adalah jenis tindak pidana
tanpa korban. Pasal 10 UU SPPA mengatur pula bahwa tindak pidana yang masuk
21
ke dalam jenis tindak pidana narkotika hanya boleh dilakukan diversi oleh
penyidik, dalam hal ini kepolisian yang boleh melakukan diversi terhadap tindak
pidana narkotika.
22
a. Sanksi bagi pengedar narkoba golongan I tertera dalam Pasal 111 sampai
dengan 116 UU Narkotika, dijerat hukuman penjara minimal 4 (empat) tahun
dan maksimal pidana mati, serta denda paling sedikit Rp800.000.000 (delapan
ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp10.000.000.000 (sepuluh milyar
rupiah).
b. Sanksi bagi pengedar narkoba golongan II tertera dalam Pasal 117 sampai
dengan 121 UU Narkotika, dijerat hukuman penjara minimal 4 (empat) tahun
dan maksimal pidana mati, serta denda paling sedikit Rp800.000.000 (delapan
ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp8.000.000.000 (delapan miliar rupiah).
c. Sanksi bagi pengedar narkoba golongan III tertera dalam Pasal 122 sampai
dengan 126 UU Narkotika, dijerat hukuman penjara minimal 2 (dua) tahun
penjara dan maksimal 12 (dua belas) tahun penjara, serta denda paling sedikit
Rp400.000.000 (empat ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp5.000.000.000
(lima miliar rupiah).
23
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Adapun saran yang diberikan adalah:
1. Jangan pernah mencoba narkoba walaupun itu hanya sedikit.
24
2. Pemerintah harus memberantas peredaran narkoba di Indonesia.
3. Orang tua harus lebih memperhatikan anaknya agar tidak terjerumus ke
dalam jurang narkoba.
4. Perlu peningkatan kerja sama antar masyarakat dengan aparat untuk
memberantas peredaran narkoba.
5. Remaja harus diperhatikan oleh semua pihak agar tidak terjerumus pada
penyalahgunaan narkoba.
6. Hendaknya kita sebagai generasi muda melakukan kegiatan-kegiatan yang
positif seperti berolahraga, aktif dalam kegiatan keagamaan agar kita dapat
terhindar dari bahaya narkoba, sehingga kita bisa menjadi kebanggaan
orangtua, agama, bangsa dan negara.
25
DAFTAR PUSTAKA
Tanjung Mastar’ain H. BA. 2010. Hidup Indah Tampa Narkoba. Edisi ke-2.
Jakarta : Letupan indonesia
Libertus Jehani & Antoro dkk. 2006. Edisi ke-1 Mencegah Tterjerumus Narkoba.
Jakarta : Visimedia
Darman Flavianus. 2006. Edisi ke-1. Mengenali Jenis dan Efek Buruk Narkoba.
Jakarta : Visimedia
Humas BNN. 2015. “Narkoba Rentan di Jagat Blantika Hiburan”. Diakses melalu
laman [Link] pada tanggal 16
Maret 2022.
26