(Placeholder2)Tantangan
a. Menciptakan keseimbangan antara meningkatkan inklusi keuangan dan manajemen
risiko.
b. Meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai layanan fintech. Dengan memberikan
pemahaman menyeluruh tentang pengetahuan literasi dan inklusi keuangan oleh publik.
Apabila penggunaan fintech ingin optimal maka pemberian pengetahuan dasar
keduanya harus diberikan secara seimbang. Karena masih banyak yang belum mengerti
pemahaman literasi keuangan dalam penggunaan fintech. Sehingga banyak pengguna
fintech yang tidak bisa membedakan, fintech legal dan ilegal.
c. Kurangnya infrastruktur pendukung dari pemerintah. Salah satu infrastruktur yang
mendukung adalah E-KTP. Tetapi kurangnya dukungan pemerintah untuk segera
memusatkan seluruh data penduduknya sehingga keamanan dan kesolidan produk
fintech tidak terjamin. Masih rentan terjadinya risiko penipuan dan penyalahgunaan.
Agar fintech dapat berkembang dengan baik, maka pemerintah harus mengeluarkan
regulasi khusus untuk menjamin keamanan dua belah pihak. Yaitu konsumen sebagai
pengguna fintech dan pemilik perusahaan sebagai penyedia teknologi keuangan.
d. Masih eksklusif. Beberapa perusahaan fintech masih menciptakan produk mereka agar
dapat digunakan pada smartphone tertentu. Padahal, apabila ingin berkembang maka
fintech harus mampu digunakann di segala jenis gadget dan berafiliasi dengan berbagai
bank atau lembaga keuangan untuk memperluas jangkauan konsumen. Walaupun
keeksklusifan tersebut dapat membuat keuntungan yang lebih, akan tetapi dapat
mengakibatkan mengecilnya jangkauan pasar pengguna fintech dan turunnya angka
penggunaan teknologi keuangan di masa yang akan datang.
Kelebihan
a) Mudah dalam melayani. Memudahkan perusahaan yang menerapkan inovasi teknologi
dalam memberikan layanan kepada konsumen. Selain itu, konsumen juga memperoleh
kemudahan dalam layanan keuangan. Misalnya transaksi pembayaran yang dapat
dilakukan secara online dengan smartphone.
b) Informasi yang cepat dan murah. Fintech membantu meberikan informasi kepada
pengguna secara cepat. Misalnya informasi pinjamana dan investasi. Dengan
memperoleh informasi tersebut melalui jaringan internet dan aplikasi di smartphone
sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang murah.
c) Proses cepat. Memberikan proses layanan keuangan yang cepat dan efisien. Misalnya
dalam proses transaksi keuangan, proses pinjaman maupun validasi credit score.
d) Keamanan terjamin. Data pengguna terjamin keamanannya karena adanya fitur
keamanan terbaru dari fintech seperti enkripsi, data biometric, dan sebagainya.
Sehingga kita tidak perlu khawatir dengan keamanan data walau dilakukan pelayanan
secara online.
e) Efisien. Aplikasi fintech membantu kita dalam mengelola keuangan dengan
menyediakan fitur-fitur penting kepada konsumen. Selain itu, terdapat layanan notifikasi
yang memudahkan pengguna dalam pembayaran tagihan dan sebagainya.
f) Persetujuan dalam 24 jam. Fintech membantu kita dalam memenuhi kebutuhan bagi
kita yang membutuhkan dana. Salah satunya yaitu peminjaman, proses persetujuan
peminjaman uang dilakukan dengan cepat hanya dengan menunggu 24 jam
persetujuan.
g) Notifikasi pembayaran dan nominal yang akurat. Tidak perlu khawatir ataupun ragu
dalam melakukan pembayaran tagihan. Karena ketika ada tagihan pembayaran akan ada
info nominal uang dan jadwal pemberitahuan pembayaran.
Kekurangan
1) Memerlukan koneksi internet. Layanan fintech hanya dapat diakses melalui jaringan
internet. Tidak bisa diakses apabila tidak adanya koneksi internet di daerah yang belum
memiliki internet.
2) Risiko terjadinya penipuan. Meskipun memiliki tingkat keamanan yang tinggi tetapi
masih bisa terjadinya risiko penipuan. Sehingga pengguna harus berhati-hati dan
waspada dalam menggunakan layanan.
3) Biaya yang tinggi. Biaya bunga pinjaman yang ditawarkan lebih tinggi dibandingkan
bunga pinjaman tradisional. Sehingga perlu dipertimbangkan kembali sebelum
menggunakan layanan keuangan ini.
4) Memerlukan pengetahuan. Tidak semua masyarakat dapat menggunakan fintech.
Karena diperlukan pengetahuan tentang penggunaan internet. Masih banyak
masyarakat maupun pebisnis yang belum melek internet sehingga kesulitan mengakses
fintech. Maka, diperlukan literasi tentang internet dan teknologi ke seluruh masyarakat.
Jangkauan
Pada era 2.0 LJK menggunakan sistem layanan keuangan berupa bank. Kemudian di era 3.0, LJK
mulai perlahan-lahan beralih menggunakan digital. Lalu di era 4.0, LJK mengembangkan sistem
layanan keuangan digital atau disebut sebagai technology financial (fintech). Fintech menjadi
salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi digital khususnya di Indonesia.
Di Indonesia kebutuhan pendanaan masih besar. Akan tetapi, jangkauan pembiayaan fintech
masih terbatas di pulau Jawa. Di luar pulau Jawa pun fintech masih kurang dari 20% peminjam.
Hal ini disebabkan karena masih banyak yang minim literasi layanan keuangan khususnya
layanan keuangan digital seperti fintech. Sehingga pemerintah, akan memperluas jangkauan
fintech ke seluruh Indonesia.
Grafik Perkembangan Global
Fintech global menunjukkan perkembangan yang pesat dari tahun 2010 hingga 2020. Menurut
analis Morgan Stanley peminjaman fintech sedang meningkat dengan CAGR (Compound Annual
Growth Rate)123% sejak 2010
Grafik Perkembangan Indonesia
Berdasarkan sektor Berdasarkan jumlah perusahaan
Adanya evolusi global dalam inovasi teknologi keuangan mempengaruhi perkembangan fintech
di Indoneasia. Berdasarkan data sektor yang tersedia di atas pelaku FinTech Indonesia masih
dominan berbisnis payment (43%), pinjaman (17%), dan sisanya berbentuk agregator,
crowdfunding dan lain-lain. Kemudian tingkat perkembangan fintech di Indonesia berdasarkan
jumlah perusahaan mengalami peningkatan yang sangat baik dari tahun 2006 hingga 2016.
Pada periode sebelum tahun 2006 jumlah perusahaan FinTech yang berpartisipasi aqda 4
perusahaan. Kemudian bertambah 12 perusahaan lagi di tahun 2006-2007 sehingga menjadi 16
perusahaan.
4 tahun kemudian di tahun 2011-2012 terjadi penambahan sebanyak 9 perusahaan yang
melakukan kegiatan FinTech sehingga menjadi 25 perusahaan di tahun tersebut. Di tahun
tersebut, secara relatif jumlah perusahaan FinTech hanya tumbuh sekitar 177,78%. Pada tahun
2013-2014 lebih renda dibandingkan tahun 2006-2007 sekitar 300%. Di tahun 2013-2014
bertambah 15 perusahaan jadi 40 perusahaan tumbuh mencapai 60%. Lalu mengalami
peningkatan yang sangat drastis di tahun 2015-2016 yaitu terdapat 165 perusahaan atau sekitar
312,5%.
Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan instalasi aplikasi keuangan terbanyak
di antara 15 negara lainnya, menurut Laporan State of Finance App Marketing edisi 2021 yang dirilis
AppsFlyer. Tingkat fraud (kecurangan atau penipuan) pada aplikasi populer Indonesia tercatat
mengalami penurunan drastis hingga 48%.
Di Indonesia, banyak pengguna yang mengunduh aplikasi layanan keuangan termasuk
aplikasi mobile payment, kartu kredit, dan juga aplikasi pinjaman.
Pada kuartal kedua 2020, anggaran marketing berkurang hampir 50% akibat pandemi global
dan lockdown. Di sisi lain, permintaan terhadap solusi pembayaran touchless (nirsentuh) justru
meningkat, begitu juga dengan permintaan aplikasi fintech yang tumbuh hingga 75%. Marketer di
Indonesia pun melanjutkan pengeluaran iklan demi melakukan kembali akuisisi user baru. Terlihat
dari peningkatan biaya signifikan hingga 180%, dari kuartal II-2020 sampai kuartal I-2021, sekaligus
menyebabkan instalasi non-organik, dengan tingkat pemulihan sebesar 26% di periode waktu yang
sama.
Kemudian pertumbuhan nilai transaksi FinTech Indonesia terus mengalami peningkatan. Pada Juni 2020
(Statista, 2020) nilai transaksi “Digital Payments” mencapai US$ 35,513 juta. Sampai dengan 14 Agustus
2020 sudah ada 157 penyelenggara FinTech yang terdaftar atau berizin di Indonesia (Otoritas Jasa
Keuangan, 2020).
Pada tahun 2024 nilai tersebut diprediksi melonjak menjadi lebih dari 100% atau pada angka US$ 63,690
juta. Di masa yang akan datang, diprediksi akan semakin banyak varian layanan keuangan berbasiskan
FinTech yang akan bermunculan
Sumber :
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
[Link]
pendorong-ekonomi-menkominfo-fintech-perluas-jangkauan-ekonomi-digital/0/siaran_pers
[Link]
(Setyowati, 2018)
(Fauziyah, 2017)
(Nofalia, 2019)
(Ferdiani, 2021)
(Setu, 2021)
(Hidayat, 2021)
(Nizar, 2017)
(Abdillah, 2020)
References
Fauziyah, A. (2017, Agustus 21). 3 Tantangan Ini Merupakan Penghambat Berkembangnya Fintech di
Indonesia. Dipetik April 4, 2022, dari digination: [Link]
tantangan-ini-merupakan-penghambat-berkembangnya-fintech-di-indonesia
Ferdiani, K. R. (2021, Januari 28). Inilah Kelebihan dan Kekurangan Fintech. Dipetik April 4, 2022, dari
modalrakyat: [Link]
Hidayat, K. (2021, Maret 23). Jangkauan fintech pendanaan di luar Jawa masih minim. Dipetik April 04,
2022, dari kontan: [Link]
jawa-masih-minim
Nofalia, I. (2019, April 15). Kelebihan dan Kekurangan Fintech yang Harus Kita Mengerti. Retrieved April
4, 2022, from finansialku: [Link]
Setu, F. (2021, September 29). Jadi Pendorong Ekonomi, Menkominfo: Fintech Perluas Jangkauan
Ekonomi Digital. Retrieved April 04, 2022, from kominfo:
[Link]
jadi-pendorong-ekonomi-menkominfo-fintech-perluas-jangkauan-ekonomi-digital/0/siaran_pers
Setyowati, D. (2018, Juli 31). 5 Tantangan Fintech Menurut OJK. Dipetik April 4, 2022, dari Kata Data:
[Link]
References
(n.d.).
Desy, S. (2018, Juli 31). 5 Tantangan Fintech Menurut OJK. Retrieved from [Link]:
[Link]
Fauziyah, A. (2017, Agustus 21). 3 Tantangan Ini Merupakan Penghambat Berkembangnya Fintech di
Indonesia. Dipetik April 4, 2022, dari digination: [Link]
tantangan-ini-merupakan-penghambat-berkembangnya-fintech-di-indonesia
Ferdiani, K. R. (2021, Januari 28). Inilah Kelebihan dan Kekurangan Fintech. Dipetik April 4, 2022, dari
modalrakyat: [Link]
Hidayat, K. (2021, Maret 23). Jangkauan fintech pendanaan di luar Jawa masih minim. Dipetik April 04,
2022, dari kontan: [Link]
jawa-masih-minim
Nizar, M. A. (2017). Financial Technology (Fintech):It's Concept and Implementation in Indonesia.
Munich Personal RePEc Archive, V(2017), 5-13.
Nofalia, I. (2019, April 15). Kelebihan dan Kekurangan Fintech yang Harus Kita Mengerti. Retrieved April
4, 2022, from finansialku: [Link]
Setu, F. (2021, September 29). Jadi Pendorong Ekonomi, Menkominfo: Fintech Perluas Jangkauan
Ekonomi Digital. Retrieved April 04, 2022, from kominfo:
[Link]
jadi-pendorong-ekonomi-menkominfo-fintech-perluas-jangkauan-ekonomi-digital/0/siaran_pers
Setyowati, D. (2018, Juli 31). 5 Tantangan Fintech Menurut OJK. Dipetik April 4, 2022, dari Kata Data:
[Link]
References
(n.d.).
Abdillah, L. A. (2020). Financial Technology (FinTech). Yayasan Kita Menulis, 117-131. Retrieved from
[Link]
Desy, S. (2018, Juli 31). 5 Tantangan Fintech Menurut OJK. Retrieved from [Link]:
[Link]
Fauziyah, A. (2017, Agustus 21). 3 Tantangan Ini Merupakan Penghambat Berkembangnya Fintech di
Indonesia. Dipetik April 4, 2022, dari digination: [Link]
tantangan-ini-merupakan-penghambat-berkembangnya-fintech-di-indonesia
Ferdiani, K. R. (2021, Januari 28). Inilah Kelebihan dan Kekurangan Fintech. Dipetik April 4, 2022, dari
modalrakyat: [Link]
Hidayat, K. (2021, Maret 23). Jangkauan fintech pendanaan di luar Jawa masih minim. Dipetik April 04,
2022, dari kontan: [Link]
jawa-masih-minim
Nizar, M. A. (2017). Financial Technology (Fintech):It's Concept and Implementation in Indonesia.
Munich Personal RePEc Archive, V, 5-13.
Nofalia, I. (2019, April 15). Kelebihan dan Kekurangan Fintech yang Harus Kita Mengerti. Retrieved April
4, 2022, from finansialku: [Link]
Setu, F. (2021, September 29). Jadi Pendorong Ekonomi, Menkominfo: Fintech Perluas Jangkauan
Ekonomi Digital. Retrieved April 04, 2022, from kominfo:
[Link]
jadi-pendorong-ekonomi-menkominfo-fintech-perluas-jangkauan-ekonomi-digital/0/siaran_pers
Setyowati, D. (2018, Juli 31). 5 Tantangan Fintech Menurut OJK. Dipetik April 4, 2022, dari Kata Data:
[Link]