0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan41 halaman

Teori Pengetahuan dan ASI Eksklusif

Dokumen ini membahas tentang pengetahuan, termasuk definisi, jenis, tahapan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Selain itu, dokumen juga menjelaskan tentang Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, pengertian, tahapan, dan kandungan gizi yang terdapat dalam ASI. Pengetahuan dan ASI memiliki peran penting dalam perkembangan individu dan kesehatan bayi.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan41 halaman

Teori Pengetahuan dan ASI Eksklusif

Dokumen ini membahas tentang pengetahuan, termasuk definisi, jenis, tahapan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Selain itu, dokumen juga menjelaskan tentang Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, pengertian, tahapan, dan kandungan gizi yang terdapat dalam ASI. Pengetahuan dan ASI memiliki peran penting dalam perkembangan individu dan kesehatan bayi.

Diunggah oleh

sulis tiani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengetahuan

1. Definisi pengetahuan

Pengetahuan dapat diperoleh seseorang secara alami atau

diintervensi baik langsung maupun tidak langsung. Perkembangan

teori pengetahuan telah berkembang sejak lama. Filsuf pengetahuan

yaitu Plato menyatakan pengetahuan sebagai “kepercayaan sejati yang

dibenarkan (valid)” (justified true belief). Menurut Notoatmojo

(2020), pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah

orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2020), pengetahuan

adalah sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran.

Proses belajar ini dipengaruhi berbagai factor dari dalam, seperti

motivasi dan factor luar berupa sarana informasi yang tersedia, serta

keadaan social budaya. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat

yang diketahui atau disadari oleh seseorang (Budiman, 2021).

Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melalui

proses sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek

tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam

terbentuknya perilaku terbuka atau open behavior (Donsu, 2020).

8
9

2. Jenis pengetahuan

1) Pengetahuan Implisit

Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih

tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-

faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi,

perspektif dan prinsip.

2) Pengetahuan Eksplisit

Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah

didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam

wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata dideskripsikan

dalam tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kesehatan

(Budiman, 2021).

3. Tahapan pengetahuan

Tahapan pengetahuan menurut Benjamin S. Bloom (2020) ada 6

tahapan, yaitu sebagai berikut.

a. Tahu (know)

Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat

peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan,

metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya.

b. Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan

dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.


10

c. Aplikasi (application)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi tersebut secara benar.

d. Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan

materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi

masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya

satu sama lain.

e. Sintesis (synthesis)

Sintesis merujuk pada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu

bentuk keseluruhan yang baru.

f. Evaluasi (evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk

melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau

objek (Budiman, 2021).

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang,

yaitu:

a. Pendidikan

Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan

kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan

berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses


11

belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang

tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi

seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik

dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak

informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang

didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya

dengan pendidikan di mana diharapkan seseorang dengan

pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula

pengetahuannya.

b. Massa media/informasi

Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal

maupun non-formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek

(immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau

peningkatan kemajuan. Majunya teknologi akan tersedia

bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi

pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana

komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio,

surat kabar, majalah dan lain-lain. Dalam penyampaian

informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula

pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini

seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal

memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya

pengetahuan terhadap hal tersebut.


12

c. Social budaya dan ekonomi

Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa

melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk.

Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya

walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan

menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk

kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan

mempengaruhi pengetahuan seseorang.

d. Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar

individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.

Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya

pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan

tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik

ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh

setiap individu.

e. Pengalaman

Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu

cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara

mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam

memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman

belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan

pengetahuan dan keterampilan professional serta pengalaman


13

belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan

mengambil keputusan yang merupakan manifestasi satu

keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari

masalah nyata dalam bidang kerjanya.

f. Usia

Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir

seseorang. Semakin bertambah usia semakin berkembang pula

daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang

diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan

lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan social

serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya

menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya

akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca.

5. Pengukuran tingkat pengetahuan

Menurut Skinner, bila seseorang mampu menjawab mengenai

materi tertentu baik secara lisan maupun tulisan, maka dikatakan

seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut. Sekumpulan jawaban

yang diberikan tersebut dinamakan pengetahuan. Pengukuran bobot

pengetahuan seseorang ditetapkan menurut hal-hal sebagai berikut:

a. Bobot I : tahap tahu dan pemahaman

b. Bobot II : tahap tahu, pemahaman, aplikasi dan analisis

c. Bobot III : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,

dan evaluasi.
14

Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket

yang menanyakan isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau

responden.

Arikunto (2020) membuat kategori tingkat pengetahuan

seseorang menjadi tiga tingkatan yang didasarkan pada nilai

presentase yaitu sebagai berikut:

a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥75%

b. Tingkat pengetahuan kategori Cukup jika nilainya 56-74%.

c. Tingkat pengetahuan kategori Kurang jika nilainya ≤55%

Dalam membuat kategori tingkat pengetahuan bisa juga

dikelompokkan menjadi dua kelompok jika yang diteliti masyarakat

umum, yaitu sebagai berikut:

a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥50%

b. Tingkat pengetahuan kategori Kurang Baik jika nilainya ≤50%

(Budiman, 2021).

B. Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif

1. Pengertian

Air Susu Ibu (ASI) adalah cairan yang diciptakan khusus yang

keluar langsung dari payudara seorang ibu untuk bayi. ASI merupakan

makanan bayi yang paling sempurna, praktis, murah dan bersih karena

langsung diminum dari payudara ibu. ASI mengandung semua zat gizi

dan cairan yang dibutuhkan bayi untuk memenuhi kebutuhan gizi di 6

bulan pertamanya. Jenis ASI terbagi menjadi 3 yaitu kolostrum, ASI


15

masa peralihan dan ASI mature. Kolostrum adalah susu yang keluar

pertama, kental, berwarna kuning dengan mengandung protein tinggi

dan sedikit lemak (Walyani, 2020).

ASI merupakan suatu cairan yang terbentuk dari campuran dua

zat yaitu lemak dan air yang terdapat dalam lauratn protein, laktosa

dan garam-garam anorganik yang dihasilkan oleh kelenjar payudara

ibu, dan bermanfaat sebagai makanan bayi. ASI sebagai makanan

pertama yang alami untuk bayi. ASI menyediakan semua energi dan

nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk bulan-bulan pertama kehidupan.

(Maryunani, anik, 2020).

ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa

tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, dan

air putih serta tanpa tambahan makanan padat, seperti pisang, bubur

susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim, kecuali vitamin dan mineral

dan obat (Roesli, 2020). Selain itu, pemberian ASI eksklusif juga

berhubungan dengan tindakan memberikan ASI kepada bayi hingga

berusia 6 bulan tanpa makanan dan minuman lain, kecuali sirup obat.

2. Tahapan ASI

ASI yang dihasilkan oleh ibu memiliki tahapan dan kandungan

yang berbeda-beda, terdapat 3 tahapan ASI yang diproduksi oleh ibu:

a. Kolostrum

Kolostrum adalah cairan yang pertama kali disekresi oleh

kelenjar mammae berwarna kekuning-kuningan yang diproduksi


16

pada hari pertama hingga keempat dengan kandungan protein

dan zat antiinfeksi yang tinggi serta berfungsi sebagai

pemenuhan gizi dan proteksi bayi baru lahir (Astutik Yuli, R.

2020).

b. ASI transisi

ASI transisi adalah air susu ibu yang keluar setelah

kolostrum. ASI peralihan diproduksi 3-5 hari hingga 8-11 hari

dengan kadar lemak, lakotosa dan vitamin larut air yang lebih

tinggi, dan kadar protein, mineral lebih rendah (Widuri, H.

2020).

c. ASI matang

ASI matang adalah air susu ibu yang dihasilkan sekitar 8-

11 hari hingga seterusnya setelah melahirkan dengan kandungan

sekitar 90% air untuk hidrasi bayi dan 10% karbohidrat, protein

dan lemak untuk perkembangan bayi (Widuri, H. 2020). ASI

matang memiliki 2 tipe yaitu foremilk dan hindmilk. Foremilk

diproduksi pada awal menyusui dengan kandungan tinggi

protein, laktosa dan nutrisi lainnya namun rendah lemak, serta

komposisi lebih encer. Sedangkan hindmilk diproduksi

menjelang akhir menyusui dengan kandungan tinggi lemak

(Astutik Yuli, R. 2020).


17

3. Kandungan ASI

ASI merupakan makanan paling ideal dan seimbang bagi

bayi,menurut Astutik Yuli, R (2020), zat gizi yang terkandung dalam

ASI adalah :

a. Nutrien

1) Lemak

Lemak merupakan sumber kalori utama dalam ASI

yang mudah diserap oleh bayi. Asam lemak essensial

dalam ASI akan membentuk asam lemak tidak jenuh

rantai panjang decosahexaenoic acid (DHA) dan

arachidoicacid (AA) yang berfungsi untuk pertumbuhan

otak anak.

2) Karbohidrat

Laktosa merupakan karbohidrat utama dalam ASI

yang bermanfaat untuk meningkatkan absorbs kalsium dan

merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus.

3) Protein

Protein dalam ASI yaituwhey, kasein, sistin, dan

taurin. Sistindan taurin merupakan asam amino yang tidak

dapat ditemukan pada susu sapi. Sistin diperlukan untuk

pertumbuhan somatic dan taurin untuk pertumbuhan anak.


18

4) Garam dan mineral

Kandungan garam dan mineral pada ASI relative

rendah karena ginjal bayi belum dapat mengonsentrasikan

air kemih dengan baik. Kandungan garam dan mineral

pada ASI kalsium, kaliun,natrium, tembaga, zat besi, dan

mangan.

5) Vitamin

Vitamin pada ASI diantaranya vitamin D,E, dan Kb,

Zat Protektif1, Lactobasillus bifidus. Lactobasillus bifidus

berfungsi mengubah laktosa ,menjadi asam laktat dan

asam asetat yang menyebabkan saluran pencernaan

menjadi lebih asam untuk menghambat pertumbuhan

mikroorganisme. Laktoferin berikatan dengan zat besi

untuk menghambat pertumbuhan kuman tertentu seperti

coli dan menghambat pertumbuhan jamur kandida.

b. Zat protektif

1) Lactobasillus bifidus

Lactobasillus bifidus berfungsi mengubah laktosa

menjadi asam laktak dan asam asetat yang menyebabkan

saluran pencernaan menjadi lebih asam untuk

menghambat pertumbuhan mikroorganisme.


19

2) Laktoferin

Laktoferin berikatan dengan zat besi untuk

menghambat pertumbuhan kuman tertentu seperti E. coli

dan menghambat pertumbuhan jamur kandida.

3) Lisozim

Lisozim merupakan faktor protektif terhadap

serangan bakteri pathogen serta penyakit diare.

Komplemen C3 dan C4 Komplemen C3 dan C4 berfungsi

sebagai daya opsonik, anafilaktoksik, dan kemotaktik.

Faktor antistreptokokus melindungi bayi terhadap infeksi

kuman steptokokus. Antibodi dalam ASI dapat bertahan di

dalam saluran pencernaan bayi dan membuat lapisan pada

mukosanya sehingga mencegah bakteri pathogen atau

enterovirus masuk kedalam mukosa usus. Imunitas Seluler

Imunitas seluler berfungsi membunuh dan memfagositosis

mikroorganisme, membentuk C3, C4, lisozim, serta

laktoferin. Tidak menimbulkan Alergi Sistem Ig E pada

bayi belum sempurna, sehingga bayi yang diberikan susu

formula akan merangsang aktivasi system Ig Edan

menimbulkan alergi.

4) Komplemen C3 dan C4

Komplemen C3 dan C4 berfungsi sebagai daya

opsonik, anafilaktoksik, dan kemotaktik.


20

5) Faktor antistreptokokus

Antistreptokokus melindungi bayi terhadap infeksi

kuman steptokokus.

6) Antibodi

Antibodi dalam ASI dapat bertahan didalam saluran

pencernaan bayi dan membuat lapisan pada mukosanya

sehingga mencegah bakteri pathogen atau enterovirus

masuk kedalam mukosa usus.

7) Imunitas seluler

Imunitas seluler berfungsi membunuh dan

memfagositosis mikroorganisme, membentuk C3, C4,

lisozim, serta laktoferin.

8) Tidak menimbulkan alergi

Sistem IgE pada bayi yang belum sempurna,

sehingga bayi yang diberikan susu formula akan

merangsang aktivitas sistem IgE dan menimbulkan alergi.

4. Manfaat ASI

a. Manfaat ASI bagi bayi

1) ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi

ASI adalah cairan hidup yang mengandung zat

kekebalan yang akan melindugi bayi dari berbagai

penyakit infeksi bakteri, virus, parasit dan jamur.


21

2) ASI sebagai nutrisi

ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal

dengan komposisi yang seimbang dengan kebutuhan

pertumbuhan bayi.

3) ASI meningkatkan jalinan kasih sayang

Kontak kulit dini akan berpengaruh terhadap

perkebangan bayi. Walaupun seorang ibu dapat

memberikan kasih saying dengan memberikan susu

formula, tetapi menyusui sendiri akan memberikan efek

psikologis yang besar. Perasaan aman sangat penting

untuk membangun dasar kepercayaan bayi yaitu dengan

mulai mempercayai orang lain (ibu), maka selanjutnya

akan timbul rasa percaya diri pada anak.

4) Mengupayakan pertumbuhan yang baik

Bayi yang mendapat ASI mempunyai kenaikan berat

badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah

periode perinatal yang baik dan mengurangi kemungkinan

[Link] menyusu yang sering juga dibuktikan

bermanfaat karena volume ASI yang dihasilkan lebih

banyak sehingga penurunan berat badan bayi hanya

sedikit.
22

b. Manfaat Menyusui bagi Ibu

1) Mengurangi kejadian kanker payudara

Pada saat menyusui hormone esterogen mengalami

penurunan, sementara itu tanpa aktivitas menyusui, kadar

hormone esterogen tetap tinggi dan inilah yang menjadi

salah satu pemicu kanker payudara karena tidak adanya

keseimbangan hormone esterogen dan progesterone.

2) Mencegah perdarahan pasca persalinan

Perangsangan pada payudara ibu oleh hisapan bayi

akan diteruskan ke otak dank e kelenjar hipofisis yang

akan merangsang terbentunya hormone oksitosin.

Oksitosin membantu mengkontraksikan kandungan dan

mencegah terjadinya perdarahan paca persalinan.

3) Mempercepat pengecilan kandungan

Sewaktu menyusui terasa perut ibu mulas yang

menandakan kandungan berktraksi da degan demikian

pengecilan kandunga teradi lebih cepat.

4) Dapat digunakan sebagai metode KB sementara

Meyusui secara eksklusif dapat mejarangkan

kehamilan. Rata-rata jarak kelahira ibu yag meyusui

adalah 24 bulan sedangkan yang tidak menyusui adalah 11

bulan.
23

Hal yang mempertahankan laktasi bekera meekan

hrm untuk ovulasi, sehingga dapat menunda kembalinya

kesuburan. ASI yang digunakan sebagai meted KB

sementara dengan syarat : bayi belum berusia 6 bulan, ibu

belum haid kembali da ASI diberikan secara eksklusif.

5) Mempercepat kembali ke berat badan semula

Selama hamil, ibu meimbun lemak dibawak kulit.

Lemak ini akan terpakai utuk membetuk ASI, sehigga

apabila ibu tidak menyusui, lemak tersebut akan tetap

tertimbu di dalam tubuh.

6) Steril, aman dari pencemaran kuman

7) Selalu tersedia dengan suhu yang sesuai dengan bayi

8) Megandung antibody yang dapat menghambat

pertumbuhan virus

9) Tidak ada bahaya alergi

c. Manfaat ASI untuk keluarga

1) Praktis

ASI selalu tersedia dimanapun ibu berada dan slalu

dalam kondisi steril, sedangkan pemberian susu formula

yang harusmencuci dan mensterilkan botol sebelum

digunakan.
24

2) Menghemat biaya

ASI diproduksi ibu setiap hari sehingga tidak perlu

biaya seperti membelikan susu formula. Pemberian ASI

dapat menyehatkan bayi sehingga mengehmat pengeluaran

keluarga untuk berobat.

d. Manfaat ASI bagi Negara

1) Menurukan angka kesakitan dan kematian anak

2) Mengurangi subsidi untuk Rumah Sakit

3) Mengurangi devisa untuk membeli susu formula

4) Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa

(Kementerian Kesehatan RI, 2020)

5. Sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui menurut Perinasia

(2020), dalam Astuti Yuli Renik (2020).

Program ini adalah ringkasan praktik maternitas yang diperlukan

untuk mendukung menyusui, adapun 10 langkah tersebut meliputi:

a. Mempunyai kebijakan tertulis tentang menyusui

b. Melatih semua tenaga pelayanan kesehatan dengan keterampilan

untuk menerangkan kebijakan tersebut.

c. Menjelaskan kepada semua bumil tentang manfaat dan

manajemen laktasi

d. Membantu ibu-ibu mulai menyusui bayi dalam waktu 30 menit

setelah melahirkan
25

e. Memperlihatkan kepada ibu-ibu bagaimana cara menyusui dan

cara mempertahankannya

f. Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI

kepada bayi baru lahir

g. Melaksanakan rawat gabung

h. Mendukung pemberian ASI kepada bayi tanpa dijadwalkan

i. Tidak memberikan dot atau kempeng

j. Membentuk dan membantu pengembangan kelompok

pendukung ibu menyusui.

6. ASI Eksklusif

Menurut World Health Organization (WHO), ASI Eksklusif

merupakan pemberian ASI selama 6 bulan tanpa memberikan

makanan tambahan yang lain seperti cairan, susu formula, air putih,

madu ataupun makanan tambahan lain sampai usianya 6 bulan

(Astutik Yuli R, 2020).

ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi selama 6

bulan dan tanpa diberikan makanan tambahan lainnya seperti susu

formula, madu, jeruk, air teh, dan air putih serta makanan padat

lainnya (Septikasari, M. 2020).

7. Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pemberian ASI Eksklusif

Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pemberian ASI

eksklusif menurut Teori Lawrence Green (Notoatmodjo, 2020)

dibedakan menjadi tiga faktor yaitu faktor pemudah (predisposing


26

factors), faktor pendukung (enabling factors), dan faktor pendorong

(reinforcing factors).

a. Faktor pemudah (Predisposing Factors)

1) Umur ibu

Produksi ASI berubah seiring dengan perubahan

umur. Ibu yang berumur 19-23 tahun umumnya memiliki

produksi ASI yang lebih cukup dibandingkan dengan ibu

yang berusia lebih tua. Hal ini terjadi karena adanya

pembesaran payudara setiap siklus ovulasi mulai awal

terjadinya menstruasi sampai umur 30 tahun, namun

terjadi degenerasi payudara setelah umur 30 tahun. Hasil

penelitian Novita dkk, (2020) menunjukkan bahwa ibu

yang lebih banyak memberikan ASI Eksklusif ada di

kelompok umur 17-25 tahun.

Umur adalah lamanya usia ibu yang terhitung mulai

saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup

umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan

lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Hal ini sebagian

dari pengalaman dan kematangan jiwa. Masa reproduksi

wanita dibagi menjadi 2 periode:

a) Reproduksi (20-35 tahun)

b) Tidak reproduksi (< 20 dan > 35 tahun)


27

Salah satu faktor yang mempengaruhi pemberian

ASI eksklusif adalah umur ibu 20-35 tahun. Umur

seseorang erat kaitannya dengan pengetahuan. Dimana

semakin cukup umur seseorang, tingkat pengetahuannya

akan lebih matang dalam berfikir dan bertindak. Umur

mempengaruhi bagaimana ibu menyusui mengambil

keputusan dalarn pemberian ASI eksklusif, semakin

bertambah umur maka pengalaman dan pengetahuan

semakin bertambah. Selain itu, umur ibu sangat

menentukan kesehatan maternal dan berkaitan dengan

kondisi kehamilan, persalinan dan nifas serta cara

mengasuh dan menyusui bayinya. Ibu yang berumur 20-35

tahun disebut sebagai "masa dewasa" dan disebut juga

masa reproduksi, di mana pada masa ini diharapkan orang

telah marnpu untuk memecahkan masalah-masalah yang

dihadapi dengan tenang secara emosional, terutama dalarn

menghadapi kehamilan, persalinan, nifas dan merawat

bayinya nanti.

2) Tingkat pendidikan

Pendidikan dapat membuat seseorang terdorong

untuk ingin tahu, mencari pengalaman, dan

mengorganisasikan pengalaman sehingga informasi yang

diterima dapat menjadi pengetahuan. Tingkat pendidikan


28

mempengaruhi pemberian ASI eksklusif, dimana ibu yang

berpendidikan tinggi dapat lebih mudah menerima ide

baru dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah.

Informasi tentang ASI eksklusif yang diberikan oleh

petugas kesehatan atau dari media informasi dapat mudah

diterima dan dilaksanakan oleh ibu yang memiliki tingkat

pendidikan tinggi (Untari, 2020).

Menurut PP-No-13-Tahun-2015 tentang perubahan

kedua atas peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005

tentang standar nasional pendidikan, indikator tingkat

pendidikan terdiri dari jenjang pendidikan dan kesesuaian

jurusan serta Peraturan Menteri Pendidikan dan

Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 menjelaskan bahwa

jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang

ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta

didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang

dikembangkan, yaitu terdiri dari:

a) Pendidikan dasar: Jenjang pendidikan awal selama 9

(sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak

yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang

dimulai dari SD-SMP.

b) Pendidikan tinggi: Jenjang pendidikan lanjutan dari

pendidikan dasar yaitu SMA sampai perguruan


29

tinggi yang mencakup program sarjana, magister,

doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh

perguruan tinggi.

Orang yang berpendidikan tinggi akan memberikan

respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang

dan alasan berfikir sejauh mana keuntungan yang mungkin

akan mereka peroleh dari gagasan tersebut. Ibu memiliki

tingkat pendidikan yang lebih tinggi, akan lebih mudah

mengadopsi informasi, makin tinggi pendidikan seseorang

maka makin mudah pula untuk menerima informasi,

misalnya informasi pemberian ASI eksklusif yang baik.

Sebaliknya ibu yang dengan tingkat pendidikan yang

rendah mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang

menjadi hambatan dalam pemberian ASI ekslusif misalnya

pengaruh promosi susu formula. Pendidikan yang dimiliki

oleh orang dewasa akan mempengaruhi perubahan

kemampuan, penampilan, atau perilaku serta tindakannya

karena orang dewasa sudah memiliki pengetahuan, sikap,

keterampilan tertentu yang sudah bertahun-tahun

dipelajarinya jika pengetahuan, sikap, dan sesuatu

tindakan yang belum mereka yakini maka akan sulit

mereka menerima. Olehnya itu pendidikan orang dewasa

dapat efektif menghasilkan perubahan perilaku atau


30

tindakan apabila memiliki tingkatan pendidikan yang

cukup baik.

3) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini

terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap

suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui

pancaindra manusia, yakni indera penglihatan,

pendengaran penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.

Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting

dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo,

2020).

Budimana dan Riyanto (2021) juga membuat

karangka teori tingkat pengetahuam seseorang menjadi

dua tingkatan yaitu didasarkan pada nilai presentase yaitu

sebagai berikut :

a) Tingkat pengetahuan katagori Baik jika nilainya

>50%.

b) Jika pengetahuan katagori kurang jika nilainya

<50%.

Informasi maupun pengalaman yang didapat

seseorang terakait pemberian ASI Eksklusif dapat

mempengaruhi perilaku orang tersebut dalam memberikan


31

ASI Eksklusif. Hal ini telah dibuktikan oleh Asmijati

dalam penelitiannya, yaitu ibu yang memiliki pengetahuan

yang baik memiliki kemungkinan 5,47 kali lebih besar

untuk menyusui secara Eksklusif dari ibu yang memiliki

pengetahuan rendah (Pertiwi, P. 2020).

Ketidakpahaman ibu mengenai colostrum yakni ASI

yang keluar pada hari pertama hingga kelima atau ketujuh.

Colostrum merupakan cairan jernih kekuningan yang

mengandung zat putih telur atau protein dengan kadar

tinggi serta zat infeksi atau zat daya tahan tubuh

(Immunoglubin) dalam kadar yang lebih tinggi ketimbang

ASI mature yaitu ASI yang berumur lebih dari tiga hari.

Kebiasaan membuang colostrum merupakan susu basi lalu

menggantinya dengan susu formula atau makanan lainnya

(Prasetyono, 2020).

4) Sikap ibu

Menurut Notoatmodjo (2020), sikap adalah reaksi

atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap

suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan kesiapan atau

kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan

pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu

tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi

tindakan suatu perilaku. Dalam arti lain, sikap masih


32

merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi

terbuka atau tingkah laku yang terbuka.

Sikap sebagai bentuk kesiapan untuk bereaksi

terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu

penghayatan terhadap objek. Terbentuknya sebuah sikap

dipengaruhi oleh pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan

emosi. Dalam berpikir ini, komponen emosi dan

keyakinan ikut bekerja sehingga ibu tersebut berniat

memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya selama 0-6

bulan untuk mencegah supaya anaknya tidak terkena gizi

kurang, Ibu mempunyai sikap tertentu terhadap objek (ASI

eksklusif) yang dapat berperan dalam pencegahan gizi

kurang.

Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula

bersifat negatif, antara lain:

a) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah

mendekati, menyenangi, mengharapkan objek

tertentu.

b) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk

menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai

objek tertentu.
33

5) Paritas

Paritas adalah jumlah kehamilan yang mampu

menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim (28

minggu). Paritas dapat dibedakan menjadi:

a) Primipara (satu kali melahirkan)

b) Multipara (> satu kali melahirkan)

Berdasarkan teori yang ada, ibu multipara

berpeluang besar untuk memberikan ASI eksklusif karena

sudah mempunyai pengalaman dengan anak pertama atau

sebelumya. Dari hasil analisa data menunjukkan

responden dengan multipara tidak memberikan ASI

eksklusif dikarenakan minimnya pengetahuan (latar

belakang pendidikan rendah), tidak bekerja dan ekonomi

yang rendah. Ibu multipara tidak memberikan ASI

eksklusif karena ibu kurangnya motivasi dari suami dan

keluarga. Pada seorang ibu yang mengalami laktasi kedua

dan seterusnya cenderung untuk lebih baik daripada

pertama. Laktasi yang kedua yang dialami ibu berarti telah

memiliki pengalaman dalam memberikan ASI eksklusif.

Sedangkan pada laktasi yang pertama ibu belum

mempunyai pengalaman dalam menyusui. Prevalensi

menyusui ekslusif meningkat dengan bertambahnya

jumlah anak dimana anak ke tiga atau lebih akan banyak


34

disusui secara eksklusif dibandingkan dengan anak ke dua

atau pertama. Tingkat paritas telah banyak menentukan

perhatian dalam kesehatan ibu dan anak. Dikatakan

demikian karena terdapat kecenderungan kesehatan ibu

berparitas tinggi lebih baik daripada ibu berparitas rendah.

Di dalam teori Green (1991) menyebutkan bahwa paritas

merupakan salah satu faktor pencetus yang dapat

mempengaruhi perilaku kesehatan.

6) Status pekerjaan

Pekerjaan adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan

oleh seseorang dengan maksud memperoleh pendapatan

atau keuntungan (Badan Pusat Statistik, 2020). Ibu yang

bekerja adalah ibu yang memiliki peran ganda yaitu

sebagai ibu rumah tangga dan sebagai wanita pekerja.

Salah satu hambatan pemberian ASI yaitu karena ibu tidak

mempunyai waktu. Ibu yang sibuk bekerja dalam mencari

nafkah baik untuk kehidupan dirinya maupun untuk

membantu keluarga, maka kesempatan untuk pemberian

ASI masih kurang dibandingkan dengan ibu yang tidak

bekerja (Paramita, 2020). Karateristik pekerjaan sebagai

berikut :

a) Tidak bekerja : jika ibu tidak memiliki kesibukan

(IRT)
35

b) Bekerja : jika ibu mempunyai kesibukan (PNS,

wiraswasta, guru, penjahit, petani, dll)

Ibu yang bekerja di luar rumah dapat lebih praktis

mempompa ASI untuk anaknya diruang pojok ASI. Ibu

yang Perlu dilakukan usaha untuk memberikan informasi

dan motivasi menyusui pada ibu yang tidak bekerja

maupun ibu yang bekerja tentang prinsip pemberian ASI

eksklusif baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menyusui sebenarnya tidak saja memberi keesempatan

pada bayi untuk menjadi manusia yang sehat secara fisik

saja, tapi juga lebih cerdas, mempunyai emosional yang

stabil, perkembangan spiritual yang baik, serta

perkembangan sosial yang baik. Selain itu, pada ibu yang

bekerja, singkatnya masa cuti hamil atau melahirkan

mengakibatkan sebelum masa pemberian ASI eksklusif

berakhir sudah harus kembali bekerja. Hal ini

mengganggu upaya pemberian ASI eksklusif. ASI

eksklusif harus dijalani selama 6 bulan tanpa intervensi

makanan dan minuman lain, sedangkan cuti hamil dan

melahirkan hanya diberikan selama 3 bulan.


36

b. Faktor Pemungkin (Enabling Factors)

1) Pendapatan keluarga

Pendapatan keluarga merupakan penghasilan yang

diperoleh oleh suami istri dari berbagai kegiatan ekonomi

sehari-hari, misalnya gaji yang dapat digunakan untuk

memenuhi kebutuhan keluarga (Maulida dkk, 2020).

Keluarga yang mempunyai cukup pangan dapat lebih

tinggi dalam memberi ASI eksklusif dari pada ibu yang

tidak mempunyai cukup pangan, karena kualitas ASI

menjadi baik jika ibu mengonsumsi makanan yang bergizi.

Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan keluarga

memiliki hubungan dengan pemberian ASI eksklusif

(Haryono, 2020).

2) Kesehatan ibu

Kondisi kesehatan ibu sangat berpengaruh terhadap

pemberian ASI eksklusif. Menurut Rahmawati (2020),

kondisi kesehatan ibu yang tidak dapat memberikan ASI

eksklusif karena harus mendapatkan perawatan antara lain:

a) Ibu yang terinfeksi HIV/AIDS.

b) Ibu dengan penyakit TBC tidak diobati dan masih

aktif.

c) Ibu yang menggunakan obat-obatan terlarang atau

alkohol dalam jumlah berlebihan.


37

d) Ibu dengan penyakit herpes yang aktif pada

payudara.

e) Ibu dengan penyakit varisella (cacar).

3) Promosi susu formula

Promosi merupakan bentuk dari komunikasi

pemasaran dalam bentuk serangkaian aktivitas-aktivitas

yang menyeluruh untuk memasarkan sesuatu baik untuk

tujuan finansial. Susu formula adalah susu yang dibuat

khusus untuk bayi yang kandungannya menyerupai

dengan kandungan air susu ibu (ASI), tetapi tidak seluruh

zat gizi yang terkandung didalamnya dapat diserap oleh

bayi. Susu formula dibuat dengan menggunakan ASI

sebagai patokan nutrisi bergizi dan diproduksi secara

komersial.

Keberhasilan ASI eksklusif tidak pernah terjadi

apabila iklan susu formula baik dimedia masa maupun

media elekronik lainnya masih mempengaruhi tenaga

kesehatan dan ibu untuk memberikan susu formula kepada

bayi (Astuti, I. 2019).

Bayi yang mengonsumsi ASI dinilai memiliki

komposisi tubuh yang berbeda dengan bayi yang

mengonsumsi susu formula (Pertiwi, P. 2020).


38

Menurut Prasetyono (2020) menyebutkan ada beberapa

faktor yang membuat sebagian ibu tidak menyusui

anaknya. Salah satunya adalah promosi yang terlampau

gencar dari pihak produsen susu dan makanan

pendamping ASI. Inilah yang membuat peran ibu

terpengaruh untuk menggantikan ASI sebagai makanan

utama bayi dengan susu formula. Promosi ini sangat

mempengaruhi pemikiran ibu yang kurang memiliki

pengetahuan yang luas tentang ASI. Dengan adanya

promosi tersebut, para ibu dibujuk agar mempercayai

ucapan mereka dan mulai menggunakan susu formula

sebagai pengganti ASI. Bagi peran ibu menggunakan susu

formula dianggap lebih mendatangkan semacam

kelonggaran karena mereka tidak perlu selalu siap sedia

memberikan ASI kepada bayinya (Prasetyono, 2020).

c. Faktor Penguat (Reinforcing Factors)

1) Dukungan keluarga

Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan

penerimaan keluarga dalam mendukung ibu untuk

menyusui dan selalu siap untuk memberikan bantuan jika

ibu membutuhkan. Dukungan dari keluarga termasuk

suami, orang tua, atau saudara lainnya sangat berperan

penting dalam keberhasilan ibu menyusui karena pengaruh


39

keluarga berdampak pada emosi ibu sehingga secara tidak

langsung mempengaruhi produksi ASI (Tiyas, 2021).

2) Dukungan petugas kesehatan

Petugas kesehatan merupakan komponen utama

yang turut berperan dan memberikan kontribusi terhadap

berhasilnya upaya promosi pemberian ASI eksklusif

karena mereka yang selalu kontak langsung dan dipercaya

oleh masyarakat serta mempunyai kesempatan yang

banyak dan memungkinkan untuk memberikan penjelasan

dan penyuluhan tentang ASI (Rahmawati, 2020).

Dukungan yang diberikan petugas kesehatan dapat berupa

peningkatan pemberian edukasi tentang pentingnya ASI

eksklusif, langkah memberikan ASI kepada bayi, makanan

yang mendukung produksi ASI, dan topik lain yang

mendukung ibu untuk memberikan ASI eksklusif

(Wulandari dan Pramono, 2020).

8. Pengetahuan tentang pemberian ASI Eksklusif

Pengetahuan adalah salah satu faktor keberhasilan pemberian

ASI eksklusif. Pengetahuan merupakan salah satu komponen yang

dapat mewujudkan dan mendukung terjadinya suatu perilaku

(Notoadmodjo, 2020). Pendidikan juga merupakan salah satu faktor

penting yang mendorong seseorang untuk lebih perduli dan

termotivasi untuk meningkatkan derajat kesehatan dirinya dan


40

keluarganya. Pendidikan menjadikan seseorang memiliki pengetahuan

yang luas dan pola pikirnya terbangun dengan baik, sehingga

kesadaran untuki berperilaku positif termasuk dalam hal kesehatan

semakin meningkat (Ningrum, 2022).

Menurut penelitian, semakin rendah pengetahuan maka semakin

rendah kesadaran ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya

(Lestari, 2021). Hasil penelitian Merdika (2021) menunjukkan bahwa

terdapat pengaruh penyuluhan ASI eksklusif terdapat peningkatan

pengetahuan ibu menyusui selama pemberian ASI. Namun seseorang

yang memiliki Pendidikan rendah belum tentu memiliki pengetahuan

yang rendah pula, karena pengetahuan tidak hanyak diperoleh dari

Pendidikan formal saja, namun ada beberapa faktor yang dapat

mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang misalnya lingkungan,

pengalaman dan paparan media massa.

Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif mempengaruhi

kesuksesan dalam pemberian ASI eksklusif. Ibu yang memiliki

pendidikan rendah tentang ASI eksklusif cenderung kurang siap dalam

memberikan ASI eksklusif, sedangkan ibu yang memiliki tingkat

Pendidikan tinggi namun kurang siap dalam pemberian ASI eksklusif

lebih disebabkan karena aktivitas yang dijalani (Marzida, 2020).

9. Dampak pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif

Dampak pengetahuan ibu sangat berpengaruh terhadap

pemberian ASI eksklusif. Dalam penelitian yang dilakukan oleh


41

Rachmaniah (2020) mengatakan bahwa ibu yang berpengetahuan

rendah cenderung tidak memberikan ASI eksklusif sedangkan ibu

yang berpengetahuan tinggi semakin tinggi pula keinginan untuk

memberikan ASI eksklusif. Hal ini juga sesuai dengan penelitian

Nurkhayati (2020) yaitu semakin tinggi pengetahuan ibu semakin

tinggi pula motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Penelitian

yang dilakukan oleh Nurkhayati (2020) menunjukkan subjek

penelitiannya memiliki pengetahuan sedang dengan kategori bahwa

subjek sudah mengetahui apa yang dimaksud ASI eksklusif,

kandungan gizi, manfaat, waktu pemberian MP-ASI, teknik menyusui

yang baik dan benar, cara mengatasi masalah dalam menyusui dan

mitos dalam hal menyusui. Pengetahuan ibu yang diperoleh akan

meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi pada pemberian ASI

eksklusif (Nurkhayati, 2020). Dalam buku 7 jurus sukses menyusui

Nurani (2021) juga menyatakan bahwa komponen pengetahuan yang

mendukung niat atau motivasi untuk pemberian ASI eksklusif yaitu

berupa pengetahuan yang menyangkut keunggulan, komposisi,

manfaat, dan keutamaannya.

C. ASI Perah

1. Pengertian ASI perah

ASI perah adalah ASI yang diperah oleh ibu dan disimpan untuk

diberikan kepada bayinya selama ibu bekerja diluar rumah. ASI perah

merupakan metode yang cocok untuk memberikan ASI eksklusif


42

kepada bayi meskipun ibu bekerja di luar rumah. Ibu yang bekerja

masih bisa tetap memberikan ASI eksklusif pada bayinya sampai usia

6 bulan meskipun tidak di rumah yaitu dengan cara mempersiapkan

ASI perah. Kebanyakan ibu yang bekerja kurang mengetahui tata

kelola ASI perah yang baik dan benar pada ibu pekerja. ASI dapat

diperah dengan tangan, pompa ASI manual, ataupun pompa ASI

elektrik. Memerah dengan tangan yang dikenal dengan teknik Mermet

lebih dianjurkan karena lebih mudah dan tidak memerlukan banyak

peralatan (Nurkhayati, 2020).

2. Waktu pemerah ASI

ASI diperah secara rutin menimal setiap 2-3 jam dan tidak

menunggu payudara terasa penuh. Akan lebih sulit untuk memerah

ASI jika payudara sudah bengkak dan terasa nyeri serta akan

menyebabkan penurunan produksi ASI (Rachmaniah, 2020).

3. Cara memerah ASI (Nurkhayati, 2020).

a. Menyiapkan perlengkapan

1) Gelas/cangkir untuk menampung ASI perah.

2) Botol untuk menyimpanan ASI yang sudah diperah.

3) Label atau spidol.

4) Lemari pendingin (refrigator) jika tidak ada bisa

menggunakan Cooler box/termos yang diberi es batu dan

ice pack.

5) Jika diperlukan memerah dapat menggunakan pompa ASI.


43

b. Persiapan sebelum memerah ASI

1) Melakukan sterilisasi wadah ASI. Caranya dengan

memasukan air mendidih ke dalam wadah tersebut, lalu

dibiarkan selama beberapa menit kemudian airnya

dibuang.

2) Menyiapkan lap atau tisu yang bersih.

3) Mencuci tangan sampai bersih, dengan menggunakan

sabun.

4) Kondisi ibu harus tenang dan santai, caranya duduk

dengan nyaman pikirkan bayi atau dengarkan rekaman

suaRPa atau foto bayi.

5) Bila memungkinkan payudara dapat dikompres lebih dulu

dengan lap yang telah dibasahi air hangat.

6) Melakukan pemijatan ringan pada sekeliling payudara.

c. Cara menyimpan ASI perah di tempat kerja

1) Tempat penyimpanan ASI perah disarankan menggunakan

botol kaca, karena lemak-lemak dalam ASI tidak akan

banyak menempel. Selain itu, botol kaca juga relatif

murah dan bisa digunakan berulang kali. Wadah

penyimpan ASI yang dianjurkan adalah botol kaca khusus

ASI, tetapi penggunaan plastik khusus ASI juga

diperbolehkan. Perhatikan apakah wadah tersebut bebas

bisphenol A (BPA Free).


44

2) Bila ASI perah disimpan dalam botol kaca, hendaknya

botol jangan diisi terlalu penuh hal ini dapat menyebabkan

botol pecah saat disimpan dalam freezer. Sisakan 1,5 cm

ruangan kosong pada wadah penyimpan ASI, karena ASI

mengembang saat didinginkan.

3) Pastikan botol yang akan digunakan menyimpan ASI

perah sudah dicuci bersih dengan sabun dan sudah dibilas

air panas/disteriskan.

4) Simpan ASI perah ke dalam botol steril, tutup rapat dan

jangan sampai ada celah yang terbuka.

5) Botol diberi label berupa jam, tanggal pemerahan, dan

nama untuk membedakan ASI perah milik pekerja lainnya.

6) ASI perah harus disimpan dalam lemari pendingin.

Pisahkan ASI perah dengan bahan makanan lain yang

tersimpan dalam lemari pendingin.

d. Cara membawa ASI perah dari tempat kerja ke rumah

1) Pastikan tutup botol tertutup rapat.

2) ASI perah dimasukan ke dalam termos yang sudah diisi es

batu sesuai dengan jumlah botol ASI yang sudah diperah.

3) Pastikan bahwa botol bersentuhan langsung dengan es

batu.
45

e. Cara penyimpanan ASI perah setelah sampai di rumah

1) Setelah sampai di rumah ASI perah dimasukan ke dalam

lemari pendingin selama 1 jam sebelum dimasukan ke

dalam freezer.

2) Bila ASI perah melimpah, untuk jangka panjang sebaiknya

sebagian disimpan dalam freezer dan sebagian disimpan

dalam lemari pendingin untuk jangka pendek.

3) ASI perah disimpan di bagian dalam freezer atau lemari

pendingin, bukan di dekat pintu agar tidak mengalami

perubahan dan variasi suhu.

4) Bila di rumah tidak memiliki lemari pendingin/freezer

maka ASI perah dapat disimpan dalam termos dengan es

batu.

f. Cara menyajikan ASI perah

1) Sehari sebelumnya, ASI perah yang tersimpan di freezer

diturunkan ke lemari pendingin, tujuannya agar pelelehan

ASI perah beku secara bertahap.

2) ASI perah dikeluarkan dari lemari es secara berurutan dari

jam perah paling awal atau First In First Out (FIFO),

3) Mengambil ASI perah sesuai kebutuhan yang kira-kira

bisa langsung dihabiskan.


46

4) ASI perah dihangatkan dengan cara merendam botol yang

berisi ASI perah dalam wadah yang berisi air putih suhu

ruangan lalu diganti dengan yang lebih hangat.

5) ASI perah tidak dihangatkan dengan air mendidih atau

direbus karena dapat merusak kandungan gizi.

6) Menyiapkan cangkir kecil atau cangkir dan sendok untuk

meminumkan ASI perah kepada bayi.

7) Jika ASI perah sudah mencair, kocok ASI secara perlahan

memutar searah jarum jam agar cairan di bawah

bercampur dengan cairan di atas. Cairan atas biasanya

terlihat lebih kental dikarenakan kandungan lemak yang

lebih banyak, bukan berarti ASI tersebut sudah basi.

8) Gunakan segera ASI perah yang telah cair, jika tidak habis

ASI langsung dibuang. Jangan gunakan ASI yang berbau

asam. Sebaiknya berikan ASI dengan sendok, cangkir atau

karena pemberian dengan dot meningkatkan risiko bayi

menjadi bingung puting.


47

D. KerangkaTeori

Faktor – Faktor yang Faktor yang mempengaruhi


mempengaruhi Pengetahuan : keberhasilan Pemberian ASI
Faktor Internal : Eksklusif
Faktor Internal :
Umur
Pendidikan [Link]
Pekerjaan [Link]
Pengalaman 3. Kondisi Kesehatan
4. Persepsi
Faktor Eksternal 5. Usia
Sumber informasi
Lingkungan Faktor Eksternal :
Sosial budaya dan ekonomi [Link]
[Link] Kesehatan
[Link] Orang terdekat
[Link] Susu Formula
[Link]
[Link] Pekerjaan

Keterangan : Yang diteliti

Yang tidak diteliti

Gambar 1 : Kerangka Konseptual Penelitian

.(Ambarwati, 2018)
48

E. KerangkaKonsep

- Umur ibu Pengetahuan


- Pendidikan Pemberian ASI
- Pekerjaan eksklusif

Gambar 2.2 : Kerangka Konsep

Anda mungkin juga menyukai