BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengetahuan
1. Definisi pengetahuan
Pengetahuan dapat diperoleh seseorang secara alami atau
diintervensi baik langsung maupun tidak langsung. Perkembangan
teori pengetahuan telah berkembang sejak lama. Filsuf pengetahuan
yaitu Plato menyatakan pengetahuan sebagai “kepercayaan sejati yang
dibenarkan (valid)” (justified true belief). Menurut Notoatmojo
(2020), pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2020), pengetahuan
adalah sesuatu yang diketahui berkaitan dengan proses pembelajaran.
Proses belajar ini dipengaruhi berbagai factor dari dalam, seperti
motivasi dan factor luar berupa sarana informasi yang tersedia, serta
keadaan social budaya. Pengetahuan adalah informasi atau maklumat
yang diketahui atau disadari oleh seseorang (Budiman, 2021).
Pengetahuan adalah suatu hasil dari rasa keingintahuan melalui
proses sensoris, terutama pada mata dan telinga terhadap objek
tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang penting dalam
terbentuknya perilaku terbuka atau open behavior (Donsu, 2020).
8
9
2. Jenis pengetahuan
1) Pengetahuan Implisit
Pengetahuan implisit adalah pengetahuan yang masih
tertanam dalam bentuk pengalaman seseorang dan berisi faktor-
faktor yang tidak bersifat nyata seperti keyakinan pribadi,
perspektif dan prinsip.
2) Pengetahuan Eksplisit
Pengetahuan eksplisit adalah pengetahuan yang telah
didokumentasikan atau disimpan dalam wujud nyata, bisa dalam
wujud perilaku kesehatan. Pengetahuan nyata dideskripsikan
dalam tindakan-tindakan yang berhubungan dengan kesehatan
(Budiman, 2021).
3. Tahapan pengetahuan
Tahapan pengetahuan menurut Benjamin S. Bloom (2020) ada 6
tahapan, yaitu sebagai berikut.
a. Tahu (know)
Berisikan kemampuan untuk mengenali dan mengingat
peristilahan, definisi, fakta-fakta, gagasan, pola, urutan,
metodologi, prinsip dasar, dan sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan
dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
10
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk
menggunakan materi tersebut secara benar.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan
materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi
masih di dalam satu struktur organisasi dan masih ada kaitannya
satu sama lain.
e. Sintesis (synthesis)
Sintesis merujuk pada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau
objek (Budiman, 2021).
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang,
yaitu:
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan
berlangsung seumur hidup. Pendidikan mempengaruhi proses
11
belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang
tersebut untuk menerima informasi. Dengan pendidikan tinggi
seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi, baik
dari orang lain maupun dari media massa. Semakin banyak
informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang
didapat tentang kesehatan. Pengetahuan sangat erat kaitannya
dengan pendidikan di mana diharapkan seseorang dengan
pendidikan tinggi, maka orang tersebut akan semakin luas pula
pengetahuannya.
b. Massa media/informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal
maupun non-formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek
(immediate impact) sehingga menghasilkan perubahan atau
peningkatan kemajuan. Majunya teknologi akan tersedia
bermacam-macam media massa yang dapat mempengaruhi
pengetahuan masyarakat tentang inovasi baru. Sebagai sarana
komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio,
surat kabar, majalah dan lain-lain. Dalam penyampaian
informasi sebagai tugas pokoknya, media massa membawa pula
pesan-pesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini
seseorang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal
memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya
pengetahuan terhadap hal tersebut.
12
c. Social budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan orang-orang tanpa
melalui penalaran apakah yang dilakukan baik atau buruk.
Dengan demikian seseorang akan bertambah pengetahuannya
walaupun tidak melakukan. Status ekonomi seseorang juga akan
menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk
kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan
mempengaruhi pengetahuan seseorang.
d. Lingkungan
Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar
individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial.
Lingkungan berpengaruh terhadap proses masuknya
pengetahuan ke dalam individu yang berada dalam lingkungan
tersebut. Hal ini terjadi karena adanya interaksi timbal balik
ataupun tidak yang akan direspon sebagai pengetahuan oleh
setiap individu.
e. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan adalah suatu
cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara
mengulang kembali pengetahuan yang diperoleh dalam
memecahkan masalah yang dihadapi masa lalu. Pengalaman
belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan
pengetahuan dan keterampilan professional serta pengalaman
13
belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan
mengambil keputusan yang merupakan manifestasi satu
keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari
masalah nyata dalam bidang kerjanya.
f. Usia
Usia mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir
seseorang. Semakin bertambah usia semakin berkembang pula
daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang
diperolehnya semakin membaik. Pada usia madya, individu akan
lebih berperan aktif dalam masyarakat dan kehidupan social
serta lebih banyak melakukan persiapan demi suksesnya upaya
menyesuaikan diri menuju usia tua, selain itu orang usia madya
akan lebih banyak menggunakan banyak waktu untuk membaca.
5. Pengukuran tingkat pengetahuan
Menurut Skinner, bila seseorang mampu menjawab mengenai
materi tertentu baik secara lisan maupun tulisan, maka dikatakan
seseorang tersebut mengetahui bidang tersebut. Sekumpulan jawaban
yang diberikan tersebut dinamakan pengetahuan. Pengukuran bobot
pengetahuan seseorang ditetapkan menurut hal-hal sebagai berikut:
a. Bobot I : tahap tahu dan pemahaman
b. Bobot II : tahap tahu, pemahaman, aplikasi dan analisis
c. Bobot III : tahap tahu, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis,
dan evaluasi.
14
Pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket
yang menanyakan isi materi yang diukur dari subjek penelitian atau
responden.
Arikunto (2020) membuat kategori tingkat pengetahuan
seseorang menjadi tiga tingkatan yang didasarkan pada nilai
presentase yaitu sebagai berikut:
a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥75%
b. Tingkat pengetahuan kategori Cukup jika nilainya 56-74%.
c. Tingkat pengetahuan kategori Kurang jika nilainya ≤55%
Dalam membuat kategori tingkat pengetahuan bisa juga
dikelompokkan menjadi dua kelompok jika yang diteliti masyarakat
umum, yaitu sebagai berikut:
a. Tingkat pengetahuan kategori Baik jika nilainya ≥50%
b. Tingkat pengetahuan kategori Kurang Baik jika nilainya ≤50%
(Budiman, 2021).
B. Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif
1. Pengertian
Air Susu Ibu (ASI) adalah cairan yang diciptakan khusus yang
keluar langsung dari payudara seorang ibu untuk bayi. ASI merupakan
makanan bayi yang paling sempurna, praktis, murah dan bersih karena
langsung diminum dari payudara ibu. ASI mengandung semua zat gizi
dan cairan yang dibutuhkan bayi untuk memenuhi kebutuhan gizi di 6
bulan pertamanya. Jenis ASI terbagi menjadi 3 yaitu kolostrum, ASI
15
masa peralihan dan ASI mature. Kolostrum adalah susu yang keluar
pertama, kental, berwarna kuning dengan mengandung protein tinggi
dan sedikit lemak (Walyani, 2020).
ASI merupakan suatu cairan yang terbentuk dari campuran dua
zat yaitu lemak dan air yang terdapat dalam lauratn protein, laktosa
dan garam-garam anorganik yang dihasilkan oleh kelenjar payudara
ibu, dan bermanfaat sebagai makanan bayi. ASI sebagai makanan
pertama yang alami untuk bayi. ASI menyediakan semua energi dan
nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk bulan-bulan pertama kehidupan.
(Maryunani, anik, 2020).
ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa
tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, dan
air putih serta tanpa tambahan makanan padat, seperti pisang, bubur
susu, biskuit, bubur nasi, dan nasi tim, kecuali vitamin dan mineral
dan obat (Roesli, 2020). Selain itu, pemberian ASI eksklusif juga
berhubungan dengan tindakan memberikan ASI kepada bayi hingga
berusia 6 bulan tanpa makanan dan minuman lain, kecuali sirup obat.
2. Tahapan ASI
ASI yang dihasilkan oleh ibu memiliki tahapan dan kandungan
yang berbeda-beda, terdapat 3 tahapan ASI yang diproduksi oleh ibu:
a. Kolostrum
Kolostrum adalah cairan yang pertama kali disekresi oleh
kelenjar mammae berwarna kekuning-kuningan yang diproduksi
16
pada hari pertama hingga keempat dengan kandungan protein
dan zat antiinfeksi yang tinggi serta berfungsi sebagai
pemenuhan gizi dan proteksi bayi baru lahir (Astutik Yuli, R.
2020).
b. ASI transisi
ASI transisi adalah air susu ibu yang keluar setelah
kolostrum. ASI peralihan diproduksi 3-5 hari hingga 8-11 hari
dengan kadar lemak, lakotosa dan vitamin larut air yang lebih
tinggi, dan kadar protein, mineral lebih rendah (Widuri, H.
2020).
c. ASI matang
ASI matang adalah air susu ibu yang dihasilkan sekitar 8-
11 hari hingga seterusnya setelah melahirkan dengan kandungan
sekitar 90% air untuk hidrasi bayi dan 10% karbohidrat, protein
dan lemak untuk perkembangan bayi (Widuri, H. 2020). ASI
matang memiliki 2 tipe yaitu foremilk dan hindmilk. Foremilk
diproduksi pada awal menyusui dengan kandungan tinggi
protein, laktosa dan nutrisi lainnya namun rendah lemak, serta
komposisi lebih encer. Sedangkan hindmilk diproduksi
menjelang akhir menyusui dengan kandungan tinggi lemak
(Astutik Yuli, R. 2020).
17
3. Kandungan ASI
ASI merupakan makanan paling ideal dan seimbang bagi
bayi,menurut Astutik Yuli, R (2020), zat gizi yang terkandung dalam
ASI adalah :
a. Nutrien
1) Lemak
Lemak merupakan sumber kalori utama dalam ASI
yang mudah diserap oleh bayi. Asam lemak essensial
dalam ASI akan membentuk asam lemak tidak jenuh
rantai panjang decosahexaenoic acid (DHA) dan
arachidoicacid (AA) yang berfungsi untuk pertumbuhan
otak anak.
2) Karbohidrat
Laktosa merupakan karbohidrat utama dalam ASI
yang bermanfaat untuk meningkatkan absorbs kalsium dan
merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus.
3) Protein
Protein dalam ASI yaituwhey, kasein, sistin, dan
taurin. Sistindan taurin merupakan asam amino yang tidak
dapat ditemukan pada susu sapi. Sistin diperlukan untuk
pertumbuhan somatic dan taurin untuk pertumbuhan anak.
18
4) Garam dan mineral
Kandungan garam dan mineral pada ASI relative
rendah karena ginjal bayi belum dapat mengonsentrasikan
air kemih dengan baik. Kandungan garam dan mineral
pada ASI kalsium, kaliun,natrium, tembaga, zat besi, dan
mangan.
5) Vitamin
Vitamin pada ASI diantaranya vitamin D,E, dan Kb,
Zat Protektif1, Lactobasillus bifidus. Lactobasillus bifidus
berfungsi mengubah laktosa ,menjadi asam laktat dan
asam asetat yang menyebabkan saluran pencernaan
menjadi lebih asam untuk menghambat pertumbuhan
mikroorganisme. Laktoferin berikatan dengan zat besi
untuk menghambat pertumbuhan kuman tertentu seperti
coli dan menghambat pertumbuhan jamur kandida.
b. Zat protektif
1) Lactobasillus bifidus
Lactobasillus bifidus berfungsi mengubah laktosa
menjadi asam laktak dan asam asetat yang menyebabkan
saluran pencernaan menjadi lebih asam untuk
menghambat pertumbuhan mikroorganisme.
19
2) Laktoferin
Laktoferin berikatan dengan zat besi untuk
menghambat pertumbuhan kuman tertentu seperti E. coli
dan menghambat pertumbuhan jamur kandida.
3) Lisozim
Lisozim merupakan faktor protektif terhadap
serangan bakteri pathogen serta penyakit diare.
Komplemen C3 dan C4 Komplemen C3 dan C4 berfungsi
sebagai daya opsonik, anafilaktoksik, dan kemotaktik.
Faktor antistreptokokus melindungi bayi terhadap infeksi
kuman steptokokus. Antibodi dalam ASI dapat bertahan di
dalam saluran pencernaan bayi dan membuat lapisan pada
mukosanya sehingga mencegah bakteri pathogen atau
enterovirus masuk kedalam mukosa usus. Imunitas Seluler
Imunitas seluler berfungsi membunuh dan memfagositosis
mikroorganisme, membentuk C3, C4, lisozim, serta
laktoferin. Tidak menimbulkan Alergi Sistem Ig E pada
bayi belum sempurna, sehingga bayi yang diberikan susu
formula akan merangsang aktivasi system Ig Edan
menimbulkan alergi.
4) Komplemen C3 dan C4
Komplemen C3 dan C4 berfungsi sebagai daya
opsonik, anafilaktoksik, dan kemotaktik.
20
5) Faktor antistreptokokus
Antistreptokokus melindungi bayi terhadap infeksi
kuman steptokokus.
6) Antibodi
Antibodi dalam ASI dapat bertahan didalam saluran
pencernaan bayi dan membuat lapisan pada mukosanya
sehingga mencegah bakteri pathogen atau enterovirus
masuk kedalam mukosa usus.
7) Imunitas seluler
Imunitas seluler berfungsi membunuh dan
memfagositosis mikroorganisme, membentuk C3, C4,
lisozim, serta laktoferin.
8) Tidak menimbulkan alergi
Sistem IgE pada bayi yang belum sempurna,
sehingga bayi yang diberikan susu formula akan
merangsang aktivitas sistem IgE dan menimbulkan alergi.
4. Manfaat ASI
a. Manfaat ASI bagi bayi
1) ASI meningkatkan daya tahan tubuh bayi
ASI adalah cairan hidup yang mengandung zat
kekebalan yang akan melindugi bayi dari berbagai
penyakit infeksi bakteri, virus, parasit dan jamur.
21
2) ASI sebagai nutrisi
ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal
dengan komposisi yang seimbang dengan kebutuhan
pertumbuhan bayi.
3) ASI meningkatkan jalinan kasih sayang
Kontak kulit dini akan berpengaruh terhadap
perkebangan bayi. Walaupun seorang ibu dapat
memberikan kasih saying dengan memberikan susu
formula, tetapi menyusui sendiri akan memberikan efek
psikologis yang besar. Perasaan aman sangat penting
untuk membangun dasar kepercayaan bayi yaitu dengan
mulai mempercayai orang lain (ibu), maka selanjutnya
akan timbul rasa percaya diri pada anak.
4) Mengupayakan pertumbuhan yang baik
Bayi yang mendapat ASI mempunyai kenaikan berat
badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah
periode perinatal yang baik dan mengurangi kemungkinan
[Link] menyusu yang sering juga dibuktikan
bermanfaat karena volume ASI yang dihasilkan lebih
banyak sehingga penurunan berat badan bayi hanya
sedikit.
22
b. Manfaat Menyusui bagi Ibu
1) Mengurangi kejadian kanker payudara
Pada saat menyusui hormone esterogen mengalami
penurunan, sementara itu tanpa aktivitas menyusui, kadar
hormone esterogen tetap tinggi dan inilah yang menjadi
salah satu pemicu kanker payudara karena tidak adanya
keseimbangan hormone esterogen dan progesterone.
2) Mencegah perdarahan pasca persalinan
Perangsangan pada payudara ibu oleh hisapan bayi
akan diteruskan ke otak dank e kelenjar hipofisis yang
akan merangsang terbentunya hormone oksitosin.
Oksitosin membantu mengkontraksikan kandungan dan
mencegah terjadinya perdarahan paca persalinan.
3) Mempercepat pengecilan kandungan
Sewaktu menyusui terasa perut ibu mulas yang
menandakan kandungan berktraksi da degan demikian
pengecilan kandunga teradi lebih cepat.
4) Dapat digunakan sebagai metode KB sementara
Meyusui secara eksklusif dapat mejarangkan
kehamilan. Rata-rata jarak kelahira ibu yag meyusui
adalah 24 bulan sedangkan yang tidak menyusui adalah 11
bulan.
23
Hal yang mempertahankan laktasi bekera meekan
hrm untuk ovulasi, sehingga dapat menunda kembalinya
kesuburan. ASI yang digunakan sebagai meted KB
sementara dengan syarat : bayi belum berusia 6 bulan, ibu
belum haid kembali da ASI diberikan secara eksklusif.
5) Mempercepat kembali ke berat badan semula
Selama hamil, ibu meimbun lemak dibawak kulit.
Lemak ini akan terpakai utuk membetuk ASI, sehigga
apabila ibu tidak menyusui, lemak tersebut akan tetap
tertimbu di dalam tubuh.
6) Steril, aman dari pencemaran kuman
7) Selalu tersedia dengan suhu yang sesuai dengan bayi
8) Megandung antibody yang dapat menghambat
pertumbuhan virus
9) Tidak ada bahaya alergi
c. Manfaat ASI untuk keluarga
1) Praktis
ASI selalu tersedia dimanapun ibu berada dan slalu
dalam kondisi steril, sedangkan pemberian susu formula
yang harusmencuci dan mensterilkan botol sebelum
digunakan.
24
2) Menghemat biaya
ASI diproduksi ibu setiap hari sehingga tidak perlu
biaya seperti membelikan susu formula. Pemberian ASI
dapat menyehatkan bayi sehingga mengehmat pengeluaran
keluarga untuk berobat.
d. Manfaat ASI bagi Negara
1) Menurukan angka kesakitan dan kematian anak
2) Mengurangi subsidi untuk Rumah Sakit
3) Mengurangi devisa untuk membeli susu formula
4) Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa
(Kementerian Kesehatan RI, 2020)
5. Sepuluh langkah menuju keberhasilan menyusui menurut Perinasia
(2020), dalam Astuti Yuli Renik (2020).
Program ini adalah ringkasan praktik maternitas yang diperlukan
untuk mendukung menyusui, adapun 10 langkah tersebut meliputi:
a. Mempunyai kebijakan tertulis tentang menyusui
b. Melatih semua tenaga pelayanan kesehatan dengan keterampilan
untuk menerangkan kebijakan tersebut.
c. Menjelaskan kepada semua bumil tentang manfaat dan
manajemen laktasi
d. Membantu ibu-ibu mulai menyusui bayi dalam waktu 30 menit
setelah melahirkan
25
e. Memperlihatkan kepada ibu-ibu bagaimana cara menyusui dan
cara mempertahankannya
f. Tidak memberikan makanan atau minuman apapun selain ASI
kepada bayi baru lahir
g. Melaksanakan rawat gabung
h. Mendukung pemberian ASI kepada bayi tanpa dijadwalkan
i. Tidak memberikan dot atau kempeng
j. Membentuk dan membantu pengembangan kelompok
pendukung ibu menyusui.
6. ASI Eksklusif
Menurut World Health Organization (WHO), ASI Eksklusif
merupakan pemberian ASI selama 6 bulan tanpa memberikan
makanan tambahan yang lain seperti cairan, susu formula, air putih,
madu ataupun makanan tambahan lain sampai usianya 6 bulan
(Astutik Yuli R, 2020).
ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi selama 6
bulan dan tanpa diberikan makanan tambahan lainnya seperti susu
formula, madu, jeruk, air teh, dan air putih serta makanan padat
lainnya (Septikasari, M. 2020).
7. Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pemberian ASI Eksklusif
Faktor-faktor yang mempengaruhi praktik pemberian ASI
eksklusif menurut Teori Lawrence Green (Notoatmodjo, 2020)
dibedakan menjadi tiga faktor yaitu faktor pemudah (predisposing
26
factors), faktor pendukung (enabling factors), dan faktor pendorong
(reinforcing factors).
a. Faktor pemudah (Predisposing Factors)
1) Umur ibu
Produksi ASI berubah seiring dengan perubahan
umur. Ibu yang berumur 19-23 tahun umumnya memiliki
produksi ASI yang lebih cukup dibandingkan dengan ibu
yang berusia lebih tua. Hal ini terjadi karena adanya
pembesaran payudara setiap siklus ovulasi mulai awal
terjadinya menstruasi sampai umur 30 tahun, namun
terjadi degenerasi payudara setelah umur 30 tahun. Hasil
penelitian Novita dkk, (2020) menunjukkan bahwa ibu
yang lebih banyak memberikan ASI Eksklusif ada di
kelompok umur 17-25 tahun.
Umur adalah lamanya usia ibu yang terhitung mulai
saat dilahirkan sampai berulang tahun. Semakin cukup
umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan
lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Hal ini sebagian
dari pengalaman dan kematangan jiwa. Masa reproduksi
wanita dibagi menjadi 2 periode:
a) Reproduksi (20-35 tahun)
b) Tidak reproduksi (< 20 dan > 35 tahun)
27
Salah satu faktor yang mempengaruhi pemberian
ASI eksklusif adalah umur ibu 20-35 tahun. Umur
seseorang erat kaitannya dengan pengetahuan. Dimana
semakin cukup umur seseorang, tingkat pengetahuannya
akan lebih matang dalam berfikir dan bertindak. Umur
mempengaruhi bagaimana ibu menyusui mengambil
keputusan dalarn pemberian ASI eksklusif, semakin
bertambah umur maka pengalaman dan pengetahuan
semakin bertambah. Selain itu, umur ibu sangat
menentukan kesehatan maternal dan berkaitan dengan
kondisi kehamilan, persalinan dan nifas serta cara
mengasuh dan menyusui bayinya. Ibu yang berumur 20-35
tahun disebut sebagai "masa dewasa" dan disebut juga
masa reproduksi, di mana pada masa ini diharapkan orang
telah marnpu untuk memecahkan masalah-masalah yang
dihadapi dengan tenang secara emosional, terutama dalarn
menghadapi kehamilan, persalinan, nifas dan merawat
bayinya nanti.
2) Tingkat pendidikan
Pendidikan dapat membuat seseorang terdorong
untuk ingin tahu, mencari pengalaman, dan
mengorganisasikan pengalaman sehingga informasi yang
diterima dapat menjadi pengetahuan. Tingkat pendidikan
28
mempengaruhi pemberian ASI eksklusif, dimana ibu yang
berpendidikan tinggi dapat lebih mudah menerima ide
baru dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah.
Informasi tentang ASI eksklusif yang diberikan oleh
petugas kesehatan atau dari media informasi dapat mudah
diterima dan dilaksanakan oleh ibu yang memiliki tingkat
pendidikan tinggi (Untari, 2020).
Menurut PP-No-13-Tahun-2015 tentang perubahan
kedua atas peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005
tentang standar nasional pendidikan, indikator tingkat
pendidikan terdiri dari jenjang pendidikan dan kesesuaian
jurusan serta Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Nomor 21 Tahun 2016 menjelaskan bahwa
jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang
ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta
didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang
dikembangkan, yaitu terdiri dari:
a) Pendidikan dasar: Jenjang pendidikan awal selama 9
(sembilan) tahun pertama masa sekolah anak-anak
yang melandasi jenjang pendidikan menengah yang
dimulai dari SD-SMP.
b) Pendidikan tinggi: Jenjang pendidikan lanjutan dari
pendidikan dasar yaitu SMA sampai perguruan
29
tinggi yang mencakup program sarjana, magister,
doktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh
perguruan tinggi.
Orang yang berpendidikan tinggi akan memberikan
respon yang lebih rasional terhadap informasi yang datang
dan alasan berfikir sejauh mana keuntungan yang mungkin
akan mereka peroleh dari gagasan tersebut. Ibu memiliki
tingkat pendidikan yang lebih tinggi, akan lebih mudah
mengadopsi informasi, makin tinggi pendidikan seseorang
maka makin mudah pula untuk menerima informasi,
misalnya informasi pemberian ASI eksklusif yang baik.
Sebaliknya ibu yang dengan tingkat pendidikan yang
rendah mudah terpengaruh oleh berbagai informasi yang
menjadi hambatan dalam pemberian ASI ekslusif misalnya
pengaruh promosi susu formula. Pendidikan yang dimiliki
oleh orang dewasa akan mempengaruhi perubahan
kemampuan, penampilan, atau perilaku serta tindakannya
karena orang dewasa sudah memiliki pengetahuan, sikap,
keterampilan tertentu yang sudah bertahun-tahun
dipelajarinya jika pengetahuan, sikap, dan sesuatu
tindakan yang belum mereka yakini maka akan sulit
mereka menerima. Olehnya itu pendidikan orang dewasa
dapat efektif menghasilkan perubahan perilaku atau
30
tindakan apabila memiliki tingkatan pendidikan yang
cukup baik.
3) Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini
terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap
suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui
pancaindra manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar
pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga.
Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting
dalam membentuk tindakan seseorang (Notoatmodjo,
2020).
Budimana dan Riyanto (2021) juga membuat
karangka teori tingkat pengetahuam seseorang menjadi
dua tingkatan yaitu didasarkan pada nilai presentase yaitu
sebagai berikut :
a) Tingkat pengetahuan katagori Baik jika nilainya
>50%.
b) Jika pengetahuan katagori kurang jika nilainya
<50%.
Informasi maupun pengalaman yang didapat
seseorang terakait pemberian ASI Eksklusif dapat
mempengaruhi perilaku orang tersebut dalam memberikan
31
ASI Eksklusif. Hal ini telah dibuktikan oleh Asmijati
dalam penelitiannya, yaitu ibu yang memiliki pengetahuan
yang baik memiliki kemungkinan 5,47 kali lebih besar
untuk menyusui secara Eksklusif dari ibu yang memiliki
pengetahuan rendah (Pertiwi, P. 2020).
Ketidakpahaman ibu mengenai colostrum yakni ASI
yang keluar pada hari pertama hingga kelima atau ketujuh.
Colostrum merupakan cairan jernih kekuningan yang
mengandung zat putih telur atau protein dengan kadar
tinggi serta zat infeksi atau zat daya tahan tubuh
(Immunoglubin) dalam kadar yang lebih tinggi ketimbang
ASI mature yaitu ASI yang berumur lebih dari tiga hari.
Kebiasaan membuang colostrum merupakan susu basi lalu
menggantinya dengan susu formula atau makanan lainnya
(Prasetyono, 2020).
4) Sikap ibu
Menurut Notoatmodjo (2020), sikap adalah reaksi
atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap
suatu stimulus atau objek. Sikap merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan
pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu
tindakan atau aktivitas, tetapi merupakan predisposisi
tindakan suatu perilaku. Dalam arti lain, sikap masih
32
merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi
terbuka atau tingkah laku yang terbuka.
Sikap sebagai bentuk kesiapan untuk bereaksi
terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu
penghayatan terhadap objek. Terbentuknya sebuah sikap
dipengaruhi oleh pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan
emosi. Dalam berpikir ini, komponen emosi dan
keyakinan ikut bekerja sehingga ibu tersebut berniat
memberikan ASI Eksklusif kepada bayinya selama 0-6
bulan untuk mencegah supaya anaknya tidak terkena gizi
kurang, Ibu mempunyai sikap tertentu terhadap objek (ASI
eksklusif) yang dapat berperan dalam pencegahan gizi
kurang.
Sikap dapat pula bersifat positif dan dapat pula
bersifat negatif, antara lain:
a) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah
mendekati, menyenangi, mengharapkan objek
tertentu.
b) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk
menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai
objek tertentu.
33
5) Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang mampu
menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim (28
minggu). Paritas dapat dibedakan menjadi:
a) Primipara (satu kali melahirkan)
b) Multipara (> satu kali melahirkan)
Berdasarkan teori yang ada, ibu multipara
berpeluang besar untuk memberikan ASI eksklusif karena
sudah mempunyai pengalaman dengan anak pertama atau
sebelumya. Dari hasil analisa data menunjukkan
responden dengan multipara tidak memberikan ASI
eksklusif dikarenakan minimnya pengetahuan (latar
belakang pendidikan rendah), tidak bekerja dan ekonomi
yang rendah. Ibu multipara tidak memberikan ASI
eksklusif karena ibu kurangnya motivasi dari suami dan
keluarga. Pada seorang ibu yang mengalami laktasi kedua
dan seterusnya cenderung untuk lebih baik daripada
pertama. Laktasi yang kedua yang dialami ibu berarti telah
memiliki pengalaman dalam memberikan ASI eksklusif.
Sedangkan pada laktasi yang pertama ibu belum
mempunyai pengalaman dalam menyusui. Prevalensi
menyusui ekslusif meningkat dengan bertambahnya
jumlah anak dimana anak ke tiga atau lebih akan banyak
34
disusui secara eksklusif dibandingkan dengan anak ke dua
atau pertama. Tingkat paritas telah banyak menentukan
perhatian dalam kesehatan ibu dan anak. Dikatakan
demikian karena terdapat kecenderungan kesehatan ibu
berparitas tinggi lebih baik daripada ibu berparitas rendah.
Di dalam teori Green (1991) menyebutkan bahwa paritas
merupakan salah satu faktor pencetus yang dapat
mempengaruhi perilaku kesehatan.
6) Status pekerjaan
Pekerjaan adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan
oleh seseorang dengan maksud memperoleh pendapatan
atau keuntungan (Badan Pusat Statistik, 2020). Ibu yang
bekerja adalah ibu yang memiliki peran ganda yaitu
sebagai ibu rumah tangga dan sebagai wanita pekerja.
Salah satu hambatan pemberian ASI yaitu karena ibu tidak
mempunyai waktu. Ibu yang sibuk bekerja dalam mencari
nafkah baik untuk kehidupan dirinya maupun untuk
membantu keluarga, maka kesempatan untuk pemberian
ASI masih kurang dibandingkan dengan ibu yang tidak
bekerja (Paramita, 2020). Karateristik pekerjaan sebagai
berikut :
a) Tidak bekerja : jika ibu tidak memiliki kesibukan
(IRT)
35
b) Bekerja : jika ibu mempunyai kesibukan (PNS,
wiraswasta, guru, penjahit, petani, dll)
Ibu yang bekerja di luar rumah dapat lebih praktis
mempompa ASI untuk anaknya diruang pojok ASI. Ibu
yang Perlu dilakukan usaha untuk memberikan informasi
dan motivasi menyusui pada ibu yang tidak bekerja
maupun ibu yang bekerja tentang prinsip pemberian ASI
eksklusif baik secara langsung maupun tidak langsung.
Menyusui sebenarnya tidak saja memberi keesempatan
pada bayi untuk menjadi manusia yang sehat secara fisik
saja, tapi juga lebih cerdas, mempunyai emosional yang
stabil, perkembangan spiritual yang baik, serta
perkembangan sosial yang baik. Selain itu, pada ibu yang
bekerja, singkatnya masa cuti hamil atau melahirkan
mengakibatkan sebelum masa pemberian ASI eksklusif
berakhir sudah harus kembali bekerja. Hal ini
mengganggu upaya pemberian ASI eksklusif. ASI
eksklusif harus dijalani selama 6 bulan tanpa intervensi
makanan dan minuman lain, sedangkan cuti hamil dan
melahirkan hanya diberikan selama 3 bulan.
36
b. Faktor Pemungkin (Enabling Factors)
1) Pendapatan keluarga
Pendapatan keluarga merupakan penghasilan yang
diperoleh oleh suami istri dari berbagai kegiatan ekonomi
sehari-hari, misalnya gaji yang dapat digunakan untuk
memenuhi kebutuhan keluarga (Maulida dkk, 2020).
Keluarga yang mempunyai cukup pangan dapat lebih
tinggi dalam memberi ASI eksklusif dari pada ibu yang
tidak mempunyai cukup pangan, karena kualitas ASI
menjadi baik jika ibu mengonsumsi makanan yang bergizi.
Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan keluarga
memiliki hubungan dengan pemberian ASI eksklusif
(Haryono, 2020).
2) Kesehatan ibu
Kondisi kesehatan ibu sangat berpengaruh terhadap
pemberian ASI eksklusif. Menurut Rahmawati (2020),
kondisi kesehatan ibu yang tidak dapat memberikan ASI
eksklusif karena harus mendapatkan perawatan antara lain:
a) Ibu yang terinfeksi HIV/AIDS.
b) Ibu dengan penyakit TBC tidak diobati dan masih
aktif.
c) Ibu yang menggunakan obat-obatan terlarang atau
alkohol dalam jumlah berlebihan.
37
d) Ibu dengan penyakit herpes yang aktif pada
payudara.
e) Ibu dengan penyakit varisella (cacar).
3) Promosi susu formula
Promosi merupakan bentuk dari komunikasi
pemasaran dalam bentuk serangkaian aktivitas-aktivitas
yang menyeluruh untuk memasarkan sesuatu baik untuk
tujuan finansial. Susu formula adalah susu yang dibuat
khusus untuk bayi yang kandungannya menyerupai
dengan kandungan air susu ibu (ASI), tetapi tidak seluruh
zat gizi yang terkandung didalamnya dapat diserap oleh
bayi. Susu formula dibuat dengan menggunakan ASI
sebagai patokan nutrisi bergizi dan diproduksi secara
komersial.
Keberhasilan ASI eksklusif tidak pernah terjadi
apabila iklan susu formula baik dimedia masa maupun
media elekronik lainnya masih mempengaruhi tenaga
kesehatan dan ibu untuk memberikan susu formula kepada
bayi (Astuti, I. 2019).
Bayi yang mengonsumsi ASI dinilai memiliki
komposisi tubuh yang berbeda dengan bayi yang
mengonsumsi susu formula (Pertiwi, P. 2020).
38
Menurut Prasetyono (2020) menyebutkan ada beberapa
faktor yang membuat sebagian ibu tidak menyusui
anaknya. Salah satunya adalah promosi yang terlampau
gencar dari pihak produsen susu dan makanan
pendamping ASI. Inilah yang membuat peran ibu
terpengaruh untuk menggantikan ASI sebagai makanan
utama bayi dengan susu formula. Promosi ini sangat
mempengaruhi pemikiran ibu yang kurang memiliki
pengetahuan yang luas tentang ASI. Dengan adanya
promosi tersebut, para ibu dibujuk agar mempercayai
ucapan mereka dan mulai menggunakan susu formula
sebagai pengganti ASI. Bagi peran ibu menggunakan susu
formula dianggap lebih mendatangkan semacam
kelonggaran karena mereka tidak perlu selalu siap sedia
memberikan ASI kepada bayinya (Prasetyono, 2020).
c. Faktor Penguat (Reinforcing Factors)
1) Dukungan keluarga
Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan
penerimaan keluarga dalam mendukung ibu untuk
menyusui dan selalu siap untuk memberikan bantuan jika
ibu membutuhkan. Dukungan dari keluarga termasuk
suami, orang tua, atau saudara lainnya sangat berperan
penting dalam keberhasilan ibu menyusui karena pengaruh
39
keluarga berdampak pada emosi ibu sehingga secara tidak
langsung mempengaruhi produksi ASI (Tiyas, 2021).
2) Dukungan petugas kesehatan
Petugas kesehatan merupakan komponen utama
yang turut berperan dan memberikan kontribusi terhadap
berhasilnya upaya promosi pemberian ASI eksklusif
karena mereka yang selalu kontak langsung dan dipercaya
oleh masyarakat serta mempunyai kesempatan yang
banyak dan memungkinkan untuk memberikan penjelasan
dan penyuluhan tentang ASI (Rahmawati, 2020).
Dukungan yang diberikan petugas kesehatan dapat berupa
peningkatan pemberian edukasi tentang pentingnya ASI
eksklusif, langkah memberikan ASI kepada bayi, makanan
yang mendukung produksi ASI, dan topik lain yang
mendukung ibu untuk memberikan ASI eksklusif
(Wulandari dan Pramono, 2020).
8. Pengetahuan tentang pemberian ASI Eksklusif
Pengetahuan adalah salah satu faktor keberhasilan pemberian
ASI eksklusif. Pengetahuan merupakan salah satu komponen yang
dapat mewujudkan dan mendukung terjadinya suatu perilaku
(Notoadmodjo, 2020). Pendidikan juga merupakan salah satu faktor
penting yang mendorong seseorang untuk lebih perduli dan
termotivasi untuk meningkatkan derajat kesehatan dirinya dan
40
keluarganya. Pendidikan menjadikan seseorang memiliki pengetahuan
yang luas dan pola pikirnya terbangun dengan baik, sehingga
kesadaran untuki berperilaku positif termasuk dalam hal kesehatan
semakin meningkat (Ningrum, 2022).
Menurut penelitian, semakin rendah pengetahuan maka semakin
rendah kesadaran ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya
(Lestari, 2021). Hasil penelitian Merdika (2021) menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh penyuluhan ASI eksklusif terdapat peningkatan
pengetahuan ibu menyusui selama pemberian ASI. Namun seseorang
yang memiliki Pendidikan rendah belum tentu memiliki pengetahuan
yang rendah pula, karena pengetahuan tidak hanyak diperoleh dari
Pendidikan formal saja, namun ada beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang misalnya lingkungan,
pengalaman dan paparan media massa.
Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif mempengaruhi
kesuksesan dalam pemberian ASI eksklusif. Ibu yang memiliki
pendidikan rendah tentang ASI eksklusif cenderung kurang siap dalam
memberikan ASI eksklusif, sedangkan ibu yang memiliki tingkat
Pendidikan tinggi namun kurang siap dalam pemberian ASI eksklusif
lebih disebabkan karena aktivitas yang dijalani (Marzida, 2020).
9. Dampak pengetahuan ibu tentang ASI Eksklusif
Dampak pengetahuan ibu sangat berpengaruh terhadap
pemberian ASI eksklusif. Dalam penelitian yang dilakukan oleh
41
Rachmaniah (2020) mengatakan bahwa ibu yang berpengetahuan
rendah cenderung tidak memberikan ASI eksklusif sedangkan ibu
yang berpengetahuan tinggi semakin tinggi pula keinginan untuk
memberikan ASI eksklusif. Hal ini juga sesuai dengan penelitian
Nurkhayati (2020) yaitu semakin tinggi pengetahuan ibu semakin
tinggi pula motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Penelitian
yang dilakukan oleh Nurkhayati (2020) menunjukkan subjek
penelitiannya memiliki pengetahuan sedang dengan kategori bahwa
subjek sudah mengetahui apa yang dimaksud ASI eksklusif,
kandungan gizi, manfaat, waktu pemberian MP-ASI, teknik menyusui
yang baik dan benar, cara mengatasi masalah dalam menyusui dan
mitos dalam hal menyusui. Pengetahuan ibu yang diperoleh akan
meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi pada pemberian ASI
eksklusif (Nurkhayati, 2020). Dalam buku 7 jurus sukses menyusui
Nurani (2021) juga menyatakan bahwa komponen pengetahuan yang
mendukung niat atau motivasi untuk pemberian ASI eksklusif yaitu
berupa pengetahuan yang menyangkut keunggulan, komposisi,
manfaat, dan keutamaannya.
C. ASI Perah
1. Pengertian ASI perah
ASI perah adalah ASI yang diperah oleh ibu dan disimpan untuk
diberikan kepada bayinya selama ibu bekerja diluar rumah. ASI perah
merupakan metode yang cocok untuk memberikan ASI eksklusif
42
kepada bayi meskipun ibu bekerja di luar rumah. Ibu yang bekerja
masih bisa tetap memberikan ASI eksklusif pada bayinya sampai usia
6 bulan meskipun tidak di rumah yaitu dengan cara mempersiapkan
ASI perah. Kebanyakan ibu yang bekerja kurang mengetahui tata
kelola ASI perah yang baik dan benar pada ibu pekerja. ASI dapat
diperah dengan tangan, pompa ASI manual, ataupun pompa ASI
elektrik. Memerah dengan tangan yang dikenal dengan teknik Mermet
lebih dianjurkan karena lebih mudah dan tidak memerlukan banyak
peralatan (Nurkhayati, 2020).
2. Waktu pemerah ASI
ASI diperah secara rutin menimal setiap 2-3 jam dan tidak
menunggu payudara terasa penuh. Akan lebih sulit untuk memerah
ASI jika payudara sudah bengkak dan terasa nyeri serta akan
menyebabkan penurunan produksi ASI (Rachmaniah, 2020).
3. Cara memerah ASI (Nurkhayati, 2020).
a. Menyiapkan perlengkapan
1) Gelas/cangkir untuk menampung ASI perah.
2) Botol untuk menyimpanan ASI yang sudah diperah.
3) Label atau spidol.
4) Lemari pendingin (refrigator) jika tidak ada bisa
menggunakan Cooler box/termos yang diberi es batu dan
ice pack.
5) Jika diperlukan memerah dapat menggunakan pompa ASI.
43
b. Persiapan sebelum memerah ASI
1) Melakukan sterilisasi wadah ASI. Caranya dengan
memasukan air mendidih ke dalam wadah tersebut, lalu
dibiarkan selama beberapa menit kemudian airnya
dibuang.
2) Menyiapkan lap atau tisu yang bersih.
3) Mencuci tangan sampai bersih, dengan menggunakan
sabun.
4) Kondisi ibu harus tenang dan santai, caranya duduk
dengan nyaman pikirkan bayi atau dengarkan rekaman
suaRPa atau foto bayi.
5) Bila memungkinkan payudara dapat dikompres lebih dulu
dengan lap yang telah dibasahi air hangat.
6) Melakukan pemijatan ringan pada sekeliling payudara.
c. Cara menyimpan ASI perah di tempat kerja
1) Tempat penyimpanan ASI perah disarankan menggunakan
botol kaca, karena lemak-lemak dalam ASI tidak akan
banyak menempel. Selain itu, botol kaca juga relatif
murah dan bisa digunakan berulang kali. Wadah
penyimpan ASI yang dianjurkan adalah botol kaca khusus
ASI, tetapi penggunaan plastik khusus ASI juga
diperbolehkan. Perhatikan apakah wadah tersebut bebas
bisphenol A (BPA Free).
44
2) Bila ASI perah disimpan dalam botol kaca, hendaknya
botol jangan diisi terlalu penuh hal ini dapat menyebabkan
botol pecah saat disimpan dalam freezer. Sisakan 1,5 cm
ruangan kosong pada wadah penyimpan ASI, karena ASI
mengembang saat didinginkan.
3) Pastikan botol yang akan digunakan menyimpan ASI
perah sudah dicuci bersih dengan sabun dan sudah dibilas
air panas/disteriskan.
4) Simpan ASI perah ke dalam botol steril, tutup rapat dan
jangan sampai ada celah yang terbuka.
5) Botol diberi label berupa jam, tanggal pemerahan, dan
nama untuk membedakan ASI perah milik pekerja lainnya.
6) ASI perah harus disimpan dalam lemari pendingin.
Pisahkan ASI perah dengan bahan makanan lain yang
tersimpan dalam lemari pendingin.
d. Cara membawa ASI perah dari tempat kerja ke rumah
1) Pastikan tutup botol tertutup rapat.
2) ASI perah dimasukan ke dalam termos yang sudah diisi es
batu sesuai dengan jumlah botol ASI yang sudah diperah.
3) Pastikan bahwa botol bersentuhan langsung dengan es
batu.
45
e. Cara penyimpanan ASI perah setelah sampai di rumah
1) Setelah sampai di rumah ASI perah dimasukan ke dalam
lemari pendingin selama 1 jam sebelum dimasukan ke
dalam freezer.
2) Bila ASI perah melimpah, untuk jangka panjang sebaiknya
sebagian disimpan dalam freezer dan sebagian disimpan
dalam lemari pendingin untuk jangka pendek.
3) ASI perah disimpan di bagian dalam freezer atau lemari
pendingin, bukan di dekat pintu agar tidak mengalami
perubahan dan variasi suhu.
4) Bila di rumah tidak memiliki lemari pendingin/freezer
maka ASI perah dapat disimpan dalam termos dengan es
batu.
f. Cara menyajikan ASI perah
1) Sehari sebelumnya, ASI perah yang tersimpan di freezer
diturunkan ke lemari pendingin, tujuannya agar pelelehan
ASI perah beku secara bertahap.
2) ASI perah dikeluarkan dari lemari es secara berurutan dari
jam perah paling awal atau First In First Out (FIFO),
3) Mengambil ASI perah sesuai kebutuhan yang kira-kira
bisa langsung dihabiskan.
46
4) ASI perah dihangatkan dengan cara merendam botol yang
berisi ASI perah dalam wadah yang berisi air putih suhu
ruangan lalu diganti dengan yang lebih hangat.
5) ASI perah tidak dihangatkan dengan air mendidih atau
direbus karena dapat merusak kandungan gizi.
6) Menyiapkan cangkir kecil atau cangkir dan sendok untuk
meminumkan ASI perah kepada bayi.
7) Jika ASI perah sudah mencair, kocok ASI secara perlahan
memutar searah jarum jam agar cairan di bawah
bercampur dengan cairan di atas. Cairan atas biasanya
terlihat lebih kental dikarenakan kandungan lemak yang
lebih banyak, bukan berarti ASI tersebut sudah basi.
8) Gunakan segera ASI perah yang telah cair, jika tidak habis
ASI langsung dibuang. Jangan gunakan ASI yang berbau
asam. Sebaiknya berikan ASI dengan sendok, cangkir atau
karena pemberian dengan dot meningkatkan risiko bayi
menjadi bingung puting.
47
D. KerangkaTeori
Faktor – Faktor yang Faktor yang mempengaruhi
mempengaruhi Pengetahuan : keberhasilan Pemberian ASI
Faktor Internal : Eksklusif
Faktor Internal :
Umur
Pendidikan [Link]
Pekerjaan [Link]
Pengalaman 3. Kondisi Kesehatan
4. Persepsi
Faktor Eksternal 5. Usia
Sumber informasi
Lingkungan Faktor Eksternal :
Sosial budaya dan ekonomi [Link]
[Link] Kesehatan
[Link] Orang terdekat
[Link] Susu Formula
[Link]
[Link] Pekerjaan
Keterangan : Yang diteliti
Yang tidak diteliti
Gambar 1 : Kerangka Konseptual Penelitian
.(Ambarwati, 2018)
48
E. KerangkaKonsep
- Umur ibu Pengetahuan
- Pendidikan Pemberian ASI
- Pekerjaan eksklusif
Gambar 2.2 : Kerangka Konsep