0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan12 halaman

Tantangan Cinta di Kelas Neera

Neera mengalami hari yang kacau setelah terlibat dalam permainan 'true or dare' di kelas, di mana dia ditantang untuk menyatakan cinta kepada Anan. Meskipun awalnya merasa percaya diri, situasi menjadi canggung ketika Anan merespons dengan serius, membuat Neera merasa malu dan terpojok. Akhirnya, setelah berlarian dari situasi memalukan, Neera berusaha menghindar dari Anan, tetapi dia menyadari bahwa permainan tersebut mungkin tidak berakhir seperti yang dia harapkan.

Diunggah oleh

sakurachan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan12 halaman

Tantangan Cinta di Kelas Neera

Neera mengalami hari yang kacau setelah terlibat dalam permainan 'true or dare' di kelas, di mana dia ditantang untuk menyatakan cinta kepada Anan. Meskipun awalnya merasa percaya diri, situasi menjadi canggung ketika Anan merespons dengan serius, membuat Neera merasa malu dan terpojok. Akhirnya, setelah berlarian dari situasi memalukan, Neera berusaha menghindar dari Anan, tetapi dia menyadari bahwa permainan tersebut mungkin tidak berakhir seperti yang dia harapkan.

Diunggah oleh

sakurachan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Hari masih pagi saat bu adiba baru saja melangkah gontai

keluar kelas kami sambil membenahi rambutnya yang terlanjur

kusut karena diacak-acaknya saat mengajar kami beberapa jam

lalu. Aku duduk santai sambil menunggu guru selanjutnya datang

sambil iseng mencoreti selembar kertas dengan gambar-gambar

abstrak. Semalam aku sempat terserang insomnia yang berefek

sangat banyak dan beruntun, aku sangat mengantuk, sesekali

hasrat defekasi muncul karena pagi ini aku tak sempat, saking

terburu-burunya agar tidak terlambat masuk kelas, dan lagi

penampilanku mungkin sudah seperti para penderita parkinson.

Aku benar-benar kacau hari ini.

Sebelumnya, panggil saja aku neera. 

“ra, ngapain lo ngurekin buku mulu?” Tiba-tiba revi

berteriak dari sudut kelas sambil lehernya memanjang berusaha

melihatku, memang posisinya sekarang sedang duduk lesehan

dilantai bersama 3 orang temanku yang lain, ane, inge, dan cloe.

“gue bosen nih!” Balasku setengah menguap.

“sini gabung bareng kita aja!” Kulihat inge melambai-

lambaikan tangannya menyuruhku duduk bersama.

Aku menurut dan berjalan agak malas kemudian duduk

disamping cloe. “apaan nih?”


“ini tod” jawab ane cepat.

“apaan lagi tuh?” Kataku malas sambil menyeritkan dahi.

“t itu true, artinya kebenaran. Kalo lo milih ini berarti lo

harus siap jujur ngejawab semua pertanyaan kita.” Revi

menjelaskan.

“sedangkan d itu dare, artinya berani. Dengan kata lain lo

harus berani ngejalanin tantangan apapun yang kita kasih buat

lo! Paham?” Sambung inge yang langsung dijawab dengan

anggukan malas olehku. Permainan pun dimulai dengan

hompimpah.

Sial! Aku kena!

“oyeah!” Ujar keempat rekanku ini spontan dan

bersamaan.

“ya ya, gue kena. Sekarang gue harus apa?”

Mereka berempat saling berpandangan dan tersenyum misterius.

Sedangkan aku, duduk lesehan dengan raut muka ngenes dan

curiga banget. Perasaan gue mulai ga enak nih!

“true or dare?” Tanya revi mengajukan pilihan. Aku

menelan ludah.
“dare aja deh! Emang mau nantangin gue apa?” Celetukku

songong.

Keempat orang ini berekspresi makin aneh, pake menyeringai

pula.

“dare: lo kita tantangin nembak Anan prihastyan!”

Dengan pedenya aku mengangkat sebelah alis dan

menjentikan jari tanda :”kecil itu mah buat gue”. Cepat aku

berjalan menghampiri Anan yang tengah sibuk dengan

obrolannya bersama anak cowok lain dibawah kipas angin.

Aku berdehem pelan. Anan menoleh dan tampak

kebingungan melihatku dan beberapa siswi lain sudah berdiri

dibelakangnya, memasang ekspresi datar.

“lo, Anan! Mau ga jadi cowok gue?” Kataku lantang.

Seketika hening. Bahkan suara semut buang angin pun

terdengar amat jelas (hiperbola).

“gue?” Anan menunjuk dadanya, aku mengangguk angkuh.

Sontak seisi kelas menggemakan gelak tawa dan ledekan, tak

sedikit yang bersiul. Tapi aku tetap dalam posisiku, dalam

sebuah tantangan, dengan perasaan dan ekspresi wajah datar.

Semuanya baik-baik saja, tapi tiba-tiba parkinson-ku kambuh


karena pemandangan didepanku sekarang berubah sangat

cepat. Anan, si kambing hitam dalam permainan ini tersenyum

pada kedua matanya. Aku mencium gelagat aneh dari aura

disekelilingnya. Kali ini entah kenapa aku benar-benar gugup,

hasrat defekasi-ku kambuh.

“gue ga salah denger kan? Barusan itu, lo nembak gue

kan, neera?” Tanyanya lunak hampir sehalus hembusan angin.

Dan belakangan aku baru sadar, cowok ini punya badan yang

lumayan tinggi dan atletis banget. Tapi ada yang lebih gawat!

Entah kenapa Anan sekarang berjalan lurus- setengah terhuyung

setelah turun dari tempat duduknya diatas meja-namun pasti

kearahku. Wajahnya yang dihiasi guratan aneh itu membuat

degup jantungku makin keras berdentum.

“ntar. Ntar! Jangan deket-deket!” Ancamku masih sambil

melangkah mundur seirama dengan langkah maju Anan.

“kenapa?” Anan berbisik sangat lembut membuatku

merinding hebat.

“apa-apaan sih…?!” Sergahku- menahan berat tubuh Anan

yang sialnya ia condongkan kepadaku- yang sekarang benar-

benar sudah terpojok oleh dinding. Bisa kurasakan dinginnya

dinding kelas yang menempel dipunggungku.


“kenapa?” Sekali lagi ia ucapkan kata-kata itu. Aku benar-

benar malu.

“ya, jangan terlalu de…” Belum sempat aku selesai dengan

ucapanku, Anan sudah lebih dulu mengurungku diantara dua

lengannya.

Apa-apaan sih ni orang?!

“jangan tegang gitu dong, ini cara gue nerima pernyataan

cinta cewek, jadi siapin diri lo ya.” Anan berbisik lembut ditelinga

kiriku, membuat bulu kudukku makin merebang.

Aku tak berani membuka mata, saking takutnya sekarang

tubuhku tak bisa bergerak. Jadi terkesan pasrah.

“jangan sampe gue yang menangin permainan ini. Ayo,

melawanlah.” Bisiknya pas ditelingaku. Ini pertamakalinya aku

dibisikin oleh laki-laki. Tapi setelah mendengar bisikannya, aku

jadi seolah diberi kekuatan. Aku dorong tubuhnya menjauhiku.

Tindakanku tak pelak menyulut sorakan dan siulan panjang dari

anak-anak kelas. Saking malunya, aku tak berani bicara dan

langsung berlari meninggalkan seisi kelas yang semakin gencar

menyoraki adegan tadi.

“hosh hosh hosh” terengah-engah aku menata napasku

habis berlari menghindari siswa siswi sekolah yang seketika


menjelma menjadi paparazzi. “hah? Yang bener aja? Apa-apaan

sih tu cowok? Mau ditaruh mana muka gue? Huh! Awas aja ya lo

Anan!!!”

Seperempat jam lamanya aku terjebak dalam situasi ini,

malu dan marah! Saking kesalnya aku sampai tidak berani

kembali kekelas bahkan sampai jam pulang sekolah. Entah apa

hukuman dari guru bp kalau sampai ketahuan.

Setelah lingkungan sekolah sudah kurasa benar-benar sepi,

aku pun memberanikan diri masih dengan perasaan was-was

kembali kekelas untuk mengambil tas yang memang tadi

tertinggal.

“huf, jangan sampe ada yang liat gue.” Kataku bicara

sendiri.

Dan sesampainya dikelas, tepat saat aku baru saja

melangkah masuk kedalam, tiba-tiba aku mendengar suara yang

sudah tak asing. Setelah kuingat-ingat, ini hari rabu! Berarti

jadwal piket hari ini dipegang oleh…

“Anan?!” Aku memekik dalam hati. Keringatku langsung

mengucur saat mendapati sosok mengerikan itu. Berjinjit-jinjit

aku melangkahkan kaki agar suara sepatuku tak sampai

mengusiknya. Sampai tiba-tiba…


“lah? Cuma gue sendiri yang piket nih? Kampret si raka,

main kabur aja.”

Kalian pasti heran kenapa Anan tak sampai memergokiku,

karena sekarang aku sudah berada dibalik tanaman hias yang

tumbuh subur dan kebetulan memang dari spesies tumbuhan

yang dapat tumbuh sangat lebat, jadi untungnya bagiku jadi bisa

bersembunyi disini.

“balik ah.” Kata Anan bicara pada diri sendiri. Aku langsung

menghela napas lega, bahagianyaa. Saat aku hendak mengintip

untuk memastikan, sungguh tragis, miris, dan dramatis.

Pandangan kami bertemu!!!

Haissshh! Aku langsung menarik kepalaku kembali bersembunyi

yang sebenarnya memang percuma karena Anan pasti sudah

mengetahui persis keberadaanku. Aku menahan napas agar

cowok yang paling tak ingin kulihat wajahnya itu tidak bertindak

lebih jauh untuk mencari tahu.

“ngapain lo disitu? Gak perlu lagi lo sembunyi. Gue udah

tau dari awal juga.” Kata Anan jelas dengan nada menantang.

Aku langsung lemas, pasti dia akan menertawakanku,

mengejekku, menjelek-jelekkan aku di social media, menulis

rumor dan gossip aneh tentangku di mading, menyerukan

namaku saat upacara hari senin, daan…


“udah gue bilang gak perlu sembunyi!” Katanya lagi, yang

langsung membuyarkan lamunanku. “gak perlu sampe mikir

sejauh itu, lebay banget!” Lanjutnya yang langsung membuatku

mikir keras. Kok dia tau kalo gue mikirin sesuatu yang dramatis,

miris, dan lebay?

“ooh. Jadi lo mau gue samperin aja? Oke, gue kesitu

sekaraang~” Anan kembali bicara dengan nada menggelikan

saat tahu aku tak meresponnya beberapa menit ini.

“eh-eh! Apaan sih lo? Gak lucu tau!” Kataku menyerah dan

langsung muncul dari balik tanaman hias.

Anan tersenyum geli, diperhatikannya aku dari ujung ke ujung.

Dan hal itu membuat senyumnya pecah menjadi tawa yang

hebat. Aku cemberut, kesal sekali ditertawakan begitu.

“kenapa sih lo? Gak ada yang lucu! Dasar bego!”

Celetukku lalu berlalu melewatinya yang memang masih berdiri

dengan cengengesannya di depan pintu kelas.

“oh iya, soal tadi…” Anan menggantungkan kalimatnya,

mau tak mau memaksaku yang tadinya membelakanginya untuk

berbalik.

“apa?! “ kataku tajam, sambil melotot.


“gue suka.” Lanjutnya. Keringatku langsung mengucur.

Cepat-cepat ku sergah ucapannya.

“tunggu dulu, tunggu dulu. Jangan salah paham dulu oke?!

Lo tau itu cuma game kan? Iya gue tau itu payah, lo pasti merasa

dirugikan, tapi plis jangan berlebihan. Gue juga ngerasa

dirugikan. Jadi…” Giliranku yang menggantungkan kalimat.

Anan mengangkat sebelah alisnya dan menungguku

melanjutkan ucapan dengan tidak sabar. “jadi?” Ia mengulang

kata-kataku sambill berjalan mendekat.

“jangan mendekat!” Reflek saraf motorikku memasang

kuda-kuda. “jadi, tolong anggap aja gue gak pernah nembak lo!

Dan gue bisa pura-pura gak kenal sama lo, biar kita bisa aman

satu sama lain. Gak akan ada yang merasa malu atau dirugikan.

Oke?”

Hening sesaat, baik aku maupun Anan sama-sama diam.

Aku dengan pikiranku yang ngotot ingin menyelesaikan masalah,

dan Anan yang aku yakin juga akan menjawab…

“enggak.” Ucap Anan pelan, tapi tandas.

Hapaaah?! Aku hampir tak percaya. Maksudku, yang benar saja?

Aku yakin tadi dia juga kelihatan tidak suka dengan

permainanku. Harusnya kan dia menjawab…


“enggak.” Ulangnya. “gue gak mau permainan itu cuma

sampe sini.”

Hapaaaah lagi??!!

“udah jelas kan? Emang lo yang mulai semuanya, tapi

dalam hal ini gue yang bakal nentuin endingnya.” Anan

menjelaskan dengan bahasa tubuh yang hampir tidak

menyiratkan kegugupan samasekali. Beda denganku yang

sekarang mulai ketar ketir bergidik ketakutan. Anan masih

dengan senyum manisnya, menepuk puncak kepalaku tiga kali

lalu berbisik.

“yuk bareng.”

Aku terkisap seketika, tapi langsung mampu mengendalikan diri.

“enggak ah! Ogah!” Tolakku langsung, mentah-mentah

dihadapannya. Anan tak merespon berlebihan, ia cuma mesem.

Kemudian kami berjalan bersamaan menuju gerbang sekolah

yang hampir tertutup.

“jangan ngikutin gue!” Bentakku setelah kami sudah

benar-benar keluar dari area sekolah. Anan tersenyum kecut lalu

membiarkanku berjalan lebih dulu. Bisa kulihat ia tertinggal jauh

dibelakang. Aku langsung bersyukur.

Oke, ini cuma mimpi. Semoga aja begitu.


Entah kenapa dengan sangat begonya aku menoleh

kebelakang, kulihat dengan ragu Anan tengah berjalan dengan

langkah yang lebih lamban sambil kemudian tersenyum dan

melambaikan tangannya kearahku. “bye”

Tak kugubris samasekali, secepat mungkin aku melarikan diri

darinya.

“Gue harus gimanaaa??? Ini semua tuh salahnya lo semua

yang nyuruh gue pake nembak Anan segala lagi. Sekarang kan

gue jadi diteror.”

“lah? namanya juga game sih ra” Revi melirik agak sewot

padaku.

Anda mungkin juga menyukai