Hari masih pagi saat bu adiba baru saja melangkah gontai
keluar kelas kami sambil membenahi rambutnya yang terlanjur
kusut karena diacak-acaknya saat mengajar kami beberapa jam
lalu. Aku duduk santai sambil menunggu guru selanjutnya datang
sambil iseng mencoreti selembar kertas dengan gambar-gambar
abstrak. Semalam aku sempat terserang insomnia yang berefek
sangat banyak dan beruntun, aku sangat mengantuk, sesekali
hasrat defekasi muncul karena pagi ini aku tak sempat, saking
terburu-burunya agar tidak terlambat masuk kelas, dan lagi
penampilanku mungkin sudah seperti para penderita parkinson.
Aku benar-benar kacau hari ini.
Sebelumnya, panggil saja aku neera.
“ra, ngapain lo ngurekin buku mulu?” Tiba-tiba revi
berteriak dari sudut kelas sambil lehernya memanjang berusaha
melihatku, memang posisinya sekarang sedang duduk lesehan
dilantai bersama 3 orang temanku yang lain, ane, inge, dan cloe.
“gue bosen nih!” Balasku setengah menguap.
“sini gabung bareng kita aja!” Kulihat inge melambai-
lambaikan tangannya menyuruhku duduk bersama.
Aku menurut dan berjalan agak malas kemudian duduk
disamping cloe. “apaan nih?”
“ini tod” jawab ane cepat.
“apaan lagi tuh?” Kataku malas sambil menyeritkan dahi.
“t itu true, artinya kebenaran. Kalo lo milih ini berarti lo
harus siap jujur ngejawab semua pertanyaan kita.” Revi
menjelaskan.
“sedangkan d itu dare, artinya berani. Dengan kata lain lo
harus berani ngejalanin tantangan apapun yang kita kasih buat
lo! Paham?” Sambung inge yang langsung dijawab dengan
anggukan malas olehku. Permainan pun dimulai dengan
hompimpah.
Sial! Aku kena!
“oyeah!” Ujar keempat rekanku ini spontan dan
bersamaan.
“ya ya, gue kena. Sekarang gue harus apa?”
Mereka berempat saling berpandangan dan tersenyum misterius.
Sedangkan aku, duduk lesehan dengan raut muka ngenes dan
curiga banget. Perasaan gue mulai ga enak nih!
“true or dare?” Tanya revi mengajukan pilihan. Aku
menelan ludah.
“dare aja deh! Emang mau nantangin gue apa?” Celetukku
songong.
Keempat orang ini berekspresi makin aneh, pake menyeringai
pula.
“dare: lo kita tantangin nembak Anan prihastyan!”
Dengan pedenya aku mengangkat sebelah alis dan
menjentikan jari tanda :”kecil itu mah buat gue”. Cepat aku
berjalan menghampiri Anan yang tengah sibuk dengan
obrolannya bersama anak cowok lain dibawah kipas angin.
Aku berdehem pelan. Anan menoleh dan tampak
kebingungan melihatku dan beberapa siswi lain sudah berdiri
dibelakangnya, memasang ekspresi datar.
“lo, Anan! Mau ga jadi cowok gue?” Kataku lantang.
Seketika hening. Bahkan suara semut buang angin pun
terdengar amat jelas (hiperbola).
“gue?” Anan menunjuk dadanya, aku mengangguk angkuh.
Sontak seisi kelas menggemakan gelak tawa dan ledekan, tak
sedikit yang bersiul. Tapi aku tetap dalam posisiku, dalam
sebuah tantangan, dengan perasaan dan ekspresi wajah datar.
Semuanya baik-baik saja, tapi tiba-tiba parkinson-ku kambuh
karena pemandangan didepanku sekarang berubah sangat
cepat. Anan, si kambing hitam dalam permainan ini tersenyum
pada kedua matanya. Aku mencium gelagat aneh dari aura
disekelilingnya. Kali ini entah kenapa aku benar-benar gugup,
hasrat defekasi-ku kambuh.
“gue ga salah denger kan? Barusan itu, lo nembak gue
kan, neera?” Tanyanya lunak hampir sehalus hembusan angin.
Dan belakangan aku baru sadar, cowok ini punya badan yang
lumayan tinggi dan atletis banget. Tapi ada yang lebih gawat!
Entah kenapa Anan sekarang berjalan lurus- setengah terhuyung
setelah turun dari tempat duduknya diatas meja-namun pasti
kearahku. Wajahnya yang dihiasi guratan aneh itu membuat
degup jantungku makin keras berdentum.
“ntar. Ntar! Jangan deket-deket!” Ancamku masih sambil
melangkah mundur seirama dengan langkah maju Anan.
“kenapa?” Anan berbisik sangat lembut membuatku
merinding hebat.
“apa-apaan sih…?!” Sergahku- menahan berat tubuh Anan
yang sialnya ia condongkan kepadaku- yang sekarang benar-
benar sudah terpojok oleh dinding. Bisa kurasakan dinginnya
dinding kelas yang menempel dipunggungku.
“kenapa?” Sekali lagi ia ucapkan kata-kata itu. Aku benar-
benar malu.
“ya, jangan terlalu de…” Belum sempat aku selesai dengan
ucapanku, Anan sudah lebih dulu mengurungku diantara dua
lengannya.
Apa-apaan sih ni orang?!
“jangan tegang gitu dong, ini cara gue nerima pernyataan
cinta cewek, jadi siapin diri lo ya.” Anan berbisik lembut ditelinga
kiriku, membuat bulu kudukku makin merebang.
Aku tak berani membuka mata, saking takutnya sekarang
tubuhku tak bisa bergerak. Jadi terkesan pasrah.
“jangan sampe gue yang menangin permainan ini. Ayo,
melawanlah.” Bisiknya pas ditelingaku. Ini pertamakalinya aku
dibisikin oleh laki-laki. Tapi setelah mendengar bisikannya, aku
jadi seolah diberi kekuatan. Aku dorong tubuhnya menjauhiku.
Tindakanku tak pelak menyulut sorakan dan siulan panjang dari
anak-anak kelas. Saking malunya, aku tak berani bicara dan
langsung berlari meninggalkan seisi kelas yang semakin gencar
menyoraki adegan tadi.
“hosh hosh hosh” terengah-engah aku menata napasku
habis berlari menghindari siswa siswi sekolah yang seketika
menjelma menjadi paparazzi. “hah? Yang bener aja? Apa-apaan
sih tu cowok? Mau ditaruh mana muka gue? Huh! Awas aja ya lo
Anan!!!”
Seperempat jam lamanya aku terjebak dalam situasi ini,
malu dan marah! Saking kesalnya aku sampai tidak berani
kembali kekelas bahkan sampai jam pulang sekolah. Entah apa
hukuman dari guru bp kalau sampai ketahuan.
Setelah lingkungan sekolah sudah kurasa benar-benar sepi,
aku pun memberanikan diri masih dengan perasaan was-was
kembali kekelas untuk mengambil tas yang memang tadi
tertinggal.
“huf, jangan sampe ada yang liat gue.” Kataku bicara
sendiri.
Dan sesampainya dikelas, tepat saat aku baru saja
melangkah masuk kedalam, tiba-tiba aku mendengar suara yang
sudah tak asing. Setelah kuingat-ingat, ini hari rabu! Berarti
jadwal piket hari ini dipegang oleh…
“Anan?!” Aku memekik dalam hati. Keringatku langsung
mengucur saat mendapati sosok mengerikan itu. Berjinjit-jinjit
aku melangkahkan kaki agar suara sepatuku tak sampai
mengusiknya. Sampai tiba-tiba…
“lah? Cuma gue sendiri yang piket nih? Kampret si raka,
main kabur aja.”
Kalian pasti heran kenapa Anan tak sampai memergokiku,
karena sekarang aku sudah berada dibalik tanaman hias yang
tumbuh subur dan kebetulan memang dari spesies tumbuhan
yang dapat tumbuh sangat lebat, jadi untungnya bagiku jadi bisa
bersembunyi disini.
“balik ah.” Kata Anan bicara pada diri sendiri. Aku langsung
menghela napas lega, bahagianyaa. Saat aku hendak mengintip
untuk memastikan, sungguh tragis, miris, dan dramatis.
Pandangan kami bertemu!!!
Haissshh! Aku langsung menarik kepalaku kembali bersembunyi
yang sebenarnya memang percuma karena Anan pasti sudah
mengetahui persis keberadaanku. Aku menahan napas agar
cowok yang paling tak ingin kulihat wajahnya itu tidak bertindak
lebih jauh untuk mencari tahu.
“ngapain lo disitu? Gak perlu lagi lo sembunyi. Gue udah
tau dari awal juga.” Kata Anan jelas dengan nada menantang.
Aku langsung lemas, pasti dia akan menertawakanku,
mengejekku, menjelek-jelekkan aku di social media, menulis
rumor dan gossip aneh tentangku di mading, menyerukan
namaku saat upacara hari senin, daan…
“udah gue bilang gak perlu sembunyi!” Katanya lagi, yang
langsung membuyarkan lamunanku. “gak perlu sampe mikir
sejauh itu, lebay banget!” Lanjutnya yang langsung membuatku
mikir keras. Kok dia tau kalo gue mikirin sesuatu yang dramatis,
miris, dan lebay?
“ooh. Jadi lo mau gue samperin aja? Oke, gue kesitu
sekaraang~” Anan kembali bicara dengan nada menggelikan
saat tahu aku tak meresponnya beberapa menit ini.
“eh-eh! Apaan sih lo? Gak lucu tau!” Kataku menyerah dan
langsung muncul dari balik tanaman hias.
Anan tersenyum geli, diperhatikannya aku dari ujung ke ujung.
Dan hal itu membuat senyumnya pecah menjadi tawa yang
hebat. Aku cemberut, kesal sekali ditertawakan begitu.
“kenapa sih lo? Gak ada yang lucu! Dasar bego!”
Celetukku lalu berlalu melewatinya yang memang masih berdiri
dengan cengengesannya di depan pintu kelas.
“oh iya, soal tadi…” Anan menggantungkan kalimatnya,
mau tak mau memaksaku yang tadinya membelakanginya untuk
berbalik.
“apa?! “ kataku tajam, sambil melotot.
“gue suka.” Lanjutnya. Keringatku langsung mengucur.
Cepat-cepat ku sergah ucapannya.
“tunggu dulu, tunggu dulu. Jangan salah paham dulu oke?!
Lo tau itu cuma game kan? Iya gue tau itu payah, lo pasti merasa
dirugikan, tapi plis jangan berlebihan. Gue juga ngerasa
dirugikan. Jadi…” Giliranku yang menggantungkan kalimat.
Anan mengangkat sebelah alisnya dan menungguku
melanjutkan ucapan dengan tidak sabar. “jadi?” Ia mengulang
kata-kataku sambill berjalan mendekat.
“jangan mendekat!” Reflek saraf motorikku memasang
kuda-kuda. “jadi, tolong anggap aja gue gak pernah nembak lo!
Dan gue bisa pura-pura gak kenal sama lo, biar kita bisa aman
satu sama lain. Gak akan ada yang merasa malu atau dirugikan.
Oke?”
Hening sesaat, baik aku maupun Anan sama-sama diam.
Aku dengan pikiranku yang ngotot ingin menyelesaikan masalah,
dan Anan yang aku yakin juga akan menjawab…
“enggak.” Ucap Anan pelan, tapi tandas.
Hapaaah?! Aku hampir tak percaya. Maksudku, yang benar saja?
Aku yakin tadi dia juga kelihatan tidak suka dengan
permainanku. Harusnya kan dia menjawab…
“enggak.” Ulangnya. “gue gak mau permainan itu cuma
sampe sini.”
Hapaaaah lagi??!!
“udah jelas kan? Emang lo yang mulai semuanya, tapi
dalam hal ini gue yang bakal nentuin endingnya.” Anan
menjelaskan dengan bahasa tubuh yang hampir tidak
menyiratkan kegugupan samasekali. Beda denganku yang
sekarang mulai ketar ketir bergidik ketakutan. Anan masih
dengan senyum manisnya, menepuk puncak kepalaku tiga kali
lalu berbisik.
“yuk bareng.”
Aku terkisap seketika, tapi langsung mampu mengendalikan diri.
“enggak ah! Ogah!” Tolakku langsung, mentah-mentah
dihadapannya. Anan tak merespon berlebihan, ia cuma mesem.
Kemudian kami berjalan bersamaan menuju gerbang sekolah
yang hampir tertutup.
“jangan ngikutin gue!” Bentakku setelah kami sudah
benar-benar keluar dari area sekolah. Anan tersenyum kecut lalu
membiarkanku berjalan lebih dulu. Bisa kulihat ia tertinggal jauh
dibelakang. Aku langsung bersyukur.
Oke, ini cuma mimpi. Semoga aja begitu.
Entah kenapa dengan sangat begonya aku menoleh
kebelakang, kulihat dengan ragu Anan tengah berjalan dengan
langkah yang lebih lamban sambil kemudian tersenyum dan
melambaikan tangannya kearahku. “bye”
Tak kugubris samasekali, secepat mungkin aku melarikan diri
darinya.
“Gue harus gimanaaa??? Ini semua tuh salahnya lo semua
yang nyuruh gue pake nembak Anan segala lagi. Sekarang kan
gue jadi diteror.”
“lah? namanya juga game sih ra” Revi melirik agak sewot
padaku.