0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan29 halaman

Pengertian dan Faktor Pengetahuan Manusia

Dokumen ini membahas pengetahuan, sikap, dan penyakit varisela, termasuk definisi, cara memperoleh pengetahuan, faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan, serta tingkatan ilmu pengetahuan. Selain itu, dijelaskan juga tentang pengertian dan epidemiologi penyakit varisela yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Pengetahuan dan sikap individu berperan penting dalam pembentukan perilaku dan respons terhadap stimulus.

Diunggah oleh

Hetty Fuspita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
9 tayangan29 halaman

Pengertian dan Faktor Pengetahuan Manusia

Dokumen ini membahas pengetahuan, sikap, dan penyakit varisela, termasuk definisi, cara memperoleh pengetahuan, faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan, serta tingkatan ilmu pengetahuan. Selain itu, dijelaskan juga tentang pengertian dan epidemiologi penyakit varisela yang disebabkan oleh virus Varicella zoster. Pengetahuan dan sikap individu berperan penting dalam pembentukan perilaku dan respons terhadap stimulus.

Diunggah oleh

Hetty Fuspita
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengetahuan

1. Pengertian Pengetahuan

Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang

terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan

sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas

perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang

diperoleh melalui indera pendengaran dan penglihatan. Pengetahuan

seseorang terhadap objek mempunyai intensitas yang berbeda-beda.

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan hal yang terjadi setelah

orang telah melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu.

Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia. Pengetahuan akan lebih

langgeng dari pada perilaku yang disadari oleh pengetahuan (Notoatmodjo,

2010).

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam

membentuk tindakan seseorang (overbehavior) dari pengalaman dan

penelitian. Ternyata perilaku didasari oleh penelitian akan langgeng dari pada

perilaku yang tidak disadari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2010).

9
10

Pengetahuan (Knowledge) adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar

menjawab pertanyaan "What" (Notoatmodjo, 2010).

2. Cara Memperoleh Pengetahuan

Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh

kebenaran sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi 2 yakni

a. Cara Tradisional / non ilmiah

Cara kuno atau tradisional dipakai orang untuk memperoleh kebenaran

pengetahuan yang termasuk cara ini adalah

1. Cara coba salah (Trial and Error) cara paling tradisional yang

digunakan manusia untuk memperoleh pengetahuan. Metode ini

digunakan orang dalam waktu yang cukup lama untuk memecahkan

berbagai masalah.

2. Cara Kekuasaan atau otoritas yaitu diperoleh berdasarkan otoritas

pemerintah, agama maupun ahli ilmu pengetahuan diterima tanpa diuji

atau dibuktikan kebenarannya berdasarkan fakta empiris atau

berdasarkan penalaran sendiri

3. Berdasarkan Pengalaman Pribadi, Pengalaman ini merupakan suatu

cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Kemampuan untuk

menyimpulkan, mengetahui aturan dan membuat prediksi berdasarkan

observasi adalah penting untuk pola penalaran manusia. Pengalaman

individu mempunyai keterbatasan pemahaman yaitu pengalaman


11

mungkin terbatas untuk membuat kesimpulan yang valid tentang situasi

dan penilaian yang bersifat subjektif.

4. Melalui Jalan Pikiran adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan

cara penalaran untuk memperoleh kebenaran jalan pikiran baik secara

induksi maupun deduksi. Secara induksi maksudnya adalah penarikan

kesimpulan dari pernyataan umum ke khusus (Notoatmodjo, 2010).

b. Cara Modern atau Cara Ilmiah

Pendekatan ilmiah adalah pendekatan paling tepat untuk mencari suatu

kebenaran karena didasari pada pengetahuan yang terstruktur dan sistimatis

serta dalam mengumpulkan dan menganalisa data didasarkan pada prinsip

vailiditas dan rehabilitas kombinasi dengan yang logis dengan pendekatan

induktif maupun deduktif, mampu menciptakan sistem problem solving

lebih akurat dan tepat dari cara tradisional (Nursalam, 2001).

3. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

a. Usia

Pada usia dua puluhan orang telah memiliki kemampuan mental yang

diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri pada situasi-situasi

yang baru misalnya mengingat hal–hal yang dulu pernah dipelajari,

penalaran analogi dan berfikir kreatif. Sekitar awal atau pengetahuan umur

tiga puluhan kebanyakan orang muda telah mampu memecahkan masalah


12

– masalah mereka dengan cukup baik sehingga menjadi stabil dan tenang

secara emosional (Notoatmodjo, 2010).

b. Tingkat Pendidikan

Ketidaktahuan dapat disebabkan karena pendidikan yang rendah.

Tingkat pendidikan yang terlalu rendah, akan sulit mencerna pesan atau

informasi yang disampaikan (Mochtar, 2008).

c. Pekerjaan

Pengelompokan ini didasarkan pada teori bahwa dengan adanya

pekerjaan seseorang akan melakukan banyak waktu dan tenaga untuk

menyelesaikan pekerjaan yang dianggap penting dan cenderung

mempunyai banyak waktu untuk tukar pendapat / pengalaman antar teman

dalam kantornya (Notoatmodjo, 2010).

d. Paritas

Seseorang yang sudah pernah melahirkan akan mempunyai

pengetahuan tentang kelahiran yang lalu yang dipergunakan untuk

memecahkan masalah yang dihadapi (Notoatmodjo. S, 2010).

Menurut Manuaba (2002) paritas dibagi menjadi :

1) Primipara adalah wanita yang telah melahirkan bayi aterm sebanyak

satu kali

2) Multipara adalah wanita yang pernah melahirkan anak hidup beberapa

kali, dimana persalinan itu tidak lebih dari lima kali.


13

3) Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan janin aterm

lebih dari lima kali.

4. Tingkatan Ilmu Pengetahuan

1. Tahu (Know)

Biasanya jenis pengetahuan ini berkaitan dengan “pengetahuan

bahwa” hanya saja “tahu mengapa” berkaitan dengan penjelasan.

Penjelasan ini tidak hanya berhenti pada informasi yang ada. Pengetahuan

model ini merupakan pengetahuan tertinggi dan mendalam sekaligus juga

merupakan pengetahuan ilmiah.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan

materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau

materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan terhadap obyek yang dipelajari.

3. Aplikasi (Aplication),

Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi

juga diartikan sebagai penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip dan

sebagainya dalam konteks dan situasi lain.


14

4. Analisis (Analysis).

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau

obyek kedalam komponen tapi masih didalam suatu struktur organisasi

tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.

5. Sintesis (Syntesis)

Menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan dan

menghubungkan bagian-bagian di dalam satu bentuk keseluruhan dengan

kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun forkulasi baru.

Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk melakukan

justifikasi dan penilaian terhadap suatu materi atau objek penilaian ini

berdasarkan suatu kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat

dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi

materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden.

6. Evaluasi ( Evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian suatu materi atau objek penilaian-penilaian itu berdasarkan

suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria

yang telah ada.


15

5. Proses Penyerapan Ilmu Pengetahuan

Roger mengemukakan bahwa suatu pesan yang diterima oleh setiap individu

akan melalui 5 tahapan yang telah diungkapkan oleh Effendi (2005) sebagai

berikut :

1. Anwareness

Anwareness adalah dimana seseorang sadar bahwa itu adanya suatu pesan

yang disampaikan.

2. Interest

Interest adalah seseorang mulai tertarik akan isi pesan yang disampaikan.

3. Evaluation

Evaluation adalah tahap dimana penerima pesan mulai mengadakan penilaian

keuntungan dan kerugian dari isi pesan yang disampaikan.

4. Trial

Trial adalah tahap dimana penerima pesan mencoba mempraktekkan isi pesan

yang didengar.

5. Adaption

Adaption adalah tahap dimana penerima pesan mempraktekkan dan

melaksanakan isi pesan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Kategori Pengetahuan

Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:


16

a. Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% - 100% dari seluruh

petanyaan

b. Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% - 75% dari seluruh

pertanyaan

c. Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40% - 55% dari seluruh

pertanyaan

Pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:

a. Pengetahuan baik jika menjawab pertanyaan lebih dari nilai mean

b. Pengetahuan tidak baik jika menjawab pertanyaan kurang dari nilai mean

B. Sikap

1. Pengertian Sikap

Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek

tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan

(senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya).

Menurut Mochtar (2008) mendefinisikan sangat sederhana, yakni: ”An

individual’s attitude is syndrome of response consistency with regard to

object”. Jadi jelas dikatakan bahwa sikap itu sindroma atau kumpulan gejala

dalam merespon stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran,

perasaan, perhatian dan gejala kejiwaan yang lain.

Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap

merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan


17

pelaksanaan motif tertentu. Dalam kata lain, fungsi sikap belum merupakan

tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi

perilaku atau tindakan (reaksi tertutup).

Thurstone & Chave (2006) mengemukakan definisi sikap sebagai

keseluruhan kecenderungan dan perasaan, curiga atau bias, asumsi-asumsi,

ide-ide, ketakutan-ketakutan, tantangan-tantangan dan keyakinan-keyakinan

manusia mengenai topik tertentu. Aiken (2007) menambahkan bahwa sikap

adalah predisposisi atau kecenderungan yang dipelajari seseorang individu

untuk merespon secara positif atau negatif dengan intensitas yang moderat

dan atau memadai terhadap objek, situasi, konsep atau orang lain. Definisi

yang dikemukakan Aiken ini sudah lebih aktif dan operasional, baik dalam hal

mekanisme terjadinya maupun intensitas dari sikap itu sendiri. Predisposisi

yang diarahkan terhadap objek diperoleh dari proses belajar.

Sikap menurut Wismanto (2009) adalah suatu konsep paling penting

dalam psikologi sosial. Pembahasan yang berkaitan dengan psikologi sosial

hampir selalu menyertakan unsur sikap baik sikap individu maupun sikap

kelompok sebagai salah satu pembahasannya. Banyak kajian dilakukan untuk

merumuskan pengertian sikap, proses terbentuknya sikap maupun proses

perubahannya.
18

Pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan penting

dalam pembentukan sikap. Seperti halnya pengetahuan, sikap juga

mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut :

a. Menerima (receiving)

Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima

stimulus yang diberikan (objek).

b. Menanggapi (responding)

Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap

pertanyaan atau objek yang dihadapi. mengajak atau mempengaruhi atau

menganjurkan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau

menganjurkan orang lain merespon.

c. Bertanggung jawab (responsible)

Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab

terhadap apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil

sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil

risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain.

Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung.

Pengukuran sikap secara langsung dapat dilakukan dengan mengajukan

pertanyaan tentang stimulus atau objek yang bersangkutan. Pertanyaan

secara langsung juga dapat dilakukan dengan cara memberikan pendapat


19

dengan menggunakan kata ”setuju” atau ”tidak setuju” terhadap pertanyaan

terhadap objek tertentu.

d. Menghargai (valuing)

Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai positif

terhadap objek atau stimulus, dalam arti, membahasnya dengan orang lain.

2. Komponen Sikap

Banaji dan Heiphetz, (2010), menjelaskan tiga komponen sikap yang

saling menunjang satu sama lain. Pertama, komponen kognisi. Komponen

kognisi mencakup penerimaan informasi yang ditangkap oleh panca indera,

yang kemudian diproses dan dipersepsikan, dibandingkan dengan data

informasi yang telah dimiliki, diklasifikasikan, lalu disimpan dalam ingatan

dan digunakan dalam merespon rangsangan.

Sarwono dan Meinarno (2009) menambahkan bahwa komponen kognisi

berisi pemikiran, ide-ide, maupun pendapat yang berkenaan dengan objek

sikap. Pemikiran tersebut meliputi hal-hal yang diketahui individu mengenai

objek sikap, dapat berupa keyakinan atau tanggapan, kesan, atribusi, dan

penilaian terhadap objek sikap. Kedua, komponen afeksi berhubungan dengan

perasaan atau emosi individu yang berupa senang atau tidak senang terhadap

objek sikap.

Ketiga, komponen konasi yang merujuk kepada kecenderungan tindakan

atau respon individu terhadap objek sikap yang berasal dari masa lalu. Respon
20

yang dimaksud dapat berupa tindakan yang dapat diamati dan dapat berupa

niat atau intensi untuk melakukan perbuatan tertentu sehubungan dengan objek

sikap (Sarwono, 2009).

Haddock & Maio (2005), menjelaskan bahwa komponen afeksi dan

kognisi memegang peranan paling penting dalam pembentukan sikap. Berbeda

dengan komponen afeksi dan kognisi, perilaku sebagai komponen sikap yang

dapat diamati seringkali menjadi perdebatan para ahli terkait konsistensinya

dengan sikap individu.

C. Penyakit Varisela

1. Pengertian Panyakit Varisela

Varicella zoster virus (VZV) merupakan famili human (alpha) herpes

virus. Virus terdiri atas genome DNA double-stranded, tertutup inti

yang mengandung protein dan dibungkus oleh glikoprotein. Virus

ini dapat menyebabkan dua jenis penyakit yaitu Varicella (chickenpox)

dan herpes zoster (shingles).

Varisela adalah salah satu penyakit yang umum ditemui pada anak-

anak. 90% kasus cacar air dialami oleh anak-anak yang berusia kurang

dari 10 tahun, dan lebih dari 90% orang telah mengalami penyakit cacar

air pada usia 15 tahun. Penyakit cacar air ini disebabkan oleh infeksi

primer dari virus Varicella zoster, namun setelah sembuh, virus ini tidak

benar-benar hilang dari tubuh. Virus ini akan menetap di bagian saraf
21

tertentu dan nantinya akan menyebabkan herpes zoster atau cacar ular.

Herpes zoster hanya terjadi sekali seumur hidup dan pada usia di atas 60

tahun (Soedarmo, 2009).

Gambar 1

Virus Varisela

2. Epidemiologi

Varicella terdapat diseluruh dunia dan tidak ada perbedaan ras

maupun jenis kelamin. Varicella terutama mengenai anak-anak yang

berusia dibawah 20 tahun terutama usia 3 - 6 tahun dan hanya sekitar

2% terjadi pada orang dewasa. Di Amerika, Varicella sering terjadi

pada anak-anak dibawah usia 10 tahun dan 5% kasus terjadi pada usia

lebih dari 15 tahun dan di Jepang, umumnya terjadi pada anak-anak

dibawah usia 6 tahun sebanyak 81,4 %.

3. Gejala

Gejalanya mulai timbul 10-21 hari setelah terinfeksi. Pada anak-anak

yang usianya berkisar 10 tahun gejala pertamanya adalah sakit kepala,


22

demam sedang, dan rasa tidak enak di badan. Gejala tersebut tidak

ditemukan pada anak-anak di bawah usia 10 tahun dan akan menjadi

gejala yang berat jika menyerang anak yang lebih dewasa. 24-36 jam

pertama setelah timbulnya gejala awal, muncul ruam di badan dan

kemudian tersebar ke wajah, tangan, dan kaki. Selain itu ruam juga akan

muncul di selaput mukosa seperti di bagian dalam mulut atau vagina.

Ruam yang awalnya berbentuk bintik-bintik merah datar (makula), akan

menjadi bintik-bintik menonjol (papula), membentuk lepuhan berisi

cairan (vesikel), yang terasa gatal, dan pada akhirnya mengering. Proses

ini memakan waktu 6-8 jam, selanjutnya akan terbentuk bintik-bintik dan

lepuhan baru. Pada hari kelima biasanya tidak terbentuk lepuhan baru,

seluruh lepuhan akan mengering pada hari keenam, dan akan menghilang

dalam waktu kurang dari 20 hari.

Masa inkubasi Varisela 10 - 21 hari pada anak imunokompeten (rata -

rata 14 - 17 hari) dan pada anak yang imunokompromais biasanya

lebih singkat yaitu kurang dari 14 hari. VZV masuk ke dalam tubuh

manusia dengan cara inhalasi dari sekresi pernafasan (droplet

infection) ataupun kontak langsung dengan lesi kulit. Droplet

infection dapat terjadi 2 hari sebelum hingga 5 hari setelah timbul lesi

dikulit.
23

VZV masuk ke dalam tubuh manusia melalui mukosa saluran

pernafasan bagian atas, orofaring ataupun konjungtiva. Siklus replikasi

virus pertama terjadi pada hari ke 2 - 4 yang berlokasi pada lymph nodes

regional kemudian diikuti penyebaran virus dalam jumlah sedikit

melalui darah dan kelenjar limfe, yang mengakibatkan terjadinya viremia

primer (biasanya terjadi pada hari ke 4 - 6 setelah infeksi pertama). Pada

sebagian besar penderita yang terinfeksi, replikasi virus tersebut dapat

mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh yang belum matang sehingga

akan berlanjut dengan siklus replikasi virus ke dua yang terjadi di hepar

dan limpa, yang mengakibatkan terjadinya viremia sekunder. Pada fase

ini, partikel virus akan menyebar ke seluruh tubuh dan mencapai

epidermis pada hari ke 14-16, yang mengakibatkan timbulnya lesi

dikulit yang khas. Seorang anak yang menderita Varisela akan dapat

menularkan kepada yang lain yaitu 2 hari sebelum hingga 5 hari setelah

timbulnya lesi di kulit.

4. Gejala Klinis

Varisela pada anak yang lebih besar (pubertas) dan orang dewasa

biasanya didahului dengan gejala prodormal yaitu demam, malaise,

nyeri kepala, mual dan anoreksia, yang terjadi 1 - 2 hari sebelum

timbulnya lesi dikulit sedangkan pada anak kecil (usia lebih muda) yang
24

imunokompeten, gejala prodormal jarang dijumpai hanya demam dan

malaise ringan dan timbul bersamaan dengan munculnya lesi dikulit.

Lesi pada Varisela, diawali pada daerah wajah dan scalp, kemudian

meluas ke dada (penyebaran secara centripetal) dan kemudian dapat

meluas ke ekstremitas. Lesi juga dapat dijumpai pada mukosa mulut dan

genital. Lesi pada Varisela biasanya sangat gatal dan mempunyai

gambaran yang khas yaitu terdapatnya semua stadium lesi secara

bersamaan pada satu saat.

Pada awalnya timbul makula kecil yang eritematosa pada daerah

wajah dan dada, dan kemudian berubah dengan cepat dalam waktu 12 -14

jam menjadi papul dan kemudian berkembang menjadi vesikel

yang mengandung cairan yang jernih dengan dasar eritematosa.

Vesikel yang terbentuk dengan dasar yang eritematous mempunyai

gambaran klasik yaitu letaknya superfisial dan mempunyai dinding

yang tipis sehingga terlihat seperti kumpulan tetesan air diatas kulit

(tear drop), berdiameter 2-3 mm, berbentuk elips, dengan aksis

panjangnya sejajar dengan lipatan kulit atau tampak vesikel seperti titik-

titik embun diatas daun bunga mawar (dew drop on a rose petal). Cairan

vesikel cepat menjadi keruh disebabkan masuknya sel radang sehingga

pada hari ke 2 akan berubah menjadi pustula. Lesi kemudian akan

mengering yang diawali pada bagian tengah sehingga terbentuk


25

umbilikasi (delle) dan akhirnya akan menjadi krusta dalam waktu

yang bervariasi antara 2-12 hari, kemudian krusta ini akan lepas dalam

waktu 1 - 3 minggu. Pada fase penyembuhan Varicella jarang terbentuk

parut (scar), apabila tidak disertai dengan infeksi sekunder bakterial.

Varisela yang terjadi pada masa kehamilan, dapat menyebabkan

terjadinya Varicella intrauterine ataupun Varicella neonatal.

Varisela intrauterine, terjadi pada 20 minggu pertama kehamilan,

yang dapat menimbulkan kelainan kongenital seperti ke dua

lengan dan tungkai mengalami atropi, kelainan neurologik maupun

okular dan retardasi mental. Sedangkan Varisela neonatal terjadi apabila

seorang ibu mendapat Varicella (Varicella maternal) kurang dari 5 hari

sebelum atau 2 hari sesudah melahirkan. Bayi akan terpapar dengan

viremia sekunder dari ibunya yang didapat dengan cara transplasental

tetapi bayi tersebut belum mendapat perlindungan antibodi disebabkan

tidak cukupnya waktu untuk terbentuknya antibodi pada tubuh si ibu

yang disebut transplasental antibodi. Sebelum penggunaan Varicella

zoster immunoglobulin (VZIG), angka kematian Varisela neonatal

sekitar 30%, hal ini disebabkan terjadinya pneumonia yang

berat dan hepatitis yang fulminan. Tetapi jika si ibu mendapat Varicella

dalam waktu 5 hari atau lebih sebelum melahirkan, maka si ibu

mempunyai waktu yang cukup untuk membentuk dan mengedarkan


26

antibodi yang terbentuk (transplasental antibodi) sehingga neonatus

jarang menderita Varicella yang berat.

5. Penularan

Virus Varicella zoster menyebar melalui udara. Orang dengan daya

tahan tubuh rendah dapat terserang virus ini. Penularan dapat muncul

sejak 48 jam sebelum ruam pertama muncul hingga 5 hari setelahnya.

Setelah tertular, biasanya dibutuhkan waktu sekiter 10-21 hari gejala

pertama muncul. Jangka waktu ini dikenal sebagai masa inkubasi. Cacar

air ditularkan melalui udara prnapasan, kontak langsung dengan cairan

ruam, dan kontak dengan cairan yang tekena cairan ruam, seperti handuk,

seprei, atau selimut.

Gambar 2

Proses Eksositosi Virus Varisela


27

6. Komplikasi Varisela

Pada anak yang imunokompeten, biasanya dijumpai Varicella yang

ringan sehingga jarang dijumpai komplikasi. Komplikasi yang dapat

dijumpai pada Varicella yaitu :

a. Infeksi sekunder pada kulit yang disebabkan oleh bakteri ‰ Sering

dijumpai infeksi pada kulit dan timbul pada anak-anak yang

jberkisar antara 5 - 10%. Lesi pada kulit tersebut menjadi tempat masuk

organisme yang virulen dan apabila infeksi meluas dapat menimbulkan

impetigo, furunkel, cellulitis, dan erysepelas. Organisme infeksius

yang sering menjadi penyebabnya adalah streptococcus grup A

dan staphylococcus aureus.

b. Scar

Timbulnya scar yang berhubungan dengan infeksi staphylococcus

atau streptococcus yang berasal dari garukan.

c. Peneumonia.

Dapat timbul pada anak - anak yang lebih tua dan pada orang

dewasa, yang dapat menimbulkan keadaan fatal. Pada orang dewasa

insiden Varicella pneumonia sekitar 1 : 400 kasus.

d. Neurologik

Acute postinfeksius cerebellar ataxia. Ataxia sering muncul tiba-tiba,

selalu terjadi 2 - 3 minggu setelah timbulnya Varicella. Keadaan ini


28

dapat menetap selama 2 bulan.

e. Herpes zoster

Komplikasi yang lambat dari Varicella yaitu timbulnya herpes

zoster, timbul beberapa bulan hingga tahun setelah terjadinya infeksi

primer. Varicella zoster virus menetap pada ganglion sensoris

f. Reye syndrome

Ditandai dengan fatty liver dengan encephalophaty. Keadaan ini

berhubungan dengan penggunaan aspirin, tetapi setelah

digunakan acetaminophen (antipiretik) secara luas, kasus reye sindrom

mulai jarang ditemukan.

7. Pemeriksaan Laboratorium

Untuk pemeriksaan virus Varicella zoster (VZV) dapat dilakukan

beberapa test yaitu :

a. Tzanck smear

Preparat diambil dari discraping dasar vesikel yang masih baru,

kemudian diwarnai dengan pewarnaan yaitu hematoxylin-eosin,

Giemsa’s, Wright’s, toluidine blue ataupun Papanicolaou’s.

Dengan menggunakan mikroskop cahaya akan dijumpai

multinucleated giant cells. Pemeriksaan ini sensitifitasnya sekitar 84%.

Test ini tidak dapat membedakan antara virus Varicella zoster

dengan herpes simpleks virus.


29

b. Direct fluorescent assay (DFA)

Preparat diambil dari scraping dasar vesikel tetapi apabila sudah

berbentuk krusta pemeriksaan dengan DFA kurang sensitif. Hasil

pemeriksaan cepat. Membutuhkan mikroskop fluorescence. Test ini

dapat menemukan antigen virus Varicella zoster. Pemeriksaan ini dapat

membedakan antara VZV dengan herpes simpleks virus.

c. Polymerase chain reaction (PCR)

Pemeriksaan dengan metode ini sangat cepat dan sangat sensitif.

Dengan metode ini dapat digunakan berbagai jenis preparat

seperti scraping dasar vesikel dan apabila sudah berbentuk

krusta dapat juga digunakan sebagai preparat, dan CSF. Sensitifitasnya

berkisar 97 - 100%. Test ini dapat menemukan nucleic acid dari virus

Varicella zoster.

d. Biopsi kulit

Hasil pemeriksaan histopatologis : tampak vesikel

intraepidermal dengan degenerasi sel epidermal dan acantholysis.

Pada dermis bagian atas dijumpai adanya lymphocytic infiltrate.

8. Penatalaksanaan

Pada anak imunokompeten, biasanya tidak diperlukan pengobatan

yang spesifik dan pengobatan yang diberikan bersifat simtomatis yaitu

1) Lesi masih berbentuk vesikel, dapat diberikan bedak agar tidak mudah
30

pecah.

2) Vesikel yang sudah pecah atau sudah terbentuk krusta, dapat

diberikan salap antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.

3) Dapat diberikan antipiretik dan analgetik, tetapi tidak boleh golongan

salisilat (aspirin) untuk menghindari terjadinya terjadi sindroma Reye.

4) Kuku jari tangan harus dipotong untuk mencegah terjadinya infeksi

sekunder akibat garukan.

5) Obat antivirus

1) Pemberian antivirus dapat mengurangi lama sakit, keparahan dan

waktu penyembuhan akan lebih singkat.

2) Pemberian antivirus sebaiknya dalam jangka waktu kurang dari 48 -

72 jam setelah erupsi dikulit muncul.

3) Golongan antivirus yang dapat diberikan yaitu asiklovir, valasiklovir

dan famasiklovir.

4) Dosis anti virus (oral) untuk pengobatan Varisela

Neonatus : Asiklovir 500 mg / m2 IV setiap 8 jam selama 10 hari.

Anak ( 2 -12 tahun) : Asiklovir 4 x 20 mg / kg BB / hari / oral

selama 5 hari.

9. Pencegahan

Pada anak imunokompeten yang telah menderita Varisela tidak

diperlukan tindakan pencegahan, tetapi tindakan pencegahan ditujukan


31

pada kelompok yang beresiko tinggi untuk menderita Varicella yang

fatal seperti neonatus, pubertas ataupun orang dewasa, dengan

tujuan mencegah ataupun mengurangi gejala Varicella. Tindakan

pencegahan yang dapat diberikan yaitu :

a. Imunisasi pasif

1) Menggunakan VZIG (Varicella zoster immunoglobulin).

2) Pemberiannya dalam waktu 3 hari (kurang dari 96 jam) setelah

3) Terpajan VZV, pada anak-anak imunokompeten terbukti mencegah

varicellla sedangkan pada anak imunokompromais pemberian VZIG

dapat meringankan gejala Varisela.

4) VZIG dapat diberikan pada yaitu :

1. Anak - anak yang berusia < 15 tahun yang belum pernah

menderita Varicella

2. Usia pubertas >15 tahun yang belum pernah menderita

Varicella dan tidak mempunyai antibodi terhadap VZV.

3. Bayi yang baru lahir, dimana ibunya menderita Varicella

dalam kurun waktu 5 hari sebelum atau 48 jam setelah

melahirkan.

4. Bayi premature dan bayi usia ≤ 14 hari yang ibunya

belum pernah menderita Varicella atau herpes zoster.

5. Anak - anak yang menderita leukaemia atau lymphoma


32

yang belum pernah menderita Varicella.

b. Imunisasi aktif

1) Vaksinasinya menggunakan vaksin variclla virus (Oka strain)

dan kekebalan yang didapat dapat bertahan hingga 10 tahun.

2) Digunakan di Amerika sejak tahun 1995.

3) Daya proteksi melawan Varicella berkisar antara 71 - 100%.

Vaksin efektif jika diberikan pada umur ≥ 1 tahun dan

direkomendasikan diberikan pada usia 12 - 18 bulan.

Anak yang berusia ≤ 13 tahun yang tidak menderita Varicella

direkomendasikan diberikan dosis tunggal dan anak lebih tua

diberikan dalam 2 dosis dengan jarak 4 - 8 minggu.

4) Pemberian secara subcutan.

5) Efek samping : Kadang - kadang dapat timbul demam ataupun

reaksi lokal seperti ruam makulopapular atau vesikel, terjadi pada

3- 5% anak - anak dan timbul 10 - 21 hari setelah pemberian pada

lokasi penyuntikan.

6) Vaksin Varicella : Varivax.

7) Tidak boleh diberikan pada wanita hamil oleh karena dapat

Menyebabkan terjadinya kongenital Varicella


33

D. Hubungan Pengetahun dengan Penatalaksanaan Penyakit Varisela

Penyakit cacar air adalah salah satu penyakit yang disebabkan virus

Varicella zoster. Biasanya anak yang terkena cacar air harus beristirahat total

setidaknya 7 sampai 10 hari. Jika sedang sakit cacar air tubuh akan merasa

panas dan diikuti oleh hidung yang ingusan. Anak yang mengalami cacar air

biasanya terdapat ruam yang dimulai dengan titik merah lalu menjadi seperti

bisul dan bintik merah ini akan bertambah banyak pada hari berikutnya.

Bintik-bintik merah ini bisa saja berada di bagian mulut sehingga membuat

nafsu makan berkurang, menyebabkan gatal yang membuat penderita ingin

menggaruknya serta seringkali diikuti dengan badan meriang dan sakit kepala

(Vera, 2011).

Hal terpenting yang harus dilakukan adalah sebisa mungkin mencegah

anak menggaruk bintik tersebut dengan jarinya, karena bisa membuat bintik

menjalar semakin banyak sehingga memperlama proses penyembuhannya.

Serta usahakan jangan terlalu dekat dengan adik atau kakaknya, agar cacar air

tersebut tidak menulari keduanya. Anak yang terkena penyakit cacar air pasti

merasa tersiksa karena seluruh tubuh terasa gatal dan biasanya dilarang

bermain dengan teman-temannya. Lalu bagaimana menangani anak yang

terkena cacar air agar tidak menulari yang lain.

Bila salah seorang anggota keluarga terkena maka ia harus diisolasikan

dari anggota keluarga yang lain terutama dalam tujuh hari pertama karena
34

dapat menularkan virus yang ada. Anggota keluarga yang harus dijaga dari

penularan khususnya adalah anak-anak karena lebih mudah untuk tertular dan

ibu hamil terutama yang memiliki usia kandungan kurang dari tiga bulan

karena apabila terinfeksi dapat menimbulkan kalainan bawaan pada bayi yang

dikandungnya dan apabila terkena pada beberapa hari menjelang kelahiran

maka bayi yang lahir dapat menderita cacar juga (Jayruhal, 2009).

Hal yang pertama diupayakan sebelum melakukan pengobatan adalah

menjaga agar bruntus tidak pecah secara dini untuk mencegah infeksi

sekunder oleh bakteri dengan cara diberikan bedak yang mengandung zat anti

gatal (mentol dan kanfora) seperti bedak salycil. Dokter biasanya akan

memberikan obat antivirus serta obat-obat yang dapat mengurangi gejala

pedih dan gatal yang dirasakan penderita. Biasanya jaringan parut yang timbul

pada kulit akan sangat sedikit jika perawatan yang dilakukan teliti dan

kebersihan kulit tetap terjaga (Jayruhal, 2009).

E. Hubungan Sikap dengan Penatalaksanaan Penyakit Varisela

Gejala awal yang dirasakan penderita Varisella umumnya berupa demam

yang tidak terlalu tinggi, lesu dan lemah yang disertai dengan nyeri kepala,

sesudah itu baru timbul lesi kulit yang berupa bruntus-bruntus kemerahan dan

dalam beberapa jam bruntus-bruntus tersebut akan berubah menjadi bruntus

yang berisi cairan. Jika bruntus tersebut terinfeksi bakteri maka bruntus

tersebut dapat berisi nanah yang jika pecah dan mengering menjadi keropeng.
35

Permulaan bruntus tersebut timbulnya di badan dan menyebar ke wajah,

lengan dan kaki, lesi dapat pula timbul di selaput lendir mata sehingga tampak

kemerahan dan berair, di mulut akan tampak seperti sariawan atau di saluran

pernapasan yang timbul berupa batuk atau susah bernafas. Penyakit ini

biasanya juga disertai dengan rasa gatal (Jayruhal, 2009).

Setelah 10 sampai 21 hari setelah terkena infeksi virus cacar air muncul

gejala penyakit seperti sakit kepala, demam sedang dan juga rasa tidak enak

badan. Pada anak di bawah umur 10 tahun biasanya tidak muncul gejala,

sedangkan pada orang dewasa bisa lebih parah gejalanya. Setelah dua atau

tiga hari kemudian akan mulai muncul bintek merah datar yang disebut

macula, lalu menjadi menonjol yang disebut papula, kemudian muncul cairan

didalamnya seperti melepuh disertai rasa gatal yang disebut vesikel, dan yang

terakhir adalah mengering sendiri. Lama proses mulai dari macula, papula,

vesikel dan kropeng membutuhkan waktu kurang lebih 6 sampai 8 jam. Proses

berulang-ulang ini akan berlangsung selama empat hari. Pada hari ke lima

biasanya tidak ada kemunculan lepuhan baru di kulit. Pada hari ke enam

semua lepuhan yang tadinya muncul akan kering dengan sendirinya dan

akhirnya hilang setelah kurang lebih sekitar 20 hari

Untuk mengatasi gejala-gejala penyakit cacar air bisa dilakukan dengan

melakukan kompres dingin pada kulit yang terkena agar rasa gatal berkurang

dan mengurasi garuk-garuk yang dapat menyebabkan infeksi. Selain kompres


36

dingin bisa juga dengan memberikan losyen (lotion) khusus. Untuk

mengurangi rasa gatal yang berlebihan bisa diberikan obat pengurang gatal

pada kulit. Jika terjadi demam maka bisa diberikan obat sesuai dengan

petunjuk atau resep dokter. Cacar air nantinya akan hilang dengan sendirinya

pada penderita setelah jangka waktu tertentu.

Apabila di sekitar kita ada orang yang menderita penyakit cacar air

sebaiknya segera menjauh jika kita bukan keluarganya agar tidak tertular.

Jangan dekat-dekat maupun memegang benda-benda yang telah dipegang

penderita ketika sakit cacar air. Jika kita keluarganya ada baiknya penderita

segera dirawat di rumah sakit agar virus tidak menyebar di dalam rumah

maupun di tempat lainnya si penderita melakukan aktivitas. Jika tidak

memungkinkan maka bisa dirawat berobat jalan di rumah sesuai petunjuk dari

dokter. Jangan lupa untuk membersihkan segala benda-benda yang mungkin

terkontaminiasi.

F. Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan

Penatalaksanaan Varisela

Sikap

Bagan 1

Kerangka Konsep
37

G. Hipotesa

1. Ada hubungan pengetahuan orang tua dengan penatalaksanaan penyakit

varisela.

2. Ada hubungan sikap orang tua dengan penatalaksanaan penyakit varisela.

Anda mungkin juga menyukai