9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengetahuan
1. Pengertian Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan
sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai
menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas
perhatian dan persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan seseorang
diperoleh melalui indera pendengaran dan penglihatan. Pengetahuan
seseorang terhadap objek mempunyai intensitas yang berbeda-beda.
Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu, dan hal yang terjadi setelah
orang telah melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu.
Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia. Pengetahuan akan lebih
langgeng dari pada perilaku yang disadari oleh pengetahuan (Notoatmodjo,
2010).
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam
membentuk tindakan seseorang (overbehavior) dari pengalaman dan
penelitian. Ternyata perilaku didasari oleh penelitian akan langgeng dari pada
perilaku yang tidak disadari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2010).
9
10
Pengetahuan (Knowledge) adalah hasil tahu dari manusia yang sekedar
menjawab pertanyaan "What" (Notoatmodjo, 2010).
2. Cara Memperoleh Pengetahuan
Dari berbagai macam cara yang telah digunakan untuk memperoleh
kebenaran sepanjang sejarah, dapat dikelompokkan menjadi 2 yakni
a. Cara Tradisional / non ilmiah
Cara kuno atau tradisional dipakai orang untuk memperoleh kebenaran
pengetahuan yang termasuk cara ini adalah
1. Cara coba salah (Trial and Error) cara paling tradisional yang
digunakan manusia untuk memperoleh pengetahuan. Metode ini
digunakan orang dalam waktu yang cukup lama untuk memecahkan
berbagai masalah.
2. Cara Kekuasaan atau otoritas yaitu diperoleh berdasarkan otoritas
pemerintah, agama maupun ahli ilmu pengetahuan diterima tanpa diuji
atau dibuktikan kebenarannya berdasarkan fakta empiris atau
berdasarkan penalaran sendiri
3. Berdasarkan Pengalaman Pribadi, Pengalaman ini merupakan suatu
cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Kemampuan untuk
menyimpulkan, mengetahui aturan dan membuat prediksi berdasarkan
observasi adalah penting untuk pola penalaran manusia. Pengalaman
individu mempunyai keterbatasan pemahaman yaitu pengalaman
11
mungkin terbatas untuk membuat kesimpulan yang valid tentang situasi
dan penilaian yang bersifat subjektif.
4. Melalui Jalan Pikiran adalah ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan
cara penalaran untuk memperoleh kebenaran jalan pikiran baik secara
induksi maupun deduksi. Secara induksi maksudnya adalah penarikan
kesimpulan dari pernyataan umum ke khusus (Notoatmodjo, 2010).
b. Cara Modern atau Cara Ilmiah
Pendekatan ilmiah adalah pendekatan paling tepat untuk mencari suatu
kebenaran karena didasari pada pengetahuan yang terstruktur dan sistimatis
serta dalam mengumpulkan dan menganalisa data didasarkan pada prinsip
vailiditas dan rehabilitas kombinasi dengan yang logis dengan pendekatan
induktif maupun deduktif, mampu menciptakan sistem problem solving
lebih akurat dan tepat dari cara tradisional (Nursalam, 2001).
3. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
a. Usia
Pada usia dua puluhan orang telah memiliki kemampuan mental yang
diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri pada situasi-situasi
yang baru misalnya mengingat hal–hal yang dulu pernah dipelajari,
penalaran analogi dan berfikir kreatif. Sekitar awal atau pengetahuan umur
tiga puluhan kebanyakan orang muda telah mampu memecahkan masalah
12
– masalah mereka dengan cukup baik sehingga menjadi stabil dan tenang
secara emosional (Notoatmodjo, 2010).
b. Tingkat Pendidikan
Ketidaktahuan dapat disebabkan karena pendidikan yang rendah.
Tingkat pendidikan yang terlalu rendah, akan sulit mencerna pesan atau
informasi yang disampaikan (Mochtar, 2008).
c. Pekerjaan
Pengelompokan ini didasarkan pada teori bahwa dengan adanya
pekerjaan seseorang akan melakukan banyak waktu dan tenaga untuk
menyelesaikan pekerjaan yang dianggap penting dan cenderung
mempunyai banyak waktu untuk tukar pendapat / pengalaman antar teman
dalam kantornya (Notoatmodjo, 2010).
d. Paritas
Seseorang yang sudah pernah melahirkan akan mempunyai
pengetahuan tentang kelahiran yang lalu yang dipergunakan untuk
memecahkan masalah yang dihadapi (Notoatmodjo. S, 2010).
Menurut Manuaba (2002) paritas dibagi menjadi :
1) Primipara adalah wanita yang telah melahirkan bayi aterm sebanyak
satu kali
2) Multipara adalah wanita yang pernah melahirkan anak hidup beberapa
kali, dimana persalinan itu tidak lebih dari lima kali.
13
3) Grandemultipara adalah wanita yang telah melahirkan janin aterm
lebih dari lima kali.
4. Tingkatan Ilmu Pengetahuan
1. Tahu (Know)
Biasanya jenis pengetahuan ini berkaitan dengan “pengetahuan
bahwa” hanya saja “tahu mengapa” berkaitan dengan penjelasan.
Penjelasan ini tidak hanya berhenti pada informasi yang ada. Pengetahuan
model ini merupakan pengetahuan tertinggi dan mendalam sekaligus juga
merupakan pengetahuan ilmiah.
2. Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan
secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan
materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap obyek atau
materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan terhadap obyek yang dipelajari.
3. Aplikasi (Aplication),
Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya. Aplikasi
juga diartikan sebagai penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip dan
sebagainya dalam konteks dan situasi lain.
14
4. Analisis (Analysis).
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
obyek kedalam komponen tapi masih didalam suatu struktur organisasi
tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5. Sintesis (Syntesis)
Menunjuk pada suatu kemampuan untuk meletakkan dan
menghubungkan bagian-bagian di dalam satu bentuk keseluruhan dengan
kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun forkulasi baru.
Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk melakukan
justifikasi dan penilaian terhadap suatu materi atau objek penilaian ini
berdasarkan suatu kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat
dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi
materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden.
6. Evaluasi ( Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi
atau penilaian suatu materi atau objek penilaian-penilaian itu berdasarkan
suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria
yang telah ada.
15
5. Proses Penyerapan Ilmu Pengetahuan
Roger mengemukakan bahwa suatu pesan yang diterima oleh setiap individu
akan melalui 5 tahapan yang telah diungkapkan oleh Effendi (2005) sebagai
berikut :
1. Anwareness
Anwareness adalah dimana seseorang sadar bahwa itu adanya suatu pesan
yang disampaikan.
2. Interest
Interest adalah seseorang mulai tertarik akan isi pesan yang disampaikan.
3. Evaluation
Evaluation adalah tahap dimana penerima pesan mulai mengadakan penilaian
keuntungan dan kerugian dari isi pesan yang disampaikan.
4. Trial
Trial adalah tahap dimana penerima pesan mencoba mempraktekkan isi pesan
yang didengar.
5. Adaption
Adaption adalah tahap dimana penerima pesan mempraktekkan dan
melaksanakan isi pesan dalam kehidupan sehari-hari.
5. Kategori Pengetahuan
Menurut Arikunto (2006), pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:
16
a. Baik : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 76% - 100% dari seluruh
petanyaan
b. Cukup : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 56% - 75% dari seluruh
pertanyaan
c. Kurang : Bila subyek mampu menjawab dengan benar 40% - 55% dari seluruh
pertanyaan
Pengetahuan dibagi dalam 3 kategori, yaitu:
a. Pengetahuan baik jika menjawab pertanyaan lebih dari nilai mean
b. Pengetahuan tidak baik jika menjawab pertanyaan kurang dari nilai mean
B. Sikap
1. Pengertian Sikap
Sikap adalah respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek
tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan
(senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya).
Menurut Mochtar (2008) mendefinisikan sangat sederhana, yakni: ”An
individual’s attitude is syndrome of response consistency with regard to
object”. Jadi jelas dikatakan bahwa sikap itu sindroma atau kumpulan gejala
dalam merespon stimulus atau objek, sehingga sikap itu melibatkan pikiran,
perasaan, perhatian dan gejala kejiwaan yang lain.
Newcomb, salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap
merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan
17
pelaksanaan motif tertentu. Dalam kata lain, fungsi sikap belum merupakan
tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi
perilaku atau tindakan (reaksi tertutup).
Thurstone & Chave (2006) mengemukakan definisi sikap sebagai
keseluruhan kecenderungan dan perasaan, curiga atau bias, asumsi-asumsi,
ide-ide, ketakutan-ketakutan, tantangan-tantangan dan keyakinan-keyakinan
manusia mengenai topik tertentu. Aiken (2007) menambahkan bahwa sikap
adalah predisposisi atau kecenderungan yang dipelajari seseorang individu
untuk merespon secara positif atau negatif dengan intensitas yang moderat
dan atau memadai terhadap objek, situasi, konsep atau orang lain. Definisi
yang dikemukakan Aiken ini sudah lebih aktif dan operasional, baik dalam hal
mekanisme terjadinya maupun intensitas dari sikap itu sendiri. Predisposisi
yang diarahkan terhadap objek diperoleh dari proses belajar.
Sikap menurut Wismanto (2009) adalah suatu konsep paling penting
dalam psikologi sosial. Pembahasan yang berkaitan dengan psikologi sosial
hampir selalu menyertakan unsur sikap baik sikap individu maupun sikap
kelompok sebagai salah satu pembahasannya. Banyak kajian dilakukan untuk
merumuskan pengertian sikap, proses terbentuknya sikap maupun proses
perubahannya.
18
Pengetahuan, pikiran, keyakinan dan emosi memegang peranan penting
dalam pembentukan sikap. Seperti halnya pengetahuan, sikap juga
mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut :
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima
stimulus yang diberikan (objek).
b. Menanggapi (responding)
Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap
pertanyaan atau objek yang dihadapi. mengajak atau mempengaruhi atau
menganjurkan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau
menganjurkan orang lain merespon.
c. Bertanggung jawab (responsible)
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab
terhadap apa yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil
sikap tertentu berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil
risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain.
Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung.
Pengukuran sikap secara langsung dapat dilakukan dengan mengajukan
pertanyaan tentang stimulus atau objek yang bersangkutan. Pertanyaan
secara langsung juga dapat dilakukan dengan cara memberikan pendapat
19
dengan menggunakan kata ”setuju” atau ”tidak setuju” terhadap pertanyaan
terhadap objek tertentu.
d. Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai positif
terhadap objek atau stimulus, dalam arti, membahasnya dengan orang lain.
2. Komponen Sikap
Banaji dan Heiphetz, (2010), menjelaskan tiga komponen sikap yang
saling menunjang satu sama lain. Pertama, komponen kognisi. Komponen
kognisi mencakup penerimaan informasi yang ditangkap oleh panca indera,
yang kemudian diproses dan dipersepsikan, dibandingkan dengan data
informasi yang telah dimiliki, diklasifikasikan, lalu disimpan dalam ingatan
dan digunakan dalam merespon rangsangan.
Sarwono dan Meinarno (2009) menambahkan bahwa komponen kognisi
berisi pemikiran, ide-ide, maupun pendapat yang berkenaan dengan objek
sikap. Pemikiran tersebut meliputi hal-hal yang diketahui individu mengenai
objek sikap, dapat berupa keyakinan atau tanggapan, kesan, atribusi, dan
penilaian terhadap objek sikap. Kedua, komponen afeksi berhubungan dengan
perasaan atau emosi individu yang berupa senang atau tidak senang terhadap
objek sikap.
Ketiga, komponen konasi yang merujuk kepada kecenderungan tindakan
atau respon individu terhadap objek sikap yang berasal dari masa lalu. Respon
20
yang dimaksud dapat berupa tindakan yang dapat diamati dan dapat berupa
niat atau intensi untuk melakukan perbuatan tertentu sehubungan dengan objek
sikap (Sarwono, 2009).
Haddock & Maio (2005), menjelaskan bahwa komponen afeksi dan
kognisi memegang peranan paling penting dalam pembentukan sikap. Berbeda
dengan komponen afeksi dan kognisi, perilaku sebagai komponen sikap yang
dapat diamati seringkali menjadi perdebatan para ahli terkait konsistensinya
dengan sikap individu.
C. Penyakit Varisela
1. Pengertian Panyakit Varisela
Varicella zoster virus (VZV) merupakan famili human (alpha) herpes
virus. Virus terdiri atas genome DNA double-stranded, tertutup inti
yang mengandung protein dan dibungkus oleh glikoprotein. Virus
ini dapat menyebabkan dua jenis penyakit yaitu Varicella (chickenpox)
dan herpes zoster (shingles).
Varisela adalah salah satu penyakit yang umum ditemui pada anak-
anak. 90% kasus cacar air dialami oleh anak-anak yang berusia kurang
dari 10 tahun, dan lebih dari 90% orang telah mengalami penyakit cacar
air pada usia 15 tahun. Penyakit cacar air ini disebabkan oleh infeksi
primer dari virus Varicella zoster, namun setelah sembuh, virus ini tidak
benar-benar hilang dari tubuh. Virus ini akan menetap di bagian saraf
21
tertentu dan nantinya akan menyebabkan herpes zoster atau cacar ular.
Herpes zoster hanya terjadi sekali seumur hidup dan pada usia di atas 60
tahun (Soedarmo, 2009).
Gambar 1
Virus Varisela
2. Epidemiologi
Varicella terdapat diseluruh dunia dan tidak ada perbedaan ras
maupun jenis kelamin. Varicella terutama mengenai anak-anak yang
berusia dibawah 20 tahun terutama usia 3 - 6 tahun dan hanya sekitar
2% terjadi pada orang dewasa. Di Amerika, Varicella sering terjadi
pada anak-anak dibawah usia 10 tahun dan 5% kasus terjadi pada usia
lebih dari 15 tahun dan di Jepang, umumnya terjadi pada anak-anak
dibawah usia 6 tahun sebanyak 81,4 %.
3. Gejala
Gejalanya mulai timbul 10-21 hari setelah terinfeksi. Pada anak-anak
yang usianya berkisar 10 tahun gejala pertamanya adalah sakit kepala,
22
demam sedang, dan rasa tidak enak di badan. Gejala tersebut tidak
ditemukan pada anak-anak di bawah usia 10 tahun dan akan menjadi
gejala yang berat jika menyerang anak yang lebih dewasa. 24-36 jam
pertama setelah timbulnya gejala awal, muncul ruam di badan dan
kemudian tersebar ke wajah, tangan, dan kaki. Selain itu ruam juga akan
muncul di selaput mukosa seperti di bagian dalam mulut atau vagina.
Ruam yang awalnya berbentuk bintik-bintik merah datar (makula), akan
menjadi bintik-bintik menonjol (papula), membentuk lepuhan berisi
cairan (vesikel), yang terasa gatal, dan pada akhirnya mengering. Proses
ini memakan waktu 6-8 jam, selanjutnya akan terbentuk bintik-bintik dan
lepuhan baru. Pada hari kelima biasanya tidak terbentuk lepuhan baru,
seluruh lepuhan akan mengering pada hari keenam, dan akan menghilang
dalam waktu kurang dari 20 hari.
Masa inkubasi Varisela 10 - 21 hari pada anak imunokompeten (rata -
rata 14 - 17 hari) dan pada anak yang imunokompromais biasanya
lebih singkat yaitu kurang dari 14 hari. VZV masuk ke dalam tubuh
manusia dengan cara inhalasi dari sekresi pernafasan (droplet
infection) ataupun kontak langsung dengan lesi kulit. Droplet
infection dapat terjadi 2 hari sebelum hingga 5 hari setelah timbul lesi
dikulit.
23
VZV masuk ke dalam tubuh manusia melalui mukosa saluran
pernafasan bagian atas, orofaring ataupun konjungtiva. Siklus replikasi
virus pertama terjadi pada hari ke 2 - 4 yang berlokasi pada lymph nodes
regional kemudian diikuti penyebaran virus dalam jumlah sedikit
melalui darah dan kelenjar limfe, yang mengakibatkan terjadinya viremia
primer (biasanya terjadi pada hari ke 4 - 6 setelah infeksi pertama). Pada
sebagian besar penderita yang terinfeksi, replikasi virus tersebut dapat
mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh yang belum matang sehingga
akan berlanjut dengan siklus replikasi virus ke dua yang terjadi di hepar
dan limpa, yang mengakibatkan terjadinya viremia sekunder. Pada fase
ini, partikel virus akan menyebar ke seluruh tubuh dan mencapai
epidermis pada hari ke 14-16, yang mengakibatkan timbulnya lesi
dikulit yang khas. Seorang anak yang menderita Varisela akan dapat
menularkan kepada yang lain yaitu 2 hari sebelum hingga 5 hari setelah
timbulnya lesi di kulit.
4. Gejala Klinis
Varisela pada anak yang lebih besar (pubertas) dan orang dewasa
biasanya didahului dengan gejala prodormal yaitu demam, malaise,
nyeri kepala, mual dan anoreksia, yang terjadi 1 - 2 hari sebelum
timbulnya lesi dikulit sedangkan pada anak kecil (usia lebih muda) yang
24
imunokompeten, gejala prodormal jarang dijumpai hanya demam dan
malaise ringan dan timbul bersamaan dengan munculnya lesi dikulit.
Lesi pada Varisela, diawali pada daerah wajah dan scalp, kemudian
meluas ke dada (penyebaran secara centripetal) dan kemudian dapat
meluas ke ekstremitas. Lesi juga dapat dijumpai pada mukosa mulut dan
genital. Lesi pada Varisela biasanya sangat gatal dan mempunyai
gambaran yang khas yaitu terdapatnya semua stadium lesi secara
bersamaan pada satu saat.
Pada awalnya timbul makula kecil yang eritematosa pada daerah
wajah dan dada, dan kemudian berubah dengan cepat dalam waktu 12 -14
jam menjadi papul dan kemudian berkembang menjadi vesikel
yang mengandung cairan yang jernih dengan dasar eritematosa.
Vesikel yang terbentuk dengan dasar yang eritematous mempunyai
gambaran klasik yaitu letaknya superfisial dan mempunyai dinding
yang tipis sehingga terlihat seperti kumpulan tetesan air diatas kulit
(tear drop), berdiameter 2-3 mm, berbentuk elips, dengan aksis
panjangnya sejajar dengan lipatan kulit atau tampak vesikel seperti titik-
titik embun diatas daun bunga mawar (dew drop on a rose petal). Cairan
vesikel cepat menjadi keruh disebabkan masuknya sel radang sehingga
pada hari ke 2 akan berubah menjadi pustula. Lesi kemudian akan
mengering yang diawali pada bagian tengah sehingga terbentuk
25
umbilikasi (delle) dan akhirnya akan menjadi krusta dalam waktu
yang bervariasi antara 2-12 hari, kemudian krusta ini akan lepas dalam
waktu 1 - 3 minggu. Pada fase penyembuhan Varicella jarang terbentuk
parut (scar), apabila tidak disertai dengan infeksi sekunder bakterial.
Varisela yang terjadi pada masa kehamilan, dapat menyebabkan
terjadinya Varicella intrauterine ataupun Varicella neonatal.
Varisela intrauterine, terjadi pada 20 minggu pertama kehamilan,
yang dapat menimbulkan kelainan kongenital seperti ke dua
lengan dan tungkai mengalami atropi, kelainan neurologik maupun
okular dan retardasi mental. Sedangkan Varisela neonatal terjadi apabila
seorang ibu mendapat Varicella (Varicella maternal) kurang dari 5 hari
sebelum atau 2 hari sesudah melahirkan. Bayi akan terpapar dengan
viremia sekunder dari ibunya yang didapat dengan cara transplasental
tetapi bayi tersebut belum mendapat perlindungan antibodi disebabkan
tidak cukupnya waktu untuk terbentuknya antibodi pada tubuh si ibu
yang disebut transplasental antibodi. Sebelum penggunaan Varicella
zoster immunoglobulin (VZIG), angka kematian Varisela neonatal
sekitar 30%, hal ini disebabkan terjadinya pneumonia yang
berat dan hepatitis yang fulminan. Tetapi jika si ibu mendapat Varicella
dalam waktu 5 hari atau lebih sebelum melahirkan, maka si ibu
mempunyai waktu yang cukup untuk membentuk dan mengedarkan
26
antibodi yang terbentuk (transplasental antibodi) sehingga neonatus
jarang menderita Varicella yang berat.
5. Penularan
Virus Varicella zoster menyebar melalui udara. Orang dengan daya
tahan tubuh rendah dapat terserang virus ini. Penularan dapat muncul
sejak 48 jam sebelum ruam pertama muncul hingga 5 hari setelahnya.
Setelah tertular, biasanya dibutuhkan waktu sekiter 10-21 hari gejala
pertama muncul. Jangka waktu ini dikenal sebagai masa inkubasi. Cacar
air ditularkan melalui udara prnapasan, kontak langsung dengan cairan
ruam, dan kontak dengan cairan yang tekena cairan ruam, seperti handuk,
seprei, atau selimut.
Gambar 2
Proses Eksositosi Virus Varisela
27
6. Komplikasi Varisela
Pada anak yang imunokompeten, biasanya dijumpai Varicella yang
ringan sehingga jarang dijumpai komplikasi. Komplikasi yang dapat
dijumpai pada Varicella yaitu :
a. Infeksi sekunder pada kulit yang disebabkan oleh bakteri ‰ Sering
dijumpai infeksi pada kulit dan timbul pada anak-anak yang
jberkisar antara 5 - 10%. Lesi pada kulit tersebut menjadi tempat masuk
organisme yang virulen dan apabila infeksi meluas dapat menimbulkan
impetigo, furunkel, cellulitis, dan erysepelas. Organisme infeksius
yang sering menjadi penyebabnya adalah streptococcus grup A
dan staphylococcus aureus.
b. Scar
Timbulnya scar yang berhubungan dengan infeksi staphylococcus
atau streptococcus yang berasal dari garukan.
c. Peneumonia.
Dapat timbul pada anak - anak yang lebih tua dan pada orang
dewasa, yang dapat menimbulkan keadaan fatal. Pada orang dewasa
insiden Varicella pneumonia sekitar 1 : 400 kasus.
d. Neurologik
Acute postinfeksius cerebellar ataxia. Ataxia sering muncul tiba-tiba,
selalu terjadi 2 - 3 minggu setelah timbulnya Varicella. Keadaan ini
28
dapat menetap selama 2 bulan.
e. Herpes zoster
Komplikasi yang lambat dari Varicella yaitu timbulnya herpes
zoster, timbul beberapa bulan hingga tahun setelah terjadinya infeksi
primer. Varicella zoster virus menetap pada ganglion sensoris
f. Reye syndrome
Ditandai dengan fatty liver dengan encephalophaty. Keadaan ini
berhubungan dengan penggunaan aspirin, tetapi setelah
digunakan acetaminophen (antipiretik) secara luas, kasus reye sindrom
mulai jarang ditemukan.
7. Pemeriksaan Laboratorium
Untuk pemeriksaan virus Varicella zoster (VZV) dapat dilakukan
beberapa test yaitu :
a. Tzanck smear
Preparat diambil dari discraping dasar vesikel yang masih baru,
kemudian diwarnai dengan pewarnaan yaitu hematoxylin-eosin,
Giemsa’s, Wright’s, toluidine blue ataupun Papanicolaou’s.
Dengan menggunakan mikroskop cahaya akan dijumpai
multinucleated giant cells. Pemeriksaan ini sensitifitasnya sekitar 84%.
Test ini tidak dapat membedakan antara virus Varicella zoster
dengan herpes simpleks virus.
29
b. Direct fluorescent assay (DFA)
Preparat diambil dari scraping dasar vesikel tetapi apabila sudah
berbentuk krusta pemeriksaan dengan DFA kurang sensitif. Hasil
pemeriksaan cepat. Membutuhkan mikroskop fluorescence. Test ini
dapat menemukan antigen virus Varicella zoster. Pemeriksaan ini dapat
membedakan antara VZV dengan herpes simpleks virus.
c. Polymerase chain reaction (PCR)
Pemeriksaan dengan metode ini sangat cepat dan sangat sensitif.
Dengan metode ini dapat digunakan berbagai jenis preparat
seperti scraping dasar vesikel dan apabila sudah berbentuk
krusta dapat juga digunakan sebagai preparat, dan CSF. Sensitifitasnya
berkisar 97 - 100%. Test ini dapat menemukan nucleic acid dari virus
Varicella zoster.
d. Biopsi kulit
Hasil pemeriksaan histopatologis : tampak vesikel
intraepidermal dengan degenerasi sel epidermal dan acantholysis.
Pada dermis bagian atas dijumpai adanya lymphocytic infiltrate.
8. Penatalaksanaan
Pada anak imunokompeten, biasanya tidak diperlukan pengobatan
yang spesifik dan pengobatan yang diberikan bersifat simtomatis yaitu
1) Lesi masih berbentuk vesikel, dapat diberikan bedak agar tidak mudah
30
pecah.
2) Vesikel yang sudah pecah atau sudah terbentuk krusta, dapat
diberikan salap antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.
3) Dapat diberikan antipiretik dan analgetik, tetapi tidak boleh golongan
salisilat (aspirin) untuk menghindari terjadinya terjadi sindroma Reye.
4) Kuku jari tangan harus dipotong untuk mencegah terjadinya infeksi
sekunder akibat garukan.
5) Obat antivirus
1) Pemberian antivirus dapat mengurangi lama sakit, keparahan dan
waktu penyembuhan akan lebih singkat.
2) Pemberian antivirus sebaiknya dalam jangka waktu kurang dari 48 -
72 jam setelah erupsi dikulit muncul.
3) Golongan antivirus yang dapat diberikan yaitu asiklovir, valasiklovir
dan famasiklovir.
4) Dosis anti virus (oral) untuk pengobatan Varisela
Neonatus : Asiklovir 500 mg / m2 IV setiap 8 jam selama 10 hari.
Anak ( 2 -12 tahun) : Asiklovir 4 x 20 mg / kg BB / hari / oral
selama 5 hari.
9. Pencegahan
Pada anak imunokompeten yang telah menderita Varisela tidak
diperlukan tindakan pencegahan, tetapi tindakan pencegahan ditujukan
31
pada kelompok yang beresiko tinggi untuk menderita Varicella yang
fatal seperti neonatus, pubertas ataupun orang dewasa, dengan
tujuan mencegah ataupun mengurangi gejala Varicella. Tindakan
pencegahan yang dapat diberikan yaitu :
a. Imunisasi pasif
1) Menggunakan VZIG (Varicella zoster immunoglobulin).
2) Pemberiannya dalam waktu 3 hari (kurang dari 96 jam) setelah
3) Terpajan VZV, pada anak-anak imunokompeten terbukti mencegah
varicellla sedangkan pada anak imunokompromais pemberian VZIG
dapat meringankan gejala Varisela.
4) VZIG dapat diberikan pada yaitu :
1. Anak - anak yang berusia < 15 tahun yang belum pernah
menderita Varicella
2. Usia pubertas >15 tahun yang belum pernah menderita
Varicella dan tidak mempunyai antibodi terhadap VZV.
3. Bayi yang baru lahir, dimana ibunya menderita Varicella
dalam kurun waktu 5 hari sebelum atau 48 jam setelah
melahirkan.
4. Bayi premature dan bayi usia ≤ 14 hari yang ibunya
belum pernah menderita Varicella atau herpes zoster.
5. Anak - anak yang menderita leukaemia atau lymphoma
32
yang belum pernah menderita Varicella.
b. Imunisasi aktif
1) Vaksinasinya menggunakan vaksin variclla virus (Oka strain)
dan kekebalan yang didapat dapat bertahan hingga 10 tahun.
2) Digunakan di Amerika sejak tahun 1995.
3) Daya proteksi melawan Varicella berkisar antara 71 - 100%.
Vaksin efektif jika diberikan pada umur ≥ 1 tahun dan
direkomendasikan diberikan pada usia 12 - 18 bulan.
Anak yang berusia ≤ 13 tahun yang tidak menderita Varicella
direkomendasikan diberikan dosis tunggal dan anak lebih tua
diberikan dalam 2 dosis dengan jarak 4 - 8 minggu.
4) Pemberian secara subcutan.
5) Efek samping : Kadang - kadang dapat timbul demam ataupun
reaksi lokal seperti ruam makulopapular atau vesikel, terjadi pada
3- 5% anak - anak dan timbul 10 - 21 hari setelah pemberian pada
lokasi penyuntikan.
6) Vaksin Varicella : Varivax.
7) Tidak boleh diberikan pada wanita hamil oleh karena dapat
Menyebabkan terjadinya kongenital Varicella
33
D. Hubungan Pengetahun dengan Penatalaksanaan Penyakit Varisela
Penyakit cacar air adalah salah satu penyakit yang disebabkan virus
Varicella zoster. Biasanya anak yang terkena cacar air harus beristirahat total
setidaknya 7 sampai 10 hari. Jika sedang sakit cacar air tubuh akan merasa
panas dan diikuti oleh hidung yang ingusan. Anak yang mengalami cacar air
biasanya terdapat ruam yang dimulai dengan titik merah lalu menjadi seperti
bisul dan bintik merah ini akan bertambah banyak pada hari berikutnya.
Bintik-bintik merah ini bisa saja berada di bagian mulut sehingga membuat
nafsu makan berkurang, menyebabkan gatal yang membuat penderita ingin
menggaruknya serta seringkali diikuti dengan badan meriang dan sakit kepala
(Vera, 2011).
Hal terpenting yang harus dilakukan adalah sebisa mungkin mencegah
anak menggaruk bintik tersebut dengan jarinya, karena bisa membuat bintik
menjalar semakin banyak sehingga memperlama proses penyembuhannya.
Serta usahakan jangan terlalu dekat dengan adik atau kakaknya, agar cacar air
tersebut tidak menulari keduanya. Anak yang terkena penyakit cacar air pasti
merasa tersiksa karena seluruh tubuh terasa gatal dan biasanya dilarang
bermain dengan teman-temannya. Lalu bagaimana menangani anak yang
terkena cacar air agar tidak menulari yang lain.
Bila salah seorang anggota keluarga terkena maka ia harus diisolasikan
dari anggota keluarga yang lain terutama dalam tujuh hari pertama karena
34
dapat menularkan virus yang ada. Anggota keluarga yang harus dijaga dari
penularan khususnya adalah anak-anak karena lebih mudah untuk tertular dan
ibu hamil terutama yang memiliki usia kandungan kurang dari tiga bulan
karena apabila terinfeksi dapat menimbulkan kalainan bawaan pada bayi yang
dikandungnya dan apabila terkena pada beberapa hari menjelang kelahiran
maka bayi yang lahir dapat menderita cacar juga (Jayruhal, 2009).
Hal yang pertama diupayakan sebelum melakukan pengobatan adalah
menjaga agar bruntus tidak pecah secara dini untuk mencegah infeksi
sekunder oleh bakteri dengan cara diberikan bedak yang mengandung zat anti
gatal (mentol dan kanfora) seperti bedak salycil. Dokter biasanya akan
memberikan obat antivirus serta obat-obat yang dapat mengurangi gejala
pedih dan gatal yang dirasakan penderita. Biasanya jaringan parut yang timbul
pada kulit akan sangat sedikit jika perawatan yang dilakukan teliti dan
kebersihan kulit tetap terjaga (Jayruhal, 2009).
E. Hubungan Sikap dengan Penatalaksanaan Penyakit Varisela
Gejala awal yang dirasakan penderita Varisella umumnya berupa demam
yang tidak terlalu tinggi, lesu dan lemah yang disertai dengan nyeri kepala,
sesudah itu baru timbul lesi kulit yang berupa bruntus-bruntus kemerahan dan
dalam beberapa jam bruntus-bruntus tersebut akan berubah menjadi bruntus
yang berisi cairan. Jika bruntus tersebut terinfeksi bakteri maka bruntus
tersebut dapat berisi nanah yang jika pecah dan mengering menjadi keropeng.
35
Permulaan bruntus tersebut timbulnya di badan dan menyebar ke wajah,
lengan dan kaki, lesi dapat pula timbul di selaput lendir mata sehingga tampak
kemerahan dan berair, di mulut akan tampak seperti sariawan atau di saluran
pernapasan yang timbul berupa batuk atau susah bernafas. Penyakit ini
biasanya juga disertai dengan rasa gatal (Jayruhal, 2009).
Setelah 10 sampai 21 hari setelah terkena infeksi virus cacar air muncul
gejala penyakit seperti sakit kepala, demam sedang dan juga rasa tidak enak
badan. Pada anak di bawah umur 10 tahun biasanya tidak muncul gejala,
sedangkan pada orang dewasa bisa lebih parah gejalanya. Setelah dua atau
tiga hari kemudian akan mulai muncul bintek merah datar yang disebut
macula, lalu menjadi menonjol yang disebut papula, kemudian muncul cairan
didalamnya seperti melepuh disertai rasa gatal yang disebut vesikel, dan yang
terakhir adalah mengering sendiri. Lama proses mulai dari macula, papula,
vesikel dan kropeng membutuhkan waktu kurang lebih 6 sampai 8 jam. Proses
berulang-ulang ini akan berlangsung selama empat hari. Pada hari ke lima
biasanya tidak ada kemunculan lepuhan baru di kulit. Pada hari ke enam
semua lepuhan yang tadinya muncul akan kering dengan sendirinya dan
akhirnya hilang setelah kurang lebih sekitar 20 hari
Untuk mengatasi gejala-gejala penyakit cacar air bisa dilakukan dengan
melakukan kompres dingin pada kulit yang terkena agar rasa gatal berkurang
dan mengurasi garuk-garuk yang dapat menyebabkan infeksi. Selain kompres
36
dingin bisa juga dengan memberikan losyen (lotion) khusus. Untuk
mengurangi rasa gatal yang berlebihan bisa diberikan obat pengurang gatal
pada kulit. Jika terjadi demam maka bisa diberikan obat sesuai dengan
petunjuk atau resep dokter. Cacar air nantinya akan hilang dengan sendirinya
pada penderita setelah jangka waktu tertentu.
Apabila di sekitar kita ada orang yang menderita penyakit cacar air
sebaiknya segera menjauh jika kita bukan keluarganya agar tidak tertular.
Jangan dekat-dekat maupun memegang benda-benda yang telah dipegang
penderita ketika sakit cacar air. Jika kita keluarganya ada baiknya penderita
segera dirawat di rumah sakit agar virus tidak menyebar di dalam rumah
maupun di tempat lainnya si penderita melakukan aktivitas. Jika tidak
memungkinkan maka bisa dirawat berobat jalan di rumah sesuai petunjuk dari
dokter. Jangan lupa untuk membersihkan segala benda-benda yang mungkin
terkontaminiasi.
F. Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen
Pengetahuan
Penatalaksanaan Varisela
Sikap
Bagan 1
Kerangka Konsep
37
G. Hipotesa
1. Ada hubungan pengetahuan orang tua dengan penatalaksanaan penyakit
varisela.
2. Ada hubungan sikap orang tua dengan penatalaksanaan penyakit varisela.