15
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari bahasa inggris yaitu "Manage" yang berarti,
mengurus, mengelola, mengendalikan, mengusahakan, memimpin. Sedangkan
Pengertian manajemen secara etimologis adalah seni melaksanakan dan mengatur.
Pengertian manajemen juga dipandang sebagai disiplin ilmu yang mengajarkan
proses mendapatkan tujuan organisasi dalam upaya bersama dengan sejumlah
orang atau sumber milik organisasi.
Secara umum manajemen adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang
bagaimana seorang mengatur, melaksanakan, mengelola dan menyelesaikan
pekerjaannya dengan baik sesuai dengan prosedur perusahaan.
Menurut Jones dan George (2007:5) manajemen adalah perencanaan,
pengorganisasian, pemimpinan dan pengendalian atau pengawasan manusia serta
sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi secara efektif dan
efisien.
Menurut Robbin dan Coutler (2007:8) manajemen adalah proses
pengkoordinasian kegiatan-kegiatan pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut
terealisasikan secara efisien dan efektif dan melalui orang lain.
16
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah
suatu proses yang berkaitan dengan mewujudkan suatu tujuan atau pencapaian
tujuan organisasi yang telah direncanakan sebelumnya.
2.2 Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
2.2.1 Pengertian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang penting dalam
organisasi atau perusahaan, disamping faktor lain seperti aktiva dan modal. Oleh
karena itu sumber daya manusia harus dikelola dengan baik untuk
meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi, sebagai salah satu fungsi
dalam perusahaan yang dikenal dengan manajemen sumber daya manusia.
Menurut Mathis dan Jackson dalam Suparno Eko Widodo (2015:3)
manajemen sumber daya manusia dapat diartikan sebagai ilmu dan seni yang
mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar efektif dan efisien dalam
penggunaan kemampuan manusia agar dapat mencapai tujuan disetiap
perusahaan.
Rivai (2010:1) mengemukakan bahwa manajemen sumber daya manusia
adalah salah satu bidang dari manajemen umum yang meliputi segi-segi
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian.
Menurut Mangkunegara (2008), manajemen sumber daya manusia
merupakan suatu perencanaan, pengkoordinasian, pelaksanaan, dan pengawasan
17
terhadap pengadaan, pengembangan, pemberi balas jasa, pengintegrasian,
pemeliharaan, dan pemisahan tenaga keja dalam rangka mencapai tujuan
organisasi.
Dari beberapa definisi dapat disimpulkan bahwa manajemen sumber daya
manusia adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian
atas pengadaan tenaga kerja, pengembangan, kompensasi, integrasi dan
pemeliharaan orang-orang untuk tujuan membantu/menunjang tujuan-tujuan
organisasi, individu dan sosial.
2.2.2. Fungsi-fungsi Manajemen Sumber Daya Manusia
Hasibuan (2011:21) menyatakan bahwa fungsi-fungsi sumber daya
manusia adalah:
1. Fungsi Manajerial
a. Perencanaan (planning)
Adalah merencanakan tenaga kerja secara efektif serta
efisien agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam membantu
terwujudnya tujuan. Perencanaan dilakukan dengan menetapkan
program [Link] kepegawaian meliputi
pengorganisasian, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan dan
pemberhentian karyawan. Program kepegawaian yang baik akan
membantu tercapainya tujuan perusahaan, karyawan dan
masyarakat.
18
b. Pengorganisasian (organization)
Adalah kegiatan untuk mengorganisasi semua karyawan
dengan menetaokan pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi
wewenang, integrasi dan koordinasi dalam bagian organisasi
(organization chart). Organisasi hanya merupakan alat untuk
pencapaian tujuan. Dengan organisasi yang baik akan membentuk
terwujudnya tujuan secara efektif.
c. Pengarahan (directing)
Adalah kegiatan mengarahkan semua karyawan, agar mau
bekerja sama dengan bekerja efektif serta efisien dalam membantu
tercapainya tujuan perusahaan, karyawan dan masyarakat.
Pengarahan dilakukan pemimpin dengan menugaskan bawahannya
agar mengerjakan semua tugasnya dengan baik.
d. Pengendalian (controlling)
Adalah kegiatan mengendalikan semua karyawan agar
mentaati peraturan-peraturan perusahaan dan bekerja sesuai dengan
rencana. Apabila terdapat penyimpangan atau kesalahan, diadakan
tindakan perbaikan dan penyempurnaan rencana. Pengendalian
karyawan meliputi kehadiran, kedisiplinan, perilaku, kerja sama,
pelaksanaan pekerjaan dan menjaga situasi lingkungan pekerjaan.
19
2. Fungsi Operasional
a. Pengadaan (procurement)
Adalah proses penarikan, seleksi, penempatan, orientasi
dan induksi untuk mendapatkan karyawan yang sesuai dengan
kebutuhan perusahaan. Pengadaan yang baik akan membantu
terwujudnya tujuan.
b. Pengembangan (development)
Adalah proses meningkatkan keterampilan teknis, teoritis,
konseptual dan moral karyawan melalui pendidikan dan pelatihan.
Pendidikan dan pelatihan yang diberikan harus sesuai dengan
kebutuhan pekerjaan masa kini maupun masa depan.
c. Kompensasi (compensation)
Adalah pemberian balas jasa langsung (direct) dan tidak
langsung (indirect), uang atau barang terhadap karyawan sebagai
imbalan jasa yang diberikan kepada perusahaan. Prinsip
kompensasi adalah adil dan layak, adil diartikan sesuai dengan
prestasi kerjanya, layak diartikan dapat memenuhi kebutuhan
primernya serta berpedoman pada batas upah minimum pemerintah
dan berdasarkan internal dan eksternal konsistensi.
20
d. Pengintegrasian (integration)
Adalah kegiatan untuk mempersatukan kepentingan
perusahaan dan kebutuhan karyawan, agar tercipta kerja sama yang
serasi dan saling menguntungkan. Perusahaan memperoleh laba,
karyawan dapat memenuhi kebutuhan dari hasil pekerjaannya.
Pengintegrasian merupakan hal yang penting dan sulit dalam
manajemen sumber daya manusia, karena mempersatukan dua
kepentingan yang bertolak belakang.
e. Pemeliharaan (maintenance)
Adalah kegiatan untuk memelihara atau meningkatkan
kondisi fisik, mental dan loyalitas karyawan agar mereka tetap mau
bekerja sama sampai pensiun. Pemeliharaan yang baik dilakukan
dengan program kesejahteraan yang berdasarkan kebutuhan
sebagian besar karyawan serta berpedoman kepada internal dan
eksternal konsistensi.
f. Kedisiplinan
Adalah fungsi manajemen sumber daya manusia terpenting
dan fungsi keberhasilan terwujudnya tujuan. Karena tanpa disiplin
yang baik sulit untuk terwujudnya tujuan perusahaan.
21
g. Pemberhentian
Adalah putusnya hubungan kerja seseorang dari
perusahaan. Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan
karyawan, keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun
dan sebab-sebab lainnya.
2.2.3 Tujuan Manajemen Sumber Daya Manusia
Tujuan dari manajemen sumber daya manusia, menurut (Hasibuan,
2011:250) yaitu sebagai berikut:
1. Untuk menentukan dan kuantitas karyawan yang akan mengisi semua
jabatan dalam perusahaan.
2. Untuk menjamin tersedianya tenaga kerja masa kini maupun masa depan,
sehingga setiap pekerjaan ada yang mengerjakannya.
3. Untuk menghindari terjadinya mis manajemen dan tumpang tindih dalam
pelaksanaan tugas.
4. Untuk mempermudah koordinasi, integrasi dan sinkronisasi (KIS), sehingga
produktivitas kerja meningkat.
5. Untuk menghindari kekurangan dan kelebihan karyawan.
6. Untuk menjadi pedoman dalam menetapkan program penarikan seleksi,
pengembangan, kompensasi, pengintegrasian, pemeliharaan, kedisiplinan
dan pemberhentian karyawan.
22
7. Menjadi pedoman dalam melaksanakan mutasi (vertical atau horizontal)
dan pensiun karyawan.
8. Menjadi dasar dalam melakukan penilaian karyawan.
2.2.4. Pendekatan Dalam Manajemen Sumber Daya Manusia
Menurut Suparno Eko Widodo (2015:6), dalam penyelenggaraan
manajemen SDM digunakan empat ikatan yang saling mengisi yaitu:
1. Pendekatan Kemanusiaan
Mengacu kepada pertimbangan bahwa martabat manusia jangan
sampai dikorbankan hanya demi kepentingan organisasi saja.
Perlakuan yang hati-hati terhadap kebutuhan manusia akan lebih
menguntungkan organisasi. Pendekatan ini adalah untuk menyadarkan
kepada kita bahwa penanganan manajemen SDM harus dibedakan dari
manajemen sumber daya lainnya yang tidak mempunyai kemampuan
untuk menolak atau mengeluh.
2. Pendekatan Manajemen
Mengacu pada pertimbangan bahwa manajemen SDM adalah
merupakan tanggung jawab dari semua manajer. Fungsi bagian
personel atau SDM sesuai dengan keahliannya hanyalah mendukung
agar para manajer tadi dapat mendayagunakan personel atau
anggotanya secara lebih baik.
23
3. Pendekatan Sistem
Mengacu kepada pertimbangan bahwa pada hakikatnya manajeman
SDM hanyalah merupakan bagian (subsistem) dari sistem manajemen
organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu keberhasilan dari
manajemen SDM diukur dari sejauh mana kontribusinya terhadap
keberhasilan dari sistem organisasi secara keseluruhan.
4. Pendekatan Proaktif
Mengacu kepada pertimbangan bahwa manajemen SDM akan
lebih berhasil dalam memberikan kontribusinya kepada individu,
manajer, dan organisasi bila dapat mengantisipasi terlebih dahulu
tantangan dan hambatan apa yang akan dihadapi oleh organisasi.
2.3 Kompensasi
2.3.1 Pengertian Kompensasi
Kompensasi merupakan komponen penting dalam hubungannya dengan
karyawan. Kompensasi meliputi bentuk pembayaran tunai langsung,
pembayaran tidak langsung dalam bentuk manfaat karyawan dan insentif untuk
memotivasi karyawan agar bekerja keras untuk mencapai produktivitas yang
semakin tinggi. Jika dikelola dengan baik, kompensasi membantu perusahaan
untuk mencapai tujuan dan memperoleh serta memelihara karyawan dengan
baik. Sebaliknya tanpa kompensasi yang cukup, karyawan yang ada sangat
24
mungkin untuk meninggalkan perusahaan dan untuk melakukan penempatan
kembali tidaklah mudah. Akibat ketidakpuasan dalam pembayaran akan
mengurangi kinerja, meninggalkan keluhan, menyebabkan mogok kerja dan
mengarah pada tindakan-tindakan fisik dan psikologis, seperti ketidakhadiran
dan sebagainya.
Berikut ini beberapa pengertian kompensasi menurut para ahli yaitu:
1. Menurut Marihot Tua E.H dalam Danang Sunyoto (2013:153) kompensasi
adalah keseluruhan balas jasa yang diterima olehpegawai sebagai akibat dari
pelaksanaan pekerjaan di organisasi dalam bentuk atau yang lainnya, yang
dapat berupa gaji, upah, bonus, insentif dan tunjangan lainnya seperti
tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya, uang makan, uang cuti dan lain-
lainnya.
2. Menurut Werther dan Davis dalam Donni Juni Priansa (2014:319) bahwa
kompensasi merupakan sesuatu yang diterima pegawai sebagai penukar atas
kontribusi jasa mereka bagi organisasi.
3. Menurut Dessler dalam Indah Puji Hartatik (2014:241) kompensasi adalah
setiap bentuk pembayaran atau imbalan yang diberikan kepada karyawan dan
timbul dari pekerjaannya karyawan itu.
Berdasarkan dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kompensasi
adalah pemberian imbalan balas jasa dari perusahaan kepada karyawan, baik
berbentuk uang, barang langsung atau tidak langsung atas pekerjaan yang
25
mereka berikan kepada perusahaan untuk mencapai tujuan atau sasaran
organisasi.
2.3.2 Fungsi Kompensasi
Fungsi pemberian kompensasi menurut Salidin dalam Indah Puji Hartatik
(2014:243) adalah sebagai berikut:
1. Pengalokasian SDM secara efisien
Fungsi ini menunjukan pemberian kompensasi kepada karyawan yang
berprestasi akan mendorong mereka untuk bekerja lebih baik.
2. Penggunaan SDM secara lebih efisien dan efektif
Pemberian kompensasi kepada karyawan mengandung implikasi bahwa
organisasi akan menggunakan tenaga karyawan dengan seefisien dan
seefektif mungkin.
3. Mendorong stabilitas dan pertumbuhan ekonomi
Sistem pemberian kompensasi dapat membantu stabilitas organisasi dan
mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
2.3.3 Tujuan Pemberian Kompensasi
Pada umumnya, kompensasi bertujuan untuk kepentingan perusahaan,
karyawan dan pemerintah/masyarakat. Supaya tujuan tercapai dan memberikan
kepuasan bagi semua pihak, hendaknya kompensasi ditetapkan dengan adil dan
26
wajar. Berikut adalah tujuan pemberian kompensasi pada karyawan menurut
Hasibuan dalam Suparno Eko Widodo (2015:156) adalah sebagai berikut:
1. Ikatan Kerja Sama
Kompensasi dilakukan dengan tujuan antara karyawan dan pemilik
perusahaan dapat terjalin ikatan kerja sama yang kuat, terutama dengan
disepakatinya kompensasi sebagai bagian dari perjanjian kerja sama. Ikatan
perjanjian atau kesepakatan ini memungkinkan terjadinya kerja sama, dimana
karyawan berperan sebagai pekerja dan pemilik perusahaan berperan sebagai
pemberi balas jasa atas segala kerja keras yang telah diberikan oleh karyawan
kepada perusahaan.
2. Kepuasan Kerja
Tujuannya adalah agar karyawan yang telah memberikan kontribusi
melalui pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dapat terpuaskan karena
pemberian kompensasi memungkinkan karyawan merasa dihargai dan juga
terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan karyawan baik bersifat fisik, stasus sosial
dan egoistiknya.
3. Pengadaan Efektif
Dengan progam pemberian kompensasi yang cukup besar, maka pegadaan
karyawan berkualitas yang dibutuhkan oleh perusahaan akan dengan mudah
dipenuhi.
27
4. Motivasi
Dengan adanya kompensasi yang cukup besar dirasakan oleh karyawan,
maka karyawan pun merasa termotivasi dalam melakukan pekerjaannya.
5. Stabilitas Karyawan
Kompensasi yang diberikan oleh perusahaan sudah ditentukan berdasarkan
prinsip-prinsip keadilan, kelayakan serta didukung oleh konsistensi eksternal.
6. Disiplin
Karyawan hendaknya mendapatkan balas jasa yang setimpal atas
pekerjaan yang telah dilakukannya, sehingga membuat karyawan enggan
pindah pekerjaan apalagi diberhentikan oleh PHK, oleh karena itu penuh
dengan kesadaran karyawan akan senantiasa mematuhi segala aturan yang
telah ditetapkan oleh perusahaan.
7. Pengaruh Serikat Buruh
Karyawan yang menilai kompensasi cukup besar dan adil, tentunya akan
lebih berkonsentrasi pada pekerjaannya, sehingga dengan sendirinya penyalur
aspirasi negatif atau bentuk-bentuk protes yang bersifat kontra produktif
kepada dan melalui serikat buruh dapat diminimalisasi atau dapat dihilangkan
sama sekali dilingkungan perusahaan.
28
8. Pengaruh Pemerintah
Dengan adanya program kompensasi yang cukup besar, adil dan sesuai
dengan undang-undang perburuhan, maka pengaruh pemerintah dapat
dihindarkan.
2.3.4 Jenis-jenis Kompensasi
Tiga jenis kompensasi secara garis besar menurut Nawawi dalam Donni
Juni Priansa (2014:321) adalah:
1. Kompensasi Langsung
Penghargaan/ganjaran yang disebut gaji atau upah, yang dibayar secara
tetap berdasarkan tenggang waktu yang tetap.
2. Kompensasi Tidak Langsung
Pemberian bagian keuntungan/manfaat bagi para pekerja diluar gaji atau
upah tetap, dapat berupa uang atau barang.
3. Insentif
Penghargaan atau ganjaran yang diberikan untuk memotivasi para pekerja
agar produktivitas kerjanya tinggi, sifatnya tidak tetap atau sewaktu-waktu.
29
2.3.5Asas Dalam Penentuan Kompensasi
Menurut Hasibuan dalam Suparno Eko Widodo (2015:157) ada dua asas
dalam penentuan kompensasi yang harus diperhatikan oleh organisasi atau
perusahaan, yaitu:
1. Asas Adil
Besarnya kompensasi harus sesuai dengan prestasi kerja, jenis pekerjaan,
resiko pekerjaan, tanggung jawab dan jabatan. Kompensasi tanpa
menyesuaikan aspek-aspek diatas akan menggagalkan maksud dari
kompensasi itu sendiri.
2. Asas Layak dan Wajar
Suatu kompensasi harus disesuaikan dengan kelayakannya. Meskipun
tolak ukur layak sangat relatif, perusahaan dapat mengacu pada batas
kewajaran yang sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh pemerintahan
dan aturan lain secara konsisten.
2.3.6 Tahapan Penetapan Kompensasi
Menurut Panggabean (dalam Indah Puji Hartatik, 2014:257) tahapan-
tahapan yang dilalui dalam pemberian kompensasi supaya terasa adil terdiri
atas:
30
1. Menyelenggarakan survei gaji, yaitu survei mengenai jumlah gaji yang
diberikan bagi pekerjaan agar sebanding dengan perusahaan lain (untuk
menjamin keadilan eksternal).
2. Menentukan nilai setiap pekerjaan dalam perusahaan melaui evaluasi
pekerjaan (untuk menjamin keadilan internal).
3. Mengelompokkan pekerjaan yang sama atau sejenis kedalam tingkat upah
yang sama pula (untuk menjamin employye equity/keadilan karyawan).
4. Menetapkan harga setiap tingkat gaji dengan menggunakan garis upah.
5. Menyesuaikan tingkat upah dengan peraturan perundang-undangan yang
berlaku (menjamin gaji layak dan wajar).
2.3.7 Faktor Yang Mempengaruhi Kompensasi
Menurut Hasibuan dalam Donni Juni Priansa (2014:333) ada sepuluh
faktor yang mempengaruhi kompensasi, yaitu sebagai berikut:
1. Penawaran dan Permintaan
Jika pencari kerja (penawaran) lebih banyak daripada lowongan pekerjaan
(permintaan) maka kompensasi relatif kecil. Sebaliknya jika pencari kerja
lebih sedikit daripada lowongan pekerjaan maka kompensasi relatif semakin
besar.
31
2. Kemampuan dan Kesediaan Organisasi
Apabila kemampuan dan kesediaan organisasi untuk membayar semakin
baik, maka tingkat kompensasi akan semakin besar. Tetapi sebaliknya, jika
kemampuan dan kesediaan organisasi untuk membayar kurang, maka tingkat
kompensasi relatif kecil.
3. Serikat Buruh
Apabila serikat buruhnya kuat dan berpengaruh maka tingkat kompensasi
semakin besar. Sebaliknya jika serikat buruh tidak kuat dan kurang
berpengaruh maka tingkat kompensasi semakin kecil.
4. Produktivitas Kerja Pegawai
Jika produktivitas kerja pegawai baik dan banyak maka kompensasi akan
semakin besar. Sebaliknya kalau produktivitas kerjanya buruk serta sedikit
maka kompensasinya kecil.
5. Pemerintah dengan Undang-undang dan Keppres
Pemerintah dengan Undang-undang dan Keppres menetapkan besarnya
Upah Minimum Regional (UMR). Peraturan pemerintah ini sangat penting
supaya pengusah tidak sewenang-wenang menetapkan besarnya kompensasi
bagi pegawai.
32
6. Biaya Hidup
Apabila biaya hidup di daerah itu tinggi maka tingkat kompensasi semakin
besar. Sebaliknya, jika tingkat biaya hidup di daerah itu rendah maka tingkat
kompensasi relatif kecil.
7. Posisi Jabatan Pegawai
Pegawai yang mnduduki jabatan lebih tinggi akan menerima kompensasi
lebih besar. Sebaliknya, pegawai yang menduduki jabatan yang lebih rendah
akan memperoleh kompensasi yang kecil. Hal ini wajar karena seseorang yang
mendapat kewenangan dan tanggung jawab yang besar harus mendapatkan
kompensasi yang lebih besar.
8. Pendidikan dan Pengalaman Kerja
Jika pendidikan lebih tinggi dan pengalaman kerja lebih lama maka
kompensasi akan semakin besar, karena kecakapan serta ketrampilannya lebih
baik. Sebaliknya, pegawai yang berpendidikan rendah dan pengalaman kerja
yang kurang maka tingkat kompensasinya kecil.
9. Kondisi Perekonomian Nasional
Apabila kondisi perekonomian nasional sedang maju (boom) maka tingkat
kompensasi akan semakin besar, karena akan mendekati kondisi full
employment. Sebaliknya, jika kondisi perekonomian kurang maju (depresi)
maka tingkat upah rendah, karena terdapat banyak penganggur
(unemployment).
33
10. Jenis dan Sifat Pekerjaan
Kalau jenis dan sifat pekerjaan yang sulit dan mempunyai resiko
(financial, keselamatan) yang besar maka tingkat kompensasi semakin besar
karena membutuhkan kecakapan serta ketelitian untuk mengarjakannya.
Tetapi jika jenis dan sifat pekerjaanya mudah dan resiko (financial,
kecelakaannya) kecil, tingkat kompensasinya relatif rendah.
2.3.8 Sistem Kompensasi
Menurut Hasibuan dalam Suparno Eko Widodo (2015:158) sistem
kompensasi diuraikan sebagai berikut:
a. Sistem Waktu
Dalam sistem waktu, kompensasi ditetapkan berdasarkan standar waktu
seperti jam, hari, minggu atau bulan. Sistem waktu ini diterapkan jika prestasi
kerja sulit diukur perunitnya dan bagi karyawan tetap kompensasinya dibayar
atas sistem waktu secara periodic setiap bulannya. Kebaikan sistem waktu
ialah administrasi pengupahan mudah dan besarnya kompensasi yang akan
dibayarkan tetap. Kelemahan sistem waktu ialah yang malas pun
kompensasinya tetap dibayar sebesar perjanjian.
b. Sistem Hasil (output)
Besarnya kompensasi ditetapkan atas kesatuan unit yang dihasilkan
pekerja, sperti perpotong, permeter, liter dan kilogram. Dalam sistem hasil
(output), besarnya kompensasi yang dibayar selalu didasarkan kepada
34
banyaknya hasil yang dikerjakan bukan kepada lamanya waktu
mengerjakannya. Kebaikan sistem ini memberikan kesempatan kepada
karyawan yang bekerja sungguh-sungguh serta berprestasi baik akan
memperoleh balas jasa yang lebih besar. Kelemahan sistem hasil ini ialah
kualitas barang yang dihasilkan kurang baik dan karyawan yang kurang
mampu balas jasanya kecil, sehingga kurang manusiawi.
c. Sistem Borongan
Suatu cara pengupahan yang penetapan besarnya jasa didasarkan atas
volume pekerjaan dan lama mengerjakannya. Dalam sistem borongan ini
pekerja biasa mendapat balas jasa besar atau kecil tergantung atas kecermatan
kalkulasi mereka.
2.4 Budaya Organisasi
2.4.1 Pengertian Budaya Organisasi
Menurut Luthans dalam Syamsir Torang (2014:107) budaya organisasi
adalah tata nilai dan norma yang menuntun perilaku jajaran organisasi.
Menurut Mangkunegara dalam Yulius Eka Agung Seputra (2014:113)
menyatakan budaya organisasi adalah seperangkat asumsi atau sistem
keyakinan, nilai-nilai dan norma yang dikembangkan dalam organisasi yang
dijadikan pedoman tingkah laku bagi anggota-anggotanya untuk mengatasi
masalah adaptasi eksternal dan internal.
35
Sedangkan menurut Robbins dan Judge dalam Danang Sunyoto
(2013:225) mendefinisikan budaya organisasi sebagai sebuah sistem makna
bersama yang dianut oleh para anggota organisasi yang membedakan organisasi
tersebut dengan organisasi yang lain. Sistem makna bersama ini merupakan
sekumpulan karakteristik kunci yang dijunjung tinggi oleh organisasi.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa budaya organisasi
merupakan suatu prinsip dasar dari suatu organisasi. Hal ini meliputi nilai,
keyakinan, norma dan perilaku yang dianut oleh organisasi dan menjadi cirri
khas dari organisasi tersebut.
2.4.2 Bentuk Budaya Organisasi
Menurut Jeff Cartwright dalam Syamsir Torang (2014:107) membagi
empat bentuk budaya yang dipandang sebagai siklus budaya, yaitu sebagai
berikut:
a. Monoculture; individu atau kelompok berpikir sama sesuai dengan norma
budaya yang sama, dicirikan ekstrem (fanatik dan fundamentalis).
b. Superordinate culture; subkultur terkoordinasi (setiap individu bergerak
dengan keyakinan dan nilai-nilai, gagasan dan sudut pandang sendiri, namun
bekerja dalam satu organisasi dan semua termotivasi). Superordinate
culturemerupakan bentuk ideal budaya organisasi. Perbedaan budaya menjadi
akibat pemisahan dan konflik atau sumber vitalitas, kreativitas dan energy.
36
c. Divisive culture; bentuk ini memecah belah karena setiap individu memiliki
agenda dan tujuannya sendiri. Dalam model ini, organisasi ditarik kea rah
yang berbeda. Gejala budaya ini adalah vandalism, kejahatan, inefisiensi dan
kekacauan.
d. Disjuntive culture; diindikasikan dengan pemecahan organisasi secara
eksplosif atau menjadi unit budaya individual.
Menurut Stephen P. Robbins dalam Syamsir Torang (2014:108)
mengelompokkan bentuk budaya, yaitu networked culture, mercenary culture,
fragmented culture dan communal culture. Penetapan bentuk budaya tersebut
melalui hubungan antara tingkat sosiabilitas dan solidaritas. Dimensi sosiabilitas
adalah tingkat persahabatan diantara anggota organisasi. Dimensi solidaritas
adalah tingkatan dimana orang saling mengerti terhadap tugas dan fungsinya.
a. Network Culture
Organisasi memandang anggota sebagai keluarga dan teman (high on
sociability but low on solidarity). Orang-orang dalam network culture
sangat bersahabat dan bersuka ria dalam gaya, cenderung berbicara tentang
bisnis secara bebas, kebiasaan informal dan menggunakan banyak waktu
untuk sosialisasi dan tanpa masalah, serta saling mengetahui satu sama lain
dengan cepat dan merasa bahwa mereka adalah bagian dari organisasi.
37
b. Mercenary Culture
Organisasi berorientasi pada tujuan (low on sociability but high on
solidarity), komunikasi cenderung cepat, langsung dan dikendalikan
dengan cara yang tidak ada yang tidak mungkin, tidak toleran pada
kebiasaan menghabiskan waktu, menonjolkan bisnis dan omong kosong,
toleransi dalam menggunakan waktu yang lama untuk mewujudkan
tujuannya.
c. Fragmented Culture
Low on sociability and low on solidarity; budaya ini menggunakan orang
yang bekerja dengan sedikit melakukan kontak bahkan tidak saling
mengenal, tidak menempatkan identifikasi organisasi, serta cenderung
mengidentifikasi dengan profesi di mana mereka diposisikan.
[Link] Culture
High on sociability and high on solidarity; anggota organisasi sangat
bersahabat dan bergaul, baik secara pribadi maupun secara professional,
umumnya terjadi pada perusahaan yang menggunakan teknologi tinggi;
individu dalam organisasi cenderung berbagi dalam banyak hal,
komunikasi mengalir dengan sangat mudah, mereka mengenakan logo
perusahaan, hidup dalam kepercayaan perusahaan dan membela perusahaan
dari orang lain.
38
2.4.3 Fungsi Budaya Organisasi
Menurut Robbins dalam Prabundu Tika (2006:13) budaya organisasi
memiliki sejumlah fungsi, yaitu:
1. Budaya mempunyai suatu peran menetapkan tapal batas, artinya budaya
menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dengan organisasi
yang lainnya.
2. Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
3. Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas
daripada kepentingan diri individu seseorang.
4. Budaya meningkatkan kemantapan system social. Budaya merupakan
perekat social yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan
memberikan standar-standar yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan
dilakukan oleh para pegawai. Akhirnya budaya berfungsi sebagai mekanisme
pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta
perilaku pegawai.
Sedangkan menurut Ouchi dalam Prabundu Tika (2006:14) menyatakan
bahwa fungsi budaya organisasi adalah mempersatukan kegiatan para anggota
perusahaan yang terdiri dari sekumpulan individu dengan latar belakang
kebudayaan yang berbeda.
39
Sementara menurut Pascale dan Athos dalam Prabundu Tika (2006:14)
budaya organisasi berfungsi untuk mengajarkan kepada anggotanya bagaimana
mereka harus berkomunikasi dan berhubungan dalam menyelesaikan masalah.
2.4.4 Karakteristik Budaya Organisasi
Menurut Luthans dalam Syamsir Torang (2014:110) mengungkapkan
bahwa ada enam karakteristik budaya organisasi, antara lain sebagai berikut:
1. Keteraturan perilaku
Yaitu apabila para partisipan organisasi yang saling berinteraksi satu
sama lain, baik itu interaksi antar anggota organisasi maupun interaksi antara
anggota organisasi dengan orang-orang yang berhubungan dengan organisasi,
maka dalam menjalin hubungan/interaksi mereka akan menggunakan bahasa
yang sama, terminologi dan ritual-ritual yang berkaitan dengan rasa hormat
tingkah laku.
2. Norma
Yaitu norma atau batasan perilaku setiap anggota suatu organisasi
yang telah ditetapkan kepada seluruh pegawai, agar perilaku didalam
organisasi ataupun diluar organisasi seluruh pegawai dapat bekerja dengan
perilaku baik dan menjaga nama baik organisasi. Termasuk pedoman tentang
berapa banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
40
3. Nilai
Yaitu menyangkut nilai-nilai uatama yang diberlakukan atau
diterapkan dalam organisasi kepada pegawai organisasi tersebut serta dapat
memberi kontribusi atau tidak dalam organisasi yang menyangkut motivasi
para pegawai untuk mempunyai inisiatif dan kreatifitas dalam bekerja. Seperti
halnya absensi yang rendah dan efesiensi yang tinggi.
4. Filosofi
Yaitu sejumlah kebijakan yang ada dan mampu memberikan
keyakinan kepada organisasi tentang bagaimana para pegawai melaksanakan
pekerjaan yang berupa alur pelayanan yang jelas, standar pelayanan minimal
yang jelas dan masyarakat mendapatkan pelayanan secara optimal.
5. Aturan
Yaitu sejumlah pedoman yang dibuat dan disepakati berhubungan
dengan kemajuan atau cara berinteraksi dalam organisasi, yang berlaku untuk
seluruh pegawai yang berupa aturan-aturan tertulis dan pemberian hukuman
atau sanksi.
6. Iklim organisasi
Yaitu adanya suatu situasi dan kondisi organisasi yang memperlakukan
individu, kelompok atau pemimpin sesuai dengan aturan yang ada dalam
organisasi yang berupa pemberian kepercayaan kepada pegawai, jujur dalam
mengerjakan tugas, terjadinya komunikasi yang baik antara atasan dengan
41
bawahan, bersikap mandiri dalam mengerjakan tugas dan berkomitmen sama
dalam pencapaian tujuan.
2.5 Disiplin Kerja
2.5.1 Pengertian Disiplin Kerja
Secara etimologis, disiplin berasal dari bahasa inggris disciple yang berarti
“pengikut”, “penganut”, “pengajaran”, “latihan”, dan sebagainya. Disiplin
merupakan suatu keadaan tertentu dimana orang-orang yang bergabung dalam
organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang ada dengan senang
[Link] kerja adalah segala aktivitas manusia yang dilakukan untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Berikut pengertian displin kerja menurut pendapat para ahli:
1. Menurut Veithzal Rivai dalam Indah Puji Hartatik (2014:183) disiplin kerja
adalah suatu alat yang digunakan manajer untuk mengubah suatu perilaku
serta sebagai suatu upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesediaan
sesorang menanti semua peraturan perusahaan serta norma-norma sosial yang
berlaku.
2. Menurut Lijan Poltak Sinambela (2012:239) disiplin kerja adalah
kemampuan kerja seseorang untuk secara teratur, tekun terus-menerus dan
bekerja sesuai dengan aturan yang berlaku dengan tidak melanggar aturan-
aturan yang telah ditetapkan.
42
3. Menurut Hasibuan (2011:194) kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan
seseorang menaati semua peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang
berlaku.
Berdasarkan dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa disiplin
kerja adalah suatu alat atau saran bagi suatu organisasi atau perusahaan untuk
mempertahankan eksistensinya. Dengan disiplin yang tinggi, para karyawan
akan menaati semua peraturan yang ada dalam perusahaan, sehingga
pelaksanaan pekerjaan dapat sesuai dengan rencana yang telah ditentukan.
2.5.2 Fungsi Disiplin Kerja
Setiap karyawan perlu menerapkan disiplin kerja, karena disiplin kerja
menjadi persyaratan bagi pembentukan sikap, perilaku dan tata kehidupan yang
membuat para karyawan mendapat kemudahan dalam bekerja dan mendukung
usaha pencapaian tujuan. Pendapat tersebut diperkuat oleh pernyataan Tulus
Tu’u (dalam Indah Puji Hartatik, 2014:186) yang mengemukakan beberapa
fungsi disiplin yaitu:
1. Menata Kehidupan Bersama
Yaitu adanya hubungan yang terjalin antara individu satu dengan lainnya
menjadi lebih baik dan lancar.
43
2. Membangun Kepribadian
Disiplin juga dapat membangun kepribadian seseorang pegawai.
Lingkungan yang memiliki disiplin tinggi sangat berpengaruh terhadap
kepribadian seseorang.
3. Melatih Kepribadian
Disiplin merupakan sarana untuk melatih kepribadian karyawan agar
senantiasa menunjukkan kinerja yang baik. Sikap, perilaku dan pola
kehidupan yang baikdan berdisiplin terbentuk melalui satu proses yang
panjang.
4. Hukuman
Disiplin yang disertai ancaman sanksi atau hukuman sangat penting,
karena dapat memberikan dorongan kekuatan untuk menaati dan kepatuhan
dapat menjadi lemah, serta motivasi untuk mengikuti aturan yang berlaku
menjadi berkurang.
5. Menciptakan Lingkungan Kondusif
Fungsi disiplin kerja adalah membentuk sikap, perilaku dan tata kehidupan
berdisiplin di dalam lingkungan di tempat seseorang itu berada, termasuk
lingkungan kerja, sehingga tercipta suasana tertib dan teratur dalam
pelaksanaan pekerjaan.
44
2.5.3 Prinsip Disiplin Kerja
Menurut Heru Subekti (dalam Indah Puji Hartatik, 2014:188) ada beberapa
prinsip-prinsip disiplin yang perlu dikembangkan, yaitu sebagai berikut:
1. Pemimpin Mempunyai Perilaku Positif
Untuk dapat menjalankan disiplin yang baik dan benar, seorang pemimpin
harus dapat menjadi panutan bagi bawahannya dan seorang pemimpin harus
dapat mempertahankan perilaku yang positif sesuai dengan harapan staf.
2. Penelitian Yang Cermat
Dampak dari tindakan indisipliner cukup serius dan pemimpin harus
memahami akibatnya. Oleh karena itu, data dikumpulkan secara factual,
dapatkan informasi dari staf yang lain, tanyakan secara pribadi rangkaian
pelanggaran yang telah dilakukan, analisis dan bila perlu minta pendapat dari
pimpinan lain.
3. Kesegaran
Pimpinan harus peka terhadap hal-hal yang dilakukan bawahan dan harus
segera diatasi dengan cara yang bijaksana. Sebab jika dibiarkan pelaksanaan
disiplin yang akan ditegakkan dapat dianggap menjadi lemah, tidak jelas dan
akan mempengaruhi hubungan kerja dalam organisasi tersebut.
45
4. Lindungi Kerahasiaann (privacy)
Kerahasiaan harus tetap dijaga,karena mungkin dapat mempengaruhi masa
depannya.
5. Fokus Pada Masalah
Pimpinan harus dapat melakukan penekanan pada kesalahan yang
dilakukan bawahan, bukan pada pribadinya. Kemukakan bahwa kesalahan
yang dilakukan tidak dapat dibenarkan.
6. Peraturan Dijalankan Secara Konsisten
Setiap pegawai yang bersalah harus dibina, sehingga mereka tidak merasa
dihukum dan dapat menerima sanksi yang dilakukan secara wajar.
7. Fleksibel
Seluruh informasi tentang pegawai telah dianalisis dan dipertimbangkan,
antara lain adalah tingkat kesalahan, prestasi pekerjaan yag lalu, tingkat
kemampuan dan pengaruhnya terhadap organisasi.
8. Mengandung Nasehat
Dijelaskan secara bijaksana bahwa pelanggaran yang dilakukan tidak
dapat diterima.
46
9. Tindakan Konstruktif
Pimpinan harus yakin bahwa bawahan telah memahami kesalahannya.
Upayakan agar staf dapat mengubah perilakunya, sehingga tindakan
indisipliner tidak terulang lagi.
10. Evaluasi (follow up)
Pimpinan harus secara cermat mengawasi dan menetapkan apakah
perilaku bawahan sudah berubah. Apabila perilaku bawahan tidak berubah,
pimpinan harus melihat kembali penyebabnya dan mengevaluasi kembali
batas akhir tindakan indisipliner tersebut.
2.5.4 Jenis-jenis Disiplin Kerja
Menurut Indah Puji Hartatik ada lima jenis-jenis disipin kerja (2014:190)
yaitu:
1. Disiplin Diri
Sikap disiplin dikembangkan atau dikontrol oleh diri sendiri. Melalui
disiplin diri, karyawan merasa bertanggung jawab dan dapat mengatur dirinya
sendiri untuk kepentingan organisasi.
2. Disiplin Kelompok
Disiplin kelompok adalah patut, taat dan tunduknya kelompok terhadap
peraturan, perintah dan ketentuan yang berlaku, serta mampu mengendalikan
47
diri dari dorongan kepentingan dalam upaya pencapaian cita-cita dan tujuan
tertentu.
3. Disiplin Preventif
Disiplin preventif adalah disiplin yang ditujukan untuk mendorong
pegawai agar berdisiplin dengan menaati dan mengikuti berbagai standar serta
peraturan yang telah ditetapkan.
4. Disiplin Korektif
Disiplin ini dimaksudkan untuk menangani pelanggaran terhadap aturan-
aturan yang berlaku dan memperbaikinya untuk masa yang akan datang.
5. Disiplin Progresif
Disiplin progresif merupakan pemberian hukuman yang lebih berat
terhadap pelanggaran yang berulang.
2.5.5 Pendekatan Disiplin Kerja
Menurut Anwar Prabu Mangkunegara (dalam Indah Puji Hartatik,
2014:195), ada tiga macam pendekatan dalam disiplin kerja yang dilaksanakan
dalam organisasi atau lembaga, yaitu sebagai berikut:
1. Pendekatan Disiplin Modern
Yang dimaksud dengan disiplin modern adalah mempertemukan sejumlah
keperluan atau kebutuhan baru di luar hukuman. Pendekatan ini memiliki
beberapa asumsi, yaitu:
48
a. Disiplin modern merupakan suatu cara menghindarkan bentuk hukuman
secara fisik.
b. Melindungi tuduhan yang buruk untuk diteruskan pada proses hukum
yang berlaku.
c. Keputusan-keputusan yang diambil terhadap kesalahan yang harus
diperbaiki dengan mengadakan proses penyuluhan berdasarkan fakta-
fakta.
d. Melakukan proses terhadap keputusan yang berat sebelah terhadap
kasus disiplin.
2. Pendekatan Disiplin Tradisi
Yang dimaksud disiplin tradisi adalah pendekatan disiplin dengan cara
memberikan hukuman, pendekatan ini berasumsi:
a. Disiplin dilakukan oleh atasan kepada bawahan, tidak ada peninjauan
kembali bila telah diputuskan.
b. Disiplin adalah hukuman untuk pelanggaran dan pelaksanaannya
disesuaikan dengan tingkat pelanggaran.
c. Penegakan hukuman untuk memberikan pelajaran kepada pegawai
lainnya.
d. Peningkatan perbuatan pelanggaran diperlukan hukuman yang lebih
keras.
49
e. Pemberian hukuman terhadap pegawai yang melanggar kedua kalinya
harus diberi hukuman yang lebih berat.
3. Pendekatan Disiplin Bertujuan
a. Disiplin kerja harus dapat diterima dan dipahami oleh semua pegawai.
b. Disiplin bukanlah satu hukuman, tetapi merupakan pembentukan
perilaku.
c. Disiplin ditujukan untuk perubahan perilaku yang lebih baik.
d. Disiplin pegawai bertujuan agar pegawai bertanggung jawab terhadap
perbuatan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan disiplin kerja
yang dilaksanakan didalam perusahaan dan bertujuan untuk meningkatkan
kedisiplinan kerja para pegawai dengan cara yang efektif.
2.5.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Disiplin Kerja
Menurut Lijan Poltak Sinambela (2012:239), pada dasarnya banyak faktor
yang mempengaruhi tingkat kedisiplinan karyawan suatu organisasi,
diantaranya:
1. Disiplin pada waktu kerja
a. Kehadiran
b. Jam kerja
50
2. Disiplin pada perilaku kerja
a. Sikap dan etika kerja
b. Tanggung jawab pada pekerjaan
3. Disiplin pada peraturan
a. Kepatuhan pada standar waktu penyelesaian kerja
b. Kepatuhan pada peraturan dan tata tertib
2.5.7 Sanksi Disiplin Kerja
Pemberian hukuman atau sanksi dalam upaya penegakan disiplin sangat
diperlukan dalam sebuah organisasi atau perusahaan. Akan tetapi hendaknya
dilakukan secara bertahap. Berikut menurut Sondang P. Siagian (2006:167)
pemberian hukuman bertahap sebagai berikut:
1. Peringatan lisan
2. Peringatan tertulis
3. Penundaan kenaikan gaji berkala
4. Penundaan kenaikan pangkat
5. Pembebasan dari jabatan
6. Pemberhentian sementara
7. Pemberhentian atas permintaan sendiri
51
8. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri
9. Pemberhentian dengan tidak hormat
2.6 Kinerja Karyawan
2.6.1 Pengertian Kinerja
Kinerja adalah hasil yang diperoleh suatu organisasi baik organisasi
tersebut bersifat profit oriented dan non profit oriented yang dihasilkan selama
satu periode waktu. Informasi tentang kinerja organisasi merupakan suatu hal
yang sangat penting digunakan untuk mengevaluasi apakah proses kinerja yang
dilakukan organisasi selama ini sudah sejalan dengan tujuan yang diharapkan
atau belum.
Amstrong dan Baron (dalam Wibowo, 2012:7) menyatakan bahwa kinerja
merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan
strategis organisasi, kepuasan konsumen dan memberikan kontribusi pada
ekonomi. Kinerja merupakan perwujudan dari kemampuan dalam bentuk karya
nyata yang merupakan hasil kerja yang dicapai pegawai dalam mengemban
tugas dan pekerjaan yang berasal dari organisasi (Donni Juni Priansa,
2014:269).
Menurut Supriyono (2010:281) kinerja adalah suatu hasil yang dicapai
seseorang dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepadanya yang
didasari atas kecakapan, pengalaman dan kesanggupan serta [Link]
menurut Moeheriono (2012:95) kinerja atau performance merupakan gambaran
52
mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu program kegiatan atau
kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, visi dan misi organisasi yang
dituangkan melalui perencanaan strategis suatu organisasi.
Dari beberapa definisi yang telah dijelaskan oleh para ahli terdapat
kesimpulan yang ditarik penulis adalah bahwa yang dimaksud dengan kinerja
merupakan gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan tugas yang
dilakukan seluruh pegawai di suatu instansi pemerintah. Meningkatkan kinerja
dalam sebuah organisasi atau instansi pemerintah merupakan tujuan atau target
yang ingin dicapai oleh organisasi dan instansi pemerintah dalam
memaksimalkan suatu kegiatan.
2.6.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Menurut Mahmudi (2006:21) kinerja merupakan suatu konstruk
multidimensional yang mencakup banyak faktor yang mempengaruhinya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja adalah:
1. Faktor personal/individual, meliputi: pengetahuan, ketrampilan (skill),
kemampuan,kepercayaan diri, motivasi dan komitmen yang dimiliki oleh
setiap individu.
2. Faktor kepemimpinan, meliputi: kualitas dalam memberikan dorongan,
semangat, arahan dan dukungan yang diberikan manajer dan team leader.
53
3. Faktor tim, meliputi: kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh
rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesame anggota tim,
kekompakan dan keeratan anggota tim.
4. Faktor sistem, meliputi: sistem kerja, fasilitas kerja atau infrastruktur yang
diberikan oleh organisasi, proses organisasi dan kultur kinerja dalam
organisasi.
5. Faktor kontekstual (situasional), meliputi: tekanan dan perubahan
lingkungan eksternal dan internal.
2.6.3 Tujuan Manajemen Kinerja
Menurut Irham Fahmi (2012:227) tujuan manajemen kinerja yaitu:
1. Mencapai peningkatan yang dapat diraih dalam kinerja organisasi.
2. Bertindak sebagai pendorong perubahan dalam mengembangkan suatu
budaya yang berorientasi pada kinerja.
3. Meningkatkan motivasi dan komitmen karyawan.
4. Kemungkinan individu mengembangkan kemampuan mereka,
meningkatkan kepuasan kerja mereka dan mencapai potensi penuh mereka
bagi keuntungan mereka sendiri dan organisasi secara keseluruhan.
5. Mengembangkan hubungan yang konstruksi dan terbuka antara individu
dan manajer dalam suatu proses dialog yang dihubungkan dengan
pekerjaan yang sedang dilaksanakan sepanjang tahun.
54
6. Memberikan suatu kerangka kerja bagi kesepakatan sasaran sebagaimana
diekspresikan dalam target dan standar kinerja sehingga pengertian bersama
tentang sasaran dan peran yang harus dimainkan manajer dan individu
dalam mencapai sasaran tersebut meningkat.
7. Memusatkan perhatian pada atribut dan kompetensi yang diperlukan agar
bisa dilaksanakan secara efektif dan apa yang seharusnya dilakukan untuk
mengembangkan atribut dan kompetensi tersebut.
8. Memberikan ukuran yang akurat dan objektif dalam kaitannya dengan
target dan standar yang disepakati sehingga individu menerima umpan
balik dari manajer tentang seberapa baik yang mereka lakukan.
9. Asas dasar penelitian ini, memungkinkan individu bersama manajer
menyepakati rencana peningkatan dan metode pengimplementasikan dan
secara bersama mengkaji training dan pengembangan serta menyepakati
bagaimana kebutuhan itu dipenuhi.
10. Memberi kesempatan individu untuk mengungkapkan aspirasi dan
perhatian mereka tentang pekerjaan mereka.
11. Menunjukkan pada setiap orang bahwa organisasi menilai mereka sebagai
individu.
12. Membantu memberikan wewenang kepada orang dan memberikan orang
lebih banyak ruang lingkup untuk bertanggung jawab atas pekerjaan dan
melaksanakan kontrol atas pekerjaan itu.
55
13. Membantu mempertahankan orang-orang yang mempunyai kualitas yang
tinggi.
14. Mendukung misi jauh manajemen kualitas total.
2.6.4 Aspek-aspek Kinerja
Menurut Malayu S.P Hasibuan (2011:95) mengemukakan bahwa aspek-
aspek yang dinilai kinerja mencakup sebagai berikut:
1. Kesetiaan
Penilai mengukur kesetiaan karyawan terhadap pekerjaan jabatan dan
organisasi. Kesetiaan dicerminkan oleh kesediaan karyawan menjaga dan
membela organisasi, didalam maupun diluar pekerjaannya dari orang-orang
yang tidak bertanggung jawab.
2. Prestasi Kerja
Penilai menilai hasil baik kualitas maupun kuantitas yang dapat dihasilkan
oleh karyawan tersebut dari uraian jabatannya.
3. Kejujuran
Penilai menilai kejujuran dalam melaksanakan tugas-tugasnya memenuhi
perjanjian baik bagi dirinya sendiri maupun terhadap orang lain seperti kepada
bawahan.
56
4. Kedisiplinan
Penilai menilai disiplin karyawan memenuhi peraturan-peraturan yang ada
dan melakukan pekerjaan sesuai dengan instruksi yang dibebankan kepadanya.
5. Kreativitas
Penilai menilai kemampuan karyawan dalam mengembangkan
kreativitasnya untuk menyelesaikan pekerjaannya, sehingga bekerja lebih
berdaya guna dan berhasil guna.
6. Kerjasama
Penilai menilai kesediaan karyawan berpartisipasi dan bekerjasam dengan
karyawan lainnya secara vertikal maupun horizontal baik didalam maupun
diluar pekerjaan, sehingga hasil pekerjaan akan semakin baik.
7. Kepemimpinan
Penilai menilai kemampuan untuk memimpin, berpengaruh, mempunyai
pribadi yang kuat, dihormati, berwibawa dan dapat memotivasi orang lainatau
bawahannya untuk bekerja secara efektif.
8. Kepribadian
Penilai menilai dari sikap prilaku, kesopanan, peluang, disukai
memberikan kesan yang menyenangkan, memperlihatkan sikap yang baik
serta berpenampilan simpatik dan wajar.
57
9. Perkara
Penilai menilai kemampuan berpikir yang orisinal dan berdasarkan
inisiatif sendiri untuk menganalisis, menilai, meniptakan, member alasan,
mendapatkan kesimpulan dan membuat penyelesaian masalah yang
dihadapinya.
10. Kecakapan
Penilai menilai kecakapan karyawan dalam menyatukan bermacam-
macam elemen yang semuanya terlibat didalam penyusunan kebijakan dan
didalam situasi manajemen.
11. Tanggung jawab
Penilai menilai kesediaan karyawan dalam mempertanggung jawabkan
kebijaksanaannya, pekerjaan dan hasil kerjanya, saran dan prasarana yang
digunakan serta perilaku kerjanya.
2.6.5 Dimensi Kinerja Pegawai
Menurut Syamsir Torang (2014:75) terdapat tiga dimensi kinerja yaitu:
1. Individual (kemampuan, motivasi dan pendidikan)
2. Psikologi (attitude dan personality)
3. Organisasi (kepemimpinan, reward dan pembagian peran)
58
2.6.6 Indikator Kinerja
Menurut Donni Juni Priansa (2014:271) mengemukakan bahwa indikator
kinerja pegawai meliputi:
1. Kuantitas Pekerjaan (Quantity of Work)
Kuantitas pekerjaan berhubungan dengan volume pekerjaan dan
produktivitas kerja yang dihasilkan oleh pegawai dalam kurun waktu
tertentu.
2. Kualitas Pekerjaan (Quality of Work)
Kualitas pekerjaan berhubungan dengan pertimbangan ketelitian,
presisi, kerapian dan kelengkapan di dalam menangani tugas-tugas yang
ada di dalam organisasi.
3. Kemandirian (Dependability)
Kemandirian berkenaan dengan pertimbangan derajat kemampuan
pegawai untuk bekerja dan mengemban tugas secara mandiri dengan
meminimalisir bantuan orang lain. Kemandirian juga menggambarkan
kedalaman komitmen yang dimiliki oleh pegawai.
4. Inisiatif (Initiative)
Inisiatif berkenaan dengan pertimbangan kemandirian, fleksibilitas
berfikir dan kesediaan untuk menerima tanggung jawab.
59
5. Adaptabilitas (Adaptability)
Adaptabilitas berkenaan dengan kemampuan untuk beradaptasi,
mempertimbangkan kemampuan untuk bereaksi terhadap mengubah
kebutuhan dan kondisi-kondisi.
6. Kerjasama (Cooperation)
Kerjasama berkaitan dengan pertimbangan kemampuan untuk
bekerjasama dan dengan orang lain. Apakah assignments, mencakup
lembur dengan sepenuh hati.
2.7 Penelitian Terdahulu
Tabel II.1 Penelitian Terdahulu
N Peneliti Judul Penelitian Alat Penelitian Hasil
o
1 Hamlan Daly Pengaruh Uji Asumsi Klasik Hasil penelitian
(2015) Kompetensi, Disiplin Uji Normalitas menunjukkan
Kerja dan Uji bahwa
Sumber: e- Kompensasi Multikolinearitas kompetensi,
Jurnal Terhadap Kinerja Uji Regresi disiplin kerja dan
Katalogis, Vol. PegawaiBadan Berganda kompensasi
3 No. 1 Pemberdayaan berpengrauh
Januari 2015 Perempuan dan positif dan
Keluarga Berencana signifikan
Daerah Provinsi terhadap kinerja
Sulawesi Tengah karyawan.
2 Dini Pengaruh Uji Reliabilitas Dari hasil
Krismasari& KompensasiDan Uji Regresi penelitian
Agus Frianto, Disiplin Kerja Uji Multikolinieritas menunjukkan
(2014) Terhadap Prestasi kompensasi dan
Kerja Karyawan Pada disiplin kerja
Sumber: Pabrik Gula Tjoekir berpengaruh
Jurnal Ilmu posifit dan
Manajemen | signifikan
Vol. 2 No. 4 terhadap
Oktober 2014 prestasi kerja
karyawan.
60
3 Radeswandri, Pengaruh Budaya Uji Validitas Dari hasil
Tiwi Organisasi dan Uji Reliabilitas penelitian
Nurjannati Disiplin Kerja Uji Regresi menunjukkan
Utami (2013) Terhadap Kinerja Berganda bahwa budaya
Pegawai (Studi Kasus Uji T organisasi dan
Sumber:Jurnal pada Badan Uji F disiplin kerja
Ekonomi, Ketahanan Pangan Determinasi berpengaruh
Manajemen Provinsi Riau) secara simultan
dan Akuntansi terhadap kinerja
Vol. 21No. 2 pegawai.
Tahun 2013
4 Hana D. Relationship Between Validity and The
Golung (2013) Compensation, Work Reliability Test interpretation of
Environment, Discriminant the results of the
Sumber: Organizational Al Analysis discriminant
Journal EMBA Culture, And analysis, there is
811 Vol.1 Employee a significant
No.4 Performance Eat difference in the
December Hotel Sedona Manodo employee
2013 performance,
both low
performance
and high
performance can
be seen.
5 Jajang Influence of Uji Validitas Discipline does
Amiroso & Discipline, Working Uji Reliabilitas not significantly
Mulyanto, Environtmen, Culture Uji Regresi influence
(2015) of Organization and Berganda motivation,
Competence on Uji T working
Sumber: Workers’ Performance Uji F environtment
European through Motivation, Determinasi does not
Journal of Job Satisfaction significantly
Business and (Study in Regional influence
Management, Development motivation,
Vol. 7 N0. 36, Planning Board of culture of
2015 Sukoharjo Regency) organization
does not
significantly
influence
motivation, etc.
Sumber: Diolah Peneliti, 2016
61
2.8 Kerangka Pemikiran
Gambar II.1 Kerangka Pemikiran
H1
Kompensasi
(X1)
H2
Budaya Organisasi
H3 Kinerja Karyawan
(X2)
(Y)
H4
Disiplin Kerja
(X3)
H5
Sumber: Data Diolah Peneliti, 2016
2.9 Hubungan Antar Variabel
2.9.1 Hubungan antara Kompensasi dengan Kinerja Karyawan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dini Krismasari dan Agus
Frianto dengan judul “Pengaruh Kompensasi dan Disiplin Kerja Terhadap
Prestasi Kerja Karyawan pada Pabrik Gula Tjoekir” (Jurnal Ilmu Manajemen
Vol. 2 No. 4 Oktober 2014) didapatkan hasil bahwa kompensasi penting bagi
karyawan sebagai individu, karena besarnya kompensasi mencerminkan ukuran
62
nilai karya mereka diantara karyawan itu sendiri, keluarga dan masyarakat.
Pemberian kompensasi yang baik akan mendorong karyawan bekerja secara
produktif dan akan meningkatkan prestasi kerja karyawan sesuai dengan yang
diharapkan oleh perusahaan itu [Link] ini membuktikan bila kompensasi
memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan.
2.9.2 Hubungan antara Budaya Organisasi dengan Kinerja Karyawan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Radeswandri dan Tiwi
Nurjannati Utami dengan judul “Pengaruh Budaya Organisasi dan Disiplin
Kerja Terhadap Kinerja Pegawai pada Badan Ketahanan Pangan Provinsi Riau”
(Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi Vol. 21 No. 2 Desember 2013)
didapatkan hasil bahwa budaya organisasi mempunyai tujuan untuk
menciptakan nilai-nilai saling menghormati, saling percaya, bertanggung jawab,
berlaku jujur serta menumbuhkan kreativitas dan inovasi pegawai demi
kenyamanan dalam organisasi menuju kinerja yang baik bagi setiap pegawainya.
Hal ini membuktikan bila budaya organisasi memiliki pengaruh terhadap kinerja
karyawan.
2.9.3 Hubungan antara Disiplin Kerja dengan Kinerja Karyawan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dini Krismasari danAgus
Frianto dengan judul “Pengaruh Kompensasi dan Disiplin Kerja Terhadap
Prestasi Kerja Karyawan pada Pabrik Gula Tjoekir” (Jurnal Ilmu Manajemen
Vol. 2 No. 4 Oktober 2014) didapatkan hasil bahwa disiplin kerja harus dimiliki
63
setiap karyawan dan harus dibudayakan dikalangan karyawan agar bisa
mendukung tercapai tujuan organisasi atau perusahaan karena merupakan wujud
dari kepatuhan terhadap aturan kerja dan juga sebagai tanggung jawab diri
terhadap perusahaan. Hal demikian membuktikan bila kedisiplinan karyawan
memiliki pengaruh terhadap kinerja karyawan.
2.9.4 Hubungan Kompensasi, Budaya Organisasi dan Disiplin Kerja
Terhadap Kinerja Karyawan
Berdasarkan hubungan pada penjelasan diatas, variabel Kompensasi,
Budaya Organisasi dan Disiplin Kerja mempunyai hubungan yang cukup erat
dengan kinerja karyawan. Hal ini akan menguatkan penelitian ini yaitu pengaruh
Kompensasi, Budaya Organisasi dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Karyawan
pada PT. SSN Mitra Jaya Pangkalan Baru Kabupaten Bangka Tengah. Melihat
hal tersebut pada akhirnya akan dapat ditarik suatu kesimpulan untuk dijadikan
hipotesis bahwa Kompensasi, Budaya Organisasi dan Disiplin Kerja
berpengaruh positif terhadap Kinerja Karyawan.
2.10 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian, dimana rumusan masalah peneliti telah dinyatakan dalam bentuk
kalimat pertanyaan (Sugiono, 2013:99). Dikatakan sementara karena jawaban
baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta
empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat
64
dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian,
belum jawaban yang empirik. Berdasarkan kerangka berpikir, maka hipotesis
yang diajukan adalah sebagai berikut:
H1: Diduga Kompensasi, Budaya Organisasi, Disiplin Kerja dan Kinerja
Karyawan PT. SSN Mitra Jaya rendah.
H2 : Kompensasi berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan PT.
SSN Mitra Jaya.
H3 : Budaya Organisasi berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja
karyawan PT. SSN Mitra Jaya.
H4 : Disiplin Kerja berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja karyawan
PT. SSN Mitra Jaya.
H5 : Kompensasi, Budaya Organisasi dan Disiplin Kerja berpengaruh signifikan
terhadap kinerja karyawan PT. SSN Mitra Jaya.