0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan26 halaman

Proses dan Tujuan Pembelajaran Efektif

Dokumen ini membahas tentang proses belajar dan pembelajaran, termasuk tujuan, faktor-faktor yang mempengaruhi, serta model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Belajar dianggap sebagai proses kompleks yang melibatkan perubahan perilaku, pengetahuan, dan keterampilan, sedangkan pembelajaran adalah kondisi eksternal yang mendukung proses belajar. Berbagai komponen seperti tujuan, guru, siswa, dan metode pengajaran saling berinteraksi untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan.

Diunggah oleh

Raka nih bos
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan26 halaman

Proses dan Tujuan Pembelajaran Efektif

Dokumen ini membahas tentang proses belajar dan pembelajaran, termasuk tujuan, faktor-faktor yang mempengaruhi, serta model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Belajar dianggap sebagai proses kompleks yang melibatkan perubahan perilaku, pengetahuan, dan keterampilan, sedangkan pembelajaran adalah kondisi eksternal yang mendukung proses belajar. Berbagai komponen seperti tujuan, guru, siswa, dan metode pengajaran saling berinteraksi untuk mencapai keberhasilan dalam pendidikan.

Diunggah oleh

Raka nih bos
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

16

a. Ada tidaknya perubahan prilaku permanen sebagai hasil dari


pengalaman.
b. Perubahan relatif sering terjadi yang merupakan hasil dari praktek
pembelajaran.
c. Proses dimana pengetahuan itu digali melalui transformasi pengalaman.
d. Proses transformasi pengalaman yang menghasilkan pengetahuan, skill,
dan attitude.
e. Mengingat informasi.

Stage- 1
Concrete
Experience
Stage-4 Stage-2
Active Reflective
Experimentation Observation

Srage-3
Theory
Building
2.1 Siklus pembelajaran yang dikembangakan oleh Kolb dalam Trianto

(2011, h. 178)

Belajar adalah suatu proses yang kompleks, sejalan dengan itu menurut

Robert M. Gagne (1970) dalam Sagala (2013, h. 17) belajar merupakan kegiatan

yang kompleks, dan hasil belajar berupa kapabilitas, timbulnya kapabilitas

disebabkan:

1. Stimulasi yang berasal dari lingkungan.

2. Proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar. Setelah belajar orang memiliki

keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Dengan demikian dapat ditegaskan,

belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sikap stimulasi

lingkungan, melewati pengolahan informasi, dan menjadi kapabilitas baru. Belajar


17

terjadi bila ada hasilnya yang dapat diperlihatkan, anak-anak demikian juga orang

dewasa dapat membuat kembali kata-kata yang telah pernah didengar atau

dipelajarinya. Seseorang dapat mengingat gambar yang pernah dilihatnya,

mengingat kata-kata yang baru dipelajarinya, atau mengingat bagaimana cara

memecahkan hitungan. Menyatakan kembali apa yang dipelajari lebih sukar

daripada sekedar mengenal sesuatu kembali.

2. Tujuan Belajar

Belajar pada hakekatnya merupakan proses kegiatan secara berkelanjutan

dalam rangka perubahan perilaku peserta didik secara konstruktif. Hal ini sejalan

dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 yang

menyatakan, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif

mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,

pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia, serta ketermpilan

yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa, dan negara.

Dalam usaha pencapaian tujuan belajar perlu diciptakan adanya sistem

lingkungan (kondisi) belajar yang lebih kondusif. Hal ini akan berkaitan dengan

mengajar. Mengajar diartikan sebagai usaha penciptaan sistem lingkungan yang

memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem lingkungan belajar ini sendiri

terjadi atau dipengaruhi oleh berbagai komponen yang masing-masing akan saling

mempengauhi. Komponen-komponen itu misalnya tujuan pembelajaran yang ingin

dicapai, materi yang ingin diajarkan, guru dan siswa yang memainkan peran serta

dala hubungan sosial tertentu, jenis kegiatan yang dilakukan serta sarana prasarana

belajar mengajar tercapai.


18

Adapun tujuan belajar menurut Sadiman (2012, h. 25-29), yaitu:


1. Untuk mendapatkan pengetahuan
Hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir. Pemilikan pengetahuan
dan kemampuan berpikir sebagai yang tidak dapat dipisahkan. Denan
kata lain, tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir tanpa bahan
pengetahuan, sebaliknya kemampuan berpikir akan memperkaya
pengetahuan tujuan inilah yang memiliki kecenderungan lebih besar
perkembangannya di dalam kegiatan belajar. Dalam hal ii peran guru
sebagai pengajar lebih menonjol.
2. Penanaman konsep dan keterampilan
Penanaman konsep atau merumuskan konsep, juga memerlukan suatu
keterampilan. Jadi soal keterampilan yang bersifat jasmani maupun
rohani. Keterampilan jasmani adalah keterampilan-keterampilan yang
dapat dilihat, diamati, sehingga akan menitik beratkan pada keterampilan
gerak/penampilan dari anggota tubuh seseorang yang sedang belajar.
Termasuk dalam hal ini masalah “teknik” dan “pengulangan”.
3. Pembentukan sikap
Tujuan belajar itu adalah ingin mendapatkan pengetahuan, nilai-nilai,
pencpaia tujun belajar berarti akan menghasilkan, hasil belajar relevan
dengan uraian mengenai tujuan belajar tersebut, hasil belajar itu
meliputi: Hal ihwal pengetahuan, konsep atau fakta (kognitif), hal ihwal
personal kepribadian atau sikap (afektif), hal ihwal kelakuan dan
keterampilan/ penampilan (psikomotor),

3. Faktor yang Mempengaruhi Belajar

Keberhasilan dalam belajar sangat dipengaruhi oleh berfungsinya secara

integratif dari setiap faktor pendukungnya. Adapun faktor-faktor yang

mempengaruhi keberhasilan belajar menurut Djamarah (2010, h. 109) , antara lain:

a. Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai
dalam kegiatan belajar mengajar. Kepastian dari penjelasan proses
belajar mengajar berpangkal tolak dari jelas tindakanya perumusan
tujuan pengajaran. Tercapainnya tujuan sama halnya keberhasilan
pengajaran.
Sedikit banyaknya perumusan tujuan akan mempengaruhi kegiatan
pengajaran yang dilakukan oleh guru, dan secara langsung guru
mempengaruhi kegiatan belajar anak didik. Guru dengan sengaja
menciptakan lingkungan belajar guna mencpai tujuan. Jika kegiatan
belajar anak didik dan kegiatan mengajar guru bertentangan, dengan
sendirinya tujuan pengajaran pun gagal untuk dicapai.
Tujuan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan
belajar mengajar dalam setiap kali perteuan kelas.
b. Guru
19

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu


pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Guru adalah orang yang
berpengalaman dalam bidang profesinya. Dengan keilmuan yang
dimilikinya, dia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas.
Pandangan guru terhadap anak didik akan mempengaruhi kegiatan
mengajar guru di kelas. Guru yang memandang anak sebagi makhluk
individual dengan segala perbedaan dan permasalahannya, akan berbeda
dengan guru yang memandang anak didik sebagai makhluk sosial.
Perbedaan pandangan dalam memandang anak didik ini akan melahirkan
pendekatan yang berbeda pula. Tentu saja hasil poses belajar
mengajarnyaun berlainan.
c. Anak Didik
Anak didik adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah.
Orang tuannyalah yang memasukkannya untuk dididik agar menjadi
orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari. Kepercayaan orang
tua anak diterima oleh guru dengan kesadaran dan penuh keikhlasan
maka jadilah guru sebagai pengemban tanggung jawab yang diserahkan
itu.
Tanggung jawab guru tidak hanya terdapat seorang anak, tetapi
dalam jumlah yang cukup banyak. Anak yang dalam jumlah yng cukup
banyak itu tentu saja dari latar belakang kehidupan sosisal keluarga dan
masyarakat yang berlainan. Karenanya, anak-anak berkumpul di sekolah
pun mempunyai karakteristik yang bermacam-macam.
Kepribadian mereka ada yang pendiam, ada yang periang, ada yang
suka bicara, ada yang kreatif, ada yang keras kepala, ada yang manja,
dan sebagainya. Intelektual mereka juga dengan tingkat kecerdasan yang
bervariasi. Biologis mereka dengan struktur atau keadaan tubuh yang
tidak selalu sama. Karena itu, pebedaan anak pada aspek biologis,
intelektual, dan psikologis ini mempengaruhi kegiatan belajar mengajar.
Dengan demikian dapat diyakini bahwa anak didik adalah unsur
manusiawi yang mempengaruhi kegiatan beljar mengajar berikut hasil
dari kegiatan itu, yaitu keberhasilan belajar mengajar.
d. Kegiatan Pengajaran
Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara
guru dengan anak didik dengan bahan sebagai perantarannya. Guru yang
mengajar, anak didik yang belajar. Mak guru adalah orang yang
menciptakan lingkungan belajar bagi kepentingan belajar anak didik.
Anak didik adalah orang yang digirig ke dalam lingkungan belajar yang
telah diciptakan oleh guru. Gaya mengajar guru berubah mempengaruhi
gaya belajar anak didik. Gaya-gaya mengajar, menurut Muhmmad Ali
(1992, h.59) dalam Djamarah (2010, h. 115) dapat dibedakan kedalam
empat macam, yaitu gaya mengajar klasik, gaya mengajar eknologis,
gaya mengajar personalisasi, dan gaya mengajar internasional.
Bermacam-macam penggunaaan metode mengajar akan
menghasilkan hasil belajar mengjar yang berlainan kualitasnnya.
Pengunaan metode ceramah misalnya, adalah strategi pengajaran untuk
mencapai tujuan pada tingkat yang rendah. Dengan demikian kegiatan
20

pengajaran yang dilakukan oleh guru mempengaruhi keberhasilan belajar


mengajar.
e. Bahan dan Alat Evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat di dalam
kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan
ulangan. Biasanya bahan pengajaran itu sudah dikemas dalam bentuk
buku paket untuk dikomunikasi oleh anak didik. Setiap anak didik dan
guru wajib mempunyai buku paket tersebut guna kepentingan kegiatan
belajar mengajar di kelas.
Masing-masing alat evaluai itu mempunyai beberapa kelebihan dan
kekurangan. Menyadari akan hal itu, jarang ditemukan pembuatan item-
item soal yang hanya menggunakan satu alat evaluasi. Tetapi guru sudah
menggbungnya lebih dari satu alat evaluasi.
Pembuatan item soal dengan memakai alat tes objektif dapat
menampun hampir semua bahan pelajaran yang sudah dipelajari oleh
anak didik dalam satu semester, tetapi kelemahannya terletak pada
penguasaan anak didik terhadap bahan pelajaran bersifat semu, suatu
penguasaan bahan pelajaran yang masih samar-samar. Jika alternatif itu
tidak dicantumkan, kemungkinanbesar anak didik kurang mampu
memberikan jawaban yang tepat.
Berbagai permasalahan yang telah dikemukakan tersebut
mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar. Validitas dan realiabilitas
data dari hasil eavluasi itulah yang mempengaruhi keberhasilan belajar
mengajar. Bila alat tes itu tidak valid dan tidak reliable maka tidak dapat
dipercaya untuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar mengajar.
f. Suasana Evaluasi
Sistem silang adalah teknik lain dari kegiatan mengelompokan anak
didik dalam rangka evaluasi. Sistem ini dimaksudkan untuk
mendapatkan data hasil evaluasi yang benar-benar objektif. Karena sikap
metal anak didik belum semuanya siap untuk berlaku jujur, maka
dihadirkanlah satu atau dua orang pengawas atau guru yang ditugaskan
untuk mengawasinya.
Sikap yang merugikan pelaksanaan evaluasi dari seorang pengawas
adalah membiarkan anak didik melakukan hubungan kerja sama di
antara anak didik. Pengawasan seolah-olah tidak mau tau apa yang
dilakukan oleh anak didik selama ulangan. Tidak peduli apakah anak
didik nyontek, membuka kertas kecil berisiskan catatan, atau
memebiarkan anak didik bertanya jawab.
Suasan evaluasi yang demikian tentu saja, disadari atau tidak,
merugikan anak didik utuk bersikap jujur dengan sugguh-sungguhbelajar
di rumah. Dampak di kemudian hari dari sikap pengawas yang demikian
itu, adalah mengakibatkan anak didik kemungkinan besar malas belajar
dan kurang memperhtikan penjelasan guru ketika belajar mengajar
berlangsung.
21

4. Makna Pembelajaran

Secara sederhana, istilah pembelajaran (instuction) bemakna sebagai

“upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai

upaya (effort) dan berbagai strategi, metode dan pendekatan ke arah pencapaian

tujuan yang telah direncanakan”. Pembelajaran dapat pula dipandang sebagai

kegiatan guru secara perprogram dalam desain instruksional untuk membuat siswa

belajar secara aktif yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Beberapa

ahli mengemukakan tentang pengertian pembelajaran, diantaranya:

“Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara

disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tigkah laku tertentu.

Pembelajaran merupakan subjek khusus dari pendidikan (Corey, 1986 dalam Salha,

2015, h. 35)”. “Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-

unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, prosedur yang saling

mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembeljaran (Oemar Hamalik dalam Salha,

2015, h. 35)”. Sedangkan pembelajaran menurut (Gagne dan Brigga, 1997 dalam

Salha, 2015, h. 35) adalah “Pembelajaran adalah rangkaian peristiwa (events) yang

memengaruhi pembelajaran sehingga proes belajar dapat berlangsung dengan

mudah”. Pembelajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing para peserta

didik di dalam kehidupannya, perkembangannya yang harus dijalani.

Sedangkan pelaksanaan pembelajaran menurut Sudjana (2010, h. 36) adalah

proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu agar

pelaksanaan mencapai hasil yang diharapkan.

Paparan di atas mengilustrasikan bahwa belajar merupakan proses internal

siswa, dan pembelajaran merupakan kondisi eksternal belajar.


22

5. Sasaran Kegiatan Pembelajaran

Belajar mengajar sebagai suatu sistem instruksional mengacu kepada

pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain

untuk mencapai tujuan. Sebagai suatu sistem, belajar mengajar meliputi sejumlah

kompnen, antara lain: tujuan pembelajaran, bahan ajar, siswa yang meneima

pelayanan belajar, guru, metode dan pendekatan, situasi, dan evaluasi kemajuan

belajar. Agar tujuan itu dapat tercapai, semua komponen yang ada harus

diorganisasikan dengan baik sehingga diantara komponen itu terjadi kerja sama.

B. Model Pembelajaran

1. Pengeritian Model Pembelajaran

Secara umum istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang

digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Dalam pengertian

lain, model juga diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda yang

sesungguhnya, seperti “globe” yang merupakan model dari bumi tempat kita hidup.

Dalam istilah selanjutnya, istilah model digunakan untuk menunjukkan pengertian

yang pertama sebagai konseptual. Atas dasar pemikiran tersebut, maka yang

dimaksud dengan “model belajar mengajar” adalah kerangka konseptual dan

prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk

mencapai tujuan belajar tertentu, berfungsi sebagai pedoman bagi perancang

pengajaran, serta para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas

belajar mengajar. Dengan demikian, aktivitas belajar mengajar benar-benar

merupakan kegiatan bertujuan yang tersusun secara sistematis.

Dalam mengajar, penggunaan model bukan suatau yang baru. Filsof Greek
23

dalam Wahab (2012, h. 51-52) menggunakan model yang ia kembangkan dalam

mengajar yang sekarang dikenal dengan gaya mengajara “socartes (socratic

teaching style) dengan menekankan model pada bertaya dan menjawab atau dialog

yang jug berarti kebenaran yang mengalir”.

Pengembangan model belajar dimaksudkan untuk membantu guru

meningkatkan kemampuannya untuk lebih mengenal siswa dan menciptakan

kemampuannya untuk lebih mengenal siswa dan menciptakan lingkungan yang

lebih bervariasi bagi kepentingan belajar siswa.

Menurut Wahab (2012, h. 52) model mengajar adalah merupakan sebuah


perencanaan pengajaran yang menggambarkan proses yang ditempuh pada
proses yang ditempuh pada proses belajar mengajar agar dicapai perubahan
spesifik pada prilaku siswa seperti yang diharapkan.

2. Ciri-ciri Model Pembelajaran

Menurut Wahab (2012, h. 54-55) menyebutkan ciri-ciri model mengajar

menurutnya yaitu :

1. Memiliki prosedur yang sistematik. Sebuah model mengajar sekedar


merupakan gabungan berbagai fakta yang disusun secara sembarangan,
tetapi merupakan prosedur yang sistematik untuk memodifikasi prilaku
siswa, yang didasarkan pada asumsi tertentu.
2. Hasil belajar ditetapkan secara khusus. Setiap model mengajar
menentukan tujuan-tujuan khusus hasil belajar yang diharapkan dicapai
siswa secara rinci dalam bentuk unjuk kerja yang dapat diamati. Apa
yang harus dipertunjukan oleh siswa setelah menyelesaikan urutan
pengejaran disusun secara rinci dan khusus.
3. Penetapan lingkungan secara khusus. Menetapkan keadaan lingkungan
secra spesifik dalam model mengajar.
4. Ukuran keberhasilan. Model harus menetapkan kriteria keberhasilan
suatu unjuk kerja yang dihrapkan dari siswa. Model mengajar senantiasa
menggambarkan dan menjelaskan hasil-hasil belajar dalam bentuk
prilaku yang seharusnya ditunjukan oleh siswa setelah menempuh dan
menyelesaikan urutan pengajaran.
5. Interaksi dengan ingkungan. Semua model mengajar menetapkan cara
yang memungkinkan siswa melakukan interaksi dan berinteraksi dengan
lingkungan.
24

C. Discovery Learning

1. Pengertian Pembelajaran Discovery Learning

Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang

tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Apabila

antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah

terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut

dengan model pembelajaran. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan

bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik

pembelajaran.

Kegiatan belajar-mengajar hendaknya tidak hanya didominasi oleh guru

(Teacher Dominated Learning) tetapi harus melibatkan siswa (Student Dominated

Learning). Maksudnya pembelajaran harus melibatkan secara maksimal seluruh

kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sehingga mereka dapat

menemukan sendiri pengetahuan. Pembelajaran seperti ini disebut pembelajaran

dengan penemuan Discovery Learning.

Oemar Hamalik dalam Takdir (2012, h. 29) menyatakan bahwa discovery


adalah proses pembelajaran yang menitik beratkan pada mental intelektual
para anak didik dalam memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi,
sehingga menemukan suatu konsep atau generalisasi yang dapat diterapkan
di lapangan.

Menurut Masarudin Siregar dalam Takdir (2012, h. 30) berpendapat bahwa

“discovery leaning adalah proses pembelajran untu menemukan sesuatu yang baru

dalam kegiatan belajar-mengajar”.

Pemahaman Drs. Mulyasa dalam Takdir (2012, h. 32) tentang pengertian


discovery yaitu proses pembelajaran tidak menekanakan agar para anak
didik dapat segera menguasai materi yang diajarka, melainkan lebih
25

menekankan pada pemahaman mereka, sehingga memberikan keyakinana


utuh bagi pengembangan intelektual mereka selanjutnya.

Dari berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa Discovery Learning

merupakan pembelajaran yang memberikan pengalaman langsung kepada siswa

sehingga siswa akan menemukan sendiri informasi yang sedang di ajarkan dan

dapat menarik suatu kesimpulan dari informasi tersebut. Sehingga pemahaman satu

konsep informasi akan bertahan lama dikarenakan siswa yang menemukan sendiri

informasi tersebut.

Proses pembelajaran dalam Discovery Learning, siswa didorong untuk

berfikir sendiri sehingga dapat ”menemukan” prinsip umum berdasarkan bahan

atau data yang telah disediakan oleh guru. Siswa dihadapkan pada isyuasi diman

aia bebas menyelidiki dan menarik kesimpulan. Guru bertindak sebagai petunjuk

jalan, ia membantu siswa agar mempergunakan ide, konsep, dan keterampilan yang

sudah mereka pelajari sebelumnya untuk mendapatkan pengetahuan yang baru.

Pengajuan pertanyaan yang tepat oleh guru akan merangsang kreativitas siswa dan

membantu mereka dalam “menemukan” pengetahuan baru. Pengetahuan yang baru

akan melekat lebih lama apabila siswa dilibatkan secara langsung dalam proses

pemahaman ‘mengkonstruksi’ sendiri konsep atau pengatahuan tersebut.

Pembelajaran Discovery Learning, dapat menantang siswa untuk merasakan

terlibat atau berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran. Peranan guru hanyalah

sebagai fasilitator dan pembimbing atau pemimpin pengajaran yang demokratis,

sehingga diharapkan siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau dalam

bentuk kelompok memecahkan masalah atas bimbingan guru.


26

2. Karakteristik pembelajaran Discovery Learning

(1) Mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan,

menggabungkan dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) Berpusat pada siswa; (3)

Kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah

ada. Ada sejumlah ciri-ciri proses pembelajaran yang sangat ditekankan oleh teori

konstruktivisme, yaitu :

1. Menekankan pada proses belajar, bukan proses mengajar

2. Mendorong terjadinya kemandirian dan inisiatif belajar pada siswa.

3. Memandang siswa sebagai pencipta kemauan dan tujuan yang ingin

dicapai.

4. Berpandangan bahwa belajar merupakan suatu proses, bukan menekan

pada hasil.

5. Banyak menggunakan terminilogi kognitif untuk menjelaskan proses

pembelajaran, seperti : predeksi, inferensi, kreasi dan analisis.

6. Mendorong siswa untuk berpartisipasi aktif dalam dialog atau diskusi

dengan siswa lain dan guru.

7. Sangat mendukung terjadinya belajar kooperatif.

8. Menekankan pentingnya konteks dalam belajar.

9. Memperhatikan keyakinan dan sikap siswa dalam belajar.

10. Menghargai peranan pengalaman kritis dalam belajar.

3. Langkah-langkah Model Pembelajaran Discovery Learning

Langkah-langkah pembelajran discovery strategy menurut Takdir (2012, h.

82-86) adalah :

a. Adanya masalah yang akan dipecahkan.


27

b. Sesuai dengan tingkat kemampuan kognitif anak didik.


c. Konsep atau prinsip yang ditemukan harus ditulis secara jelas.
d. Harus tesedia alat atau bahan yang diperlukan.
e. Suasana kelas harus diatur sedemikian rupa.
f. Guru memberi kesempatan anak didik untuk mengumpulkan data.
g. Harus dapat memeberikan jawaban secara tepat sesuai dengan data yang
diperlukan anak didik.

Prosedur pembelajaran bedasarkan penemuan menurut Takdir (2012, h. 86-

88) adalah:

a. Simulation
Guru mengajukan persoln atau meminta anak didik untuk membaca atau
mendengarkan uraian yang memuat persoalan.
b. Problem Statement
Dalam hal ini, anak didik diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai
permasalahan.
c. Data Collection
Anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan data dan informasi
yang dibutuhkan seperti membaca, mengamati objek, melakukan uji
coba.
d. Data Processing
Semua informasi hasil bacaan wawancara observasi diklasifikasi dan
hitung dengan cara tertentu.
e. Verivication
Pernyataan hipotesis yang dirumuskan sebaiknya dicek terlebih dahulu
apakah bisa dijawab dan terbukti.
f. Generalization
Anak didik belajar menarik kesimpulan dan generalisasi tertentu.

4. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Discovey Learning

Strategi belajar bedasarkan discovery yang akhir-akhir ini banyak di

terapkan di sekolah, ternyata memiliki keistimewaan tersendiri bagi pelaksanaan

pembelajaran. Memang strategi ini tidak begitu familiar di kalangan para anak

didik. Namun, di tengah keterbatasan dalam hal strategi pembelajaran, banyak di

antara mereka yang mengaku sangat senang dengan strategi pembelajaran

discovery.
28

Pada pembelajaran discoery strategy para anak didik diberi kesempatan

penuh untuk berpikir secara rasional dan diharapkan mampu menghasilkan suatu

kesimpulan yang dapat dijadikan rumusan dalam bentuk yang konkret. Adapun

kelebihan- kelebihan discovery strategy menurut Takdir (2012, h. 70-72), yaitu :

a. Dalam penyampaian bahan discovery strategy digunakan kegiatan dan


pengalaman langsung.
b. Discovery strategy lebih realistis dan mempunyai makna, sebab para
anak didik dapat berkerja langsung dengan contoh-contoh nyata.
c. Discovery strategy merupakan suatu model pemecahan masalah. Melalui
strategi ini peserta didik mempunyai peluang untuk belajar lebih intens
dalam memecahkan masalah, sehingga dapat berguna dalam menghadapi
kehidupan di kemudian hari.
d. Dengan sejumlah transfer secara langsung, maka kegiatan discovery
strategy akan lebih mudah diserap anak didik dalam memahami kondisi
tertentu yang berkenaan dengan aktivitas pembelajaran.
e. Discovery strategy banyak memberikan kesempatan bagi para anak didik
untuk terlibat langsung dalam kegiatan belajar.

Adapun kelemahan-kelemahan discovery strategy menurut Takdir (2012, h.

72-73), yaitu :

a. Berkenaan dengan waktu. Belajar mengajar menggunakan discovery


strategy membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan
metode langsung.
b. Bagi anak didik yan berusia muda, kemampuan berpikir rasional mereka
masih terbatas. Hal ini disbabkan usia muda masih membutuhkan
kematangan dalam berpikir rasional mengenai suatu konsep atau teori.
c. Kesukaran dalam menggunakan faktor subjektifitas ini menimbulkan
kesukaran dalam memahami suatu persoala yang berkenaan dengan
pengajaran discovery strategy.
d. Faktor kebudayaan dan kebiasan. Belajar discovery strategy menuntut
kemadirian, kepercayaa kepada dirinya sendiri, dan kebiasaan bertindak
sebagai subjek.

5. Upaya Guru Menerapkan Pembelajaran Discovery Learning

Dr. Muhammad Amien dalam Takdir pernah mengatakan bahwa

“penerapan pengajaran discovery strategy harus meliputi pengalamn-pengalman

belajar untuk menjamin bahwa para anak didik dapat mengembangka proses
29

discovery”. Dengan kata lain, pengajaran discovery harus direncanakan sedemikian

rupa, sehingga mereka dapat menemukan konsep atau prinsip-prinsip melalui

mentalnya dengan menamati, mengukur, menduga, menggolongkan, mengambil

kesimpulan, dan lain sebaginya.

Pada dasarnya pengajaran discovery strategy dalam kelas memerlukan

persiapan khusus secara matang, mengingat strategi ini bukan strategi yang biasa

digunakan dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk mengefektifkan pengajaran

discovery strategy, dibutuhkan kemampuan mental dan fisik yang akan menjadi

penunjang dalam mengembangkan strategi tersebut.

Pengajaran discovery strategy selalu mengusahakan agar anak didik terlibat

dalam masalah yang dibahas dan menjadi topik pembicaraan. Mereka dituntut

untuk selalu aktif dan terlibat langsung dalam penerapan discovery strategy. Materi

yang disajikan tidak begitu saja diberitahukan untuk diterima oleh mereka, akan

tetapi mereka diarahkan agar bisa memperoleh pengalam-pengalaman dalam

rangka menemukan sendiri konsep yang direncankan oleh guru.

Pada titik inilah, pengajaran discovery strategy dapat dilakukan melalui

proses mental dan fisik secara berkesinambungan. Hal ini bertujuan agar proses

menemukan sesuatu menjadi lebih baik dan cepat dipahami, sehingga pengajaran

discovery strategy yang diterpkan pun memperoleh hasil yng maksimal.

Selain itu, discovery strategy paling baik dilaksanakan dalam kelompok

belajar besar dan kecil. Meskipun tidak semua anak didik dapat terlibat langsung

dalam pengajaran discovery strategy, namun pendekatan discovery strategy dapat

memberikan manfaat bagi mereka yang belajar dengan tekun dan sugguh-sungguh.
30

D. Motivasi

1. Pengertian Motivasi

Menurut Mitehell dalam Majid (2013, h. 307) motivasi mewakili proses-

proses psikologikal yang menyebabkan timbulnya, diarahkannya, dan terjadinya

persistensi kegiatan-kegiatan sukarela yang diarahkan pada tujuan tertentu. Gray

dalam Majid (2013, h. 307) mendefinisikan motivasi sebagai sejumlah proses yang

bersifat internal atau eksternal bagi seseorang individu yang menyebabakan

timbulnya sikap antusiasme dan persistensi dalam hal melaksanakan kegiatan-

kegiatan tertentu.

Soemanto (1987) dalam Majid (2013, h. 307) mendefinisikan motivasi

sebagai suatu perubahan tenaga yang ditandai oleh dorogan efektif dan reaksi-

reaksi pencapaian tujua, karena prilaku manusia itu selalu bertujuan, kita dapat

menyimpulkan bahwa perubahan tenaga yang memberikan kekuatan bagi tingkah

laku mencapai tujuan telah terjadi di dalam diri seseorang.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah energi aktif

yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan pada diri seseorang yang tampak

pada gejala kejiwaan, perasaan, dan juga emosi sehingga mendorong individu

untuk bertindak atau melakukan sesuatu dikarenakan adanya tujuan, kebutuhan,

atau keinginan yang haus terpuaskan.

2. Karakteristik Motivasi

Menurut Sardiman (2006, h. 83) ciri-ciri anak yang memiliki

motivasi tinggi adalah :

1. Tekun menghadapi tugas (dapat mengerjakan tugas terus menerus dalam


waktu yang lama, tidak berhenti sebelum selesai)
31

2. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa, tidak cepat puas
dengan hasil yang telah dicapainya)
3. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah.
4. Lebih senang bekerja sendiri (tidak bergantung pada orang lain).
5. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin (hal-hal yang bersifat mekanis,
berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif)
6. Dapat mempertahankan pendapat-pendapatnya (sudah yakin akan
sesuatu)
7. Tidak mudah melepaskan hal-hal yang diyakini
8. Senang mencari dan memecahkan soal-soal (tidak khawatir bila
menghadapi masalah belajar, ikut berpartisipasi dalam memecahkan
masalah).

3. Fungsi Motivasi

Perlu di tegaskan bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan yang

berpengaruh pada aktivitas. Fungsi motivasi menurut Sadirman dalam Majid (2013,

h. 309) adalah sebagai berikut :

1. Mendorong manusi untuk berbuat. Artinya motivasi bisa dijadikan


sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam
hal ini merupakan motor pengerak dari setiap kegiatan yang akan
dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan ke arah tujuan yang hendak dicapai. Dengan
demikian, motivasi dapat memeberikan arah dan kegiatan yang harus
dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3. Menjelaskan perbuatan yaitu menentukan perbuatan-perbuatan apa yang
harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan dengan menyisikan
perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan.

4. Sumber Motivasi

Motivasi terbentuk oleh tenaga-tenaga yang bersumber dari dalam dan dari

luar. Motivasi yang terbentuk dari luar lebih bersifat pada perkembangan

kebutuhan psikis atau rohaniah. Begitu juga degan sumber motivasi siswa berbeda-

beda. Ada dua model motivasi, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi

untuk mengerjakan tugas karena dorongan dari dalam dirinya sendiri, memberikan

kepuasan tersendiri dalam proses pembelajaran atau memeberikan kesan tertentu

saat menyelesaikan tugas. Motivasi ekstrinsik adalah model motivasi dimana siswa
32

yang terpadu karena berharap ada imbalan atau untuk menghindari hukuman,

misalkan untuk mendapatkan nilai, hadiah atau menghindari hukuman fisik.

Adapun faktor internal (faktor yang berasal dari dalam diri individu) menurut

Majid (2013, h. 311-312).

a. Adanya Kebutuhan
Memahami kebutuhan anak adalah semata-mata untuk memberi peluang
pada anak memilih berbagai alternatif yang tersedia dalam suatu
lingkungan yang kaya stimulasi.
b. Persepsi individu mengenai diri sendiri
Seseorang termotivasi atau tidak untuk melakukan sesuatu banyak
bergantung pada proses kognitif berupa persepsi. Persepsi mendorong
prilaku seseorang untuk bertindak.
c. Harga diri dan Prestasi
Faktor ini mendorong individu untuk berusaha agar menjadi pribadi yang
mandiri, kuat, serta untuk berprestasi.
d. Adanya cita-cita dan harapan masa depan.
Cita-cita mempunyai pengaruh besar. Cita-cita merupakan pusat
bermacam-macam kebutuhan. Kebutuhan itu biasanya direalisasikan di
sekitar cita-cita tersebut sehingga mampu memberikan energi kepada
anak untuk melakukan sesuatu aktivitas belajar.
e. Keinginan tentang kemajuan dirinya.
Menurut Sadirman “melalui aktualisasi diri perkembangan komtetensi
akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Keinginan dan kemajuan
diri ini menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu.
f. Minat
Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga
tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok.
g. Kepuasan Kinerja
Kepuasan kinerja lebih merupakan suatu dorongan afektif yang muncul
dalam diri individu untuk mencapai goal atau tujuan yang diinginkan
dari suatu prilaku.

Selain faktor iternal adapula faktor eksternal (faktor yang berasal dari luar diri

individu) menurut Majid (2013, h. 312-314)

a. Pemberian hadiah
Hadiah merupakan alat pendidikan yang bersifat positif dan alat
pendorong untuk belajar agar lebih aktif.
b. Kompetisi
Saingan atau kompetisi digunakan sebagai alat untuk mendoron belajar
anak, baik persaingan individu maupun kelompok dalam rangka
meningkatkan prestasi belajar anak.
33

c. Hukuman
Hukuman merupakan pendidikan yang tidak menyenangkan, alat
pendidikan yang bersifat negative. Namun demikian, hukuman dapat
menjai alat motivasi atau pendorong untuk mempergiat belajar anak.
d. Pujian
Menurut Sadiman pujian merupakan bentuk reinforcement yang positif
dan sekaligusmerupakan motivasi yang baik.
e. Situasi lingkungan pada umumnya
Setiap individu terdorong untuk berhubugan dengan rasa mampunya
dalam melakukan interaksi secara efektif dengan lingkungannya.
f. Sistem imbalan yang diterima
Imbalan merupakan karakteristik atau kualitas dari objek pemuas yag
dibutuhkan oleh seseorangyang dapat mmpengaruhi motivasi atau dapat
merubah arah tingkah laku dari suatu objek ke objek lain yang
mempunyai nilai imbalan yang lebih besar.

5. Strategi Memotivasi Siswa

Berikut beberapa ide yang dapat digunakan oleh guru untuk memotivasi

siswa dalam kelas menurut Majid (2013, h. 320-325), yaitu:

1. Gunakan metode dan kegiatan yang beragam


2. Jadikan siswa berperan aktif
3. Buatlah tugas yang menantang namun realistis dan sesuai
4. Ciptakan suasana kelas yang kondusif
5. Berikan tugas secara Proposional
6. Libatkan diri anda untuk membantu siswa mencapai hasil
7. Berikan petunjuk pada para siswa agar sukses dalam belajar
8. Hindari Kompetisi antarpribadi
9. Berikan masukan
10. Hargai kesuksesan dan keteladanan
11. Antusias dalam mengajar
12. Tentukan standar yang tinggi (tetapi realistis) bagi seluruh siswa
13. Pembein penghargaan untuk memotivasi
14. Ciptakan aktivitas yang melibatkan seluruh siswa dalam kelas
15. Hindari menggunakan ancaman
16. Hindari komentar buruk
17. Kenali minat siswa-siswa anda
18. Peduli dengan siswa-siswa anda

E. Hasil Belajar

1. Pengertian Hasil Belajar


34

Belajar pada prinsipnya merupakan proses perubahan tingkah laku sebagai

akibat dari interaksi antara siswa dengan sumber-sumber atau obyek belajar baik

secara sengaja dirancang atau tanpa sengaja dirancang, berikut beberapa pengertian

belajar.

Menurut Bloom dalam Salha (2015, h. 65) mengemukakan tiga ranah hasil

belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Pada dasarnya proses belajar dapat

ditandai dengan perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik yang menyangkut

segi kognitif, afektif maupun psikomotor. Aspek yang diukur dalam penilaian

dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Aspek kognitif, mencakup kedalam 6 tingkatan yaitu pengetahuan


(recalling) kemampuan mengingat, pemahaman (comprehension)
kemampuan memahami, aplikasi (application) kemampuan penerapan.
Analisis (analysis) kemampuan menganalisa suatu informasi yang luas
menjadi bagian-bagian kecil, sintesis (syntesis) kemampuan
menggabungkan beberapa informasi menjadi suatu kesimpulan, evaluasi
(evaluation) kemampuan mempertimbangkan mana yang baik dan mana
yang buruk dan memutuskan untuk mengambil tindakan,.
b. Aspek afektif mencakup menerima (receiving) termasuk kesadaran,
keinginan untuk menerima stimulus, respon, control, dan seleksi gejala
atau rangsangan dari luar, menanggapi (responding) reaksi yang
diberikan, ketepatan aksi, perasaan, kepuasan dan lain-lain.
Mengorganisasi (organization) pengembangan norma dan organisasi
sistem nilai. Membentuk watak (characterization) sistem nilai yang
terbentuk mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah laku.
c. Aspek psikomotorik, meliputi meniru (perception), menyusun
(manipulating), melakukan dengan prosedur (precision), melakukan
dengan baik dan tepat (articulation), melakukan tindakan secara alami
(naturalization).

Hasil belajar merupakan tujuan akhir dilaksanakannya kegiatan

pembelajaran di sekolah. Hasil belajar dapat ditingkatkan melalui usaha sadar yang

dilakukan secara sistematis mengarah kepada perubahan yang positif yang

kemudian disebut dengan proses belajar.


35

2. Karakteristik Hasil Belajar

1. Kepuasan dan kebanggaan yang dapat menumbuhkan motivasi belajar

intrinsik pada diri siswa. Siswa tidak mengeluh dengan prestasi yang rendah dan ia

akan berjuang lebih keras untuk memperbaikinya atau setidaknya mempertahankan

apa yang telah dicapai.

2. Menambah keyakinan dan kemampuan dirinya, artinya ia tahu

kemampuan dirinya dan percaya bahwa ia mempunyai potensi yang tidak kalah

dari orang lain apabila ia berusaha sebagaimana mestinya.

3. Hasil belajar yang dicapai bermakna bagi dirinya, seperti akan tahan

lama diingat, membentuk perilaku, bermanfaat untuk mempelajari aspek lain,

kemauan dan kemampuan untuk belajar sendiri dan mengembangkan

kreativitasnya.

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Bloom dalam Salha (2015, h. 66) mengemukakan bahwa secara umum,

hasil belajar siswa dipengaruhi oleh faktor internal yaitu faktor-faktor yang ada

dalam diri siswa dan faktor eksternal yaitu faktor-faktor yang berada di luar diri

siswa.

a. Faktor Internal, terdiri dari:


1. Faktor fisiologis atau jasmani individu baik bersifat bawaan maupun yang
diperoleh dengan melihat, mendengar, struktur tubuh, cacat tubuh dan
sebagainya.
2. Faktor psikologis baik yang bersifat bawaan maupun keturunan, yang
meliputi:
a) faktor intelektual terdiri dari faktor potensial dan faktor aktual.
b) faktor nonintelektual yaitu komponen-komponen kepribadian tertentu
seperti sikap, minat, kebiasaan, motivasi, kebutuhan, konsep diri,
penyesuaian diri, emosional, dan sebagainya.
b. Faktor Eksternal terdiri dari:
1. Faktor sosial seperti: faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan
sekolah, faktor lingkungan masyarakat dan faktor kelompok.
36

2. Faktor budaya seperti: adat istiadat, ilmu pengetahuan dan teknologi,


kesenian dan sebagainya.
3. Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah, fasilitas belajar, iklim dan
sebagainya.
4. Faktor spiritual atau lingkungan keagamaan.

Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi secara langsung atau tidak langsung

dalam mempengaruhi hasil belajar yang dicapai seseorang. Karena adanya faktor-

faktor tertentu yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu motivasi berprestasi,

intelegensi dan kecemasan.

4. Langkah-Langkah Guru Meningkatkan Hasil Belajar

Dalam mengaktifkan dan meningkatkan hasil belajar siswa, pertama-tama

guru akan menentukan tujuan pembelajaran. Berdasarkan tujuan tersebut

ditentukan cara mengajar (metode/strategi/pendekatan/teknik) untuk mencapai

tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Guru juga menentukan cara menilai

keterlaksanaan tujuan pembelajaran. Dalam melaksanakan pembelajaran

menggunakan cara yang dipilih, akan ditentukan media, sumber belajar, alat dan

bahan, yang diperlukan.

Dalam mengaktifkan dan meningkatkan hasil belajar siswa diperlukan juga

bimbingan atau konseling. Permasalahan yang dialami oleh para siswa di sekolah

sering kali tidak dapat dihindari meski dengan pengajaran yang baik sekalipun. Hal

tersebut juga disebabkan oleh karena sumber-sumber permasalahan siswa banyak

yang disebabkan oleh hal-hal di luar sekolah. Dalam hal ini permasalahan siswa

tidak boleh dibiarkan begitu saja. Apabila misi sekolah adalah menyediakan

pelayanan yang luas untuk secara efektif membantu siswa mencapai tujuan-tujuan

perkembangannnya dan mengatasi permasalahannya, maka segenap kegiatan dan

kemudahan yang diselenggarakan sekolah perlu diarahkan kesana.


37

Disinilah dirasakan perlunya pelayanan bimbingan dan konseling

disamping kegiatan pengajaran. Dan pelayanan bimbingan dan konseling

merupakan peran yang dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling.

F. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial

Ilmu pengetahuan sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang

ilmu-ilmu sosial seperti sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum dan

budaya. Ilmu pengetahuan sosial dirumuskan atas dasar realitas dan fenomena

sosial yang meujudkan satu pendekata interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang

sosial. Di bawah ini pengertian IPS menurut para ahli diantaranya :

“Mengartikan IPS sebagai suatu panduan daripada sejumlah ilmu-ilmu sosial


dan ilmu lainnya yang tidak terkait oleh ketentuan disiplin/ struktur
melainkan bertautan dengan kegiatan-kegiatan pendidikan yang berencana
dan sistematis untuk kepentingan program pengajaran sekolah dengan tujuan
memperbaiki, mengembangkan dan memajukan hubungan-hubungan
kemanusiaan-kemasyarakatan (Sapri dalam Ika, 2009, h. 36)”.
Menurut A. Kosasih Djahiri dalam Ika (2009, h. 37) merumuskan IPS
sebagai berikut:“IPS merupakan ilmu pengetahuan yang memadukan
sejumlah konsep pilihan dari cabang ilmu-ilmu sosial dan ilmu lainnya
kemudian diolah berdasarkan prinsip pendidik dan ditaktik untuk menjadikan
program pengajaran pada tingkat persekolahan”.
Pendapat lain dikemukakan oleh Muhammad Nu’man Soemantri dalam Ika,
(2009, h. 36) “Pendidikan IPS adalah penyerderhanaan disiplin ilmu-ilmu
sosial, ideologi negara dan disiplin ilmu lainnya serta masalah-maslah sosial
terkait yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk
tujuan pendidikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah”.
IPS pada hakekatnya adalah sebuah program pendidikan yang

mengintegrasikan secara interdisiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora untuk tujuan

pendidikan kewarganegaraan. IPS atau studi sosial merupakan bagain dari

kurikulum sekolah yang diturunkan dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial
38

seperti sosisologi, sejarah, geografi, ekonomi, polotik, antropologi, filsafat, dan

psikologi sosial. Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang

memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geograi memberikan kebulatan

wawasan yang bekenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan sejarah memberikan

wawasan berkenaan dengan pristiwa-pristiwa dari berbagi priode. Antropoloi

meliputi studi-studi komparatif yang berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan,

struktur sosial, aktivitas-aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan

spiritual, tekonolgi, dan benda-benda budaya pilihan. Ilmu politik dan ekonomi

tergolong keadaan ilmu tentang kebijakan pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan

dengan pebuatan keputusan. Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu

tentang prilaku seperti konsep pern, kelompok, institusi, proses interaksi dan

kontrol sosial. Jadi secara sederhana IPS mempelajari aspek-aspek politik,

ekonomi, budaya dan lingkungan dari masyarakat di masa lampau, sekarang, dan

masa depan yang akan datang untuk membantu pengembangan pengetahuan,

keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan warga negara di masyarakat.

2. Karakteristik Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Istilah pendidikan IPS dalam menyelenggarakan pendidikan di Indonesia

masih relatif baru di gunakan. Pendidikn IPS merupkan padanan dari sosial studies

dalam konteks kurikulum di Amerika Serikat. Istilah tersebut pertama kali di

gunakan di AS pada tahun 1913 mengadopsi nama lembaga social studies yang

mengembangkan kurikulum di AS (Marsh, 1980 dalam Trianto 2011, h. 172).

Kurikulum pendidikan IPS tahun 1994 sebagaimana yang dikatakan oleh

Hamid Hasan dalam Trianto, 2011, h. 172 merupakan fungsi dari berbagai disiplin

ilmu, Martoella 1976 dalam Trianto (2011, h. 172) mengatakan bahwa pembelajran
39

pendidikan IPS lebih menekankan pada aspek “pendidikan” dari pada “transfer

konsep” karena dalam pembelajran pendidikan IPS diharapkan memperoleh

pemahaman terhadap sejumlah konsep dan mengembangkan serta melaih sikap,

nilai, moral, dan keterampilannya. Dengan demikain pembelajran pendidikan IPS

harus diformulasikan pada aspek pendidikannya.

Ilmu pengetahuan sosial juga membahas hubungan antara manusia dengan

lingkungannya. Lingkungan dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai

bagian dari masyarakat, diharapkan pada berbagai permasalahan yang ada dan

berkembang sebagai bagian dari masyarakat, diharapkan pada berbagai

permasalahan yang ada dan terjadi di lingkungan sekitarnya. Pendidikan IPS

membantu memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan

menjadikannya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya

(Kosasih dalam Trianto 2011, h.173)

3. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Menurut Awan Mutakin dalam Trianto 2011, h 176 tujuan pembelajran IPS

adalah sebagai berikut :

1. Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau


lingkungan, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah kebudayaan
masyarakat.
2. Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan
metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat
digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
3. Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat
keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di
masyarakat.
4. Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial serta
mampu membuat analisis yang kritis. Selanjutnya mampu mengambil
tindakan yang tepat.
5. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun
diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung jawab membangun
masyarakat.
40

6. Memotivasi seseorang untuk bertindak berdasarka moral.


7. Fasilitator di dalam suatu lingkungan yang terbuka dan bersifat tidak
menghakimi.
8. Mempersiapkan sisw menjadi warga negara yang baik dalam
kehidupannya dan mengembangkan kemampuan siswa menggunakan
penalaran dalam mengambil keputusan pada setiap persoalan yang
dihadapinya.
9. Menekankan perasaan, emosi, dan derajat penerimaan atau penolakan
siswa terhadap materi pembelajaran IPS yang diberikan.

4. Ruang Lingkup Mata Pelajaran IPS SD/MI

Ruang lingkup mata pelajaran IPS adalah:

1. sistem sosial dan budaya,

2. manusia, tempat, dan lingkungan,

3. perilaku ekonomi dan kesejahteraan,

4. waktu, keberlanjutan, dan perubahan,

5. sistem berbangsa dan bernegara.

5. Pendekatan, Pengorganisasian Materi dan Penilaian Mata Pelajaran Ilmu

Pengetahuan Sosial SD/MI

Pendekatan yang digunakan dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

adalah pendekatan terpadu (integrated approach) dan pendekatan belajar

kontekstual untuk meningkatkan dan mengembangkan kecerdasan, sikap, serta

keterampilan sosial. Pendekatan tersebut diwujudkan antara lain melalui metode 1)

discovry, 2) eksploratif, 3) pemecahan masalah. Metode-metode tersebut dapat

dilaksanakan di luar kelas dengan memperhatikan sumber belajarnya.

Pembelajaran perlu diikuti dengan praktik belajar, yakni menggunakan

inovasi pembelajaran yang dirancang sebaik dan setepat mungkin agar dapat

membantu peserta diidk memahami fakta, peristiwa, konsep, dan generalisasi

melalui praktik belajar secara empirik.


41

Pembelajaran menggunakan media yang mempunyai potensi untuk

menambah wawasan dan konteks belajar serta hasil belajar peserta didik; seperti

penggunaan media gambar, video, slide, internet dan sebagainya. Sehingga peserta

didik mampu mengakses isu-isu lokal, nasional, dan global.

Pengorganisasian materi menggunakan pendekatan kemasyarakatan yang

meluas yakni dimulai dari hal-hal yang terdekat dengan peserta didik (keluarga) ke

hal yang lebih jauh (global) yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

Penilaian untuk mengukur pencapaian indikator hasil belajar. Penilaian

dapat berupa penilaian tertulis, penilaian berdasarkan hasil perbuatan, penugasan.

Anda mungkin juga menyukai