Peningkatan Menulis Cerita Inspiratif
Peningkatan Menulis Cerita Inspiratif
KUNTARI ENIPURWANTI
SMP Negeri 2 Mlati Sleman
e-mail: kuntarienipurwanti32@[Link]
ABSTRAK
Penelitian bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menulis teks cerita
inspiratif. Prosedur penelitian yang digunakan meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan,
dan refleksi. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan teknik pengumpulan data berupa
observasi dan tes tertulis. Analisis data yang digunakan adalah data kualitatif dan data
kuantitatif. Data kualitatif diambil untuk mengetahui aktivitas peserta didik selama proses
pembelajaran. Sedangkan, data kuantitatif diambil untuk mengetahui hasil menulis berupa
produk teks cerita inspiratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran
kooperatif tipe Think Pair Share dapat meningkatkan kemampuan menulis teks cerita inspiratif
peserta didik kelas IXC. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan hasil menulis pada
setiap siklus. Pada prasiklus persentase ketuntasan belajar sebesar 36,67% dengan nilai rata-
rata kelas 67. Pada siklus I persentase ketuntasan belajar sebesar 66,66% dengan nilai rata-rata
kelas 74 dan pada siklus II persentase ketuntasan belajar sebesar 93,33% dengan nilai rata-rata
kelas 84.
Kata Kunci: Menulis teks, Cerita inspiratif, Model kooperatif Think Pair Share
ABSTRACT
The research aims to improve students' abilities in writing inspirational story texts. The research
procedures used include planning, implementation, observation and reflection. This classroom
action research uses data collection techniques in the form of observation and written tests. The
data analysis used is qualitative data and quantitative data. Qualitative data was taken to
determine student activities during the learning process. Meanwhile, quantitative data was taken
to determine the results of writing in the form of inspirational story text products. The research
results show that the Think Pair Share type cooperative learning model can improve the ability
to write inspirational story texts for class IXC students. This is proven by the increase in writing
results in each cycle. In the pre-cycle the percentage of learning completeness was 36.67% with
an average grade of 67. In the first cycle the percentage of learning completeness was 66.66%
with an average grade of 74 and in the second cycle the percentage of learning completeness
was 93.33% with a grade of class average 84.
Keywords: Writing texts, Inspirational stories, Think Pair Share cooperative model
PENDAHULUAN
Bahasa Indonesia merupakan salah satu pelajaran wajib yang diajarkan di sekolah. Pada
Kurikulum 2013, pengembangan kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia menggunakan
pendekatan pembelajaran bahasa berbasis teks. Selain itu, dalam pembelajaran bahasa
Indonesia terdapat empat kemampuan berbahasa yang harus dikuasai oleh peserta didik. Empat
kemampuan berbahasa tersebut meliputi membaca, menyimak, berbicara, dan menulis.
Dalam silabus kurikulum 2013, peserta didik harus dapat menguasai empat kemampuan
berbahasa. Empat kemampuan berbahasa tersebut salah satunya menulis. Jika salah satu
kemampuan berbahasa rendah, maka kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik juga akan
rendah. Menulis merupakan suatu kegiatan komunikasi berupa penyampaian pesan (informasi)
secara tertulis kepada pihak lain dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya.
Copyright (c) 2024 SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah
33
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah
Vol 4. No 1. Januari 2024
E-ISSN : 2774-5791
P-ISSN : 2774-8022
(Dalman, 2016:3). Melalui menulis peserta didik diharapkan dapat menemukan ide dan
menuangkan ide kreatifnya menjadi sebuah tulisan. Kegiatan menulis membutuhkan
kemampuan, kreativitas, dan daya cipta dalam mengolah dan merangkai kata sesuai dengan
struktur dan kaidah kebahasaan sehingga menjadi kalimat yang baik dan runtut. (Simarmata
,2019:3) mengatakan bahwa keterampilan menulis merupakan suatu kegiatan atau aktivitas
dalam hal penugasan, gagasan ataupun ide dengan memakai bahasa tulis. Pada pengertian
menulis ini penyampaian gagasan atau ide tersebut dituangkan pada suatu media. Menulis juga
dianggap sebagai suatu kegiatan atau aktivitas yang dikerjakan untuk memperoleh hasil yaitu
tulisan.
Menulis adalah kegiatan menggali ide/gagasan melalui pikiran atau perasaan dan
dilanjutkan dengan kegiatan dan dilanjutkan dengan menuangkannya melalui ragam bahasa
tulis yang diharapkan dapat dipahami oleh pembaca. (Yusuf,2017:24). Kegiatan menggali ide/
gagasan tersebut kemudian dituangkan dengan bahasa tulisan dengan harapan tulisan tersebut
dapat dipahami oleh khalayak atau pembaca
Menulis sebagai salah satu kemampuan berbahasa dalam mata pelajaran Bahasa
Indonesia harus dapat dikuasai oleh peserta didik meskipun daya serap dan daya tangkap
masing-masing peserta didik berbeda. Kegiatan menulis di jenjang SMP yang diajarkan di kelas
IX salah satunya adalah menyajikan teks cerita inspiratif dalam bentuk tulis. Kegiatan
menyajikan teks cerita inspiratif dalam bentuk tulis adalah kegiatan menulis teks dengan
menggali, menentukan, dan mengembangkan ide menjadi sebuah cerita dengan memenuhi
struktur dan kaidah kebahasaan teks.
Namun demikian, berdasarkan data dari tahun-tahun sebelumnya banyak peserta didik
kelas IX SMP Negeri 2 Mlati yang belum menguasai keterampilan menulis ini. Padahal
kegiatan menulis dalam pelajaran bahasa Indonesia meliputi dua pembelajaran sastra dan
nonsastra. Kegiatan menulis sastra maupun nonsastra dapat mengasah kemampuan dan
kreativitas peserta didik dan dianggap sebagai kegiatan yang efektif untuk menuangkan ide,
gagasan, pikiran, dan perasaan. Kenyataannya, mereka mengalami kesulitan untuk
memunculkan dan mengembangkan ide menulis.
Berdasarkan hasil observasi di lapangan dan hasil tulisan peserta didik dalam menulis
teks cerita inspiratif pada peserta didik kelas IXC SMP Negeri 2 Mlati tahun pelajaran
2022/2023 banyak yang memperoleh nilai di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Dari
32 anak yang memperoleh nilai ketuntasan minimal (KKM) sebanyak 14 peserta, sedangkan
yang mendapatkan nilai di bawah KKM sebanyak 18 peserta didik.
Ada beberapa faktor yang membuat peserta didik kesulitan dalam menulis teks cerita
inspiratif secara tertulis. Beberapa kesulitan yang dialami peserta didik antara lain Pertama,
kurangnya peserta didik dalam memunculkan ide. Kedua, setelah peserta didik dapat
memunculkan ide pun mereka mengalami kesulitan dalam mengembangkan ide dan
kreativitasnya dalam bentuk tulisan. Ketiga, peserta didik masih dibiarkan bekerja secara
individu untuk menemukan ide. Keempat, pembelajaran yang monoton menyebabkan
pembelajaran menulis ini menjadi tidak menarik. Akibatnya untuk memenuhi tugas dari guru,
peserta didik ada yang mengambil jalan pintas dengan meniru atau copi paste dari internet.
Adapun cara yang harus dilakukan untuk mengatasi permasalahan terkait menulis cerita
inspiratif tersebut dengan menerapkan metode yang bervariasi agar peserta didik tertarik dan
tidak mengalami kejenuhan. Oleh karena itu, penulis menggunakan metode kooperatif Tipe
think Pair Share. Metode ini bertujuan agar peserta didik dapat memecahkan permasalahan
dengan bekerja sama dalam menemukan dan mengembangkan ide atau imajinasi. Dengan
menggunakan model kooperatif tipe Think Pair Share peserta didik diharapkan dapat bekerja
sama secara berpasangan dan dapat menggali ide kreativitas dalam menulis cerita inspiratif.
Think Pair Share menurut (Cholis dalam Agustina, 2021) adalah suatu metode
pembelajaran kooperatif yang memberi siswa waktu untuk berfikir dan merespon serta saling
bantu satu sama lain. Metode ini memperkenalkan ide “waktu berfikir atau waktu tunggu” yang
menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam merespon pertanyaan.
Pembelajaran kooperatif model Think Pair Share ini relatif lebih sederhana karena tidak
menyita waktu yang lama untuk mangatur tempat duduk ataupun mengelompokkan siswa.
Pembelajaran ini melatih siswa untuk berani berpendapat dan menghargai pendapat teman.
Menurut (Paryanto, 2020:46) dan (Lestari, 2023:26) Tipe Think Pair Share merupakan
pembelajaran kooperatif dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
memikirkan permasalahan dan menjawab permasalahan yang diajukan oleh guru dengan
bekerja secara berpasangan dengan peserta didik lainnya. Langkah-langkah pembelajaran
kooperatif tipe Think Pair Share, menurut pendapat (Shoimin dalam Slamet, 2017) langkah-
langkah model pembelajaran TPS, yakni a) Think (berpikir), pada tahap ini guru memberikan
pertanyaan yang terkait dengan materi pelajaran. Pertanyaan ini akan merangsang siswa untuk
berpikir; b) Pair (berpasangan), pada tahap ini guru meminta siswa untuk berpasangan dan
mulai memikirkan pertanyaan atau masalah yang diberikan guru; c) Share (berbagi), pada tahap
ini siswa melaporkan hasil diskusinya di depan kelas. Menurut (Lie dalam Agustina 2004),
kelebihan tipe TPS adalah sebagai berikut: 1) memungkinkan siswa untuk merumuskan dan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak
langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh
kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan; 2) Siswa akan terlatih menerapkan
konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan
kesepakatan dalam memecahkan masalah, 3) Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena
menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang, 4)
Siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa
sehingga ide yang ada menyebar, dan 5) Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau
siswa dalam proses pembelajaran
Adanya paparan tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti kemampuan menulis teks cerita
inspiratif. Hal itulah yang menjadi dasar peneliti untuk melakukan penelitian Tindakan kelas
dengan judul “Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Cerita Inspiratif Melalui Penerapan
Model Kooperatif Tipe Think Pair Share pada Peserta Didik Kelas IXC SMP Negeri 2 Mlati
Tahun 2022/2023”. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman dan kemudahan
untuk mengasah kemampuan menulis peserta didik, khususnya menulis teks cerita inspiratif.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 2 Mlati, Kabupaten Sleman, DIY dengan
subyek penelitian peserta didik kelas IXC berjumlah 30 orang yang terdiri dari 15 peserta didik
laki-laki dan 15 peserta didik perempuan. Penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 tahun
pelajaran 2022/2023.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas (classroom action research).
Desain penelitian yang digunakan adalah model (Kemmis & Mc Taggart dalam Arikunto,2020)
Tindakan terdiri dari beberapa tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus dan setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan.
Langkah-langkah penelitian tindakan secara keseluruhan berbentuk spiral. Setiap
putaran tersebut menggambarkan kegiatan yang utuh, yang dinamakan siklus, karena kalau
hanya terdiri dari satu siklus belum berbentuk spiral. Kekurangan pada siklus pertama dapat
diperbaiki pada siklus-siklus berikutnya, sehingga terjadi peningkatan kemampuan menulis
secara terus menerus. Pengertian siklus di sini adalah suatu putaran kegiatan yang terdiri dari
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Siklus akan terus berulang sampai
Copyright (c) 2024 SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah
35
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah
Vol 4. No 1. Januari 2024
E-ISSN : 2774-5791
P-ISSN : 2774-8022
tercapai ukuran keberhasilan yang diinginkan. Keberhasilan yang diharapkan pada penelitian
tindakan kelas ini adalah hasil kemampuan menulit teks cerita inspiratif meningkat sehingga
KKM dapat tercapai.
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif dan data
kualitatif. Jenis penelitian untuk memeperoleh data kuantitatif adalah dengan menggunakan tes
penilaian produk. Tes ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik dalam
menulis. Sedangkan, data kualitatif digunakan untuk memperoleh data aktivitas guru dan
peserta didik dalam proses pembelajaran.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: (a) penilaian produk; (b) observasi.
Teknik penilaian produk digunakan untuk mengetahui hasil belajar peserta didik dalam menulis
teks cerita inspiratif. Peserta didik mengerjakan soal menulis yang diberikan oleh guru saat
proses pembelajaran. Kriteria tercapai apabila kemampuan menulis teks cerita inspiratif
meningkat dan melampaui KKM. Teknik observasi digunakan untuk mengetahui aktivitas
peserta didik dan guru pada saat pembelajaran berlangsung.
B. Hasil Siklus 1
Pelaksanaan tindakan siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Sabtu, 4
Februari 2023 pukul 08.00 sampai dengan 09.15 WIB dan pertemuan kedua pada hari Kamis,
9 Februari 2023 pukul 10.50 sampai dengan 13.10 WIB yang terbagi dalam kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pada pertemuan pertama dan kedua siklus 1,
diperoleh data aktivitas selama proses pembelajaran yakni, aktivitas guru dan aktivitas peserta
didik.
Pengamatan Aktivitas Guru
Pengamatan terhadap aktivitas guru dengan menggunakan Model Penerapan Kooperatif
Tipe Think Pair Share pada siklus I dan II dapat disajikan sebagai berikut.
Tabel 2. Aktivitas Guru Siklus I
Siklus I Aktivitas guru
Persentase Kriteria
Pertemuan I 80% Baik
Copyright (c) 2024 SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah
36
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah
Vol 4. No 1. Januari 2024
E-ISSN : 2774-5791
P-ISSN : 2774-8022
Berdasarkan tabel pertemuan pertama dan kedua menunjukkan bahwa hasil obsevasi
aktivitas pembelajaran peserta didik mengalami peningkatan sebesar 0.4% dengan rata-rata
sebesar 64%. Hal ini menunjukkan pembelajaran sudah berlangsung dengan baik. Akan tetapi,
masih banyak peserta didik yang belum aktif dan bingung mengenai tugas yang harus
dikerjakan.
Hasil Menulis Teks Cerita Inspiratif
Selain diperoleh data mengenai aktivitas guru dan peserta didik, pada pertemuan kedua
diperoleh data hasil menulis teks cerita inspiratif. Data hasil kemampuan menulis teks cerita
inspiratif disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut.
Refleksi siklus 1
Pelaksanaan pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe Think Pair Share ditemukan
beberapa kendala dan permasalahan sebagai berikut:
1. Masih ada beberapa peserta didik yang kurang aktif dalam bertanya selama proses
pembelajaran;
2. Keinginan peserta didik untuk presentasi masih rendah;
3. Peserta didik masih belum bisa membedakan antara teks cerita inspiratif dengan teks cerita
pendek;
4. Ada beberapa kelompok yang belum selesai dalam menyelesaikan tugas dikarenakan
masih bingung mengenai materi teks cerita inspiratif.
Dari beberapa temuan tersebut, peneliti menemukan solusi demi perbaikan dalam proses
pembelajaran pada siklus 2 sebagai berikut:
1. Guru lebih banyak memberikan motivasi dan melibatkan keaktifan peserta didik;
2. Guru memberikan motivasi agar peserta didik berani maju ke depan untuk membagikan
hasil tugasnya di depan kelas;
3. Peserta didik diberi kesempatan untuk mengamati contoh teks cerita inspiratif baik berupa
teks atau video;
4. Guru menerangkan materi lengkap mengenai isi yang terdapat dalam teks cerita inspiratif,
struktur, dan kaidah kebahasaan teks cerita inspiratif.
Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan pada Tindakan siklus I, bahwa peningkatan
kemampuan menulis teks cerita inspiratif belum mencapai keberhasilan yang ditentukan. Oleh
karena itu, pembelajaran akan dilanjutkan pada tindakan siklus II.
C. Hasil Siklus 2
Pengamatan aktivitas Guru
Pelaksanaan tindakan siklus II pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Kamis, 23
Februari 2023 pukul 10.50 WIB sampai 13.10 WIB dan pertemuan kedua pada hari Sabtu, 25
Februari 2023 pukul 08.00 sampai dengan 09.15 WIB yang terbagi dalam kegiatan
pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Pada pertemuan pertama dan kedua siklus II,
diperoleh data aktivitas selama proses pembelajaran yakni, aktivitas guru dan aktivitas peserta
didik.
Refleksi
Pembelajaran menulis teks cerita inspiratif menggunakan model pembelajaran koopertif
tipe Think pair Share pada siklus II dapat berhasil dengan baik. Ini dibuktikan dengan angka
persentase ketuntasan yang dicapai oleh peserta didik sebesar 99,33%. Persentase tersebut
sudah melebihi persentase ketuntasan minimal sebesar 85%. Namun, masih ada kendala yakni,
masih ada kesulitan dalam melahirkan ide cerita dan hanya tergantung dari teman pasangannya
dan masih ada peserta didik yang kurang aktif dalam bertanya selama proses pembelajaran.
Dari hasil refleksi diambil kesimpulan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair
Share dapat digunakan dalam peningkatan kemampuan menulis teks cerita inspiratif dan dapat
mencapai kriteria ketuntasan klasikal 85%. Hal ini bisa dilihat grafik berikut:
Pembahasan
Analisis Siklus I
Pelaksanaan pembelajaran menulis teks cerita inspiratif dengan menggunakan model
pendekatan kooperatif tipe Think Pair Share pada siklus I pertemuan pertama dimulai dengan
langkah-langkah pembelajaran bagian pendahuluan, yakni diawali dengan salam dan mengecek
kehadiran peserta didik. Kedua, peneliti menyampaikan KD yang dipelajari, indikator dan
penilaian yang akan dilakukan. Langkah selanjutnya, peneliti menjelaskan langkah-langkah
pembelajaran dengan menggunakan tipe Think Pair Share.
Pada bagian inti, peneliti mengadakan tanya jawab terkait materi yang sudah dipelajari
mengenai teks cerita inspiratif. Selanjutnya, peneliti membagikan contoh teks cerita inspiratif
kemudian memberi tugas kepada peserta didik secara individu untuk memikirkan tema yang
akan didiskusikan kepada teman berpasangannya. Setelah 10 menit memikirkan tema yang akan
didiskusikan, peserta didik berpasangan dengan teman satu meja untuk berdiskusi menyatukan
ide yang sudah dipikirkan secara individu. Setelah selesai mendiskusikan dan menentukan tema
yang akan dikembangkan, peserta didik membuat kerangka cerita dengan bimbingan peneliti.
Peneliti memonitor kerja peserta didik dan menanyakan kendala yang dihadapi dalam membuat
kerangka teks cerita. Langkah selanjutnya, peserta didik membagikan hasil diskusinya di depan
kelas agar menjadi inspirasi atau gambaran untuk kelompok lain.
Pada pertemuan kedua, peserta didik secara berpasangan mengembangkan kerangka
yang sudah dikerjakan pada pertemuan pertama. Peserta didik banyak yang masih kesulitan
dalam mengerjakan tugas. Peserta didik masih bingung dalam mengembangkan cerita. Peserta
didik masih terbawa ketika menulis teks cerita pendek. Dialog tokoh masih tidak masuk ke inti
hikmah yang akan disampaikan dalam cerita sehingga cerita terkesan panjang dan lebar. Hal
tersebut membuat cerita tidak selesai. Langkah terakhir, peserta didik membagikan hasil
kerjanya di depan kelas. Peneliti memberikan masukan terkait cerita yang dikembangkan oleh
peserta didik.
Berdasarkan hasil pengamatan dan diskusi yang dilakukan pada siklus I didapatkan hal-
hal yang menjadi kendala pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran, antara lain.
1. Peserta didik banyak yang kurang aktif dalam bertanya selama proses pembelajaran;
2. Keinginan peserta didik untuk presentasi masih rendah;
3. Peserta didik belum bisa membedakan antara teks cerita inspiratif dengan teks cerita pendek;
4. Beberapa kelompok ada yang belum selesai dalam dikarenakan masih bingung mengenai
materi teks cerita inspiratif.
Faktor yang menyebabkan adanya kendala atau hambatan tersebut adalah;
1. Peserta didik masih sungkan dan takut untuk bertanya kepada guru;
2. Belum timbul keberanian dan percaya diri peserta didik untuk membagikan hasil diskusinya
karena takut salah;
3. Peneliti belum menjelaskan materi teks cerita inspiratif secara jelas karena hanya
mengandalkan pengetahuan peserta didik dalam mengerjakan;
4. Kekurangpahaman peserta didik tentang materi teks cerita inspiratif sehingga mereka
mengerjakan sesuai dengan cara mengerjakan teks cerita pendek lain.
Hasil Pada siklus I penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share sudah
mengalami peningkatan daripada sebelum dilakukan tindakan. Namun, hasil yang diperoleh
masih jauh dari ketuntasan minimal sejumlah 85%.
Analisis Siklus II
Pelaksanaan pembelajaran menulis teks cerita inspiratif dengan menggunakan model
pendekatan kooperatif tipe Think Pair Share pada siklus II pertemuan pertama dimulai dengan
langkah-langkah pembelajaran bagian pendahuluan, yakni diawali dengan salam dan mengecek
kehadiran peserta didik. Kedua, peneliti menyampaikan KD yang dipelajari, indikator dan
penilaian yang akan dilakukan. Langkah selanjutnya, peneliti menjelaskan langkah-langkah
pembelajaran dengan menggunakan tipe Think Pair Share.
Pada bagian inti, peneliti menjelaskan materi teks cerita inspiratif dengan detail dan
jelas. Selanjutnya, peneliti menayangkan contoh cerita inspiratif berbentuk video agar peserta
didik dapat membedakan dengan jelas perbedaan cerita inspiratif dengan teks cerita yang lain.
Langkah selanjutnya, peserta didik secara individu memikirkan tema yang akan dikembangkan
menjadi cerita. Kemudian, peserta didik berpasangan untuk menyatukan ide mereka dan
Copyright (c) 2024 SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah
40
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah
Vol 4. No 1. Januari 2024
E-ISSN : 2774-5791
P-ISSN : 2774-8022
membuat kerangka cerita. Peneliti memonitor kerja peserta didik dan menanyakan kendala yang
dihadapi dalam membuat kerangka teks cerita. Langkah selanjutnya, peserta didik membagikan
hasil diskusinya di depan kelas agar menjadi inspirasi atau gambaran untuk kelompok lain.
Pada pertemuan kedua, peserta didik secara berpasangan mengembangkan kerangka
yang sudah dikerjakan pada pertemuan pertama. Setelah itu peserta didik membagikan hasil
kerjanya di depan kelas. Peneliti memberikan masukan terkait cerita yang dikembangkan oleh
peserta didik. Pada siklus II ini kemajuan yang diperoleh peserta didik sangat signifikan. Sudah
sebagian besar peserta didik yang berpikir dan aktif baik dalam bertanya maupun berusaha
untuk mempresentasikan di depan kelas. Antusias juga ditandai dengan hasil kemampuan
menulis peserta didik yang memperoleh nilai “Baik” dengan persentase ketuntasan sebesar
99,33% melampaui ketuntasan klasikal sebesar 85%. Hal tersebut sejalan dengan pendapat (Lie
dalam Agustina 2004), kelebihan tipe TPS adalah sebagai berikut: 1) memungkinkan siswa
untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan
karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta
memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan; 2) Siswa akan terlatih
menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk
mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah; 3) Siswa lebih aktif dalam
pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya
terdiri dari 2 orang; 4) Siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil
diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar; 5) Memungkinkan guru
untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran.
Pelaksanaan tindakan kegiatan siklus II proses pembelajarannya merencanakan
langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share menurut (Shoimin
dalam Slamet,2017) sebagai berikut. a) Think (berpikir), pada tahap ini guru memberikan
pertanyaan yang terkait dengan materi pelajaran. Pertanyaan ini akan merangsang siswa untuk
berpikir; b). Pair (berpasangan), pada tahap ini guru meminta siswa untuk berpasangan dan
mulai memikirkan pertanyaan atau masalah yang diberikan guru. c) Share (berbagi), pada tahap
ini siswa melaporkan hasil diskusinya di depan kelas.
Metode pembelajaran kooperatif tipe Think Pair share tepat diterapkan dalam
mendukung pembelajaran di sekolah. Hal ini senada dengan yang diungkapkan (Cholis dalam
Agustina, 2021) Think Pair Share adalah suatu metode pembelajaran kooperatif yang memberi
siswa waktu untuk berfikir dan merespon serta saling bantu satu sama lain. Metode ini
memperkenalkan ide “waktu berfikir atau waktu tunggu” yang menjadi faktor kuat dalam
meningkatkan kemampuan siswa dalam merespon pertanyaan. Pembelajaran kooperatif model
Think Pair Share ini relatif lebih sederhana karena tidak menyita waktu yang lama untuk
mangatur tempat duduk ataupun mengelompokkan siswa. Pembelajaran ini melatih siswa untuk
berani berpendapat dan menghargai pendapat teman.
Menurut (Paryanto, 2020:46) dan (Lestari, 2023:26) Tipe Think Pair Share merupakan
pembelajaran kooperatif dengan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
memikirkan permasalahan dan menjawab permasalahan yang diajukan oleh guru dengan
bekerja secara berpasangan dengan peserta didik lainnya.
Analisis Antarsiklus
Sebelum pelaksanaan tindakan, peneliti mengadakan pretes. Hasil menulis teks cerita
inspiratif jauh dari kata benar dan tuntas. kemampuan awal menulis teks cerita inspiratif pada
peserta didik kelas IXC SMP Negeri 2 Mlati sebagian besar belum mencapai kriteria ketuntasan
minimal (KKM). Dari 30 peserta didik kelas IXC, hanya 11 peserta didik yang tuntas dengan
kriteria ketuntasan sebesar 36.67%. Peserta didik masih banyak yang mengerjakan seperti
menulis teks cerita lainnya sehingga masih banyak anak yang tidak bisa menyelesaikan tugas.
Copyright (c) 2024 SECONDARY: Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah
41
SECONDARY : Jurnal Inovasi Pendidikan Menengah
Vol 4. No 1. Januari 2024
E-ISSN : 2774-5791
P-ISSN : 2774-8022
Kemampuan menulis teks cerita inspiratif setelah dilakukan tindakan pada siklus I
diperoleh nilai rata-rata kelas 74 dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar 66.66%. Jumlah
peserta didik yang memperoleh nilai dengan kriteria “Baik” sebanyak 19 dan peserta didik yang
mendapat nilai dengan kriteria “Cukup Baik” sebanyak 11 anak. Dilihat dari data pada siklus I,
peneliti melakukan kegiatan tindakan selanjutnya pada siklus II. Hasil yang diperoleh dari
siklus II diperoleh hasil rata-rata kelas sebesar 84 dengan persentase ketuntasan klasikal sebesar
93.33% jumlah peserta didik yang memperoleh nilai dengan kriteria sangat baik berjumlah 16
anak, yang memperoleh nilai dengan kriteria baik sejumlah 12 anak, dan peserta didik yang
memperoleh nilai dengan kriteria cukup baik sejumlah 2 anak.
Dalam kemampuan menulis teks cerita inspiratif diperlukan penyampaian materi yang
jelas dan lengkap agar anak dapat menulis teks cerita inspiratif yang benar sehingga tidak
tertukar dengan cerita pendek yang lain. Perlu motivasi dari guru untuk membangkitkan
semangat peserta didik dalam menulis sehingga peserta dapat menyelesaikan tugas. Aktivitas
guru selama proses pembelajaran pada pertemuan I memperoleh nilai sebesar 80% sedangkan
pertemuan II memperoleh nilai sebesar 85%. Pada pertemuan kedua mengalami peningkatan
sebesar 0,5%. Sedangkan, pada siklus II aktivitas guru pada pertemuan I memperoleh nilai
sebesar 87.50% dan pada pertemuan II memperoleh nilai dengan persentase sebesar 93.75%.
Sedangkan untuk aktivitas peserta didik pada pertemuan I pada siklus I memperoleh
nilai rata-rata kelas dengan persentase sebesar 62% dan pertemuan II aktivitas peserta didik
mengalami peningkatan rata-rata kelas sebesar 0,4 menjadi 66%. Pada siklus II, pertemuan I
memperoleh nilai rata-rata kelas sebesar 80% dan pertemuan II memperoleh nilai rata-rata kelas
85%. Pada siklus I peserta didik masih kesulitan dalam mengrjakan tugas yang diberikan dan
belum terlihat keaktifannya. Peserta didik masih malu untuk bertanya sehingga banyak tugas
yang belum terselesaikan. Sedangkan, pada siklus II keaktifan peserta didik dalam bertanya dan
mengemukakan pendapatnya sudah dapat dilihat. Dari hasil keaktifan para peserta didik dapat
dibuktikan dengan meningkatnya kemampuan menulis teks cerita inspiratif. Hasil penelitian ini
memberikan gambaran positif tentang adanya peningkatan ketuntasan klasikal lebih dari 85%
pada peserta didik kelas IXC di SMP Negeri 2 Mlati. Penerapan Metode pembelajaran
mengakibatkan peningkatan pada hasil menulis teks cerita inspiratif.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Penerapan Model kooperatif tipe Think Pair Share dapat meningkatkan hasil menulis teks
cerita inspiratif kelas IXC Tahun Pelajaran 2022/2023. Hal ini dapat dilihat dari hasil akhir
penelitian yang diperoleh dengan peserta didik yang tuntas sebanyak 28 anak dengan nilai
rata-rata kelas 84 dan persentase ketuntasan sebesar 93.33%.
2. Langkah-langkah penerapan Penerapan Model kooperatif tipe Think Pair Share dapat
meningkatkan kemampuan menulis teks cerita inspiratif. Model kooperatif tipe Think Pair
Share ini memiliki tiga tahap yang dilakukan peserta didik. Langkah pertama, peserta didik
diajak untuk berpikir secara mandiri permasalahan (tema yang akan dikembangkan dalam
teks cerita inspiratif. Tahap selanjutnya peserta didik berpasangan menyatukan ide dan
mengembangkan ide tersebut menjadi sebuah cerita. Tahap terakhir peserta didik
membagikan hasilnya di depan kelas. Model pembelajaran ini efektif untuk menambah
keaktifan peserta didik lain yang lemah di dalam menulis teks cerita inspiratif. Diharapkan
dengan berpasangan, ide akan mudah digali dan data yang berhasil diperoleh membuktikan
dengan perolehan nilai yang bertambah baik dan meningkat.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina. (2021) Peningkatan Prestasi Belajar Siswa pada Pelajaran Bahasa Indonesia Materi
Menulis Teks Resensi dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
Think Pair Share (TPS) di Kelas XI MIPA 1 SMAN 2 Bolo Semester II Tahun
Pelajaran 2020/2021”. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI)
Aje, Arisman Usman. (2022) Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student A Achievement
Division (STAD) & Team Games Tournament (TGT). Sumatera Barat: CV Azka
Pustaka
Arikunto, Suharsiwi, dkk. (2015) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Dalman. (2016) Keterampilan Menulis. Depok: PT Rajagrafindo Persada.
Eka Putri, dkk. (2021) Pengaruh Penggunaan Model Think Pair Share Terhadap Kemampuan
menulis Teks Laporan Hasil Observasi siswa Kelas VII SMPN 5 koto XI Tarusan.
Jurnal Inovasi Penelitian.
Hatmo, Kenang Tri. (2021) Keterampilan Menulis bahasa Indonesia. Klaten: Lakeisha
Kosasih dan Kurniawan. (2018) Jenis-Jenis Teks. Bandung: Yrama Widya.
Lestari, Endang Puji. (2023) Model Pembelajaran Think Pair Share Solusi Menumbuhkan
Keberanian Berpendapat. Lombok Tengah: P4I
Mariyana. (2022). Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Cerita Inspiratif Melalui Penerapan
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write pasa Siswa Kelas IXD SMP
Negeri Banjarmasin. Pedagogik Jurnal Pendidikan.
Munirah. (2019). Pengembangan Keterampilan Menulis Paragraf. Yogyakarta: Deepublish
Paryanto. (2020). Implementasi model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams
Achievement Division) untuk Pembelajaran Passing dalam Permainan Bola Voli.
Malang: Ahlimedia Press.
Rahmawati. (2019) Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Materi Teks Tanggapan
Deskriptif Melalui Pendekatan Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Pada Siswa
Kelas VII SMPN 1 Upau. Jurnal Penelitian dan Pendidikan.
Romadhon, Sahrul dan Kamaroellah, Agoes (2019) Manajerial Keterampilan Menulis: Kiat
sukses Menulis Ragam Teks Fiksi dan nonfiksi. Pamekasan: Duta Media Publishing.
Simanjuntak dan Sitohang. (2019). Pengaruh Menonton Film Terhadap Kemampuan Menulis
Cerita Inspiratif oleh Siswa Kelas IX SMP Negeri 40 Medan. Journal Of Language,
Literature, and .
Simarmata, Janner. (2019). Kita Menulis: Semua Bisa Menulis buku. Medan: Yayasan Kita
[Link].
Slamet. (2017) Meningkatkan Motivasi dan keterampilan Menulis Narasi Menggunakan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Siswa kelas X Jasa Boga 2
SMK Negeri 3 Samarinda tahun Pembelajaran 2016/2017. Jurnal Ketatabahasaan
dan Kesusasteraan.
Yuliana, Azmi (2020) Peningkatan Kemampuan Menulis Pantun Siswa Kelas IV SD Negeri
066044 Kecamatan Medan Helvetia Kota Medan dengan Menggunakan Model
Kooperatif Learning Think Pair Share. Jurnal ilmiah Semantik.
Yusuf, Yusri, dkk. (2017) Keterampilan Menulis Pengantar Pencapaian Kemampuan
Espitemik. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press.