Panduan Praktikum Mikrokontroler Arduino
Panduan Praktikum Mikrokontroler Arduino
Demi menunjang kegiatan praktikum Microcontroller Trainer, perlu disampaikan kepada siswa tujuan perco-
baan, teori yang mendasari percobaan, alat dan bahan yang digunakan pada percobaan, serta langkah-langkah perco-
baan. Oleh karena itu, dalam buku panduan percobaan ini akan disampaikan hal-hal tersebut. Buku panduan ini
disusun sesederhana mungkin agar mudah dipahami dan dipraktikkan.
Demi pengembangan lebih lanjut, guru dapat menambahkan dan mengembangkan percobaan lain yang terkait
sehingga dapat menambah wawasan siswa. Segala kritik dan saran sangat kami harapkan untuk penyempurnaan bu-
ku panduan percobaan ini dimasa mendatang.
Tim Penyusun
i
DAFTAR ISI
ii
ATURAN KESELAMATAN DAN LARANGAN SAAT PENGGUNAAN
1
INSTRUKSI PENGOPERASIAN ALAT
1. Tempatkan modul trainer pada permukaan meja yang rata dan stabil.
2. Buat koneksi antar komponen dengan menggunakan kabel penghubung pada tiap-tiap
terminal sesuai dengan petunjuk praktikum.
3. Setelah koneksi antar komponen, hubungkan dengan sumber tegangan dan mulai lakukan
eksperimen.
4. Pastikan sumber tegangan dalam keadaan mati/off saat akan melakukan koneksi antar
komponen.
5. Setelah selesai melakukan percobaan, pastikan trainer dalam kondisi tidak terhubung dengan
sumber tegangan.
2
KOMPONEN ALAT
PCB Jumlah
Main PCB 1
Transistor Unit 1
Photoelectric 1
Motor Driver Unit 1
Mosfet Motor Driver Unit 2
Inductive Sensor 1
Capacitive Sensor 1
LCD Characters 16 x 2 1
3
BAB I
PENGENALAN ARDUINO
A. Tujuan
1. Menjelaskan Arsitektur, Fungsi, dan Kegunaan Mikrokontroler.
2. Instalasi Arduino IDE pada Windows.
3. Upload program pada mikrokontroler .
4
Bagian-bagian dari Arsitektur Mikrokontroler (AVR Version) adalah:
1) ALU (Arithmetic Logic Unit) adalah Prosesor yang bertugas mengeksekusi kode program
yang ditunjuk oleh program counter.
2) Program Counter (PC) adalah komponen yang bertugas menunjukkan ke ALU alamat
program memori yang harus diterjemahkan kode programnya dan dieksekusi. Sifat dari PC
adalah linier artinya PC menghitung naik satu bilangan yang bergantung alamat awalnya.
Misalnya jika isi PC 0x000 maka PC akan naik satu menjadi 0x001 yang berarti memerintah
ALU mengeksekusi kode program yang berada pada alamat 0x001 program memori. Jika isi
PC dari 0x002 dipaksa (instruksi lompatan) 0x02A maka PC akan naik satu menjadi 0x02B
dan melakukan tugasnya begitu seterusnya.
3) 32 General Purpose Working Register (GPR) adalah register file atau register kerja (R0-R31)
yang mempunyai ruang 8-bit, setiap instruksi dalam ALU melibatkan GPR. GPR terbagi dua
yaitu kelompok atas (R16-R31) dan kelompok bawah (R0-R15), di mana kelompok bawah
tidak bisa digunakan untuk mengakses data secara langsung dan konstan seperti instruksi
assembly LDI, dan hanya bisa digunakan antar register, SRAM, atau register I/O (register
port). Sedangkan kelompok atas sama dengan kelompok bawah, hanya dia lebih
mempunyai kelebihan yang dapat mengakses data secara langsung (imidiet) dan konstan.
4) Kelebihan dari GPR adalah terdapat register pasang yang digunakan untuk pointer
(petunjuk ke alamat tertentu). XH:XL(R27:R:26), YH:YL(R29:R28), ZH:ZL (R31:R30), hanya
register pointer Z yang dapat digunakan untuk menunjuk ke alamat memori program.
5) Static Random Acceses Memory (SRAM) adalah RAM yang bertugas menyimpan data
sementara, sama seperti RAM pada umumnya mempunyai alamat dan ruang data. Alamat
terakhir dari SRAM bergantung pada kapasitas SRAM, biasanya sudah didefinisikan pada
file header dengan nama RAMEND, jadi tidak usah mengingat alamat SRAM yang terakhir,
pakai saja RAMEND. RAMEND biasanya digunakan untuk membuat stack (alamat terakhir
dari SRAM).
6) Program memori adalah memori Flash Prom yang bertugas menyimpan program yang
peneliti buat dalam bentuk kode-kode program (berisi alamat memori beserta kode
program dalam ruang memori alamat tersebut) yang telah di-compile berupa bilangan
heksa atau biner.
7) Internal Pheripheral adalah peralatan atau modul internal yang ada dalam mikrokontroler
seperti saluran I/O, Interupsi eksternal, timer atau counter, USART, EEPROM, dan lain-lain.
Tiap peralatan internal mempunyai register port (register I/O) yang mengendalikan
peralatan internal tersebut. Kata-kata tersebut port dan I/O di atas bukan hanya pin input
atau output tetapi semua peralatan internal yang ada di dalam chip di sini disebut port
atau I/O (dengan kata lain di luar CPU adalah I/O walaupun kenyataannya dalam chip).
2. Arduino IDE
Arduino didefinisikan sebagai sebuah platform elektronik berbasis pada software dan
hardware yang fleksibel dan mudah digunakan, yang ditujukan untuk seniman, desainer, hobbies
dan setiap orang yang tertarik dalam membuat sebuah objek atau lingkungan yang interaktif.
Arduino sebagai sebuah platform komputasi fisik (Physical Computing) yang open source
pada board input ouput sederhana, yang dimaksud dengan platform komputasi fisik disini adalah
sebuah sistem fisik yang interaktif dengan penggunaan software dan hardware yang dapat
mendeteksi dan merespon situasi dan kondisi.
5
C. Alat dan Bahan
1. Software Arduino IDE
2. Laptop/PC
3. Kabel USB to USB type B
4. Microcontroller Trainer
D. Langkah Kerja
1. Instalasi ARDUINO IDE
1) Untuk proses instalasi, buka file Arduino [Link] (Gambar 1.2), maka selanjutnya
akan muncul seperti pada Gambar 1.3.
Gambar 1.2 File Arduino, EXE Gambar 1.3 Persetujuan Instalasi Arduino IDE
2) Dilanjutkan dengan menekan tombol I Agree, maka akan muncul jendela Installation
Option seperti Gambar 1.4. Pastikan semua komponen terpilih/tercentang.
3) Tekan tombol Next, kemudian pilih Folder untuk menyimpan Aplikasi Arduino IDE.
6
Gambar 1.5 Menentukan Lokasi File Instalasi
4) Pilihlah lokasi penyimpanan dengan meng-klik tombol browse. Tekan tombol install,
untuk melanjutkan proses instalasi.
7
5) Apabila muncul jendela seperti pada Gambar 1.7, tekan tombol Instal sampai instalasi
selesai.
7) Untuk membuka Arduino IDE, carilah file hasil instalasi [Link] kemudian double klik
file tersebut.
8
2. Upload Program ke Hardware
Keterangan:
1) Editor Program
Sebuah window yang memungkinkan pengguna menulis dan mengedit program dalam
bahasa processing.
2) Verify
Mengecek kode sketch yang error sebelum mengupload ke board arduino.
3) Uploader
Sebuah modul yang memuat kode biner dari komputer ke dalam memori di dalam papan
arduino.
4) New
Membuat sebuah sketch baru.
5) Open
Membuka daftar sketch pada sketchbook arduino.
6) Save
Menyimpan kode sketch pada sketchbook.
7) Serial Monitor
Menampilkan data serial yang dikirimkan dari board arduino.
9
Memulai Upload Program:
1) Klik “File” pada software Arduino IDE.
2) Klik “ Example”.
3) Klik “0.1 Basics”.
4) Pilih dan klik “Blink”. Akan muncul sheet arduino baru, yang sudah tertulis contoh program.
Gambar 1.10 Sheet Baru Saat di klik “Blink” pada File “Example”
Selanjutnya perhatikan LED yang sudah terhubung pada pin 13 di alat trainer, dalam kondisi
On-Off
masing-masing selama 1 detik, ini menunjukkan bahwa contoh program yang di-upload tadi
sudah dijalankan oleh sistem.
10
BAB II
INPUT-OUTPUT ATMEGA328 (Arduino Version)
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan siswa:
1. Memahami dan Menjelaskan Fungsi dari:
Analog Pin
Digital Pin
PWM Pin
SDA - SCL
B. Teori Pin I/O pada Arduino
Pada Trainer ini, jenis mikrokontroler yang digunakan adalah ATmega328 yang memiliki fitur
sebagai berikut:
1. Memilliki 130 macam instruksi yang hampir semuanya dieksekusi dalam satu siklus clok.
2. Memiliki kecepatan 32 x 8 bit register serbaguna.
3. Kecepatan akses mencapai 16 MIPS dengan clock 16MHz.
4. Memiliki 32 KB flash memory.
5. Memiliki EPROM sebesar 1 KB.
6. Memiliki SRAM sebesar 2 KB.
7. Memiliki PIN I/O digital sebanyak 14 PIN, 6 PIN di antaranya dapat digunakan sebagai PWM.
8. Memiliki master/slave.
Pada trainer ini, mikrokontroller ATmega328 dibuat dengan versi arduino tipe uno, sehingga fash
memory pada mikrokontroler ini sudah terpakai sekitar 0.5 KB untuk Bootloader arduino uno.
11
1. Analog Pin
ATmega 328 memiliki pin out ADC ATmega328 sebanyak 6 buah pin analog, yakni pin
PC0 sampai PC5, dalam versi arduino pin analog disebut dengan nama A0 sampai A5. Pin ADC
(Analog Digital Converter) difungsikan untuk mengkonversi data analog berupa tegangan
menjadi data digital. Pada Arduino (mikrokontroller ATmega328) converter ini memiliki resolusi
10 bit, artinya nilai hasil konversi berkisar dari 0 hingga 1023.
Berikut nilai perhitungan ADC:
ADC= (Vinput/Vref) x 1024
Contoh perhitungan kode digital ADC: Misalkan terdapat input kanal ADC beresolusi 10-bit
adalah 2,5 volt dan tegangan. referensi yang digunakan Vref internal sebesar 2,56 volt,
sehingga kode digital ADC-nya adalah:
= (2500 mV/2560 mV) x 1024
= 1.000
2. Digital PIN
Semua pin pada Arduino/ATmega328, baik pin digital maupun pin analog, dapat digunakan
sebagai pin digital. Digital berarti sinyal yang dikirimkan/diterima bernilai 1 atau 0, On atau Off,
High atau Low, ada atau tidak ada sinyal. Berbeda dengan sinyal analog yang nilainya bersifat
kontinu, yakni nilai antara 0 dan 1 dipertimbangkan. Pin digital berarti pin dapat menerima/
mengirim sinyal digital. Secara umum pin pada Arduino/ATmega328 dapat dikonfigurasi ke
dalam dua mode, yaitu mode input dan output. Mode input berarti mengeset pin agar dapat
digunakan untuk menerima masukan sinyal. Mode output berarti mengeset pin agar dapat
mengirimkan sinyal.
3. PWM Pin
PWM adalah singkatan dari Pulse Width Modulation yang merupakan suatu metode untuk
mendapatkan bentuk sinyal analog dari sinyal digital. Dengan adanya fungsi ini kita dapat
membuat transisi antar state hidup dan mati menjadi lebih halus. PWM pada arduino bekerja
pada frekuensi 500Hz, artinya 500 siklus/ketukan dalam satu detik. Untuk setiap siklus, kita
bisa memberi nilai dari 0 hingga 255. Ketika kita memberikan angka 0, berarti pada pin
tersebut akan pernah bernilai 0 volt atau setara dengan GND. Sedangkan jika kita memberikan
nilai 255, maka sepanjang siklus akan bernilai 5 volt. Pin yang bisa dimanfaatkan untuk PWM
pada Arduino/ATmega328 adalah pin yang bertanda tilde (~), yaitu pin 3, 5, 6, 9, 10, dan 11.
12
BAB III
AKSES PIN DIGITAL, ANALOG , DAN PWM
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan siswa:
1. Mengakses Pin I/O.
B. Teori Akses I/O
Pada dasarnya konfigurasi I/O pada AVR (ATmega) adalah open collector, konfigurasi open
collector mempunyai tegangan 0 V pada kondisi logika 1 atau High dan mengambang (hi-Z) pada
logika 1. Supaya pin tidak dalam logika mengambang dalam keadaan sebagai input, dibuat
metode pull - up. Pada Pin analog di papan Arduino adalah pin yang defaultnya digunakan sebagai
input analog. Di pin ini Anda bisa mendeteksi besaran tegangan analog dari 0 s/d 5V secara
kontinyu. Jadi input tegangan dengan nilai 1V, 1.1V, 2V, 2.7V dan seterusnya sampai 5V .7
Pada pin PD3, PD5, PD6, PB1, PB2, PB3, dapat difungsikan juga sebagi pin output PWM
berupa sinyal analog. Analog input dihasilkan oleh teknik yang dikenal dengan istilah PWM atau
Pulse Width Modulation. PWM memanipulasi keluaran digital sedemikian rupa sehingga
menghasilkan sinyal analog. Mikrokontroler mengeset output digital ke High dan Low bergantian
dengan porsi waktu tertentu untuk setiap nilai keluarannya. Durasi waktu untuk nilai High disebut
pulse width atau panjang pulsa. Variasi nilai output analog didapatkan dari perubahan panjang
pulsa yang diberikan pada satu periode waktu dan dilakukan berulang-ulang.
C. Daftar Peralatan
1. Laptop/PC terinstal arduino IDE
2. Kabel USB to USB type B
3. Microcontroller trainer
4. Kabel penghubung
5. Obeng
D. Langkah Kerja
1. Konfigurasi Pin (Input dan Output)
a. Tuliskan program berikut pada Arduino IDE:
void setup() {
pinMode(7,INPUT);
pinMode(8,OUTPUT);
}
void loop() {
int tombol = digitalRead(7);
if (tombol == HIGH){
digitalWrite(8,HIGH);
}
else {
digitalWrite(8,LOW);
}
}
13
Tambahkan
input 9V
b. Sambungkan pin-pin pada papan Microcontroller Trainer seperti gambar berikut ini:
c. Hubungkan Laptop dan Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel USB to USB
Type B.
d. Pasangkan kabel AC 220V pada Microcontroller Trainer dan sambungkan ke listrik 220V.
e. Verify untuk mengecek error program kemudian Upload jika tidak ditemukan error.
f. Hidupkan modul Microcontroller Trainer dengan menekan rocker switch.
g. Amati kondisi LED pada Microcontroller Trainer ketika Push Button (PB1) ditekan dan
dilepas.
Penjelasan:
pinMode(7,INPUT); difungsikan untuk mensetting pin 1 sebagai pin input, membaca
nilai tegangan/sinyal yang masuk pada pin ini.
pinMode(8,OUTPUT); difungsikan untuk mensetting pin 2 sebagai pin output, pin ini
akan berada dalam kondisi high atau low sesuai dengan perintah yang diberikan.
Int tombol = digitalRead(7); “int tombol” merupakan variable inisialisasi hasil
pembacaan dari pin 7. “digitalRead(7)” perintah membaca nilai kondisi high atau low
pada pin 7.
if (tombol == HIGH){
digitalWrite(8,HIGH);
}
else {
digitalWrite(8,LOW);
}
Potongan tulisan program di atas merupakan pembacaan suatu kondisi, di mana jika
14
hasil pembacaan tombol pada pin 7, apabila pin 7 dalam kondisi high maka pin 8 akan
kondisi high, dan sebaliknya jika kondisi pin 7 low maka pin 8 akan dalam kondisi low.
Amati kondisi LED pada trainer pada saat tombol ditekan dan dilepas.
2. Konfigurasi Pin Analog
a. Tuliskan program berikut pada Arduino IDE:
const int analogInPin = A0;
int sensorValue = 0;
int outputValue = 0;
void setup() {
[Link](9600);
}
void loop() {
sensorValue = analogRead(analogInPin);
[Link](sensorValue);
delay(500);
}
kasih input 9v
b. Sambungkan pin-pin pada papan Microcontroller Trainer seperti gambar berikut ini:
c. Hubungkan Laptop dan Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel USB to USB
Type B.
d. Pasangkan kabel AC 220V pada Microcontroller Trainer dan sambungkan ke listrik 220V.
e. Verify untuk mengecek error program kemudian Upload jika tidak ditemukan error.
f. Hidupkan modul Microcontroller Trainer dengan menekan rocker switch.
15
g. Amati output pada serial monitor ketika potensiometer diputar.
void loop() {
sensorValue = analogRead(analogInPin);
outputValue = map(sensorValue, 0, 1023, 0, 255);
analogWrite(analogOutPin, outputValue);
[Link]("sensor = ");
[Link](sensorValue);
[Link]("output = ");
[Link](outputValue);
delay(2);
}
b. Sambungkan pin-pin pada papan Microcontroller Trainer seperti gambar berikut ini:
c. Hubungkan laptop dan Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel USB to USB
Type B.
d. Pasangkan kabel AC 220V pada Microcontroller Trainer dan sambungkan ke listrik 220V.
e. Verify untuk mengecek error program kemudian Upload jika tidak ditemukan error.
f. Hidupkan modul Microcontroller Trainer dengan menekan rocker switch.
g. Amati nyala LED ketika potensiometer diputar.
16
Penjelasan:
const int analogInPin = A0; merupakan varibel inisialisasi pin A0.
const int analogOutPin = 6; merupakan varibel inisialisasi pin 6.
int sensorValue = 0; inisialisasi pembacaan hasil nilai adc potensiometer.
int outputValue = 0; inisialisasi nilai konversi ADC to digital.
[Link](9600); merupakan setting baudrate komunikasi serial.
sensorValue = analogRead(analogInPin); perintah membaca nilai “analogRead” pada
pin A0.
outputValue = map(sensorValue, 0, 1023, 0, 255); hasil pembacaan nilai analog
“sensorValue” dari nilai 0 - 1023 dikonversi menjadi nilai digital(PWM) dari 0 — 255
dengan menggunakan metode map.
[Link]("sensor = "); menampilkan tulisan “sensor = “ pada serial monitor.
[Link](sensorValue); menampilkan hasil pembacaan nilai “sensorValue” /nilai
analog dari pin A0.
delay(2); merupakan waktu tunda dalam satuan millisecon.
17
BAB IV
APLIKASI LCD (LIQUID CRYSTAL DISPLAY)
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan ini diharapkan siswa:
1. Mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Mampu memahami pemrograman LCD pada mikrokontroler.
B. Dasar Teori
Display elektronik adalah salah satu komponen elektronika yang berfungsi sebagai tampilan
suatu data, baik karakter, huruf, ataupun grafik. LCD (Liquid Crystal Display) adalah salah satu
jenis display elektronik yang dibuat dengan teknologi CMOS logic yang bekerja dengan tidak
menghasilkan cahaya tetapi memantulkan cahaya yang ada di sekelilingnya terhadap front-lit atau
mentransmisikan cahaya dari back-lit. LCD (Liquid Crystal Display) berfungsi sebagai penampil
data baik dalam bentuk karakter, huruf, angka, ataupun grafik.
18
• CGROM (Character Generator Read Only Memory) merupakan memori untuk menggambarkan pola
sebuah karakter di mana pola tersebut merupakan karakter dasar yang sudah ditentukan secara
permanen oleh pabrikan pembuat LCD (Liquid Crystal Display) tersebut, sehingga pengguna tinggal
mangambilnya sesuai alamat memorinya dan tidak dapat merubah karakter dasar yang ada dalam
CGROM.
Register control yang terdapat dalam suatu LCD di antaranya adalah sebagai berikut:
• Register perintah yaitu register yang berisi perintah-perintah dari mikrokontroler ke panel LCD
(Liquid Crystal Display) pada saat proses penulisan data atau tempat status dari panel LCD (Liquid
Crystal Display) dapat dibaca pada saat pembacaan data.
• Register data yaitu register untuk menuliskan atau membaca data dari atau ke DDRAM. Penulisan
data pada register akan menempatkan data tersebut ke DDRAM sesuai dengan alamat yang telah
diatur sebelumnya.
Pin kaki atau jalur input dan kontrol dalam suatu LCD (Liquid Crystal Display) di antaranya adalah:
• Pin data adalah jalur untuk memberikan data karakter yang ingin ditampilkan menggunakan LCD
(Liquid Crystal Display), dapat dihubungkan dengan bus data dari rangkaian lain seperti
mikrokontroler dengan lebar data bit.
• Pin RS (Register Select) berfungsi sebagai indikator atau yang menentukan jenis data yang masuk,
apakah data atau perintah. Logika low menunjukkan yang masuk adalah perintah, sedangkan logika
high menunjukan data.
• Pin R/W (Read Write) berfungsi sebagai instruksi pada modul jika low tulis data, sedangkan high
baca data.
• Pin E (Enable) digunakan untuk memegang data baik masuk atau keluar.
• Pin VLCD berfungsi mengatur kecerahan tampilan (kontras) di mana pin ini dihubungkan dengan
trimpot 5K ohm, jika tidak digunakan dihubungkan ke ground, sedangkan tegangan catu daya ke
LCD sebesar 5 Volt.
Untuk aplikasi di praktikum ini digunakan LCD 16x2. Maksudnya adalah LCD ini mempunyai 16 kolom dan
2 baris. LCD ini dapat digunakan dengan tegangan + 5 volt.
void setup() {
[Link](16, 2);
[Link](0,0);
[Link]("hello, world!");
delay(500);
19
[Link]();
}
void loop() {
[Link](0,0);
[Link](" labelektronika ");
[Link](0, 1);
[Link](millis() / 1000);
}
C. Alat dan Bahan
1. Software Arduino IDE
2. Laptop/PC
3. Kabel USB to USB type B
4. Microcontroller Trainer
5. Obeng
D. Langkah Kerja
1. Percobaan LCD
a. Hubungkan kabel USB ke laptop.
b. Buka program Arduino.
c. Buatlah projek baru, kemudan beri nama praktikum 4.
d. Buatlah library Arduino untuk LCD Karakter.
#include < LiquidCrystal.h >
e. Buatlah inisialisasi Library untuk menentukan Pin Arduino yang akan dipakai.
LiquidCrystal lcd(RS,E,D4,D5,D6,D7)
contohnya:
LiquidCrystal lcd(12, 11, 5, 4, 3, 2);
f. Buatlah Clear display.
[Link]();
g. Pindahkan posisi cursor LCD.
setCursor(Kolom,Baris)
Contoh:
[Link](0,0);
Set posisi awal kursor diawali dengan kolom 0 dan baris 1
[Link](0,1);
h. Buatlah display text pada LCD.
[Link](“labelelektronika”);
1. Percobaan LCD Wiring
a. Tuliskan program berikut pada Arduino IDE:
// include the library code:
#include <LiquidCrystal.h>
// initialize the library by associating any needed LCD interface pin
20
// with the arduino pin number it is connected to
const int rs = 8, en = 9, d4 = 10, d5 = 11, d6 = 12, d7 = 13;
LiquidCrystal lcd(rs, en, d4, d5, d6, d7);
void setup() {
// set up the LCD's number of columns and rows:
[Link](16, 2);
// Print a message to the LCD.
[Link]("hello, world!");
}
void loop() {
// set the cursor to column 0, line 1
// (note: line 1 is the second row, since counting begins with 0):
[Link](0, 1);
// print the number of seconds since reset:
[Link](millis() / 1000);
}
b. Sambungkan pin pada modul Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel seperti pada
gambar berikut ini:
modul lcd
beda
c. Hubungkan Laptop dan Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel USB to USB Type B.
d. Pasangkan kabel AC 220V pada Microcontroller Trainer dan sambungkan ke listrik 220V.
e. Verify untuk mengecek error program kemudian Upload jika tidak ditemukan error.
f. Hidupkan modul Microcontroller Trainer dengan menekan rocker switch.
g. Amati output tulisan pada display LCD.
2. Percobaan LCD dengan I2C
a. Tuliskan program berikut pada Arduino IDE:
21
#include <LiquidCrystal_I2C.h>
LiquidCrystal_I2C lcd(0x27, 16, 2); // I2C address 0x27, 16 column and 2 rows
void setup()
0x38
{
[Link](); // initialize the lcd
[Link]();
[Link](0, 0); // move cursor to (0, 0)
[Link]("i2c LCD"); // print message at (0, 0)
[Link](0, 1); // move cursor to (2, 1)
[Link]("dwida jaya tama"); // print message at (2, 1)
}
void loop()
{
}
b. Sambungkan pin pada modul Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel seperti pada
gambar berikut ini:
c. Hubungkan Laptop dan Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel USB to USB Type B.
d. Pasangkan kabel AC 220V pada Microcontroller Trainer dan sambungkan ke listrik 220V.
e. Verify untuk mengecek error program kemudian Upload jika tidak ditemukan error.
f. Hidupkan modul Microcontroller Trainer dengan menekan rocker switch.
g. Amati output tulisan pada display LCD.
22
BAB V
APLIKASI MOTOR DRIVER L293D
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan siswa:
1. Mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Mampu memahami pemrograman motor driver pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
IC L293D adalah IC yang didesain khusus sebagai driver motor DC dan dapat dikendalikan
dengan rangkaian TTL maupun mikrokontroler. Motor DC yang dikontrol dengan driver IC L293D
dapat dihubungkan ke ground maupun ke sumber tegangan positif karena di dalam driver L293D
sistem driver yang digunakan adalah totem pool. Dalam 1 unit chip IC L293D terdiri dari 4 buah
driver motor DC yang berdiri sendiri dengan kemampuan mengalirkan arus 1 Ampere tiap
drivernya. Sehingga dapat digunakan untuk membuat driver H-bridge untuk 2 buah motor DC.
23
• Internal ESD Protection.
• Thermal Shutdown-High-Noise-Immunity Inputs.
• Functionally Similar to SGS L293 and SGS L293D.
• Output Current 1 A Per Channel (600 mA for L293D).
• Peak Output Current 2 A Per Channel (1.2 A for L293D).
• Output Clamp Diodes for Inductive Transient Suppression (L293D).
• Rangkaian Aplikasi Driver Motor DC IC L293D.
C. Alat dan Bahan
1. Software Arduino IDE
2. Laptop/PC
3. Kabel USB to USB type B
4. Microcontroller Trainer
5. Obeng
6. Multimeter
D. Langkah Kerja
a. Tuliskan program berikut pada Arduino IDE:
// Motor Connections
int enA = 9;
int in1 = 5;
int in2 = 6;
void setup() {
pinMode(enA, OUTPUT);
pinMode(in1, OUTPUT);
pinMode(in2, OUTPUT);
//Turn off motors-initial state
digitalWrite(in1,LOW);
digitalWrite(in2, LOW);
// put your setup code here, to run once:
}
void loop() {
directionControl();
delay(1000);
speedControl();
delay(1000);
// put your main code here, to run repeatedly:
}
//This function leys you control spinning direction of motors
void directionControl(){
//Set motors to maximum speed
24
//For PWM maximum possible values are 0 to 255
analogWrite(enA,255);
//Turn on Motor
digitalWrite(in1,HIGH);
digitalWrite(in2,LOW);
delay(1000);
25
d. Pasangkan kabel AC 220V pada Microcontroller Trainer dan sambungkan ke listrik 220V.
e. Verify untuk mengecek error program kemudian Upload jika tidak ditemukan error.
f. Hidupkan modul Microcontroller Trainer dengan menekan rocker switch.
26
BAB VI
APLIKASI LED
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan:
1. Siswa mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Siswa mampu memahami pemrograman LED pada mikrokontroler.
B. Dasar Teori
LED adalah salah satu jenis dioda yang dapat menghasilkan cahaya. LED dapat menghasilkan
cahaya berbagai macam warna tergantung dari jenisnya. Warna yang umum dihasilkan adalah
merah, kuning, hijau, biru atau ungu, dan putih. Sama halnya dengan dioda LED mempunyai 2 kaki
yaitu kaki anoda yang dihubungkan dengan tegangan positif dan kaki katoda yang dihubungkan
dengan tegangan negatif. Untuk lebih mudah menghafalnya, maka sering gunakan KNAP (Katoda
Negatif Anoda Positif). Adapun kaki dan simbol LED dapat dilihat pada Gambar 6.1. Arus maksimum
yang dapat diterima oleh LED adalah sekitar 20 mA (miliampere).
27
D. Langkah Kerja
a. Tuliskan program berikut pada Arduino IDE:
const int buttonPin = 2; int ledPin = 13;
int inputPin = 2;
const int LEDPin = 13; int val = 0;
int buttonState = 0; void setup()
{
pinMode(ledPin, OUTPUT);
void setup() { pinMode(inputPin, INPUT);
}
pinMode(LEDPin,OUTPUT); void loop(){
pinMode(buttonPin = INPUT); val = digitalRead(inputPin);
if (val == HIGH) {
// put your setup code here, to run once: digitalWrite(ledPin, LOW);
} else {
}
digitalWrite(ledPin, HIGH);
}
}
void loop() {
buttonState = digitalRead(buttonPin);
if (buttonState == HIGH);
digitalWrite(LEDPin,HIGH);
else
{
digitlWrite(LEDPin,LOW);
}
}
// put your main code here, to run repeatedly:
}
b. Sambungkan pin pada modul Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel seperti pada
gambar berikut ini:
c. Hubungkan Laptop dan Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel USB to USB Type B.
d. Pasangkan kabel AC 220V pada Microcontroller Trainer dan sambungkan ke listrik 220V.
28
e. Verify untuk mengecek error program kemudian Upload jika tidak ditemukan error.
f. Hidupkan modul Microcontroller Trainer dengan menekan rocker switch.
g. Amati nyala LED ketika Push Button ditekan.
29
BAB VII
APLIKASI SENSOR TEMPERATUR LM35
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan ini diharapkan:
1. Siswa mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Siswa mampu memahami pemrograman sensor temperatur pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Sensor sering digunakan untuk pendeteksian pada saat melakukan pengukuran atau
pengendalian. Beberapa jenis sensor yang banyak digunakan dalam rangkaian elektronik antara lain
sensor temperatur LM35. Sensor temperatur LM35 adalah komponen elektronika yang memiliki fungsi
untuk mengubah besaran temperatur menjadi besaran listrik dalam bentuk tegangan.
Meskipun tegangan sensor ini dapat mencapai 30 volt akan tetapi yang diberikan pada sensor
adalah sebesar 5 volt, sehingga dapat digunakan dengan catu daya tunggal dengan ketentuan bahwa
LM35 hanya membutuhkan arus sebesar 60 µA hal ini berarti LM35 mempunyai kemampuan
menghasilkan panas (self-heating) dari sensor yang dapat menyebabkan kesalahan pembacaan yang
rendah yaitu kurang dari 0,5 ºC pada suhu 25 ºC .
IC LM35 sebagai sensor suhu yang teliti dan terkemas dalam bentuk Integrated Circuit (IC), di
mana output tegangan keluaran sangat linear berpadanan dengan perubahan suhu. Sensor ini berfungsi
sebagai pengubah dari besaran fisik suhu ke besaran tegangan yang memiliki koefisien sebesar 10 mV /°
C yang berarti bahwa kenaikan suhu 1° C maka akan terjadi kenaikan tegangan sebesar 10 mV.
IC LM35 ini tidak memerlukan pengkalibrasian atau penyetelan dari luar karena ketelitiannya sampai
lebih kurang seperempat derajat celcius pada temperatur ruang. Jangka sensor mulai dari – 55°C sampai
dengan 150°C, IC LM35 penggunaannya sangat mudah, difungsikan sebagai kontrol dari indikator
tampilan catu daya terbelah. IC LM35 dapat dialiri arus 60 m A dari supply sehingga panas yang
ditimbulkan sendiri sangat rendah kurang dari 0° C di dalam suhu ruangan.
30
LM35 merupakan temperatur paling banyak digunakan untuk praktek, karena selain harganya
cukup murah, linearitasnya juga lumayan bagus. LM35 tidak membutuhkan kalibrasi eksternal yang
menyediakan akurasi ± ¼°C pada temperatur ruangan dan ± ¾ °C pada kisaran -55 °C to +150 °C. LM35
dimaksudkan untuk beroperasi pada -55 °C hingga +150C, sedangkan LM35C pada -40 °C hingga +110 °
C, dan LM35D pada kisran 0-100°C. LM35D juga tersedia pada paket 8 kaki dan paket TO-220. Sensor
LM35 umunya akan naik sebesar 10mV setiap kenaikan 1°C (300mV pada 30 °C).
Sensor suhu LM35 berfungsi untuk mengubah besaran fisik yang berupa suhu menjadi besaran
elektrik tegangan. Sensor ini memiliki parameter bahwa setiap kenaikan 1°C tegangan keluarannya naik
sebesar 10mV dengan batas maksimal keluaran sensor adalah 1,5V pada suhu 150°C.
Pengukuran secara langsung saat suhu ruang, keluaran LM35 adalah 0,3V (300mV). Tegangan ini diolah
dengan menggunakan rangkaian pengkondisi sinyal agar sesuai dengan tahapan masukan ADC. LM35
memiliki kelebihan sebagai berikut:
1. Dikalibrasi langsung dalam celcius.
2. Memiliki faktor skala linear + 10.0 mV/°C.
3. Memiliki ketetapan 0,5°C pada suhu 25°C.
4. Jangkauan maksimal suhu antara -55°C sampai 150°C.
5. Cocok untuk aplikasi jarak jauh.
6. Harganya cukup murah.
7. Bekerja pada tegangan catu daya 4 sampai 30 Volt.
8. Memiliki arus drain kurang dari 60 uAmp.
9. Pemanasan sendiri yang lambat (low self-heating).
10. 0,08C̊ di udara diam.
11. Ketidaklinearanya hanya sekitar ±¼°C.
12. Memiliki impedansi keluaran yang kecil yaitu 0,1 watt untuk beban 1 mAmp.
Sensor suhu tipe LM35 merupakan IC sensor temperatur yang akurat yang tegangan keluarannya
linear dalam satuan celcius. Jadi LM35 memilik kelebihan dibandingkan sensor temperatur linear dalam
satuan kelvin, karena tidak memerlukan pembagian dengan konstanta tegangan yang besar dan
keluarannya untuk mendapatkan nilai dalam satuan celcius yang tepat. LM35 memiliki impedansi
keluaran yang rendah, keluaran yang linear, dan sifat ketepatan dalam pengujian membuat proses
interface untuk membaca atau mengontrol sirkuit lebih mudah. Pin V+ dari LM35 dihubungkan ke catu
daya, pin GND dihubungkan ke Ground dan pin Vout yang menghasilkan tegangan analog hasil
pengindera suhu dihubungkan ke vin (+) dan ADC 0840.
31
BAB VIII
APLIKASI SENSOR PHOTOELECTRIC
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan:
1. Siswa mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Siswa mampu memahami pemrograman Sensor Photoelectric pada mikrokontroler.
B. Dasar Teori
Sensor photoelectric merupakan suatu sensor yang digunakan untuk mendeteksi keberadaan
suatu obyek dengan menggunakan emitter (sumber cahaya) cahaya dan receiver cahaya. Penggunaan
sensor photoelectric sangat luas baik di dunia industri maupun kehidupan sehari-hari. Contoh paling
sederhana di sekitar kita yaitu penggunaan sensor photoelectric pada pintu toko untuk mendeteksi
pelanggan yang masuk. Berikut ini beberapa teknik photoelectric sensor untuk mendeteksi objek, yaitu:
1. Retroreflective
Teknik ini terdiri dari emitter dan receiver yang dipasang pada satu unit seperti Gambar 8.1.
Pada Gambar (A) terlihat cahaya infrared dari emitter dipancarkan ke reflektor dan dipantulkan
kembali ke receiver. Sebaliknya seperti yang terlihat pada Gambar (B), jika ada target yang
menghalangi maka output receiver akan berubah. Demikian sebaliknya, jika tidak ada yang
menghalangi maka output receiver akan kembali ke keadaan awal. Jarak maksimum pendeteksian
dengan teknik ini sekitar 10 m.
A B
Gambar 8.1 Retroreflective Photoelectric Sensor
2. Through-beam
Teknik ini di terdiri dari emitter dan receiver yang dipasang terpisah seperti Gambar 8.2.
Pada Gambar (A) terlihat emitter memacarkan infrared dan kemudian diterima oleh receiver di
seberangnya. Sebaliknya seperti yang terlihat pada Gambar (B), jika ada target yang melewati
tengah-tengah maka cahaya yang dipancarkan emitter ke receiver akan terhalang sehingga output
receiver akan berubah. Demikian sebaliknya, jika tidak ada yang menghalangi maka output
receiver akan kembali ke keadaan awal. Jarak maksimum pendeteksian dengan teknik ini sekitar
90 m.
A B
Gambar 8.2 Rethrough-beam photoelectric sensor
32
3. Diffuse
Teknik ini di terdiri dari emiter dan receiver yang dipasang pada satu unit seperti Gambar
8.3. Pada Gambar 8.3 terlihat cahaya infrared dari emiter dipancarkan secara langsung ke target
dan cahaya tersebut akan terpantul ke segala arah. Jika receiver menerima cahaya pantul yang
cukup maka output receiver akan berubah. Demikian sebaliknya, jika tidak ada cahaya yang
mengenai receiver maka output receiver akan kembali ke keadaan awal. Jarak efektif
pendeteksian dengan teknik ini sekitar 1 m .
D. Langkah Kerja
a. Tuliskan program berikut pada Arduino IDE:
int ledPin = 13; //LED anode connected to digital pin 13
int inputPin = 2; //infrared proximity switch connected to digital pin 2
int val = 0; //this variable will read the value from the sensor
void setup()
{
pinMode(ledPin, OUTPUT); //declare LED as output
pinMode(inputPin, INPUT); //declare infrared sensor as input
}
void loop(){
input sensor
12 v
Gambar 8.1. Wiring Percobaan Photoelectric Sensor
c. Hubungkan Laptop dan Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel USB to USB Type B.
d. Pasangkan kabel AC 220V pada Microcontroller Trainer dan sambungkan ke listrik 220V.
f. Verify untuk mengecek error program kemudian Upload jika tidak ditemukan error.
b. Hidupkan modul Microcontroller Trainer dengan menekan rocker switch.
c. Amati kondisi LED pada Microcontroller Trainer.
34
BAB IX
APLIKASI MOSFET DRIVER
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan siswa:
1. Mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Mampu memahami pemrograman mosfet driver pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Mosfet (Metal Oxide Semiconductor Field Effect Transistor) adalah sebuah perangkat
semikonduktor yang secara luas digunakan sebagai switch dan sebagai penguat sinyal pada perangkat
elektronik. Mosfet adalah inti dari sebuah IC (Integrated Circuit) yang didesain dan difabrikasi dengan
single chip karena ukurannya yang sangat kecil. Mosfet memiliki empat gerbang terminal antara lain
adalah Source (S), Gate (G), Drain (D) dan Body (B).
Mosfet bekerja secara elektonik memvariasikan sepanjang jalur pembawa muatan (elektron atau
hole). Muatan listrik masuk melalui saluran pada source dan keluar melalui Drain. Lebar saluran
dikendalikan oleh tegangan pada electrode yang disebut dengan Gate atau gerbang yang terletak
antara Source dan Drain ini terisolasi dari saluran didekat lapisan oksida logam yang sangat tipis.
Kapasitas MOS pada komponen ini adalah bagian utamanya. Mosfet memiliki dua mode, mode
pertama adalah depletion mode dan Enhancement Mode.
Depletion Mode:
Ketika tidak ada tegangan pada Gate maka kondisi channel berada pada kondisi maksimum.
Karena tegangan pada gerbang positif atau negatif konduksi pada channel menurun.
Cara Kerja Mosfet
Tujuan dari Mosfet adalah mengontrol tegangan dan arus melalui antara Source dan Drain.
Komponen ini hampir seluruhnya sebagai switch. Kerja mosfet bergantung pada kapasitas MOS.
Kapasitas MOS adalah bagian utama dari mosfet. Permukaan semikonduktor pada lapisan oksida di
bawah yang terletak di antara terminal sumber dan saluran pembuangan. Hal ini dapat dibalik dari
dengan menerapkan tegangan gerbang positif atau negatif masing-masing.
35
Gambar 9.2 Enhanced Mode N
N-Channel mosfet
Struktur N-Channel Mosfet atau disebut dengan NMOS terdiri dari subtract tipe P dengan daerah
Source dan Drain diberi Difusi N+. Di antara daerah Source dan Drain terdapat sebuah celah sempit dari
subtract P yang disebut dengan channel yang ditutupi oleh isolator yang terbuat dari SiO 2.
36
BAB X
APLIKASI PUSH BUTTON
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan siswa:
1. Mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Mampu memahami pemrograman push button pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Push button switch (sakelar tombol tekan) adalah perangkat/sakelar sederhana yang berfungsi
untuk menghubungkan atau memutuskan aliran arus listrik dengan sistem kerja tekan unlock. Sistem
kerja unlock di sini berarti sakelar akan bekerja sebagai device penghubung atau pemutus aliran arus
listrik saat tombol ditekan, dan saat tombol tidak ditekan, maka sakelar akan kembali pada kondisi
normal. Sebagai device penghubung atau pemutus, push button switch hanya memiliki 2 kondisi, yaitu
on dan off (1 dan 0). Istilah on dan off ini menjadi sangat penting karena semua perangkat listrik yang
memerlukan sumber energi listrik pasti membutuhkan kondisi on dan off.
Karena sistem kerjanya yang unlock dan langsung berhubungan dengan operator, push button
switch menjadi pilihan paling utama yang biasa digunakan untuk memulai dan mengakhiri kerja mesin
di industri. Secanggih apapun sebuah mesin bisa dipastikan sistem kerjanya tidak terlepas dari
keberadaan sebuah sakelar seperti push button switch atau perangkat lain yang sejenis yang bekerja
mengatur pengkondisian on dan off. Berdasarkan fungsi kerjanya yang menghubungkan dan
memutuskan, push button switch mempunyai 2 tipe kontak yaitu NC (Normally Close) dan NO
(Normally Open).
37
• NO (Normally Open), merupakan kontak terminal di mana kondisi normalnya terbuka (aliran arus
listrik tidak mengalir). Dan ketika tombol sakelar ditekan, kontak yang NO ini akan menjadi
menutup (Close) dan mengalirkan atau menghubungkan arus listrik. Kontak NO digunakan sebagai
penghubung atau menyalakan sistem sircuit (Push Button ON).
• NC (Normally Close), merupakan kontak terminal di mana kondisi normalnya tertutup (mengalirkan
arus litrik). Dan ketika tombol sakelar push button ditekan, kontak NC ini akan menjadi membuka
(Open), sehingga memutus aliran arus listrik. Kontak NC digunakan sebagai pemutus atau
mematikan sistem circuit (Push Button OF).
38
BAB XI
APLIKASI KEYPAD
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan siswa:
1. Mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Mampu memahami pemrograman keypad pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Keypad adalah sakelar-sakelar push button yang disusun secara matriks yang berfungsi untuk
menginput data seperti, input pintu otomatis, input absensi, input data logger dan sebagainya. Sakelar-
sakelar push button yang menyusun keypad yang digunakan umumnya mempunyai 3 kaki dan 2
kondisi, kondisi pertama yaitu pada saat sakelar tidak ditekan, maka antara kaki 1, 2, dan 3 tidak
terhubung. Sedangkan pada kondisi kedua adalah saat sakelar ditekan, maka kaki 1, 2, dan 3 akan
terhubung.
Keypad juga merupakan kumpulan tombol numerik atau alfanumerik dengan jumlah tombol yang
terbatas. Keypad numerik hanya berisi tombol karakter angka, dari 0 – 9, sedangkan keypad
alfanumerik sama dengan keypad numerik dengan ditambahkan karakter alphabet A – D. Kedua tipe
keypad ini dilengkapi dengan spesial karakter ‘*’ dan ‘#’. Dengan demikian, sebuah keypad numerik
akan berisi 12 karakter (12 tombol), sedangkan keypad alfanumerik terdiri dari 16 karakter (16 tombol).
Inilah yang membedakannya dengan keyboard, yakni sekumpulan tombol dengan karakter alfanumerik
(plus spesial karakter) yang lebih banyak variasinya sesuai dengan standar ASCII.
39
Berdasarkan gambar di atas istilah keypad 3×4 (3 kolom x 4 baris) untuk keypad numerik dan
keypad 4×4 (4 kolom x 4 baris) untuk keypad alfanumerik. Keypad numerik hanya akan membutuhkan
7 pin, sedangkan keypad alfanumerik akan membutuhkan 8 pin. Cukup menghemat pin I/O. Hal Ini akan
sangat membantu jika kita menggunakan tipe papan Arduino dengan jumlah pin I/O terbatas seperti
Arduino Uno, Nano, Pro Mini, dsb.
Rangkaian Keypad Matrik 4 x 4
Keypad 4x4 berfungsi untuk menentukan data teks yang akan dipilih oleh pengguna. Selanjutnya,
data masukan tersebut akan diolah oleh mikrokontroler. Tombol-tombol pada keypad dilapisi dengan
lempengan logam yang telah diberikan kode Braille sesuai nomor pada keypad 4x4 biasa. Sehingga
tombol-tombol pada keypad dapat dikenali oleh penyandang tunanetra. Rangkaian keypad ditunjukkan
pada Gambar 11.2.
Konstruksi matrik keypad 4×4 di atas cukup sederhana, yaitu terdiri dari 4 baris dan 4 kolom
dengan keypad berupa sakelar push button yang diletakkan di setiap persilangan kolom dan barisnya.
Rangkaian matrik keypad di atas terdiri dari 16 sakelar push buton dengan konfigurasi 4 baris dan 4
kolom. 8 line yang terdiri dari 4 baris dan 4 kolom tersebut dihubungkan dengan port mikrokontroler 8
bit. Sisi baris dari matrik keypad ditandai dengan nama Row1, Row2, Row3, dan Row4 kemudian sisi
kolom ditandai dengan nama Col1, Col2, Col3, dan Col4. Sisi input atau output dari matrik keypad 4×4
ini tidak mengikat, dapat dikonfigurasikan kolom sebagai input dan baris sebagai output atau
sebaliknya.
40
BAB XII
APLIKASI RELAY UNIT
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan siswa:
1. Mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Mampu memahami pemrograman relay pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Relay adalah sakelar yang dioperasikan secara elektrik. Relay dipakai ketika sinyal berdaya rendah
digunakan untuk mengontrol sebuah rangkaian (isolasi elektrik penuh terjadi antara rangkaian
pengontrol dan rangkaian yang dikontrol) atau ketika beberapa sirkuit harus dikontrol oleh satu sinyal.
Relay pada mulanya digunakan pada sirkuit telegram jarak jauh, mengulangi sinyal yang datang dari
suatu sirkuit dan mentransmisikan kembali sinyal tersebut ke sirkuit yang lain. Relay digunakan secara
luas dalam switching telepon dan juga pada komputer mula-mula untuk melakukan operasi logis.
Sebuah relay elektromagnetik sederhana terdiri dari kumparan kawat yang membungkus sebuah
inti besi, sebuah kuk besi untuk menahan alur flux magnetik, sebuah jangkar besi yang dapat bergerak
dan satu set atau lebih kontak. Jangkar tergantung pada kuk dan terhubung secara mekanik dengan
kontak yang bergerak. Jarak ditahan oleh pegas, sehingga ketika relay diputus ada celah udara dalam
rangkaian magnetik.
Ketika arus listrik dilewatkan melalui kumparan maka akan dihasilkan medan elektromagnetik
yang mengaktifkan jarak, dan akibat dari bergeraknya kontak yang bergerak membuat terjadinya
penyambungan atau pemutusan (bergantung pada konstruksi) dengan kontak yang diam. Ketika arus
ke koil diputuskan, jarak dikembalikan dengan paksa ke posisi awal, biasanya hal ini dilakukan oleh
pegas, tetapi gaya gravitasi juga sering digunakan, umumnya pada starter motor industri. Pada
umumnya relay diproduksi agar beroperasi dengan cepat. Pada aplikasi bertegangan rendah hal ini
bertujuan untuk mengurangi kebisingan sedangkan pada aplikasi bertegangan tinggi untuk mengurangi
terjadinya percikan api.
41
Fungsi Relay
1. Kontrol tegangan tinggi rangkaian dengan sinyal bertegangan rendah, seperti dalam beberapa
jenis modem atau audio amplifier.
2. Kontrol sebuah rangkaian arus tinggi dengan sinyal arus rendah, seperti pada selenoid starter pada
sebuah mobil.
3. Mendeteksi dan mengisolasi kesalahan pada jalur transmisi dan distribusi dengan membuka dan
menutup pemutus rangkaian (perlindungan relay).
4. Isolasi mengendalikan rangkaian dari sebuah rangkaian yang dikontrol ketika kedua rangkaian
berada pada potensi yang berbeda, misalnya ketika mengendalikan sebuah perangkat bertenaga
utama dari tegangan rendah switch. Yang akhir-akhir ini sering digunakan untuk mengontrol
pencahayaan kantor sebagai kawat tegangan rendah dapat dengan mudah diinstal dan dipartisi,
yang dapat dipindahkan sesuai kebutuhan.
5. Sebagai logika fungsi.
6. Awal komputasi, sebelum tabung vakum dan transistor, relay digunakan sebagai unsur-unsur logis
dalam dunia komputer digital.
7. Safety logika kritis. Karena relay jauh lebih tahan daripada semikonduktor radiasi nuklir, mereka
banyak menggunakan relay dalam keselamatan logika kritis, seperti panel kontrol penanganan
limbah radioaktif mesin.
8. Waktu tunda fungsi, relay dapat dimodifikasi untuk menunda pembukaan atau penutupan (sebuah
proses) menunda satu set kontak yang sangat singkat (sepersekian detik). Penundaan ini akan
menggunakan tembaga disk antara angker dan bergerak ke blade perakitan. Arus yang mengalir
dalam disk mempertahankan medan magnet untuk waktu yang sangat singkat.
42
BAB XIII
APLIKASI GERBANG LOGIKA
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan:
1. Siswa mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Siswa mampu memahami pemrograman gerbang logika pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
1. Pengertian Gerbang Logika
Gerbang logika atau gerbang logik adalah suatu entitas dalam elektronika dan matematika
yang mengubah satu atau beberapa masukan logik menjadi sebuah sinyal keluaran logik. Gerbang
logika terutama diimplementasikan secara elektronis menggunakan dioda atau transistor, akan
tetapi dapat pula dibangun menggunakan susunan komponen-komponen yang memanfaatkan sifat-
sifat elektromagnetik (relay). Logika merupakan dasar dari semua penalaran (reasoning). Untuk
menyatukan beberapa logika, kita membutuhkan operator logika dan untuk membuktikan
kebenaran dari logika, kita dapat menggunakan tabel kebenaran. Tabel kebenaran menampilkan
hubungan antara nilai kebenaran dari proposisi atomik. Dengan tabel kebenaran, suatu persamaan
logika ataupun proposisi bisa dicari nilai kebenarannya. Tabel kebenaran pasti mempunyai banyak
aplikasi yang dapat diterapkan karena mempunyai fungsi tersebut. Salah satu dari aplikasi tersebut
yaitu dengan menggunakan tabel kebenaran kita dapat mendesain suatu rangkaian logika. Dalam
makalah ini akan dijelaskan bagaimana peran dan kegunaan tabel kebenaran dalam proses
pendesainan suatu rangkaian logika.
Gerbang yang diterjemahkan dari istilah asing gate, adalah elemen dasar dari semua
rangkaian yang menggunakan sistem digital. Semua fungsi digital pada dasarnya tersusun atas
gabungan beberapa gerbang logika dasar yang disusun berdasarkan fungsi yang diinginkan. Gerbang
-gerbang dasar ini bekerja atas dasar logika tegangan yang digunakan dalam teknik digital. Logika
tegangan adalah asas dasar bagi gerbang-gerbang logika. Dalam Teknik digital apa yang dinamakan
logika tegangan adalah dua kondisi tegangan yang saling berlawanan. Kondisi tegangan “ada
tegangan” mempunyai istilah lain “berlogika satu” (1) atau “berlogika tinggi” (high), sedangkan
“tidak ada tegangan” memiliki istilah lain “berlogika nol” (0) atau “berlogika rendah” (low). Dalam
membuat rangkaian logika kita menggunakan gerbang-gerbang logika yang sesuai dengan yang
dibutuhkan. Rangkaian digital adalah sistem yang mempresentasikan sinyal sebagai nilai diskrit.
Dalam sebuah sirkuit digital, sinyal direpresentasikan dengan satu dari dua macam kondisi yaitu 1
(high, active, true) dan 0 (low, nonactive, false).
2. Jenis Gerbang Logika
a. Gerbang AND
Gerbang AND memerlukan 2 atau lebih masukan (input) untuk menghasilkan hanya 1
keluaran (output). Gerbang AND akan menghasilkan keluaran (Output) logika 1 jika semua
masukan (input) bernilai logika 1 dan akan menghasilkan keluaran (output) logika 0 jika salah satu
dari masukan (input) bernilai logika 0. Simbol yang menandakan operasi gerbang logika AND
adalah tanda titik (“.”) atau tidak memakai tanda sama sekali. Contohnya : Z= X.Y atau Z= XY.
43
Gambar 13.1 Simbol Gerbang AND Tabel Kebenaran
b. Gerbang OR
Gerbang OR memerlukan 2 atau lebih masukan (input) untuk menghasilkan hanya 1
keluaran (output). Gerbang OR akan menghasilkan keluaran (output) 1 jika salah satu dari
masukan (input) bernilai logika 1 dan jika ingin menghasilkan keluaran (output) logika 0, maka
semua masukan (input) harus bernilai logika 0. Simbol yang menandakan operasi logika OR
adalah tanda Plus (“+”). Contohnya: Z= X + Y .
c. Gerbang NOT
Gerbang NOT hanya memerlukan sebuah masukan (input) untuk menghasilkan hanya 1
keluaran (output). Gerbang NOT disebut juga dengan inverter (pembalik) karena menghasilkan
keluaran (output) yang berlawanan (kebalikan) dengan masukan atau inputnya. Berarti jika kita
ingin mendapatkan keluaran (output) dengan nilai logika 0 maka Input atau masukannya harus
bernilai logika 1. Gerbang NOT biasanya dilambangkan dengan simbol minus (“-“) di atas variabel
inputnya.
d. Gerbang NAND
Arti NAND adalah NOT AND atau bukan AND, gerbang NAND merupakan kombinasi dari
gerbang AND dan gerbang NOT yang menghasilkan kebalikan dari keluaran (output) gerbang
AND. Gerbang NAND akan menghasilkan keluaran logika 0 apabila semua masukan (input) pada
logika 1 dan jika terdapat sebuah input yang bernilai logika 0 maka akan menghasilkan keluaran
(output) logika 1.
44
Tabel Kebenaran
Gambar 13.4 Gerbang NAND
e. Gerbang NOR
Arti NOR adalah NOT OR atau bukan OR, gerbang NOR merupakan kombinasi dari gerbang
OR dan gerbang NOT yang menghasilkan kebalikan dari keluaran (output) gerbang OR. gerbang
NOR akan menghasilkan keluaran logika 0 jika salah satu dari masukan (input) bernilai logika 1 dan
jika ingin mendapatkan keluaran logika 1, maka semua masukan (input) harus bernilai logika 0.
45
BAB XIV
APLIKASI ADXL345 MODULE
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan siswa:
1. Mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Mampu memahami pemrograman ADXL345 Module pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Accelerometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur percepatan, mendeteksi dan
mengukur getaran (vibrasi), dan mengukur percepatan akibat gravitasi (inklinasi). Accelerometer dapat
digunakan untuk mengukur getaran pada mobil, mesin, bangunan, dan instalasi pengamanan.
Accelerometer juga dapat diaplikasikan pada pengukuran aktivitas gempa bumi dan peralatan-peralatan
elektronik, seperti permainan 3 dimensi, mouse komputer, dan telepon. Untuk aplikasi yang lebih lanjut,
sensor ini banyak digunakan untuk keperluan navigasi.
46
Modul ADXL345 dapat mendeteksi status aktivitas gerakan (active/inactive) dengan
membandingkan percepatan/akselerasi pada sumbu manapun dengan ambang batas sensitivitas yang
dapat diatur melalui kode program. Selain itu, modul ini menyediakan pendeteksi ketukan (tap sensing)
yang dapat mendeteksi ketukan tunggal maupun ganda pada berbagai arah. Modul ini juga dapat
mendeteksi gerak jatuh bebas (free-fall sensing). Fungsi-fungsi tersebut dapat dipetakan secara
terpisah pada dua pin keluaran yang terdapat dalam perangkat tersebut. Modul ini memiliki sistem
pengelola memori internal statis sepanjang 32 bit bertipe antrian FIFO yang dapat digunakan untuk
menyimpan variabel/data temporer hasil pengukuran sehingga mengurangi beban mikrokontroler dan
secara umum menurunkan konsumsi energi sistem. Modul ini memiliki sirkuit pengelolaan daya yang
canggih di mana modul ditempatkan pada mode konsumsi daya yang sangat kecil hingga terdeteksi
gerakan yang melewati ambang batas (treshold) tertentu yang mengaktifkan kembali mode normal.
Setelah proses pembacaan selesai secara otomatis modul dikembalikan ke mode siaga untuk
menghemat energi.
Dari diagram blok ADXL345 diketahui bahwa dalam accelerometer ADXL345 sudah terdapat ADC
dan digital filter sehingga ADXL345 merupakan sensor percepatan yang menggunakan antarmuka
digital yaitu dengan komunikasi I2C atau SPI. Dalam penelitian ini menggunakan antarmuka I2C sebagai
sarana komunikasinya. Berikut ini akan dijelaskan mengenai sistematika kerja ADXL345, termasuk di
antaranya orientasi terhadap sumbu kartesian, konfigurasi pin, serta karakteristik dan speksifikasi
ADXL345.
47
BAB XV
APLIKASI HALL MAGNETIC
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan:
1. Siswa mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Siswa mampu memahami pemrograman Hall Magnetic pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Sensor Hall Effect atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Hall Effect Sensor adalah komponen
jenis transduser yang dapat mengubah informasi magnetik menjadi sinyal listrik untuk pemrosesan
rangkaian elektronik selanjutnya. Sensor Efek Hall ini sering digunakan sebagai sensor untuk
mendeteksi kedekatan (proximity), mendeteksi posisi (positioning), mendeteksi kecepatan (speed),
mendeteksi pergerakan arah (directional) dan mendeteksi arus listrik (current sensing). Hall Effect
Sensor atau sensor medan magnet yang berfungsi untuk mendeteksi medan magnet. Hall Effect Sensor
memberikan output berupa tegangan yang proporsional dengan kekuatan medan magnet yang
diterima oleh sensor tersebut. Hall Effect Sensor ini dibangun dari sebuah lapisan silikon dan dua buah
elektroda pada masing-masing sisi silikon.
Pada dasarnya, sensor ini mendeteksi tarikan gaya magnet disekitar penampang sensor. Pada
saat perangkat didekatkan dengan medan magnet, maka garis fluks magnet mengakibatkan penyebaran
muatan beban serta muatan elektron, sehingga terjadi perubahan tegangan keluaran dari sensor
magnet.
Karena Elektron dan Holes bergerak masing-masing ke kedua sisi semikonduktor, maka akan
timbul perbedaan potensial di antara kedua sisi tersebut. Pergerakan elektron yang melalui bahan
48
semikonduktor ini dipengaruhi oleh adanya medan magnet eksternal pada sudut atau posisi yang
benar. Bentuk yang terbaik agar mendapatkan sudut atau posisi yang tepat adalah menggunakan
bentuk persegi panjang yang pipih (Flat Rectangular) pada komponen Sensor Hall Effect ini. Peristiwa
berbelok atau beralihnya aliran listrik (elektron) dalam pelat konduktor karena pengaruh medan
magnet ini disebut dengan Efek Hall (Hall Effect). Efek Hall ini ditemukan oleh Dr. Edwin Hall pada tahun
1879. Untuk dapat menghasilkan perbedaan potensial diseluruh perangkat, garis fluks magnetik harus
tegak lurus (90 derajat) terhadap aliran listrik dengan kutub yang benar. Nama “Hall” ini diambil dari
nama penemu efek ini yaitu Dr. Edwin Hall. Dasar dari prinsip kerja Efek Hall ini adalah gaya Lorentz
yaitu gaya yang ditimbulkan oleh muatan listrik yang bergerak dalam suatu medan magnet.
49
BAB XIV
APLIKASI SENSOR SUARA
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan:
1. Siswa mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Siswa mampu memahami pemrograman sensor suara pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Sensor suara adalah sebuah alat yang mampu mengubah gelombang sinusoidal suara menjadi
gelombang sinus energi listrik (Alternating Sinusioda Electric Current). Sensor suara berkerja berdasar-
kan besar/kecilnya kekuatan gelombang suara yang mengenai membran sensor yang menyebabkan
bergeraknya membran sensor yang juga terdapat sebuah kumparan kecil dibalik membran. Kecepatan
gerak kumparan menentukan kuat-lemahnya gelombang listrik yang dihasilkannya. Komponen yang
termasuk dalam sensor suara yaitu electric condenser microphone atau mic kondenser.
50
BAB XVII
APLIKASI SENSOR DHT 11
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan:
1. Siswa mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Siswa mampu memahami pemrograman sensor DHT 11 pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai
kelembaban mutlak, kelembaban defisit tekanan uap air. Kelembaban nisbi kandungan/tekanan uap air
aktual dengan keadaan jenuhnya atau pada kapasitas udara untuk menampung uap air. Peralatan
elektronik juga menjadi mudah berkarat jika memiliki kelembaban yang cukup tinggi. Oleh karena itu,
informasi mengenai kelembaban udara pada suatu area tertentu menjadi sesuatu hal yang penting
untuk diketahui karena menyangkut efek-efek yang ditimbulkannya.
Informasi mengenai nilai kelembaban udara diperoleh dari proses pengukuran. Alat yang
biasanya digunakan untuk mengukur kelembaban udara adalah higrometer. DHT11 adalah sensor
digital yang dapat mengukur suhu dan kelembaban udara di sekitarnya. Sensor ini sangat baik serta
fitur kalibrasi yang sangat akurat. Koefisien kalibrasi disimpan dalam OTP program memory, sehingga
ketika internal sensor mendeteksi sesuatu, maka modul ini menyertakan koefisien tersebut dalam
kalkulasinya. DHT11 ini termasuk sensor yang memiliki kualitas terbaik, dinilai dari respon, pembacaan
data yang cepat, dan kemampuan anti-interference. Ukurannya yang kecil, dan dengan transmisi sinyal
hingga 20 meter, dengan spesifikasi: Supply Voltage: +5 V, Temperature range: 0-50 °C error of ± 2 °C,
Humidity : 20-90% RH ± 5% RH error, dengan spesifikasi digital interfacing system.
51
dalamnya terdapat sebuah sensor kelembapan dengan karakteristik resistif terhadap perubahan
kadar air di udara. Data dari kedua sensor ini diolah di dalam IC kontroler. IC kontroler ini akan
mengeluarkan output data dalam bentuk single wire bi-directional.
2. Susunan PIN
Sensor DHT11 memiliki 2 versi, yatu versi 4 pin dan versi 3 pin. Tidak ada perbedaan
karakteristik dari 2 versi ini. Pada versi 4 pin, Pin 1 adalah tegangan sumber, berkisar antara
3V sampai 5V. Pin 2 adalalah data keluaran. Pin ke 3 adalah pin NC (normally close) atau tidak
digunakan dan pin ke 4 adalah Ground. Sedangkan pada versi 3 kaki, pin 1 adalah VCC antara
3V sampai 5V, pin 2 adalah data keluaran dan pin 3 adalah Ground. Adapun versi terbaru dari
sensor DHT11 adalah sensor DHT22. Tidak ada perbedaan pada susunan pin, hanya saja
akurasi dari DHT22 lebih tinggi dari DHT11, yakni sebesar 0.5 °C untuk temperatur dann 2.5%
untuk kelembaban.
52
BAB XVIII
APLIKASI PHOTORESISTOR SENSOR
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan:
1. Siswa mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Siswa mampu memahami pemrograman sensor photoresistor sensor pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Light Dependent Resistor (LDR) ialah jenis resistor yang berubah hambatannya karena pengaruh
cahaya. Besarnya nilai hambatan pada sensor cahaya LDR tergantung pada besar kecilnya cahaya yang
diterima oleh LDR itu sendiri. Bila cahaya gelap nilai tahanannya semakin besar, sedangkan cahayanya
terang nilainya menjadi semakin kecil. LDR adalah jenis resistor yang biasa digunakan sebagai detektor
cahaya atau pengukur besaran konversi cahaya. LDR terdiri dari sebuah cakram semikonduktor yang
mempunyai dua buah elekrtroda pada permukaannya.
Resistansi LDR berubah seiring dengan perubahan intensitas cahaya yang mengenainya. Dalam
keadaan gelap resistansi LDR sekitar 10 MΩ dan dalam keadaan terang sebesar 1KΩ atau kurang. LDR
terbuat dari bahan semikonduktor seperti senyawa kimia kadmium sulfida. Dengan bahan ini energi
dari cahaya yang jatuh menyebabkan lebih banyak muatan yang dilepas atau arus listrik meningkat,
artinya resistansi bahan telah mengalami penurunan. Seperti halnya resistor konvensional,
pemasangan LDR dalam suatu rangkaian sama persis seperti pemasangan resistor biasa. Simbol LDR
dapat dilihat seperti gambar berikut:
LDR digunakan untuk mengubah energi cahaya menjadi energi listrik. Sakelar cahaya otomatis
dan alarm pencuri adalah beberapa contoh alat yang menggunakan LDR. Akan tetapi karena responnya
terhadap cahaya cukup lambat, LDR tidak digunakan pada situasi di mana intensitas cahaya berubah
secara drastis. Sensor ini akan berubah nilai hambatannya apabila ada perubahan tingkat kecerahan
cahaya.
53
1. Laju Recovery Sensor Cahaya LDR
Bila sebuah Sensor Cahaya Light Dependent Resistor (LDR) dibawa dari suatu ruangan
dengan level kekuatan cahaya tertentu ke dalam suatu ruangan yang gelap, maka bisa kita amati
bahwa nilai resistansi dari LDR tidak akan segera berubah resistansinya pada keadaan ruangan
gelap tersebut. Namun LDR tersebut hanya akan bisa mencapai harga di kegelapan setelah
mengalami selang waktu tertentu. Laju recovery merupakan suatu ukuran praktis dan suatu
kenaikan nilai resistansi dalam waktu tertentu. Harga ini ditulis dalam K/detik. Untuk LDR tipe
arus harganya lebih besar dari 200K/detik (selama 20 menit pertama mulai dari level cahaya 100
lux), kecepatan tersebut akan lebih tinggi pada arah sebaliknya, yaitu pindah dari tempat gelap
ke tempat terang yang memerlukan waktu kurang dari 10 ms untuk mencapai resistansi yang
sesuai dengan level cahaya 400 lux.
54
BAB XIX
APLIKASI PHOTODIODA SENSOR
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan siswa:
1. Mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Mampu memahami pemrograman sensor photodioda sensor pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Pengertian Photodioda Sensor
Photodioda adalah suatu jenis dioda yang resistansinya akan berubah-ubah apabila terkena sinar
cahaya yang dikirim oleh transmitter “LED”. Resistansi dari photodioda dipengaruhi oleh intensitas
cahaya yang diterimanya, semakin banyak cahaya yang diterima maka semakin kecil resistansi dari
photodioda dan begitu pula sebaliknya jika semakin sedikit intensitas cahaya yang diterima oleh sensor
photodioda maka semakin besar nilai. Sensor photodioda sama seperti sensor LDR, mengubah besaran
cahaya yang diterima sensor menjadi perubahan konduktansi (kemampuan suatu benda
menghantarkan arus listrik dari suatu bahan).
Photodioda terbuat dari bahan semikonduktor. Photodioda yang sering digunakan pada
rangkaian-rangkaian elektronika adalah photodioda dengan bahan silikon (Si) atau Gallium arsenida
(GaAs), dan lain-lain termasuk Indium Antimonida (InSb), Indium arsenida (InAs), Lead Selenida (PbSe),
dan Timah Sulfida (PBS). Bahan-bahan ini menyerap cahaya melalui karakteristik jangkauan panjang
gelombang, misalnya: 250 nm-1100 nm untuk photodioda dengan bahan silicon, dan 800 nm ke 2,0
μm untuk photodioda dengan bahan gas.
Prinsip Kerja Sensor Photodioda
55
Rangkaian prinsip kerja sensor photodioda merupakan rangkaian dasar dari sensor photodioda, pada
kondisi awal LED sebagai transmitter cahaya akan menyinari photodioda sebagai receiver sehingga nilai
resistansi pada sensor photodioda akan minimum dengan kata lain nilai Vout akan mendekati logika 0
(low). Sedangkan pada kondisi kedua cahaya pada led terhalang oleh permukaan hitam sehingga
photodioda tidak dapat menerima cahaya dari led maka nilai resistansi R1 maksimum, sehingga nilai
Vout akan mendekati Vcc yang berlogika 1 (high). Adapun rumus perhitungan untuk menghitung nilai
dari Vout photodioda ataupun untuk menghitung nilai resistansi dari photodioda tersebut yaitu:
Keterangan:
Vin : Tegangan masukan pada rangkaian sensor photodioda
Vout : Tegangan keluaran pada rangkaian sensor photodioda
R photodioda : Resistansi dari photodioda
R2 : Resistansi resistor pada rangkaian sensor photodiode
Gambar di atas merupakan desain photodioda untuk memberikan output pada photodioda agar
berlogika low atau berlogika high yang disebabkan oleh warna permukaan yang fungsinya sebagai
pemantul cahaya dari LED sebagai transmitter. Pada Gambar 19.2A photodioda dipasang secara
berdampingan antara photodioda (receiver) dan LED (transmitter). Di depan photodioda dan led
diletakkan kertas putih sehingga cahaya yang dipancarkan dari led akan dipantulkan oleh kertas dan
cahaya akan diterima oleh photodioda sehingga output dari photodioda berlogika 0 (low). Pada gambar
B, photodioda dan LED diletakkan secara berdampingan dan didepannya diletakkan kertas berwarna
hitam sehingga cahaya yang dipancarkan oleh led akan diserap oleh kertas berwarna hitam sehingga
photodioda tidak dapat menerima cahaya. Dan itu menyebabkan output dari photodioda berlogika 1
(high).
56
BAB XX
APLIKASI MODUL TRANSISTOR
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan:
1. Siswa mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Siswa mampu memahami pemrograman sensor transistor pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Transistor adalah komponen semikonduktor yang memiliki berbagai macam fungsi seperti
sebagai penguat, pengendali, penyearah, osilator, modulator, dan lain sebagainya. Transistor
merupakan salah satu komponen semikonduktor yang paling banyak ditemukan dalam rangkaian-
rangkaian elektronika. Boleh dikatakan bahwa hampir semua perangkat elektronik menggunakan
transistor untuk berbagai kebutuhan dalam rangkaiannya. Perangkat-perangkat elektronik yang
dimaksud tersebut seperti Televisi, Komputer, Ponsel, Audio Amplifier, Audio Player, Video Player,
Konsol Game, Power Supply dan lain-lainnya. Transistor memiliki tiga titik penyambungan, yaitu Basis
Emitor dan Kolektor. Pada prinsipnya transistor terdiri dari dua buah dioda yang saling dipertemukan,
yaitu dioda basisemitor dan dioda basis - kolektor. Transistor semacam ini disebut transistor
pertemuan karena dua dioda yang saling dipertemukan.
Jenis-Jenis Transistor
Secara umum, Transistor dapat digolongkan menjadi dua yaitu Transistor Bipolar dan Transistor
Efek Medan (Field Effect Transistor). Perbedaan yang paling utama diantara dua pengelompokkan
tersebut adalah terletak pada bisa Input (atau Output) yang digunakannya. Transistor Bipolar
memerlukan arus (current) untuk mengendalikan terminal lainnya sedangkan Field Effect Transistor
(FET) hanya menggunakan tegangan saja (tidak memerlukan arus). Pada pengoperasiannya, Transistor
Bipolar memerlukan muatan pembawa (carrier) hole dan electron sedangkan FET hanya memerlukan
salah satunya.
Terdapat dua buah type FET, yaitu FET pertemuan (JFET) dan FET metal oksida semikonduktor
(mosfet). Selanjutnya mosfet dibagi menjadi dua kelas lagi, yaitu tipe hampa (depletion type) dan tipe
berisi (enhancement type). Mosfet ini juga ada yang memiliki gerbang ganda, yaitu Dual Gate Metal
Oxide Semiconductor field effect, Transistor Mosfet. Akan tetapi ada juga jenis transistor sambungan
tunggal atau yang disebut UJT (Unijunction Transistor).
57
Karena ada dua kemungkinan untuk mempertemukan dua dioda, maka terdapat dua jenis
transistor, yaitu transistor NPN (bila yang dipertemukan anodanya) dan transistor PNP (bila yang
dipertemukan katodanya). Transistor merupakan jenis komponen semikonduktor yang banyak
digunakan pada berbagai rangkaian elektronika, terutama untuk rangkaian penguat (amplifier) atau
sakelar (switching).
D. Langkah Kerja
a. Tuliskan program berikut pada Arduino IDE:
int fan = 3;
void setup() {
pinMode(fan,OUTPUT);
// put your setup code here, to run once:
void loop() {
digitalWrite(fan,HIGH);
delay(5000);
digitalWrite(fan,LOW);
delay(8000);
// put your main code here, to run repeatedly:
}
b. Sambungkan pin pada modul Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel seperti pada
gambar berikut ini:
58
beda
modulnya
c. Hubungkan Laptop dan Microcontroller Trainer dengan menggunakan kabel USB to USB Type B.
d. Pasangkan kabel AC 220V pada Microcontroller Trainer dan sambungkan ke listrik 220V.
e. Verify untuk mengecek error program kemudian Upload jika tidak ditemukan error.
f. Hidupkan modul Microcontroller Trainer dengan menekan rocker switch.
g. Amati putaran Fan ketika modul Microcontroller Trainer dihidupkan.
59
BAB XXI
APLIKASI CAPASITIVE SENSOR
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan:
1. Siswa mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Siswa mampu memahami pemrograman capacitive sensor pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Sensor proximity adalah sensor yang dapat mendeteksi objek ketika objek mendekati dalam
batas deteksi sensor. Sensor jarak digunakan dalam berbagai aspek pembuatan untuk mendeteksi
pendekatan benda logam. Berbagai jenis sensor proximity digunakan untuk mendeteksi ada atau
tidaknya suatu objek. Desain sensor proximity dapat didasarkan pada sejumlah prinsip operasi,
beberapa contoh termasuk: variable reluctance, eddy current loss, saturated core, dan Hall Effect.
Bergantung pada prinsip operasi, setiap jenis sensor akan memiliki tingkat kinerja yang berbeda untuk
merasakan berbagai jenis objek.
Jenis umum dari sensor proximity non-kontak termasuk Inductive Proximity Sensor (Sensor Jarak
Induktif), Capacitive Proximity Sensor (Sensor Jarak Kapasitif), Ultrasonic Proximity Sensor (Sensor Jarak
Ultrasonik), dan Photoelectric Proximity Sensor (Sensor Jarak Fotolistrik). Sensor Hall-Effect mendeteksi
perubahan polaritas medan magnet. Sensor proximity sering digunakan dalam industri manufaktur di
mana sensor kuat dikondisi lingkungan yang keras. Sensor proximity induktif digunakan dalam teknik
otomasi untuk menentukan status operasi dalam otomatisasi pabrik, sistem produksi, dan pabrik
rekayasa proses
60
Gambar 21.2 Capacitive Sensor
Prinsip Kerja Sensor Proximity Kapasitif
Sensor proximity kapasitif bekerja berdasarkan prinsip kapasitor. Sensor proximity kapasitif
mendeteksi perubahan kapasitansi antara objek penginderaan dan sensor. Jumlah kapasitansi
bervariasi tergantung pada ukuran dan jarak objek penginderaan.
61
BAB XXII
APLIKASI INDUCTIVE SENSOR
A. Tujuan
Setelah menyelesaikan BAB ini diharapkan siswa :
1. Siswa mampu menjalankan program Arduino IDE.
2. Siswa mampu memahami pemrograman inductive sensor pada mikrokontroler.
B. Teori Dasar
Sensor induktif adalah sensor jarak elektronik yang mendeteksi benda logam tanpa
menyentuhnya. Ketika jarak pendeteksian adalah 5mm atau kurang dari 1 inci dan aplikasi
membutuhkan penginderaan logam, inductive proximity (IP) memberikan solusi yang dibutuhkan.
62
sebuah target logam mengenai bidang/field, pusaran arus bersirkulasi. Ini menyebabkan beban
pada sensor, mengurangi amplitudo medan elektromagnetik. Ketika target mendekati sensor,
pusaran arus meningkat, meningkatkan beban pada oscillator dan semakin mengurangi medan
amplitudo. Sirkuit pemicu memonitor amplitude oscillator dan pada tingkat yang telah ditentukan
mengubah status output sensor dari kondisi normal (On atau Off). Ketika target bergerak menjauh
dari sensor, amplitudo osilator meningkat. Pada tingkat yang telah ditentukan, pemicu mengubah
status output sensor kembali ke kondisi normal (On atau Off).
63
DAFTAR PUSTAKA
64