LAPORAN PENDAHULUAN
HARGA DIRI RENDAH
Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Keperawatan
Kesehatan Jiwa dan Psikososial
Dosen Pengampu :
Disusun Oleh :
Rexza D Anggara
C2314201031
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TASIKMALAYA
2025
Kasus
Harga Dirih Rendah
Proses Terjadinya Masalah
1. Definisi
Harga diri rendah adalah semua pemikiran, kepercayaan dan keyakinan yang
merupakan pengetahuan individu tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya
dengan orang lain. Harga diri terbentuk waktu lahir tetapi dipelajari sebagai hasil
pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan dengan
realitas dunia (Stuart,2006).
Gangguan harga diri rendah adalah evaluasi diri dan perasaan tentang diri atau
kemampuan diri yang negatif yang dapat secara langsung atau tidak langsung
diekspresikan ( Townsend, 2001 ).Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak
berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri
sendiri dan kemampuan diri. Adanya perasaan hilang percaya diri, merasa gagal karena
karena tidak mampu mencapai keinginansesuai ideal diri (Keliat, 2001).
Harga diri rendah adalah suatu kondisi dimana individu menilai dirinya atau
kemampuan dirinya negatif atau suatu perasaan menganggap dirinya sebagai seseorang
yang tidak berharga dan tidak dapat bertangung jawab atas kehidupanya sendiri. CMHN
(2006), mendefinisikan harga diri rendah sebagai suatu perasaan tidak berharga, tidak
berarti dan rendah diri yang berkepanjagan akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri
dan kemampun diri. Herdman (2012), Megatakan, harga diri rendah kronik merupakan
evaluasi diri negatif yang berkepanjagan/perasaan tentang diri atau kemampuan diri.
Harga diri rendah yang berkepanjagan termaksuk kondisi tidak sehat mental karena dapat
menyebabkan berbagai masalah kesehatan lain, terutama kesehatan jiwa.
Menurut Schult & videbeck (1998) gangguan harga diri rendah adalah penilaian
negatif seseorang terhadap diri dan kemampuan, yang diekspresikan secara langsung
maupun tidak langsung. Dapat disimpulkan harga diri rendah adalah kurangnya rasa
percaya diri sendiri yang dapat mengakibatkan pada perasaan negatif pada diri sendiri,
kemampuan diri dan orang lain. Yang mengakibatkan kurangnya komunikasi pada orang
lain.
2. Faktor Presdiposisi
a. Biologis
Faktor heriditer (keturunan) adanya riwayat anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa ,riwayat penyakit kronis atau tarauma kepala srta pengugunaan tapza.
b. Psikologis
Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan seperti adanya riwayat pengasingan
dari lingkungan,penolakan dari lingkungan dan orang terdekat serta harapan yang
tidak realistis. Kegagalan berulang , kurang mempunyai tangung jawab personal dan
memiliki ketergantungan yang tinggi pada orang lain merupakan faktor lain yang
menyebabkan gangguan jiwa. Sealain itu pasien dengan harga diri rendah memiliki
penilaian yang negatif terhadap gambaran dirinya, mengalami krisis identitas, peran
yang tergangguh dan ideal diri yang tidak ralistis. Adanya penilaian yang negatif
atau lebeling dari orang-orang yang berarti, sangat berpengaruh terhadap penilain
terhadap individu tentang dirinya.
c. Faktor sosial budaya
Penilain negatif dari lingkungan terhadap pasien, sosial ekonomi rendah, pendidikan
yang rendah serta adanya riwayat penolakan lngkungan pada tahap tumbuh kembang
anak , merupakan pengaruh sosial budaya yang dapat menimbulkan harga diri rendah
adalah adanya
3. Faktor Presifitasi
Faktor presipitasi yang menimbulkan harga diri rendah antara lain:
a. Riwayat trauma seperti adanya penganiayaan seksual dan pengalaman pisikologis
yang tidak mnyenangkan, menyaksikan peristiwa yang mengencam
kehidupan,menjadi pelaku, korban maupun saksi dari perilaku kekerasan.
b. Ketegangan peran : Ketegangan peran dapat disebabkan karena
1) Transisi peran perkembangan: perubahan normatif yang berkaitan dengan
pertumbuhan seperti transisi dari masa kanak-kanak ke remaja. Mengapa masa
ini sangat penting kareana pada usian remaja merupakan usia dimana individu
mulai membentuk konsep diri.
2) Transisi peran situasi : terjadi tau bertambah atau berkurangnya anggota keluarga
melalui kelahiran atau kematian.
3) Transisi peran sehat-sakit : merupakan pergeseran dari kondisi sehat ke sakit.
Transisi ini dapat disebabkan karena hilangnya sebagian anggota tubuh kembang
normal, prosedur medis dan keperawatan.
4. Penilaian Stresor
Menurut CMHN (2006), tanda dan gejala harga diri rendah adalah :
a. Mengkritik diri sendiri
b. Perasaan tidak mampu
c. Pandangan hidup yang pesimis
d. Penurunan produktivitas
e. Penolakan terhadap kemampuan diri
f. Kurang memperhatikan perawatan diri, berpakaian tidak rapi, selerah makan
kurang, tidak berani menatap lawan bicara, lebih banyak menunduk, bicara lambat
dengan nada suara lemah.
5. Sumber koping
Menurut Stuart (2006) semua orang tanpa memperhatikan gangguan perilakunya,
mempunyai beberapa bidang kelebihan personal meliputi :
a. Hobi dan kerajinan tangan
b. Pendidikan atau pelatihan
c. Pekerjaan, vokasi atau posisi
d. Aktivitas olah raga dan aktivitas diluar rumah
e. Seni yang ekspresif
f. Kesehatan dan perawatan diri
6. Mekanisme Koping
a. Jangka pendek :
1) Kegiatan yang dilakukan untuk lari sementara dari krisis : pemakaian obat-obatan,
kerja keras, nonoton tv terus menerus.
2) Kegiatan mengganti identitas sementara : (ikut kelompok sosial, keagamaan,
politik).
3) Kegiatan yang memberi dukungan sementara : (kompetisi olah raga kontes
popularitas).
4) Kegiatan mencoba menghilangkan anti identitas sementara : (penyalahgunaan
obat-obatan).
b. Jangka Panjang :
1) Menutup identitas : terlalu cepat mengadopsi identitas yang disenangi dari orang-
orang yang berarti, tanpa mengindahkan hasrat, aspirasi atau potensi diri sendiri.
2) Identitas negatif : asumsi yang pertentangan dengan nilai dan harapan masyarakat.
Mekanisme pertahanan ego yang sering digunakan adalah : fantasi, disasosiasi,
isolasi, proyeksi, mengalihkan marah berbalik pada diri sendiri dan orang lain.
7. Rentang Respon
Menurut Stuart dan Sundeen (1998) respon individu terhadap konsep dirinya sepanjang
rentang respon konsep diri yaitu adaptif dan maladaptif (Fajariyah, 2012).
a. Akualisasi diri adalah pernyataan diri positif tentang latar belakang pengalaman
nyata yang sukses diterima.
b. Konsep diri positif adalah mempunyai pengalaman yang positif dalam
beraktualisasi diri.
c. Harga diri rendah adalah transisi antara respon diri adaptif dengan konsep diri
maladaptif.
d. Keracunan identitas adalah kegagalan individu dalam kemalangan aspek
psikososial dan kepribadian dewasa yang harmonis.
e. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realitis terhadap diri sendiri yang
berhubungan dengan kecemasan, kepanikan serta tidak dapat membedakan dirinya
dengan orang lain.
Pengkajian Keperawatan
1. Pengkajian Keperawatan
Pengakajian merupakan pedoman utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian meliputi
pengumpulan data dan penafsiran kebutuhan atau masalah pasien.
Menurut Azizah et al., 2016 isi dari data pengkajian meliputi :
a. Identitas Pasien
Nama , nama panggilan, usia, No MR, jenis kelamin, alamat lengkap, tanggal masuk dan
keluarga yang bisa dihubungi.
b. Alasan masuk
Menanyakan apa yang menyebabkan pasien atau keluarga datang atau dirawat dirumah sakit,
apakah sudah mengetahui penyakit sebelumnya, apakah keluarga sudah melakukan pengobatan
untuk mengatasi masalah.
c. Faktor predisposisi
Faktor predisposisi pada pasien dengan harga diri rendah meliputi penolakan orang tua yang
tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang mempunyai tanggung jawab personal,
ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang tidak realistis.
d. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan TTV, tinggi badan, berat badan dan tanyakan apakah ada keluhan fisik yang
dirasakan. Pasien dengan harga diri rendah biasanya terjadi peningkatan tekanan darah dan
peningkatan frekuensi nadi.
e. Psikososial
1) Genogram
Menggambarkan pasien dengan keluarga, dilihat dari pola komunikasi, pengambilan keputusan,
dan pola asuh.
2) Konsep diri
a) Gambaran diri
Tanyakan penilaian klien terhadap tubuhnya, bagian tubuh yang disukai, reaksi klien terhadap
bagian tubuh yang tidak disukai dan bagian yang disukai. Pasien dengan harga diri rendah
cenderung merendahkan dirinya sendiri, merasa tidak mampu dan merasa bersalah terhadap diri
sendiri.
b) Identitas diri
Tanyakan status dan posisi pasien sebelum dirawat, bagaimana kepuasan pasien terhadap status
dan posisi, kepuasan pasien sebagai laki-laki atau perempuan, keunikan yang dimiliki sesuai
jenis kelamin dan posisinya. Pasien dengan harga diri rendah biasanya lebih banyak menunduk,
kurang percaya diri, dan tidak berani menatap lawan bicaranya.
c) Fungsi peran
Tanyakan peran pasien dalam keluarga/pekerjaan/kelompok masyarakat, bagaimana kemampuan
pasien dalam melaksankan perannya, perubahan yang dirasakan saat pasien sakit atau dirawat,
bagaimana perasaan pasien terhadap perubahan tersebut. Pasien dengan harga diri rendah
biasanya tidak mampu melakukan perannya secara maksimal dikarenakan kurang percaya diri
dan motivasi yang kurang dari pasien tersebut.
d) Ideal diri
Tanyakan harapan klien terhadap keadaan tubuh yang ideal, posisi, tugas, peran dalam keluarga,
pekerjaan atau sekolah, harapan pasien terhadap lingkungan, harapan pasien terhadap
penyakitnya, bagaimana kalau kenyataan tidak sesuai harapannya. Pasien dengan harga diri
rendah biasanya kurang percaya diri, merendahkan martabat, dan melakukan penolakan terhadap
kemampuan diri.
e) Harga diri
Tanyakan penilaian pasien terhadap dirinya. Pasien dengan harga diri rendah biasanya merasa
malu terhadap diri sendiri, merasa bersalah terhadap diri sendiri, merendahkan martabat,
memiliki pandangan hidup yang tidak optimis, melakukan peno lakan terhadap kemampuan diri
dan kurang percaya diri.
3) Hubungan sosial
Tanyakan orang yang paling berarti dalam hidup pasien, bagaimana upaya yang biasa dilakukan
ketika ada masalah, kelompok apa saj yang diikuti dalam masyarakat, peran serta dalam
masyarakat, hambatan dalam berinteraksi dengan orang lain, minat berhubungan dengan orang
lain. Pasien dengan harga diri rendah biasanya menarik diri dari lingkungan sekitar dan merasa
malu.
4) Spiritual
Tanyakan tentaang nilai atau keyakinan, menjalankan ibadah, kepuasan dalam menjalankan
ibadah. Pasien dengan harga diri rendah biasanya berdiam diri dan tidak melaksanakan fungsi
spiritualnya.
f. Status mental
1) Penampilan
Observasi penampilan pasien dari ujung rambut sampai ujung kaki, apakah ada yang tidak rapi,
penggunaan pakaian yang tidak sesuai, cara berpakaian tidak seperti biasanya, kemampuan
pasien dalam berpakaian, dampak ketidakmampuan berpenampilan baik terhadap status
psikologi pasien. Pasien dengan harga diri rendah biasanya kurang memperhatikan kebersihan
diri, rambut tampak kotor dan lusuh, kuku panjang dan hitam, kulit kotor dan gigi kuning.
2) Pembicaraan
Pasien dengan harga diri rendah biasanya berbicara gagap, sering terhenti, lambat, membisu, dan
tidak mampu memulai pembicaran.
3) Aktivitas motorik
Pasien dengan harga diri rendah biasanya lebih sering menunduk, tidak berani menatap lawan
bicara dan merasa malu.
4) Afek dan Emosi
Pasien dengan harga diri rendah cenderung tidak ada perubahan ekspresi wajah saat ada stimulus
senang atau sedih (ekspresi datar).
5) Interaksi selama wawancara
Pasien dengan harga diri rendah biasanya selama wawancara kontak kurang atau tidak mampu
menatap lawan bicara.
6) Proses Pikir
a) Arus Pikir
Pasien dengan harga diri rendah cenderung bloking atau pembicaraan terhenti tiba-tiba tanpa
adanya gangguan dari luar kemudian dilanjutkan kembali.
b) Bentuk Pikir
Pasien dengan harga diri rendah biasanya memiliki bentuk pemikiran berupa fantasia atau
lamunan untuk memuaskan keinginan yang tidak dapat dicapainya.
c) Isi Pikir
(1) Pikiran rendah diri seperti selalu merasa bersalah pada dirinya dan penolakan terhadap
kemampuan diri, menyalahkan diri dan menghina diri akan hal-hal yang pernah dilakukan atau
yang belum pernah dilakukannya.
(2) Rasa bersalah seperti pengungkapan diri negatif
(3) Pesimis seperti berpandangan bahwa masa depannya yang suram tentang banyak hal di dalam
hidupnya.
7) Tingkat Kesadaran
Pasien dengan harga diri rendah tingkat kesadaran composmentis, namun ada gangguan orientasi
diri terhadap orang lain.
8) Memori
Pasien dengan harga diri rendah mampu mengingat memori jangka panjang ataupun jangka
pendek.
9) Tingkat Konsentrasi
Pasien dengan harga diri rendah biasanya memiliki tingkat konsentrasi yang cenderung menurun
karena pemikiran dirinya sendiri merasa tidak mampu.
10) Kemampuan Pengambilan Keputusan
Pasien dengan harga diri rendah biasanya sulit untuk menentukan tujuan dan mengambilan
keputusan karena selalu terbayang ketidakmampuan dirinya sendiri.
11) Daya Tilik
Pasien dengan harga diri rendah biasanya mengingkari penyakit yang diderita, seperti pasien
tidak menyadari gejala penyakit (perubahan fisik dan emosi), merasa tidak perlu meminta
pertolongan, tidak mau bercerita tentang penyakitnya, menyalahkan hal-hal diluar dirinya,
menyalahkan orang lain atau lingkungan menyebab timbulnya penyakit atau masalah.
g. Kebutuhan Perencanaan Pulang
1) Kemampuan pasien memenuhi kebutuhan
2) Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)
h. Mekanisme Koping
Kaji bagaimana pasien bila menghadapi suatu permasalahan, apakah menggunakan cara adaptif
seperti bicara dengan orang lain, mampu menyelesaikan masalah, teknik reklaksasi, olahraga
atau menggunakan cara maladaptive seperti minum alkohol, merokok, reaksi lambat/berlebihan,
menghindar, menciderai diri dan lain-lain.
Rencana Tindakan Keperawatan
Dx. Perencanaan
No
Keperawatan Tujuan /Kriteria hasil Intervensi
I Harga diri Harga Diri (L.09069) Manajemen prilaku (I.12463)
rendah
Definisi : Observasi
Situasional
Perasaan positif terhadap
(D.0087) - Identifikasi harapanuntuk
diri sendiri atau kemampuan
mengendalikan prilaku
sebagai respon terhadap
situasi saat ini. Terapeutik
Ekspetasi ; - Diskusikan tentang
Meningkat tanggung jawab terhadap
Kriteria Hasil : prilaku
- Penilaian diri positif - Jadwalkan kegiatan
meningkat terstruktur
- Perasaan memiliki - Ciptakan dan pertahankan
kelebihan atau lingkungan dan kegiatan
kemampuan positif perawatan konsisten setiap
meningkat dinas
- Penerimaan penilaian - Tingkatkan aktifitas fisik
positif terhadap diri sesua kemampuan
sendiri meningkat - Batasi jumlah pengunjung
- Minat mencoba hal baru - Bicara dengan nada rendah
meningkat dan tenang
- Berjalan menampakan - Lakukan kegiatan
wajah meningkat pengalihan thdp sumber
- Postur tubuh agitasi
menampakan wajah - Cegah prilaku pasif dan
meningkat agresif
- Konsentrasi meningkat - Beri penguatan positif
- Tidur meningkat terhadap keberhasilan
- Kontak mata meningkat mengendalikan prilaku
- Gairah aktivitas - Lakukan pengekangan fisik
meningkat sesuai indikasi
- Aktif meningkat - Hindari bersikap
- Percaya diri berbicara menyudutkan dan
meningkat menghentikan pembicaraan
- Perilaku asertif - Hindari sikap mengancam
meningkat dan berdebat
Ananlisa Jurnal (PICOT)
No Nama Metode
Nama Judul penelitian Tahun Jurnal Penelitian, Tindakan / Intervensi Hasil penelitian
penulis publikasi Publikasi Populasi, Sampel
1. Hamna Penerapan Terapi 2023 Jurnal Jenis penelitian Terapi aktivitas Harga diri rendah
Vonny Aktivitas Ventilator: yang digunakan kelompok (TAK) sebelum dilakukan
Lasanudin, Kelompok Jurnal riset dalam penelitian merupakan salah satu terapi aktivitas
Rosmin Sosialisasi Pada ilmu ini adalah terapi modalitas yang kelompok sosial
Ilham, Lansia Dengan kesehatan experimental dilakukan perawat pada klien 1 yaitu
Roman Harga Diri dan design (one group kepada sekelompok tidak bisa mengontrol
Sabali Rendah di Panti Keperawata pre-test post-test klien yang mempunyai emosi dan pada
Griya Lansia nVol. 1, No. design). Objek masalah keperawatan klien 2 dan 3 yaitu
Jannati. 2 Juni 2023 dalam penelitian yang sama. Aktivitas kurangnya interaksi
ini adalah lansia digunakan sebagai sosial setelah
yang memiliki terapi, dan kelompok dilakukan terapi
harga diri rendah digunakan sebagai aktivitas kelompok
di Griya Lansia target asuhan. Didalam sosial pada klien 1
Jannati Kota kelompok terjadi sudah bisa
Gorontalo. dinamika interaksi yang mengontrol emosi
Subjek pada studi saling bergantung, klien 2 dan 3 sudah
kasus ini adalah saling membutuhkan, bisa melakukan
klien dengan dan menjadi interaksi sosial.
harga diri rendah laboratorium tempat
sebanyak 3 orang klien berlatih perilaku
responden baru yang adaptif untuk
memperbaiki perilaku
yang maladaptive.
2 Nofrida Pelaksanaan 2022 Jurnal Metode pada Intervensi yang Hasil dari pengabdian
Saswati, Terapi Aktivitas Pengabdian pengabdian dilakukan berupa Terapi masyarakat ini terjadi
Isti Kelompok (TAK) Harapan Ibu masyarakat ini Aktivitas Kelompok penurunan pada nilai
DAFTAR PUSTAKA
Suzanna, M. I. (2016). Penurunan Depresi Pada Lansia Harga Diri Rendah Melalui Terapi
AktivitasKelompok dan Kognitif.
Lilik Ma’rifatul Azizah, I. Z. (2016). BUKU AJAR KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA.
Yoggyakarta: Indomedia Pustaka.
Hani Tuasikal, M. S. (2019). Upaya Peningkatan Harga Diri Rendah Dengan Terapi Aktivitas
Kelompok (Stimulasi Persepsi) di Ruang Sub Akut LakiRSKD Provinsi Maluku.
Nurul Fatma, H. D. (2019). 2019PENGARUH TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK HARGA
DIRI TERHADAP PENINGKATAN HARGA DIRI PASIEN DENGAN HARGA DIRI
RENDAH DI PANTI SOSIAL TRESNA WERDHA BUDI MULIA I CIRACAS
JAKARTA TIMUR.
Rahmaniza, R., & Permanasari, I. (2022). Peningkatan Harga Diri Lansia Menggunakan Terapi
Reminicence Pada Harga Diri Rendah Lansia Yang Tinggal Di Pstw Khusnul Khotimah
Pekanbaru. Menara Medika, 4(2).
Lasanudin, H. V., Ilham, R., & Sabali, R. (2023). Penerapan Terapi Aktivitas Kelompok
Sosialisasi Pada Lansia Dengan Harga Diri Rendah di Panti Griya Lansia Jannati. Jurnal
Ventilator, 1(2), 83-88.
Saswati, N., Harkomah, I., Rahayu, E., Sari, I., Asmidar, R., Rahmayanti, R., ... & Akbar, A. A.
(2022). Pelaksanaan Terapi Aktivitas Kelompok (TAK) pada klien harga diri rendah
kronis. Jurnal Pengabdian Harapan Ibu (JPHI), 4(1), 21-27.
PPNI. (2022). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Persatuan Perawat
Nasional Indonesia (PPNI). Cetakan III.
PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Persatuan Perawat
Nasional Indonesia. (PPNI). Cetakan III.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan: Persatuan Perawat
Nasional Indonesia (PPNI). Cetakan II.