0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan3 halaman

Panduan Lengkap Demam Berdarah Dengue

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, ditandai dengan demam tinggi, trombositopenia, dan risiko syok. Penyakit ini endemis di daerah tropis, termasuk Indonesia, dan memerlukan pemantauan intensif serta penatalaksanaan medis yang suportif untuk mencegah komplikasi serius. Komplikasi DBD dapat mencakup Dengue Shock Syndrome dan kematian jika tidak ditangani dengan cepat.

Diunggah oleh

dwiiprsetyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan3 halaman

Panduan Lengkap Demam Berdarah Dengue

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, ditandai dengan demam tinggi, trombositopenia, dan risiko syok. Penyakit ini endemis di daerah tropis, termasuk Indonesia, dan memerlukan pemantauan intensif serta penatalaksanaan medis yang suportif untuk mencegah komplikasi serius. Komplikasi DBD dapat mencakup Dengue Shock Syndrome dan kematian jika tidak ditangani dengan cepat.

Diunggah oleh

dwiiprsetyo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)

A. Pengertian
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus
dengue dari genus Flavivirus dan famili Flaviviridae yang ditularkan kepada manusia
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Penyakit ini ditandai dengan
demam tinggi mendadak, trombositopenia, perdarahan, serta peningkatan permeabilitas
kapiler yang dapat menyebabkan kebocoran plasma dan syok hipovolemik apabila tidak
ditangani dengan tepat (World Health Organization, 2019).

DBD merupakan penyakit arbovirus yang bersifat endemis di wilayah tropis dan subtropis,
termasuk Indonesia, dan dapat menyerang semua kelompok usia dengan tingkat keparahan
yang bervariasi, mulai dari infeksi ringan hingga bentuk berat yang mengancam jiwa seperti
Dengue Shock Syndrome (Kementerian Kesehatan RI, 2020).

Dalam perspektif keperawatan, DBD merupakan kondisi akut yang memerlukan


pemantauan intensif terhadap tanda vital, keseimbangan cairan, status hemodinamik, serta
tanda-tanda perdarahan karena perubahan kondisi pasien dapat terjadi secara cepat
terutama pada fase kritis (Muttaqin, 2019).

B. Etiologi
Etiologi Demam Berdarah Dengue adalah infeksi virus dengue yang terdiri atas empat
serotipe, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, yang semuanya dapat menimbulkan
penyakit pada manusia (Smeltzer & Bare, 2018).

Virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes betina yang sebelumnya menghisap
darah penderita DBD. Faktor risiko yang berperan meliputi lingkungan dengan banyak
genangan air, kepadatan penduduk, sanitasi buruk, serta daya tahan tubuh yang menurun
(Kemenkes RI, 2020).

C. Epidemiologi
Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi masalah
kesehatan masyarakat global, terutama di negara tropis dan subtropis, dan sering
menimbulkan kejadian luar biasa pada musim hujan (WHO, 2019).

Di Indonesia, DBD masih menjadi penyakit endemis dengan angka kejadian yang cenderung
fluktuatif setiap tahun dan menyerang semua kelompok usia, baik anak-anak maupun
dewasa (Kemenkes RI, 2022).
D. Patofisiologi
Virus dengue masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk Aedes dan bereplikasi dalam
sel monosit dan makrofag. Proses ini memicu respon imun tubuh berupa pelepasan sitokin
dan mediator inflamasi (Muttaqin, 2019).

Mediator inflamasi tersebut menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler yang


mengakibatkan kebocoran plasma ke ruang ekstravaskular, penurunan volume
intravaskular, hemokonsentrasi, serta trombositopenia yang berujung pada perdarahan dan
syok (Smeltzer & Bare, 2018).

E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis DBD terdiri atas tiga fase, yaitu fase demam, fase kritis, dan fase
penyembuhan (Kemenkes RI, 2020).

Fase demam ditandai dengan demam tinggi mendadak, nyeri kepala, nyeri otot dan sendi,
mual, muntah, dan lemas.

Fase kritis ditandai dengan penurunan suhu tubuh, trombositopenia, peningkatan


hematokrit, perdarahan, dan tanda syok.

Fase penyembuhan ditandai dengan membaiknya kondisi umum dan meningkatnya


trombosit (WHO, 2019).

F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang pada DBD meliputi pemeriksaan darah lengkap yang menunjukkan
trombositopenia dan peningkatan hematokrit (Smeltzer & Bare, 2018).

Pemeriksaan serologis seperti antigen NS1, IgM, dan IgG dengue digunakan untuk
memastikan diagnosis infeksi dengue (WHO, 2019).

G. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis DBD bersifat suportif dengan fokus utama pada terapi cairan untuk
mencegah syok akibat kebocoran plasma (Kemenkes RI, 2020).

Selain itu, diberikan antipiretik, pemantauan ketat tanda vital, keseimbangan cairan, serta
transfusi darah bila terjadi perdarahan berat (WHO, 2019).

H. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang sering muncul pada pasien DBD meliputi hipertermia, defisit
volume cairan, risiko perdarahan, nyeri akut, intoleransi aktivitas, dan risiko syok (SDKI,
2018).

I. Komplikasi
Komplikasi DBD meliputi Dengue Shock Syndrome, perdarahan berat, gagal organ, dan
kematian apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat (Smeltzer & Bare, 2018).
Daftar Pustaka
World Health Organization. (2019). Dengue: Guidelines for Diagnosis, Treatment,
Prevention and Control.

Kementerian Kesehatan RI. (2020). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian DBD.

Kementerian Kesehatan RI. (2022). Profil Kesehatan Indonesia.

Smeltzer, S. C., & Bare, B. G. (2018). Keperawatan Medikal Bedah.

Muttaqin, A. (2019). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Imunologi.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai