MODUL 7
TEHNIK BHD
PRAKATA DAFTAR ISI
Puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih
dan Penyayang karena atas berkat dan rahmat Beliau e- Kata Pengantar........................................................... 2
modul 1 mata pelatihan BHD untuk SDM tenaga kesehatan Daftar Isi...................................................................... 3
dapat disusun dengan baik. E-modul 7 ini menjelaskan Deskripsi Singkat........................................................ 4
tentang Tehnik BHD. Tujuan pembelajaran................................................ 6
Konsep tehnik RJP.................................................. 7
Materi ini membahas tentang tehnik RJP dan Menolong Indikasi RJP.............................................................. 8
pasien dengan sumbatan jalan nafas. Bahan ajar ini Materi Teknik RJP dewasa...................................... 9
disusun dengan tujuan agar peserta pelatihan mampu Materi Tehnik RJP bayi............................................ 17
memahami tehnik RJP pada orang dewasa dan bayi, tehnik Materi Tehnik RJP Ibu Hamil.................................. 23
chocking pada orang dewasa dan bayi. Materi Sumbatan Jalan Nafas Tersedak........... 26
Materi Tehnik Chocking Dewasa......................... 28
Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan Materi Tehnik Chocking bayi................................... 31
mampu melakukan RJP pada orang dewasa, melakukan RJP Rangkuman................................................................ 34
pada bayi, melakukan choking pada orang dewasa dan Latihan......................................................................... 35
melakukan choking pada bayi. Tehnik BHD sudah Daftar Pustaka............................................................ 36
disesuaikan dengan guideline menurut AHA tahun 2020.
Semoga e-modul tentang Tehnik BHD ini dapat membantu
peserta pelatihan dalam belajar tentang BHD dan menjadi
sumber belajar yang bermanfaat dalam upaya peningkatan
pengetahuan, keterampilan dan sikap peserta pelatihan
dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Akhir kata penulis sangat terbuka terhadap kritik dan saran
dalam perbaikan e-modul ini sehingga menjadi lebih baik
lagi.
Denpasar, 1 Juli 2022
Penulis
MODUL 7 Selain henti jantung, tersedak juga merupakan kejadian
TEHNIK BHD gawat darurat yang menjadi salah satu penyebab
tertinggi kematian anak, terutama anak di bawah 3
tahun. Hal ini dapat terjadi karena tersedak sering
disebabkan oleh benda-benda yang tidak berbahaya
DESKRIPSI SINGKAT seperti makanan, koin, dan mainan. Pada modul ini,
akan dibahas mengenai teknik melakukan Resusitasi
Peserta Pelatihan Bantuan Hidup Dasar tenaga Jantung Paru dan penanganan sumbatan jalan nafas
kesehatan, Selamat datang dalam sumber belajar Mata tersedak (Choking).
Pelatihan Teknik Bantuan Hidup Dasar (BHD). Sebelum
mempelajari modul ini marilah kita berdoa sejenak Mata pelatihan tehnik BHD ini telah disesuaikan dengan
dengan harapan semoga Tuhan memberikan ilmu pedoman AHA 2020 dan diberikan kepada para peserta
pengetahuan suci sehingga yang saudara pelajari Pelatihan Bantuan Hidup Dasar dengan durasi
dapat saudara mengerti, dapat menambah pembelajaran 10 (sepuluh) jam pelatihan atau 10 x 45
pengetahuan saudara dalam memahami teknik BHD dan menit. 4 x 45 menit peserta akan belajar mandiri melalui
dapat melakukan teknik BHD secara mandiri. media pembelajaran yang telah disediakan dan 6x45
menit peserta mengerjakan tugas proyek.
Penyakit jantung masih menjadi penyebab kematian
utama di dunia. Berdasarkan WHO tahun 2005, terdapat Pelatihan Bantuan Hidup Dasar untuk tenaga kesehatan
17,5 juta kasus di dunia yang meninggal dikarenakan secara keseluruhan dilaksanakan secara full online.
penyakit jantung dan pembuluh darah. Setiap tahunnya Pembelajaran dilaksanakan secara asynchronous
angka kejadian terus meningkat, dan diprediksikan akan kolaboratif (AK) dengan menggunakan Learning
mencapai angka dua puluh juta kasus pada tahun 2015. Manajemen Sistem (LMS). Peserta belajar mandiri
Salah satu penyebab kematian akibat penyakit jantung dengan mempelajari bahan-bahan ajar yang telah
adalah henti jantung atau cardiac arrest. Tiap tahunnya disiapkan dalam LMS yaitu buku ajar/modul, video dan
di Amerika terjadi 420.000 kasus henti jantung. Henti bahan tayang lainnya. Peserta kemudian membuat
jantung sendiri adalah kondisi gawat darurat karena proyek berkelompok berupa membuat video teknik
dapat terjadi secara mendadak dan membutuhkan melakukan RJP pada orang dewasa/ bayi dan
penanganan cepat. Jika tidak dilakukan bantuan hidup melakukan teknik choking pada orang dewasa dan bayi.
dasar segera, korban dapat meninggal. Hasil proyek kemudian diunggah melalui LMS.
TUJUAN PEMBELAJARAN TEHNIK BANTUAN HIDUP DASAR
Tujuan Pembelajaran Umum
Peserta pelatihan dapat melakukan Teknik Bantuan KONSEP RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP)
Hidup Dasar (BHD) dan penanganan tersedak
Resusitasi merupakan sebuah upaya menyediakan
Tujuan Pembelajaran Khusus: oksigen ke otak, jantung dan organ-organ vital lainnya
1. Peserta mengetahui konsep RJP melalui sebuah tindakan yang meliputi pemijatan
2. Peserta mengetahui indikasi dilakukan RJP jantung dan menjamin ventilasi yang adekuat (Irfani,
3. Peserta dapat melakukan teknik RJP pada orang 2019).
dewasa dan Bayi
4. Peserta mengetahui konsep Sumbatan jalan nafas Pelayanan resusitasi merupakan tindakan kritis yang
tersedak (Choking) dilakukan pada saat terjadi kegawatdaruratan terutama
5. Peserta dapat melakukan penanganan tersedak pada sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler.
(Choking) pada orang dewasa dan bayi Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah suatu tindakan
penyelamatan hidup yang terdiri dari kompresi dada
dan nafas bantuan untuk mempertahankan aliran
sirkulasi dan oksigenasi selama henti jantung. Kompresi
dada dan nafas bantuan di kombinasi dalam resusitasi
jantung paru dengan defibrilasi untuk memberikan
prognosis yang lebih baik (Song et al., 2021).
Penekanan dada ini membuat aliran darah dengan
meningkatkan tekanan intra-thorax dan langsung
mengkompresi jantung. Sehingga terjadi pengiriman
oksigen dan aliran darah ke miokardium maupun otak.
Penekanan dada yang efektif sangat penting untuk
menyediakan aliran darah selama CPR berlangsung
(Nunnally et al., 2015). Kedalaman kompresi minimal 2
inchi (5 cm) dan maksimal 2,4 inchi (6 cm). Minimalisir
terjadinya interupsi dan durasi untuk memaksimalkan
jumlah penekanan tiap menitnya.
Pastikan recoil sempurna yang ditandai dinding dada Teknik Melakukan RJP pada Orang Dewasa
kembali ke posisi normal secara sempurna sebelum
dilakukan kompresi dada berikutnya dimana posisi Tahapan dalam melakukan RJP pada orang dewasa
tangan penolong tidak bertumpu pada dada korban dapat mengikuti pedoman AHA 2020 dengan akronim D-
diantara dua penekanan (Irianti et al., 2018; Nunnally et R-S-C-A-B sebagai berikut.
al., 2015).
Danger
INDIKASI TINDAKAN RJP Danger berarti bahaya atau tepatnya kita harus
memperhatikan keamanan (Safety) penolong,
Resusitasi Jantung Paru merupakan salah satu yang lingkungan, dan pasien. Tindakan ini dapat dilakukan
mendasari bantuan hidup dasar dan dapat bervariasi dengan memperhatikan keamanan kita untuk menolong
dalam pendekatan optimal terhadap RJP, tergantung korban, keamanan korban dan lingkungan sekitar
pada penolong, korban dan sumber daya yang tersedia. sehingga diharapkan kita tidak menambah korban.
Tetapi hal-hal yang mendasar tidak mengalami Pindahkan korban dari tempat yang berbahaya.
perubahan yaitu bagaimana melakukan RJP segera dan
efektif mengingat hal ini menjadi prioritas. Respons
Cek respons/kesadaran: berteriak/berkata keras
Resusitasi jantung paru adalah suatu tindakan memanggil pak/bu (suara), menepuk pundak (sentuhan),
pertolongan yang dilakukan kepada korban yang menekan sternum (nyeri) dan nilai tingkat kesadaran
mengalami henti napas dan henti jantung. Pada saat (level of consciousness) dengan akronim A-V-P-U:
terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti Alert: sadar baik (fully awake-but may still be confused)
sirkulasi. Henti sirkulasi ini akan dengan cepat Verbal: respon terhadap suara
menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pain: Respon terhadap nyeri
Pernapasan yang terganggu (tersengal-sengal) Unresponsive: tidak berespon sama sekali
merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung
(Irianti et al., 2018; Nunnally et al., 2015).
TEHNIK MELAKUKAN RJP
Teknik melakukan RJP dalam mata pelatihan ini akan
dibahas RJP pada orang dewasa, anak/bayi dan teknik
melakukan RJP pada ibu hamil yang telah disesuaikan
dengan pedoman AHA 2020.
Shout for Help Pemeriksaan jalan nafas pernafasan dilakukan sekali
Meminta pertolongan dengan menyuruh orang gerakan yaitu dengan memberikan posisi head tilt-chin
menghubungi pelayanan emergency menggunakan lift atau jaw thrust untuk pasien yang dicurigai dengan
handphone dan mengambil AED (jika tersedia) patah tulang leher. Tindakan ini dapat dilakukan dengan
melakukan look listen feel. Lihat gerakan dada,
dengarkan suara nafas dan rasakan udara pernafasan.
Tindakan ini tidak boleh dilakukan > dari 10 detik.
Perhatikan Gambar 3.
Cek nadi, jalan nafas dan pernafasan
Periksa nadi pada nadi arteri karotis, karena arteri
karotis merupakan pembuluh darah paling besar
sehingga mudah mengetahui denyut nadi pasien.
Pemeriksaan denyut nadi arteri karotis dapat dilakukan
dengan meraba bagian cricoid kemudian tarik kebagian
belakang leher pasien ± 2 cm. perhatikan gambar 2.
Melakukan kompresi
Setelah dilakukan pemeriksaan nadi, jalan nafas dan
pernafasan selama < 10 detik bila tidak teraba nadi
lakukan kompresi dada. Posisikan telapak tangan yang
dominan pada dada dengan lokasi setengah bagian
bawah sternum.
Penolong meletakkan pangkal telapak tangan di tengah Prinsip kompresi yang baik adalah 1) Landmark yang
dada korban dan meletakkan tangan yang lain di atas tepat, 2) 5 Siklus dengan perbandingan kompresi 30:2
tangan yang pertama dengan jari-jari saling mengunci atau selama 2 menit, 3) Kedalaman minimal 5 cm /2 inchi
dan lengan tetap lurus. tetapi tidak lebih dari 6 cm / 2,4 inch, 4) Memberi
kesempatan dada kembali mengembang sempurna
Penekanan dada yang efektif dilakukan dengan prinsip (complete recoil), 5) Frekuensi 100 – 120 kali per menit, 6)
tekan kuat, tekan cepat, mengembang sempurna, dan Minimalkan interupsi, 7) Hindari ventilasi berlebihan
interupsi minimal. Untuk memaksimalkan efektivitas (avoid hiperventilation).
penekanan dada, korban harus berada di tempat yang
permukaannya rata. Penolong berlutut di samping Tindakan kompresi 30 kali dan 2 kali bantuan nafas
korban apabila lokasi kejadian di luar rumah sakit atau disebut 1 siklus RJP/CPR (resusitasi jantung
berdiri di samping korban apabila di rumah sakit. paru/cardiopulmonary resuscitation). Lima Resusitasi
Perhatikan Gambar 4. Jantung Paru terdiri dari penekanan dada dan bantuan
napas dengan perbandingan 30:2, berarti 30 kali
penekanan dada kemudian dilanjutkan dengan
memberikan 2 kali bantuan napas. Tindakan ini
dilakukan jika dilakukan oleh 1 atau 2 penolong. Bantuan
napas diberikan jika penolong yakin melakukannya.
Pemberian bantuan nafas tidak mutlak dilakukan karena
jika korban tidak kita kenal sebelumnya, bisa melakukan
tindakan penekanan dada saja sampai bantuan tenaga
kesehatan yang lebih kompeten datang.
untuk lebih
memahami materi,
peserta pelatihan
dapat menonton
video pembelajaran
dengan mengklik link
- YouTube
ini
Melakukan bantuan nafas Melakukan kejut jantung dengan alat kejut jantung
otomatis (AED)
Napas bantuan diberikan dari mulut ke mulut dengan
menggunakan bag valve mask yang diletakkan di wajah Alat kejut jantung otomatis (AED) merupakan alat yang
korban. Lihat dada korban saat memberikan napas dapat memberikan kejutan listrik pada korban. Pertama,
bantuan, apakah dadanya mengembang, kemudian tunggu pasang terlebih dahulu bantalan (pad) alat kejut jantung
hingga kembali turun untuk memberikan napas bantuan otomatis pada dada korban sesuai instruksi yang ada
berikutnya. Jika memungkinkan, RJP dilakukan bergantian pada alat. Setelah dinyalakan, ikuti instruksi dari alat
setiap 2 menit (5 siklus RJP) dengan penolong lain. Penolong
tersebut yaitu jangan menyentuh korban karena alat
melakukan penekanan dada sampai alat kejut jantung
kejut jantung otomatis akan menganalisis irama jantung
otomatis (AED) datang dan siap untuk digunakan atau
korban. Jika alat mengidentifikasi irama jantung yang
bantuan dari tenaga kesehatan telah datang.
abnormal dan membutuhkan kejut jantung untuk
Memberikan bantuan napas sebanyak 10-12 kali/menit mengembalikan irama kelistrikan jantung menjadi
selama 2 menit. Cara melakukan: Tiup 1,2,3,4,5 tiup, 1,2,3,4,5 normal, minta orang-orang agar tidak ada yang
tiup 1,2,3,4,5 tiup, dan seterusnya. Setelah 2 menit Cek nadi menyentuh korban, lalu penolong menekan tombol kejut
(maksimal 10 detik) dan napas (melihat, mendengar, jantung pada alat. Lanjutkan penekanan dada segera
merasakan). setelah alat memberikan kejutan listrik pada korban. Hal
ini dilakukan untuk mengembalikan kelistrikan jantung
seperti semula. Perhatikan Gambar 6
Gambar 6 menunjukkan pemasangan pad AED kemudian Teknik melakukan RJP pada bayi/anak
melanjutkan RJP dan melakukan analisa oleh AED jika ada
perintah shock maka dilakukan shock dengan menekan Pedoman bayi berlaku untuk bayi yang lebih muda dari
tombol pada AED. umur kurang lebih 1 tahun. Pedoman anak berlaku untuk
anak-anak kira-kira usia 1 tahun sampai pubertas. Pubertas
didefinisikan sebagai perkembangan payudara di wanita
dan adanya rambut aksila pada pria. Bagi yang memiliki
Memberikan posisi pemulihan/ recovery position tanda-tanda pubertas dan seterusnya, pedoman bantuan
hidup dasar dewasa harus diikuti. Pedoman bantuan hidup
Apabila denyut nadi telah terba kemudian pasien bisa dasar dan lanjutan pediatrik berlaku untuk neonatus (kurang
bernafas selanjutnya pasien diberikan posisi pemulihan dari 30 hari) setelah keluar dari rumah sakit. Tahapan dalam
yaitu posisi SIM. Posisi ini dilakukan untuk menjaga jalan melakukan RJP pada bayi/anak hampir sama dengan orang
napas tetap terbuka dan mengurangi risiko tersumbatnya dewasa. Berikut adalah langkah-langkah dalam RJP pada
jalan napas dan tersedak. Tidak ada standard baku untuk anak(Topjian et al., 2020):
melakukan posisi pemulihan, yang terpenting adalah korban
dimiringkan agar tidak ada tekanan pada dada korban Pastikan Keselamatan Diri Sendiri, pasien, dan lingkungan
yang bisa mengganggu pernapasan. Namun rekomendasi (Danger)
posisi pemulihan adalah meletakkan tangan kanan korban Selalu pastikan area penolong, lingkungan dan pasien.
ke atas, tekuk kaki kiri korban, kemudian tarik korban
sehingga korban miring ke arah kanan dengan lengan di Periksa respon pasien (Respons)
bawah kepala korban. Berikut gambar mengenai posisi Cek respons pasien dengan suara dan rangsang nyeri atau
pemulihan Gambar 7. menepuk kaki bayi
Shout for Help Kompresi dada (Compression)
minta tolong orang terdekat menghubungi pelayanan Kompresi dada dilakukan bila ditemukan tidak bernafas
gawat darurat dengan telepon seluler dan membawa atau nafas terengah engah dan nadi tidak teraba.
AED segera mulai lakukan RJP. Posisi tangan di tengah tulang
dada pada bayi tempatkan jari dibawah garis antara
puting bayi. dengan menggunakan dua jari untuk satu
penolong atau dua ibu jari untuk dua penolong.
Penekanan dada dilakukan secara cepat dengan
kecepatan 100 kali-120 kali per menit, lalu secara kuat,
berikan penekanan dengan gaya tekan hingga sedalam
minimal 4 cm pada bayi dan minimal 5 cm pada anak
atau 1/3 anteroposterior dada. Rasio kompresi dan
pernafasan pada bayi 30:2 untuk satu penolong dan 15:2
Periksa nadi dan pernafasan
untuk dua penolong.
Periksa nadi dan pernafasan dilakukan secara simultan
tidak lebih dari 10 detik. Nadi pada bayi dapat diperiksa
pada arteri brachialis karena leher bayi secara anatomi
Pastikan dada mengembang kembali secara sempurna
masih pendek sehingga menyulitkan dalam pemeriksaan untuk memungkinkan darah kembali terisi dahulu pada
nadi dan nadi brachialis merupakan nadi yang paling besar jantung, minimalisasi interupsi saat penekanan dada,
kedua setelah nadi karotis. Jika korban bernapas secara dan jangan berikan bantuan napas yang berlebihan.
normal, tidak perlu melakukan RJP. Jika tidak ada cedera, Lakukan penekanan dada pada permukaan yang datar
segera miringkan kepala korban atau baringkan dalam dan keras.
posisi pemulihan untuk mematenkan jalan napas dan
mencegah tersedak sampai petugas emergensi datang.
untuk lebih
memahami materi,
peserta pelatihan
dapat menonton
video pembelajaran
dengan mengklik - YouTube
link ini
Gambar 8 menunjukkan teknik kompresi dada pada bayi Bantuan Nafas
dengan satu penolong dan dua penolong. Untuk anak, Bila ditemukan tidak bernafas nadi teraba, berikan
penekanan dada dilakukan pada bagian setengah bantuan nafas dengan frekwensi satu kali pernafasan
bawah dari tulang dada, dengan 1 atau 2 tangan, setiap 2-3 detik atau 20-30 kali/menit. Pada anak yang
menggunakan bagian pangkal dari telapak tangan. tidak sadarkan diri, biasanya lidah menghalangi saluran
pernapasan, oleh karena itu penolong harus membuka
jalan napas korban dengan teknik menengadahkan
kepala dan mengangkat dagu seperti pada dewasa.
Lakukan penekanan dada dan bantuan napas secara
terkoordinasi (Merchant et al., 2020).
Untuk bayi, lakukan pemberian napas dengan teknik
mulut penolong ke mulut dan hidung bayi, pastikan
seluruh mulut dan hidung korban tertutup. Untuk anak,
lakukan dengan teknik mulut ke mulut seperti pada orang
dewasa. Setiap napas diberikan sekitar 1 detik, pastikan
terdapat kenaikan dada ketika diberikan napas bantuan.
Pada anak, akan lebih baik jika penolong tidak hanya Periksa kembali pernafasan dan nadi kurang dari 10
melakukan penekanan, tetapi juga memberikan napas detik, bila nadi < 60 kali/menit atau terlihat tanda perfusi
bantuan. Akan tetapi, jika penolong tidak terlatih untuk yang buruk seperti kebiruan pada ujung tangan segera
memberikan napas bantuan, maka tidak perlu dilakukan. lakukan RJP bila nadi > 60 kali permenit dan nafas tidak
ada lanjutkan bantuan nafas dan evaluasi kembali setiap
2 menit.
Gunakan AED Teknik melakukan RJP pada ibu hamil
Setelah itu, penolong harus kembali dan menggunakan
alat kejut jantung otomatis (AED) jika ada dan melanjutkan Resusitasi wanita hamil mirip dengan standar resusitasi
RJP ketika pads AED terpasang. Mengikuti intruksi dari dewasa dengan beberapa aspek dan pertimbangan
alat AED, lakukan shock dengan memastikan tdk berbeda secara unik. Perbedaan yang paling jelas
seorangpun sedang menyentuh pasien. RJP dilakukan adalah ada 2 pasien, ibu dan janin. Petugas kesehatan
hingga bantuan datang atau korban bernapas secara harus memiliki pemahaman menyeluruh tentang
normal kembali. Shock pertama 2 j/kgBB kedua 4 j/kgBB kematian ibu untuk mencegah dan mengobati serangan
sampai 10 j/kgBB jantung pada kehamilan. Kematian ibu didefinisikan
sebagai kematian seorang wanita selama kehamilan
dan sampai dengan 42 hari setelah melahirkan atau
terminasi kehamilan, asalkan penyebab kematiannya
terkait dengan atau diperberat oleh kehamilan atau
penanganannya.
Pada tahun 2015, diperkirakan 303.000 wanita
meninggal selama atau segera setelah kehamilan dan
persalinan. Di Asia tenggara 13.000 wanita meninggal
selama atau segera setelah kehamilan dan persalinan.
Rasio kematian ibu di negara berkembang pada tahun
2015 adalah 239 per 100.000 kelahiran hidup sedangkan
di negara maju 12 per 100.000 kelahiran hidup. Ada
perbedaan besar antar negara terutama antara wanita
dengan pendapatan tinggi dan rendah dan perempuan
yang tinggal di pedesaan dan perkotaan (Jeejeebhoy et
al., 2015; Mhyre et al., 2015; UNHR, 2020).
Secara global, 800 kematian ibu terjadi setiap hari (Say Perkembangan janin dan pemeliharaan kehamilan ibu
et al., 2014;WHO, 2015). Data terbaru menunjukkan memerlukan adaptasi fisiologis multiorgan yang
bahwa tingkat kelangsungan hidup untuk keluar dari berkaitan dengan tim yang merespons henti jantung
rumah sakit setelah serangan jantung ibu mungkin paru selama kehamilan. Curah jantung meningkat 30%
setinggi 58,9%,1 jauh lebih tinggi daripada kebanyakan hingga 50% sebagai akibat dari peningkatan volume
populasi, lebih lanjut membenarkan pelatihan dan sekuncup dan, pada tingkat yang lebih rendah,
persiapan yang tepat untuk kejadian tersebut meskipun peningkatan denyut jantung ibu (15–20 x/menit).
jarang terjadi.
Resistensi vaskular sistemik menurun sebagai akibat
Tahapan dalam melakukan RJP pada ibu hamil dapat dari peningkatan beberapa vasodilator endogen,
mengikuti pedoman AHA 2020. Beberapa hal penting termasuk progesteron, estrogen, dan oksida nitrat,
yang perlu diperhatikan sebagai berikut (AHA, 2020). menyebabkan penurunan tekanan arteri rata-rata,
mencapai titik nadir pada trimester kedua. Uterus yang
1. Penyebab potensial dari henti jantung pada ibu hamil membesar dapat menghasilkan peningkatan afterload
meliputi, melalui kompresi aorta dan penurunan curah jantung
A= Anestesi (efek anestesi), melalui kompresi vena inferior cava, mulai 12 sampai 14
B= Bleeding (Perdarahan), minggu usia kehamilan. Akibatnya, posisi terlentang,
C=Cardiovaskuler (Kelainan Jantung), yang paling menguntungkan untuk resusitasi, dapat
D=Drug (obat-obatan), menyebabkan hipotensi (AHA, 2020).
E=Embolik (Sumbatan pembuluh darah),
F=Fever (demam)
2. Penatalaksanaan melibatkan tim obstetri, neonatal
darurat, intensif, dan anestesiologi
3. Prioritas pada ibu hamil adalah pemberian CPR/RJP
berkualitas tinggi dan penanganan obstetric dengan
melakukan peringanan tekanan aortocaval dengan
penekanan rahim ke bagian lateral.
4. Idealnya segera dilakukan persalinan cesar < 5 menit
sesuai dengan sumber daya yang tersedia.
Area anatomis di mana resistensi terhadap udara paling
Sumbatan Jalan Nafas Tersedak tinggi adalah katup hidung, dan bahkan penyimpangan
(Chocking) ringan di area ini dapat menyebabkan obstruksi jalan
napas atas yang signifikan (Brady & Burns, 2022).
Obstruksi jalan napas sekunder akibat benda asing Penyebab Obstruksi Jalan Nafas
seringkali mudah diobati, karena benda asing dapat
dikeluarkan, dan patensi jalan napas dipulihkan. Namun, Setiap patologi yang mengganggu aliran udara dari
obstruksi jalan napas yang disebabkan oleh trauma, nasofaring dan orofaring ke paru-paru dapat
keganasan, atau proses infeksi dapat menyebabkan menyebabkan obstruksi jalan napas bagian atas.
pemulihan yang lama dan kerusakan otak hipoksia. Seringkali, etiologi yang menyebabkan obstruksi saluran
Obstruksi jalan napas bagian atas mengacu pada napas bagian atas melibatkan peradangan, infeksi, atau
penyempitan atau oklusi anatomis, yang mengakibatkan trauma struktur saluran napas. Varian anatomis juga
penurunan kemampuan untuk menggerakkan udara dapat menyebabkan atau berkontribusi pada obstruksi.
(ventilasi). Obstruksi jalan napas atas dapat bersifat akut Penyebab obstruksi jalan napas antara lain deviasi
atau kronis. Obstruksi jalan napas bagian atas juga septum, tertelan benda asing, makroglosia, atresia
dapat parsial atau lengkap, dengan obstruksi total trakea, abses retrofaring, abses peritonsillar, rinitis,
menunjukkan ketidakmampuan total untuk mendapatkan polip, pembesaran amandel, lipoma leher, nasofaring/
udara masuk atau keluar dari paru-paru. orofaringeal (Brady & Burns, 2022).
Seringkali penyebab akut obstruksi jalan napas parsial Tersedak terjadi ketika jalan napas tersumbat sebagian
dan lengkap memerlukan intervensi darurat, atau bisa atau seluruhnya oleh benda asing, seperti sepotong
berakibat fatal. Hal ini karena obstruksi akut benda asing makanan atau benda (magnet atau mainan
menyebabkan penurunan kemampuan ventilasi, yang kecil). Tersedak juga disebut sebagai obstruksi jalan
dapat berakibat fatal dalam hitungan menit. Obstruksi napas benda asing dan merupakan penyebab umum
jalan napas kronis dapat menghasilkan kompromi kedaruratan pernapasan, terutama pada anak kecil.
kardiopulmoner yang pada akhirnya juga dapat Kematian terkait dengan tersedak menggarisbawahi
menyebabkan morbiditas atau kematian. Saluran napas pentingnya tindakan pencegahan dan pertolongan
bagian atas dapat terhambat secara akut atau kronis pertama. Ini adalah salah satu yang paling umum
oleh patologi faring hidung dan mulut. mengancam jiwa keadaan darurat yang dilihat oleh
penyedia pertolongan pertama.
Teknik yang digunakan untuk membantu seseorang Prosedur tindakan dapat menggunakan teknik
yang tersedak tergantung pada usia, ukuran, dan tingkat abdominal trust dan chest trust. Berikut cara melakukan
respons seseorang (IFRC, 2020). manuver hentakan pada perut (abdominal trust)
Tujuan Penanganan Tersedak 1) Pastikan keamanan penolong, pasien dan lingkungan
2) Perhatikan tanda-tanda tersedak
Membebaskan jalan nafas dengan membantu 3) Segera tanyakan, “Apa anda tersedak?”
mengeluarkan benda asing yang menyebabkan
sumbatan jalan nafas.
untuk lebih memahami
materi, peserta
pelatihan dapat
menonton video
pembelajaran dengan Sumbatan Jalan Nafas 4) Berdiri di belakang korban dan letakkan salah satu
mengklik link ini kaki di sela kedua kaki korban. Miringkan korban sedikit
ke depan
Teknik Melakukan Chocking 5) Posisikan tangan melingkari tubuh korban, tentukan
posisi dua jari diatas pusar kemudian buat kepalan
a. Teknik Melakukan Choking pada Orang Dewasa pada satu tangan dengan tangan lain menggenggam
kepalan tangan tersebut.
Pengenalan tanda-tanda 6) Buat gerakan ke dalam dan ke atas secara cepat dan
tersedak merupakan kunci dari kuat untuk membantu korban membatukkan benda yang
keberhasilan penanganan, menyumbat saluran napasnya. Manuver ini terus
penting bagi kita untuk dapat diulang hingga korban dapat kembali bernapas atau
membedakan tersedak dengan hingga korban kehilangan kesadaran.
pingsan, serangan jantung, 7) Jika korban kehilangan kesadaran, baringkan korban
kejang, atau keadaan-keadaan secara perlahan sehingga posisinya terlentang dan
lain yang juga dapat mulai lakukan RJP. Jalan napas dibuka saat RJP,
menyebabkan kesulitan penyelamat harus memeriksa apakah terdapat benda
berbicara dan bernapas tiba- asing pada mulut korban dan mengambilnya apabila
tiba sambil memegang leher, menemukannya.
kebiruan, dan hilang kesadaran.
b. Teknik choking pada bayi
Kasus tersedak pada ibu hamil atau dengan kegemukan
manuver hentakan dapat dilakukan dengan metode Hentakan pada perut tidak direkomendasikan untuk bayi
hentakan dada (chest trust) dengan teknik sebagai dengan usia di bawah 1 tahun karena dapat
berikut. menyebabkan cedera pada organ dalamnya sehingga
1) Pastikan keamanan penolong, pasien dan lingkungan untuk mengatasi tersedak dilakukan manuver tepukan di
2) Perhatikan tanda-tanda tersedak punggung dan hentakan pada dada. Pengenalan tanda-
3) Segera tanyakan, “Apa anda tersedak?” tanda tersedak penting diketahui Perubahan yang
4) Berdiri di belakang korban dan letakkan salah satu kaki mungkin terlihat adalah tidak dapat batuk, berbicara,
di sela kedua kaki korban. Posisikan korban sedikit menangis atau bernafas, mencengkeram tenggorokan
kebelakang kearah penolong dengan satu atau kedua tangan, terlihat panik, warna
kebiruan pada kulit bibir, telinga, jari tangan dan kaki,
menjadi tidak responsif jika penyumbatan tidak
dihilangkan.
Terdapat beberapa manuver yang terbukti efektif untuk
menangani tersedak, antara lain back blow (tepukan di
punggung) dan chest thrust (hentakan pada dada).
Tepukan di punggung (back blow) dilakukan dengan
memberikan lima kali tepukan di punggung korban.
5) Posisikan tangan melingkari tubuh korban, tentukan Berikut cara melakukan tepukan di punggung (back
posisi di tengah tulang dada (sama seperti tempat blow).
melakukan penekanan dada pada RJP) kemudian buat
kepalan pada satu tangan dengan tangan lain Berikut langkah-langkah manuver tepukan punggung
menggenggam kepalan tangan tersebut. dan hentakan dada pada bayi:
6) Buat hentakan ke dalam secara cepat dan kuat untuk
membantu korban membatukkan benda yang menyumbat 1. Posisikan bayi menelungkup seperti pada gambar 12
saluran napasnya. Manuver ini terus diulang hingga dan lakukan tepukan di punggung dengan
korban dapat kembali bernapas atau hingga korban menggunakan pangkal telapak tangan sebanyak lima
kehilangan kesadaran. kali.
7) Jika korban kehilangan kesadaran, baringkan korban
secara perlahan sehingga posisinya terlentang dan mulai
lakukan RJP. Jalan napas dibuka saat RJP
3. Lakukan manuver hentakan pada dada sebanyak
lima kali dengan menggunakan jari tengah dan
telunjuk tangan yang bebas di tempat yang sama
dilakukan penekanan dada saat RJP pada bayi Jika
korban menjadi tidak sadar, lakukan RJP
4. Jika penyelamat tidak yakin dengan apa yang
harus dilakukan, segera aktivasi SPGDT, jangan
ditunda.
2. Kemudian, dari posisi menelungkup, telapak Penyelamat mungkin dapat berhasil menghentikan
tangan kita yang bebas menopang bagian belakang korban tersedak sebelum bantuan datang namun
kepala bayi sehingga bayi berada di antara kedua akan lebih baik jika korban ditangani oleh tenaga
tangan kita (tangan satu menopang bagian belakang medis. Jika masih terdapat benda asing pada
kepala bayi, dan satunya menopang mulut dan wajah
saluran napas, tenaga medis yang datang dapat
bayi). Lalu, balikan bayi sehingga bayi berada pada
melakukan penanganan segera dan membawa
posisi menengadah dengan telapak tangan yang
berada di atas paha menopang belakang kepala korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
bayi dan tangan lainnya bebas.
Manuver hentakan pada perut membuat tekanan
(penekanan) pada paru-paru dan memaksa udara
keluar. Udara yang dipaksa keluar juga akan
memaksa keluar benda yang membuat korban
tersedak.
untuk lebih memahami
materi, peserta pelatihan
dapat menonton video
pembelajaran dengan
mengklik link ini Sumbatan Jalan Nafas Bayi
RANGKUMAN Obstruksi jalan napas parsial dan lengkap memerlukan
intervensi darurat, atau bisa berakibat fatal. Tersedak
Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah suatu tindakan terjadi ketika jalan napas tersumbat sebagian atau
penyelamatan hidup yang terdiri dari kompresi dada seluruhnya oleh benda asing, seperti sepotong benda
dan nafas bantuan untuk mempertahankan aliran asing makanan atau benda (magnet atau mainan kecil).
sirkulasi dan oksigenasi selama henti jantung. Prinsip Pengenalan tanda-tanda tersedak merupakan kunci dari
kompresi yang baik adalah 1) Landmark yang tepat, 2) 5 keberhasilan penanganan, penting bagi kita untuk
Siklus dengan perbandingan kompresi 30:2 atau selama dapat membedakan tersedak dengan pingsan,
2 menit, 3) Kedalaman minimal 5 cm /2 inchi tetapi tidak serangan jantung, kejang, atau keadaan-keadaan lain
lebih dari 6 cm / 2,4 inch, 4) Memberi kesempatan dada yang juga dapat menyebabkan kesulitan berbicara dan
kembali mengembang sempurna (complete recoil), 5) bernapas tiba-tiba sambil memegang leher, kebiruan,
Frekuensi 100 – 120 kali per menit, 6) Minimalkan dan hilang kesadaran.
interupsi, 7) Hindari ventilasi berlebihan (avoid
hiperventilation). Prosedur tindakan dapat menggunakan teknik
abdominal trust dan chest trust. Terdapat beberapa
Pemeriksaan jalan nafas pernafasan dilakukan sekali manuver yang terbukti efektif untuk menangani tersedak,
gerakan yaitu dengan memberikan posisi head tilt-chin antara lain back blow (tepukan di punggung) dan chest
lift atau jaw thrust untuk pasien yang dicurigai dengan thrust (hentakan pada dada). Hentakan pada perut
patah tulang leher. Tindakan ini dapat dilakukan dengan membuat tekanan (penekanan) pada paru-paru dan
melakukan look listen feel. Lihat gerakan dada, memaksa udara keluar. Udara yang dipaksa keluar juga
dengarkan suara nafas dan rasakan udara pernafasan. akan memaksa keluar benda yang membuat korban
Tindakan ini tidak boleh dilakukan > dari 10 detik. Bila tersedak.
tidak ada nafas berikan bantuan nafas 10-12 x/menit.
Pada bayi bila ditemukan tidak bernafas nadi teraba, LATIHAN
berikan bantuan nafas dengan frekwensi satu kali Jawablah pertanyaan berikut ini kemudian
pernafasan setiap 2-3 detik atau 20-30 kali/menit. bandingkan jawaban saudara dengan kunci jawaban
Penolong menggunakan alat kejut jantung otomatis (AED) di halaman terakhir modul ini
jika ada dan melanjutkan RJP ketika pads AED 1. Jelaskan konsep Resusitasi jantung paru
terpasang. 2. Jelaskan tahapan dalam melakukan RJP
3. Jelaskan penyebab tersedak
4. Jelaskan tahapan melakukan tindakan abdominal
thrust dan chest thrust pada orang dewasa
DAFTAR PUSTAKA Mhyre, J. M., Tsen, L. C., Einav, S., Kuklina, E. V., Leffert, L. R., &
Bateman, B. T.(2015). Cardiac Arrest during Hospitalization for
AHA. (2020). Highlight Guidelines CPR and Delivery in the United States, 1998–2011. Anesthesiology, 120(4), 810–
[Link]://[Link]/-/ media/CPR-Files/ CPR-Guidelines- 818. [Link] 10.1097/ [Link]
Files/Highlights/Hghlghts_ 2020ECCGuidelines_Indonesian.pdf
Nunnally, M. E., O’Connor, M. F., Kordylewski, H., Westlake, B., & Dutton,
Brady, M. F., & Burns, B. (2022). Airway obstruction. In StatPearls - R. P. (2015). The incidence and risk factors for perioperative cardiac
NCBI Bookshelf. [Link] arrest observed in the national anesthesia clinical outcomes registry.
Anesthesia and Analgesia, 120(2), 364–370. [Link]
IFRC. (2020). International First Aid, Resuscitation, And Education ANE.0000000000000527
Guidelines 2020. International Federation of Red Cross and Red
Crescent Societies, Say, L., Chou, D., Gemmill, A., Tunçalp, Ö., Moller, A., Daniels, J.,
Gülmezoglu, A. M., Temmerman, M., & Alkema, L. (2014). Global causes
Irfani, Q. I. (2019). Bantuan Hidup Dasar. CDK, 46(6), 458–461. of maternal death : a WHO systematic analysis. Lancet Glob Health,
[Link] view/472 s2214-109x, 323–333. [Link]
Irianti, D. N., Irianto, M. G., Jausal, A. N., Kedokteran, F., Lampung, U., Song, K., Lee, S. Y., Cho, G. C., Kim, G., Kim, J., Oh, J., Oh, J. H., & Ryu,
Ilmu, B., Forensik, K., Kedokteran, F., Lampung, U., Anatomi, B., S(2021). 2020 Korean Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation.
Kedokteran, F., & Lampung, U. (2018). Henti Jantung Intra Operatif Part 3. Adult basic life support. Clin Exp Emerg Med, 8(S), S15–S25.
Intra-operative cardiac [Link] org/10.15441/ceem.21.024 This
arrest. Majority, 7(3), 217–221.
Topjian, A. A., Raymond, T. T., Atkins, D., Chan, M., Duff, J. P., Joyner, B.
Jeejeebhoy, F. M., Zelop, C. M., Lipman, S., Carvalho, B., Joglar, J., L., Lasa, J. J., Lavonas, E. J., Levy, A., Mahgoub, M., Meckler, G. D.,
Mhyre, J. M., Katz, V. L., Lapinsky, S. E., Bch, M. B., Einav, S., Warnes, C. Roberts, K. E., Sutton, R. M., & Schexnayder, S. M. (2020). Pediatric
A., Page, R. L., Griffin, R. E., Jain, A., Dainty, K. N., Arafeh, J., Windrim, R., Basic and Advanced Life Support: 2020 American Heart Association
Koren, G., & Callaway, C. W. (2015). Cardiac Arrest in Pregnancy A Guidelines for Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency
Scientific Statement From the American Heart Association. Cardiovascular Care. In Circulation (Vol. 142, Issue 16 2, pp. S469–
Circulation, 132, 1747–1773. S523). [Link] CIR.0000000000000901
[Link]
UNHR. (2020). Maternal Mortality and Morbidity.
Merchant, R. M., Topjian, A. A., Panchal, A. R., Cheng, A., Aziz, K., Berg, [Link] sites/default/files/INFO_MMM_WEB.pdf
K. M., Lavonas, E. J., & Magid, D. J. (2020).Part 1: Executive summary:
2020 American heart association guidelines for cardiopulmonary WHO. (2015). Trends in Maternal Mortality : 1990 to 2013.
resuscitation and emergency cardiovascular care. In Circulation (Vol. [Link] int/iris/bitstream/10665/112682/2/9789241507226
142, pp. S337–S357). [Link] CIR.0000000000 _eng.pdf
000918
Kunci jawaban
1. Resusitasi Jantung Paru (RJP) adalah suatu tindakan
penyelamatan hidup yang terdiri dari kompresi dada
dan nafas bantuan untuk mempertahankan aliran
sirkulasi dan oksigenasi selama henti jantung.
2. tahapan melakukan RJP D-R-S-C-A-B
Danger -->amankan penolong, lingkungan dan pasien
Respons--> cek respon pasien
Shout for help meminta bantuan
Cek nadi karotis bila tidak ada Compresi 100-120x/mnt
Airway periksa jalan nafas bila tidak ada nafas
Breathing berikan bantuan nafas 10-12 x/menit untuk
dewasa
lakukan RJP 5 Siklus
pasang AED
Recovery position bila nafas dan nadi telah teraba
3. Penyebab Tersedak
Benda asing seperti makanan, mainan
4. teknik melakukan chocking pada orang dewasa
Identifikasi tanda tersedak
Memanggil pasien
berdiri dibelakang pasien kaki diantara kedua kaki
korban
Tehnik abdominal Thrust penekanan pada dada kedalam
dan keatas
Teknik Chest Thrust penekanan pada dada kedalam
dilakukan sampai benda asing keluar atau pasien tidak
sadar