Corporate Governance dan Financial Distress
Corporate Governance dan Financial Distress
Disusun oleh :
NIM. 185020301111059
SKRIPSI
DEPARTEMEN AKUNTANSI
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2025
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam iklim bisnis yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, sektor transportasi dan
logistik memegang peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor
ini memiliki fungsi penting sebagai penopang kelancaran distribusi barang dan jasa di seluruh
perusahaan di bidang ini menghadapi berbagai tantangan besar, seperti kenaikan harga bahan
bakar, pergeseran pola konsumsi masyarakat, hingga tuntutan digitalisasi sistem logistik yang
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa kinerja keuangan sektor
transportasi dan logistik mengalami fluktuasi cukup signifikan. Meski perekonomian mulai
kondisi kesulitan keuangan serius yang berpotensi berujung pada kebangkrutan apabila tidak
segera ditangani. Laporan keuangan tahun 2023 mencatat beberapa emiten di sektor ini,
seperti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), mengalami penurunan rasio likuiditas
dan solvabilitas yang mengkhawatirkan, serta mencatat kerugian beruntun dalam beberapa
tahun terakhir.
Situasi financial distress ini menjadi isu penting yang harus mendapat perhatian dari
merupakan kondisi ketika perusahaan kesulitan memenuhi kewajiban keuangannya, yang jika
berlarut dapat berujung pada kebangkrutan. Fenomena ini semakin relevan mengingat adanya
dinamika perubahan ekonomi baik global maupun nasional, termasuk dampak pandemi
COVID-19 sejak awal tahun 2020 yang memberikan pengaruh besar terhadap berbagai sektor
perekonomian, khususnya dalam aspek distribusi barang dan mobilitas masyarakat. Namun
demikian, sektor ini memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap dinamika
perekonomian global, perubahan regulasi pemerintah, serta pergeseran pola permintaan pasar.
tekanan keuangan yang serius. Oleh karena itu, diperlukan analisis mendalam mengenai
periode krisis hingga fase pemulihan pasca pandemi, yaitu antara tahun 2020 hingga 2023.
hidup perusahaan, dan oleh karena itu perlu diantisipasi sedini mungkin. Untuk
perusahaan. Salah satu faktor yang diyakini berperan penting adalah Corporate Governance.
Penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dapat meningkatkan efisiensi
distress.
Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap financial distress antara lain adalah
aspek corporate governance, ukuran perusahaan (firm size), dan kinerja keuangan. Corporate
governance yang baik diyakini dapat meningkatkan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas
keuangan.
Tata kelola perusahaan atau Corporate Governance bukanlah istilah baru, melainkan
konsep lama yang kembali populer karena adanya perkembangan sosial dan kemajuan praktik
partisipan dalam perusahaan yang menentukan arah dan kinerja perusahaan (Monks &
Minow, 2001). Organization for Economic Corporation and Development
(OECD) juga mendefinisikan corporate governance sebagai suatu struktur untuk menetapkan
tujuan perusahaan, saran untuk mencapai tujuan tersebut serta menentukan pengawasan atas
kondusif dan dapat dipertanggung jawabkan diantara elemen sebuah perusahaan (dewan
komisaris, dewan direksi, dan para pemegang saham) dalam rangka meningkatkan kinerja
perusahaan.
termasuk pemilik perusahaan. Corporate governance dalam lingkungan bisnis saat ini terus
menjadi fokus utama bagi para regulator, investor, kreditur, dan pemangku kepentingan
Di Indonesia sendiri, ketertarikan akan isu corporate governance ini mulai menjadi
perhatian, khususnya ketika krisis ekonomi yang terjadi di kawasan Asia ikut menimpa
Indonesia pada pertengahan tahun 1997 hingga 1998. Krisis ekonomi tersebut tidak hanya
merusak kondisi keuangan Indonesia tetapi juga telah melemahkan perekonomian secara
keseluruhan (Ramadhani dan Lukviarman, 2009). Krisis ekonomi tahun 1998 merupakan
krisis terburuk yang pernah dialami Indonesia, akibatnya terjadi inflasi pada perekonomian
Indonesia. Pada tahun 1997, Indonesia mengalami peningkatan inflasi sebesar 11,10% dan
meningkat sebesar 77,60% pada tahun 1998 yang merupakan peningkatan inflasi tertinggi di
Indonesia.
Menurut Hamdani (2016:1) salah satu penyebab terjadinya krisis ekonomi di Indonesia
disinyalir sebagai akibat lemahnya Corporate Governance dan etika yang melandasinya.
dalam sebuah organisasi. Pemerintah maupun investor mulai memberikan perhatian yang
cukup signifikan dalam praktik Corporate Governance. Survey mengenai tingkat Corporate
Governance dilakukan oleh Political Economic Risk Consultancy (PERC) di sebelas negara
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh PERC (Political Economic Risk
Consultancy), Indonesia menempati posisi tiga terbawah dari sebelas negara Asia dalam
menerapkan Corporate Governance. Menurut PERC yang dikutip dalam Sutedi (2012:50),
semakin tinggi skor, maka akan semakin buruk Corporate Governance-nya. Peringkat yang
Indonesia dibanding dengan negara Asia yang disebutkan lainnya. Hal ini menunjukkan
bahwa pelaksanaan corporate governance di Indonesia masih rendah dan upaya perbaikan
Forum Corporate Governance Indonesia atau FCGI (2001) terdapat prinsip penting dalam
independensi, dan kewajaran. Tata kelola yang baik menuntut dibangun dan dijalankannya
mengurangi permasalahan agensi yang timbul antara pemegang saham mayoritas dan
manajemen (pemegang saham minoritas) dalam suatu perusahaan. Menurut Wati (2012)
“kualitas internal perusahaan juga menjadi salah satu penentu baik buruknya manajemen
dan fungsi tata kelola, diharapkan dapat mencegah atau mengurangi terjadinya kesulitan
Good Corporate Governance merupakan salah satu elemen kunci dalam pengoptimalan
kinerja, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan direksi,
para pemegang saham, dan stakeholders lainnya (OECD, 1999). Untuk hal-hal yang berkaitan
dengan mekanisme Corporate Governance sendiri, peneliti akan menguji pengaruh ukuran
Institusional. Peneliti akan menguji pengaruh ukuran Dewan Direksi, Proporsi Komisaris
Independen, Komite Audit, dan Kepemilikan Institusional karena variabel tersebut di anggap
kebijakan yang akan diambil atau strategi perusahaan tersebut secara jangka pendek maupun
lima tugas utama yaitu kepengurusan, manajemen risiko, pengendalian internal, komunikasi,
dan tanggung jawab social (KNKG, 2006). Peran pengawasan tanggung jawab dan fungsi
Dewan Direksi dapat lebih efektif dengan keberadaan Komisaris Independen. Berdasarkan
jawab untuk mengawasi kebijakan dan tindakan direksi, dan memberikan nasihat kepada
Dewan Direksi jika diperlukan. Oleh karena itu komisaris independen sangat diperlukan
untuk mengawasi direksi dalam menjalankan perusahaan selain dewan komisaris di
perusahaan. Kepemilikan institusional merupakan proporsi saham biasa yang dimiliki oleh
para pihak institusional. Tingginya kepemilikan oleh investor institusional akan mendorong
aktivitas monitoring karena besarnya kekuatan voting mereka yang akan mempengaruhi
kebijakan manajemen (Schleifer dan Vishny, 1986 dalam Wardhani, 2007). Dengan adanya
kepemilikan saham oleh investor institusional yang tinggi ini maka pemegang saham
institusional ini dapat menggantikan atau memperkuat fungsi monitoring dari dewan dalam
perusahaan.
mengurangi masalah keagenan yang timbul dalam suatu perusahaan. Kompetensi komite
audit juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi perusahaan. Komite audit
bertugas memberikan suatu pandangan tentang masalah akuntansi, pelaporan keuangan dan
Indonesia, pedoman pembentukan Komite Audit yang efektif (KNKG, 2002) menjelaskan
bahwa anggota Komite Audit yang dimiliki oleh perusahaan sedikitnya terdiri dri tiga orang,
diketuai oleh Komisaris Independen perusahaan dengan dua orang eksternal yang independen
terhadap perusahaan serta menguasai dan memiliki latar belakang akuntansi dan keuangan.
Kesulitan keuangan atau Financial Distress merupakan masalah yang perlu diperhatikan
Distress sebagai tahap penurunan kondisi keuangan yang amat signifikan sehingga dapat
diidentifikasi sebagai awal mula masalah keuangan yang lebih serius lagi seperti likuidasi
atau kebangkrutan. Menurut Altman dan Hotchkiss (2005), Financial Distrеss terjadi
sebelum kebangkrutan dan dimulai dari ketidakmampuan dalam memenuhi kеwajiban-
kеwajibannya, terutama kеwajiban yang bеrsifat jangka pеndеk tеrmasuk kеwajiban
likuiditas, dan juga tеrmasuk kеwajiban dalam kategori solvabilitas. Kesulitan keuangan
dibagi menjadi dua jenis, yang pertama adalah kegagalan ekonomi (economic failure)
yang terjadi karena kegagalan perusahaan dalam menutupi biaya operasi perusahaan.
Kedua adalah kegagalan keuangan (financial failure) yang disebabkan oleh technical
insolvency atau situasi dimana perusahaan gagal membayar kewajibannya yang jatuh
tempo namun aset yang dimiliki besar dari total hutang yang dimiliki, dan situasi
kebangkrutan dimana perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi kewajibannya
kepada debitur karena perusahaan mengalami kekurangan atau ketidakcukupan dana
untuk melanjutkan usahanya sehingga tujuan ekonomi perusahaan tidak dapat dicapai.
Menurut Hatianah (2017) Finаnciаl Distrеss dipеngаruhi olеh bеrbаgаi fаktor bаik
yаng bеrаsаl dаri intеrnаl аtаupun еkstеrnаl pеrusаhааn. Fаktor intеrnаl yаng
mеmpеngаruhi Finаnciаl Distrеss аdаlаh kеsulitаn аrus kаs, bеsаrnyа jumlаh hutаng
pеrusаhааn, tata kеlola pеrusahaan yang buruk dаn kеrugiаn yаng diаlаmi pеrusаhааn
dаlаm kеgiаtаn opеrаsionаl sеlаmа bеbеrаpа tаhun. Faktor еkstеrnаl yаng mеmpеngаruhi
finаnciаl distrеss lеbih bеrsifаt mаkroеkonomi dаn mеmbеrikаn pеngаruh sеcаrа lаngsung
mаupun tidаk lаngsung, seperti kеnаikаn indеks harga saham gabungan, inflasi dаn nilai
tukar.
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara Corporate
Governance dengan kemungkinan perusahaan mengalami Financial Distress. Seperti pada
penelitian yang dilakukan oleh Elloumi & Gueyie (2001), dalam penelitiannya
menemukan bahwa proporsi direksi independen dan kepemilikan blackholder secara
negatif berpengaruh terhadap kondisi Financial Distress, sedangkan kepemilikan oleh
direktur independen memiliki efek negatif pada kemungkinan Financial Distress.
Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Wardhani (2007), dalam penelitiannya
menemukan bahwa ukuran dewan komisaris memiliki dampak negatif terhadap
kemungkinan perusahaan mengalami Financial Distress, namun tidak ditemukan adanya
pengaruh antara Proporsi Komisaris Independen dan struktur kepemilikan terhadap
kemungkinan perusahaan mengalami Financial Distress. Siagian (2010) dalam
penelitiannya terkait Corporate Governance terhadap Financial Distress, menemukan
bahwa Jumlah dewan komisaris dan proporsi komisaris independen tidak berpengaruh
signifikan terhadap kesulitan keuangan perusahaan. Sedangkan ukuran dewan direksi,
kepemilikan institusional, kepemilikan keluarga, dan keberadaan komite audit
berpengaruh terhadap kesulitan keuangan.
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995, pasar modal adalah suatu kegiatan
yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik
yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga profesi yang berkaitan
dengan efek. Dalam hal ini, ketika penerapan Corporate Governance lemah, maka akan
menurunkan nilai perusahaan sehingga mengancam kelangsungan investasi yang akan
masuk ke perusahaan (Perdana dan Raharja, 2014). Informasi terkait kinerja keuangan
dan tata kelola perusahaan dapat didapatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai
regulator pasar modal di Indonesia.
Sementara itu, ukuran perusahaan dapat mencerminkan kemampuan perusahaan
dalam bertahan menghadapi tekanan ekonomi—perusahaan besar cenderung memiliki
akses yang lebih luas terhadap pendanaan dan sumber daya lainnya. Selain itu, ukuran
perusahaan (firm size) juga sering diasosiasikan dengan ketahanan terhadap tekanan
finansial. Perusahaan besar cenderung memiliki akses lebih luas terhadap pendanaan dan
diversifikasi bisnis, yang membuat mereka lebih tahan terhadap gejolak ekonomi.
Namun, tidak menutup kemungkinan perusahaan besar juga mengalami distress akibat
efisiensi yang buruk atau beban utang yang tinggi. Faktor lainnya adalah kinerja
keuangan, yang mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan
memenuhi kewajiban keuangannya. Indikator seperti Return on Assets (ROA), Debt to
Equity Ratio (DER), dan Current Ratio (CR) sering digunakan untuk mengevaluasi
kondisi keuangan perusahaan. Kinerja keuangan yang buruk menjadi salah satu indikator
utama timbulnya financial distress. Sedangkan kinerja keuangan, yang mencerminkan
efektivitas pengelolaan aset dan kewajiban, menjadi indikator penting dalam mengukur
kesehatan finansial perusahaan.
Penelitian ini dilakukan pada salah satu subsektor yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia (BEI) yaitu sektor transportasi. Sektor transportasi merupakan salah satu
subsektor dari sektor infrastruktur di Bursa Efek Indonesia (BEI). Infrastruktur
merupakan salah satu faktor penentu pembangunan ekonomi yang sama pentingnya
dengan faktor-faktor produksi umum lainnya seperti modal dan tenaga kerja. Kemajuan
pelaksanaan pembangunan suatu negara sangat dipengaruhi oleh kondisi infrastruktur
penunjangnya, terutama infrastruktur transportasi, peran transportasi lebih pada
pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat untuk mengakomodasi aktivitas sosial dan
ekonomi masyarakat ([Link], 2016). Sektor transportasi masih memiliki
peluang investasi yang besar dengan permintaan akan transportasi darat, udara dan laut, di
samping itu pasar domestik masih memiliki peluang yang cukup kuat. Pertumbuhan
sarana transportasi semakin meningkat karena pertumbuhan penduduk yang juga semakin
meningkat. Dengan banyaknya pertumbuhan tersebut semakin berkembanglah perusahaan
transportasi di Indonesia. Namun perkembangan tersebut dihambat oleh masalah-masalah
yang timbul pada sektor transportasi di Indonesia seperti meningkatnya harga bahan
bakar, kelangkaan bahan bakar dan kecelakaan transportasi yang dapat membuat
kerugian. Kerugian yang terus menerus akan mempengaruhi kondisi keuangan sehingga
berpotensi mengalami kesulitan keuangan atau Financial Distress.
Penelitian tentang pengaruh Corporate Governance, Ukuran Perusahaan dan Kinerja
Keuangan terhadap Financial Distress telah banyak dilakukan, tetapi hasil yang didapat
selalu beragam.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Corporate Governance, Ukuran
Perusahaan dan Kinerja Keuangan Terhadap Financial Distress (Pada Perusahaan
Transportasi dan Logistik yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020-
2023)”.
Selain tujuan penelitian, ada manfaat yang dapat diambil dari sebuah penelitian.
Penelitian ini mempunyai manfaat sebagai berikut:
Manfaat Teoretis:
Memperoleh bukti-bukti data empiris dalam menganalisis pengaruh Corporate
Governance, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan terhadap financial distress guna
memverifikasi dan mengembangkan teori yang melandasi penelitian ini, yaitu teori agensi.
Hasil penelitian ini memberikan informasi tentang pengaruh Corporate Governance,
ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan terhadap financial distress.
Penelitian ini juga memberikan informasi tentang interaksi antara komponen penerapan
Corporate Governance, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan dalam memengaruhi
financian distress, serta memberikan kontribusi dalam bidang laporan keuangan, yaitu
sebagai rujukan informasi terkait Corporate Governance, ukuran perusahaan, dan kinerja
keuangan di dalam laporan keuangan perusahaan transportasi dan logistik.
Manfaat Praktis:
1. Bagi peneliti, sebagai tambahan ilmu pengetahuan, tambahan wawasan, dan untuk
meningkatkan pemahaman mengenai Corporate Governance, ukuran perusahaan, dan
kinerja keuangan, serta bagaimana komponen tersebut dapat berpengaruh pada financial
distress.
2. Bagi akademis, sebagai sumber referensi dan rujukan bagi pihak akademis serta pihak
lain yang akan melakukan penelitian serupa atau mengembangkan penelitian terkait
Corporate Governance, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan, serta dampaknya pada
financial distress.
3. Bagi perusahaan, sebagai masukan dan bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan
tentang penerapan Corporate Governance.
4. Bagi investor, sebagai tambahan informasi dalam pengambilan keputusan investasi di
sebuah perusahaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Teori agensi merupakan dasar yang digunakan perusahaan untuk memahami Corporate
Governance. Menurut (Marjuni, 2019) Agency Theory merupakan teori hubungan antara agen
dengan principal. Hubungan atau kontrak antara principal sebagai pemilik dan agen sebagai
manajemen. Antara agent dan principal ada kondisi pengetahuan yang berbeda, agent
1
Jensen, M.C., & Meckling. W.H. (1976). Theory of the firm: Managerial behavior, agency cost and ownership
structure. Journal of Financial Economic 3:305- 360.
Http://[Link]/for/courses/spring/eco420/[Link].
2
Kimsen, K., Eksandy, A., & Erisa, Y. (2019). Pengaruh Return On Assets, Komite Audit Dan Leverage Terhadap
Penghindaran Pajak (Tax Avoidance) (Studi Pada Perusahaan Jasa Sub Sektor Perdagangan Besar Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012 – 2016). Competitive Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, 2(2), 1.
Https://[Link]/10.31000/Competitive.V2i2.908
mengetahui semua informasi tentang kondisi perusahaan, sedangkan principal hanya
mengetahui sebagian informasi sehingga terjadi asimetri informasi.
Teori keagenan dilandasi oleh beberapa asumsi, menurut (Rahmatia et al., 2020). Asumsi-
asumsi tersebut dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu asumsi tentang sifat manusia, asumsi
keorganisasian, dan asumsi informasi. Asumsi sifat manusia menekankan bahwa manusia
memiliki sifat mementingkan diri sendiri (self-interest), manusia memiliki daya pikir terbatas
mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan manusia selalu menghindari
risiko (risk averse). Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antara anggota organisasi,
efisiensi sebagai kriteria efektivitas, dan adanya asimetri informasi antara principal dan agen.
Asumsi informasi adalah bahwa informasi sebagai barang komoditi yang dapat
diperjualbelikan.
Manajer dan investor dapat berselisih paham karena hubungan keagenan. Konflik muncul
karena manusia merupakan makhluk ekonomi yang mempunyai sifat mementingkan diri
sendiri, sehingga pemegang saham dan manajemen berkeinginan untuk mencapai tujuannya.
Pemegang saham menginginkan pengembalian investasi yang lebih tinggi dan cepat,
sementara manajer menginginkannya kebutuhan mereka dipenuhi dengan menerima
kompensasi atau insentif setinggi mungkin atas upaya mereka. Secara keseluruhan, Teori
Keagenan memberikan kerangka kerja yang penting untuk memahami dinamika hubungan
antara pemilik dan manajemen. Dengan mengenali potensi konflik dan asimetri informasi,
perusahaan dapat merumuskan strategi yang lebih baik untuk meminimalkan risiko dan
mencapai tujuan bersama.
Menurut Priharta (2017), konflik keagenan yang terjadi antara berbagai pihak dengan
kepentingan berbeda dapat menghambat perusahaan dalam mencapai kinerja positif dan
menciptakan nilai yang bermanfaat bagi semua pihak. Selain itu, konflik ini menyebabkan
perusahaan menanggung biaya keagenan, yang berdampak merugikan baik bagi manajemen
maupun principal. Untuk mengatasi konflik kepentingan dan asimetri informasi antara
principal dan manajer, teori keagenan mengemukakan bahwa corporate governance
berfungsi sebagai solusi untuk mengelola konflik tersebut (Arista et al., 2019).
5. Perubahan Kreditur:
Jika perusahaan menghadapi kesulitan untuk mendapatkan pinjaman baru atau jika
kreditur menolak memperpanjang pinjaman yang ada, ini dapat menjadi tanda adanya
financial distress (Jeniffer et al., 2023). Penelitian sebelumnya telah menunjukkan
bahwa financial distress dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kinerja
keuangan yang buruk, struktur modal yang tidak seimbang, perubahan pasar, dan
faktor ekonomi yang tidak terduga. Memahami dan mengidentifikasi faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi financial distress menjadi penting dalam mengelola risiko
dan mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan.
3. Kurangnya Likuiditas:
Rendahnya Arus Kas: Rendahnya arus kas dapat menyebabkan financial distress Gangguan
dalam Manajemen Modal Kerja: Gangguan dalam manajemen modal kerja dapat
menyebabkan kesulitan likuiditas yang mengarah pada financial distress.
4. Perubahan Pasar yang Cepat:
Perubahan Permintaan Konsumen: Perubahan yang cepat dalam permintaan konsumen dapat
menyebabkan financial distress. Persaingan Industri yang Ketat: Persaingan industri yang
ketat dapat meningkatkan risiko financial distress. Perubahan Kebijakan Regulasi: Perubahan
kebijakan regulasi dapat menyebabkan financial distress pada perusahaan.
5. Ketergantungan pada Satu Pelanggan atau Pasar:
Ketergantungan Pelanggan: Ketergantungan yang tinggi pada satu pelanggan dapat
meningkatkan risiko financial distress. Ketidakstabilan Pasar: Jika perusahaan hanya fokus
pada satu pasar yang tidak stabil, maka risiko financial distress dapat meningkat.
6. Manajemen yang Lemah atau Tidak Efektif:
Kualitas Manajemen: Kualitas manajemen yang rendah dapat menyebabkan financial
distress. Pengambilan Keputusan yang Buruk: Pengambilan keputusan yang buruk dapat
menyebabkan masalah keuangan dan financial distress.
Corporate Governance
(CG) (X1)
Kinerja Keuangan
(X3)
Gambar 2.1 Bagan Kerangkan Teoritis
Keterangan:
X1, X2 , X3 :Variabe.l [Link]
Y : Variabe.l [Link]
: [Link] variabe.l [Link] [Link] variabe.l [Link] [Link] parsial.
: [Link] variabe.l [Link] [Link] variabe.l [Link] [Link] simultan
2.4 Pengembangan Hipotesis
Hipotesis merupakan suatu jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,
di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.
Jawaban ini bersifat sementara karena masih berdasarkan teori yang relevan dan belum
didukung oleh fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data (Yulianah, 2022)
3
.
Adapun penulis akan menggunakan hipotesis dengan simbol:
2.4.1 Pengaruh Corporate Governance terhadap Financial Distress (Studi Pada
Perusahaan Transportasi dan Logistik Yang Terdaftar Di BEI 2020 - 2023)
Corporate Governance (CG) merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan
perusahaan untuk menciptakan keseimbangan antara kepentingan berbagai pihak, seperti
manajemen, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya. Dalam teori agensi yang
dikemukakan oleh Jensen dan Meckling (1976), dijelaskan bahwa dalam suatu perusahaan
terdapat hubungan keagenan, yaitu hubungan antara pemilik perusahaan (principal) dan
manajemen (agent).
Manajemen sebagai agent memiliki tanggung jawab untuk mengelola perusahaan
demi kepentingan pemilik. Namun, sering kali terjadi konflik kepentingan karena manajer
cenderung lebih memprioritaskan kepentingan pribadi daripada kepentingan pemegang
saham. Dalam konteks ini, penerapan Corporate Governance (CG) yang baik berperan dalam
meminimalkan konflik keagenan dan memastikan bahwa manajemen bertindak secara
transparan dan akuntabel, sehingga dapat mengurangi risiko financial distress.
Beberapa penelitian sebelumnya mendukung bahwa penerapan Corporate
Governance (CG) yang efektif dapat meningkatkan kualitas pengelolaan perusahaan dan
mengurangi kemungkinan terjadinya financial distress, seperti yang ditunjukkan oleh Octavia
dan Widjaja (2020) serta Dewi dan Suputra (2019).
3
Yulianah, S. E. (2022). Metodelogi Penelitian Sosial. CV Rey Media Grafika.
2.4.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Financial Distress (Studi Pada
Perusahaan Transportasi dan Logistik Yang Terdaftar Di BEI 2020 - 2023)
Ukuran perusahaan mencerminkan besar kecilnya perusahaan yang diukur melalui
total aset, total penjualan, atau kapitalisasi pasar. Perusahaan dengan ukuran besar umumnya
memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber pendanaan, jaringan usaha yang lebih kuat,
serta reputasi yang lebih baik di mata kreditor maupun investor.
Menurut teori agensi, perusahaan besar cenderung memiliki struktur pengawasan
yang lebih ketat dan sistem pengendalian internal yang lebih baik, sehingga meminimalkan
potensi kesalahan manajemen yang dapat menimbulkan financial distress.
Penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Sari (2021) menunjukkan bahwa ukuran
perusahaan berpengaruh negatif terhadap financial distress. Hal ini berarti semakin besar
ukuran perusahaan, semakin kecil kemungkinan perusahaan mengalami financial distress.
Dengan demikian, hipotesis yang diajukan adalah:
H2: Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap financial distress.
2.4.3 Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Financial Distress (Studi Pada
Perusahaan Transportasi dan Logistik Yang Terdaftar Di BEI 2020 - 2023)
Kinerja keuangan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba,
mengelola aset, dan memenuhi kewajiban. Berdasarkan signaling theory yang dikemukakan
oleh Spence (1973), kinerja keuangan yang baik akan memberikan sinyal positif kepada
investor, kreditor, serta pihak lain yang berkepentingan, sehingga meningkatkan kepercayaan
dan memperlancar akses pendanaan.
Perusahaan dengan kinerja keuangan yang baik dinilai memiliki kondisi yang lebih
stabil, sehingga cenderung lebih mampu menghindari financial distress. Hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Yuliana dan Herawati (2020), yang menunjukkan bahwa
kinerja keuangan berpengaruh negatif terhadap financial distress.
Dengan demikian, hipotesis yang diajukan adalah:
H3: Kinerja keuangan berpengaruh negatif terhadap financial distress.