0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan25 halaman

Corporate Governance dan Financial Distress

Dokumen ini membahas pengaruh corporate governance, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan terhadap financial distress pada perusahaan sektor transportasi dan logistik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia antara tahun 2020 hingga 2023. Financial distress menjadi isu penting yang perlu diperhatikan karena dapat mengancam kelangsungan hidup perusahaan, terutama dalam konteks pemulihan pasca-pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi financial distress dan pentingnya penerapan corporate governance yang baik untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Diunggah oleh

emaskaya52
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan25 halaman

Corporate Governance dan Financial Distress

Dokumen ini membahas pengaruh corporate governance, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan terhadap financial distress pada perusahaan sektor transportasi dan logistik yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia antara tahun 2020 hingga 2023. Financial distress menjadi isu penting yang perlu diperhatikan karena dapat mengancam kelangsungan hidup perusahaan, terutama dalam konteks pemulihan pasca-pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi financial distress dan pentingnya penerapan corporate governance yang baik untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Diunggah oleh

emaskaya52
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE, UKURAN PERUSAHAAN, DAN

KINERJA KEUANGAN TERHADAP FINANCIAL DISTRESS PADA


PERUSAHAAN SEKTOR TRANSPORTASI DAN LOGISTIK YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) TAHUN 2020 - 2023)

Disusun oleh :

Nadia Annisa Shahradiva

NIM. 185020301111059

SKRIPSI

Disusun sebagai Salah Satu Syarat Meraih Derajat Sarjana Akuntansi

DEPARTEMEN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2025

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Dalam iklim bisnis yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, sektor transportasi dan

logistik memegang peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor

ini memiliki fungsi penting sebagai penopang kelancaran distribusi barang dan jasa di seluruh

wilayah Indonesia. Beberapa tahun terakhir, terutama setelah pandemi COVID-19,

perusahaan di bidang ini menghadapi berbagai tantangan besar, seperti kenaikan harga bahan

bakar, pergeseran pola konsumsi masyarakat, hingga tuntutan digitalisasi sistem logistik yang

mengharuskan adaptasi cepat.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa kinerja keuangan sektor

transportasi dan logistik mengalami fluktuasi cukup signifikan. Meski perekonomian mulai

pulih, sejumlah perusahaan masih memperlihatkan tanda-tanda financial distress, yaitu

kondisi kesulitan keuangan serius yang berpotensi berujung pada kebangkrutan apabila tidak

segera ditangani. Laporan keuangan tahun 2023 mencatat beberapa emiten di sektor ini,

seperti PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), mengalami penurunan rasio likuiditas

dan solvabilitas yang mengkhawatirkan, serta mencatat kerugian beruntun dalam beberapa

tahun terakhir.

Situasi financial distress ini menjadi isu penting yang harus mendapat perhatian dari

perusahaan, investor, maupun pemangku kepentingan lainnya. Financial distress sendiri

merupakan kondisi ketika perusahaan kesulitan memenuhi kewajiban keuangannya, yang jika

berlarut dapat berujung pada kebangkrutan. Fenomena ini semakin relevan mengingat adanya

dinamika perubahan ekonomi baik global maupun nasional, termasuk dampak pandemi

COVID-19 sejak awal tahun 2020 yang memberikan pengaruh besar terhadap berbagai sektor

industri, tak terkecuali sektor transportasi dan logistik di Indonesia.


Sektor transportasi dan logistik memegang peranan esensial dalam menunjang aktivitas

perekonomian, khususnya dalam aspek distribusi barang dan mobilitas masyarakat. Namun

demikian, sektor ini memiliki tingkat kerentanan yang cukup tinggi terhadap dinamika

perekonomian global, perubahan regulasi pemerintah, serta pergeseran pola permintaan pasar.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko perusahaan-perusahaan di dalamnya untuk mengalami

tekanan keuangan yang serius. Oleh karena itu, diperlukan analisis mendalam mengenai

faktor-faktor yang berpotensi memengaruhi timbulnya financial distress, terutama pada

periode krisis hingga fase pemulihan pasca pandemi, yaitu antara tahun 2020 hingga 2023.

Financial distress merupakan kondisi krusial yang dapat memengaruhi kelangsungan

hidup perusahaan, dan oleh karena itu perlu diantisipasi sedini mungkin. Untuk

mengidentifikasi potensi financial distress, perlu diperhatikan berbagai faktor internal

perusahaan. Salah satu faktor yang diyakini berperan penting adalah Corporate Governance.

Penerapan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dapat meningkatkan efisiensi

manajerial, transparansi, dan akuntabilitas, sehingga memperkecil risiko terjadinya financial

distress.

Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap financial distress antara lain adalah

aspek corporate governance, ukuran perusahaan (firm size), dan kinerja keuangan. Corporate

governance yang baik diyakini dapat meningkatkan transparansi, efisiensi, dan akuntabilitas

perusahaan, yang pada akhirnya mampu mengurangi kemungkinan terjadinya kesulitan

keuangan.

Tata kelola perusahaan atau Corporate Governance bukanlah istilah baru, melainkan

konsep lama yang kembali populer karena adanya perkembangan sosial dan kemajuan praktik

bisnis (Lukviarman, 2001). Corporate governance merupakan hubungan antara berbagai

partisipan dalam perusahaan yang menentukan arah dan kinerja perusahaan (Monks &
Minow, 2001). Organization for Economic Corporation and Development

(OECD) juga mendefinisikan corporate governance sebagai suatu struktur untuk menetapkan

tujuan perusahaan, saran untuk mencapai tujuan tersebut serta menentukan pengawasan atas

kinerja perusahaan. Corporate governance turut membantu terciptanya hubungan yang

kondusif dan dapat dipertanggung jawabkan diantara elemen sebuah perusahaan (dewan

komisaris, dewan direksi, dan para pemegang saham) dalam rangka meningkatkan kinerja

perusahaan.

Corporate governance mengendalikan perilaku pengelola perusahaan agar bertindak tidak

hanya menguntungkan dirinya sendiri namun juga menguntungkan seluruh stakeholder

termasuk pemilik perusahaan. Corporate governance dalam lingkungan bisnis saat ini terus

menjadi fokus utama bagi para regulator, investor, kreditur, dan pemangku kepentingan

lainnya di seluruh pasar keuangan dunia (Ho dan Wong, 2001).

Di Indonesia sendiri, ketertarikan akan isu corporate governance ini mulai menjadi

perhatian, khususnya ketika krisis ekonomi yang terjadi di kawasan Asia ikut menimpa

Indonesia pada pertengahan tahun 1997 hingga 1998. Krisis ekonomi tersebut tidak hanya

merusak kondisi keuangan Indonesia tetapi juga telah melemahkan perekonomian secara

keseluruhan (Ramadhani dan Lukviarman, 2009). Krisis ekonomi tahun 1998 merupakan

krisis terburuk yang pernah dialami Indonesia, akibatnya terjadi inflasi pada perekonomian

Indonesia. Pada tahun 1997, Indonesia mengalami peningkatan inflasi sebesar 11,10% dan

meningkat sebesar 77,60% pada tahun 1998 yang merupakan peningkatan inflasi tertinggi di

Indonesia.

Menurut Hamdani (2016:1) salah satu penyebab terjadinya krisis ekonomi di Indonesia

disinyalir sebagai akibat lemahnya Corporate Governance dan etika yang melandasinya.

Hadirnya Corporate Governance dalam pemulihan krisis di Indonesia menjadi mutlak


diperlukan, mengingat Corporate Governance mensyaratkan suatu pengelolaan yang baik

dalam sebuah organisasi. Pemerintah maupun investor mulai memberikan perhatian yang

cukup signifikan dalam praktik Corporate Governance. Survey mengenai tingkat Corporate

Governance dilakukan oleh Political Economic Risk Consultancy (PERC) di sebelas negara

di Asia termasuk Indonesia.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh PERC (Political Economic Risk

Consultancy), Indonesia menempati posisi tiga terbawah dari sebelas negara Asia dalam

menerapkan Corporate Governance. Menurut PERC yang dikutip dalam Sutedi (2012:50),

semakin tinggi skor, maka akan semakin buruk Corporate Governance-nya. Peringkat yang

diperoleh Indonesia menunjukkan belum efektifnya pelaksanaan Corporate Governance di

Indonesia dibanding dengan negara Asia yang disebutkan lainnya. Hal ini menunjukkan

bahwa pelaksanaan corporate governance di Indonesia masih rendah dan upaya perbaikan

Corporate Governance yang belum komprehensif. Buruknya Corporate Governance

mengancam kelangsungan investasi yang akan masuk ke Indonesia.

Menurut OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) dalam

Forum Corporate Governance Indonesia atau FCGI (2001) terdapat prinsip penting dalam

penerapan good corporate governance yaitu, transparansi, akuntabilitas, responsibilitas,

independensi, dan kewajaran. Tata kelola yang baik menuntut dibangun dan dijalankannya

prinsip-prinsip tersebut dalam proses manajerial. Melalui penerapan prinsip tersebut

diharapkan dapat menjamin keberlanjutan dan capaian kinerja perusahaan, sehingga

perusahaan dapat memberikan manfaat kepada seluruh stakeholder.

Pelaksanaan Corporate Governance dengan prinsip-prinsip tersebut juga diharap dapat

mengurangi permasalahan agensi yang timbul antara pemegang saham mayoritas dan

manajemen (pemegang saham minoritas) dalam suatu perusahaan. Menurut Wati (2012)
“kualitas internal perusahaan juga menjadi salah satu penentu baik buruknya manajemen

dalam mengoperasionalkan perusahaan dalam mengoptimalkan kinerjanya”. Semua

pemangku kepentingan khususnya manajemen perusahaan hendaknya memahami bahwa

dengan menerapkan good corporate governance, termasuk mempertimbangkan semua prinsip

dan fungsi tata kelola, diharapkan dapat mencegah atau mengurangi terjadinya kesulitan

keuangan (Hamdani, 2016:145).

Good Corporate Governance merupakan salah satu elemen kunci dalam pengoptimalan

kinerja, yang meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan direksi,

para pemegang saham, dan stakeholders lainnya (OECD, 1999). Untuk hal-hal yang berkaitan

dengan mekanisme Corporate Governance sendiri, peneliti akan menguji pengaruh ukuran

Dewan Direksi, Proporsi Komisaris Independen, Komite Audit, dan Kepemilikan

Institusional. Peneliti akan menguji pengaruh ukuran Dewan Direksi, Proporsi Komisaris

Independen, Komite Audit, dan Kepemilikan Institusional karena variabel tersebut di anggap

dapat mewakili Corporate Governance dalam pengoptimalan kinerja. Dewan Direksi

merupakan suatu mekanisme corporate governance yang bertugas untuk menentukan

kebijakan yang akan diambil atau strategi perusahaan tersebut secara jangka pendek maupun

jangka panjang (Wardhani, 2007). Direksi bertanggung jawab terhadap pengelolaan

perusahaan agar dapat menghasilkan keuntungan (profitability) dan memastikan

kesinambungan usaha perusahaan. Fungsi pengelolaan perusahaan oleh Direksi mencakup

lima tugas utama yaitu kepengurusan, manajemen risiko, pengendalian internal, komunikasi,

dan tanggung jawab social (KNKG, 2006). Peran pengawasan tanggung jawab dan fungsi

Dewan Direksi dapat lebih efektif dengan keberadaan Komisaris Independen. Berdasarkan

Keputusan Direksi BEI nomor: KEP-399/BEJ/07-2001, Komisaris Independen bertanggung

jawab untuk mengawasi kebijakan dan tindakan direksi, dan memberikan nasihat kepada

Dewan Direksi jika diperlukan. Oleh karena itu komisaris independen sangat diperlukan
untuk mengawasi direksi dalam menjalankan perusahaan selain dewan komisaris di

perusahaan. Kepemilikan institusional adalah bagian dari struktur kepemilikan dalam

perusahaan. Kepemilikan institusional merupakan proporsi saham biasa yang dimiliki oleh

para pihak institusional. Tingginya kepemilikan oleh investor institusional akan mendorong

aktivitas monitoring karena besarnya kekuatan voting mereka yang akan mempengaruhi

kebijakan manajemen (Schleifer dan Vishny, 1986 dalam Wardhani, 2007). Dengan adanya

kepemilikan saham oleh investor institusional yang tinggi ini maka pemegang saham

institusional ini dapat menggantikan atau memperkuat fungsi monitoring dari dewan dalam

perusahaan.

Komite Audit merupakan mekanisme Corporate Governance yang diasumsikan mampu

mengurangi masalah keagenan yang timbul dalam suatu perusahaan. Kompetensi komite

audit juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kondisi perusahaan. Komite audit

bertugas memberikan suatu pandangan tentang masalah akuntansi, pelaporan keuangan dan

penjelasannya, sistem pengawasan internal, serta auditor independen (FCGI, 2002). Di

Indonesia, pedoman pembentukan Komite Audit yang efektif (KNKG, 2002) menjelaskan

bahwa anggota Komite Audit yang dimiliki oleh perusahaan sedikitnya terdiri dri tiga orang,

diketuai oleh Komisaris Independen perusahaan dengan dua orang eksternal yang independen

terhadap perusahaan serta menguasai dan memiliki latar belakang akuntansi dan keuangan.

Kesulitan keuangan atau Financial Distress merupakan masalah yang perlu diperhatikan

oleh perusahaan. Platt dan Platt (2002) mendefinisikan Financial

Distress sebagai tahap penurunan kondisi keuangan yang amat signifikan sehingga dapat
diidentifikasi sebagai awal mula masalah keuangan yang lebih serius lagi seperti likuidasi
atau kebangkrutan. Menurut Altman dan Hotchkiss (2005), Financial Distrеss terjadi
sebelum kebangkrutan dan dimulai dari ketidakmampuan dalam memenuhi kеwajiban-
kеwajibannya, terutama kеwajiban yang bеrsifat jangka pеndеk tеrmasuk kеwajiban
likuiditas, dan juga tеrmasuk kеwajiban dalam kategori solvabilitas. Kesulitan keuangan
dibagi menjadi dua jenis, yang pertama adalah kegagalan ekonomi (economic failure)
yang terjadi karena kegagalan perusahaan dalam menutupi biaya operasi perusahaan.
Kedua adalah kegagalan keuangan (financial failure) yang disebabkan oleh technical
insolvency atau situasi dimana perusahaan gagal membayar kewajibannya yang jatuh
tempo namun aset yang dimiliki besar dari total hutang yang dimiliki, dan situasi
kebangkrutan dimana perusahaan gagal atau tidak mampu lagi memenuhi kewajibannya
kepada debitur karena perusahaan mengalami kekurangan atau ketidakcukupan dana
untuk melanjutkan usahanya sehingga tujuan ekonomi perusahaan tidak dapat dicapai.
Menurut Hatianah (2017) Finаnciаl Distrеss dipеngаruhi olеh bеrbаgаi fаktor bаik
yаng bеrаsаl dаri intеrnаl аtаupun еkstеrnаl pеrusаhааn. Fаktor intеrnаl yаng
mеmpеngаruhi Finаnciаl Distrеss аdаlаh kеsulitаn аrus kаs, bеsаrnyа jumlаh hutаng
pеrusаhааn, tata kеlola pеrusahaan yang buruk dаn kеrugiаn yаng diаlаmi pеrusаhааn
dаlаm kеgiаtаn opеrаsionаl sеlаmа bеbеrаpа tаhun. Faktor еkstеrnаl yаng mеmpеngаruhi
finаnciаl distrеss lеbih bеrsifаt mаkroеkonomi dаn mеmbеrikаn pеngаruh sеcаrа lаngsung
mаupun tidаk lаngsung, seperti kеnаikаn indеks harga saham gabungan, inflasi dаn nilai
tukar.
Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara Corporate
Governance dengan kemungkinan perusahaan mengalami Financial Distress. Seperti pada
penelitian yang dilakukan oleh Elloumi & Gueyie (2001), dalam penelitiannya
menemukan bahwa proporsi direksi independen dan kepemilikan blackholder secara
negatif berpengaruh terhadap kondisi Financial Distress, sedangkan kepemilikan oleh
direktur independen memiliki efek negatif pada kemungkinan Financial Distress.
Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Wardhani (2007), dalam penelitiannya
menemukan bahwa ukuran dewan komisaris memiliki dampak negatif terhadap
kemungkinan perusahaan mengalami Financial Distress, namun tidak ditemukan adanya
pengaruh antara Proporsi Komisaris Independen dan struktur kepemilikan terhadap
kemungkinan perusahaan mengalami Financial Distress. Siagian (2010) dalam
penelitiannya terkait Corporate Governance terhadap Financial Distress, menemukan
bahwa Jumlah dewan komisaris dan proporsi komisaris independen tidak berpengaruh
signifikan terhadap kesulitan keuangan perusahaan. Sedangkan ukuran dewan direksi,
kepemilikan institusional, kepemilikan keluarga, dan keberadaan komite audit
berpengaruh terhadap kesulitan keuangan.
Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995, pasar modal adalah suatu kegiatan
yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik
yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga profesi yang berkaitan
dengan efek. Dalam hal ini, ketika penerapan Corporate Governance lemah, maka akan
menurunkan nilai perusahaan sehingga mengancam kelangsungan investasi yang akan
masuk ke perusahaan (Perdana dan Raharja, 2014). Informasi terkait kinerja keuangan
dan tata kelola perusahaan dapat didapatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai
regulator pasar modal di Indonesia.
Sementara itu, ukuran perusahaan dapat mencerminkan kemampuan perusahaan
dalam bertahan menghadapi tekanan ekonomi—perusahaan besar cenderung memiliki
akses yang lebih luas terhadap pendanaan dan sumber daya lainnya. Selain itu, ukuran
perusahaan (firm size) juga sering diasosiasikan dengan ketahanan terhadap tekanan
finansial. Perusahaan besar cenderung memiliki akses lebih luas terhadap pendanaan dan
diversifikasi bisnis, yang membuat mereka lebih tahan terhadap gejolak ekonomi.
Namun, tidak menutup kemungkinan perusahaan besar juga mengalami distress akibat
efisiensi yang buruk atau beban utang yang tinggi. Faktor lainnya adalah kinerja
keuangan, yang mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan
memenuhi kewajiban keuangannya. Indikator seperti Return on Assets (ROA), Debt to
Equity Ratio (DER), dan Current Ratio (CR) sering digunakan untuk mengevaluasi
kondisi keuangan perusahaan. Kinerja keuangan yang buruk menjadi salah satu indikator
utama timbulnya financial distress. Sedangkan kinerja keuangan, yang mencerminkan
efektivitas pengelolaan aset dan kewajiban, menjadi indikator penting dalam mengukur
kesehatan finansial perusahaan.
Penelitian ini dilakukan pada salah satu subsektor yang tercatat di Bursa Efek
Indonesia (BEI) yaitu sektor transportasi. Sektor transportasi merupakan salah satu
subsektor dari sektor infrastruktur di Bursa Efek Indonesia (BEI). Infrastruktur
merupakan salah satu faktor penentu pembangunan ekonomi yang sama pentingnya
dengan faktor-faktor produksi umum lainnya seperti modal dan tenaga kerja. Kemajuan
pelaksanaan pembangunan suatu negara sangat dipengaruhi oleh kondisi infrastruktur
penunjangnya, terutama infrastruktur transportasi, peran transportasi lebih pada
pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat untuk mengakomodasi aktivitas sosial dan
ekonomi masyarakat ([Link], 2016). Sektor transportasi masih memiliki
peluang investasi yang besar dengan permintaan akan transportasi darat, udara dan laut, di
samping itu pasar domestik masih memiliki peluang yang cukup kuat. Pertumbuhan
sarana transportasi semakin meningkat karena pertumbuhan penduduk yang juga semakin
meningkat. Dengan banyaknya pertumbuhan tersebut semakin berkembanglah perusahaan
transportasi di Indonesia. Namun perkembangan tersebut dihambat oleh masalah-masalah
yang timbul pada sektor transportasi di Indonesia seperti meningkatnya harga bahan
bakar, kelangkaan bahan bakar dan kecelakaan transportasi yang dapat membuat
kerugian. Kerugian yang terus menerus akan mempengaruhi kondisi keuangan sehingga
berpotensi mengalami kesulitan keuangan atau Financial Distress.
Penelitian tentang pengaruh Corporate Governance, Ukuran Perusahaan dan Kinerja
Keuangan terhadap Financial Distress telah banyak dilakukan, tetapi hasil yang didapat
selalu beragam.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Corporate Governance, Ukuran
Perusahaan dan Kinerja Keuangan Terhadap Financial Distress (Pada Perusahaan
Transportasi dan Logistik yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2020-
2023)”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka terdapat beberapa


rumusan masalah, sebagai berikut:
1. Apakah corporate governance berpengaruh terhadap financial distress pada perusahaan
manufaktur?
2. Bagaimana pengaruh ukuran perusahaan terhadap financial distress?
3. Apakah kinerja keuangan berpengaruh terhadap financial distress?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah untuk:


1. Untuk menganalisis pengaruh corporate governance terhadap financial distress
2. Untuk menganalisis pengaruh ukuran perusahaan terhadap financial distress
3. Untuk menganalisis pengaruh kinerja keuangan terhadap financial distress

1.4 Manfaat Penelitian

Selain tujuan penelitian, ada manfaat yang dapat diambil dari sebuah penelitian.
Penelitian ini mempunyai manfaat sebagai berikut:

Manfaat Teoretis:
Memperoleh bukti-bukti data empiris dalam menganalisis pengaruh Corporate
Governance, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan terhadap financial distress guna
memverifikasi dan mengembangkan teori yang melandasi penelitian ini, yaitu teori agensi.
Hasil penelitian ini memberikan informasi tentang pengaruh Corporate Governance,
ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan terhadap financial distress.
Penelitian ini juga memberikan informasi tentang interaksi antara komponen penerapan
Corporate Governance, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan dalam memengaruhi
financian distress, serta memberikan kontribusi dalam bidang laporan keuangan, yaitu
sebagai rujukan informasi terkait Corporate Governance, ukuran perusahaan, dan kinerja
keuangan di dalam laporan keuangan perusahaan transportasi dan logistik.

Manfaat Praktis:
1. Bagi peneliti, sebagai tambahan ilmu pengetahuan, tambahan wawasan, dan untuk
meningkatkan pemahaman mengenai Corporate Governance, ukuran perusahaan, dan
kinerja keuangan, serta bagaimana komponen tersebut dapat berpengaruh pada financial
distress.
2. Bagi akademis, sebagai sumber referensi dan rujukan bagi pihak akademis serta pihak
lain yang akan melakukan penelitian serupa atau mengembangkan penelitian terkait
Corporate Governance, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan, serta dampaknya pada
financial distress.
3. Bagi perusahaan, sebagai masukan dan bahan pertimbangan dalam pembuatan keputusan
tentang penerapan Corporate Governance.
4. Bagi investor, sebagai tambahan informasi dalam pengambilan keputusan investasi di
sebuah perusahaan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Menurut Jensen and Meckling (1976)1, Teori Keagenan (Agency Theory) adalah sebuah
kontrak antara manajer (agent) dengan pemilik (principal). Agar hubungan kontraktual ini
dapat berjalan dengan lancar, pemilik akan mendelegasikan otoritas pembuatan keputusan
kepada manajer. Dalam kerangka kerja manajemen keuangan, hubungan keagenan terdapat di
antara pemegang saham dan manajer, dan/atau diantara pemegang saham dan kreditur.
Manajer-manajer dari perusahaan mungkin membuat keputusan yang bertentangan dengan
tujuan perusahaan untuk memaksimumkan kekayaan pemegang saham. Teori ini menyatakan
hubungan antara pemilik (principal) dan manajemen (agent). Manajemen memiliki kebijakan
untuk mengatur perusahaan dan mengambil keputusan atas nama investor. Sedangkan
menurut Kimsen et al. (2019)2 Teori Keagenan (Agency Theory) adalah teori yang
menjelaskan bahwa adanya hubungan kerja sama antara pihak principal yaitu investor yang
memberi wewenang dengan pihak agent yaitu manajer sebagai penerima wewenang. Pihak
manajemen dapat kemungkinan melakukan untuk kepentingan pribadi daripada kepentingan
para pemegang saham. Teori agensi dapat terjadi karena perbedaan kepentingan antara
kepemilikan dengan agen yang memicu praktik kecurangan yang dilakukan pihak agen.

Teori agensi merupakan dasar yang digunakan perusahaan untuk memahami Corporate
Governance. Menurut (Marjuni, 2019) Agency Theory merupakan teori hubungan antara agen
dengan principal. Hubungan atau kontrak antara principal sebagai pemilik dan agen sebagai
manajemen. Antara agent dan principal ada kondisi pengetahuan yang berbeda, agent

1
Jensen, M.C., & Meckling. W.H. (1976). Theory of the firm: Managerial behavior, agency cost and ownership
structure. Journal of Financial Economic 3:305- 360.
Http://[Link]/for/courses/spring/eco420/[Link].
2
Kimsen, K., Eksandy, A., & Erisa, Y. (2019). Pengaruh Return On Assets, Komite Audit Dan Leverage Terhadap
Penghindaran Pajak (Tax Avoidance) (Studi Pada Perusahaan Jasa Sub Sektor Perdagangan Besar Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012 – 2016). Competitive Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, 2(2), 1.
Https://[Link]/10.31000/Competitive.V2i2.908
mengetahui semua informasi tentang kondisi perusahaan, sedangkan principal hanya
mengetahui sebagian informasi sehingga terjadi asimetri informasi.

Teori keagenan dilandasi oleh beberapa asumsi, menurut (Rahmatia et al., 2020). Asumsi-
asumsi tersebut dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu asumsi tentang sifat manusia, asumsi
keorganisasian, dan asumsi informasi. Asumsi sifat manusia menekankan bahwa manusia
memiliki sifat mementingkan diri sendiri (self-interest), manusia memiliki daya pikir terbatas
mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan manusia selalu menghindari
risiko (risk averse). Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antara anggota organisasi,
efisiensi sebagai kriteria efektivitas, dan adanya asimetri informasi antara principal dan agen.
Asumsi informasi adalah bahwa informasi sebagai barang komoditi yang dapat
diperjualbelikan.

Berdasarkan kepentingan dirinya, asumsi-asumsi yang ada dapat dijelaskan bahwa


masing-masing individu semata-mata termotivasi oleh diri sendiri sehingga menimbulkan
konflik kepentingan antara principal dan agent. Mereka juga menjelaskan bahwa hubungan
agensi terjadi ketika satu orang atau lebih (principal) memperkerjakan orang lain (agent)
untuk memberikan suatu jasa dan kemudian mendelegasikan wewenang pengambilan
keputusan. Principal adalah pemegang saham atau investor dan yang dimaksud agen adalah
manajemen yang mengelola perusahaan. Inti dari hubungan keagenan adalah adanya
pemisahan fungsi antara kepemilikan di investor dan pengendalian di pihak manajemen,
(Faishal & Hadiprajitno, 2015).

Manajer dan investor dapat berselisih paham karena hubungan keagenan. Konflik muncul
karena manusia merupakan makhluk ekonomi yang mempunyai sifat mementingkan diri
sendiri, sehingga pemegang saham dan manajemen berkeinginan untuk mencapai tujuannya.
Pemegang saham menginginkan pengembalian investasi yang lebih tinggi dan cepat,
sementara manajer menginginkannya kebutuhan mereka dipenuhi dengan menerima
kompensasi atau insentif setinggi mungkin atas upaya mereka. Secara keseluruhan, Teori
Keagenan memberikan kerangka kerja yang penting untuk memahami dinamika hubungan
antara pemilik dan manajemen. Dengan mengenali potensi konflik dan asimetri informasi,
perusahaan dapat merumuskan strategi yang lebih baik untuk meminimalkan risiko dan
mencapai tujuan bersama.

Menurut Priharta (2017), konflik keagenan yang terjadi antara berbagai pihak dengan
kepentingan berbeda dapat menghambat perusahaan dalam mencapai kinerja positif dan
menciptakan nilai yang bermanfaat bagi semua pihak. Selain itu, konflik ini menyebabkan
perusahaan menanggung biaya keagenan, yang berdampak merugikan baik bagi manajemen
maupun principal. Untuk mengatasi konflik kepentingan dan asimetri informasi antara
principal dan manajer, teori keagenan mengemukakan bahwa corporate governance
berfungsi sebagai solusi untuk mengelola konflik tersebut (Arista et al., 2019).

Dengan demikian, konflik yang muncul dapat diminimalkan melalui mekanisme


pengawasan yang efektif guna menyelaraskan kepentingan semua pihak dalam perusahaan.
Salah satu mekanisme tersebut adalah corporate governance, yang berperan dalam
mengurangi konflik kepentingan dan biaya keagenan. Corporate governance juga
memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima imbal hasil dari
dana yang telah mereka investasikan.

2.1.2 Corporate Governance

Corporate governance merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan


perusahaan agar dapat mencapai tujuan dengan efektif dan efisien. Menurut Shleifer dan
Vishny (1997), corporate governance berfungsi untuk mengawasi manajemen agar bertindak
sesuai dengan kepentingan pemegang saham dan pemangku kepentingan lainnya. Salah satu
indikator penting corporate governance adalah proporsi dewan komisaris independen yang
dapat mengawasi kebijakan manajemen secara objektif.

Organization Economic Cooperation and Development (OECD) berpendapat bahwa


corporate governance adalah struktur hubungan serta kaitannya dengan tanggung jawab di
antara pihak-pihak terkait yang terdiri dari pemegang saham, anggota dewan direksi dan
komisaris termasuk manajer, yang dirancang untuk mendorong terciptanya suatu kinerja yang
kompetitif yang diperlukan dalam mencapai tujuan utama perusahaan. Monks (2003)
mendefinisikan corporate governance sebagai suatu sistem yang mengatur dan
mengendalikan perusahaan yang dapat menciptakan nilai tambah untuk semua stakeholder.
Sedangkan menurut The Indonesian Institute for Corporate Governance (IICG), Corporate
governance adalah proses dan struktur yang diterapkan dalam menjalankan perusahaan,
dengan tujuan utama untuk meningkatkan nilai pemegang saham dalam jangka panjang
dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholders lainnya. Sementara itu Cadbury
Committee dari Inggris seperti yang dikutip oleh Forum for Corporate Governance in
Indonesia (FCGI, 2001) mendefinisikan corporate governance sebagai seperangkat aturan
yang merumuskan hubungan antara para pemegang saham, manajer, kreditor, pemerintah,
karyawan, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya baik internal maupun eksternal
sehubungan dengan hak-hak dan tanggung jawab mereka, atau sistem yang mengarahkan dan
mengendalikan perusahaan. Paling tidak ada dua hal yang ditekankan dalam konsep ini yaitu
pentingnya hak pemegang saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat pada
waktunya serta adanya kewajiban bagi perusahaan untuk melakukan pengungkapan
(disclosure) secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap semua informasi kinerja
perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder.
2.1.3 Prinsip-prinsip Corporate governance

OECD mengembangkan seperangkat prinsip–prinsip corporate governance, atau yang lebih


dikenal sebagai The OECD Principles Of Corporate Governance. Prinsip-prinsip dasar dari
good corporate governance meliputi:
1. Transparency (keterbukaan informasi), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses
pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil
dan relevan mengenai perusahaan.
2. Accountability (akuntabilitas), yaitu kejelasan fungsi, struktur, sistem, dan
pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga pengelolaan perusahaan terlaksana
secara efektif.
3. Responsibility (pertanggungjawaban), yaitu kesesuaian (kepatuhan) di dalam
pengelolaan perusahaan terhadap prinsip korporasi yang sehat serta peraturan
perundangan yang berlaku.
4. Independency (kemandirian), yaitu suatu keadaan dimana perusahaan dikelola secara
profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak
manajemen yang tidak sesuai dengan peraturan dan perundangan-undangan yang
berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
5. Fairness (kesetaraan dan kewajaran), yaitu perlakuan yang adil dan setara di dalam
memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian serta peraturan
perundangan yang berlaku. (Kaihatu, 2006)
Prinsip-prinsip dasar good corporate governance yang dikeluarkan OECD
menyatakan bahwa kerangka kerja corporate governance seharusnya (1) melindungi hak
pemegang saham, (2) memperlakukan seluruh pemegang saham dengan sama, (3)
mengakui hak-hak stakeholder sesuai dengan hukum yang berlaku dan menerapkan
konsep corporate yang baik, (4) mengungkapkan seluruh hal yang material perusahaan
dengat akurat dan tepat waktu, termasuk kondisi keuangan, kinerja, kepemilikan dan tata
kelola perusahaan; serta (5) memastikan panduan stategik perusahaan, pengawasan
manajemen oleh dewan yang efektif dan pertanggung-jawaban dewan kepada perusahaan
dan pemegang saham.
Prinsip-prinsip dasar good corporate governance ini diharapkan menjadi titik rujukan
bagi para regulator (pemerintah) dalam membangun framework bagi penerapan good
corporate governance. Bagi para pelaku usaha dan pasar modal prinsip-prinsip ini dapat
menjadi guidance atau pedoman dalam mengelaborasi best practices bagi peningkatan
nilai dan kelangsungan hidup perusahaan.

2.1.4 Manfaat Corporate governance


Manfaat dari pelaksanaan good corporate governance menurut FCGI (2001):
1. Meningkatkan kinerja perusahaan melalui terciptanya proses pengambilan keputusan
yang lebih baik, meningkatkan efisiensi operasional perusahaan serta lebih
meningkatkan pelayanan kepada stakeholders.
2. Mempermudah diperolehnya dana pembiayaan yang lebih murah sehingga dapat lebih
meningkatkan corporate value.
3. Mengembalikan kepercayaan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
4. Pemegang saham akan merasa puas dengan kinerja perusahaan karena sekaligus akan
meningkatkan shareholders value dan dividen.
5. Sedangkan menurut IICG (2000), keuntungan yang bisa diambil oleh perusahaan
apabila menerapkan konsep good corporate governance adalah:
6. Meminimalkan agency cost. Selama ini para pemegang saham harus menanggung
biaya yang timbul akibat dari pendelegasian wewenang kepada manajemen. Biaya-
biaya ini bisa berupa kerugian karena manajemen menggunakan sumber daya
perusahaan untuk kepentingan pribadi maupun berupa biaya pengawasan yang harus
dikeluarkan perusahaan untuk mencegah terjadinya hal tersebut.
7. Meminimalkan cost of capital Perusahaan yang baik dan sehat akan menciptakan
suatu referensi positif bagi para kreditur. Kondisi ini sangat berperan dalam
meminimalkan biaya modal yang harus ditanggung bila perusahaan akan mengajukan
pinjaman, selain itu dapat memperkuat kinerja keuangan juga akan membuat produk
perusahaan akan menjadi lebih kompetitif.
8. Meningkatkan nilai saham perusahaan Suatu perusahaan yang dikelola secara baik
dan dalam kondisi sehat akan menarik minat investor untuk menanamkan modalnya.
Sebuah survey yang dilakukan oleh Russel Reynolds Associates (1977)
mengungkapkan bahwa kualitas dewan komisaris adalah salah satu faktor utama yang
dinilai oleh investor institusional sebelum mereka memutuskan untuk mernbeli saham
perusahaan tersebut.
9. Mengangkat citra perusahaan Citra perusahaan merupakan faktor penting yang sangat
erat kaitannya dengan kinerja dan keberadaan perusahaan tersebut dimata masyarakat
dan khususnya para investor. Citra (image) suatu perusahaan kadangkala akan
menelan biaya yang sangat besar dibandingkan dengan keuntungan perusahaan itu
sendiri, guna memperbaiki citra tersebut.
2.1.5 Mekanisme Governance
Terdapat dua mekanisme dalam penerapan corporate governance yaitu mekanisme
intern dan mekanisme ekstern. Mekanisme tersebut berguna untuk menyelesaikan konflik
agensi yang terjadi di perusahaan. Mekanisme intern berkaitan dengan pengendalian intern
perusahaan seperti struktur kepemilikan, kompensasi eksekutif, dewan direksi, dewan
komisaris, komite audit, dan pengungkapan keuangan (financial disclosure). Mekanisme
ekstern merupakan mekanisme kontrol yang memanfaatkan semua perangkat yang ada di luar
perusahaan, baik itu ekonomi, hukum dan sosial untuk mengontrol jalannya perusahaan agar
sesuai dengan keinginan pemegang saham dan stakeholders lainnya (Sidharta dan Cynthia,
2003). Perangkat tersebut meliputi pasar uang dan pasar modal yang bersaing, perangkat
hukum dan perundang-undangan yang lengkap, penegakan hukum yang adil, pasar barang
dan jasa yang aktif dan terbuka serta konsumen yang aktif dan sadar akan hak dan
kewajibannya. Mekanisme ini lebih berperan untuk mendisiplinkan manajer dibandingkan
mekanisme intern, karena lebih mempunyai kekuatan dan pengaruh.

2.1.6 Corporate governance di Indonesia


Penerapan Good Corporate Governance (GCG) telah menjadi fokus utama dalam
pengembangan iklim usaha di Indonesia terutama dalam rangka mendorong pertumbuhan
ekonomi. Perbaikan dan pengembangan corporate governance terus dilakukan, mengingat
posisi Indonesia dalam bidang ini masih sangat memprihatinkan. Survey tahun 1999 yang
dilakukan PricewaterhouseCoopers dengan responden investor institusional di Singapura
menunjukkan bahwa praktek corporate governance di Indonesia masih sangat rendah.
Sementara hasil survey Corporate Governance Watch 2007 yang dikeluarkan oleh CLSA
Asia-Pasific Markets suatu investment group independen di Hong Kong, menempatkan
Indonesia pada posisi terendah bersama Philipina dari 11 pasar Asia yang disurvey, dengan
kelemahannya pada peraturan, praktik, penegakkan, akuntansi, budaya governance dan
lingkungan politik.
Berbagai upaya telah dilakukan untuk menunjang dan mewujudkan GCG. Pada tahun
1999 Pemerintah membentuk Komite Nasional Kebijakan Corporate governance (KNKCG)
yang kemudian pada November 2004 berganti nama menjadi Komite Nasional Kebijakan
Governance (KNKG), yang lingkup tugasnya lebih luas tidak hanya membuat kebijakan
governance di sektor korporasi tetapi juga di sektor publik. Komite ini memiliki fungsi untuk
memprakarsai pengembangan tata kelola yang baik sekaligus memantau perbaikan tata kelola
perusahaan di Indonesia. Pada tahun 2001 KNKCG telah berhasil menerbitkan pedoman
praktik GCG (Code of Good Corporate Governance). Swasta juga berperan dalam
mengembangkan corporate governance ini, dengan membentuk organisasi non-pemerintah
seperti Forum for Corporate Governance for Indonesia (FCGI) pada tahun 2000, The
Indonesian Institute for Corporate governance (IICG), Corporate Leadership Development in
Indonesia (CLDI), dan Indonesian Institute of Independent Commissioners (IIIC).
Bae et al. (2003) menyatakan bahwa untuk memperbaiki corporate governance,
Pemerintah harus memperkuat ketentuan hukum yang melindungi kepentingan pemegang
saham dan meningkatkan penegakan hukum dan peraturan tersebut. Demikian juga
perusahaan harus memperbaiki corporate governancenya. Becht et al. (2005) menyatakan
bahwa paling tidak terdapat sedikitnya dua alasan perlunya intervensi dari regulator. Pertama,
regulasi yang dikeluarkan regulator (pemerintah) akan mendukung peraturan-peraturan pokok
yang ada di perusahaan, karena peraturan yang dibuat oleh pendiri perusahaan atau pemegang
saham bersifat subyektif dan tidak efisien dan tidak mungkin dapat melibatkan seluruh pihak
yang terlibat sehingga dengan regulasi yang ada dapat mencapai persetujuan yang
komprehensif. Kedua, walaupun perusahaan pada awalnya memiliki hak untuk mendesain
peraturan yang efisien, mereka mungkin ingin membatalkan atau mengubahnya di kemudian
hari, masalah akan timbul ketika perusahaan tidak memiliki komitmen untuk tidak mengubah
atau membatalkan peraturan yang telah dibuatnya. Ketika pemegang saham tersebar dan tidak
terlibat aktif dalam perusahaan hal itu mungkin terjadi bahwa manajemen mengubah aturan
untuk kepentingannya sendiri.
Berkaitan dengan corporate governance perusahaan publik di Indonesia paling tidak
terdapat dua peraturan yang terkait, yaitu undang-undang perseroan dan undang-undang di
pasar modal.

2.2 Ukuran Perusahaan


Suatu perusahaan pastinya ingin memiliki ukuran perusahaan yang besar. Ukuran
perusahaan ini lah yang akan menjadi nilai yang digunakan untuk menunjukkan besar
atau kecilnya suatu perusahaan. Menurut Sujianto dalam Nuraina (2012) menyatakan
bahwa ukuran perusahaan menggambarkan besar kecilnya suatu perusahaan yang
ditunjukkan oleh total aktiva, jumlah penjualan, rata-rata total penjualan dan rata-rata
total aktiva. Jadi, ukuran perusahaan merupakan ukuran atau besarnya aset yang dimiliki
oleh suatu perusahaan. Sitanggang (2013, hlm. 76) menyatakan bahwa, ukuran
perusahaan dengan kapasitas pasar atau penjualan yang besar menunjukan prestasi
perusahaan.
Menurut Analisa (2011) dalam Dewi (2013) menyatakan bahwa ukuran perusahaan
mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap nilai perusahaan suatu perusahaan. Dalam
hal ukuran perusahaan dilihat dari total assets yang dimiliki oleh perusahaan, yang dapat
dipergunakan untuk kegiatan operasi perusahaan.

2.2.1 Financial Distress


Financial distress merujuk pada kondisi keuangan yang serius dan berpotensi
mengancam kelangsungan operasional suatu perusahaan. Kondisi ini ditandai dengan
ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya, seperti pembayaran
hutang atau bunga pinjaman, serta kemungkinan menghadapi risiko kebangkrutan (Maherni
et al., 2022). Financial distress dapat terjadi akibat berbagai faktor, termasuk kinerja
keuangan yang buruk, utang yang berlebihan, atau perubahan pasar yang cepat. Beberapa
penelitian telah dilakukan untuk memahami dan mengidentifikasi indikator indikator
financial distress. Berikut adalah penjelasan mengenai financial distress beserta beberapa
sitasi yang dapat digunakan sebagai referensi:
1. Kesulitan Pembayaran Utang:
Financial distress sering kali ditandai oleh kesulitan perusahaan dalam membayar
utang atau bunga pinjaman sesuai dengan jadwal pembayaran yang ditetapkan. Hal ini
dapat mengindikasikan ketidakmampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
financialnya (Syuhada et al., 2020).
2. Perburukan Kinerja Keuangan:
Financial distress juga dapat terlihat dari perburukan kinerja keuangan perusahaan,
seperti penurunan laba yang signifikan, penurunan pendapatan, atau pertumbuhan
yang melambat. Rasio keuangan seperti rasio likuiditas yang rendah atau rasio utang
yang tinggi juga dapat mengindikasikan risiko financial distress (Nilasari, 2021).
3. Gangguan pada Arus Kas:
Jika perusahaan mengalami gangguan pada arus kas, termasuk kesulitan dalam
mengumpulkan piutang atau penurunan pendapatan yang signifikan, ini dapat menjadi
indikator financial distress (Napitupulu & Suryandari, 2021).
4. Penurunan Nilai Saham:
Financial distress sering kali disertai dengan penurunan nilai saham perusahaan. Jika
harga saham perusahaan terus mengalami penurunan yang signifikan atau harga
saham menjadi tidak stabil, ini dapat mencerminkan ketidakpercayaan pasar terhadap
kondisi keuangan perusahaan (Paulalengan & Dwi Ratnadi, 2019).

5. Perubahan Kreditur:
Jika perusahaan menghadapi kesulitan untuk mendapatkan pinjaman baru atau jika
kreditur menolak memperpanjang pinjaman yang ada, ini dapat menjadi tanda adanya
financial distress (Jeniffer et al., 2023). Penelitian sebelumnya telah menunjukkan
bahwa financial distress dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kinerja
keuangan yang buruk, struktur modal yang tidak seimbang, perubahan pasar, dan
faktor ekonomi yang tidak terduga. Memahami dan mengidentifikasi faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi financial distress menjadi penting dalam mengelola risiko
dan mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan.

2.2.2 Faktor Financial Distress


Financial distress dapat disebabkan oleh berbagai faktor yang mempengaruhi kondisi
keuangan perusahaan. Memahami faktor faktor ini penting dalam mengidentifikasi potensi
risiko financial distress dan mengambil langkah-langkah pencegahan yang diperlukan.
Berikut adalah beberapa faktor penyebab yang umum terkait dengan financial distress :
1. Kinerja Keuangan yang Buruk:
Penurunan Laba: Perusahaan dengan penurunan laba yang signifikan dapat menghadapi
risiko financial distress. Pertumbuhan Pendapatan yang Melambat: Pertumbuhan pendapatan
yang melambat dapat menjadi faktor penyebab financial distress. Penurunan Marjin
Keuntungan: Penurunan marjin keuntungan dapat menyebabkan financial distress.
2. Struktur Modal yang Tidak Seimbang: Tingkat Utang yang Tinggi:
Perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi cenderung berisiko mengalami financial
distress. Rasio Utang yang Meningkat: Peningkatan rasio utang dapat menjadi faktor
penyebab financial distress. Ketidakseimbangan Struktur Modal: Ketidakseimbangan antara
utang jangka pendek dan utang jangka panjang dapat meningkatkan risiko financial distress.

3. Kurangnya Likuiditas:
Rendahnya Arus Kas: Rendahnya arus kas dapat menyebabkan financial distress Gangguan
dalam Manajemen Modal Kerja: Gangguan dalam manajemen modal kerja dapat
menyebabkan kesulitan likuiditas yang mengarah pada financial distress.
4. Perubahan Pasar yang Cepat:
Perubahan Permintaan Konsumen: Perubahan yang cepat dalam permintaan konsumen dapat
menyebabkan financial distress. Persaingan Industri yang Ketat: Persaingan industri yang
ketat dapat meningkatkan risiko financial distress. Perubahan Kebijakan Regulasi: Perubahan
kebijakan regulasi dapat menyebabkan financial distress pada perusahaan.
5. Ketergantungan pada Satu Pelanggan atau Pasar:
Ketergantungan Pelanggan: Ketergantungan yang tinggi pada satu pelanggan dapat
meningkatkan risiko financial distress. Ketidakstabilan Pasar: Jika perusahaan hanya fokus
pada satu pasar yang tidak stabil, maka risiko financial distress dapat meningkat.
6. Manajemen yang Lemah atau Tidak Efektif:
Kualitas Manajemen: Kualitas manajemen yang rendah dapat menyebabkan financial
distress. Pengambilan Keputusan yang Buruk: Pengambilan keputusan yang buruk dapat
menyebabkan masalah keuangan dan financial distress.

2.2.3 Kinerja Keuangan


Kinerja keuangan merupakan ukuran tentang kemampuan perusahaan untuk menghasilkan
keuntungan, mengelola aset dan liabilitasnya, serta mencapai tujuan keuangan jangka pendek
dan jangka Panjang (Setyowati & Sari Nanda, 2019). Analisis kinerja keuangan digunakan
untuk mengevaluasi stabilitas, likuiditas, profitabilitas, efisiensi, dan pertumbuhan
perusahaan. Pemahaman yang baik tentang kinerja keuangan menjadi penting dalam
mengidentifikasi risiko dan mengambil tindakan yang tepat untuk mengelola keuangan
perusahaan dengan efektif.
Berikut adalah beberapa aspek kinerja keuangan yang umum dianalisis dalam penelitian
mengenai financial distress:
1. Profitabilitas: Return on Assets (ROA):
ROA adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aset
yang dimiliki. Return on Equity (ROE): ROE mengukur kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham.
2. Likuiditas:
Current Ratio: Current ratio mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban
jangka menggunakan aset lancar dengan Quick Ratio: Quick ratio adalah rasio yang
mengukur kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek tanpa
mengandalkan persediaan.
3. Solvabilitas: Debt-to-Equity Ratio:
Debt-to-equity ratio mengukur proporsi utang perusahaan terhadap modal sendiri atau
ekuitas. Debt Ratio: Debt ratio mengukur proporsi total utang perusahaan terhadap total asset.
4. Efisiensi:
Inventory Turnover Ratio: Inventory turnover ratio mengukur efisiensi pengelolaan
persediaan perusahaan. Account Receivable Turnover Ratio: Account receivable
turnover ratio mengukur efisiensi dalam mengumpulkan pelanggan.
5. Pertumbuhan:
Revenue Growth Rate: Revenue growth rate mengukur tingkat pertumbuhan pendapatan
perusahaan dari tahun ke tahun. Earnings per Share (EPS) Growth: EPS growth mengukur
tingkat pertumbuhan laba per saham perusahaan.

2.3 Kerangka Pikir Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk memberikan data-data berupa bukti empiris ada atau tidaknya
Pengaruh Corpotate Governance, Ukuran Perusahaan, Kinerja Keuangan Terhadap Financial
Distress, dengan variabel independen yaitu Corpotate Governance, Ukuran Perusahaan,
Kinerja Keuangan, sedangkan variabel dependen yaitu Financial Distress. Bagan kerangka
teoritis ini digunakan untuk memudahkan jalan pemikiran terhadap permasalah yang sedang
diteliti.

Corporate Governance
(CG) (X1)

Ukuran Perusahaan Financial Distress


(X2) (Y)

Kinerja Keuangan
(X3)
Gambar 2.1 Bagan Kerangkan Teoritis

Keterangan:
X1, X2 , X3 :Variabe.l [Link]
Y : Variabe.l [Link]
: [Link] variabe.l [Link] [Link] variabe.l [Link] [Link] parsial.
: [Link] variabe.l [Link] [Link] variabe.l [Link] [Link] simultan
2.4 Pengembangan Hipotesis
Hipotesis merupakan suatu jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian,
di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.
Jawaban ini bersifat sementara karena masih berdasarkan teori yang relevan dan belum
didukung oleh fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data (Yulianah, 2022)
3
.
Adapun penulis akan menggunakan hipotesis dengan simbol:
2.4.1 Pengaruh Corporate Governance terhadap Financial Distress (Studi Pada
Perusahaan Transportasi dan Logistik Yang Terdaftar Di BEI 2020 - 2023)
Corporate Governance (CG) merupakan sistem yang mengatur dan mengendalikan
perusahaan untuk menciptakan keseimbangan antara kepentingan berbagai pihak, seperti
manajemen, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya. Dalam teori agensi yang
dikemukakan oleh Jensen dan Meckling (1976), dijelaskan bahwa dalam suatu perusahaan
terdapat hubungan keagenan, yaitu hubungan antara pemilik perusahaan (principal) dan
manajemen (agent).
Manajemen sebagai agent memiliki tanggung jawab untuk mengelola perusahaan
demi kepentingan pemilik. Namun, sering kali terjadi konflik kepentingan karena manajer
cenderung lebih memprioritaskan kepentingan pribadi daripada kepentingan pemegang
saham. Dalam konteks ini, penerapan Corporate Governance (CG) yang baik berperan dalam
meminimalkan konflik keagenan dan memastikan bahwa manajemen bertindak secara
transparan dan akuntabel, sehingga dapat mengurangi risiko financial distress.
Beberapa penelitian sebelumnya mendukung bahwa penerapan Corporate
Governance (CG) yang efektif dapat meningkatkan kualitas pengelolaan perusahaan dan
mengurangi kemungkinan terjadinya financial distress, seperti yang ditunjukkan oleh Octavia
dan Widjaja (2020) serta Dewi dan Suputra (2019).

Dengan demikian, hipotesis yang diajukan adalah:


H1: Corporate governance berpengaruh negatif terhadap financial distress.

3
Yulianah, S. E. (2022). Metodelogi Penelitian Sosial. CV Rey Media Grafika.
2.4.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Financial Distress (Studi Pada
Perusahaan Transportasi dan Logistik Yang Terdaftar Di BEI 2020 - 2023)
Ukuran perusahaan mencerminkan besar kecilnya perusahaan yang diukur melalui
total aset, total penjualan, atau kapitalisasi pasar. Perusahaan dengan ukuran besar umumnya
memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber pendanaan, jaringan usaha yang lebih kuat,
serta reputasi yang lebih baik di mata kreditor maupun investor.
Menurut teori agensi, perusahaan besar cenderung memiliki struktur pengawasan
yang lebih ketat dan sistem pengendalian internal yang lebih baik, sehingga meminimalkan
potensi kesalahan manajemen yang dapat menimbulkan financial distress.
Penelitian yang dilakukan oleh Putri dan Sari (2021) menunjukkan bahwa ukuran
perusahaan berpengaruh negatif terhadap financial distress. Hal ini berarti semakin besar
ukuran perusahaan, semakin kecil kemungkinan perusahaan mengalami financial distress.
Dengan demikian, hipotesis yang diajukan adalah:
H2: Ukuran perusahaan berpengaruh negatif terhadap financial distress.
2.4.3 Pengaruh Kinerja Keuangan terhadap Financial Distress (Studi Pada
Perusahaan Transportasi dan Logistik Yang Terdaftar Di BEI 2020 - 2023)
Kinerja keuangan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba,
mengelola aset, dan memenuhi kewajiban. Berdasarkan signaling theory yang dikemukakan
oleh Spence (1973), kinerja keuangan yang baik akan memberikan sinyal positif kepada
investor, kreditor, serta pihak lain yang berkepentingan, sehingga meningkatkan kepercayaan
dan memperlancar akses pendanaan.
Perusahaan dengan kinerja keuangan yang baik dinilai memiliki kondisi yang lebih
stabil, sehingga cenderung lebih mampu menghindari financial distress. Hal ini sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Yuliana dan Herawati (2020), yang menunjukkan bahwa
kinerja keuangan berpengaruh negatif terhadap financial distress.
Dengan demikian, hipotesis yang diajukan adalah:
H3: Kinerja keuangan berpengaruh negatif terhadap financial distress.

2.4.4 Pengaruh Simultan antara Corporate Governance, Ukuran Perusahaan dan


Kinerja Keuangan terhadap Financial Distress (Studi Pada Perusahaan
Transportasi dan Logistik Yang Terdaftar Di BEI 2020 - 2023)
Selain pengaruh secara parsial, corporate governance, ukuran perusahaan, dan
kinerja keuangan juga diperkirakan memiliki pengaruh secara simultan terhadap
financial distress. Ketiga faktor ini saling mendukung dan berkontribusi dalam
menjaga keberlangsungan usaha perusahaan.
Perusahaan yang memiliki tata kelola yang baik, ukuran yang besar, serta
kinerja keuangan yang baik akan memiliki ketahanan yang lebih tinggi terhadap
tekanan ekonomi maupun kesalahan pengelolaan, sehingga dapat mengurangi risiko
financial distress.
Penelitian yang dilakukan oleh Dewi dan Suputra (2019) juga menunjukkan
bahwa corporate governance, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan secara
bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap financial distress.
Dengan demikian, hipotesis yang diajukan adalah:
H4: Corporate governance, ukuran perusahaan, dan kinerja keuangan secara simultan
berpengaruh terhadap financial distress.

Anda mungkin juga menyukai