0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Pengaruh CLT pada Hasil Belajar Bahasa Arab

Dokumen ini membahas efektivitas penggunaan strategi Communicative Language Teaching (CLT) dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas 10 MAN 2 Ponorogo. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh CLT terhadap hasil belajar siswa dan membandingkannya dengan metode pembelajaran konvensional. Diharapkan, penerapan CLT dapat meningkatkan keterampilan berbahasa Arab siswa serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik dan komunikatif.

Diunggah oleh

Sahrul Gunawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Pengaruh CLT pada Hasil Belajar Bahasa Arab

Dokumen ini membahas efektivitas penggunaan strategi Communicative Language Teaching (CLT) dalam pembelajaran bahasa Arab di kelas 10 MAN 2 Ponorogo. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh CLT terhadap hasil belajar siswa dan membandingkannya dengan metode pembelajaran konvensional. Diharapkan, penerapan CLT dapat meningkatkan keterampilan berbahasa Arab siswa serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih menarik dan komunikatif.

Diunggah oleh

Sahrul Gunawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN STRATEGI COMMUNICATIVE LANGUAGE

TEACHING ( CLT ) TERHADAP HASIL BELAJAR PEMBELAJARAN BAHASA


ARAB DI KELAS 10 MAN 2 PONOROGO TAHUN 2025/2026

DISUSUN OLEH:

SAHRUL GUNAWAN
432022121100

FAKULTAS TARBIYAH
PRODI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
UNIVERSITAS DARUSSALAM GONTOR
2025

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH


Bahasa Arab adalah salah satu bahasa asing yang banyak diminati dan dipelajari oleh
pelajar di Indonesia. Di madrasah Islamiyah, pembelajaran bahasa Arab memiliki peran
penting dalam membekali siswa agar mampu memahami dan menguasai bahasa tersebut
dalam konteks keagamaan, sosial, dan budaya.1 Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan
bahwa pembelajaran bahasa Arab seringkali menghadapi sejumlah tantangan yang
menghambat efektivitasnya. Salah satu masalah utama yang dihadapi adalah, masih banyak
siswa yang menganggap pelajaran bahasa Arab sebagai sesuatu yang menakutkan. Sebagian
siswa juga merasa bahwa pelajaran ini kurang penting, sehingga mereka kurang termotivasi
untuk mempelajarinya. Salah satu penyebabnya adalah pengalaman belajar bahasa Arab yang
dirasa membosankan dan kurang menarik.2

Metode pembelajaran konvesional yang umumnya mengandalkan ceramah dan


hafalan, tanpa melibatkan interaksi aktif antar siswa, sering kali menjadikan proses belajar
terasa monoton dan kurang menarik.3 Peserta didik yang terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran umumnya menunjukkan motivasi belajar yang lebih tinggi serta pemahaman
yang lebih mendalam terhadap materi yang disampaikan. Oleh karena itu, diperlukan
pengembangan metode pembelajaran yang inovatif dan responsif, guna mendorong interaksi
yang lebih intensif serta menumbuhkan ketertarikan siswa terhadap proses belajar4.

Salah satu pendekatan yang telah terbukti efektif adalah dengan menterlibatkan siswa
dalam pembelajaran. Seiring berkembangnya pendekatan pembelajaran, strategi baru seperti
pembelajaran kontekstual dikembangkan untuk mendorong keterlibatan langsung siswa
dalam situasi nyata. Yaitu dengan menggunakan Metode COMMUNICATIVE LEARNING
TEACHING Strategi ini efektif meningkatkan partisipasi, keberanian, dan kepercayaan diri
siswa dalam berbahasa asing, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang mendukung
dan komunikatif.5

Menurut Miftahul Mufid et al. (2023), penerapan pendekatan COMMUNICATIVE


LANGUAGE TEACHING dalam pembelajaran Bahasa Arab terbukti mampu memberikan
dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan keterampilan berbicara (maharah al-
kalam) siswa, khususnya di jenjang sekolah menengah6. Melalui pendekatan ini, siswa lebih
terlibat aktif dalam proses belajar mengajar karena mereka tidak hanya mempelajari struktur
1
Muhammad Zainuri, PERKEMBANGAN BAHASA ARAB DI INDONESIA, t.t.
2
Putri Anjarsari, STIMULUS GURU DAN RESPON SISWA DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB DI TINGKAT
SMP, t.t.
3
Anisyah Yuniarti dkk., “MEDIA KONVENSIONAL DAN MEDIA DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN,” JUTECH :
Journal Education and Technology 4, no. 2 (2023): 84–95, [Link]
4
“‫دراسة حتليلية لتطبيق التعلم النشط يف مؤسسات التعليم قبل اجالمعي باململكة العربية السعودية‬,” t.t.,
diakses 14 Oktober 2025,
[Link]
5
Mu Ida Nur Fadhilah dan Qomi Akit Jauhari, “Implementasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Praktik
Langsung dengan Pendekatan Communicative Language Teaching (CLT) untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri
Siswa MA Tarbiyatul Banin Banat Tuban,” Language Teaching 1, no. 1 (2025).
6
Fadhilah dan Jauhari, “Implementasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Praktik Langsung dengan
Pendekatan Communicative Language Teaching (CLT) untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa MA
Tarbiyatul Banin Banat Tuban,” 2025.
bahasa secara teoritis, tetapi juga dilatih untuk menggunakan bahasa Arab dalam konteks
komunikasi sehari-hari yang bersifat nyata dan bermakna.

Berdasarkan fenomena tersebut, diperlukan sebuah penelitian untuk mengetahui


sejauh mana penerapan strategi COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING dapat
berpengaruh terhadap hasil belajar Bahasa Arab siswa, khususnya di MAN 2 Ponorogo.
Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai
efektivitas pendekatan komunikatif dalam meningkatkan penguasaan bahasa Arab siswa, baik
dari segi pemahaman konsep maupun keterampilan berbahasa. Selain itu, studi ini juga akan
membandingkan efektivitas CLT dengan metode pembelajaran konvensional yang selama ini
digunakan dalam proses pembelajaran di kelas.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka penelitian ini akan mengkaji
beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimana pengaruh penerapan strategi Communicative Language Teaching (CLT)


terhadap hasil belajar Bahasa Arab siswa kelas 10 MAN 2 Ponorogo?
2. Bagaimana perbedaan hasil belajar Bahasa Arab antara siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan strategi Communicative Language Teaching (CLT) dan siswa
yang mengikuti pembelajaran konvensional di kelas 10 MAN 2 Ponorogo?

C. TUJUAN PENELITIAN

1. Mengetahui pengaruh penerapan strategi Communicative Language Teaching (CLT)


terhadap hasil belajar Bahasa Arab siswa kelas 10 MAN 2 Ponorogo.
2. Menganalisis perbedaan hasil belajar Bahasa Arab antara siswa yang mengikuti
pembelajaran dengan strategi Communicative Language Teaching (CLT) dan siswa
yang mengikuti pembelajaran konvensional di kelas 10 MAN 2 Ponorogo.

D. MANFAAT PENELITIAN

1. MANFAAT TEORITIS
a. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pengembangan
teori-teori pembelajaran bahasa, khususnya dalam konteks pembelajaran
bahasa Arab. Dengan adanya pembelajaran komunikatif ini seperti
Communicative Language Teaching, diharapakan dapat memperkaya literatur
mengenai efektivitas pendekatan ini dalam meningkatkan keteribatan siswa
dan hasil belajar mereka.
b. meningkatkan partisipasi, keberanian, dan kepercayaan diri siswa dalam
berbahasa asing, sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang mendukung
dan komunikatif.
2. MANFAAT PRAKTIS BAGI PENDIDIK
a. Memberikan panduan bagi guru bahasa arab dalam mengembangkan metode
pembelajaran yang lebih menarik dan efektif, pembelajaran komunikatif yang
melibatkan peserta didik dapat menjadi alternatif bagi metode pembelajaran
konvensional yang kurang efektif dan monoton.

3. MANFAAT PRAKTIS BAGI SISWA


a. Meningkatkan minat siswa dalam proses pembelajaran mengajar melalui
pembelajaran yang lebih seru dan [Link] aktivasi simulasi memberikan
kesempatan bagi siswa untuk belajar secara aktif dan memperoleh pengalaman
langsung yang membuat pembelajaran lebih menyenangkan.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. LANDASAN TEORI

1. Strategi Communicative Language Teaching ( CLT )


Menurut Richards & Rodgers, 2007 Pendekatan ini berfokus pada pengembangan
kemampuan komunikatif siswa, di mana bahasa diajarkan melalui interaksi, penggunaan
bahasa yang otentik, dan penekanan pada makna daripada hanya sekadar bentuk
kebahasaan7. Secara umum, CLT bertujuan agar siswa dapat menggunakan bahasa target
secara mandiri dan efektif dalam berbagai situasi kehidupan nyata.
Ada lima Prinsip-prinsip pokok dasar Communicative language teaching :
1. Komunikasi sebagai Tujuan Utama: Tujuan utama CLT adalah mengembangkan
kompetensi komunikatif, yaitu kemampuan untuk menggunakan bahasa secara efektif
dalam berbagai konteks nyata. Pembelajaran bahasa dianggap sebagai proses belajar
berkomunikasi dalam bahasa target.8
2. Penggunaan Bahasa Kontekstual: Bahasa diajarkan dalam konteks yang bermakna,
bukan secara terisolasi. Tata bahasa dan kosakata disajikan dalam situasi yang relevan
agar siswa dapat melihat bagaimana bahasa digunakan dalam kehidupan nyata.
3. Fokus pada Keempat Keterampilan: CLT mengintegrasikan keempat keterampilan
berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) sejak awal, karena
komunikasi yang efektif memerlukan gabungan dari keempatnya.
4. Pembelajaran Berbasis Tugas dan Proyek: Kegiatan kelas dirancang untuk meniru
interaksi dunia nyata, seringkali melibatkan kerja kelompok, bermain peran, dan
diskusi yang mengharuskan siswa menggunakan bahasa target untuk berkomunikasi.
Tugas-tugas ini tidak monoton, melainkan dirancang untuk alasan tertentu, seperti
pemecahan masalah.9
5. Penekanan pada Kelancaran daripada Akurasi: Meskipun akurasi penting, CLT
lebih memprioritaskan kelancaran dan kemampuan untuk mengungkapkan ide,
bahkan jika ada beberapa kesalahan tata bahasa. Fokusnya adalah pada komunikasi
yang bermakna.10

7
Jack C. Richards dan Theodore S. Rodgers, Approaches and Methods in Language Teaching, 2. ed., 13. print,
Cambridge Language Teaching Library (Cambridge Univ. Press, 2007).
8
Dr Jimmy Sharma, Enhancing Communicative Competence of Undergraduate Students Using Communicative
Language Teaching Approach (CLT), t.t.
9
Mu Ida Nur Fadhilah dan Qomi Akit Jauhari, “Implementasi Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Praktik
Langsung dengan Pendekatan Communicative Language Teaching (CLT) untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri
Siswa MA Tarbiyatul Banin Banat Tuban,” Language Teaching 1, no. 1 (2025).
10
Yuan Zhao, “Exploring the Balance between Fluency and Accuracy in Language Teaching Methodologies: A
Comparative Analysis of PPP, TBL, CLT, and GTM,” Journal of Education and Educational Research 8, no. 1
(2024): 127–30, [Link]
Dan menurut (Yusran,2010,hlm.33). pembelajaran bahasa dalam pendekatan
komunikatif adalah untuk membekali peserta didik agar dapat berinteraksi secara
bermakna, dengan mendorong mereka memahami dan menggunakan bahasa secara alami
dalam berbagai konteks komunikasi11. Dalam pembelajaran bahasa Arab, pendekatan
komunikatif sangat efektif karena menekankan pentingnya interaksi aktif sebagai inti dari
proses belajar bahasa. Bahasa merupakan sarana komunikasi, sehingga pembelajar perlu
dilibatkan dalam kegiatan yang memungkinkan mereka menggunakan bahasa secara
nyata dan kontekstual. Melalui pendekatan ini, siswa dapat terlibat dalam dialog, bertukar
ide, dan saling memberikan umpan balik dalam penggunaan bahasa Arab. Misalnya,
mereka dapat berlatih percakapan, menyusun kalimat, atau memainkan peran dalam
situasi komunikasi sehari-hari menggunakan bahasa Arab.
Selain itu, Pendekatan komunikatif membantu menciptakan suasana belajar yang
nyaman dan mendukung, sehingga siswa lebih percaya diri dalam berbicara. Kesalahan
dianggap sebagai bagian dari proses belajar, bukan sesuatu yang harus ditakuti. Selain
meningkatkan keterampilan berbahasa Arab, pendekatan ini juga mendorong keterlibatan
aktif dan rasa tanggung jawab siswa dalam pembelajaran.12

Adapun Langkah Langkah dalam penerapan strategi :

1. Kegiatan Pendahuluan
A. Salam & Doa

a. Guru membuka kelas dengan salam dan doa bersama.


b. Menumbuhkan suasana yang positif dan nyaman.

B. Apersepsi / Pemantik

Guru menanyakan kepada siswa:

a. Siapa yang pernah pergi ke pasar ?


b. Apa yang kalian beli di pasar ?

Siswa menjawab menggunakan bahasa Indonesia, lalu guru menyisipkan beberapa kosakata
Arab seperti: ‫سوٌق – َباِئٌع – ُمْش َتٍر – ِسْعٌر‬

C. Menyampaikan tujuan pembelajaran


11
“yusran,+5kartiniPENDEKATAN+KOMUNIKATIF,” t.t.
12
Mutia Syarliza Nst dkk., “Enhancing Speaking Confidence in Elementary Students through Task-Based and
Communicative Approaches: A Community-Based Study at Rumah Tahfiz Daarul Uswah,” JURNAL PENDIDIKAN
DAN ILMU SOSIAL (JUPENDIS) 3, no. 2 (2025): 366–74, [Link]
Guru menjelaskan tujuan:

“Hari ini kita akan berlatih menggunakan bahasa Arab untuk berkomunikasi di pasar, melalui
kegiatan bermain peran atau roleplaying.”

2. Kegiatan inti

Menggunakan prinsip CLT dan roleplaying

Langkah 1: Pengenalan Kosakata (Vocabulary Building)

Guru mengenalkan kosakata terkait pasar :

a. Tempat: ‫ ِم يَز اٌن‬، ‫ ُدَّكاٌن‬،‫سوٌق‬


b. Pelaku: ‫ َز ُبوٌن‬،‫ ُمْش َتٍر‬، ‫َباِئٌع‬
c. Barang: ‫ َخْض َر اَواٌت‬، ‫ َس َكٌر‬، ‫ َلْح ٌم‬،‫ َف اِكَه ٌة‬، ‫ُخ ْبٌز‬
d. Ekspresi: ‫…ِبَكْم َه َذا؟ – َه َذا َغ اٍل – ُأ ِريُد‬

Langkah 2: Latihan Dialog (Practice in Pairs)

Guru membagikan dialog pendek antara penjual dan pembeli :

a. ‫ ِبَكِم الُّتَّفاُح ؟‬:‫لُمْش َتِري‬


b. ‫ ِبَخ ْمَس ِة آاَل ٍف ِلْلِكيُلو‬:‫الَباِئُع‬
c. ‫ ُأِريُد ِكيُلًوا َواِح ًدا‬:‫الُمْش َتِري‬

Siswa berlatih secara berpasangan dan bergantian peran.

Langkah 3: Roleplaying (Simulasi Pasar)


Guru membagi kelas menjadi dua kelompok besar:

a. Penjual (‫)َباِئٌع‬
b. Pembeli (‫)ُمْش َتٍر‬

Simulasi berjalan:

a. Siswa berpura-pura menjadi penjual dan pembeli di pasar.


b. Mereka menggunakan ungkapan-ungkapan yang sudah dipelajari.
c. Guru berjalan mengelilingi kelas sambil memberikan bimbingan.

Langkah 4: Refleksi Bahasa

Setelah bermain peran, guru mengajak siswa merefleksikan:


a. Kosakata apa yang paling mudah?
b. Bagian dialog mana yang sulit?
c. Bagaimana rasanya berbicara bahasa Arab?

3. Kegiatan Penutup

A. Penguatan Materi

a. Guru menekankan kembali penggunaan bahasa dalam konteks pasar.


b. Memberikan umpan balik dan pujian atas keberanian siswa berbicara.

B. Evaluasi ringan

a. Siswa diminta menulis 3 kata baru dan 1 kalimat dari percakapan tadi.

C. Doa salam penutup

a. Guru menutup pembelajaran dengan doa dan salam.

2. TEORI HASIL BELAJAR SISWA

Menurut (Djamaluddin, 2019:3) ) Hasil belajar merupakan kemampuan yang


diperoleh individu setelah proses belajar berlangsung, meliputi perubahan tingkah laku sebagai
hasil proses belajar, mencakup aspek-aspek pengetahuan, pemahaman, sikap, keterampilan,
kebiasaan.13 Dengan kata lain, hasil belajar mencerminkan proses internalisasi dan aplikasi dari
pengalaman belajar yang melibatkan aspek kognitif (pengetahuan dan pemahaman), afektif
(sikap, nilai, dan minat), serta psikomotorik (keterampilan dan kebiasaan). Oleh karena itu,

13
Dr Ahdar Djamaluddin dkk., 4 Pilar Peningkatan Kompetensi Pedagogis, t.t.
hasil belajar bukan sekadar penguasaan materi secara teoritis, tetapi juga pembentukan
karakter dan kompetensi yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Menurut (Nurbaiti, 2020:11) Hasil belajar merupakan penggambaran dari kesuksesan
proses belajar yang telah dilaksanakan di sekolah, yang melibatkan beberapa aspek diantaranya
kompetensi guru, model, metode serta media pembelajaran, ketersediaan sarana dan prasarana
sekolah yang memadai, serta faktor internal siswa sendiri yang meliputi minat, bakat dan
motivasi siswa untuk berprestasi.14 Oleh karena itu, untuk mencapai hasil belajar yang optimal,
dibutuhkan sinergi antara faktor internal dan eksternal pendidikan. Guru harus memiliki
kompetensi yang memadai dan mampu menerapkan metode yang sesuai dengan karakteristik
siswa. Lingkungan belajar yang kondusif, termasuk fasilitas yang mendukung, juga turut
menentukan keberhasilan pembelajaran. Selain itu, motivasi, kedisiplinan, dan keaktifan siswa
berperan penting dalam proses belajar. Kolaborasi antara semua faktor tersebut akan
menghasilkan pencapaian belajar yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga mencakup
sikap, nilai, dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan siswa di masa depan.
Dari kedua kutipan tersebut, dapat disimpulkan bahwa Hasil belajar merupakan
cerminan keberhasilan proses pendidikan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari
dalam diri siswa maupun lingkungan sekolah. Keberhasilan tersebut tidak hanya bergantung
pada kemampuan akademik, tetapi juga melibatkan peran guru yang kompeten, metode
pembelajaran yang tepat, fasilitas yang mendukung, serta motivasi dan partisipasi aktif siswa
dalam proses belajar. Oleh karena itu, pencapaian hasil belajar yang optimal membutuhkan
kolaborasi yang harmonis antara semua elemen pendidikan agar siswa tidak hanya unggul
secara akademik, tetapi juga berkembang dalam sikap, nilai, dan keterampilan yang
dibutuhkan di masa depan.

3. PEMBELAJARAN BAHASA ARAB


Menurut (khasanah,2016,hlm,40). Indonesia sebagai negara dengan mayoritas
penduduk beragama Islam menjadikan motivasi keagamaan sebagai alasan utama dalam
mempelajari bahasa Arab. Studi bahasa Arab dan Islam di tanah air pun menjadi dua bidang
yang tidak dapat dipisahkan, karena keduanya berkembang secara bersamaan. Bahasa Arab
mulai dikenal di Indonesia seiring dengan masuknya agama Islam, sehingga usia
keberadaannya pun setua Islam itu sendiri. Dalam konteks ini, tulisan ini bertujuan menyoroti
urgensi bahasa Arab bagi masyarakat Indonesia, khususnya dalam menjadikannya sebagai
bahasa kedua dalam proses pembelajaran. Untuk mencapai pembelajaran yang efektif,
diperlukan sejumlah komponen penting seperti tujuan, materi, pendekatan, dan metode yang
sesuai dengan karakteristik peserta didik. Namun, sebagai bahasa asing, pembelajaran bahasa
Arab tentu tidak lepas dari berbagai tantangan dan problematika yang perlu diatasi.15
Tujuan dari pembelajaran bahasa Arab di madrasah adalah untuk membekali peserta
didik dengan kemampuan dan keterampilan berbahasa sesuai dengan jenjang atau
tingkatannya, yang berlandaskan pada pengembangan daya pikir atau nalar mereka. 16 Hal ini

14
“SKRIPSI NURBAITI hasil belajar siswa,” t.t.
15
Nginayatul Khasanah, “PEMBELAJARAN BAHASA ARAB SEBAGAI BAHASA KEDUA (UREGENSI BAHASA ARAB
DAN PEMBELAJARANNYA DI INDONESIA),” An-Nidzam : Jurnal Manajemen Pendidikan dan Studi Islam 3, no. 2
(2016): 39–54, [Link]
16
Rika Lutfiana Utami, “Desain Kurikulum Bahasa Arab di Indonesia,” EL-IBTIKAR: Jurnal Pendidikan Bahasa
Arab 9, no. 1 (2020): 108, [Link]
bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang tidak hanya terampil dalam aspek
kebahasaan, tetapi juga memiliki pemahaman yang mendalam terhadap budaya dan nilai-nilai
Islam yang melekat dalam bahasa Arab. Artinya, pengajaran bahasa Arab tidak semata-mata
difokuskan pada penguasaan kemampuan teknis berbahasa, tetapi juga diarahkan untuk
menumbuhkan kesadaran akan peran penting bahasa Arab sebagai sarana utama dalam
mengakses khazanah keilmuan Islam, seperti Al-Qur’an, Hadis, serta kitab-kitab klasik.
Dengan pemahaman tersebut, peserta didik diharapkan memiliki kepribadian yang religius dan
identitas keislaman yang kuat.

B. HASIL PENELITIAN YANG RELEVAN

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Abiel Gibran (2023) dengan judul
Penerapan pendekatan Communicative Language Teaching (CLT) dengan metode hybrid
efektif dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas XII IPA 1 SMA 3
BANTAENG. Penelitian ini secara khusus menyoroti penerapan pendekatan CLT
menggunakan metode pembelajaran hybrid, yang membedakannya dari penelitian-penelitian
sebelumnya yang cenderung menerapkan pendekatan komunikatif dengan metode offline (tatap
muka konvensional). Hal ini relevan mengingat transisi dari pembelajaran daring ke luring dan
pemanfaatan teknologi di era digital.17
Penelitian Fina Hilyatus Shofuro dan Umar Manshur (2025) mengkaji penerapan
metode Communicative Language Teaching (CLT) dalam pembelajaran Bahasa Arab di
Program Keagamaan MAN 1 Probolinggo. Menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus,
data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan
bahwa penerapan CLT yang dipadukan dengan media permainan, pembelajaran kontekstual,
dan pembiasaan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan penguasaan
kosakata, keberanian berbicara, dan kemampuan komunikasi siswa. Lingkungan asrama turut
mendukung keberhasilan metode ini. Penelitian ini menawarkan kebaruan dalam konteks
penerapan CLT di lingkungan pesantren serta integrasinya dengan aspek afektif siswa.18
Penelitian oleh Sri Rejeki Br. Manalu (2022) bertujuan mengkaji penerapan
pendekatan Communicative Language Teaching (CLT) berbasis blended learning dalam
meningkatkan penguasaan kosakata Bahasa Inggris siswa kelas IV SD GMIM 07. Dengan
desain pre-eksperimen one-group pretest-posttest, penelitian ini melibatkan 21 siswa dan
menggunakan uji-t berpasangan melalui SPSS. Hasil menunjukkan peningkatan nilai dari
64,28 menjadi 78,33 (kenaikan 21,85%), yang membuktikan efektivitas CLT dalam
pembelajaran campuran. Meskipun berbeda dari fokus penelitian penulis yang menyoroti CLT
dalam pembelajaran Bahasa Arab di tingkat MA, studi ini memberikan landasan relevan dalam
menunjukkan keberhasilan CLT sebagai strategi pembelajaran bahasa yang komunikatif dan
efektif.19 Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan CLT yang dikombinasikan dengan blended
17
Muhammad Abiel Gibran, ENGLISH DEPARTMENT FACULTY OF CULTURAL SCIENCES HASANUDDIN
UNIVERSITY MAKASSAR 2023, t.t.
18
Fina Hilyatus Shofuro dkk., PENINGKATAN PENGUASAAN KOSAKATA ARAB DAN KEMAMPUAN BAHASA
KOMUNIKATIF MELALUI METODE COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING, 10 (2025).
19
Andriyani Marentek dan Rosalina R Rambing, PENINGKATAN PENGUASAAN KOSA KATA MELALUI
PENDEKATAN COMMUNICATIVE LANGUAGE TEACHING (CLT) TERHADAP SISWA SEKOLAH DASAR SD GMIM 07
learning efektif dalam meningkatkan kemampuan kosakata siswa pada masa pembelajaran
campuran (online dan tatap muka). Penelitian ini menjadi rujukan penting untuk memperkuat
efektivitas CLT dalam pembelajaran bahasa, walaupun berbeda dalam konteks—yakni pada
tingkat SD dan Bahasa Inggris. Sementara itu, penelitian penulis berfokus pada efektivitas
strategi CLT terhadap hasil belajar Bahasa Arab pada tingkat MA, sehingga memberikan
kontribusi kebaruan dalam konteks bahasa, jenjang pendidikan, dan fokus capaian hasil belajar.
Penelitian penulis memberikan kontribusi kebaruan dengan fokus pada efektivitas
strategi Communicative Language Teaching (CLT) terhadap hasil belajar Bahasa Arab (bukan
hanya keterampilan berbicara atau kosakata) pada jenjang pendidikan Madrasah Aliyah (MA)
atau setingkat SMA, khususnya di MAN 2 Ponorogo, dan membandingkannya dengan metode
konvensional. Ini membedakannya dari penelitian sebelumnya yang lebih berfokus pada
bahasa yang berbeda, jenjang pendidikan yang berbeda, atau aspek pembelajaran yang lebih
spesifik, serta konteks lingkungan belajar yang berbeda.

C. KERANGKA BERFIKIR
Pembelajaran bahasa Arab di tingkat Madrasah Aliyah pada umumnya masih
didominasi oleh metode pembelajaran konvensional yang berfokus pada penguasaan aspek
gramatikal dan hafalan kosakata. Metode ini cenderung bersifat satu arah dan kurang
memberikan ruang bagi siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar. Akibatnya,
motivasi belajar siswa menurun, keterlibatan siswa dalam pembelajaran minim, serta
kemampuan berbahasa Arab secara komunikatif kurang berkembang secara optimal.20
Melihat permasalahan tersebut, diperlukan suatu pendekatan pembelajaran yang lebih
interaktif dan berorientasi pada komunikasi. Salah satu pendekatan yang relevan untuk
diterapkan adalah Communicative Language Teaching (CLT). Pendekatan ini menekankan
pada penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi yang bermakna, dengan tujuan
mengembangkan kompetensi komunikatif siswa melalui aktivitas-aktivitas yang autentik dan
kontekstual. Dalam CLT, proses pembelajaran tidak hanya fokus pada bentuk bahasa, tetapi
juga pada fungsi bahasa dalam berbagai situasi komunikasi nyata.21
Dengan mengimplementasikan pendekatan CLT, siswa diharapkan lebih aktif terlibat
dalam pembelajaran melalui kegiatan seperti dialog, simulasi percakapan, diskusi kelompok,
dan presentasi. Kegiatan-kegiatan ini mampu meningkatkan motivasi siswa karena mereka
merasa menggunakan bahasa dalam konteks yang nyata, bukan sekadar mempelajari teori
atau aturan bahasa semata. Selain itu, pendekatan ini juga diyakini dapat meningkatkan hasil
belajar bahasa Arab secara menyeluruh, terutama dalam aspek keterampilan berbahasa.

BUKIT MORIA MALALAYANG DI ERA COVID-19, t.t.


20
Al Mi’yar: Jurnal Ilmiah Pembelajaran Bahasa Arab dan Kebahasaaraban, Sekolah Tinggi Ilmu Qur an
Amuntai, t.t., [Link]
21
Afnesha Noveriana Chang dan Suparmi Suparmi, “The Implementation of Communicative Language Teaching
(CLT) and Factors Hindering Teachers from Implementing It in High School,” Al-TA’DIB: Jurnal Kajian Ilmu
Kependidikan 13, no. 1 (2020): 46, [Link]
Dalam penelitian ini, variabel independen (X) adalah penerapan pendekatan
Communicative Language Teaching (CLT), sedangkan variabel dependen (Y) adalah hasil
belajar bahasa Arab siswa kelas X MAN 2 Ponorogo. Sebagai pembanding, digunakan
metode pembelajaran konvensional yang selama ini diterapkan di madrasah sebagai variabel
moderator atau pembanding.
Dengan kerangka berpikir ini, diharapkan penerapan CLT dapat menjadi solusi
alternatif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa Arab yang lebih komunikatif,
interaktif, dan bermakna bagi siswa.

RENDAHNYA MOTIVASI& HASIL


BELAJAR

METODE PEMBEALAJARAN
KONVESIONAL

INOVASI : PEMBELAJARAN
BERBASIS KOMUNIKATIF DAN
KONTEKSTUAL

MENINGKATKAN
KETERLIBATAN SISWA
PEMBELAJARAN

PENINGKATAN HASIL BELAJAR

D. HIPOTESIS PENELITIAN

Berdasarkan latar belakang dan tujuan penelitian, hipotesis yang diajukan adalah:
Penerapan pendekatan Communicative Language Teaching (CLT) berpengaruh positif dan
signifikan terhadap hasil belajar bahasa Arab siswa kelas 10 di MAN 2 Ponorogo. Selain itu,
terdapat perbedaan signifikan hasil belajar antara siswa yang mengikuti pembelajaran dengan
pendekatan CLT dan siswa yang menggunakan metode konvensional.

Anda mungkin juga menyukai