0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan17 halaman

Panduan Lengkap Diabetes Melitus Tipe II

Diabetes melitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi atau kerja insulin, dengan dua tipe utama yaitu tipe 1 dan tipe 2. Tipe 2, yang lebih umum, sering terkait dengan faktor risiko seperti usia, genetik, dan obesitas, serta dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang seperti neuropati, retinopati, dan penyakit jantung. Diagnosis diabetes melitus dilakukan melalui pengukuran kadar glukosa darah dan gejala klinis yang muncul.

Diunggah oleh

Indo Hame
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2 tayangan17 halaman

Panduan Lengkap Diabetes Melitus Tipe II

Diabetes melitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat gangguan sekresi atau kerja insulin, dengan dua tipe utama yaitu tipe 1 dan tipe 2. Tipe 2, yang lebih umum, sering terkait dengan faktor risiko seperti usia, genetik, dan obesitas, serta dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang seperti neuropati, retinopati, dan penyakit jantung. Diagnosis diabetes melitus dilakukan melalui pengukuran kadar glukosa darah dan gejala klinis yang muncul.

Diunggah oleh

Indo Hame
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Diabetes

1. Definisi

Diabetes melitus menurut American Diabetes Association (ADA)

tahun 2017 merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan

karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,

kerja insulin, atau keduanya. Beberapa gejala yang sering ditemukan pada

penderita diabetes adalah poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat

badan, dan penglihatan kabur

Diabetes Melitus adalah penyakit metabolik (kebanyakan herediter)

sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif baik oleh karena adanya

"disfungsi" sel beta pankreas atau ambilan glukosa di jaringan perifer, atau

keduanya (pada DM tipe II), atau kurangnya insulin absolut (pada DM tipe

I), dengan tanda-tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan gejala

Minis akut (poliuria, polidipsia, penurunan berat badan), dan ataupun gejala

kronik atau kadang-kadang tanpa gejala. Gangguan primer terletak pada

metabolisme karbohidrat, dan sekunder pada metabolisme lemak dan

protein.

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang umum

terjadi pada dewasa yang membutuhkan supervise medis berkelanjutan dan

edukasi perawatan mandiri pada pasien. Namun bergantung pada tipe DM


dan usia pasien, kebutuhan dan asuhan keperawatan pasien dapat sangat

berbeda (Le Mone, dkk, 2016).

Diabetes melitus adalah penyakit sistemik kronis yang ditandai oleh

kekurangan insulin atau penurunan kemampuan tubuh untuk menggunakan

insulin. Diabetes melitus kadang-kadang disebut sebagai gula tinggi oleh

klien dan penyedia layanan kesehatan. Gagasan mengkaitkan gula dengan

diabetes adalah tepat karena bagian dari sejumlah besar urin yang serat gula

adalah karakteristik diabetes yang tidak terkontrol dengan baik (Black &

Hawks, 2023).

2. Klasifikasi DM

Menurut Hinkle & Cheever (2023), diabetes mellitus

diklasifikasikan menjadi :

a. Diabetes mellitus tipe 1

Diabetes melitus tipe 1 mempengaruhi 5% hingga 10% orang dengan

penyakit ini. Hal ini ditandai dengan kerusakan sel beta dari pankreas.

Faktor genetik, imunologi dan mungkin lingkungan yang berpasanagan

diperkirakan berkontribusi terhadap kerusakan sel beta. Meskipun

peristiwa yang menyebabkan kerusakan sel beta tidak sepenuhnya

dipahami, secara umum diterima bahwa kerentanan genetik adalah

faktor yang umum dalam mendasari pengembangan diabetes melitus

tipe 1.

b. Diabetes mellitus tipe 2 mempengaruhi 90% hingga 95% orang yang

menderita penyakit ini. Terjadi lebih umum di antara orang yang


berusia lebih dari 30 tahun dan mengalami obesitas walaupun

insidensinya meningkat dengan cepat pada orang yang lebih muda

karena epidemi obesitas yang semakin meningkat. Dua masalah utama

terkait dengan insulin dalam diabetes melitus tipe 2 adalah resistensi

insulin dan gangguan sekresi insulin. Resistensi insulin mengacu pada

penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin berikatan dengan

reseptor khusus pada permukaan sel dan memulai serangkaian

reaksiyang terlibat dalam metabolisme glukosa.

c. Diabetes mellitus gestasional adalah derajat intoleransi glukosa dengan

onset selama kehamilan. Hiperglikemia berkembang selama kehamilan

karena sekresi hormon plasenta yang menyebabkan resistensi insulin.

Diabetes gestasional terjadi pada 18% wanita hamil dan meningkatkan

risiko gangguan hipertensi selama kehamilan.

3. Manifestasi Diabetes Melitus

Menifestasi klinis DM dikaitkan dengan hiperglikemia,

peningkatan kadar glukosa darah, mengarah pada manifestasi klinis umum

yang berhubungan dengan diabetes. Pada diabetes tipe 1, timbulnya

manifestasi klinik yang terkait dengan hiperglikemia mungkin tidak sama

dengan kemungkinan hidup. Situasi yang mengancam kemungkinan terjadi

yaitu ketoasidosis diabetik. Sebaliknya, pada diabetes tipe 2 dapat

berkembang secara bertahap sehingga beberapa individu mungkin

memperhatikan sedikit atau tidak ada manifestasi tidak nyata selama

beberapa tahun. Klien awalnya dapat mengeluh mati rasa atau kesemutan
di tangan atau kaki mereka, yang terkait dengan komplikasi jangka

panjang terkait diabetes yang disebut neuropati perifer. Manifestasi klinis

klasik diabetes adalah peningkatan frekuensi buang air kecil (poliuria),

peningkatan rasa haus dan asupan cairan (polidipsia) (Black & Hawks,

2023).

B. Konsep Diabetes Melitus Tipe II

1. Pengertian

Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2020,

menjelaskan bahwa Diabetes Melitus adalah suatu kelompok penyakit

metabolik yang ditandai dengan adanya hiperglikemia yang terjadi karena

pankreas tidak mampu mensekresi insulin, gangguan kerja insulin, ataupun

keduanya. Dapat terjadi kerusakan jangka panjang dan kegagalan pada

berbagai organ seperti mata, ginjal, saraf, jantung, serta pembuluh darah

apabila dalam keadaaan hiperglikemia kronis (Perkeni, 2021).

Diabetes Mellitus adalah suatu gangguan metabolisme ditandai dengan

hiperglikemia dengan ciri khas kadar glukosa darah puasa lebih dari 126

mg/dl atau kelainan sekresi, kerja insulin, atau keduanya. (Soelistijo, 2021)

Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan suatu kelompok penyakit

metabolik dengan karakteristik hiperglikemia, terjadi karena kelainan sekresi

insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Sembilan puluh persen dari kasus

diabetes adalah DMT2 dengan karakteristik gangguan sensitivitas insulin

dan/atau gangguan sekresi insulin. DMT2 secara klinis muncul ketika tubuh
tidak mampu lagi memproduksi cukup insulin unuk mengkompensasi

peningkatan insulin resisten (Decroli, 2019).

2. Etiologi Diabetes Melitus Tipe II

Faktor risiko diabetes melitus tipe 2 adalah:

a. Usia

Diabetes melitus tipe 2 terjadi lebih umum di antara orang-orang

usia lebih dari 30 tahun (Hinkle & Cheever, 2023)

b. Faktor genetik dan lingkungan

Keturunan memainkan peran utama dalam ekspresi diabetes

melitus tipe 2. Ini lebih umum pada kembar identik (kejadian 58%-

75%) daripada populasi umum (Black & Hawks, 2023).

c. Obesitas

Obesitas adalah faktor risiko utama dengan 85% dari semua orang

dengan diabetes melitus tipe 2 mengalami obesitas (Black & Hawks,

2023).

3. Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis diabetes melitus tipe II yaitu :

a. Penyandang DM tipe 2 mengalami awitan mainifestsi yang lambat dan

seringkali tidak menyadari penyakit sampai mencari perawatan

kesehatan untuk beberapa masalah lain. Hiperglikemia pada DM tipe 2

biasanya tidak seberat pada DM tipe 1, tetapi manifestasi yang sama

muncul, khususnya polyuria, dan polydipsia. Polifagia jarang dijumpai

dan penurunan berat badan tidak terjadi. Manifestasi lain juga akibat
hiperglikemia, penglihatan buram, keletihan, parestesia, dan infeksi

kulit (LeMone, dkk, 2016).

b. Tanda dan gejala ketoasidosis diabetes (DKA) mencakup anoreksia,

mual, muntah, nyeri kepala dominan, nyeri perut yang menjadi sanagt

parah sehingga menyerupai gangguan perut akut yang membutuhkan

pembedahan, memiliki napas aseton (bau buah) yang terjadi dengan

kadar keton meningkat dan hiperventilasi (pernapasan yang sangat

dalam) (Smeltzer, 2018).

4. Patofisiologi

DM Tipe 2 dimulai dari resistensi insulin mayor dengan kekurangan

insulin relatif hingga kelainan sekretorik mayor dengan resistensi insulin.

Tidak ada kerusakan imun pada sel beta. Awalnya, dan pada beberapa kasus

untuk seumur hidup, insulin tidak diperlukan. Sebagian besar penyandang

DM 2 biasanya gemuk, atau mengalami peningkatan jumlah lemak

abdomen. Risiko perkembangan penyakit mencakup pertumbuhan usia,

kegemukan, dan gaya hidup tidak banyak bergerak. Terjadi lebih sering

pada wanita yang pernah mengalami DM gestisional dan pada orang yang

mengalami gangguan lipid atau hipertensi terdapat predisposisi genetika

yang kuat (Le Mone, dkk, 2016).

Resistensi insulin pada otot dan liver serta kegagalan sel beta

pankreas telah dikenal sebagai patofisiologi kerusakan sentral dari DM tipe

2. Belakangan diketahui bahwa kegagalan sel beta terjadi lebih dini dan

lebih berat daripada yang diperkiraan sebelumnya. Selain otot, liber dan sel
beta, organ lain seperti jaringan lemak (meningkatnya lipolisis),

gastrointestinal (defisiensi incretin), sel alpha pankreas

(hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan absorpsi glukosa), dan otak

(resistensi insulin), kesemuanya ikut berperan dalam menimbulkan

terjadinya gangguan toleransi glukosa pada DM tipe-2 (PERKENI, 2019).

5. Diagnosis Diabetes Melitus

Menurut American Diabetes Association (ADA) (2016), diagnosis

diabetes tipe 2 ditegakkan berdasarkan kriteria kadar glukosa plasma, baik

kriteria kadar glukosa plasma puasa (GDP), kadar glukosa plasma 2 jam

postprandial (GD2PP) setelah pembebanan 75 gram glukosa pada tes

toleransi glukosa oral (TTGO), maupun kadar HbA1c. Tes-tes tersebut juga

digunakan untuk keperluan screening individu dengan diabetes dan deteksi

individu dengan prediabetes ataupun risiko diabetes.

Menurut Le Mone, dkk (2016), ada tiga pemeriksaan diagnostik

yang dapat digunakan untuk mendiagnosis DM dan masing-masing harus

dipastikan. Ketiga pemeriksaan tersebut antara lain :

a. Manifestasi hiperglikemia (poliura, polidipsia, dan penurunan berat

badan yang tidak dapat dijelaskan) dan konsentrasi plasma glukosa

(PG) kasual > 200 mg/dl (11,1 mmol/L). Kasual diartikan sebagai

sewaktu-waktu tanpa mempertimbangkan waktu makan terakhir.

b. Glukosa plasma puasa > 126 mg/dl (7,0 mmol/L). Puasa didefinisikan

sebagain tidak ada asupan kalori selama 8 jam.


c. PG dua jam > 200 mg/dl (11,1 mmol/L) selama pemeriksaan toleransi

glukosa oral. Pemeriksaan ini harus dilakukan dengan muatan glukosa

yang isinya setara dengan 75 glukosa anhidrosa yang dilarutkan dalam

air.

6. Masalah yang lazim muncul

Menurut Nurarif & Kusuma (2015), ada beberapa masalah yang

lazim muncul pada pasien diabetes melitus antara lain :

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis

b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan ketidakmampuan menggunakan glukose

c. Defisit Volume Cairan berhubungan dengan Kehilangan volume cairan

secara aktif, Kegagalan mekanisme pengaturan

d. Perfusi jaringan tidak efektif berhubungan dengan hipoksemia jaringan.

7. Komplikasi Diabetes Melitus Tipe II

Menurut Smeltzer (2018) komplikasi akut diabetes melitus tipe II

adalah sebagai berikut :

a. Komplikasi akut

1) Hipoglikemia

Hipoglikemia adalah kadar glukosa darah rendah dan turun menjadi

kurang dari 50-60 mg/dL (2,7-3,3 mmo/L). Ini bisa disebabkan oleh

terlalu banyak insulin atau oral agen hipoglikemik, terlalu sedikit

makanan, atau aktivitas fisik yang berlebihan. Hipoglikemia dapat

terjadi kapan saja, di siang atau malam hari. Ini sering terjadi
sebelum makan, terutama jika makanan tidak disajikan atau

makanan ringan dihilangkan. Pada hipoglikemia ringan, ketika

kadar glukosa darah turun, sistem saraf simpatik distimulasi,

menghasilkan linjakan epinefrin dan norepinefrin. Hal ini

menyebabkan gejala seperti berkeringat, tremor, tatikardia, lesi

jantung, gugup dan lapar.

2) DKA (ketoasidosi diabetik)

Diabetik ketoasidosis (DKA) adalah komplikasi yang disebabkan

oleh tidak adanya insulin yang jelas-jelas tidak memadai. Defisit

insulin yang tersedia ini menyebabkan gangguan pada metabolisme

karbohidrat, protein dan lemak. Tiga klinis utama DKA adalah

hiperglikemia, dehidrasi dan kehilangan elektrolit, asidosis.

3) Hyperglycemic Hyperosmolar Nonketotic Syndrome (HHNS)

HHNS adalah kondisi serius dimana hiperosmolaritas dan

hiperglikemia mendominasi dengan perubahan pada sensium

(kesadaran). Pada saat yang sama, ketosis biasanya minimal atau

tidak ada. Cacat biokimia dasar adalah kurangnya insulin yang

efektif (yaitu resistensi insulin). Hiperglikemia yang persisten

menyebabkan diuresis osmotik, yang menyebabkan hilangnya air

dan elektrolit.

b. Komplikasi jangka panjang

1) Komplikasi makrovaskular
Komplikasi makrovaskular diabetes terjadi akibat perubahan pada

pembuluh darah menengah ke besar. Dinding pembuluh darah

menebal, sklerosa dan tersumbat oleh plak yang menempel pada

dinding pembuluh darah, akhirnya aliran darah tersumbat.

Perubahan aterosklerotik ini cenderung terjadi lebih sering dan pada

usia lebih dini pada pasien dengan diabetes dan tidak stabil. Tiga

jenis komplikasi utama makrovaskular yang lebih sering terjadi

pada populasi diabetes adalah penyakit arteri koroner, penyakit

serebrovaskular dan penyakit pembuluh darah perifer.

2) Komplikasi mikrovaskular

Komplikasi mikrovaskular diabetik (mikroangiopati) ditandai

dengan penebalan membran basemen kapiler. Membran basemen

mengelilingi endotel kapiler. Para peneliti percaya bahwa

peningkatan kadar glukosa darah bereaksi melalui serangkaian

respon biokimiawi untuk mengentalkan membran dasar hingga

beberapa kali ketebalan normalnya. Dua bagian yang terkena

perubahan ini adalah retina dan ginjal sehingga komplikasi

mikrovaskular yang terjadi adalah adalah retinopati diabetik dan

nefropati.

3) Neuropati diabetik

Neuropati mengacu pada sekelompok penyakit yang mempengaruhi

sara termasuk perifer (sensorik motorik) dan saraf tulang belakang.

Kelainan tampaknya sangat beragam dan tergantung pada lokasi sel


yang terkena. Dua jenis komplikasi neuropati diabetes yaitu

polineuropati sensorimotor (sering disebut neuropati perifer) dan

neuropati otonom.

Hiperglikemia yang terjadi dari waktu ke waktu dapat menyebabkan

kerusakan berbagai sistem tubuh terutama syaraf dan pembuluh darah.

Menurut Kemenkes RI (2020), beberapa konsekuensi dari diabetes yang

sering terjadi adalah :

a. Meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke

b. Neuropati (kerusakan syaraf) di kaki yang meningkatkan kejadian ulkus

kaki, infeksi dan bahkan keharusan untuk amputasi kaki

c. Retinopati diabetikum yang merupakan salah satu penyebab utama

kebutaan, terjadi akibat kerusakan pembuluh darah kecil di retina

d. Diabetes merupakan salah satu penyebab utama gagal ginjal

e. Risiko kematian penderita diabetes secara umum adalah dua kali lipat

dibandingkan bukan penderita diabetes.

Dampak lain dari diabetes adalah mengurangi usia harapan hidup

sebesar 5-10 tahun. Usia harapan hidup penderita DM tipe 2 yang

mengidap penyakit mental serius seperti skizofrenia, bahkan 20% lebih

rendah dibandingkan dengan populasi umum. Diabetes dan

komplikasinya membawa kerugian ekonomi yang besar bagi penderita

diabetes dan keluarga mereka, sistem kesehatan dan ekonomi nasional


melalui biaya medis langsung, kehilangan pekerjaan dan penghasilan

(Kemenkes RI, 2018).

8. Penatalaksanaan

Menurut PERKENI (2019), penatalaksanaan diabetes melitus tipe

II adalah :

a. Edukasi

Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan

sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang

sangat penting dari pengelolaan DM secara [Link] edukasi

terdiri dari materi edukasi tingkat awal dan materi edukasi tingkat

lanjutan (PERKENI, 2019).

b. Terapi Nutrisi Medis (TNM)

TNM merupakan bagian penting dari penatalaksanaan DMT2 secara

komprehensif. Kunci keberhasilannya adalah keterlibatan secara

menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan

yang lain serta pasien dan keluarganya). Guna mencapai sasaran terapi

TNM sebaiknya diberikan sesuai dengan kebutuhan setiap

penyandang DM. Prinsip pengaturan makan pada penyandang DM

hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum, yaitu

makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat

gizi masing-masing individu. Penyandang DM perlu diberikan

penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan

jumlah kandungan kalori, terutama pada mereka yang menggunakan


obat yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin itu sendiri

(PERKENI, 2019).

c. Jasmani

Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DMT2

apabila tidak disertai adanya [Link] jasmani sehari-hari

dan latihan jasmani dilakukan secara secara teratur sebanyak 3-5 kali

perminggu selama sekitar 30-65 menit, dengan total 150 menit

[Link] antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut.

Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan glukosa darah sebelum

latihan jasmani. Apabila kadar glukosa darah 250 mg/dL dianjurkan

untuk menunda latihan jasmani. Kegiatan sehari-hari atau aktivitas

sehari-hari bukan termasuk dalam latihan jasmani meskipun

dianjurkan untuk selalu aktif setiap hari. Latihan jasmani selain untuk

menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan

memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali

glukosa darah (PERKENI, 2019).

Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat

aerobik dengan intensitas sedang (50- 70% denyut jantung

maksimal)seperti: jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan

berenang. Denyut jantung maksimal dihitung dengan cara mengurangi

angka 220 dengan usia pasien. Pada penderita DM tanpa

kontraindikasi (contoh: osteoartritis, hipertensi yang tidak terkontrol,

retinopati, nefropati) dianjurkan juga melakukan resistance training


(latihan beban) 2-3 kali/perminggu sesuai dengan petunjuk dokter.

Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status

kesegaran [Link] latihan jasmani pada penyandang DM

yang relatif sehat bisa ditingkatkan, sedangkan pada penyandang DM

yang disertai komplikasi intesitas latihan perlu dikurangi dan

disesuaikan dengan masing-masing individu (PERKENI, 2019).

d. Terapi Farmakologis

Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan

dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari

obat oral dan bentuk suntikan (PERKENI, 2019).

C. Konsep Aktivitas Fisik

1. Definisi Aktivitas Fisik

Aktivitas fisik di definisikan sebagai setiap pergerakan jasmani

yang di hasilkan otot skelet yang memerlukan pengeluaran energi.

Istilah ini meliputi rentang penuih dari seluruh pergerkan tubuh

manusia mulai dari olah raga yang kompetitif dan latihan fisik

sebagai hobi atau aktivitas yang di lakukan dalam kehidupan sehari-

hari. Sebaiknya, aktivitas fisik bisa di definisikan sebagai keadaan

dimana pergerkan tubuh minimal dan pengeluaran energi mendekati

resting metabolic rates. Sedangkan oalh raga merupakan aktivitas

fisik yang terencana dan terstruktur serta melibatkan gerakan tubuh

berulang-ulang.
Berdasarkan MET, Aktivits fisik dibagi menjadi 3 yaitu aktivita

fisik berifensi ringan ( kurang dari 3,0 METS atau kurang dari 3,5

kkl/ menit) sedang 3,0-6,0 METS atau 3,5 kkl/menit), dan tinggi

lebih dari 6,0 METS atau lebih dari 7kkl/menit) (CDC 2015).

Menurut Pedoma perkeni 2021 aktivitas fisik di bagi menjadi 3

bagian yaitu :

a) Ringan jika METs-min/ minggu <600.

b) Sedang jika METs-min/minggu 600<1500

c) Berat jik METs-min/minggu >1500

2. Pengukuran aktivitas fisik

Pengukuran Empa dimensi dari aktivitas fisik meliputi:

a) Mode atau tipe merupakan aktivitas fisik spesifik yang di

lakukan ( contoh: berjalan, berkebun, bersepeda).

b) Frekuensi, merupakan jumlah sesi per hari atau per minggu.

Dalam konteks

c) Durasi merupakan lamanya aktifitas ( menit atau jam ) selama

jangka waktu tertentu

d) Intensitas, merupakan tingkat pengeluaran energi yang

merupakan indikator dari kebutuhan metabolik dari sebuah

aktivitas (Hasil aktivitas fisik dalam peningkatan pengeluaran

energi di atas tingkat istirahat , dan tingkat pengeluaran energi

berhubungan langsung dengan antensitas aktivitas fisik.

3. Aktivitas Fisik Pada Diabetes


Aktivitas fisik secara langsung berhubungan dengan
kecepatan pemulihan gula darah dalam otot. Saat aktivitas fisik,
otot menggunakan glukosa yang disimpannya sehingga glukosa
yang tersimpan akan berkurang. Pada saat itu untuk mengisi
kekurangan tersebut otot mengambil glukosa di dalam darah
sehingga glukosa di dalam darah menurun yang mana hal
tersebut dapat meningkatkan kontrol gula darah (B melda dkk,
2021)

D. Konsep Kadar Gula darah

1. Definisi kadar gula darah

Glukosa merupakan salah satu karbohidrat penting yang digunakan

sebagai sumber tenaga yang berperan sebagai pembentukan energi.

Glukosa dihasilkan dari makanan yang mengandung karbohidrat yang

terdiri dari monosakarida, disakarida dan juga polisakarida. Karbohidrat

akan konversikan menjadi glukosa didalam hati dan seterusnya berguna

untuk pembentukan energi dalam tubuh. Glukosa yang disimpan dalam

tubuh berupa glikogen yang disimpan pada plasma darah (blood glucose).

Glukosa berfungsi dalam otak dan sebagai bahan bakar proses

metabolisme).

Glukosa darah merupakan gula yang berada dalam darah yang

terbentuk dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen

di hati dan otot rangka. Hormon yang mempengaruhi kadar glukosa adalah

insulin dan glukagon yang berasal dari pankreas. Nilai rujukan kadar

glukosa darah dalam serum/ plasma 70- 110 mg/dl, glukosa dua jam post

prandial (setelah pemberian glukosa) ≤140 mg/dl/2 jam, dan glukosa darah

sewaktu ≤110 mg/dl2


2. Pemeriksaam kadar glukosa darah

Menurut ada berbagai cara yang biasanya di lakukan untuk

memeriksa kadar glukosa darah diantaranya.

a. Tes gula darah sewaktu disebut juga kadar gula darah acak atau

kecuali tes gula darah sewaktu dapat dilakukan kapan saja.

b. Tes Gula darah Puasa selama 8 jam

c. Tes Gula darah Puasa 2 jam

KERANGKA KONSEP DAN DEFESIENSI OPERASIONAL

Kerangka Konsep

Kerangka Konsep adalah suatu uraian dari visual hubungan atau kaitan

antara konsep yang lainnya, atau antara variabel yang satu dengan variabel yang

dari masalah yang teliti (Notoatmodjo, 2012).

DM (Diabetes Melitus)

1. Usia 1. Usia
2. Obesitas 2. Jenis Kelamin
3. Pola Makan 3. Penddikan
Kadar gula darah
4. pekerjaamnn

4. Aktivitas Fisik

Normal rendah

Berat Sedang Ringan


Tinggi

Keterangan :

: Variabel Yang Di teliti

: Variabel yang tidak di teliti

Anda mungkin juga menyukai