BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Diabetes
1. Definisi
Diabetes melitus menurut American Diabetes Association (ADA)
tahun 2017 merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin, atau keduanya. Beberapa gejala yang sering ditemukan pada
penderita diabetes adalah poliuria, polidipsia, polifagia, penurunan berat
badan, dan penglihatan kabur
Diabetes Melitus adalah penyakit metabolik (kebanyakan herediter)
sebagai akibat dari kurangnya insulin efektif baik oleh karena adanya
"disfungsi" sel beta pankreas atau ambilan glukosa di jaringan perifer, atau
keduanya (pada DM tipe II), atau kurangnya insulin absolut (pada DM tipe
I), dengan tanda-tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan gejala
Minis akut (poliuria, polidipsia, penurunan berat badan), dan ataupun gejala
kronik atau kadang-kadang tanpa gejala. Gangguan primer terletak pada
metabolisme karbohidrat, dan sekunder pada metabolisme lemak dan
protein.
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang umum
terjadi pada dewasa yang membutuhkan supervise medis berkelanjutan dan
edukasi perawatan mandiri pada pasien. Namun bergantung pada tipe DM
dan usia pasien, kebutuhan dan asuhan keperawatan pasien dapat sangat
berbeda (Le Mone, dkk, 2016).
Diabetes melitus adalah penyakit sistemik kronis yang ditandai oleh
kekurangan insulin atau penurunan kemampuan tubuh untuk menggunakan
insulin. Diabetes melitus kadang-kadang disebut sebagai gula tinggi oleh
klien dan penyedia layanan kesehatan. Gagasan mengkaitkan gula dengan
diabetes adalah tepat karena bagian dari sejumlah besar urin yang serat gula
adalah karakteristik diabetes yang tidak terkontrol dengan baik (Black &
Hawks, 2023).
2. Klasifikasi DM
Menurut Hinkle & Cheever (2023), diabetes mellitus
diklasifikasikan menjadi :
a. Diabetes mellitus tipe 1
Diabetes melitus tipe 1 mempengaruhi 5% hingga 10% orang dengan
penyakit ini. Hal ini ditandai dengan kerusakan sel beta dari pankreas.
Faktor genetik, imunologi dan mungkin lingkungan yang berpasanagan
diperkirakan berkontribusi terhadap kerusakan sel beta. Meskipun
peristiwa yang menyebabkan kerusakan sel beta tidak sepenuhnya
dipahami, secara umum diterima bahwa kerentanan genetik adalah
faktor yang umum dalam mendasari pengembangan diabetes melitus
tipe 1.
b. Diabetes mellitus tipe 2 mempengaruhi 90% hingga 95% orang yang
menderita penyakit ini. Terjadi lebih umum di antara orang yang
berusia lebih dari 30 tahun dan mengalami obesitas walaupun
insidensinya meningkat dengan cepat pada orang yang lebih muda
karena epidemi obesitas yang semakin meningkat. Dua masalah utama
terkait dengan insulin dalam diabetes melitus tipe 2 adalah resistensi
insulin dan gangguan sekresi insulin. Resistensi insulin mengacu pada
penurunan sensitivitas jaringan terhadap insulin berikatan dengan
reseptor khusus pada permukaan sel dan memulai serangkaian
reaksiyang terlibat dalam metabolisme glukosa.
c. Diabetes mellitus gestasional adalah derajat intoleransi glukosa dengan
onset selama kehamilan. Hiperglikemia berkembang selama kehamilan
karena sekresi hormon plasenta yang menyebabkan resistensi insulin.
Diabetes gestasional terjadi pada 18% wanita hamil dan meningkatkan
risiko gangguan hipertensi selama kehamilan.
3. Manifestasi Diabetes Melitus
Menifestasi klinis DM dikaitkan dengan hiperglikemia,
peningkatan kadar glukosa darah, mengarah pada manifestasi klinis umum
yang berhubungan dengan diabetes. Pada diabetes tipe 1, timbulnya
manifestasi klinik yang terkait dengan hiperglikemia mungkin tidak sama
dengan kemungkinan hidup. Situasi yang mengancam kemungkinan terjadi
yaitu ketoasidosis diabetik. Sebaliknya, pada diabetes tipe 2 dapat
berkembang secara bertahap sehingga beberapa individu mungkin
memperhatikan sedikit atau tidak ada manifestasi tidak nyata selama
beberapa tahun. Klien awalnya dapat mengeluh mati rasa atau kesemutan
di tangan atau kaki mereka, yang terkait dengan komplikasi jangka
panjang terkait diabetes yang disebut neuropati perifer. Manifestasi klinis
klasik diabetes adalah peningkatan frekuensi buang air kecil (poliuria),
peningkatan rasa haus dan asupan cairan (polidipsia) (Black & Hawks,
2023).
B. Konsep Diabetes Melitus Tipe II
1. Pengertian
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2020,
menjelaskan bahwa Diabetes Melitus adalah suatu kelompok penyakit
metabolik yang ditandai dengan adanya hiperglikemia yang terjadi karena
pankreas tidak mampu mensekresi insulin, gangguan kerja insulin, ataupun
keduanya. Dapat terjadi kerusakan jangka panjang dan kegagalan pada
berbagai organ seperti mata, ginjal, saraf, jantung, serta pembuluh darah
apabila dalam keadaaan hiperglikemia kronis (Perkeni, 2021).
Diabetes Mellitus adalah suatu gangguan metabolisme ditandai dengan
hiperglikemia dengan ciri khas kadar glukosa darah puasa lebih dari 126
mg/dl atau kelainan sekresi, kerja insulin, atau keduanya. (Soelistijo, 2021)
Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan suatu kelompok penyakit
metabolik dengan karakteristik hiperglikemia, terjadi karena kelainan sekresi
insulin, kerja insulin atau kedua-duanya. Sembilan puluh persen dari kasus
diabetes adalah DMT2 dengan karakteristik gangguan sensitivitas insulin
dan/atau gangguan sekresi insulin. DMT2 secara klinis muncul ketika tubuh
tidak mampu lagi memproduksi cukup insulin unuk mengkompensasi
peningkatan insulin resisten (Decroli, 2019).
2. Etiologi Diabetes Melitus Tipe II
Faktor risiko diabetes melitus tipe 2 adalah:
a. Usia
Diabetes melitus tipe 2 terjadi lebih umum di antara orang-orang
usia lebih dari 30 tahun (Hinkle & Cheever, 2023)
b. Faktor genetik dan lingkungan
Keturunan memainkan peran utama dalam ekspresi diabetes
melitus tipe 2. Ini lebih umum pada kembar identik (kejadian 58%-
75%) daripada populasi umum (Black & Hawks, 2023).
c. Obesitas
Obesitas adalah faktor risiko utama dengan 85% dari semua orang
dengan diabetes melitus tipe 2 mengalami obesitas (Black & Hawks,
2023).
3. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis diabetes melitus tipe II yaitu :
a. Penyandang DM tipe 2 mengalami awitan mainifestsi yang lambat dan
seringkali tidak menyadari penyakit sampai mencari perawatan
kesehatan untuk beberapa masalah lain. Hiperglikemia pada DM tipe 2
biasanya tidak seberat pada DM tipe 1, tetapi manifestasi yang sama
muncul, khususnya polyuria, dan polydipsia. Polifagia jarang dijumpai
dan penurunan berat badan tidak terjadi. Manifestasi lain juga akibat
hiperglikemia, penglihatan buram, keletihan, parestesia, dan infeksi
kulit (LeMone, dkk, 2016).
b. Tanda dan gejala ketoasidosis diabetes (DKA) mencakup anoreksia,
mual, muntah, nyeri kepala dominan, nyeri perut yang menjadi sanagt
parah sehingga menyerupai gangguan perut akut yang membutuhkan
pembedahan, memiliki napas aseton (bau buah) yang terjadi dengan
kadar keton meningkat dan hiperventilasi (pernapasan yang sangat
dalam) (Smeltzer, 2018).
4. Patofisiologi
DM Tipe 2 dimulai dari resistensi insulin mayor dengan kekurangan
insulin relatif hingga kelainan sekretorik mayor dengan resistensi insulin.
Tidak ada kerusakan imun pada sel beta. Awalnya, dan pada beberapa kasus
untuk seumur hidup, insulin tidak diperlukan. Sebagian besar penyandang
DM 2 biasanya gemuk, atau mengalami peningkatan jumlah lemak
abdomen. Risiko perkembangan penyakit mencakup pertumbuhan usia,
kegemukan, dan gaya hidup tidak banyak bergerak. Terjadi lebih sering
pada wanita yang pernah mengalami DM gestisional dan pada orang yang
mengalami gangguan lipid atau hipertensi terdapat predisposisi genetika
yang kuat (Le Mone, dkk, 2016).
Resistensi insulin pada otot dan liver serta kegagalan sel beta
pankreas telah dikenal sebagai patofisiologi kerusakan sentral dari DM tipe
2. Belakangan diketahui bahwa kegagalan sel beta terjadi lebih dini dan
lebih berat daripada yang diperkiraan sebelumnya. Selain otot, liber dan sel
beta, organ lain seperti jaringan lemak (meningkatnya lipolisis),
gastrointestinal (defisiensi incretin), sel alpha pankreas
(hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan absorpsi glukosa), dan otak
(resistensi insulin), kesemuanya ikut berperan dalam menimbulkan
terjadinya gangguan toleransi glukosa pada DM tipe-2 (PERKENI, 2019).
5. Diagnosis Diabetes Melitus
Menurut American Diabetes Association (ADA) (2016), diagnosis
diabetes tipe 2 ditegakkan berdasarkan kriteria kadar glukosa plasma, baik
kriteria kadar glukosa plasma puasa (GDP), kadar glukosa plasma 2 jam
postprandial (GD2PP) setelah pembebanan 75 gram glukosa pada tes
toleransi glukosa oral (TTGO), maupun kadar HbA1c. Tes-tes tersebut juga
digunakan untuk keperluan screening individu dengan diabetes dan deteksi
individu dengan prediabetes ataupun risiko diabetes.
Menurut Le Mone, dkk (2016), ada tiga pemeriksaan diagnostik
yang dapat digunakan untuk mendiagnosis DM dan masing-masing harus
dipastikan. Ketiga pemeriksaan tersebut antara lain :
a. Manifestasi hiperglikemia (poliura, polidipsia, dan penurunan berat
badan yang tidak dapat dijelaskan) dan konsentrasi plasma glukosa
(PG) kasual > 200 mg/dl (11,1 mmol/L). Kasual diartikan sebagai
sewaktu-waktu tanpa mempertimbangkan waktu makan terakhir.
b. Glukosa plasma puasa > 126 mg/dl (7,0 mmol/L). Puasa didefinisikan
sebagain tidak ada asupan kalori selama 8 jam.
c. PG dua jam > 200 mg/dl (11,1 mmol/L) selama pemeriksaan toleransi
glukosa oral. Pemeriksaan ini harus dilakukan dengan muatan glukosa
yang isinya setara dengan 75 glukosa anhidrosa yang dilarutkan dalam
air.
6. Masalah yang lazim muncul
Menurut Nurarif & Kusuma (2015), ada beberapa masalah yang
lazim muncul pada pasien diabetes melitus antara lain :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologis
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan ketidakmampuan menggunakan glukose
c. Defisit Volume Cairan berhubungan dengan Kehilangan volume cairan
secara aktif, Kegagalan mekanisme pengaturan
d. Perfusi jaringan tidak efektif berhubungan dengan hipoksemia jaringan.
7. Komplikasi Diabetes Melitus Tipe II
Menurut Smeltzer (2018) komplikasi akut diabetes melitus tipe II
adalah sebagai berikut :
a. Komplikasi akut
1) Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah kadar glukosa darah rendah dan turun menjadi
kurang dari 50-60 mg/dL (2,7-3,3 mmo/L). Ini bisa disebabkan oleh
terlalu banyak insulin atau oral agen hipoglikemik, terlalu sedikit
makanan, atau aktivitas fisik yang berlebihan. Hipoglikemia dapat
terjadi kapan saja, di siang atau malam hari. Ini sering terjadi
sebelum makan, terutama jika makanan tidak disajikan atau
makanan ringan dihilangkan. Pada hipoglikemia ringan, ketika
kadar glukosa darah turun, sistem saraf simpatik distimulasi,
menghasilkan linjakan epinefrin dan norepinefrin. Hal ini
menyebabkan gejala seperti berkeringat, tremor, tatikardia, lesi
jantung, gugup dan lapar.
2) DKA (ketoasidosi diabetik)
Diabetik ketoasidosis (DKA) adalah komplikasi yang disebabkan
oleh tidak adanya insulin yang jelas-jelas tidak memadai. Defisit
insulin yang tersedia ini menyebabkan gangguan pada metabolisme
karbohidrat, protein dan lemak. Tiga klinis utama DKA adalah
hiperglikemia, dehidrasi dan kehilangan elektrolit, asidosis.
3) Hyperglycemic Hyperosmolar Nonketotic Syndrome (HHNS)
HHNS adalah kondisi serius dimana hiperosmolaritas dan
hiperglikemia mendominasi dengan perubahan pada sensium
(kesadaran). Pada saat yang sama, ketosis biasanya minimal atau
tidak ada. Cacat biokimia dasar adalah kurangnya insulin yang
efektif (yaitu resistensi insulin). Hiperglikemia yang persisten
menyebabkan diuresis osmotik, yang menyebabkan hilangnya air
dan elektrolit.
b. Komplikasi jangka panjang
1) Komplikasi makrovaskular
Komplikasi makrovaskular diabetes terjadi akibat perubahan pada
pembuluh darah menengah ke besar. Dinding pembuluh darah
menebal, sklerosa dan tersumbat oleh plak yang menempel pada
dinding pembuluh darah, akhirnya aliran darah tersumbat.
Perubahan aterosklerotik ini cenderung terjadi lebih sering dan pada
usia lebih dini pada pasien dengan diabetes dan tidak stabil. Tiga
jenis komplikasi utama makrovaskular yang lebih sering terjadi
pada populasi diabetes adalah penyakit arteri koroner, penyakit
serebrovaskular dan penyakit pembuluh darah perifer.
2) Komplikasi mikrovaskular
Komplikasi mikrovaskular diabetik (mikroangiopati) ditandai
dengan penebalan membran basemen kapiler. Membran basemen
mengelilingi endotel kapiler. Para peneliti percaya bahwa
peningkatan kadar glukosa darah bereaksi melalui serangkaian
respon biokimiawi untuk mengentalkan membran dasar hingga
beberapa kali ketebalan normalnya. Dua bagian yang terkena
perubahan ini adalah retina dan ginjal sehingga komplikasi
mikrovaskular yang terjadi adalah adalah retinopati diabetik dan
nefropati.
3) Neuropati diabetik
Neuropati mengacu pada sekelompok penyakit yang mempengaruhi
sara termasuk perifer (sensorik motorik) dan saraf tulang belakang.
Kelainan tampaknya sangat beragam dan tergantung pada lokasi sel
yang terkena. Dua jenis komplikasi neuropati diabetes yaitu
polineuropati sensorimotor (sering disebut neuropati perifer) dan
neuropati otonom.
Hiperglikemia yang terjadi dari waktu ke waktu dapat menyebabkan
kerusakan berbagai sistem tubuh terutama syaraf dan pembuluh darah.
Menurut Kemenkes RI (2020), beberapa konsekuensi dari diabetes yang
sering terjadi adalah :
a. Meningkatnya risiko penyakit jantung dan stroke
b. Neuropati (kerusakan syaraf) di kaki yang meningkatkan kejadian ulkus
kaki, infeksi dan bahkan keharusan untuk amputasi kaki
c. Retinopati diabetikum yang merupakan salah satu penyebab utama
kebutaan, terjadi akibat kerusakan pembuluh darah kecil di retina
d. Diabetes merupakan salah satu penyebab utama gagal ginjal
e. Risiko kematian penderita diabetes secara umum adalah dua kali lipat
dibandingkan bukan penderita diabetes.
Dampak lain dari diabetes adalah mengurangi usia harapan hidup
sebesar 5-10 tahun. Usia harapan hidup penderita DM tipe 2 yang
mengidap penyakit mental serius seperti skizofrenia, bahkan 20% lebih
rendah dibandingkan dengan populasi umum. Diabetes dan
komplikasinya membawa kerugian ekonomi yang besar bagi penderita
diabetes dan keluarga mereka, sistem kesehatan dan ekonomi nasional
melalui biaya medis langsung, kehilangan pekerjaan dan penghasilan
(Kemenkes RI, 2018).
8. Penatalaksanaan
Menurut PERKENI (2019), penatalaksanaan diabetes melitus tipe
II adalah :
a. Edukasi
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan
sebagai bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang
sangat penting dari pengelolaan DM secara [Link] edukasi
terdiri dari materi edukasi tingkat awal dan materi edukasi tingkat
lanjutan (PERKENI, 2019).
b. Terapi Nutrisi Medis (TNM)
TNM merupakan bagian penting dari penatalaksanaan DMT2 secara
komprehensif. Kunci keberhasilannya adalah keterlibatan secara
menyeluruh dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan
yang lain serta pasien dan keluarganya). Guna mencapai sasaran terapi
TNM sebaiknya diberikan sesuai dengan kebutuhan setiap
penyandang DM. Prinsip pengaturan makan pada penyandang DM
hampir sama dengan anjuran makan untuk masyarakat umum, yaitu
makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat
gizi masing-masing individu. Penyandang DM perlu diberikan
penekanan mengenai pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan
jumlah kandungan kalori, terutama pada mereka yang menggunakan
obat yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin itu sendiri
(PERKENI, 2019).
c. Jasmani
Latihan jasmani merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan DMT2
apabila tidak disertai adanya [Link] jasmani sehari-hari
dan latihan jasmani dilakukan secara secara teratur sebanyak 3-5 kali
perminggu selama sekitar 30-65 menit, dengan total 150 menit
[Link] antar latihan tidak lebih dari 2 hari berturut-turut.
Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan glukosa darah sebelum
latihan jasmani. Apabila kadar glukosa darah 250 mg/dL dianjurkan
untuk menunda latihan jasmani. Kegiatan sehari-hari atau aktivitas
sehari-hari bukan termasuk dalam latihan jasmani meskipun
dianjurkan untuk selalu aktif setiap hari. Latihan jasmani selain untuk
menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan
memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali
glukosa darah (PERKENI, 2019).
Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat
aerobik dengan intensitas sedang (50- 70% denyut jantung
maksimal)seperti: jalan cepat, bersepeda santai, jogging, dan
berenang. Denyut jantung maksimal dihitung dengan cara mengurangi
angka 220 dengan usia pasien. Pada penderita DM tanpa
kontraindikasi (contoh: osteoartritis, hipertensi yang tidak terkontrol,
retinopati, nefropati) dianjurkan juga melakukan resistance training
(latihan beban) 2-3 kali/perminggu sesuai dengan petunjuk dokter.
Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status
kesegaran [Link] latihan jasmani pada penyandang DM
yang relatif sehat bisa ditingkatkan, sedangkan pada penyandang DM
yang disertai komplikasi intesitas latihan perlu dikurangi dan
disesuaikan dengan masing-masing individu (PERKENI, 2019).
d. Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan
dan latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari
obat oral dan bentuk suntikan (PERKENI, 2019).
C. Konsep Aktivitas Fisik
1. Definisi Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik di definisikan sebagai setiap pergerakan jasmani
yang di hasilkan otot skelet yang memerlukan pengeluaran energi.
Istilah ini meliputi rentang penuih dari seluruh pergerkan tubuh
manusia mulai dari olah raga yang kompetitif dan latihan fisik
sebagai hobi atau aktivitas yang di lakukan dalam kehidupan sehari-
hari. Sebaiknya, aktivitas fisik bisa di definisikan sebagai keadaan
dimana pergerkan tubuh minimal dan pengeluaran energi mendekati
resting metabolic rates. Sedangkan oalh raga merupakan aktivitas
fisik yang terencana dan terstruktur serta melibatkan gerakan tubuh
berulang-ulang.
Berdasarkan MET, Aktivits fisik dibagi menjadi 3 yaitu aktivita
fisik berifensi ringan ( kurang dari 3,0 METS atau kurang dari 3,5
kkl/ menit) sedang 3,0-6,0 METS atau 3,5 kkl/menit), dan tinggi
lebih dari 6,0 METS atau lebih dari 7kkl/menit) (CDC 2015).
Menurut Pedoma perkeni 2021 aktivitas fisik di bagi menjadi 3
bagian yaitu :
a) Ringan jika METs-min/ minggu <600.
b) Sedang jika METs-min/minggu 600<1500
c) Berat jik METs-min/minggu >1500
2. Pengukuran aktivitas fisik
Pengukuran Empa dimensi dari aktivitas fisik meliputi:
a) Mode atau tipe merupakan aktivitas fisik spesifik yang di
lakukan ( contoh: berjalan, berkebun, bersepeda).
b) Frekuensi, merupakan jumlah sesi per hari atau per minggu.
Dalam konteks
c) Durasi merupakan lamanya aktifitas ( menit atau jam ) selama
jangka waktu tertentu
d) Intensitas, merupakan tingkat pengeluaran energi yang
merupakan indikator dari kebutuhan metabolik dari sebuah
aktivitas (Hasil aktivitas fisik dalam peningkatan pengeluaran
energi di atas tingkat istirahat , dan tingkat pengeluaran energi
berhubungan langsung dengan antensitas aktivitas fisik.
3. Aktivitas Fisik Pada Diabetes
Aktivitas fisik secara langsung berhubungan dengan
kecepatan pemulihan gula darah dalam otot. Saat aktivitas fisik,
otot menggunakan glukosa yang disimpannya sehingga glukosa
yang tersimpan akan berkurang. Pada saat itu untuk mengisi
kekurangan tersebut otot mengambil glukosa di dalam darah
sehingga glukosa di dalam darah menurun yang mana hal
tersebut dapat meningkatkan kontrol gula darah (B melda dkk,
2021)
D. Konsep Kadar Gula darah
1. Definisi kadar gula darah
Glukosa merupakan salah satu karbohidrat penting yang digunakan
sebagai sumber tenaga yang berperan sebagai pembentukan energi.
Glukosa dihasilkan dari makanan yang mengandung karbohidrat yang
terdiri dari monosakarida, disakarida dan juga polisakarida. Karbohidrat
akan konversikan menjadi glukosa didalam hati dan seterusnya berguna
untuk pembentukan energi dalam tubuh. Glukosa yang disimpan dalam
tubuh berupa glikogen yang disimpan pada plasma darah (blood glucose).
Glukosa berfungsi dalam otak dan sebagai bahan bakar proses
metabolisme).
Glukosa darah merupakan gula yang berada dalam darah yang
terbentuk dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen
di hati dan otot rangka. Hormon yang mempengaruhi kadar glukosa adalah
insulin dan glukagon yang berasal dari pankreas. Nilai rujukan kadar
glukosa darah dalam serum/ plasma 70- 110 mg/dl, glukosa dua jam post
prandial (setelah pemberian glukosa) ≤140 mg/dl/2 jam, dan glukosa darah
sewaktu ≤110 mg/dl2
2. Pemeriksaam kadar glukosa darah
Menurut ada berbagai cara yang biasanya di lakukan untuk
memeriksa kadar glukosa darah diantaranya.
a. Tes gula darah sewaktu disebut juga kadar gula darah acak atau
kecuali tes gula darah sewaktu dapat dilakukan kapan saja.
b. Tes Gula darah Puasa selama 8 jam
c. Tes Gula darah Puasa 2 jam
KERANGKA KONSEP DAN DEFESIENSI OPERASIONAL
Kerangka Konsep
Kerangka Konsep adalah suatu uraian dari visual hubungan atau kaitan
antara konsep yang lainnya, atau antara variabel yang satu dengan variabel yang
dari masalah yang teliti (Notoatmodjo, 2012).
DM (Diabetes Melitus)
1. Usia 1. Usia
2. Obesitas 2. Jenis Kelamin
3. Pola Makan 3. Penddikan
Kadar gula darah
4. pekerjaamnn
4. Aktivitas Fisik
Normal rendah
Berat Sedang Ringan
Tinggi
Keterangan :
: Variabel Yang Di teliti
: Variabel yang tidak di teliti