1.
Materi Pilihan Paling Menarik menurut saya adalah TPACK (Technological
Pedagogical Content Knowledge)
Mengapa materi ini menarik?
Karena TPACK adalah keterampilan inti guru masa kini. Guru bukan hanya perlu
menguasai materi (content) dan cara mengajar (pedagogy), tetapi juga bagaimana
mengintegrasikan teknologi secara tepat guna, bukan sekadar ikut tren aplikasi.
TPACK membuat guru mampu mengubah pembelajaran SKI menjadi lebih hidup
melalui media digital, namun tetap fokus pada tujuan kompetensi dan karakter.
- Deskripsi Materi: Kerangka TPACK dalam Pembelajaran SKI
TPACK adalah sebuah kerangka yang menjelaskan bahwa pembelajaran berkualitas
berasal dari perpaduan tiga kompetensi utama guru, yaitu:
1. CK – Content Knowledge (Pengetahuan Materi)
Guru memahami konsep, nilai, peristiwa, tokoh, dan konteks sejarah Islam secara
tepat—bukan hanya hafalan, tetapi juga makna dan hikmah.
2. PK – Pedagogical Knowledge (Pengetahuan Pedagogik)
Guru mampu memilih strategi pembelajaran yang sesuai, seperti PBL, diskusi
berbasis peristiwa sejarah, simulasi, bermain peran, atau mind mapping.
3. TK – Technological Knowledge (Pengetahuan Teknologi)
Guru menguasai teknologi yang mendukung pembelajaran, seperti video interaktif,
timeline digital, Canva, Quizizz, AI, dan media presentasi modern.
Ketika ketiganya beririsan, terbentuklah kemampuan yang disebut TPACK—
keterampilan guru untuk mengintegrasikan teknologi secara tepat dalam proses
pembelajaran.
- Contoh Penerapan TPACK dalam Pembelajaran SKI
Misalnya pada materi Fathu Makkah:
Content Knowledge: guru memahami latar belakang konflik, strategi Rasulullah, dan
nilai kemanusiaan.
Pedagogical Knowledge: guru memilih model PBL, mengajak siswa menganalisis
“bagaimana Rasulullah menyelesaikan konflik tanpa kekerasan”.
Technological Knowledge: guru menggunakan video sejarah, membuat timeline
interaktif, dan memberi tugas digital seperti infografis.
- Hasilnya:
Pembelajaran SKI menjadi lebih bermakna, kontekstual, visual, dan relevan bagi
generasi Z–Alpha.
- Alasan TPACK Menjadi Materi Paling Menarik dari Topik 1–8
a. Membantu guru menjawab tantangan era digital.
b. Mempermudah guru menyusun pembelajaran inovatif.
c. Meningkatkan minat dan pemahaman siswa secara signifikan.
d. Menghubungkan teknologi dan nilai-nilai sejarah—dua hal yang terlihat bertentangan,
tetapi bisa saling melengkapi.
e. Selaras dengan perkembangan AI dan kebutuhan literasi digital.
2. Lakukan analisis implementasi/penerapan materi tersebut!
1. Kondisi Nyata di Sekolah
Secara umum, guru SKI mulai menggunakan teknologi dalam pembelajaran, tetapi
mayoritas masih pada tahap substitusi (sekadar mengganti papan tulis dengan
PowerPoint). Banyak guru memiliki pemahaman yang belum seimbang antara
teknologi, pedagogi, dan materi sehingga TPACK sering diterapkan secara parsial.
Contohnya: menggunakan video sejarah tetapi tidak selaras dengan tujuan
pembelajaran, atau memakai aplikasi Quizizz tanpa strategi pedagogik.
Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman TPACK masih perlu diperkuat, terutama
dalam menyatukan tiga komponen TPACK secara terpadu.
2. Peluang Implementasi TPACK
Implementasi TPACK memiliki banyak peluang positif:
✓ Akses teknologi semakin mudah
Laptop, proyektor, dan internet lebih tersedia dibanding beberapa tahun lalu.
✓ Siswa Gen Z dan Alpha sangat responsif terhadap media digital
Mereka cepat menangkap visual, animasi, dan interaktif learning.
✓ Banyak aplikasi gratis yang mendukung TPACK
Canva, Quizizz, Wordwall, Blooket, Timeline JS, YouTube Edu, hingga AI.
✓ Kurikulum Merdeka mendukung kreativitas guru
Memberi ruang untuk diferensiasi, proyek, refleksi, dan pembelajaran aktif.
Peluang ini membuat TPACK sangat memungkinkan diterapkan secara optimal.
3. Tantangan Implementasi
Beberapa tantangan yang sering muncul:
a. Guru belum terbiasa memilih teknologi yang tepat guna
Sering terjadi penggunaan teknologi sekadar keren, bukan sesuai kebutuhan materi.
a. Kesiapan pedagogik tidak selaras dengan media
Contoh: video panjang dan monoton digunakan untuk model PBL, padahal tidak
mendukung diskusi masalah.
b. Keterbatasan waktu dan beban administrasi guru
Guru merasa sulit merancang materi berbasis TPACK secara konsisten.
c. Keterbatasan literasi digital sebagian guru
Ada guru yang hanya menguasai teknologi dasar.
d. Infrastruktur yang belum merata
Koneksi internet tidak stabil atau perangkat kurang lengkap.
4. Strategi Implementasi yang Efektif
Agar TPACK efektif diterapkan dalam mata pelajaran SKI, diperlukan strategi
berikut:
1) Mulai dari teknologi sederhana
Tidak harus memakai aplikasi canggih.
Contoh:
- Canva untuk mind map sejarah
- Video YouTube singkat
- PPT berbasis visual
- Quizizz untuk evaluasi cepat
2) Selaraskan Pedagogi dan Teknologi
Contoh penerapan benar:
- Model PBL + video konflik sejarah = analisis masalah
- Model PJBL + Canva timeline = menghasilkan produk sejarah
- Cerita sejarah + audio ilustratif = imersi makna
3) Kembangkan mini-TPACK dalam setiap pembelajaran
Guru cukup menanyakan 3 pertanyaan:
- Apa inti materi yang harus dipahami siswa?
- Metode pedagogik apa yang paling tepat?
- Teknologi apa yang membantu tanpa membebani?
4) Kolaborasi antar-guru
Guru SKI dapat bekerja sama dengan guru TIK atau guru lain untuk merancang media
pembelajaran.
5) Gunakan AI sebagai pendamping, bukan pengganti guru
Contoh: AI untuk membuat kuis, ringkasan materi, atau ide projek, tetapi keputusan
pedagogik tetap pada guru.
5. Dampak Pembelajaran Jika TPACK Diterapkan dengan Baik
a. Pembelajaran lebih hidup dan menarik
Siswa melihat sejarah melalui visual, animasi, dan simulasi.
b. Pemahaman siswa semakin dalam
Karena TPACK membantu guru merancang aktivitas yang sesuai dengan karakter
SKI: reflektif, nilai, dan analitis.
c. Meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa
Siswa Gen Z–Alpha lebih aktif dan nyaman dengan digital learning.
d. Keterampilan abad 21 berkembang
Kreativitas, kolaborasi, kemampuan digital, dan berpikir kritis meningkat.
e. Guru lebih profesional dan adaptif
TPACK menjadi fondasi kompetensi guru era digital—sejalan dengan AI dan
perkembangan teknologi.
Kesimpulan Analisis
Implementasi TPACK dalam pembelajaran SKI sangat potensial dan berdampak besar terhadap
kualitas pembelajaran. Namun keberhasilannya tergantung pada kemampuan guru
mengintegrasikan teknologi dengan pedagogi dan materi secara seimbang, bukan sekadar
menambahkan media digital. Dengan strategi yang tepat, TPACK dapat membuat pembelajaran
SKI lebih bermakna, modern, dan relevan bagi peserta didik Gen Z dan Alpha.
[Link] Praktis yang Mendukung Materi (TPACK)
1. Pembelajaran SKI dengan Video dan Timeline Digital (Mendukung TPACK)
Dalam salah satu pembelajaran tentang Perkembangan Islam Masa Umayyah, guru
memulai kelas dengan menampilkan video singkat yang menggambarkan perluasan
wilayah kekuasaan. Siswa kemudian diminta membandingkan peta masa awal Islam
dan masa Umayyah menggunakan timeline digital (Sutori).
Hasilnya, siswa terlihat lebih fokus, aktif bertanya, dan mudah memahami urutan
sejarah. Bahkan, beberapa siswa yang biasanya pasif berani mempresentasikan temuan
mereka. Pengalaman ini menunjukkan bahwa integrasi CK (peta sejarah), PK (diskusi
kelompok), dan TK (timeline digital) menghasilkan pembelajaran yang menarik dan
bermakna.
2. Menggunakan PBL + Teknologi untuk Menganalisis Konflik Sejarah
Pada materi Fathu Makkah, guru menggunakan model PBL. Siswa diberikan studi
kasus:
“Mengapa Rasulullah lebih memilih strategi damai ketika memasuki Makkah?”
Siswa mencari informasi melalui sumber digital yang telah divalidasi guru. Mereka
menyusun laporan dalam bentuk infografis menggunakan Canva.
Pembelajaran ini mendukung konsep deep learning dan TPACK, karena:
- Siswa menganalisis nilai kemanusiaan Rasulullah (CK)
- Menggunakan pendekatan PBL (PK)
- Menghasilkan produk digital (TK)
Siswa terlihat antusias, dan hasil karya mereka lebih rapi dan argumentatif.
3. Pembelajaran Joyful Learning Menggunakan Gim Digital
Dalam materi Tokoh Peradaban Islam, guru membuat kuis interaktif menggunakan
Quizizz. Siswa sangat antusias dan menunjukkan kompetisi sehat.
Guru menyadari bahwa joyful learning berbasis teknologi bukan sekadar hiburan, tetapi
dapat meningkatkan retensi dan minat belajar.
Pengalaman ini memperkuat konsep bahwa TK membantu PK dalam mencapai tujuan
CK.
Pengalaman Praktis yang Bertentangan dengan Materi (Kendala TPACK)
1. Guru Menggunakan Teknologi Hanya sebagai “Hiasan”
Pada suatu kesempatan, guru membuat slide PowerPoint dengan banyak animasi dan
gambar, tetapi materi yang dijelaskan sangat dangkal. Siswa lebih fokus pada tampilan,
bukan pada isi.
Hal ini bertentangan dengan konsep TPACK, karena teknologi tidak digunakan sesuai
tujuan pedagogis atau materi.
Ini menunjukkan miskonsepsi: TK dianggap lebih penting daripada CK dan PK.
2. Penggunaan Teknologi Tidak Sesuai dengan Gaya Belajar Siswa Gen Z–
Alpha
Guru pernah menugaskan siswa membuat makalah digital tentang sejarah Sahabat Nabi,
tetapi siswa mengeluhkan:
- tugas terlalu rumit,
- kurang visual,
- tidak sesuai dengan kebiasaan belajar mereka yang cepat, ringkas, dan visual.
Tugas tersebut bertentangan dengan karakteristik Gen Z–Alpha, dan menunjukkan
bahwa teknologi tidak selalu efektif jika tidak sesuai dengan gaya belajar siswa.
3. Internet Lemah Menghambat PBL Berbasis Teknologi
Pada pembelajaran DBL tentang Arsitektur Masjid Kuno, guru meminta siswa mencari
referensi digital. Namun jaringan sekolah sangat lambat, sehingga siswa tidak bisa
mengakses sumber.
Hal ini menyebabkan:
- pembelajaran tidak selesai tepat waktu,
- siswa kehilangan minat,
- guru terpaksa kembali ke metode ceramah.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa implementasi TPACK sangat bergantung pada
kesiapan infrastruktur.
4. Siswa Bingung Menggunakan Aplikasi Karena Tidak Dibimbing
Guru pernah meminta siswa membuat timeline digital di Tiki-Toki, tetapi tidak
memberikan petunjuk penggunaan. Siswa jadi bingung, waktu habis, dan hasil tidak
maksimal.
Ini bertentangan dengan prinsip dasar TPACK bahwa teknologi harus diajarkan dan
dimodelkan terlebih dahulu agar dapat digunakan dengan efektif.
Kesimpulan Pengalaman Praktis
Dari pengalaman di atas, dapat disimpulkan bahwa:
- Pembelajaran SKI akan sangat efektif jika guru mampu mengintegrasikan materi,
pedagogi, dan teknologi secara seimbang.
- Teknologi dapat meningkatkan minat, pemahaman, dan kreativitas siswa jika
digunakan sesuai tujuan pembelajaran.
- Namun, implementasi TPACK dapat gagal jika guru:
o hanya fokus pada teknologi,
o tidak memahami gaya belajar generasi digital,
o tidak menyiapkan bimbingan teknis,
o atau infrastruktur kurang memadai.
4. Tantangan dan Hikmah (Lesson Learned) dari Implementasi Pembelajaran
Topik 1–8
1. Tantangan dalam Implementasi
a. Tantangan PBL, PJBL, dan Deep Learning
Pendekatan PBL dan PJBL membutuhkan kemampuan guru untuk merancang masalah
otentik dan proyek yang relevan. Tantangan muncul ketika waktu pembelajaran
terbatas, sedangkan proses investigasi dan refleksi membutuhkan durasi lebih panjang.
Selain itu, kemampuan deep learning—seperti mindful learning dan meaningful
learning—masih sulit dicapai karena sebagian siswa generasi Z/Alpha lebih terbiasa
dengan pola belajar cepat dan instan, sehingga kurang sabar untuk melakukan analisis
mendalam. Penggunaan gawai juga dapat mengganggu fokus bila tidak terarah.
b. Tantangan TPACK dan Integrasi Teknologi
Meskipun guru dituntut menguasai TPACK, tidak semua guru memiliki kecakapan
teknologi yang merata. Beberapa guru masih fokus pada penggunaan PowerPoint dan
belum optimal memanfaatkan teknologi kolaboratif atau AI sebagai alat pembelajaran.
Keterbatasan fasilitas sekolah, seperti jaringan internet yang tidak stabil, juga
menghambat integrasi teknologi secara maksimal.
c. Tantangan Pendidikan Inklusi
Di kelas inklusif, kesulitan muncul ketika harus menyesuaikan bahan ajar dengan
kebutuhan siswa berkebutuhan khusus. Tanpa dukungan guru pendamping khusus, guru
reguler sering kewalahan mengelola kelas yang heterogen. Waktu persiapan materi
diferensiasi juga menjadi tantangan tersendiri.
d. Tantangan Supervisi Klinis dan BK
Dalam supervisi klinis, tidak semua guru merasa nyaman dievaluasi. Beberapa
mengalami kecanggungan, merasa diawasi, atau takut dikritik. Padahal supervisi klinis
idealnya bersifat kolaboratif. Tantangan lain adalah konselor atau pengawas harus
mempunyai keterampilan komunikasi interpersonal yang kuat agar hubungan dengan
guru tetap positif.
e. Tantangan Menghadapi Gaya Belajar Gen Z dan Alpha
Siswa generasi Z dan Alpha memiliki karakteristik cepat bosan, menyukai visual, dan
cenderung multitasking. Tantangan bagi guru adalah mendesain pembelajaran yang
variatif dan interaktif. Jika pembelajaran terlalu banyak ceramah, siswa segera
kehilangan perhatian. Guru harus menyesuaikan ritme belajar dengan kebutuhan mereka
yang lebih dinamis.
2. Hikmah / Lesson Learned
a. Pembelajaran Aktif Meningkatkan Antusiasme
PBL, PJBL, dan pembelajaran berbasis deep learning terbukti membuat siswa lebih
terlibat dan memahami materi lebih bermakna. Mereka merasa menjadi bagian dari
proses, bukan hanya penerima informasi. Hikmahnya, pendekatan ini mengajarkan
pentingnya memberikan ruang eksplorasi kepada siswa.
b. Teknologi Bukan Musuh, Tapi Alat Pendukung
Melalui tantangan TPACK, guru belajar bahwa teknologi bukan untuk menggantikan
peran guru, tetapi memperkuat pembelajaran. AI, platform kolaboratif, dan media digital
memudahkan penjelasan materi dan memotivasi siswa. Hikmahnya, guru harus terus
belajar dan adaptif agar tetap relevan.
c. Pembelajaran Inklusi Menguatkan Empati
Mengajar siswa berkebutuhan khusus memberikan pelajaran tentang kesabaran,
diferensiasi, dan humanisme. Setiap siswa memiliki kebutuhan unik, dan guru belajar
bahwa pendidikan bukan hanya tentang mencapai target akademik, tetapi juga
memanusiakan manusia.
d. Supervisi Klinis Membangun Profesionalisme
Meskipun awalnya menegangkan, supervisi klinis membuat guru lebih reflektif dan
terbuka. Guru menyadari bahwa supervisi bukanlah penilaian, tetapi proses
pendampingan untuk peningkatan mutu. Hikmahnya, kolaborasi guru–pengawas jauh
lebih efektif daripada model instruktif.
e. Generasi Z dan Alpha Mengajarkan Kreativitas Baru
Siswa generasi sekarang memaksa guru keluar dari zona nyaman. Guru belajar bahwa
pembelajaran harus fleksibel, visual, cepat, dan relevan dengan kehidupan mereka.
Hikmahnya, guru perlu terus mengembangkan kreativitas dan menggunakan pendekatan
variatif seperti games, video interaktif, dan diskusi terbuka.
5. RENCANA AKSI PEMBELAJARAN SKI KELAS VIII
Integrasi PBL – DBL – PJBL – Deep Learning – TPACK – Inklusi – Gen Z/Alpha –
Profesionalisme Guru Era AI
1. Tujuan Rencana Aksi
1. Mengimplementasikan pendekatan pembelajaran modern dalam SKI kelas VIII.
2. Membantu siswa memahami peristiwa sejarah Islam secara kritis, kreatif, dan
bermakna.
3. Membangun pembelajaran yang inklusif serta sesuai karakter Gen Z/Alpha.
4. Menguatkan peran guru yang adaptif, digital, dan profesional.
2. Rencana Aksi per Tahap Pembelajaran
A. Tahap Perencanaan
Aksi
1. Mengidentifikasi materi SKI kelas VIII (contoh: Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Tokoh
Penyebar Islam Nusantara).
2. Menentukan model pembelajaran utama: PBL, DBL, PJBL, dan deep learning.
3. Menyiapkan perangkat pembelajaran berbasis TPACK:
- Video sejarah (Jejak Islam, animasi kartun).
- Artikel dan naskah sumber primer sederhana.
- LKPD digital dengan Google Form / Docs.
- Media presentasi interaktif: Canva, Genially, Padlet.
4. Mengadakan asesmen awal kebutuhan belajar termasuk siswa berkebutuhan khusus.
5. Memetakan kelompok belajar (heterogen sesuai kemampuan siswa).
Output
- RPP, LKPD PBL–DBL–PJBL, media digital lengkap, catatan diferensiasi
kebutuhan.
B. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran
1. Implementasi PBL (Problem Based Learning)
Contoh Materi: Penyebab Jatuhnya Dinasti Umayyah
Aksi
- Guru memberikan trigger problem:
“Mengapa Dinasti Umayyah mengalami kemunduran meskipun pemerintahannya kuat
pada awalnya?”
- Siswa menganalisis sumber belajar (teks sejarah, video pendek).
- Kelompok menyusun mind map penyebab kejatuhan.
- Presentasi dan peer feedback.
Hasil
- Siswa memahami hubungan sebab–akibat sejarah, bukan hafalan.
2. Implementasi DBL (Discovery Based Learning)
Contoh Materi: Masa Keemasan Dinasti Abbasiyah
Aksi
- Guru menyediakan dokumen: gambar observatorium Baghdad, biografi ilmuwan, peta
jalur ilmu.
- Siswa diminta menemukan:
o Faktor kejayaan
o Tokoh ilmuwan dan kontribusinya
o Dampak pada dunia modern
- Siswa membuat tabel penemuan.
Hasil
Siswa menemukan makna sejarah melalui proses eksplorasi.
3. Implementasi PJBL (Project Based Learning)
Materi: Peradaban Islam di Andalusia
Aksi
- Proyek 2–3 minggu:
“Membuat Video Dokumenter/Poster Digital Andalusia Golden Age”
- Tahapan:
1. Riset → 2) Penyusunan naskah → 3) Produksi video/poster → 4) Presentasi.
- Guru memberikan rubric penilaian.
Hasil
- Siswa menguasai konten dan mempraktikkan kreativitas visual.
4. Integrasi Deep Learning
Aksi
- Mindful Learning: 3 menit refleksi setelah menyimak video sejarah.
- Meaningful Learning: siswa mengaitkan nilai sejarah dengan kehidupan modern
(misal: toleransi Andalusia → toleransi di sekolah).
- Joyful Learning: kuis interaktif (Kahoot/Quizizz), game “Siapa Aku?” sejarah.
5. Integrasi TPACK
Aksi
- Guru memanfaatkan:
o Canva → desain poster sejarah
o Padlet → sharing hasil riset
o ChatGPT/AI → ide, rangkuman, brainstorming (dikontrol guru)
o Google Classroom → pengumpulan tugas
- Teknologi digunakan bukan sebagai hiburan, tetapi penguat materi.
6. Pendidikan Inklusi
Aksi
- Materi visual diperbanyak (gambar, peta, infografis) untuk memudahkan siswa ABK.
- Soal bertingkat: pilihan ganda untuk ABK, analisis untuk siswa reguler.
- Teman sebaya (peer tutor) untuk mendampingi ABK.
7. Menyesuaikan Gaya Belajar Gen Z & Alpha
Aksi
- Pembelajaran dibuat cepat, visual, dan interaktif.
- Gunakan meme edukasi sejarah, cerita pendek, animasi.
- Gunakan micro learning: materi dibagi menjadi bagian kecil (5–7 menit).
- Diskusi 10 menit → presentasi mini → refleksi singkat.
8. Profesionalisme Guru Era AI
Aksi
- Guru meningkatkan literasi AI melalui pelatihan.
- Memanfaatkan AI sebagai teaching assistant (ide, latihan soal).
- Mengajarkan etika digital: anti plagiasi, verifikasi sumber, adab penggunaan AI.
C. Tahap Evaluasi
Aksi
1. Penilaian Proses: aktivitas diskusi, keberanian bicara, tokoah kelompok.
2. Penilaian Produk: video, poster, timeline, mind map, presentasi.
3. Evaluasi formatif: kuis digital, ulangan harian berbasis HOTS.
4. Refleksi siswa: menuliskan hal paling bermakna yang dipelajari.
5. Refleksi guru: mencatat keberhasilan dan area perbaikan.
3. Timeline Pelaksanaan (Satu Bulan)
Minggu Kegiatan
Minggu 1 PBL – materi Umayyah
Minggu 2 DBL – masa Abbasiyah
Minggu 3 PJBL – proyek Andalusia
Minggu 4 Presentasi proyek, refleksi, evaluasi
4. Indikator Keberhasilan
Siswa mampu menjelaskan sebab–akibat sejarah.
80% siswa menghasilkan proyek kreatif berkualitas.
Siswa ABK dapat mengikuti pembelajaran dengan dukungan diferensiasi.
Siswa lebih antusias dan aktif selama pembelajaran.
Guru memanfaatkan teknologi dengan tepat pada setiap pertemuan.