BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Penyakit
1. Pengertian asma
Asma bronkial merupakan suatu keadaan saluran pernapasan yang
mengalami penyempitan karena hiperaktivitas atau aktivitas yang berlebih
terhadap rangsangan tertentu yang menyebabkan peradangan dan
penyempitan yang bersifat sementara dan asma dapat menimbulkan
penyakit paru yang tidak menular, penyempitan ini dapat dipicu oleh
berbagai rangsangan. Serangan asma dapat menyebabkan kontraksi
pernapasan mengalami pembengkakan karena adanya peradangan dan
pelepasan lender yang berlebihan kedalam saluran pernapasan dan
penyempitan ini akan menyebabkan penderita harus berusaha sekuat tenaga
untuk bernapasan (Linda, 2023).
2. Etiologi
Asma bukanlah penyakit menular. Asma tidak disebabkan oleh satu faktor
saja. Ada berbagai jenis asma, pada beberapa jenis Asma Bronkial, beberapa
anggota keluarga mungkin menderita Asma Bronkial, tetapi ini tidak terlihat
pada beberapa jenis Asma Bronkial lainnya (Global Initiative for Asthma
GINA, (2021). Penyebab asma bronkhial menurut Pangestu (2023) ada :
a. Faktor alergi
Alergen dalam ruangan (misalnya debu rumah di tempat tidur, karpet dan
perabotan, boneka, polusi dan bulu binatang peliharaan).
1) Inhalan, yang masuk melalui pernafasan (debu, bulu hewan, serbuk
bunga, bakteri, polusi).
2) Ingestan, yang masuk melalui mulut (makanan dan obat-obatan).
3) Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa dingin sering
mempengaruhi asma.
4) Lingkungan kerja, misalnya: orang yang bekerja dipabrik kayu.
5) Olahraga, Serangan asma karena aktivitas berat biasanya segera
terjadi setelah aktivitas selesai,lari cepat paling mudah menimbulkan
6
7
serangan asma.
b. Stress gangguan emosi
Dapat menjadi pencetus terjadinya serangan asma, selain itu juga dapat
memperberat serangan asma yang sudah ada. Banyak faktor yang
berbeda telah dikaitkan dengan peningkatan risiko asma, meskipun
seringkali sulit untuk menemukan satu penyebab langsung. Asma
Bronkial lebih mungkin terjadi jika anggota keluarga lain juga menderita
asma terutama kerabat dekat, seperti orang tua atau saudara kandung.
3. Tanda dan gejala
Tanda gejala asma bronkial dapat bervariasi pada individu satu dengan
individu lainnya yang didasarkan pada tingkat keparahan, dan frekuensi
kekambuhannya. Pada pasien dengan kegawat daruratan asma, yang khas
pada penderita asma meliputi sesak napas berulang, batuk, dan terdapat
suara nafas, mengigil dan tergantung pada faktor lingkungan. yang mungkin
muncul pada waktu tertentu (Husain et al., 2020). Tanda-tanda asma yang
paling umum yang dapat membantu mendiagnosis penyakit adalah: napas
atau napas pendek saat berbicara, tertawa, atau berlari, nyeri dada atau sesak
saat tidur atau masalah saat tidur disebabkan oleh sesak napas, Batuk atau
mengigil. (suara siulan dari dada saat tidur atau berbaring), pilek dan flu
karena infeksi virus, kehabisan napas.(Udayani et al., 2020)
4. Patofisiologi
Penyakit asma diawali dari alergen asma yang akan mengakibatkan
timbulnya reaksi antigen dan antibodi. Reaksi tersebut mengeluarkan
subtansi vasoaktif yang menyebabkan sekresi dahak yang meningkat dan
terjadi obstruksi pada klien asma dapat disebabkan oleh kontraksi otot otot
yang mengelilingi bronkus yang menyempitkan jalan nafas pembekakan
membrane yang melapisi bronkus dan pengisian bronkus dengan mukus
yang kental, keterbatasan aliraan udara disebabkan oleh berbagai perubahan
jalan. Bronkokontriksi pada asma, kejadian fisiologis yang dominan
menyebabkan gejala klinis adalah penyempitan saluran nafas dan gangguan
pada aliran udara. Pada eksaserbasi asma akut, kontraksi otot polos
bronchial terjadi dengan cepat mempersempit jalan napas sebagai respon
8
terhadap paparan berbagai rangsangan alergen atau iritasi.
Alergen akan menstimulasi pelepasan mediator IgE mencakup histami,
tryptase, leukotrin dan postraglandin yang secara langsung mengendalikan
otot polos jalan napas. Edema jalan nafas, terjadi karena proses peradangan
berupa peningkatan permebialitas, vascular, edema, akan mempersempit
diameter bronkus dan membatasi aliran udara selain itu perubahan struktural
termasuk hipertopi dan hyperplasia pada otot polos saluran nafas dapat
berpengaruh. Hiperseksresi mukus, seksresi mukus terjadi sebagai
mekanisme fisiologis dari masuknya iritan. Pada asma bronkial pengeluaran
mukus terjadi secara berlebihan
Gambar sehingga semakin mengganggu bersihan
II.I
jalan nafas (Puspasari, 2019) . Berikut penjelasan terhadap pathway asma :
Pathway
Gambar
Asma 2. 1 Pathway
Faktor pencetus asma adalah: alergen, iritasi, polusi udara, kecemasan,
dan lingkungan kerja.
Hiperaktifitabro Edema mukosa dan Hipesekresi
nkus dinding bronkus mukus
Peningkatan resistensi jalan nafas, distress penafasan
Obstruksi jalan Keluhan sistemik, Keluhan
nafas kelemahan, psikososial
keletihan fisik
Bersihan Jalan Gangguan pola
Intoleransi
Nafas Tidak Efektif tidur
aktifitas
Gagal nafas kematian
Pola nafas tidak
efektif
Sumber: Puspasari (2019)
5. Klasifikasi
Asma diklasifikasikan sebagai penyakit paru-paru yang intermiten,
reversibel, dan obstruktif. Berikut klasifikasi asma menurut (Sommers,
2019):
9
a. Intermiten ringan: karakteristik klasifikasi ini adalah gejala batuk, mengi.
Dada sesak, kesulitan bernapas dirasakan kurang dari dua kali seminggu,
serangan asma dirasakan singkat dengan intensitas bervariasi dan tidak
ada gejala antara serangan, gejala malam haridirasakan kurang dari dua
kali sebulan, tes fungsi paru-paru: FEV1 ≥ 80% dari nilai normal: arus
puncak < 20% dengan variabilitas pagihari hingga pagi berikutnya,
atau sore hari hingga sore hari berikutnya, hari ke hari.
b. Persisten ringan: karakteristik klasifikasi ini adalah gejala batuk, mengi,
dada sesak, kesulitan bernapas dirasakan tiga hingga enam kali
seminggu, serangan asma mungkin mempengaruhi tingkat aktivitas,
gejala malam hari dirasakan tiga sampai empat kali sebulan, tes fungsi
paru-paru: FEV1 ≥ 80% dari nilai normal; arus puncak < 20% - 30%
dengan variabilitas pagi hari hingga pagi berikutnya. atau sore hari
hingga sore hari berikutnya, hari ke hari.
c. Persisten sedang: karakteristik klasifikasi ini adalah gejala batuk, mengi,
dada sesak, kesulitan bernapas dirasakan setiap hari, serangan asma
mungkin mempengaruhi tingkat aktivitas, gejala malam hari dirasakan
lima kali atau bahkan lebih dalam sebulan, tes fungsi paru- paru: FEV1
> 60% - < 80% dari nilai normal; arus puncak > 30% dengan variabilitas
pagi hari hingga pagi berikutnya.
d. Persisten berat: karakteristik klasifikasi ini adalah gejala batuk, mengi,
dada sesak. Kesulitan bernapas dirasakan terus menerus. sering
mengalami gejala di malam hari, tes fungsi paru-paru: FEV1 ≤ 60% dari
nilai normal; arus puncak >30% dengan variabilitas pagi harihingga pagi
berikutnya. atau sore hari hingga sore hari berikutnya, hari ke hari.
6. Faktor Resiko
a. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor pencetus serangan asma, dan dapat
memperberat gejala serangan asma. Sehingga asap rokok merupakan
polutan yang harus dihindari oleh penderita asma. 13 Di negara maju
sekitar 25% dari penderita asma adalah perokok aktif. Pada negara
10
berkembang penderita asma yang merokok antara 20-35%.10 Gangguan
paru yang disebabkan oleh asap rokok seperti, inflamasi paru,
bronkokonstriksi, gejala asma, turunnya respon terhadap pengobatan.
Bagi penyandang asma, rokok merupakan masalah yang nyata. Asap
rokok dapat merusak paru-paru Perokok aktif dan pasif dapat mengalami
penurunan aktivitas silium, yang dapat mengganggu mekanisme
pembersihan alami saluran napas. Ketika silium tidak berfungsi dengan
baik, lendir dan partikel berbahaya dapat lebih sulit untuk dikeluarkan
dari saluran napas. Hal ini dapat meningkatkan risiko akumulasi lendir,
penyumbatan saluran napas, peradangan, dan gangguan pernapasan
seperti [Link] pada orang yang tidak merokok, menghisap asap
rokok yang dikeluarkan oleh orang lain dapat membuat gejala memburuk
dan bahkan memicu serangan asma.
b. Polusi di Tempat Kerja
Lingkungan kerja diperkirakan merupakan faktor pencetus yang
menyumbang 2-15% klien dengan asma bronchial, kualitas udara di luar
ruangan merupakan. Faktor lingkungan lainnya seperti asap rokok, asap
kayu bakar, asap kendaraan bermotor, gas beracun ditempat kerja dapat
menyebabkan peningkatan kejadian penyakit asma bronkial seperti pada
petani, wiraswasta, PNS/TNI/POLRI, pensiunan PNS/TNI/POLRI, ibu
rumah tangga, buruh, pelajar/mahasiswa dantidak bekerja.
c. Usia
Semakin bertambahnya usia maka besar risiko pada penderita penyakit
asma bronkial dikarenakan di usia lanjut kondisi tubuh akan mulai
menurun dan penuaan dapat menyebabkan kejadian. Asma bisa di derita
oleh semua golongan usia, baik muda ataupun tua. Sistem pernapasan
dalam keadaan normal mencapai pertumbuhan dan perkembangan
maksimal pada rentang usia 20 sampai 25 tahun. Kejadian asma lebih
tinggi pada usia produktif dibandingkan usia lanjut yang dihubungkan
dengan seringnya terpapar faktor pajanan alergen, merokok, fluktuasi
hormonal, inflamasi dan infeksi saluran napas.
d. Tingkat Pendidikan
11
Tingkat pendidikan dimulai dari Tidak Tamat SD, SMP, SMA hingga
perguruan Tinggi. Menurut beberapa penelitian menunjukkan, semakin
tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin tinggi jugamenerima
informasi dan pada akhirnya semakin luas pengetahuan yang
dimilikinya. Perbedaan tingkat pendidikan akan menyebabkan
kurangnya pengetahuan kesehatan. Di sisi lain tingkat pendidikan
mempengaruhi pengetahuan kemudian menjadi suatu sikap dan pada
akhirnya berubah menjadi perilaku. Tingkat pendidikan yang dimiliki
seseorang dapat mempengaruhi perilaku yang akan mereka lakukan
termasuk perilaku merokok.
e. Faktor Genetik
Asma merupakan sindroma klinik yang dihasilkan oleh kombinasi faktor
genetik dan lingkungan dalam patogenesisnya. Sebagai complex genetics
disorder, asma memiliki korelasi positif dengan riwayat alergi(atopi) di
dalam keluarga. Lebih dari 100 gen terlibat di dalam patogenesis asma,
Gen ini hanya terdapat di fibroblas saluranpernapasan dan hal ini yang
menjadi dasar kuat keterlibatannya dalam patogenesis asma riwayat asma
pada kedua orang tua akan meningkatkan risiko anak terkena asma
sebesar 8,2 kali, sedangkan salah satu orangtua dengan riwayat asma
akan meningkatkan risiko 4,24 kali dibandingkan dengan orang tua yang
tidak memiliki riwayat asma.
f. Jenis Kelamin
Bahwa Penyakit Asma Bronkial lebih banyak atau lebih berisiko terjadi
pada jenis kelamin laki-laki dari pada jenis kelamin perempuan
dikarenakan kebiasaan merokok pada laki-laki. Sedangkan beberapa
tahun terakhir ini sebagian besar di kalangan perempuan mengalami
peningkatan prevalensi yang disebabkan oleh tembakau yang di
konsumsi.
7. Komplikasi
Adapun komplikasi yang dapat ditimbulkan bila tidak ditangani, bisa
menyebab kegagalan napas bahkan kematian. (Suprayitna et al., 2022)
8. Penatalaksanaan
12
Tujuan utama penatalaksanaan asma bronkial adalah meningkatkan dan
mempertahankan kualitas hidup agar pasien Asma Bronkial dapat hidup
normal tanpa hambatan dalam melakukan aktivitassehari-hari.
a. Terapi farmakologi
Menurut (Kutlu, 2023) terapi farmakologi adalah pengobatan asma
dengan memberikan obat-obatan tertentu untuk meringankan,mencegah,
mengurangi atau mengobati rasa sakit yang ditimbulkan oleh penyakit
asma. Derajat asma bervariasi, ada yang ringan, sedang, dan berat, maka
terapinya harus disesuaikan dengan berat ringannya asma. Asma ringan
mungkin cukup diobati pada saat serangan dan tidak perlu terapi jangka
panjang, sedangkan asma yang sedang sampai berat perlu dikontrol
dengan pengobatan jangka panjang untuk mencegah serangan asma
berikutnya.
1) Obat Penunjang Asma
Untuk mengatasi masalah pada penyakit asma dibedakan menjadi
dua yaitu farmakologi dan non farmakologi. Untuk terapi
farmakologis bisa dilakukan nebulisasi dengan agen antiinflamasi
seperti beta agonis, bronkodilator serta diberikan obat anti-radang
lain seperti kortikosteroid. (Wijaya, Mertha, & Rasdini, 2020)
a) Antihistamin
Antihistamin tidak digunakan sebagai obat utama untuk
mengobati asma, biasanya hanya diberikan pada pasien yang
mempunyai riwayat penyakit atopik seperti rhinitis alergi.
Pemberian antihistamin selama tiga bulan pada sebagian
penderita asma dengan dasar alergi dapat mengurangi gejala
asma.
b) Antibiotik
Antibiotik hanya diberikan jika serangan asma dicetuskan atau
disertai oleh rangsangan infeksi saluran pernapasan, yang
ditandai dengan suhu yang meninggi. Pemakaian antibiotika
tanpa didasari bukti infeksi dapat menyebabkan meningkatnya
insiden resistensi maupun potensi reaksi obat berlawanan.
13
Antibiotika hanya boleh digunakan untuk pasien yang memiliki
bukti presumtif adanya infeksi misalnya demam, neutrofiliadalam
darah, dan sputum.
c) Obat Batuk
Batuk adalah suatu refleks pertahanan tubuh untuk mengeluarkan
benda asing dari saluran nafas. Batuk juga melindungi paru dari
aspirasi yaitu masuknya benda asing dari saluran cerna atau
saluran nafas bagian atas. Batuk merupakan salah satu gejala
asma dan batuk terjadi karena adanya dahak yang merangsang
saluran nafas. Pada penderita asma produksi dahak berlebihan
dan dahak akan berkurang bila asmanya membaik.
d) Mukolitik dan Ekspektoran
Mukolitik merupakan obat yang dipakai untuk mengencerkan
mukus yang kental, sehingga mudah dieskpektorasi. Mekanisme
kerjanya yaitu dengan cara membuka ikatan gugus sulfidril pada
mukoprotein sehingga menurunkan viskositas mukus.
Sedangkan, ekspektoran bekerja dengan cara merangsang sekresi
cairan saluran nafas yang mempermudah
perpindahan dahak dan ekspektorasinya. Tujuan pemberian
mukolitik dan ekspektoran ialah agar penderita asma dapat
dengan mudah mengeluarkan dahak. (Tambunan, 2019)
b. Terapi non farmakologi
Hal ini terjadi karena masih banyak yang belum mengetahui dan harga
obat yang masih cukup mahal. Penggunaan obat-obatan seperti
bronkodilator yang terlalu sering (ketergantungan) dapat menjadi kontra
produktif dan berkontribusi untuk meningkatkan kematian. Kelemahan
dari penggunaan terapi farmakologi jangka panjang tanpa kontrol ke
pelayanan kesehatan yaitu memiliki efek samping yangmerugikan pasien
(Sari et al., 2021).
1) Semi flower
Tindakan posisi semi fowler efektif mengurangi sesak napas,
termasuk sesak napas ringan maupun berat dengan derajad
14
kemiringan 45˚ pada pasien asma, Tujuan posisi semi fowler yaitu
membuat jalan napas agar lebih terbuka sehingga kapasitas oksigen
yang masuk ke paru-paru lebih maksimal dan membuat frekuensi
napas menjadi lebih stabil dan dalam batas normal
2) Relaksasi napas
Pernapasan abdomen dengan frekuensi lambat atau perlahan,
berirama, dan nyaman yang dilakukan dengan memejamkanmata.
Relaksasi merupakan metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri
pada klien yang mengalami nyeri kronis. Latihan pernapasan dan
teknik relaksasi menurunkan konsumsi oksigen, frekuensi
pernafasan, frekuensi jantung, dan ketegangan otot, yang
menghentikan siklus nyeri-ansietas-ketegangan otot. (Sari et al.,
2021)
3) Teknik Pernapasan Buteyko
Menurut penelitian dari Firdaus & Wahyuni (2017) diperoleh hasil
bahwa Teknik napas Buteyko memiliki pengaruh dalammemberikan
control pada pasien asma.(Yusri, 2020)
Latihan pernapasan Buteyko untuk mengontrol pola pernapasan
dengan menahan CO2 agar tidak hilang secara progresif akibat
hiperventilasi. Proses tersebut membantu pelepasan hemoglobin
dalam darah untuk melepaskan oksigen sehingga transportasi
oksigen ke jaringan berjalan lancar dan menyebabkan relaksasi otot
polos bronkus dan terjadi bronkodilatasi. Penelitian ini juga
menghasilkan hasil yang signifikan yaitu dengan sebelum dilakukan
pernapasan Buteyko pernapasan responden 31kali/ menit setelah
dilakukan pernapasan Buteyko dengan waktu kurang lebih 15 menit
dengan jeda 30 menit menghasilkan pernapasan menjadi 25kali/
menit (Ramadhona et al., 2023). Pemakaian jangka panjang terapi
farmakologi memiliki kelemahan dengan efek samping terutama jika
pengobatan tidak dilakukan secara rutin. Penatalaksanaan non
farmakologi dikembangkan sebagai pelengkap dari pengobatan
farmakologi dalam meningkatkan kontrol asma
15
Dalam jurnal (Yuniatun et al., 2021)mengatakan yaitu melakukan
tindakan keperawatan latihan pernafasan buteyko selama 1 kali
pertemuan sebanyak 3kali dengan jeda waktu 30 menit, didapatkan
hasil adanya peningkatan control pause dari 5 detik menjadi 9 detik.
Dalam (Pratiwi & Chanif, 2021) Berdasarkan hasil penelitian Putri
(2019), pada penerapan teknik pernapasan buteyko menunjukkan
hasil frekuensi pernapasan pasien menjadi lebih baik. Menurut hasil
penelitian Baroroh (2014), pernapasan buteyko memiliki pengaruh
terhadap penurunan frekuensi kekambuhan asma pada pasien.
Yuniartanti (2019).
Latihan pernapasan buteyko tidak bertentangan dengan manajemen
asma secara konvensional. Latihan pernapasan buteyko menjadi
pelengkap manajemen asma. Awalnya, manfaat latihan pernapasan
buteyko yaitu terlihat pada pengurangan gejala dan pengurangan
penggunaan bronkodilator. Latihan pernapasan buteyko bermanfaat
meningkatkan rasa kontrol pada penderita asma, sehingga
mengurangi kecemasan terhadap gejala asma. Rasa kekurangan CO2
yang komprehensif pada latihan pernapasan buteyko membantu
mengurangi gejala dan mengendalikan penyebabnya
(misalnya, mengurangi pernapasan dan menahan napas). Teknik ini
adalah mendorong pasien untuk bernapas sedikit, melatih
pernapasan pasien menggunakan serangkaian latihan pernapasan,
dengan Teknik pernapasan Buteyko meningkatkan kontrol gejala
asma dan kualitas hidup pasien asma. (Prastyanto dan Wara
Kushartanti, 2015).
B. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Kasus Asma Bronkial
1. Pengkajian pada pasien Asma Bronkial
Keperawatan keluarga sepenuhnya tidak hanya menjadi tanggung jawab
perawat keluarga, namun tanggung jawab perlu juga diberikan kepada
16
keluarga dengan mempertimbangkan kapasitas, kompetensi dan sumber
daya yang dimiliki oleh keluarga. Tingkatan praktik keperawatan
keluarga tergantung dari perawat mengartikan keluarga dan
pemahamannya dan tergantung bagaimana perawat memandang
keluarga tersebut keluarga dapat menjadi fokus perawatan, perawat
keluarga harus bisa bekerja secara simultan antara individu dan keluarga
(Komang & Achjar, 2012). Pada tahap pengkajian perawat melakukan
pengumpulan data yang relevan dan berkaitan dengan keluhan klien.
Pengkajian dapat dilakukan melalui metode wawancara, observasi, serta
catatan dari rekam medis. Pada tahap pengkajian data yang diperoleh
digolongkan menjadi data subjektif dan data objektif (Syahputri, 2019,)
a. Data kesehatan keluarga
Pada pengkajian ini fokus pada yang sakit yang mencakup diagnose
penyakit, riwayat pengobatan, riwayat perawatan, gangguan kesehatan
serta apa saja kebutuhan dasar manusia yang terganggu kemudian
pemeriksaan seluruh anggota keluarga yang mencakup pemeriksaan
head to toe dari kepala, ekstremitas atas, ekstremitas bawah, area
genetalia.
b. Fokus utama pada yang sakit
Keluhan utama yang timbul pada klien dengan asma bronkiale adalah
dipsnea bisa berhari-hari atau berbulan-bulan, batuk dan mengi, klien
dengan asma bronkial sering kali didapatkan adanya riwayat penyakit
keturunan, tetapi pada beberapa klien lainnya tidak ditemukan adanya
penyakit yang sama dengan anggota keluarganya.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Asuhan keperawatan berdasarkan Doengers, Mouehouse (Huriah,
2018,).
1) Aktivitas
Ketidaknyamanan melakukan aktivitas karena sulit bernafas, adanya
penurunan kemampuan atau peningkatan kebutuhan bantuan
melakukan aktivitas sehari-hari, tidur posisi duduk tinggi.
2) Pernapasan
17
Pada saat istirahat atau respons terhadap aktivitas atau latihan nafas
memburuk terlentang ditempat ridur, menggunakan otot bantu
pernafasan, misal : meninggikan bahu, melebarkan hidung, adanya
bunyi nafas mengi, wheezing, adanya batuk berulang.
3) Sirkulasi
Adanya peningkatan tekanan darah, adanya peningkatan frekuensi
jantung, warna kulit, membran mukosa normal abu-abu, sianosis,
atau kemerahan dan berkeringat.
4) Integritas ego
Ansietas, peka rangsangan.
5) Asupan nutrisi
Ketidakmampuan untuk makan karena penurunan berat badan
kerena anoreksia.
6) Hubungan sosial
Keterbatasan mobilitas fisik, susah bicara atau bicara terbata-bata,
adanya ketergantungan pada orang lain.
d. Data kesehatan lingkungan
Berupa uraian kondisi rumah yang meliputi tipe rumah, keadaan lantai
rumah, kebersihan rumah serta sarana MCK yang ada di lingkungan
rumah.
e. Struktur keluarga
Pada bagian ini menjelaskan tentang tipe keluarga, peran anggota
keluarga, bagaimana komunikasi dudalam keluarga, sumber kehidupan
keluarga, serta sumber penunjang kesehatan keluarga.
f. Fungsi keluarga
Fungsi keluarga mengkaji fungsi pemeliharaan kesehatan keluarga
berdasarkan kemampuan keluarga menurut Komang & Achjar (2012,)
yaitu :
1) Keluarga mampu mengenal masalah kesehatan
Meliputi persepsi terhadap keparahan penyakit, pengertian tanda dan
gejala, faktor penyebab penyakit, persepsi keluarga terhadap
penyakit.
18
2) Keluarga mampu mengambil keputusan
Meliputi sejauh mana keluarga mengerti mengenai sifat luasnya
masalah dirasakan keluarga, keluarga menyerah terhadap masalah
kesehatan, kurang percaya terhadap tenaga kesehatan, informasi
yang salah.
3) Keluarga mampu merawat keluarga yang sakit
Meliputi bagaimana keluarga mengetahui keadaan sakit, sifat dan
perkembangan perawatan yang dibutuhkan, sumber yang ada dalam
keluarga, sikap keluarga terhadap yang sakit.
4) Keluarga mampu memelihara kesehatan/memodifikasi lingkungan
Meliputi keuntungan/manfaat pemeliharaan pentingnya hygiene
sanitasi, upaya pencegahan penyakit.
5) Keluarga mampu menggunakan fasilitas Kesehatan
g. Tipe keluarga
Berbagai bentuk tipe keluarga Wijayaningsih, (2016) antara lain :
1) Keluarga tradisional
a) Keluarga inti (nuclear family), yakni keluarga yang terdiri dari
kedua orang tua bunda ayah serta anak yang tinggal dalam satu
rumah serta masih tanggungan kedua orang tua.
b) Keluarga besar (extended family) Keluarga besar (extended
family) merupakan satu keluarga besar yang terdiri dari 1 atau 2
keluarga inti yang saling menunjang yang tinggal dalam 1 rumah.
c) Keluarga dengan satu orang tua (single parent family). Keluarga
dengan satu orang tua (single parent family) merupakan keluarga
yang kepalai oleh 1 kepala keluarga dan hidup serta tinggal dalam
satu rumah bersama anak yang bergantung kepadanya.
d) Keluarga tanpa anak (nuclear dyed) Keluarga tanpa anak (nuclear
dyed) adalah keluarga yang terdiri dari pasangan suami istri
tetapi tidak mempunyai anak dan tinggal dalam satu rumah.
e) The generation family, merupakan keluarga yang terdiri dari 3
generasi : generasi kakek dan nenek, ayah dan ibu, dan anak yang
tinggal dalam satu rumah.
19
2) Keluarga non tradisional
a) Commune family
Adalah keluarga yang lebih dari satu anggota keluarga tanpa ada
pertalian darah yang hidup dalam satu rumah.
b) The step parent family
Adalah keluarga yang tinggal dengan orang tua tiri.
c) The unmarried teenage mother
Merupakan suatu keluarga yang terdiri dari 1 orang dewasa yaitu
ibu dan anak hasil hubungan tanpa nikah.
d) The non marrital heterosexual cohabiting family
Merupakan suatu yang hidup dan tinggal bersama dalam satu
rumah yang berganti- ganti pasangan tanpa ada ikatan
pernikahan.
2. Diagnosa Keperawatan
Menurut (Huda & Kusuma 2015) diagnosa keperawatan keluarga adalah
perpanjangan dari diagnosa ke sistem keluarga dan sub-sistemnya serta
merupakan pengkajian keperawatan. Diagnosa keperawatan pada asmayang
muncul adalah bersihan jalan nafas tidak efektif, pola nafas tidak efektif,
intoleransi aktivitas, ansietas. Diagnosa ini merupakan diagnosa tunggal
dengan penerapan asuhan keperawatan keluarga mengaplikasikan pada 5
tujuan khusus untuk menentukan diagnosa keperawatan keluarga yaitu
dengan cara memodifikasi SDKI, SLKI, SIKI. Hasil capaian adalah sebagai
berikut :
a. TUK 1: Mampu mengenal masalah
Dominan capaian hasil : pengetahuan kesehatan dan perilaku yaitu
pengetahuan tentang proses penyakit.
b. TUK 2: Mampu mengambil keputusan
Dominan capaian hasil : Dominan kesehatan dan perilaku yaitu
kepercayaan mengenai kesehatan, keputusan terhadap ancaman
kesehatan, persepsi terhadap perilaku kesehatan, dukungan caregiver dan
emosional.
c. TUK 3: Mampu merawat
20
Dominan capaian hasil: kesehatan keluarga, kesehatan keluarga yaitu
kapasitas keluarga untuk terlibat dalam perawatan, peranan care giver,
interaksi dalam peningkatan status kesehatan.
d. TUK 4: Mampu memodifikasi lingkungan
Dominan capaian hasil: kesejahteraan keluarga yaitu dengan
menyediakan lingkungan yang mendukung peningkatan kesehatan,
lingkungan yang mana mengurangi faktor risiko.
e. TUK 5: Mampu memanfaatkan fasilitas kesehatan
Dominan capaian hasil: adalah pengetahuan tentang kesehatan dan
perilaku yaitu sumber-sumber kesehatan. Menurut Komang & Achjar
(2012, hal. 302) yang menyatakan asuhan keperawatan keluarga
untuk mencapai kemampuan keluarga dalam memelihara fungsi
kesehatan dengan 5 tujuan khusus.
3. Rencana kepererawatan
Setelah dilakukan penentuan diagnosa keperawatan melalui data yang hal
selanjutnya yang harus dilakukan yaitu membuat perencanaan atau
intervensi yang akan dilakukan (Syahputri, 2019). Pada penelitian penulis
meneliti 1 responden yang memiliki kondisi Kesehatan asma, penulis
memilih menggunakan teknik pernapasan Buteyko karena sudah banyak
peneliti lain yang sudah membuktikan salah satunya adalah peneliti vagedes
Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Vagedes et al (2021)) bahwa teknik
pernapasan buteyko dapat meningkatkan kualitas hidup pasien asma
bronkial.
Penelitian yang dilakukan oleh (Sutrisna et al., 2023) bahwa teknik
pernapasan buteyko dapat mempengaruhi fungsi paru pasien asma. Cara
melakukan tindakan pernapasan Buteyko adalah teknik pernapasan buteyko
dilakukan dengan posisi duduk, kemudian pasien diminta untuk mengambil
napas dangkal melalui hidung dan tahan selama mungkin sesuai dengan
kemampuan sampai terasa ada dorongan untuk menghembuskan napas.
Pada saat menghembuskan napas, dilakukan secara perlahan dalam
hitungan 1–5, kemudian pasien diminta untuk menahan napas kembali
21
sesuai dengan kemampuan hingga terasa ada dorongan untuk menarik
napas. Setelah itu, pasien diminta untuk mengambil napas secara normal
melalui hidung, dan kemudian mengulangi kembali seluruh proses yang
sudah dilakukan selama ± 15 menit.
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan
oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status kesehatan yang
dihadapi lebih baik yang menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan
(Suarni & Apriani, 2017).
Peran perawat dibutuhkan sebagai pemberi asuhan keperawatan khususnya
pada penderita asma. Upaya sederhana dan efektif yang dapat dilakukan
untuk mengurangi resiko penurunan pengembangan dinding dada pada
pasien asma yaitu dengan pengaturan posisi saat istirahat, latihan batuk
efektif, pemberian minum hangat. Dan berkolaborasi dengan teknik
pernapasan buteyko, posisi yang paling efektif bagi klien adalah posisi semi
fowler dengan derajat kemiringan 45° untuk mengurangi rasa sesak (Potter
& Perry, 2010).
5. Evaluasi Keperawatan
Tahap evaluasi merupakan perbandingan yang sistematik dan terencana
tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan
berkesinambungan dengan melibatkan klien dan tenaga kesehatan lainnya.
Evaluasi dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam menilai tindakan
keperawatan yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan
kebutuhan klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan
(Suarni & Apriani, 2017).
Penerapaan teknik pernapasan buteyko menjadi teknik yang di lakukan
kepada pasien yang mengalami gangguan nafas, pada Bersihan Jalan Nafas
Tidak Efektif menggunakan intervensi jalan nafas pada kolaborasi non
farmakologis, teknik pernapasan ini di lakukan dengan cara klien posisi
duduk, kemudian pasien diminta untuk mengambil napas dangkal melalui
22
hidung dan tahan selama mungkin sesuai dengan kemampuan sampai terasa
ada dorongan untuk menghembuskan napas pernapasan di lakukan 15 menit
dengan jeda 30 menit. (Ramadhona et al., 2023). Untuk menentukan
masalah teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi, adalah dengan cara
membandingkan antara SOAP dengan tujuan dan kriteria hasil yang
ditetapakan. Data pada evaluasi penerapan buteyko yaitu pola pernapasan
klien normal, tidak merasakan sesak, tidak gelisah disebabkan sesak pada
klien, mampu bernafas dengan tenang dan RR pada klien
normal24kali/menit.