0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan38 halaman

Asuhan Kebidanan Bayi 1 Hari Tali Pusat

Laporan ini membahas asuhan kebidanan pada bayi baru lahir, khususnya bayi Ny. L yang berusia 1 hari dengan fokus pada perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati tahun 2024. Tujuan laporan ini adalah untuk menerapkan manajemen kebidanan dan meningkatkan pengetahuan mahasiswa kebidanan mengenai perawatan bayi baru lahir. Laporan ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi institusi dan peneliti selanjutnya dalam bidang kebidanan.

Diunggah oleh

deaaretno36
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan38 halaman

Asuhan Kebidanan Bayi 1 Hari Tali Pusat

Laporan ini membahas asuhan kebidanan pada bayi baru lahir, khususnya bayi Ny. L yang berusia 1 hari dengan fokus pada perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati tahun 2024. Tujuan laporan ini adalah untuk menerapkan manajemen kebidanan dan meningkatkan pengetahuan mahasiswa kebidanan mengenai perawatan bayi baru lahir. Laporan ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi institusi dan peneliti selanjutnya dalam bidang kebidanan.

Diunggah oleh

deaaretno36
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF NEONATUS BAYI BALITA


DAN ANAK PRASEKOLAH PADA BAYI NY. L USIA 1 HARI
DENGAN PERAWATAN TALI PUSAT
DI TPMB Fatmawati
TAHUN 2024

DOSEN PEMBIMBING
Dr Bdn Rosmaria Br Manik, [Link]

Di Susun Oleh:
Fadhila Ananda Pratiwi
PO71242240094

POLTEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAMBI


JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM STUDI
SARJANA TERAPAN KEBIDANAN
2024/2025
LEMBAR PENGESAHAN

Telah disahkan “Asuhan Kebidanan Pada By. Ny. A Umur 1 hari Dengan
Perawatan Tali Pusat Di TPMB Fatmawati Tahun 2024” guna memenuhi tugas Stase
Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah program studi profesi Bidan Poltekkes
Kemenkes Jambi tahun 2024.

Jambi, Desember 2024


Mahasiswa

Fadhila Ananda Pratiwi


PO71242240094

Mengetahui :

Preseptop Akademik Pembimbing Lahan

(Dr Bdn Rosmaria, [Link]) (Bdn Fatmawati, [Link] )

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Asuhan
Kebidanan Pada Bayi Ny. L Usia 1 hari Dengan perawatan tali pusat Di TPMB Fatmawati
Tahun 2024.
Penulisanan laporan ini dalam rangka menerapkan tugas praktik klinik kebidanan
stase bayi, balita dan anak pra sekolah yang merupakan salah satu mata kuliah atau
kurikulum yang harus dilalui dalam proses pendidikan profesi kebidanan. Dalam
penyusunan laporan ini penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan serta
pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ibu Yuli Suryanti, [Link] selaku Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes
Jambi
2. Ibu Lia Artika Sari, [Link] selaku Ketua Prodi Profesi Bidan Poltekkes Kemenkes
Jambi
3. Dr Bdn Rosmaria Br Manik, [Link] selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah
memberikan bimbingan kepada penulis sehingga laporan ini diselesaikan dengan baik.
4. Ibu Bdn Fatmawati, [Link] selaku pembimbing lahan di TPMB Fatmawati
5. Kakak-kakak bidan dan rekan-rekan sejawat yang telah memberi dukungan dalam
penulisan laporan kasus.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan
dengan demikian penulis mengharapkan petunjuk dan saran serta kritik dari berbagai
pihak. Akhir kata semoga hasil laporan ini memberikan manfaat yang berguna bagi yang
membutuhkannya.
Jambi, Desember 2024

Penulis

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................. ii


KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iv

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................ 1
B Rumusan Masalah …………………………………………………………….. 2
C. Tujuan .. .......................................................................................................... 2
D. Manfaat ……………………………………………………………………….. 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Bayi Baru Lahir .............................................................................................. 4
B. Tali Pusat ........................................................................................................ 9
C. Manajemen Kebidanan ................................................................................... 14
D. Evidance Base Midwifery .............................................................................. 18

BAB III. TINJAUAN KASUS


Tinjauan Kasus ................................................................................................... 23

BAB IV PEMBAHASAN
Analisis Kasus ..................................................................................................... 30

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan..................................................................................................... 31
B. Saran .............................................................................................................. 32

DAFTAR PUSTAKA

iv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan aterm 37 minggu
sampai sampai 42 minggu dengan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram, tanpa
ada masalah atau kecacatan pada bayi sampai umur 28 hari (Noorbaya, dkk 2020:20).
Neonatus adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan
diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra uterin. Bayi baru lahir normal
adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 sampai 42 Minggu dan berat badan lahir
2500 - 4000 gram. ( Budi, s dkk, 2011)
Masa bayi baru lahir merupakan masa kritis pada kehidupan bayi 2 per 3
kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan sebesar 60 % kematian
bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah persalinan Angka Kematian Bayi
adalah salah satu indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat di
suatu negara. Angka ini digunakan untuk memonitor dan mengevaluasi program serta
kebijakan kependudukan dan kesehatan. Program kesehatan Indonesia telah
difokuskan untuk menurunkan tingkat kematian bayi yang cukup tinggi (Profil
Kesehatan Indonesia Tahun 2022).
Angka Kematian Bayi di Indonesia menurut Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2012 adalah 19 kematian per 1000 kelahiran hidup.
Penyebab tingginya kematian bayi yaitu infeksi Tetanus neonatorum (Profil
Kesehatan Indonesia Tahun 2022). Sedangkan angka kematian bayi Propinsi Jambi
tahun 2022 sebanyak 280 kasus (Profil Kesehatan propinsi jambi, 2022)
Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada bayi yang
disebabkan oleh clostridium tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin dan
menyerang sistem saraf pusat. Spora kuman tersebut masuk kedalam tubuh bayi
memalui tali pusat, yang dapat terjadi saat pemotongan tali pusat ketika bayi lahir
maupun perawatannya. Jumlah kasus Tetanus neonatorum meningkat pada tahun

1
2

2021, yaitu sebesar 11 kasus, dimana sebelumnya terdapat 4 kasus pada tahun 2020
(Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2022).
Tali pusat bisa menjadi jalan masuk untuk terjadinya suatu keadaan proses
infeksi, penggunaan alat pengikat tali pusat juga dapat mempengaruhi lepasnya tali
pusat. Terjadinya infeksi pada tali pusat ditandai dengan tali pusat berbau dan
mengeluarkan nanah dan selalu lembab sehingga menyebabkan tali pusat lama untuk
terlepas. Terkait dengan lama waktu pelepasan tali pusat dapat dipengaruhi oleh
beberapa hal diantaranya adalah infeksi, kelembaban tali pusat, kondisi sanitasi
lingkungan, cara memandikan bayi yang salah, perawatan tali pusat, dan alat pengikat
tali pusat (Sodikin, 2019:57).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam permasalahan ini yaitu

bagaimanakah asuhan kebidanan pada Bayi L usia 1 hari dengan perawatan tali pusat

di TPMB Fatmawati Tahun 2024.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu melakukan Asuhan Kebidanan Pada By. L Usia 1 hari Dengan
perawatan tali pusat Di TPMB Fatmawati Tahun 2024.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian data pada bayi normal dengan perawatan tali
pusat menggunakan pendekatan manajemen kebidanan.
b. Mampu melakukan Interpretasi data pada bayi normal dengan perawatan tali
pusat menggunakan pendekatan manajemen kebidanan.
c. Mampu melakukan identifikasi masalah dan diagnosa potensial pada bayi
normal dengan perawatan tali pusat menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.
3

d. Mampu melakukan tindakan segera kepada bayi normal dengan perawatan


tali pusat menggunakan pendekatan manajemen kebidanan.
e. Mampu merencanakan tindakan yang akan dilakukan pada bayi normal
dengan perawatan tali pusat menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.
f. Mampu melaksanakan rencana tindakan yang sudah ditentukan pada bayi
normal dengan perawatan tali pusat menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.
g. Mampu melaksanakan evaluasi atas tindakan yang dilakukan pada bayi
normal dengan perawatan tali pusat menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.
h. Mampu menganalisis tinjauan kasus secara evidance based midwifery pada
bayi normal dengan perawatan tali pusat.
D. Manfaat Penulisan
1. Bagi Poltekkes Kemenkes Jambi
Hasil penulisan diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan
khususnya mahasiswa kebidanan dalam menerapakan asuhan pada bayi
normal, serta dapat menjadi dokumen dan bahan bacaan bagi mahasiswa
kebidanan Poltekkes Kemenkes Jambi sehingga menjadikan sumber ilmu
bagi pembaca.
2. Bagi TPMB Fatmawati
Dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan gambaran informasi bagi
TPMB sehingga dapat meningkatkan manajemen asuhan kebidanan terhadap
bayi normal khususnya dalam perawatan tali pusat.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Dapat meningkatkan pengetahuan dan mampu mengaplikasikan asuhan
kebidanan pada bayi dalam perawatan tali pusat.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Bayi Baru Lahir


1. Pengertian Bayi Baru Lahir
Bayi baru lahir adalah masa kehidupan neonatus pertama di luar rahim
sampai dengan usia 28 hari dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari
kehidupan di dalam rahim menjadi di luar rahim. Pada masa ini terjadi
pematangan organ hampir di semua sistem (Heryani, 2019:16).
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dengan umur kehamilan 37
minggu sampai 42 minggu dengan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram
(Noorbaya, dkk 2020:20)
2. Ciri - Ciri Bayi Baru Lahir
Menurut (Noorbaya, dkk 2020:20) untuk melihat bayi baru lahir yang
dikatakan normal yaitu :
a. Berat badan 2500 ̶ 4000 gram
b. Panjang badan 48 ̶ 52 cm
c. Lingkar dada 30 ̶ 38 cm
d. Lingkar kepala 33 ̶ 35 cm
e. Frekuensi Jantung 120 ̶ 160 kali/menit
f. Pernafasan 40 ̶ 60 kali/menit
g. Kulit kemerahan dan licin karena jaringan subkutan cukup
h. Rambut lanugo tidak terlihat, dan rambut kepala biasanya telah sempurna
i. Kuku agak panjang dan lemas
j. Genitalia
Pada perempuan labia mayora sudah menutupi labia minora, pada laki-laki
testis sudah turun, dan skortum sudah ada
k. Refleks hisap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
l. Refleks morro atau gerak memeluk bila dikagetkan sudah baik
m. Refleks graps atau menggenggam sudah baik.

4
5

n. Refleks rooting mencari puting susu dengan rangsangan taktil pada pipi dan
daerah mulut terbentuk dengan baik
o. Eliminasi baik, mekonium akan kelur dalam 24 jam pertama, mekonium
berwarna hitam kecoklatan.
3. Apgar Skor
Infeksi intrauteri berat seperti lahir dan menit kemudian, skor apgar
menggunakan tanda-tanda vital untuk mengindikasikan perlunya tindakan
resusitasi, upaya pernapasan, frekuensi denyut jantung, warna kulit, tonus otot,
dan respons terhadap stimulus. Setiap tanda diberikan skor 1, 2, atau 0 dan
kemudian ditotal. Skor 8-10 mengidentifikasikan bayi berada dalam kondisi
baik, skor 0-7 merepresentasikan bayi afiksia ringan/sedang, dan skor 1-3
merepresentasikan asfiksia berat yang memerlukan resusitasi segera. (8)
Tabel 2.1 Tanda APGAR
Tanda Nilai : 0 Nilai :1 Nilai :2
Warna Kulit Pucat/biru Tubuh merah, Seluruh tubuh
seluruh tubuh ekstremitas biru kemerahan

Denyut Tidak ada <100 >100


Jantung

Tonus otot Tidak ada Ekstremitas Gerakan aktif


sedikit fleksi

Aktifitas Tidak ada Sedikit gerak Menangis


Pernapasan Tidak ada Lemah/tidak Langsung menangis
teratur

4. Penampilan bayi baru lahir

a. Kesadaran dan Reaksi terhadap sekeliling, perlu di kurangi rangsangan


terhadap reaksi terhadap rayuan, rangsangan sakit, atau suara keras yang
mengejutkan atau suara mainan;
b. Keaktifan, bayi normal melakukan gerakan-gerakan yang simetris pada
waktu bangun. adanya tremor pada bibir, kaki dan tangan pada waktu
menangis adalah normal, tetapi bila hal ini terjadi pada waktu tidur,
6

kemungkinan gejala suatu kelainan yang perlu dilakukan pemeriksaan lebih


lanjut;
c. Simetris, apakah secara keseluruhan badan seimbang; kepala: apakah terlihat
simetris, benjolan seperti tumor yang lunak dibelakang atas yang
menyebabkan kepala tampak lebih panjang ini disebabkan akibat proses
kelahiran, benjolan pada kepala tersebut hanya terdapatdibelahan kiri atau
kanan saja, atau di sisi kiri dan kanan tetapi tidak melampaui garis tengah
bujur kepala, pengukuran lingkar kepala dapat ditunda sampai kondisi benjol
(Capput sucsedenaum) dikepala hilang dan jika terjadi moulase, tunggu
hingga kepala bayi kembali padabentuknya semula.
d. Muka wajah: bayi tampak ekspresi; mata: perhatikan antara kesimetrisan
antara mata kanan dan mata kiri, perhatikan adanya tanda-tanda perdarahan
berupa bercak merah yang akan menghilang dalam waktu 6 minggu;
e. Mulut: penampilannya harus simetris, mulut tidak mencucu seperti mulut
ikan, tidak ada tanda kebiruan pada mulut bayi, saliva tidak terdapat pada
bayi normal, bila terdapat secret yang berlebihan, kemungkinan ada kelainan
bawaan saluran cerna;
f. Leher, dada, abdomen: melihat adanya cedera akibat persalinan; perhatikan
ada tidaknya kelainan pada pernapasan bayi, karena bayi biasanya bayi masih
ada pernapasan perut;

g. Punggung: adanya benjolan atau tumor atau tulang punggung dengan lekukan
yang kurang sempurna; Bahu, tangan, sendi, tungkai: perlu diperhatikan
bentuk, gerakannya, faktur (bila ekstremitas lunglai/kurang gerak), farices
h. Kulit dan kuku: dalam keadaan normal kulit berwarna kemerahan, kadang-
kadang didapatkan kulit yang mengelupas ringan, pengelupasan yang
berlebihan harus dipikirkan kemungkinan adanya kelainan, waspada
timbulnya kulit dengan warna yang tak rata (“cuti Marmorata”) ini dapat
disebabkan karena temperature dingin, telapak tangan, telapak kaki atau kuku
yang menjadi biru, kulit menjadi pucat dan kuning, bercak - bercak besar biru
yang sering terdapat disekitar bokong (Mongolian Spot) akan menghilang
7

pada umur 1 (satu) sampai5 (lima) tahun;


i. Kelancaran menghisap dan pencernaan: harus diperhatikan: tinja dan kemih:
diharapkan keluar dalam 24 jam pertama. Waspada bila terjadi perut yang
tiba-tiba membesar, tanpa keluarnya tinja, disertai muntah, dan mungkin
dengan kulit kebiruan, harap segera konsultasi untuk pemeriksaan lebih
lanjut, untuk kemungkinsn Hirschprung/CongenitalMegacolon
j. Refleks yaitu suatu gerakan yang terjadi secara otomatis dan spontan tanpa
disadari pada bayi normal, refleks pada bayi antara lain Tonik neek refleks,
yaitu gerakan spontan otot kuduk pada bayi normal, bila ditengkurapkan akan
secara spontan memiringkan kepalanya, Rooting refleks yaitu bila jarinya
menyentuh daerah sekitar mulut bayi maka ia akan membuka mulutnya dan
memiringkan kepalanya ke arahdatangnya jari , Grasping refleks yaitu bila
jari kita menyentuh telapak

k. tangan bayi maka jari-jarinya akan langsung menggenggam sangat kuat, Moro
refleks yaitu reflek yang timbul diluar tubuhnya pada orang yang
mendekapnya, Stapping refleks yaitu reflek kaki secaraspontan apabila
bayi diangkat tegak dan kakinya satu persatu disentuhkan pada satu dasar
maka bayi seolah- olah berjalan, Sucking refleks (menghisap) yaitu areola
putting susu tertekan gusi bayi, lidah, dan langis-langit sehingga sinus
laktiferus tertekan dan memancarkan ASI, Swallowing refleks (menelan)
dimana ASI dimulut bayi mendesak otot didaerah mulut dan faring sehingga
mengaktifkan refleks menelan dan mendorong ASI ke dalam lambung.
l. Berat badan: sebaiknya tiap hari dipantau penurunan berat badan lebih dari
5% berat badan waktu lahir, menunjukan kekurangan cairan.
m. Kesadaran bayi misalnya bila bayi diangkat/direnggut secara kasar dari
gendongan kemudian seolah-olah bayi melakukan gerakan yang mengangkat.
5. Asuhan pada Bayi Baru Lahir
Menurut (Noorbaya, dkk 2020:21) asuhan pada bayi baru lahir adalah
sebagai berikut :
a. Penilaian
8

Melakukan segera penilaian awal pada bayi baru lahir, apakah bayi menangis
dengan kuat atau bernafas tanpa kesulitan, apakah bayi bergerak dengan aktif,
serta melihat apakah ada sianosis atau tidak pada bayi yang baru dilahirkan.
b. Melakukan perawatan tali pusat
c. Memberikan inisiasi menyusu dini
d. Melakukan pencegahan perdarahan
e. Melakukan pencegahan infeksi mata
f. Memberikan imunisasi hepatitis B
g. Pemberian ASI
h. Melakukan pemeriksan fisik pada bayi
Perawatan neonatal esensial pada saat lahir sangat penting, karena pada neonatus
hari-hari pertama kehidupannya yang sangat rentan. Banyak perubahan yang
terjadi pada bayi dalam menyesuaikan diri dari kehidupan di dalam rahim ke
kehidupan di luar rahim, dengan meliputi kewaspadaan umum, penilaian awal,
pencegahan kehilangan panas, pemotongan dan perawatan tali pusat, inisiasi
menyusu dini (IMD), pencegahan perdarahan, pencegahan infeksi mata,
pemberian imunisasi, pemberian identitas, anamnesis dan pemeriksaan fisik.
6. Tanda bahaya pada bayi baru lahir
Tanda-tanda bahaya bayi baru lahir merupakan suatu gejala yang dapat
mengancam kesehatan bayi baru lahir, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Maka dari itu sudah seharusnya orang tua mengetahui tanda-tanda bahaya
terhadap bayi mereka agar dapat mengantisipasinya lebih awal.
Tanda-tanda bahaya bayi baru lahir (Muslihatun,2010) yaitu:
1. Bayi tidak mau menyusu
2. Muntah-muntah dan tidak bisa minum
3. Kejang, lemah,
4. Sesak nafas
5. Rewel
6. Pusar kemerahan
7. Demam, suhu tubuh dingin
8. Mata bernanah
9

9. Diare
10. Bayi kuning

B. Tali Pusat
1. Pengertian Tali Pusat
Tali Pusat adalah sebuah saluran yang menghubungkan ibu dan janin di
dalam kandungan yang merupakan sebuah saluran penting untuk memenuhi
kehidupan janin selama dalam kandungan. Tali pusat adalah jaringan yang terdiri
atas dua arteri dan satu vena yang di lindungi oleh jaringan ikat mukoid disebut
jeli warton yang diselubungi oleh selapis mukosa tipis (Sodikin, 2019:7).
2. Fisiologi pembentukan tali pusat
Tali pusat atau disebut juga funis merentang dari umbilikus janin ke
permukaan fetal plasenta dan mempunyai panjang 50 ̶ 55 cm. Tali pusat
membungkus dua buah pembuluh arteri umbilikalis yang mengangkut darah
yang sudah diambil oksigennya dari dalam tubuh janin, vena umbilikalis yang
tunggal membawa darah yang sudah dibersihkan dari plasenta ke dalam janin
(Sodikin, 2019:8).
Pembuluh darah umbilikalis tertanam dalam subtansi gelatinosa yang
dikenal dengan nama jeli wharton. Jeli ini melindungi pembuluh darah tersebut
terhadap kompresi dan membantu mencegah penekukan tali pusat. Jeli wharton
akan mengembang jika terkena udara, kekuatan aliran darah ± 400 ml per menit
lewat tali pusat membantu mempertahankan tali pusat dalam posisi relatif lurus
dan mencegah terbelitnya tali pusat tersebut ketika janin bergerak (Sodikin,
2019:9).
3. Fungsi Tali Pusat
Tali pusat berperan sangat penting bagi kehidupan janin selama dalam
kandungan yaitu sebagai sirkulasi darah janin. Adapun fungsinya yaitu, sebagai
berikut :
a. arteri umbilikus berfungsi sebagai alat bantu untuk mengalirkan darah yang
mengandung sisa metabolisme dan karbohidrat dari janin ke plasenta.
10

b. vena umbilikus berfungsi sebagai alat bantu untuk mengalirkan darah yang
kaya akan nutrisi dan oksigen dari plasenta ke tubuh janin.
c. Jeli wharton berfungsi sebagai alat bantu untuk mencegah kompresi
pembuluh darah sehingga pemberian makan untuk embrio-janin terjamin
(Sodikin, 2019:15).
5. Lama Lepasnya Tali Pusat
Tali pusat yang diberikan perawatan dengan baik akan memberikan
dampak yang positif sehingga tidak menimbulkan gejala yang dapat
menyebabkan lama lepasnya tali pusat seperti timbulnya infeksi pada tali pusat.
Sisa-sisa dari tali pusat tersebut akan terlepas dalam waktu 7-10 hari, dan sering
juga sampai 3 minggu baru terlepas. Umumnya tali pusat akan lepas 1 minggu
setelah lahir dan luka sembuh dalam 15 hari tanpa ada komplikasi dan
membiarkan tali pusat lepas secara alami. Lama lepas tali pusat dikatakan cepat
jika kurang dari 5 hari, normal jika antara 5 sampai 7 hari, dan lambat jika lebih
dari 7 hari.
Menurut hasil penelitian Vedjia dkk (2018) menunjukkan lama pelepasan
tali pusat menggunakan ASI lebih cepat dibandingkan dengan perawatan kasa
kering. Diharapkan perawatan tali pusat dengan ASI dapat direkomendasikan
menjadi standar perawatan bayi baru lahir, sebagai upaya pencegahan infeksi tali
pusat. Lepasnya tali pusat selain dipengaruhi oleh perawatan tali pusat dengan
menjaga agar tali pusat tetap kering dan bersih juga dipengaruhi oleh kepatuhan
ibu untuk membersihkan tali pusat setiap hari (Umu Qonitun, 2018:3)
6. Perawatan Tali Pusat
Perawatan tali pusat adalah melakukan pengobatan dan peningkatan tali
pusat yang menyebabkan pemisahan fisik ibu dan bayi, kemudian tali pusat
dirawat dalam keadaan bersih dan terhindar dari infeksi. Perawatan tali pusat
yang baik dan benar menimbulkan dampak positif yaitu tali pusat atau lepas
pada hari ke-5 sampai hari ke-7 tanpa ada komplikasi sedangkan dampak
negatif dari perawatan tali pusat yang tidak benar adalah bayi akan mengalami
penyakit infeksi yang akan mengakibatkan kematian (Fatrin & Vista, 2016).
11

Perawatan tali pusat secara umum bertujuan untuk mencegah terjadinya


infeksi dan mempercepat putusnya tali pusat infeksi tali pusat pada dasarnya
dapat dicegah dengan melakukan perawatan tali pusat yang baik dan benar
yaitu dengan perawatan kering dan bersih, banyak pendapat tentang cara
terbaik untuk merawat tali pusat (Fatrin & Vista, 2016).
Cara Membersihkan Tali Pusat
a. Cuci tangan bersih
b. Gunakan handscoon
c. Ambil kapas bulat atau kapas yang sudah dicelupkan kedalam
air matang, lalu bersihkan sisa tali pusar, terutama bagian
pangkalnya (yang menempel pada perut)
d. Lakukan dengan hati-hati, apalagi bila pusar bayi masih berwarna merah.
e. Gunakan jepitan khusus dari plastik untuk memegang
ujung tali pusarnya, agar lebih mudah dalam membersihkan
dan melilitkan perbannya
f. Ambil kasa kering lalu bungkus sisa tali pusat. Usahakan
agar seluruh permukaan hingga ke pangkalnya tertutup
perban
g. Lilitkan perban/kasa sedemikian rupa agar bungkusan tidak
terlepas. Pastikan tidak terlalu ketat, agar bayi tidak
kesakitan
h. Gunakan kain kasa untuk mengikat perban agar tetap pada tempatnya.
Cara perawatan tali pusat yang tepat akan memberikan dampak positif
kepada bayi baru lahir, Merawat dan menjaga tali pusat agar tetap bersih dan
aman akan membuat bayi nyaman dan terjaga dari infeksi. Pada dasarnya tali
pusat bayi baru lahir tidak perlu ditutup dengan kain kassa, tali pusat akan cepat
mengering jika dibiarkan terbuka tetapi harus memperhatikan kebersihan tali
pusat sebelum menyentuh tali pusat sebaiknya mencuci tangan terlebih dahulu
agar tidak menularkan kuman atau bakteri ke tali pusat (Asiyah et al.,
2017:112)
12

WHO juga merekomendasikan salah satu cara dalam merawat tali pusat
yaitu dengan metode topikal ASI. Metode topikal ASI merupakan salah satu
praktik perawatan tali pusat budaya yang digunakan di Turki. Hal ini bermanfaat
dikarenakan faktor anti bakteri yang terdapat dalam ASI. Selain itu ASI memiliki
banyak agen imunologi dan anti infeksi. ASI mengandung jumlah komponen
pelengkap yang signifikan, bertindak sebagai agen antimikroba alami dan juga
dilengkapi dengan faktor pelindung yang memberikan kekebalan pasif spesifik
dan nonspesifik (Allam, Nehal A. 2015). Perawatan tali pusat yang
menggunakan ASI, kassa kering, betadine dan dikategorikan normal ( Andreinie
dkk, 2020)
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam perawatan tali pusat
a. Jangan membungkus putung tali pusat atau perut bayi atau
menoleskan cairan atau bahan apapun ke puntung tali pusat

b. Jika puntung tali pusat kotor, bersihkan (hati-hati) dengan


air DTT dan sabun segera keringkan secara seksama dengan
menggunakan kain bersih.
c. Teknik Perawatan Tali Pusat Bayi. Dalam perawatan
maupun pemotongantali pusat bayi itu menggunakan teknik
steril. Artinya, dalam setiap pelaksanaan perawatan dan
pemotongan tali pusat bayi itu menggunakan alat- alat yang
steril. Dan dalam setiap proses perawatan itu dianjurkan
untuk sealalu memakai hanscoon
d. Penggunaan Popok pada bayi. Saat tali pusat dipotong,
maka harus diperhatikan penggunaan popok bayi tersebut.
Sebaiknya popok dipakaikan dibawah pusar. Alasannya
adalah agar pusarnya tidak lembab, karena apabila lembab
akan beresiko timbulnya infeksi.
7. Tanda-Tanda Tali Pusat Bayi yang Terinfeksi

a. Bernanah Kondisi ini bisa muncul jika kurang benar dalam


merawatnya,seperti kurang bersih dan kurang kering. Hal ini juga bisa
13

terjadi bila saat pemotongan tali pusat bayi menggunakan benda yang tidak
steril sehingga kuman mudah tumbuh dan berkembangbiak.
b. Bau Tidak Sedap, Bau tidak sedap muncul pada tali pusat menandakan
bahwa tali pusat terinfeksi. Lalu tali pusat akan bernanah dan
[Link] itu juga ditandai dengan kemerahan di sekitar pusar.
c. Tidak Banyak Menangis Bayi yang terinfeksi umumnya tidak banyak
menangis sebaliknya banyak tidur. Gejala ini ditandai dengan bayi malas
minum,demam dan yang paling parah sampai terjadi kejang.

Gambar 2.1
Pathway Tali Pusat

Bayi Baru Lahir

Adaptasi Bayi Baru Lahir

Pemotongan Tali pusat

Dilakukan Intervensi Tidak Dilakukan intervensi

1. Perawatan basah Dapat terjadi Infeksi


2. Perawatan kering

Ada Perubahan Tidak ada Perubahan

Tidak terjadi imfeksi Lakukan pengkajian


dan mempercepat ulang
puputnya talipusat
14

Gambar 2.2
Madmaping Tali pusat

Fisiologi
- Panjang50-55
cm
- Membungkus
pembuluh darah
Pembuluh Darah
- Vena Umbilikal
- Arteri Umbilikal

Perawatan yang
tidak adekuat
- Infeksi
- Kematian Bayi Tali Pusat

Waktu pelepasan
- Cepat < 5 hari
- Normal 5-7
hari
Tanda Infeksi Tali - Lambat > 7
Pusat hari
- Bernanah
- Bau tidak sedap
- Bayi malas
minum, demam
bisa sampai
kejang

C. Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan yaitu suatu pendekatan yang digunakan oleh bidan
dalam memecahkan masalah secara sistematis, mulai dari pengkajian, analisis
data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
15

Manajemen kebidanan merupakan suatu cara yang digunakan bidan dalam


memberikan asuhan kebidanan. Langkah-langkah dalam manajemen kebidanan
menggambarkan pola pikir dan tindakan bidan dalam pengambilan keputusan
klinis untuk mengatasi masalah. Pendapat Helen Varney, proses penyelesaian
masalah merupakan salah satu upaya yang dapat digunakan dalam manajemen
kebidanan. Dalam melaksanakan manajemen kebidanan, bidan harus memiliki
kemampuan berpikir secara kritis untuk menegakkan diagnosa atau masalah
potensial, dan bidan harus mampu melakukan kolaborasi atau kerja sama.
Karena akan digunakan sebagai dasar dalam perencanaan kebidanan
selanjutnya.
Dalam proses manajemen varney terdiri dari 7 langkah yang berurutan,
dimana setiap langkah disempurnakan secara periodik. Langkah pertama
dimulai dengan pengumpulan data dasar dan langkah terakhir evaluasi. Ketujuh
langkah manajemen akan membentuk suatu kerangka langkap yang dapat
digunakan dalam situasi apapun. Akan tetapi langkah dapat diuraikan lagi
menjadi langkah-langkah yang lebih rinci dan bisa berubah sesuai dengan
kondisi klien.
1. Tahap-tahap dalam manajemen kebidanan
Beberapa tahap manajemen kebidanan menurut Varney, 2004 yaitu:
a. Langkah I. Pengumpulan data dasar
Pada langkah ini untuk mengumpulkan semua informasi yang akurat dan
lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien untuk
memperoleh data dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Anamnesa yaitu akan mendapatkan data subjektif dari pasien, riwayat
penyakit lalu, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit keluarga, data
imunisasi, data kebutuhan dasar.
2) Pemeriksaan fisik yaitu akan mendapatkan data objektif sesuai dengan
dengan kebutuhan, pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan inspeksi dan
palpasi pada tubuh bayi.
a) Pemeriksaan tanda-tanda vital : Suhu, Nadi, Pernapasan, Berat
badan, Panjang badan, lingkar kepala, BAB dan BAK
16

b) Pemeriksaan head to too yaitu pemeriksaan dari ujung rambut


sampai ke kaki
c) Obat-obatan yang di dapat : zalf mata, Inj. Vitamin K, HB0
b. Langkah II. Interpretasi data dasar
Pada langkah ini dilakukan idetifikasi dengan benar terhadap diagnosa atau
masalah kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data
yang telah diperoleh. Data dasar yang sudah terkumpul kemudian
diinterpretasikan selanjutnya dapat dirumuskan diagnosa dan masalah yang
spesifik.
c. Langkah III. Identifikasi diagnosa/masalah potensial
Pada langkah ini melakukan identifikasi diagnosa atau masalah potensial
dan mengantisipasi penanganannya. Masalah potensial atau diagnosa
potensial yang berdasarkan serangkaian masalah atau diagnosa yang sudah
diidentifikasikan. Pada langkah ini dibutuhkan antisipasi bila memungkinkan
dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien. Bidan diharapkan bisa
bersiap-siap jika diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi. Pada
langkah ini sangat penting dilakukan asuhan yang aman.
Diagnosa/masalah potensial: tidak ada.
d. Langkah IV. Tindakan segera/kolaborasi
Pada langkah ini menggambarkan kesinambungan dari proses manajemen
kebidanan. Bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera atau
melakukan konsultasi, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lain
berdasarkan kondisi klien. Pada langkah ini bidan juga harus merumuskan
tindakan kegawatdaruratan untuk menyelamatkan klien, yang mampu
dilakukan secara mandiri dan bersifat rujukan.
Tindakan segera/kolaborasi: tidak ada.
e. Langkah V. Rencana asuhan kebidanan
Berdasarkan langkah-langkah sebelumnya maka dapat dibuat rencana
asuhan yang menyeluruh. Rencana asuhan merupakan lanjutan manajemen
terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi. Rencana asuhan
17

yang dibuat harus melibatkan klien dan bidan agar dapat melaksanakan
dengan efektif (Jannah: 2012).
Dalam kasus ini rencana asuhan yang diberikan berupa :
1. Mandikan bayi dan jaga kehangatan bayi karena hipotermi mudah terjadi
pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah.
2. Ajarkan ibu cara perawatan talipusat yaitu dengan perawatan cara kering
3. Jelaskan pada ibu tanda-tanda infeksi pada tali pusat agar ibu bisa
mendeteksi secara dini
4. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin agar kebutuhan
bayi akan ASI terpenuhi
5. Beritahu ibu tanda bahaya pada bayi dengan mengetahui tanda bahaya
pada bayi dapat mencegah terjadinyakomplikasi lebih lanjut
f. Langkah VI. Implementasi/pelaksanaan asuhan kebidanan
Melaksanakan rencana tindakan secara efisien dan memperhatikan rasa
aman klien. Pelaksanaan asuhan kebidanan dapat dikerjakan secara
keseluruhan oleh bidan atau kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (Jannah:
2012).
g. Langkah V. Evaluasi kebidanan
Menilai pelaksanaan asuhan yang telah diberikan kepada klien. Bidan
harus dapat mengamati dan mengobservasi terhadap masalah yang dihadapi
klien, apakah masalah diatasi seluruhnya, sebagian telah dipecahkan atau
mungkin muncul masalah baru. Pada prinsipnya langkah ini ini adalah
mengkaji kembali terhadap klien untuk menjawab pertanyaan sejauh mana
tercapainya rencana yang dilakukan.
2. Pendokumentasian asuhan kebidanan
Pendokumentasian yaitu catatan tentang interaksi antara tenaga kesehatan,
klien, keluarga klien, dan tenaga kesehatan lain yang mencatat tentang hasil
pemeriksaan, prosedur, pengobatan pada klien dan pendidikan kepada klien,
serta respon klien terhadap semua kegiatan yang dilakukan. Alur pikir bidan
dalam menghadapi klien meliputi 7 langkah kemudian didokumentasikan dalam
bentuk SOAP, yaitu:
18

a. S: Subjektif
Menggambarkan hasil pengumpulan data dasar klien yang diperoleh dari
anamnesis sebagai langkah I Varney.
b. O: Objektif
Menggambarkan hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium, dan uji
diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan
sebagai langkah I Varney.
c. A: Assesment
Menggambarkan hasil analisis dan interpretasi data subjektif dan objektif
dalam suatu identifikasi masalah, terdiri dari:
1) Diagnosis/masalah
2) Antisipasi diagnosis/masalah potensial
3) Tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi kolaborasi dan
merujuk, sebagai langkah 2,3, dan 4 Varney.
d. P: Planning
Menggambarkan dokumentasi rencana, pelaksanaan dan evaluasi
berdasarkan pengkajian langkah 5,6, dan 7 Varney. Pendokumentasian SOAP
dilakukan pada asuhan tahap berikutnya dan evaluasi hari berikutnya.
D. Teori Evidence Based Midwifery (EBM)
1. Pengertian
Evidence based artinya berdasarkan bukti. Artinya tidak lagi berdasarkan
pengalaman atau kebiasaaan semata. Evidence based midwifery adalah pemberian
informasi kebidanan berdasarkan bukti dari penelitian yang bisa dipertanggung
jawabkan (Gray, 1997).
Praktik kebidanan sekarang lebih didasarkan pada bukti ilmiah hasil
penelitian dan pengalaman praktik dari para praktisi dari seluruh penjuru dunia.
Rutinitas yang tidak terbukti manfaatnya kini tidak dianjurkan lagi (Jayanti, 2020:
31).
2. Manfaaat Evidence based Midwifery dalam Praktik Kebidanan
Dengan pelaksanaan praktik asuhan kebidanan yang berdasarkan evidence
based tersebut tentu saja bermanfaat membantu mengurangi angka kematian ibu
19

hamil dan risiko-risiko yang dialami selama persalinan bagi ibu dan bayi serta
bermanfaat juga untuk memperbaiki keadaan kesehatan masyarakat.
3. Kategori Evidence Based Menurut World Health Organization (2017:31)
Menurut WHO, Evidence based terbagi sebagai berikut:
a. Evidenve-based Medicine adalah pemberian informasi obat-obatan
berdasarkan bukti dari penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan. Temuan
obat baru yang dapat saja segera ditarik dan peredaran hanya dalam waktu
beberapa bulan setelah obat tersebut dipasarkan, karena di populasi terbukti
memberikan efek samping yang berat pada sebagian penggunanya.
b. Evidence-based Policy adalah satu sistem peningkatan mutu pelayanan
kesehatan dan kedokteran (Clinical Governance): suatu tantangan profesi
kesehatan dan kedokteran di masa mendatang.
c. Evidence based Midwifery adalah pemberian informasi kebidanan berdasarkan
bukti dari penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan.
d. Evidence based report adalah mgmpakan bentuk penulisan laporan kasus yang
baru berkembang, memperlihatkan bagaimana hasil penelitian dapat
diterapkan pada semua tahapan penatalaksanaan pasien.

4. Sumber Evidence Based


Sumber EBM dapat diperoleh melalui bukti publikasi jurnal dari internet
maupun berlangganan baik hardcopy seperti majalah, bulletin, atau CD. Situs
internet yang ada dapat diakses, ada yang harus dibayar namun banyak pula yang
public domain
5. Evidece Based Midwifery pada kasus
Judul,
N Metode/Populasi/Sampel/
Penulis, Tujuan Hasil Telaah
o Teknik Penelitian
Tahun
1 Judul Tujuan Quasy eksperimen dengan Rata-rata waktu
perbedaan penelitian disign posttest only . sampel pelepasan tali pusat
perawatan mengetahui penelitian adalah bayi yang menggunakan ASI 4 hari
pusat perbedaan lahir di Puskesmas Rao sedangkan rata-rata
dengan jumlah sampel 16
menggunaka perawatan waktu pelepasan tali
bayi, dimana 8 bayi dengan
n asi dengan tali pusat pusat dengan kasa kering
kelompok ASI dan 8 bayi
20

kasa kering menngunaka dengan kassa kering. Data 7 hari. Terdapat


terhadap n ASI dengan yang di olah menggunakan uji perbedaan signifikan
lama Kasa kering t-independent dengan p-value lama pelepasan tali pusat
pelepasan terhadap < 0,05 menggunakan ASI
tali pusat lama dengan kasa kering
Vedjia
pelepasan tali dengan p-value = 0,05.
Medhyna, pusat bayi Simpulan : Menunjukkan
Nurmayani baru lahir. lama pelepasan tali pusat
Tahun 2018 menggunakan ASI lebih
cepat dibandingkan dengan
perawatan kasa kering.
Diharapkan perawatan tali
pusat dengan ASI dapat
direkomendasikan menjadi
standar perawatan bayi baru
lahir, sebagai upaya
pencegahan infeksi tali
pusat.
2 Judul Penelitian ini Jenis penelitian ini Hasil penelitian bahwa
Perbandingan bertujuan menggukan true terdapat pada kedua
metode untuk experiment dengan kelompok masing-
topikal asi mengetahui pendekatan only PostTest masing berjumlah
dan tenik perbedaan With Controly. Teknik 15 yaitu kelompok kasus
terbuka metode sampel menggunakan dengan lama pelepasan
terhadap topikal Proposive Sampling secara tali pusat cepat sebanyak
Pelepasan tali ASI dan Accidentaly 10 bayi dan
pusat pada teknik sebanyak 30 bayi yang lama sebanyak 5 bayi,
bayi baru terbuka baru lahir pada bulan juli- pada kelompok kontrol
lahir terhadap september 2020. Teknik dengan lama pelepasan
Diklinik pelepasan tali pengumpulan tali pusat cepat
bersalin hj pusat pada data menggunakan lembar sebanyak 4 bayi dan lama
nirmala sapni bayi baru observasi, dan pada 11 bayi. Dengan Pvalue
krakatau lahir analisis data menggunakan (0.002)<a(0.05) maka Ha
Pasar 3 Independent diterima.
kecamatan Sample T Test Kesimpulan ada
medan timur perbedaan yang
Kota medya signifikan antara metode
medan topikal ASI dan teknik
Syahroni terbuka terhadap
Damanik pelepasan tali pusat pada
TAHUN bayi baru lahir.
2020
3 Judul : Tujuan Desain penelitian ini Hasil penelitian didapatkan
Efektifitas penelitian ini menggunakan quasi perawatan tali pusat yang
berbagai adalah untuk eksperimen dengan menggunakan ASI, kassa
metode mengetahui menggunakan pendekatan kering, betadine dan alkohol
efektifitas prospektif. Populasi dalam dikategorikan normal. Hasil
21

perawatan berbagai penelitian ini adalah semua uji statistik diperoleh nilai
tali pusat metode bayi yang lahir di BPM P-value 1,000 > 0,05
terhadap perawatan tali Yosephine Palembang pada sehingga tidak ada
lamanya pusat (ASI, saat penelitian dan diperoleh hubungan antara perawatan
pelepasan tali kassa jumlah sampel sebanyak 40 tali pusat dengan lamanya
kering,betadin responden yang memenuhi pelepasan tali pusat pda bayi
pusat pada dan alkohol) kriteria inklusi dan eksklusi, baru lahir di BPM
bayi baru terhadap pengambilan sampel secara Yospehine Palembang.
lahir lamanya accidental sampling. Disarankan bagi peneliti
di bpm pelepasan tali Instrumen penelitian adalah yang akan datang untuk
yosephine pusat pada kuesioner dan lembar mencari lagi metode yang
palembang bayi baru lahir. observasi sedangkan analisis lain yang lebih efektif dalam
ria andreinie, data menggunakan uji merawat perawatan tali
janiarti akhir statistik Chi-Square test. pusat sehingga lama
pelepasannya lebih cepat.
4 judul: Tujuan Jenis Penelitian kuantitatif, Hasil penelitian rata-rata
Perbedaan penelitian ini rancangan quasi pelepasan tali pusat
perawatan Diketahui eksperimen,Populasi dalam menggunakan topical ASI
tali pusat Perbedaan penelitian ini adalah semua sebesar 5,04, rata-rata
dengan Perawatan Tali bayi baru lahir normal yang pelepasan tali pusat dengan
Pusat dengan ada di BPM wilayah kerja perawatan kering sebesar
menggunaka Menggunakan Puskesmas Dayamurni 7,04, Ada Perbedaan
n topikal asi Topikal ASI dimana rata-rata dalam satu Perawatan Tali Pusat
dan metode dan Metode bulan sebanyak 84 bayi baru dengan Menggunakan
kering Kering lahir, sampel ang digunakan Topikal ASI dan Metode
terhadap Terhadap dalam penelitian ini sebanyak Kering Terhadap Lama
lama Lama 60 orang 30 bayi kelompok Pelepasan Tali Pusat di
pelepasan tali Pelepasan Tali yang pertama mendapatkan BPM Wilayah Kerja
pusat pada Pusat pada intervensi dengan topikal Puskesmas Dayamurni
bayi baru bayi baru lahir ASI, dan 30 bayi kelompok Kabupaten Tulang Bawang
lahir di bpm di BPM yang ke dua sebagai Barat Tahun 2019( p value
wilayah kerja Wilayah Kerja kelompok kontrol 0.000 < alpha 0,05).Saran
Puskesmas mendapatkan intervensi dalam penelitian ini adalah
puskesmas Dayamurni dengan metode kering. sebagai bahan informasi
dayamurni Kabupaten analisis data menggunakan uji bahwa perawatan tali pusat
kabupaten Tulang t-tes independent. dengan menggunakan
tulang Bawang Barat topical ASI lebih cepat
bawang barat Tahun 2019 untuk waktu pelepasan tali
pusat dibandingkan dengan
dewi perawatan kering
septiawati,
suharman,
nurul isnaini,
yulistiana
evayanti(\

tahun 2019
5 Perbedaan Penelitian ini Metode penelitian yang Hasil Penelitian
lama bertujuan digunakan adalah menunjukkan bahwa
22

pelepasan tali
untuk penelitian eksperimen rata-rata lama pelepasan
pusat pada mengetahui semu tali pusat bayi yang
bayi perbedaan (quasi experiment) dimandikan ke dalam air
Yang lama menggunakan metode hangat (kelomok
dimandikan pelepasan tali experimental design- eksperimen) adalah 110,8
ke dalam airpusat pada equivalent time sampel. jam atau 4.97 hari,
hangat bayi sedangkan rata-rata lama
Dengan bayi yang pelepasan tali pusat bayi
yang dilap dimandikan yang dilap handuk basah
handuk basahke dalam air (kelompok
hangat kontrol) adalah 76,9 jam
Herman, dengan bayi atau 6.6 hari. Beda rata-
mudrika yang dilap rata dua kelompok yaitu
Sekolah handuk basah 24,72 jam atau
tinggi ilmu RSUD 1.20 hari. Hasil uji
kesehatan Batara statistik didapatkan P-
yapika Siang Kab. value (<0,001), berarti
makassar Pangkep pada alpha 5% terlihat
tahun 2022 ada
perbedaan yang
signifikan rata-rata lama
pelepasan tali pusat
antara bayi yang dilap
handuk
basah yaitu 2,01 hari
dengan bayi yang
dimandikan ke dalam air
hangat yaitu 4,01 hari.
Sehingga perawatan bayi
yang dilap handuk basah
lebih efektif dan lebih
cepat lepas tali
pusatnya daripada
perawatan bayi yang
dimandikan ke dalam air
hangat
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian : 10 Desember 2024, pukul : 10.00 WIB
Pengkaji : Fadhila

B. MANAJEMEN KEBIDANAN
1. LANGKAH I. PENGKAJIAN DATA DASAR
A) DATA SUBJEKTIF
Identitas Bayi
Nama Bayi : By. Ny. L
TTL : 09 Desember 2024
Umur : 1 hari
Anak ke : Pertama
Jenis kelamin : Laki-laki

Identitas Ibu Identitas ayah


Nama ibu : Ny. L Nama ayah : Tn. E
Umur : 24 tahun Umur : 25 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku Bangsa : Jawa Suku Bangsa : Jawa
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : RT. 11 Pinang Merah
A. Keluhan utama
Ibu mengatakan bayi sering menyusu kelihatan tidak ada keluhan hanya ibu
tidak tau cara perawatan tali pusat.

23
24

B. Data kesehatan
1) Riwayat penyakit sekarang
Ibu mengatakan anaknya tidak sedang mengalami sakit. Mengatakan
anaknya tidak ada menderita penyakit menurun (DM, Asma), penyakit
menular (TBC, Hepatitis).
2) Riwayat penyakit dahulu
Ibu mengatakan bayinya tidak pernah sakit sampai memerlukan
penanganan yang serius.
3) Riwayat penyakit keluarga
Ibu mengatakan di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
menurun dan penyakit menular.
4) Riwayat Kelahiran
a. Hari/ Tanggal : 09 Desember 2024
b. Jenis Kelamin : Laki-laki
c. Berat badan : 3000gr
d. Panjang badan : 48 cm
e. Penolong/Tempat : TPMB Fatmawati
f. Komplikasi : Tidak ada
5) Data Imunisasi
Hepatitis B BCG & DPT-Hb-Hib DPT-Hb-Hib 2 DPT-Hb-Hib Campak/MR
Polio 1 1 dan Polio 2 dan Polio 3 3 dan Polio 4

09-12-2024 Belum Belum Belum Belum Belum

6) Kebutuhan Dasar
a) Pola Makan
Makan/nutrisi : ibu mengatakan anaknya hanya
minum ASI
Keluhan : tidak ada
b) Pola Istirahat
Lama tidur : 14-16 jam sehari
Keluhan : tidak ada
25

c) Personal Hygiene
Mandi : 1 x sehari
Ganti pakaian : setiap basah/ kotor dan setelah
BAB/BAK
Keluhan : tidak ada
d) Aktifitas : bayi bergerak aktif
e) Eliminasi
Frekuensi BAK : 8-9 x sehari
Warna : kuning jernih
Jumlah : 1 popok penuh
Keluhan : tidak ada
Frekuensi BAB : 1-2 x sehari
Warna : kuning kecoklatan
Jumlah : 1 popok penuh
Keluhan : tidak ada
B) DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : baik
b. Kesadaran : composmentis
c. Tanda-tanda vital : Nadi : 130 x/menit
Suhu : 36,70C
Pernapasan : 42 x/menit
d. BB/PB : 3000 gram/48 cm
e. LK : 31 cm
2. Pemeriksaan head to toe
a. Kepala
Kepala simetris, rambut berwarna hitam dan pertumbuhan merata,
keadaan bersih, lesi tidak ada, oedema tidak ada.
b. Wajah
Wajah simetris, oedema tidak ada.
26

c. Mata
Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, sekret tidak ada, bentuk
simteris, tanda infeksi tidak ada.
d. Hidung
Sekret tidak ada, keadaan bersih, lesi tidak ada.
e. Telinga
Kanan kiri simetris, tidak ada cairan yang keluar dan bersih.
f. Mulut
Sekret tidak ada, lidah bersih, gusi kemerahan, tidak bengkak dan tidak
berdarah, tidak ada stomatitis.
g. Leher
Bentuk simteris, massa tidak ada, kekakuan tidak ada, kelenjat tiroid
tidak ada pembesaran.
h. Dada
Bentuk simteris, tipe pernapasan normal, auskultasi suara normal,
pernapasan normal.
i. Abdomen
Bentuk simetris, bekas operasi tidak ada.
j. Genitalia
Oedema tidak ada, secret tidak ada, keluhan tidak ada.
k. Ekstremitas
Oedema tidak ada, kelainan tidak ada, turgor kulit baik.
3. Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan
4. Pengobatan yang telah didapatkan
Ibu mengatakan bayi belum pernah mendapatkan pengobatan apapun.
2. LANGKAH II. INTERPRETASI DATA DASAR
a. Diagnosa : By. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat
b. Masalah : tidak ada
c. Kebutuhan : tidak ada
27

3. LANGKAH III. IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH POTENSIAL


Tidak ada
4. LANGKAH IV. IDENTIFIKASI TINDAKAN SEGERA DAN
KOLABORASI
Tidak ada
5. LANGKAH V. RENCANA ASUHAN KEBIDANAN
a) Beritahu ibu tentang hasil pemeriksaan
Rasionalisasi: Mengetahui hasil pemeriksaan merupakan hak pasien untuk
memperoleh informasi mengenai kondisi dan keadaan yang sedang terjadi
pada dirinya.
b) Mandikan bayi dan jaga kehangatan bayi.
Rasionalisasi : Hipotermia mudah terjadi pada bayi yang tubuhnya dalam
keadaan basah.
c) Ajarkan perawatan tali pusat dengan tehnik kering
Rasionalisasi : untuk mencegah terjadinya infeksi yang pada dasarnya
dapat dicegah dengan melakukan perawatan tali pusat yang baik dan benar
(Fatrin & Vista, 2016)
d) Jelaskan pada ibu kapan tali pusat bayinya akan lepas
Rasionalisasi : agar ibu tahu dan tidak khawatir terhadap tali pusat bayinya
e) Beritahu ibu tanda-tanda infeksi pada tali pusat.
Rasionalisasi : agar ibu dapat mendeteksi apabila terdapat tanda-tanda infeksi
pada tali pusat bayinya.
f) Anjurkan ibu menyusi bayinya sesering mungkin.
Rasionalisasi: Agar Kebutuhan Bayi tercukupi
g) Beritahu ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir.
Rasionalisasi : Tanda-tanda bahaya bayi yang diketahui sejak dini akan
mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut (Muslihatun, 2010)
h) Lakukan pendokumentasian
Rasional: pencatatan yang baik dapat menjadi pegangan petugas jika terjadi
sesuatu pada pasien.
28

6. LANGKAH VI. IMPLEMENTASI ASUHAN KEBIDANAN


1) Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan
2) Mandikan bayi dan jaga kehangatan bayi.
3) Mengajarkan perawatan tali pusat sabagaiberikut :
a) Mencuci tangan
b) Ambil kapas bulat atau kapas yang sudah dicelupkan kedalam air
matang, lalu bersihkan sisa tali pusat terutama bagian pangkalnya (yang
menempel pada perut)
c) Lakukan dengan hati-hati, apalagi bila pusar bayi masih berwarna
merah.
d) Gunakan jepitan khu sus dari plastik untuk memegang ujung tali
pusarnya (jika ada) agar lebih mudah dalam membersihkan dan
melilitkan perbannya
e) Ambil kasa kering lalu bungkus sisa tali pusat. Usahakan agar seluruh
permukaan hingga ke pangkalnya tertutup perban
f) Lilitkan perban/kasa sedemikian rupa agar bungkusan tidak terlepas.
Pastikan tidak terlalu ketat, agar bayi tidak kesakitan
g) Gunakan kain kasa untuk mengikat perban agar tetap pada tempatnya.
4) Menjelaskan pada ibu kapan tali pusat bayinya akan lepas yaitu antara 7-10
hari
5) Memberitahu ibu tanda-tanda infeksi pada tali pusat, yaitu :
a) Bernanah Kondisi ini bisa muncul jika kurang benar dalam
merawatnya,seperti kurang bersih dan kurang kering. Hal ini juga bisa
terjadi bila saat pemotongan tali pusat bayi menggunakan benda yang
tidak steril sehingga kuman mudah tumbuh dan berkembangbiak.
b) Bau Tidak Sedap, Bau tidak sedap muncul pada tali pusat menandakan
bahwa tali pusat terinfeksi. Lalu tali pusat akan bernanah dan
[Link] itu juga ditandai dengan kemerahan di sekitar pusar.
c) Tidak Banyak Menangis Bayi yang terinfeksi umumnya tidak banyak
menangis sebaliknya banyak tidur. Gejala ini ditandai dengan bayi
malas minum,demam dan yang paling parah sampai terjadi kejang
29

6) Menganjurkan ibu menyusi bayinya sesering mungkin


7) Memberitahu ibu tentang tanda bahaya bayi baru lahir, yaitu :
a) Bayi tidak mau menyusu
b) Muntah-muntah dan tidak bisa minum
c) Kejang, lemah,
d) Sesak nafas
e) Rewel
f) Pusar kemerahan
g) Demam, suhu tubuh dingin
h) Mata bernanah
8) Melakukan pendokumentasian

7. LANGKAH VII. EVALUASI HASIL ASUHAN KEBIDANAN


1) Ibu sudah mengerti yang telah dianjurkan
2) Bayi sudah dimandikan
3) Perawatan tali pusat telah di lakukan
4) Ibu mengerti tentang tanda-tanda infeksipada tali pusat dan tanda bahaya
bayi baru lahir
5) Semua asuhan telah di dokumentasikan
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini akan menguraikan pembahasan tenatang asuhan kebidanan pada bayi
Ny.L dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati. Dalam hal ini, pembahasan akan
diuraikan secara narasi berdasarkan pendekatan asuhan kebidanan dengan tujuh langkah
varney yaitu : pengumpulan data dasar, merumuskan diagnosis atau masalah aktual,
merumuskan diagnosis atau masalah potensial, melaksanakan tindakan segera atau
kolaborasi, merencanakan tindakan asuhan kebidanan, melakukan tindakan asuhan
kebidanan, dan mengevaluasi asuhan kebidanan.
Tinjauan kasus yang dilakukan pada bayi Ny. L berdasarkan pegkajian data dasar
diketahui bahwa Bayi Ny. L umur 1 hari, hasil pemeriksaan fisik didapatkan kondisi Bayi
Ny. L dalam keadaan sehat dan tidak ditemukan kelainan tetapi ibu tidak mengerti tentang
perawatan tali pusat bayi nya. Berdasarkan data tersebut dapat ditegakkan diagnosa yaitu
By. Ny. L umur I hari dengan perawatan tali pusat dan tidak diperlukan Tindakan segera.
Teori dan studi kasus ada kesamaan dalam membuat diagnosis/ masalah aktual, dan
tidak tampak adanya kesenjangan. Diagnosis kebidanan adalah diagnosis yang ditegakkan
bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosis
kebidanan.
KIE perawatan tali pusat dengan cara perawatan tali pusat kering supaya
mempercepat pelepasan tali pusat yaitu dengan cara tidak mengoleskan cairan atau bahan
apapun ke puntung tali pusat. Dari penelitian septiawati , dkk (2019) Ada Perbedaan
Perawatan Tali Pusat dengan Menggunakan Topikal ASI dan Metode Kering Terhadap
Lama Pelepasan Tali Pusat.

30
BAB V
PENUTUP

Setelah mempelajari teori dan pengalaman langsung yang diperoleh dari lahan
praktik melalui kasus Bayi Ny. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat di TPMB
Fatmawati maka bab ini penulis menarik kesimpulan dan saran.
A. Kesimpulan
1. Telah dilaksanakan pengumpulan data dasar pada Ny. L umur 1 hari dengan
perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati, data bayi berumur 1 hari dengan
keadaan umum baik dan tidak sedang menderita suatu penyakit, nadi 120
x/menit, suhu 36,70C dan pernapasan 48 x/menit.
2. Telah dilakukan interpretasi data dasar pada Bayi Ny. L umur 1 hari dengan
perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati diperoleh diagnosa kebidanan Bayi
Ny. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat, tidak ditemukan masalah yang
muncul, jadi tidak ada kebutuhan diberikan pada klien.
3. Telah dilakukan identifikasi diagnosa atau masalah potensial pada kasus Bayi
Ny. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati, tidak
muncul karena pada kasus ini tidak muncul kegawatdaruratan.
4. Tidak adanya tindakan segera atau kolaborasi dalam asuhan kebidanan pada
Bayi Ny. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati pada
kasus ini tidak terdapat antisipasi, karena tidak ditemukan adanya diagnosa
potensial.
5. Telah disusun rencana tindakan asuhan kebidanan pada Bayi Ny. L umur 1
hari dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati dengan hasil
merencanakan asuhan berdasarkan diagnosa kebidanan, masalah dan
kebutuhan.
6. Telah dilaksanakan tindakan asuhan yang telah direncanakan pada Bayi Ny.
L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawti dengan semua
tindakan yang telah direncanakan dapat dilaksanakan seluruhnya dengan baik
dengan tidak ada hambatan.

31
32

7. Telah dilakukan evaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan pada Bayi
Ny. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati dengan
bayi telah dilakukan perawatan tali pusat dan bayi dalam keadaan sehat.

B. Saran
Berdasarkan tinjauan kasus dan pembahasan kasus, maka penulis
memberikan sedikit masukan atau saran yang diharapkan dapat bermanfaat.
1. Untuk TPMB Fatmawati
Dapat dijadikan sebagain acuan dalam meningkatkan mutu pelayanan asuhan
kebidanan dalam memberikan perawatan tali pusat.
2. Untuk Poltekkes Kemenkes Jambi
Dapat dijadikan sebagai acuan bagi institusi pendidikan dan dijadikan studi
banding untuk penelitian selanjutnya tentang perawatan tali pusat.
DAFTAR PUSTAKA

Andreini, dkk (2020) Efektivitas berbagai metode perawatan tali pusat terhadap lamanya
pelepasan talipusat pada bayi baru lahir di BPM Yosephine Palembang

Budi S, Endang dan Sajekti, Sih. 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Neonatus,
Bayi dan Balita. Surabaya: Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya.

Damanik, dkk (2020) Perbandingan metode topical metode topical asi dan tehnik terbuka
terhadap pelepasan talipusat pada bayi baru lahir di klinik bersalin Hj. Nirmala
Sapni Krakatau pasar 3 Kecamtan Medan Timur

Dian, dkk, 2018. Perbedaan Perawatan Tali Pusat Terbuka Dan Kasa Kering Dengan
Lama Pelepasan Tali Pusat Pada Bayi Baru Lahir. Jurnal Ilmiah Kesehatan dan
Aplikasinya, Vol.6(2) 2018

Diana, dkk, 2019. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan Dan Bayi Baru Lahir.
Surakarta: CV Oase Group

El Sinta B, Lusiana. 2019. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Neonatus, Bayi dan Balita.
Sidoarjo: Indomedia Pustaka.

Herman, dkk (2020) Perbedaan lama pelepasan talipusat pad bayi yang dimandikan
kedalam air hangat dengan bayi yang dilap handuk basah

Jannah, Nurul. 2012. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Yogyakarta: Andi Offset.

Kementrian Kesehatan RI. 2011. Manajemen Terpadu Balita Sakit. Jakarta: Kemenkes
RI.

Kemenkes RI. 2016. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini
Tumbuh Kembang Anak Di tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta:
Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan RI. 2018. Profil Kesehatan Indonesia 2018. Jakarta: Kemenkes
RI. [Link] diakses 2 Desember 2020.

Medhyna, dkk (2020) Perbedaan perawatan tali pusat menggunakan asi dengan kasa
kering terhadap lama pelepasan tali pusat

Muslihatun, dkk (2010). Asuhan Neonatus Bayi dan balita. Yogyakarta: Fitramaya.
Septiani, dkk (2019) Perbedaa perawatan talipusat dengan menggunakan topical asi dan
metode kering terhadap lama pelepasan talipusat pada bayi baru lahir di BPM
wilayah kerja puskesmas Dayamurni kabupaten Tulang Bawang

Anda mungkin juga menyukai