Asuhan Kebidanan Bayi 1 Hari Tali Pusat
Asuhan Kebidanan Bayi 1 Hari Tali Pusat
DOSEN PEMBIMBING
Dr Bdn Rosmaria Br Manik, [Link]
Di Susun Oleh:
Fadhila Ananda Pratiwi
PO71242240094
Telah disahkan “Asuhan Kebidanan Pada By. Ny. A Umur 1 hari Dengan
Perawatan Tali Pusat Di TPMB Fatmawati Tahun 2024” guna memenuhi tugas Stase
Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah program studi profesi Bidan Poltekkes
Kemenkes Jambi tahun 2024.
Mengetahui :
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul Asuhan
Kebidanan Pada Bayi Ny. L Usia 1 hari Dengan perawatan tali pusat Di TPMB Fatmawati
Tahun 2024.
Penulisanan laporan ini dalam rangka menerapkan tugas praktik klinik kebidanan
stase bayi, balita dan anak pra sekolah yang merupakan salah satu mata kuliah atau
kurikulum yang harus dilalui dalam proses pendidikan profesi kebidanan. Dalam
penyusunan laporan ini penulis banyak mendapatkan bantuan, bimbingan serta
pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis ingin
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Ibu Yuli Suryanti, [Link] selaku Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes
Jambi
2. Ibu Lia Artika Sari, [Link] selaku Ketua Prodi Profesi Bidan Poltekkes Kemenkes
Jambi
3. Dr Bdn Rosmaria Br Manik, [Link] selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah
memberikan bimbingan kepada penulis sehingga laporan ini diselesaikan dengan baik.
4. Ibu Bdn Fatmawati, [Link] selaku pembimbing lahan di TPMB Fatmawati
5. Kakak-kakak bidan dan rekan-rekan sejawat yang telah memberi dukungan dalam
penulisan laporan kasus.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan
dengan demikian penulis mengharapkan petunjuk dan saran serta kritik dari berbagai
pihak. Akhir kata semoga hasil laporan ini memberikan manfaat yang berguna bagi yang
membutuhkannya.
Jambi, Desember 2024
Penulis
iii
DAFTAR ISI
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................................ 1
B Rumusan Masalah …………………………………………………………….. 2
C. Tujuan .. .......................................................................................................... 2
D. Manfaat ……………………………………………………………………….. 3
BAB IV PEMBAHASAN
Analisis Kasus ..................................................................................................... 30
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan..................................................................................................... 31
B. Saran .............................................................................................................. 32
DAFTAR PUSTAKA
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan aterm 37 minggu
sampai sampai 42 minggu dengan berat lahir 2500 gram sampai 4000 gram, tanpa
ada masalah atau kecacatan pada bayi sampai umur 28 hari (Noorbaya, dkk 2020:20).
Neonatus adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan
diri dari kehidupan intra uterin ke kehidupan ekstra uterin. Bayi baru lahir normal
adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 sampai 42 Minggu dan berat badan lahir
2500 - 4000 gram. ( Budi, s dkk, 2011)
Masa bayi baru lahir merupakan masa kritis pada kehidupan bayi 2 per 3
kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan sebesar 60 % kematian
bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah persalinan Angka Kematian Bayi
adalah salah satu indikator penting dalam menilai derajat kesehatan masyarakat di
suatu negara. Angka ini digunakan untuk memonitor dan mengevaluasi program serta
kebijakan kependudukan dan kesehatan. Program kesehatan Indonesia telah
difokuskan untuk menurunkan tingkat kematian bayi yang cukup tinggi (Profil
Kesehatan Indonesia Tahun 2022).
Angka Kematian Bayi di Indonesia menurut Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2012 adalah 19 kematian per 1000 kelahiran hidup.
Penyebab tingginya kematian bayi yaitu infeksi Tetanus neonatorum (Profil
Kesehatan Indonesia Tahun 2022). Sedangkan angka kematian bayi Propinsi Jambi
tahun 2022 sebanyak 280 kasus (Profil Kesehatan propinsi jambi, 2022)
Tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada bayi yang
disebabkan oleh clostridium tetani yaitu kuman yang mengeluarkan toksin dan
menyerang sistem saraf pusat. Spora kuman tersebut masuk kedalam tubuh bayi
memalui tali pusat, yang dapat terjadi saat pemotongan tali pusat ketika bayi lahir
maupun perawatannya. Jumlah kasus Tetanus neonatorum meningkat pada tahun
1
2
2021, yaitu sebesar 11 kasus, dimana sebelumnya terdapat 4 kasus pada tahun 2020
(Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2022).
Tali pusat bisa menjadi jalan masuk untuk terjadinya suatu keadaan proses
infeksi, penggunaan alat pengikat tali pusat juga dapat mempengaruhi lepasnya tali
pusat. Terjadinya infeksi pada tali pusat ditandai dengan tali pusat berbau dan
mengeluarkan nanah dan selalu lembab sehingga menyebabkan tali pusat lama untuk
terlepas. Terkait dengan lama waktu pelepasan tali pusat dapat dipengaruhi oleh
beberapa hal diantaranya adalah infeksi, kelembaban tali pusat, kondisi sanitasi
lingkungan, cara memandikan bayi yang salah, perawatan tali pusat, dan alat pengikat
tali pusat (Sodikin, 2019:57).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, maka rumusan masalah dalam permasalahan ini yaitu
bagaimanakah asuhan kebidanan pada Bayi L usia 1 hari dengan perawatan tali pusat
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu melakukan Asuhan Kebidanan Pada By. L Usia 1 hari Dengan
perawatan tali pusat Di TPMB Fatmawati Tahun 2024.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian data pada bayi normal dengan perawatan tali
pusat menggunakan pendekatan manajemen kebidanan.
b. Mampu melakukan Interpretasi data pada bayi normal dengan perawatan tali
pusat menggunakan pendekatan manajemen kebidanan.
c. Mampu melakukan identifikasi masalah dan diagnosa potensial pada bayi
normal dengan perawatan tali pusat menggunakan pendekatan manajemen
kebidanan.
3
4
5
n. Refleks rooting mencari puting susu dengan rangsangan taktil pada pipi dan
daerah mulut terbentuk dengan baik
o. Eliminasi baik, mekonium akan kelur dalam 24 jam pertama, mekonium
berwarna hitam kecoklatan.
3. Apgar Skor
Infeksi intrauteri berat seperti lahir dan menit kemudian, skor apgar
menggunakan tanda-tanda vital untuk mengindikasikan perlunya tindakan
resusitasi, upaya pernapasan, frekuensi denyut jantung, warna kulit, tonus otot,
dan respons terhadap stimulus. Setiap tanda diberikan skor 1, 2, atau 0 dan
kemudian ditotal. Skor 8-10 mengidentifikasikan bayi berada dalam kondisi
baik, skor 0-7 merepresentasikan bayi afiksia ringan/sedang, dan skor 1-3
merepresentasikan asfiksia berat yang memerlukan resusitasi segera. (8)
Tabel 2.1 Tanda APGAR
Tanda Nilai : 0 Nilai :1 Nilai :2
Warna Kulit Pucat/biru Tubuh merah, Seluruh tubuh
seluruh tubuh ekstremitas biru kemerahan
g. Punggung: adanya benjolan atau tumor atau tulang punggung dengan lekukan
yang kurang sempurna; Bahu, tangan, sendi, tungkai: perlu diperhatikan
bentuk, gerakannya, faktur (bila ekstremitas lunglai/kurang gerak), farices
h. Kulit dan kuku: dalam keadaan normal kulit berwarna kemerahan, kadang-
kadang didapatkan kulit yang mengelupas ringan, pengelupasan yang
berlebihan harus dipikirkan kemungkinan adanya kelainan, waspada
timbulnya kulit dengan warna yang tak rata (“cuti Marmorata”) ini dapat
disebabkan karena temperature dingin, telapak tangan, telapak kaki atau kuku
yang menjadi biru, kulit menjadi pucat dan kuning, bercak - bercak besar biru
yang sering terdapat disekitar bokong (Mongolian Spot) akan menghilang
7
k. tangan bayi maka jari-jarinya akan langsung menggenggam sangat kuat, Moro
refleks yaitu reflek yang timbul diluar tubuhnya pada orang yang
mendekapnya, Stapping refleks yaitu reflek kaki secaraspontan apabila
bayi diangkat tegak dan kakinya satu persatu disentuhkan pada satu dasar
maka bayi seolah- olah berjalan, Sucking refleks (menghisap) yaitu areola
putting susu tertekan gusi bayi, lidah, dan langis-langit sehingga sinus
laktiferus tertekan dan memancarkan ASI, Swallowing refleks (menelan)
dimana ASI dimulut bayi mendesak otot didaerah mulut dan faring sehingga
mengaktifkan refleks menelan dan mendorong ASI ke dalam lambung.
l. Berat badan: sebaiknya tiap hari dipantau penurunan berat badan lebih dari
5% berat badan waktu lahir, menunjukan kekurangan cairan.
m. Kesadaran bayi misalnya bila bayi diangkat/direnggut secara kasar dari
gendongan kemudian seolah-olah bayi melakukan gerakan yang mengangkat.
5. Asuhan pada Bayi Baru Lahir
Menurut (Noorbaya, dkk 2020:21) asuhan pada bayi baru lahir adalah
sebagai berikut :
a. Penilaian
8
Melakukan segera penilaian awal pada bayi baru lahir, apakah bayi menangis
dengan kuat atau bernafas tanpa kesulitan, apakah bayi bergerak dengan aktif,
serta melihat apakah ada sianosis atau tidak pada bayi yang baru dilahirkan.
b. Melakukan perawatan tali pusat
c. Memberikan inisiasi menyusu dini
d. Melakukan pencegahan perdarahan
e. Melakukan pencegahan infeksi mata
f. Memberikan imunisasi hepatitis B
g. Pemberian ASI
h. Melakukan pemeriksan fisik pada bayi
Perawatan neonatal esensial pada saat lahir sangat penting, karena pada neonatus
hari-hari pertama kehidupannya yang sangat rentan. Banyak perubahan yang
terjadi pada bayi dalam menyesuaikan diri dari kehidupan di dalam rahim ke
kehidupan di luar rahim, dengan meliputi kewaspadaan umum, penilaian awal,
pencegahan kehilangan panas, pemotongan dan perawatan tali pusat, inisiasi
menyusu dini (IMD), pencegahan perdarahan, pencegahan infeksi mata,
pemberian imunisasi, pemberian identitas, anamnesis dan pemeriksaan fisik.
6. Tanda bahaya pada bayi baru lahir
Tanda-tanda bahaya bayi baru lahir merupakan suatu gejala yang dapat
mengancam kesehatan bayi baru lahir, bahkan dapat menyebabkan kematian.
Maka dari itu sudah seharusnya orang tua mengetahui tanda-tanda bahaya
terhadap bayi mereka agar dapat mengantisipasinya lebih awal.
Tanda-tanda bahaya bayi baru lahir (Muslihatun,2010) yaitu:
1. Bayi tidak mau menyusu
2. Muntah-muntah dan tidak bisa minum
3. Kejang, lemah,
4. Sesak nafas
5. Rewel
6. Pusar kemerahan
7. Demam, suhu tubuh dingin
8. Mata bernanah
9
9. Diare
10. Bayi kuning
B. Tali Pusat
1. Pengertian Tali Pusat
Tali Pusat adalah sebuah saluran yang menghubungkan ibu dan janin di
dalam kandungan yang merupakan sebuah saluran penting untuk memenuhi
kehidupan janin selama dalam kandungan. Tali pusat adalah jaringan yang terdiri
atas dua arteri dan satu vena yang di lindungi oleh jaringan ikat mukoid disebut
jeli warton yang diselubungi oleh selapis mukosa tipis (Sodikin, 2019:7).
2. Fisiologi pembentukan tali pusat
Tali pusat atau disebut juga funis merentang dari umbilikus janin ke
permukaan fetal plasenta dan mempunyai panjang 50 ̶ 55 cm. Tali pusat
membungkus dua buah pembuluh arteri umbilikalis yang mengangkut darah
yang sudah diambil oksigennya dari dalam tubuh janin, vena umbilikalis yang
tunggal membawa darah yang sudah dibersihkan dari plasenta ke dalam janin
(Sodikin, 2019:8).
Pembuluh darah umbilikalis tertanam dalam subtansi gelatinosa yang
dikenal dengan nama jeli wharton. Jeli ini melindungi pembuluh darah tersebut
terhadap kompresi dan membantu mencegah penekukan tali pusat. Jeli wharton
akan mengembang jika terkena udara, kekuatan aliran darah ± 400 ml per menit
lewat tali pusat membantu mempertahankan tali pusat dalam posisi relatif lurus
dan mencegah terbelitnya tali pusat tersebut ketika janin bergerak (Sodikin,
2019:9).
3. Fungsi Tali Pusat
Tali pusat berperan sangat penting bagi kehidupan janin selama dalam
kandungan yaitu sebagai sirkulasi darah janin. Adapun fungsinya yaitu, sebagai
berikut :
a. arteri umbilikus berfungsi sebagai alat bantu untuk mengalirkan darah yang
mengandung sisa metabolisme dan karbohidrat dari janin ke plasenta.
10
b. vena umbilikus berfungsi sebagai alat bantu untuk mengalirkan darah yang
kaya akan nutrisi dan oksigen dari plasenta ke tubuh janin.
c. Jeli wharton berfungsi sebagai alat bantu untuk mencegah kompresi
pembuluh darah sehingga pemberian makan untuk embrio-janin terjamin
(Sodikin, 2019:15).
5. Lama Lepasnya Tali Pusat
Tali pusat yang diberikan perawatan dengan baik akan memberikan
dampak yang positif sehingga tidak menimbulkan gejala yang dapat
menyebabkan lama lepasnya tali pusat seperti timbulnya infeksi pada tali pusat.
Sisa-sisa dari tali pusat tersebut akan terlepas dalam waktu 7-10 hari, dan sering
juga sampai 3 minggu baru terlepas. Umumnya tali pusat akan lepas 1 minggu
setelah lahir dan luka sembuh dalam 15 hari tanpa ada komplikasi dan
membiarkan tali pusat lepas secara alami. Lama lepas tali pusat dikatakan cepat
jika kurang dari 5 hari, normal jika antara 5 sampai 7 hari, dan lambat jika lebih
dari 7 hari.
Menurut hasil penelitian Vedjia dkk (2018) menunjukkan lama pelepasan
tali pusat menggunakan ASI lebih cepat dibandingkan dengan perawatan kasa
kering. Diharapkan perawatan tali pusat dengan ASI dapat direkomendasikan
menjadi standar perawatan bayi baru lahir, sebagai upaya pencegahan infeksi tali
pusat. Lepasnya tali pusat selain dipengaruhi oleh perawatan tali pusat dengan
menjaga agar tali pusat tetap kering dan bersih juga dipengaruhi oleh kepatuhan
ibu untuk membersihkan tali pusat setiap hari (Umu Qonitun, 2018:3)
6. Perawatan Tali Pusat
Perawatan tali pusat adalah melakukan pengobatan dan peningkatan tali
pusat yang menyebabkan pemisahan fisik ibu dan bayi, kemudian tali pusat
dirawat dalam keadaan bersih dan terhindar dari infeksi. Perawatan tali pusat
yang baik dan benar menimbulkan dampak positif yaitu tali pusat atau lepas
pada hari ke-5 sampai hari ke-7 tanpa ada komplikasi sedangkan dampak
negatif dari perawatan tali pusat yang tidak benar adalah bayi akan mengalami
penyakit infeksi yang akan mengakibatkan kematian (Fatrin & Vista, 2016).
11
WHO juga merekomendasikan salah satu cara dalam merawat tali pusat
yaitu dengan metode topikal ASI. Metode topikal ASI merupakan salah satu
praktik perawatan tali pusat budaya yang digunakan di Turki. Hal ini bermanfaat
dikarenakan faktor anti bakteri yang terdapat dalam ASI. Selain itu ASI memiliki
banyak agen imunologi dan anti infeksi. ASI mengandung jumlah komponen
pelengkap yang signifikan, bertindak sebagai agen antimikroba alami dan juga
dilengkapi dengan faktor pelindung yang memberikan kekebalan pasif spesifik
dan nonspesifik (Allam, Nehal A. 2015). Perawatan tali pusat yang
menggunakan ASI, kassa kering, betadine dan dikategorikan normal ( Andreinie
dkk, 2020)
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam perawatan tali pusat
a. Jangan membungkus putung tali pusat atau perut bayi atau
menoleskan cairan atau bahan apapun ke puntung tali pusat
terjadi bila saat pemotongan tali pusat bayi menggunakan benda yang tidak
steril sehingga kuman mudah tumbuh dan berkembangbiak.
b. Bau Tidak Sedap, Bau tidak sedap muncul pada tali pusat menandakan
bahwa tali pusat terinfeksi. Lalu tali pusat akan bernanah dan
[Link] itu juga ditandai dengan kemerahan di sekitar pusar.
c. Tidak Banyak Menangis Bayi yang terinfeksi umumnya tidak banyak
menangis sebaliknya banyak tidur. Gejala ini ditandai dengan bayi malas
minum,demam dan yang paling parah sampai terjadi kejang.
Gambar 2.1
Pathway Tali Pusat
Gambar 2.2
Madmaping Tali pusat
Fisiologi
- Panjang50-55
cm
- Membungkus
pembuluh darah
Pembuluh Darah
- Vena Umbilikal
- Arteri Umbilikal
Perawatan yang
tidak adekuat
- Infeksi
- Kematian Bayi Tali Pusat
Waktu pelepasan
- Cepat < 5 hari
- Normal 5-7
hari
Tanda Infeksi Tali - Lambat > 7
Pusat hari
- Bernanah
- Bau tidak sedap
- Bayi malas
minum, demam
bisa sampai
kejang
C. Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan yaitu suatu pendekatan yang digunakan oleh bidan
dalam memecahkan masalah secara sistematis, mulai dari pengkajian, analisis
data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
15
yang dibuat harus melibatkan klien dan bidan agar dapat melaksanakan
dengan efektif (Jannah: 2012).
Dalam kasus ini rencana asuhan yang diberikan berupa :
1. Mandikan bayi dan jaga kehangatan bayi karena hipotermi mudah terjadi
pada bayi yang tubuhnya dalam keadaan basah.
2. Ajarkan ibu cara perawatan talipusat yaitu dengan perawatan cara kering
3. Jelaskan pada ibu tanda-tanda infeksi pada tali pusat agar ibu bisa
mendeteksi secara dini
4. Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin agar kebutuhan
bayi akan ASI terpenuhi
5. Beritahu ibu tanda bahaya pada bayi dengan mengetahui tanda bahaya
pada bayi dapat mencegah terjadinyakomplikasi lebih lanjut
f. Langkah VI. Implementasi/pelaksanaan asuhan kebidanan
Melaksanakan rencana tindakan secara efisien dan memperhatikan rasa
aman klien. Pelaksanaan asuhan kebidanan dapat dikerjakan secara
keseluruhan oleh bidan atau kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (Jannah:
2012).
g. Langkah V. Evaluasi kebidanan
Menilai pelaksanaan asuhan yang telah diberikan kepada klien. Bidan
harus dapat mengamati dan mengobservasi terhadap masalah yang dihadapi
klien, apakah masalah diatasi seluruhnya, sebagian telah dipecahkan atau
mungkin muncul masalah baru. Pada prinsipnya langkah ini ini adalah
mengkaji kembali terhadap klien untuk menjawab pertanyaan sejauh mana
tercapainya rencana yang dilakukan.
2. Pendokumentasian asuhan kebidanan
Pendokumentasian yaitu catatan tentang interaksi antara tenaga kesehatan,
klien, keluarga klien, dan tenaga kesehatan lain yang mencatat tentang hasil
pemeriksaan, prosedur, pengobatan pada klien dan pendidikan kepada klien,
serta respon klien terhadap semua kegiatan yang dilakukan. Alur pikir bidan
dalam menghadapi klien meliputi 7 langkah kemudian didokumentasikan dalam
bentuk SOAP, yaitu:
18
a. S: Subjektif
Menggambarkan hasil pengumpulan data dasar klien yang diperoleh dari
anamnesis sebagai langkah I Varney.
b. O: Objektif
Menggambarkan hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium, dan uji
diagnostik lain yang dirumuskan dalam data fokus untuk mendukung asuhan
sebagai langkah I Varney.
c. A: Assesment
Menggambarkan hasil analisis dan interpretasi data subjektif dan objektif
dalam suatu identifikasi masalah, terdiri dari:
1) Diagnosis/masalah
2) Antisipasi diagnosis/masalah potensial
3) Tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi kolaborasi dan
merujuk, sebagai langkah 2,3, dan 4 Varney.
d. P: Planning
Menggambarkan dokumentasi rencana, pelaksanaan dan evaluasi
berdasarkan pengkajian langkah 5,6, dan 7 Varney. Pendokumentasian SOAP
dilakukan pada asuhan tahap berikutnya dan evaluasi hari berikutnya.
D. Teori Evidence Based Midwifery (EBM)
1. Pengertian
Evidence based artinya berdasarkan bukti. Artinya tidak lagi berdasarkan
pengalaman atau kebiasaaan semata. Evidence based midwifery adalah pemberian
informasi kebidanan berdasarkan bukti dari penelitian yang bisa dipertanggung
jawabkan (Gray, 1997).
Praktik kebidanan sekarang lebih didasarkan pada bukti ilmiah hasil
penelitian dan pengalaman praktik dari para praktisi dari seluruh penjuru dunia.
Rutinitas yang tidak terbukti manfaatnya kini tidak dianjurkan lagi (Jayanti, 2020:
31).
2. Manfaaat Evidence based Midwifery dalam Praktik Kebidanan
Dengan pelaksanaan praktik asuhan kebidanan yang berdasarkan evidence
based tersebut tentu saja bermanfaat membantu mengurangi angka kematian ibu
19
hamil dan risiko-risiko yang dialami selama persalinan bagi ibu dan bayi serta
bermanfaat juga untuk memperbaiki keadaan kesehatan masyarakat.
3. Kategori Evidence Based Menurut World Health Organization (2017:31)
Menurut WHO, Evidence based terbagi sebagai berikut:
a. Evidenve-based Medicine adalah pemberian informasi obat-obatan
berdasarkan bukti dari penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan. Temuan
obat baru yang dapat saja segera ditarik dan peredaran hanya dalam waktu
beberapa bulan setelah obat tersebut dipasarkan, karena di populasi terbukti
memberikan efek samping yang berat pada sebagian penggunanya.
b. Evidence-based Policy adalah satu sistem peningkatan mutu pelayanan
kesehatan dan kedokteran (Clinical Governance): suatu tantangan profesi
kesehatan dan kedokteran di masa mendatang.
c. Evidence based Midwifery adalah pemberian informasi kebidanan berdasarkan
bukti dari penelitian yang bisa dipertanggungjawabkan.
d. Evidence based report adalah mgmpakan bentuk penulisan laporan kasus yang
baru berkembang, memperlihatkan bagaimana hasil penelitian dapat
diterapkan pada semua tahapan penatalaksanaan pasien.
perawatan berbagai penelitian ini adalah semua uji statistik diperoleh nilai
tali pusat metode bayi yang lahir di BPM P-value 1,000 > 0,05
terhadap perawatan tali Yosephine Palembang pada sehingga tidak ada
lamanya pusat (ASI, saat penelitian dan diperoleh hubungan antara perawatan
pelepasan tali kassa jumlah sampel sebanyak 40 tali pusat dengan lamanya
kering,betadin responden yang memenuhi pelepasan tali pusat pda bayi
pusat pada dan alkohol) kriteria inklusi dan eksklusi, baru lahir di BPM
bayi baru terhadap pengambilan sampel secara Yospehine Palembang.
lahir lamanya accidental sampling. Disarankan bagi peneliti
di bpm pelepasan tali Instrumen penelitian adalah yang akan datang untuk
yosephine pusat pada kuesioner dan lembar mencari lagi metode yang
palembang bayi baru lahir. observasi sedangkan analisis lain yang lebih efektif dalam
ria andreinie, data menggunakan uji merawat perawatan tali
janiarti akhir statistik Chi-Square test. pusat sehingga lama
pelepasannya lebih cepat.
4 judul: Tujuan Jenis Penelitian kuantitatif, Hasil penelitian rata-rata
Perbedaan penelitian ini rancangan quasi pelepasan tali pusat
perawatan Diketahui eksperimen,Populasi dalam menggunakan topical ASI
tali pusat Perbedaan penelitian ini adalah semua sebesar 5,04, rata-rata
dengan Perawatan Tali bayi baru lahir normal yang pelepasan tali pusat dengan
Pusat dengan ada di BPM wilayah kerja perawatan kering sebesar
menggunaka Menggunakan Puskesmas Dayamurni 7,04, Ada Perbedaan
n topikal asi Topikal ASI dimana rata-rata dalam satu Perawatan Tali Pusat
dan metode dan Metode bulan sebanyak 84 bayi baru dengan Menggunakan
kering Kering lahir, sampel ang digunakan Topikal ASI dan Metode
terhadap Terhadap dalam penelitian ini sebanyak Kering Terhadap Lama
lama Lama 60 orang 30 bayi kelompok Pelepasan Tali Pusat di
pelepasan tali Pelepasan Tali yang pertama mendapatkan BPM Wilayah Kerja
pusat pada Pusat pada intervensi dengan topikal Puskesmas Dayamurni
bayi baru bayi baru lahir ASI, dan 30 bayi kelompok Kabupaten Tulang Bawang
lahir di bpm di BPM yang ke dua sebagai Barat Tahun 2019( p value
wilayah kerja Wilayah Kerja kelompok kontrol 0.000 < alpha 0,05).Saran
Puskesmas mendapatkan intervensi dalam penelitian ini adalah
puskesmas Dayamurni dengan metode kering. sebagai bahan informasi
dayamurni Kabupaten analisis data menggunakan uji bahwa perawatan tali pusat
kabupaten Tulang t-tes independent. dengan menggunakan
tulang Bawang Barat topical ASI lebih cepat
bawang barat Tahun 2019 untuk waktu pelepasan tali
pusat dibandingkan dengan
dewi perawatan kering
septiawati,
suharman,
nurul isnaini,
yulistiana
evayanti(\
tahun 2019
5 Perbedaan Penelitian ini Metode penelitian yang Hasil Penelitian
lama bertujuan digunakan adalah menunjukkan bahwa
22
pelepasan tali
untuk penelitian eksperimen rata-rata lama pelepasan
pusat pada mengetahui semu tali pusat bayi yang
bayi perbedaan (quasi experiment) dimandikan ke dalam air
Yang lama menggunakan metode hangat (kelomok
dimandikan pelepasan tali experimental design- eksperimen) adalah 110,8
ke dalam airpusat pada equivalent time sampel. jam atau 4.97 hari,
hangat bayi sedangkan rata-rata lama
Dengan bayi yang pelepasan tali pusat bayi
yang dilap dimandikan yang dilap handuk basah
handuk basahke dalam air (kelompok
hangat kontrol) adalah 76,9 jam
Herman, dengan bayi atau 6.6 hari. Beda rata-
mudrika yang dilap rata dua kelompok yaitu
Sekolah handuk basah 24,72 jam atau
tinggi ilmu RSUD 1.20 hari. Hasil uji
kesehatan Batara statistik didapatkan P-
yapika Siang Kab. value (<0,001), berarti
makassar Pangkep pada alpha 5% terlihat
tahun 2022 ada
perbedaan yang
signifikan rata-rata lama
pelepasan tali pusat
antara bayi yang dilap
handuk
basah yaitu 2,01 hari
dengan bayi yang
dimandikan ke dalam air
hangat yaitu 4,01 hari.
Sehingga perawatan bayi
yang dilap handuk basah
lebih efektif dan lebih
cepat lepas tali
pusatnya daripada
perawatan bayi yang
dimandikan ke dalam air
hangat
BAB III
TINJAUAN KASUS
A. PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian : 10 Desember 2024, pukul : 10.00 WIB
Pengkaji : Fadhila
B. MANAJEMEN KEBIDANAN
1. LANGKAH I. PENGKAJIAN DATA DASAR
A) DATA SUBJEKTIF
Identitas Bayi
Nama Bayi : By. Ny. L
TTL : 09 Desember 2024
Umur : 1 hari
Anak ke : Pertama
Jenis kelamin : Laki-laki
23
24
B. Data kesehatan
1) Riwayat penyakit sekarang
Ibu mengatakan anaknya tidak sedang mengalami sakit. Mengatakan
anaknya tidak ada menderita penyakit menurun (DM, Asma), penyakit
menular (TBC, Hepatitis).
2) Riwayat penyakit dahulu
Ibu mengatakan bayinya tidak pernah sakit sampai memerlukan
penanganan yang serius.
3) Riwayat penyakit keluarga
Ibu mengatakan di dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit
menurun dan penyakit menular.
4) Riwayat Kelahiran
a. Hari/ Tanggal : 09 Desember 2024
b. Jenis Kelamin : Laki-laki
c. Berat badan : 3000gr
d. Panjang badan : 48 cm
e. Penolong/Tempat : TPMB Fatmawati
f. Komplikasi : Tidak ada
5) Data Imunisasi
Hepatitis B BCG & DPT-Hb-Hib DPT-Hb-Hib 2 DPT-Hb-Hib Campak/MR
Polio 1 1 dan Polio 2 dan Polio 3 3 dan Polio 4
6) Kebutuhan Dasar
a) Pola Makan
Makan/nutrisi : ibu mengatakan anaknya hanya
minum ASI
Keluhan : tidak ada
b) Pola Istirahat
Lama tidur : 14-16 jam sehari
Keluhan : tidak ada
25
c) Personal Hygiene
Mandi : 1 x sehari
Ganti pakaian : setiap basah/ kotor dan setelah
BAB/BAK
Keluhan : tidak ada
d) Aktifitas : bayi bergerak aktif
e) Eliminasi
Frekuensi BAK : 8-9 x sehari
Warna : kuning jernih
Jumlah : 1 popok penuh
Keluhan : tidak ada
Frekuensi BAB : 1-2 x sehari
Warna : kuning kecoklatan
Jumlah : 1 popok penuh
Keluhan : tidak ada
B) DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : baik
b. Kesadaran : composmentis
c. Tanda-tanda vital : Nadi : 130 x/menit
Suhu : 36,70C
Pernapasan : 42 x/menit
d. BB/PB : 3000 gram/48 cm
e. LK : 31 cm
2. Pemeriksaan head to toe
a. Kepala
Kepala simetris, rambut berwarna hitam dan pertumbuhan merata,
keadaan bersih, lesi tidak ada, oedema tidak ada.
b. Wajah
Wajah simetris, oedema tidak ada.
26
c. Mata
Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, sekret tidak ada, bentuk
simteris, tanda infeksi tidak ada.
d. Hidung
Sekret tidak ada, keadaan bersih, lesi tidak ada.
e. Telinga
Kanan kiri simetris, tidak ada cairan yang keluar dan bersih.
f. Mulut
Sekret tidak ada, lidah bersih, gusi kemerahan, tidak bengkak dan tidak
berdarah, tidak ada stomatitis.
g. Leher
Bentuk simteris, massa tidak ada, kekakuan tidak ada, kelenjat tiroid
tidak ada pembesaran.
h. Dada
Bentuk simteris, tipe pernapasan normal, auskultasi suara normal,
pernapasan normal.
i. Abdomen
Bentuk simetris, bekas operasi tidak ada.
j. Genitalia
Oedema tidak ada, secret tidak ada, keluhan tidak ada.
k. Ekstremitas
Oedema tidak ada, kelainan tidak ada, turgor kulit baik.
3. Pemeriksaan penunjang
Tidak dilakukan pemeriksaan
4. Pengobatan yang telah didapatkan
Ibu mengatakan bayi belum pernah mendapatkan pengobatan apapun.
2. LANGKAH II. INTERPRETASI DATA DASAR
a. Diagnosa : By. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat
b. Masalah : tidak ada
c. Kebutuhan : tidak ada
27
Pada bab ini akan menguraikan pembahasan tenatang asuhan kebidanan pada bayi
Ny.L dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati. Dalam hal ini, pembahasan akan
diuraikan secara narasi berdasarkan pendekatan asuhan kebidanan dengan tujuh langkah
varney yaitu : pengumpulan data dasar, merumuskan diagnosis atau masalah aktual,
merumuskan diagnosis atau masalah potensial, melaksanakan tindakan segera atau
kolaborasi, merencanakan tindakan asuhan kebidanan, melakukan tindakan asuhan
kebidanan, dan mengevaluasi asuhan kebidanan.
Tinjauan kasus yang dilakukan pada bayi Ny. L berdasarkan pegkajian data dasar
diketahui bahwa Bayi Ny. L umur 1 hari, hasil pemeriksaan fisik didapatkan kondisi Bayi
Ny. L dalam keadaan sehat dan tidak ditemukan kelainan tetapi ibu tidak mengerti tentang
perawatan tali pusat bayi nya. Berdasarkan data tersebut dapat ditegakkan diagnosa yaitu
By. Ny. L umur I hari dengan perawatan tali pusat dan tidak diperlukan Tindakan segera.
Teori dan studi kasus ada kesamaan dalam membuat diagnosis/ masalah aktual, dan
tidak tampak adanya kesenjangan. Diagnosis kebidanan adalah diagnosis yang ditegakkan
bidan dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosis
kebidanan.
KIE perawatan tali pusat dengan cara perawatan tali pusat kering supaya
mempercepat pelepasan tali pusat yaitu dengan cara tidak mengoleskan cairan atau bahan
apapun ke puntung tali pusat. Dari penelitian septiawati , dkk (2019) Ada Perbedaan
Perawatan Tali Pusat dengan Menggunakan Topikal ASI dan Metode Kering Terhadap
Lama Pelepasan Tali Pusat.
30
BAB V
PENUTUP
Setelah mempelajari teori dan pengalaman langsung yang diperoleh dari lahan
praktik melalui kasus Bayi Ny. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat di TPMB
Fatmawati maka bab ini penulis menarik kesimpulan dan saran.
A. Kesimpulan
1. Telah dilaksanakan pengumpulan data dasar pada Ny. L umur 1 hari dengan
perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati, data bayi berumur 1 hari dengan
keadaan umum baik dan tidak sedang menderita suatu penyakit, nadi 120
x/menit, suhu 36,70C dan pernapasan 48 x/menit.
2. Telah dilakukan interpretasi data dasar pada Bayi Ny. L umur 1 hari dengan
perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati diperoleh diagnosa kebidanan Bayi
Ny. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat, tidak ditemukan masalah yang
muncul, jadi tidak ada kebutuhan diberikan pada klien.
3. Telah dilakukan identifikasi diagnosa atau masalah potensial pada kasus Bayi
Ny. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati, tidak
muncul karena pada kasus ini tidak muncul kegawatdaruratan.
4. Tidak adanya tindakan segera atau kolaborasi dalam asuhan kebidanan pada
Bayi Ny. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati pada
kasus ini tidak terdapat antisipasi, karena tidak ditemukan adanya diagnosa
potensial.
5. Telah disusun rencana tindakan asuhan kebidanan pada Bayi Ny. L umur 1
hari dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati dengan hasil
merencanakan asuhan berdasarkan diagnosa kebidanan, masalah dan
kebutuhan.
6. Telah dilaksanakan tindakan asuhan yang telah direncanakan pada Bayi Ny.
L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawti dengan semua
tindakan yang telah direncanakan dapat dilaksanakan seluruhnya dengan baik
dengan tidak ada hambatan.
31
32
7. Telah dilakukan evaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan pada Bayi
Ny. L umur 1 hari dengan perawatan tali pusat di TPMB Fatmawati dengan
bayi telah dilakukan perawatan tali pusat dan bayi dalam keadaan sehat.
B. Saran
Berdasarkan tinjauan kasus dan pembahasan kasus, maka penulis
memberikan sedikit masukan atau saran yang diharapkan dapat bermanfaat.
1. Untuk TPMB Fatmawati
Dapat dijadikan sebagain acuan dalam meningkatkan mutu pelayanan asuhan
kebidanan dalam memberikan perawatan tali pusat.
2. Untuk Poltekkes Kemenkes Jambi
Dapat dijadikan sebagai acuan bagi institusi pendidikan dan dijadikan studi
banding untuk penelitian selanjutnya tentang perawatan tali pusat.
DAFTAR PUSTAKA
Andreini, dkk (2020) Efektivitas berbagai metode perawatan tali pusat terhadap lamanya
pelepasan talipusat pada bayi baru lahir di BPM Yosephine Palembang
Budi S, Endang dan Sajekti, Sih. 2011. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Neonatus,
Bayi dan Balita. Surabaya: Akademi Kebidanan Griya Husada Surabaya.
Damanik, dkk (2020) Perbandingan metode topical metode topical asi dan tehnik terbuka
terhadap pelepasan talipusat pada bayi baru lahir di klinik bersalin Hj. Nirmala
Sapni Krakatau pasar 3 Kecamtan Medan Timur
Dian, dkk, 2018. Perbedaan Perawatan Tali Pusat Terbuka Dan Kasa Kering Dengan
Lama Pelepasan Tali Pusat Pada Bayi Baru Lahir. Jurnal Ilmiah Kesehatan dan
Aplikasinya, Vol.6(2) 2018
Diana, dkk, 2019. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Persalinan Dan Bayi Baru Lahir.
Surakarta: CV Oase Group
El Sinta B, Lusiana. 2019. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Neonatus, Bayi dan Balita.
Sidoarjo: Indomedia Pustaka.
Herman, dkk (2020) Perbedaan lama pelepasan talipusat pad bayi yang dimandikan
kedalam air hangat dengan bayi yang dilap handuk basah
Jannah, Nurul. 2012. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Yogyakarta: Andi Offset.
Kementrian Kesehatan RI. 2011. Manajemen Terpadu Balita Sakit. Jakarta: Kemenkes
RI.
Kemenkes RI. 2016. Pedoman Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan Intervensi Dini
Tumbuh Kembang Anak Di tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta:
Kemenkes RI.
Kementerian Kesehatan RI. 2018. Profil Kesehatan Indonesia 2018. Jakarta: Kemenkes
RI. [Link] diakses 2 Desember 2020.
Medhyna, dkk (2020) Perbedaan perawatan tali pusat menggunakan asi dengan kasa
kering terhadap lama pelepasan tali pusat
Muslihatun, dkk (2010). Asuhan Neonatus Bayi dan balita. Yogyakarta: Fitramaya.
Septiani, dkk (2019) Perbedaa perawatan talipusat dengan menggunakan topical asi dan
metode kering terhadap lama pelepasan talipusat pada bayi baru lahir di BPM
wilayah kerja puskesmas Dayamurni kabupaten Tulang Bawang