MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA PESERTA DIDIK
DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DI KELAS IV
MIS
PROPOSAL PENELITIAN
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Jurusan Ilmu Pendidikan
Oleh
NUR HABIBAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI ISLAM SUMATERA UTARA
2025
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah suatu .proses pembelajaran kepada .peserta didik agar memiliki
pemahaman terhadap sesuatu dan membuatnya menjadi .seorang manusia yang kritis
dalam berpikir. Secara umum, tujuan .pendidikan adalah untuk mencerdaskan .dan
mengembangkan
potensi di dalam diri. para peserta didik. Dengan pertumbuhan .kecerdasan dan potensi diri
maka setiap anak bisa .memiliki ilmu pengetahuan, kreativitas, sehat jasmani dan rohani,
kepribadian yang baik, mandiri, .dan menjadi anggota masyarakat yang bertanggungjawab.
Untuk mencapai hal tersebut, maka sebagai guru kelas, perlu mengadakan suatu kegiatan
pengembangan pembelajaran yang sesuai dengan tugas fungsi guru untuk meningkatkan
semangat anak untuk belajar.
Belajar adalah perubahan kemampuan dan disposisi seseorang yang dapat
dipertahankan. dalam suatu periode .tertentu dan bukan .merupakan .hasil proses
pertumbuhan,
belajar adalah sebuah proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan
berlangsung
seumur hidup, sejak masih bayi hingga liang lahat. Belajar juga merupakan perubahan
perilaku
berkat .pengalaman dan latihan. Manusia perlu terus belajar untuk mencapai
kedewasaannya.
Dalam proses belajar di sekolah guru memegang peranan .penting dalam proses
pembelajaran
agar peserta didik dapat mencapai tujuan belajar. Terutama untuk pelajaran-pelajaran yang
menjadi dasar .dari pengetahuan lain, salah satunya pelajaran matematika.
Di dalam ilmu .matematika .termuat banyak .konsep, .logika yang .memerlukan banyak
pemecahan .masalah. Matematika sangat .berperan aktif dalam .berbagai disiplin dan
memajukan daya pikir .manusia agar berkemampuan .secara
logis ,analisis, .sistematis ,kritis,
dan .kreatif. Untuk meningkatkan .kemampuan memecahkan masalah .perlu dikembangkan
keterampilan memahami .masalah, membuat .model matematika, menyelesaikan masalah,
dan
menafsirkan .masalah. Karena itu .diperlukan pemahaman agar peserta didik .mengerti dan
mengetahui .apa yang sedang dipelajari .sehingga peserta didik dapat .menerjemahkan,
menginterprestasikan persoalan tersebut ke dunia sebenarnya.
Belajar matematika .harus menekankan .pada pembelajaran pengalaman .belajar secara
langsung .melalui penggunaan dan .pengembangan keterampilan .proses dan sikap ilmiah.
Sikap .ilmiah biasa dikembangkan .ketika peserta didik melakukan diskusi .atau kerja
kelompok karena .pada saat itulah .berlangsung kerjasama sehingga .diperoleh
pengetahuan
yang .lebih banyak. Dengan demikian .tugas guru adalah .membangkitkan
semangat .belajar
peserta didik dan .meningkatkan partisipasi mereka .dengan cara menciptakan .suasana
belajar yang. dinamis,harmonis, .menarik dan menciptakan .komunikasi dua arah.
Guru .harus
bertindak sebagai fasilitator .untuk membentuk dan .mengembangkan pengetahuan, bukan
.untuk memindahkan .pengetahuan. Oleh .karena itu, apabila guru mengajar .tanpa
memperhatikan kemampuan .peserta didik sebelum materi .diajarkan, guru tidak akan
berhasil
menanamkan .konsep yang benar dan .hanya sebagian peserta didik .yang mampu
memahami
.materi yang diajarkan .oleh guru.
Peserta didik kelas IIa MIN 2 Padangdisimpuan berjumlah 28 orang peserta didik.
Memiliki nilai rata-rata matematika yang cenderung rendah. Kebanyakan peserta didik
kurang
mendapat perhatian orang tua, orang tua menganggap belajar cukup di sekolah saja dan
lingkungan kurang mendukung belajar anak, masih banyak yang kesulitan dalam
memahami
pelajaran, dan kurang fokus dalam belajar karena sudah terpengaruh oleh gadget. Setiap
belajar
.matematika sering ditemukan .peserta didik yang kurang aktif .dan kurang respon
terhadap
.materi yang diajarkan .karena konteks pembahasannya .terlalu abstrak. Pelajaran .juga
lebih
didominasi .oleh anak yang memiliki .kemampuan dasar matematis .lebih tinggi, akibatnya
.peserta didik yang lemah .dari sisi kemampuan .dasar matematis .merasa terkalahkan,
dalam
.hal ini sering .menimbulkan masalah .dalam pembelajaran .matematika dikelas .yang
berdampak pada .hasil belajar peserta didik menurun. Selain itu .cara mengajar guru. yang
cenderung .monoton menggunakan .metode ceramah semakin .membuat pembelajaran
terasa
membosankan berakibat dengan rendahnya hasil belajar peserta didik.
Maka peneliti .ingin memperbaiki cara belajar peserta didik dan model pembelajaran
yang digunakan supaya dapat .memperoleh .hasil yang baik, bisa .membagi waktu belajar,
dan
.senang terhadap mata .pelajaran matematika yang .selama ini menjadi .momok yang
.menakutkan bagi sebagian .besar peserta didik.
Model pembelajaran matematika. yang dapat mengakomodasi .kepentingan untuk
mengkolaborasikan pengembangan diri didalam proses pembelajaran .adalah model
Pendekatan Problem .Based Learning (PBL), yaitu membelajarkan kepada peserta didik
ketrampilan dan kerja sama dan berkolaborasi dan pembelajaran aktifitas lebih banyak
diperankan oleh anak sehingga anak akan lebih mudah memahami dengan mengalami
sendiri.
Dibantu dengan media pembelajaran PPT/Video dan media peraga yang dibuat sendiri.
Media
peraga yang digunakanpun sederhana dan mudah digunakan anak tingkat sekolah dasar.
Model
pembelajaran dan media pembelajaran mempunyai peranan dan fungsi yang sangat penting
sebagai alat bantu bagi guru dalam pembelajaran. Untuk memperjelas .suatu konsep
ataupun
pengertian dalam materi serta mengubah hal yang abstrak menjadi dalam bentuk konkrit.
Karena hal tersebutlah .maka perlu sekali inovasi dan kreativitas guru. Berdasarkan hal-hal.
tersebut agar peserta didik lebih .memahami pelajaran maka guru
perlu keluar dari zona nyaman serta berkreativitas dan berinovasi dengan mengubah
metode
pembelajaran dan membuat media ataupun alat peraga agar peserta didik lebih tertarik
dalam
pembelajaran. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penulis ingin melakukan
penelitian
ini yang diberi judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika peserta didik Melalui
Penggunaan Model Problem Based Learning dan Media Pembelajaran di kelas II MIN 2
Padangsidimpuan Tahun Pelajaran 2022/2023.”
B. Pembatasan dan Rumusan masalah
- Batasan masalah
Agar penelitian ini lebbih terfokus dan tidak meluas dari pembahasan yang dimaksud,
maka penelitian ini membatas ruang lingkup penelitian ini pada : Masalah difokuskan pada
penggunaan model Pembelajaran Problem based learning (PBL) dan Media pembelajaran
terhadap hasil belajar peserta didik.
- Rumusan masalah
1. Bagaimanakah keadaan hasil belajar matematika dengan penggunaan model
Pembelajaran Problem based learning (PBL) dan media pembelajaran terhadap hasil
belajar peserta didik kelas II di MIN 2 Padangsidimpuan?
2. Bagaimana pengaruh penggunaan model Pembelajaran Problem based learning (PBL)
dan media pembelajaran terhadap hasil belajar peserta didik Kelas II di MIN 2
Padangsidimpuan?
3. Bagaimanakah hasil peningkatan hasil belajar matematika dengan penggunaan media
pembelajaran terhadap hasil belajar peserta didik kelas II di MIN 2 Padangsidimpuan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui bagaimana hasil belajar peserta didik sebelum penggunaan model
Pembelajaran Problem based learning (PBL) terhadap motivasi dan hasil belajar peserta
didik kelas II di MIN 2 Padangsidimpuan.
2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh model Pembelajaran Problem based learning
(PBL) dan media pembelajaran terhadap hasil belajar peserta didik Kelas II di MIN 2
Padangsidimpuan.
3. Untuk mengetahui bagaimana hasil peningkatan hasil belajar matematika dengan
penggunaan media pembelajaran terhadap hasil belajar peserta didik kelas II di MIN 2
Padangsidimpuan.
4
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan melalui penelitian ini adalah :
1. Bagi Peserta Didik
- Dengan diterapkannya .model pembelajaran Problem Based Learning .(PBL) dan
penggunaan .media pembelajaran .dalam belajar, diharapkan peserta didik .menjadi
lebih meningkatkan kemampuan .dalam pelajaran .matematika.
- Dengan diterapkannya .model Problem Based Learning (PBL) dan .penggunaan media
pembelajaran dalam belajar diharapkan hasil belajar. peserta didik lebih meningkat.
- Dengan diterapkannya. model Problem Based Learning (PBL) dan penggunaan media
pembelajaran dalam belajar .diharapkan peserta didik lebih aktif dalam kegiatan
pembelajaran .dan bisa lebih .bekerjasama dengan .teman sekelasnya.
2. Bagi Peneliti/Guru
Dengan adanya .penelitian ini diharapkan .guru termasuk peneliti. dapat menggunakan
model pembelajaran. yang sesuai dan variatif dan sesuai dengan materi yang diajarkan
ketika di dalam kelas sehingga peserta didik tidak bosan .dengan model yang .sudah ada.
Guru juga diharapkan dapat kreatif dalam membuat dan menggunakan media ataupun alat
perga dalam pembelajaran agar pembelajaran yang belangsung menjadi lebih
menyenangkan. Dan diharapkan dengan .adanya model dan .media yang yang bervariasi
dan menarik .dapat membatu guru dalam mencapai .tujuan utamanya .dalam
meningkatkan hasil belajar peserta didik.
3. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan akan memberikan sumbangsi .yang baik bagi
sekolah .dalam rangka .perbaikan pembelajaran .dan peningkatan mutu .proses
pembelajaran. Sehingga diharapkan akan melahirkan generasi-generasi penerus bangsa
yang berkualitas dan berprestasi.
BAB II
KERANGKA TEORI
A. LANDASAN TEORI
1. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)/ Pembelajaran Berbasis
Masalah
a. Definisi Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Model pembelajaran adalah suatu rancangan kegiatan belajar mengajar agar
pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Kegiatan belajar mengajar
membutuhkan suatu rancangan sehingga akan menarik perhatian peserta didik. Model
pembelajaran yang digunakan harus menyesuaikan dengan karakteristik materi untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran Berbasis Masalah atau Problem Based
Learning biasa disingkat PBL.
Problem Based Learning merupakan salah satu model pembelajaran inovatif dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar peserta didik. Ibrahim dan Nur mengatakan
bahwa: Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) merupakan salah satu
pendekatan pembelajaran yang digunakan untuk merangsang berpikir peserta didik dalam
situasi yang berorientasi pada masalah dunia nyata, termasuk didalamnya bagaimana
belajar. Menurut Tan, mengemukakan Model Berbasis Masalah (Problem Based
Learning) adalah: Pembelajaran dengan menggunakan kemampuan berfikir peserta didik
untuk menyelesaikan masalah dalam tantangan dunia nyata,. Kemampuan untuk
menghadapi segala sesuatu yang baru sehingga mampu mengembangk an kemampuan
berfikir secara berkesinambungan.
Dalam pembelajaran masalah digunakan untuk menarik perhatian peserta didik
sehingga terdorong untuk berperan aktif dalam pembelajaran. Masalah-masalah dirancang
untuk peserta didik agar mendapatkan pengetahuan sesuai tujuan yang akan dicapai.
Masalah yang dijadikan fokus pembelajaran dapat diselesaikan peserta didik melaui kerja
kelompok sehingga dapat memberi pengalaman-pengalaman belajar yang beragam pada
peserta didik. Penggunaan Problem Based Learning dapat meningkatkan pemahaman
peserta didik tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan mereka dapat
menerapkannya dalam kondisi yang nyata pada kehidupan sehari-hari. Kemampuan
menyelesaikan masalah sangat diperlukan untuk menghadapi tantangan di era globalisasi.
Cara membiasakan kemampuan menyelesaikan masalah dengan tepat dapat dilakukan di
sekolah dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning.
Berdasarkan pendapat Tan dan Ngalimun, maka penelitian ini menyimpulkan definisi
Problem Based Learning sebagai suatu model pembelajaran yang berpusat pada peserta
didik. Pembelajarannya dimulai dengan adanya permasalahan yang disajikan dalam
bentuk masalah nyata. Sehingga peserta didik mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi yang
kemudian dapat memecahkan masalah tersebut.
b. Karakteristik Model Pembelajaran Berbasis Masalah/Problem Based Learning
(PBL)
Karakteristik dari model pembelajaran PBL adalah adanya siklus yang berulang dan
melibatkan kolaborasi antara guru dan peserta didik maupun antara peserta didik dan
peserta didik. peserta didik dibentuk dalam kelompok serta guru yang bertindak sebagai
fasilitator untuk menentukan penyelesaian masalah. Selain itu masalah yang dihadirkan
dalam model pembelajaran PBL membutuhkan banyak pengetahuan untuk kemudian
disatukan membentuk solusi untuk menyelesaikan permasalahan.
Kemudian menurut Rusman peserta didik yang belajar dengan PBL mempunyai
karakteristik sebagai berikut :
1) Permasalahan menjadi starting point dalam belajar
2) Permasalah yang disajikan kepada peserta didik adalah masalah autentik sehingga
peserta didik mudah memahami masalah tersebut
3) Permasalahanya menantang pengetahuan yang dimiliki oleh peserta didik artinya
peserta didik berusaha mencari solusi permasalahan tersebut
4) Belajar adalah kolaboratif, komunikasi dan kooperatif
5) Pengembangan keterampilan inquiry dan pemecahan masalah untuk mencari solusi
suatu permasalahan.
Jadi berdasarkan penjelasan di atas bahwa karakteristik PBL adalah belajar dimulai dari
suatu masalah nyata, peserta didik ditantang untuk menyelesaikan masalah sehingga
proses pembelajaran berpusat pada peserta didik. peserta didik dituntut untuk dapat
memahami masalah yang ada serta mencari jawaban dari masalah tersebut, dan guru
sebagai fasilitator.
c. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah/Problem Based
Learning (PBL)
Model pembelajaran adalah tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam proses
pembelajaran. Untuk dapat menggunakan model pembelajaran berbasis masalah ini,
sebelumnya guru harus memilih bahan pelajaran yang sesuai. Setelah itu mengangkat
topik permasalaan yang dapat diselesaikan oleh peserta didik. Permasalahan dapat
diambil dari bahan ajar dengan kaitannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Hamruni ada enam langkah untuk dapat menerapkan Model Berbasis
Masalah antara lain:
1) Menyadari adanya masalah.
2) Merumuskan masalah.
3) Merumuskan hipotesis.
4) Mengumpulkan data.
5) Menguji hipotesis
6) Menentukan pilihan penyelesaian.
Disisi lain Taufiq Amir mengemukakan tujuh langkah proses Problem Based Learning
yaitu:
1) Mengklarifikasi istilah dan konsep yang belum jelas.
2) Merumuskan masalah.
3) Menganalisis masalah.
4) Menata gagasan secara sistematis.
5) Merumuskan tujuan pembelajaran.
6) Mencari informasi tambahan.
7) Menggabungkan hal-hal yang relevan.
Lebih lanjut Ibrahim dan Nur mengemukakan langkah-langkah Pembelajaran Berbasis
Masalah ke dalam lima fase pembelajaran yakni sebagai berikut :
1) Fase 1 : Orientasi peserta didik pada masalah
2) Fase 2 : Mengorganisasi peserta didik untuk belajar
3) Fase 3 : Membimbing pengalaman individual/ kelompok
4) Fase 4 : Mengembangkan dan Menghasilkan karya
5) Fase 5 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Dari beberapa pendapat diatas, langkah-langkah model pembelajaran Problem Based
Learning dapat diambil kesimpulan bahwa langkah awal dimulai dengan menyiapkan
logistik yang dibutuhkan lalu penyajian topik atau masalah. Penyajiann permasalahan
diharapkan dapat menstimulus dan memotivasi peserta didik untuk berfikir dan mencari
informasi yang relevan. Dilanjutkan peserta didik melakukan diskusi dalam kelompok
kecil, mencari solusi permasalahan baik secara individu maupun kelompok,
menyampaikan solusi dari permasalahan dalam kelompok berupa hasil karya dalam
bentuk laporan dan kemudian dilakukan evaluasi terhadap proses apa saja yang telah
peserta didik gunakan. Pembelajaran dengan menggunakan model ini peserta didik harus
terlibat secara langsung untuk memecahkan masalah.
Dengan mengidentifikasi akar permasalahan baik secara individu maupun kelompok.
Sampai mendapatkan solusi terbaik. Dengan demikian tersusunlah langkah-langkah
pembelajaran dalam mengatasi permasalahan sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai.
2. Media Pembelajaran
a. Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk dari kata medium yang
secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Media adalah perantara atau pengantar
pesar dari pengirim ke penerima pesan. Menurut teknologi dan komunikasi pendidikan
(Association of Education and Comunication technology/ AECT) mendefinisikan media
sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau
informasi.
Gerlach & Ely, mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar
adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat peserta
didik memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Secara khusus, pengertian
media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis,
photografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali
informasi visual atau verbal. Media adalah komponen sumber belajar atau wahana fisik
yang mengandung materi instruksional bagi peserta didik, yang dapat merangsang peserta
didik untuk belajar. Adapun media pembelajaran adalah media dalam proses belajar
mengajar diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronik untuk
menangkap,memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.
Media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan
isi materi pengajaran yang terdiri dari atas buku, tape recorder, kaset, video camera, video
recorder, film, slide (gambar), foto, gambar, grafik, dan komputer. Media pembelajaran
dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang bari,
membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, bahkan membawa pengaruh-
pengaruh psikologi terhadap peserta didik. Selain membangkitkan motivasi dan minat
peserta didik, media pembelajarna juga dapat membantu peserta didik meningkatkan
pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran
data dan memadatkan informasi.
b. Fungsi Media Pembelajaran
Secara umum, media pembelajaran memiliki beberapa fungsi, di antaranya adalah
sebagai berikut :
1) Menyaksikan benda yang ada atau peristiwa yang terjadi pada masa lampau.
2) Mengamati benda atau peristiwa yang sukar dikunjungi, baik karena jaraknya jauh,
berbahaya, atau terlarang.
3) Memperoleh gambaran yang jelas tentang benda atau hal-hal yang sukar diamati
secara langsung karena ukurannya terlalu besar atau terlalu kecil.
4) Mendengar suara yang sukar ditangkap dengan telinga secara langsung.
5) Mengamati dengan teliti binatang-binatang yang sukar diamati secara langsung karena
sukar ditangkap
6) Dapat memudahkan melihat dan mengamati hal-hal yang tidak bisa di tangkap oleh
mata secara cepat.
7) Dapat menjangkau audien yang besar jumlahnya dan mengamati suatu objek secara
serempak
8) Dapat belajar sesuai dengan kemampuan, minat, dan temponya masing-masing.
3. Hasil Belajar
a. Pengertian hasil belajar
Hasil belajar adalah perubahan perilaku individu yang meliputi ranah kognitif, afektif,
dan psikomotorik. Perubahan perilaku tersebut diperoleh setelah siswa menyelesaikan
program pembelajarannya melalui interaksi dengan berbagai sumber belajar dan
lingkungan belajar. Menurut (Rusmono: 2017). Sedangkan Menurut (Ahiri: 2017)
Hasil belajar juga merupakan perilaku yang dapat diamati dan menunjukkan
kemampuan yang dimiliki seseorang. Kemampuan siswa yang merupakan perubahan
perilaku sebagai hasil belajar itu dapat diklarifikasikan dalam dimensi- dimensi
tertentu.
Dari pengertian pembelajaran di atas dapat penulis simpulkan bahwa hasil belajar
merupakan perubahan perilaku individu yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan
psikomotorik. Perubahan perilaku tersebut diperoleh setelah siswa menyelesaikan
program pembelajarannya melalui interaksi dengan berbagai sumber belajar dan
lingkungan belajar.
b. Tujuan hasil belajar
Tujuan hasil belajar menurut (Sudjana: 2016) adalah sebagai berikut:
1) Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan
dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang
ditempuh.
2) Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran di sekolah, yakni
seberapa jauh efektifnya dalam mengubah tingkah laku para siswa kearah tujuan
pendidikan yang diharapkan.
3) Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan
penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran.
4) Memberikan pertanggung jawaban dari pihak sekolah kepada pihak- pihak yang
berkepentingan.
Dari penjelasan tujuan belajar diatas, dapat penulis simpulkan bahwa belajar
bertujuan untuk mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa, mengetahui
keberhasilan proses pendidikan, menentukan tindak lanjut penilaian, dan memberikan
pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak- pihak yang berkepentingan.
c. Macam- macam hasil belajar
Untuk mencapai hasil belajar yang baik dan maksimal maka dapat dijelaskan bahwa
“Macam- macam hasil belajar yaitu pemahaman konsep (Aspek kognitif),
Keterampilan (Aspek psikomotor) dan sikap siswa (Aspek afektif)”. Menurut
(Susanto: 2013). Sedangkan menurut (Sudjana: 2009) menyatakan secara garis besar
macam- macam hasil belajar di bagi menjadi 3 ranah 1) Ranah Kognitif, 2) Ranah
Afektif, 3) Ranah Psikomotor dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam
aspek yakni pengetahuan, ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan
evaluasi.
2. Ranah afektif
Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Penilaian hasil belajar afektif
kurang mendapat perhatian dari guru. Tipe hasil belajar afektif tampak pada siswa
dalam berbagai tingkah laku seperti perhatiannya terhadap pembelajaran,
kebiasaan belajar, disiplin, motivasi belajar.
3. Ranah Psikomotor
Hasil belajar psikomotoris tampak dalam bentuk keterampilan dan kemampuan
bertindak individu, ada enam tingkat keterampilan, yaitu: gerakan refleksi,
keterampilan dalam gerakangerakan dasar, kemampuan perseptual, kemampuan
dibidang fisik, gerakan- gerakan skil dan kemampuan yang berkenaan dengan
komunikasi.
Dari penjelasan tentang macam- macam hasil belajar diatas dapat penulis
simpulkan bahwa macam- macam hasil belajar dapat disimpulkan dalam tiga ranah
yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotor.
d. Faktor- faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Agar pembelajaran belajalan dengan baik maka peneliti harus mengetahui beberapa
hal tentang “Faktor- faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi
dua jenis yaitu bersumber dari dalam diri manusia, yang disebut sebagai faktor internal
dan faktor yang bersumber dari luar diri manusia, yang disebut faktor eksternal”.
Menurut (Suharsimi Arikunto: 2016). Sedangkan menurut (Leni Marlina: 2021)
mengemukakan bahwa faktor- faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu ada
faktor internal (minat, bakat, motivasi dan cara belajar) dan faktor eksternal
(lingkungan sekolah dan lingkungan keluarga).
1. Faktor internal
a. Minat
Minat merupakan sesuatu yang penting ketika kita akan melakukan sesuatu.
Jika seseorang tidak memiliki minat yang tinggi dalam suatu hal, maka ia akan
kesulitan dan tidak tertarik untuk melakukannya. Minat juga merupakan
perubahan energi dalam diri pribadi seseorang yang ditimbulkan perasaan dan
reaksi untuk mencapai tujuan. Tanpa adanya tujuan, orang tidak akan berminat
untuk melakukan sesuatu.
b. Bakat
Bakat merupakan kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih
perlu dikembangkan atau dilatih. Pada dasarnya setiap manusia memiliki bakat
pada suatu bidang tertentu dengan kualitas yang berbeda- beda. Bakat yang
dimiliki seseorang dalam bidang tertentu memungkikannya untuk mencapai
prestasi pada bidangnya. Menurut Anggraini (2020).
c. Motivasi
Motivasi merupakan serangkaian usaha untuk menyiapkan kondisi- kondisi
tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu. Motivasi
merupakan hal yang penting dan harus dimiliki oleh seorang siswa agar tetap
semangat dalam belajar. Motivasi juga mengarah pada sebuah istilah yang
mengarah pada adanya kecenderungan bertindak untuk menghasilhan satu atau
lebih pengaruh.
d. Cara belajar
Cara belajar adalah sebuah strategi yang dilakukan siswa agar lebih memahami
materi yang dijelaskan tentunya dengan cara yang disenangi oleh siswa
tersebut.
2. Faktor eksternal
a. Lingkungan sekolah
Sekolah merupakan satu faktor yang turut mempegaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak terutama untuk kecerdasannya. Hal ini dapat dikatakan
bahwa lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.
Lingkungan sekolah merupakan tempat dimana peserta didik
melakukan pembelajaran. Dalam lingkungan sekolah terdapat guru dan kepala
sekolah, peran guru sangat penting dalam proses pembelajaran, dimana guru
harus memberikan penjelasan terkait sebuah materi yang terkadang materi
yang diajarkan, selanjutnya ada kepala sekolah yaitu sebagai ketua atau
pemimpin yang bertanggung jawab dan berperan penting dalam memajukan
sebuah sekolah dan adapun salah satu tugas kepala sekolah adalah
menyediakan fasilitas yang ccukup untuk guru dan peserta didik.
b. Lingkungan keluarga
Lingkungan keluarga merupakan pengaruh utama bagi kehidupan,
pertumbuhan dan perkembangan seseorang. Salah satu sumbangan keluarga
untuk anak adalah sebagai perangsang kemampuan untuk mencapai
keberhasilan disekolah dan kehidupan sosial, dengan kata lain dalam relasi
antara anak dengan orang tua itu secara kodrat tercangkup unsur pendidikan
dalam membangun kepribadian anak dan mendewasakannya.
4. Matematika
Ruseffendi (1994:247) dalam kamus matematika mengatakan bahwa “Matematika
adalah ilmu tentang logika mengenal bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang
saling berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi dalam tiga
bidang yaitu aljabar, analisis, dan geometri.
Ada beberapa pendapat tentang belajar matematika diantaranya dijelaskan oleh
Gagne : Bahwa belajar matematika ada dua obyek yang dapat diperoleh peserta didik,
yaitu obyek langsung dan obyek tak langsung. Obyek yang langsung berup fakta,
keterampilan, konsep dan aturan, sedangkan obyek tak langsung antara lain kemampuan
menyelidiki dan memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap positif terhadap
matematika.
Lebih lanjut belajar matematika diartikan sebagai berikut : matematika yang
beracuan dengan ide-ide abstrak yang diberi simbol-simbol itu tersusun secara hirarkis an
penalaran deduktif, sehingga belajar matematika itu merupakan kegiatan mental yang
tinggi, harus bertahap dan berurutan serta mendasarkan kepada pengalaman belajar yang
lalu.
Tujuan Pembelajaran Matematika di MI :
Berdasarkan Permendikbut Nomor 22 Tahun 2016 mengenai tujuan pembelajaran
matematika, yakni:
1. Memahami Konsep matematika, medeskripsikan bagaimana keterkaitan antar konsep
matematika dan menerapkan konsep atau logaritma secara efisien, lues, akurat, dan
tepat dalam memecahkan masalah.
2. Menalar pola sifat dari matematika, mengembangkan atau memanipulasi matematika
dalam menyusun argumen, merumuskan bukti atau mendeskripsikan argumen dan
pernyataan matematika.
3. Memecahkan masalah matematika meliputi kemampuan memahami masalah,
menyusun model penyelesaian matematika, menyelesaikan model matematika, dan
memberi solusi yang tepat.
4. Mengkomunikasikan argument atau gagasan dengan diagram, tabel, symbol atau
media lainnya agar dapat memperjelas masalah atau keadaan.
B. Penelitian Terdahulu
Setelah peneliti melakukan kajian pustaka tentang judul penelitian yang dilakukan oleh
peneliti, ada beberapa hasil penelitian yang relevan yang dikaji oleh peneliti. Adapun
penelitian terdahulu tersebut :
Judul Penelitian : “Penggunaan Media Pembelajaran Dalam Model Pembelajaran Problem
Based Learning Pada Mata Pelajaran Matematika.”
Yang sama-sama untuk melihat pengaruh penggunaan model pembelajaran problem based
learning dan media dalam meningkatkan hasil belajar.
Kerangka Berfikir
C. Hipotesis Penelitian
Adapun hipotesis dari tindakan penelitian ini adalah Upaya meningkatkan hasil belajar
matematika peserta didik melalui penggunaan model problem based learning dan media
pembelajaran pada mata pelajaran matematika di kelas II MIN 2 Padangsidimpuan.