Metode Cascade
Secara garis besar, langkah penyelesaian rangkaian kontrol pneumatik
menggunakan metode cascade adalah dengan menyusun power line (garis
tekanan) dengan jumlah sesuai dengan yang dibutuhkan. Dalam metode cascade,
jumlah power line ini dapat ditentukan dengan 2 (dua) macam konfigurasi:
1. Konfigurasi maksimum, jumlah power line sesuai dengan banyaknya
langkah kerja (seperti pada digram langkah) dalam satu siklus.
2. Konfigurasi minimum, jumlah power line dapat direduksi sesuai dengan
banyaknya daerah kerja dalam satu siklus.
Power line dibentuk berdasarkan hasil signal keluaran dari katup 4/2 DCV yang
disusun secara berbaris (cascade). Dalam suatu rangkaian, jumlah minimal power
line adalah 2 (dua). Gambar 1, menunjukkan contoh pembentukan power line
metode cascade dengan 2 (dua), 3 (tiga), dan 4 (empat) power line.
1
2
1-2 2-1
a) Metode cascade dengan 2 (dua) power line.
1
2
3
2-3
1-2 3-1
b) Metode cascade dengan 3 (tiga) power line.
1
2
3
4
3-4
2-3
1-2 4-1
c) Metode cascade dengan 4 (empat) power line.
Gambar 1. Pembentukan power line menggunakan cascade
Pada metode cascade berlaku:
1- Katup 3/2 DCV yang merubah power line 1 ke 2, sumber tekanannya berasal
dari power line 1;
2- Katup 3/2 DCV yang merubah power line 2 ke 3, sumber tekanannya berasal
dari power line 2;
3- Katup 3/2 DCV yang merubah power line 3 ke 4, sumber tekanannya berasal
dari power line 3;
4- Katup 3/2 DCV yang merubah power line 4 ke 1, sumber tekanannya berasal
dari power line 4; dan seterusnya.
Contoh Kasus:
Stamping Fixture
Lay-out drawing
Displacement step diagram
Dalam penyelesaian rangkaian kontrol sistem pneumatik dapat digunakan salah
satu dari 2 (dua) alternatif yang ada, yaitu:
1- Menggunakan Konfigurasi Maksimum
Dalam konfigurasi ini, diperlukan power line yang sama banyaknya dengan
jumlah langkah/step pada step diagram.
Berdasarkan step diagram di atas, dapat disusun feedback signal diagram
seperti berikut:
a1 b1 c1
A+ A- B+ B- C+ C-
c0 AND start a0 b0 c0
Pada kasus ini diperlukan 6 (enam) power line, yang berfungsi sebagai berikut:
Katup c0 AND start, berfungsi menghasilkan power line 1, mendapatkan
sumber tekanan dari power line 6, dan power line 1 ini berfungsi
memajukan silinder A (A+);
Katup a1, berfungsi menghasilkan power line 2, mendapatkan sumber
tekanan dari power line 1, dan power line 2 ini berfungsi memundurkan
silinder A (A-);
Katup a0, berfungsi menghasilkan power line 3, mendapatkan sumber
tekanan dari power line 2, dan power line 3 ini berfungsi memajukan
silinder B (B+);
Katup b1, berfungsi menghasilkan power line 4, mendapatkan sumber
tekanan dari power line 3, dan power line 4 ini berfungsi memundurkan
silinder B (B-);
Katup b0, berfungsi menghasilkan power line 5, mendapatkan sumber
tekanan dari power line 4, dan power line 5 ini berfungsi memajukan
silinder C (C+);
Katup c1, berfungsi menghasilkan power line 6, mendapatkan sumber
tekanan dari power line 5, dan power line 6 ini berfungsi memundurkan
silinder C (C-).
Rangkaian kontrol sistem pneumatik menggunakan cascade dengan konfigurasi
maksimum adalah sebagai berikut:
A A0 A1 B B0 B1 C C0 C1
F=0 F=0 F=0
50%
50%
50%
50%
50%
50%
4 2 4 2 4 2
A+ A- B+ B- C+ C-
1 3 1 3 1 3
1
2
3
4
5
6
4 2
5-6
2
1 3
C1
4 2
1 3
4-5
2
1 3
B0
4 2
1 3
3-4
2
1 3
B1
4 2
1 3
2-3
2
1 3
A0
4 2
1 3
1-2 6-1
2 2
1 3
A1 1 1
1 3 2 2
C0
1 3 START 1 3
2- Menggunakan Konfigurasi Minimum
Dalam konfigurasi ini, diperlukan power line yang dibutuhkan hanya sejumlah
daerah tekanan yang terbentuk. Daerah tekanan ini dibentuk berdasarkan jenis
dan gerakan silinder, dimana silinder yang sama untuk gerakan maju dan
mundur TIDAK BOLEH berada dalam satu daerah. Hasil pembagian daerah
seperti berikut:
A+ masuk daerah I atau power line I;
A- dan B+ masuk daerah II atau power line II;
B- dan C+ masuk daerah III atau power line III;
C- masuk daerah IV atau power line IV.
a1 b1 c1
A+ A- B+ B- C+ C-
c0 AND start a0 b0 c0
I II III IV
Pada kasus ini diperlukan 4 (empat) power line, yang berfungsi sebagai berikut:
Katup c0 AND start, berfungsi merubah power line IV menjadi power line I,
mendapatkan sumber tekanan dari power line IV, dan power line I ini
berfungsi memajukan silinder A (A+);
Katup a1, berfungsi merubah power line I menjadi power line II,
mendapatkan sumber tekanan dari power line I, dan power line I ini
berfungsi memundurkan silinder A (A-);
Katup a0, mendapatkan sumber tekanan dari power line II, dan berfungsi
memajukan silinder B (B+);
Katup b1, berfungsi merubah power line II menjadi power line III,
mendapatkan sumber tekanan dari power line II, dan power line III ini
berfungsi memundurkan silinder B (B-);
Katup b0, mendapatkan sumber tekanan dari power line III, dan berfungsi
memajukan silinder C (C+);
Katup c1, berfungsi merubah power line III menjadi power line IV,
mendapatkan sumber tekanan dari power line III, dan power line IV ini
berfungsi memundurkan silinder C (C-).
Rangkaian kontrol sistem pneumatik menggunakan cascade dengan konfigurasi
minimum adalah sebagai berikut:
A A0 A1 B B0 B1 C C0 C1
50%
50%
50%
50%
50%
50%
4 2 4 2 4 2
A+ A- B+ B- C+ C-
1 3 1 3 1 3
2 2
A0 B0
1 3 1 3
1
2
3
4
4 2
3-4
2
1 3
C1
4 2
1 3
2-3
2
1 3
B1
4 2
1 3
1-2 4-1
2 2
1 3
A1 1 1
1 3 2 2
C0
1 3 START 1 3