Metode Demonstrasi Tingkatkan Prestasi Fiqih
Metode Demonstrasi Tingkatkan Prestasi Fiqih
OLEH : MAHRUSI,[Link].I
1
PENERAPAN METODE DEMONTRASI UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI
BELAJAR SISWA PADA MATA PEJARAN FIQIH KELAS VII
DI MTs. MIFTAHUL ULUM JENGGRONG
A. Latar Belakang
Menurut Sikun Pribadi, guru besar IKIP Bandung, pengajaran adalah suatu kegiatan
yang mengangkut pembinaan anak mengenai segi kognitif dan psikomotor semata-mata, yaitu
supaya anak lebih banyak pengetahuannya, lebih cakap berfikir kritis, sistematis, dan objektif,
serta terampil dalam mengerjakan sesuatu1.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru tidak harus terpaku pada satu metode, tetapi guru
sebaiknya menggunakan metode yang bervareasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan,
tetapi menarik perhatian peserta didik. Tetapi, juga penggunaan metode yang bervareasi tidak
akan menguntungkan kegiatan belajar mengajar bila penggunaannya tidak tepat dan sesuai
dengan situasi yang mendukungnya dan dengan kondisi psikologis anak didik2.
Prestasi belajar menjadi tolok ukur salah satu gambaran tingkat keberhasilan dari proses
pembelajaran. Dengan kata lain, prestasi belajar yang diperoleh peserta didik mencerminkan
tingkat penguasaan materi pembelajaran. Kehadiran seorang guru di kelas dalam menjelaskan
dan memberikan materi dapat membantu siswa memahami pelajaran yang diberikan padanya,
sehingga prestasi belajar anak
menjadi maksimal.
Pada kenyataannya di sekolah MTs. Miftahul Ulum Jenggrong guru yang selalu hadir di
dalam kelas tampak tidak berdampak baik secara signifikan, bahkan menurunkan prestasi
belajar. Prestasi belajar siswa ini, terlihat dari hasil yang diraih oleh siswa-siswa dalam ujian-
ujian yang dilaksanakan, baik itu ujian harian, ujian tengah semester, maupun ujian akhir
semester. Ujian harian siswa-siswa sering mendapatkan nilai di bawah KKM yang telah
ditentukan.
Untuk itu diperlukan suatu upaya dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan
pengajaran salah satunya adalah dengan memilih strategi atau cara dalam menyampaikan materi
pelajaran agar diperoleh peningkatan prestasi belajar siswa khususnya pada Pelajaran Fiqih,
Misalnya dengan membimbing siswa untuk bersama-sama terlibat aktif dalam proses
pembelajaran dan mampu membantu siswa berkembang sesuai dengan taraf intelektualnya akan
lebih menguatkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan.
Dewasa ini peneliti masih merasakan kurangnya prestasi pada siswa dikarenakan strategi
pembelajaran yang masih menganut pola dari proses pembelajaran tradisional yang sering
menggunakan metode ceramah. Penggunaan metode ceramah sebagai strategi pembelajaran
utama kadang-kadang unsur dari pemahaman siswa masih kurang mendalam.
1
Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2008), 7.
2
Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar., 46
2
Berdasarkan hasil pengamatan dan pengalaman peneliti kegagalan dalam belajar di MTs.
Miftahul Ulum Jenggrong rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang tidak memiliki dorongan
belajar dikarenakan pembelajaran monoton. Sehingga nilai rata-rata mata pelajaran Fiqih sangat
rendah yaitu sekitar 65 % siswa mendapatkan nilai dibawah KKM. Untuk itu dibutuhkan suatu
kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan upaya membangkitkan motivasi belajar siswa,
misalnya dengan membimbing siswa untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang melibatkan
siswa serta guru yang berperan sebagai pembimbing untuk menemukan konsep pengajaran Fiqih
Adapun cara atau metode-metode yang patut dan bagus untuk diterapkan itu banyak
sekali tergantung pada karakteristik peserta didik masing-masing, salah satunya adalah metode
demonstrasi. Metode demonstrasi merupakan metode yang sangat efektif dalam membantu anak
didik untuk menjawab dengan usaha sendiri berdasarkan fakta (data) yang jelas dan benar.
Berangkat dari latar belakang di atas maka penulis bemaksud untuk melakukan
penelitian dengan judul PENERAPAN METODE DEMONTRASI UNTUK
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PEJARAN FIQIH KELAS
VII DI MTs. MIFTAHUL ULUM JENGGRONG
B. Rumusan Masalah
a. Apakah penerapan metode demonstrasi dapat meningkatkan prestasi belajar pada
mata pelajaran fiqih siswa kelas VII MTs Miftahul Ulum Jenggrong?
b. Bagaimana peningkatan prestasi dengan penggunaan metode demonstrasi pada
mata pelajaran fiqih siswa kelas VII MTs Miftahul Ulum Jenggrong?
C. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui penerapan metode demonstrasi dalam meningkatkan prestasi belajar
pada mata pelajaran fiqih siswa kelas VII MTs Miftahul Ulum Jenggrong.
b. Untuk mengetahui peningkatan prestasi dengan penggunaan metode demonstrasi pada mata
pelajaran fiqih siswa kelas VII MTs Miftahul Ulum Jenggrong.
D. Manfaat Penelitian
Secara Teoriritis
Dapat memberi masukan dan informasi secara teori dengan tema dan judul yang sejenis.
Secara Praktis
a) Bagi siswa, dapat membantu dalam upaya meningkatkan prestasi pada mata pelajaran
fiqih.
b) Bagi guru, dapat menjadi bahan acuan dalam menyusun rencana pelaksanaan
pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran menggunakan metode pembelajaran yang
sesuai dan dapat memperbaiki mutu pembelajaran di kelas.
3
c) Bagi lembaga, dapat dijadikan sebagai ukuran ketercapaian tujuan pembelajaran yang
tercermin dari peningkatan kualitas out put sekolah.
4
E. Kajian Pustaka
5
Minat adalah kecenderungan yang mantap dalam subyek untuk merasa
tertarik pada bidang tertentu. Siswa yang kurang beminat dalam pelajaran
tertentu akan rnenghambat dalam belajar.
c) Faktor Keadaan Fisik dan Psikis
Keadaan fisik rnenunjukkan pada tahap pertumbuhan, kesehatan
jasmani, keadaan alat-alat indera dan lain sebagainya. Keadaan psikis
menunjuk pada keadaan stabilitas atau iabilitas mental siswa, karena fisik dan
psikis yang sehat sangat berpengaruh positif terhadap kegiatan belajar
mengajar dan sebaliknya.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor dan luar diri siswa yang mempengaruhi
prestasi belajar. Faktor eksternal dapat dibagi rnenjadi beberapa bagian, yaitu3:
a) Faktor Guru
Guru sebagai tenaga berpendidikan rnemiliki tugas menyelenggarakan
kegiatan belajar rnengajar, rnembimbing, melatih, mengolah, meneliti dan
mengembangkan serta memberikan pelalaran teknik karena itu setiap guru
harus memiliki wewenang dan kemampuan profesiona1, kepribadian dan
kemasyarakatan. Guru juga rnenunjukkan flexibilitas yang tinggi yaitu
pendekatan didaktif dan gaya memirnpin kelas yang selalu disesuaikan dengan
keadaan, situasi kelas yang diberi pelajaran, sehingga dapat rnenunjang tingkat
prestasi siswa semaksimal mungkin.
b) Faktor Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga turut mempengaruhi kemajuan hasil kerja,
bahkan mungkin dapat dikatakan menjadi faktor yang sangat penting, karena
sebagian besar waktu belajar dilaksanakan di rumah, keluarga kurang
mendukung situasi belajar. Seperti kericuhan keluarga, kurang perhatian orang
tua, kurang perlengkapan belajar akan mempengaruhi berhasil tidaknya belajar.
c) Faktor Sumber-sumber Belajar
Salah satu faktor yang rnenunjang keberhasilan dalam proses belajar
adalah tersedianya sumber belajar yang memadai. Sumber belajar itu dapat
berupa media atau alat bantu belajar serta bahan baku penunjang. AIat bantu
belajar merupakan semua alat yang dapat digunakan untuk membantu siswa
dalam melakukan perbuatan belajar. Maka pelajaran akan lebih menarik,
menjadi konkret, mudah dipahami, hemat waktu dan tenaga serta hasil yang
lebih bermakna.
Faktor-faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan
mempengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conserving terhadap ilmu
pengetahuan atau bermotif ekstrinsik (faktor eksternal), biasanya cenderung
3
[Link]
6
mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak mendalam. Sebaliknya,
seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor internal), dan mendapat dorongan
positif dari orang tuanya (faktor eksternal ), mungkin akan memilih pendekatan belajar
yang lebih memntingkan kualitas hasil pembelajaran. Jadi, karena pengaruh factor-
faktor tersebut muncul siswa siswi yang berprestasi tinggi dan berprestasi rendah atau
gagal sama sekali4.
4
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar., 146.
7
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara yang
paling tepat dan cepat dalam mengajar. Kata tepat dan cepat inilah yang sering
diungkapkan dalam ungkapan "efektif dan efisien"5.
5
Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam., 9.
6
Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar., 90.
7
H. Martinis Yamin, Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan (Jakarta : Gaung Persada Press,
2009), 155.
8
tidak semua pelajaran PAI bisa didemonstrasikan, misalnya masalah aqidah yang
menjelaskan iman kepada Allah, Malaikat, Surga, Neraka dan lai-lain8.
Meskipun demikian siswa perlu juga mendapatkan waktu yang cukup lama untuk
memperhatikan sesuatu yang didemonstrasikan itu. Dalam demonstrasi, terutama dalam
rangka mengembangkan sikap-sikap, guru perlu merencanakan pendekatan secara lebih
berhati-hati dan ia memerlukan kecakapan untuk mengarahkan motivasi dan berpikir
siswa. Dalam hal ini ada dua macam demonstrasi, yaitu : 1). demonstrasi formal; dan 2).
demonstrasi informal9.
1) Kelebihan Metode Demonstrasi
Sebagai suatu metode pembelajaran, metode demonstrasi memiliki beberapa
kelebihan, antara lain :
a) Perhatian murid dapat dipusatkan kepada hal-hal yang dianggap penting oleh
guru, sehingga hal yang penting itu dapat diamati secara teliti. Disamping itu
perhatian siswa-pun lebih mudah dipusatkan kepada proses belajar dan tidak
kepada yang lain.
b) Dapat membimbing peserta didik kearah berpikir yang sama dalam satu saluran
pikiran yang sama.
c) Ekonomis dalam jam pelajaran di sekolah danekonomis dalam waktu yang
panjang dapat diperlihatkan melalui demostrasi dengan waktu yang pendek.
d) Dapat mengurangi kesalaha-kesalahan bila dibandingkan dengan hanya membaca
atau mendengarkan, karena siswa mendapatkan gambaran yang jelas dari hasil
pengamatannya.
e) Karena gerakan dan proses dipertunjukkan maka tidak memerlukan keterangan-
keterangan yang banyak.
f) Beberapa persoalan yang menimbulkan pertanyaan atau keraguan dapat diperjelas
waktu proses demonstrasi.
2) Kelemahan Metode Demonstrasi
Disamping mempunyai kelebihan, metode demonstrasi juga memiliki
kelemahan, antara lain10 :
a) Derajat visibilitasnya kurang, peserta didik tidak dapat milihan atau mengamati
keseluruhan benda atau peristiwa yang didemonstrasikan, kadang-kadang terjadi
perubahan yang tidak terkontrol.
b) Untuk mengadakan demonstrasi diperlukan alat-alat khusus. Kadang-kadang alat
itu sukar didapat. Demonstrasi merupakan metode yang tak wajar ila alat yang
didemonstrasikan tidak dapat diamati secara seksama.
8
http:// [Link]/2011/02/[Link]
9
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membentu Memecahkan Problematika Belajar dan
Mengajar (Bandung : Alfabeta, 2007), 211.
10
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran., 212.
9
c) Dalam mengadakan pengamatan tarhadap hal-hal yang didemonstrasikan
diperlukan pemusatan perhatian.
d) Memerlukan waktu yang banyak, sedangkan hasil kadang-kadang minimum.
e) Kadang-kadang proses yang didemonstrasikan didalam kelas akan berbeda jika
proses itu didemonstrasikan dalam situasi nyata atau sebenarnya.
f) Agar demonstrasi mendapat hasil yang baik diperlukan ketelitian dan kesabaran.
Kadang-kadang ketelitian dan kesabaran itu diabaikan sehingga apa yang
diharapkan tidak sebagaimana mestinya.
g) Tidak semua hal bisa didemonstrasikan dalam kelas.
3) Cara Mengatasi Kelemahan Metode Demonstrasi
Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan
metode demonstrasi, yaitu :
a) Tentukan terlebih dahulu hasil yang ingin dicapai dalam jam pertemuan itu.
b) guru mengarahkan demonstrasi itu sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh
pengertian dan gambaran yang benar, pembentukan sikan dan kecakapan praktis.
c) Pilih dan kumpulkan alat-alat demonstrasi yang akan dilaksanakan.
d) Usahakan agar seluruh siswa dapat mengikuti pelaksanaan demonstrasi itu
sehingga memperoleh pengertian dan pemahaman yang sama.
e) Berikan pengertian yang sejelas-jelasnya tentang landasan teori dari yang
didemonstrasikan. Hindari pemakaian istilah yang tidak dipahami aiawa.
f) Sedapat mungkin bahan pelajaran yang didemonstrasikan adalah hal-hal bersifat
praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari.
g) Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah dempnstrasi yang akan
dilaksanakan. Dan sebaiknya demonstrasi itu dimulai, guru mengadakan uji coba
(try out) supaya kelak dalam melakukannya tepat dan secara otomatis.
4) Langkah-langkah Penerapan Metode Demonstrasi
a) TahapPersiapan
(1) Merumuskan tujuan yang baik dari sudut
kecakapan atau kegiatan yang di harapkan dapat tercapai setelah metode
demontrasi berakhir.
(2) Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah
demonstrasi yang akan di laksanakan.
(3) Memperhitungkan waktu yang di butuhkan.
(4) Selama demonstrasi berlangsung guru harus
intropeksi diri apakah keterangan-keterangan dapat di dengar dengan jelas oleh
siswa; apakah semua media yang di gunaka telah di tempatkan pada posisi
yang baik, hingga semua siswa dapat melihat semuanya dengan jelas; siswa di
sarankan membuat catatan yang dianggap perlu.
10
(5) Menetapkan rencana penilaian terhadap
kemampuan anak didik.
b) Tahap Pelaksanaan
(1) Memeriksa hal-hal tersebut di atas untuk
kesekian kalinya
(2) Melakukan demonstrasi dengan menarik
perhatian siswa
(3) Mengingat pokok-pokok materi yang akan di
demonstrasikan agar mencapai sasaran
(4) Memperhatikan keadaan siswa, apakah
semuanya mengikuti demonstrasi dengan baik atau tidak
(5) Memberikan kesempatan pada siswa untuk
aktif
(6) Menghindari ketegangan
c) Tahap Mengakhiri
Apabila demonstrasi selesai dilakukan, proses pembelajaran perlu diakhiri
dengan memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan
demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran. Hal ini diperlukan untuk
meyakinkan apakah siswa memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain
memberikan tugas yang relevan, ada baiknya guru dan siswa melakukan evaluasi
bersama tentang jalannya11.
11
[Link]
12
Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar., 91.
11
C. Pembelajaran Fiqih
Pembelajaran Fiqih yang ada di madrasah saat ini tidak terlepas dari kurikulum yang telah
ditetapkan oleh pemerintah yaitu Kurikulum Peraturan Menteri Agama RI. Peraturan
Menteri Agama RI sebagaimana dimaksud adalah kurikulum operasional yang telah disusun
oleh dan dilaksanakan di masingmasing satuan pendidikan. Sehingga kurikulum ini sangat
beragam. Pengembangan Kurikulum K13 yang beragam ini tetap mengacu pada Standar
Kompetensi Fiqih, lingkup materi minimal, dan tingkat kompetensi minimal untuk mencapai
tingkat kelulusan minimal, sesuai dengan tujuan dan fungsi pembelajaran fiqih.
1. Fungsi
Sedangkan Fungsi mata pelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah adalah:
a) Mendarong tumbuhnya kesadaran beribadah siswa kepada Allah SWT.
b) Menanamkan kebiasaan melaksanakan syarit Islam di kalangan siswa dengan iklas.
c) Mendorong tumbuhnya kesadaran siswa untuk mensyukuri nikmatAllah SWT
dengan mengolah dan memanfaatkan alam untuk kesejahteraan hidup.
d) Membentuk kebiasaan kedisiplinan dan rasa tanggung jawab sosialdimadrasah dan di
masyarakat. Membentuk kebiasaan berbuat/berperilaku yang sesuai denganperaturan
yang berlaku di madrasah dan masyarakat.
2. Tujuan
Adapun Tujuan Mata pelajaran Fiqih di Madrasah Tsanawiyah adalah :
a) Agar siswa dapat mengetahui dan memahami pokok-pokok hukumIslam secara
terperinci dan menyeluruh, baik berupa dalil naqli danaqli, sebagai pedoman hidup
bagi kehidupan pribadi dan sosialnya.
b) Agar siswa dapat melaksanakan dan mengamalkan ketentuan hukumIslam dengan
benar, sehingga dapat menumbuhkan ketaatan menjalankan hukum Islam, disiplin
dan tanggung jawab sosial yang tinggi dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya.
D. Kerangka Pemikiran
12
E. Hipotesis Tindakan
Jika metode demonstrasi diterapkan, maka prestasi belajar siswa pada mata pelajaran
fiqih kelas VII MTs Miftahul Ulum Jenggrong dapat di tingkatkan.
13
F. METODE PENELITIAN
1 Lokasi dan Waktu
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Kelas VII MTs Miftahul Ulum Jenggrong
mata pelajaran fiqih materi Shalat Fardu. Penelitian bertujuan untuk menerapkan metode
demonstrasi; sebagai usaha yang terarah untuk meningkatkan kemampuan Cara Bersuci dari
Najis dan Hadatslima waktu dengan baik dan Benar.
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2021/2022
selama 2 bulan. Penentuan waktu penelitian mengacu pada kalender sekolah yang
menempatkan pembelajaran Cara Bersuci dari Najis dan Hadatspada semester I . Hal ini
dilakukan karena penelitian tindakan kelas memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan
implementasi dalam proses pembelajaran yang efektif di dalam kelas
2. Subyek Penelitian
Dalam PTK ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas VII MTs.
Miftahul Ulum Jenggrongyang terdiri dari 18 siswa dengan komposisi 10 siswa laki-laki
dan 8 siswa perempuan.
3. Teknik Pengumpulan Data
PTK ini dilaksanakan selama 2 siklus yang terdiri dari 4 tahap yaitu perencanaan,
pelaksanaan tindakan, pengamatan dan refleksi.
4. Rencana Tindakan
Siklus I
1. Perencanaan
a) Peneliti menidentifikasi permasalahan yang selama ini
muncul dalam kegiatan pembelajaran di kelasa VII MTs Miftahul Ulum Jenggrong
Ranuyoso Lumajang.
b) Peneliti melihat Kompetensi Dasar (KD) : 3.3. Menerapkan
Tata Cara Bersuci dari Najis dan Hadats 4.3. Memperaaktekkan Tata Cara Bersuci
dari Najis dan Hadats
c) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
akan dilaksanakan dengan metode demonstrasi.
d) Membuat instrument tindakan.
2. Tahap Pelaksanaan
a) Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan
pembuka terkait dengan materi pembelajaran.
b) Peneliti menerangkan materi tentang Cara Bersuci dari Najis dan
Hadats
c) Peneliti memberikan instruksi tentang penugasan yang akan
dilakukan oleh siswa terkait dengan materi pembelajaran.
d) Peneliti menyuruh menjelasan kepada siswa terkait dengan
pemahaman pelajran dari peneliti secara tertulis.
14
e) Memberikan motivasi agar senantiasa melakukan Cara Bersuci
dari Najis dan Hadats.
3. Tahap Pengamatan
a) Aktifitas dan partisipasi siswa baik dalam bertanya, menjawab pertanyaan,
mendemonstrasikan, dll.
b) Ketepatan waktu.
c) Hasil tes.
4. Tahap Refleksi
Keberhasilan dalam penelitian siklus I diperlihatkan oleh :
a) 75% dari jumlah siswa terlibat aktif selama kegiatan
pembelajaran berlangsung baik aktif bertanya atau memberikan tanggapan.
b) 75% dari jumlah siswa tuntas mengerjakan tugas dan
mampu menjawab pertanyaan soal.
c) 100% siswa tepat mengumpulkan tugas.
5. Revisi Pelaksanaan
Hasil yang didapat dari siklus I menjadi patokan peneliti untuk melakukan revisi
rencana selanjutnya. Revisi dilakukan oleh peneliti untuk meninjau kembali rencana yang
telah dibuat pada pertemuan sebelumnya jika ada permasalahan baru yang muncul tanpa
diprediksikan sebelumnya.
Siklus II
1. Perencanaan
a) Peneliti mengidentifikasi dengan permasalahan yang selama
ini muncul dalam kegiatan pembelajaran di kelasa VII MTs Miftahul Ulum Jenggrong
Ranuyoso Lumajang.
b) Peneliti menganalisis Kompetensi Dasar (KD) .3.
3Menerapkan Tata Cara Bersuci dari Najis dan Hadats 4.3. Memperaaktekkan Tata
Cara Bersuci dari Najis dan Hadats.
c) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang
akan dilaksanakan dengan metode demonstrasi.
d) Membuat instrument tindakan.
2. Tahap Pelaksanaan
a) Peneliti menyampaikan tujuan pembelajaran dan menjelaskan pembuka terkait dengan
materi pembelajaran.
b) Peneliti menerangkan materi tentang cara mempraktikkan shalat berjama’ah.
c) Peneliti memberikan instruksi tentang penugasan yang akan dilakukan oleh siswa
terkait dengan materi pembelajaran.
15
d) Peneliti menyuruh menjelasan kepada siswa terkait dengan pemahaman pelajran dari
peneliti secara tertulis.
e) Memberikan motivasi agar senantiasa melakukan shalat lima waktu.
3. Tahap Pengamatan
Peneliti melakukan penelitian lebih mendalam terhadap faktor-faktor yang sama
pada siklus I, yaitu : aktifisas dan partisipasi siwa pembelajaran baik dalam bertanya,
menjawab pertanyaan, mendemonstrasikan, ketapatan waktu, hasil tes tulis.
4. Tahap Refleksi
Peneliti melakukan refleksi berdasarkan pelaksanaan pembelajaran dan hasil
pengamatan pada siklus II, kemudian menganalisis apakah metode demonstrasi dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa mata pelajaran fiqih siswa kelas VII MTs Miftahul
Ulum Jenggrong ataukah tidak.
5. INDIKATOR KEBERHASILAN
1. Siswa, meningkatnya Prestasi belajar siswa dan kemampuan siswa dalam materi Cara
Bersuci dari Najis dan Hadatslima waktu.
2. Guru, mampu menumbuhkan keaktifan belajar secara terarah dan sistematis dalam suasana
belajar yang kondusif, efektif dan menyenangkan kearah meningkatnya kualitas proses,
kemampuan dan hasil belajar siswa.
6. Teknik Analisis
Data yang akan dihimpun pada penelitian ini adalah prestasi belajar siswa yang
nampak dari partisipasi siswa atau keaktifan siswa selama pembelajaran.
1. Tehnik Dokumentasi digunakan untuk
:
a) Menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yang diberikan
dalam waktu tertentu.
b) Menentukan apakah suatu tujuan telah tercapai.
c) Memperoleh suatu nilai.
2. Tehnik Observasi digunakan untuk :
a) Mengetahui obyek secara langsung tentang suatu peristiwa, kejadian maupun
masalah yang sedang terjadi di lapangan penelitian.
b) Memperoleh data lengkap mengenai kondisi umum, lingkungan sekolah, kegiatan
proses belajar mengajar, keadaan dan fasilitas belajar, kurikulum pembelajaran,
metode pengajaran maupun kondisi belajar siswa
Analisis Data
Data yang diperoleh pada kegiatan observasi dan tes tulis pada setiap siklus
dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tehnik prosentase untuk melihat
kecenderungan yang terjadi dalam proses pembelajaran, kegiatan analisis meliputi:
1. Tingkat prestasi siswa selama proses pembelajaran.
16
2. Hasil belajar siswa berupa nilai ulangan.
3. Tingkat keberhasilan menggunakan metode demonstrasi.
G. Jadwal penilitian
Minggu / Bulan
No Uraian Juli Agustus September Oktober
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Penyusunan V
1
Proposal
Pelaksanaan V V V
2
penelitian
Penyusunan V V
3
Laporan
4
5
6
17
DAFTAR RUJUKAN
Djamarah, Syaiful Bahri. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Renika Cipta.
H. Jalaluddin dan Abdullah Idi. 2009. FIlsafat Pendidikan. Jogjakarta : Ar-Ruzz.
Sagala, Syaiful. 2007. Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membentu Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung : Alfabeta.
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar. Jakarta : PT. Grafindo Persada.
Syukur, Fatah NC. 2005. Teknologi Pendidikan. Semarang : RaSAIL.
Tafsir, Ahmad. 2008. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Yamin, H. Martinis. 2009. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta :
Gaung Persada Press.
Zuhairini, dkk. 1983. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya : Usaha Nasional.
____________. 2008. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara.
[Link]
[Link]
http:// [Link]/2011/02/[Link]
18
19