0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Manggale: Kisah Raja dan Tanah Batak

Naskah 'Mangale' menggambarkan perjalanan Manggale, putra Raja Rahab, yang menghadapi dilema antara ambisi dan tanggung jawab sebagai calon raja di tanah Batak. Dalam perjuangannya, ia merasakan ketakutan dan kerinduan akan rumah, serta bertekad untuk melindungi rakyatnya meskipun harus menghadapi risiko besar. Cerita ini berakhir dengan pengorbanan Manggale yang mengajarkan pentingnya warisan dan keberanian dalam menghadapi tantangan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan8 halaman

Manggale: Kisah Raja dan Tanah Batak

Naskah 'Mangale' menggambarkan perjalanan Manggale, putra Raja Rahab, yang menghadapi dilema antara ambisi dan tanggung jawab sebagai calon raja di tanah Batak. Dalam perjuangannya, ia merasakan ketakutan dan kerinduan akan rumah, serta bertekad untuk melindungi rakyatnya meskipun harus menghadapi risiko besar. Cerita ini berakhir dengan pengorbanan Manggale yang mengajarkan pentingnya warisan dan keberanian dalam menghadapi tantangan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MANGGALE

(Ritual, Ruang dan Rasa)

MANGGALE
(Ritual, Ruang Dan Rasa)
Naskah: Marfenas Marolop Sihombing

BABAK I HUTAN DAN DILEMA

NA MANGGALE

Aku Manggale, putra semata wayang Raja Rahab penerus kerajaan terbesar ditanah
Toba ini. Suatu hari nanti akulah yang akan duduk disingasana itu. Aku manggale, putra raja
Rahab, kelak akulah yang akan duduk dan memerintah dari kemegahan ini dengan segalai
kebijaksanaan dan pengetahuan yang kumiliki. Akulah manggale, kisahku akan kau ceritakan
turun temurun. Kisah yang akan terus terdengar sampai akhir zaman.

Seluruh negri ini dan sampai keseluruh dunia, semua orang akan bercerita pernah
hidup seorang raja hebat dan maha bijaksana. Tanah kekuasaanku kelak akan lebih luas dari
kekuasaan Alexander Agung, yang akan membangun negri jauh lebih masyur Dan lebih
megah dari Firaun, dan aku akan lebih bijaksana dari Salomo. Semua akan menyebut
namaku MANGGALE.

Hahaha, keren kali aku bah. Macam pahlawan betulan aku. Kalian pun kutengok tadi
melotot, macam akulah paling tampan di kampung diruangan ini.

Gawat bah sudah macam orang seteres aku, sudah seminggu aku dihutan ini. Minggu
lalu, amongku melihat didaerah hutan ini ada penyusup, nampaknya mereka datang dari
jauh dengan niat yang tidak baik. Langsung dengan panggaron dan banyak gaya aku
langsung bilang sama among, Among aku saja yang masuk ke tengah hutan bersama
beberapa ulubalang terbaik kita. Akan kuhalau dan kuhancurkan niat mereka dan kalau
diperlukan aku akan membunuh mereka jika mereka berniat tidak baik.

Itulah kenapa aku ada ditengah hutan ini, aku membawa tigapuluh ulubalang terbaik
[Link], ternyata aku salah. Kami kalah, lihat ini gundukan ini, ini bukan tanah biasa,
dibawah ini aku baru menguburkan jasad terakhir pengawal terbaik kami. Mungkin dalam
waktu dekat akan tiba giliranku, tiba2 aku aku teringat dengan semua kesombonganku. Aku
ketakutan sekarang, sangat ketakutan, seminggu dihutan ini sudah membuatku seperti
binatang buas tanpa kawanan. Yang kapan saja aku akan menerkam atau diterkam, aku
akan membunuh atau dibunuh.

Aku ketakutan.

Mardalan Au Marsadasada

1
MANGGALE
(Ritual, Ruang dan Rasa)

Mardalan au marsada sada


Laos di langlang i do au tarlungun lungun
Manetek iluki da inang da sian mata
Marningot lakka ki dainang laos so marujung
Suman mau partudosan na
Tu sanggar sakkabona inang
Na sai madungdung
Na meol meol i da inang di ullus alogo
Songon bulung ni bulu inang
Na sai madudus
Ulushon Ulushon ulushon au alogo
Sahat tu huta ni dainang
Di luat na dao
Pos ma roha ni dainang tibu do au ro
Sian tano parjalangan di luat na dao
Ue dainang Ue dainang Ue ...
Ue dainang Ue dainang Ue ...
Ue dainang Ue dainang Ue ...
Ue dainang Ue dainang Ue ...

Hari ini, langit sore terlalu tenang. Angin danau toba datang pelan dan lembut sekali,
seolah takut mengganggu pikiranku. Aku adalah Manggale. Di kampung, nama ku seperti
sebuah puisi penuh harapan. Kata orang, aku tampan. (Senyum percaya diri) Kata inong, aku
terlalu banyak bicara. Tapi kata penatua di kampung, aku ini “anak yang terlalu halus untuk
jadi raja”. Apakah untuk menjadi seorang raja harus terlebih dahulu menjadi kasar?

SUARA IBU (lembut, penuh kasih)

Amang jangan terlalu sering ke bukit. Kau harus sering turun kebawah, ketepian
danau toba, rakyat itu tidak butuh untuk dilihat tetapi untuk didengar.

Inong selalu begitu. Suara yang paling pelan tapi entah kenapa, selalu paling benar.

Hari-hariku dipenuhi pesan. Among selalu memanggilku dan membawaku kemana


saja, bahkan ketengah perkumpulan para penatua. Ikut dalam ruang musyawarah. Para
penatua akan terdiam jika aku masuk ruangan. semua orang mulai memperhatikan setiap
langkah kakiku.

RAJA RAHAB

“Manggale, Anak hasianku. Lihat ini tanah ini, Tanah dengan hamparan sawah,
ladang dan hutan. Bawang, Vanili, Kopi, bahkan pora-pora tersedia ditanah ini. Tanah yang
berkalungkan Mutiara air danau toba. Ini adalah legenda hidup, ini adalah warisan dan

2
MANGGALE
(Ritual, Ruang dan Rasa)

warisan pantang untuk kau jual, dia adalah rumah yang kau rindukan saat jauh, dia juga
akan selalu menunggumu pulang ketika kau jauh, tanah Batak”

NA MANGGALE

Among selalu berbicara seperti itu. Berat. Dalam. Kadang membuat dadaku seperti
digilas beban. Tapi aku tahu, itu semua karena dia mencintaiku. Terkadang inong juga turut
membantu among bersenandung tentang tano batak ini. Dulu senandung itu terasa
membosankan, tetapi setelah semakin lama aku jauh dan semakin menjauh dari rumah dan
tersesat dihutan ini, yang entah kapan aku Kembali, aku tak tau, aku malah rindu senandung
dari inongku. (terdengar suara alunan lagu)

O TANO BATAK

O tano batak haholonganku


sai na masihol do au tu ho
dang olo modom dang nok matakku
sai namalungun do au
sai naeng tu ho

Molo dung bissar mataniari


lao manondangi hauma i
godang do ngolu siganup ari
mambahen masihol do au
sai naeng tu ho

Reff.
O tano batak andigan sahat
dapothononku tano hagodangan ki
O tano batak sai naeng hutatap
au on naeng mian di ho
sambulon ki

Aku tidak ingin lahir untuk sekadar menjadi pewaris. Aku ingin menjadi sesuatu yang
berharga, untuk memperbaiki yang salah dan merawat yang benar. Untuk melindungi yang
lemah. Dan untuk mengembalikan harapan kepada mereka yang mulai lelah percaya.

Aku dengar semua. Setiap gumaman., setiap harapan, setiap ragu. Dan itu
membuatku semakin yakin, Aku tidak ingin menjadi raja karena darahku. Aku ingin menjadi
raja karena aku pantas.

Ini tombak. Bukan tomak kekuasaan. Aku memintanya kepada among untuk
kugunakan dimedan perang ini dengan harapan suatu hari nanti, aku akan menggenggam

3
MANGGALE
(Ritual, Ruang dan Rasa)

Tombak dan tongkat harajaon-ku sendiri, tongkat tunggal panaluan. Dan jika hari itu tiba,
aku bersumpah, Aku akan berdiri bersama rakyatku, bukan di atas mereka.

Aku adalah Na Manggale. Aku akan menjadi raja. Dan ketika waktunya tiba, aku ingin
dikenang bukan karena mahkotaku tapi karena aku pernah menjadi anak yang tau budi dan
taudiri.

BORU NAULI DI TEPI DANAU

NA MANGGALE

Pagi hari bulan yang lalu aku turun dari bukit lebih cepat dari biasanya. Entah
kenapa, langkahku seolah ditarik oleh angin danau toba. Angin toba memang selalu
menyimpan sejuta rahasia. Lalu aku melihatnya. Seorang gadis yang tidak ku tahu akan
bertemu di sana.
Dia duduk di tepian danau toba, membilas rambutnya, dan waktu seolah ikut berhenti
hanya untuk menatap dia.

Musik : adong sada bunga

Rambutnya hitam seperti malam tanpa bintang. Air yang jatuh dari ujung rambutnya
memberikan berkas cahaya matahari pagi. Aku terdiam, tertetegun. Kulitnya seolah
menyatu dengan sinar matahari pagi. Tangannya kecil dengan jemari yang begitu lentik,
Tapia kau hanya sanggup menatapnya, aku takjub.

Dan matanya.

MOLO OLO HO Ciptaan Iran Ambarita

Molo olo ho, mangihutton au


Di dalan, na landit
Sotung gabe laos mandele
Ho hasian

Molo olo ho, mandongani au


Dibagasan sahit
Sotung gabe manolsoli
Ho hasian

Reff

Ai dang taboto manang aha


Sogot haduan, akka nanaeng masa
Unang ho mandele
Unang ho sai marsak
Pos roham di au dahasian
Dang tadikkononku, didalan na golap

4
MANGGALE
(Ritual, Ruang dan Rasa)

Matanya tidak melihat ke arahku. Tapi aku merasa, seandainya ia menatapku,


dunia mungkin akan runtuh dan aku tidak akan peduli. Aku Na Manggale. Pemuda yang
katanya gagah. Yang terbiasa hidup keras dan suara yang lantang bahkan dihadapan para
raja dan penatua, berani berdebat dengan tetua, dan memimpin pemuda menebang pohon
besar dan membangun membangun lumbung. Tapi, Saat melihat dia semua keberanianku
hilang entah ke mana.

Aku ingin menyapanya. Ingin bilang, “Hy, aku Manggale?” Ingin tanya siapa yang
mengajarimu tersenyum begitu indah? Apakah sakit ketika kamu terjatuh dari surga? Atau
dimana kamu menyimpan sayap-sayapmu, mana mungkin bidadari keluar tanpa sayap-
sayapnya?

Tapi tidak ada kata yang keluar. Lidahku beku. Langkahku berat. Dan aku hanya
berdiriseperti batang pohon tua yang takut tumbang.

Tapi ada sesuatu dari dirinya yang tidak butuh kata-kata untuk membuatku jatuh
cinta. Boru batak nauli. Hangat. Bukan karena matahari, tapi karena dia seperti rumah.
Rumah yang belum pernah kutinggali, tapi entah mengap aku ingin pulang ke sana.

Beberapa kali aku datang kesana, setiap pagi, tapi tetap saja gak berani aku
berkenalan, aku hanya menatapnya dari jauh. Danau menjadi batas. Diam menjadi satu-
satunya bahasa yang kupunya. Boru nauli di mana pun kau sekarang, ketahuila ada satu
tersesat di hutan ini yang tidak tahu caranya menyapamu, tapi tahu hatinya telah kau isi.

BABAK II – “DARAH DAN JANJI”

Tapi, pagi minggu lalu, sebelum aku pergi mengintip. Among tiba-tiba berkata.

RAJA RAHAB (ditirukan) “Manggale, bangsamu memanggil. Bukan hanya untuk


menanam, tapi untuk mempertahankan.” Beberapa mala mini nampaknya ada kejadian
janggal dihutan longo-longo, bahkan bebrapa orang-orang kita hilang tanpa berita. Among
akan membawa pasukan untuk menuju tombak, jaga kampung kit aini.

Dengan, gagah aku menjawab. Among, jangan, ini adalah panggilan dan perang
pertamaku. Biarkan aku dan para ulubalang memasuki hutan dan mengusir mereka. Sombong
sekali aku mengatakan itu saat itu.

Among pun berkata “Ambillah tombakku. Dan jangan pulang sebelum keringatmu
menetes di medan tanah leluhur.”

Aku harus berani. Karena aku satu-satunya. Satu-satunya yang bisa dipercaya untuk
berdiri di batas terakhir. Dan jika memang darahku harus menetes demi nama Batak, aku...
tidak akan mundur.

5
MANGGALE
(Ritual, Ruang dan Rasa)

Aku tak pernah melihat among menangis. Tapi pagi itu matanya berkata lebih banyak
dari seluruh gondang yang pernah kupelajari.

Dia tahu. Aku pun tahu. Perang bukan soal menang. Kadang, hanya soal siapa yang
pulang. Aku memeluknya. Tak lama. Tapi cukup untuk tahu bahwa di balik tubuh keras itu,
ada ayah yang khawatir, seperti siapa pun yang takut kehilangan anaknya.

NA MANGGALE

Hei, siap kalian. Kalian harus tahu, yang kalian hadapi bukan hanya tubuhku tapi
sebuah doa dan harapan yang tidak akan pernah pupus. Sejengkal pun tanah ini tidak akan
pernah bisa kalian ambil dari kami, siapapun kalian, bangso batak akan berdiri kokoh dan
tegak. Majulah kalian kalau berani.

Ahhhh… (manggale tertikam) Jadi begini akhirnya. Bukan di tanah kampung, bukan
di hadapan Among, bukan di pelukan Inong. Tapi di tengah rimba yang asing. Di antara
napas-napas terakhir para sahabatku. Di bawah langit yang tak mengenal siapa aku among,
maafkan aku among. Aku tidak bisa menepati janjiku. Aku telah menjadi anak yang gagal.

Inong, aku rindu memelukmu, aku rindu rangkulanmu, aku rindu mencium dan
bersujud di kakimu inong.

Boru nauli, dari balik pohon diatas bukit besok pagi aku akan datang mengintipmu,
melihat rambutmu yang basah oleh air danau toba, aku akan ada disana sebagai angin tao
toba. Maafkan aku mungkin aku akan lebih berani di kehidupan berikutnya.

BABAK III –RATAPAN TERAKHIR

Tanah ini, Tanah yang kubasuh dengan darahku. Tanah yang mengajari kami cara
hidup, dan kini mengubur kami dengan kehormatan. Siapa pun kelak yang lahir diatas batu
dan tanah ini Jangan pernah khianati warisan leluhurmu.

(Tombak menancap ke tubuh Manggale. Ia terjatuh perlahan. Lampu meredup. Musik


gondang mulai pelan. Lalu, lampu sorot ke tarian Sipitu Cawan: wanita penari dalam
balutan kain ulos bergerak penuh khidmat. Musik semakin sakral.)

Seruling : Sitapi tola

Gitar : Aek Sarulla

Tari : Sawan na Hujujung on

BABAK IV- SIGALE-GALE

Ahu hau hau… au hau hau

6
MANGGALE
(Ritual, Ruang dan Rasa)

"Dan dari kayu yang dingin… lahirlah ingatan yang tak mati. Dia bukan anak yang
pulang… tapi dicipta agar tak pernah dilupakan."

SIGALE-GALE

Aku bukan dia. Tapi aku mengingatnya.

(Sigale-gale melangkah satu langkah. Terhenti. Bergetar. Lalu bicara lagi.)

Kakiku bukan kakinya. Tapi tanah ini tetap tanah yang sama. Tanganku... bukan
tangannya. Tapi luka itu… masih terasa. Aku belajar dari diam. Aku belajar dari kesedihan.
Belajar bicara dari napas yang pernah tertahan. Belajar bertindak dari keberanian yang dulu
ditanam. Belajar berdoa dari duka seorang ibu. Dan Aku belajar menari dan manortor dari
air mata Among.

BORU TOBA (dengan lirih):

Amongmu sudah pergi, Manggale. Iringilah kepergiannya dengan doa dan tortor..

SIGALE-GALE (sambil menari, bergumam):

Untuk Among…
Yang mengukir tanah ini jadi kerajaan.
Yang mengajarkanku, bahkan sebelum aku hidup.
Yang menitipkan duka kepada kayu… agar tidak hilang ditelan waktu.

Hari ini...
Aku menari, bukan untukmu melihat.
Tapi agar dunia tahu...
Kau pernah ada.
Kau pernah mengasihi.
Dan aku adalah anak yang kau tunggu… meski tak pulang dalam rupa darahmu.

Terimalah among tortorku ini, ini doaku mengantarkanmu ke banua Ginjang. Horas ma ho
among.

Molo Saut Ma Ho - Nahum Situmorang

Molo saut maho lao tu nadao ito


molo saut maho taripar tao
manadikkon au nang nasai laon
massai hassit massai ngotngot do hilala

Molo inama ninna roham ito

7
MANGGALE
(Ritual, Ruang dan Rasa)

Molo inama saut ni hatam


Sai horas maho nang dinadao
Horas maho horas maho horas nang au

Reff :

sa dihari ho ro
hu paima do ho
sai horas maho nang dinadao
horas maho ito
horas maho hasian
horas nang au

Selama aku masih berdiri...


Bangso Batak tidak akan lupa siapa Na Manggale.
Karena dari kayuku... lahir cerita.
Dari gerakanku... hidup kembali harapan.
Aku adalah penari antara hidup dan mati.
Aku... adalah Sigale-gale.

MAULIATE

Anda mungkin juga menyukai