0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan58 halaman

Rencana Pola Ruang Kabupaten Cianjur

Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Cianjur bertujuan untuk mengalokasikan ruang bagi kegiatan sosial ekonomi dan pelestarian lingkungan, serta mengatur keseimbangan peruntukan ruang. Rencana ini disusun berdasarkan strategi penataan ruang, mempertimbangkan daya dukung lingkungan, dan mengacu pada peraturan perundang-undangan. Kawasan lindung, termasuk badan air dan hutan lindung, menjadi fokus utama untuk menjaga ekosistem dan mencegah degradasi lingkungan.

Diunggah oleh

azis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan58 halaman

Rencana Pola Ruang Kabupaten Cianjur

Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Cianjur bertujuan untuk mengalokasikan ruang bagi kegiatan sosial ekonomi dan pelestarian lingkungan, serta mengatur keseimbangan peruntukan ruang. Rencana ini disusun berdasarkan strategi penataan ruang, mempertimbangkan daya dukung lingkungan, dan mengacu pada peraturan perundang-undangan. Kawasan lindung, termasuk badan air dan hutan lindung, menjadi fokus utama untuk menjaga ekosistem dan mencegah degradasi lingkungan.

Diunggah oleh

azis
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB IV RENCANA POLA RUANG

Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan


Pertanahan Nasional tentang Pedoman Penyusunan Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi, Kabupaten dan kota, pengertian dari Pola
Ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang
meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang
untuk fungsi budi daya.

Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Cianjur berfungsi:

1) Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi


masyarakat dan kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah
kabupaten Cianjur

2) Mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukan ruang;

3) Sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka


menengah lima tahunan untuk dua puluh tahun; dan sebagai dasar
dalam pemberian izin pemanfaatan ruang pada wilayah Kabupaten
Cianjur.

Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Cianjur dirumuskan


berdasarkan:

a. Berdasarkan pada strategi penataan ruang wilayah kabupaten;


b. Mempertimbangkan alokasi ruang wilayah kabupaten dalam
rangka mendukung kegiatan sosial ekonomi dan pelestarian
lingkungan;

4-1
c. Mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup wilayah kabupaten;
d. Mengacu rencana pola ruang wilayah nasional (RTRW nasional dan
rencana rincinya), rencana pola ruang wilayah provinsi (RTRW
provinsi dan rencana rincinya), serta memperhatikan rencana pola
ruang wilayah kabupaten/kota yang berbatasan;
e. Dapat ditransformasikan ke dalam penyusunan indikasi program
utama jangka menengah lima tahunan untuk 20 (dua puluh) tahun;
dan

f. Mengacu pada ketentuan peraturan perundang-undangan. Merujuk


rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRWN.

Rencana pola ruang wilayah Kabupaten Cianjur dirumuskan dengan


kriteria:

a. Merujuk rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRWN;


b. Merujuk rencana tata ruang Jabodetabekpunjur;
c. Merujuk rencana pola ruang yang ditetapkan dalam RTRW Provinsi
Jawa Barat;
d. Mengakomodasi kebijakan pengembangan kawasan andalan
nasional yang berada di wilayah Kabupaten Cianjur;
e. Memperhatikan rencana pola ruang wilayah Kabupaten Cianjur
yang berbatasan;
f. Mengacu pada klasifikasi pola ruang wilayah kabupaten yang
terdiri atas kawasan lindung dan kawasan budidaya.

4.1 KAWASAN LINDUNG


Kawasan peruntukan lindung kabupaten adalah kawasan lindung yang
secara ekologis merupakan satu ekosistem yang terletak pada wilayah
kabupaten, yang memberikan perlindungan terhadap kawasan
bawahannya yang terletak di wilayah kabupaten, dan kawasan-
kawasan lindung lain yang menurut ketentuan peraturan perundang-
undangan pengelolaannya merupakan kewenangan pemerintah daerah
kabupaten, dapat terdiri atas:
a. Badan Air

4-2
b. Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan
bawahannya;
c. kawasan perlindungan setempat;
d. kawasan konservasi;
e. kawasan lindung geologi;
f. kawasan cagar budaya.

4.1.1 Badan Air

Badan air merupakan air permukaan bumi yang berupa sungai, danau,
embung, waduk dan sebagainya. Badan Air di Kabupaten Cianjur
seluas 4.498,04 Ha (empat ribu empat ratus sembilan puliuh delapan
koma empat hektare), meliputi :

[Link] Sungai melipui : DAS Cibuni; DAS Cisadea; DAS Cipandak;


DAS Cidamar; DAS Cisokan; DAS Cidahu/Cidahuleuti; DAS Ciselang;
DAS Ciujung; DAS Cikalapa; DAS Cibuntu; DAS Ciwidig; DAS Cisela;
dan DAS Cikawung.
[Link] meliputi : rencana waduk cisokan hulu di Kecamatan
Campaka dan Kecamatan Cibeber, dengan potensi luas kurang lebih
77,93 Ha (tujuh puluh tujuh koma sembilan tiga hektare); rencana
waduk cibuni di Kecamatan Kadupandak/Pagelaran, dengan potensi
luas kurang lebih 2,64 Ha (dua koma enam empat hektare) dan
rencana pembangunan waduk cilaki.
C. Rawa meliputi :
1) Rawa Hideung I, Rawa Patat, dan Rawa Herang, berada di
Kecamatan Kadupandak;
2) Rawa Beber, Rawa Benteur, Rawa Eceng, Rawa Gede II, Rawa
Kalong, Rawa Patat, Rawa Kajar, Rawa Katepos, Rawa Kole, rawa
Caplak, Situ Galuga, Situ Ciateul/Citawak, Situ Ngebul, berada di
Kecamatan Pagelaran;
3) Rawa Leuwisoro/Citambur, Rawa Getok, Rawa Tamiang, Rawa
Gede II, Rawa Balok/Rawa Bala, Rawa Citawak/Ciateul, Rawa
Gombong, rawa Kubang, berada di Kecamatan Pasirkuda;

4-3
4) Rawa Gede I, Rawa Tande, Rawa Picung, Situ Sukamanah, berada
di Kecamatan Tanggeung;
5) Rawa Hideung II, rawa Talaga, Rawa Kubang, Situ Cimaskara, Situ
Cibining, berada di Kecamatan Cibinong;
6) Rawa Tangkil, Rawa Picung dan Rawa Ciburial, berada di
Kecamatan Cikadu; dan
7) Rawa Bereum dan Sawah Tamiang di Kecamatan Campaka.
[Link] meliputi :
1) Situ Babakan di Kecamatan Sukaresmi;
2) Situ Hegarmanah di Kecamatan Karangtengah;
3) Situ Cigondok, Situ Cimalati, Situ Hiang, Situ Legokhandap, dan
Situ pasir Gobang di Kecamatan Cibeber;
4) Situ Cikabuyutan di Kecamatan Warungkondang;
5) Situ Cikuda di Kecamatan Gekbrong;
6) Situ Ciasmay, Situ Petak, Cimapag Girang, Sukamenak, Langkob,
Neglasari, Legok Empang dan Baru Suuk, berada di Kecamatan
Sukanagara;
7) Talaga Ciukur dan Talaga Cipingku, berada di Kecamatan
Takokak;
8) Situ Cicalobak, berada di Kecamatan Leles;
9) Situ Rancatutut, berada di Kecamatan Agrabinta; dan
10) Situ Cisepat, berada di Kecamatan Cidaun

4.1.2 Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Kawasan


Bawahannya

A. Kawasan Hutan Lindung

4-4
Hutan lindung
merupakan
kawasan hutan
yang karena
keadaan sifat
alamnya
diperuntukkan
guna pengaturan
tata air, pencegahan bencana banjir dan erosi serta
pemeliharaan kesuburan tanah. Kondisi kualitas dan kuantitas
air di Kabupaten Cianjur semakin berkurang. Hal ini akan
berdampak pada degradasi lingkungan, dimana merupakan
ancaman bagi mahluk hidup dan lingkungannya. Salah satu
penyebab penurunan kualitas dan kuantitas air adalah terjadinya
pengurangan luas hutan lindung. Kemudian wilayah rawan
bencana alam terutama longsor dan erosi, selain karena kondisi
tanah, juga diakibatkan oleh minimnya penyangga air limpasan
pada wilayah hulu sehingga menyebabkan erosi pada wilayah
hilirnya. Kondisi ini diakibatkan karena semakin berkurangnya
luas hutan lindung. Berkurangnya luasan areal hutan lindung
diakibatkan pula oleh kegiatan budidaya yang memanfaatkan
lahan pada kawasan peruntukkan hutan lindung.

Saat ini, lahan untuk fungsi hutan lindung sebagian besar telah
dikuasai oleh masyarakat. Dalam rangka mengembalikan areal
dengan peruntukkan hutan lindung dan mencegah
memburuknya kondisi lingkungan (agar siklus hidrologi dan
keseimbangan lingkungan dapat tetap terjaga), maka diperlukan
penguasaan lahan oleh pemerintah pada kawasan peruntukkan
hutan lindung dan pengembalian fungsi hutan lindung pada
daerah konflik (pemanfaatan kegiatan hutan lindung bukan
berdasarkan fungsinya) serta pengendalian dan pengawasan
terhadap setiap kegiatan yang berada di kawasan hutan lindung.
Pada kawasan hutan lindung dikenakan ketentuan:

4-5
a. Tidak dijinkan melakukan pemanfaatan ruang yang
mengubah bentang alam, mengganggu kesuburan dan
keawetan tanah, fungsi hidrologis serta kelestarian flora dan
fauna.
b. Pemanfaatan diijinkan apabila dilakukan untuk kepentingan
ilmu pengetahuan, penyelidikan serta bagi kepentingan
nasional dan hajat hidup orang banyak selama dapat
menjaga keaslian bentang alam, kesuburan dan keawetan
tanah, fungsi hidrologis, kelestarian flora dan fauna.

Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan


Bawahannya, terdiri atas Kawasan Hutan Lindung seluas kurang
lebih 31.925,58 Ha (tiga puluh satu ribu sembilan ratus dua
puluh lima koma lima delapan hektare), meliputi :

a. Kecamatan Campaka seluas 0,26 Ha (nol koma dua enam


hektare);
b. Kecamatan Campakamulya seluas 4.278,09 Ha (empat ribu
dua ratus tujuh puluh depalan koma nol sembilan hektare);
c. Kecamatan Cibinong seluas 117,73 Ha (seratus tujuh belas
koma tujuh tiga hektare);
d. Kecamatan Cidaun seluas 3,58 Ha (tiga koma lima delapan
hektare);
e. Kecamatan Cikadu seluas 7.930,11 Ha (tujuh ribu sembilan
ratus tiga puluh koma satu satu hektare);
f. Kecamatan Naringgul seluas 6.356,03 Ha (enam ribu tiga
ratus lima puluh enam koma nol tiga hektare);
g. Kecamatan Pagelaran seluas 9.386,58 Ha (sembilan ribu tiga
ratus delapan puluh enam koma lima delapan hektare);
h. Kecamatan Pasirkuda seluas 2.992,82 Ha (dua ribu sembilan
ratus sembilan puluh dua koma delapan dua hektare);
i. Kecamatan Sukanagara seluas 860,38 Ha (delapan ratus
enam puluh koma tiga delapan hektare);
j. rehabilitasi lahan kritis di Kecamatan Campaka, Kecamatan
Campakamulya, Kecamatan Cibinong, Kecamatan Cidaun,

4-6
Kecamatan Cikadu, Kecamatan Naringgul, Kecamatan
Pagalaran, Kecamatan Pasirkuda, dan Kecamatan
Sukanagara;
k. pengembangan Hutan Pantai Cemara di Desa Cidamar,
Kecamatan Cidaun seluas kurang lebih 12,0 Ha (dua belas
koma nol hektare);
l. pengembangan Hutan Pantai di Desa Kertajadi, Kecamatan
Cidaun seluas kurang lebih 4,0 Ha (empat koma nol hektare);
[Link] Hutan Pantai Sinar Laut di Kecamatan
Agrabinta seluas kurang lebih 4,0 Ha (empat koma nol
hektare);
n. pengembangan Hutan Pantai Saganten di Kecamatan
Sindangbarang seluas kurang lebih 100,00 Ha (seratus koma
nol hektare);
o. pengembangan Lahan milik Pemerintah Provinsi Jawa Barat di
Desa Cikanyere dan Desa Pakewon sebagai kawasan
Pariwisata dan Hutan seluas kurang lebih 144,00 Ha (seratus
empat puluh empat koma nol hektare);
p. recana pengembangan Rest Area Naringgul seluas kurang
lebih 1,0 Ha (satu koma nol hektare) dan
q. rencana pengembangan Rest Area Cikalongkulon seluas
kurang lebih 1,0 Ha (satu koma nol hektare).

Pengelolaan kawasan hutan lindung di Kabupaten Cianjur dilakukan


dengan cara :

a. Kawasan lindung yang saat ini berupa hutan lindung,


dipertahankan keberadaannya dan dijaga kelestariannya;
b. Mengalihfungsikan lahan-lahan yang eksistingnya
belukar/ilalang/padang rumput yang sesuai untuk hutan lindung
dijadikan hutan lindung;
c. Memberikan fungsi lindung pada semua hutan produksi yang
sudah ada;

4-7
d. Memberikan fungsi lindung pada sebagian perkebunan swasta
besar yang kesesuaian lahannya memenuhi untuk hutan
lindung;
e. Rehabilitasi hutan lindung pada kawasan hutan lindung yang
telah mengalami kerusakan dan penggundulan hutan secara liar;
f. Pemanfaatan hasil hutan non kayu;
g. Penghutanan kembali/penghijauan hutan rakyat;
h. Pembangunan bangunan konservasi tanah;
i. Pelaksanaan gerakan rehabilitasi hutan dan lahan secara
sistematis dan periodik, yang dapat dilakukan melalui
Penyusunan Rencana Teknik Tahunan selama 5 tahun;
j. Memonitor dan membina semua kegiatan rehabilitasi hutan dan
lahan secara terpadu dan berkesinambungan.

4.1.3 Kawasan Perlindungan Setempat

Kawasan perlindungan setempat di Kabupaten Cianjur dapat


diklasifikasikan menjadi kawasan sempadan pantai, sempadan sungai,
kawasan sekitar danau/waduk, dan kawasan sekitar embung. Kawasan
perlindungan setempat di Kabupaten Cianjur tersebar hampir diseluruh
kecamatan di Kabupaten Cianjur.

[Link] Sempadan Pantai


Sempadan Pantai adalah kawasan di
sepanjang pantai yang mempunyai
manfaat penting untuk mempertahankan
kelestarian fungsi pantai. Kriteria
sempadan pantai, yaitu daratan sepanjang
tepian yang lebarnya proporsional dengan
bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang
tertinggi ke arah darat. Pemanfaatan ruang kawasan sempadan pantai
di Kabupaten Cianjur adalah sekitar 75-80 Km di sepanjang Pantai
Cianjur Selatan, meliputi Kecamatan Agrabinta, Kecamatan
Sindangbarang, dan Kecamatan Cidaun.

4-8
Potensi wilayah pesisir pantai memberikan nilai ekonomi yang tinggi
terhadap keberlangsungan kehidupan manusia sehingga untuk dapat
memiliki akses terhadap pemanfaatan pantai, maka wilayah sekitar
pantai merupakan wilayah potensial pertumbuhan budidaya yang
tinggi.

Saat ini, di beberapa wilayah pesisir pantai Kabupaten Cianjur telah


terjadi penguasaan lahan dan kegiatan bangunan di kawasan
sempadan pantai. Kondisi ini akan berdampak pada degradasi
lingkungan pantai disamping keselamatan pengguna juga terancam.

Dalam rangka mencegah terjadinya degradasi lingkungan pantai,


menjaga ekosistem dan meningkatkan keamanan lingkungan dari
gelombang besar maupun hantaman gelombang tsunami dari
Samudera Indonesia serta meningkatkan keindahan (estetika) pantai,
maka diperlukan pengelolaan, pengendalian dan pengawasan terhadap
wilayah dan atau kegiatan budidaya yang berada di kawasan
sempadan pantai.

Sempadan Pantai yang berada di setiap kecamatan yang berbatasan


dengan Samudera Hindia meliputi :

1. Kecamatan Agrabinta;
2. Kecamatan Sindangbarang;
3. Kecamatan Cidaun.

Arahan pengelolaan kawasan sempadan pantai di Kabupaten Cianjur


dilakukan melalui kegiatan sebagai berikut :

a. Kawasan sempadan pantai dipertegas batas-batasnya dan


segera dikuasai oleh pemerintah serta diperkuat statusnya.

b. Perwujudan lahan-lahan sempadan pantai dapat dilakukan


dengan cara partisipatif masyarakat atau penertiban terutama di
kawasan lindung yang membahayakan kelangsungan penduduk
yang tinggal di kawasan sekitarnya.

4-9
c. Sempadan pantai yang setelah dikuasai pemerintah, maka
untuk mempermudah pengawasan dan pengendaliannya
dilakukan pembangunan jalan inspeksi.

d. Untuk wilayah sekitar sempadan pantai, bangunan boleh


didirikan setelah adanya pembangunan jalan inspeksi.

e. Bangunan yang didirikan di sekitar wilayah sempadan pantai,


harus menghadap pantai.

f. Selain tanaman palem dan atau tanaman mangrove, di wilayah


sempadan pantai ini, diusahakan untuk ditingkatkan
keanekaragaman jenis tanaman dengan tanaman tahunan yang
berakar panjang cukup dalam.

g. Kawasan sempadan pantai yang dapat dimanfaatkan untuk


kegiatan rekreatif adalah kawasan yang bersifat publik.

h. Di kawasan sempadan pantai dapat ditempatkan bangunan-


bangunan perlindungan terhadap rawan bencana gelombang
tsunami.

[Link] Sempadan Sungai


Sempadan sungai adalah kawasan
sepanjang kiri-kanan sungai
termasuk sungai
buatan/kanal/saluran irigasi primer
yang mempunyai manfaat penting
untuk mempertahankan
kelestarian fungsi sungai. Kriteria
sempadan sungai adalah:

 Sekurang-kurangnya 100 meter kiri-kanan sungai besar dan 50


meter di kiri-kanan sungai yang berada di luar permukiman;

 Untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai


yang diperkirakan cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-
15 meter.

4-10
Jumlah sungai yang mengalir di wilayah Kabupaten Cianjur adalah 27
buah. Sungai tersebut meliputi Sungai Citarum, Sungai Cisokan, Sungai
Cikundul, Sungai Cibuni, Sungai Cibeet, Sungai Cianjur, Sungai Cilaku,
Sungai Cibalagung, Sungai Cisarua, Sungai Cibinong, Sungai Cipadang,
Sungai Cikondang, Sungai Cijember, Sungai Cibalapulang, Sungai
Citajur, Sungai Cilumut, Sungai Cikole, Sungai Cikadu, Sungai Cidahu,
Sungai Ciwidig, Sungai Cigadung, Sungai Cipandak, Sungai Ciselang,
Sungai Cisadea, Sungai Cijampang, Sungai Ciujung, dan Sungai
Cidamar.

Keterbatasan lahan dan perkembangan penduduk yang terus


bertambah menyebabkan lahan sekitar sungai menjadi pilihan
aktivitas. Kondisi ini dapat menimbulkan tercemarnya kualitas dan
kuantitas air sekitar sungai, disamping dari sisi kesehatan dan estetika
menjadi tidak baik. Selain itu, juga menjadi salah satu penyebab banjir
karena terjadinya pendangkalan dan penyempitan lebar sungai. Saat
ini, sempadan sungai di Kabupaten Cianjur terutama di kawasan
perkotaan telah dikuasai oleh masyarakat dan berdiri bangunan-
bangunan di sempadan sungai tersebut.

Sempadan Sungai di Kabupaten Cianjur tersebar di setiap kecamatan


yang dilalui sungai Sungai Citarum, Sungai Cisokan, Sungai Cikundul,
Sungai Cibuni, Sungai Cibeet, Sungai Cianjur, Sungai Cilaku, Sungai
Cibalagung, Sungai Cisarua, Sungai Cibinong, Sungai Cipadang, Sungai
Cikondang, Sungai Cijember, Sungai Cibalapulang, Sungai Citajur,
Sungai Cilumut, Sungai Cikole, Sungai Cikadu, Sungai Cidahu, Sungai
Ciwidig, Sungai Cigadung, Sungai Cipandak, Sungai Ciselang, Sungai
Cisadea, Sungai Cijampang, yang tersebar di 32 (tiga puluh dua)
kecamatan Kabupaten Cianjur.

Dalam rangka mencegah terjadinya kondisi tersebut, maka diperlukan


pengelolaan (pengawasan, pengendalian dan pengembalian)
sempadan sungai. Pengelolaan kawasan sempadan sungai dilakukan
dengan cara:

4-11
a. Kawasan sempadan sungai, dipertegas batas-batasnya, segera
dikuasai pemerintah dan diperkuat statusnya.

b. Perwujudan lahan-lahan sempadan sungai dapat dilakukan dengan


cara partisipatif masyarakat, atau penertiban terutama di kawasan
lindung yang membahayakan kelangsungan penduduk yang
tinggal di kawasan sekitarnya.

c. Sempadan sungai setelah dikuasai pemerintah, maka untuk


mempermudah pengawasan dan pengendaliannya dilakukan
pembangunan jalan inspeksi.

d. Untuk wilayah sekitar sempadan sungai bangunan boleh didirikan


setelah adanya pembangunan jalan inspeksi.

e. Rehabilitasi dan pengerukan lumpur sungai pada aliran sungai


yang telah mengalami pendangkalan.

f. Bangunan yang didirikan di sekitar wilayah sempadan sungai harus


menghadap sungai.

g. Di wilayah yang lahannya sudah memiliki nilai ekonomis tinggi,


untuk mewujudkan sempadan sungai di tanah yang dikuasai oleh
masyarakat dapat dilakukan dengan cara penggantian sesuai
dengan kesepakatan.

[Link] Kawasan Sekitar Danau/Waduk


Kawasan sekitar danau/waduk adalah kawasan tertentu di sekeliling
danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk
mempertahankan kelestarian fungsi danau/[Link] kawasan
sekitar danau/waduk adalah daratan sepanjang tepian danau/waduk
yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik
danau/waduk, yaitu antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke
arah darat.

Seiring dengan berkembangnya jumlah penduduk akan berimplikasi


juga terhadap semakin berkurangnya luas danau/waduk terutama di
Cianjur Bagian Utara. Dalam rangka menjaga kesinambungan

4-12
pembangunan, dimana kebutuhan untuk energi, keperluan pengairan
dan konsumsi sebagian besar dihasilkan dari danau/waduk, maka
diperlukan upaya pengembalian fungsi pada kawasan sekitar
danau/waduk.

Saat ini Kabupaten Cianjur memiliki beberapa areal di sekitar danau


atau waduk yang telah dikuasai oleh masyarakat dan telah berdiri
bangunan-bangunan di kawasan tersebut.

Rencana Kawasan Sekitar Danau atau Waduk, seluas 716,57 (tujuh


ratus enam belas koma lima puluh tujuh) hektar, meliputi :

1. Kawasan sekitar waduk meliputi :

a) Waduk Cirata berada di Kecamatan Mande, Kecamatan


Cikalongkulon, Kecamatan Ciranjang dan Kecamatan Haurwangi;

b) Waduk Cisokan berada di Kecamatan Bojongpicung, Kecamatan


Cibeber dan Kecamatan Campaka;

c) Waduk Cilaki berada di Perbatasan Kabupaten Cianjur dengan


Kabupaten Garut

2. Rencana pengembangan kawasan perlindungan setempat, meliputi:

a. Rencana Waduk Cibuni berada di Kecamatan


Kadupandak/Pagelaran;

b. Rencana Waduk Cimaskara berada di Kecamatan Cibinong;

c. Rencana Waduk Cisokan beradda di Kecamatan Cibeber dan


Kecamatan Campaka;

d. Waduk Cisewu di Kecamatan Cidaun;

e. Situ Babakan di Kecamatan Sukaresmi;

f. Situ Hegarmanah di Kecamatan Karangtengah;

g. Situ Cigondok, Situ Cimalati, Situ Hiang, Situ Legokhandap, dan


Situ pasir Gobang di kecamatan Cibeber;

h. Situ Cikabuyutan di Kecamatan Warungkondang;

4-13
i. Situ Cikuda di Kecamatan Gekbrong;

j. Situ Rawa Bereum dan Sawah Tamiang di Kecamatan


Campaka;

k. Situ Ciasmay, Situ Petak, Cimapag Girang, Sukamenak,


Langkob, Neglasari, Legok Empang dan Baru Suuk, berada di
Kecamatan Sukanagara;

l. Talaga Ciukur dan Talaga Cipingku, berada di Kecamatan


Takokak;

m. Rawa Hideung I, Rawa Patat, dan Rawa Herang, berada di


Kecamatan Kadupandak;

n. Rawa Beber, Rawa Benteur, Rawa Eceng, Rawa Gede II, Rawa
Kalong, Rawa Patat, Rawa Kajar, Rawa Katepos, Rawa Kole,
rawa Caplak, Situ Galuga, Situ Ciateul/Citawak, Situ Ngebul,
berada di Kecamatan Pagelaran;

o. Rawa Leuwisoro/Citambur, Rawa Getok, Rawa Tamiang, Rawa


Gede II, Rawa Balok/Rawa Bala, Rawa Citawak/Ciateul, Rawa
Gombong, rawa Kubang, berada di Kecamatan Pasirkuda;

p. Rawa Gede I, Rawa Tande, Rawa Picung, Situ Sukamanah,


berada di Kecamatan Tanggeung;

q. Rawa Hideung II, rawa Talaga, Rawa Kubang, Situ Cimaskara,


Situ Cibining, berada di Kecamatan Cibinong;

r. Rawa Tangkil, Rawa Picung dan Rawa Ciburial, berada di


Kecamatan Cikadu;

s. Situ Cicalobak, berada di Kecamatan Leles;

t. Situ Rancatutut, berada di Kecamatan Agrabinta;

u. Situ Cisepat, berada di Kecamatan Cidaun.

3. Kawasan sekitar embung, meliputi :

a) Embung Cangkudu dan Taman Bunga Nusantara di Kecamatan


Sukaresmi;

4-14
b) Embung Sukatani di kecamatan Pacet;

c) Embung Sindangjaya, Bukit Danau dan Kota Bunga di kecamatan


Cipanas;

d) Embung Ciramagirang di Kecamatan Cikalongkulon;

e) Embung Cimanggu dan Balongsari, berada di kecamatan


Sukaluyu;

f) Embung Cikajar dan Embung Cirobi berada di Kecamatan


Kadupandak;

g) Embung Sukajadi dan Hanjawar, di Kecamatan Pagelaran;

h) Embung Mekarmukti di Kecamatan Cibinong;

i) Embung Kolaberes dan Rawatangkil, berada di Kecamatan


Cikadu; dan

j) Rencana pembangunan dan pengembangan potensi embung


lainnya yang tersebar berada di setiap kecamatan.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka pengelolaan kawasan


sekitar danau/waduk di Kabupaten Cianjur dilakukan dengan cara :

1. Penggunaan air dikonsumsi untuk kebutuhan domestik/rumah


tangga, pertanian maupun industri. Di Kabupaten Cianjur, produksi
pertanian dan kebutuhan konsumsi air domestik/rumah tangga
sebagian besar tergantung terhadap mata air. Sehingga
perlindungan terhadap sempadan mata air menjadi penting guna
keberlangsungan pemenuhan aktivitas yang berkaitan dengan air.
2. Dalam rangka terjaganya keseimbangan ekosistem kawasan
sekitar mata air, maka diperlukan pengelolaan yang meliputi
kegiatan penguasaan lahan oleh pemerintah dan pengawasan
serta pengendalian pada kawasan sekitar mata air. Berdasarkan
permasalahan tersebut pengelolaan kawasan sempadan mata air
dilakukan dengan cara :

a. Kawasan sekitar mata air beserta mata airnya yang bersifat


publik dan menguasai hajat hidup orang banyak, dipertegas

4-15
batas-batasnya, segera dikuasai pemerintah dan diperkuat
statusnya.

b. Perwujudan lahan-lahan kawasan sekitar mata air dilakukan


dengan cara partisipatif masyarakat atau penertiban terutama di
sekitar mata air yang membahayakan kelangsungan penduduk
yang tinggal di kawasan sekitarnya.

c. Kawasan sempadan danau, dipertegas batas-batasnya, segera


dikuasai pemerintah dan diperkuat statusnya.

d. Perwujudan lahan-lahan sempadan danau dapat dilakukan


dengan cara partisipatif masyarakat, atau penertiban terutama
di kawasan lindung yang membahayakan kelangsungan
penduduk yang tinggal di kawasan sekitarnya.

e. Sempadan danau/waduk setelah dikuasai pemerintah, maka


untuk mempermudah pengawasan dan pengendaliannya
dilakukan pembangunan jalan inspeksi.

f. Kawasan sekitar danau/waduk, bangunan boleh didirikan setelah


adanya pembangunan jalan inspeksi.

g. Bangunan yang didirikan di sekitar wilayah sempadan


danau/waduk harus menghadap ke danau/waduk.

h. Di Kawasan Sempadan Danau/Waduk dimanfaatkan untuk


kegiatan pariwisatadengan tetap mengikuti kaidah pemanfaatan
ruang disekitar danau/waduk.

[Link] Kawasan Lindung Spiritual dan Kearifan Lokal


Kawasan lindung spiritual dan kearifan lokal lainnya adalah kawasan
lindung yang mempunyai ciri spiritual dan nilai serta pandangan
setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan, bernilai baik yang
tertanam dan diikuti oleh masyarakat setempat. Rencana Kawasan
Lindung Spiritual dan Kearifan Lokal yang terletak di Kabupaten Cianjur
yang meliputi :

a. Makam Dalem Cikundul berada di Kecamatan Cikalongkulon;

4-16
b. Makam Gunung Jati berada di Kecamatan Cilaku.

1.1.4 Kawasan Konservasi

Kawasan konservasi adalah kawasan dimana konservasi sumber daya


alam hayati dilakukan. Di dalam peraturan perundang-undangan
Indonesia yang ada, tidak memuat definisi mengenai kawasan
konservasi secara jelas. Adapun pengertian kawasan konservasi yang
ditemukan dan digunakan oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan
dan Konservasi Alam (PHKA), Departemen Kehutanan adalah “kawasan
yang ditetapkan sebagai kawasan suaka alam, kawasan pelestarian
alam, taman buru dan hutan lindung”.

Kawasan Konservasi di Kabupaten Cianjur, terdiri dari :

(1) Kawasan Cagar Alam seluas 15.107,44 Ha (lima belas ribu seratus
tujuh koma empat empat hektare), yang meliputi:

a. kawasan cagar alam di Kecamatan Campaka seluas 8,74 Ha


(delapan koma tujuh empat hektare);

b. kawasan cagar alam di Kecamatan Campakamulya seluas 10,85


Ha (sepuluh koma delapan lima hektare);

c. kawasan cagar alam di Kecamatan Cidaun seluas 7.700,26 Ha


(tujuh ribu tujuh ratus koma dua enam hektare);

d. kawasan cagar alam di Kecamatan Cipanas seluas 366,76 Ha


(tiga ratus enam puluh enam koma tujuh enam hektare);

e. kawasan cagar alam di Kecamatan Naringgul seluas 6.960,72 Ha


(enam ribu sembilan ratus enam puluh koma tujuh dua hektare);

f. kawasan cagar alam di Kecamatan Takokak seluas 60,11 Ha


(enam puluh koma satu satu hekater).

(2) Kawasan Taman Nasional seluas 5.383,87 Ha (lima ribu tiga ratus
delapan puluh tiga koma delapan tujuh hektare) yaitu Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), yang meliputi :

a. Kecamatan Cipanas seluas 1.970,16 Ha (seribu sembilan ratus


tujuh puluh koma satu enam hektare);

4-17
b. Kecamatan Cugenang seluas 1.101,49 Ha (seribu seratus satu
koma empat puluh sembilan hektare);

c. Kecamatan Gekbrong seluas 732,45 Ha (tujuh ratus tiga puluh


dua koma empat puluh lima hektare);

d. Kecamatan Pacet seluas 730,13 Ha (tujuh ratus tiga puluh koma


satu tiga hektare);

e. Kecamatan Warungkondang seluas 849,63 Ha (delapan ratus


empat puluh sembilan koma enam tiga hektare).

(3) Taman Wisata Alam seluas 52,48 Ha (lima puluh dua koma empat
delapan hektare) berada di Kecamatan Cipanas.

(4) Kawasan perlindungan plasma nutfah eks-situ Taman Bunga


Nusantara dan Kebun Raya Cibodas di Kecamatan Cipanas seluas
1.970,16 Ha (seribu sembilan ratus tujuh puluh koma enam belas
hektare);

(5) Rencana pengembangan kawasan konservasi terdiri dari :

a. Rencana pengembangan potensi Taman Keanekaragaman


Hayati (Taman Kehati), berada di Kecamatan Cibinong seluas
kurang lebih 10 Ha (sepuluh) hektare;

b. Identifikasi Potensi Kawasan Konservasi;

c. Penelitian, pengembang dan/atau pendidikan:

d. Pemantapan fungsi konservasi kawasan lindung;

e. Rehabilitasi di lahan kritis kawasan Konservasi;

f. Pengendalian pemanfaatan ruang di kawasan konservasi

Untuk lebih jelas mengenai Kawasan Konservasi di Kabupaten Cianjur


dapat dilihat pada Gambar 4.4

1.1.5 Kawasan Cagar Budaya

(1) Kawasan Cagar Budaya di Kabupaten Cianjur adalah Megalitikum


Gunung Padang di Desa Karyamukti Kecematan Campaka seluas

4-18
kurang lebih 29,64 Ha (dua puluh sembilan koma enam empat
hektare) terdiri dari :
a. Situs Cagar Budaya Gunung Padang berada di Kecamatan
Campaka;
b. Situs Megalitik Bukit Kasur berada di Kecamatan Cipanas;
c. Situs Megalitik Gunung Putri berada di Kecamatan Sukaresmi;
d. Situs Megalitik Bukit Tongtu berada di Kecamatan Cikalongkulon;
e. Situs Megalitik Pasir Pogor berada di Kecamatan Mande;
f. Situs Megalitik Pasir Manggu berada di Kecamatan Sukanagara;
g. Situs Megalitik Lemah Duhur dan Putra Pinggan, Kampung Kuta
berada di Kecamatan Ciranjang.
(2) Rencana pengembangan cagar budaya Gunung Padang, terdiri
dari:
a. Perlindungan fungsi Kawasan cagar budaya Gunung Padang;
b. Pemanfaatan kawasan cagar Budaya Gunung Padang.

Gambar 4.1 Rencana Pola Ruang Kawasan Lindung Kabupaten


Cianjur

4-19
4.2 KAWASAN BUDI DAYA

Kawasan Peruntukan budi daya adalah wilayah yang ditetapkan


dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan
potensi sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya
buatan. Rencana pengembangan pola ruang kawasan peruntukan
budidaya bertujuan untuk menjaga kualitas daya dukung lingkungan
Kabupaten Cianjur, menciptakan penyerapan lapangan pekerjaan,
terciptanya keserasian dengan rencana struktur ruang yang
dikembangkan. Adapun rencana pengembangan kawasan yang
ditetapkan sebagai kawasan Peruntukan budidaya adalah :

1) Kawasan Hutan Produksi adalah kawasan hutan yang mempunyai


fungsi penghasil kayu dan bukan kayu, serta fungsi resapan air
hujan yang secara status milik negara. Kawasan yang termasuk
didalamnya antara lain Kawasan Hutan Produksi Tetap dan
Kawasan Hutan Produksi Terbatas;
2) Kawasan Pertanian antara lain daratan yang secara fungsi
dibudidayakan untuk menghasilkan bahan pangan, palawija,
hortikultura, tanaman keras, perkebunan, dan peternakan.
Kawasan Peruntukan Pertanian ini meliputi Kawasan Pertanian
Tanaman Lahan Basah, Kawasan Pertanian Tanaman Lahan
Kering, Kawasan Peruntukan Hortikultura, Kawasan Perkebunan,
dan Kawasan Peternakan;
3) Kawasan Perikanan adalah yang dapat dimanfaatkan untuk
kegiatan penangkapan, budidaya, dan industri pengolahan hasil
perikanan; dan/atau tidak mengganggu kelestarian lingkungan
hidup;
4) Kawasan Pertambangan dan Energi antara lain kawasan yang
fungsi utama menghasilkan tambang yang meliputi bahan galian
pertambangan secara umum, dan bahan galian;
5) Kawasan Peruntukan Industri antara lain kawasan yang memiliki
fungsi utama kegiatan industri;

4-20
6) Kawasan Pariwisata antara lain kawasan yang secara fungsi dapat
memperkenalkan, mendayagunakan, dan melestarikan nilai nilai
budaya lokal dan keindahan alam;
7) Kawasan Permukiman antara lain kawasan yang memiliki fungsi
sebagai tempat tinggal dan tempat kegiatan, serta tempat
berkumpulnya tempat hunian;
8) Kawasan Lainnya yaitu berupa kawasan Pertahanan dan
Keamanan Negara.

Lebih jelasnya mengenai rencana pola ruang kawasan budidaya di


Kabupaten Cianjur dapat di lihat pada gambar peta dibawah ini.

4.2.1 Kawasan Hutan Produksi

Hutan produksi merupakan kawasan hutan yang diperuntukkan guna


produksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada
umumnya dan khususnya untuk pembangunan industri dan ekspor.
Kawasan hutan produksi akan dikembangkan dalam rangka
mendukung perekonomian wilayah dan kelestarian alam dan
lingkungan (ekosistem).

Kawasan yang sesuai untuk kawasan budidaya hutan di Kabupaten


Cianjur sangat sulit dikembangkan. Selain karena tekanan
perkembangan fisik, juga karena proses regenerasi dari hutan produksi
tersebut kurang berjalan dengan baik. Kawasan budidaya hutan di
Kabupaten Cianjur tersebar di 9 Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan
(BKPH), yaitu BKPH Cianjur, BKPH Ciranjang Utara, BKPH Ciranjang
Selatan, BKPH Gede Timur, BKPH Sukanagara Utara, BKPH Sukanagara
Selatan, BKPH Tanggeung, BKPH Cibarengkok dan BKPH
Sindangbarang.

Dalam rangka mendukung perekonomian wilayah, hutan produksi


merupakan salah satu komponen yang dapat diperhitungkan
mengingat potensi dari sektor ini cukup dapat menunjang
perekonomian wilayah. Saat ini luas hutan produksi di Kabupaten
Cianjur terus berkurang,yang disebabkan adanya alih fungsi lahan
hutan produksi menjadi fungsi lain.

4-21
Dalam rangka membuka lahan baru untuk kegiatan budidaya,
masyarakat cenderung melakukan penebangan dan pembakaran
hutan dan membiarkan kondisi hutan yang telah ditebang. Kondisi ini
dapat menimbulkan ancaman bagi mahluk hidup dan lingkungan
sekitarnya, seperti hilangnya/matinya satwa hutan tersebut,
pencemaran udara, ancaman bencana alam seperti banjir, longsor dan
lain-lain, sehingga diperlukan pengelolaan dan pemanfaatan hutan
yang tidak ramah lingkungan untuk dihindarkan.

Pengelolaan kawasan hutan produksi di Kabupaten Cianjur dilakukan


dengan cara:

a. Pengembangan budidaya tanaman industri bernilai ekonomis


seperti bahan baku kertas, kerajinan tangan dan lain-lain;
b. Untuk menciptakan kondisi tersebut perlu adanya akses
(kemudahan) dalam memperoleh ijin pengelolaan hutan produksi
pada swasta dan masyarakat setempat;
c. Melakukan pengawasan dan pengendalian kawasan hutan produksi
dengan cara pemerintah daerah memberikan wewenang dan
tanggungjawab terhadap pemerintahan kecamatan dan desa yang
terkait dengan kegiatan yang dapat mengganggu dan merusak
kawasan hutan produksi
d. Pemerintah memberikan instruksi yang mengikat pada program
tebang-pilih pada kawasan hutan produksi;
e. Pemerintah memberikan instruksi/arahan yang mengikat pada
program tebang-tanam pada kawasan hutan produksi dalam rangka
memberikan fungsi lindung pada semua hutan produksi yang ada di
Wilayah Kabupaten Cianjur.

[Link] Kawasan Hutan Produksi Terbatas


Hutan produksi terbatas merupakan kawasan hutan dengan faktor -
faktor kemiringan lereng, jenis tanah dan curah hujan yang
mempunyai skor 125 - 174, diluar hutan suaka alam, hutan wisata, dan
hutan konversi lainnya. kawasan hutan produksi terbatas yang

4-22
ditetapkan di kabupaten Cianjur seluas, 21.150,50 Ha (dua puluh satu
ribu serratus lima puluh koma lima nol hektare), meliputi :
a. Kecamatan Argabinta, seluas 1.131,68 Ha (seribu seratus tiga puluh
satu koma enam delapan hektare);
b. Kecamatan Bojongpicung, seluas 22,74 Ha (dua puluh dua koma
tujuh empat hektare);
c. Kecamatan Cibeber seluas 363,86 Ha (tiga ratus enam puluh tiga
koma delapan enam hektare);
d. Kecamatan Cibinong, seluas 3.640,91 Ha(tiga ribu enam ratus
empat puluh koma sembilan satu hektare);
e. Kecamatan Cidaun, seluas 1.916,11 Ha (seribu sembilan ratus enam
belas koma satu satu hektare);
f. Kecamatan Cijati, seluas 28,82 Ha (dua puluh delapan koma delapan
dua hektare);
g. Kecamatan Cikadu, seluas 1.155,34 Ha (seribu seratus lima puluh
lima koma tiga empat) hektare ;
h. Kecamatan Cikalongkulon, seluas 1.015,76 Ha (seribu lima belas
koma tujuh enam) hektare ;
i. Kecamatan Cipanas, seluas 265,78 Ha (dua ratus enam puluh lima
koma tujuh delapan) hektare ;
j. Kecamatan Kadupandak, seluas 1.146,33 Ha (seribu seratus empat
puluh enam koma tiga tiga) hektare ;
k. Kecamatan Leles, seluas 1.713,06 Ha (seribu tujuh ratus tiga belas
koma nol enam hektare);
l. Kecamatan Naringgul, seluas 2.184,39 Ha (dua ribu seratus delapan
puluh empat koma tiga sembilan hektare);
[Link] Pagelaran, seluas 1.075,85 Ha (seribu tujuh puluh lima
koma delapan lima hektare);
n. Kecamatan Pasirkuda, seluas 1.579,33 Ha (seribu lima ratus tujuh
puluh sembilan koma tiga tiga hektare);
o. Kecamatan Sindangbarang, seluas 3.537,55 Ha (tiga ribu lima ratus
tiga puluh tujuh koma lima lima hektare);

4-23
p. Kecamatan Sukanagara, seluas 61,01 Ha (enam puluh satu koma nol
satu hektare);
q. Kecamatan Sukaresmi, seluas 1,11 Ha (satu koma satu satu
hektare);
r. Kecamatan Tanggeung, seluas 310,86 Ha (tiga ratus sepuluh koma
delapan enam hektare).

[Link] Kawasan Hutan Produksi Tetap


Kawasan hutan produksi tetap merupakan kawasan hutan dengan
faktor-faktor kemiringan lereng, jenis tanah dan curah hujan yang
memiliki skor < 124 diluar hutan suaka alam, hutan wisata dan hutan
konversi lainnya. kawasan hutan produksi tetap yang ditetapkan seluas
kurang lebih 24.336,39 Ha (dua puluh empat ribu tiga ratus tiga puluh
enam koma tiga sembilan hektare), meliputi :

a. Kecamatan Bojongpicung, seluas 3.075,70 Ha (tiga ribu tujuh puluh


lima koma tujuh nol hektare);
b. Kecamatan Campaka, seluas 4.064,26 Ha (empat ribu enam puluh
empat koma dua enam hektare);
c. Kecamatan Campakamulya, seluas 234,37 Ha (dua ratus tiga puluh
empat koma tiga tujuh hektare);
d. Kecamatan Cibeber, seluas 2.000,77 Ha (dua ribu koma tujuh tujuh
hektare);
e. Kecamatan Cikalongkulon, seluas 2.301,10 Ha (dua ribu tiga ratus
satu koma satu nol hektare);
f. Kecamatan Cipanas, seluas 250,95 Ha (dua ratus lima puluh koma
sembilan lima hektare);
g. Kecamatan Ciranjang, seluas 23,91 Ha (dua puluh tiga koma
sembilan satu hektare);
h. Kecamatan Cugenang, seluas 617,51 Ha (enam ratus tujuh belas
koma lima satu hektare);
i. Kecamatan Gekbrong, seluas 729,55 Ha (tujuh ratus dua puluh
sembilan koma lima lima hektare);

4-24
j. Kecamatan Haurwangi, seluas 1.344,78 Ha (seribu tiga ratus empat
puluh empat koma tujuh delapan hektare);
k. Kecamatan Kadupandak, seluas 269,97 Ha (dua ratus enam puluh
sembilan koma sembilan tujuh hektare);
l. Kecamatan Mande, seluas 1.195,45 Ha (seribu seratus sembilan
puluh lima koma empat lima hektare);
[Link] Pacet, seluas 84,80 Ha (delapan puluh empat koma
delapan nol hektare);
n. Kecamatan Pagelaran, seluas 317,54 Ha (tiga ratus tujuh belas
koma lima empat hektare);
o. Kecamatan Sukaluyu, seluas 3,86 Ha (tiga koma delapan tiga)
hektare;
p. Kecamatan Sukanagara, seluas 4.195,51 Ha (empat ribu seratus
sembilan puluh lima koma lima satu hektare);
q. Kecamatan Sukaresmi, seluas 1.746,14 Ha (seribu tujuh ratus empat
puluh enam koma satu empat hektare);
r. Kecamatan Takokak, seluas 789,15 Ha (tujuh ratus delapan puluh
sembilan koma satu lima hektare);
s. Kecamatan Tanggeung, seluas 1.083,66 Ha (seribu delapan puluh
tiga koma enam enam hektare); dan
t. Kecamatan Warungkondang, seluas 7,42 Ha (tujuh koma empat dua
hektare).
Rencana pengembangan hutan produksi dapat dialih fungsi menjadi
kawasan perkebunan dengan memanfaatkan secara optimal tanah
terlantar dan lahan kritis yang ditetapkan berdasarkan hasil studi
kelayakan dan daya dukung lingkungan dengan mengacu pada
ketentuan peraturan perundang-undangan.

4.2.2 Kawasan Pertanian

Pemanfaatan ruang kawasan pertanian dikembangkan dalam rangka


mencapai tujuan :

a. Tetap terjaganya kualitas lingkungan;

4-25
b. Terciptanya pertumbuhan perekonomian wilayah yang berbasiskan
perekonomian lokal;
c. Pengembangan kualitas dan kuantitas produksi pertanian agar dapat
mencapai optimal.

Pemanfaatan ruang kawasan pertanian ini meliputi pertanian tanaman


pangan, pertanian holtikultura, perkebunan dan peternakan.

A. Kawasan Peruntukan Tanaman Pangan


Pengelolaan kawasan tanaman pangan di Kabupaten Cianjur adalah
sebagai berikut :

a. Kawasan peruntukan tanaman pangan yang akan ditetapkan


sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.

b. Pengembangan infrastruktur yang mendukung seperti jaringan jalan,


irigasi, dan agroindustri dengan fungsi yang didasarkan pada potensi
pertanian lahan basah.

c. Pengembangan perusahaan pengumpul dan distribusi (dapat


berbentuk koperasi, pasar khusus, dan lain-lain) bagi pertanian
lahan basah dengan memperhatikan jarak minimum (mudah
dijangkau).

d. Pemberian penguatan modal bagi petani lahan basah dalam rangka


menunjang kesinambungan usaha pertaniannya.

e. Menciptakan prasarana irigasi sehingga pengembangan pertanian


lahan basah agar tidak tergantung pada musim dengan
memperhatikan kemampuan alam dalam pembangunan irigasi.

f. Memperluas wilayah pemasaran produksi pertanian lahan basah,


baik lokal maupun pasar ekspor.

g. Pengembangan agroindustri dengan fungsi yang didasarkan pada


potensi pertanian wilayah pinggiran (lahan basah) dan

4-26
pengembangan pusat pengumpul dan distribusi bagi pertanian lahan
basah dengan memperhatikan jarak minimum (mudah dijangkau).

h. Menjaga stabilitas harga pupuk, obat-obatan, dan bibit.

i. Membangun balai penyuluhan dan pelatihan usaha tani.

Rencana Kawasan peruntukan tanaman pangan seluas kurang lebih


54.758,42 Ha (lima puluh empat ribu tujuh ratus lima puluh delapan
koma empat dua hektare) tersebar di 31 (tiga puluh satu) kecamatan,
yang tersebar di :

a. Kecamatan Argabinta, seluas 2.545,30 Ha (dua ribu lima ratus


empat puluh lima koma tiga puluh hektare);
b. Kecamatan Bojongpicung, seluas 2.468,20 Ha (dua ribu empat
ratus enam puluh delapan koma dua puluh hektare);
c. Kecamatan Campaka, seluas 1.611,21 Ha (seribu enam ratus
sebelas koma dua puluh satu hektare);
d. Kecamatan Campakamulya, seluas 876,93 Ha (delapan ratus tujuh
puluh enam koma sembilan puluh tiga hektare);
e. Kecamatan Cibeber, seluas 2.977,97 Ha (dua ribu Sembilan ratus
tujuh puluh tujuh koma Sembilan puluh tujuh) hektare;
f. Kecamatan Cibinong, seluas 2.020,66 Ha (dua ribu dua puluh koma
enam puluh enam hektare);
g. Kecamatan Cidaun, seluas 3.662,68 Ha (tiga ribu enam ratus enam
puluh dua koma enam puluh delapan hektare);
h. Kecamatan Cijati, seluas 1.313,92 Ha (seribu tiga ratus tiga belas
koma Sembilan puluh dua hektare);
i. Kecamatan Cikadu, seluas 1.928,96 Ha (seribu Sembilan ratus dua
puluh delapan koma Sembilan puluh enam hektare);
j. Kecamatan Cikalongkulon, seluas 1.979,18 Ha (seribu sembilan
ratus tujuh puluh sembilan koma delapan belas hektare);
k. Kecamatan Cilaku, seluas 1.606,08 Ha (seribu enam ratus enam
koma nol delapan hektare);
l. Kecamatan Cipanas, seluas 222,93 Ha (dua ratus dua puluh dua
koma sembilan puluh tiga hektare);

4-27
m. Kecamatan Ciranjang, seluas 1.756,07 Ha (seribu tujuh ratus lima
puluh enam koma tujuh hektare);
n. Kecamatan Cugenang, seluas 1.702,77 Ha (seribu tujuh ratus dua
koma tujuh puluh tujuh hektare);
o. Kecamatan Gekbrong, seluas 1.037,93 Ha (seribu tiga puluh tujuh
koma sembilan puluh tiga hektare);
p. Kecamatan Haurwangi, seluas 1.235,79 Ha (seribu dua ratus tiga
puluh lima koma tujuh puluh sembilan hektare);
q. Kecamatan Kadupandak, seluas 2.825,15 Ha (dua ribu delapan
ratus dua puluh dua koma lima belas hektare);
r. Kecamatan Karangtengah, seluas 1.588,10 Ha (seribu lima ratus
delapan puluh delapan koma sepuluh hektare);
s. Kecamatan Leles, seluas 1.697,30 Ha (seribu enam ratus sembilan
puluh tujuh koma tiga puluh hektare);
t. Kecamatan Mande, seluas 1.256,03 Ha (seribu dua ratus lima puluh
enam koma tiga hektare);
u. Kecamatan Naringgul, seluas 2.580,65 Ha (dua ribu lima ratus
delapan puluh koma enam puluh lima hektare);
v. Kecamatan Pacet, seluas 176,65 Ha (seratus tujuh puluh enam
koma enam puluh lima hektare);
w. Kecamatan Pagelaran, seluas 3.235,95 Ha (tiga ribu dua ratus tiga
puluh lima koma sembilan puluh lima hektare);
x. Kecamatan Pasirkuda, seluas 1.422,45 Ha (seribu empat ratus dua
puluh dua koma empat puluh lima hektare);
y. Kecamatan Sindangbarang, seluas 1.881,63 (seribu delapan puluh
delapan satu koma enam puluh tiga) hektare;
z. Kecamatan Sukaluyu, seluas 2.439,07 Ha (dua ribu empat ratus
tiga puluh sembilan koma nol tujuh hektare);
aa. Kecamatan Sukanagara, seluas 579,36 Ha (lima ratus tujuh puluh
tiga koma tiga puluh enam hektare);
bb. Kecamatan Sukaresmi, seluas 1.272,63 Ha (seribu dua ratus tujuh
puluh dua koma enam puluh tiga) hektare;

4-28
cc. Kecamatan Takokak, seluas 1.468,48 Ha (seribu empat ratus enam
puluh delapan koma empat puluh delapan hektare);
dd. Kecamatan Tanggeung, seluas 1.401,12 Ha (seribu empat ratus
satu koma dua belas hektare);
ee. Kecamatan Warungkondang, seluas 1.987,32 Ha (seribu sembian
ratus delapan puluh tujuh koma tiga puluh dua hektare).

B. Kawasan Hortikultura

Kawasan hortikultura adalah hamparan sebaran usaha hortikultura


yang disatukan oleh faktor pengikat tertentu, baik faktor alamiah,
sosial budaya maupun faktor infrastruktur fisik buatan. Sesuai dengan
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2010 tentang Hortikultura,
penetapan kawasan hortikultura dilakukan dengan memperhatikan
aspek sumberdaya hortikultura, potensi unggulan yang ingin
dikembangkan, potensi pasar, kesiapan dan dukungan masyarakat,
dan kekhususan wilayah.

Pengembangan hortikultura berbasis kawasan akan memberikan


manfaat sebagai berikut :

1. Memungkinkan penangaanan berbasis komoditas hortikultura


secara terpadu sesuai dengan kesamaan karakteristiknya.

2. Memberikan peluang bagi semua komoditas potensial di kawasan


untuk ditangani secara proporsional.

3. Merupakan wadah dan wahana pelaksanaan desentralisasi


pembangunan secara nyata, sinergis, dan harmonis, diantara
Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota.

4. Memungkinkan “critical mass” penggalangan sumberdaya


sehingga terjadi sinergi dari berbagai sumberdaya.

5. Membedakan secara jelas karakter dan pengukuran kinerja antara


pengembangan dan perbaikan.

6. Meningkatkan kegiatan ekonomi di kawasan dan sekitarnya.

7. Skala pengembangan usaha menjadi lebih luas.

4-29
8. Sebagai entry point pelayanan inovasi, pelaksanaan pendidikan
dan pelatihan, penyuluhan dan pembiayaan.

Menurut Permentan No. 41 Tahun 2009, penetapan kawasan budidaya


hortikultura dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut :

1. Mempunyai kesesuaian lahan yang didukung dengan sarana dan


prasarana budidaya, panen, dan pasca panen.

2. Memiliki potensi untuk pengembangan sistem dan usaha


agribisnis hortikultura.

3. Mempunyai akses, prasarana transportasi jalan serta


pengangkutan yang mudah dan dekat dengan pusat pemasaran
dan pengumpulan produksi.

Strategi dasar pengembangan kawasan hortikultura di Kota Pontianak


dapat diawali dengan optimalisasi komoditas unggulan yang telah
berkembang seperti lidah buaya, pepaya, dan sayuran, yang secara
terfokus dan terarah kemudian dikembangkan melalui pendekatan
agribisnis dengan memperhatikan keterkaitan hulu-hilir secara
berkesinambungan. Pengembangan kawasan hortikultura tidak berdiri
sendiri, namun lebih merupakan keterpaduan dari beberapa program
dan kegiatan pengembangan antar sektor/sub sektor, antar institusi
dan antar pelaku yang telah ada, yang terfokus dikawasan.

Pada hakekatnya pengembangan kawasan hortikultura dibangun atas


kerjasama diantara setiap pelaku usaha, dan kontribusi dari berbagai
sektor terkait, antara lain pertanian, perindustrian, perdagangan,
koperasi, UKM, Infrastruktur, pusat penelitian, perguruan tinggi,
swasta, asosiasi, perbankan, dan lainnya.

Rencana kawasan hortikultura seluas kurang lebih 49.976,86 Ha


(empat puluh sembilan ribu sembilan ratus tujuh puluh enam koma
delapan enam hektare), tersebar di :

a. Kecamatan Agrabinta, seluas 349,18 Ha (tiga ratus empat puluh


sembilan koma satu delapan hektare);

4-30
b. Kecamatan Bojongpicung, seluas 71,97 Ha (tujuh puluh satu koma
sembilan tujuh hektare);
c. Kecamatan Campaka, seluas 5.218,34 Ha (lima ribu dua ratus
delapan belas koma tiga empat hektare);
d. Kecamatan Campakamulya, seluas 628,66 Ha (enam ratus dua
puluh delapan koma enam enam hektare);
e. Kecamatan Cibeber, seluas 1.713,17 Ha (seribu tujuh ratus tiga
belas koma satu tujuh hektare);
f. Kecamatan Cibinong, seluas 1.450,31 Ha (seribu empat ratus lima
puluh koma tiga satu hektare);
g. Kecamatan Cidaun, seluas 1.986,09 Ha (seribu embilan ratus
delapan puluh enam koma nol sembilan hektare);
h. Kecamatan Cikadu, seluas 160,79 Ha (seratus enam puluh koma
tujuh sembilan hektare) ;
i. Kecamatan Cikalongkulon, seluas 4.532,26 Ha (empat ribu lima
ratus tiga puluh dua koma dua enam hektare);
j. Kecamatan Cilaku, seluas 1.149,48 Ha (seribu seratus empat puluh
embilan koma empat puluh delapan hektare);
k. Kecamatan Cipanas, seluas 1.644,64 Ha (seribu enam ratus empat
puluh empat koma enam empat hektare);
l. Kecamatan Ciranjang, seluas 268,59 Ha (dua ratus enam puluh
delapan koma lima sembilan hektare);
m. Kecamatan Cugenang, seluas 839,95 Ha (delapan ratus tiga puluh
sembilan koma sembilan lima hektare) ;
n. Kecamatan Gekbrong, seluas 116,95 Ha (seratus enam belas koma
sembilan lima hektare);
o. Kecamatan Haurwangi, seluas 168,00 Ha (seratus enam puluh
delapan koma nol hektare);
p. Kecamatan Kadupandak, seluas 4.034,44 Ha (empat ribu tiga puluh
empat koma empat empat hektare);
q. Kecamatan Karangtengah, seluas 208,69 Ha (dua ratus delapan
koma enam sembilan hektare);

4-31
r. Kecamatan Leles, seluas 7,66 Ha (tujuh koma enam enam
hektare);
s. Kecamata Mande, seluas 220,98 Ha (dua ratus dua puluh koma
sembilan puluh delapan hektare);
t. Kecamatan Naringgul, seluas 853,04 Ha (delapan ratus puluh tiga
koma nol empat hektare);
u. Kecamatan Pacet, seluas 1.720,19 Ha (seribu tujuh ratus dua puluh
koma satu sembilan hektare);
v. Kecamatan Pagelaran, seluas 3.908,26 Ha (tiga ribu sembilan
ratus delapan koma dua enam hektare);
w. Kecamatan Pasirkuda, seluas kurang lebih 940,50 Ha (sembilan
ratus empat puluh koma lima nol hektare);
x. Sindangbarang, seluas 2.753,07 Ha (dua ribu tujuh ratus lima puluh
tiga koma nol tujuh hektare);
y. Kecamatan Sukaluyu, seluas 726,59 Ha (tujuh ratus dua puluh
enam koma lima sembilan hektare);
z. Kecamatan Sukanagara, seluas 4.915,01 Ha (empat ribu sembilan
ratus lima belas koma nol satu hektare);
aa. Kecamatan Sukaresmi, seluas 2.986,54 Ha (dua ribu sembilan ratus
delapan puluh enam koma lima empat hektare);
bb. Kecamatan Takokak, seluas 4.892,08 Ha (empat ribu depalan ratus
sembilan puluh dua koma nol delapan hektare);
cc. Kecamatan Tanggeung, seluas 964,95 Ha (sembilan ratus enam
puluh empat koma sembilan lima hektare); dan
dd. Kecamatan Warungkondang, seluas 546,47 Ha (lima ratus empat
puluh enam koma empat tujuh hektare).

[Link] Kawasan Perkebunan

Kawasan Perkebunan adalah wilayah pengembangan dan usaha


agribisnis perkebunan yang berkelanjutan dan disatukan oleh faktor
alamiah, kegiatan ekonomi, sosial budaya dan didukung berbagai
infrastruktur pertanian, serta dibatasi oleh kesamaan tipologi

4-32
agroekosistem untuk mencapai skala ekonomi dan efktivitas
manajemen usaha perkebunan.

Rencana kawasan perkebunan seluas kurang lebih 108.184,39 Ha


(seratus delapan ribu seratus delapan puluh empat koma tiga sembilan
hektare) tersebar di 32 (tiga puluh dua) kecamatan di Kabupaten
Cianjur, tersebar di:

a. Kecamatan Argabinta, seluas 13.096,99 Ha (tiga belas ribu


sembilan puluh enam koma sembilan puliuh sembilan hektare);
b. Kecamatan Bojongpicung, seluas 2.152,38 Ha (dua ribu seratus
lima puluh dua koma tiga puluh delapan hektare);
c. Kecamatan Campaka, seluas 2.192,75 Ha (dua ribu seratus
sembilan puluh dua koma tujuh puluh lima hektare);
d. Kecamatan Campakamulya, seluas 812,85 Ha (delapan ratus dua
belas koma delapan puluh lima hektare);
e. Kecamatan Cianjur, seluas 335,91 Ha (tiga ratus tiga puluh lima
koma sembian puluh satu hektare);
f. Kecamatan Cibeber, seluas 3.157,93 Ha (tiga ribu seratus lima
puluh tujuh koma sembilan puluh tiga hektare);
g. Kecamatan Cibinong, seluas 15.136,82 Ha (lima belas ribu seratus
tiga puluh enam koma delapan puluh dua hektare);
h. Kecamatan Cidaun, seluas 9.525,33 Ha (sembilan ribu lima ratus
dua puluh lima koma tiga puluh tiga hektare);
i. Kecamatan Cijati, seluas 2.722,54 Ha (dua ribu tujuh ratus dua
puluh dua koma lima puluh empat hektare);
j. Kecamatan Cikadu, seluas 7.431,99 Ha (tujuh ribu empat ratus tiga
puluh satu koma sembilan puluh sembilan hektare);
k. Kecamatan Cikalongkulon, seluas 1.939,31 Ha (seribu sembilan
ratus tiga puluh sembian koma tiga puluh satu) hektare ;
l. Kecamatan Cilaku, seluas 51,69 Ha (lima puluh satu koma enam
puluh sembilan hektare);
m. Kecamatan Cipanas, seluas 545,22 Ha (lima ratus empat puluh
lima koma dua puluh dua hektare);

4-33
n. Kecamatan Ciranjang, seluas 11,05 Ha (sebelas koma nol lima
hektare);
o. Kecamatan Cugenang, seluas 2.448,79 Ha (dua ribu empat ratus
empat puluh delapan koma tujuh puluh sembilan hektare);
p. Kecamatan Gekbrong, seluas 1.695,73 Ha (seribu enam ratus
sembilan puluh lima koma tujuh puluh tiga hektare);
q. Kecamatan Haurwangi, seluas 917,21 Ha (sembilan ratus tujuh
belas koma dua puluh satu hektare);
r. Kecamatan Kadupandak, seluas 842,77 Ha (delapan ratus empat
puluh dua koma tujuh puluh tujuh hektare);
s. Kecamatan Karangtengah, seluas 21,30 Ha (dua puluh satu koma
tiga puluh hektare);
t. Kecamatan Leles, seluas 6.958,26 Ha (seribu enam ratus sembilan
puluh tujuh koma tiga puluh hektare);
u. Kecamatan Mande, seluas 3.647,87 Ha (tiga ribu enam ratus empat
puluh tujuh koma delapan puluh tujuh hektare);
v. Kecamatan Naringgul, seluas 7.838,14 Ha (tujuh ribudelapn ratus
tiga puluh delapan koma empat belas hektare);
w. Kecamatan Pacet, seluas 300,68 Ha (tiga ratus koma enam puluh
delapan hektare);
x. Kecamatan Pagelaran, seluas 964,51 Ha (sembilan ratus enam
puluh empat koma lima puluh satu hektare);
y. Kecamatan Pasirkuda, seluas 2.967,98 Ha (dua ribu sembilan ratus
enam puluh tujuh koma sembilan puluh delapan hektare);
z. Kecamatan Sindangbarang, seluas 4.167,69 Ha (empat ribu
seratus enam puluh tujuh koma enam puliuh sembilan hektare);
aa. Kecamatan Sukaluyu, seluas 57,95 Ha (lima puluh tujuh kma
sembilan puluh lima hektare);
bb. Kecamatan Sukanagara, seluas 5.437,13 Ha (lima ribu empat ratus
tiga puluh tujuh koma tiga belas hektare);
cc. Kecamatan Sukaresmi, seluas 2.368,87 Ha (dua ribu tiga ratus
enam puluh delapan koma delapan puluh tujuh hektare);

4-34
dd. Kecamatan Takokak, seluas 6.041,26 Ha (enam ribu empat puluh
satu koma dua puluh enam hektare);
ee. Kecamatan Tanggeung, seluas 1.795,66 Ha (seribu tujuh ratus
sembilan puluh lima koma enam puluh enam hektare);
ff. Kecamatan Warungkondang, seluas 599,87 Ha (lima ratus
sembilan puluh sembilan koma delapan puluh tujuh hektare).

4.2.3 Kawasan Perikanan

Sektor perikanan merupakan sektor prospektif dalam peningkatan


perekonomian wilayah. Hal ini juga menunjukkan tingginya potensi
pengembangan peternakan dan perikanan, akan tetapi minat
masyarakat terhadap pengelolaan perikanan dan peternakan masih
relative kecil dibandingkan pada pertanian tanaman pangan dan
perkebunan. Sehingga untuk menunjang kondisi tersebut, maka
diperlukan upaya - upaya yang dapat mendorong pengembangan pada
sektor perikanan dan peternakan.

Saat ini pengelolaan produksi peternakan dan perikanan belum


optimal, yang ditunjukkan dengan kontribusi ekonomi yang masih
rendah (berbanding terbalik dengan potensi yang dimiliki). Sehingga
untuk menunjang dan meningkatkan produksi perikanan dan
peternakan maka diperlukan program pengembangan yang
memperhatikan dukungan alam bagi setiap jenis peternakan dan
perikanan. Pola ruang untuk kawasan peruntukan perikanan ini
meliputi kawasan perikanan darat dan kawasan perikanan laut.

Rencana Kawasan perikanan, seluas 136,42 Ha (seratus tiga puluh


enam koma empat dua hektar), terdiri atas :

a. Kawasan perikanan tangkap berupa perikanan tangkap pada


kawasan pesisir dan laut meliputi:

1. Kecamatan Agrabinta;

2. Kecamatan Sindangbarang;

3. Kecamatan Cidaun.

b. Kawasan perikanan budidaya, yang terdiri atas :

4-35
1. budi daya kolam air tawar yang tersebar di 32 (tiga puluh dua)
kecamatan;

2. budi daya kolam air payau/tambak berada di kawasan pesisir


pantai meliputi :

a) Kecamatan Argabinta, seluas 85,32 Ha (delapan puluh lima


koma tiga dua hektare);

b) Kecamatan Cidaun, seluas 10,02 Ha (sepuluh koma nol dua


hektare);

c) Kecamatan Sindangbarang, seluas 25,53 Ha (dua puluh lima


koma lima tiga hektare); dan

d) Pengembangan Kawasan Tambak Udang.

5. budi daya kolam jaring apung berada di kawasan Waduk Cirata


meliputi :

a) Kecamatan Cikalongkulon, seluas 9,37 Ha (sembilan koma


tiga tujuh hektare); dan

b) Kecamatan Mande, seluas 1,50 Ha (satu koma lima nol


hektare).

6. budi daya ikan lainnya terdapat di :

a) Kecamatan Cipanas, seluas 3,66 Ha (tiga koma enam enam


hektare);

b) Kecamatan Cugenang, seluas 0,68 Ha (nol koma enam


delapan hektare);

c) Kecamatan Cikalongkulon, seluas 9,37 Ha (sembilan koma


tiga tujuh hektare);

d) Kecamatan Mande, seluas 1,50 Ha (satu koma lima nol


hektare);

e) Kecamatan Sukaresmi, seluas 0,26 Ha (nol koma dua enam


hektare); dan

f) Kecamatan Warungkondang, seluas 0,08 Ha (nol koma nol


delapan hektare).

c. sarana dan prasarana peruntukan perikanan, yang meliputi :

4-36
1. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Jayanti di Kecamatan Cidaun;

2. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Kecamatan Cidaun, TPI Apra di


Kecamatan Sindangbarang, dan TPI Cikakap di Kecamatan
Agrabinta;

3. Pusat Benih Ikan di Kecamatan Karangtengah;

4. Balai Benih Ikan (BBI) di Kecamatan Bojongpicung;

5. Unit Pembenihan Rakyat, meliputi :

a) Kecamatan Cianjur;

b) Kecamatan Sukaluyu;

c) Kecamatan Ciranjang;

d) Kecamatan Mande;

e) Kecamatan Cikalongkulon;

f) Kecamatan Cilaku;

g) Kecamatan Cugenang.

Rencana Kawasan perikanan di Kabupaten Cianjur dapat dilihat pada


gambar dibawah ini.

1.2.4 Kawasan Peternakan

Pola ruang kawasan peternakan adalah kawasan yang sesuai untuk


peternakan hewan dengan kriteria :

 Kawasan dengan ketinggian > 1000 m dpl;


 Kawasan dengan kemiringan 15%;
 Kawasan dengan jenis tanah/iklim sesuai untuk padang rumput;
 Memperhatikan kondisi eksisting dan kecenderungan
perkembangan peternakan serta kebutuhan lahan untuk dapat
menyerap tenaga kerja optimal.

Rencana Kawasan peternakan di Kabupaten Cianjur seluas 90,99 Ha


(sembilan puluh koma sembilan sembilan hektare), di arahkan untuk
pengembangan peternakan, tersebar di:

a. Kecamatan Cikalongkulon, selus 27,66 Ha (dua puluh tujuh koma


enam enam hektare);

4-37
b. Kecamatan Cugenang, seluas 5,37 Ha (lima koma tiga tujuh
hektare);
c. Kecamatan Gekbrong, seluas 8,89 Ha (delapan koma delapan
sembilan hektare);
d. Kecamatan Mande, seluas 37,90 Ha (tiga puluh tujuh koma
sembilan nol hektare);
e. Kecamatan Sukaluyu, seluas 3,55 Ha (tiga koma lima lima
hektare); dan
f. Kecamatan Warungkondang, seluas 7,63 Ha (tujuh koma enam
tiga hektare).
Kawasan peternakan terdiri dari :
a. peternakan sapi potong tersebar di Kecamatan Cikalongkulon
dan Kecamatan Mande;
b. peternakan sapi perah tersebar di Kecamatan Cipanas, Pacet,
Sukaresmi, Campaka, Sukanagara dan Takokak;
c. peternakan itik tersebar di Kecamatan Bojongpicung, Cibeber,
Ciranjang, Karangtengah, dan Warungkondang;
d. peternakan ayam ras tersebar di Kecamatan Cianjur, Cibeber,
Cikalongkulon dan Cilaku.

Untuk lebih jelas mengenai Kawasan pertanian dapat dilihat pada


gambar di bawah ini.

1.2.5 Kawasan Pertambangan dan Energi

Kawasan Pertambangan antara lain kawasan yang fungsi utama


menghasilkan tambang yang meliputi bahan galian pertambangan
secara umum dan bahan galian C.

Rencana Kawasan pertambangan dan energi dengan wilayah potensial


seluas kurang lebih 104,70 Ha (seratus empat koma tujuh nol hektare)
berupa kawasan potensi pertambangan meliputi kawasan potensi
pertambangan mineral logam;
a. kawasan potensi pertambangan mineral bukan logam;

1. Kawasan potensi pertambangan mineral logam di Kabupaten


Cianjur dengan jenis mineral meliputi :

4-38
a) emas;
b) seng;
c) bijih besi (pasir besi);
d) timah hitam.

2. Kawasan potensi pertambangan mineral logam di Kabupaten


Cianjur terdapat di beberapa Kecamatan antara lain :

a) Kecamatan Cikalongkulon;
b) Kecamatan Gekbrong;
c) Kecamatan Cibeber;
d) Kecamatan Campaka;
e) Kecamatan Takokak;
f) Kecamatan Tanggeung;
g) Kecamatan Pagelaran;
h) Kecamatan Kadupandak;
i) Kecamatan Cijati;
j) Kecamatan Agrabinta;
k) Kecamatan Sindangbarang;
l) Kecamatan Cidaun;
m) Kecamatan Naringgul.

3. kawasan potensi pertambangan mineral bukan logam di


Kecamatan Cianjur dengan jenis mineral meliputi :

a) lempung;
b) pasir batu;
c) pasir;
d) trass;
e) andesit;
f) batu gamping;
g) bentonit;
h) oker;
i) granit;
j) feldspar;
k) kaolin;

4-39
l) batu setengah permata;
m) batu templek;
n) diatomea;
o) kayu terkersikkan;
p) tanah merah;
q) tanah urug.
4. Kawasan pertambangan mineral bukan logam di Kecamatan
Cianjur dengan jenis mineral meliputi :
a) Kecamatan Sukaluyu;
b) Kecamatan Cikalongkulon;
c) Kecamatan Mande;
d) Kecamatan Ciranjang;
e) Kecamatan Bojongpicung;
f) Kecamatan Haurwangi;
g) Kecamatan Warungkondang;
h) Kecamatan Gekbrong;
i) Kecamatan Cilaku;
j) Kecamatan Cibeber;
k) Kecamatan Campaka;
l) Kecamatan Campakamulya;
m) Kecamatan Sukanagara;
n) Kecamatan Takokak;
o) Kecamatan Tanggeung;
p) Kecamatan Pagelaran;
q) Kecamatan Cibinong;
r) Kecamatan Cijati;
s) Kecamatan Kadupandak;
t) Kecamatan Pasirkuda;
u) Kecamatan Agrabinta;
v) Kecamatan Leles;
w) Kecamatan Sindangbarang;
x) Kecamatan Cidaun;
y) Kecamatan Naringgul.

4-40
1.2.6 Kawasan Peruntukan Industri

Disamping itu, dalam tataran regional wilayah Kabupaten Cianjur


memiliki posisi yang sangat strategis dengan dukungan tenaga kerja
yang melimpah, sehingga investasi dibidang industri pengolahan
(manufacture) setiap tahunnya cenderung terus meningkat.
Pengembangan industri pengolahan ini, terutama jenis aneka industri,
perlu diantisipasi dengan menyediakan lokasi yang tepat dan sesuai,
dengan mempertimbangkan :

a. Industri yang dikembangkan adalah industri yang memiliki dampak


ikutan tinggi dan non polutan sehingga tidak mengganggu
lingkungan;

b. Prioritas pengembangan industri pengolahan/manufaktur dan


agroindustri pada komoditas bukan konsumsi langsung sehingga
dapat membangkitkan tenaga kerja dalam jumlah yang relatif
besar;

c. Pemanfaatan teknologi industri tepat guna, yaitu pemanfataan


teknologi yang memperhatikan kemampuan produksi, tenaga kerja
dan modal;

d. Pengembangan infrastruktur penunjang, seperti jalan, air, dan


bangunan penunjang lainnya.

Industri merupakan sektor dengan mutiplier effect tinggi, dan memiliki


kaitan kedepan dan kebelakang, sehingga penngembangannya dapat
membangkitkan aktivitas perekonomian lainnya, seperti menciptakan
nilai tambah pada setiap produk yang dihasilkannya, membangkitkan
sektor bahan baku, dan membangkitkan aktivitas pemasaran. Industri
merupakan sektor yang potensial terhadap penyerapan tenaga kerja,
dan peningkatan produksi. Didasarkan pada kondisi di atas, maka
diperlukan pengembangan industri sebagai pendorong perekonomian
wilayah dengan pemanfaatan teknologi industri tepat guna, agar
efektivitas dan efesiensi produksi dapat terjaga, dan dampak negatif
terhadap lingkungan dapat diperkecil.

4-41
Untuk memudahkan aktivitas pekerja dan pemasaran hasil olahan
industri, maka pengembangan industri harus memperhatikan skala
pelayanan industri, dan skala pelayanan wilayah (atau kecamatan),
sehingga terjadi kepaduan (sinergisasi) antar ruang.

Rencana sentra industri kecil dan menengah, meliputi pengembangan :

a. Pengembangan Industri pangan yang meliputi industri pengolahan


susu, , industri bahan penyegar dengan bahan baku teh, industri
pengolahan minyak nabati, industri pengolahan buah-buahan dan
sayur;

b. Pengembangan Industri tekstil, kulit, alas kaki, yang meliputi


industri nano, smart apparace, dan tekstil khusus;

c. Pengembangan Hulu Agro meliputi industri oleofood dan industri


oleokimia.

Rencana pengembangan dan pembangunan kawasan peruntukan


industri seluas 1.054,96 Ha (seribu lima puluh empat koma sembilan
enam hektare), meliputi :

a) Kecamatan Cikalongkulon seluas 239,63 Ha (dua ratus tiga puluh


sembilan koma enam tiga hektare), tersebar di Desa Cinangsi,
Desa Ciramagirang, Desa Gudang, Desa Majalaya, Desa
Mekargalih, Desa Mekarjaya, Desa Mentengsari, Desa Padajaya,
dan Desa Warungdoyong;

b) Kecamatan Mande seluas 607,09 Ha (enam ratus tujuh koma nol


sembilan hektare), tersebar di Desa Bobojong, Desa Jamali, Desa
Mande, Desa Mulyasari dan Desa Murnisari; dan

c) Kecamatan Gekbrong seluas 51.19 Ha (lima puluh satu koma satu


sembilan hektare) tersebar di Desa Bangbayang.

Kawasan peruntukan industri memiliki izin yang telah dikeluarkan


dan tegakan bangunan dengan luas 1.054,98 Ha (seribu lima puluh
empat koma sembilan puluh delapan hektare), tersebar di :

4-42
a) Kecamatan Cikalongkulon seluas 239,63 Ha (dua ratus tiga puluh
sembilan koma enam tiga hektare);

b) Kecamatan Cilaku seluas 10,14 Ha (sepuluh koma satu empat


hektare);

c) Kecamatan Ciranjang seluas 4,84 Ha (empat koma delapan empat)


hektare;

d) Kecamatan Gekbrong seluas 51,19 Ha (lima puluh satu koma satu


sembilan hektare);

e) Kecamatan Haurwangi seluas 3,50 Ha (tiga koma lima nol hektare);

f) Kecamatan Karangtengah seluas 12,54 Ha (dua belas koma lima


empat hektare);

g) Kecamatan Mande seluas 607,09 Ha (enam ratus tujuh koma nol


sembilan hektare); dan

h) Kecamatan Sukaluyu seluas 124,04 Ha (seratus dua puluh empat


koma nol empat hektare).

Pengembangan Kawasan Peruntukan Industri di Kabupaten Cianjur,


meliputi:

a. pengembangan industri pangan yang meliputi industri pengolahan


susu, industri bahan penyegar dengan bahan baku teh, industri
pengolahan minyak nabati, industri pengolahan buah-buahan dan
sayur;

b. pengembangan industri tekstil, kulit, alas kaki, yang meliputi


industri nano, smart apparace, dan tekstil khusus;

c. pengembangan Hulu Agro meliputi industri oleofood dan industri


oleokimia.

d. kawasan peruntukan industri yang telah masa habis izinnya


diarahkan untuk dipindahkan ke lokasi baru pengembangan yaitu
di Kecamatan Cikalongkulon dan Kecamatan Mande;

4-43
e. pengembangan kawasan peruntukan industri, dilakukan dengan
mempertimbangkan aspek ekologis, dan memperhatikan daya
dukung lahan;

f. pengendalian pada kegiatan industri yang telah berkembang di


luar kawasan peruntukan industri;

g. pengembangan industri yang berteknologi tinggi, ramah


lingkungan, dan membangkitkan kegiatan ekonomi;

h. pengembangan industri yang menerapkan manajemen mutu dan


kendali mutu;

i. pengembangan industri kecil dan menengah yang ramah


lingkungan, hemat lahan dan dapat menyerap tenaga kerja lokal;

j. pengembangan sistem informasi simbiosis industri hijau;

k. pengembangan industri pengolahan ramah lingkunganuntuk


mendukung komoditas unggulan Jabar Selatan;

l. pengembangan Industri kecil dan menengah; dan

m. pengendalian dan penanggulangan dampak kegiatan industri

1.2.7 Kawasan Pariwisata

Pengembangan kawasan pariwisata didasarkan pada wilayah-wilayah


yang memiliki obyek dan daya tarik wisata serta tersedianya dukungan
sarana dan prasarana pariwisata. Pengembangan kawasan pariwisata
ini bertujuan:

a. Mendukung lingkungan atau kelestarian alam (ekosistem) dan


budaya setempat;

b. Mendukung perekonomian wilayah.

Kawasan yang dikembangkan sebagai pariwisata adalah kawasan


dengan kriteria:

1. Memiliki keindahan dan panorama alam;

2. Memiliki kebudayaan yang bernilai tinggi;

4-44
3. Memiliki bangunan sejarah.

Kawasan pariwisata berupa Destinasi Pariwisata Kabupaten (DPK) yang


meliputi:
a. Wilayah Cianjur Utara dengan pusat DPK Kecamatan Cianjur;
b. Wilayah Cianjur Tengah dengan pusat DPK Kecamatan Campaka;
dan
c. Wilayah Cianjur Selatan dengan pusat DPK Kecamatan Cidaun.

Menurut Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Kabupaten Cianjur,


pengembangan pariwisata terbagi kedalam tiga destinasi Pariwisata
(DPK), yaitu:

1. Destinasi Pariwisata Kabupaten (DPK) Cianjur meliputi:

a. Kawasan Strategis Pariwisata Kabupaten ( KSPK ) adalah


kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki
potensi untuk pengembangan Pariwisata Daerah yang
mempunyai pengaruh penting dalam 1 (satu) atau lebih
aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya,
pemberdayaan sumber daya alam, dan daya dukung
lingkungan hidup;

b. Kawasan Pengembangan Pariwisata Kabupaten (KPPK) adalah


kawasan pariwisata dengan komponen kepariwisataannya,
serta memiliki karakter produk dan tema pengembangan
pariwisata alam, budaya dan buatan;

c. Kawasan Pengembangan Pariwisata Unggulan Kabupaten


(KPPUK) adalah Kawasan Pariwisata yang diunggulkan
memiliki tema khusus pengembangan yang menjadi prioritas
pembangunan kepariwisataan Kabupaten, serta mampu
menjawab dan mewujudkan visi dan misi pembangunan
Daerah.

2. Rencana Pembangunan Kawasan Strategis Pariwisata Kabupaten


(KSPK) meliputi:

4-45
a. Kawasan Strategis Ekowisata Alam Cagar Biosfer dan Heritage
Gedeh - Cibodas dan sekitarnya;

a. Kawasan Strategis Ekowisata Danau dan Religi Cikundul -


Jangari - Haurwangi dan sekitarnya;

b. Kawasan Strategis Pariwisata Cagar Budaya dan Agro Gunung


Padang – Pasirnangka dan sekitarnya;

c. Kawasan Strategis Ekowisata Pantai Jayanti – Sinarlaut dan


sekitarnya.

3. Rencana Kawasan Pengembangan Pariwisata Kabupaten (KPPK),


meliputi:

a. Kawasan Pengembangan Pariwisata Alam Perkotaan dan


Kriya Cianjur -Warungkondang - Cibeber dan sekitarnya;

b. Kawasan Pengembangan Pariwisata Alam Pegunungan dan


Sungai Citambur - Cibuni - Cijati dan sekitarnya;

c. Kawasan Pengembangan Pariwisata Alam Pegunungan


Naringgul - Gunung Bengbreng dan sekitarnya.

4. Rencana Kawasan Pengembangan Pariwisata Unggulan Kabupaten


(KPPUK) meliputi terdiri dari :

a. Kawasan Pengembangan Pariwisata Unggulan Kabupaten


Area 1 mencakup Kecamatan Cianjur, Cugenang,
Warungkondang, dan Gekbrong;

b. Kawasan Pengembangan Pariwisata Unggulan Kabupaten


Area 2 mencakup Kecamatan Pacet, Cipanas, dan
Sukaresmi;

c. Kawasan Pengembangan Pariwisata Unggulan Kabupaten


Area 3 mencakup Kecamatan Cikalongkulon, dan Mande;

d. Kawasan Pengembangan Pariwisata Unggulan Kabupaten


Area 4 mencakup Kecamatan Haurwangi;

4-46
e. Kawasan Pengembangan Pariwisata Unggulan Kabupaten
Area 5 mencakup Kecamatan Pasirkuda, Naringgul, Cidaun,
dan Sindangbarang;

f. Kawasan Pengembangan Pariwisasta Unggulan Kabupaten


Area 6 mencakup Kecamatan Campaka; dan

g. Kawasan Pengembangan Pariwisata Unggulan Kabupaten


Area 7 mencakup Kecamatan Leles dan Agrabinta.

Menurut kebijakan RTRWP Jawa Barat, Kabupaten Cianjur memiliki


salah satu sektor unggulan adalah pariwisata yang akan menimbulkan
dampak penjalaran pada pengembangan ekonomi lokal.

Berdasarkan kebijakan tersebut, Kabupaten Cianjur akan


mengembangkan pusat informasi wisata di Cipanas, sehingga peluang
pengembangan menjadi lebih besar. Akan tetapi Kebijakan Provinsi
saja tidak akan cukup dalam menciptakan pariwisata sebagai basis
ekonomi Cianjur, sehingga diperlukan adanya program pengembangan
kegiatan pariwisata yang lebih dapat menjamin perkembangan
perekonomian Wilayah Kabupaten Cianjur.

Kemudian dalam kunjungannya, para wisatawan (domestik dan


mancanegara) cenderung meninggalkan sisa-sisa konsumsi
(menghasilkan limbah padat) dan lemahnya kesadaran akan arti
pentingnya lingkungan sehingga menimbulkan terjadinya degradasi
lingkungan. Untuk mengantisipasi hal tersebut diperlukan pengelolaan
obyek dan daya tarik wisata yang terorganisir sehingga hal-hal yang
dapat merusak lingkungan wisata dapat diperkecil.

Pengelolaan kawasan peruntukan pariwisata di Kabupaten Cianjur


adalah sebagai berikut :

a. kawasan wisata buatan wisata beras pandanwangi di Kecamatan


Warungkondang;

b. penataan dan optimalisasi fungsi objek wisata;

c. pengembangan infrastruktur pendukung;

4-47
d. peningkatan aksesbilitas menuju obyek wisata;

e. peningkatan pemasaran dan promosi potensi wisata daerah;

f. pengembangan taman bumi (Geopark) dengan mengutamakan


perlindungan dan pelestarian Situs Geologi (Geosite), arisan Geologi
(Geoheritage), Keanekaragaman Geologi;

g. pengembangan desa wisata;

h. pembangunan Pusat Budaya;

i. pembangunan Gedung Creative Center;

j. pengembangan aksesibilitas menuju DTW dan destinasi pariwisata;

k. peningkatan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan


pariwisata; dan

l. penyadaran publik dibidang kepariwisataan.

1.2.8 Kawasan Permukiman

Pola ruang kawasan permukiman dikembangkan dalam rangka


mencapai tujuan :

a. Terciptanya kegiatan permukiman yang memiliki aksesibilitas dan


pelayanan infrastruktur yang memadai sehingga perlu disesuaikan
dengan rencana struktur tata ruangnya dan tingkat pelayanan
wilayah (struktur/hirarki kota).

b. Menyediakan permukiman untuk memenuhi kebutuhan penduduk


dan perkembangannya.

c. Menciptakan aktivitas sosial ekonomi yang harmonis dengan


seluruh komponen pengembangan wilayah seperti dengan aktivitas
perdagangan dan jasa, industri, pertanian, dan lain-lain.

Kawasan permukiman dikembangkan pada kawasan dengan kriteria


sebagai berikut:

a. Kawasan dengan kemiringan lahan < 15%;


b. Ketersediaan air terjamin;
c. Aksesibilitas yang baik;

4-48
d. Tidak berada pada wilayah rawan bencana;
e. Berada dekat dengan pusat kegiatan/terkait dengan kawasan
hunian yang sudah ada atau berkembang.
Rencana Kawasan permukiman, seluas 31.233,99 Ha (tiga puluh satu
dua ratus tiga puluh tiga koma sembilan sembilan hektare), terdiri
atas:

a. Pengembangan kawasan permukiman perkotaan ditetapkan dengan


luas seluas 10.177,37 Ha (sepuluh ribu seratus tujuh puluh tujuh
koma tiga tujuh hektare), meliputi:

1. Permukiman Perkotaan Kecamatan Cianjur, seluas 2.255,08 Ha


(dua ribu dua ratus lima puluh lima koma nol delapan hektare);

2. Permukiman Perkotaan Kecamatan Cidaun, seluas 1.906,65 Ha


(seribu sembilan ratus enam koma enam lima hektare);

3. Permukiman Perkotaan Kecamatan Cilaku, seluas 1.570,06 Ha


(seribu lima ratus tujuh puluh koma nol enam hektare);

4. Permukiman Perkotaan Kecamatan Karangtengah, seluas


2.464,44 Ha (dua ribu empat ratus enam puluh empat koma
empat empat hektare);

5. Permukiman Perkotaan Kecamatan Sindangbarang, seluas


1.559,72 Ha (seribu lima ratus lima puluh sembilan koma tujuh
dua hektare); dan

6. Permukiman Perkotaan Kecamatan Sukanagara, seluas 459,43 Ha


(empat ratus lima puluh sembilan koma empat tiga hektare).

b. Kawasan permukiman perdesaan berupa desa - desa yang tidak


termasuk kedalam ibu kota kecamatan dan desa - desa yang tidak
termasuk dalam kawasan permukiman perkotaan seluas 21.056,62
Ha (dua puluh satu ribu lima puluh enam koma enam dua hektare),
pengembangan diarahkan untuk kepadatan rendah.

c. Rencana pengelolaan kawasan permukiman perkotaan dan


perdesaan, yang meliputi :

4-49
1. Pengembangan permukiman perkotaan diarahkan untuk
permukiman komersial, dan permukiman swadaya dengan
seimbang;
2. Pengembangan permukiman perkotaan yang memperhatikan
prinsip konservasi;
3. Pengembangan permukiman perkotaan diarahkan untuk
permukiman vertikal;
4. Penataan permukiman kumuh;
5. Peningkatan infrastruktur dasar permukiman di desa tertinggal,
desa terpencil, desa perbatasan dengan kabupaten bandung,
kabupaten bogor, kabupaten sukabumi dan kabupaten garut;
6. Permukiman kumuh nelayan dan kawasan rawan bencana; dan
7. Penataan kawasan permukiman pedesaan dengan prinsip
konservasi dan penanggulangan bencana.
d. Pengembangan Perumahan dan Permukiman dilaksanakan secara
efisien dengan memperhatikan kelayakan teknis, sosial, ekonomi,
dan lingkungan; dan
e. Pengembangan perumahan dan permukiman akan berbasiskan pada
mitigasi bencana dengan menyiapkan ruang untuk evakuasi
bencana.

1.2.9 Kawasan Pertahanan dan Keamanan

Kawasan pertahanan dan keamanan negara terdiri atas :

a. Instalasi dan aset militer serta kepolisian;


b. Daerah latihan.
Instalasi dan aset militer dan kepolisian hektar meliputi :

a. Komando Distrik Militer (KODIM) 0608 Cianjur di Kecamatan


Cianjur;
b. Komando Rayon Militer (Koramil) di setiap kecamatan;
c. Batalyon Infantri 300/Raider di Kecamatan Karangtengah;
d. Batalyon Artileri Medan 5/105-Tarik di Kecamatan Cipanas;
e. Lapangan Udara Salatri di Kecamatan Agrabinta;
f. Kepolisian Resort (Polres) Cianjur di Kecamatan Cianjur;

4-50
g. Kepolisian Sektor (Polsek) di setiap kecamatan;
h. Satuan Brigade Mobil (Satbrimob), di Kecamatan Cipanas
i. Satuan Polisi Air (Satpolair), di Kecamatan Cidaun.

Daerah latihan meliputi :

a. Kecamatan Pacet;
b. Kecamatan Sukaresmi;
c. Kecamatan Sukaluyu;
d. Kecamatan Cikalongkulon;
e. Kecamatan Bojongpicung;
f. Kecamatan Cibinong;
g. Kecamatan Sindangbarang;
h. Kecamatan Agrabinta;
i. Kecamatan Cidaun;
j. Kecamatan Naringgul.

Secara keseluruhan tujuan rencana pola ruang Kabupaten Cianjur


adalah :
1) Menunjukkan rencana ukuran maupun letak pemanfaatan ruang
untuk kawasan lindung dan kawasan budidaya dengan
memperhatikan daya dukung lingkungan;

2) Menunjukkan arahan pembatasan kegiatan diluar fungsi kawasan


dan mencegah timbulnya kerusakan fungsi kawasan, terutama
kerusakan fungsi lingkungan hidup;

3) Menunjukkan gambaran keterpaduan (sinkronisasi) antara rencana


pola ruang dengan rencana struktur ruang yang dikembangkan
didalam rencana tata ruang wilayah Kabupaten Cianjur, maupun
rencana yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayah
nasional, propinsi , dan kabupaten yang berbatasan;

4) Menunjukkan arahan mempertahankan kesesuaian lahan sesuai


dengan norma, standar, peraturan dan kriteria teknis;

5) Menunjukkan arahan mempertahankan keanekaragaman hayati


dan ekosistem.

4-51
Lebih jelasnya mengenai Rencana Pola Ruang Kawasan Budidaya
Kabupaten Cianjur dapat dilihat pada Gambar 4.2 dan Rencana Pola
Ruang di Kabupaten Cianjur dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.2 Rencana Kawasan Budidaya

4-52
Tabel 4. 1 Rencana Pola Ruang Kabupaten Cianjur

Kawasan Lindung
Kecamatan Badan Cagar Kawasan Cagar Kawasan Hutan Kawasan Perlindungan Taman Taman Wisata
Air Alam Budaya Lindung Setempat Nasional Alam
AGRABINTA 254,69 1237,61
BOJONGPICUNG 39,73 430,18
CAMPAKA 28,83 8,74 29,64 0,26 114,05
CAMPAKAMULYA 21,76 10,85 4278,09 198,16
CIANJUR 55,40
CIBEBER 113,57 533,04
CIBINONG 69,17 117,73 801,88
CIDAUN 273,25 7700,26 3,58 1994,88
CIJATI 77,27 246,00
CIKADU 48,78 7930,11 376,99
CIKALONGKULON 812,17 669,28
CILAKU 19,27 299,67
CIPANAS 1,26 366,76 109,77 1970,16 52,48
CIRANJANG 315,89 277,08
CUGENANG 114,82 1101,50
GEKBRONG 6,59 81,89 732,45
HAURWANGI 98,98 312,85
KADUPANDAK 136,28 586,00
KARANGTENGAH 1,31 39,40
LELES 39,28 455,81
MANDE 1336,01 493,21
NARINGGUL 168,43 6960,72 6356,03 1223,08
PACET 2,36 122,47 730,13

4-55
Kawasan Lindung
Kecamatan Badan Cagar Kawasan Cagar Kawasan Hutan Kawasan Perlindungan Taman Taman Wisata
Air Alam Budaya Lindung Setempat Nasional Alam
PAGELARAN 47,10 9386,58 406,66
PASIRKUDA 19,91 2992,82 179,45
SINDANGBARANG 212,17 1228,03
SUKALUYU 131,77 457,20
SUKANAGARA 52,83 860,38 464,56
SUKARESMI 43,84 433,24
TAKOKAK 68,87 60,11 686,16
TANGGEUNG 56,68 372,57
WARUNGKONDANG 67,99 849,63
Grand Total 4498,04 15107,44 29,64 31925,58 15069,39 5383,87 52,48
Lanjutan…

Kasawan Budidaya
Kawasan
Kecamatan Kawasan Kawasan
Hutan Kawasan Hutan Kawasan Kawasan
Hortikultur Perikanan Budi
Produksi Produksi Tetap Pariwisata Perkebunan
a Daya
Terbatas
AGRABINTA 349,18 1131,68 85,32 13096,99
BOJONGPICUNG 71,97 22,74 3075,70 2152,38
CAMPAKA 5218,34 4064,26 11,66 2192,75
CAMPAKAMULYA 628,66 234,37 812,85
CIANJUR 335,91
CIBEBER 1713,17 363,86 2000,77 3157,93
CIBINONG 1450,31 3640,91 15136,82
CIDAUN 1986,09 1916,11 10,02 9525,33
CIJATI 28,82 2722,54

4-56
Kasawan Budidaya
Kawasan
Kecamatan Kawasan Kawasan
Hutan Kawasan Hutan Kawasan Kawasan
Hortikultur Perikanan Budi
Produksi Produksi Tetap Pariwisata Perkebunan
a Daya
Terbatas
CIKADU 160,79 1155,34 7431,99
CIKALONGKULON 4532,26 1015,76 2301,10 2,17 9,37 1939,31
CILAKU 1149,48 51,69
CIPANAS 1644,64 265,78 250,95 3,66 545,22
CIRANJANG 268,59 23,91 11,05
CUGENANG 839,95 617,51 0,68 2448,79
GEKBRONG 116,95 729,55 1695,73
HAURWANGI 168,00 1344,78 917,21
KADUPANDAK 4034,44 1146,33 269,97 842,77
KARANGTENGAH 208,69 21,30
LELES 7,66 1713,06 6958,22
MANDE 220,98 1195,45 1,50 3647,87
NARINGGUL 853,04 2184,39 7838,14
PACET 1720,19 84,80 300,68
PAGELARAN 3908,26 1075,85 317,54 964,51
PASIRKUDA 940,50 1579,33 2967,98
SINDANGBARANG 2753,07 3537,55 25,53 4167,69
SUKALUYU 726,59 3,86 57,95
SUKANAGARA 4915,01 61,01 4195,51 5437,13
SUKARESMI 2986,54 1,11 1746,14 0,26 2368,87
TAKOKAK 4892,08 789,15 6041,26
TANGGEUNG 964,95 310,86 1083,66 1795,66
WARUNGKONDANG 546,47 7,42 0,08 599,87

4-57
Kasawan Budidaya
Kawasan
Kecamatan Kawasan Kawasan
Hutan Kawasan Hutan Kawasan Kawasan
Hortikultur Perikanan Budi
Produksi Produksi Tetap Pariwisata Perkebunan
a Daya
Terbatas
Grand Total 49976,86 21150,50 24336,39 13,83 136,42 108184,39

Lanjutan…
Kawasan Budidaya
Kawasan Kawasan
Kecamatan Kawasan Kawasan Kawasan Kawasan Kawasan
Pertahanan Peruntukan
Permukiman Permukiman Peruntukan Peternaka Tanaman
dan Pertambanga
Pedesaan Perkotaan Industri n Pangan
Keamanan n Batuann
AGRABINTA 675,45 259,42 2545,30
BOJONGPICUNG 699,73 2468,20
CAMPAKA 888,82 2,28 1611,21
CAMPAKAMULYA 379,24 876,93
CIANJUR 2255,08 1,61
CIBEBER 1477,08 4,41 2977,97
CIBINONG 804,01 2020,66
CIDAUN 822,07 1906,65 3662,68
CIJATI 483,11 1313,92
CIKADU 481,78 1928,96
CIKALONGKULON 760,09 239,63 38,90 27,66 1979,18
CILAKU 563,39 1570,06 10,14 21,86 1606,08
CIPANAS 1386,59 1,82 222,93
CIRANJANG 754,76 4,84 1756,07
CUGENANG 820,15 5,37 1702,77
GEKBRONG 545,10 51,19 26,47 8,89 1037,93

4-58
Kawasan Budidaya
Kawasan Kawasan
Kecamatan Kawasan Kawasan Kawasan Kawasan Kawasan
Pertahanan Peruntukan
Permukiman Permukiman Peruntukan Peternaka Tanaman
dan Pertambanga
Pedesaan Perkotaan Industri n Pangan
Keamanan n Batuann
HAURWANGI 513,59 3,50 0,03 1235,79
KADUPANDAK 591,55 2825,15
KARANGTENGAH 514,75 2426,44 38,33 12,54 1588,10
LELES 612,26 1697,30
MANDE 641,93 607,09 37,90 1256,03
NARINGGUL 623,58 2580,65
PACET 1031,94 176,65
PAGELARAN 810,00 3235,92
PASIRKUDA 422,51 1422,45
SINDANGBARANG 502,88 1559,72 1881,63
SUKALUYU 823,27 126,04 10,75 3,55 2439,06
SUKANAGARA 459,43 579,36
SUKARESMI 757,59 1272,62
TAKOKAK 549,47 1468,48
TANGGEUNG 614,27 1401,12
WARUNGKONDANG 505,63 7,63 1987,32
Grand Total 21056,62 10177,37 301,18 1054,96 104,70 90,99 54758,42
Sumber : Hasil Analisis, 2021

4-59
Gambar 4.3 Peta Rencana Pola Ruang kabupaten Cianjur

4-60

Anda mungkin juga menyukai