0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan27 halaman

Modul Akidah Akhlak Kelas X Semester 2

Modul ini adalah bahan ajar untuk mata pelajaran Akidah Akhlak kelas X semester 2 yang disusun berdasarkan Kurikulum 2013. Modul ini mencakup kompetensi inti dan dasar, serta petunjuk penggunaan buku untuk membantu siswa memahami ajaran agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penulis berharap modul ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menerima masukan untuk perbaikan di masa mendatang.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan27 halaman

Modul Akidah Akhlak Kelas X Semester 2

Modul ini adalah bahan ajar untuk mata pelajaran Akidah Akhlak kelas X semester 2 yang disusun berdasarkan Kurikulum 2013. Modul ini mencakup kompetensi inti dan dasar, serta petunjuk penggunaan buku untuk membantu siswa memahami ajaran agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Penulis berharap modul ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menerima masukan untuk perbaikan di masa mendatang.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL

MATA PELAJARAN : AKIDAH AKHLAK


KELAS X SEMESTER 2

MADRASAH ALIYAH ..............


Jl. ..............
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Allhamdulillah, Segala puji bagi Allah SWT tuhan
yang Maha Esa, yang telah memberikan penulis kemudahan dalam menyelesaikan bahan ajar Akidah Akhlak
tepat waktu. Tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, saya tidak akan mampu menyelesaikan makalah ini dengan
baik. Tidak lupa pula shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi agung, Nabi besar Muhammad SAW.
Semoga syafa’atnya mengalir pada kita dihari akhir kelak. Aamiin.
Adapun penulisan memuat bahan ajar Akidah Akhlak ini untuk melengkapi administrasi
pembelajaran Akidah Akhlak. Bahan ajar ini disusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari
diri saya sendiri maupun datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan pertolongan dari Allah
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga Bahan Ajar ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan
pemikiran kepada pembaca khususnya teman-teman. Saya sadar bahwa bahan ajar ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis menerima berbagai saran maupun kritikan yang
bersifat membangun. Akhir kata saya menucapkan terima kasih, semoga tulisan ini bermanfaat bagi para
pembaca.

Cirebon, 20 Juli 2020

Penulis

.......................
PETUNJUK PENGGUNAAN BUKU
Untuk mengoptimalkan penggunaan buku ini, perhatikanlah pentahapan berikut.
1. Bacalah bagian pendahuluan untuk memahami konsep utuh akidah akhlak, serta memahami
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar dalam kerangka Kurikulum 2013 berdasarkan KMA 183
dan 184 tahun 2019
2. Setiap bab berisi: Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Indikator, Peta Konsep, Proses Pembelajaran
(Ayo Mengamati, Ayo Mendalami, Ayo Diskusi, Ayo Mendalami Karakter dan Ayo Berlatih) dan
Mutiara Hikmah
3. Pada subbab tertentu, penomoran Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar tidak berurutan. Hal ini
menyesuaikan dengan tahap pencapaian Kompetensi Dasar
4. Dalam implementasinya, dimungkinkan adanya pengembangan yang dsesuaikan dengan potensi,
sumber belajar dan lingkungan
5. Dalam setiap bab terdapat cerita kisah teladan yang perlu dicermati sebagai inspirasi untuk lebih
memahami materi yang terkait dengan bab yang dibahas

KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR


Berdasar KMA 183 dan 184 tahun 2019

MAPEL AKIDAH AKHLAK


KELAS X SEMESTER GENAP

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR


1. Menghayati dan mengamalkan 1.1 Menghayati kebesaran Allah dengan al Asma’ al Husna- Nya (al-
ajaran agama yang dianutnya Kariim, al-Mu'min, al-Wakiil, al- Matiin, al- Jami’, al-Hafiidz, al-
Rafii’al-Wahhaab, al-Rakiib, al- Mubdi’, al-Muhyi, al-Hayyu , al-
Qayyuum, al-Aakhir, al- Mujiib, al-Awwal)
1.2 Menghayati kebenaran ajaran Islam wasatiyyah (moderat) sebagai
rahmatan lil ‘alamin
1.3 Menghayati pentingnya mujahadah dan riyadhah
(tazkiyatunnafsi) sebagai ajaran Islam untuk membentuk akhlak
karimah
1.4 Menghayati keutamaan induk sifat-sifat utama yakni: hikmah,
iffah, syaja‘ah dan ‘adalah sebagai pembentuk akhlak karimah
1.5 Menghayati dampak buruk perilaku licik, tamak, zalim dan
diskriminasi sehingga menimbulkan tekad menjauhinya
1.6 Menghayati hikmah dan pentingnya membesuk orang sakit
2. Menunjukkan perilaku jujur, 2.6 Mengamalkan sikap santun dan bijaksana sebagai cermin
disiplin, bertanggung jawab, pemahaman al Asma’ al Husna-Nya (al-Kariim, al- Mukmin,al-
peduli (gotong royong, kerja Wakiil, al- Matiin, al-Jami’, al-Hafiidz, al- Rafii’al-Wahhaab, al-
sama, toleran, damai) santun, Rakiib, al-Mubdi’, al-Muhyi, al- Hayyu , al-Qayyuum, al-Aakhir,
responsif dan pro-aktif al-Mujiib, al-Awwal)
sebagai bagian dari solusi atas 2.7 Mengamalkan sikap kokoh pendirian, moderat dan toleran sebagai
berbagai permasalahan dalam cermin pemahaman Islam washatiyah (moderat) sebagai
berinteraksi secara efektif rahmatan lil ‘alamin
dengan lingkungan sosial dan 2.8 Mengamalkan sikap jujur dan disiplin sebagai cermin pemahaman
alam serta dalam setelah mempelajari mujaahadah dan riyaadhah (tazkiyatunnafsi)
menempatkan diri sebagai 2.9 Mengamalkan sikap hikmah, iffah, syaja‘ah dan ‘adalah
cerminan bangsa dalam 2.10 Mengamalkan sikap kerja sama dan peduli sebagai cermin
pergaulan dunia pemahaman menghindari perilaku tercela licik, tamak, zalim, dan
diskriminasi
2.11 Mengamalkan sikap peduli, responsif dan pro-aktif sebagai
cermin pemahaman dari adab membesuk orang sakit
3 Memahami, menerapkan, 3.1 Menganalisis makna al-Asama’u al-husna (al-Kariim, al-
menganalisis pengetahuan Mukmin,al-Wakiil, al- Matiin, al-Jami’, al-Hafiidz, al- Rafii’al-
faktual, konseptual, prosedural Wahhaab, al-Rakiib, al-Mubdi’, al-Muhyi, al- Hayyu , al-
dan metakognitif berdasarkan Qayyuum, al-Aakhir, al-Mujiib, al-Awwal)
rasa ingin tahunya tentang 3.2 Menganalisis makna, dalil dan ciri-ciri Islam washatiyah
ilmu pengetahuan, tehnologi, (moderat) dan ciri-ciri pemahaman Islam radikal
seni, budaya, dan humaniora 3.3 Menganalisis hakikat dan sifat dasar nafsu syahwat dan ghadlab;
dengan wawasan kemanusiaan, serta cara menundukkannya melalui mujaahadah dan riyaadhah
kebangsaan, kenegaraan, dan (tazkiyatunnafsi)
peradaban terkait penyebab 3.4 Menganalisis makna dan keutamaan induk sifat-sifat utama
fenomena dan kejadian, serta yakni: hikmah, iffah, syaja‘ah dan ‘adalah
menerapkan pengetahuan 3.5 Menganalisis sebab-sebab, contoh, dan cara menghindari
prosedural pada bidang kajian perilaku licik, tamak, zhalim, dan diskriminasi
yang spesifik sesuai dengan 3.6 Menganalisis adab dan hikmah mengunjungi orang sakit
bakat dan minatnya untuk
memecahkan masalah
4. Mengolah, menalar, dan 4.1 Menyajikan hasil analisis tentang makna al-Asama’u al- husna (al-
menyaji dalam ranah konkret Kariim, al-Mukmin,al-Wakiil, al- Matiin, al- Jami’, al-Hafiidz, al-
dan ranah abstrak terkait Rafii’al-Wahhaab, al-Rakiib, al- Mubdi’, al-Muhyi, al-Hayyu , al-
dengan pengembangan dari Qayyuum, al-Aakhir, al- Mujiib, al-Awwal)
yang dipelajarinya di sekolah 4.2 Menyajikan hasil analisis tentang makna, dalil dan ciri- ciri Islam
secara mandiri, dan mampu washatiyah (moderat) dan ciri-ciri pemahaman Islam radikal
menggunakan metode sesuai 4.3 Menyajikan hasil analisis tentang hakikat dan sifat dasar nafsu
kaidah keilmuan syahwat dan ghadlab; serta cara menundukkannya melalui
mujaahadah dan riyaadhah (tazkiyatunnafsi)
4.4 Mengomunikasikan hasil analisis tentang keutamaan induk
sifat-sifat utama yakni: hikmah, iffah, syaja‘ah dan ‘adalah
sebagai pembentuk akhlak karimah
4.5 Menyajikan hasil analisis tentang sebab-sebab, contoh, dan cara
menghindari licik, tamak, zhalim, dan diskriminasi
4.6 Menyajikan hasil analisis tentang adab hikmah mengunjungi
orang sakit

PEMETAAN KOMPETENSI
MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK
Berdasarkan KMA 183 Tahun 2019
Kelas X / Semester Genap

KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya


KI 2 : Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli (gotong royong,
kerja sama, toleran, damai), santun, responsif, dan pro-aktif sebagai bagian dari solusi
atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan
sosial dan alam serta menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan
dunia
KI3 : Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KI 4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan

KOMPETENSI DASAR INDIKATOR


1.6 Menghayati kebesaran Allah dengan 1.6.1 Menghayati kebesaran Allah dengan
al-Asma` al-Husna Nya (al-Kariim, mengamalkan ajaran agama melalui
al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al- Asma’ul husna
Jaami‘, al-Hafiidz, al-Rofii’, al- 1.6.2 Membenarkan bahwa Allah al- Kariim
Wahhaab, al-Rakiib, al-Mubdi’, al- (Maha Mulia), al-Mu’min (Maha Memberi
Muhyi, al-Hayyu,al-Qoyyuum, al- Rasa Aman), al-Wakiil (Maha
Aakhir, al-Mujiib, dan al-Awwal) Mewakilkan), al-Matiin (Maha Kokoh),
al-Jaami’ (Maha Menghimpun), al-
Hafiidz (Maha Memelihara), al- Rofii’
(Maha Meninggikan), al- Wahhaab (Maha
Memberi), al- Rakiib (Maha Mengawasi),
al- Mubdi’ (Maha Memulai), al-
Muhyi(Maha Menghidupkan), al- Hayyu
(Maha Hidup), al- Qayyuum,(Maha
Berdiri Sendiri), al- Aakhir (Yang
Terakhir), al-Mujiib (Maha Mengabulkan
Do’a), dan al- awwal (Yang Pertama)
2.6 Mengamalkan sikap santun dan 2.6.1 Membiasakan diri memiliki sikap
bijaksana sebagai cermin santun
pemahaman al-Asma` al-Husna dan bijaksana sebagai cermin
(al- Kariim, al-Mu’min, al- pemahaman al-Asma` al-Husna (al-
Wakiil, al- Matiin, al-Jaami‘, al- Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-
Hafiidz, al- Rofii’, al-Wahhaab, Matiin, al-Jaami‘, al-Hafiidz, al-
al-Rakiib, al- Mubdi’, al-Muhyi, Rofii’, al-Wahhaab, al-Rakiib, al-
al-Hayyu,al- Qoyyuum, al-Aakhir, Mubdi’, al- Muhyi, al-Hayyu,al-
al-Mujiib, dan al-Awwal) Qoyyuum, al- Aakhir, al-Mujiib, dan
al-Awwal)

3.6 Menganalisis makna al-Asma` 3.6.1 Menafsirkan pengertian al-Asma’


al- Husna (al-Kariim, al- al- husna
Mu’min, al- Wakiil, al-Matiin, 3.6.2 Menafsirkan arti dan makna al-Asma`
al-Jaami‘, al- Hafiidz, al-Rofii’, al-Husna (al-Kariim, al-Mu’min, al-
al-Wahhaab, al- Rakiib, al- Wakiil, al-Matiin, al-Jaami‘, al-
Mubdi’, al-Muhyi, al- Hayyu,al- Hafiidz, al-Rofii’, al-Wahhaab, al-
Qoyyuum, al-Aakhir, al- Mujiib, Rakiib, al- Mubdi’, al-Muhyi, al-
dan al-Awwal) Hayyu,al- Qoyyuum, al-Aakhir, al-
Mujiib, dan al- Awwal)
3.6.3 Menelaah dalil (al-Qur’an atau
Hadits )
tentang al-Asma` al-Husna (al-
Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-
Matiin, al- Jaami‘, al-Hafiidz, al-
Rofii’, al- Wahhaab, al-Rakiib, al-
Mubdi’, al- Muhyi, al-Hayyu,al-
Qoyyuum, al- Aakhir, al-Mujiib, dan
al-Awwal)
3.6.4 Menganalisis makna al-Asma` al-
Husna (al-Kariim, al-Mu’min, al-
Wakiil, al- Matiin, al-Jaami‘, al-
Hafiidz, al-Rofii’, al-Wahhaab, al-
Rakiib, al-Mubdi’, al- Muhyi, al-
Hayyu,al-Qoyyuum, al- Aakhir, al-
Mujiib, dan al-Awwal)

4.6 Menyajikan hasil analisis tentang 4.6.1 Mengidentifikasi contoh perilaku


makna al-Asma` al-Husna (al- Kariim, al- sehari- hari yang mencerminkan makna
Mu’min, al-Wakiil, al- Matiin, al-Jaami‘, al- Asma` al-Husna (al-Kariim, al-
al-Hafiidz, al- Rofii’, al-Wahhaab, al- Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-
Rakiib, al- Mubdi’, al-Muhyi, al-Hayyu,al- Jaami‘, al- Hafiidz, al-Rofii’, al-
Qoyyuum, al-Aakhir, al-Mujiib, dan al- Wahhaab, al- Rakiib, al-Mubdi’, al-
Awwal) Muhyi, al- Hayyu,al-Qoyyuum, al-
Aakhir, al- Mujiib, dan al-Awwal)
4.6.2 Mempresentasikan hasil analisis
tentang makna al-Asma` al-Husna (al-
Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-
Matiin, al- Jaami‘, al-Hafiidz, al-
Rofii’, al- Wahhaab, al-Rakiib, al-
Mubdi’, al- Muhyi, al-Hayyu,al-
Qoyyuum, al- Aakhir, al-Mujiib, dan
al-Awwal)

BAB VI
AL- ASMA’ AL-HUSNA

1. Pengertian al- Asma’ al-Husna


Dalam Islam, mengetahui, memahami, dan meyakini nama-nama dan sifat-sifat Allah menempati
kedudukan yang sangat tinggi. Seseorang tidak mungkin menyembah Allah dengan cara yang
sempurna sampai ia benar-benar mengetahui dan meyakini nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dengan
dilandasi pengetahuan dan keyakinan terhadap nama dan sifat-Nya itulah, seseorang dapat
menyertakan mata hatinya (bashirah) saat menyembah kepada Allah Swt.

”Hanya milik Allah al-Asma’ al-Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-
Asma’ al-Husna itu” (QS. al- A’raf [7] : 180)

Al-Asma’ al-Husna berasal dari bahasa Arab (al-Asma’ al-Husna) artinya nama-nama
Allah yang indah dan baik. Asma berarti nama (penyebutan) dan husna berarti yang baik atau yang
indah, jadi al-Asma’ al-Husna adalah nama-nama milik Allah yang baik dan yang indah.

Al-Asma’ al-Husna secara harfiah adalah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang baik dan agung
sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan
yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Allah. Nama-nama Allah itu adalah nama yang
baik dan sempurna, sedikitpun tidak ada kekurangannya dan tidak boleh diserupakan dengan yang
yang lainnya.

Al-Asma’ al-Husna adalah nama-nama Allah yang indah. Jumlahnya ada 99 nama, seperti tersebut
dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, al Turmudsi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah
bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda :

“Sesungguhnya bagi Allah 99 nama, barang siapa yang menghafalnya ia akan masuk surga. Dan
sesungguhnya Allah itu ganjil (tidak genap) menyukai akan yang ganjil” (HR. Imam Baihaqi).

2. Mengkaji 16 Asma’ul Husna


a. Al- Kariim (Yang Maha Mulia)
Al-Karim Secara bahasa, al-Karim mempunyai arti Yang Mahamulia, Yang Maha Dermawan
atau Yang Maha Pemurah. Secara istilah, al-Karim diartikan bahwa Allah Swt. Yang Mahamulia
lagi Maha Pemurah yang memberi anugerah atau rezeki kepada semua makhlukNya. Dapat pula
dimaknai sebagai Zat yang sangat banyak memiliki kebaikan, Maha Pemurah, Pemberi Nikmat dan
keutamaan, baik ketika diminta maupun tidak. Hal tersebut sesuai dengan firman-Nya:

Artinya : “Hai manusia apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhan Yang Maha
Pemurah?” (QS. al-Infitar:6)

Al-Karim dimaknai Maha Pemberi karena Allah Swt. senantiasa memberi, tidak pernah
terhenti pemberian-Nya. Manusia tidak boleh berputus asa dari kedermawanan Allah Swt. jika
miskin dalam harta, karena kedermawananNya tidak hanya dari harta yang dititipkan melainkan
meliputi segala hal. Manusia yang berharta dan dermawan hendaklah tidak sombong jika telah
memiliki sifat dermawan karena Allah Swt. tidak menyukai kesombongan. Dengan demikian, bagi
orang yang diberikan harta melimpah maupun tidak dianugerahi harta oleh Allah Swt., keduanya
harus bersyukur kepada-Nya karena orang yang miskin pun telah diberikan nikmat selain harta.

Al-Karim juga dimaknai Yang Maha Pemberi Maaf karena Allah Swt. memaafkan dosa para
hamba yang lalai dalam menunaikan kewajiban kepada Allah Swt., kemudian hamba itu mau
bertaubat kepada Allah Swt. Bagi hamba yang berdosa, Allah Swt. adalah Yang Maha Pengampun.
Dia akan mengampuni seberapa pun besar dosa hamba-Nya selama ia tidak meragukan kasih sayang
dan kemurahan-Nya.
Menurut imam al-Gazali, al-Karim adalah Dia yang apabila berjanji, menepati janjinya, bila
memberi, melampaui batas harapan, tidak peduli berapa dan kepada siapa Dia memberi dan tidak
rela bila ada kebutuhan dia memohon kepada selain- Nya, meminta pada orang lain. Dia yang bila
kecil hati menegur tanpa berlebih, tidak mengabaikan siapa yang menuju dan berlindung kepada-
Nya, dan tidak membutuhkan sarana atau perantara.
b. Al- Mukmin (Yang Maha Keamanan)
Al-Mu’min secara bahasa berasal dari kata amina yang berarti pembenaran, ketenangan hati,
dan aman. Allah Swt. al-Mu’min artinya Dia Maha Pemberi rasa aman kepada semua makhluk-
Nya, terutama kepada manusia. Dengan begitu, hati manusia menjadi tenang. Kehidupan ini penuh
dengan berbagai permasalahan, tantangan, dan cobaan. Jika bukan karena Allah Swt. yang
memberikan rasa aman dalam hati, niscaya kita akan senantiasa gelisah, takut, dan cemas.
Perhatikan firman Allah Swt.

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik,
mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.” (QS. al-
An’am/6:82).

Ketika kita akan menyeru dan berdoa kepada Allah Swt. dengan namaNya al-Mu’min, berarti
kita memohon diberikan keamanan, dihindarkan dari fitnah, bencana dan siksa. Karena Dialah Yang
Maha Memberikan keamanan, Dia yang Maha Pengaman. Dalam nama al-Mu’min terdapat
kekuatan yang dahsyat dan luar biasa. Ada pertolongan dan perlindungan, ada jaminan (insurense),
dan ada bala bantuan. Berzikir dengan nama Allah Swt. al- Mu’min di samping menumbuhkan dan
memperkuat keyakinan dan keimanan kita, bahwa keamanan dan rasa aman yang dirasakan manusia
sebagai makhluk adalah suatu rahmat dan karunia yang diberikan dari sisi Allah Swt.
Sebagai al-Mu’min, yaitu Tuhan Yang Maha Pemberi Rasa Aman juga terkandung pengertian
bahwa sebagai hamba yang beriman, seorang mukmin dituntut mampu menjadi bagian dari
pertumbuhan dan perkembangan rasa aman terhadap lingkungannya. Mengamalkan dan meneladani
al- Asma’u al-Husna al-Mu’min, artinya bahwa seorang yang beriman harus menjadikan orang yang
ada di sekelilingnya aman dari gangguan lidah dan tangannya. Berkaitan dengan itu, Rasulullah saw.
bersabda: “Demi Allah tidak beriman.
Demi Allah tidak beriman. Demi Allah tidak beriman. Para sahabat bertanya, ‘Siapa ya Rasulullah
saw.?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Orang yang tetangganya merasa tidak aman dari gangguannya.’”
(HR. Bukhari dan Muslim).

c. Al- Wakil (Yang Maha Mewakili)


Kata “al-Wakil” mengandung arti Maha Mewakili atau Pemelihara. Al-Wakil (Yang Maha
Mewakili atau Pemelihara), yaitu Allah Swt. yang memelihara dan mengurusi segala kebutuhan
makhluk-Nya, baik itu dalam urusan dunia maupun urusan akhirat. Dia menyelesaikan segala
sesuatu yang diserahkan hambanya tanpa membiarkan apa pun terbengkalai. Firman-Nya dalam al-
Qur’an:

Artinya: “Allah Swt. pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu.” (QS.
az-Zumar/39:62)
Dengan demikian, orang yang mempercayakan segala urusannya kepada Allah Swt., akan
memiliki kepastian bahwa semua akan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Hal itu hanya dapat
dilakukan oleh hamba yang mengetahui bahwa Allah Swt. yang Mahakuasa, Maha Pengasih adalah
satu-satunya yang dapat dipercaya oleh para hamba-Nya. Seseorang yang melakukan urusannya
dengan sebaik-baiknya dan kemudian akan menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt. untuk
menentukan karunia-Nya. Menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah Swt. melahirkan sikap
tawakkal.

Hamba al-Wakil adalah yang bertawakkal kepada Allah Swt. Ketika hamba tersebut telah
melihat “tangan” Allah Swt. dalam sebab-sebab dan alasan segala sesuatu, dia menyerahkan seluruh
hidupnya di tangan al-Wakil.
d. Al- Matin (Yang Maha Kukuh)
Al-Matin artinya Maha kukuh. Allah Swt. adalah Maha sempurna dalam kekuatan dan
kekukuhan-Nya. Kekukuhan dalam prinsip sifat-sifat-Nya. Allah Swt. juga Maha kukuh dalam
kekuatan-kekuatan-Nya. Oleh karena itu, sifat al-Matin adalah kehebatan perbuatan yang sangat
kokoh dari kekuatan yang tidak ada taranya. Dengan begitu, kekukuhan Allah Swt. yang memiliki
rahmat dan azab terbukti ketika Allah Swt. memberikan rahmat kepada hamba-hamba-Nya. Tidak
ada apa pun yang dapat menghalangi rahmat ini untuk tiba kepada sasarannya. Demikian juga tidak
ada kekuatan yang dapat mencegah pembalasan-Nya.

Seseorang yang menemukan kekuatan dan kekukuhan Allah Swt. akan membuatnya menjadi
manusia yang tawakkal, memiliki kepercayaan dalam jiwanya dan tidak merasa rendah di hadapan
manusia lain. Ia akan selalu merasa rendah di hadapan Allah Swt. Hanya Allah Swt. yang Maha
Menilai.
e. Al- Jami’ (Yang Maha Mengumpulkan)
Al-Jami’ secara bahasa artinya Yang Maha Mengumpulkan/ Menghimpun, yaitu bahwa
Allah Swt. Maha Mengumpulkan/Menghimpun segala sesuatu yang tersebar atau terserak. Allah
Swt. Maha Mengumpulkan apa yang dikehendaki- Nya dan di mana pun Allah Swt. berkehendak.
Penghimpunan ini ada berbagai macam bentuknya, di antaranya adalah mengumpulkan seluruh
makhluk yang beraneka ragam, termasuk manusia dan lain-lainnya, di permukaan bumi ini dan
kemudian mengumpulkan mereka di padang mahsyar pada hari kiamat. Allah Swt. berfirman:

Artinya: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima
pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah Swt. tidak menyalahi
janji.”(QS. Ali Imran/3:9).
Allah Swt. akan menghimpun manusia di akhirat kelak sama dengan orangorang yang satu
golongan di dunia. Hal ini bisa dijadikan sebagai barometer, kepada siapa kita berkumpul di dunia
itulah yang akan menjadi teman kita di akhirat. Walaupun kita berjauhan secara fisik, akan tetapi
hati kita terhimpun, di akhirat kelak kita juga akan terhimpun dengan mereka. Begitupun sebaliknya
walaupun kita berdekatan secara fisik akan tetapi hati kita jauh, maka kita juga tidak akan
berkumpul dengan mereka.
Oleh sebab itu, apabila di dunia hati kita terhimpun dengan orang-orang yang selalu
memperturutkan hawa nafsunya, di akhirat kelak kita akan berkumpul dengan mereka di dalam
neraka. Karena orang-orang yang selalu memperturutkan hawa nafsunya, tempatnya adalah di
neraka.
Begitupun sebaliknya, apabila kecenderungan hati kita terhimpun dengan orang-orang yang
beriman, bertakwa dan orang-orang saleh, di akhirat kelak kita juga akan terhimpun dengan mereka.
Karena tidaklah mungkin orang-orang beriman hatinya terhimpun dengan orangorang kafir dan
orang-orang kafir juga tidak mungkin terhimpun dengan orang-orang beriman.
Allah Swt. juga mengumpulkan di dalam diri seorang hamba ada yang lahir di anggota tubuh
dan hakikat batin di dalam hati. Barang siapa yang sempurna ma’rifatnya dan baik tingkah lakunya,
maka ia disebut juga sebagai al-Jami’. Dikatakan bahwa al-Jāmi’ ialah orang yang tidak padam
cahaya ma’rifatnya.

f. Al- Hafidz (Yang Maha Pemelihara)


Al-Hafidz artinya Yang Maha Pemelihara. Allah Maha Hafiidz berarti Allah sebagai Dzat Yang
Maha memelihara. Allah lah yang memelihara seluruh makhluk-Nya, termasuk langit dan bumi
yang kita huni ini.

”Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling
dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya” ([Link]-Anbiya’ [ 21 ]:32).

Asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras dalam Syarh Nuniyyah Ibnul Qayyim, mengatakan
asma Allah al-Hafidz, memiliki dua makna yang pertama, bahwa Dia menjaga/memelihara
apa yang dilakukan oleh hamba-Nya berupa amal baik atau amal buruk, yang makruf atau yang
mungkar, taat atau maksiat.
Yang kedua bahwa Allah adalah al-Hafidz, yakni yang menjaga hamba-hamba-Nya dari
segala hal yang tidak mereka sukai. Allah menghendaki agar manusia mampu mengambil
keteladanan dari sifat-Nya itu. Sebab, Dia telah menganugerahkan potensi kepada kita untuk
dapat melakukannya, maka marilah kita memelihara dan menjaga keimanan kita kepada Allah,
memelihara kebaikan, ketaatan, kemurnian niat dengan mengharap keridhaan Allah.
g. Al- Rafi’ (Yang Maha Meninggikan)

Al-Rafi’ artinya Yang Maha Meninggikan. Allah al- Rafi’ artinya Dzat Yang Maha
mengangkat atau meninggikan derajat hamba-hamba-Nya. Allah meninggikan status para
kekasih-Nya serta memberi mereka kemenangan atas musuh-musuh-Nya.
Imam al-Ghazali memaknai al-Rafii’ sebagai Dzat yang meninggikan orang-orang mukmin
dengan kebahagiaan dan surga, serta meninggikan para wali-Nya dengan kedekatan kepada-Nya.

”Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. al Mujadilah [58]:11)

Allah Maha meninggikan derajat siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena-Nya tinggikanlah
agama Allah dalam berbagai aspek kehidupan agar Allah pun meninggikan derajat kita sebagai
hamba-Nya. Bekerja dan berusahalah secara sungguh-sungguh, meningkatkan kemampuan diri,
disiplin, serta menjunjung tinggi profesionalisme dan tanggung jawab.

h. Al- Wahhab (Yang Maha Pemberi)


Al- Wahhab artinya Yang Maha Pemberi. Allah al- Wahhab adalah Dzat yang maha
memberi tanpa batas, Dia memberi tanpa diminta, dan tanpa meminta balasannya. Dia Allah,
memberikan rahmat kepada makhluk-Nya tanpa pamrih, karena Dia tak membutuhkan apapun
kepada makhluk-Nya. Imam al-Ghazali mengatakan bahwa Dia memberi berulang-ulang, bahkan
berkesinambungan, tanpa mengharapkan imbalan, baik duniawi maupun ukhrawi.
Allah adalah Dzat yang memberi hidup dan kehidupan, memberi karunia pada kita berupa
kecukupan, kesehatan, dan kekuatan. Dialah Dzat yang telah memberi kita otak, hati, pendengaran
dan penglihatan, kebahagiaan, keberhasilan, di samping makanan dan minuman, pasangan dan
keturunan dan lain sebagainya.

”Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa
yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki,” (QS. as-
Syura[42]:49-50).
Hendaklah kita senang memberi terutama pada orang-orang yang membutuhkan, dan dalam
memberi hendaknya kita tidak menghitung-hitung, termasuk dalam memberikan harta kepada
sesama yang membutuhkan.
i. Al- Raqib (Yang Maha Mengawasi)
Al-Raqib artinya Yang Maha Mengawasi. Al-Raqib, Maha Mengawasi, Allah yang menjadikan
hamba-Nya selalu berada dalam pengawasan-Nya. Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah
berkata: ”al-Raqib adalah Dzat yang maha memperhatikan dan mengawasi semua hamba-Nya
ketika mereka bergerak (beaktifitas) maupun ketika mereka diam, (mengetahui) apa yang mereka
sembunyikan maupun yang mereka tampakkan, dan (mengawas) semua keadaan mereka.

”Kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu
kamu melakukannya.” (QS. Yunus[10]:61)
Pengawasan Allah bersifat menyeluruh dan total. Dia menjaga segala sesuatu, mengawasinya,
hingga tak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya. Dengan memahami dan menghayati asma Allah
al-Rakiib, akan tumbuh dalam diri seseorang pengawasan dan kontrol terhadap perbuatan lahiriah
maupun batiniahnya. Hal ini karena dia menyadari bahwa Allah mengawasi semuanya, yang lahir
ataupun yang batin, yang besar ataupun yang kecil, ucapan ataupun perbuatan, bahkan juga niat.
j. Al- Mubdi’u (Yang Maha Memulai)
Al-Mubdi’u artinya Yang Maha Memulai. Allah, Dia lah yang memulai semuanya. Memulai
keberadaan alam beserta isinya melalui kemampuan-Nya mencipta. Dia menciptakan sesuatu dari
tiada, maka wujudlah segala yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana diciptakan Nabi Adam sebagai
manusia yang paling awal diciptakan oleh Allah Swt.

”Allah menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya


kembali; kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (QS. al-Rum [30] :11)
Allah Maha Memulai, maka marilah kita meneladaninya dengan memulai untuk banyak
berbuat, dan mulai mempersiapkan diri dalam segala hal.
k. Al- Muhyi (Yang Maha Menghidupkan)
Al-Muhyi artinya Yang Maha Menghidupkan. Allah menciptakan manusia, menghidupkan,
mematikan, kemudian menghidupkan kembali pada hari kiamat. Tidak ada yang menciptakan
kehidupan dan kematian kecuali hanya Allah Swt.

”Dan Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian
menghidupkan kamu (lagi), Sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari
nikmat” (QS. al-Hajj [22]:66)
Bagi orang-orang munafik dan kaum kafir, Allah menjadikan kualitas hidup mereka rendah
dalam pandangan-Nya. Kemudian pada hari kiamat nanti, mereka akan dibangkitkan dalam keadaan
jauh lebih hina dan hidup dalam siksa derita.
Dengan mengimani bahwa Allah lah yang Maha Menghidupkan, kita mengetahui betapa
besarnya kemampuan Allah, karena Dia lah yang menghidupkan segala sesuatu. Maka hendaklah
seseorang selalu menyerahkan dan menggantungkan segala urusannya kepada Allah dan kembali
kepada-Nya dengan menghidupkan segala petunjuk dengan perbuatan ta’atnya. Menghidupkan
syi’ar Islam dalam kehidupan, menghidupkan semangat untuk maju, menghidupi diri sendiri, orang
tua dan keluarga,dan lain sebagainya.
l. Al- Hayyu (Yang Maha Hidup)
Al-hayyu artinya Yang Maha Hidup. Allah adalah Dzat yang tak mungkin mengalami
kematian. Sifat hidup-Nya merupakan sifat yang niscaya, mutlak dan tidak mengalami penyusutan,
kerusakan atau peniadaan.

”Dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan
memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa hamba-hamba- Nya” (QS. al-
Furqan [25]:58)
Hidupnya Allah berbeda dengan hidupnya makhluk. Allah hidup tanpa kaif (bagaimana
caranya) dan juga tanpa aina (di mana [di mana tempatnya] ). Dia tidak ada dalam sesuatu dan
tidak ada di atas sesuatu. Kehidupan Allah terlepas dari pembatasan waktu, tidak seperti kehidupan
makhluk yang diusahakan dan diabatasi oleh titik permulaan dan titik akhir.
Allah Maha Hidup (al-Hayyu). Dengan sifat-Nya itu, Dia seolah ingin menegaskan kepada
hamba-Nya mengenai pentingnya memaknai hidup yang dijiwai oleh keimanan kepada-Nya.
Seorang hamba yang meneladani asma Allah al-Hayyu, selalu menjadikan Allah sebagi pusat
ketergantungan dan ketundukan dalam segala usaha dan permohonan. Ia meyakini bahwa Allah lah
yang memberikan kehidupan dan yang mengurus kehidupannya. Maka dengan kemandirian dan
usaha maksimal, ia terus meraih hidup yang bermakna, menghargai hak hidup orang lain,
membantu sesama dalam memenuhi hak hidup

m. Al- Qayyum (Yang Maha Berdiri Sendiri)


Al-Qayyum artinya Yang Maha Berdiri Sendiri. Allah al-Qoyyum adalah Dzat yang maha
mengelola dan tidak pernah alpa. Al-Qoyyum bersifat hiperbolis, memiliki makna ”memelihara”,
mengaktualisasikan”, ”mengatur”, ”mendidik”, ”mengawasi”, dan ”menguasai sesuatu”.
Pengelolaan terhadap semesta ini dilakukan Allah secara sendirian, tanpa bantuan atau pertolongan
siapapun, baik pertolongan para malaikat, para penyangga ’Arsy dan seluruh penghuni langit dan
bumi.

”Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus
menerus mengurus (makhluk-Nya)” (QS. al-Baqarah [2]: 255)
n. Al- Akhir (Yang Maha Akhir)
Al-Akhir artinya Yang Maha Akhir, yang tidak ada sesuatu pun setelah Allah Swt. Allah al-
Akhir menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat yang ”mengakhiri” segalanya. Allah lah Tuhan, tiada
Tuhan setelah-Nya. Allah lah sang Pencipta, tiada Sang Pencipta setelah-Nya. Allah lah penentu
kehidupan manusia, tiada Penentu selain-Nya.

”Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala
sesuatu” (QS. al-Hadid [57] :3)

Sebagai Dzat Yang Maha Akhir, Allah Swt. akan tetap abadi dan kekal. Keabadian dan
kekekalan Allah Swt. menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya tempat bergantung atas segala
urusannya, baik urusan dunia maupun urusan yang akan kita bawa sampai ke akhirat kelak.
Sungguh sangat merugi orang-orang yang menggantungkan hidupnya pada selain Allah, karena
sesungguhnya setiap yang ada di langit dan bumi ini akan hancur. Akan tetapi jika kita bersandar
penuh pada sang Maha Kekal, pastinya kita tidak akan hancur dan terjerumus dalam kesesatan.
Orang yang mengesakan al-Akhir akan menjadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya tujuan hidup
yang tiada tujuan hidup selain-Nya, tidak ada permintaan selain-Nya, dan segala kesudahan hanya
tertuju kepada-Nya.
Setelah memahami dan meyakini bahwa Allah adalah al-Akhir, kita menyadari bahwa tujuan
akhir kita adalah kembali kepada Allah Swt. maka sejatinya tidak menunda-nunda dalam berbuat
kebaikan. Justru, kita harus berusaha menyegerakan dan memperbanyak amal saleh sebagai
persiapan dalam menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
o. Al- Mujib (Yang Maha Mengabulkan Doa)
Al-Mujib artinya Yang Maha Mengabulkan Doa. Al- Mujib adalah nama Allah yang dengan
sifat ini Dia mengabulkan atau memperkenankan semua permintaan atau permohonan hamba-Nya.
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, ”Dialah al-Mujib. Dia mengatakan. ’Siapa yang
berdoa,’ Akulah yang menjawab setiap orang yang memanggil-Ku.’ Dialah yang mengabulkan doa
orang yang terhimpit ketika memohon kepada-Nya, dalam keadaan tersembunyi atau terang-
terangan.”
Menurut Imam al-Ghazali, al-Mujib yaitu yang menyambut permintaan para peminta dengan
memberinya, menyambut doa yang berdoa dengan mengabulkannya, memberi sebelum dimintai
dan melimpahkan anugerah sebelum dimohonkan. Hal ini hanya bisa dilakukan oleh Allah
karena Dia lah yang mengetahui kebutuhan dan hajat setiap makhluk. Itu sebabnya Allah
menyuruh kita berdoa kepada-Nya :

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.

Seorang hamba yang meneladani asma Allah al-Mujib, akan selalu memenuhi seruan- seruan Allah
dan rasul-Nya. Ia juga tak pernah bosan memohon kepada Allah. Iya sadar bahwa doa merupakan
ibadah. Doa merupakan titik temu terdekat antara hamba dengan Rabbnya. Doa adalah senjata,
benteng, obat dan pintu segala kebaikan. Ia juga akan selalu berusaha untuk memenuhi
permintaan orang lain, selama dalam batas kemampuannya dan tidak bertentangan dengan syari’at,
baik materi ataupun non materi. Rasulullah Saw. Pun menunjukkan bahwa beliau tidak pernah
menolak permohonan yang ditujukan kepadanya.
p. Al- Awwal (Yang Pertama)
Al-Awwal artinya Yang Pertama. Allah al-Awwal adalah Dia lah Yang Pertama. Namun Dia
juga Yang Terakhir. Hal ini sebagaiman ditegaskan dalam al- Qur’an :
”Dialah yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui segala
sesuatu” (QS. al- Hadid [57] :3)

Imam Ali bin Abi Thalib melukiskan sifat Allah al-Awwal yaitu”Dia yang awal yang bagi-Nya
tiada’sebelum’, sehingga mustahil ada sesuatu sebelum-Nya”. Allah al-Awwal berarti Allah yang
mengawali semuanya. Keberadaan alam ini beserta isinya diawali oleh keberadan-Nya. Sebagai
yang awal, tentu tidak ada yang mengawali-Nya. Itulah sebabnya Dia disebut al-Awwal. Hal ini
menuntut seorang hamba agar memperhatikan keutamaan Rabbnya dalam setiap nikmat, baik
berupa nikmat agama ataupun dunia, dimana sebab musababnya berasal dari Allah. Hamba yang
meneladani asma Allah al- Awwal, akan selalu menjadi manusia yang the best of the best dan yang
pertama dalam melaksnakan amar makruf nahi munkar. Semua itu ia lakukan demi mendapatkan
akhir yang husnul khatimah.
BAB VII
ISLAM WASHATIYAH SEBAGAI RAHMATAN LIL ALAMIN

1. Islam Washatiyah
a. Menelaah Makna dan Dalil Islam Washatiyah
Secara bahasa, kata washatiyah berasal dari kata wasatha ( ‫ ) طسو‬yang berarti adil atau
sesuatu yang berada di pertengahan. Ibnu ’Asyur mendefinisikan kata ”wasath” dengan dua
makna. Pertama, definisi menurut etimologi, kata wasath berarti sesuatu yang ukurannya
sebanding. Kedua, definisi menurut terminologi bahasa, makna wasatha adalah nilai-nilai Islam
yang dibangun atas dasar pola pikir yang lurus dan pertengahan, tidak berlebihan dalam hal
tertentu.
Islam Washatiyah adalah yakni Islam tengah diantara dua titik ekstrem yang saling berlawanan,
yaitu antara taqshir (meremehkan) dan ghuluw (berlebih- lebihan) atau antara liberalisme dan
radikalisme. Islam Washatiyah berarti Islam jalan tengah. Tidak terlibat kekerasan, sampai
pembunuhan, terbuka dan berada di atas untuk semua golongan. Hal ini berdasarkan Sabda Rasul :

”Pilihlah perkara yang berada diantara dua hal dan sebaik-baik persoalan adalah sikap paling
moderat (tengah).”(HR. Baihaqi)
Islam Wasathiyah, selanjutnya dikenal dengan Islam moderat, adalah Islam yang cinta damai,
toleran, menerima perubahan demi kemaslahatan, perubahan fatwa karena situasi dan kondisi, dan
perbedaan penetapan hukum karena perbedaan kondisi dan psikologi seseorang adalah adil dan
bijaksana.
Allah berfiraman dalam Qur’an Surat al-Baqarah ayat 143 :

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath (adil)
dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad)
menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. al-Baqarah [2]: 143).

Wasath atau jalan tengah dalam beragama Islam dapat diklasifikasi ke dalam empat lingkup yaitu:
1) Wasath dalam persoalan akidah. Dalam persoalan iman kepada yang ghaib, diproyeksikan
dalam bentuk keseimbangan pada batas-batas tertentu.
2) Wasath dalam persoalan ibadah. Dalam masalah ibadah menyeimbangkan antara hablum
minallah dan hablum minannas
3) Wasath dalam persoalan perangai dan budi pekerti. Dalam persoalan perangai dan budi pekerti,
Islam memerintahkan manusia untuk bisa menahan dan mengarahkan hawa nafsunya agar
tercipta budi pekerti yang luhur (akhlakul karimah) dalam kehidupan sehari-hari.
4) Wasath dalam persoalan tasyri’ (pembentukan syari’ah). Selalu tunduk dan patuh pada syari’at
Allah dan menjaga keseimbangan tasyri’ dalam Islam yaitu penentuan halal dan haram yang
selalu mengacu pada alasan manfaat-madarat, suci-najis, serta bersih kotor.

b. Ciri-ciri Islam Washatiyah


Pemahaman dan praktik amaliah keagamaan seorang muslim moderat (wasathiyah) memiliki
ciri-ciri sebagi berikut :
1) Tawassuth (mengambil jalan tengah)
2) Tawazun (berkeseimbangan)
3) I’tidal (lurus dan tegas)
4) Tasamuh (toleransi)
5) Musawah (persamaan)
6) Syura (musyawarah)
7) Ishlah (reformasi)
8) Aulawiyah (mendahulukan yang peroritas)
9) Tathawur wa ibtikar (dinamis dan inovatif)
10) Tahadhdhur (berkeadaban)
c. Islam Washatiyah sebagai Rahmatan Lil Alamin
Islam wasathiyah sejatinya merupakan ajaran ulama nusantara yang selama ini dianut dan
diamalkan oleh umat Islam di nusantara. Namun setelah terjadinya revolusi teknologi informasi,
dimana semua paham keagamaan bisa diakses dengan mudah dan bebas oleh masyarakat, maka
mulailah ajaran keagamaan yang awalnya tidak dikenal di Indonesia dan berkembang di negara
lain, mulai masuk dan diajarkan di Indonesia.
Islam yang rahmatan lil alamin itu adalah Islam wasati, Islam yang moderat, yaitu Islam
Washatiyah.” Islam yang moderat itu dapat dilihat dari cara seseorang berfikir dan bergerak. Cara
berfikir yang moderat adalah tidak terlalu tekstual dan tidak terlalu liberal. ”Tekstual itu kaku
tanpa penafsiran, liberal itu penafsirannya terlalu lebar tanpa batas”.
Islam rahmatan lil alamin adalah Islam yang dinamis dan tidak kaku tetapi juga tidak
memudah-mudahkan masalah. ”tidak galak tetapi juga tidak mencari yang mudah-mudah saja”.
Islam wasathiyah adalah yang bisa menerima NKRI.
2. Radikalisme
a. Makna Radikalisme
Kata radikalisme sebagai turunan kata “radikal” bersifat netral dan tidak terkait dengan
masalah agama. Radikal merupakan sebuah kata yang sering digunakan dalam kajian filsafat.
Radikal berasal dari bahasa Latin yaitu ”radix” yang berarti ”akar”. Secara etimologi kata radikal
mengandung arti segala sesuatu yang sifatnya mendasar sampai ke akar-akarnya atau sampai
pada prinsipnya. Sikap radikal akan mendorong perilaku individu untuk membela secara mati-
matian mengenai suatu kepercayaan, keyakinan, agama atau ideologi yang dianutnya.
Radikalisme dianggap baik karena memiliki asosiasi/konotasi positif dengan progresif dan
inovatif. Sedangkan radikalisme dianggap buruk karena memiliki asosiasi/konotasi negatif dengan
ekstrimisme. Radikalisme dijadikan sebagai salah satu paham atau aliran yang menuntut perubahan
dan pembaharuan sistem sosial dan politik dengan cara kekerasan atau ekstrem.
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab adanya radikalisme diantaranya adalah:
1) Pengetahuan agama yang setengah-setengah melalui proses belajar yang doktriner
2) Memahami Islam dari kulitnya saja tetapi minim wawasan tentang esensi agama
3) Disibukkan oleh masalah sekunder dan melupakan masalah-masalah primer
4) Lemah dalam wawasan sejarah dan sosiologi sehingga fatwa-fatwa mereka sering
bertentangan dengan kemaslahatan umat, akal sehat, dan semangat zaman.
b. Ciri-ciri Radikalisme
1) Intoleransi dengan orang lain yang memiliki perbedaan pandangan dan mengingkari fakta
kebhinekaan .yang ada di Indonesia .
2) Sikap berlebihan. Berlebihan dalam beragama sehingga melanggar hukum dan norma agama.
3) Memaksakan kehendak dengan berbagai dalil termasuk dalil agama. Bahkan ingin mengubah
moral masyarakat beragama dengan cara-cara khawarijiyah (berontak), bukan tajridiyyah
(bertahap, berproses).
4) Menggunakan cara-cara kekerasan, baik verbal ataupun fisik, yang menumbuhkan
kecemasan (teror) dan penghancuran fisik (vandalisme) kepada orang lain yang tidak sepaham.
5) Merasa dirinya paling benar, sehingga tidak mau mendengarkan argumentasi dari kelompok
lain.
c. Islam Menentang Radikalisme
Sikap melampaui batas tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam semua urusan, apalagi
dalam urusan agama. Diantara sikap melampaui batas adalah bersikap radikal dengan segala
bentuknya yang menyelisihi syari’at. Islam melarang ummatnya melampaui batas, dengan
mengamalkan agama yang ekstrem sehingga melebihi batas kewajaran. Sebagaimana sabda
Rasulullah :

“Hindarilah oleh kalian tindakan melampaui batas (ghuluw) dalam beragama sebab sungguh
ghuluw dalam beragama telah menghancurkan orang sebelum kalian.” (HR. an- Nasa’i dan Ibnu
Majah).
BAB VIII
MENUNDUKKAN NAFSU SYAHWAT DAN GADLAB

1. Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu


Nafsu adalah keinginan seseorang atau dorongan hati yang kuat untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Hawa nafsu adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa, baik bersifat positif maupun negatif,
baik bersifat jasmani maupun ruhani. Perbuatan baik ataupun buruk digerakkan oleh nafsu, artinya
menjadi pusat komando segala kegiatan manusia, sekaligus sebagai motor penggerak yang
menggerakkan segala macam tingkah laku manusia. Nafsu itu ibarat seperti sungai dia bisa mengalir
dengan tenang dan bisa meluap atau menghancurkan, dan karena itu perlu dikontrol dengan sistem
bendungan dan irigasi yang baik sehingga memberikan manfaat yang maksimal bagi kehidupan manusia
dan lingkungannya.
2. Memahami Nafsu Syahwat
a. Pengertian Nafsu Syahwat
Secara istilah, nafsu adalah keinginan seseorang atau dorongan hati yang kuat untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Syahwat secara lughawi artinya menyukai atau menyenangi. Yaitu kecintaan
terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai hatinya.
Maka hakikat syahwat (keinginan) nafsu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang sesuai
dengan tabi’atnya (watak) dan menjauhi sesuatu yang tidak disukai dan dicintai. Akan tetapi,
sebenarnya keberadaan syahwat pada manusia itu tidak tercela, karena terdapat faedah dan manfaat
didalamnya. Celaan itu tertuju jika manusia melewati batas dalam memenuhi syahwat.
Dorongan nafsu syahwat mengarah kepada tiga hal besar, yaitu :
1) Syahwat dan kesenangan terhadap harta benda, sehingga melahirkan kerakusan, perampokan,
pencurian, manipulasi, korupsi, bahkan kekerasan fisik, seperti pembunuhan dan penganiayaan.
2) Syahwat dari kesenangan terhadap seks, sehingga melahirkan kejahatan dan kekejian berupa
perzinaan, pemerkosaan dan penyimpangan seksualitas lainnya, bahkan hanya karena seks
terjadi pembunuhan dan penganiayaan fisik.
3) Syahwat dan kesenangan terhadap jabatan dan kedudukan, sehingga melahirkan para pejabat
dan pemimpin yang zalim, otoriter, bahkan diktator. Akhirnya menindas siapa saja yang akan
menghalang-halangi.
b. Bahaya Menuruti Nafsu Syahwat
Salah satu sifat dari nafsu syahwat adalah “tidak pernah terpuaskan”, disaat kita menuruti satu
keinginannya, nafsu itu akan menuntut hal lain dan akan terus begitu hingga tak ada habisnya.
Orang yang mengikuti hawa nafsu tanpa terkendali akan mengakibatkan bahaya besar sebagai
berikut:
1) Merusak potensi diri seseorang.
2) Mendatangkan kesusahan dan kesempitan
3) Mengakibatkan rusaknya lingkungan alam karena nafsu mengeksploitasi alam yang berlebih-
lebihan.
4) Melahirkan kerakusan, perampokan, pencurian, manipulasi, korupsi, bahkan kekerasan fisik,
seperti pembunuhan dan penganiayaan. Sebagai dampak menuruti syahwat harta.
5) Lahirnya para pejabat dan pemimpin yang zalim, otoriter, bahkan diktator.
6) Dampak menuruti syahwat kesenangan terhadap kelezatan makanan, akan menimbulkan
berbagai macam penyakit tubuh.
7) Nafsu akan mendorong manusia untuk berbuat jahat, melampiaskan syahwat dan
menentang ajaran agama.
c. Cara Menundukkan Nafsu Syahwat
Untuk menundukkan nafsu demi keselamatan dan kesejahteraan dunia akhirat dengan jalan
sebagai berikut:
1) Meningkatkan taqwa kepada Allah dengan menerapi diri dengan rasa takut kepada Allah Swt.
2) Dengan Mujahadah
Mujahadah berasal dari kata al-jihad yaitu berusaha dengan segala kesungguhan, kekuatan
dan kesanggupan pada jalan yang diyakini benar. Mujahadah artinya berusaha untuk melawan
dan menundukkan kehendak hawa nafsu. Rasulullah bersabda seorang mujahid yaitu seorang
yang berjihad, yaitu dia yang melawan hawa nafsunya karena Allah.
”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al- Ankabut [29]: 69)

Imam al-Ghazali berkata: ”Antara tanda kecintaan hamba kepada Allah ialah
mengutamakan perkara yang disukai Allah dari pada kehendak nafsu serta pribadinya.”
Mujahadah melawan nafsu dengan cara menempuh tiga langkah seperti berikut :
1) Takhalli, mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela.
2) Tahalli, menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji
3) Tajalli, tersingkapnya tabir yang menghalangi antara manusia dan Allah, rasa dilihat dan
diawasi oleh Tuhan, kerinduan hanya tertuju pada Tuhan.
4) Dengan jalan riyadah
Riyadah adalah latihan kerohanian dengan menjalankan ibadah dan menundukkan
keinginan nafsu syahwat. Riyadah ini dapat ditempuh dengan dua cara yaitu riyadah badan
yaitu dengan mengurangi makan, minum, tidur dan mengurangi berkata-kata. Yang kedua
riyadah rohani yaitu dengan memperbanyak ibadah, berzikir, bertafakkur, memperhatikan
kejadian alam dan susunannya, serta memperhatikan segala keadaan masyarakat yang
penuh kejahilan akibat menuruti hawa nafsu.
d. Hikmah Menundukkan Nafsu Syahwat
Manfaat menundukkan nafsu syahwat pada diri manusia sebgai berikut :
1) Menjadi motivasi untuk berbuat baik, beribadah dan meraih kesuksesan
2) Hidup lebih terarah dan terkontrol. Selamat dan bahagia dunia akhirat
3) Terhindar dari perbuatan keji dan mungkar
4) Disukai banyak orang
3. Memahami Nafsu Amarah (Nafsu Gadab)
a. Pengertian Marah (Gadab)
Marah dalam pengertian gadab artinya merasa tidak senang dan panas hati karena suatu
peristiwa atau sebab- sebab tertentu. Marah adalah sifat alamiah yang ada pada manusia, namun
diantara mereka ada yang bisa mengendalikannya ada juga yang tidak bisa. Nafsu amarah adalah
satu musuh dalam (musuh batin) yaitu nafsu yang selalu memerintahkan kepada keburukan dan
jauh lebih berbahaya dibandingkan musuh-musuh yang lainnya.
Oleh karena itu, umat Islam yang bertakwa kepada Allah Swt. Meskipun tidak luput dari sifat
marah, akan tetapi karena mereka selalu berusaha melawan keinginan nafsu. Sehingga mereka
mampu meredam kemarahan mereka. Allah berfirman:

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-
orang yang berbuat kebajikan.” ([Link]- Imran [3]: 134).
b. Bahaya Marah (Gadab)
1) Bagi diri sendiri, akan mengakibatkan tekanan darah menjadi tinggi, sehingga membuka
peluang terkena serangan jantung, cepat tua, gangguan tidur, gangguan pernapasan, sakit
kepala, struk dan depresi
2) Bagi orang lain dan lingkungan, keputusan dan tindakan orang marah cenderung
menambah masalah bukan menyelesaikan masalah, menimbulkan kerusakan hubungan dengan
teman, dapat merusak keharmonisan keluarga, bisa mengakibatkan rusaknya lingkungan, bisa
mengakibatkan pembunuhan
c. Cara Menundukkan Marah (Gadab)
a) Dengan riyadah
b) Mujahadah
c) Menahan hawa nafsu
Dalam kitab adab al-Dunya wa al-Din, Imam al- Mawardi mengemukakan beberapa metode
penyembuhan marah yaitu dengan cara yang pertama, menimbulkan rasa takut (khauf) kepada
Allah, yang kedua menyadari dampaknya dan yang ketiga menyadari betapa besar pahalanya bila
mampu menahannya.
d. Hikmah Menghindari Marah
Tak tanggung-tanggung, Allah menjanjikan surga bagi mereka yang menahan amarah dan
memaafkan. Mereka akan disukai oleh Allah Swt. Sesama manusia, dan juga malaikat-Nya.
Mendatangkan kebaikan, di tempatkan di surga. Selain itu orang yang bisa menahan marah akan
mempermudah urusan dan memperlancar rezeki.
BAB IX
SIKAP HIKMAH, IFFAH, SYAJA’AH DAN ‘ADALAH
SEBAGAI PEMBENTUK AKHLAK KARIMAH

1. Mngenali Hikmah Kehidupan


a. Pengertian Hikmah dan Ruang Lingkupnya
Secara bahasa al-hikmah berarti: kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus,
pengetahuan, filsafat, kenabian, keadilan, peribahasa (kata-kata bijak), dan al-Qur’an al-
Karim. Menurut Al-Maraghi dalam kitab Tafsirnya, menjelaskan al-Hikmah sebagai perkataan
yang tepat lagi tegas yang diikuti dengan dalil-dalil yang dapat menyingkap kebenaran dan
melenyapkan keserupaan. Sedangkan menurut Toha Jahja Omar; hikmah adalah bijaksana, artinya
meletakkan sesuatu pada tempatnya, dan kitalah yang harus berpikir, berusaha, menyusun,
mengatur cara-cara dengan menyesuaikan kepada keadaan dan zaman, asal tidak bertentangan
dengan hal-hal yang dilarang oleh Allah sebagaimana dalam ketentuan hukum-Nya.
Dalam kata al-hikmah terdapat makna pencegahan, dan ini meliputi beberapa makna, yaitu:
1) Adil akan mencegah pelakunya dari terjerumus kedalam kezaliman
2) Hilm akan mencegah pelakunya dari terjerumus kedalam kemarahan
3) Ilmu akan mencegah pelakunya dari terjerumus kedalam kejahilan
4) Nubuwwah Qur’an, seorang Nabi tidak lain diutus untuk mencegah manusia dari menyembah
selain Allah, dan terjerumus kedalam kemaksiatan serta perbuatan dosa. Al-Qur’an dan seluruh
kitab samawiyyah diturunkan oleh Allah agar manusia terhindar dari syirik, mungkar, dan
perbuatan buruk.
b. Dalil Naqli Hikmah
Allah memberikan hikmah hanya kepada orang yang dikehendaki. Orang yang diberi hikmah
berarti telah diberikan kebaikan oleh Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. berikut :

“Allah menganugerahkan al- Hikmah (kefahaman yang dalam tentang al- Qur’an dan as Sunnah)
kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar
telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang ber-akal-lah yang dapat
mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (QS. Al- Baqarah [2] : 269)
c. Bentuk-bentuk Hikmah
Orang yang dianugerahi al-Hikmah adalah orang yang mempunyai ilmu mendalam dan
mampu mengamalkannya secara nyata dalam kehidupan. Orang yang benar dalam perkataan dan
perbuatan, menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya (adil) dan mampu memahami dan
menerapkan hukum Allah.
d. Keutamaan Hikmah
Orang yang mengamalkan sifat hikmah akan merasakan buah dari perbuatannya, diantaranya.
1) Memiliki rasa percaya diri yang tinggi dalam melaksanakan dan membela kebenaran ataupun
keadilan.
2) Menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bekal utama yang terus dikembangkan.
3) Mampu berkomunikasi dengan orang lain dengan beragam pendekatan dan bahasan.
4) Memiliki semangat juang yang tinggi untuk mensyiarkan kebenaran dengan beramar makruf
nahi munkar.
5) Senantisa berpikir positif untuk mencari solusi dari semua persoalan yang dihadapi.
6) Memiliki daya penalaran yang objektif dan autentik dalam semua bidang kehidupan.
7) Orang-orang yang dalam perkataan dan perbuatannya senantiasa selaras dengan sunnah
Rasulullah.
2. Mengenal Sikap Iffah
a. Pengertian Iffah
Secara etimologis, ‘iffah adalah bentuk masdar dari affa-ya’iffu-‘iffah yang berarti
menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik. Dan juga berarti memelihara kesucian diri. Secara
terminologis, iffah adalah memelihara kehormatan diri dari segala hal yang akan merendahkan,
merusak dan menjatuhkannya.
Iffah (Al-iffah) juga dapat dimaknai sebagai usaha untuk memelihara kesucian diri (al-
iffah) adalah menjaga diri dari segala tuduhan, fitnah, dan memelihara kehormatan. Orang yang
memiliki ‘iffah kadang-kadang menghindarkan diri dari hal-hal yang halal karena menjaga harga
diri, seperti meminta-minta untuk keperluan yang sangat mendesak untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya.
b. Dalil Naqli Iffah
Berkaitan dengan perintah mengamalkan sikap ‘iffah, Allah menegaskan dalam firman-Nya
sebagai berikut :

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan
yang benar”(QS. Al- Ahzab: 70)

c. Bentuk-bentuk ‘iffah
1) Dengan menjaga kesucian diri (Menjaga kesucian panca indra, Kesucian jasad, Kesucian dari
memakan harta orang lain, Kesucian lisan).
2) Menjaga kehormatan diri
3) Membimbing jiwa menuju kearifan
d. Keutamaan Iffah
Seorang yang ‘iffah adalah orang yang bisa menahan diri dari perkara-perkara yang dihalalkan
ataupun diharamkan walaupun jiwanya cenderung kepada perkara tersebut dan menginginkannya.
'Iffah merupakan akhlak paling tinggi dan dicintai Allah Swt. Oleh sebab itulah, sifat ini perlu
dilatih sejak anak-anak masih kecil, sehingga memiliki kemampuan dan daya tahan terhadap
keinginan-keinginan yang tidak semua harus dituruti karena akan membahayakan saat telah
dewasa.

3. Mengembangkan Sikap Syaja’ah


a. Pengertian Syaja’ah
Secara bahasa, syaja’ah berarti berani atau gagah. Menurut istilah, syaja’ah adalah keteguhan
hati, kekuatan pendirian untuk membela dan mempertahankan kebenaran secara berani dan terpuji.
Jadi, syaja’ah adalah keberanian yang berlandaskan kebenaran dan dilakukan dengan penuh
pertimbangan.
Secara etimologi kata al-syaja’ah berarti berani antonimnya dari kata al-jabn yang berarti
pengecut. Kata ini digunakan untuk menggambarkan kesabaran di medan perang. Sisi positif dari
sikap berani yaitu mendorong seorang muslim untuk melakukan pekerjaan berat dan mengandung
resiko dalam rangka membela kehormatannya.
Jadi berani adalah: ”sikap dewasa dalam menghadapi kesulitan atau bahaya ketika
mengancam. Orang yang melihat kejahatan, dan khawatir terkena dampaknya, kemudian
menentang maka itulah pemberani. Orang yang berbuat maksimal sesuai statusnya itulah
pemberani (al-syaji’), al-syaja’ah(berani) bukan sinonim ’adam al-khauf (tidak takut sama
sekali)

b. Menelaah Dalil Naqli tentang Syaja’ah


1) Allah Swt berfirman tentang syaja’ah dalam surah Ali Imran ayat 139 :

”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah
orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS.
Ali Imran [3]: 139)
Ayat tersebut menegaskan bahwa syaja’ah itu mengarahkan pada kita agar tidak merasa
minder atau merasa lemah dalam membela kebenaran karena manusia yang paling mulia di sisi
Allah itu adalah orang-orang yang paling beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.
c. Macam-macam Bentuk Syaja’ah
1) Syaja’ah harbiyah, yaitu keberanian yang kelihatan atau tampak, misalnya keberanian dalam
medan tempur di waktu perang.
2) Syaja’ah nafsiyah, yaitu keberanian menghadapi bahaya atau penderitaan dan menegakkan
kebenaran.
d. Mengupas keutamaan sifat syaja’ah
Syaja’ah dalam ajaran agama Islam sangat di anjurkan untuk di miliki setiap muslim, sebab
selain merupakan sifat terpuji juga dapat mendatangkan berbagai kebaikan bagi kehidupan
beragama berbangsa dan bernegara.
Dari syaja’ah (perwira) maka akan menimbulkan hikmah dalam bentuk sifat mulia, cepat
tanggap, perkasa, memecah nafsu memaafkan, tangguh, menahan amarah, tenang, mencintai.
4. Menegakkan Sikap ’Adalah
a. Pengertian ’Adalah
Kata ’adalah berasal dari kata adil yang artinya tidak berat sebelah, tidak memihak, atau
menyamakan yang satu dengan yang lain, setelah berpihak pada yang benar, berpegang pada
kebenaran sepatutnya, dan tidak sewenang-wenang.
Adil artinya sama, seimbang, atau menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsional).
Menurut istilah, adil adalah menetapkan suatu kebenaran terhadap dua masalah atau beberapa
masalah untuk dipecahkan sesuai dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh agama.
Berlaku adil adalah memperlakukan hak dan kewajiban secara seimbang, tidak memihak, dan
tidak merugikan pihak mana pun. Adil dapat berarti tidak berat sebelah serta berarti sepatutnya,
tidak sewenang-wenang.
b. Dalil naqli tentang ‘adalah
Orang yang beriman hendaknya dapat menyampaikan amanat dengan baik. Apabila menetapkan
hukum, hendaknya dapat menetapkan hukum dengan adil. Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,
dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan
dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. An-Nisa [4]: 58)
c. Bentuk-bentuk ‘adalah
1) Adil terhadap Allah, artinya menempatkan Allah pada tempatnya yang benar, yakni sebagai
makhluk Allah dengan teguh melaksanakan apa yang diwajibkan kepada kita, sehigga benar-
benar Allah sebagai Tuhan kita.
2) Adil terhadap diri sendiri, yaitu menempatkan diri pribadi pada tempat yang baik dan benar.
Untuk itu kita harus teguh, kukuh menempatkan diri kita agar tetap terjaga dan terpelihara
dalam kebaikan dan keselamatan. Untuk mewujudkan hal tersebut kita harus memenuhi
kebutuhan jasmani dan ruhani serta menghindari segala perbuatan yang dapat mencelakakan
diri
3) Adil terhadap orang lain, yakni menempatkan orang lain pada tempatnya yang sesuai, layak,
dan benar. Kita harus memberikan hak orang lain dengan jujur dan benar tidak mengurangi
sedikitpun hak yang harus diterimanya.
4) Adil terhadap makhluk lain, artinya dapat menempatkan makhluk lain pada tempatnya yang
sesuai, misalnya adil kepada binatang, harus menempatkannya pada tempat yang layak menurut
kebiasaan binatang tersebut.
d. Kedudukan dan Keutamaan ‘adalah
Manfaat dan keutamaan orang yang berlaku adil adalah sebagai berikut :
1) Terciptanya rasa aman dan tentram karena semua telah merasa diperlakukan dengan adil.
2) Membentuk pribadi yang melaksanakan kewajiban dengan baik
3) Menciptakan kerukunan dan kedamaian
4) Keadilan adalah dambaan setiap orang. Alangkah bahagianya apabila keadilan bisa ditegakkan
demi masyarakat, bangsa dan negara, agar masyarakat merasa tentram dan damai lahir dan
batin.
BAB X
SIFAT TERCELA

1. Menelaah Sifat Terceala


Licik merupakan salah satu sifat buruk yang harus dihindari karena sangat membahayakan bagi
kehidupan pribadi ataupun kehidupan sosial di masyarakat. Bagi kehidupan pribadi, sikap licik akan
menyebabkan pelaku hidup tidak tenang karena terus dihinggapi perasaan takut diketahui kelicikannya.
Adapun bagi kehidupan sosial, sikap licik sangat merugikan masyarakat dan dapat merusak tatanan
kehidupan sosial.
a. Pengertian Licik
Licik berarti banyak akal yang buruk, pandai menipu, culas, curang, dan licin. Sikap licik
merupakan sikap yang didominasi oleh hawa nafsu untuk menguasai ataupun mencapai suatu
maksud dan tujuan tertentu, tetapi tidak disertai dengan kesadaran diri akan kemampuan dan
ilmu yang memadai.
b. Ciri-ciri Orang Licik
1. Tidak suka melihat orang lain bahagia dan bahagia melihat orang lain menderita
2. Berfikir untuk mencelakakan orang lain. Orang yang licik mempunyai rencana negatif untuk
menghalangi agar orang lain mengalami kegagalan
3. Mendekat jika membutuhkan. Orang yang licik akan mendekat jika membutuhkan dan akan
menjauh jika tidak membutuhkan.
4. Menghalalkan segala cara. Mereka senang sekali menggunakan jalan tercepat untuk mencapai
keinginannya, sehingga tentu saja mereka menghalalkan segala cara termasuk perbuatan buruk
seperti menipu, berbohong, mengelabui, dan hal-hal yang merugikan orang lain.
5. Nafsunya tak pernah berujung. Mereka ingin selalu melakukan semua hal yang dirasa dapat
memuaskan dirinya.
6. Pandai menipu untuk memuluskan siasatnya yang licik. Orang yang licik akan selalu menipu
dan berbohong serta bersilat lidah.
7. Membalas kebaikan orang lain dengan penghianatan
c. Sebab-sebab Orang Berperilaku Licik
Ada beberapa sebab orang berperilaku licik, diantaranya adalah karena lemahnya iman,
sedikitnya rasa takut kepada Allah dan kurangnya kesadaran bahwa Allah senantiasa
mengawasi dan menyaksikan setiap perbuatan sekecil apa pun. Orang berbuat licik biasanya
berawal dari kurang percaya diri. Saat seseorang merasa dirinya tidak mampu bersaing dengan
orang lain, maka tidak jarang ia melakukan kecurangan untuk menutupi kekurangannya.
d. Dalil Naqli Licik
Sebagaimana ciri-ciri orang yang licik, yaitu selalu menipu dan berbohong serta bersilat lidah.
Maka, orang yang licik tergolong pada orang-orang yang berbuat munafik sebagaimana ciri-ciri
yang dimiliki, Rasulullah bersabda :

“Dari Abu Hurairah ra. Dari Nabi Saw. Bersabda : tanda-tanda orang munafik itu ada tiga
yaitu apabila ia berkata dusta, apabila ia berjanji mengingkari dan apabila dipercaya ia
berkhianat”. (HR. Bukhari)

e. Nilai Negatif Licik


Orang yang licik biasanya memiliki suasana batin yang selalu resah dan gelisah. Keinginanya
menjadi nomer satu, tidak peduli dengan kemampuannya yang tidak seberapa, ia akan berusaha
menyingkirkan orang yang bisa menghalangi ambisinya.
Selain itu orang yang licik akan tidak disuka orang lain, melemahkan kepercayaan kaum muslimin,
menjadi faktor kegagalan masyarakat dalam semua bidang.
f. Cara Menghindari
Perbuatan licik bisa diatasi jika dalam hati tertanam dengan kuat nilai-nilai ketauhidan dan
keimanan. Memahami akibat-akibat buruk yang akan menimpanya. Jangan lupa berdoa kepada
Allah, agar dijauhkan dari sifat tersebut dan upayakan amar ma’ruf nahi munkar dalam rangka
merubah keadaan masyarakat menuju yang lebih baik.
2. Memahami Tamak
a. Pengertian Tamak
Secara bahasa, tamak berasal dari bahasa Arab at-tama’u, yang artinya suatu sikap yang tidak
pernah merasa cukup sehingga ingin selalu menambah apa yang seharusnya ia miliki, tanpa
mempehatikan hak-hak orang lain. Menurut istilah tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu
berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar.
Orang yang tamak selalu mengharap pemberian orang lain, tetapi dia sendiri justru bersikap pelit
atau bakhil.
b. Ciri-ciri Orang Berperilaku Tamak
Ciri-ciri orang yang tamak terhadap harta adalah sebagai berikut :
1) Terlalu mencintai harta yang dimiliki
2) Mengharap pemberian orang lain
3) Mendambakan kemewahan dunia
4) Serakah dalam mengumpulkan harta
5) Bersifat bakhil, kikir dan pelit
6) Tidak memikirkan kehidupan akhirat
7) Selalu memikirkan kemewahan dunia
8) Terlalu hemat dalam membelanjakan harta
9) Semua perbuatannya selalu bertendensi pada materi

c. Penyebab Orang Tamak


1) Tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah
2) Kurang memahami arti hidup bermasyarakat, yang di dalamnya ia berkewajiban saling
menolong, membantu bukan saling iri hati kepada sesama
3) Ingin menumpuk-numpuk harta kekayaan
4) Tidak pernah merasa puas dengan apa yang dicapainya, menginginkan seperti apa yang
didapat orang lain, berangan- angan yang tidak sesuai dengan kemampuannya.

d. Dalil Naqli tentang Tamak


Berikut ini adalah dalil yang berkaitan dengan tamak :

“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta” (QS. Al-Adiyat [100]: 8)

e. Nilai Negatif Tamak


1) Akan menjadi orang yang ambisius yang tak akan pernah puas dan bersyukur atas rezeki
yang telah diberikan oleh Allah
2) Menjadi orang yang egois, hanya mementingkan bagaimana keinginannya terpenuhi tanpa
memperdulikan orang lain
3) Memuja-muja harta, menjadi tujuan hidupnya
4) Hidupnya selalu resah
5) Bakhil, kikir tetapi selalu ingin diberi orang lain

f. Cara Menghindari Tamak


1) Rajin bekerja untuk memperoleh harta yang halal
2) Usaha maksimal untuk menggapai cita-cita
3) Harus yakin berapa dan apapun hasil yang kita dapat adalah pemberian Allah yang terbaik
untuk kita.
4) Tidak mempersoalkan segala sesuatu yang telah Allah berikan kepada orang lain.
5) Selalu berserah diri kepada Allah dan mensyukuri apa yang telah Allah berikan kepada
kita.
6) Qana’ah terhadap apa yang diberikan oleh Allah

3. Memahami Zalim
a. Pengertian Zalim
Menurut ajaran Islam aniaya atau yang biasa disebut dengan zalim adalah meletakkan sesuatu
tidak pada tempatnya atau tidak sesuai dengan ketentuan Allah. Zalim adalah perbuatan dosa
yang harus ditinggalkan. Karena tindakan aniaya akan dapat merusak kehidupan pribadi, keluarga,
dan masyarakat.
Berkaitan dengan istilah zalim, ar-Razi memberikan 10 penafsiran zalim, sebagai berikut:
zalim adalah orang yang lebih banyak kesalahannya, sesuatu yang kulitnya lebih bagus dari pada
isinya, orang yang bertauhid dengan lidah tetapi berbeda dengan sepak terjang hidupnya, orang
yang berbuat dosa besar, yang membaca al-Qur’an dengan tidak mempelajari isinya apalagi
mengamalkannya, zalim adalah orang yang jahil, orang yang tidak mau berhenti berbuat maksiat,
orang yang setelah dihisab masuk neraka, dan orang yang mengambil al-Qur’an tetapi tidak mau
mengamalkannya.

b. Ciri-ciri Orang Berperilaku Zalim


Ciri-ciri mereka adalah suka melakukan kemungkaran, senantiasa mengingkari kebenaran,
berpaling dari perintah Allah, melanggar hukum-hukum Allah dan Rasulnya, dan gemar
melakukan perbuatan tercela seperti dusta, khianat, aniaya, menghina dan lain-lain.
Ali bin Abi Thalib ra. Menyatakan bahwa kezaliman itu ada tiga macam yaitu; zalim kepada
Allah (syirik), zalim kepada diri sendiri, dan zalim kepada sesama manusia. Adapun zalim yang
tingkatannya paling tinggi dan tidak dapat diampuni oleh Allah adalah zalim kepada Allah
atau syirik. Sedangkan zalim yang tidak akan dibiarkan oleh Allah adalah zalim terhadap sesama
manusia, maka pasti akan dituntut oleh orang yang teraniaya di hadapan Allah.

c. Penyebab Orang Zalim


Zalim dapat dilakukan oleh siapa saja, namun biasanya orang yang berlaku zalim itu disebabkan
karena lemah imannya, ingin mempertahankan kekuasaannya, tidak mampu menahan nafsu, dan
terlalu mencintai dunia.

d. Dalil Naqli tentang Zalim


Allah mengancam mereka yang zalim dengan siksaan yang amat keras dan pedih sesuai dengan
firman-Nya:

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang
zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-
Nya”.(QS. Al-Anfal [8]: 25)

e. Nilai Negatif Zalim


Diantara dampak negatif zalim adalah sebagai berikut:
1) Merusak persatuan dan persaudaraan.
2) Mengalami kebinasaan
3) Menerima azab di akhirat
4) Merusak tatanan hidup di masyarakat.
5) Merugikan orang lain.
6) Menghilangkan akhlak atau sifat yang baik.
7) Hidup dalam kesesatan dan jauh dari hidayah, orang zalim dan tidak mau disebut zalim
dan terus menerus berbuat zalim semakin jauh dari hidayah Allah
8) Menghilangkan pahala amal perbuatan.
f. Cara Menghindari Zalim
Apabila kita melakukan kezaliman kepada orang lain segeralah meminta maaf kepadanya dan
bertaubatlah kepada Allah, dengan taubatan nasuha. Semoga Allah selalu membukakan pintu
hidayah kepada kita semua.

4. Fahami Diskriminasi
a. Pengertian Diskriminasi
Diskriminasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai perbedaan perlakuan terhadap
sesama warga Negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan lain
sebagainya). Segala perlakuan pembedaan yang didasarkan atas warna kulit, jenis kelamin,
golongan, status sosial, dan berbagai perbedaan lainnya merupakan perbuatan diskriminasi.

b. Bentuk-bentuk Diskriminasi
Ada banyak sekali bentuk diskiminasi yang dilakukan di dalam kehidupan bermasyarakat dan
bernegara seperti pada hukum tidak adil dalam Islam. Perlakuan diskriminasi bisa terjadi dimana
dan kapan saja, hal itu disebabkan karena adanya perbedaan karakteristik suku dan ras, kelas sosial,
jenis kelamin, agama/ kepercayaan, pandangan politik, kondisi fisik dan lain-lain.
c. Dalil Naqli tentang Diskriminasi
Islam melarang umatnya berlaku diskriminasi terhadap orang lain hanya karena perbedaan bangsa
dan suku karena hal ini bertentangan dengan fitrah manusia sendiri. Allah berfirman:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu
saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal” (QS. al- Hujurat [49]: 13)

d. Nilai Negatif Akibat Diskriminasi


1) Menimbulkan sifat sombong
2) Dapat memunculkan sifat apatisme (masa bodoh)
3) Membanggakan diri sendiri dan meremehkan orang lain
4) Dapat menimbulkan kehancuran
5) Terkoyak-koyak pada golongannya sendiri
6) Memicu munculnya sekterianisme (mementingkan kesukuan atau kelompoknya)
7) Menghalangi tegaknya keadilan

g. Cara Menghindari Diskriminasi


1) Meningkatkan ketakwaan kepada Allah
2) Suka bersilaturrahim
3) Bersikap tasamuh
4) Tidak memaksakan kepercayaan atau kehendak seenaknya sendiri kepada orang lain
5) Menumbuhkan semangat kesatuan dan persatuan
6) Tidak suka mengolok-ngolok orang lain
7) Tidak menfitnah orang lain
8) Tidak berburuk sangka dengan yang lain
BAB XI

MENJENGUK ORANG SAKIT

Menjenguk orang sakit merupakan kemuliaan yang sangat dianjurkan oleh Baginda Rasulullah Saw.
karena dapat menjadi penghibur bagi orang yang sakit tersebut dan memberi motivasi baginya untuk
sembuh. Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, rahmat Islam ini mencakup semua sisi kehidupan, diantaranya
rahmat Islam terhadap orang-orang yang lemah dan sakit.
Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan mulia, sebagai wujud peduli kita terhadap sesama
manusia, dan terdapat keutamaan yang agung, serta pahala yang sangat besar, dan merupakan salah satu hak
setiap muslim terhadap muslim lainnya.
Islam adalah agama yang sempurna, yang selain mengajarkan masalah ibadah, juga mengajarkan
setiap hambanya untuk peduli pada sesamanya. Salah satu bentuk kepedulian yang diajarkan oleh Islam ini
adalah anjuran untuk menjenguk sahabat, kerabat atau tetangga yang sedang sakit.

1. Dalil Naqli menjenguk orang sakit

“Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada lima (1) Menjawab salam, (2) Menjenguk orang sakit,
(3) Mengantar jenazah, (4) Memenuhi undangan, dan (5) Mendoakan yang bersin” (HR. Bukhari, no
1240, dan Muslim no. 2162)

2. Adab Menjenguk Orang Sakit


a) Niat yang ikhlas dan tujuan yang baik
b) Memperhatikan waktu dan situasi kondisi ketika hendak menjenguk.
c) Memberi salam sambil mengulurkan tangan dengan ramah
d) Menunjukkan kepedulian dengan menanyakan kondisinya,
e) Mendoakan untuk kesembuhan orang yang sakit.
f) Menundukan pandangan (tidak menatap dengan tajam)
g) Santun dalam berbicara, jaga pembicaraan jangan sampai menusuk perasaan, dan hindari bersenda
gurau.
h) Responsif, tanggap terhadap apa yang dibutuhkan (tidak masa bodoh), memberi yang diinginkan.
i) Memotivasi untuk sembuh dan menghiburnya, dengan mengucap “Tidak apa, Insya Allah
engkau sembuh”
j) Melarangnya berharap kematian, dan ucapkanlah ,”Semoga Allah memberikan yang terbaik
buatmu.”
k) Menasehatinya agar selalu sabar, dan supaya tetap menjalankan perintah Allah sesuai dengan
kemampuan, misalnya melaksanakan shalat, berdzikir,
l) Membimbing dan membantu talqin
m) Tidak membeda-bedakan keadaan
n) Hendaknya membawa buah tangan, sesuai dengan kemampuan

3. Hikmah menjenguk orang sakit


a) Menjenguk orang sakit dapat menyadarkan diri bahwa kesehatan itu sangat berharga
b) Mensyukuri nikmat. Mengingatkan kita pada-Nya, serta bersyukur atas nikmat sehat yang tengah
kita rasa
c) Menjenguk orang sakit berarti memetik buah-buah pahala.
d) Mendapat pujian dari Allah dan Malaikat
e) Akan mendapatkan doa agar hidup sentosa dunia akhirat
f) Menumbuhkan kesadaran peduli terhadap sesama manusia
g) Menjalin silaturahmi antara yang sehat dan yang sakit
h) Meningkatkan kesadaran untuk selalu berbuat kebaikan kepada sesama
i) Membantu mengurangi rasa sakit, dan memberikan motivasi untuk sembuh pada orang yang sakit
j) Membahagiakan hati orang yang sakit
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karim

Abu Isma’il Muslim al-Arsani , As-Sunnah Edisi 10 , Yayasan Lajnah Istiqamah , Surakarta,
2016
Abdul Hiyadh, Terjemah Durrotun Nasihin, Mesir, Surabaya, 1993
Abu al- Ma’ali Umar bin Abdurrahman al-Qazwiini, 77 Cabang Keimanan, Darus Sunnah
Press, 2006
Abu Hudzaifah. Lc, Kisah Para Nabi dan Rasul, Pustaka as-Sunah, Jakarta, 2007
Afrizal Nur dan Mukhlis, Konsep Washatiyah Dalam al-Qur’an, E. Journal UIN Suska an-
Nur, vol.4 No.2, 2015
Badruzzaman dan Nunu Burhanudin, Wasiat Terbesar Sang Guru Besar, asy-syaikh ’Adul
Qadir al-jilani , Sahara, Jakarta, 2007
Sulaiman al-Kumayi, Asma’ul Husna for Super Women, Semarang, Pustaka Nuun, 2009
Derektorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, Akhlak Ilmu
Tauhid, PT. Karya Unipres, Jakarta, 1982
Abdul Aziz bin Sarayan al Ushaimy, Falaisa Minna, karya, cet. Darul qasim, Riyadh, th 2002
’Aidh al-Qarni, La Tahzan ,Jangan Bersedih, Qisthi Pres, Jakarta Timur, 2004
A. Ilyas Ismail, M.A, Pilar-pilar Takwa, (Doktrin. Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan
Spiritual), Rajawali Pers, (PT. Raja Grafindo Persada), Jakarta, 2009
Anas Ahmad Karzun, Nutrisi hati, Penyuci Ruhani,Dar Nur al-Maktabat, Solo, 2008
Hasan el-Qudsy, The Miracle of 99 Asma’ul Husna, Ziyad Book, 2014
Ahmad Daudy, kuliah Akidah Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1997
Muhammad Chirzin , Konsep dan Hikmah Akidah Islam, Mitra Pustaka, 1997
Handono, Aris Musthafa, zaenuri Siroj, Meneladani Akhlak Untuk Kelas XI Madrasah Aliyah
Program Keagamaan , PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017
Handono, Aris Musthafa, Zaenuri Siroj, Meneladani Akhlak Untuk Kelas XII Madrasah
Aliyah Program Keagamaan , PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017
Haryanto al-Fandi, Etika Bermu’amalah Berdasarkan al-Qur’an dan Sunah, Amzah, 2011
Hasyim Asy’ari, Penerjemah Rosidin, Pendidikan Khas Pesantren (Adabul ’Alim wal
Muta’allim), Tira Smart,Tangerang, 2017
M. Ali Haidar, Nahdhatul Ulama’ dan Islam di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta, 1998

M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, Tranmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke
Indonesia, Erlangga, Jakarta , 2005
Moehammad Thahir Badrie, Syarah Kitab at-Tauhid, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984
Muhammad bin Abdul Wahab, Syarah Kitab al-Tauhid, PT. Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984
Muhammad Syafii Antonio, Asma’ul Husna for Succes in Business and life Sukses, Kaya, dan
bahagia dengan Asma’ul Husna, Penerbit Tazkia Publishing , Jakarta Selatan
12870 Cetakan III , Januari 2009
Husein Husein Syahatah, Membersihkan Jiwa dengan Muhasabah, Mitra Pustaka,
Yogyakarta, 2004
Roli Abdul Rohman-M. Khamzah. Menjaga Akidah dan Akhlak untuk kelas X
MadrasahAliyah, PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo 2017
Sa’id Hawwa, Tazkiyatun Nafs (Intisari Ihya Ulumuddin), Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2007
Said Husain Husaini, Bertuhan Dalam Sasaran Zaman, Citra, Jakarta, 2013
Salim Bahreisy, Irsyadul ’Ibad Ilasabilirrasyad (Petunjuk ke Jalan Lurus ), Darussaggaf,
Surabaya, 1977
Salim Bahreisy, Riyadhus Shalihin, PT. Alma’arif, Bandung , 1987
Thanthawi , syaikh Ali, Aqidah Islam, Doktrin dan Filosofi, Era Intermedia, Solo, 2004
Tim Guru MGMP Provinsi Jawa Timur, Bahan Ajar Akhlak Madrasah Aliyah Program
Keagamaan, CV. Mutiara Ilmu, Mojosari Mojokerto, 2012
Umar Sulaiman al-Asyqar , al-Asma’ al- Husna, Qisthi Press, Jakarta timur Cetakan ke-6,
Mei 2009
Ust. Fuad Hamzah Baraba, Lc, Artikel Muslim, Or, Id. (http//[Link] Nopember
2014
Zainuddin Hamidy, Fachruddin Hs., Nasharuddin Thaha, Johar Arifin, A. Rahman
Zainuddin, Terjemah Hadis Shahih Bukkhari, Widjaya, Jakarta 1992

Anda mungkin juga menyukai