Dukungan Keluarga dan Kontrol Hipertensi Lansia
Dukungan Keluarga dan Kontrol Hipertensi Lansia
Relationship Between Family Support and Hypertension Control Behavior in The Elderly
in The Work Area of Maesan Public Health Center
Intania* Abstrak
Sofia Rhosma Dewi
Hipertensi merupakan penyakit degeneratif umum yang menyerang lansia. Salah satu
Dian Ratna Elmagfhuroh
faktor yang mempengaruhi terjadinya hipertensi pada lansia adalah pola hidup yang tidak
sehat serta kurangnya dukungan dari keluarga sehingga self-management pada lansia tidak
Universitas Muhammadiyah Jember,
dilakukan dengan baik. Mengidentifikasi hubungan dukungan keluarga dengan perilaku
Jawa Timur
pengendalian hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Maesan adalah tujuan
penelitian ini dengan metode menggunakan desain korelasional dengan pendekatan
*email: intaniakp3@[Link]
Cross-Sectional. Sampel pada penelitian ini adalah lansia yang ada di Wilayah Puskesmas
Maesan dengan jumlah 143 responden yang diperoleh dengan teknik purposive sampling.
Hasil dukungan keluarga mayoritas dalam kategori baik sebanyak 70 responden (49,0%).
Perilaku pengendalian hipertensi pada lansia mayoritas dalam kategori baik sebanyak 73
responden (51,0%). Hasil menunjukkan bahwa ada hubungan dukungan keluarga
dengan perilaku pengendalian hipertensi pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
Maesan semakin baik dukungan yang diberikan keluarga terhadap lansia maka semakin
baik perilaku pengendalian hipertensi pada lansia. Saran bagi lansia diharapkan lansia
yang menderita hipertensi untuk menerapkan perilaku hidup sehat.
410
Intania, Sofia Rhosma Dewi, Dian Ratna Elmaghfhuroh. 2024. Relationship Between Family Support and Hypertension Control Behavior
muskuloskeletal (Dewi dkk., 2022). Dari data sendiri pada lansia terhadap penyakitnya tidak
Population Reference Bureau 2020 diperkirakan pada dapat dilakukan dengan baik. Banyak dari
tahun 2025 presentasi penduduk lansia di dunia keluarga yang kurang memperhatikan kesehatan
yang berusia >65 tahun mencapai 9%. Badan lansia sehingga banyak lansia yang tidak dapat
Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2020 mengontrol perilaku atau kebiasan yang berisiko
menyatakan, sebanyak 28 juta penduduk tinggi meningkatkan terjadinya hipertensi, hal ini
Indonesia merupakan lansia yang berumur >60 dapat memperparah keadaan lansia.
tahun atau setara dengan 10,7% dari populasi Perilaku pengendalian hipertensi dapat
Indonesia. Badan Pusat Statistik menyatakan dilakukan dengan mengendalikan perilaku
persentase penduduk lansia diperkirakan akan berisiko seperti merokok, diet yang tidak sehat,
terus meningkat pada tahun 2045 sebanyak obesitas, olahraga, stres, dan konsumsi garam
19,90% dari total penduduk Indonesia. Jumlah berlebih (Apriana et al., 2023). Mencegah
populasi lansia yang menderita hipertensi tekanan darah tinggi pada lansia membutuhkan
cenderung meningkat setiap tahunnya. Menurut motivasi yang juga merupakan komponen
data Joint National Committee on Prevention, penting dalam menentukan perilaku sehat 3
Detection, Evaluation, and Treatment on High Blood salah satunya dengan memberikan dukungan
Pressure VII (JNC-VII) jumlah angka penderita penuh untuk meningkatkan self-management pada
hipertensi hampir mencapai 1 miliar orang di lansia. Dukungan dari keluarga menunjukkan
dunia. Berdasarkan data dari Sistem Informasi bahwa penderita menerima rasa cinta dan kasih
Rumah Sakit (SIRS) tahun 2022, kasus hipertensi sayang dari keluarga dengan memperhatikan dan
pada lansia merupakan kasus terbanyak di Jawa mempertimbangkan kondisi penderita (Apriana
Timur yaitu sebanyak 195.225 kasus (Profil et al., 2023). Salah satu bentuk dukungan
Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2022). keluarga yang dapat diberikan kepada lansia
Hipertensi pada lansia merupakan suatu keadaan adalah dalam bentuk empati, perhatian,
meningkatnya tekanan darah sistolik >140 membimbing serta sebagai perantara dalam
mmHg dan diastolik < 90 mmHg (Yonata et al., pemecahan masalah, dan waktu yang diluangkan
2020). Hipertensi disebabkan oleh beberapa dalam membantu perawatan hipertensi pada
kebiasan hidup atau perilaku yang tidak sehat lansia. Dengan memberikan dukungan penuh
seperti kebiasaan mengkonsumsi natrium yang pada lansia akan meningkatkan motivasi lansia
tinggi, obesitas, stres, konsumsi alkohol, dalam menerapkan perilaku hidup sehat (Mira,
merokok, dan kurangnya olahraga atau aktivitas 2020). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang
fisik (Ilmiah & Indonesia, 2022). Faktor lain dilakukan di Puskesmas Maesan ditemukan
yang memperparah terjadinya hipertensi pada masih banyaknya lansia yang menderita penyakit
lansia adalah kurangnya dukungan dari keluarga hipertensi. Jumlah populasi lansia yang
sehingga kemampuan dalam mengendalikan diri menderita hipertensi pada bulan Juni mencapai
411
Jurnal ASSYIFA, Vol 2 No 3, November 2024, Page 410 – 419
216 kasus, bulan Juli 230 kasus dan bulan METODE PENELITIAN
Agustus 225 kasus. Hal ini diperoleh dari hasil Desain penelitian merupakan konseptualisasi
wawancara pada tanggal 21 November 2023 atau sebuah fenomena atau gejala sosial yang
dengan tenaga kesehatan dan 7 lansia yang ada di akan diturunkan menjadi variabel-variabel
posyandu Melati di Wilayah Kerja Puskesmas penelitian sampai ke tingkat indikator (Islam &
Maesan, mengemukakan bahwa jumlah kasus Sumatera, 2021). Desain penelitian yang
hipertensi tiap tahunnya mengalami digunakan pada penelitian ini adalah korelasional
peningkatan, hal ini disebabkan karena pola dengan pendekatan Cross-Sectional. Korelasional
hidup lansia yang tidak sehat dan menurunnya merupakan desain penelitian yang digunakan
minat lansia untuk melakukan pemeriksaan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara
kesehatan di Puskesmas maupun Posyandu dua variabel atau lebih.
Lansia. Dari hasil survei pendahuluan Menurut Amin (2023) populasi adalah
didapatkan jumlah total keseluruhan kunjungan keseluruhan elemen dalam penelitian meliputi
Posyandu Lansia tiga bulan terakhir pada bulan objek dan subjek dengan ciri ciri dan
Juli dari 12 desa di wilayah kerja Puskesmas karakteristik tertentu. Dari hasil yang didapatkan
Maesan yaitu sebanyak 618 orang. Kurangnya populasi pada penelitian ini adalah seluruh lansia
dukungan dari keluarga serta penurunan fungsi dengan hipertensi yang yang berkunjung ke
tubuh pada lansia menjadi salah satu faktor Posyandu Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
menurunnya minat lansia untuk berkunjung ke Maesan berjumlah 223 orang dari data
Posyandu Lansia, hal ini dapat berisiko tinggi keseluruhan nilai rata rata tiga bulan terakhir.
terjadinya peningkatan hipertensi. Lansia yang Menurut Sugiyono (2018) menyatakan sampel
mendapatkan dukungan yang cukup dari merupakan sebagian dari populasi berdasarkan
keluarga akan termotivasi untuk merubah jumlah dan karakteristiknya. Jenis pengambilan
perilaku untuk menjalani gaya hidup sehat secara sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah
optimal sehingga dapat meningkatkan status purposive sampling.
kesehatan dan kualitas hidupnya (Aliffatunisa Besar sampel pada penelitian ini menggunakan
dkk., 2021). Berdasarkan penjelasan di atas rumus Slovin sebagai berikut:
terkait penyakit hipertensi dan pentingnya 𝑁
𝑛=
1 + 𝑁 (𝑒 2 )
dukungan keluarga bagi lansia. Dengan demikian
Keterangan :
peneliti tertarik untuk melihat hubungan
n : Jumlah Sampel
dukungan keluarga dengan perilaku
N : Jumlah Populasi
pengendalian hipertensi pada lansia di Wilayah
E : Tingkat Signifikan (e=5% atau 0,05)
Kerja Puskesmas Maesan.
Rumus Slovin
223 Lansia
𝑛=
1 + 223 (0,052 )
412
Intania, Sofia Rhosma Dewi, Dian Ratna Elmaghfhuroh. 2024. Relationship Between Family Support and Hypertension Control Behavior
𝑛=
223 Lansia Tabel 3. Distribusi Berdasarkan Status
1 + 0,5575 Pernikahan Di Wilayah Kerja Puskesmas
189 remaja Maesan Juni 2024 (n=143 responden)
𝑛=
1,5575
𝑛 = 143 Lansia Status Pernikahan Frekuensi Persentase (%)
Dari hasil perhitungan menggunakan rumus Kawin 53 31,1
Janda 90 62,9
slovin didapatkan jumlah sampel sebesar 143 Total 143 100.0
responden.
Hasil data pada tabel 3 menunjukkan bahwa
Penelitian ini menggunakan metode non
mayoritas responden berstatus janda dan duda
probability sampling yaitu purposive sampling . Teknik
yaitu sebanyak 90 orang (62,9%).
pengambilan sampel yang tidak memberikan
Tabel 4. Distribusi Berdasarkan Status Pekerjaan
peluang atau kesempatan yang sama bagi setiap Di Wilayah Kerja Puskesmas Maesan Juni 2024
populasi untuk dipilih manjadi sampel (n=143 responden)
penelitian. Untuk jumlah sampel pada penelitian Status Pekerjaan Frekuensi Persentase (%)
ini sebanyak 143 responden. Petani 55 38,5
Wiraswata 36 25,2
Tidak Bekerja 52 36,4
HASIL Total 143 100.0
Tabel 1. Distribusi Usia Lansia di Wilayah Kerja Hasil data pada tabel 4 menunjukkan mayoritas
Puskesmas Maesan Juni 2024 (n=143
responden) mata pencaharian mereka adalah petani
sebanyak 55 orang (38,5%).
Usia Frekuensi Persentase (%)
60-69 106 74,1 Tabel 5. Distribusi Berdasarkan Lansia Tinggal
70-79 33 23,1 di Wilayah Kerja Puskesmas Maesan Juni 2024
80-89 4 2,8 (n=143 responden)
Total 143 100.0
Lansia Tinggal Frekuensi Persentase (%)
Hasil data pada tabel 1 menunjukkan bahwa Anak 112 78,3
Suami/Istri 31 21,7
mayoritas responden dalam kurun 74,1% berusia Total 143 100.0
60-69 tahun.
Hasil data pada tabel 5 menunjukkan bahwa
Tabel 2. Distribusi Berdasarkan Jenis Kelamin di
Wilayah Kerja Puskesmas Maesan Juni 2024 mayoritas responden tinggal bersama anaknya
(n=143 responden) yaitu sebanyak 112 orang (78,3%).
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) Tabel 6. Distribusi Berdasarkan Lama Menderita
Laki-laki 46 32,2 Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Maesan
Perempuan 97 67,8 Juni 2024 (n=143 responden)
Total 143 100.0
Lama Menderita Frekuensi Persentase (%)
Hasil data pada tabel 2 menunjukkan bahwa Hipertensi
mayoritas responden berjenis kelamin <1 Tahun 16 11,2
2 Tahun 63 44,1
Perempuan yaitu sebanyak 97 orang (67,8%). 3 Tahun 35 24,5
4 Tahun 29 20,5
Total 143 100.0
413
Jurnal ASSYIFA, Vol 2 No 3, November 2024, Page 410 – 419
selama 2 tahun yaitu sebanyak 63 orang (44,1%). % 28.0% 21.0% 51.0% 100.0%
P Value .000
Data Khusus Correlation
.612*
Coeficient
Tabel 7. Distribusi Berdasarkan Dukungan
Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Maesan Berdasarkan hasil uji statistik pada tabel 9 di atas,
Juni 2024 (n =143 responden) diperoleh hasil p value = 0,000 < 0,05 dengan
Dukungan Keluarga Frekuensi Persentase (%) menggunakan uji Spearman Rank Rho'. Hasil ini
Kurang 36 25,2
Cukup 37 25,9 menunjukkan bahwa H1 diterima dengan
Baik 70 49,0 koefisien korelasi (r) = 0,612, yang menunjukkan
Total 128 100 %
bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
Hasil data pada tabel 7 menunjukkan bahwa dukungan keluarga dengan perilaku
mayoritas responden mendapatkan dukungan pengendalian hipertensi pada lansia di Wilayah
keluarga yang baik yaitu sebanyak 70 orang Kerja Puskesmas Maesan, dengan kekuatan
(49,0%). berada di kategori kuat. Koefisien korelasi ini
Tabel 8. Distribusi Berdasarkan Perilaku bernilai positif, yang berarti semakin baik
Pengendalian Hipertensi Pada Lansia di Wilayah
Kerja Puskesmas Maesan Juni 2024 (n=143 dukungan keluarga yang diberikan maka semakin
responden) baik pula perilaku pengendalian hipertensi pada
Perilaku Frekuensi Persentase (%) lansia.
Pengendalian
HT pada Lansia
Kurang 40 28,0 PEMBAHASAN
Cukup 30 21,0
Baik 73 51,0 Dukungan Keluarga di Wilayah Kerja
Total 128 100 % Puskesmas Maesan
Hasil data pada tabel 8 menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat
mayoritas responden memilki perilaku data sebanyak 70 (49,0%) lansia mendapatkan
pengendalian hipertensi dalam kategori baik dukungan keluarga yang baik, 37 (25,9%) lansia
yaitu 73 orang (51,0%). dalam kategori dukungan keluarga cukup baik
dan 36 (25,2%) lansia dalam kategori dukungan
Tabel 9. Distribusi Frekuensi Hubungan
Dukungan Keluarga Dengan Perilaku keluarga kurang, dan hasil penelitian juga
Pengendalian Hipertensi Pada Lansia Di menunjukkan bahwa mayoritas lansia tinggal
Wilayah Kerja Puskesmas Maesan Juni 2024
(n=143 responden) bersama anaknya sebanyak 112 (78,3%). Hal ini
414
Intania, Sofia Rhosma Dewi, Dian Ratna Elmaghfhuroh. 2024. Relationship Between Family Support and Hypertension Control Behavior
untuk mengendalikan penyakit hipertensi masa paruh baya lebih tinggi penyakit hipertensi
sehingga faktor penerimaan oleh lansia dari pada wanita ketika seorang wanita mengalami
dukungan keluarga sangatlah penting. menopause dari hasil penelitian juga menunjukkan
Dari hasil penelitian menunjukkan mayoritas bahwa mayoritas responden dalam rentang usia
responden mendapatkan dukungan yang baik 66 sampai 69 tahun sebanyak 106 orang atau
dari keluarganya. Hal ini dibuktikan dari hasil sekitar 74,1% usia sangat banyak terjadi potensi
kuesioner yang telah diisi oleh responden serta sistolik terisolasi terutama pada usia paruh
wawancara yang dilakukan dimana mereka baya dan lansia.
mengemukakan bahwasanya sebagian besar dari Hubungan Dukungan Keluarga dengan
mereka mendapatkan perhatian dan kasih sayang Perilaku Pengendalian Hipertensi pada
dari keluarganya. Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Maesan
Perilaku Pengendalian Hipertensi pada Berdasarkan hasil penelitian menggunakan uji
Lansia di Wilayah Kerja Puskesmas Maesan statistik didapatkan dari 70 orang atau sekitar
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan 49,0% lansia didapatkan hubungan keluarga
bahwa sebagian besar yaitu 73 atau 51,0% lansia yang baik, 73 orang sebanyak 51% lansia punya
yang ada di wilayah kerja Puskesmas Maesan perilaku pengendalian hipertensi baik 11 lansia
mempunyai perilaku pengendalian hipertensi atau 15,7% dalam kategori perilaku pengendalian
dalam kategori baik. Hal ini tidak lepas dari hipertensi cukup baik dan lima lansia sekitar
beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku 7,1% dalam kategori kurang. Dari 37 lansia atau
lansia adalah mengendalikan hipertensi yaitu sekitar 25,9% mendapat dukungan keluarga yang
dukungan keluarga baik internal maupun cukup dan 14 lansia sekitar 37,8% mempunyai
eksternal, usia, jenis kelamin, pola hidup dan perilaku pengendalian hipertensi yang baik, 16
tingkat kesehatan. Hal ini sejalan dengan teori lansia atau sekitar 43,2% dalam kategori cukup
Health Belief Model di mana perilaku individu baik dan tujuh lansia atau sekitar 18,9% kategori
didasarkan atas tiga faktor esensial yaitu kesiapan kurang. Dari 36 lansia atau sekitar 25,2% dapat
individu untuk merubah perilaku dalam rangka dukungan keluarga yang kurang, lima lansia atau
menghindari suatu penyakit atau memperkecil sekitar 13,9% orang mempunyai perilaku
risiko kesehatan, dan adanya dorongan dalam pengendalian hipertensi baik dan tiga lansia
lingkungan yang membuatnya berubah perilaku dalam kategori cukup baik dan 28 lagi atau
itu sendiri. Dari hasil penelitian menunjukkan sekitar 8,3% dalam kata dalam kategori kurang.
mayoritas responden berjenis kelamin Dapat Dapat disimpulkan bahwa terdapat
perempuan yaitu sebanyak 97 orang di mana hubungan yang positif antara dukungan keluarga
sebesar 67,8 Dan laki-laki sebanyak 46 orang dengan perilaku pengendalian hipertensi pada
atau 32,2%. Jenis kelamin sangat erat kaitannya lansia di wilayah kerja Puskesmas dengan arah
terhadap terjadinya hipertensi. Dimana pada korelasi kuat dengan nilai P value yaitu 0,000
415
Jurnal ASSYIFA, Vol 2 No 3, November 2024, Page 410 – 419
dengan Alfa 0,05 & R tabel sama dengan 0,612 hasil dari penelitian ini akan dapat dijadikan
berdasarkan teori Health Belief Model atau teori dasar untuk pengembangan variabel pada
perilaku pada dasarnya didasari oleh tiga faktor penelitian selanjutnya.
esensial itu kesiapan individu untuk merubah
perilaku dalam rangka menghindari suatu KESIMPULAN
penyakit atau memperkecil risiko kesehatan, Berdasarkan hasil dari penelitian ini tentang
adanya dorongan individu yang berusaha untuk hubungan dukungan keluarga dengan perilaku
merubah perilaku. pengendalian hipertensi di wilayah kerja
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Puskesmas Maesan yaitu yang pertama
yang dilakukan oleh Apriyana (2023) yang dukungan keluarga pada lansia yang mengalami
menyatakan adanya hubungan dukungan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Maesan
keluarga dengan pencegahan hipertensi pada dalam kategori baik kedua perilaku pengendalian
lansia, dalam penelitiannya juga menyatakan hipertensi pada lansia di wilayah kerja Puskesmas
bahwa perilaku manusia dalam mengendalikan Maesan dalam kategori baik kemudian terakhir
penyakit dipengaruhi oleh dukungan lingkungan yaitu adanya hubungan antara dua variabel yang
sekitar dan juga kamu kemauan diri sendiri untuk diteliti dengan arah korelasi kuat artinya semakin
mengendalikan penyakitnya. banyak dukungan keluarga diberikan kepada
Saran dari peneliti diharapkan yang menderita lansia maka semakin baik pula perilaku lansia
hipertensi untuk lebih rajin mengunjungi dalam mengendalikan hipertensinya
Posyandu Lansia sehingga dapat meningkatkan atau penyakitnya.
status kesehatan serta menerapkan perilaku
hidup sehat untuk mengurangi risiko terjadinya REFERENSI
peningkatan hipertensi pada lansia sehingga Aliffatunisa, F., Rochmah, N., Ayu, I., & Dewi,
dapat meningkatkan kualitas hidupnya yang F. K. (2021). Hubungan Aspek Dukungan
lebih baik kemudian untuk keluarga disarankan Sosial Keluarga terhadap Tekanan Darah
untuk keluarga memberikan dukungan penuh Terkontrol pada Lansia dengan
terhadap lansia sehingga dapat meningkatkan Hipertensi. 3, 1–10.
motivasi lansia dalam menerapkan perilaku sehat [Link]
kemudian untuk tenaga kesehatan Puskesmas Apriana, L., Hadiyanto, H., & Basri, B. (2023).
disarankan untuk lebih optimal terutama dalam Hubungan dukungan keluarga dengan
memberikan pelayanan pada lansia serta salah pencegahan hipertensi pada lansia di
satunya kelengkapan alat kesehatan dan obat- wilayah kerja puskesmas sukabumi. 4,
obatan yang dibutuhkan lansia sehingga dapat 4567–4574.
meningkatkan minat lansia dalam melakukan Ilmiah, J., & Indonesia, K. (2022). Perilaku
kunjungan Posyandu untuk peneliti selanjutnya Pengendalian Hipertensi Lansia ditinjau
416
Intania, Sofia Rhosma Dewi, Dian Ratna Elmaghfhuroh. 2024. Relationship Between Family Support and Hypertension Control Behavior
417
Jurnal ASSYIFA, Vol 2 No 3, November 2024, Page 410 – 419
418
Intania, Sofia Rhosma Dewi, Dian Ratna Elmaghfhuroh. 2024. Relationship Between Family Support and Hypertension Control Behavior
419