0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan33 halaman

Uji Magnetic Particle pada Logam Ferromagnetik

Laporan praktikum ini membahas tentang metode Magnetic Particle Test (MPI) sebagai teknik non-destruktif untuk mendeteksi cacat pada logam ferromagnetik. Tujuan pengujian adalah untuk memahami cara kerja MPI, faktor yang mempengaruhi akurasi, serta penerapannya dalam evaluasi kualitas material. Melalui pengujian ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan keterampilan praktis dan pemahaman tentang inspeksi kualitas produk logam.

Diunggah oleh

Maulana Arfa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan33 halaman

Uji Magnetic Particle pada Logam Ferromagnetik

Laporan praktikum ini membahas tentang metode Magnetic Particle Test (MPI) sebagai teknik non-destruktif untuk mendeteksi cacat pada logam ferromagnetik. Tujuan pengujian adalah untuk memahami cara kerja MPI, faktor yang mempengaruhi akurasi, serta penerapannya dalam evaluasi kualitas material. Melalui pengujian ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan keterampilan praktis dan pemahaman tentang inspeksi kualitas produk logam.

Diunggah oleh

Maulana Arfa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM

MATERIAL TEKNIK
MAGNETIC PARTICLE TEST

Oleh:
Kelompok 4 RE IA

Andika Bagus Ramadani 1225040005


Halimatus Sa`diyah 1225040013
M. Farel Islami Putra 1225040015
Maulana Arfa A. 1225040016
Zalfa Nafidza S. P. 1225040029

Dosen Pengampu:

1. Moch. Karim Al Amin [Link]. MT


2. Adristi Nisazarifa ST. MT

PROGRAM STUDI D4 – TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI


BERKELANJUTAN
TEKNIK PERMESINAN KAPAL
POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA
2025
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Industri permesinan sangat bergantung pada logam berkualitas tinggi untuk
memproduksi berbagai alat dan perlengkapan yang digunakan oleh manusia.
Oleh karena itu, pemilihan jenis logam menjadi faktor krusial bagi produsen
karena akan memengaruhi kekuatan serta ketahanan produk. Sebelum digunakan
atau dipasarkan, logam harus melalui proses Quality Control (QC) untuk
memastikan kelayakannya.

Salah satu metode pengujian logam yang tidak merusak material adalah Non
Destructive Test (NDT), dan salah satu teknik di dalamnya adalah Magnetic
Particle Inspection (MPI). Metode ini bertujuan untuk mendeteksi adanya cacat
pada logam, baik di permukaan maupun di bawah permukaan, dengan cara
memagnetisasi bahan uji. Jika terdapat kerusakan, medan magnet akan
mengalami kebocoran, dan partikel magnetik yang ditaburkan akan berkumpul
di area tersebut, sehingga kerusakan bisa terlihat. Umumnya, pengujian ini
menggunakan metode Wet Particle.

Meski efektif, metode MPI hanya dapat diaplikasikan pada logam yang
bersifat ferromagnetik. Selain itu, arah medan magnet harus sesuai dengan arah
retakan agar hasil deteksi akurat. Setelah pengujian selesai, material juga harus
melalui proses demagnetisasi untuk menghilangkan sisa medan magnet.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana mekanisme kerja dari metode Magnetic Particle Test dalam
mengidentifikasi kerusakan pada logam?
2. Apa saja aspek yang dapat memengaruhi tingkat ketelitian hasil
pemeriksaan menggunakan Magnetic Particle Test?

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 2 of 24


LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

3. Bagaimana proses penggunaan Magnetic Particle Test pada material logam


ferromagnetik dalam rangka melakukan evaluasi kualitas?
4. Bagaimana hasil analisis atau interpretasi cacat pada spesimen baja
berdasarkan metode Magnetic Particle Test?
1.3 Tujuan Pengujian
1. Menjelaskan cara kerja metode Magnetic Particle Test dalam mengungkap
adanya kerusakan pada logam.
2. Mengidentifikasi berbagai faktor yang berpengaruh terhadap tingkat akurasi
pengujian dengan metode Magnetic Particle Test.
3. Mendeskripsikan penerapan teknik Magnetic Particle Test pada logam
ferromagnetik dalam rangka pemeriksaan mutu material.
4. Mengidentifikasi cacat menggunakan metode Magnetic Particle Test.

1.4 Manfaat Pengujian


1. Membekali mahasiswa dengan pemahaman mengenai prinsip kerja Magnetic
Particle Test dalam mendeteksi kerusakan pada logam.
2. Memperluas wawasan terkait berbagai faktor yang memengaruhi akurasi
pengujian dengan metode Magnetic Particle Test.
3. Mengembangkan keterampilan praktis dalam penerapan teknik uji non-
destruktif pada material logam ferromagnetik.
4. Menjadi referensi dalam upaya peningkatan mutu produk logam melalui
proses inspeksi yang tepat dan andal.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 3 of 24


LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026
BAB II
DASAR TEORI

2.1 Prinsip Dasar Pengujian Magnetic Particle


Pengujian magnetic particle (MT) adalah metode non-destruktif (NDT)
yang memanfaatkan gaya magnet untuk mendeteksi adanya diskontinuitas pada
bahan logam ferro, baik di permukaan maupun di bawah permukaan. Magnet,
yang merupakan logam yang dapat menarik besi, selalu memiliki dua kutub,
yaitu kutub utara dan kutub selatan. Medan magnet selalu mengalir dari kutub
utara menuju kutub selatan di luar magnet, dan kembali dari kutub selatan ke
kutub utara di dalam magnet.

Gambar 2.1 Mekanisme Garis Gaya Magnet

Prinsip dasar dari pengujian magnetic particle (MT) adalah benda uji di-
magnetisasi dengan cara dialiri arus listrik. Pemberian arus ini menciptakan
medan magnet di dalam dan sekitar benda tersebut, didorong oleh perbedaan
potensial (arus mengalir dari tegangan tinggi ke tegangan rendah). Selanjutnya,
serbuk feromagnetik ditaburkan di area yang diuji. Jika ada cacat atau
ketidaksempurnaan pada benda uji, serbuk tersebut akan berkumpul dan
membentuk pola tertentu, yang kemudian menjadi indikasi visual adanya
diskontinuitas.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 4 of 24


LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

2.2 Jenis Jenis Magnet


Berdasarkan sifat dan cara pembentukannya, magnet dibedakan menjadi dua
jenis utama:
1. Magnet permanen
Magnet permanen terbuat dari bahan logam khusus, misalnya baja atau
alnico, dan dapat mempertahankan sifat kemagnetannya dalam waktu
yang lama setelah proses magnetisasi. Ini berarti magnet ini akan tetap
memiliki kutub utara dan selatan serta mampu menarik logam, meskipun
pengaruh medan magnet eksternal sudah tidak ada. Sifat kemagnetannya
bertahan karena partikel magnet di dalamnya tersusun secara teratur dan
stabil. Magnet jenis ini sering ditemukan pada kompas, dinamo, motor
listrik, dan berbagai alat ukur atau sensor.
2. Elektromagnet
Magnet yang hanya bersifat sementara. Jenis ini terbentuk ketika bahan
feromagnetik, seperti besi lunak, dililiti kawat dan dialiri arus listrik.
Arus listrik yang mengalir melalui lilitan akan menciptakan medan
magnet, mengubah inti besi menjadi magnet sementara. Ketika aliran
arus listrik diputus, medan magnet akan hilang, dan sifat kemagnetannya
pun lenyap. Keunggulan elektromagnet adalah kekuatan medan
magnetnya dapat diatur dengan cara mengubah besaran arus listrik yang
digunakan. Elektromagnet banyak digunakan dalam aplikasi industri,
seperti pada motor listrik, generator, relai, dan alat pengangkat logam
berat di pabrik baja.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 5 of 24


LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

2.3 Metode Magnetisasi


1. Magnetisasi Longitudinal
Magnetisasi longitudinal adalah prosedur untuk menghasilkan medan magnet
yang arah garis gayanya sejajar atau memanjang searah dengan sumbu benda
yang sedang diuji.
a. Kumparan (Solenoid)
Medan magnet jenis ini dapat dibangkitkan melalui metode Kumparan
(Solenoid). Cara ini sangat efektif apabila panjang benda uji jauh lebih besar
daripada diameter atau penampangnya. Proses magnetisasi dilakukan dengan
menempatkan benda uji di dalam kumparan kawat berarus listrik. Ketika arus
mengalir melalui lilitan, medan magnet yang tercipta akan menginduksi
benda uji sehingga termagnetisasi secara memanjang (longitudinal).

Gambar 2.3.1 Ilustrasi Metode Magnetisasi Coil


b. Yoke
Metode ini memanfaatkan sebuah alat yang disebut yoke , yang bentuknya
menyerupai tapal kuda. Yoke dibuat dari bahan besi lunak agar memiliki
sifat retentivitas rendah (mudah kehilangan magnetisasi). Alat ini di-
magnetisasi menggunakan kumparan kecil yang melilit pada batang
horizontalnya. Proses magnetisasi dilakukan dengan cara menempelkan
kedua kaki yoke pada permukaan benda yang sedang diuji, sehingga medan
magnet terbentuk dan mengalir di antara kedua kutub yoke tersebut.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 6 of 24


LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

Gambar 2.3.2 Ilustrasi Metode Magnetisasi Yoke

2. Magnetisasi Melingkar
Magnetisasi melingkar (Circular Magnetization) adalah teknik yang
menghasilkan medan magnet yang arah garis gayanya mengelilingi atau
melingkar di sekitar benda yang diuji, tegak lurus terhadap sumbu
panjangnya.
a. Induksi Langsung dengan Head Shot
Metode ini dilakukan dengan mengalirkan arus listrik langsung ke dalam
benda uji menggunakan alat yang disebut Head Shot. Arus listrik tersebut
menghasilkan medan magnet melingkar di sekitar benda uji.

Gambar 2.3.3 Ilustrasi Metode Magnetisasi Head Shot

b. Induksi Langsung dengan Prods


Teknik ini diterapkan ketika bentuk atau ukuran benda uji tidak
memungkinkan untuk menggunakan metode head shot atau konduktor
pusat. Caranya adalah dengan menempelkan dua elektroda berbentuk jarum,
yang disebut prods, pada permukaan benda. Arus listrik kemudian dialirkan
di antara kedua prods tersebut, yang berfungsi untuk menghasilkan medan

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 7 of 24


LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026
magnet melingkar secara lokal di area pengujian tersebut.

Gambar 2.3.4 Ilustrasi Metode Magnetisasi Prods

c. Induksi Tidak Langsung (Central Conductor)


Pada metode ini, arus listrik dialirkan melalui sebuah konduktor logam yang
ditempatkan di bagian dalam benda uji. Medan magnet yang terbentuk di
sekitar konduktor tersebut akan menginduksi benda uji, sehingga
termagnetisasi, tanpa perlu mengalirkan arus listrik secara langsung ke
permukaan benda. Teknik ini dikenal sebagai metode konduktor pusat
(Central Conductor Technique) dan sangat cocok digunakan untuk menguji
benda yang berbentuk tabung atau silinder.

Gambar 2.3.5 lustrasi Metode Magnetisasi Central Conduct

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 8 of 24


LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026
2.4 Klasifikasi Berdasarkan Metode Pemberian Partikel Feromagnetik

[Link] Magnet Kontinyu


Pada metode ini, proses magnetisasi dilakukan secara terus-menerus
(berkesinambungan) bersamaan dengan saat serbuk atau suspensi partikel
feromagnetik ditaburkan. Karena medan magnet masih aktif saat partikel
diaplikasikan, partikel akan langsung bereaksi terhadap medan tersebut.
[Link] Magnet Sisa (Residual)
Pada metode ini, serbuk atau suspensi feromagnetik diaplikasikan setelah
proses magnetisasi selesai. Partikel akan menempel pada area yang masih
menyimpan medan magnet sisa, sehingga cacat pada permukaan tetap dapat
terdeteksi.

2.5 Syarat Keberterimaan Pengujian Penetran (Penetrant Test)

Dalam pengujian ini, penentuan jenis cacat didasarkan pada ukuran


indikasinya. Cacat yang memiliki ukuran lebih dari 1,5 mm dikelompokkan
sebagai indikasi relevan (relevant indication). Secara umum, bentuk indikasi
dibagi menjadi dua jenis: indikasi memanjang (linear indication) dan indikasi
melingkar (rounded indication). Indikasi memanjang didefinisikan sebagai
indikasi yang panjangnya (L) melebihi tiga kali lebarnya (L > 3W), sementara
indikasi melingkar adalah indikasi yang panjangnya sama dengan atau kurang
dari tiga kali lebarnya (L 3W).

Hasil pengujian akan dinyatakan tidak diterima (unacceptable) apabila


ditemukan indikasi relevan berbentuk memanjang; atau indikasi relevan
berbentuk melingkar yang ukurannya melebihi 5 mm atau inci; atau empat atau
lebih indikasi melingkar yang tersusun berderet dengan jarak antar-indikasi
(dari tepi ke tepi) sama dengan atau kurang dari 1,5 mm ( inci). Dengan
demikian, jika permukaan benda uji tidak menunjukkan jenis indikasi yang
disebutkan di

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 9 of 24


LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

atas, material tersebut dianggap dapat diterima (acceptable) dan dinilai tidak
memiliki cacat signifikan yang dapat memengaruhi kualitasnya.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 10 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026
BAB III
METODE PENGUJIAN
3.1 Diagram Alir

Gambar 3.1 Diagram Alir Magnetic Particle Test

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 11 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

3.2 Alat dan Bahan


1. Alat
1. Mistar Baja
Alat yang digunakan untuk mengukur mekanik berbahan baja tahan karat
yang digunakan untuk mengukur panjang, lebar, tinggi, dan kedalaman
suatu benda.

Gambar 3.2 Mistar Baja


Sumber: https: [Link]

2. Stopwatch
Stopwatch adalah alat untuk mengukur dan mencatat durasi waktu antara
dua peristiwa, seperti saat memulai dan menghentikan waktu

Gambar 3.3 Stopwatch


Sumber: [Link]

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 12 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026
3. Lampu
Lampu adalah sebuah peranti atau alat yang berfungsi untuk menghasilkan
cahaya buatan, umumnya dengan mengubah energi listrik, gas, atau bahan
bakar lain untuk menerangi ruangan atau sebagai sumber sinyal

Gambar 3.4 Lampu


Sumber: [Link]

4. Light Meter (Custom LX-100)


Light meter atau pengukur cahaya adalah sebuah alat untuk mengukur
intensitas atau tingkat kecerahan cahaya dalam suatu area.

Gambar 3.5 Light Meter


Sumber: [Link]

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 13 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026
5. Thermogun Infrared
Thermogun infrared adalah perangkat portabel untuk mengukur suhu objek
atau tubuh secara non-kontak, dengan menggunakan sensor inframerah
untuk mendeteksi radiasi panas yang dipancarkan objek dan mengubahnya
menjadi data suhu yang ditampilkan di layar

Gambar 3.6 Thermogun Infrared


Sumber: [Link]

6. Sikat Besi
Sikat besi, atau sikat kawat baja, adalah alat pembersih yang terbuat dari
rangkaian kawat baja yang kuat, digunakan untuk menghilangkan karat,
kotoran membandel, kerak, dan cat dari permukaan logam atau besi.

Gambar 3.7 Sikat Besi


Sumber: [Link]

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 14 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026
7. Gauss Field Meter
Gauss Field Meter adalah alat untuk mengukur kekuatan medan magnet
dalam satuan gauss atau tesla, biasanya digunakan pada pengujian magnetik
atau pemeriksaan kebocoran medan magnet.

Gambar 3.8 Gauss Field Meter


Sumber: [Link]
2. Bahan
1. Spesimen Uji Weld Part
Spesimen uji weld adalah segmen sambungan las yang dipersiapkan khusus
untuk diuji secara destruktif maupun non-destruktif guna mengevaluasi
kualitas dan kekuatan sambungan las tersebut.

Gambar 3.9 Spesimen Uji Weld Part

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 15 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026
2. Cleaner / Remover
"Cleaner" adalah pembersih umum yang menghilangkan noda atau kotoran dari
permukaan.

Gambar 3.10 Cleaner (SKC-S Magnaflux)


Sumber: [Link]

3. Magnetic Particle Ink


Magnetic particle ink adalah cairan berisi partikel feromagnetik halus yang
digunakan dalam pengujian magnetic particle. Cairan ini membantu
menampilkan cacat pada permukaan atau bawah permukaan logam ketika
partikel tertarik ke area dengan gangguan medan magnet.

Gambar 3.11 Magnetic Particle Ink (7HF Magnaflux)


Sumber: [Link]

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 16 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026
4. White Contrast Paint
White contrast paint adalah cat dasar berwarna putih yang digunakan pada
pengujian magnetic particle untuk meningkatkan kontras antara permukaan
benda uji dan partikel magnetik berwarna gelap, sehingga indikasi cacat lebih
mudah terlihat.

Gambar 3.12 White Contrast Paint (WCP – 2 Magnaflux)


Sumber: [Link]

5. Tisu Kering
Tisu kering adalah selembar atau beberapa lembar kertas tipis yang terbuat dari
serat selulosa alami seperti kayu atau kapas, digunakan untuk membersihkan
noda.

Gambar 3.13 Tisu Kering


Sumber: [Link]

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 17 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

3. 3.4 Alat Pelindung Diri


1. Safety Mask
2. Safety Gloves
3. Safety Shoes
4. Wearpack

3.5 Langkah Kerja


4. Persiapan alat dilakukan dengan menguji kekuatan yoke terlebih dahulu
menggunakan metode Power Lifting of Yoke sesuai dengan ASME Section
V Article 6 (T-773, 2). Untuk arus AC, yoke harus mampu mengangkat
beban minimal 4,5 kg (10 lb) pada jarak maksimum antar kutub. Jika yoke
masih dapat mengangkat beban sesuai ketentuan, maka alat tersebut
dinyatakan layak pakai. Pengujian ini umumnya dilakukan setahun sekali.

Gambar 3. 5.1 Dokumentasi persiapan alat

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 18 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

5. Spesimen dibersihkan dari kotoran seperti minyak, karat, lemak, cat, atau
debu menggunakan cleaner agar permukaan bebas dari kontaminasi.

Gambar 3.5.2 Dokumentasi pembersihan spesimen

6. Intensitas cahaya diukur dengan menyiapkan alat lux meter dan dipastikan alat
dalam kondisi baik serta telah dikalibrasi.

Gambar 3.5.3 Dokumentasi pengukuran intensitas cahaya

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 19 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

7. Permukaan material uji kemudian disemprotkan White Contrast Paint (WCP


2) secara merata sebagai lapisan dasar untuk memperjelas indikasi cacat.

Gambar 3.5.4 Dokumentasi penyemprotan WCP

8. Ditunggu hingga lapisan cat kering sebelum melanjutkan proses berikutnya.

Gambar 3.5.6 Dokumentasi pengeringan WCP

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 20 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

9. Setelah cat mengering, diatur posisi yoke agar dapat memagnetisasi material
secara optimal. Selama proses magnetisasi, yoke dipindahkan ke berbagai
posisi untuk memastikan seluruh area, baik permukaan maupun bawah
permukaan, terdeteksi jika terdapat discontinuity seperti retak atau cacat.

Gambar 3.5.7 Dokumentasi pengeringan WCP

10. Saat material dimagnetisasi, disemprotkan wet particle secara merata hingga
cacat atau retakan mulai terlihat di permukaan material.

Gambar3.5.8 Dokumentasi penyemprotan Wet Particle

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 21 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

11. Diamati dan dicatat hasil indikasi cacat yang muncul pada permukaan
material uji.

Gambar 3.5.9 Dokumentasi indikasi cacat yang muncul

12. Setelah pemeriksaan selesai, dilakukan demagnetisasi untuk menghilangkan


sisa medan magnet pada spesimen. Selanjutnya, ukur kembali sisa
magnetisme menggunakan gauss meter untuk memastikan material netral
dari magnet.
13. Terakhir, dilakukan pembersihan akhir (post cleaning) agar material uji
kembali bersih setelah seluruh proses selesai.

3.4 Aspek Keselamatan Kerja


Hindari kontak langsung dengan bahan uji karena bersifat beracun dan mudah
terbakar. Gunakan sarung tangan serta masker selama proses pengujian untuk
mencegah paparan langsung maupun terhirupnya debu partikel magnetik dan
WCP secara berlebihan. Pastikan juga kabel dan peralatan listrik terhubung
dengan baik sebelum digunakan. Setelah bahan dalam kaleng bertekanan
habis, lubangi terlebih dahulu sebelum membuangnya ke tempat pembuangan
yang telah disediakan.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 22 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Analisis Data


Tabel 4.1.1 Hasil Analisis
Equipment √ yoke □ prod □ coil □ SN:
Particle type □ dry √ wet □ fluorescent □ color contrast
Method √ continuous □ residual
Surface condition √ weld □ machine □ grind Temp: 29°C
process
Range √ base metal □ weld part □ repair weld □ back chipping

No Ukuran Diskontinuitas (mm) Jenis Hasil


Jenis Diskontinuitas Diskontinuits

Panjang Lebar Diterima Ditolak


1 26 0.1 Linier √
2 10 0.1 Linier √
3 6 0.1 Linier √
4 5 0.1 Linier √
5 24 0.1 Linier √
6 2 0.1 Linier √
7 12 0.1 Linier √
8 2 0.1 Linier √
9 3 0.1 Linier √
10 10 0.1 Linier √
11 25 0,1 Linier √
12 9 0,1 Linier √
13 14 0,1 Linier √
14 5 0,1 Linier √
15 4 0,1 Linier √
Lighting equipment : Lampu CLF
Light intensity : 1123 Lux
Distance : 25 cm

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 23 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 24 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini, dilakukan pengujian tak merusak (Non-
Destructive Test/NDT) menggunakan metode Magnetic Particle Testing
(MPT). Pengujian ini dilakukan pada pelat yang telah mengalami proses
pengelasan, dengan tujuan utama untuk mendeteksi adanya cacat pada
permukaan sambungan las melalui pemanfaatan partikel magnetik yang
bereaksi terhadap medan [Link] yang diterapkan adalah metode
basah (wet method), di mana pengujian dilakukan pada permukaan
sambungan las dalam kondisi suhu 29°C. Intensitas pencahayaan saat
pengujian tercatat sebesar 1123 Lux, menggunakan lampu CLF dengan jarak
sumber cahaya 25 cm dari permukaan benda [Link] proses pengujian,
penting untuk menyesuaikan posisi kaki alat magnet agar sesuai dengan
dimensi pelat uji. Selain itu, teknik penyemprotan cairan partikel magnet juga
memegang peran krusial terhadap keakuratan hasil. Bila arah cacat sejajar
dengan arah medan magnet, maka indikasi cacat tidak akan terdeteksi dengan
baik.

Oleh karena itu, pengujian dilakukan dua kali dengan arah medan
magnet yang saling tegak lurus dan sejajar terhadap sambungan las untuk
memastikan seluruh potensi cacat dapat [Link] hasil pengujian,
ditemukan bahwa semua sampel menunjukkan indikasi cacat yang tidak
memenuhi kriteria keberterimaan (reject). Tabel hasil pengujian menunjukkan
bahwa seluruh sampel memiliki cacat berbentuk linier dengan ukuran
bervariasi, salah satunya berukuran 26 x 0,1 mm. Seluruh hasil tersebut
masuk dalam kategori “Ditolak”. Ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh
area las pada pelat uji mengalami [Link] besar,
cacat tersebut disebabkan oleh proses pengelasan yang kurang optimal,
seperti kurang padatnya pengisian logam las, yang dapat memicu retakan atau

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 25 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

porositas di sepanjang sambungan. Hasil ini juga menekankan pentingnya


EB42050
MATERIAL TEKNIK
ketelitian dalam membaca GANJIL 2025/2026

pola partikel magnet yang menempel di area cacat, karena kesalahan


interpretasi dapat mengarah pada penilaian yang tidak akurat terhadap kondisi
sebenarnya.

Berdasarkan hasil pengujian Magnetic Particle Test (MPT) yang telah


dilakukan, ditemukan sebanyak 15 diskontinuitas sebagai berikut.
1. Indikasi dengan ukuran 26 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.
2. Indikasi dengan ukuran 10 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.
3. Indikasi dengan ukuran 6 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.
4. Indikasi dengan ukuran 5 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.
5. Indikasi dengan ukuran 24 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 26 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

6. Indikasi dengan ukuran 2 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas


EB42050 linear
MATERIAL TEKNIK
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak,GANJIL 2025/2026
Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi

batas toleransi yang diizinkan.


7. Indikasi dengan ukuran 12 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.
8. Indikasi dengan ukuran 2 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.
9. Indikasi dengan ukuran 3 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.
10. Indikasi dengan ukuran 10 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.
11. Indikasi dengan ukuran 25 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.
12. Indikasi dengan ukuran 9 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 27 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

13. Indikasi dengan ukuran 14 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas


EB42050 linear
MATERIAL TEKNIK
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak,GANJIL 2025/2026
Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.

14. Indikasi dengan ukuran 5 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear


karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.
15. Indikasi dengan ukuran 4 x 0,1 mm termasuk diskontinuitas linear
karena L>3W. Indikasi tersebut dinyatakan ditolak, Karena termasuk
kedalam indikasi memanjang tidak relevan atau panjang diskontinuitas
melebihi batas toleransi yang diizinkan.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 28 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
1. Metode Magnetic Particle Test ini bekerja dengan cara memagnetisasi
material ferromagnetik. Jika terdapat cacat (seperti retakan atau pori) di
permukaan atau dekat permukaan, maka medan magnet akan terganggu
dan menimbulkan kebocoran medan (leakage field).Partikel magnetik yang
ditaburkan atau disemprotkan akan tertarik dan berkumpul di area
kebocoran medan tersebut, sehingga cacat menjadi terlihat secara visual.

2. Dalam pengujian Magnetic Particle Test, kekuatan medan magnet harus


cukup kuat agar dapat menembus area cacat. Jenis dan ukuran partikel
magnetik merupakan partikel halus yang lebih sensitif terhadap cacat
kecil. Kebersihan permukaan benda uji kotoran atau minyak dapat
menghalangi partikel menempel pada cacat. Arah magnetisasinya harus
tegak lurus terhadap arah kemungkinan cacat dan kondisi pencahayaan
memengaruhi kemampuan mendeteksi indikasi cacat.

3. Pengujian Magnetic Particle Test dimulai dari persiapan permukaan


dengan pembersihan benda uji. Kemudian Pemberian magnetisasi (baik
langsung maupun tidak langsung). Dilanjut dengan plikasi partikel
magnetik (kering atau basah, fluorescent atau berwarna).Terakhir,
mengobservasi hasil dan identifikasi indikasi cacat. Demagnetisasi dan
pembersihan akhir setelah pengujian.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 29 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

4. Cacat yang terlihat sebagai penumpukan partikel menunjukkan


EB42050 adanya
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026
gangguan medan magnet. Bentuk dan arah penumpukan partikel
membantu menentukan jenis cacat (misalnya retak, porositas, inklusi, atau
sambungan las yang tidak sempurna). Hasil interpretasi digunakan untuk
menilai apakah

material masih memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan atau perlu


perbaikan.
5.2 Saran
Faktor-factor yang menyebabkan terjadinya kesalahan saat melakukan
pengujian kekerasan:
 Posisi pada Letak kaki alat magnetic yoke perlu disesuaikan dengan
dimensi pelat uji untuk memastikan distribusi medan magnet merata pada
area pengujian
 Jaga intensitas penyemprotan partikel magnet supaya tidak terlalu tebal
maupun terlalu tipis.
 Gunakan metode uji tambahan seperti Dye Penetrant Test (DPT) atau
Ultrasonic Testing (UT) agar dapat memverifikasi hasil pengujian.
 Pengujian titik hanya dilakukan pada satu lokasi, sehingga data yang
diperoleh menjadi minimal.

5.3 Saran Terhadap SOP


14. 1. SOP perlu dilengkapi dengan standar acuan seperti ASME Section V, ASTM
E3024, atau ISO 9934, agar pelaksanaan pengujian mengacu pada ketentuan
internasional yang berlaku.
15. 2. Petunjuk mengenai arah magnetisasi (tegak lurus dan sejajar garis las)
sebaiknya dijelaskan lebih jelas agar operator memahami pentingnya dua arah
pengujian.
16. 3. Diperlukan panduan keselamatan kerja yang lebih detail, seperti batas aman
paparan medan magnet dan cara penanganan cairan partikel magnetik.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 30 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 31 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

DAFTAR PUSTAKA

Irwansyah. (2019). DETEKSI CACAT PADA MATERIAL DENGAN


TEKNIK. 2-5
KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN R.I. (2018). MELAKUKAN
MAGNETIC PARTICLE TEST (MT). Jakarta Selatan.
Mohammad Anas Fikri, L. H. (2021). Rancang Bangun Yoke Permanen
Magnet Untuk Pendeteksian Subsurface Defect Dengan Metode
MPI. prosiding Sentrinov, 371-378.
Riznanda, R. (2015). STUDI PERBANDINGAN KECEPATAN DAN
KETELITIAN PENGUJIAN MAGNETIC PARTICLE . 1-18.
Rony, A. A. (2018). Identifikasi Faktor Penyebab Keretakan Pada Platform
Module (H-BEAM) Menggunakan Metode NDT. ISSN , 43-44.

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 32 of


24
LAB. UJI BAHAN D4 TEKNOLOGI REKAYASA ENERGI
BERKELANJUTAN

EB42050
MATERIAL TEKNIK
GANJIL 2025/2026

LAMPIRAN
Lembar kerja dan asistensi

Gambar 5.3.1 Lembar kerja uji magnetic particle test

Gambar 5.3.1 Lembar kerja uji magnetic particle test

Tanggal : Nama Kelompok : Dosen Pembimbing : Revisi ke: Page: 33 of


24

Anda mungkin juga menyukai