Fikih Ibadah: Kurikulum Merdeka MA X
Fikih Ibadah: Kurikulum Merdeka MA X
KURIKULUM MERDEKA
FIKIH
MADRASAH ALIYAH KELAS X
FASE E
DISUSUN
OLEH
IRJANUDDIN SIREGAR
B. KOMPONEN INTI
1) Tujuan Pembelajaran
Menganalisis konsep fikih dan sejarah perkembangannya agar tumbuh keyakinan dan
kesadaran dalam beribadah.
3) Pemahaman bermakna
a. Memahami konsep fikih sangat penting sekali karena dalam beribadah tidak bisa
lepas dari ilmu fikih baik ibadah mahdha atau ghoiru mahdhah seperti shalat, zakat,
puasa, haji dan lain sebagainya.
b. Memahami perkembangan ilmu fikih adalah merupakan keniscayaan agar
mengetahui perkembangan ilmu fikih dari periode ke periode berikutnya.
4) Kata kunci
a. Fikih
b. Periode perkembangan fikih
5) Pertanyaan pemantik
a. Mengapa aturan Fikih dibutuhkan umat Islam?
b. Bagaimana mengkorelasikan dan mengaplikasikan aturan Fikih dalam kehidupan?
c. Bagaimana sejarah perkembangan ilmu Fikih dari periode ke periode berikutnya?
6) Persiapan pembelajaran
a. Guru menyiapkan komputer, pengeras suara, CD Pembelajaran interaktif, jaringan
internet dan link youtube.
b. Guru menyiapkan Slide PPT tentang materi konsep Ilmu fikih dan perkembangannya.
c. Guru menyiapkan bahan bacaan tentang konsep Ilmu fikih dan perkembangannya
7) Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan Literasi Peserta didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca
dan menuliskannya kembali. Mereka diberi tayangan dan
bahanbacaan terkait materi konsep fikih
Critical Thinking Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi hal hal yang belum
dipahami. Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi konsep
Fikih
Collaboartion Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan,
mengumpulkan informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar
informasi mengenai konsep fikih
Communication Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu
secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan
kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang
mempresentasikan
Creativity Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah
dipelajari terkait konsep fikih. Peserta didik kemudian diberi kesempatan
untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami
Kegiatan Penutup: Alokasi waktu 15 Menit
Guru dan Peserta didik membuat rangkuman/kesimpulan pelajaran tentang poin-poin penting yang
muncul dalam kegiatan pembelajaran yang baru dilakukan.
Guru memberikan informasi terkait materi pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya
Guru menutup pembelajaran dengan do’a.
C. PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
a. Untuk siswa yang sudah memahami materi ini sesuai dengan tujuan pembelajaran dan
dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh, disarankan untuk membaca materi menganalisis
konsep qurban dan akikah dari berbagai refernsi yang relevan.
b. Guru dapat menggunakan alternatif metode dan media pembelajaran sesuai dengan
kondisi masing-masing agar pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan
(joyfull learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa sesuai.
c. Untuk siswa yang kesulitan topik ini, disarankan untuk belajar kembali tata cara pada
pembelajaran di dalam dan di luar kelas sesuai kesepakatan guru dengan siswa. Siswa
juga disarankan untuk belajar dengan teman sebaya.
D. ASESMEN
1) Asesmen Awal
Untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan peserta didik sebelum belajar tentang
konsep qurban dan akikah, guru memberikan pertanyaan kepada peserta didik mengenai
konsep qurban dan aqiqah baik secara lisan maupun tulisan.
Soal Asesmen:
1. Jelaskan pengertian fikih?
2. Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman Nabi Muhammad?
3. Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman sahabat?
4. Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman tabiin?
5. Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman tabiit tabi’in?
a. Pemetaan Penguasaan Kompetensi Peserta Didik hasil Asesmen Awal
Sudah Belum
No Kompetensi dan Lingkup Materi
(%) (%)
1 Jelaskan pengertian fikih?
2 Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman Nabi Muhammad?
3 Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman sahabat?
4 Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman tabiin?
5 Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman tabiit tabi’in?
Nilai = skor x 25
3) Asesmen Sumatif
a. Asesmen Pengetahuan
Teknik Asesmen:
- Tes : tertulis
- Non Tes : Obervasi
Bentuk Instrumen:
- Asesmen tidak tertulis : daftar wawancara
- Asesmen tertulis : jawaban singkat
b. Asesmen Keterampilan
- Teknis Asesmen : Kinerja
- Bentuk Instrumen : Lembar Kinerja
E. PENGAYAAN
a. Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang telah mencapai kompetensi dan tujuan
pembelajaran
b. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang lebih variatif dengan menambah keluasan
dan kedalaman materi yang mengarah pada high order thinking
c. Program pengayaan dilakukan di luar jam belajar efektif.
F. REMEDIAL
a. Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai keompetensi dan tujuan
pembelajaran
b. Guru melakukan pembahasan ulang terhadap materi yang telah diberikan dengan
cara/metode yang berbeda untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih
memudahkan peserta didik dalam memaknai dan menguasai materi ajar misalnya lewat
diskusi dan permainan.
c. Program remedial dilakukan di luar jam belajar efektif.
Jawaban
No Pertanyaan Refleksi
Refleksi
1. Bagian manakah yang menurut kamu halm paling sulit dari pelajaran
ini?
2 Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki hasil belajarmu?
3 Kepada siapa kamu akan meminta bantuan untuk memahami
pelajaran ini?
4 Jika kamu diminta untuk memberikan bintang 1 sampai 5, berapa
bintang yang akan kamu berikan pada usaha yang telah kamu
lakukan?
5 Apakah kamu sudah dapat Menganalisis konsep fikih dan
perkembangannya?
H. REFLEKSI GURU
Pertanyaan kunci yang membantu guru merefleksikan kegiatan pengajaran di kelas,
misalnya:
1. Bagaimana membuat peserta didik merasa nyaman di madrasah?
2. Bagaimana membuat kegiatan pembelajaran lebih menarik?
3. Apakah semua peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran?
4. Kesulitan apa yang dialami peserta didik?
I. GLOSARIUM
1. Konsep : rancangan
2. Fikih : Ilmu yang membahas tentang hukum hukum syara’ yang bersifat
amaliy (yang dikerjakan) yang diperoleh melalui dalil-dalil yang
terperinci.
3. Periode : Kurun waktu
4. Tadwin : Pembukaan
J. DAFTAR PUSTAKA
1. Fikih MA Kelas X, Cetakan I, Tahun 2020; Direktorat KSKK Madrasah, Dirjen Pendis,
Kemenag RI.
2. Fiqh Islam, Sulaiman Rasyid Cet. Ke 64, Sinar Agung Baru Algensindo Bandung, Tahun
2013
3. Fiqih Islam Lengkap, Moh Rifai (Edisi yang disempurnakan Tahun 2014, PT. Karya
Toha Putra, Semarang.
4. Video Sumber belajar Internet dan Alquran Terjemahan.
Pertemuan 1
Kata Fikih adalah bentukan dari kata Fiqhun yang secara bahasa berarti (pemahaman
yang mendalam) yang menghendaki pengerahan potensi akal. Ilmu Fikih merupakan salah satu
bidang keilmuan dalam syariah Islam yang secara khusus membahas persoalan hukum atau
aturan yang terkait dengan berbagai aspek kehidupan manusia, baik menyangkut individu,
masyarakat, maupun hubungan manusia dengan Penciptanya. Definisi fikih secara istilah
mengalami perkembangan dari masa ke masa, sehingga tidak pernah bisa ditemukan satu definisi
yang tunggal.
Pada setiap masa itu para ahli merumuskan pengertiannya sendiri. Sebagaimana Imam
Abu Hanifah (w. 150 H / 767 M.) mengemukakan bahwa Fikih adalah pengetahuan manusia
tentang hak dan kewajibannya. Dengan demikian, fikih bisa dikatakan meliputi seluruh aspek
kehidupan manusia dalam berislam, yang bisa masuk pada wilayah akidah, syariah, ibadah dan
akhlak. Selanjutnya Imam Syafi’i (w. 204 H / 819 M) mendefinisikan Fikih sebagai
“Ilmu/pengetahuan mengenai hukum-hukum syari’ah yang berlandaskan kepada dalil-dalilnya
yang terperinci. Pendefinisian Imam Syafi’i ini merupakan pendefinisian yang paling popular
dikalanagan para Fuqaha'.
Berikut ini perlu dilihat beberapa definisi fikih yang dikemukakan oleh ulama ushul fikih
berikut:
1. Ilmu yang mempunyai tema pokok dengan kaidah dan prinsip tertentu. Definisi ini muncul
dikarenakan kajian fikih yang dilakukan oleh fuqaha’ menggunakan metode-metode tertentu,
seperti qiyas, istihsan, istishâb, maslahah mursalah dan sadduz zari’ah.
2. Ilmu tentang hukum syar’iyyah yang berkaitan dengan perbuatan manusia, baik dalam
bentuk perintah (wajib), larangan (haram), pilihan (mubah), anjuran untuk melakukan
(sunnah), maupun anjuran agar menghindarinya (makruh) yang didasarkan pada sumber-
sumber syari’ah, bukan akal atau perasaan.
3. Ilmu tentang hukum syar’iyyah yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah. Dari sini bisa
dimengerti kalau fikih merupakan hukun syariah yang lebih bersifat praktis yang diperoleh
dari istidlâl atau istinbât (penyimpulan) dari sumber-sumber syariah (Al-Qur’an dan Hadis).
4. Fikih diperoleh melalui dalil yang terperinci (tafshili), yakni Al-Qur’an, Al-Hadis, Qiyas dan
Ijma’ melalui proses istidlâl (deduktif), istinbât (induktif) atau nazar (analisis). Oleh karena
itu tidak disebut fikih manakala proses analisis untuk menentukan suatu hukum tidak melalui
istidlal atau istinbath terhadap salah satu sumber hukum tersebut. Ulama fikih sendiri
mendefinisikan fikih sebagai sekumpulan hukum amaaliyah (yang akan dikerjakan) yang
disyariatkan dalam Islam. Dalam hal ini kalangan fuqaha membaginya menjadi dua
pengertian, yakni:
a. memelihara hukum furu’ (hukum keagamaan yang tidak pokok) secara mutlak
(seluruhnya) atau sebagiannya.
b. Materi hukum itu sendiri, baik yang bersifat qat’î maupun yang bersifat ʑannî.
B. Ruang Lingkup Fikih
Ruang lingkup yang terdapat pada ilmu Fikih adalah semua hukum yang berbentuk
amaaliyah untuk diamaalkan oleh setiap mukallaf (orang yang sudah dibebani atau diberi
tanggungjawab melaksanakan ajaran syariah Islam dengan tanda-tanda seperti baligh,
berakal, sadar, sudah masuk Islam). Hukum yang diatur dalam Fikih Islam itu terdiri dari
hukum wajib, sunah, mubah, makruh dan haram; di samping itu ada pula dalam bentuk yang
lain seperti sah, batal, benar, salah dan sebagainya. Obyek pembicaraan Ilmu Fikih adalah
hukum yang bertalian dengan perbuatan orang-orang mukallaf yakni orang yang telah akil baligh
dan mempunyai hak dan kewajiban. Adapun ruang lingkupnya seperti telah disebutkan di
muka meliputi :
Pertama, hukum yang bertalian dengan hubungan manusia dengan khaliqnya (Allah
Swt.). Hukum-hukum itu bertalian dengan hukum-hukum ibadah.
Kedua, hukum-hukum yang bertalian dengan muamalat, yaitu hukum-hukum yang
mengatur hubungan manusia dengan sesamanya baik pribadi maupun kelompok dalam segi
transaksi finansial.
Ketiga, Hukum-hukum munakahah (pernikahan), ini sering juga disebut dengan
hukum kekeluargaan (Al-Ahwâl Asy-Syakhshiyyah). Hukum ini mengatur manusia dalam
keluarga baik awal pembentukannya sampai pada akhirnya.
Keempat, Hukum jinâyah atau hukum perdata, yaitu hukum yang mengikat manusia
dengan kehidupan sehari-hari dalam berbangsa dan bernegara.
Keempat hukum Islam inilah yang dibicarakan dalam kitab-kitab fikih dan terus
berkembang hingga saat ini.
Menurut Syaikh Abdul Wahab Khalaf (w. 1357 H / 1956 M) perkembangan tarikh al-
Tasyri’ atau fikih islam terbagi menjadi empat periode yakni periode Rasulallah, periode sahabat,
periode tadwin dan periode taqlid.
Tarikh Tasyri' Islam atau sejarah fikih Islam, pada hakikatnya tumbuh dan berkembang di masa Nabi,
karena Nabilah yang mempunyai wewenang atas dasar wahyu untuk mentasyri’kan hukum dan
berakhir dengan wafatnya Nabi. Pada Masa Rasulullah adalah masa fikih Islam mulai tumbuh
dan membentuk dirinya menjelma ke alam perwujudan. Sumber asasi yang ada pada masa ini
ialah Al-quran. Tentang Sunnah Rasul adalah berdasarkan wahyu Ilahi yang diturunkan
kepadanya. Demikian juga segala tindak-tanduk Rasulullah Saw. Selalu dibimbing oleh wahyu
Ilahi, dan semua hukum dan keputusan hukum didasarkan kepada wahyu juga. Sebagaimana
diterangkan dalam firman Allah QS. An-Najm (53): 3-4 yang berbunyi:
Pada periode ini, walaupun usianya tidak panjang, namun telah meninggalkan dampak kuat dan
kesan-kesan serta pengaruh yang signifikan bagi perkembangan hukum islam dan masa yang
kulli yang bersifat keseluruhan dan dasar-dasar yang umum yang universal untuk dasar
penetapan hukum bagi masalah dan peristiwa yang tidak ada nash (dalil) nya. Periode Rasulullah
Saw. ini terbagi kepada dua periode yang masing-masing mempunyai corak tersendiri. Yaitu
periode Makkah dan Periode Madinah.
a. Periode Makkah
Periode pertama dalam periode Nabi ialah periode Makkah, yakni masa selama Rasulullah Saw.
menetap dan berkedudukan di Makkah selama 12 tahun dan beberapa bulan, semenjak beliau
diangkat menjadi Nabi hingga beliau berhijrah ke Madinah. Dalam masa ini, Umat Islam masih
sedikit dan masih lemah, belum dapat membentuk dirinya sebagai suatu umat yang mempunyai
kedaulatan dan kekuasaan yang kuat.
Nabi telah mencurahkan tauhid ke dalam jiwa masing-masing individu dalam masyarakat arab
serta menjauhkan manusia dari menyembah berhala menuju penghambaan yang nyata,
disamping beliau menjaga diri dari aneka rupa gangguan bangsanya. Pada masa ini belum
banyak hal-hal yang mendorong Rasulullah [Link] mengadakan hukum atau undang-
undang. Oleh karena itu, tidak ada ayat-ayat hukum di dalam surat Makkiyah seperti surat Yunus,
Ar-Ra’du, Yasin, Al-Furqon dan sebagainya. Kebanyakan ayat-ayat makkiyah berisikan hal-hal
yang orientasinya akidah, akhlak dan sejarah.
b. Periode Madinah
Periode kedua dalam periode nabi ialah periode Madinah, Yakni masa dimana Rasulullah Saw.
telah berhijrah ke Madinah dan menetap di sana selama 10 tahun sampai Beliau wafat. Dalam
masa inilah umat Islam berkembang dengan pesatnya dan pengikutnya terus menerus bertambah.
Rasulullah Saw. mulai membentuk suatu masyarakat Islam yang berkedaulatan. Karena itu
timbulah keperluan untuk membentuk syari’at dan peraturan-peraturan bagi masyarakat guna
mengaturhubungan antar anggota masyarakat satu dengan lainnya dan hubungan mereka dengan
umat lainnya dalam tatanan kehidupan sehari-hari.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka disyari’atkan hukum-hukum perkawinan, talak, wasiat,
jual beli, sewa, hutang-piutang dan semua transaksi. Demikian juga yang berhubungan dengan
pemeliharaan keamanan dalam masyarakat, dengan adanya hukum pidana dan lain sebagainya.
Karena itulah surat-surat Madaniyah, seperti surat Al-Baqarah, Ali Imran, An-Nisa’, Al Maidah,
Al Anfal, AtTaubah, An-Nur dan sebagainya banyak mengandung ayat-ayat hukum di samping
mengandung ayat-ayat tentang akidah, akhlak, sejarah dan lain-lain. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa selama Periode Makkah hampir tidak didapatkan indikasi yang berarti,
karena masa ini merupakan masa pembentukan pondasi ketauhidan Islam. Ayat-ayat yang
diturunkan adalah ayat-ayat akidah. Berbeda dengan masa Madinah di mana ayat-ayat tentang
hukum dan pranata sosial mendominasi, sehingga indikasi penetapan hukum terlihat lebih jelas.
Selanjutnya suatu hal yang nyata terjadi adalah bahwa Nabi telah berbuat sehubungan dengan
turunnya ayat-ayat Al-quran yang mengandung hukum (ayat-ayat hukum). Tidak semua ayat
hukum itu memberikan penjelasan yang mudah difahami untuk kemudian dilaksanakan secara
praktis sesuai dengan kehendak Allah. Oleh karena itu Rasulullah Saw. memberikan penjelasan
mengenai maksud setiap ayat hukum itu kepada umatnya, sehingga ayat-ayat yang tadinya belum
dalam bentuk petunjuk praktis, menjadi jelas dan dapat dilaksanakan secara praktis. Nabi
memberikan penjelasan dengan ucapan, perbuatan, dan pengakuannya yang kemudian disebut
sunnah Nabi. Apakah hukum-hukum yang bersifat amaaliah yang dihasilkan oleh Nabi yang
bersumber kepada al-quran itu dapat disebut fiqih.
2. Periode Sahabat
Periode kedua ini berkembang pada masa wafatya Nabi Muhammad Saw. dan berakhir sejak
Muawiyah bin Abi Sufyan menjabat sebagai khalifah pada tahun 41 H. Pada periode ini hiduplah
sahabat-sahabat Nabi terkemuka yang mengibarkan bendera dakwah Islam. Pada periode ini juga
wilayah islam sudah semakin meluas, yang mengakibatkan adanya masalah-masalah baru yang
timbul. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan apabila pada periode sahabat ini pada bidang
hukum ditandai dengan penafsiran para sahabat dan ijtihadnya dalam kasus-kasus yang tidak ada
nashnya, disamping itu juga terjadi hal-hal yng tidak menguntungkan yaitu perpecahan
masyarakat islam yang bertentangan sacara tajam. Di periode sahabat ini, kaum muslimin telah
memiliki rujukan hukum syari’at yang sempurna berupa Al-Qur’an, Hadis, ijma’ dan qiyas. Adat
istiadat dan peraturan peraturan berbagai daerah yang bernaungan di bawah Islam tak luput ikut
memperkaya aturan-aturan yang berlaku. Dapat ditegaskan bahwa zaman khulafaurrasyidin
lengkaplah dalil-dalil tasyri’ Islam. Sahabat-sahabat besar dalam periode ini menafsirkan nash-
nash hukum dari al-Qur’am maupun hadis, yang kemudian menjadi pegangan untuk menafsirkan
dan menjelaskan nash-nash.
Selain itu, para sahabat memberi fatwa-fatwa dalam berbagai masalah terhadap kejadian-
kejadian yang tidak ada nash yang jelas mengenai masalah itu, yang kemudian menjadi dasar
ijtihad. Dalam Hal ini, tidaklah menyalahi jika apa yang dilakukan oleh para sahabat juga bisa
dijadikan pegangan oleh para tabi'in. hal ini selaras dengan Sabda Nabi yang berbunyi:
Artinya: "Para Sahabatku laksana bintang-bintang (dalam kegelapan maalam) dengan siapa
saja kalian mengikuti, maka kalian akan mendapatkan petunjuk"
Tatkala Rasulullah Saw. Bersabda, maka para sahabat secara langsung mengambil ilmu dari
Beliau. Ketika ada suatu permasalahan, maka sahabat tak sungkan untuk bertanya kepada
sumbernya langsung, sehingga segala sesuatunya menjadi jelas. Hanya saja, pada periode ini,
belum ada pembukuan fikih, maksudnya adalah bahwa fikih hanya dikaji tanpa adanya suatu
catatan-catatan yang bisa dibaca oleh generasi setelahnya.
3. Periode Tadwin
Pemerintah Islam pasca keruntuhan Daulah Umayyah segera digantikan oleh Daulah
Abbasiyyah. Masa Abbasiah ini disebut juga masa Mujahidin dan masa pembukuan fikih, karena
pada masa ini terjadi pembekuan dan penyempurnaan fikih. Pada masa Abbasiyyah, yang
dimulai dari pertengahan adab ke-2 H sampai peretngahan abad ke-4 ini, muncul usaha-usaha
pembukuan al-Hadis, Atsar Sahabat dan fatwa-fatwa tabi’in dalam bidang fikih, tafsir, ushul al-
fikih dan sebagainya.
Pada masa ini pada lahir para tokoh dalam istinbat dan perundangan-undangan Islam. Masa ini
disebut masa keemasan Islam yang ditandai dengan berkembangannya ilmu pengetahuan yang
pengaruhnya dapat dirasakan hingga sekarang. Pada masa ini muncul pula mazhab-mazhab fikih
yang banyak mempengaruhi perkembangan hukum Islam. Di antaranya :
Beliau adalah Nu'man bin Tsabit bin Zuta bin Mahan At-Taymi. Lebih dikenal dengan nama
Abu Hanifah, Seorang mujtahid dan pendiri mazhab Hanafi. Lahir di Kufah, Irak pada tahun 80
H / 699 M dan meninggal di Baghdad, Irak pada tahun 150 H / 767 M.
Beliau merupakan seorang tabi'in, yakni generasi setelah sahabat nabi, karena pernah bertemu
dengan salah seorang sahabat Rasulullah Saw. yang bernama Anas bin Malik dan beberapa
peserta perang badar yang dimuliakan Allah Swt. yang merupakan generasi terbaik Islam. Beliau
juga berguru kepadanya dalam meriwayatkan Hadis dan berbagai ilmu dari Rasulullah Saw.
Sedangkan salah satu guru Imam Abu Hanifah dalam bidang ilmu fikih adalah Syaikh Hammad
bin Abi sulaiman. Beliau berguru kepada Syaikh Hammad selama 18 tahun.
Ketika sang guru wafat, beliau menggantikan posisi gurunya sebagai guru besar. Imam Abu
Hanifah memiliki banyak murid, dan yang paling terkenal dan giat dalam membukukan apa yang
disampaikan oleh beliau adalah Syaikh Abu Yusuf. Dari Syaikh Abu Yusuf inilah mazhab
Hanafi terus berkembang sampai sekarang.
b. Imam Malik
Beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin 'Amr Al-Humyari Al-Asbahi Al- Madani. Lahir di
Madinah pada tahun 714 M / 93 H dan wafat pada tahun 800 M /179 H. Beliau terkenal dengan
kecerdasan yang luar biasa. Beliau memiliki buah karya yang sangat terkenal,yakni kitab Al-
Muwattha'. Kitab yang memuat kompilasi Hadis dan ucapan para sahabat. Beliau juga salah satu
mujtahid mutlak, pendiri mazhab Maliki yang dalam perkembangannya banyak digunakan di
daerah Madinah dan sebagian Makkah. Diantara guru beliau adalah Nafi' bin Abi Nu'aim, Nafi'
AlMuqbiri, Na'imul, Majmar, Az-Zuhri dan lain-lain. Kemudian murid-murid beliau diantaranya
adalah Ibnul Mubarok, Penerus dan pengembang dari mazhab Malikiyyah, Sufyan At-Tsauri,
Imam As-Syafi'i, pendiri mazhab Syafi'iyyah, Abu Hudzaifah AsSahmi dll.
c. Imam As-Syafi'i
Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Idris AS-Syafi'i Al-Muttholibi Al-Quraisy. Seorang
mufti besar sunni islam dan pendiri mazhab Syafi'i. Lahir di Palestina tahun 150 H /767 M dan
wafat di Mesir tahun 204 H / 819 M. Beliau masih tergolong kerabat nabi melalui jalur kakeknya
yang bernama Al-Muttholib, yakni saudara dari Hasyim yang merupakan kakek Rasulullah Saw.
Dalam perjalanan hidupnya, setelah ayah beliau meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu
membawanya ke Makkah, tanah air nenek moyangnya. Di Makkah, As-Syafi'I kecil belajar fikih
kepada mufti disana, Syaikh Muslim bin Kholid AzZanji sampai beliau mengizinkan Syafi'I
kecil memberikan fatwa ketika masih berumur 15 tahun. Kemudian Syafi'I remaja berguru
kepada Imam Dawud bin Abdurrahman Al-Atthar dan masih banyak lagi guru-guru beliau.
Ketika As-Syafi'I kecil berumur 9 tahun, Ia pergi ke Madinah dan berguru fikih kepada Imam
Malik bin Anas. Ia mengaji kitab Muwattha' kepada Imam Malik dan mampu menghafalkannya
hanya dalam 9 malam saja. Setelah Imam As-Syafi'i dewasa, dengan segala ilmu yang telah Ia
pelajari, Ia mulai berijtihad dan berfatwa serta produktif dalam menulis kitab-kitab konseptual
nan praktis sebagai media rujukan kaum muslim dalam menjalankan kehidupan individual
maupun sosial. Buah dari ijtihad beliau adalah mazhab syafi'iyyah yang mana mazhab ini
merupakan mazhab dengan penganut terbanyak di dunia saat ini.
LAMPIRAN 2 : ASESMEN FORMATIF
Nilai = skor x 25
b. Unjuk Kerja 2
Pengamatan : Menyebutkan pengertian fikih dan periode-periode sejarah perkembangan
fikih.
Keterangan
BS : Baik sekali
B : Baik
C : Cukup
BG : Perlu Bimbingan Guru
2. Asesmen Sumatif (Asesmen setelah proses pembelajaran)
a. Asesmen Pengetahuan
Jawablah pertanyaan-pertanyaan ini dengan jelas!
1. Jelaskan pengertian fikih?
2. Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman Nabi Muhammad?
3. Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman sahabat?
4. Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman tabiin?
5. Jelaskan sejarah perkembangan fikih pada zaman tabiit tabi’in?
Nilai = Skor
x 100
perolehan
Skor Maksimal
Konversi Nilai
Konversi Nilai
Predikat Klasifikasi
(Skala 0-100)
86-100 A SB (Sangat Baik)
71-85 B B (Baik )
56-70 C C (Cukup)
>50 D D (Kurang)
b. Asesmen Keterampilan
Asesnen Keterampilan Presentasi
Kelompok : ………………………………
Keterangan: Isilah dengan kriteria Sangat Baik, Baik, Cukup, atau Kurang pada setiap
kolom
Keterangan
BS : Baik sekali
B : Baik
C : Cukup
BG : Perlu Bimbingan Guru
Konversi Nilai
Konversi Nilai
Predikat Klasifikasi
(Skala 0-100)
86-100 A SB (Sangat Baik)
71-85 B B (Baik )
56-70 C C (Cukup)
>50 D D (Kurang)
LAMPIRAN 3 : LKPD
LKPD adalah lembar kegiatan peserta didik, seperti terlampir di bawah ini.