0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan25 halaman

Panduan Lengkap Rhinitis Alergi

Dokumen ini adalah referat tentang Rhinitis Alergi yang disusun oleh Mahardika Maghfirani Sadewa di bawah bimbingan dr. Jenny, Sp.THT-KL, FICS. Referat ini mencakup definisi, etiologi, epidemiologi, patofisiologi, dan tatalaksana rhinitis alergi, serta informasi terkait anatomi dan fisiologi hidung. Rinitis alergi adalah gangguan inflamasi pada mukosa hidung yang disebabkan oleh reaksi alergi dan mempengaruhi banyak individu dengan gejala yang signifikan.

Diunggah oleh

siti.j4k
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan25 halaman

Panduan Lengkap Rhinitis Alergi

Dokumen ini adalah referat tentang Rhinitis Alergi yang disusun oleh Mahardika Maghfirani Sadewa di bawah bimbingan dr. Jenny, Sp.THT-KL, FICS. Referat ini mencakup definisi, etiologi, epidemiologi, patofisiologi, dan tatalaksana rhinitis alergi, serta informasi terkait anatomi dan fisiologi hidung. Rinitis alergi adalah gangguan inflamasi pada mukosa hidung yang disebabkan oleh reaksi alergi dan mempengaruhi banyak individu dengan gejala yang signifikan.

Diunggah oleh

siti.j4k
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

REFERAT

RHINITIS ALERGI

Pembimbing:
dr. Jenny, [Link]-KL, FICS

Disusun oleh:
Mahardika Maghfirani Sadewa
406212115

KEPANITERAAN KLINIK ILMU THT-KL


PERIODE 18 JULI – 20 AGUSTUS 2022
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TARUMANAGARA – RSUD CIBINONG
JAKARTA
LEMBAR PENGESAHAN

Referat
Rhinitis Alergi

Disusun oleh:
Mahardika Maghfirani Sadewa
406212115

Pembimbing:

dr. Jenny, [Link]-KL, FICS

Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Kepaniteraan Klinik THT-KL


RSUD Cibinong

Cibinong, 13 Agustus 2022


Pembimbing, Bagian Ilmu Penyakit
THT-KL RSUD Cibinong

dr. Jenny, [Link]-KL, FICS

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerahnya yang diberikan oleh-Nya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan topik “Rhinitis Alergi” dengan
baik.
Pada kesempatan ini, penulisan mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas
dukungan dalam penyusunan referat ini dari awal hingga akhir, kepada:
1. dr. Dadang Chandra, [Link]-KL selaku kepala bagian kepaniteraan THT-KL
RSUD Cibinong.
2. dr. Jenny, [Link]-KL, FICS selaku pembimbing referat dalam kepaniteraan THT-
KL RSUD Cibinong.
3. dr. Shirly Gunawan, [Link] selaku kaprodi program studi profesi dokter Fakultas
Kedokteran Universitas Tarumanagara
Akhir kata, penulis berharap referat ini dapat memberikan manfaat bagi para
pembacanya. Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna dan masih
banyak kekurangan. Oleh karena itu, dengan hati terbuka penulis menerima segala
kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan penulisan makalah ini.

Cibinong, 13 Agustus 2022


Penulis,

Mahardhika Maghfirani Sadewa


406212115

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL................................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................ i
DAFTAR SINGKATAN ........................................................................................................ vi
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................................................ 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................. 2
2.1 Anatomi dan Fisiologi Hidung .................................................................................. 2
2.1.1 Anatomi Hidung .................................................................................................. 2
2.1.2 Fisiologi Hidung .................................................................................................. 5
2.2 Rinitis Alergi ............................................................................................................... 5
2.2.1 Definisi Rinitis Alergi ......................................................................................... 5
2.2.2 Etiologi ................................................................................................................ 6
2.2.3 Epidemiologi dan Faktor Risiko Rinitis Alergi ................................................... 6
2.2.4 Patofisiologi......................................................................................................... 7
2.2.5 Klasifikasi ............................................................................................................ 8
2.2.6 Gejala Klinis ........................................................................................................ 9
2.2.7 Diagnosis ........................................................................................................... 10
2.2.8 Diagnosis Banding ............................................................................................ 11
2.2.9 Tatalaksana ........................................................................................................ 12
2.2.10 Komplikasi ....................................................................................................... 16
BAB III KESIMPULAN ....................................................................................................... 17
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 18

iii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Indikasi dan kontraindikasi imunoterapi untuk rhinitis alergi …………………….14

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi hidung bagian luar ………………………………………………………2


Gambar 2.2 Vaskularisasi dan inervasi rongga hidung……………………………………..…3
Gambar 2.3 Anatomi rongga hidung ………………………………………………….………4
Gambar 2.4 Patofisiologi rhinitis alergi ………………………………………………..……...8
Gambar 2.5 Klasifikasi rhinitis alergi menurut ARIA ..……………...................................…..9
Gambar 2.6 Terapi rhinitis alergi menurut tingkat keparahan ………..……………….……..12
Gambar 2.7 Algoritma tatalaksana rhinitis alergi menurut ARIA …………………….…..…15

i
DAFTAR SINGKATAN

ARIA : Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma


IgE : Immunoglobulin E
RAST : Radioallergosorbent Testing
ELISA : Enzyme-Linked Immunosorbent Assays
LTRAs: Leukotriene Receptor Antagonists
SCIT : Subcutaneous Immunotherapy
SLIT : Sublingual Immunotherapy

vi
BAB I
PENDAHULUAN

Rinitis alergi adalah gangguan inflamasi pada mukosa hidung yang terjadi setelah
paparan alergen. Rinitis alergi mempengaruhi satu dari enam individu dan
berhubungan dengan morbiditas yang signifikan, hilangnya produktivitas, dan biaya
perawatan Kesehatan.1
Menurut Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma (ARIA), Rinitis alergi
dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahan penyakit dan durasi gejala.
Klasifikasi rhinitis alergi terditi dari rhinitis alergi intermiten ringan, rhinitis alergi
persisten ringan, rhinitis alergi intermiten sedang/berat, dan rhinitis alergi persisten
sedang/berat.2 Secara klinis, rhinitis alergi memiliki kondisi simtomatik dengan empat
gejala utama yaitu rinore anterior atau posterior, bersin, hidung gatal dan hidung
tersumbat.3 Selain gejala hidung, gejala rhinitis alergi juga dapat disertai dengan
konjungtivitis alergi, batuk non-produktif, disfungsi tuba Eustachius, dan sinusitis
kronis.1
Setelah didiagnosis, pengobatan rhinitis alergi dapat dilakukan dengan berbagai
modalitas dan harus menggabungkan antara penghindaran alergen (bila
memungkinkan), farmakoterapi, dan imunoterapi alergen. Kortikosteroid intranasal
adalah modalitas yang paling efektif untuk mengobati rinitis alergi.3

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fisiologi Hidung

2.1.1 Anatomi Hidung


Hidung adalah bagian dari saluran pernapasan yang terletak di atas dari palatum durum
dan berisi organ perifer penciuman. Hidung termasuk hidung luar dan rongga hidung,
yang dibagi menjadi rongga kanan dan kiri oleh septum hidung. Fungsi hidung meliputi
olfaksi (penciuman), respirasi (pernapasan), filtrasi debu, pelembapan udara inspirasi,
dan penerimaan dan pengeluaran sekret dari sinus paranasal dan duktus
nasolakrimalis.4

Gambar 2.1 Anatomi hidung bagian luar

1. Hidung bagian luar


Rongga hidung dibagi menjadi dua bagian oleh septum hidung median. Hidung
eksternal yang menonjol dan septum anterior terdiri dari kerangka tulang rawan
yang membuatnya fleksibel, mengurangi potensi patah tulang hidung. Selain
septum dan dasar hidung, dinding rongga hidung dikelilingi oleh sinus
paranasal, dan pada dinding lateralnya terdapat conchae.4

2
2. Rongga hidung
Sinus dan konka berfungsi meningkatkan luas permukaan sekretorik untuk
pertukaran uap air dan panas. Semua permukaan rongga hidung ditutupi dengan
mukosa sekretorik yang tebal, vaskular, yang bagian anterosuperiornya
(termasuk sebagian besar sinus paranasal) disuplai oleh arteri dan saraf
oftalmikus (CN V1) dan bagian postero-inferior (termasuk sinus maksilaris)
oleh arteri dan saraf maksilaris (CN V2). Mukosa atap dan daerah yang
berdekatan dari dinding dan septum juga menerima persarafan sensorik khusus
dari saraf penciuman (CN I). Di bagian posterior, rongga hidung bersambung
dengan nasofaring melalui koana; palatum mole berfungsi sebagai katup atau
gerbang yang mengontrol akses ke dan dari saluran hidung. Pada dinding lateral
terdapat muara duktus nasolakrimalis, sinus paranasal, dan tuba eustachius.4

Gambar 2.2 Vaskularisasi dan inervasi rongga hidung.4

3
Gambar 2.3 Anaomi rongga hidung.4

3. Sinus Paranasal
Sinus paranasal dinamai berdasarkan tulang yang ditempatinya. Sinus maksilaris
adalah yang terbesar. Sebagian besar sinus bermuara ke dalam meatus nasi media,
tetapi sinus sfenoidalis masuk ke dalam resesus sfeno-etmoidalis.4

4
2.1.2 Fisiologi Hidung
Rongga hidung berfungsi untuk melembabkan dan menghangatkan udara yang
diinspirasi. Selain itu, rongga hidung juga menghilangkan partikel kecil di udara dan
kotoran lainnya sebelum udara mencapai saluran udara bagian bawah. Rongga hidung
dilapisi oleh epitel kolumnar yang berfungsi untuk mengeluarkan lendir yang melapisi
lapisan rongga hidung dan membantu pembersihan mukosiliar dari partikel aerosol
kecil yang terperangkap di mukosa hidung. Rongga hidung juga berfungsi untuk
memfasilitasi drainase sekret dari sinus paranasal yang berdekatan.5

Selain itu, rongga hidung juga berfungsi sebagai indera penghidu. Neuron
sensorik olfaktorius, sel pendukung (sustentacular cells), dan sel punca basal terletak
di epitel olfaktorius di bagian atas rongga hidung.6 Rongga hidung menangkap partikel
pembawa bau dan mengirimkannya ke resesus olfaktorius, yang berada di bagian
superior rongga hidung, tepat di medial turbinatus superior.5

2.2 Rinitis Alergi


2.2.1 Definisi Rinitis Alergi
Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi pada mukosa hidung yang disebabkan karena
adanya reaksi alergi pada seseorang yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan
alergen, serta dilepaskannya mediator inflamasi tertentu ketika terjadi paparan ulang
alergen tersebut.2 Rinitis alergi secara klinis digambarkan oleh kombinasi dari dua atau
lebih gejala hidung: rinore, hidung tersumbat, hidung gatal dan bersin. Rinitis alergi
terjadi ketika gejala-gejala ini merupakan hasil dari peradangan yang dimediasi IgE
setelah terpapar alergen.7

5
2.2.2 Etiologi
Berdasarkan cara masuknya, allergen dibagi menjadi:7

1. Alergen inhalan
Alergen ini masuk bersamaan dengan pernapasan. Contoh allergen inhalan
yaitu tungau debu rumah, serpihan epitel kulit binatang (seperti kucing dan
anjing), rerumputan, serta jamur
2. Alergen ingestan
Alergen ini masuk ke saluran cerna. Biasanya berupa makanan seperti susu
sapi, telur, ikan laut, udang, kepiting dan kacang-kacangan.
3. Alergen injektan
Alergen ini masuk melalui suntikan atau tusukan. Contoh allergen injektan
yaitu obat (penicillin)
4. Alergen kontaktan
Alergen ini masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa, misalnya bahan
kosmetik atau perhiasan.

Alergen juga sering dikategorikan ke dalam dua jenis, yaitu indoor (dalam ruangan)
dan outdoor (luar ruangan). Secara umum, alergen outdoor kebanyakan menyebabkan
seasonal allergic rhinitis, sedangkan alergi indoor biasanya menyebabkan perenennial
rhinitis.8

2.2.3 Epidemiologi dan Faktor Risiko Rinitis Alergi


Rinitis alergi adalah jenis rinitis kronis yang paling umum, yang mempengaruhi 10-
20% dari populasi dengan prevalensi yang terus meningkat.9 Rinitis alergi diketahui
mencapai puncaknya pada usia 20-40 tahun kehidupan dan kemudian secara bertahap
akan menurun. Insiden rhinitis alergi pada anak-anak juga cukup tinggi,
menjadikannya salah satu gangguan pediatrik kronis yang paling umum. Menurut data
dari International Study for Asthma and Allergies in Childhood, gejala
rinokonjungtivitis yang terkait dengan rinitis alergi muncul pada 14,6% kelompok usia
13 hingga 14 tahun dan 8,5% kelompok usia 6 hingga 7 tahun.1

6
Beberapa faktor risiko rinitis alergi yaitu:1,7

• Riwayat keluarga dengan atopi


• Jenis kelamin laki-laki
• Adanya IgE spesifik allergen
• IgE serum lebih besar dari 100 IU/mL sebelum usia 6 tahun
• Faktor lingkungan seperti tinggal di negara maju, status sosial yang baik, dan
‘good hygiene’

2.2.4 Patofisiologi
Reaksi pada rhinitis alergi terbagi menjadi 4 fase yaitu fase sensitisasi, fase awal (early
phase), fase tertunda (late phase), dan aktivasi sistemik.7

1. Fase sensitisasi
Fase ini dimulai setelah paparan antigen awal. Antigen presenting cells
(makrofag, HLA kelas II) menyajikan peptide yang diproses ke sel T helper
(sel CD4+) dan melepaskan interleukin (IL-4, IL-5, dan IL-13). Pelepasan
interleukin tersebut dapat mendukung diferensiasi sel B menjadi sel plasma
dangan produksi IgE spesifik. Setelah diproduksi, IgE diambil oleh sel lokal
yang memiliki FcER1, yaitu terutama sel mast. Dengan demikian, sel mast
mampu secara khusus merespons kontak alergen berikutnya.
2. Fase awal (early phase)
Fase ini terjadi segera dalam hitungan menit setelah terpapar allergen. Gejala
seperti bersin, rinore dan gatal akan muncul dan ini berhubungan dengan
peningkatan mediator seperti histamin, leukotrien C4 dan prostaglandin D2.
3. Fase tertunda (late phase)
Fase ini bersifat inflamasi dan melibatkan masuknya sel seperti eosinofil,
basofil, sel mast, limfosit T, neutrofil, dan makrofag ke tempat reaksi lokal.
Gejala utamanya adalah sumbatan hidung dan hiperreaktivitas.

7
4. Aktivasi sistemik
Peningkatan regulasi produksi dan pelepasan prekursor eosinofil dan basofil
dari sumsum tulang dapat terjadi sebagai respons terhadap kontak alergen di
hidung atau paru-paru. Prekursor sirkulasi yang dihasilkan tertarik ke tempat
reaksi dan ke bagian lain dari saluran pernapasan oleh selektin dan molekul
adhesi dan menyusup ke jaringan, di mana mereka matang. Proses ini juga
tampak pada polip hidung dan mungkin menjadi penyebab atas beberapa
hubungan rhinitis dengan asma.

Gambar 2.4 Patofisiologi rhinitis alergi.7

2.2.5 Klasifikasi
Menurut ARIA, rhinitis alergi dibagi berdasarkan waktu dan gejala. Pembagian
klasifikasi rhinitis alergi adalah sebagai berikut:8

• Intermittent
Gejala muncul < 4 kali dalam seminggu, atau berlangsung kurang dari 4 minggu

8
• Persistent
Gejala muncul > 4 kali dalam seminggu, atau berlangsung lebih dari 4 minggu
• Mild (ringan)
Tidak didapatkan adanya gangguan pada tidur, pekerjaan dan aktivitas sehari-
hari, serta tidak ada gejala yang mengganggu
• Moderate-severe (sedang-berat)
Terdapat satu atau lebih dari gejala berikut: gangguan tidur, gangguan aktivitas
sehari-hari, gangguan pada saat sekolah atau bekerja, adanya gejala yang
mengganggu

Pembagian seperti ini dirancang sebagai sistem untuk memulai pedoman pengobatan
rinitis alergi.8

Gambar 2.5 Klasifikasi rhinitis alergi menurut ARIA.10

2.2.6 Gejala Klinis


Rhinitis alergi memiliki empat gejala utama yaitu rinore, bersin berulang, hidung gatal
dan hidung tersumbat.2,3 Selain gejala hidung, gejala rhinitis alergi juga dapat disertai

9
dengan konjungtivitis alergi, batuk non-produktif, disfungsi tuba Eustachius, dan
sinusitis kronis.1

2.2.7 Diagnosis
Diagnosis rhinitis alergi dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesis

Anamnesis sangat penting dilakukan karena seringkali pasien dating tanpa gejala.
Gejala rinitis alergi yang khas yaitu serangan bersin berulang.2 Secara umum, rinore
anterior merupakan tanda rinitis alergi yang lebih spesifik dibandingkan postnasal drip,
yang lebih sering terlihat pada rinosinusitis.11

Anamnesis juga penting dilakukan untuk membedakan antara rinitis alergi dan non-
alergi. Gejala yang terlihat selama musim tertentu dalam setahun dapat mengarahkan
diagnosis ke rinitis alergi yang bisa disebabkan oleh serbuk sari atau jamur. Serbuk sari
cenderung memiliki puncak musiman. Seringkali pasien juga menyadari hal-hal
tertentu yang memperbutuk gejala mereka seperti hewan peliharaan atau debu.2,11

2. Pemeriksaan Fisik

Dari hasil pemeriksaan fisik, biasanya didapatkan mukosa edema, basah, berwarna
pucat, disertai adanya secret encer yang banyak pada rinoskopi anterior. Mukosa
inferior bisa terlihat hipertrofi apabila gejala persisten. Pada orofaring dapat ditemukan
postnasal drip. Keadaan posterior faring tampak granuler disertai edema (cobblestone
appearance), dan dinding lateral faring tampak menebal.2,11

Selain itu, pasien juga tampak bernapas lewat mulut, sering tersedu, dan tampak
juga lingkaran hitam di bawah mata (allergic shiner).1,2 Pasien juga dapat terlihat
sering menggosok-gosokkan hidung dengan punggung tangan karena gatal (allergic
salute), dan keadaan ini lama kelamaan akan mengakibatkan timbulnya garis melintang
pada dorsum nasi bagian sepertiga bawah (allergic crease).2

10
3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan untuk menegakkan diagnosis rhinitis


alergi antara lain:3,7

1. Skin prick test


Jika dilakukan dengan benar, skin prick test dapat menghasilkan bukti
konfirmasi yang berguna untuk diagnosis alergi tertentu. Skin prick test
tidak boleh dilakukan jika pasien sedang mengonsumsi antihistamin,
memiliki riwayat dermatitis kontak alergi parah, atau pernah mengalami
anafilaksis yang mengancam jiwa sebelumnya.
2. Pemeriksaan IgE spesifik
Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan metode radioallergosorbent
testing (RAST) atau dengan enzyme-linked immunosorbent assays
(ELISA).
3. Challenge test
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memapar langsung pasien pada
allergen yang bertujuan untuk memicu rinitis alergi. Karena waktu
pengerjaannya yang lama dan tingkat kesulitannya yang tinggi, challenge
test jarang dilakukan namun tetap menjadi baku emas diagnosis rinitis
alergi.

2.2.8 Diagnosis Banding


Diagnosis banding rhinitis alergi meliputi:12

a. Rinitis non-alergi non-infeksius:


• Drug induced rhinitis
• Hormone induced rhinitis
• Senile rhinitis
• Gustatory rhinitis
• Occupational rhinitis

11
• Idiopathic rhinitis
• Athropic Rhinitis
b. Rhinitis akibat infeksi akut atau kronis

2.2.9 Tatalaksana
Pedoman ARIA merekomendasikan bahwa terapi rhinitis alergi diberikan sesuai
dengan tingkat keparahan dan durasi penyakit, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar
di bawah ini.7

Gambar 2.6 Pemilihan terapi rhinitis alergi menurut tingkat keparahan


dan durasi penyakit.7

Non-farmakologi

Terapi yang paling ideal untuk rhinitis alergi adalah dengan mengindari kontak dengan
alergen penyebab, serta eliminasi dari agen tersebut. Penghindaran alergen hendaknya
merupakan bagian terpadu dari strategi penatalaksanaan, terutama bila alergen
penyebab dapat diidentifikasi.2

12
Farmakoterapi

Beberapa obat yang digunakan untuk terapi rhinitis alergi yaitu:1

1. Kortikosteroid intranasal
Terapi kortikosteroid intranasal dapat berupa monoterapi atau kombinasi
dengan antihistamin oral pada pasien dengan gejala ringan, sedang, atau berat.
Kortikosteroid intranasal sebaiknya menjadi pengobatan lini pertama untuk
rhinitis alergi karena diketahui lebih efektif dalam mengurangi peradangan
hidung dibandingkan antihistamin.1
2. Antihistamin
Antihistamin generasi pertama dan kedua efektif dalam mengendalikan gejala
rhinitis alergi seperti rinore, gatal, dan bersin, tetapi tidak memiliki efek yang
signifikan pada hidung tersumbat. Antihistamin generasi pertama
(chlorphenarimine dan diphenhydramine) memiliki efek sedasi dan juga
bekerja pada reseptor muskarinik, menyebabkan efek samping mulut kering,
retensi urin, konstipasi, dan/atau takikardia.1 Antihistamin generasi kedua
(loratadine, cetirizine) tidak memiliki efek antikolinergik, antiadrenergik, serta
memiliki efek sedasi yang minimal.2 Antihistamin direkomendasikan sebagai
terapi lini pertama atau kedua untuk rhinitis alergi dan dapat digunakan bersama
dengan kortikosteroid intranasal.1
3. Leukotriene receptor antagonists (LTRAs)
Leukotriene receptor antagonists (LTRAs) seperti montelukast dan zafirlukast
dapat bermanfaat pada pasien dengan rhinitis alergi, namun tidak seefektif
kortikosteroid intranasal. Biasanya termasuk dalam terapi kombinasi dengan
agen lain untuk gejala yang parah atau refrakter.1
4. Dekongestan
Dekongestan oral seperti pseudoefedrin efektif dalam meredakan gejala tetapi
tidak direkomendasikan untuk penggunaan sehari-hari yang berkepanjangan
karena profil efek sampingnya. Dekongestan intranasal seperti xylometazoline

13
adalah alpha-agonis yang dikirim langsung ke jaringan hidung untuk
menghasilkan vasokonstriksi. Penggunaan jangka panjang dekongestan
intranasal memiliki risiko terjadinya rebound nasal congestion (rhinitis
medicamentosa) dan, oleh karena itu, tidak boleh digunakan lebih dari
seminggu.1

Imunoterapi

Imunoterapi alergen melibatkan pemberian berulang ekstrak alergen untuk


menginduksi keadaan toleransi imunologis, dengan pengurangan gejala klinis dan
persyaratan untuk pengobatan saat terjadinya paparan alergen berikutnya. Imunoterapi
alergen diindikasikan pada pasien dengan rinitis alergi dengan gejala parah yang tidak
merespon terhadap pengobatan biasa dengan antihistamin dan kortikosteroid hidung
topikal.7 Subcutaneous immunotherapy (SCIT) atau sublingual immunotherapy (SLIT)
adalah terapi yang umum digunakan. Incremented dose diberikan secara mingguan
selama 6 sampai 8 bulan, diikuti dengan maintenance dose selama 3 sampai 5 tahun.
Biasanya, pasien mengalami efek protektif yang berkepanjangan, dan terapi dapat
dihentikan.1

Kriteria Inklusi Kontraindikasi


IgE-mediated disease (+SPT/RAST) Riwayat asma bronkial
Ketidakmampuan untuk menghindari Penggunaan beta bloker
alergen
Penggunaan obat yang tidak adekuat Penyakit medis/imunologis lainnya
Spektrum alergi yang terbatas (hanya satu Anak dibawah lima tahun
atau dua)
Pasien yang memahami risiko dan Wanita hamil
keterbatasan terapi

Tabel 2.1 Indikasi dan kontraindikasi imunoterapi untuk rhinitis alergi.7

14
Pembedahan

Pembedahan biasanya dilakukan untuk pasien dengan polip hidung, hipertrofi konka
inferior yang menyebabkan obstruksi hidung yang tidak dapat diatasi, atau penyakit
sinus kronis yang sulit disembuhkan dengan perawatan medis.1 Hipertrofi mukosa
sebaiknya ditangani secara medis jika memungkinkan, karena cenderung kambuh
dalam beberapa bulan bahkan setelah operasi. Operasi sinus endoskopi mungkin juga
diperlukan untuk meredakan gejala rhinosinusitis.7

Gambar 2.7 Algoritma tatalaksana rhinitis alergi menurut ARIA.2,10

15
2.2.10 Komplikasi
Komplikasi rhinitis alergi yang sering terjadi antara lain:1,2

1. Polip hidung
2. Otitis media efusi yang sering residif, terutama pada anak-anak
3. Sinusitis paranasal
4. Asma bronkial. Penelitian menunjukkan bahwa rhinitis alergi merupakan faktor
risiko independen untuk asma bronkial, terutama pada pasien yang didiagnosis
dengan rhinitis alergi selama masa bayi

16
BAB III
KESIMPULAN

Rinitis alergi merupakan angguan inflamasi pada mukosa hidung yang terjadi akibat
adanya reaksi alergi. Diagnosis pada rhinitis alergi dapat ditegakkan melalui anamnesis
dan pemeriksaan fisik yang komprehensif. Pemeriksaan penunjang menggunakan skin
prick test atau pemeriksaan IgE spesifik biasanya dilakukan untuk memastikan bahwa
rhinitis yang dialami pasien didasari oleh alergi. Pilihan terapi untuk rinitis alergi
biasanya disesuaikan dengan tingkat keparahannya, dan cenderung efektif dalam
mengelola gejala. Terapi rinitis alergi mumnya aman dan dapat ditoleransi dengan baik.
Selain penghindaran allergen pemicu, penggunaan antihistamin oral generasi kedua
dan kortikosteroid intranasal adalah pengobatan utama untuk rhinitis alergi.
Imunoterapi alergen terkadang dilakukan apabila perlu.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Akhouri S, House SA. Allergic Rhinitis. [Updated 2022 Jun 5]. In: StatPearls
[Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022 Jan-. Available
from: [Link]
2. Soepardi E, Iskandar N. Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi
kelima. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: 2010.
3. Varshney J, Varshney H. Allergic rhinitis: an overview. Indian Journal of
Otolaryngology and Head & Neck Surgery. 2015 Jun;67(2):143-9.
4. Moore KL, Dalley AF, Agur AM. Clinically Oriented Anatomy. 6th ed.
Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins, 2010.
5. Sobiesk JL, Munakomi S. Anatomy, Head and Neck, Nasal Cavity. [Updated
2021 Jul 26]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls
Publishing; 2022 Jan-. Available from:
[Link]
6. Barrett KE, Ganong WF. Ganong's review of medical physiology. 23rd ed.
New York: McGraw-Hill Medical; 2012
7. Watkinson, John C. and Raymond W. Clarke. “Scott-Brown's
Otorhinolaryngology and Head and Neck Surgery.” (2018).
8. Snow, James B. and John Jacob Ballenger. “Ballenger's Otorhinolaryngology
Head and Neck Surgery.” (2002).
9. Small P, Keith PK, Kim H. Allergic rhinitis. Allergy, asthma & clinical
immunology. 2018 Sep;14(2):1-1.
10. Bousquet J, van Cauwenberge P, Khaltaev N. Aria Workshop Group, World
Health Organization. Allergic rhinitis and its impact on asthma. Journal of
Allergy and Clinical Immunology. 2001; 108: S147–334.
11. Bailey, Byron J. et al. “Bailey's Head and Neck Surgery: Otolaryngology.”
(2013).
12. Liva GA, Karatzanis AD, Prokopakis EP. Review of rhinitis: Classification,
types, pathophysiology. Journal of Clinical Medicine. 2021 Jul
19;10(14):3183.

18

Anda mungkin juga menyukai