Judul: Homang Dolok Martimbang
Tokoh
Alicia – pemberani, keras kepala.
Risel – paling bijaksana, lebih hati-hati.
Mia – penakut, tapi baik hati.
Kepala Desa – tokoh awal yang memperingatkan.
Datu Erik – dukun/penjaga adat yang nantinya membantu mencari.
Halaman 1 — Para Pendatang di Desa
Panel 1:
Gambaran desa Tapanuli di kaki Dolok Martimbang.
Narasi: “Tiga perempuan pendatang tiba di sebuah desa di Tapanuli.”
Panel 2:
Alicia, Risel, dan Mia membawa ransel besar.
Alicia: “Hutan Dolok Martimbang pasti indah buat berkemah!”
Panel 3:
Mia tampak ragu.
Mia: “Kalian yakin tempat itu aman…?”
Halaman 2 — Peringatan Kepala Desa
Panel 1:
Ketiganya menemui Kepala Desa.
Kepala Desa: “Kalian mau berkemah? Di Dolok Martimbang?”
Panel 2:
Kepala Desa tampak khawatir.
Kepala Desa: “Sekarang sedang banyak orang hilang. Saya tidak sarankan kalian ke sana.”
Panel 3:
Risel bicara sopan.
Risel: “Kami hanya satu malam, Pak. Kami akan berhati-hati.”
Panel 4:
Mia menarik lengan Alicia, ketakutan.
Mia: “Kita batalkan saja… aku tidak enak hati…”
Panel 5:
Alicia tersenyum menenangkan.
Alicia: “Tenanglah, Mia. Kita bertiga kok. Tidak ada apa-apa.”
Halaman 3 — Tetap Pergi
Panel 1:
Kepala Desa menghela napas.
Kepala Desa: “Kalian keras kepala… tapi ingat, jangan keluar tenda malam-malam.”
Panel 2:
Alicia tampak makin penasaran.
Alicia: “Semakin dilarang, semakin ingin tahu.”
Panel 3:
Mia cemberut.
Mia: “Aku sudah merasa tidak enak dari awal…”
Panel 4:
Mereka akhirnya berangkat membawa peralatan camping.
Halaman 4 — Memulai Perkemahan
Panel 1:
Tenda mereka berdiri di tengah hutan Dolok Martimbang.
Narasi: “Matahari turun… dan ketiganya mulai menyalakan api unggun.”
Panel 2:
Risel memasak mie instan.
Risel: “Suasananya tenang. Tapi hutan ini… rasanya aneh.”
Panel 3:
Mia memeluk jaketnya.
Mia: “Dari tadi aku merasa seperti ada yang memperhatikan…”
Panel 4:
Alicia tertawa kecil.
Alicia: “Bahkan hantu pun malas melihatmu gelisah begitu.”
Halaman 5 — Malam yang Pertama
Panel 1:
Ketiga gadis masuk ke tenda, lampu sudah dimatikan.
Narasi: “Hutan mulai dipenuhi suara malam.”
Panel 2:
Mia membuka mata, tampak gelisah.
Mia (berbisik): “Aku… harus buang air kecil…”
Panel 3:
Mia keluar tenda pelan-pelan dengan senter HP.
Halaman 6 — Mia Tersesat
Panel 1:
Mia selesai buang air kecil dan hendak kembali.
Narasi: “Namun saat ia hendak kembali…”
Panel 2:
Mia mendengar suara dari dalam hutan.
Suara: “Miaaaa… tolong aku…”
Teks kecil: Suara mirip suara Risel.
Panel 3:
Mia terkejut.
Mia: “Risel…? Kenapa dia ada di hutan?”
Panel 4:
Mia mendekati asal suara.
Narasi: “Ia berjalan… semakin jauh… dan semakin jauh…”
Halaman 7 — Paginya
Panel 1:
Alicia bangun duluan.
Ia melihat tenda kosong di sisi Mia.
Alicia: “Risel! Mia nggak ada!”
Panel 2:
Risel bangun kaget.
Risel: “Apa? Kita harus cari dia sekarang!”
Panel 3:
Mereka mengambil senter dan berlari masuk hutan.
Halaman 8 — Suara Menipu
Panel 1:
Kedua gadis itu berteriak.
Alicia: “MIAAA! Di mana kau?”
Panel 2:
Suara samar menjawab.
Suara: “Aliciaaa… aku di sini…”
(suara sama persis seperti suara Mia)
Panel 3:
Risel merinding.
Risel: “Itu… bukan Mia. Itu menirukan suaranya.”
Panel 4:
Alicia nekat.
Alicia: “Tapi kalau itu benar dia? Kita harus cek!”
Halaman 9 — Mia Bersama Homang
Panel 1:
Di dalam goa gelap, Mia duduk dengan pandangan kosong.
Di depannya terdapat semangkuk belatung dan cacing busuk.
Panel 2:
Namun dari sudut pandang Mia…
ia melihat ayam goreng, roti blueberry, dan anggur.
Panel 3:
Homang muncul di belakangnya: raksasa berbulu abu, mata merah menyala.
Homang: “Hummmang…”
Panel 4:
Mia tersenyum kosong.
Mia: “Terima kasih… makanannya enak…”
Halaman 10 — Alicia Tersesat Sendiri
Panel 1:
Alicia berlari mengikuti suara palsu.
Risel tertinggal jauh di belakang.
Panel 2:
Suara Mia terdengar lagi.
Suara: “Aliciaaa… cepat… aku kedinginan…”
Panel 3:
Alicia masuk ke area lereng curam yang berkabut.
Risel (jauh dari belakang): “Alicia! Jangan ke situ!”
Halaman 11 — Kematian Alicia
Panel 1:
Siluet Homang muncul di balik kabut.
Alicia berhenti mendadak, gemetar.
Panel 2:
Alicia: “K-kau… bukan Mia…”
Panel 3:
Tanah di tepi lereng tempat Alicia berdiri tiba-tiba runtuh.
SFX: Kraaaak!
Panel 4:
Alicia jatuh ke jurang yang dalam.
Risel (v.o): “ALICIAAAA!”
Halaman 12 — Risel Bertemu Datu Erik
Panel 1:
Risel berlari kembali ke desa sambil menangis histeris.
Panel 2:
Ia mendatangi rumah Datu Erik.
Datu Erik membuka pintu dengan wajah tegas.
Panel 3:
Risel: “Tolong aku… Alicia jatuh… Mia hilang… Homang membawanya!”
Panel 4:
Datu Erik mengambil tongkat kayu dan tas ritualnya.
Datu Erik:
“Kalau begitu… kita harus menyelamatkan Mia sebelum jiwanya dimakan.”
Halaman 13 — Masuk ke Hutan Larangan
Panel 1:
Datu Erik dan Risel memasuki hutan dengan ritual.
Narasi: “Dengan bantuan Datu Erik, Risel kembali ke Dolok Martimbang.”
Panel 2:
Datu Erik menabur abu putih di tanah.
Datu Erik:
“Homang benci cahaya suci. Jangan lepaskan tanganmu dariku.”
Panel 3:
Risel mengangguk.
Risel: “Aku harus menemukan Mia… demi Alicia.”
Halaman 14 — Suara-suara Palsu
Panel 1:
Suara menirukan Risel terdengar dari balik pohon.
Suara: “Risel… sini… aku takut…”
Panel 2:
Risel terkejut.
Risel: “Itu suaranya Mia!”
Panel 3:
Datu Erik menahan Risel.
Datu Erik: “Jika kau mengejarnya, kau akan mati seperti temanmu.”
Panel 4:
Datu Erik memukul tongkatnya ke tanah.
SFX: DUUM!
Suara langsung menghilang.
Halaman 15 — Goa Homang
Panel 1:
Mereka tiba di sebuah goa besar hitam dan lembap.
Datu Erik: “Dia ada di dalam. Tapi Homang tidak akan diam.”
Panel 2:
Risel hendak masuk, tapi Datu Erik menariknya.
Datu Erik:
“Ketika kau melihat Mia… ingat, pikirannya sudah dikendalikan. Jangan percaya apa pun yang
dia katakan.”
Halaman 16 — Penampakan Homang
Panel 1:
Homang tiba-tiba muncul di pintu goa. Tubuhnya tinggi, mata merah menyala.
Panel 2:
Risel mundur ketakutan.
Risel: “Itu… dia…”
Panel 3:
Datu Erik langsung menyalakan daun raru dan membaca mantra.
Datu Erik:
“Homang! Baliklah kau ke alam kegelapan!”
Panel 4:
Homang meraung keras, menutup telinga dengan cakarnya.
SFX: HRROOOAAARRR!
Halaman 17 — Mia Ditemukan
Panel 1:
Ketika Homang terdistraksi, Risel berlari masuk goa.
Panel 2:
Risel menemukan Mia duduk gemetar, tubuhnya kotor dan pucat.
Risel: “Mia!! Kau hidup!”
Panel 3:
Mia mengangkat wajah perlahan…
Matanya sayu, seperti tidak mengenal Risel.
Mia:
“Risel… kenapa kau lama sekali… aku lapar…”
Panel 4:
Risel memeluknya sambil menangis.
Risel: “Aku akan membawamu pulang. Aku janji.”
Halaman 18 — Pelarian
Panel 1:
Risel membantu Mia berjalan keluar goa.
Panel 2:
Dari kejauhan terlihat Datu Erik masih menahan Homang dengan mantra.
Panel 3:
Datu Erik berteriak:
“Cepat kabur!! Aku tak bisa menahannya lama!”
Panel 4:
Risel menarik Mia dan berlari menuruni bukit.
Halaman 19 — Kejaran Homang
Panel 1:
Raungan Homang menghentak hutan.
SFX: ROOOOAAARRR!!!
Panel 2:
Homang melompat melewati batu besar, mengejar mereka.
Panel 3:
Mia terjatuh.
Mia:
“Tunggu… aku… lemah…”
Panel 4:
Risel panik.
Risel: “BERDIRI MIA!! KITA HARUS KELUAR!”
Halaman 20 — Korban Baru
Panel 1:
Homang semakin dekat. Nafasnya seperti angin badai.
Panel 2:
Datu Erik muncul dari belakang, tubuhnya terluka.
Datu Erik:
“Aku berhasil menahannya sebentar… tapi tidak lama…”
Panel 3:
Datu Erik mendorong Risel dan Mia maju.
Datu Erik:
“LARI! Bawa Mia! Jangan berhenti!”
Panel 4:
Homang menerjang Erik.
SFX: DUAARR!
Risel menjerit.
Risel: “DATUUU!”
Halaman 21 — Keluar dari Hutan
Panel 1:
Risel dan Mia berlari sampai akhirnya hutan mulai menipis.
Panel 2:
Mia ambruk.
Risel: “Mia! Bertahan… kita hampir sampai…”
Panel 3:
Mia memegang tangan Risel lemah.
Mia:
“Aku ingin pulang… tapi… aku merasa… kosong…”
Halaman 22 — Tragedi Terakhir
Panel 1:
Mia menatap Risel dengan mata kaca.
Mia:
“Risel… aku dengar suara Alicia barusan… dia memanggilku…”
Panel 2:
Risel menangis keras.
Risel:
“Itu cuma pikiranmu! Jangan pergi!”
Panel 3:
Mia tersenyum samar.
Mia:
“Aku… sudah tidak kuat…”
Panel 4:
Mia menutup mata perlahan… dan tidak bergerak lagi.
Narasi:
“Pengaruh Homang sudah merusak tubuh dan jiwanya.”
Halaman 23 — Penutup Tragis
Panel 1:
Risel duduk memeluk tubuh Mia, menangis di tepi hutan.
Panel 2:
Di belakang pepohonan, sepasang mata merah Homang terlihat mengawasi.
Panel 3:
Narasi:
“Dua sahabatnya telah pergi.
Hutan Dolok Martimbang kembali mengambil apa yang ia mau.”
Panel 4:
Risel berjalan pulang sendiri, mata kosong.
Narasi:
“Dan Homang… masih lapar.”