0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan34 halaman

Optimasi Biaya dan Waktu Pengaman Pantai

Proposal tugas akhir ini menganalisis optimasi biaya dan waktu pada pembangunan pengaman pantai di Pulau Sebetul, Kabupaten Natuna, menggunakan metode Time Cost Trade Off (TCTO). Penelitian bertujuan untuk menentukan kombinasi waktu dan biaya yang paling efisien dalam proyek konstruksi yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan laut dan cuaca ekstrem. Hasil diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis dalam pengambilan keputusan manajerial untuk proyek serupa di pulau terluar.

Diunggah oleh

aldirajamitaputra8
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan34 halaman

Optimasi Biaya dan Waktu Pengaman Pantai

Proposal tugas akhir ini menganalisis optimasi biaya dan waktu pada pembangunan pengaman pantai di Pulau Sebetul, Kabupaten Natuna, menggunakan metode Time Cost Trade Off (TCTO). Penelitian bertujuan untuk menentukan kombinasi waktu dan biaya yang paling efisien dalam proyek konstruksi yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan laut dan cuaca ekstrem. Hasil diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis dalam pengambilan keputusan manajerial untuk proyek serupa di pulau terluar.

Diunggah oleh

aldirajamitaputra8
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL TUGAS AKHIR

ANALISIS OPTIMASI BIAYA DAN WAKTU PADA


PEMBANGUNAN PENGAMAN PANTAI DI PULAU TERLUAR
(STUDI KASUS PENGAMAN PANTAI PULAU SEBETUL
KABUPATEN NATUNA)

Oleh:
ALDIRA JAMITA PUTRA
2024210085
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL SARJANA

FAKULTAS TEKNIK
INSITUT TEKNOLOGI PADANG
DESEMBER 2025
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...........................................................................................................1
RINGKASAN.........................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang.................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah............................................................................2

1.3 Tujuan Penelitian.............................................................................3

1.4 Batasan Masalah..............................................................................3

1.5 Manfaat Penelitian...........................................................................3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................4


2.1 Penelitian Terdahulu........................................................................4

2.2 Daftar Pustaka..................................................................................6

2.3 Langkah – langkah Penelitian..........................................................7

2.4 Metode Time Cost Trade Off dalam Manajemen Proyek..............10

2.4.1 Hubungan Waktu Terhadap Biaya.........................................11

2.4.2 Percepatan Waktu Proyek dengan Time Cost Trade Off........13

2.5 Produktivitas Pekerjaan..................................................................14

2.5.1 Produktivitas Tenaga Kerja....................................................15

2.5.2 Penambahan Jumlah Pekerja..................................................17

2.5.3 Biaya Tambahan Percepatan (Crash Cost)............................18

2.6 Lintasan Kritis................................................................................20

BAB III METODOLOGI PENELITIAN..........................................................23


3.1 Lokasi Penelitian............................................................................23

3.2 Prosedur Penelitian........................................................................23

3.2.1 Pengumpulan Data.................................................................24

3.2.2 Proses Penelitian....................................................................25

3.2.3 Metode Analisis Data.............................................................25

i
3.3 Penerapan Metode Time Cost Trade-Off.......................................26

3.4 Bagian Alur Penelitian...................................................................27

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................29

ii
RINGKASAN

Penelitian ini membahas penerapan metode Time Cost Trade Off (TCTO)
dalam upaya mengoptimalkan waktu dan biaya pada proyek Pembangunan
Pengaman Pantai Pulau Semiun dan Pulau Sebetul di Kabupaten Natuna. Latar
belakang penelitian didasari oleh meningkatnya kompleksitas proyek konstruksi
pesisir yang menuntut pengendalian waktu dan biaya secara efektif, terutama pada
proyek yang dipengaruhi kondisi lingkungan laut dan cuaca ekstrem. Metode
Time Cost Trade Off dipilih karena mampu menganalisis hubungan antara
percepatan durasi pelaksanaan dan konsekuensi biaya secara terukur.
Kajian penelitian terdahulu menunjukkan bahwa metode TCTO telah
banyak diterapkan pada proyek pengaman pantai, tanggul laut, dan konstruksi
pesisir lainnya, dengan hasil yang konsisten bahwa percepatan pada aktivitas
lintasan kritis dapat mengurangi durasi proyek secara signifikan dengan tambahan
biaya yang relatif terkendali. Penelitian-penelitian tersebut menjadi dasar teoritis
dan pembanding dalam analisis penelitian ini.
Metodologi penelitian meliputi studi pustaka, observasi lapangan, serta
pengumpulan data proyek berupa jadwal pelaksanaan, Rencana Anggaran Biaya
(RAB), dan gambar teknis. Analisis dilakukan dengan menentukan lintasan kritis
menggunakan metode Precedence Diagramming Method (PDM), menghitung
durasi normal dan durasi percepatan (crash duration), serta menganalisis biaya
normal, crash cost, dan cost slope. Percepatan proyek difokuskan pada aktivitas
lintasan kritis dengan cost slope terendah agar tambahan biaya dapat
diminimalkan.
Alternatif percepatan yang dianalisis meliputi penambahan jam kerja
(lembur) dan penambahan tenaga kerja, dengan tetap mempertimbangkan
produktivitas tenaga kerja yang cenderung menurun akibat lembur. Hasil analisis
Time Cost Trade Off digunakan untuk menentukan kombinasi waktu dan biaya
yang paling optimal, sehingga proyek dapat diselesaikan lebih cepat tanpa
menimbulkan pembengkakan biaya yang signifikan. Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi praktis dalam pengambilan keputusan manajerial
pada proyek konstruksi pengaman pantai di wilayah pesisir dan pulau terluar.

iii
BAB I
PENDAHULUAN

I.1Latar Belakang
Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2017
tentang Penetapan Pulau-Pulau Kecil Terluar, pemerintah menetapkan sebanyak
111 Pulau-Pulau Kecil Terluar (PPKT) yang harus mendapatkan prioritas
perlindungan. Pulau-pulau kecil terluar tersebut memiliki fungsi strategis sebagai
penanda batas negara, penjaga kedaulatan wilayah, serta benteng pertahanan
negara. Oleh karena itu, diperlukan pembangunan konstruksi pengaman pantai
sebagai upaya perlindungan pulau-pulau terluar dari ancaman abrasi dan
kerusakan wilayah pesisir.
Pulau Sebetul yang terletak di Kecamatan Pulau Laut, Kabupaten Natuna,
merupakan salah satu pulau kecil terluar Indonesia yang berada di kawasan Laut
Natuna Utara dengan karakteristik oseanografi ekstrem. Kondisi tersebut
menyebabkan wilayah pantai Pulau Sebetul rentan terhadap abrasi, sehingga
dilakukan pembangunan konstruksi pengaman pantai berupa pengaman pantai
jenis revetment. Proyek ini dibiayai melalui Surat Berharga Syariah Negara
(SBSN) Tahun 2022 dengan nilai kontrak sekitar ±Rp66 miliar dan masa
pelaksanaan selama 286 hari kalender.
Proyek konstruksi pengaman pantai ini terdiri atas lima uraian pekerjaan,
yaitu pekerjaan persiapan, pekerjaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
konstruksi, pekerjaan breakwater, pekerjaan revetment, dan pekerjaan landscape.
Penelitian ini difokuskan pada pekerjaan revetment yang berlokasi di Pulau
Sebetul dengan nilai anggaran sebesar ±Rp36 miliar, yang tergolong sebagai
pekerjaan kompleks karena setiap tahapan pelaksanaannya saling berkaitan dan
sangat dipengaruhi oleh kondisi alam, seperti cuaca, gelombang laut, serta pasang
surut. Permasalahan waktu dan biaya menjadi aspek yang krusial pada proyek di
pulau terluar akibat keterbatasan akses transportasi, tingginya biaya mobilisasi
alat dan material, serta keterbatasan tenaga kerja dan alat berat, di mana
percepatan waktu pelaksanaan berpotensi meningkatkan biaya langsung,
sedangkan durasi yang terlalu panjang dapat meningkatkan biaya tidak langsung.

1
Berdasarkan permasalahan tersebut, diperlukan suatu analisis optimasi biaya
dan waktu yang mampu menggambarkan hubungan antara durasi pelaksanaan
proyek dan konsekuensi biaya yang timbul. Berbagai penelitian terdahulu
menunjukkan bahwa metode Time Cost Trade Off (TCTO) efektif digunakan
untuk menentukan kombinasi waktu dan biaya yang paling optimum pada proyek
konstruksi, khususnya melalui pendekatan percepatan pekerjaan dan perbandingan
alternatif durasi pelaksanaan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk
menganalisis optimasi biaya dan waktu pada pembangunan konstruksi pengaman
pantai di Pulau Sebetul, Kabupaten Natuna, dengan menggunakan pendekatan
perbandingan dan metode TCTO secara sederhana guna memperoleh durasi
pelaksanaan yang paling optimum secara ekonomi, dengan mempertimbangkan
karakteristik proyek pengaman pantai di pulau terluar yang sangat dipengaruhi
oleh kondisi alam dan keterbatasan sumber daya.
Atas dasar tersebut, penulis mengambil judul “Analisis Optimasi Biaya dan
Waktu pada Pembangunan Pengaman Pantai di Pulau Terluar (Studi Kasus:
Pengaman Pantai Pulau Sebetul, Kabupaten Natuna)”. Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi teknis dan ekonomis dalam perencanaan dan
pengendalian waktu serta biaya pelaksanaan proyek pengaman pantai.

I.2Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana hasil analisis optimasi biaya dan waktu pada pekerjaan
revetment sebagai pengaman pantai pulau terluar di Pulau Sebetul,
Kabupaten Natuna?
2. Bagaimana pengaruh penambahan jam kerja terhadap percepatan durasi
pelaksanaan pekerjaan revetment sebagai pengaman pantai pulau terluar
di Pulau Sebetul, Kabupaten Natuna?
3. Berapa durasi pelaksanaan dan biaya proyek yang paling optimum
setelah dilakukan percepatan dengan metode Time Cost Trade Off
(TCTO) pada peekerjaan revetment sebagai pengaman pantai pulau
terluar di Pulau Sebetul, Kabupaten Natuna??

2
I.3Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Menganalisis optimasi biaya dan waktu pada pekerjaan revetment
sebagai pengaman pantai pulau terluar di Pulau Sebetul, Kabupaten
Natuna.
2. Mengetahui pengaruh penambahan jam kerja terhadap percepatan durasi
pelaksanaan pekerjaan revetment sebagai pengaman pantai pulau terluar
di Pulau Sebetul, Kabupaten Natuna.
3. Menentukan durasi pelaksanaan dan biaya proyek yang paling optimum
setelah dilakukan percepatan menggunakan metode Time Cost Trade Off
(TCTO) pada pekerjaan revetment sebagai pengaman pantai pulau
terluar di Pulau Sebetul, Kabupaten Natuna.

I.4Batasan Masalah
1. Penelitian ini difokuskan pada analisis optimasi biaya dan waktu tanpa
membahas aspek teknis struktur secara mendalam.
2. Objek penelitian dibatasi pada pekerjaan pengaman pantai jenis
revetment di Pulau Sebetul sebagai pulau kecil terluar, sedangkan
pekerjaan breakwater di Pulau Semiun yang tercantum dalam RAB
tidak dibahas.
3. Percepatan durasi proyek dilakukan melalui penambahan jam kerja,
dengan membandingkan durasi normal dan durasi percepatan hingga
akhir masa pelaksanaan proyek.

I.5Manfaat Penelitian
1. Bagi Akademisi, sebagai referensi tambahan terkait penerapan optimasi
biaya dan waktu pada proyek konstruksi pengaman pantai di pulau
terluar.
2. Bagi Pemerintah/Pemilik Proyek, sebagai bahan evaluasi dan
pertimbangan dalam pengambilan keputusan pada proyek pesisir sejenis.
3. Bagi Pelaksana Proyek (Kontraktor), sebagai masukan dalam
perencanaan dan pengendalian proyek agar lebih efisien.

3
4. Bagi Pelaksana Proyek (Kontraktor), sebagai masukan dalam
perencanaan dan pengendalian proyek agar lebih efisien.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1Penelitian Terdahulu
Perkembangan manajemen proyek konstruksi mendorong lahirnya berbagai
metode analisis yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja proyek, khususnya
dalam pengendalian waktu dan biaya. Salah satu metode yang banyak digunakan
dalam manajemen konstruksi adalah Time Cost Trade Off (TCTO), yang
berfungsi sebagai alat bantu dalam menentukan alternatif percepatan proyek
dengan mempertimbangkan keseimbangan antara durasi pelaksanaan dan biaya.
Seiring meningkatnya kompleksitas proyek konstruksi, penerapan metode ini
menjadi semakin relevan sebagai dasar pengambilan keputusan manajerial yang
rasional dan terukur. Oleh karena itu, kajian terhadap penelitian-penelitian
terdahulu yang menggunakan metode Time Cost Trade Off diperlukan untuk
memperluas sudut pandang analisis serta membandingkan efektivitas
penerapannya pada berbagai jenis proyek konstruksi.
Penelitian yang dilakukan oleh Rahman (2025) mengkaji penerapan metode
Time Cost Trade Off (TCTO) pada proyek pembangunan tanggul pengaman
pantai NCICD Fase A Lokasi 1 Tahap 1 yang berlokasi di kawasan pesisir Pantai
Utara Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara
percepatan waktu pelaksanaan proyek dan perubahan biaya konstruksi guna
memperoleh alternatif pelaksanaan yang paling efisien. Dalam penelitian tersebut,
analisis percepatan dilakukan dengan menerapkan teknik crashing, khususnya
melalui penambahan jam kerja lembur pada aktivitas yang berada pada lintasan
kritis, sehingga dampak percepatan terhadap durasi dan biaya proyek dapat
dievaluasi secara kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan
metode Time Cost Trade Off mampu mengoptimalkan durasi pelaksanaan
pekerjaan tanggul pengaman pantai dengan tambahan biaya yang relatif minimal
dan masih berada dalam batas yang dapat dikendalikan. Temuan ini menegaskan
bahwa metode Time Cost Trade Off merupakan pendekatan yang efektif dan
aplikatif dalam mendukung pengambilan keputusan manajerial terkait percepatan

5
waktu dan pengendalian biaya pada proyek konstruksi pengaman pantai yang
berada di lingkungan pesisir dan laut (Rahman, 2025).
Penelitian yang dilakukan oleh Sari dan Nugroho (2021) mengkaji
penerapan metode Time Cost Trade Off (TCTO) pada proyek pembangunan
pengaman pantai (sea wall) yang berlokasi di wilayah pesisir dengan tingkat
abrasi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi berbagai alternatif
percepatan waktu pelaksanaan proyek melalui penambahan sumber daya kerja
pada aktivitas yang berada pada lintasan kritis, sekaligus menganalisis pengaruh
percepatan tersebut terhadap total biaya proyek. Hasil analisis menunjukkan
bahwa penerapan metode Time Cost Trade Off mampu mengurangi durasi
pelaksanaan proyek secara signifikan dengan tambahan biaya yang relatif kecil
apabila dibandingkan dengan manfaat penghematan waktu yang diperoleh.
Temuan ini membuktikan bahwa metode TCTO dapat digunakan secara efektif
sebagai alat pengendalian waktu dan biaya pada proyek konstruksi pengaman
pantai yang pelaksanaannya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan laut, seperti
abrasi dan faktor cuaca pesisir (Sari & Nugroho, 2021).
Penelitian yang dilakukan oleh Pratama, Putra, dan Hidayat (2020)
membahas upaya optimalisasi waktu dan biaya pada proyek pembangunan tanggul
laut dengan menggunakan pendekatan time–cost optimization yang sejalan dengan
konsep Time Cost Trade Off. Penelitian ini menganalisis beberapa skenario
percepatan pelaksanaan proyek, antara lain melalui penambahan jam kerja lembur
dan penambahan tenaga kerja, untuk mengetahui pengaruh masing-masing
alternatif terhadap durasi dan biaya proyek. Hasil analisis menunjukkan bahwa
strategi percepatan yang difokuskan pada aktivitas yang berada pada lintasan
kritis mampu menekan durasi pelaksanaan proyek tanggul laut secara signifikan
tanpa menyebabkan peningkatan biaya yang berarti. Temuan tersebut menegaskan
bahwa analisis hubungan antara waktu dan biaya merupakan aspek yang sangat
penting dalam pengelolaan proyek konstruksi pesisir, khususnya pada proyek
tanggul laut yang memiliki keterbatasan waktu pelaksanaan serta risiko tinggi
akibat pengaruh kondisi cuaca dan lingkungan laut (Pratama et al., 2020).
Penelitian yang dilakukan oleh Wijaya (2019) mengkaji penerapan metode
Time Cost Trade Off (TCTO) pada proyek konstruksi pantai yang dilaksanakan di

6
wilayah pesisir terbuka dengan kondisi lingkungan laut yang dinamis. Penelitian
ini menggunakan data jadwal pelaksanaan proyek sebagai dasar analisis untuk
menentukan durasi normal dan durasi percepatan, serta menghitung perubahan
biaya yang terjadi akibat penerapan strategi percepatan. Hasil analisis
menunjukkan bahwa penerapan metode Time Cost Trade Off mampu memberikan
alternatif percepatan proyek yang paling rasional dengan mempertimbangkan
keseimbangan antara pengurangan durasi pelaksanaan dan tambahan biaya yang
timbul. Kesimpulan penelitian ini menyatakan bahwa metode Time Cost Trade
Off sangat relevan untuk diterapkan pada proyek-proyek pengaman pantai yang
memiliki risiko keterlambatan tinggi akibat pengaruh faktor alam, seperti kondisi
cuaca dan gelombang laut, serta keterbatasan akses pekerjaan di wilayah pesisir
(Wijaya, 2019).

II.2Daftar Pustaka
Studi pustaka dalam penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami
teori-teori yang relevan dengan topik yang dibahas, khususnya mengenai Time
Cost Trade Off, analisis percepatan proyek, serta biaya dan durasi proyek
konstruksi. Time Cost Trade Off adalah metode yang digunakan untuk
mempercepat penyelesaian proyek dengan cara menambah biaya tertentu. Metode
ini mengasumsikan bahwa percepatan waktu penyelesaian proyek akan
membutuhkan biaya tambahan, yang harus dianalisis secara cermat agar
percepatan tersebut tidak menimbulkan pembengkakan biaya yang berlebihan.
Sebagai teori utama dalam penelitian ini, Time Cost Trade Off
mengidentifikasi alternatif percepatan waktu dalam proyek konstruksi dengan
memilih berbagai cara, seperti penambahan tenaga kerja, pengurangan durasi
kegiatan tertentu, atau peningkatan jam kerja. Prinsip dasar dari Time Cost Trade
Off adalah untuk mencapai keseimbangan antara waktu yang lebih cepat dan biaya
tambahan yang perlu dikeluarkan. Dengan kata lain, semakin cepat waktu
penyelesaian proyek, semakin besar biaya yang harus dibayar. Oleh karena itu,
analisis yang teliti diperlukan untuk memastikan bahwa biaya tambahan yang
dikeluarkan sebanding dengan pengurangan waktu penyelesaian yang diperoleh.

7
Penelitian ini menggunakan teori Time Cost Trade Off untuk menganalisis
Optimasi biaya dan waktu pada Pembangunan pengaman Pantai di Pulau Terluar.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi biaya tambahan yang diperlukan
untuk percepatan proyek serta menilai efisiensi antara waktu dan biaya dalam
proses pembangunan. Pemahaman tentang teori Time Cost Trade Off akan
memberikan dasar yang kuat dalam melakukan perhitungan biaya tambahan dan
estimasi waktu yang lebih realistis dalam proyek ini.

II.3Langkah – langkah Penelitian


Langkah-langkah penelitian ini meliputi beberapa tahap berikut:
1. Identifikasi kondisi proyek dan hubungan antar aktivitas, yaitu Tahap
awal penelitian melibatkan identifikasi kondisi proyek dan hubungan
antar aktivitas. Informasi terkait durasi setiap kegiatan serta keterkaitan
antar aktivitas dianalisis berdasarkan jadwal pelaksanaan proyek.
2. Analisis Data, yaitu Aktivitas-aktivitas kritis yang perlu dipercepat
dianalisis lebih lanjut untuk menentukan pengurangan waktu dengan
menggunakan metode crashing program. Tahapan dalam proses
crashing program yaitu:
a. Menentukan Lintasan Kritis
Nilai ES (Earliest Start) dan EF (Earliest Finish) dihitung melalui
proses forward pass, sedangkan LS (Latest Start) dan LF (Latest
Finish) ditentukan melalui proses backward pass.
1. Earliest Start (ES) adalah waktu paling awal suatu aktivitas dapat
dimulai, dengan asumsi bahwa seluruh aktivitas pendahulunya
telah selesai.
2. Earliest Finish (EF) menunjukkan waktu paling awal suatu
aktivitas dapat diselesaikan.
3. Latest Start (LS) merupakan waktu paling akhir suatu aktivitas
dapat dimulai tanpa menyebabkan keterlambatan pada
penyelesaian proyek secara keseluruhan.
4. Latest Finish (LF) adalah waktu paling akhir suatu aktivitas dapat
diselesaikan tanpa memengaruhi durasi total proyek.

8
ES = Max {EF semua pendahulu langsung}
EF = ES + Waktu kegiatan
LF = Min {LS dari seluruh kegiatan yang langsung mengikutinya}
LS = LF – Waktu kegiatan
Slack = LS – ES
atau Slack = LF – EF

Gambar berikut menunjukkan notasi yang digunakan pada node


kegiatan dalam analisis jaringan proyek.

Gambar 3. 1 Notasi Yang Digunakan Pada Node Kegiatan

Penggunaan notasi ini memudahkan dalam perencanaan dan


pengendalian Ada beberapa jenis ketergantungan yang dapat digunakan
dalam PDM untuk menentukan urutan aktivitas:
1. Start-to-Start (SS): Aktivitas berikutnya mulai ketika aktivitas
sebelumnya mulai.
2. Finish-to-Finish (FF): Aktivitas berikutnya selesai ketika aktivitas
sebelumnya selesai.
3. Start-to-Finish (SF): Aktivitas berikutnya selesai ketika aktivitas
sebelumnya mulai. Jenis ketergantungan ini jarang digunakan.

b. Menentukan Crash Duration


Langkah – langkah menghitung Crash Duration:

9
1. Menghitung produktivitas harian
Volume
Produktivitas Harian =
Durasi
2. Menghitung produktivitas perjam
Produktivitas Harian
Produktivitas Tiap Jam =
Jam Kerja/Hari
3. Menghitung produktifitas harian setelah di Crash
Produktivitas Lembur
= ( Jam kerja normal × [Link])
+ (Jam kerja lembur × [Link] × Efisiensi
4. Menghitung total produktifitas harian setelah di Crash
Produktifitas harian setelah di crash = produktifitas harian + produktifitas lembur

5. Menghitung Crash Duration


Volume Pekerjaan
𝐶𝑟𝑎𝑠ℎ 𝐷𝑢𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 =
Produktivitas Harian Setelah Crash

c. Menghitung Crash Duration


Langkah-Langkah Menghitung Crash Cost:
1. Menghitung upah kerja harian normal
Upah kerja harian normal = produktifitas harian × harga satuan upah
2. Menghitung upah kerja per jam normal
Upah kerja per jam normal = produktifitas per jam × harga satuan
upah
3. Menghitung upah kerja lembur per hari
Upah kerja lembur per hari (2 jam kerja) = (1,5 × upah sejam normal)
+ (2 × upah sejam normal)
4. Menghitung Crash Cost tenaga kerja per hari
Crash Cost tenaga kerja per hari = upah harian + upah kerja lembur
per hari
5. Menghitung Crash Cost total
Menghitung Crash Cost total = Crash Cost per hari × Crash Duration
6. Menghitung Cost Slope
𝐶𝑟𝑎𝑠ℎ 𝐶𝑜𝑠𝑡 − 𝑁𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑠𝑡
𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑆𝑙𝑜𝑝𝑒 =
𝑁𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 𝐷𝑢𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 − 𝐶𝑟𝑎𝑠ℎ 𝐷𝑢𝑟𝑎𝑠𝑡𝑖𝑜𝑛

10
II.4Metode Time Cost Trade Off dalam Manajemen Proyek
Dalam perencanaan proyek, terdapat sejumlah variabel penting yang harus
diperhitungkan secara cermat, seperti waktu, sumber daya, dan biaya. Di antara
ketiganya, biaya memegang peranan krusial dalam manajemen proyek, karena
setiap proyek dituntut untuk berjalan secara efisien tanpa melebihi anggaran yang
telah ditetapkan. Time Cost Trade Off merupakan metode analisis dalam
pekerjaan konstruksi yang berkaitan dengan perubahan durasi penyelesaian
proyek yang berbanding lurus dengan perubahan biaya. Proses analisis ini diawali
dengan identifikasi jalur kritis yang memiliki kemiringan biaya (cost slope) paling
rendah, sehingga durasi proyek dapat dipersingkat dengan tambahan biaya
seminimal mungkin (Ervianto, 2004). Untuk mencegah ketidakseimbangan antara
alokasi anggaran dan hasil yang diperoleh, pengendalian biaya perlu dilakukan
secara optimal. Dalam manajemen proyek, biaya sangat erat kaitannya dengan
waktu pelaksanaan. Semakin panjang durasi proyek, semakin besar pula biaya
tidak langsung yang harus ditanggung, seperti biaya administrasi, sewa alat, serta
upah tenaga kerja yang terus berjalan selama proyek berlangsung.
Di sisi lain, dalam kondisi tertentu, suatu proyek sering kali perlu
diselesaikan lebih cepat dari jadwal yang telah direncanakan. Keadaan ini dapat
disebabkan oleh berbagai hal, seperti permintaan dari klien, perubahan kebijakan,
atau kendala lain yang menuntut percepatan penyelesaian proyek. Dalam
menghadapi situasi semacam ini, manajer proyek dihadapkan pada tantangan
untuk menyelesaikan pekerjaan dalam waktu lebih singkat dengan tetap menjaga
kualitas hasil dan mengendalikan biaya seminimal mungkin. Oleh karena itu,
dibutuhkan pendekatan yang mampu menyeimbangkan antara kecepatan
penyelesaian proyek dan efisiensi biaya, salah satunya melalui penerapan metode
Time Cost Trade Off.

11
Proses Time Cost Trade Off melibatkan beberapa langkah penting:
1. Identifikasi Kegiatan Kritis: Menentukan kegiatan yang berada di jalur
kritis, yaitu kegiatan yang jika mengalami keterlambatan akan
mempengaruhi keseluruhan waktu penyelesaian proyek.
2. Analisis Cost Slope : Menghitung cost slope untuk setiap kegiatan di
jalur kritis. Cost slope adalah rasio antara biaya tambahan dan
pengurangan waktu, yang menunjukkan seberapa efisien suatu kegiatan
dapat dipercepat.
3. Kompresi Jadwal: Melakukan kompresi jadwal dengan cara
memperpendek durasi kegiatan tertentu, biasanya melalui penambahan
tenaga kerja atau lembur.
Tujuan utama dari Time Cost Trade Off adalah untuk mencapai
keseimbangan optimal antara waktu penyelesaian dan biaya proyek. Dengan
melakukan kompresi pada aktivitas di jalur kritis, proyek dapat diselesaikan lebih
cepat tanpa meningkatkan biaya secara signifikan. Hal ini sangat penting dalam
konteks proyek konstruksi, di mana keterlambatan dapat berakibat pada penalti
finansial dan kehilangan pendapatan.

II.4.1Hubungan Waktu Terhadap Biaya


Time Cost Trade Off adalah sebuah metode dalam manajemen proyek yang
digunakan untuk menganalisis hubungan antara waktu penyelesaian proyek dan
total biaya yang dikeluarkan. Prinsip utama dari metode ini adalah bahwa
perubahan dalam durasi proyek akan berdampak langsung pada perubahan biaya
proyek. Secara umum, jika waktu pelaksanaan proyek dipercepat, maka biaya
langsung proyek akan meningkat, sedangkan biaya tidak langsung proyek akan
berkurang. Grafik berikut menunjukkan hubungan antara waktu, biaya langsung,
dan biaya tidak langsung dalam proyek.
Gambar di bawah ini menunjukkan hubungan biaya langsung, biaya tak
langsung dan biaya total dalam suatu grafik dan terlihat bahwa biaya optimum
didapat dengan mencari total biaya proyek yang terkecil.

12
Sumber : (Soeharto, 1999)
Gambar 2. 1 Grafik hubungan biaya total, biaya tidak langsung, biaya langsung dengan
waktu

Sumber : (Soeharto, 1999)


Gambar 2. 2 Grafik hubngan waktu-biaya normal dan dipersingkat untuk suatu kegiatan

Untuk mengetahui hubungan antara waktu dan biaya suatu kegiatan dapat
dilihat pada Gambar 2.3. Titik A menunjukkan kondisi normal, sedangkan titik B
menunjukkan kondisi dipercepat. Garis yang menghubungkan antar titik tersebut
disebut dengan kurva waktu biaya.
Menurut Soeharto (1999), seandainya diketahui bentuk kurva waktu biaya
suatu kegiatan, maka dapat mengetahui berapa slope atau sudut kemiringannya,
sehingga bisa menghitung berapa besar biaya untuk mempersingkat waktu satu
hari. Penambahan biaya langsung (direct cost) untuk mempercepat suatu aktivitas
per satuan waktu disebut cost slope. Perumusan cost slope sebagai berikut (Husen,
2011) Cost Slope = Crash Cost – Normal Cost
Normal Duration – Crash Duration

13
Terdapat dua nilai waktu yang akan ditunjukkan tiap aktivitas dalam suatu
jaringan kerja saat terjadi percepatan (Ardika, 2014) yaitu:
1. Normal Duration
Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu aktivitas atau
kegiatan dengan sumber daya normal yang ada tanpa adanya tambahan
biaya lain dalam sebuah proyek.
2. Crash Duration
Waktu yang dibutuhkan oleh satu proyek dalam usahanya untuk
mempersingkat waktu yang durasinya lebih pendek dari normal
duration.
3. Normal Cost
Biaya yang dikeluarkan dengan penyelesaian proyek dalam waktu
normal. Perkiraan biaya ini adalah pada saat perencanaan dan
penjadwalan bersamaan dengan penentuan waktu normal.
4. Crash Cost
Biaya yang digunakan untuk melaksanakan aktivitas tersebut
dalam jangka waktu sebesar durasi percepatannya. Biaya ini memacu
pekerjaan lebih cepat selesai. Biaya crash akan menjadi lebih besar dari
biaya normal semula, hal ini diakibatkan waktu yang menjadi lebih
cepat dari waktu normalnya. Pada akhirnya, pelaksanaaan percepatan
durasi proyek dapat menyebabkan terjadi peningkatan biaya langsung
(direct cost) yang digunakan untuk menambah tingkat produktivitas
kerja.

II.4.2Percepatan Waktu Proyek dengan Time Cost Trade Off


Ervianto (2004) mengatakan pengertian Time Cost Trade Off adalah suatu
proses yang disengaja, sistematik, dan analitik dengan cara melakukan pengujian
dari semua kegiatan dalam suatu proyek yang dipusatkan pada kegiatan yang
berada pada jalur kritis. Selanjutnya melakukan kompresi dimulai dari lintasan
kritis yang mempunyai nilai cost slope terendah.
Setelah didapatkan nilai cost slope tiap aktivitas, maka selanjutnya akan
dilakukan proses kompresi waktu pada aktivitas–aktivitas yang berada pada

14
lintasan kritis sesuai jaringan kerja (network planning) kondisi normal. Kompresi
dimulai dari aktivitas kritis dengan nilai cost slope terendah agar pertambahan
biaya langsung yang dihasilkan setelah kompresi dapat [Link]
waktu pada suatu aktivitas akan berhenti jika telah tercapai kondisi kompresi
maksimal . Dalam mempercepat penyelesaian proyek perlu mengupayakan agar
penambahan biaya yang ditimbulkan seminimal mungkin. Pengendalian biaya
yang dilakukan adalah biaya langsung, karena biaya inilah yang akan bertambah
apabila dilakukan pengurangan durasi. Di samping itu, harus diperhatikan bahwa
kompresi hanya dilakukan pada aktivitas-aktivitas yang berada di dalam lintasan
kritis.
Beberapa langkah percepatan waktu proyek yang dapat dilakukan dengan
metode Time Cost Trade Off antara lain:
1. Penambahan Jumlah Jam Kerja: Melakukan lembur setelah jam kerja
normal untuk mempercepat penyelesaian proyek.
2. Penambahan Tenaga Kerja: Menambah jumlah pekerja untuk
menyelesaikan tugas lebih cepat.
3. Penggunaan Peralatan yang Efisien: Memilih atau memodifikasi
peralatan yang dapat meningkatkan kecepatan pekerjaan.
4. Pemilihan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas: Memilih tenaga
kerja yang memiliki keterampilan tinggi untuk memastikan kecepatan
dan efisiensi.
5. Penggunaan Metode Konstruksi yang Efektif: Menggunakan teknik dan
metode yang telah terbukti lebih efisien dalam penyelesaian pekerjaan.
Salah satu contoh percepatan waktu proyek adalah sistem giliran kerja, di
mana pekerja dibagi menjadi dua shift, yaitu shift pagi dan shift malam, untuk
memastikan proyek berjalan sepanjang waktu. Namun, perlu diingat bahwa
penambahan jam kerja (lembur) dapat menyebabkan penurunan produktivitas jika
tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, analisis produktivitas menjadi hal
yang sangat penting dalam penerapan metode ini.

15
II.5Produktivitas Pekerjaan
Produktivitas Pekerjaan adalah salah satu faktor kunci dalam manajemen
proyek konstruksi, terutama ketika menggunakan metode Time Cost Trade Off
untuk percepatan waktu proyek. Produktivitas sendiri didefinisikan sebagai
hubungan antara output (hasil pekerjaan) dan input (sumber daya yang
digunakan), di mana output diukur dalam bentuk volume pekerjaan yang selesai,
dan input diukur dalam jumlah tenaga kerja yang digunakan serta durasi yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut (Ervianto, 2005).
Dalam konteks Time Cost Trade Off, produktivitas tenaga kerja menjadi
sangat penting karena setiap usaha percepatan waktu, seperti penambahan jam
kerja atau penambahan jumlah tenaga kerja, dapat mempengaruhi biaya dan waktu
proyek. Meskipun penambahan tenaga kerja atau penambahan jam kerja dapat
mempercepat penyelesaian proyek, faktor kualitas tenaga kerja, jumlah tenaga
kerja, serta durasi kerja tetap menjadi penentu utama dalam menjaga tingkat
produktivitas yang tinggi.
Dalam proyek konstruksi, sering kali ada penurunan produktivitas yang
signifikan seiring dengan penambahan jam kerja (lembur) atau penambahan
tenaga kerja. Ini disebabkan oleh kelelahan fisik pekerja dan potensi penurunan
kualitas kerja yang bisa terjadi jika tenaga kerja bekerja dalam waktu yang terlalu
lama. Oleh karena itu, dalam penerapan Time Cost Trade Off, penting untuk
menjaga keseimbangan antara kecepatan pekerjaan dan produktivitas guna
memastikan bahwa biaya tambahan untuk mempercepat proyek tidak mengarah
pada penurunan kualitas yang lebih besar.

II.5.1Produktivitas Tenaga Kerja


Produktivitas adalah hubungan antara output dan input, atau hasil dari
produktivitas beban kerja dan sumber daya yang dikerjakan (Ervianto, 2005).
Implementasi kerja lembur sering kali menyebabkan penurunan produktivitas
tenaga kerja seiring bertambahnya jam lembur. Penurunan ini disebabkan oleh
kelelahan fisik dan mental pekerja. Penambahan jam lembur dari 1 hingga 4 jam
dapat mengakibatkan penurunan produktivitas yang signifikan. Hal ini dapat
dilihat dari grafik yang menunjukkan hubungan antara indeks produktivitas dan

16
jam lembur. Gambar berikut menunjukkan hubungan antara indeks produktivitas
dan jumlah jam lembur yang dilakukan.

Gambar 2. 3 Indikasi Penurunan Produktivitas Akibat Penambahan Jam Lembur

Di dalam konteks lembur, produktivitas cenderung menurun jika jam kerja


melebihi batas waktu yang wajar. Sebagai contoh, lembur satu jam pertama
mungkin menambah produktivitas, tetapi lembur dua hingga empat jam
berikutnya sering kali dapat menyebabkan penurunan efisiensi pekerja, yang
disebut dengan penurunan produktivitas lembur. Hal ini harus diperhitungkan
dengan cermat dalam analisis biaya proyek. Tabel berikut menunjukkan koefisien
penurunan produktivitas yang terjadi akibat penambahan jam lembur.

Tabel 2. 1 Koefisien Penurunan Produktivitas

Untuk menghitung produktivitas dalam proyek konstruksi, beberapa rumus


dasar digunakan untuk mengukur produktivitas harian, produktivitas per jam, dan
dampak dari penambahan jam kerja atau lembur. Berikut adalah rumus-rumus
yang digunakan untuk perhitungan produktivitas yang mencakup volume
pekerjaan dan durasi yang dibutuhkan

17
Volume
Produktivitas Harian =
Durasi
Produktivitas Harian
Produktivitas Tiap Jam =
Jam Kerja/Hari

Produktivitas Harian Akibat Kerja Lembur = ( a × b × Produktivitas Tiap Jam)

Keterangan:
a = Jumlah Jam Kerja (Lembur)
b = Koefesien Penurunan Produktifitas Kerja Lembur, Koefesien
Penurunan.
Produktifitas Akibat Penambahan Jam Lembur, dapat dilihat pada Tabel 2.1
Upaya mempercepat durasi penyelesaian proyek melalui kerja lembur. Dalam
crashing, terdapat dua komponen waktu, yaitu:
1. Waktu Normal (Normal Duration), yaitu penyelesaian aktivitas dalam
kondisi normal.
2. (Crash Duration), yaitu waktu terpendek yang paling mungkin untuk
menyelesaikan aktivitas dengan rumus.

Volume Pekerjaan
Crash Duration =
Produktivitas Harian Setelah Crash

II.5.2Penambahan Jumlah Pekerja


Pada alternatif penambahan jumlah tenaga kerja dapat dilakukan dengan
menambah jumlah tenaga kerja pada setiap pekerjaan. Namun, dalam penambahan
tenaga kerja yang perlu diperhatikan adalah ruang kerja yang tersedia apakah
terlalu sesak atau cukup luas, karena penambahan tenaga kerja pada suatu
aktivitas tidak boleh mengganggu pemakaian tenaga kerja lain untuk aktivitas
yang lain dan sedan berjalan pada saat yang sama (Djau et al., 2021). Penambahan
tenaga kerja dapat mempercepat penyelesaian proyek dengan menambah jumlah
pekerja pada kegiatan-kegiatan kritis. Metode Crashing sering digunakan dalam
penambahan tenaga kerja.

18
Penambahan jumlah tenaga kerja merupakan salah satu alternatif untuk
mempercepat pelaksanaan proyek. Namun, dalam penerapannya, perlu
diperhatikan ruang kerja yang tersedia apakah cukup luas untuk menampung
tenaga kerja tambahan tanpa mengganggu aktivitas lain yang sedang berjalan.
Berikut adalah rumus yang digunakan untuk menghitung jumlah tenaga kerja
normal dan percepatan dalam proyek konstruksi.
Koefisien Tenaga Kerja × Volume
Jumlah Tenaga Kerja Normal =
Durasi Normal

Koefisien Tenaga Kerja × Volume


Jumlah Tenaga Kerja Dipercepat =
Durasi Percepatan

II.5.3Biaya Tambahan Percepatan (Crash Cost)


Penambahan jam kerja akan meningkatkan biaya tenaga kerja melebihi
biaya tenaga kerja normal. Mengacu pada Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan
Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP.102/MEN/VI/2004, khususnya
pada Pasal 3, Pasal 7, dan Pasal 11, disebutkan bahwa upah lembur memiliki
ketentuan yang bervariasi. Untuk satu jam pertama kerja lembur, pekerja berhak
menerima 1,5 kali upah per jam dari jam kerja normal. Sedangkan untuk jam
lembur berikutnya, pekerja akan memperoleh dua kali lipat upah per jam dari
waktu kerja normal.
Untuk menentukan batasan waktu maksimal suatu aktivitas agar dapat
mempercepat proyek, perhitungan crash cost digunakan untuk mengetahui biaya
tambahan yang dibutuhkan saat suatu aktivitas dikejar percepatannya. Sementara
itu, untuk menghitung cost slope, digunakan rumus yang mengukur penambahan
biaya langsung per satuan waktu dalam mempercepat suatu aktivitas. Cost slope
ini memberi gambaran berapa besar biaya tambahan per unit waktu untuk
mempercepat aktivitas dalam proyek konstruksi.
Secara keseluruhan, penerapan crash duration, crash cost, dan cost slope
dalam proyek bertujuan untuk memperoleh keseimbangan antara percepatan
proyek dengan biaya tambahan yang dikeluarkan. Perhitungan yang cermat
terhadap ketiga elemen ini akan membantu dalam menentukan percepatan proyek

19
yang optimal, agar proyek dapat selesai lebih cepat tanpa mengakibatkan
pembengkakan biaya yang tidak terkendali.
Sementara itu, komponen biaya dalam proyek terbagi menjadi tiga jenis
utama (Aviyani & Dofir, 2021), yaitu:
1. Normal Cost (Biaya Normal), yaitu biaya langsung yang diperlukan
untuk menyelesaikan suatu aktivitas dalam kondisi waktu normal.
2. Crash Cost (Biaya Akselerasi), yaitu biaya langsung yang dikeluarkan
untuk menyelesaikan suatu aktivitas dalam durasi tercepat yang masih
memungkinkan. Biaya ini digunakan sebagai upaya mempercepat
penyelesaian pekerjaan.
𝐶𝑟𝑎𝑠ℎ 𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝐶𝑟𝑎𝑠ℎ 𝐶𝑜𝑠𝑡 + 𝑁𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑠𝑡

3. Cost Slope (Biaya Akselerasi per Unit Waktu), yaitu biaya langsung
untuk menyelesaikan aktivitas pada kondisi waktu terpendek dalam
satuan waktu terkecil.
Perhitungan untuk biaya tambahan pekerja akibat alternatif penambahan
jam kerja (lembur) sebagai berikut:

a. Upah Normal Pekerja per Hari


= Lama Jam Kerja per Hari × Harga Satuan Upah Pekerja
b. Upah Normal Pekerja per Jam
= Lama Jam Kerja per Jam × Harga Satuan Upah Pekerja
c. Biaya Lembur Pekerja 1 Jam Pertama
= 1,5 × Upah Normal per Jam
d. Biaya Lembur Pekerja 2 Jam Selanjutnya
= 2 × Upah Normal per Jam
e. Biaya Lembur Total
= Upah Normal per Hari + Upah Lembur 1 Jam Pertama +
Upah Lembur Jam Selanjutnya
f. Crash Cost (Biaya Dipercepat)
= Jumlah Upah Lembur per Hari × Jumlah Pekerja ×
Durasi Percepatan

20
g. Cost Slope (Biaya Akibat Percepatan
𝐶𝑟𝑎𝑠ℎ 𝐶𝑜𝑠𝑡 − 𝑁𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 𝐶𝑜𝑠𝑡
𝐶𝑜𝑠𝑡 𝑆𝑙𝑜𝑝𝑒 ሺBiaya Akibat Percepatanሻ =
𝑁𝑜𝑟𝑚𝑎𝑙 𝐷𝑢𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 − 𝐶𝑟𝑎𝑠ℎ 𝐷𝑢𝑟𝑎𝑠𝑡𝑖𝑜𝑛

Setelah mengetahui besaran produktivitas harian akibat jam lembur, langkah


selanjutnya adalah mengimplementasikan network planning atau pembuatan
jaringan kerja untuk proyek tersebut. Network planning ini berfungsi untuk
menentukan lintasan kritis dalam proyek, yang menjadi acuan untuk mengetahui
aktivitas-aktivitas yang harus dipercepat agar proyek dapat selesai lebih cepat.
Selain itu, crash duration dan biaya langsung percepatan atau crash cost juga
perlu dihitung dalam tahap ini.
Crash duration merujuk pada durasi aktivitas yang telah diperpendek setelah
program percepatan dijalankan. Program percepatan ini bertujuan untuk
mengurangi waktu penyelesaian proyek dengan cara menambah sumber daya
seperti tenaga kerja atau jam kerja (lembur). Percepatan ini tentu saja memerlukan
biaya tambahan, yang disebut dengan crash cost. Crash cost adalah biaya
tambahan yang diperlukan untuk mencapai percepatan pada aktivitas-aktivitas
proyek tertentu. Biaya langsung yang dikeluarkan dalam mempercepat waktu ini
dihitung berdasarkan waktu yang telah dipercepat atau crash duration yang telah
ditentukan.

II.6Lintasan Kritis
Precedence Diagramming Method adalah teknik yang digunakan untuk
menggambarkan hubungan antar tugas dalam sebuah proyek menggunakan
diagram. PDM menampilkan urutan kegiatan proyek, beserta ketergantungan
antar aktivitas. Aktivitas dalam PDM digambarkan dengan kotak, dan hubungan
ketergantungan antar aktivitas digambarkan dengan garis penghubung. Lintasan
kritis adalah jalur yang terdiri dari rangkaian kegiatan dengan total waktu terlama.
Kegiatan-kegiatan di jalur ini sangat penting karena setiap keterlambatan dalam
salah satu kegiatan akan langsung mempengaruhi penyelesaian proyek secara
keseluruhan (Soeharto, 1999). Lintasan kritis digambarkan dengan anak panah
tebal dalam diagram proyek (Badri, 1997).

21
Mengetahui lintasan kritis memberikan beberapa keuntungan strategis:
1. Pengendalian Proyek : Penundaan pada kegiatan di lintasan kritis akan
menyebabkan keterlambatan pada seluruh proyek.
2. Percepatan Penyelesaian : Jika pekerjaan di jalur kritis dapat dipercepat,
maka penyelesaian proyek juga dapat dipercepat.
3. Optimalisasi Sumber Daya : Dengan mengetahui slack time pada
kegiatan non-kritis, manajer dapat mengalihkan sumber daya ke
kegiatan di jalur kritis untuk meningkatkan efisiensi.
4. Identifikasi Risiko : Memahami jalur kritis memungkinkan tim proyek
untuk mengidentifikasi aktivitas yang paling rentan terhadap risiko dan
penundaan, sehingga tindakan pencegahan dapat diambil.
a. Komponen PDM
1. Nodes (Aktivitas) : Representasi dari tugas yang harus
diselesaikan dalam proyek.
2. Arrows (Ketergantungan) : Menghubungkan aktivitas satu dengan
lainnya, menunjukkan urutan pekerjaan.
PDM dapat digunakan untuk mengidentifikasi lintasan kritis
dengan cara menganalisis waktu penyelesaian dari setiap aktivitas dan
hubungan ketergantungan antar aktivitas.

b. Jenis-jenis Ketergantungan dalam PDM


Ada beberapa jenis ketergantungan yang dapat digunakan dalam
PDM untuk menentukan urutan aktivitas:

22
1. Finish-to-Start (FS): Aktivitas berikutnya dimulai setelah aktivitas
sebelumnya selesai. Ini adalah ketergantungan yang paling umum
digunakan
2. Start-to-Start (SS): Aktivitas berikutnya mulai ketika aktivitas
sebelumnya mulai
3. Finish-to-Finish (FF): Aktivitas berikutnya selesai ketika aktivitas
sebelumnya selesai.
4. Start-to-Finish (SF): Aktivitas berikutnya selesai ketika aktivitas
sebelumnya mulai. Jenis ketergantungan ini jarang digunakan

c. Langkah-langkah Menentukan Lintasan Kritis dengan PDM


Untuk menentukan lintasan kritis menggunakan PDM, ikuti
langkah-langkah berikut:
1. Identifikasi Semua Aktivitas, yaitu menentukan semua aktivitas
yang harus diselesaikan dalam proyek.
2. Tentukan Durasi Aktivitas, yaitu Estimasi waktu yang dibutuhkan
untuk menyelesaikan setiap aktivitas.
3. Buat Diagram PDM, yaitu menggambarkan semua aktivitas dalam
bentuk node dan tentukan hubungan ketergantungan antar aktivitas
dengan menggunakan tipe ketergantungan yang sesuai.
4. Hitung Waktu Mulai dan Selesai, yaitu menentukan waktu mulai
dan waktu selesai untuk setiap aktivitas, dimulai dari aktivitas
yang pertama hingga terakhir.
5. Identifikasi Lintasan Kritis, lintasan kritis adalah jalur yang
memiliki durasi total terpanjang dan tidak memiliki kelonggaran
waktu (slack). Ini adalah jalur aktivitas yang harus diselesaikan
tepat waktu agar proyek selesai sesuai jadwal.

23
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III.1Lokasi Penelitian
Subjek penelitian dalam kajian Tugas Akhir ini adalah proyek pekerjaan
Pembangunan Pengaman Pantai Pulau Semiun dan Pulau Sebetul di Kabupaten
Natuna (pulau terluar). Proyek tersebut berlokasi di Pulau Sebetul, Kecamatan
Pulau Laut, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau.
Pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh PT. Brahmakerta Adiwira KSO PT.
Minarta Dutahutama, sedangkan pengawasan pekerjaan dilaksanakan oleh PT.
Perancang Adhinusa KSO CV. Buhara Persada. Pemilik proyek adalah Balai
Wilayah Sungai Sumatera IV Provinsi Kepulauan Riau.
Proyek ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp66.736.063.793,50 dengan
jangka waktu pelaksanaan normal selama 286 (dua ratus delapan puluh enam) hari
kalender. Penelitian ini dilaksanakan mulai 21 Maret 2022 hingga 31 Desember
2022, dengan sumber pendanaan berasal dari Surat Berharga Syariah Negara
(SBSN) Tahun Anggaran 2022.

Sumber : Arsip proyek


Gambar 3. 1 Peta Lokasi Pembangunan Pengaman Pantai Pulau Sebetul

III.2Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan yang sistematis,
dimulai dari pengumpulan data hingga analisis data yang mendalam untuk
mendapatkan hasil yang valid dan reliabel. Prosedur yang digunakan dalam

24
penelitian ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap langkah yang dilakukan
dapat mendukung tujuan penelitian secara efektif dan efisien.

III.2.1Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
melalui observasi langsung di lapangan dan pengumpulan data-data terkait dengan
pelaksanaan proyek. Pada Gambar 3.2 dan Gambar 3.3 ditampilkan dokumentasi
dari kegiatan Proyek Pembangunan Penagaman Pantai Pulau Sebetul.

Sumber : Arsip proyek


Gambar 3. 2 Tampak Eksisting Awal Pembangunan Pengaman Pantai Pulau Sebetul

Sumber : Arsip proyek


Gambar 3. 3 Tampak Kondisi Akhir Pembangunan Pengaman Pantai Pulau Sebetul

Dalam proses penelitian ini, informasi yang diperoleh dari proyek


Pembangunan Pengaman Pantai Pulau Sebetul yang digunakan untuk keperluan
tugas akhir Adalah sebagai berikut:

25
1. Gambar teknis proyek (Shop Drawing) yang digunakan untuk melihat
perencanaan detail Pembangunan.
2. Jadwal pelaksanaan proyek (Time Schedule) yang divisualisasikan
dalam bentuk kurva S untuk mengetahui durasi normal proyek.
3. Rencana Anggaran Biaya (RAB), yang menjadi dasar untuk
mengidentifikasi biaya normal dan acuan perhitungan biaya percepatan.

III.2.2Proses Penelitian
1. Melakukan analisis terhadap normal duration dan normal cost, yaitu
dengan mengkaji data durasi normal dan biaya normal yang diperoleh
dari hasil pengumpulan data proyek.
2. Melakukan analisis crash duration, crash cost, dan cost slope untuk
mengetahui durasi percepatan dengan mengasumsikan adanya
tambahan jam kerja (lembur). Hasilnya adalah estimasi durasi
percepatan serta biaya yang dibutuhkan untuk percepatan tersebut.
3. Melaksanakan analisis Time Cost Trade-Off dengan melakukan
kompresi pada lintasan kritis dimulai dari aktivitas dengan nilai cost
slope paling kecil. Selanjutnya, menyusun ulang jaringan kerja dan
melanjutkan kompresi pada lintasan kritis hingga nilai cost slope
terendah. Proses ini terus dilakukan sampai aktivitas pada lintasan kritis
mencapai batas jenuh (tidak dapat dikompresi lebih lanjut), sehingga
biaya dapat dikendalikan untuk mencapai nilai optimum.
4. Menghitung tambahan biaya dan waktu percepatan yang optimal
berdasarkan hasil analisis yang dilakukan.

III.2.3Metode Analisis Data


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Time Cost
Trade Off. Pendekatan ini digunakan untuk mengevaluasi optimasi waktu dan
biaya pada proyek tertentu. Percepatan waktu dan biaya dihitung berdasarkan
alternatif seperti penambahan jam kerja atau sumber daya.
Dalam proses percepatan penyelesaian proyek, analisis dilakukan dengan
menentukan lintasan kritis, menghitung durasi percepatan, dan melakukan

26
kompresi. Setelah durasi percepatan diperoleh akibat proses kompresi, analisis
dilanjutkan untuk melihat dampaknya terhadap biaya langsung maupun biaya
tidak langsung proyek. Fokus utama ditekankan pada aktivitas dengan cost slope
terendah di lintasan kritis.

III.3Penerapan Metode Time Cost Trade-Off


Metode Time Cost Trade Off diterapkan setelah nilai cost slope untuk setiap
aktivitas proyek ditentukan. Time Cost Trade Off adalah metode yang digunakan
untuk mempercepat durasi proyek (kompresi) pada semua aktivitas yang berada di
lintasan kritis, dimulai dari aktivitas yang memiliki cost slope terkecil. Cost slope
menggambarkan biaya tambahan yang diperlukan untuk mengurangi durasi
proyek dengan menambah waktu kerja atau menambah tenaga kerja. Dengan
demikian, langkah pertama yang dilakukan dalam metode ini adalah
mengidentifikasi aktivitas-aktivitas di lintasan kritis dan menentukan nilai cost
slope untuk setiap aktivitas.
Dengan melakukan langkah-langkah kompresi pada aktivitas-aktivitas yang
memiliki cost slope terkecil, diharapkan dapat diperoleh waktu penyelesaian
proyek yang lebih cepat dengan biaya total yang seminimal mungkin. Metode ini
sangat berguna dalam proyek konstruksi, di mana penyelesaian proyek sesuai
dengan waktu yang ditargetkan sangat krusial, namun biaya harus tetap dalam
batas anggaran yang telah direncanakan.
Berdasarkan analisis terhadap penambahan jam kerja yang dilakukan pada
tiap aktivitas, diperoleh biaya yang paling optimal untuk setiap tambahan satu jam
kerja, yang dapat mengurangi durasi proyek. Analisis ini mempertimbangkan
penurunan biaya dibandingkan dengan biaya total normal yang diperlukan jika
proyek dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditentukan tanpa percepatan.
Dengan menerapkan metode Time Cost Trade Off, dapat ditemukan waktu
optimal untuk setiap penambahan dua jam kerja yang disertai dengan
pengurangan waktu dari durasi normal serta pengurangan biaya dari biaya normal.
Berdasarkan analisis terhadap penambahan jam kerja yang dilakukan pada
tiap aktivitas, diperoleh biaya yang paling optimal untuk setiap tambahan satu jam
kerja, yang dapat mengurangi durasi proyek. Analisis ini mempertimbangkan

27
penurunan biaya dibandingkan dengan biaya total normal yang diperlukan jika
proyek dilaksanakan sesuai dengan waktu yang ditentukan tanpa percepatan.
Dengan menerapkan metode Time Cost Trade Off, dapat ditemukan waktu
optimal untuk setiap penambahan dua jam kerja yang disertai dengan
pengurangan waktu dari durasi normal serta pengurangan biaya dari biaya normal.

III.4Bagian Alur Penelitian


Alur penelitian yang akan dilakukan dari awal hingga akhir secara garis besar
sebagai berikut:

Gambar 3. 4 Flowchart analisis Time Cost Trade Off

Diagram alir penelitian pada gambar 3.4 menjelaskan alur sistematis yang
digunakan dalam penelitian ini, dimulai dari tahap identifikasi topik (mulai),
dilanjutkan dengan studi pustaka untuk mengumpulkan teori dan referensi yang
relevan, khususnya mengenai manajemen waktu dan biaya proyek konstruksi

28
dengan pendekatan Time Cost Trade Off. Setelah itu dilakukan pengumpulan data
proyek berupa time schedule, Rencana Anggaran Biaya (RAB), dan gambar
teknis, yang menjadi dasar dalam proses analisis.
Tahapan analisis dimulai dari perhitungan crash duration, crash cost, dan
cost slope untuk mengetahui efisiensi percepatan tiap aktivitas. Hasilnya
digunakan dalam analisis Time Cost Trade Off guna menentukan alternatif
percepatan proyek yang paling optimal dari segi waktu dan biaya. Selanjutnya,
disusun kesimpulan berdasarkan hasil analisis serta diberikan saran yang aplikatif
bagi pelaksanaan proyek. Tahap akhir adalah penyelesaian laporan penelitian
sebagai bentuk dokumentasi dari seluruh proses tersebut.

29
DAFTAR PUSTAKA

Rahman, D. A. (2025). Analisis optimasi percepatan waktu dan biaya proyek


pembangunan tanggul pengaman pantai NCICD Fase A Lokasi 1 Tahap 1
melalui time cost trade off. Repository Universitas Mercu Buana.
Aviyani, N., & Dofir, A. (2021). Analisis biaya percepatan proyek konstruksi
dengan metode time cost trade off. Jurnal Teknik Sipil, 10(2), 89–98.
Djau, A. D., Yusuf, R., & Siregar, H. (2021). Analisis percepatan waktu proyek
konstruksi dengan metode crashing. Jurnal Teknik Sipil Terapan, 7(1), 45–
54.
Sari, R., & Nugroho, A. (2021). Analisis optimasi waktu dan biaya pada proyek
pembangunan pengaman pantai menggunakan metode time cost trade off.
Jurnal Teknik Sipil dan Kelautan, 8(2), 115–124.
Pratama, D., Putra, A. S., & Hidayat, R. (2020). Optimasi waktu dan biaya pada
proyek pembangunan tanggul laut dengan pendekatan time–cost analysis.
Jurnal Rekayasa Infrastruktur Pesisir, 5(1), 45–55.
Wijaya, H. (2019). Analisis percepatan waktu dan biaya pada proyek konstruksi
pantai menggunakan metode time cost trade off. Jurnal Teknik Sipil dan
Lingkungan Pantai, 6(3), 201–210.
Ardika, I. W. (2014). Manajemen proyek konstruksi. Denpasar: Udayana
University Press.
Husen, A. (2011). Manajemen proyek: Perencanaan, penjadwalan, dan
pengendalian proyek. Yogyakarta: Andi Offset.
Ervianto, W. I. (2005). Produktivitas tenaga kerja proyek konstruksi. Yogyakarta:
Andi Offset.
Ervianto, W. I. (2004). Manajemen proyek konstruksi. Yogyakarta: Andi Offset.
Soeharto, I. (1999). Manajemen proyek: Dari konseptual sampai operasional.
Jakarta: Erlangga.
Badri, S. (1997). Dasar-dasar network planning. Jakarta: Rineka Cipta.
Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor
KEP.102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur.
Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2017 tentang Penetapan
Pulau-Pulau Kecil Terluar.

30

Anda mungkin juga menyukai