0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Panduan Keluarga Berencana dan Kontrasepsi Suntik

Dokumen ini membahas Program Keluarga Berencana (KB) yang bertujuan untuk menunda perkawinan dan memberikan layanan kontrasepsi kepada Pasangan Usia Subur (PUS) serta kelompok pendukung lainnya. Kontrasepsi suntik, sebagai salah satu metode dalam KB, memiliki dua jenis yaitu suntik kombinasi dan suntik progestin, yang efektif dalam mencegah kehamilan. Selain itu, terdapat kriteria kelayakan medis dan kontraindikasi bagi pengguna kontrasepsi suntik yang perlu diperhatikan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan16 halaman

Panduan Keluarga Berencana dan Kontrasepsi Suntik

Dokumen ini membahas Program Keluarga Berencana (KB) yang bertujuan untuk menunda perkawinan dan memberikan layanan kontrasepsi kepada Pasangan Usia Subur (PUS) serta kelompok pendukung lainnya. Kontrasepsi suntik, sebagai salah satu metode dalam KB, memiliki dua jenis yaitu suntik kombinasi dan suntik progestin, yang efektif dalam mencegah kehamilan. Selain itu, terdapat kriteria kelayakan medis dan kontraindikasi bagi pengguna kontrasepsi suntik yang perlu diperhatikan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Keluarga Berencana
Keluarga Berencana juiga diartikan sebagai Program Pendewasaan Usia
Perkawinan (PUP) yang didukung dengan konseling dan edukasi untuk
memungkinkan terwujudnya pilihan yang terinformasi, yang digagas
bertujuan untuk menunda perkawinan, hingga usia yang lebih matang
secara fisik, mental, emosional, dan sosial, sebagai strategi untuk
memperkuat kesiapan memasuki kehidupan berkeluarga yang
bertanggung jawab (Mirawati, dkk., 2023).

1. Sasaran Program Keluarga Berencana


Program Keluarga Berencana (KB) mengarahkan sasaran langsung
kepada Pasangan Usia Subur (PUS), yaitu pasangan yang wanita usianya
berada di rentang 15–49 tahun, karena kelompok ini memiliki risiko
kehamilan aktif yang signifikan. Selain itu, program ini juga mencakup
PUS yang berada dalam masa nifas dan perempuan hamil, karena
pentingnya memberikan layanan kontrasepsi dalam fase-fase penting
tersebut demi mencegah kehamilan yang tidak direncanakan dan
menunjang kesehatan ibu dan anak. Sementara itu, sasaran tidak
langsung mencakup kelompok-kelompok yang memiliki peran strategis
dalam mendukung pelaksanaan KB secara lebih luas, seperti remaja
(khususnya usia 15–19 tahun), tokoh masyarakat, petugas kesehatan,
kader KB, serta institusi pendidikan dan organisasi kemasyarakatan.
Kelompok ini berkontribusi dalam membentuk lingkungan positif yang
mendukung keberhasilan program melalui pendekatan promotif dan
preventif (Sumiati, dkk., 2024).

2. Ruang Lingkup Keluarga Berencana


Ruang lingkup Program KB tidak terbatas hanya pada distribusi alat
kontrasepsi, melainkan juga mencakup komunikasi, informasi, dan
edukasi (KIE) yang efektif, konseling untuk membantu pasangan dalam
memilih metode yang tepat, serta pelayanan kontrasepsi itu sendiri.
Dalam konten yang lebih luas, ruang lingkup ini memiliki dimensi
promotif, preventif, dan edukatif guna mencapai kesejahteraan keluarga
dan reproduksi yang berkualitas (Febri, dkk., 2024).

B. Konsep Kontrasepsi Suntik


1. Definisi Kontrasepsi Suntik
Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah kehamilan. Upaya yang
dilakukan dalam pelayanan kontrasepsi dapat bersifat sementara atau
bersifat permanen (Kementrian Kesehatan RI, 2023). Pelayanan
kontrasepsi adalah tindakan yang mencakup pemberian atau pemasangat
alat kontrasepsi dan tindakan lainnya kepada calon dan peserta Keluarga
Berencana yang dilakukan di fasilitas pelayanan KB. Penyelengaraan
pelayanan kontrasepsi harus mematuhi prinsip-prinsip agama, norma
budaya, etika, dan aspek kesehatan yang dapat dipertanggunggjawabkan
(Kementrian Kesehatan RI, 2023).
Program Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya mengatur jumlah
anak, jarak dan usia yang ideal untuk melahirkan, serta mengelola
kehamilan. Ini dilakukan melalui promosi, perlindungan, dan bantuan
sesuai dengan hak reproduksi individu untuk menciptakan keluarga yang
berkualitas. Kontrasepsi merupakan komponen penting dalam pelayanan
kesehatan reproduksi, yang bertujuan untuk mengurangi risiko kematian
dan masalah kesehatan yang mungkin timbul selama kehamilan
(BKKBN, 2023).
Kontrasepsi merupakan upaya untuk mencegah kehamilan secara
sementara maupun permanen, dengan metode yang mencakup
pendekatan tanpa alat (seperti metode kalender), mekanis (seperti
kondom, IUD), hormonal (seperti pil dan suntik), serta operasi (seperti
ligasi tuba atau vasektomi). (Napitupulu, dkk.,2023).
Menurut BKKBN (2023), Kontrasepsi suntik merupakan alat kontrasepsi
dengan daya kerja yang panjang (lama) dan tidak membutuhkan
pemakaian setiap hari atau saat akan senggama, tetapi bersifat reversible.
Kontrasepsi suntikan merupakan metode untuk mencegah kehamilan
dengan cara menyuntikkan hormon secara intramuscular pada area
gluteus atau bokong yang bertujuan untuk menguatkan lendir serviks,
mengurangi kemampuan penetrasi sperma, membuat selaput rahim
menjadi tipis dan mengalami atromi, juga menghambat transportasi
gamet melalui tuba serta mencegah terjadinya ovulasi (Kulsum, 2021)

2. Jenis Kontrasepsi
Suntik Metode kontrasepsi suntik terdiri dari 2 jenis, yaitu Kontrasepsi
Suntik Kombinasi dan Kontrasepsi Suntik Progestin (Kemenkes RI,
2020).
a) Suntik DMPA (Depo Medroxyprogesteron Acetate)
Kontrasepsi suntik progestin adalah jenis suntikan KB yang
mengandung hormon Depo Medroxyprogesterone Acetate (hormon
progestin) dengan jumlah 150 mg yang diberikan setiap 3 bulan sekali
secara intramuskular di daerah bokong. Kontrasepsi suntik progestin
adalah metode pencegahan kehamilan yang melibatkan penyuntikan
intra muscular dengan efek berlangsung selama 3 bulan. Metode ini
tidak memerlukan penggunaan setiap hari, mengandung hormon
progesteron,. Kontrasepsi suntik berupa cairan yang mengandung
hormon progesteron disuntikkan periodik ke dalam tubuh wanita.
Beberapa jenis kontrasepsi suntik yang umum digunakan meliputi
noretisteron Enentat, Depo Medroksi Progesteron Asetat (DMPA), dan
cyclofem. Salah satu varian kontrasepsi suntik modern yang sering
digunakan adalah DMPA, yang berisi depo medroksi progesteron
asetat sebanyak 150 mg dengan durasi efek selama 3 bulan. (Usmia S,
2020).
b) Suntik Kombinasi
Jenis kontrasepsi ini mengandung 25 mg Depo Medroxyprogesterone
Acetate (hormon progestin) dan 5 mg Estradiol Sipionat yang
diberikan injeksi intramuskular sebulan sekali (Cyclofem) dan 50 mg
Noretindron Enantat dan 5 mg Estradiol Valerat yang diberikan
dengan injeksi intramuscular.

3. Efektivitas Kontrasepsi Suntik


Menurut Setyorini, dkk., (2024) bahwa KB suntik sangat efektif sebagai
kontrasepsi. Kontrasepsi ini berisi depo medroksiprogesteron asetat
(DMPA), estradiol sipionat (cycloferm), noretindron enatat (NETEN)
Tekhnik penyuntikan ialah secara intramuskulus dalam, di daerah
muskulus gluteus maksimus atau deltoideus dianggap Praktis dalam
pencegahan kehamilan jangka Panjang dan tidak berpengaruh pada
hubungan suami istri.

4. Kriteria Kelayakan Medis


Menurut BKKBN (2023) Kriteria Kelayakan Medis Yang boleh
menggunakan KSK Hampir semua perempuan dapat menggunakan KSK
secara aman dan efktif, termasuk perempuan yang:
a) Telah atau belum memiliki anak
b) Perempuan usia reproduksi, termasuk perempuan yang berusia lebih
dari 40 tahun
c) Baru saja mengalami abortus atau keguguran
d) Merokok berapapun jumlah batang rokok yang dihisap per hari dan
berumur kurang dari 35 tahun
e) Merokok kurang dari 15 batang per hari dan berumur lebih dari 35
tahun
f) Menderita anemia atau riwayat anemia
g) Menderita varises vena
h) Terkena HIV, sedang atau tidak sedang dalam terapi antiretroviral
Yang tidak boleh menggunakan KSK perempuan dengan kondisi berikut
sebaiknya tidak menggunakan KSK:
a) Tidak menyusui dan melahirkan kurang dari 3 minggu, tanpa risiko
tambahan terbentuknya penggumapalan darah di vena dalam (TVD)
Trombosis Vena Dalam
b) Tidak menyusui dan melahirkan antara 3 dan 6 minggu pasca
persalinan dengan risiko tambahan yang memungkinkan terbentuknya
TVD
c) Sedang menyusui antara 6 minggu hingga 6 bulan setelah melahirkan
d) Usia 35 tahun atau lebih dan merokok lebih dari 15 batang per hari -
Hipertensi (tekanan sistolik antara 140 sampai 159 mmHg atau
tekanan distolik antara 90 dan 99 mmHg)
e) Hipertensi terkontrol, yang memungkinkan untuk evaluasi lanjutan
f) Riwayat hipertensi, dimana tekanan darah tidak dapat diukur
(termasuk hipertensi terkait kehamilan)
g) Penyakit infeksi atau tumor berat
h) Usia 35 tahun atau lebih dengan sakit kepala migrain tanpa aura
i) Usia kurang dari 35 tahun dengan sakit kepala migrain yang telah
muncul atau memberat saat memakai KSK
j) Menderita kanker payudara lebih dari 5 tahun yang lalu, dan tidak
muncul Kembali
k) Diabetes selama lebih dari 20 tahun atau mengalami kerusakan
pembuluh darah arteri, penglihatan, ginjal, atau sistem saraf karena
diabetes
l) Faktor risiko multiple untuk penyakit kardiovaskular arteri seperti usia
tua, merokok, diabetes, dan hipertensi
m)Sedang dalam terapi lamotrigine. KSK dapat mengurangi efektivitas
lamotrigine

Pada kondisi dimana tidak terdapat metode yang lebih sesuai maupun
klien tidak bisa menerima, penyedia layanan berkualifikasi yang bisa
menilai kondisi dan situasi klien secara hati-hati dapat memutuskan
bahwa klien bisa menggunakan KSK pada kondisi di atas. Penyedia
layanan perlu mempertimbangkan seberapa berat kondisi klien dan
kemampuan klien dalam mengakses tindak lanjut.

5. Waktu Pemberian

Tabel 2.1 Waktu Pemberian KB Suntik


Kondisi Waktu Pemberian
Menstruasi teratur atau Kapan pun di bulan tersebut
berganti dari Kapan pun di a. Jika mulai dalam 7 hari setelah
bulan tersebut metode non permulaan menstruasinya, tidak
hormonal perlu kontrasepsi tambahan*.
b. Jika mulai lebih dari 7 hari
setelah permulaan
menstruasinya, klien dapat
mulai menggunakan KSK kapan
saja jika yakin tidak hamil.
Perlu kontrasepsi tambahan*
untuk 7 hari pertama setelah
suntikan.
c. Jika berganti dari AKDR, ia
dapat segera mulai
menggunakan KSK
Berganti dari metode a. Segera, jika telah memakai
hormonal kontrasepsi hormonal secara
konsisten dan benar atau yakin
tidak hamil. Tidak perlu
menunggu menstruasi bulan
berikutnya. Tidak perlu metode
kontrasepsi tambahan*.
b. Jika berganti dari suntik yang
lain, penyuntikan suntik yang
baru dapat dilakukan saat suntik
ulangan seharusnya diberikan.
Tidak perlu kontrasepsi
tambahan
ASI eksklusif atau hampir Tunda suntik pertama sampai
eksklusif dengan 6 bulan setelah melahirkan
Kurang dari 6 bulan setelah atau ketika ASI tidak lagi menjadi
melahirkan sumber nutrisi utama bayi – mana
saja yang lebih dulu
ASI eksklusif atau hampir a. Jika belum menstruasi, klien
eksklusif dapat memulai KSK kapan saja
Lebih dari 6 bulan setelah jika yakin tidak hamil. Perlu
melahirkan kontrasepsi tambahan untuk 7
hari pertama setelah suntikan.
b. Jika telah menstruasi, klien
dapat memulai KSk seperti
dianjurkan pada klien yang
memiliki siklus menstruasi
normal
ASI tidak Eksklusif Tunda suntik pertama sampai
Kurang dari 6 minggu dengan setidaknya 6 minggu
setelah melahirkan setelah melahirkan
ASI tidak Eksklusif a. Jika belum menstruasi, klien
Lebih dari 6 minggu setelah dapat memulai KSK kapan saja
melahirkan jika yakin tidak hamil. Perlu
kontrasepsi tambahan untuk 7
hari pertama setelah suntikan.
b. Jika telah menstruasi, klien
dapat memulai KSB seperti
dianjurkan pada klien yang
memiliki siklus menstruasi
norma
Tidak Menyusui Klien dapat mulai menggunakan
Kurang dari 4 minggu KSK kapanpun antara hari ke 21-28
setelah melahirkan setelah melahirkan. Tidak perlu
kontrasepsi tambahan. (Jika ada
risiko tambahan untuk trombosis
vena dalam, tunggu hingga 6
minggu.
Tidak Menyusui a. Jika belum menstruasi, klien
Lebih dari 4 minggu setelah dapat memulai KSK kapan saja
melahirkan jika yakin tidak hamil. Perlu
kontrasepsi tambahan untuk 7
hari pertama setelah suntikan.
b. Jika telah menstruasi, klien
dapat memulai KSK seperti
dianjurkan pada klien yang
memiliki siklus menstruasi
normal
Tidak menstruasi (tidak a. Segera. Jika klien mulai
berhubungan dengan menggunakan dalam 7 hari
melahirkan/menyusui) setelah keguguran trimester 1
atau trimester 2 atau aborsi,
tidak perlu metode kontrasepsi
tambahan.
b. Jika klien memulainya lebih dari
7 hari setelah keguguran
trimester 1 atau trimester 2 atau
aborsi, ia dapat memulai KSK
kapan pun jika yakin tidak
hamil. Perlu kontrasepsi
tambahan untuk 7 hari pertama
setelah suntikan
Setelah pemakaian Pil Setelah pemakaian Kontrasepsi Pil
Kontrasepsi Darurat (PKD) Progestin (KPP) atau Pil
Kontrasepsi Darurat Kombinasi
(PKDK)
a. Klien dapat mulai menggunakan
suntik pada hari klien selesai
menggunakan PKD. Tidak perlu
menunggu menstruasi untuk
mulai menggunakan suntik.
Perlu kontrasepsi tambahan
untuk 7 hari pertama setelah
suntikan.
b. Jika klien tidak segera
memulainya, namun kembali
untuk suntikan, maka ia dapat
segera mulai kapan saja jika
yakin tidak hamil.
Setelah pemakaian Pil Kontrasepsi
Darurat (PKD) ulipristal asetat
(UPA):
a. Klien dapat mulai suntikan pada
hari ke-6 setelah minum PKD
UPA. Tidak perlu menunggu
menstruasi bulan berikutnya.
Ada interaksi antara KSK dan
UPA jika suntikan dimulai lebih
awal dan karena keduanya ada
dalam tubuh, akibatnya satu atau
keduanya akan menjadi kurang
efektif.
b. Buat janji kunjungan kembali
untuk suntik pada hari ke-6
setelah penggunaan UPA, atau
sesegera mungkin setelahnya.
c. Perlu kontrasepsi tambahan dari
saat ia minum PKD UPA sampai
7 hari sesudah suntikan.
d. Jika klien tidak mulai suntik
pada hari ke-6 namun
kembalinya nanti, ia dapat
memulai suntikan kapan saja
jika yakin tidak hamil.
Sumber: BKKBN (2023)

6. Kontraindikasi KB Suntik
Kontraindikasi KB suntik yaitu Wanita yang sedang hamil atau dicurigai
hamil, mempunyai riwayat kanker payudara atau penderita kanker
payudara dan penderita diabetes yang disertai dengan komplikasi
(BKKBN, 2023).

C. Kontrasepsi Suntik 3 Bulan


1. Pengertian Kontrasepsi Suntik 3 Bulan
Kontrasepsi suntik ini mengandung hormon progestin saja seperti
hormone progesterone alami dalam tubuh perempuan, dengan menekan
ovulasi, mengentalkan lendir serviks dan menjadikan selaput lender
rahim tipis dan atrofi. Suntikan ini diberikan setiap 2-3 bulan sekali,
kontrasepsi suntik progestin (KSP) yaitu jenis kontrasepsi yang
mengandung progestin, yang sama dengan hormon progesteron alami
yang diproduksi
tubuh wanita. Depot Medroxyprogesterone Acetate (DMPA), atau Depo-
Provera, adalah salah satu dari dua jenis KSP yang paling umum
digunakan untuk suntikan intramuscular (Setyorini, dkk., 2024).
2. Faktor yang mempengaruhi Suntik 3 Bulan
Menurut Setyorini, dkk., (2024) yang dapat mempengaruhi sebagai
berikut:
a) Ketersediaan Sumber Daya, yang meliputi dana, tenaga kerja
(petugas) dan infrastruktur.
b) Kontek social dan budaya, meliputi norma, nilai, dan keyakinan dalam
masyarakat yang dapat memengaruhi penerimaan dan penerapan
informasi yang disampaikan melalui program KIE. Pemahaman
tentang konteks sosial dan budaya lokal penting untuk merancang
pesan-pesan yang relevan dan dapat diterima.
c) Akses terhadap informasi, Ketersediaan dan aksesibilitas informasi
tentang Kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga dapat
mempengaruhi efektivitas program KIE. Jika masyarakat tidak
memiliki akses yang memadai terhadap informasi tersebut, maka
program KIE mungkin tidak mencapai sasarannya.
d) Pendidikan dan literasi, Tingkat Pendidikan dan literasi dalam
masyarakat juga dapat mempengaruhi efektivitas program KIE.
Masyarakat yang memiliki tingkat Pendidikan yang lebih tinggi dan
tingkat literasi yang baik mungkin lebih mampu memahami dan
mengaplikasikan informasi yang diterima.
e) Faktor ekonomi, Kondisi ekonomi Masyarakat juga dapat
memengaruhi partisipasi dalam program KIE. Faktor seperti Tingkat
penghasilan, akses terhadap layanan kesehatan, dan biaya yang terkait
dengan penggunaan kontrasepsi dapat mempengaruhi penerimaan dan
keterlibatan dalam program KIE.
f) Kemitraan dan kolaborasi, Kerjasama antara pemerintah, lembaga
non-pemerintah, lembaga swasta, dan kelompok Masyarakat lokal
dapat mempengaruhi keberhasilan program KIE. Kemitraan yang kuat
dapat meningkatkan jangkauan program dan memperkuat pesan-pesan
yang disampaikan.
3. Manfaat dan Kekurangan Kontrasepsi Suntik 3 Bulan
a) Manfaat Kontrasepsi Suntik 3 Bulan
Manfaat KB suntik progestin sangat efektif dan mempunyai
pencegahan jangka panjang yang tidak berpengaruh pada hubungan
suami istri. KB suntik progestin tidak mengandung esterogen sehingga
tidak berdampak serius terhadap penyakit jantung dan gangguan
pembekuan darah dan juga tidak mempengaruhi ASI. KB suntik
progestin dapat digunakan Wanita Usia Subur (WUS) yang berusia 35
tahun keatas sampai perimenopause (Istatik, dkk., 2023).
b) Kelemahan Kontrasepsi Suntik 3 Bulan
Walaupun terdapat beberapa kelebihan penggunaan Kontrasepsi
Suntik, kontrasepsi suntik memiliki kelemahan antara lain injeksi
DMPA tidak boleh diberikan kurang dari 11 minggu atau lebih dari 14
minggu dari penyuntikkan sebelumnya karena dapat menimbulkan
amenorea pada banyak pemakai. Efek ini dipandang sebagai
kekurangan oleh banyak wanita yang menganggap bahwa perdarahan
yang teratur merupakan suatu tanda kesehatan dan menstruasi sebagai
indikator bahwa mereka tidak hamil. Terdapat kekhawatiran mengenai
keamanan KB suntik karena dahulu terdapat kontroversi tentang
pemakaian DMPA. Hewan yang disuntik dengan DMPA dosis tinggi
terkena tumor payudara jinak dan ganas pada anjing beagle, tumor
endometrium pada monyet rhesus. Namun tidak ada bukti kuat bahwa
efek tersebut terjadi pada manusia (Istatik dkk, 2023). Menurut
Setyorini, dkk., (2024) menyebutkan bahwa kelemahan dari
kontrasepsi suntik DMPA yaitu terlambatnya kembali kesuburan
setelah penghentian pemakaian, terjadinya gangguan haid, dan harus
dilakukan disuntik setiap bulan.

4. Cara Kerja Kontrasepsi Suntik 3 Bulan


Suntik DMPA (Depo Medroxyprogesteron Acetate) Penggunaan
kontrasepsi hormonal, terutama suntikan 3 bulan yang memiliki durasi
cukup lama, dapat mempengaruhi proses keseimbangan hormonal dan
menyebabkan kelambatan dalam proses kehamilan untuk jangka waktu
tertentu, meskipun penggunaan kontrasepsi tersebut sudah dihentikan. Ini
terjadi karena penggunaan DMPA dapat menyebabkan pembentukan
LHRF (Luteinizing Hormone Releasing Factor) dan FSHRF (Follicle
Stimulating Hormone Releasing), yang dapat mengubah lendir serviks
menjadi lebih kental. Proses perubahan ini tidak dapat berhenti dengan
cepat karena pemulihan keseimbangan hormon memerlukan waktu yang
lebih lama jika dibandingkan dengan kontrasepsi sebulan atau
kontrasepsi kombinasi (Kulsum, 2021).
5. Efek Samping dan Penanganan Kontrasepsi Suntik
Menurut Setyorini, dkk (2024) efek samping dan penanganan yang
terjadi sebagai berikut:
a) Perubahan pola haid biasanya pada tahun pertama pemakaian.
Penanganan: Diberikan pil KB hari ke – 1 sampai hari ke -2 masing-
masing 3 tablet, selanjutnya hari ke - 4 diberikan 1 x 1 selama 3 – 5
hari. Bila terjadi perdarahan, dapat pula diberikan preparat estrogen,
misalnya lymoral 2 x 1 sehari sampai perdarahan berhenti.
b) Pusing dan sakit kepala Penanganan Diberikan anti prostaglandin
untuk mengurangi keluhan, acetosal 500 mg 3 x 1 tablet/hari.
c) Hematoma, Penanganan Kompres dingin pada daerah yang membiru
selama 2 hari. Setelah itu diubah menjadi kompres hangat sehingga
warna biru/kuning menjadi hilang.
d) Perubahan berat badan Penanganan Diet merupakan pilihan utama.
Dianjurkan untuk melaksanakan diet rendah kalori serta olahraga
teratur, bila terlalu kurus, dianjurkan untuk diet tinggi kalori, bila tidak
berhasil dianjurkan untuk ganti cara kontrasepsi non hormonal.
e) Keputihan, penanganan Pengobatan medis biasanya tidak diperlukan
Bila cairan berlebihan dapat diberikan preparat anti cholinergic seperti
extrabelladona 10 mg 2 x 1 tablet untuk mengurangi cairan yang
berlebihan. Perubahan. warna dan bau biasanya disebabkan oleh
adanya infeksi. Menurut BKKBN (2021) efek samping dan
penanganan Kb Suntik 3 bulan sebagai berikut
Efek Samping Penanganan
Menstruasi irregular (tidak teratur) - Yakinkan klien jika kondisi
tersebut tidak berbahaya dan
biasanya akan berkurang atau
berhenti setelah beberapa
bulan pasca pemasangan.
- Pengobatan jangka pendek,
boleh diberikan asam
mefenamat 2x500 mg selama
5 hari atau valdecoxib
diberikan 1x40 mg selama 5
hari, dimulai sejak kondisi
tersebut terjadi.
- Jika kondisi ini terus
berlangsung, pertimbangkan
penyebab lain yang tidak
berhubungan dengan
kontrasepsi.
Tidak ada menstruasi - Yakinkan klien jika kondisi ini
tidak berbahaya.
Menstruasi yang banyak dan lama - Yakinkan klien jika kondisi
tersebut tidak berbahaya dan
biasanya akan berkurang atau
berhenti setelah beberapa
bulan.
- Pengobatan jangka pendek,
boleh diberikan asam
mefenamat diberikan 3x500
mg selama 5 hari, atau
valdecoxib diberikan 1x40 mg
selama 5 hari atau ethynyl
estradiol diberikan 1x50µg
selama 21 hari dimulai sejak
kondisi tersebut terjadi.
- Jika perdarahan mengancam
kesehatan, sarankan untuk
mengganti metode kontrasepsi.
- Sarankan untuk meminum obat
penambah zat besi untuk
mencegah anemia.
- Jika kondisi ini terus
berlangsung, pertimbangkan
penyebab lain yang tidak
berhubungan dengan
kontrasepsi.
Kembung atau rasa tidak nyaman di Pertimbangkan solusi yang
perut tersedia secara lokal.
Perubahan berat badan - Diet dan konsul gizi.
Perubahan mood (suasana hati) dan - Berikan dukungan yang
hasrat seksual sepantasnya jika perubahan
tersebut mempengaruhi
hubungan dengan pasangan.
- Jika terjadi perubahan mood
(suasana hati) yang berat
seperti depresi mayor, maka
harus mendapatkan
perawatan segera
Nyeri kepala biasa Aspirin 500 mg atau ibuprofen
400 mg atau parasetamol 500-
1000 mg atau penghilang nyeri
lainnya
Komplikasi Efek Samping
Perdarahan pervaginam yang tidak - Rujuk atau evaluasi riwayat
dapat sebelumnya dan lakukan
pemeriksaan pelvis, diagnosis
dan obati dengan tepat
- Jika penyebab perdarahan tidak
dapat ditemukan, ganti metode
kontrasepsi (selain implan dan
AKDR).
- Jika perdarahan disebabkan
infeksi menular seksual atau
penyakit radang panggul, klien
tetap dapat melanjutkan
metode ini.
Kondisi kesehatan yang serius - Stop suntikan kontrasepsi
seperti penyempitan pembuluh - Ganti metode kontrasepsi.
darah, penyakit hati yang berat, - Rujuk ke Fasyankes tingkat
hipertensi yang berat, penyumbatan lanjut.
vena di tungkai atau paru, stroke,
kanker payudara atau kerusakan
arteri penglihatan, ginjal atau
sistem saraf pusat karena diabetes
Curiga kehamilan - Evaluasi kehamilan.
- Stop suntikan jika kehamilan
terkonfirmasi
Sumber: BKKBN (2021)

D. Konsep Pengetahuan
1. Definisi Pengetahuan
Menurut Bloom, pengetahuan merupakan hasil dari proses mengetahui
yang terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu
objek. Proses ini melibatkan alat indera manusia seperti penglihatan,
pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Sebagian besar informasi
yang diterima manusia bersumber dari indera mata dan telinga.
Pengetahuan juga berperan sebagai salah satu faktor predisposisi dalam
pembentukan perilaku. Perilaku yang terbentuk dengan dasar pengetahuan
cenderung lebih bertahan lama dibandingkan dengan perilaku yang tidak
didasari oleh pemahaman (Citrawati & Laksmi, 2021).

2. Tingkatan Pengetahuan
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

E. Buku Saku Digital


1. Pengertian Buku Saku Digital
Buku saku adalah media informasi cetak maupun digital yang berbentuk
ringkas, sederhana, dan mudah dibawa, berfungsi untuk memberikan
pengetahuan singkat, padat, dan praktis kepada pembacanya. Buku saku
sering dipakai dalam pendidikan kesehatan karena dapat meningkatkan
pemahaman masyarakat terhadap suatu topik tertentu, terutama bila
dilengkapi gambar, bahasa sederhana, dan tata letak yang menarik. Buku
saku berperan sebagai sarana edukasi dan promosi kesehatan yang efektif,
khususnya di bidang kesehatan reproduksi dan keluarga berencana (Fazila,
2021).
2. Fungsi Buku Saku Digital
Buku saku berfungsi memberikan informasi detail terkait penggunaan,
prosedur, manfaat, efek samping, dan cara penanganannya. Media ini
membantu akseptor maupun calon akseptor memahami secara praktis apa
yang akan mereka alami, sehingga dapat meningkatkan kepatuhan serta
mengurangi kecemasan akibat ketidaktahuan (Setyorini, dkk., 2024).

Anda mungkin juga menyukai